Anda di halaman 1dari 4

BAB II

DASAR TEORI

1. Cacing Nematoda
Anggota filum Nemathelminthcs, kelas Nematoda, merupakan kelompok yang jenisnya
sangat banyak, terdiri dari banyak cacing kecil yang mendiami setiap habitat yang dapat
ditempati oleh organisme multiselular darat, laut, dan air tawar. Namun, nematoda adalah
organisme yang paling dikenal (meskipun tidak signifikan secara biologis) dalam dunia parasitik.
Nematoda menginfeksi hampir semua spesies tumbuhan dan terdapat sangat banyak dalam setiap
kelas pejamu vertebrata. Serangga dan juga invertebrata lain dihinggapi parasit secara berat.
Pada pejamu vertebrata, nematoda menjadi parasit berbagai jaringan serta organ dan biasanya
mencapai ukuran yang jauh lebih besar daripada kerabatnya yang hidup bebas. (Brooks, 2004)
Nernatoda dapat menjadi parasit bagi pejamu internmedia maupun pejamu akhir. Pada
pejamu intermedia, ditemukan cacing pada stadium dewasa, larva, atau perkembangan.
Sedangkan pada pejamu akhir atau definitif, ditemukan cacing pada stadiurn dewasa atau
rcproduktif secara seksual. Pada beberapa keadaan, pejamu yang sama dapat berperan dalam dua
kapasitas, sama seperti pejamu mamalia untuk trikinela, agen trikinosis. Manusia prasejarah yang
dimakan secara kanibal atau dikonsumsi oleh mamalia predator dapat berperan sebagai pejamu
intermedia dan akhir, tetapi saat ini trikinosis tidak dapat ditularkan oleh manusia (yaitu,
manusia adalah pejamu akhir untuk trikinela). (Brooks, 2004)
Secara khas, parasit nematoda pada manusia menginfeksi banyak pejamu. Lebih dari 1
milyar orang adalah pejamu untuk Ascaris lumbricoides, cacing gelang raksasa pada manusia;
600-800 juta orang merupakan pejamu untuk cacing tambang (Ancylostoma duodenale atau
Necator americanus. (Brooks, 2004)

2. Klasifikasi Nematoda
Nematoda dibagi dalam beberapa kelas antara lain Adenophorea dan Secernentea.
(Iraningtyas, 2013)

a. Adenophorea
Anggota kelas dari Adhenophorea tidak mempunyai phasmid (organ kemosreseptor)
sehingga disebut dengan Aphasmida. Banyak dari anggota Adenophorea yang hidup bebas,
tetapi menjadi parasit di berbagai hewan. Contohnya Trichuris ovis sebagai parasit di domba.
Cacing Trichinella spiralis menjadi parasit di usus karnivora dan manusia. Cacing yang
menyebabkan penyakit trikinosis. (Iraningtyas, 2013)
Setelah cacing dewasa kawin, cacing jantan mati, sedangkan cacing betina menghasilkan
larva. Larva memasuki sel-sel mukosa dinding usus kemudian mengikuti peredaran darah
hingga ke otot lurik. Dalam otot lurik, larva membentuk sista. Manusia mengalami infeksi
cacing jika cacing dimakan yang kurang matang dan mengandung sista. Penyakit trikinosis
ditandai dengan rasa mual yang hebat dan terkadang menimbulkan kematian ketika larva
menembus otot jantung. (Iraningtyas, 2013)
b. Secernentea
Secernentea disebut dengan Phasmida, karena terdapat anggota spesiesnya mempunyai
phasmid. Banyak anggota kelas hidup dalam tubuh vertebrata, serangga dan tumbuhan. Berikut
uraian mengenai contoh-contoh spesies Secernentea. (Iraningtyas, 2013)
1) Ascaris Lumbricoides (Cacing Perut)
Ascaris lumbricoides adalah parasit usus halus manusia yang menyebabkan penyakit
askariasis. Infeksi cacing perut menyebabkan penderita mengalami kekurangan gizi. Tubuh pada
bagian anterior cacing mempunya mulut yang dengan dikelilingi tiga bibir dan gigi-gigi kecil.
Cacing betina memiliki ukuran panjang sekitar 20-49 cm, dengan diamater 4-6 mm, di bagian
ekor runcing lurus, dan dapat menghasilkan 200.000 telur per hari. Cacing jantan berukuran
panjang sekitar 15-31 cm, dengan diameter 2-4 mm, bagian ekor runcing melengkung, dan di
bagian anus terdapat spikula yang berbentuk kait untuk memasukkan sperma ke tubuh betina.
(Iraningtyas, 2013)
Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur. Telur kemudian keluar
bersama tinja. Telur mengandung embrio terletan bersama-sama dengan makanan yang
terkontaminasi. Di dalam usus inang, telur menetas menjadi larva. Larva selanjutnya menembus
dinding usus dan masuk ke daerah pembuluh darah, jantung, paru-paru, faring, dan usus halus
hingga cacing dapat tumbuh dewasa. (Iraningtyas, 2013)
2) Ancylostoma Duodenale (Cacing Tambang)
Anylostoma duodenale disebut cacing tambang karena sering ditemukan didaerah
pertambangan, misalnya di Afrika. Spesies cacing tambang di Amerika yaitu Necator
americanus. Cacing yang hidup parasit di usus halus manusia dan mengisap darah sehingga
dapat menyebabkan anemia bagi penderita ankilostomiasis.
Cacing tambang dewasa betina yang berukuran 12 mm, mempunyai organ-organ kelamin luar
(vulva), dan dapat menghasilkan 10.000 sampai 30.000 telur per hari. Cacing jantan yang
berukuran 9 mm dan mempunyai alat kopulasi di ujung posterior. Di ujung anterior cacing
terdapat mulut yang dilengkapi 1-4 pasang gigi kitin untuk mencengkeram dinding usus inang.
(Iraningtyas, 2013)
Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur. Telur keluar bersama feses
(tinja) penderita. Di tempat yang becek, telur menetas dan menghasilkan larva. Larva masuk ke
tubuh manusia dari pori-pori telapak kaki. Larva mengikuti aliran darah menuju jantung, paru-
paru, faring, dan usus halus hingga yang tumbuh dewasa. (Iraningtyas, 2013)
3) Oxyuris Vernicularis (Cacing Kremi)
Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis (cacing kremi) berukuran 10-15 mm.
Cacing yang hidup di usus besar manusia, khususnya pada anak-anak. Cacing dewasa betina
menuju ke dubur pada malam hari untuk bertelur dan mengeluarkan suatu zat yang menyebabkan
rasa gatal. Rasa gatal menyebabkan penderita menggaruknya sehingga telur cacing mudah
terselip di buku-buku. Telur cacing dapat tertelan kembali pada saat penderita makan. Di usus,
telur akan menetas menjadi cacing kremi baru. Cara penularan cacing kremi tersebut disebut
dengan autoinfeksi. (Iraningtyas, 2013)
4) Wuchereria Bancrofri (Cacing Filaria atau Cacing Rambut)
Wuchereria bancrofti yang hidup parasit di kelenjar getah bening (limfa). Cacing ini
menyebabkan penyakit kaki gajah (elephantiasis). atau filariasis. Cacing dewasa berdiameter 0,3
mm. Cacing betina berukuran panjang 8 cm dan jantan berukuran panjang 4 cm. Setelah terjadi
perkawinan, cacing betina menghasilkan mikrofilaria. (Iraningtyas, 2013)
Di siang hari, mikrofilaria berada di pembuluh darah yang besar dan malam hari pindah
ke pembuluh darah kecil di bawah kulit. Bila nyamuk perantara (Culex, Anopheles mansonia
atau Aedes) menggigit di malam hari, mikrofilaria bersama darah masuk ke perut nyamuk.
Mikrofilaria menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot toraks dan bermetamorfosis.
Setelah mencapai ukuran 1,4 mm, mikrofilaria pindah ke belalai nyamuk, dan siap ditularkan ke
orang lain. Cacing akan menggulung di kelenjar limfa dan tumbuh hingga dewasa. Cacing
deawasa yang berjumlah banyak akan menghambat sirkulasi getah benang, sehingga setelah
beberapa tahun mengakibatkan pembengkakan kaki. (Iraningtyas, 2013)
5) Onchorcerca Volvulus
Onchorcea vovulus merupakan cacing mikroskospis penyebab onchocerciasis (river
blindness) yang mengakibatkan kebutaan. Vektor pembawa adalah lalat kecil pengisap darah
black fly. Cacing banyak terdapat di Afrika dan Amerika Selatan. (Iraningtyas, 2013)

Brooks, G. F. et al. (2004). Mikrobiologi Kedokteran (Vol. 23). Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran.
Iraningtyas. 2013. Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu
Alam. Jakarta: Erlangga. Hal: 331-335.