Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

ANALISIS I
PENENTUAN KADAR VITAMIN C
DAN ANALISA COLORIMETRI

DISUSUN OLEH :

1. Dedy Kurniawan 1904046


2. Indah Ayu F 1904047
3. Indri Setyawati 1904048
4. Khoirunnisa Nur B 1904049
5. Lucky Tria D 1904050

KELAS :IB
KELOMPOK : III (TIGA)
DOSEN PENGAMPU : Drs. Choiril HM, M.Pd

PROGAM STUDI DIII FARMASI


STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN
SEMESTER I
2019
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

Percobaan : 1. Penentuan Kadar Vitamin C


2. Analisa Colorimetri
A. Dasar Teori
1. Teori Vitamin C
Vitamin C disebut juga asam askorbat, struktur kimianya terdiri
darirantai 6 atom C dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah
bereaksi dengan O2 di udara menjadi asam dehidroaskorbat
merupakanvitamin yang paling sederhana. Sifat vitamin C adalah mudah
berubah akibatoksidasi namun stabil jika merupakan kristal (murni). mudah
berubah akibatoksidasi, tetapi amat berguna bagi manusia (Safaryani, dkk.,
2007)
Titrasi redoks adalah titrasi yang melibatkan proses oksidasi dan
reduksi. Kedua proses ini selalu terjadi secara bersamaan. Dalam titrasi redoks
biasanyamenggunakan potensiometri untuk mendeteksi titik akhir. Untuk
mengetahui kadar vitamin C metode titrasi redoks yang digunakan adalah
titrasi langsung yang menggunakan iodium. Iodium akan mengoksidasi
senyawa-senyawa yangmempunyai potensial reduksi yang lebih kecil
dibanding iodium. Vitamin Cmempunyai potensial reduksi yang lebih kecil
daripada iodium sehingga dapatdilakukan titrasi langsung dengan iodium.
Pendeteksian titik akhir pada titrasiiodimetri ini adalah dilakukan dengan
menggunakan indikator amilum yangakan memberikan warna biru pada saat
tercapainya titik akhir. (Gandjar, dkk, 2007)
2. Teori Colorimetri
Colorimetri adalah salah satu metode analisa kimia yang didasarkan
pada perbandingan intensitas warna suatu larutan dengan warna larutan
standart. Metode analisa ini merupakan bagian dari analisa fotometri.
Colorimetri juga merupakan metode perbandingan menggunakan
perbedaan warna dengan mengukur warna suatu zat sebagai perbandingan.
Biasanya cahaya putih digunakan sebagai sumber cahaya untuk
membandingkan absorpsi cahay relatif terhadap suatu zat. Salah satu alat yang
diunakan untuk mengukur perbandingan warna yang tampak adalah
kolorimeter.

B. Tujuan
1. Menentukan kadar askorbat dalam vitamin C
2. Menentukan konsentrasi senyawa dengan membandingkan intensitas warna
larutan

C. Alat dan Bahan


1. A. Alat Penentu Kadar Vit C
 Buret
 Gelas Beaker
 Gelas Ukur
 Erlemeyer
 Pipet tetes
 Neraca Analitis
B. Bahan Penentu Kadar Vit C
 I2 0,1 N
 Aquadest
 Indikator kanji
 Vitamin C
2. A. Alat Analisa Kolorimetri
 Timbangan analitis
 Labu takar
 Tabung reaksi + rak
 Buret
 Pipet ukur
 Pro pipet
B. Bahan Analisa Kolorimetri
 FeCl3 atau CuSO4
 HCl pekat
 Larutan KCNS 1%
 Aquades

D. Cara Kerja
1. Penentuan Kadar Vitamin C
a. Timbang secara akurat Vitamin C 100mg (0,1 g). Diletakkan dalam
labu erlemeyer 250 ml.
b. Larutkan Vitamin C tersebut dengan kira-kira 50 ml aquades.
c. Tambahkan 5 ml indikator kanji, dan segera titrasi dengan larutan
standar I2 sampai muncul warna biru tua pertama kali yang bertahan
sekurang-kurangnya 1 menit.
d. Ulangi langkah di atas, dengan catatan bahwa titrasi harus segera
dilakukan setelah sampel itu melarut.
e. Tentukan kadar askorbat dalam vitamin C setiap tablet.
2. Analisa Kolorimetri (mengukur konsentrasi terhadap kadar CuSO4)
a. Ditimbang teliti 1,2 g CuSO4, masukkan dalam labu ukur 1 L,
diencerkan dengan aquades hingga volume tetap 500 ml. (konsentrasi :
0,1 M)
b. Ke dalam masing-masing taung reaksi diisikan 1,2,3,4,5,6 ml larutan
CuSO4 0,1 M. Encerkan masin-masing dengan aquades sampai
volume 1 ml. Kemudian kocok hingga tercampur homogen. Perhatikan
deret larutan standart tadi.
c. 1 ml larutan cuplikan dipipetkan ke dalam tabung lain, dan diencerkan
dengan aquades sampai 10 ml larutan dikocok sampai homogen.
d. Perkiraan konsentrasi larutan cuplikan dengan membandingkan warna
larutan tersebut dengan larutan standart.
E. Data hasil percobaan dan analisa
1. Penetuan Kadar Vitamin C
Kadar As. Askorbat = Volume larutan I2 x N I2 x Bobot ekivalen
Berat sampel
= 5 ml x 0,1 N x 88,07
100 mg
= 0,5 x 88,07
= 44, 035
2. Analisa Kolorimetri
Ada 6 larutan CuSO4 0,1 M
a. 1 ml larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,01 M
b. 2 ml larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,02 M
c. 3 ml larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,03 M
d. 4 ml larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,04 M
e. 5 ml larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,05 M
f. 6 ml larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,06 M
g. Sampel larutan CuSO4 dilarutkan dengan 50 ml aquades = 0,03 M
F. Pembahasan
1. Penentuan Kadar Vit C
Dalam praktikum kali ini kita telah melakukan praktek yang berjudul
penetapan kadar vitamin c dengan metode iodimetri. Tujuannya agar
mahasiswa dapat menentukan kadar vitamin c dengan metode
iodimetri.Vitamin C adalah salah satu vitamin yang sangat dibutuhkan oleh
manusia. Vitamin C juga mempunyai peranan yang penting bagi tubuh
manusia seperti dalam sintesis kolagen, pembentukancarnitine, terlibat dalam
metabolism kolesterol menjadi asam empedu dan juga berperan dalam
pembentukan neurotransmitter norepinefrin. Struktur kimiavitamin c atau
asam askorbat :

Pada praktikum ini menggunakan metode iodimetri. Iodimetri


(titrasilangsung) adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor seperti
natriumtiosulfat, arsenat dengan menggunakan larutan iodin baku. Jika titrasi
terhadap zat-zat reduktor dengan titrasi langsung dan tidak langsung.
Dilakukan percobaan ini untuk kadar-kadar zat oksidator secara langsung,
seperti kadar yang yang terdapat pada serbuk vitamin c. Indikator yang umum
digunakan suatu larutan kanji. Warna yang terjadi biru tua hasil reaksi I2
Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral , maka iodin dapat
mengalami reaksidiproporsionisasi menjadi hipordat, tetapi kanji juga
mempunyai kekurangansebagai indikator :
- Kanji tidak dapat larut dalam air dingin
- Suspensinya dalam air tidak stabil
- Bila penambahan kanji dilakukan pada awal titrasi dengan I2 akan
membentuk kompleks iod-amilum. Jika dalam titrasi menggunakan
indikator kanji maka penambahan kanji dilakukan pada saat mendekati
titik ekuivalen.
Percobaan pertama yang dilakukan yaitu pembakuan iodium 0,1 N
25ml I2 diencerkan dalam labu ukur 100 ml dan diambil 10 ml, kemudian
dititrasidengan N2S2O3 0,1 N, setelah selesai dititrasi kemudian ditambah 5
tetes kanji(warna coklat menjadi biru) dan dititrasi kembali
0,1 N sampaiwarna biru hilang menjadi bening. percobaan ini
dilakukan sebanyak 2x . pada percobaan 1 berubah warna pada volume
2ml dan pada percobaan 2 padavolume 0,1 ml. reaksi yang terjadi :
Percoban kedua yaitu penetapan kadar vitamin c . 0,2 gram vitamin
cditambah 50ml H
( warna putih keruh ) kemudian ditambah 12,5 mlH
encer , diambil 5ml . 5ml tersebut ditambah 1ml indicator dan
dititrasidenan I
2
sampai berwarna biru. percobaan ini dilakukan sebanyak 2x ,
percobaan

pertama mencapai titik TAT pada volume 0,5ml dan yang kedua pada
0,7ml.reaksi yang terjadi :
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi
iodimetri,diantaranya :-

Oksigen eror, terjadi jika dalam larutan asam , maka oksigen dariudara
akan mengoksidasi iodide menjadi ion ( kesalahan makin besardengan
meningkatnta asam )-

Larutan kanji yang sudah rusak akan memberikan warna violet


yangsulit hilang warnanya , sehingga akan mengganggu peniteran.-

pemberian kanji terlalu awal akan menyebabkan iod


menguraikanamilum dan hasil peruraian mengganggu perubahan
warna pada titikakhir-

Larutan thiosulfat dalam suasana yang sangat asam dapat


meguraikanlarutan thiosulfat menjadi belerang, pada suasana basa ( pH
> 9 )thiosulfat menjadi ion sulfat