Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Air Borne Diasease


“Penyakit Flu burung pada Manusia”
SAMPUL

NAMA:

MOH. IBNUSABIL (N 201 16 165)

KELAS : E (FKM 5)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS TADULAKO
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan baik dan tanpa hambatan.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR yang telah memberikan bimbingan dan
pengajaran kepada kami. Terlebih lagi dalam penyusunan makalah ini sehingga kami
dapat menyelesaikannya dengan baik. Terima kasih juga kepada pihak-pihak yang
telah membantu kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini, yang tidak bisa
kami sebutkan satu-persatu.
Kemampuan maksimal dan usaha yang keras telah kami curahkan dalam
menyusun makalah ini. Semoga usaha kami tidak sia-sia dan mendapatkan hasil
yang baik.
Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh
dari sempurna, karena kami menyusun ini dalam rangka mengembangkan
kemampuan diri. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun baik
lisan maupun tulisan sangat kami harapkan.

Senin, 26 Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
SAMPUL ...................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB I ........................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
1.1. Latar belakang .................................................................................................... 1

1.2. Rumusan masalah ............................................................................................... 3

1.2.1 Pengertian Penyakit Flu burung? ........................................................... 3


1.2.2 Bagaimana Epidemiologi berdasarkan Orang, Tempat dan Waktu? ..... 3
1.2.3 Apa Riwayat Alamiah Penyakit? ........................................................... 3
1.2.4 Bagaimana Rantai Penularan?................................................................ 3
1.2.5 Bagaimana Upaya pencegahan dan Penanggulangan Penyakit? ........... 3
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 3

1.2.1 Mengetahui pengertian Penyakit Flu burung. ....................................... 3


1.2.2 Mengetahui Epidemiologi berdasarkan Orang, Tempat dan Waktu ...... 3
1.2.3 Mengetahui Riwayat Alamiah Penyakit................................................. 3
1.2.4 Mengetahui Rantai Penularan. .............................................................. 3
1.2.5 Mengetahui Upaya pencegahan dan Penanggulangan Penyakit. ........... 3
BAB II .......................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 4
2.1. Pengertian Penyakit Flu Burung ......................................................................... 4

2.2. Epidemiologi berdasarkan Orang, Tempat dan Waktu ...................................... 4

2.3. Riwayat Alamiah Penyakit ................................................................................. 8

2.3.2 Tahap Inkubasi Penyakit Flu Burung pada Manusia ............................. 9


2.3.3 Tahap Klinis Penyakit Flu Burung pada Manusia ............................... 12
2.3.4 Tahap Terminal Penyakit Flu Burung pada Manusia .......................... 13
2.4. Rantai Penularan ............................................................................................... 13

2.5. Upaya pencegahan dan Penanggulangan Penyakit ........................................... 14

2.5.1 Upaya Pencegahan ............................................................................... 14

iii
2.5.2 Penanggulangan Penyakit .................................................................... 17
BAB III ...................................................................................................................... 18
PENUTUP .................................................................................................................. 18
3.1. Kesimpulan ....................................................................................................... 18

3.1 Saran ................................................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 20

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Pada kasus food borne disease mikroorganisme masuk bersama
makanan yang kemudian dicerna dan diserap oleh tubuh manusia. Dari semua
penyakit yang ditularkan melalui makanan, yang paling sering terjadi adalah
diare. Penyakit diare menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara
berkembang. Hal ini terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian
akibat diare. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun
2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal. Sanitasi yang buruk dituding
sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri E.coli dalam air bersih yang
dikonsumsi masyarakat (Adisasmito, 2007).
Wabah penyakit flu burung yang melanda dunia, khususnya kawasan
asia, memang menjadi perhatian, baik masyarakat luas maupun badan kesehatan.
Hal ini disebabkan oleh penyakit flu burung yang dapat menular kepada manusia
dan berakibat fatal karena dapat membawa kematian. Kasusnya sangat gencar
diberitakan di berbagai media massa sehingga membuat resah banyak pihak.
Pada dasarnya, wabah flu burung sudah terjadi sejak tahun 1959 di Skotlandia.
Pada saat itu ditemukan virus avian influenza subtipe H5N1 yang menyerang
ternak unggas dan menular ke manusia. Di Asia, wabah virus flu burung merebak
sekitar tahun 90-an di Hongkong. Sejak saat itulah, flu burung menjadi penyakit
pandemik (Lintas batas Negara). Thailand, Malaysia, Cina, Korea, Kamboja, dan
Indonesia adalah sebagian Negara yang telah terjangkit virus flu burung
(Atmawinata, E, 2006)
Munculnya penyakit Flu burung menimbulkan dampak yang luar biasa
terutama di bidang perekonomian di suatu Negara. Kerugian di Industri
peternakan menyebabkan hilangnya keuntungan milyaran rupiah yang dialami
baik peternak ataupun Negara, terutama bagi Negara berkembang yang
bergantung pada industri tersebut sebagai salah satu sumber pendapatannya.
Kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh virus ganas ini akan
semakin meluas karena didukung tingkat penyebaran virus yang bisa berkembang

1
dan menyebar luas dengan cepat. Hal itu bisa terjadi jika tidak dilakukan
tindakan preventif, baik terhadap unggas maupun pada manusia yang
bersinggungan langsung dengan ternak unggas (Yuliarti,N, 2006).
India berada di peringkat pertama tentang perilaku Buang Air Besar
yang sembarangan sedangkan Indonesia menduduki peringkat kedua pada tahun
2014. Data UNICEF tahun 2014 menyatakan bahwa sebanyak 44,5% dari
total seluruh penduduk Indonesia masih belum memiliki akses pembuangan
tinja yang layak dan 63 juta masyarakat Indonesia masih buang air besar
sembarangan atau 24% dari total penduduk Indonesia masih melakukan
buang air besar (BAB) sembarangan. UNICEF juga menyatakan bahwa
sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk, serta minum air yang tidak
aman berkontribusi terhadap 88% kematian anak akibat diare diseluruh
dunia (Astuti, 2013).
Penularan penyakit dapat terjadi pada manusia melalui vektor penyakit
seperti serangga dikenal sebagai “arthropod borne disease” atau kadang-kadang
disebut juga dengan “vector borne disease”. Penyakit yang tergolong arthropod
borne disease merupakan penyakit yang penting dan dapat bersifat endemis
maupun epidemis serta dapat menimbulkan wabah dengan ancaman kematian
(Chandra B, 2003).
Di Indonesia, penyakit-penyakit yang ditularkan melalui serangga
merupakan penyakit endemis pada beberapa daerah tertentu, seperti demam
berdarah dengue, malaria, dan kaki gajah (filariasis). Pergantian musim dapat
meningkatkan angka kesakitan penyakit saluran pencernaan seperti disentri,
kolera, demam tifoid, dan paratifoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat
rumah (Chandra B, 2003).

2
1.2. Rumusan masalah
1.2.1 Pengertian Penyakit Flu burung?
1.2.2 Bagaimana Epidemiologi berdasarkan Orang, Tempat dan Waktu?
1.2.3 Apa Riwayat Alamiah Penyakit?
1.2.4 Bagaimana Rantai Penularan?
1.2.5 Bagaimana Upaya pencegahan dan Penanggulangan Penyakit?
1.3 Tujuan
1.2.1 Mengetahui pengertian Penyakit Flu burung.
1.2.2 Mengetahui Epidemiologi berdasarkan Orang, Tempat dan Waktu
1.2.3 Mengetahui Riwayat Alamiah Penyakit.
1.2.4 Mengetahui Rantai Penularan.
1.2.5 Mengetahui Upaya pencegahan dan Penanggulangan Penyakit.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Penyakit Flu Burung


Airborne disease adalah penyakit yang tersebar ketika tetesan pathogen
dikeluarkan ke udara yang disebabkan oleh batuk, bersin, atau berbicara.
Penyakit ini mengacu pada setiap penyakit yang disebabkan oleh agen mikroba
patogen dan ditularkan melalui udara (Yuliarti,N, 2006).
Penyakit flu burung adalah penyakit yang di sebabkan oleh virus
influenza A subtype H5N1. Penyakit flu burung umumnya menyerang unggas
serta menimbulkan gejala yang ringan sampai yang berat dan fatal yaitu
menimbulkan kematian. Namun kadang-kadang unggas yang terserang
penyakit terutama unggas liar seperti itik dan burung liar tidak menunjukkan
gejala klinis tetapi dapat menyebarkannya pada hewan lain maupun manusia.
(Khairiyah, 2011).
Flu burung atau avian influenza (Al) merupakan penyakit hewan
menular yang disebabkan oleh virus zoonosis (jenis penyakit yang bias
menular manusia). Patogenesis virusnya (kemampuan parasite menimbulkan
penyakit pada inangnya) bervariasi. Biasanya menimbulkan gangguan saluran
pernafasan ringan hingngga wabah merugikan yang berkaitan dengan infeksi
yang bersifat akut menyerang organ pencernaan (viserotropik) dan menyebar
ke dalam tubuh unggas melalui sirkulasi darah (pansistemik) (Khairiyah,
2011).
2.2. Epidemiologi berdasarkan Orang, Tempat dan Waktu
Menurut Endarti dkk, 2006, variabel epidemiologi berdasarkan orang,
tempat dan waktu yaitu antara lain:

2.2.1. Orang (Person)


Gambaran kejadian confirmed Avian Influenza berdasarkan
variable orang (jenis kelamin dan umur) memperlihatkan bahwa kasus
lebih banyak terjadi pada pria daripada pada wanita. Tetapi tingkat
kematian wanita lebih tinggi daripada pria. Dilihat dari variabel umur,
kasus paling banyak terjadi pada usia dewasa (> 18 tahun) dan paling

4
sedikit terjadi pada balita. Sedangkan untuk tingkat kematian tertinggi
terjadi pada usia balita dan terendah terjadi pada anak usia sekolah (tabel
3.

kasus terbanyak pada usia dewasa (57,1%) dan yang paling


sedikit pada usia balita (3,57%). Hasil tersebut sesuai dengan temuan
CDC bahwa kasus Avian Influenza lebih banyak terjadi pada anak-anak
dan dewasa muda, akibat risiko terpapar yang lebih tingi. Proporsi kasus
yang sebelumnya telah terpapar dengan beberapa faktor risiko adalah
56,2%. Kasus pada balita terjadi akibat sistem kekebalan yang belum
kuat. Keterpajanan dengan virus H5N1 yang mungkin berasal langsung
dari unggas, yang menderita Avian Influenza (100%). Hal tersebut
memperlihatkan bahwa balita merupakan kelompok risiko tinggi yang
perlu dijaga agar tidak kontak dengan burung dan unggas. Laju Fertalitas
kasus pada balita mencapai 100%, diikuti oleh dewasa (87,5%) dan anak
usia sekolah (40%). Hasil ini sesuai dengan laporan penelitian
sebelumnya bahwa tingkat kematian infeksi H5N1 tertinggi terjadi pada
balita (89%). Perbedaan angka kematian tersebut disebabkan oleh
perbedaan response rate yang dilakukan. Kematian Balita tinggi karena
penanganan kasus yang lambat (>2 hari).
2.2.2. Tempat
Di Indonesia, sampai dengan bulan Februari 2006, kasus
confirmed Avian Influenza telah terjadi di Provinsi Lampung, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Jawa Tengah. Kelima provinsi tersebut

5
sebelumnya telah mengalami kejadian kasus Avian Influenza pada
unggas ataupun hewan lainnya. Jalur Pantai utara (Pantura) khususnya
Kabupaten Indramayu dengan wilayah udara yang setiap musim menjadi
jalur lalu lintas jutaan burung, termasuk daerah yang terjangkit virus
H5N1. Dalam perjalanan migrasi, burung dari Australia atau Eropa yang
menempuh ribuan kilometer menjadikan kepulauan Rakit sebagai tempat
peristirahatan atau transit. Pulau Rakit Utara, Gosong dan Rakit Selatan
atau Pulau Biawak menjadi tempat persinggahan jutaan ekor burung
selama, 2-2,5 bulan untuk bereproduksi, kawin, dan bahkan sampai
menetaskan telurnya. Propinsi Lampung adalah propinsi kedua yang
paling sedikit memiliki kasus confirmed Avian Influenza pada manusia
setelah propinsi Jawa Tengah. Semua kasus, sebanyak tiga orang atau
sekitar 10,71% dari total kasus di Indonesia, terjadi di Kabupaten
Tenggamus. Adanya kasus confirmed Avian Influenza di daerah tersebut
karena di Kabupaten Tenggamus, begitu juga dengan Tulang Bawang,
Bandar Lampung dan Lampung Barat, mengalami kematian unggas
sebanyak 4.355 ekor dan berdasarkan hasil penyelidikan dan surveilens
penyakit didapatkan hasil 46 unggas positif terinfeksi Avian Influenza.

Selain cuaca, kejadian kasus pada hewan tersebut juga


dipengaruhi oleh migrasi burung-burung liar. Virus H5N1 dengan
patogenitas yang tinggi (HPAI) dapat bertahan lama pada lingkungan
dengan suhu udara yang rendah. Terlihat bahwa daerah yang rata-rata
suhu udaranya rendah berisiko lebih besar terserang penyakit Avian
Influenza. Kabupaten Bandung, Bogor dan kabupaten Magelang dengan
suhu udara rata-rata-nya 23,5o- 24oC dan Kabupaten Magelang yang
dikelilingi pegunungan dan beriklim sejuk yang cocok untuk budidaya
ungags.

2.2.3. Waktu
Di Indonesia kasus Avian Influenza pada manusia yang pertama kali dan
berakhir dengan kematian terjadi pada bulan Juli 2005. Kasus tersebut
mengagetkan karena dialami oleh orang yang tidak bekerja di peternakan

6
dan yang rumahnya jauh dari lokasi peternakan. Memasuki musim hujan,
pada bulan September 2005, terjadi peningkatan kasus 6 kali lipat dari
kasus pada bulan Juli 2005. Setelah itu, sampai bulan Februari 2006
dilaporkan selalu ada kasus baru dengan jumlah yang berfluktuasi. Cuaca
ketika terjadi endemis Avian Influenza pada periode September 2005-
Februari 2006, sama dengan cuaca ketika terjadi KLB pada hewan tahun
2004, yaitu musim hujan.
Pada musim dingin, burung-burung liar bermigrasi ke arah selatan
melintasi Indonesia yang terletak pada 6oLU –11oLS (“Profil Indonesia”,
2005). Migrasi burung liar yang merupakan resevoir virus H5N1 tersebut,
dimulai pada bulan Juli dan semakin lama semakin banyak. Migrasi
tersebut akan menularkan virus pada hewan-hewan domestic yang ada di
jalur perjalanan mereka. Para ilmuwan meyakini bahwa burung-burung
liar/ burung air yang bermigrasi membawa virus H5N1 dalam bentuk
HPAI. Hal ini terbukti dengan kejadian luar biasa (KLB) Avian Influenza
pada hewan di Asia Tenggara yang terjadi pada musim dingin 2003-
2004. Saat itu, kepadatan burung-burung liar di Asia Tenggara berada
pada puncaknya. Semakin banyak hewan peliharaan yang terinfeksi maka
risiko penularan pada manusia semakin besar. Suhu lingkungan yang
relatif lebih rendah itu akan membuat virus bertahan lebih lama, karena
dia mampu bertahan hidup di air pada suhu 22oC sekitar empat hari. Sifat
virus ini secara teoritis dapat menular pada manusia melalui hidung.
Peningkatan kasus pada musim dingin juga disebabkan oleh kebiasaan
tinggal di dalam rumah dan kebiasaan membawa ternak mereka ke dalam
rumah. Hal tersebut menyebabkan kontak yang lebih sering, sehingga
risiko penularan antar hewan ataupun hewan ke manusia menjadi lebih
besar.

7
2.3. Riwayat Alamiah Penyakit
Menurut Widoyono, 2005 ada 4 tahapan riwayat alamiah penyakit,
yaitu antara lain:
Tahap Pre-Patogenesis Penyakit Flu Burung pada Manusia
Tahap pre-patogenesis merupakan tahap berlangsungnya proses
etiologis, dimana faktor penyebab pertama kalinya bertemu dengan
pejamu. Faktor penyebab pertama belum menimbulkan penyakit, tetapi
telah mulai meletakkan dasar-dasar bagi berkembangnya penyakit
nantinya. Tahap pre-patogenesis penyakit flu burung terjadi karena
seseorang interaksi dengan unggas. Interaksi terjadi tidak disengaja, tidak
disadari, dan terjadi karena kebetulan. Interaksi antara manusia dengan
sumber penularan (unggas) secara dominan terjadi di lingkungan sekitar
rumah.
Interaksi tersebut, antara manusia dengan unggas sebagai sumber
penularan sebenarnya sudah terjadi secara langsung. Dari hasil studi yang
dilakukan lebih dari setengahnya pasien pernah kontak langsung dengan
ayam yang mendadak mati atau burung peliharaan yaitu mencapai 17
(55%) pasien positif penyakit flu burung. Kondisi ini menunjukan bahwa
unggas yang dipelihara di rumah merupakan potensi faktor risiko
mempercepat transmisi H5N1 pada manusia. Banyaknya unggas yang
dipelihara di rumah membuktikan bahwa secara nampak sumber
penularan H5N1 itu ada di sekeliling manusia.
Interaksi manusia dengan lingkungannya telah menyebabkan
kontak antara kuman dengan manusia. Bahwa sering terjadi kuman yang
tinggal ditubuh inang (host) kemudian berpindah ke manusia karena
manusia tidak mampu menjaga kebersihan lingkungannya. Hal ini terjadi
misalnya pada kasus penularan penyakit melalui binatang yang
mengalami domestikasi, seperti sapi, babi, dan anjing. Penyakit flu
burung menular ke manusia terjadi karena kontak dengan berbagai jenis
unggas yang terinfeksi oleh virus H5NI maupun tidak langsung.
Keseimbangan interaksi antara manusia dengan sumber penularan
sebagai titik tumpunya adalah lingkungan. Di tahapan pre-patogenesis

8
(tahap peka) lingkungan mempunyai peran yang nyata terjadinya
transmisi dan distribusi penyakit flu burung. Dari hasil studi yang
diperoleh ternyata lingkungan yang menjadi titik tumpu keseimbangan
adalah lingkungan di sekitar rumah bukan lingkungan di luar rumah.
Kenyataannya lingkungan sekitar rumah merupakan tempatnya seseorang
berdiam diri dengan waktu yang paling lama. Baik secara sengaja atau
tidak sengaja seseorang yang ada di rumah melakukan kontak langsung
dengan sumber penyakit (Unggas).
Aspek lingkungan lainnya adalah saluran air limbah rumah tangga
dan kotoran unggas yang terbuka di setiap rumah. Ini mempunyai
implikasi tidak terpeliharanya sanitasi lingkungan sehingga dijadikan
tempat hidupnya virus H5N1. Faktor risiko penularan dari burung liar
pembawa semua varietas subtipe dari virus influenza A ke unggas
peliharaan terutama terjadi kalau unggas peliharaan tersebut di biarkan
bebas berkeliaran. Maka studi ini berhasil mengidentifikasi tahapan pre-
patogenesis penyakit flu burung pada manusia menurut studi kasus
diantaranya adalah unggas yang di pelihara untuk keperluan kebutuhan
sendiri dan lingkungan sekitar rumah sebagai salah satu faktor interaksi
risiko. Hal ini memperlihatkan bahwa faktor risiko pre-patogenesis yang
dominan sebenarnya bukan di lingkungan peternak justru pada kebiasaan
memelihara ternak di rumah.
2.3.2 Tahap Inkubasi Penyakit Flu Burung pada Manusia
Tahap inkubasi (tahap prasimtomatik) merupakan tahap
berlangsungnya proses perubahan patologik yang diakhiri dengan
keadaan ireversibel (yaitu, manifestasi penyakit tidak dapat dihindari
lagi). Pada tahapan ini belum terjadi manifestasi penyakit, tetapi telah
terjadi tingkat perubahan patologis yang siap untuk dideteksi tanda dan
gejala pada tahap berikutnya. Pendapat lain menjelaskan bahwa tahap
inkubasi merupakan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh pejamu
(manusia) tetapi gejala penyakit belum tampak.

9
Dalam konteks realita ada kesulitan untuk menemukan masa
waktu yang tepat virus H5N1 menginfeksi tubuh manusia karena
berhubungan dengan ukuran dan bentuk virus yang tidak dapat di indra
melalui penglihatan. Cara yang digunakan adalah menghubungkan masa
inkubasi virus H5N1 melalui identifikasi awal mula terjadinya interaksi
seseorang dengan unggas yang positif H5N1 sampai akhirnya seseorang
merasakan adanya perubahan fisiologi tubuh yang mengarah pada tanda
dan gejala penyakit flu burung.
Tahap inkubasi penyakit flu burung pada manusia menurut
referensi yang ada sampai saat ini belum diketahui secara pasti namun
untuk sementara para ahli (WHO) menetapkan masa inkubasi virus
influenza ini pada manusia rata-rata adalah 3 hari. Dalam penelitian ini,
melalui status health folder penderita positif flu burung dari mulai
terjadinya interaksi di masa pre-patogenesis sampai pada titik awal
munculnya gejala klinis rata-rata masa inkubasi adalah 7 hari. Rentang
nilai masa inkubasi penyakit flu burung dalam penelitian ini diperoleh
mulai dari masa inkubasi minimal 2 (dua) hari dan maksimal 20 hari.
Hasil analisis yang digunakan menunjukan terjadinya masa
inkubasi penyakit flu burung yang cukup lama sampai 20 hari disebabkan
daya tahan tubuh seseorang pada saat itu baik dan kemampuan virus
H5N1 tidak cukup untuk secara cepat menginfeksi manusia dan
menimbulkan penyakit. Namun setelah virus H5N1 masuk dalam tubuh
secara perlahan menjadi virulen sehingga akhirnya daya tahan tubuh
tidak kuat melawan virulensi virus H5N1 dan akhirnya menjadi sakit.
Pada masa inkubasi yang pendek yaitu hanya 2 hari dianalisis karena
adanya tingkat virulensi H5N1 yang tinggi. Menurut WHO (2006), unggas
yang sakit bahkan mati akan mengeluarkan virus dengan jumlah besar
dalam kotorannya. Dari analisis status health folder penderita flu burung,
seperti yang terjadi pada pasien-16,-18, dan serta lainnya menunjukan
bahwa virulensi virus H5N1 pada unggas mati menyebabkan patogenesis

10
penyakit terjadi sangat cepat. Namun kondisi inipun sebenarnya sangat
dipengaruhi oleh imunitas tubuh.
Masa inkubasi penyakit flu burung pada manusia berdasarkan dari
studi kasus yang dikumpulkan memperlihatkan begitu cepatnya transmisi
H5N1 dari unggas ke manusia. Masuknya bibit penyakit H5N1 pada
manusia merupakan suatu risiko semua orang karena dari hasil penelitian
ini menunjukan justru potensi penularan terjadi di lingkungan sekitar
rumah. Avian influenza (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara
populasi unggas dengan kematian yang tinggi, bahkan dapat menyebar
antar peternakan, dan menyebar antar daerah yang luas. Hasil analisis
kasus yang diperoleh menunjukan bahwa pola masuk bibit penyakit tidak
mutlak bersumber dari unggas yang dipelihara oleh keluarga tetapi ada
juga yang dimulai dari unggas (ayam) yang dipelihara oleh tetangga.
Penularan penyakit flu burung kepada manusia dapat melalui
kontak langsung dengan sekret/lendir atau tinja binatang yang terinfeksi
melalui saluran pernafasan atau mukosa konjunctiva (selaput lendir).
Bahwa penyakit ini juga bisa menular melalui udara yang tercemar virus
Avian Influenza (H5N1) yang berasal dari tinja atau sekret/lendir unggas
atau binatang lain terinfeksi dalam jarak terbatas dan kontak dengan
benda yang terkontaminasi H5N1.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, masuknya bibit penyakit pada
tubuh manusia tidak semuanya menyebabkan penyakit. Kekebalan tubuh
manusia menentukan juga apakah bibit penyakit mampu menimbulkan
sakit atau sebaliknya justru tidak mampu menimbulkan sakit. Jika daya
tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang
mengakibatkan terjadinya gangguan bentuk dan fungsi tubuh. Garis yang
membatasi tempat atau tidak tampaknya gejala penyakit biasanya disebut
dengan nama horison klinik. Ini menunjukan adanya kondisi yang
menyatakan bahwa tubuh itu mempunyai pertahanan kuat yang dapat
menangkal infektivitas virus.

11
2.3.3 Tahap Klinis Penyakit Flu Burung pada Manusia
Tahap klinis dihitung mulai dari munculnya gejala penyakit
sampai kepada seseorang memerlukan perawatan dan pengobatan secara
khusus karena ketidakmampuan tubuh melakukan aktivitas sehari-hari
secara mandiri. Tahap klinis penyakit flu burung pada studi kasus yang
dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini hampir semuanya
menunjukan gejala dan tanda klinis diantaranya: demam panas ≥ 38ºC,
adanya batuk, sakit tenggorokan, pilek, dan sesak nafas.
Orang yang terserang flu burung menunjukan gejala seperti
terkena flu biasa, hanya saja karena keganasan virusnya menyebabkan flu
ini juga ganas. Selanjutnya disampaikan dalam waktu singkat, gejala-
gejala tersebut dapat menjadi lebih berat dengan terjadinya peradangan
paru-paru (pneumonia). Gejala lain yang dapat ditemukan adalah pilek,
sakit kepala, nyeri otot, infeksi selaput mata, diare atau gangguan saluran
cerna. Bila ditemukan gejala sesak menandai terdapat kelainan saluran
nafas bawah akan ditemukan bronchitis di paru dan bila semakin berat
frekuensi pernafasan akan semakin cepat.
Di tahap klinis ini, penderita rata-rata hari ke-5 mendapatkan
perawatan dan pengobatan ditempat pelayanan kesehatan profesional
(Mantri Kesehatan, Dokter Praktek Swasta, Puskesmas, dan Rumah
Sakit). Ada beberapa kasus tertentu petugas kesehatan tidak tepat
mendiagnosis penyakit bahkan salah praduga mendiagnosis penyakit,
misalnya mendiagnosis typus abdominalis, atau suspek demam berdarah.
Dampaknya memberikan obat salah, akhirnya gejala yang dirasakan oleh
penderita bukan berkurang malah semakin parah.
Pelayanan kesehatan di tingkat pertama pasien dengan suspek flu
burung mestinya langsung mendapatkan Oseltamivir 2 x 75 mg (jika
anak, sesuai dengan berat badan) lalu dirujuk dengan segera. Ternyata di
tataran lapangan pasien dengan suspek flu burung baru dibawa ke rumah
sakit rujukan rata-rata pada hari ke-6. Bahkan data yang diperoleh
rentang waktu penderita di rumah adalah 2-12 hari. Lamanya penderita

12
mendapatkan perawatan dan pengobatan yang spesifik tentunya ini
menjadi preseden buruk bagi kondisi kesehatan penderita. Maka pada
tahap klinik hampir sebagian penderita yang positif penyakit flu burung
masuk perawatan dan pengobatan di RS sudah masuk pada tahap
komplikasi atau stadium lanjut.
2.3.4 Tahap Terminal Penyakit Flu Burung pada Manusia
Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir sesuai dengan
riwayat alamiahnya. Tahap terminal penyakit merupakan titik berakhir
suatu mekanisme penyakit di dalam tubuh manusia dalam keadaan
sembuh, mengalami kecacatan, atau meninggal dunia. Termasuk
perjalanan akhir penyakit flu burung pada manusia. Perjalanan akhir
penyakit flu burung lebih disebabkan adanya komplikasi pada infeksi
paru-paru (pneumonia) berat yang bisa menyebabkan gagal nafas. Hal ini
terjadi karena adanya gangguan ventilasi dan perfusi jaringan paru-paru.
Selain itu juga sering terjadi syok (dapat hipovolemik, distributif,
kardiogenis ataupun obstruktif) yang pada akhirnya tubuh tidak lagi
mampu menahan keseimbangan.
2.4. Rantai Penularan
Rantai penularan penyakit adalah rangkaian sejumlah faktor yang
memungkinkan proses penularan suatu penyakit dapat berlangsung.
Menurut Atmawinata (2006), cara penularan virus flu burung ini dengan cara :
a. Cara penularan dari unggas ke ungags. Yaitu Kontak langsung unggas
yang terinfeksi flu burung dengan unggas yang peka, Melalui feses
(kotoran) unggas yang terserang flu burung, Melalui lendir yang keluar
dari hidung dan mata, Melalui udara, Melalui perdagangan
unggas.,Melalui makanan dan minum yang terkontaminasi.
b. Cara penularan flu burung dari hewan ke manusia, yaitu Penularan dari
unggas ke manusia juga dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara
yang mengandung virus flu burung atau kontak langsung dengan unggas
yang terinfeksi flu burung.

13
Menurut Widoyono (2005), Unggas yang menderita flu burung
dapat mengeluarkan virus berjumlah besar dalam kotoran (feses) maupun
sekreta yang dikeluarkannya. Menurut WHO, kontak unggas liar dengan
ungas ternak menyebabkan epidemik flu burung di kalangan uggas.
Penularan penyakit terjadi melalui udara dan eskret unggas yang terinfeksi.
Virus flu burung mampu bertahan hidup dalam air sampai 4 hari pada suhu
220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. Di dalam tinja unggas dan
dalam tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, namun
akan mati pada pemanasan 60OC selama 30 menit atau 90OC selama 1
menit. Mekanisme penulara flu burung pada manusia:

2.5. Upaya pencegahan dan Penanggulangan Penyakit


Menurut kartika (2007), pencegahan flu burung dapat dibedakan menjadi dua
yaitu :

2.5.1 Upaya Pencegahan


2.5.1.1 Perlindungan individu secara umum
Dapat dilakukan dengan menghindari diri dari
kontak dengan unggas atau peternakan unggas yang
terjangkit flu burung, jika terpaksa harus kontak dengan unggas
yang terjangkit flu burung hendaknya : (a) menggunakan
penutup mulut dan hidung, sarung tangan, masker seperti
masker bedah, kacamata, gaun pelindung/Apron, dan sepatu
boot apabila memasuki daerah yang telah terjangkiti atau
sedang terjangkit virus flu burung, (b) rajin mencuci tangan
dengan sabun atau cairan antiseptik setelah kontak dengan

14
unggas/burung atau mandi, (c) membersihkan pakaian dengan
detergen, cairan alkohol (70%) atau pemutih/khlorin
(0.5%) dan jangan membawa keluar alat perlengkapan dari
peternakan unggas, (d) tidak meludah sembarangan. Apabila
telah menderita gejala - gejala menyerupai influenza (contoh
demam >38oC, batuk, sakit tenggorokan, hidung meler dan sakit
otot) maka hal yang harus dilakukan adalah menutup hidung
dan mulut saat batuk atau bersin, menggunakan tissue dan
membuang segera setelah dipakai, tidak menyentuh
mata, hidung, atau mulut. Selanjutnya berobat ke dokter
dengan memakai masker atau penutup hidung dan mulut.
2.5.1.2 Pencegahan flu burung di lingkungan rumah
Upaya ini dapat dilakukan dengan: (a) menjaga
kebersihan lingkungan(khususnya kandang unggas dan
burung), (b) menjauhkan kandang unggas dan burung dari
rumah/tempat tinggal, (c) menggunakan penutup hidung dan
sarung tangan bila akan mengolah tanaman dengan pupuk
kandang, (d) tidak membuang kotoran (jeroan, bulu ayam,
dll.) sembarangan melainkan membungkusnya dengan plastik
dan membuang di tempat sampah, (e) membersihkan
makanan ternak/burung yang tercecer di tanah/lantai. Untuk
menyiapkan kebutuhan konsumsi sehari-hari di rumah
sebaiknya: (a) tidak membeli daging ayam dengan warna
daging yang gelap, terdapat tanda memar atau bintik- bintik
pendarahan, (b) tidak membeli daging ayam yang dengan harga
lebih murah dari sewajarnya, (c) tidak membeli telur yang
mempunyai cangkang yang retak atau terdapat kotoran atau
bulu pada cangkangnya dan mencuci telur secara sempurna
sebelum dimasak, (d) tidak menggunakan tangan yang kotor
untuk menyentuh hidung, mata atau mulut, (e) menggunakan
alas pemotong yang berbeda-beda untuk daging, sayuran,

15
masakan mentah serta makanan matang, (f) memasak
sampai matang produk -produk unggas dengan suhu
pemasakan diatas 80oC, jangan memakan daging
unggas/bird yang masih berwarna merah muda atau telur
setengah matang. Hal-hal yang harus dilakukan untuk
menghindari penularan flu burung jika memelihara unggas di
rumah antara lain: (a) pembersihan kandang meliputi
pembersihan terhadap fasilitas dan peralatan kandang, (b)
mengontrol pembuangan limbah/kotoran hewan, memisahkan
ayam-ayam yang terlihat tidak normal atau menunjukkan
gejala sakit terutama ayam muda (0-18 bulan), (c)
menyemprotkan desinfektan untuk membunuh kuman
penyakit, (d) saat mengubur unggas yang mati serta
kotorannya dan hindari membuat debu dengan
menyemprotkan air disekelilingnya untuk membasahi tanah,
(e) menguburkan bangkai unggas serta kotorannya dengan
kedalaman sekurang- kurangnya satu meter di dalam tanah,
(f) setelah bangkai burung serta kotorannya telah dikuburkan
maka bersihkan kadang serta daerah yang terkontaminasi
lainnya secara sempurna menggunakan detergen dan air.
2.5.1.3 Pencegahan flu burung di daerah yang telah terjangkit fluburung
Jika hidup di lingkungan yang terbukti telah
terjangkit flu burung, maka usaha pencegahan dapat
dilakukan dengan: (a) apabila menemukan unggas yang
sakit atau sekarat (jenis apapun) maka segera melaporkan
kepada Dinas Peternakan setempat, (b) menggunakan sarung
tangan dan penutup mulut apabila harus menyentuh bangkai
hewan tersebut, (c) mencuci tangan dengan air dan sabun
setidaknya selama 10 detik setelah menyentuh bangkai
unggas tersebut, (d) hindari memasuki peternakan atau
pasar basah dimana terdapat unggas-unggas hidup, (e)

16
setelah berjalan di daerah yang mungkin terkontaminasi
(seperti peternakan, pasar atau pekarangan yang terdapat
unggas - unggasan) maka bersihkan sepatu secara hati - hati
dengan air dan sabun, (f) saat membersihkan sepatu,
pastikan untuk tidak mengenai wajah atau pakaian dengan
kotorannya saat membersihkan.
2.5.2 Penanggulangan Penyakit
Cara penanggulangan penyakit flu burung antara lain:
a. Bagi para pemilik ternak ungags, sebaiknya lakukan vaksinasi
secara intensif pada semua ternaknya.
b. Pemerintah hendaknya memberikan penyuluhan tentang flu
burung, meliputi apa saja bahaya bahaya, gejala dan cara
pencegahannya.
c. Pemerintah memberikan vaksin gratis pada peternakan ungags.
d. Bila wabah flu burung semakin tak terkendali, cara
penanggulangan flu burung yang harus dilakukan pemerintah
adalah menutup semua peternakan di wilayah tersebut.
Pemerintah harus siap dengan ganti rugi bagi para peternak.
e. Pemerintah sebaiknya tegas melarang penduduk untuk pergi ke
luar negeri yang sedang terkena wabah flu burung.
f. Bagi penderita flu burung yang sudah diinyatakan sehat,
sebaiknya dianjurkan oleh pihak rumah sakit agar terus
melakukan kontrol kesehatan.

17
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Flu burung atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan avian influenza
(AI) adalah penyakit menular yang disebabkan virus influenza A sub tipe H5N1
yang biasanya menyerang unggas tetapi juga dapat menyerang manusia. Virus
ini termasuk famili Orthomyxoviridae dan memiliki diameter 90-120 nanometer.
Virus avian influenza ini menyerang alat pernapasan, pencernaan dan sistem
saraf unggas secara normal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas
seperti ayam, kalkun, dan itik. Tetapi walaupun jarang dapat menyerang spesies
hewan tertentu selain unggas misalnya babi, kuda, harimau, macan tutul, dan
kucing.
Munculnya penyakit Flu burung menimbulkan dampak yang luar biasa
terutama di bidang perekonomian di suatu Negara. Kerugian di Industri
peternakan menyebabkan hilangnya keuntungan milyaran rupiah yang dialami
baik peternak ataupun Negara, terutama bagi Negara berkembang yang
bergantung pada industri tersebut sebagai salah satu sumber pendapatannya.
Kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh virus ganas ini
akan semakin meluas karena didukung tingkat penyebaran virus yang bisa
berkembang dan menyebar luas dengan cepat. Hal itu bisa terjadi jika tidak
dilakukan tindakan preventif, baik terhadap unggas maupun pada manusia yang
bersinggungan langsung dengan ternak unggas.
3.1 Saran
1) Kasus Flu Burung yang terus meningkat memerlukan penanggulangan yang
lebih intensif, dititik beratkan pada pencegahan dan diintegrasikan dengan
perawatan, dukungan serta pengobatan terhadap Orang yang terkena penyakit
Flu Burung.
2) Mencegah dan mengurangi penularan Flu Burung terutama melalui informasi
dan edukasi mengenai Flu Burung dan pencegahanya kepada masyrakat
terutama kelompok rawan.

18
3) Dalam penanggulangan Flu Burung perlu ditingkatkan pula : sarana dan
prasarana deteksi, konseling, perawatan dan pengibatan. Pendidikan dan
pelatihan. Penelitian dan pengembangan.

19
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, W. 2007. (Faktor Risiko Diare Pada Bayi dan Balita di Indonesia :
Systematic Review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat).
Jurnal Makara Kesehatan. Vol. 11. Hal : 1-10.
Akoso, Budi Tri. 2006. “Waspada Flu Burung”. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Astuti, DF. 2013. “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Buang Air
Besar Sembarangan di Desa Sukamaju Kecamatan Rancakalong
Kabupaten Sumedang”. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro, Semarang.
Atmawinata, E. 2006. “Kiat Bebas Flu Burung”. Penerbit Yrama Widya. Bandung.
Indonesia.
Chandra dan budi. 2003.Vektor Penyakit Menular Pada Manusia. http://files.buku-
kedokteran.webnode.com/200000024-3716638102/Vektor%20Penyakit.pdf .
diakses tanggal 27 maret 2018.

Endarti dan juwita, 2006. (Epidemiologi Diskriptif Penyakit Avian Flu di Lima
Provinsi di Indonesia, 2005-2006). Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.
Vol. 1, No. 1, hal. 42-48.
Kartika. (2007). “Upaya Mandiri Pencegahan Penularan Flu Burung ke Manusia”.
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132319831/penelitian/wuny+dr+kartika1.pdf.
Di akses pada tanggal 27 maret 2018).
Khairiyah, 2011. “Zoonosis Dan Upaya Pencegahannya: (Kasus Sumatera
Utara)”, Jurnal Litbang Pertanian, 30(3), hal. 117-124.
Soejoedono, D. Retno. 2006. “Flu Burung”. Penerbit Swadaya. Depok.
Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. UI. Jakarta.
Widoyono, 2005. “Penyakit Tropis (Epidemiologi, Penularan, Pencegahan,
Dan Pemberantasannya)”, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Yuliarti dan Nurheti 2006. “Menyingkap Rahasia Penyakit Flu Burung”.Penerbit


Erlangga. Yogyakarta.

20