Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seorang bidan yang membuka praktik mandiri dapat disebut juga sebagai wirausahawan.
Dimana wirausahawan adalah seorang yang memiliki keahlian menjual, mulai menawarkan
ide hinggá komoditas yakni layanan jasa. Sebagai pelaku usaha mandiri dalam bentuk
layanan jasa kesehatan dituntut untuk mengetahui dengan baik manajemen usaha. Bidan
sebagai pelaku usaha mandiri dapat berhasil baik dituntut untuk mampu sebagai manajerial
dan pelaksana usaha, di dukung pula kemampuan menyusun perencanaan berdasarkan visi
yang diimplementasikan secara strategis dan mempunyai ke mampuan personal selling yang
baik guna meraih sukses. Diharapkan bidan nantinya mampu memberikan pelayanan
kesehatan sesuai profesi dan mampu mengelola manajemen pelayanan secara profesional,
serta mempunyai jiwa entrepreneur. Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur)
adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai
kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani
memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti.
(Kasmir, 2007:18).
John J.Kao (1993) mendefinisikan berkewirausahaan sebagai usaha untuk menciptakan
nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, manajemen pengambilan resiko yang tepat, dan
melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk memobilisasi manusia, uang, dan
bahan-bahan baku atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek
supaya terlaksana dengan baik. Menjadi profesi bidan yang unggul di bidang
kewirausahaan/interprenuership dalam bentuk praktek mandiri dan mampu menciptakan
lapangan pekerjaan, khususnya kewirausahaan yang bergerak dibidang kesehatan sangat
membantu dalam pengembangan pembangunan yang mana pada masa sekarang ini. Seorang
bidan yang membuka praktik mandiri dapat disebut juga sebagai wirausahawan. Dimana
wirausahawan adalah seorang yang memiliki keahlian menjual, mulai menawarkan ide
hinggá komoditas yakni layanan jasa. Sebagai pelaku usaha mandiri dalam bentuk layanan
jasa kesehatan dituntut untuk mengetahui dengan baik manajemen usaha. Bidan sebagai

1
pelaku usaha mandiri dapat berhasil baik dituntut untuk mampu sebagai manajerial dan
pelaksana usaha, di dukung pula kemampuan menyusun perencanaan berdasarkan visi yang
diimplementasikan secara strategis dan mempunyai ke mampuan personal selling yang baik
guna meraih sukses. Diharapkan bidan nantinya mampu memberikan pelayanan kesehatan
sesuai profesi dan mampu mengelola manajemen pelayanan secara profesional, serta
mempunyai jiwa entrepreneur.
Bidan yang berwirausaha dengan cara membuka praktek mandiri dirumahnya, seharusnya
berusaha untuk mendongkrak inovasi yang baru terhadap manajemen usaha. Dimulai dari
modal yang ia punya, alat-alat kesehatan, susunan ruangan, manajemen keuangan, dan lain-
lain. Agar laba yang diharapkan dapat terwujud tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang
diberikan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana wirausaha bagi bidan ?
2. Bagaimana cara memasuki usaha baru bagi bidan?
3. Apa saja profile usaha dan model pengembangan praktek mandiri bidan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana wirausaha bagi bidan
2. Untuk mengetahui cara memasuki usaha baru bagi bidan ?
3. Untuk mengetahui profile usaha dan model pengembangan praktek mandiri bidan

1.4 Manfaat

1. Bagi Mahasiswa
Dapat memahami dan mengetahui tentang bagaimana berwirausaha , memasuki usaha baru
bagi bidan dan mengembangkan praktek mandiri bidan.
2. Bagi Masyarakat
Dapat memahami dan mengetahui tentang wirausaha bidan dan usaha yang dapat
dikembangkan oleh bidan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Wirausaha Bagi Bidan


2.1.1 Pengertian Wirausaha
Kewiraushaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam

menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan,

menerapkan cara kerja baru, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi

dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan

yang lebih besar”. Menurut Heri Wibowo (Buku Kewirausahaan , Heri Wibowo:2011),

Kewirausahaan adalah sebuah mindset (pola pikir) dan method (metode). Keduanya dapat

berdiri sendiri maupun bersama-sama. Sebagai mindset , kewirausahaan mewakili pola

pikir, asumsi dasar, nilai atau yang mendasari pemikiran kita. Ia adalah ‘sesuatu’ yang

berbeda diantara stimulus dan respon. Ia adalah pembeda antara seorang individu dengan

individu lainnya. Mindset adalah hal yang berpotensi mewarnai pemikiran-pemikiran dan

tindakan-tindakan kita. Mindset wirausaha dalam hal ini adalah pola pikir positif, pantang

menyerah, selalu berusaha melihat peluang. Selanjutnya, sebagai metode (method), tentu

saja aktivitas wira usaha memiliki langkah/cara/strategi tertentu untuk dapat sukses (tidak

terlalu mudah gagal). Dari sekian banyak kasus, tentunya ditemukan formula/rumus ideal

bagaimana cara memulai aktivitas wirausaha dengan baik, dalam arti berpeluang

mendapatkan profit sekaligus memiliki sedikit peluang untuk bangkrut. Metoda dalam hal

ini bagaimana aktivitas kewirausahaan ini dijalankan secara nyata dalam kehidupan

sehari-hari sehingga menghasilkan keuntungan bagi pengelolanya. Secara umum metode

ini juga dapat dibagi dua yaitu business content (jenis bisnisnya/produk/barang), dan

3
business context (yaitu perrangkat bisnisnya, mulai dari manajemen keuangannya,

pemasaran, sdm, dan lain-lain). Dari definisi-definisi di atas, bila dihubungkan dengan

praktik Kebidanan, maka penulis menyimpulkan bahwa: kewirausahaan dalam praktek

kebidanan adalah Sebuah mindset dan method yang harus dikuasai seorang Bidan sebagai

wirausahawan dalam memulai dan/atau mengelola sebuah usaha praktek profesional

(Bidan Praktek Swasta maupun Klinik Bersalin) dengan mengembangkan kegiatan-

kegiatan berbasis kreativitas dan inovasi yang dapat memenuhi kebutuhan klien, keluarga,

dan masyarakat untuk kemajuan/keberhasilan praktek profesional kebidanannya.

2.1.2 Manfaat Kewirausahaan

Manfaat kewirausahaan adalah sebagai berikut:

1. Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri

2. Memberi peluang melakukan perubahan

3. Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya

4. Memiliki peluang untu meraih keuntungan seoptimal mungkin

5. Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan mendapatkan

pengakuan atas usahanya

6. Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa

senang dalam mengerjakannya

2.1.3 Fungsi Kewirusahaan

Setiap wirausaha memiliki fungsi pokok dan fungsi tambahan sebagai berikut:

1. Fungsi pokok wirausaha, yaitu:

a. Membuat keputusan-keputusan penting dan mengambil risiko tentang tujuan

dan sasaran perusahaan.

4
b. Memutuskan tujuan dan sasaran perusahaan

c. Menetapkan bidang usaha dan pasar yang akan dilayani

d. Menghitung skala usaha yang diinginkannya

e. Menentukan permodalan yang diinginkannya (modal sendiri dan modal dari

luar)

f. Memilih dan menetapkan kriteria pegawai/karyawan dan memotivasinya

g. Mengendalikan secara efektif dan efisien

h. Mencari dan menciptakan berbagai cara baru

i. Mencari terobosan baru dalam mendapatkan masukan atau input, serta

mengolahnya menjadi barang atau jasa yang menarik

j. Memasarkan barang dan atau jasa yang menarik

k. Memasarkan barang dan atau jasa tersebut untuk memuaskan pelanggan dan

sekaligus dapat memperoleh dan mempertahankan keuntungan maksimal.

2. Fungsi tambahan wirausaha, yaitu:

a. Mengenali lingkungan perusahaan dalam rangka mencari dan menciptakan

peluang usaha.

b. Mengendalikan lingkungan ke arah yang menguntungkan bagi perusahaan.

c. Menjaga lingkungan usaha agar tidak merugikan masyarakat maupun

merusak lingkungan akibat dari limbah usaha yang mungkin dihasilkannya.

d. Meluangkan dan peduli atas CSR (Corporate Social Responsibility) . Setiap

pengusaha harus peduli dan turut serta bertanggung jawab terhadap lingkungan

sosial di sekitarnya.

5
2.1.4 Pola Pikir Kewirausahaan

Menurut Neal Thornberry, Pola pikir wirausaha melibatkan 10 kualitas, sebagai berikut:

1. Memiliki Locus of Control internal

Menggambarkan bagaimana seseorang berpikir tentang kendali hidupnya.

2. Memiliki toleransi untuk ambiguitas

Seorang wirausaha memiliki toleransi untuk berbuat berbeda dan melanggar hal-hal yang

dianggap pakem. Sebagai contoh: pakem yang umum buat mereka yang ingin membuka

restoran adalah; bukalah di tempat yang ramai. Namun demikian, saat ini sudah banyak

contohnya dimana restoran yang dibuka di tempat terpencil justru diserbu pelanggannya.

Begitu pula dengan pendirian sebuah BPS maupun Klinik bersalin, tidak harus di tempat

yang ramai.

3. Kesediaan untuk bekerja sama dengan orang yang lebih cerdas dari dirinya.

Seorang Bidan yang membuka praktek mandiri maupun klinik bisa bekerja sama dengan

bidan lain maupun dokter spesialis kebidanan dan anak sehingga bersinergi.

4. Konsistensi untuk selalu berkreativitas, membangun dan mengubah berbagai hal.

Sebagai contoh: Dalam menjalankan praktek sebagai penolong persalinan seorang bidan

bukan hanya menolong persalinan saja tetapi juga menawarkan jasa lain satu paket dengan

jasa persalinan dengan tarif tertentu. Misalnya: Paket A :Tarif 1.000.000 dengan layanan

sebagai berikut: persalinan normal 2 hari, biaya mengurus akte lahir bayi, biaya pijat ibu

dan bayi.

5. Dorongan yang kuat untuk peluang dan kesempatan

Bidan selaku wirausahawan selalu awas terhadap peluang-peluang baru. Bidan dengan

kemampuan intuisinya yang selalu ditempa mampu membaca trend jaman.

6
6. Rasa urgenitas yang tinggi.

Para tokoh bisnis sering mengatakan pameo ini “inovasi atau mati”. Apa artinya? Artinya

adalah bahwa inovasi sudah merupakan sesuatu harga mati, ini adalah sesuatu yang urgen

dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.

7. Perseverance

Usaha untuk menemukan ide baru kemudian berusaha mematangkan dan mewujudkannya.

8. Resilience (ketahanan)

Wirausaha yang tangguh memiliki sikap seperti boneka anak-anak yang jika dipukul selalu

kembali ke posisi semula. Inilah sikap ketahanan yang perlu dimiliki setiap kita yang sadar

bahwa hidup adalah perjuangan, dan perjuangan selalu memerlukan kekuatan untuk

bangkit setelah jatuh dan bangun setelah terjerambab oleh kerasnya kehidupan.

9. Optimis

Secara sederhana dapat diartikan sebagai lompatan dari satu aktivitas ke aktivitas lain,

tanpa kehilangan antusiasme. Optimis adalah juga bentuk keyakinan bahwa tujuan akan

tercapai dan target akan terpenuhi dengan kekuatan sendiri.

10. Rasa humor tentang diri sendiri

Ini adalah bentuk rasa besar hati. Kemampuan mentertawakan diri sendiri adalah bentuk

kapabilitas untuk mengkoreksi bahkan mengkritik diri sendiri. Ini adalah sebuah rasa

legowo untuk tidak menilai diri sendiri sudah mencapai prestasi yang optimal.

2.2 Cara Memasuki Usaha Baru Bagi Bidan

Menurut Sri Bramantara Abdinagoro, seorang pengamat bisnis, untuk memulai bisnis
sendiri calon pengusaha dapat menggunakan empat langkah berikut:

7
1) Langkah pertama, yaitu amati. Ide bisnis dapat dilakukan pengamatan terhadap
lingkungan sekitar. Dalam pengamatan tersebut dapat diketahui kebutuhan
masyarakat (kebutuhan pasar), dan dimana dapat memperoleh kebutuhan tersebut.
Dari pengamatan tersebut akan diperoleh ide bisnis, namun pengamatan harus
dilakukan berulang-ulang agar ide tersebut dapat terealisasikan sesuai dengan
kebutuhan pasar.
2) Langkah kedua yaitu cermati. Jika ide yang muncul dari pengamatan memungkinkan
untuk ditindaklanjuti, maka cermati dengan melakukan riset pasar, pengumpulan
data, sasaran konsumen, perhitungan biaya produksi, proyeksi keuangan, cara
memasarkan, promosi dan sebagainya. Kemudian lakukan perincian modal, prospek
bisnis tersebut, hambatan dan tantangan yang kiranya dihadapi dalam bisnis tersebut.
3) Langkah ketiga yaitu tetapkan hati karena kesuksesan hanya dimiliki oleh seseorang
yang percaya diri dan berketetapan hati untuk melangkah dan tidak takut resiko.
4) Langkah yang keempat ialah action atau aksi. Merupakan pelaksanaan atas ide dan
perencanaan bisnis. Berani bermimpi maka harus berani merealisasikannya.

Untuk memulai suatu usaha baru, langka-langkah yang diperlukan adalah sebagai
berikut:

1. Mengenali peluang usaha


Peluang usaha dapat dikenali memalui pengalaman hidup maupun hubungan sosial dan
hubungan sosial dengan masyarakat laus dapat memberikan informasi yang aktual sesuai
kebutuhan dan potensi pasar.
2. Optimalisasi potensi diri
Dengan potensi diri yang optimal, calon wirausaha mamapu membut inovasi dan
bersaing agar bisnis tersebut sesuai dengan yang diinginkan.
3. Fokus dalam bidang usaha
Fokus dalam menjalaniusaha sangat diperlukan agar usaha tersebut dapat berjalan lancar
dan terus berkembang.
4. Berani memulai

8
Dunia kewirausahaan adalah dunia ketidakpastian sementara informasi yang dimiliki oleh
calon wirausaha sedikit. Oleh karena itu keberanian untuk memulai dan mengambil
resiko sangat diperlukan.

Menurut peggy lambing, untuk mencari peluang dan mendirikan usaha baru ada 2 macam
pendekatan utama yang dapat digunakan wirausahayaitu:
1. Pendekatan Inside-out atau idea generation yaitu pendekatan berdasarkan gagasan
sebagaui kunci yang mementukan keberhasilan sebuah usaha. Seorang wirausaha melihat
peluan dari keterampilan diri sendiri, kemampuan, latar belakang dan hal-hal lainnya
sehingga dapat menentukan jenis usaha yang akan dirintis.
2. Pendekatan otside-in atau opportunity recognition yaitu pendekatan yang menekankan
pada ide pemenuhan dan tanggapan akan kebutuhan pasar.
Berdasarkan pendekatan tersebut untuk memulai usaha seorang calon wirausaha harus
mempunyai kompetens. Kompetensi yang diperlukan adalah:
a. Kemampuan teknik yaitu kemampuan bagaimana memproduksi barang dan jasa serta
cara penyajiannya.
b. Kemampuan pemasaran yaitu kemapuan menemukan pasar dan pelanggan serta harga
yang tepat.
c. Kemampuan finansial yaitu kemampuan memperoleh sumber dana dan cara
menggunakannya.
d. Kemampuan hubungan yaitu kemampuan untuk cara mencari, memelihara dan
mengembangkan relasi serta kemampuan komunikasi dan negosiasi.

2.3 Profil Usaha Kecil dan Pengembangannya

a. Tahap Studi Kelayakan

Studi kelayakan usaha secara umum dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai
berikut :

1. Tahap Penemuan ide. Pada tahap ini wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha
barunya. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi. Misalnya peluang

9
bisnis apa saja yang paling memberikan keuntungan, yaitu: bisnis industri, perakitan,
perdagangan, usaha jasa, atau jenis usaha lainnya yang dianggap paling layak.

2. Memformulasikan Tujuan. Tahap ini adalah tahap perumusan visi dan misi bisnis.
Apa visi dan misi bisnis yang hendak diemban setelah jenis bisnis tersebut
diidentifikasi? Apakah misinya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat
diperlukan masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan
yang langgeng?

3. Tahap Analisis. Proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan
apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Tahapan ini dilakukan seperti
prosedur proses penelitian ilmiah lainnya, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data,
mengolah, menganalisis, dan menarik kesimpulan. Kesimpulan dalam studi
kelayakan usaha hanya dua, yaitu dilaksanakan (go) atau tidak dilaksanakan (no go).

4. Tahap Keputusan. Langkah berikutnya adalah tahap mengambil keputusan apakah


bisnis layak dilaksanakan atau tidak. Karena menyangkut keperluan investasi yang
mengandung risiko, maka keputusan bisnis biasanya berdasarkan beberapa kriteria
investasi, seperti Pay Back Pe¬riod (PBP), Net Present Value (NPV), Internal Rate
of Return, dan sebagainya

Setelah ide untuk memulai usaha muncul, maka langkah pertama yang harus
dilakukan adalah membuat perencanaan.

Perencanaan usaha adalah suatu cetak biru tertulis (blue-print) yang berisikan tentang
misi usaha, usulan usaha, operasional usaha, rincian finansial, strategi usaha, peluang
pasar yang mungkin diperoleh, dan kemampuan serta keterampilan pengelolanya.
Perencanaan usaha sebagai persiapan awal memiliki dua fungsi penting, yaitu :

1. Sebagai pedoman mencapai keberhasilan manajemen usaha

2. Sebagai alat untuk mengajukan kebutuhan permodalan yang bersumber dan luar.

Beberapa unsur penting dalam perencanaan usaha, yaitu :

10
1. Ringkasan eksekutif (executive summary)

2. Pernyataan misi (mission statement)

3. Lingkungan usaha (business environment)

4. Perencanaan pemasaran (marketing plan)

5. Tim manajemen (management team).

6. Data finansial (financial data).

7. Aspek-apek legal (legal consideration).

8. Jaminan asuransi (insurance requirements).

9. Orang-orang penting (key person).

10. Pemasok (supliers).

11. Risiko (risk).

B. Profil Usaha Kecil

Sampai saat ini batasan usaha kecil masih berbeda-beda tergantung pada fokus
permasalahannya masing-masing. Usaha kecil telah didefinisikan dengan cara yang
berbeda tergantung pada kepentingan organisasi.

Komisi untuk Perkembangan Ekonomi (Commity for Economic Development—


CED), mengemukakan kriteria usaha kecil sebagai berikut:

1. Manajemen berdiri sendiri, manajer adalah pemilik.

2. Modal disediakan oleh pemilik atau sekelompok kecil.

3. Daerah operasi bersifat lokal.

4. Ukuran dalam keseluruhan relatif kecil.

Kekuatan dan kelemahan Usaha Kecil

11
Beberapa kekuatan usaha kecil antara lain:

1. Memiliki kebebasan untuk bertindak. Bila ada perubahan, misalnya perubahan


produk baru, teknologi baru, dan perubahan mesin baru, usaha kecil bisa bertindak
dengan cepat untuk menyesuaikan dengan keadaan yang berubah tersebut.
Sedangkan, pada perusahaan besar, tindakan cepat tersebut susah dilakukan.

2. Fleksibel. Perusahaan kecil sangat luwes, ia dapat menyesuaikan dengan


kebutuhan setempat. Bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran produk usaha kecil
pada umumnya menggunakan sumber-sumber setempat yang bersifat lokal.
Beberapa perusahaan kecil di antaranya menggunakan bahan baku dan tenaga
kerja bukan lokal yaitu menda-tangkan dari daerah lain atau impor.

3. Tidak mudah goncang. Karena bahan baku dan sumber daya lainnya kebanyakan
lokal, maka perusahaan kecil tidak rentan terhadap fluktuasi bahan baku impor.
Bahkan bila bahan baku impor sangat mahal sebagai akibat tingginya nilai mata
uang asing, maka kenaikan mata uang asing tersebut dapat dijadikan peluang
dengan memproduksi barang-barang untuk keperluan ekspor.

Kelemahan perusahaan kecil dua aspek, yaitu :

Aspek kelemahan struktural. Kelemahan dalam struktur perusahaan misalnya


kelemahan dalam bidang manajemen dan organisasi, kelemahan dalam pengendalian
mutu, kelemahan dalam mengadopsi dan penguasaan teknologi, kesulitan mencari
permodalan, tenaga kerja masih lokal, dan terbatasnya akses pasar. Kelemahan faktor
struktural yang satu saling terkait dengan faktor yang lain kemudian membentuk
lingkaran ketergantungan yang tidak berujung pangkal dan membuat usaha kecil
terdominasi dan rentan.

Secara struktural, salah satu kelemahan usaha kecil yang paling menonjol adalah
kurangnya permodalan. Akibatnya terjadi ketergantungan pada kekuatan pemilik
modal. Karena pemilik modal juga lebih menguasai sumber-sumber bahan baku dan
dapat mengusahakan bahan baku, maka pengusaha kecil memiliki ketergan-tungan
pada pemilik modal yang sekaligus penguasa bahan baku. Akibat dan ketergantungan

12
tersebut, otomatis harga jual produk yang dihasilkan usaha kecil secara tidak langsung
ditentukan oleh penguasa pasar dan pemilik modal, maka terjadilah pasar monopsoni.

Dengan kondisi ini, maka batas keuntungan pengusaha kecil ditentukan oleh
batas harga jual produk dan batas harga beli bahan baku. Terjadilah repatriasi
keuntungan yang mengakibatkan permodalan usaha kecil jumlahnya tetap kecil.
Kondisi tersebut mengakibatkan ketengantungan pengusaha kecil yang menjadi buruh
pada perusahaan sendiri dengan upah yang ditentukan oleh batas keuntungan dari
pemilik modal sekaligus penguasa pasar dan penguasa sumber-sumber bahan baku.

Aspek kelemahan Kultural. Kelemahan kultural mengakibatkan kelemahan


struktural. Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan
lemahnya berbagai persyaratan lain guna memperoleh akses permodalan, pemasaran,
dan bahan baku, seperti:

1. Informasi peluang dan cara memasarkan produk.

2. Informasi untuk mendapatkan bahan baku yang baik, murah, dan mudah didapat.

3. Informasi untuk memperoleh fasilitas dan bantuan pengusaha besar dalam


menjalin hubungan kemitraan.

4. Informasi tentang tata cara pengembangan produk, baik desain, kualitas, maupun
kemasannya.

5. Informasi untuk menambah sumber permodalan dengan persyaratan yang


terjangkau.

C. Pengembangan Usaha Kecil

Banyak konsep yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi dan manajemen
modern tentang cara meraih keberhasilan usaha kecil dalam mempertahankan
eksistensinya secara dinamis. Dalam berbagai konsep strategi bersaing dikemu-kakan
bahwa keberhasilan suatu perusahaan sangat tergantung pada kemampuan internal.
Untuk menghadapi kondisi jangka panjang dan dinamis, perusahaan harus
dikembangkan melalui strategi yang berbasis pada pengembangan sumber daya internal

13
secara superior (internal resource-based strategy) untuk menciptakan kompetensi inti
(core competency).

Dalam menghadapi krisis ekonomi nasional seperti sekarang ini, baik teori
dynamic strategy maupun teori resource-based strategy sangat relevan bila khusus
diterapkan dalam pemberdayaan usaha kecil. Menurut teori resources-based strategy,
agar perusahaan meraih keuntungan secara terus-menerus, maka perusahaan harus
mengutamakan kapabilitas internal yang supe¬rior, yang tidak transparan, sukar ditiru
atau dialihkan oleh pesaing dan memberi daya saing jangka panjang (futuristik) yang
kuat dan melebihi tuntutan masa kini di pasar dan dalam situasi eksternal yang
bergejolak.

Agar perusahaan kecil berhasil take-off, maka harus ada usaha khusus yang
diarahkan untuk survival, consolidation, control, planning, dan expectation. Dalam
tahapan ini diperlukan penguasaan manajemen, yaitu mengubah pemilik sebagai
pengusaha (owners as businessman) yang merekrut tenaga dan diberi wewenang secara
jelas. Perubahan yang dilakukan, yaitu : bidang pemasaran harus mengubah getting
customer menjadi improve competitive situation, bidang keuangan tahap cash flow
berubah menjadi tahap tighten financial control, improve margin, and control cost, dan
bidang pendanaan usaha kecil harus sudah ventura capital (Yuyun Wirasasmita,1993:
2).

Menurut teori the design school, perusahaan harus mendesain strategi perusahaan
yang ‘fit” antara peluang dan ancaman eksternal dengan kemampuan internal yang
memadai yang didukung dengan menumbuhkan kapabilitas inti (core competency)
yang merupakan kompetensi khusus (distinctive competency) dan pengelohaan sumber
daya perusahaan.

Dalam konteks persaingan bebas yang semakin dinamis seperti sekarang,


perusahaan harus menekankan pada strategi pengembangan kompetensi inti (building
core competency), yaitu pengetahuan dan keunikan untuk menciptakan keunggulan.
Keunggulan tersebut dapat diciptakan melalui “The New 7-S’ strategy (The New 7-
S’s)”, yaitu :

14
1. Superior stakeholder satisfaction, yaitu mengutamakan kepuasan stakeholder.

2. Strategic sooth saying, yaitu merancang strategi yang membuat kejutan atau yang
mencengangkan.

3. Position for speed, yaitu posisi untuk mengutamakan kecepatan.

4. Position for surprise, yaitu posisi untuk membuat kejutan.

5. Shifting the role of the game, yaitu strategi untuk mengadakan


perubahan/pergeseran peran yang dimainkan.

6. Signaling strategic intent, yaitu mengindikasikan tujuan dan strategi.

7. Simultanous and sequential strategic thrusts, yaitu membuat rangkaian


penggerak/pendorong strategi secara simultan dan berurutan.

Berdasarkan pandangan para ahli di atas, jelaslah bahwa kelangsungan hidup


perusahaan baik kecil maupun besar pada umumnya sangat tergantung pada strategi
manajemen perusahaan dalam memberdayakan sumber daya internalnya.

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bidan sebagai pelaku usaha mandiri dapat berhasil baik dituntut untuk mampu sebagai
amajerial dan pelaksanan usaha, didukung pula kemapuan menyusun keperencanaan
berdasarkan visi yang dimplementasikan secara strategis dan mempunyai kemampuan
personal selling yang baik guna meraih sukses. Diharapkan bidan nantinya mampu
memberikan pelayanan kesehatan sesuai profesi dan mampu mengelolah manajemen
pelayanan secara profeional, serta mempunyai jiwa interpreneur. kewirausahaan dipandang
sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang peluang yang muncul di pasar.
Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi
input yang produktif.Seorang wirausahawan selalu di haruskan menghadapi resiko atau
peluang yang muncul, serta di kaitkan dengan tindakan yang inovatif dan kreatif. Wira
usahawan adalah orang yang merubah nilai sumberdaya, tenaga kerja, bahan dan faktor
produksi lainnya menjadi lebih besar dari pada sebelumnya dan juga orang yang melakukan
perubahan, inovasi dan cara- cara baru.

3.2 Saran

Kami merasa pada makalah ini kami banyak kekurangan, karena kurangnya referensidan
pengetahuan pada saat pembuatan makalah ini, kami sebagai penulis mengharapkan kritik
dan saran yang membangun pada pembaca agar kami dapat membuat makalah yang lebih
baik lagi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Kasmir, Kewirausahaan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006

Justin G. Longenecker, Kewirausahaan: Manajemen Usaha Kecil, Jakarta: Salemba Empat, 2001

Kepmenkes RI Permenkes 1464/2010 Tentang Praktik Bidan, Jakarta 2010

http://kewirausahaan-dalam-praktek-kebidanan.html

17