Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

PERCOBAAN 4

SISTEM ENDOKRIN

Disusun Oleh :

1. Sofie Ayunia Rachmawati (10060318030)


2. Anggrilina Fitria (10060318031)
3. Nisa Rahma A. (10060318033)
4. Muhammad Fillah (10060318034)
5. Fia Siti Nopalia (10060318035)
6. Shifa Fadillah (10060314087)

Shift / Kelompok :A/5


Tanggal Praktikum : 30 September 2019
Tanggal Pengumpulan : 7 Oktober 2019
Asisten : Shelvy Asmiranda

LABORATORIUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BANDUNG
2019 M / 1440 H
SISTEM ENDOKRIN

I. Tujuan Percobaan
1. Menjelaskan peranan Sistem Endokrin dalam menjaga homeostasis
tubuh.
2. Menjelaskan mekanisme kerja insulin dalam menurunkan kadar gula
darah.
3. Mengenal histologi pankreas sebagai kelenjar endokrin.

II. Landasan Teori

Kelenjar endokrin ialah suatu kelenjar yang tidak memiliki saluran


pelepasan untuk mengalirkan hasil getahnya (segrete) keluar dari kelenjar.
Oleh karena itu kelenjar endokrin biasa juga disebut kelenjar buntu Getah
yang dihasilkan oleh kelenjar ini disebut hormon, dan hormon ini langsung
masuk ke dalam peredaran darah atau limf, atau cairan badan dan diedarkan
ke seluruh tubuh dan akan mempengaruhi organ-organ sasaran pada
organisme. Kelenjar endokrin ikan mencakup suatu sistem yang mirip
dengan vertebrae yang lebih tinggi tingkatannya. Namun, ikan memiliki
beberapa jaringan endokrin yang tidak didapatkan pada vertebrata yang
lebih tinggi, misalnya badan stanius yang memiliki fungsi sebagai kelenjar
endokrin yang membantu dalam proses osmoregulasi (Zairin, 2002).
Sistem endokrin merupakan sistem yang mencakup aktivitas
beberapa kelenjar yang mengatur dan mengendalikan aktivitas struktur
tubuh, baik sel, jaringan, maupun organ. Sistem endokrin terdiri dari
sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal),
yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-
hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai
pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh
(Zairin, 2002).
Kerja hormon menyerupai kerja saraf, yaitu mengontrol dan
mengatur keseimbangan kerja organ-organ di dalam tubuh. Namun,
kontrol kerja saraf lebih cepat dibanding dengan kontrol endokrin.
Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang berasal dari ektodermal
adalah protein, peptida, atau derivat dari asam-asam amino, dan hormon
yang dihasilkan oleh kelenjar yang berasal dari mesodermal (gonad,
korteks ardenal) berupa steroid. Kerja sistem endokrin lebih lambat
dibandingkan dengan system syaraf, sebab untuk mecapai sel target
hormon harus mengikuti aliran system transportasi.Sel target memiliki
receptor sebagai alat khusus untuk mengenali impuls/rangsang. Ikatan
antara reseptor dengan hormon di dalam atau di luar sel target,
menyebabkan terjadinya responspada sel target (Zairin, 2002).
Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum, yaitu:

 Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang


sedang berkembang
 Menstimulasi urutan perkembangan
 Mengkoordinasi sistem reproduktif
 Memelihara lingkungan internal optimal
 Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat

Dalam banyak hal, organisasi fungsional dari sistem saraf


paralel dengan sistem endokrin. Refleks endokrin dipicu oleh:
stimulushumoral (perubahan komposisi cairan ekstraselular, stimulus
hormonal dan, stimulus neural. Pada banyak kasus refleks endokrin
dikontrol oleh mekanisme umpan balik negatif dimana stimulus memicu
produksi hormon yang secara langsung atau tidak langsung memberikan
pengaruh mengurangi intensitas stimulus. Refleks endokrin yang lebih
kompleks melibatkan 1 atau lebih tahapan dengan 2 atau lebih hormon
(Martini and Judi, 2009).
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus dan
hipofise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung
oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem persarafan dengan sistem
endokrin. Dalam berespon terhadap input dari area lain dalam otak dan
dari hormon dalam dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi
beberapa hormon realising dan inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel
spesifik dalam kelenjar pituitary yang mengatur pembentukan dan sekresi
hormon hipofise. Hipofisa yang dikenal dengan nama “Master Gland”,
merupakan kelenjar endokrin yang mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi kelenjar-kelenjar endokrin yang lain dengan perantaraan
hormone-hormon yang dihasilkannya (Martini and Judi, 2009).
Menurut Martini dan Judi (2009), hipotalamus merupakan pusat
pengaturan endokrin pada tingkat yang paling tinggi yang
mengintegrasikan aktivitas sistem saraf dengan endokrin melalui 3 cara
yaitu:

 Mensekresikan hormon pengatur, yaitu hormon khusus yang mengatur


sel-sel endokrin di kelenjar pituitari. Hormon pengatur hipotalamus
mengatur aktivitas sekretoris di adenohipofisis yang selanjutnya
mengatur aktivitas sel-sel kelenjar di kelenjar tiroid, korteks adrenal
dan organ reproduksi. Termasuk disini adalah hormon: Gonadotropin
Releasing Hormon (GnRH), Gonadotropin Inhibiting Hormone
(GnIH), Thyrotropin Releasing Hormone (TRH), Prolactin Releasing
Hormon (PRH), Prolactin Inhibiting Hormone (PIH), Corticotropin
Releasing hormone (CRH), Growth hormone Releasing Hormone
(GHRH), Growth Hormone Inhibiting Hormone (GH-IH) (Martini and
Judi, 2009).
 Hipotalamus bekerja sebagai organ endokrin dengan mensintesis
hormon yang di transportasikan sepanjang akson di infundibulum
kemudian dilepaskan ke dalam sirkulasi di neurohipofisis. Termasuk
disini adalah ADH dan oksitosin (Martini and Judi, 2009).
 Hipotalamus mengandung pusat otonom yang secara langsung
mengontrol saraf sel-sel endokrin di medula adrenalis. Apabila saraf
simpatis diaktifkan maka medulla adrenalis melepaskan hormon ke
sirkulasi darah.
Kelenjar endokrin pada ikan menurut Lagler et al. (1962) terdapat
beberapa organ antara lain adalah pituitari, pineal, thymus, jaringan
ginjal, jaringan kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannus,
thyroid, ultibranchial, pancreatic islets, intestinal tissue, intestitial tissue
of gonads danurohypophysis. Namun, yang akan dijelaskan di sini hanya
beberapa kelenjar endokrin pada ikan, antara lain pituitari, tiroid, ginjal,
gonad, pankreas dan urophisis (Lagler et al, 1962).

1. Pituitari
Kelenjar pituitari atau hipofisa terletak pada lekukan tulang di
dasar otak (sela tursika), terdiri atas dua bagian utama, yakni
adenohipofisa dan neurohipofisa, adeno hipofisa terdiri atas pars
distalis dan pars intermedia, sedangkan, neurohipofisa hanya terdiri
atas parsnervosa yang berfungsi mensekresikan ocytoxin, arginin
vasotocin dan isotocin. Pars distalis merupakan bagian utama
adenohipofisa yang menghasilkan sel-sel pesekresi hormon prolaktin,
hormon adrenocorticotropic (ACTH), hormon pelepas tiroid (Thyroid
Stimulating Hormone), hormon pertumbuhan (STH-Somatotropin), dan
gonadotropin serta pars intermedia mensekresi hormon pelepas melanosit
(Melanocyte Stimulating Hormone), yang mana, pelepasan hormonnya
diatur oleh fator-faktor yang berasal dari hipotalamus (Fujaya, 2004).
2. Tiroid
Kelenjar tiroid mempunyai karakteristik yakni unit dasar
histologisnya adalah sel tunggal yang dikelilingi folikel dan jaringan
yang dibentuknya memiliki kemampuan mengubah iodine dan
inkorporasi menjadi hormon tiroid. Pada ikan, folikel tersebar di
sekitar ventral aorta dan percabangannya ke insang. Tirotrofin pituitari
merupakan faktor utama yang mengontrol fungsi tiroid dibawah
kondisi normal, fungsi tiroid adalah membuat, menyimpan dan
mengeluarkan sekresi yang terutama berhubungan dengan pengaturan
laju metabolisme. Sintesis dan pengeluaran horomon tiroid secara
otomatis diatur untuk memenuhi tuntutan kadar hormon dalam darah
lewat mekanisme feedback hipotalamik. Bila kadar hormon tiroid
yang beredar dalam darah tinggi makan akan menekan output TSH
pituitari, sedangkan kadar rendah menaikkannya. Hormon tiroid yang
penting adalah tetraiodotironin (T4) dan triiodotironin (T3). Hormon
ini penting dalam pertumbuhan, metamorfosis dan reprooduksi. Secara
spesifik tiroksin menambah produksi energi dan konsumsi oksigen
pada jaringan yang normal, mempunyai pengaruh anabolik dan
katabolik terhadap protein, meningkatkan proses oksidasi dalam
tubuh, mempercepat laju penyerapan monosakarida dari saluran
pencernaan, meningkatkan glikogenolisis hati, dan diduga mengontrol
pelepasan somatotropin, kortikotropin dan gonadotropin dari hipofisis
(Fujaya, 2004).
3. Pankreas
Pankreas adalah suatu kelenjar yang terdiri atas jaringan eksokrin
dan endokrin. Komponen eksokrin mensekresikan getah pankreas
yang dicurahkan ke dalam duodenum lewat saluran pankreas,
sedangkan komponen endokrin membebaskan hormonnya secara
langsung kedalam sirkulasi darah.Pada semua vertebrata, terdapat tiga
sel-sel pulau yang memliki fungsi independen sel-sel A, menghasilkan
glukagon sel-sel B, menghasilkan insulin, dan sel-sel D belum
diketahui secara jelas hormon yang dihasilkannya, namun beberapa
peneliti mengemukakan bahwa hormone tersebut identic dengan
somatostatin dan secara khusus berfungsi sebagai penghambat
pertumbuhan (Fujaya, 2004).
4. Gonad
Gonad merupakan kelenjar endokrin yang dipengaruhi oleh
gonadotropin hormon (GtH) yang disekresikan kelenjar pituitari.
Meskipun gonadotropin tidak secara langsung mempengaruhi
perkembangan telur atau seperma ikan, namun mempengaruhi sekresi
estrogen oleh sel folikel telur dan androgen oleh jaringan testis. Estrogen
yang umum didapatkan dalam cairan ovarium teleostei adalah estradiol -
17β yang merupakan derivat dari 17αhydroxyprogesterone, sedangkan
androgen yang umum disintesis adalah testosteron (Bond, 1979). Organ
target estrogen adalah sel-sel hati. Pada hati, estradiol berperan
membawa pesan agar vitelogenin segera disintesis. Vitelogenin adalah
bahan baku kuning telur yang di sekresi sel-sel hati dan dibawa ke gonad
oleh darah. Sedangkan 17αhydroxyprogesterone terutama berperan pada
akhir pematangan gonad untuk merangsang ovulasi (Bond, 1979).
5. Ginjal
Ginjal merupakan salah satu organ yang memiliki sel-sel endokrin,
antara lain jaringan interrenal, sel-sel kromaffin, juxtaglomerulus, dan
korpuskel stanius. Fungsi kelenjar ini dikontrol oleh pituitari melalui
ACTH (Bond, 1979).
6. Kelenjar
Kelenjar ultimobranchial terletak pada septum pemisah antara
rongga abdomen dan sinus venosus, tampak sebagai pita berwarna putih
pada septum. Kelenjar ini serupa dengan paratiroid pada bertebrata
tingkat tinggi, tetapi tidak berupa folikel, malainkan menyebar pada
septum. Kalsitonin merupakan hormon yang disekresikan oleh kelenjar
ultimobranchial. Hormon ini berperanan menurunkan kadar kalsium
darah. Beberapa kajian juga menunjukkan bahwa kalsitonin dapat
melakukan peranan dalam membuat ikan mampu menyesuaikan diri
terhadap lingkungan hidromineral yang berubah (Bond, 1979).
7. Urofisis
Urofisis, nama lain the caudal neurosekretori sistem, merupakan
neurosekretori yang terletak pada bagian belakang spinal cord.
Urofisis didapatkan pada setiap spesies ikan, namun fungsi hormon
yang dihasilkannya masih menimbulkan kontrofersi, walaupun secara
umu, sekresi urofisis berhubungan dengan fungsi osmoregulasi, dimana
pengaruh terbesarnya adalah pada ginjal. Ada empat jenis hormon yang
diidentifikasi dari urofisis, yakni urotensin I, II, III dan IV. Pada ikan,
urotensin I belum diketahui efeknya secara pasti, namun pada bertebrata
darat, berperanan dalam penurunan tekanan darah. Urotensin II berperan
dalam kontradiksi otot licin, misalnya otot rektum dan kandung kemih
Urotensis III menstimulasi peningkatan penyerapan NA+ oleh insang
dan pelepasan N+ oleh ginjal. Urotensin IV diduga adalah arginine
vasotocin, tetapi hanya teridentifikasi pada rainbow trout Jepang.
Pada ikan karper, urofisis memproduksi sejumlah besar acetylcholine
(Bond, 1979).

III. Bahan dan Alat


Bahan Alat
Insulin 40 U.I/ml Gelas piala 500 ml
Glukosa Alat suntik 1 ml
Akuades Hewan Percobaan:
Ikan mas kecil

IV. Prosedur Percobaan


a. Efek insulin terhadap ikan

Tempatkan seekor ikan mas kecil dalam gelas piala yang berisi 200
ml air yang telah ditetesi 10 tetes insulin, setelah itu amati baik-baik saat
insuin dari air berdisfusi melalui membrane insang menuju ke aliran
darah.Hasil dari peningkatan kadar insulin darah adalah penurunan kadar
gula darah menjadi di bawah normal. Akibatnya ikan akan mengalami
iritabilita, konvulsi atau koma. Saat gejala-gejala diatas terjadi, pindahkan
ikan ke gelas piala yang berisi 200 ml air dan 1/2 sendok teh glukosa. Saat
glukosa dan air berdifusi melalui membran insang menuju aliran darah,
kadar gula darah meningkat dan ikan kembali normal.

V. Data Pengamatan dan Perhitungan


Hasil pengamatan efek insulin terhadap ikan
Ikan Iritabilita pada t = 50 sekon
Ikan mengalami kejang pada t = 50 menit 255 detik
Ikan mengalami koma pada t = tidak ada (-)

VI. Pembahasan
Pada percobaan ini, hewan percobaan yang digunakan adalah ikan,
karena ikan merupakan sistem endokrin bekerja lebih sederhana dari
mamalia meskipun jenis hormon dan kelenjar yang dihasilkan sama, namun
fungsi dan peruntukan hormon pada beberapa kasus menunjukan perbedaan.
Setelah ikan dimasukkan ke dalam beker gelas yang berisi air dan insulin,
ikan mengalami perubahan dalam hal aktifitasnya. Beberapa waktu setelah
dimasukkan, ikan mulai mengalami iritabilitas pada 50 sekon. Iritabilitas
yaitu respon pertamanya yang ditandai dengan ikan yang seperti stres dan
aktifitasnya berbeda dengan ikan yang tidak diberi insulin.
Beberapa waktu setelah iritabilitas ikan akan mengalami konvulsi
pada menit ke 50 sekon sedangkan kovulsi yaitu dimana suatu kondisi
hilangnya keseimbangan ikan yang ditandai dengan posisi ikan yang mulai
tidak stabil dan mengalami kejang pada menit 50 tapi masih bisa berusaha
untuk kembali keposisi yang stabil dan aktifitas ikan semakin tidak
terkontrol. Setelah konvulsi ada suatu kejanggalan dimana ikan tidak
mengalami koma tetapi hanya mengalami kejang yang ditandai dengan
posisi ikan melompat-lompat tidak terkendali dari menit 50 dan sampai
seterusnya ikan kembali normal, hal ini disebabkan karena sel beta
Pankreas hanya sedikit menurunkan kadar glukosa dan produksi. Sel beta
pada manusia berfungsi untuk mensekresikan hormon insulin, dapat
memicu penyerapan glukosa dari alliran darah ke dalam sel, sehingga
memungkinkan untuk hati, bagian ginjal, dan otot untuk menyimpan gula
darah yang selanjutnya akan ditambahkan ke molekul glikogen untuk
disimpan di dalam hati dan otot sebagai sumber energi, sedangkan pada ikan
berfungsi sebagai kontrol utama saat kadar gula meningkat, selain itu juga
menghasilkan peptida-C (produk sampingan dari insulin) yang digunakan
untuk memberikan gambaran mengenai sel beta yang hidup. Sel alfa masih
bejalan stabil dengan meningkatkan kadar glukosa, dan pankreas masih
memproduksi hormon glukagon dengan baik sehingga pankreas tidak
sepenuhnya memecah glikogen menjadi glukosa membuat ikan tidak
mengalami koma. Saat glukosa berdifusi melalui membran insang menuju
aliran darah, kadar gula darah meningkat dan ikan akan kembali normal.
Pengaruh yang ditimbulkan dari hormon insulin yaitu insulin berperan
dalam pengaturan kadar glukosa di dalam darah dimana insulin akan
menurunkan kadar glukosa darah, transportasi glukosa ke darah sel insulin
menstimulasi penggunaan glukosa untuk menjadi glukogen (glukogenesis),
sintesis lemak (lipogenesis), dan sintesis protein (erotogenesis), jika glukosa
menurun berarti insulinnya tinggi karena banyak gula darah yang dirubah.
Faktor- faktor yang mempengaruhi percobaan ini adalah laju reaksi,
waktu dan suhu kamar serta karena metabolisme pada ikan tidak terganggu
seiring dengan meningkatnya glukosa sehingga bisa menghasilkan energi
yang dibutuhkan, maka ikan yanag semula mengalami koma kembali
menjadi normal kembali.

VII. Kesimpulan
Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol
dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja
untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi hormon glukagon adalah
memberi tanda pada hati dan otot untuk memecah glikogen menjadi glukosa
dan mengeluarkannya kembali kedalam aliran darah. Hal ini menjaga
kadar gula darah agar tidak turun terlalu rendah.

Pankreas merupakan organ sistem pencernaan dan sistem endokrin


vertebrata. Pada manusia, terletak di perut belakang dan berfungsi sebagai
kelenjar. Kelenjar heterokrin, yang memiliki fungsi endokrin dan
pencernaan eksokrin. Kelenjar endokrin, sebagian besar fungsinya untuk
mengatur kadar gula darah, mengeluarkan hormon insulin, glukagon,
somatostatin, dan polipeptida pankreas.

VIII. Daftar Pustaka


Bond, C. E. 1979. Biology of Fishes. W. B. Saunders. Philadelphia.
Fujaya, Yushita. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Lagler, K.F., J.E. Bardach and R.R. Miller 1962. Ichtyology. The University
of Michigan, Ann Arbor. Michigan.
Martini, F.H. and Judi, L. N. 2009. Fundamental of Anatomy and
Physiology. Pearson International. USA.
Zairin, Muhammad. 2002. Sex Raversal : Memproduksi Benih Ikan Jantan
atau Betina. Penebar Swadaya. Bogor.

Anda mungkin juga menyukai