Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MANAJEMEN PORTOFOLIO INVESTASI SYARIAH


“ OBLIGASI ”

Dosen Pengampu : Furqon Mazka, SE., M.M.

Disusun Oleh : Kelompok 4


Bambang Wiharto (501171533)
Febiola (
Kasmawati (501171633)
Rezky Maulana Akbar (501180331)
Weni
Winda Hamidah (

JURUSAN EKONOMI SYARI’AH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2019
KATA PENGANTAR

Segala Puji hanya milik Allah Swt serta Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW, berkat limpahan dan rahmat-nya penyusun mampu menyelesaikan makalah
Manajemen Portofolio Investasi Syariah.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun
penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan, dan bimbingan dosen, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca kuhususnya para mahasiswa dan mahasiswi UIN Sultan
Thaha Saifudin Jambi.

Jambi, 26 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG .................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................ 1
C. TUJUAN PENULISAN ................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................ 2
A. KONSEP OBLIGASI .................................................................................................... 2
B. KODE OBLIGASI .......................................................................................................... 2
C. JENIS OBLIGASI .......................................................................................................... 3
D. NILAI OBLIGASI ........................................................................................................ 6
E. RISIKO OBLIGASI ...................................................................................................... 8
F. TEORAMA OBLIGASI ................................................................................................ 10
G. DURASI OBLIGASI ...................................................................................................... 13
BAB III PENUTUP .................................................................................................................... 15
KESIMPULAN .......................................................................................................................... 15
SARAN ........................................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Saham telah dibahas di bab seblumnya. Bab ini akan membahas tentang obligasi.
Saham berbeda dengan obligasi. Saham memberikan hak kepemilikan, sedangkan
obligasi tidak memberikan hak tersebut tetapi lebih sebagai surat utang. Obligasi
umumnya mendapatkan bunga yang tetap yang disebut dengan kupon.
Karena obligasi mendapatkan bunga yang besarnya tetap, maka obligasi juga
termasuk dalam investasi dengan pendapatan tetap. Istilah pendapatan tetap ini sering
menyesatkan investor yang beranggapan bahwa nilai investasinya tidak akan berkurang
bahkan selalu akan bertambah dengan pendapatan tetap ini. Contohnya adalah banyak
investor tertarik membeli reksa dana pendapatan tetap yang isinya berupa beberapa
obligasi, dengan pemikiran akan memberikan pendapatan yang tetap disamping investasi
awal yang tetap tidak berubah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Saja Konsep Obligasi ?
2. Bagaimana Kode Dalam Obligasi ?
3. Jelaskan Jenis-Jenis Obligasi ?
4. Apa Saja Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Obligasi ?
5. Sebutkan Resiko Dalam Obligasi ?
6. Apa Saja Torema Dalam Obligasi ?
7. Bagaimana Durasi Dalam Obligasi ?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk Memahami Apa Saja Konsep Dalam Obligasi.
2. Mengetahui Bagaimana Kode Dalam Obligasi.
3. Untuk Memahami Jenis-Jenis Obligasi.
4. Menganalisis Nilai Obligasi.
5. Untuk Menganalisis Resiko Dalam Obligasi.
6. Untuk Menganalisis Teorema Dalam Obligasi.
7. Untuk Menganalisis Durasi Dalam Obligasi.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP OBLIGASI
Obligasi ( bond ) dapat didefinisikan sebagai utang jangka panjang yang akan
dibayar kembali pada saat jatuh tempo dengan bunga yang tetap jika ada. Dari definisi ini
dapat dimengerti bahwa obligasi adalah suatu utang atau kewajiban jangka panjang
(bond), sedang utang jangka pendek disebut bill. Nilai utang dari obligasi akan
dibayarkan pada saat jatuh temponya. Nilai utang dari obligasi ini dinyatakan didalam
surat utangnya. Obligasi mempunyai jatuh tempo, berarti mempunyai lama waktu
pelunasannya yang sudah ditentukan.1
Obligasi berasal dari bahasa Belanda yaitu “obligate” yang dalam bahasa
Indonesia disebut dengan “obligasi” yang berarti kontrak. Dalam keputusan RI Nomor
775/KMK 001/1982 disebutkan bahwa obligasi adalah jenis efek berupa surat pengakuan
utang atas pinjaman uang dari masyarakat dalam bentuk tertentu, untuk jangka waktu
yang sekurang-kurangnya tiga tahun dengan menjanjikan imbalan bunga yang jumlah
serta saat pembayarannya telah ditentukan terlebih dahulu oleh emiten (Badan Pelaksana
pasar modal).2
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa obligasi adalah surat utang yang
dikeluarkan oleh emiten (bisa berupa badan hukum atau perusahaan, bisa juga dari
pemerintah) yang memerlukan dana untuk kebutuhan operasional maupun ekspansi
dalam memajukan investasi yang mereka laksanakan.

B. KODE OBLIGASI
Obligasi tercatat dipasar modal diberi kode. Kode obligasi ini dimaksudkan untuk
membedakan satu obligasi dengan obligasi yang lain, untuk kepentingan pencarian dan
organisasi data di computer dan untuk menunjukkan karakteristik dari obligasinya.

1Hartono jogiyanto, Teori Portofolio dan Analisis Investasi (Yogyakarta : 2009) hlm.150
2Abdul manan, Hukum Ekonomi Syariah (dalam persfektik kewenangan peradilan agama, (Jakarta ; Kencana Prenada Media
Grup ; 2012), hal 325.

2
Misalnya untuk pasar modal Bursa Efek Surabaya (BES), obligasi-obligasi diberi
kode sepanjang 12 karakter. Kode ini dimulai untuk obligasi-obligasi yang tercatat
setelah tanggal 3 April 2000. Kode obligasi ini adalah sebagai berikut ini.

A A A A B B B C C D E F G

Keterangan:

AAAA : singkatan nama dari perusahaan penerbit obligasi


BBB : kode untuk nomer obligasi yang diterbitkan
CC : suku bunga (jika mempunyai beberapa suku bunga) dan opsi-opsi
turunan
D : tipe dari obligasi, yaitu B (Bonds), C (Convertible Bonds), W (Bonds
with warrants), T (Medium term notes), Y (Money Market) dan M
(Miscellaneous)
E : tipe dari suku bunga, yaitu F (Ficed Rate), Z (Zero Rate / Discount) dan
V (Variabel dapat berupa floating rate, revenue sharing, fixed and
floating rate, dan lainnya)
FG : kode dari scriptless

Contoh 1 :
PT Atsra Sedaya Finance Tbk. (singkatan nama perusahaan ini adalah ASDF) pada tahun
2004 mengeluarkan obligasi-obligasi seri yang kelima (nomor obligasi ini adalah 05).
Obligasi ini terdiri dari 3 seri, yaitu seri A, B dan C. obligasi-obligasi ini diberi kode
ASDF05A, ASDF05B, dan ASDF05C.3

C. JENIS-JENIS OBLIGASI4
1. Obligasi Suku Bunga Tetap

Obligasi suku bunga tetap biasanya memiliki kupon bunga tertentu dengan biaya tetap
dan dibayar secara berkala sepanjang masa berlaku obligasi.

3 Hartono jogiyanto, Teori Portofolio Dan Analisis Investasi (Yogyakarta : 2009) hlm. 152-153
4 https://id.wikipedia.org/wiki/obligasi

3
2. Obligasi Suku Bunga Mengambang (Floating Rate Note)
Obligasi jenis ini juga memiliki kupon, namun bunga yang dibayarkan mengacu pada
indeks pasar uang seperti LIBOR5 atau Euribor6. Jadi besaran biaya dapat berubah sewaktu-
waktu.
3. Obligasi Berimbal Hasil Tinggi (Junk Bond)

Obligasi yang satu ini memiliki peringkat dibawah peringkat investasi yang akan
diberikan oleh lembaga pemerintah kredit. Maka dari itu jenis obligasi ini memiliki resiko yang
cukup tinggi, sehingga banyak investor yang mengharapkan suatu imbalan yang lebih tinggi.

4. Obligasi Tanpa Bunga

Obligasi ini lebih dikenal d engan Zero Coupon Bond, yakni jenis obligasi yang tidak
memberikan pembayaran bunga. obligasi jenis ini diperdagangkan dengan pemberian potongan
harga yang didapat dari nilai pari. Pemegang obligasi menerima secara penuh pokok hutang pada
saat jatuh tempo.

5. Obligasi Inflasi

Obligasi ini juga lebih dikenal dengan istilah Inflation Linked Bond, yakni obligasi yang
pokok hutangnya mengacu pada indeks inflasi. Bunga yang dibayarkan pada obligasi ini
cenderung lebih rendah jika dibanding obligasi suku bunga tetap, namun dengan berkembangnya
nilai pokok utang sejalan sengan inflasi, maka pembayaran obligasi akan ikut meningkat.

6. Obligasi Indeks Berbasis Ekuiti

Obligasi jenis ini mengacu pada indeks yang merupakan indicator bisnis seperti
penghasilan, nilai tambah, ataupun indeks nasional seperti beberapa produk domestic.

5
London Interbank Offered Rate atau lebih dikenal juga dengan singkatan LIBOR adalah kurs referensi harian dari suku bunga
yang ditawarkan dalam pemberian pinjaman tanpa jaminan oleh suatu bank kepada bank lainnya di pasar uang London (atau
pasar uang antar bank).
6
Euribor (Euro Interbank Offered Rate) adalah kurs referensi harian yang mengacu pada rata-rata suku bunga yang ditawarkan
oleh bankuntuk dipinjamkan dalam bentuk pinjaman tanpa jaminan kepada bank lainnya pada pasar uang euro (atau pasar uang
antar bank).

4
7. Obligasi Subordinasi

Selanjutnya ada obligasi subordinasi, yakni obligasi yang memiliki peringkat prioritas
lebih rendah dibanding obligasi lainnya, sehingga menimbulkan adanya likuidasi. Hal inilah
yang kemudian menjadikan hierarki dari para kreditur. Seperti, adanya pembayaran dari
likuidator, pembayaran pajak, dan lain sebagainya. Pemegang obligasi yang pembayarannya
diutamakan adalah mereka yang memiliki tanggal penerbitas paling awal dibanding yang
lainnya, sehingga disebut obligasi senior. Setelah obligasi tersebut dilunasi, obligasi subordinasi
lainya pun dilakukan. Obligasi subordinasi memiliki resiko yang lebih tinggi, sehingga memiliki
peringkat kredit yang lebih rendah.

8. Obligasi Abadi

Sesuai namanya, jenis obligasi ini tidak memiliki masa jatuh tempo, atau ada juga yang
memiliki masa jatuh tempo namun dengan jangka waktu yang sangat panjang. Obligasi jenis ini
dilihat berdasarkan dari nilai tunai obligasi yang ada pada saat itu yang nilai pokoknya hampir
mendekati nol.

9. Obligasi Atas Unjuk

Obligasi atas unjuk adalah surat resmi yang tidak memiliki nama pemegang. Sehingga siapapun
yang memegang surat obligasi tersebut dapat menuntut dilakukannya pembayaran atas obligasi
yang dipegangnya. Obligasi jenis ini biasanya diberi nomor urut dan didaftarkan demi
menghindari pemalsuan, akan tetapi dapat diperjualbelikan layaknya uang tunai. Sayangnya,
obligasi jenis ini sering disalah gunakan dan berisoko terhadap kehilangan dan pencurian.

10. Obligasi Tercatat

Berbeda dengan obligasi atas unjuk, obligasi tercatat memiliki nama kepemilikan yang telah
terdaftar dan dicatat oleh penerbit atau lembaga. Semua jenis pembayaran baik bunga dan yang
lainnya akan ditransfer langsung kepada pemegang obligasi tersebut.

5
D. NILAI OBLIGASI
a. Nilai Maturiti Obligasi
Nilai maturiti ( maturity value ) atau disebut juga dengan nilai jatuh tempo adalah
nilai yang dijanjikan akan dibayar pada saat obligasi jatuh tempo. Nilai maturity ini
juga mewakili nilai nominal atau nilai par (par value) dari obligasi. Nilai jatuh tempo
biasanya sudah tertentu perusahaan lembarnya, misalnya US $1,000 atau misalnya Rp
1juta.
b. Nilai Pasar Obligasi
Nilai pasar obligasi ( market value ) adalah nilai jual obligasi yang terdaftar di
pasar modal pada saat tertentu. Misalnya adalah kutipan nilai-nilai pasar beberapa
obligasi yang tercatat di New York Stock Exchange di surat kabar The Wall Street
Journal.

Obligasi Hasil Volume Nilai tutup Perubahaan


Sekarang bersih
ATT 8.880s05 9.5 260 923/4 -1/2
ATT 85/8s07 9.6 284 901/4 -3/4
ATT 85826 9.8 207 875/8 -7/8
Amoco 9.2s04 9.4 11 971/2 -1/2

Penjelasan dari tabel diatas adalah sbb :

1. sebagai contoh adalah obligasi ATT 8.80s05 yang tampak di tabel diatas. Obligasi
ini diterbitkan oleh perusahaan American Telephone & Telegraph ( AT&T )
dengan membayar kupon sebesar 8,80 % setahunnya dan dibayar setengah
tahunan (diberi kode “s” yang berarti semiannually) dan jatuh tempo pada tahun
2005.
2. Hasl sekarang (current yield) dari obligasi ini adalah sebesar 9,5%. Hasil
sekarang adalah nilai kupon sekarang dibagi dengan harga pasarnya, yaitu sebesar
$88.00 / $927.50 atau sebesal 9.5%.

6
3. Selama hari tersebut, jumlah transaksi yang terjadi adalah sebanyak 260 volume
obligasi.
4. Pada saat pasar obligasi ditutup pada hari itu, nilai pasarnya adalah sebesar
$927.50
5. Nilai penutupan obligasi turun sebesar $5.00 atau -1/2 poin dari nilai penutupan
hari sebelumnya.
c. Nilai Intrinsik Obligasi
Nilai intrinsik ( intrinsic value ) atau nilai fundamental ( fundamental value ) atau
nilai sesungguhnya dari suatu obligasi adalah perkiraan nilai sebenarnya dari suatu
obligasi. Nilai sebenarnya tidak mungkin dihitung dengan tepat, hanya dapat
diperkirakan. Nilai intrinsik suatu obligasi pada saat tertentu dapat diperkirakan
dengan rumus sebagai berikut ini:
K1 K2 Kn 𝑁𝐽𝑇𝑛
NO∗ = 1
+ 2
+ ⋯+ n
+ (6 − 1)
(1 + i) (1 + i) (1 + i) (1 + i)n
Notasi:
NO* = nilai intrinsik dari obligasi
i = suku bunga diskonto (discount rate) yang digunakan.
Kt = nilai kupon ke-t dari t=1 sampai dengan n, yaitu tingkat suku bunga
kupon dikalikan dengan nilai par obligasi.
NJTn = nilai jatuh tempo obligasi.
Untuk nilai kupon yang konstan, yaitu K1 = K2 = ... = Kn = K, maka rumus di
atas dapat dituliskan sebagai berikut7:

𝑛 K NJTn
+ (1+i)n + NJTn
NO* = ∑ (1+i)t

𝑡=0

Notasi:
No* = nilai intrinsik dari obligasi.
t = periode waktu ke-t dari t=1 sampai dengan n.
i = suku bunga diskonto (discount rate) yang digunakan.

7
Ibid, hlm.157-158

7
K = nilai kupon tetap, yaitu tingkat suku bunga kupon dikalikan dengan nilai
par obligasi.
NJTn = nilai jatuh tempo obligasi.

d. Nilai nominal
Nilai nominal adalah harga yang tercantum pada nilai obligasi, nilai tersebut
mencerminian harga yang akan dibayarkan oleh penerbit obligasi padasaat jatuh tempo.
Misal suatu obligasi mempunyai nilai nominal sebesar Rp 1juta. Pada saat jatuh tempo,
pemegang obligasi akan memperoleh uang pengambilan sebesar Rp 1juta dari pihak
yang menerbitkan obligasi (diluar bunga).
e. Kupon tingkat bunga
Kupon tingkat bunga adalah tingkat bunga (dalam persentase berdasarkan nilai
nominal) yang akan dibayarkan oleh pihak penerbit obligasi. Misal suatu perusahaan
menerbitkan obligasi dengan kupon tingkat bunga sebesar 20% yang akan dibayarkan
setiap tahun sepama 10tahun. Pemegang obligasi akan memperoleh pembayaran bunga
sebesar 50%XRp 1juta = Rp 200.000,00 setiap tahun selama 10tahun periode
pembayaran bisa ditentukan oleh pihak penerbit obligasi, misal setiap tahun atau
setengah tahun.
f. Jatuh tempo
Jangka waktu (usia) atau jatuh tempo suatu obligasi biasanya ditetapkan dalam
satuan tahun. Pada saat jatuh tempo, penerbit obligasi mempunyai kewajiban untuk
melunasi pemegang obligasi sebesar nilai nominalnya. Misalkan jangka waktu obligasi
adalah 10 tahun, diterbitkan tahun 2001. Pada tahu 2011 (sepuluh tahun mendatang),
penerbit obligasi akan melunasi obligasi jatuh tempo sebesar nilai nominal (misal Rp
1juta)8
E. RISIKO OBLIGASI
Seperti halnya saham, setelah ditawarkan di pasar perdana, obligasi juga
diperdagangkan di pasar sekunder. Hanya saja, pasar sekunder obligasi dilakukan di luar
bursa (over the counter – OTC) dan karenanya tidak bisa dipantau langsung dengan mata
telanjang.

8
Rianto,1998:113-114.

8
1. Risiko Likuiditas

Risiko ini terjadi karena obligasi ini sulit untuk diperjualbelikan di pasar
sekunder. Obligasi menjadi likuid jika permintaannya di pasar tinggi. Hal ini biasanya
dipengaruhi oleh karakteristik penerbit, kupon bunga dan masa jatuh tempo obligasi
bersangkutan. Risiko likuiditas ini melekat pada semua obligasi. Namun, obligasi
pemerintah cenderung lebih likuid lantaran ada pihak yang bertindak sebagai market
maker yang berperan sebagai pembeli siaga.

2. Risiko Maturitas

Risiko ini terkait dengan masa jatuh tempo obligasi. Semakin lama masa jatuh
tempo, maka tingkat risikonya juga semakin tinggi. Sebagai kompensasi, penerbit yang
menjual obligasi dengan masa jatuh tempo panjang akan memberikan kupon bunga lebih
tinggi.

3. Risiko Suku Bunga

Harga obligasi berbanding terbaik dengan suku bunga. Jika suku bunga acuan,
dalam hal ini BI Rate, turun maka harga obligasi akan cenderung naik. Sebaliknya, ketika
suku bunga naik maka harga obligasi akan cenderung menurun. Oleh karena itu investor
yang berinvestasi di obligasi harus jeli dalam memproyeksikan tren pergerakan suku
bunga, sehingga obligasi yang dibeli dapat menjadi investasi yang optimal.

4. Risiko Gagal Bayar atau default

Risiko ini melekat pada obligasi korporasi. Sementara obligasi negara kecil
kemungkinan terjadi gagal bayar selama pemerintah Indonesia tetap berdiri. Oleh karena
itu, investor harus selektif dan memahami betul karakteristik serta kemampuan finansial
setiap penerbit obligasi. Semakin tinggi kupon bunga yang ditawarkan, maka semakin
besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investornya9

9 http://investasiku.co.id/blog/blog_id/memahami-risiko-dan-keuntungan-obligasi-2016-06-09-15-28-27

9
F. TEOREMA PENILAIAN OBLIGASI
Malkiel ( 1962 ) memperkenalkan 5 teorema tentang hubungan antara harga-harga
obligasi dengan hasil-hasilnya ( yield ). Teorema ini disebut dengan Malkiel’s bond
theorems.
Teorema 1 : Harga dari obligasi akan bergerak berlawanan dengan hasil pasar
(market yield).
Seperti halnya hubungan suku bunga (market yield) dengan harga saham,
hubungan suku bunga dengan harga obligasi dengan bunga (kupon) tetap adalah
berlawanan arah, yaitu semakin meningkatnya (menurunnya) suku bunga, semakin
menurunnya (menaiknya) harga obligasi. Hubungan negatif ini dapat dijelaskan sebagai
berikut ini:
1. Secara matematik, dapat diihat dari rumus valuasi menghitung nilai intrinsik obligasi.
Nilai suku bunga beranda sebagai denominator (pembagi) di rumus tersebut.
a. Jika suku bunga meningkat, maka nilai pembagi akan semakin besar dana hasil
yang dibagi akan menjadi semakin kecil, akibatnya nilai harga obligasi semakin
turun.
b. Demikian juga sebaliknya, yaitu dengan menurunnya suku bunga, maka nilai
pembagi akan semakin kecil dan nilai yang dibagi akan menjadi semakin besar
dengan akibat nilai harga obligasi semakin naik.
2. Secara logika dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dengan meningkatnya suku bunga, maka tabungan akan semakin menarik karena
memberikan bunga tabungan yang meningkat.
b. Sebaliknya dengan menurunnya suku bunga, maka tabungan akan semakin kurang
menarik karena memberikan bunga tabungan yang menurun, akibatnya investor
akan menarik tabungannya dan mengalihkannya ke obligasi dengan bunga yang
lebih tinggi. Akibatnya permintaan (demand) obligasi meningkat dan karena suku
bunga obligasi lebih menarik, maka obligasi ini akan ditawarkan dengan
premium, sehingga harga obligasi akan meningkat.

10
Teorema 2 : Dengan maturiti konstan, penurunan suku bunga akan menaikkan
harga obligasi dengan basis presentasi lebih besar dibandingkan dengan
peningkatan suku bunga yang sama besarnya yang akan menurunkan harga
obligasi.
Teorema ini menunjukkan dengan maturiti konstan, presentasi perubahan harga
obligasi akan lebih besar untuk penurunan suku bunga dibandingkan untuk peningkatan
suku bunga yang sama besarnya.

Teorema 3: Untuk suatu perubahan suku bunga yang tertentu, besarnya perubahan
harga obligasi akan berhubungan positif dengan waktu maturiti, yaitu semakin
lama maturitinya, semakin besar perubahan harga obligasinya.
Teorema 1 dan 2 menunjukkan keadaan maturiti yang konstan. Teorema 3
menunjukkan bagaimana jika maturiti berubah. Teorema ini menunjukkan bahwa harga
obligasi jangka panjang akan lebih tinggi dibandingkan dengan untuk obligasi jangka
lebih pendek.

Teorema 4: Perubahan Harga yang terjadi akibat hubungan antara maturiti


obligasi dan volatilitas harganya akan semakin besar dengan tingkat menurun
(increases at a diminishing rate) sejalan dengan meningkatnya maturiti.
Sebagai contoh adalah obligasi dengan jangka waktu 10 tahun, penurunan suku
bunga dari 14% menjadi 10% akan mengakibatkan harga obligasi naik dari Rp 1 juta
menjadi Rp1.245.782,68 dengan kenaikan sebesar Rp245.782,68 atau 245,578%. Sedang
untuk obligasi dengan maturiti yang lebih pendek, misalnya 5 tahun, maka penurunan
suku bunga dari 14% menjadi 10% mengakibatkan kenaikan harga obligasi lebih kecil
menjadi Rp151.631,47 atau 15,163%. Untuk maturiti 10 tahun, walaupun umur obligasi 2
kali dibandingkan dengan maturiti 5 tahun, tetapi kenaikan harga obligasinya hanya
24,578% tidak mencapai 2 kali dari 15,163%.

11
Teorema 5: Persentasi Perubahan Harga obligasi akibat dari perubahan suku
bunga akan lebih kecil jika tingkat kupon lebih tinggi.
Obligasi dengan tingkat kupon 14% jika terjadi penurunan suku bunga sebesar
2% menjadi 12%, maka harga obligasi ini menjadi Rp1.136.217,29 atau naik sebesar
11.362%. Untuk obigasi dengan tingkat kupon yang lebih tinggi yaitu 18%, jika terjadi
penurunan suku bunga sebesar 2% menjadi 16%, maka harga obligasi ini menjadi
Rp1.111.509,12 atau naik sebesar 11.151%. Perubahan persentase kenaikan harga akibat
penurunan suku bunga yang sama yaitu 2% akan lebih kecil untuk obligasi dengan
tingkat kupon yang lebih tinggi.
Teorema kelima ini tidak berlaku untuk obligasi yang mempunyai waktu maturiti
hanya satu tahun saja. Teorema kelima ini juga tidak berlaku untuk obligasi yang tidak
mempunyai jatuh waktu yang disebut dengan perpetuiti.

Jika diringkaskan, hasil dari teorema-teorema ini adalah sebagai berikut ini.

1. Kaitannya dengan suku bunga


a. Harga obligasi erhubungan terbalik dengan suku bunga pasar
b. Penurunan suku bunga lebih sensitive terhadap harga obligasi dibandingkan
dengan kenaikan suku bunga
2. Kaitannya dengan maturity
a. Besarnyaa perubahan harga obligasi berhubungan positif dengan waktu maturity
b. Perubahan harga obligasi tersebut terjadi dengan tingkat menurun sejalan dengan
meningkatnya maturity
Teorema-teorema ini menyediakan informasi yang berguna bagi investor, sehinga
mempunyai implikasi yang cukup penting terhadap investor. Implikasinya adalah sebagai
berikut ini.
1. Jika suku bunga dapat diprediksi dan diekspetasi, maka investor seharusnya membeli
obligasi (tidak dibandingkan dengan aktiva lain) jika suku bunga diekspetasi akan
turun. Sebaliknya, investor seharusnya menjual obligasinya jika suku bunga
diekspetasi akan naik

12
2. Untuk dapat memperoleh hasil maksimum pengaruh turunnya suku bunga terhadap
harga obligasi, maka investor seharusnya membeli obligasi yang mempunyai maturity
yang lama (long-maturity bond) dan tingkat kupon yang rendah (low-coupon bond)
3. Jika investor harus membeli obligasi padahal suku bunga diekspetasikan akan naik,
sebaiknya investor membeli obligasi yang mempunyai maturity yang pendek (short-
maturity bond) dan tingkat kupon yang tinggi (high-coupon bond)
G. DURASI OBLIGASI

Teorema nomor lima juga dapat diartikan bahwa untuk obligasi-obligasi yang
mempunyai lama maturiti yang sama tetapi dengan tingkat kupon yang berbeda akan beraksi
berbeda akibat perubahan dari suku-suku bunga tertentu. Maturiti mengukur umur hidup dari
suatu obligasi, tetapi maturiti belum mengukur umur hidup ekonomisnya. Untuk mengukur umur
hidup ekonomis suatu obligasi diperlukan pengukuran yang lain, yaitu durasi.
Obligasi-obligasi dengan durasi yang sama kemungkinan akan bereaksi dengan cara yang
sama akibat perubahan dari suku-suku bungan dibandingkan dengan obligasi-obligasi yang
mempunyai lam maturiri yang sama tetapi durasinya beda. Ini tidak mengherankan, karena lama
maturiti menunjukan waktu sampai pembayaran aliran kas obligasi terakhir jatuh tempo tanpa
mempertimbangkan pola dan besarnya aliran-aliran kas keseluruhan. Misalnya dua buah obligasi
yang sama maturitinya yaitu 10 tahun, satu dengan tingkat kupon 12% dan 18 % mempunyai
umur hidup ekonomis yang berbeda. Obligasi kedua mempunyai umur hidup ekonomis yang
lebih pendek karena mempunyai aliran kas yang lebih besar dibandingkan dengan obligasi yang
pertama. Durasi mempertimbankan kedua hal tersebut.

Durasi di definisikan sebaai pengukur dari umur hidup ekonomis dari suatu obligasi
dengan mempertimbangkan semua bentuk dan besarnya aliran kas keseluruhan dari obligasi
sampai jatuh temponya. Durasi dihitung dengan rata-rata tertimbang maturiti dari aliran kas
obligasi dengan basis nilai sekarang. durasi bearti adalah rata-rata tertimbang, berbasis pada nilai
sekarang, dari waktu untuk menutup nilai-nilai kupon dn prinsipal dari suatu obligasi. Dengan
kata lain, durasi dapat diartikan sebagai discountedpayback period dari investasi di suatu
obligasi, yaitu rata-rata tahun investor obligasi dapat memperoleh kembali investasinya dari
nilai-nilai kupon dan prinsipal yang diperoleh dari obligasi.

13
Notasi:
D = durasi Macaulay
t = periode waktu dari aliran kas
n = lama maturity
PV (AKt) = nilai sekarang dari aliran yang didiskontokan dengan YTM
HPO = harga pasar obligasi

Perhitungan Durasi Obligasi


Periode PV Factor dari PV dari Aliran T x (PV dari
Aliran Kas
Kupon 7% Kas Aliran Kas)
1 70.000 0,93458 65.420,56 65.420,56

2 70.000 0,87344 61.140,71 122.281,42

3 70.000 0,81630 57.140,85 171.422,55

4 70.000 0,76290 53.402,66 213.610,66

5 70.000 0,71299 49.909,03 249.545,16

6 70.000 0,66634 46.643,96 279.863,73

7 70.000 0,62275 46.592,48 305.147,37

8 70.000 0,58201 40.740,64 325.925,10

9 70.000 0,54393 38.075,36 342.678,26

10 1.070.000 0,50835 543.933,74 5.439.337,43

Total 1.000.000 7.515.232,25

Durasi Macaulay dalam tahunan = 7.515.232,25/1.000.000 = 7,52

Durasi Macaulay dalam setengah tahunan = 7,52/2 = 3,76

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Obligasi (bond) dapat didefinisikan sebagai utang jangka panjang yang akan
dibayar kembali pada saat jatuh tempo dengan bunga yang tetap jika ada. Dari definisi ini
dapat dimengerti bahwa obligasi adalah suatu utang atau kewajiban jangka panjang
(bond), sedang utang jangka pendek disebut bill. Nilai utang dari obligasi akan
dibayarkan pada saat jatuh temponya. Nilai utang dari obligasi ini dinyatakan didalam
surat utangnya. Obligasi mempunyai jatuh tempo, berarti mempunyai lama waktu
pelunasannya yang sudah ditentukan
Obligasi tercatat dipasar modal diberi kode. Kode obligasi ini dimaksudkan untuk
membedakan satu obligasi dengan obligasi yang lain, untuk kepentingan pencarian dan
organisasi data di computer dan untuk menunjukkan karakteristik dari obligasinya.
Jenis-jenis dalam obligasi antara lain :
Obligasi suku bunga tetap, Obligasi suku bunga mengambang, junk bond, obligasi
tanpa bunga, obligasi inflasi, obligasi subordinasi, obligasi abadi, obligasi atas unjuk,
obligasi tercatat.

B. Saran
Berdasarkan atas apa yang kami tulis dalam makalah yang berjudul ”Obligasi” ini
kami selaku penulis berharap memberi pemahaman bagi segenap pembaca sehingga
dapat menambah wawasan bagi para pembaca terlebih lagi pada penulis sendiri.
Hanya sampai disinilah kemampuan kami dalam membahas makalah ini.
semogamakalah ini memberikan manfaat pada penulis dan para pembaca.

15
DAFTAR PUSTAKA

Hartono jogiyanto, Teori Portofolio dan Analisis Investasi (Yogyakarta : 2009) hlm.150

Abdul manan, Hukum Ekonomi Syariah (dalam persfektik kewenangan peradilan agama,
(Jakarta ; kencana prenada media grup;2012), hal 325.

Tandelilin Eduardus, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, (Yogyakarta:BPFE-


YOGYAKARTA,2001)

http://investasiku.co.id/blog/blog_id/memahami-risiko-dan-keuntungan-obligasi-2016-06-09-15-
28-27

https://id.wikipedia.org/wiki/obligasi

16