Anda di halaman 1dari 13

OSTEOPOROSIS

I Nyoman Suarsana

Laboratorium Biokimia
Fakultas kedokteran Hewan

Defenisi
OSTEOPOROSIS merupakan satu penyakit metabolik tulang yang ditandai
dengan menurunnya massa tulang, yang disebabkan oleh berkurangnya matriks
dan mineral tulang disertai dengan kerusakan artsitektur mikro jaringan tulang
dengan akibat menurunya kekuatan tulang sehingga terjadi kencendrungan tulang
mudah patah.

Tulang normal pada usia 30 tahun Tulang osteoporosis pada usia 70 tahun

1
Masa tulang
• Masa tulang dinilai kepadatannya dengan menggunakan alat
Densitometer, ultrasonografi dan radiologi lainnya.
• Densitometer (DEXA) sampai saat ini masih digunakan sebagai standar
diagnosis osteoporosis (WHO). Adapaun batasan Kepadatan tulang sbb:
1. Normal: nilai kepadatan tulang tidak lebih dari 1.
2. Osteopenia: nilai kepadatan mineral tulang diantara 1-2,5
3. Osteoporosis: nilai kepadatan mineral tulang lebih dari 2,5

Klasifikasi osteoporosis
1. Osteoporosis primer: osteoporosis yang tanpa disertai kelainan atau
penyakit yang jelas.
A. Osteoporosis pascamenopause
B. Osteoporosis senilis
2. Osteoporosis sekunder: osteoporosis akibat adanya suatu kelainan
atau penyakit yang jelas.

2
Patogenesis terjadinya Osteoporosis
• Terjadinya osteoporosis secara seluler disebabkan oleh karena
jumlah dan aktivitas sel osteoklas (sel penyerap tulang)
melebihi dari jumlah dan aktivitas sel osteoblas (sel
pembentuk tulang).
• Ada bbrp faktor yang menyebabkan deferensiasi sel osteoklas
meningkatkan aktivitasnya, yaitu:
1. Defisiensi hormon estrogen
2. Faktor sitokin
3. Pembebanan

1. Defisiensi Hormon Estrogen (HE)


• Defisiensi HE dapat meningkatkan pengeluaran mediator oleh
sel yang menyebabkan peningkatan jumlah dan aktivitas sel
osteoklas untuk melakukan penyerapan tulang.
• Pada wanita akan kehilangan 2-3% dari masa tulang
pertahunnya pada 5 tahun pertama setelah menopause.

3
REMODELING TULANG

Peran osteoblas dan osteoklas dalam remodeling tulang

Proses remodeling merupakan dua tahapan aktivitas seluler yang terjadi


secara siklik, yakni resorpsi tulang lama oleh osteoklas dan formasi
tulang baru oleh osteoblas. Pertama-tama, osteoklas akan
menyelenggarakan resorpsi melalui proses asidifikasi dan digesti
proteolitik. Segera setelah osteoklas meninggalkan daerah resorpsi,
osteoblas menginvasi area tersebut dan memulai proses formasi
dengan cara menyekresi osteoid (matriks kolagen dan protein lain) yang
kemudian mengalami mineralisasi.

Efek estrogen pada aktivitas osteoklas

• Estrogen bekerja dengan menekan diferensiasi osteoklas.


• Pembentukan osteoklas memerlukan interaksi antara RANK
(receptor activator nuclear factor kappa B, NF-кB) dan
ligannya, RANKL. Interaksi antara RANK dan RANKL ini
diregulasi oleh produksi osteoprotegerin (OPG).
• Estrogen mengendalikan diferensiasi osteoklas dengan cara
menghambat interaksi antara RANK dan RANKL.
• Estrogen pun dapat menghambat produksi IL-6, IL-1 dan atau
TNF-α, IL-11, IL-7 dan TGF-ß yang juga penting dalam
diferensiasi osteoklas.5,

4
Efek estrogen pada aktivitas osteoblas

• Efek estrogen dalam menekan aktivitas osteoklastik dapat terjadi secara tidak
langsung melalui aksinya pada reseptor osteoblastik.
• Salah satu sitokin yang diproduksi oleh osteoblas, TGF-ß, ditekan produksinya oleh
estrogen.
• TGF-ß berperan dalam diferensiasi osteoklas serta kelangsungan hidupnya.
• Estrogen pun menstimulasi produksi OPG (osteoprotegerin) oleh osteoblas. OPG
merupakan reseptor TNF yang penting dalam menghambat diferensiasi dan aktivitas
osteoklas.
• Estrogen juga mengendalikan aktivitas osteoklastik dengan menekan produksi
interleukin-6 (IL-6) yang diproduksi osteoblas.

Mekanisme
resoprsi
tulang

5
2. Faktor Sitokin
• Kelompok sitokin yang menstimulasi oseteoklastogenesis
antara lain, IL-1, IL-3, IL-6, tumor necrosis faktor (TNF). Misal
pada masa menopause, sitokin tsb meningkat.

• Sedangkan IL-4, IL-10, IL-18 dan Interferon merupakan sitokin


yang menghambat oseteoklastogenesis

6
3. Pembebanan
• Pembebanan mekanik pada tulang menimbulkan stres mekanik
dan strain yang menimbulkan efek pada jaringan tulang yaitu
pembentukan tulang pada permukaan periosteal sehingga
memperkuat tulang.
• Dengan demikian pembebanan mekanik dapat memperbaiki
ukuran, bentuk dan kekuatan jaringan tulang dengan
memperbaiki densitas tulang.

Keluhan gejala OSteoporosis


• Rasa nyeri
• Deformitas
• Patah tulang

7
Pencegahan osteoporosis
• Melakukan aktivitas fisik
• Jaga asupan kalsium melalui makanan sehari-hari (1000-1500
mg/hari)
• Hindari merokok dan minuman alkohol
• Hindari def. Vit D
• Hindari mengangkat beban yang berat pada penderita yg sdh
pasti osteoporosis
• Hindari berbabagi hal yang mengakbibatkan jatuh.

OSTEOPENIA : Hilangnya sejumlah masa tulang akibat berbagai


keadaan

OSTEOPOROSIS :bila osteopenia telah melewati ambang batas


untuk terjadinya fraktur
ditandai oleh : menurunnya massa tulang dan struktur tulang masih
dalam batas normal

8
Remodelling tulang
Sel-sel tulang yg berfungsi dalam proses membentuk tulang, resorpsi
tulang, keseimbangan mineral tulang (remodelling tulang)

1. Osteoblas : fungsi memproduksi osteoid atau matrik tulang guna


memproduksi pospat, osteocalsin, kolagen, mineralisasi tulang.
2. Osteosit : menjadikan tulang sensitif terhadap tekanan,
mengontrol mineralisasi tulang
3. Osteoklas : berfungsi dalam menyerap tulang, merusak massa
tulang.

Klasifikasi Osteoporosis
1. Osteoporosis Primer :kekurangan hormon (wanita), usia
lanjut, ketuaan.
OP tipe I : dihubungkan dgn penurunan hormon (post
menopouse osteoporosis)
OP tipe II : senile osteoporosis.
2. Osteoporosis Sekunder : disebabkan oleh keadaan klinis
tertentu.

9
Insiden : 1.7 – 2.4 % usia lebih 25 tahun
laki-laki : wanita = 1 : 8

Faktor yg mempengaruhi epidemiologi OP


1. Diet rendah calsium
2. Kandungan calsium air minum rendah pada daerah-daerah
tertentu
3. Menyusui lebih dri usia 2 tahun
4. Paritas tinggi

Pendekatan klinis osteoporosis


Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan biokimia tulang
• Pengukuran densitas massa tulang
• Pemeriksaan radiologi
• Pemeriksaan fungsi organ terkait seperti : ginjal, hati, sal. cerna, tiroid
dsb.

10
Anamnesis
Fraktur yg berhubungan dgn OP :
- kompresi vertebral
- fraktur colles
- fraktur collum femoris
Usia : usia sp 30 th densitas massa tulang ­,
6 thn post menopouse densitas tulang ¯
Defisiensi estrogen :
- daur haid tak teratur densitas massa tulang ¯
- Menoupose dini
Defisiensi testosteron : pada laki-laki
Obat-obatan : kortikosteroid, hormon tiroid, heparin, fuosemid,
antasida yg mengandung AL à erat hubungan dgn OP
HCT : mempertahankan densitas massa tulang
Diet : asupan calsium rendah à densitas massa tulang

Anamnesis :

Imunobilisasi yg lama : densitas massa tulang


menurun cepat
Rokok, alkohol : densitas massa tulang rendah
Berkurangnya tinggi badan : pada orangtua,
gangguan pertumbuhan pada anak, nyeri tulang,
gastrektomi, obstruksi billier
Riwayat keluarga

11
Pemeriksaan biokimia tulang
- calsium total serum
- Calsium ion
- Calsium urin
- Fosfor urin
- Fosfat urin
- Osteocalsin, serum
- Priridinolin urin
- Hormonal paration & vit D (bila perlu)

Pemeriksaan radiologi

• sangat tidak sensitif (densitas ¯ 50 % gambar


radiologi belum spesifik)
• Melihat vertebal (membedakan dengan penyakit
degeneratif)
• Gambar radiologi yang khas pada OP
- penipisan korteks dan daerah trabekular
lebih nyata
- pada vertebra : picture frame vertebra.

12
Kriteria WHO

Normal : bila densitas tulang – 1 SD pada (T score)


Osteopeni : bila densitas massa tulang – 1 SD s/d – 2.5 SD
(T score)
Osteoporosis : bila densitas tulang -2.5 SD atau kurang
Osteoporosis berat : yaitu osteoporosis disertai fraktur

Pengobatan
- Terapi sulih hormon (TSH): Estrogen : terbaik untuk OP post
menopause
- SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator)
- Bifosfonat : absorpsi sangat buruk à harus minum saat puasa
- Calcitonin : menghambat resorpsi osteoklas
- Suplemen calsium : dosis 1000 – 1500 mg/hari
- Vit D : dosis 400 u/hari
- Nutrisi yg seimbang
- Pengobatan patah tulang
- Rehabilitasi

13