Anda di halaman 1dari 29

PENYEBAB STRES AKIBAT KERJA, MANAJEMEN

STRES DAN PERBAIKAN KINERJA

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah kesehatan dan keselamatan kerja
Dosen pembimbing :Ns. Nindawi, S.Kep., MM., M.Kes

Di Susun Oleh:

Rasidi

2B/(18.063)

POLITEKNIK NEGRI MADURA JURUSAN KESEHATAN


PROGRAM DIII KEPERAWATAN KAMPUS B PAMEKASAN
TAHUN 2019-2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang penyebab stres
akibat kerja, manajemen stres dan perbaikan kinerja.

Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan
Dan Keselamatan Kerja program studi DIII Keperawatan di Kampus B Politeknik
Negeri Madura Pamekasan.

Saya selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dan mengarahkan saya terutama kepada dosen pengajar mata kuliah
Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah
ini dengan tepat waktu.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat serta hidayah Nya
kepada semua pihak yang membantu terselesainya makalah ini. saya sangat menyadari
masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, dimohon
saran dan kritik yang membangun. Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat
bagi pembaca.

Pamekasan, 02Oktober2019

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Persaingan dan tuntutan profesionalitas kerja yang semakin tinggi menimbulkan
banyaknya tekanan-tekanan yang harus dihadapi karyawan dalam lingkungan kerja.
Selain tekanan yang berasal dari lingkungan kerja, lingkungan perekonomian di
Indonesia yang belum stabil akibat badai krisis yang berkepanjangan juga potensial
menimbulkan tekanan. Tekanan yang timbul dan berkepanjangan terus-menerus
berpotensi menimbulkan kecemasan. Dampak yang merugikan dari adanya gangguan
kecemasan yang sering dialami oleh masyarakat dan angkatan kerja pada khususnya
disebut stres. Stres yang dialami penyebabnya tidak hanya dari dalam perusahaan,
karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang
terbawa ke rumah dapat juga menjadi penyebab stress kerja
Manajemen stres lebih daripada sekedar mengatasinya, yakni belajar
menanggulanginya secara adaplif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk
mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Sebagian para
pengidap stres di tempat kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara
bekerja lebih keras yang berlebihan. Ini bukanlah cara efektif yang bahkan tidak
menghasilkan apa-apa untuk memecahkan sebab dari stres, justru akan menambah
masalah lebih jauh. Sebelum masuk ke cara-cara yang lebih spesifik untuk mengatasi
stressor tertentu, harus diperhitungkan beberapa pedoman umum untuk memacu
perubahan dan penaggulangan. Pemahaman prinsip dasar, menjadi bagian penting agar
seseorang mampu merancang solusi terhadap masalah yang muncul terutama yang
berkait dengan penyebab stres dalam hubungannya di tempat kerja. Dalam
hubungannya dengan tempat kerja, stres dapat timbul pada beberapa tingkat, berjajar
dari ketidakmampuan bekerja dengan baik dalam peranan tertentu karena
kesalahpahaman atasan atau bawahan. Atau bahkan dari sebab tidak adanya
ketrampilan (khususnya ketrampilan manajemen) hingga sekedar tidak menyukai
seseorang dengan siapa harus bekerja secara dekat (Margiati, 1999).
Maka dari itu makalah ini saya susun untuk menginformasikan serta menanbahkan
pemahaman dan pengetahuan tentang penyebab, akibat, dan pencegahan serta
penanggulangan stres agar semakin mengurangi jumlah stres.
1.2 Rumusan Masalah
2. Apa konsep menejemen stres?
3. bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan stres ?

1.3 Tujuan
2. Untuk memenuhi tentang konsep menejemen stres.
3. Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan stres.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Menejemen Stres


2.1.1 Pegertian
Menurut Charles D, Spielberger (dalam Handoyo, 2001) menyebutkan
bahwa stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang,
misalnya obyek-obyek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang secara
obyektif adalah berbahaya. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan
atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.
Banyak faktor didalam perusahaan atau organisasi yang dapat menimbulkan stres.
Dewasa ini, konsep tentang stress kerja telah menarik dan menguncang
perhatian nasional. Mengapa demikian? Karena peningkatan jumlah klaim
ketidak mampuan berdasarkan pada ‘Factor-faktor terkait stres’. Seiring
perjalanan waktu, kemajuan teknologi tampaknya memperlambat kemampuan
kita untuk mempertahankan produktivitas, dan kita merasa hanya sedikit kendali
bahkan tidak memiliki kendali sama sekali. Intinya, kita menjadi lebih rentan
terhadap bahaya stress kerja. Karena kita menghabiskan sebagian besar waktu
kita di tempat kerja dan stress kerja dengan cepat menjadi isu pelayan keshatan
nasional, strategi manajemen stres on-site sangat pentin untuk menjaga kesehatan
optimum pekerja disetiap lapangan kerja. Walaupun kita hidup di dunia yang
lebih kompleks dan sibuk dari pada yang di alami nenek moyang, kita dapat
bertahan dan beradaptasi di dalamnya. Apa yang di perlukan sebelumnya
hanyalah mengenali baro meter emosional kita sehari hari yang merupakan
strategi efektif untuk mengatasi penyebab stres, dan keterampilan relaksasi untuk
menangkan tubuh. Anda kami anjurkan untuk menggunakan keterampilan
manajemen stres ini di lingkungan kerja anda sesering yang di perlukan sehingga
dapat memberikan perasaan yang tenteram yang sejahtera.
Tenaga kerja atau karyawan merupakan sumber daya manusia yang sangat
penting dalam suatu perusahaan, karena tanpa karyawan perusahaan tidak dapat
berjalan dengan baik. Karyawan adalah modal utama bagi perusahaan. Karyawan
perlu dikelola agar tetap menjadi produktif. Akan tetapi dalam pengelolaannya
bukanlah hal yang mudah, karena karyawan mempunyai pikiran, status, serta latar
belakang yang heterogen (tidak sama). Oleh sebab itu pemimpin perusahaan
harus bisa mendorong mereka agar tetap produktif dalam mengerjakan tugasnya
masing-masing, dengan cara terus menerus meningkatkan semangat kerja
karyawannya. Sehingga perusahaan dapat mempertahankan loyalitas karyawan
guna untuk mencapai tujuan perusahaan.
Konflik dalam sebuah organisasi dapat terjadi karena berbagai sebab,
contohnya adanya komunikasi yang tidak berjalan dengan baik, ketidakjelasan
struktur atau pekerjaan dan masalah-masalah yang berkaitan dengan kepribadian
yang dimiliki oleh masing-masing individu maupun kelompok yang berbeda.
Konflik yang terjadi dalam sebuah organisasi secara umum akan memberikan
pengaruh terhadap suasana kerja khususnya kinerja karyawan. Apabila konflik
tersebut telah berdampak dalam terhadap kinerja karyawan, performance
perusahaan pun secara mutlak akan terpengaruh. Pada dasarnya konflik bukanlah
suatu hal yang buruk, konflik dapat memberikan dampak yang positif. Konflik
dapat membuat seseorang lebih termotifasi untuk berprestasi dan bersaing secara
sehat. Bagi perusahaan, hal ini tentunya akan memberikan keuntungan dimana
kinerja karyawan akan mengalami peningkatan sehingga meningkatkan kualitas
perusahaan dan menambah kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan yang
bersangkutan.
Stress kerja merupakan situasi yang mungkin dialami manusia pada
umumnya dan karyawan pada khususnya didalam sebuah organisasi atau
perusahaan. Stress kerja menjadi masalah yang penting karena situasi ini dapat
mempengaruhi kinerja karyawan, sehingga perlu penanganan dalam upaya
mencapai tujuan perusahaan. Banyak sekali ragam penyebab terjadinya stress
yang bersumber dari organisasi. Penurunan produktifitas kerja menjadi salah satu
penyebab stress yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Kinerja karyawan dapat dilihat dari dimensi kemampuan, penguasaan,
tanggung jawab, mengatur waktu, kreatifitas dan kerjasama karyawan dalam
menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan.
PT. Royal Impala merupakan perusahaan yang berstatus perusahaan
perseroan terbatas. PT. Royal Impala merupakan salah satu perusahaan di
Indonesia yang memproduksi suku cadang kompor minyak tanah, suku cadang
petromak, dan kerangka kaca petromak. Keberadaan PT. Royal Impala yang
berlokasi di Kp. Kebon Jati RT. 001/001 Kel. Bojong Jaya, Kec. Karawaci, Kota
Tangerang. Mulai produksi sejak tahun 1978. Seiring dengan perkembangan
ditentukan oleh pemerintah tentang kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG,
maka PT. Royal Impala turut menunjang kegiatan pemerintah dengan
memproduksi kompor gas dan regulator. Tidak dapat dipungkiri bahwa
perusahaan pasti mengalami konflik dan stress kerja yang dialami para
karyawannya. Oleh sebab itu tentunya perusahaan harus bisa mengatasi konflik
kerja dan stress kerja yang terjadi pada para karyawannya agar nantinya dapat
meningkatkan kepuasan kerja karyawannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan deskripsi konflik pekerjaan,
stress kerja, dan kinerja dan untuk menjelaskan pengaruh variabel konflik
pekerjaan (X1), dan stress kerja (X2) terhadap kinerja (Y) baik secara parsial
maupun simultan.
2.1.2 Konflik Kerja
Menurut Rivai dan Sagala (2009: 999) konflik kerja adalah
ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota atau kelompok (dalam suatu
organisasi/perusahaan) yang harus membagi sumber daya yang terbatas atau
kegiatan-kegiatan kerja dan atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai
perbedaan status, tujuan, nilai, atau persepsi.
Menurut Rivai dan Sagala (2009: 1002) menyatakan bahwa sebab-sebab
terjadinya konflik adalah:
a. Saling ketergantungan tuga
Masing-masing sub-unit atau kelompok dalam organisasi
mengembangkan suatu keinginan untuk memperleh otonomi dan mulai
mengejar tujuan dan kepentingannya masing-masing. Oleh karena adanya
saling ketergantungan aktivitas dari masing-masing sub-unit atau kelompok,
dan masing-masing sub-unit menginginkan adanya otonomi maka
menyebabkan terjadinya kelompok dalam perusahaan.
b. Perbedaan tujuan dan prioritas
c. Perbedaan orientasi dari masing-masing sub-unit atau kelompok
mempengaruhi cara dari masing-masing sub-unit atau kelompok tersebut
dalam mengejar tujuannya.
d. Faktor birokratik (lini-staff)
e. Jenis konflik birokratik yang bersifat klasik adalah konflik antara fungsi
atau wewenang garis dan staff.
f. Kriteria penilaian prestasi yang saling bertentangan
g. Kadang kala konflik antar-subunit atau kelompok dalam perusahaan tidak
disebabkan oleh karena tujuan yang saling bertentangan, tetapi karena
cara organisasi dalam menilai prestasi yang dikaitkan dengan perolehan
imbalan membawanya ke dalam konflik.
h. Persaingan terhadap sumber daya yang langka
i. Persaingan dalam memperebutkan sumber daya tidak akan menimbulkan
konflik manakala sumber daya yang tersedia secara berlimpah sehingga
masing-masing submit dapat memanfaatkannya sesuai dengan
kebutuhannya.
j. Sikap menang-kalah
k. Jika dua kelompok berinteraksi dengan persaingan kalah menang, maka
dengan mudah bisa diapahami mengapa konflik itu terjadi. Dalam kondisi
seperti itu maka ada kelompok yang menang dan ada kelompok yang
kalah.
2.1.3 Stress Kerja
Dengan menggunakan model input - process - output, stres kerja dapat
dilihat dari 3 pendekatan yaitu stres sebagai stressor, stres sebagai proses, dan
stres sebagai respon.
Pendekatan stres kerja sebagai stressor, lebih melihat stres dari sumber-
sumber stres. Stres kerja dikaitkan dengan ketidakadilan struktur gaji,
lingkungan kerja yang berbahaya, dan budaya organisasi yang tidak kondusif.
Stres kerja sebagai respon seperti yang dinyatakan oleh Chaplin (1989) yaitu
suatu keadaan tertekan, baik fisik maupun psikis. Schult & Schult (dalam
Asnawi, 1999) mengatakan bahwa stres kerja merupakan gejala psikologis
yang dirasakan mengganggu dalam pelaksanaan tugas sehingga dapat
mengancam eksistensi diri dan kesejahteraannya. Pendekatan proses
menyatakan bahwa stres merupakan transaksi antara sumber stres dan kapsitas
diri yang menentukan, apakah respon bersifat positif ataukah negatif.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa stres kerja
merupakan suatu transaksi antara sumber-sumber stres kerja dengan kapasitas
diri, yang berpengaruh terhadap respon apakah bersifat positif ataukah negatif.
Jika respon bersifat positif, maka sebenarnya sumber stres merupakan pemacu
bagi semangat karyawan, sedangkan respon bersifat negatif merupakan
indikator bahwa sumber stres merupakan penekan. Berdasarkan respon positif
dan negatif tersebut, maka pada dasarnya stres dapat dikelompokkan menjadi
dua sifat yaitu stres bersifat negatif dan stres bersifat positif. Namun dalam
realitas sehari-hari stres biasanya hanya berkaitan dengan stres negatif.
Stress kerja adalah suatu bentuk tanggapan seseorang, baik fisik
maupun mental terhadap suatu perubahan dilingkungannya yang dirasakan
mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam (Pandji Anoraga, 2001:
108).
Menurut Rivai & Sagala (2013: 1008) menjelaskan terdapat 2 (dua)
pendekatan stres kerja:
1) Pendekatan individu
a. Meningkatkan keimanan
b. Melakukan meditasi dan pernapasan
c. Melakukan kegiatan olahraga
d. Melakukan rekreasi
e. Dukungan sosial dari teman-teman dan keluarga
f. Menghindari kebiasaan rutin yang membosankan
2) Pendekatan perusahaan
a. Melakukan perbaikan iklim organisasi
b. Melakukan perbaikan iklim terhadap lingkungan fisik
c. Menyediakan sarana olahraga
d. Melakukan analisis dan kejelasan tugas
e. Meningkatan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan
f. Melakukan restrukturisasi tugas
g. Menerapkan konsep manajemen berdasarkan sasaran
Kinerja

Kinerja adalah hasil yang diperoleh suatu organisasi baik


organisasi tersebut bersifat profit oriented ataupun non profit oriented
yang dihasilkan selama satu periode waktu (Irham Fahmi, 2011: 2).

Menurut Irham Fahmi (2013: 4) beberapa elemen kinerja adalah:

1. Hasil kerja dicapai secara individual atau secara institusi, yang


berarti kinerja tersebut adalah hasil akhir yang diperoleh secara
sendiri-sendiri atau kelompok.
2. Dalam melaksanakan tugas, orang atau lembaga diberikan
wewenang dan tanggung jawab, yang berarti orang atau lembaga
diberikan hak dan kekuasaan untuk ditindaklanjuti, sehingga
pekerjaannya dapat dilakukan dengan baik.
3. Pekerjaan haruslah dilakukan secara legal, yang berarti dalam
melaksanakan tugas individu atau lembaga tentu saja harus
mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
4. Pekerjaan tidaklah bertentangan dengan moral atau etika, artinya
selain mengikuti aturan yang telah ditetapkan, tentu saja pekerjaan
tersebut haruslah sesuai moral dan etika yang berlaku umum.

Hipotesis

H1: Diduga terdapat pengaruh parsial yang signifikan dari Konflik


Pekerjaan (X1) dan Stress Kerja (X2) terhadap Kinerja (Y)
karyawan

Model Summary

Model R R Square Adjusted Std. Error of


R Square the Estimate

1 ,931a ,866 ,850 1,95790

a. Predictors: (Constant), Stress Kerja, Konflik Pekerjaan

pada PT. Royal Impala Divisi Regulator Kota Tangerang.

H2 :Diduga terdapat pengaruh simultan yang signifikan dari Konflik


Pekerjaan (X1) dan Stress Kerja (X2) terhadap Kinerja (Y)
karyawan pada PT. Royal Impala Divisi Regulator Kota
Tangerang.

2.1.4 Sumber Stres Kerja


Northcraft (1990) mengatakan bahwa ada beberapa sumber stres
di tempat kerja yang lebih berkaitan dengan individu, seperti yang terlihat
dalam Gambar 1 berikut.
Ada beberapa faktor penyebab stres yang berkaitan dengan
individu yaitu kondisi organisasi, tuntutan sosial dan keluarga, dan
karakterisktik kepribadian. Dari sisi organisasi, sumber stres meliputi :
a. Pekerjaan itu sendiri yaitu beban pekerjaan yang terlalu sedikit atau
terlalu berat, kondisi lingkungan fisik yang yang jelek, tekanan waktu
dsb.
b. Peran dalam organisasi yaitu apakah karyawan merasakan conflict role,
role of ambiguity, besarnya tanggungjawab, partisipasi dalam organisasi,
dan pengambilan keputusan.
c. Perkembangan karir yaitu apakah karyawan merasakan overpromotion,
underpromotion, kurangnya rasa aman dalam pekerjaan, dsb.
d. Hubungan dalam organisasi yaitu sejauh mana hubungan yang kurang
baik antara karyawan - pimpinan, karyawan-karyawan, atau antar
pimpinan sendiri.
e. Keberadaan organisasi meliputi konsultasi yang kurang efektif,
hambatan dalam perilaku, dan politik dalam organisasi.
f. Hubungan organisasi dengan fihak luar yaitu bagaimana kesesuaian
antara tuntutan keluarga vs tuntutan organisasi dan antara minat pribadi
vs kebijakan organisasi.
Dikemukaan Northcraft (1990) bahwa ada dua bentuk sumber stres
kerja yaitu perasaan frustrasi karena tidak mampu mengontrol situasi yang
sedang berlangsung atau karena dari situasi yang tidak menentu/ tidak
mampu diprediksikan. Semakin besar potensi frustrasi terhadap
ketidakpastian dan kontrol yang rendah terhadap situasi, maka semakin
besar stres yang dirasakan. Frustrasi yang mungkin muncul dari kontrol
yang rendah, bersumber dari konsultasi yang kurang baik, hambatan
perilaku, terlalu banyak atau terlalu sedikit pekerjaan, tekanan waktu,
partisipasi yang rendah dalam pengambilan keputusan, dan tuntutan baik
dari keluarga dan masyarakat, hubungan interpersonal yang kurang baik.
Sumber stres karena ketidakpastian adalah politik dalam organisasi,
ketidakamanan pekerjaan, kekaburan peran, konflik peran, dan delegasi
yang kurang jelas. Hal ini sesuai dengan salah satu teori stres yang dapat
diterapkan dalam stres kerja adalah teori behavior constraint atau
hambatan perilaku. Teori ini didasarkan atas teori yang dikemukakan oleh
Bem bahwa orang merasa kehilangan kontrol terhadap situasi yang
berkembang saat itu.
Moorhead & Griffin (1995) mengatakan bahwa ada beberapa
sumber stres dari organisasi dan yang mempunyai dampak terhadap
individu, seperti yang terlihat dalam gambar berikut ini.
Sumber stres ada dua yaitu sumber stres yang berasal dari organisasi
dan sumber stres yang berasal dari kehidupan. Sumber stres dari organisasi
meliputi tuntutan tugas, tuntutan fisik, dan tuntutan interpersonal.
Yang dimaksud dengan tuntutan tugas adalah sumber stres yang
berkaitan dengan pekerjaan tertentu. Ada beberapa pekerjaan yang memang
pada dasarnya mempunyai tingkat stres yang tinggi, ada pula yang rendah.
Seorang ahli pengeboran minyak, pengontrol lalu lintas udara, dan dokter
bedah syaraf merupakan profesi-profesi dengan bidang tugas yang
mengandung sumber stres tinggi. Yang masih berkaitan dengan tuntutan
tugas adalah sejauh mana akibat tugas tersebut terhadap dampak fisik,
misalnya karyawan yang bekerja di reactor nuklir. Dalam hal ini masalah
keamanan menjadi penting. Terakhir adalah apakah pekerjaan tersebut
mempunyai resiko beban pekerjaan besar atau tidak.
Yang dimaksud dengan tuntutan fisik sebagai sumber stres adalah
apakah rancangan lingkungan fisik menjadi sumber stres apa tidak. Bekerja
di reaktor nuklir ada ancaman jika reaktornya bocor atau terkena radiasi.
Tuntutan peran, tidak berbeda dengan yang sudah dijelaskan di
bagian terdahulu. Tuntutan interpersonal adalah lebih berkaitan dengan
individu dalam interaksi di pekerjaan, misalnya apakah ada tekanan dari
kelompok, dalam norma-norma kerja, yang pada dasarnya tidak diatur
secara resmi oleh organisasi. Apakah gaya kepemimpinannya sesuai dengan
tuntutan tugas dan sesuai dengan kebutuhan karyawan? Apakah ada konflik-
konflik yang berkaitan dengan kepribadian tertentu, misalnya dengan
perbedaan karakteristik tertentu akan kurang menguntungkan kerja secara
tim.
Stres dalam kerja pada dasarnya juga dipengaruhi oleh sumber stres
di luar organisasi. Stres dalam sejarah kehidupan manusia, mau tidau akan
berdampak terhadap bagaimana seseorang bekerja. Ada dua macam stres
kehidupan yaitu perubahan kehidupan dan trauma dalam kehidupan.
Perubahan kehidupan misalnya kematian pasangan hidup dan trauma
kehidupan misalnya perceraian dengan pasangan hidupnya.
2.1.5 Moderator Stres Kerja
Ada beberapa tipe kepribadian yang rentan stres dan ada tipe
kepribadian yang tidak mudah terkena stres. Salah satu karakteristik
kepribadian yang rentan terhadap stres kerja adalah kepribadian tipe A.
Orang dengan kepribadian tipe A mempunyai obsesi terhadap waktu, ada
perasaan dikejar-kejar waktu, dan ingin segera menyelesaikan pekerjaan,
tidak sabar, dan mempunyai sense of urgency yang tinggi. Sebaliknya, tipe
kepribadian B kurang rentan terhadap stres kerja karena merasa tidak dikejar
waktu, tidak terobsesi oleh waktu, dan menikmati pekerjaan dengan rileks
(Northcraft, 1990)
Berdasarkan pendekatan kognitif, ada dua macam pola pikir yaitu
pola pikir positif yang menyebabkan optimis dan pola pikir negatif yang
menyebabkan orang pesimis. Orang-orang optimis, akan memandang
peristiwa yang negatif (bad event) sebagai suatu tantangan, sedangkan bagi
orang-orang pesimis peristiwa negatif dianggap sebagai ancaman.
Pola pikir negatif dan positif ini sangat berkaitan dengan pendekatan
stres dari perspektif psikologis yang dikemukakan oleh Lazarus. Stres
dimulai dari proses penilaian primer dan penilaian sekunder, yang pada
gilirannya akan menentukan strategi koping. Penilaian primer merupakan
penilaian terhadap situasi apakah dipersepsikan sebagai ancaman ataukah
dipersepsikan sebagai tantangan. Penilaian sekunder merupakan penilaian
terhadap kapasitas diri. Apakah seseorang menilai dirinya mampu ataukah
tidak dalam menghadapi tekanan dari luar. Secara bersamaan kedua proses
tersebut berlangsung sehingga menentukan strategi koping yang tepat. Pada
dasarnya ada dua macam strategi koping yaitu koping yang berfokus emosi,
dalam kaitan ini adalah sejauh mana orang mampu mengelola emosi dengan
baik. Meminjam istilah dari Goldman sejauh mana seseorang mempunyai
kecerdasan emosi. Dalam arti, sejauh mana orang peka terhadap reaksi
emosi yang terjadi dalam dirinya dan bagaimana mengelola emosi tersebut
dengan tepat sehingga tidak muncul respon negatif. Koping yang berfokus
pengatasan masalah dalam kaitan ini adalah sejauh mana seseorang mampu
melakukan pemecahan masalah dengan efektif. Dimulai dari identifikasi
permasalahan, perumusan masalah, mencari alternatif pemecahan masalah,
dan pengambilan keputusan. Aplikasi dalam stres kerja adalah sejauh mana
karyawan mempunyai kecenderungan pola pikir, apakah cenderung pola
pikir positif ataukah negatif. Pola pikir tersebut akan menentukan apakah
sumber stres dinilai sebagai mengancam ataukah menantang dirinya,
sehingga menentukan respon stres yang bersifat positif ataukah respon yang
negatif.
2.1.6 Respon Stres

Respon stres kerja dapat dilihat baik dari sisi individu maupun dari
sisi organisasi. Respon stres secara individu akan tampak pada reaksi-reaksi
terhadap pekerjaan, dalam proses penyelesaian pekerjaan, dan hasil
pekerjaan itu sendiri.

Ada beberapa perubahan yang dirasakan individu ketika


menghadapi tekanan yaitu reaksi fisik, emosi, fikiran, dan perilaku.
Perubahan-perubahan fisiologis sampai munculnya berbagai penyakit akan
muncul dalam kondisi stres. Misalnya jantung berdebar-debar, keringat
dingin keluar, sampai dengan berbagai gangguan psikosomatis, seperti asam
lambung belebih sehingga muncul penyakit maag, tekanan darah tinggi, dan
gangguan lainnya. Reaksi emosi yang sering tersentuh ketika dalam kondisi
stres adalah emosi marah, takut, dan emosi sedih. Banyak manajer yang
kurang mampu mengelola dengan tepat reaksi emosi dalam proses koping
berkofuskan emosi sehingga dampaknya sering kali dirasakan keluarga atau
pun bawahannya. Perubahan dalam kemampuan fikiran yang paling
menonjol adalah orang sulit melakukan konsentrasi sehingga merasakan
kesulitan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Reaksi
perilaku adalah tampak dari perubahan pola perilaku dari keadaan
sebelumnya. Jika biasanya manajer sering senyum, maka dalam kondisi
stres wajahnya kusut dan sulit sekali tersenyum.

Moorhead & Griffin (1995) mengatakan pada ada tiga dampak


terhadap individu yaitu perilaku, psikologis, dan medis. Secara perilakuan,
orang akan melakukan perilaku-perilaku yang tidak seperti biasa misalnya
minum-minuman keras dan perilaku tindak kekerasan. Dampak yang lain
adalah dampak psikologis yang mengakibatkan misalnya gangguan pada
pola makan, tidur, ataupun mood negatif. Dampak pada kesehatan, stres
biasanya menyebabkan tekanan darah tinggi dan sakit kepala.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam tataran individu tersebut


akan mempengaruhi dalam sikap terhadap pekerjaan. Dalam dunia layanan,
sering kali karyawan merasa bosan dan menunjukan gejala-gejala stres yang
disebut dengan burn out. Ketika mengalami burn out maka orang akan
menunjukkan mangkir dari tempat kerja atau absensi meningkat.

Stres kerja mempunyai dampak negatif terhadap kinerja,


ketidakhadiran, dan kemungkinan kepindahan (Davis & Newstrom, 1989;
Berry & Houston, 1993; Gibson, 1994; Moorhead & Griffin,1995). Dalam
kondisi stres, karyawan akan menurun produktivitasnya sesuai dengan
kurve U. Artinya, tekanan yang optimal akan mendorong kinerja yang
optimal. Sementara itu tekanan yang rendah atau terlalu besar tekanan,
kinerja akan menurun. Indikator stres kerja yang lain adalah meningkatnya
frekuensi absensi atau fenomena yang muncul tardiness yaitu karyawan
datang terlambat, memperpanjang proses produksi, menghindar dalam
proses organisasi, dan kemungkinan akan melakukan pencurian. Jika stres
kerja berlanjut dan belum ditemukan strategi koping yang tepat
kemungkinan yang lain karyawan akan turn over.

2.1.7 Manajemen Stres Kerja


Stres sebagai tekanan dalam pekerjaan, memang dalam tataran
tertentu menimbulkan semangat kerja tetapi jika tekanan berlebih atau
kurang tekanan akan menimbulkan stres negatif. Upaya untuk mengelola
stres menjadi penting dengan prinsip bagaimana mengelola stres negatif
menjadi stres positif, sehingga ancaman dapat dimodifikasi menjadi
tantangan.
Secara garis besar, upaya mengelola stres dapat dikelompokkan
menjadi dua macam strategi yaitu strategi koping untuk level individu dan
strategi dalam level organisasi (Moorhead & Griffin,1995). Dalam
kesempatan ini yang akan menjadi fokus adalah strategi dalam level
individu.
Strategi pada level organisasi terdiri atas dua yaitu program institusi
dan program kolateral. Program institusi berkaitan dengan pekerjaan itu
sendiri, budaya, dan supervisi. Sedangkan program kolateral seperti
program promosi kesehatan atau pun program stres manajemen yang khusus
disusun oleh pihak manajemen bagi karyawan.
Strategi level individu dapat dilakukan dengan menggunakan
strategi koping yaitu latihan dan relaksasi, manajemen waktu, manajemen
peran, dan dukungan sosial.
1. Latihan fisik dan relaksasi
Latihan fisik dalam arti olah raga merupakan perilaku sehat yang
sudah diyakini berbagai ahli sebagai suatu prevensi terhadap stres.
Demikian halnya dengan relaksasi, apakah relaksasi otot maupun imagery,
merupakan satu cara yang efektif untuk mengelola stres.
2. Manajemen waktu
Sering di jumpai bahkan hampir setiap diantara manusia mengalami
adanya rasa keterhimpitan waktu dalam melakukan sesuatu untuk
penyelesaian masalah. Dalam banyak hal, karyawan seolah-olah
kekurangan waktu, akibatnya merasa tertekan (stres). Mungkin inilah
sebabnya Tuhan mengingatkan manusia: ''Demi waktu, sesungguhnya
manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali bagi mereka yang beriman dan
beramal sholeh….'' Hal ini menandakan bahwa mereka yang tidak mampu
mengelola waktu dengan baik, akan rugi. Mereka yang mampu mengelola
waktu dengan baik, selamat dari kerugian itu.
Gie (dalam Asnawi 1999) mengatakan bahwa orang yang selalu
merasa kekurangan waktu adalah mereka yang kurang memiliki keteraturan
dan disiplin diri untuk menggunakan waktu secara efisien dan efektif.
Lakein (1989) menyatakan bahwa menyia-nyiakan waktu berarti menyia-
nyiakan hidup, sedangkan menguasai waktu berarti menguasai hidup karena
dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya.
Atkison (1990) menegaskan bahwa rata-rata setiap pekerja paling
tidak akan kehilangan sebesar antara 25%-30% dari waktu kerjanya untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang kurang bermakna bahkan sama sekali
tidak berhubungan dengan tugas pekerjaannya.
Titik awal yang paling baik untuk memperbaiki penggunaan waktu
adalah dengan membuat perencanaan, karena menurut Haynes (1994),
perencanaan adalah kunci utama untuk menghilangkan stres akibat merasa
kekurangan waktu dan merupakan cara untuk mengatur masa depan. Gie
(dalam Asnawi, 1999) menambahkan bahwa kalau dalam kurun waktu yang
sama serta kemampuan yang sama, ada orang yang dapat menyelesaikan
tugas pekerjaan yang banyak, sedang yang lain hanya sedikit maka hal
tersebut disebabkan oleh karena perbedaan dalam cara-cara mereka
memanfaatkan dan mengatur waktu kerjanya.
Ketrampilan mengelola waktu tersebut oleh sebagian para ahli
disebut pula sebagai manajemen waktu. Manajemen waktu dikatakan baik
apabila diterapkan dalam dunia kerja akan meningkatkan efisiensi,
konsentrasi, menumbuhkan daya dan kemauan yang mendorong seseorang
dalam batinnya untuk bekerja dengan lebih giat, bersemangat, tidak merasa
beban berat, dan tertekan (stres). Hardjana (1994) menegaskan bahwa
dengan adanya manajemen waktu yang baik dapat membebaskan manusia
dari stres yang tidak perlu terjadi, sehingga dapat menyelesaikan tugas tepat
pada waktunya, tidak terburu-buru, dan tetap dalam irama kerja yang
seimbang dan terkendali. Haynes (1994), mengartikan bahwa manajemen
waktu adalah proses menjadikan waktu lebih produktif, sedangkan Atkinson
(1990) mendefinisikanmanajemen waktu merupakan kemampuan
menggunakan waktu seefisien dan seefektif mungkin untuk memperoleh
manfaat yang semaksimal mungkin.
Selanjutnya Taylor (1990), menyatakan bahwa untuk mencapai
manajemen waktu yang baik diperlukan kesadaran diri yang tinggi terhadap
penghargaan waktu, ditunjang dengan disiplin pribadi, motivasi, konsentrasi
dan kekuatan untuk menolak hal-hal yang dapat merusak sehingga waktu
tersebut dapat dimanfaatkan dengan bijaksana. Griesman (1994)
menambahkan bahwa orang yang tidak belajar menghargai waktu dan tidak
mengelola penggunaan waktu secara hati-hati, akan mengalami kesulitan di
masa yang akan datang. Hardjana (1994) menyatakan lebih lugas yaitu
bahwa kecakapan dalam mengatur waktu merupakan salah satu senjata
untuk mencegah datangnya stres.
Atkinson (1990), mengemukakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi manajemen waktu adalah terdiri dari hal-hal sebagai berikut
:
a. Menetapkan Tujuan
Langkah awal dalam manajemen waktu adalah merencanakan
penggunaan waktu dengan menetapkan tujuan dari hal-hal yang akan
dikerjakan, baik untuk jangka pendek, sedang, maupun panjang. Keenan
(1995) mengatakan bahwa dengan menetapkan tujuan, dapat membantu
individu dalam memfokuskan perhatian ke arah sasaran yang akan dicapai.
b. Menyusun Prioritas
Menurut Atkinson (1990) dalam menyusun prioritas dibutuhkan
ketelitian dan kemampuan yang tinggi untuk menyususun strategi, agar hasil
pokok dari penggunaan waktu dapat tercapai secara optimal dan maksimal.
Karena waktu sangat terbatas sedangkan banyak hal yang harus diselesaikan
dalam waktu yang terbatas, maka urutan prioritas perlu dibuat berdasarkan
skala kepentingannya.
c. Menyusun Prioritas
Jadwal adalah acara kerja yang memuat hari, jam atau waktu, dan
urutan kegiatannya. Dengan demikian akan terhindar bentrokan kegiatan,
mengurangi ketergesaan, sehingga dapat menyelesaikan tugasnya dengan
baik. Taylor (1990), menyatakan bahwa dengan menyusun jadwal segala
sesuatunya termasuk diri individu tersebut menjadi tertib, teratur sehingga
semua kegiatan dapat berjalan secara terencana, lancar, dan terkendali.
d. Bersikap asertif
Atkinson (1990) menyatakan bahwa sikap asertif merupakan sikap
yang tegas untuk mengatakan ''tidak'' atau menolak dengan cara yang tetap
positif tanpa harus merasa bersalah atau menjadi agresif. Menolak atau
berkata ''tidak'' memang sering tidak enak, apalagi apabila mempunyai
hutang budi, tetapi demi tidak rusaknya perencanaan matang yang telah
dibuat maka sikap asertif sangat diperlukan. Orang yang sulit mengatakan
''tidak'', akan lebih mudahstres, karena tuntutan yang dibebankan kepadanya
dengan begitu saja mudah diterimanya walaupun tidak sesuai dengan
kapasitas daya yang dimiliknya.
e. Menghindari penundaan
Penundaan merupakan penangguhan terhadap sesuatu yang
seharusnya bukan merupakan beban tetapi masih tetap merupakan beban,
dalam arti lain penumpukan beban. Atkinson (1990), menyatakan bahwa
penyebab kebiasaan menunda-nunda adalah rasa takut gagal, kurang
terampil atau kurang mampu, Hardjana (1994) menyatakan bahwa
penundaan kerja menjadi salah satu penyebab stres karena dengan
penundaan itu individu harus mengerjakan pekerjaannya dalam waktu yang
makin amat terbatas, sehingga terjadi ketergesaan waktu kerja.
f. Meminimumkan waktu yang terbuang
Pemborosan waktu adalah segala kegiatan yang menyita waktu tetapi
kurang memberikan manfaat yang maksimal. Hal demikian akan menjadi
penghalang bagi pencapaian keberhasilan secara optimal. Untuk
meminimumkan pemborosan waktu, pertama-tama perlu melakukan
identifikasi sumber-sumber pemborosan, kemudian menghitung berapa
lama waktu yang boros. Atkinson (1990) menyatakan bahwa untuk
mengurangi atau menghilangkan pemborosan harus didukung oleh sikap
yang positif serta keinginan untuk merubah kebiasaan mempunyai rencana
yang tepat dan membina disiplin.
g. Manajemen peran
Peran ganda di satu sisi memang menguntungkan tetapi di sisi lain
kurang menguntungkan, karena kesulitan untuk mengakomodasi berbagai
peran dalam waktu bersamaan. Apabila inidvidu tidak mampu mengisi
peran yang diharapkan akan mengalami role strain dan role conflict. Ada
dua macam role-conflict yaitu interrole conflict dan intrarole conflict.
Interrole conflict terjadi ketika peran yang dimiliki seseorang terpecah
secara tidak kompatibel. Misalnya: konflik yang dialami Soeharto ketika ia
berperan sebagai ayah (melindungi KKN dari anak-anaknya) dan peran
sebagai presiden. Intrarole conflict terjadi ketika adanya harapan yang
kontradiktif atas peran tersebut. Misalnya: Jaksa Agung di mata masyarakat
di harapkan secara cepat dapat membongkar KKN Soeharto dengan
kroninya, tetapi dari sisi lain Kejaksanaan Agung memerlukan data yang
akurat sehingga butuh waktu.
Implikasi dari teori peran adalah perlunya kemampuan untuk
mengelola peran dalam pengelolaan stres. Kiat yang dapat dilakukan
pertama, menyeleksi peran-peran yang sbenarbenar sesuai dengan peran
harapan. Kedua, ketepatan mengambil peran sesuai dengan waktu dan
tuntutan situasi. Dalam hal ini kemampuan mengelola emosi menjadi
ketrampilan yang diperlukan. Ketidaktepatan memainkan peran, akan
menyebabkan sumber konflik.
h. Kelompok pendukung
Kelompok mempunyai peran yang strategis dalam berbagai
kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada kelompok, baik
kelompok kerja (formal) maupun kelompok informal. Dalam batas-batas
tertentu, bahkan kelompok informal dalam suatu organisasi mempunyai
peran yang lebih dominan dalam roda kebijakan organisasi, dalam arti
penyebaran nilai-nilai. Hal ini berkaitan dengan fungsi kelompok sebagai
tempat ekspresi perasaan senasib, sepenanggungan, sehingga perasaan
kohesif semakin kental dirasakan. Oleh karenanya, jaringan sosial yang
terdiri atas kelompok-kelompok, apakah kelompok kerja maupun kelompok
informal, merupakan sarana untuk mendapatkan dukungan psikologis
terutama bagi karyawan yang dilanda stres.
Implikasi dari pendapat ini adalah perlu dibuat kelompok di luar
kelompok kerja. Misalnya kelompok yang dibuat atas dasar pengembangan
hobi, misalnya kelompok musik atau pun kelompok olah raga merupakan
ruang yang tepat bagi tempat untuk mengekspresikan masalah dan sekaligus
mencari alternatif pemecahan masalah.
2.2 Pencegahan Dan Penanggulang Stres
2.2.1 Cara Mencegah dan Teknik Pengurangan Stres
Dalam mengatasi stres terdapat banyak teknik yang dapat dipergunakan
untuk pengurangan stress yang terjadi. Empat pendekatan yang paling sering
digunakan adalah relaksasi otot, biofeedback, meditasi dan restrukturisasi kognitif
yang semuanya membantu para karyawan mengatasi stress yang berkaitan dengan
pekerjaan.
2.2.1.1 Relaksasi Otot
Sebutan persamaan yang umum dari berbagai teknik relaksasi otot
adalah pernafasan yang lambat dan dalam suatu usaha yang sadar untuk
memulihkan ketegangan otot. Diantara berbagai teknik yang tersedia,
relaksasi progresif kontinjensi adalah yang paling sering digunakan. Tehnik
ini terdiri atas menenangkan dan mengendurkan otot secara berulang-ulang
yang diawali dari kaki dan terus meningkat ke muka. Relaksasi dicapai
dengan berkonsentrasi pada kehangatan dan ketenangan yang berkaitan
dengan otot yang dirileksasikan.
2.2.1.2 Bio feedback
Dalam bio feedback, perubahan kecil yang muncul dalam tubuh atau
otak di deteksi, di perkuat dan di tunjukkan kepada orang tersebut. Peran
potensial dari biofeedback sebagai teknik manajemen stress individu dapat
di lihat dari fungsi tubuh hingga tekanan tertentu yang di kendalikan secara
sukarela atau sadar. Potensi biofeedback adalah kemampuannya untuk
membantu relaksasi dan mempertahankan fungsi tubuh pada keadaan
nonstress. Salah satu keunggulan tehnik biofeedback di bandingkan dengan
tehnik nonbiofeedback adalah bahwa tehnik ini memberikan data yang tepat
mengenai fungsi tubuh. Pelatihan biofeedback telah bermanfaat dalam
mengurangi kegelisahan, menurunkan keasaman lambung, mengendalikan
tekanan dan migren, dan secara umum mengurangi manifestasi fisiologis
negative dari stress.
2.2.1.3 Meditasi
Meditasi mengaktifkan suatu respons relaksasi dengan mengarahkan
ulang pemikiran seseorang jauh dari dirinya sendiri. Respon relaksasi
adalah kebalikan fisiologis dan psikologis dari respons stress berperang
atau lari. Herbert benson menganalisis banyak program meditasi dan
mendapatkan suatu respons relaksasi empat langkah. Keempat langkah
tersebut adalah :
Menemukan suatu lingkungan yang tenang.
Menggunakan suatu perangkat mental seperti suatu kata tang penuh
dengan kesan yang menyenangkan untuk mengubah fikiran dari pikiran
yang berorientasi secara eksternal.
Mengabaikan pemikiran yang mengganggu dengan bersandar pada
suatu sikap yang pasif.
Mengasumsikan suatu posisi yang nyaman
Maharishi Mahes Yogi mendefinisikan meditasi transcendental
sebagai mengalihkan perhatian ke tingkat pemikiran yang lebih dalam
hingga masuk ke tingkat pemikiran yang paling dalam dan mencapai
sumber dari pemikiran. Tidak semua orang yang bermeditasi mengalami
hasil yang positif, akan tetapi sejumlah besar orang melaporkan meditasi
sebagai hal yang efektif dalam mengelola stress.
2.2.1.4 Restrukturisasi kognitif
Alasan yang mendasari beberapa pendekatan individual dalam
manajemen stress di kenal sebagai restrukturisasi kognitif, adalah respons
seseorang terhadap stressor menggunakan sarana proses kognitif, atau
pemikiran. Asumsi dasar dari teknik ini adalah bahwa pikiran orang dalam
bentuk ekspektasi, keyakinan dan asumsi merupakan label yang mereka
terapkan pada situasi, dan label ini menimbulkan respons emosional
terhadap situasi. Teknik kognitif dari manajemen stress berfokus pada
mengubah label atau kognisi sehingga orang tersebut menilai situasi secara
berbeda. Semua teknik kognitif memiliki tujuan yang serupa yaitu untuk
membantu orang memperoleh lebuh banyak kendali atas reaksi mereka
terhadap stressor dengan memodifikasi rasionalisasi mereka.
Selain teknik pengurangan stres di atas ada beberapa kiat lagi yang
dapat digunakan. Agar stres tidak berkelanjutan, adapun beberapa kiat yang
di kemukakan oleh Alex:
1) Sediakan waktu rileks
Menurut penelitian, stres yang berhubungan dengan pekerjaan
dimulai sejak pagi, sebelum Anda berangkat kerja. Daripada memikirkan
beban pekerjaan (tapi tidak ada solusinya), lebih baik digunakan waktu
Anda yang terbatas tersebut untuk melakukan relaksasi seperti meditasi dan
yoga. Teknik pernapasan adalah teknik relaksasi yang paling mudah untuk
dilakukan. Caranya dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan
sampai tak ada lagi udara yang tersisa di paru-paru. Lakukan minimal 3x
sampai membayangkan beban Anda berkurang.
2) Bersikap lebih asertif
Kebanyakan masalah pekerjaan berpangkal dari kurangnya
kesempatan untuk membuat perubahan atau keputusan. Karenanya,
bicarakan dengan atasan tentang tugas Anda dan tanggungjawab tambahan
yang ingin Anda pegang. Dengan demikian, Anda bisa menentukan
pekerjaan yang bisa Anda lakukan dengan cara kerja seperti yang
diinginkan perusahaan.
3) Bekerja lebih efisien
Selalu kekuragan waktu untuk menyelesaikan tugas bisa jadi buka
disebabkan tugas yang berlebihan, melainkan menyangkut waktu dan cara
mengerjakannya. Alex memberikan contoh seorang wartawan yang
produktif di waktu malam akan merasa tertekan jika memaksakan diri
menulis di waktu siang hari. Untuk mengatasinya, sebaiknya pekerjaan
dibagi. Siang hari membuat outline dan mencari bahan, malam hari
menyelesaikan tulisan. Untuk bekerja secara lebih efisien. Anda juga harus
trampil menentukan prioritas. Adanya urutan prioritas dapat membantu
Anda mengatur strategi.
4) Tingkatkan energi dengan tidur
“Ketika lelah, Anda lebih mudah merasa stres karena hal-hal yang
sepele,” demikian tulis Camile Anthony dalam “The Art of Napping at
Work” (1999). Kesalahan juga akan membuat perhatian Anda menurun
sehingga mudah melakukan kesalahan. Dalam keadaan demikian, Alex
menganjurkan agar tidur. Tidur 15 menit di tengah waktu kerja akan sama
manfaatnya dengan tidur malam 3 jam. Anda bisa memanfaatkan mushola
kantor (tentu saja di luar waktu shalat) atau mobil Anda untuk tidur. Jangan
lupa pasang alarm agar tidak tidur terlalu lama. Jika keduanya tidak
tersedia, meja kerja Anda bisa jadi pilihan terakhir. Yang penting,
tingkatkan energi segera jika sudah merasa terlalu lelah. Tidur selama 30
menit atau kurang, menurut Anthony akan meningkatkan mood dan rasa
humor sehingga memperbaiki hubungan Anda dengan rekan kerja. Anthony
menganjurkan agar membatasi tidur selama 30 menit saja agar tidak sampai
tertidur nyenyak, yang akan membuat Anda lebih lelah ketika bangun.
5) Atur lingkungan kerja
Bagaimana kondisi kerja Anda? Apakah meja kerja Anda
berantakan atau ruangan kerja selalu dipenuhi asap rokok? Hati-hati karena
hal-hal yang tampaknya sepele tersebut karena dapat mempengaruhi
performa kerja sekaligus kesehatan Anda. Jika tidak memungkinkan
mengubah lingkungan kerja secara besar-besaran, ada baiknya Anda
memulainya dari meja Anda. Dalam feng shui, seni tata ruang dari
Tiongkok, tempat kerja yang teratur menunjukkan pikiran yang teratur.
Jaga lingkungan kerja, terutama maja, dari tumpukan kertas atau file.
Simpan kertas-kertas Anda dalam map dan dalam kotak file atau laci file.
Anda juga bisa mencegah stres dengan mengubah letak kursi sehingga bisa
mengetahui siapa yang akan masuk ke ruangan Anda. Jika memungkinkan
pindahkan meja sehingga Anda dapat bekerja dengan cahaya alami dari luar
(matahari).
6) Kembangkan pola hidup sehat
Pola hidup sehat merupakan kunci untuk bebas stres. Pilihlah
makanan dan minuman yang bisa menurunkan stres yaitu makanan yang
banyak mengandung vitamin B kompleks seperti kacang-kacangan dan
padi-padian. Kurangi makanan berlemak dan perbanyak makan buah dan
sayur.
Berolah raga secara teratur. Olah raga yang cukup tidak saja
menyehatkan badan tapi juga memperbesar kapasitas badan tapi juga
memperbesar kapasitas paru-paru sehingga mampu menampung oksigen
yang lebih besar. Dengan kadar oksigen tinggal di dalam darah yang
kemudian akan diedarkan ke seluruh tubuh Anda akan berpikir lebih jenuh.
7) Tingkatkan ketrampilan
Tidak ada kata terlambat untuk mempelajari ketrampilan baru. Jika
Anda merasa kurang mampu berkomunikasi, Anda bisa mempelajarinya
melalui buku-buku atau latihan kepemimpinan yang sering diadakan di
kota-kota. Jika Anda mempunyai minat terhadap komputer, kembangkan
minat Anda. Peningkatan ketrampilan akan membuat Anda menjadi
karyawan yang lebih berharga.
8) Lupakan pekerjaan saat libur
Membawa laptop saat liburan keluarga? Tinggalkan saja kebisaan
itu. Liburan sebaiknya benar-benar digunakan untuk istirahat. Berlibur atau
santai bukan berarti membuang waktu. Selain mmeberikan energi tambahan
yang akan membuat Anda lebih kreatif, berlibur bersama akan mempererat
hubungan Anda dengan keluarga.
9) Pekerjaan bukan segalanya
Bekerja memang penting. Dengan sekaligus mendapat lahan untuk
aktualisasi diri. Tapi di luar pekerjaan, masih banyak kegiatan lain yang
dapat menimbulkan perasaan berguna bagi Anda. Dengan mengikuti
kegiatan di luar pekerjaan, stres Anda di tempat pekerjaan akan berkurang.
Anda dapat menyakinkan diri bahwa walaupun Anda tidak bisa
memperbaiki keadaan di tempat kerja, Anda bisa mengendalikan hal-hal
penting lainnya dalam kehidupan Anda. Perasaan mampu mengendalikan
kehidupan Anda sendiri adalah harta tak ternilai.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Semakin bertambahnya tahun dan semakin berkembagnya teknoligi terutama dalam
bidang industri dan kontuksi. Namun salah satu akibat dari perkembangan teknologi yang
merugikan adalah kecelakaan. Kecelakaan kerja ialah suatu kejadian yang tidak
dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau
harta benda.
Jumlah alat-alat industri dan para pekerja merupakan asset terpenting dan berharga
yang dapat mempengaruhi produktivitas, maka dari itu pemerintah dan para pemilik
perusahaan/ bidang industri sangat memperhatikankeselamatan para pekerja dengan cara :
mengetahui dan menghindari penyebab serta akibat yang dapat menimbulkan kecelakaan
kerja, serta mempersiapkan peralatan keselamatan untuk mencegah serta menanggulangi
jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan baik pada perlatan ataupun pekerja.

3.2 Saran
Di harapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu pembaca dalam mengetahui,
memahami, dan menyadari penyebab, akibat, pencegahan dan penanggulangan kecelakaan
kerja.
DAFTAR PUSTAKA

DI._EKONOMI_DAN_KOPERASI/SUSANTI_KURNIAWATI/MAKALAH/STREES_MAN.pdf di
unduh pada tanggal 10 oktober 2019 pukul 12:30

http://artikelbaden.blogspot.com/2012/12/strategi-manajemen-stress-kerja.html di unduh pada tanggal


13 oktober 2019 pukul 13:50