Anda di halaman 1dari 14

1.

Proses Pengambilan Keputusan


1.1 Definisi
Dalam organisasi, pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan
alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan)
sebagai suatu cara pemecahan masalah yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai
tujuan bersama. Langkah-langkah pengambilan keputusan, yaitu:
1) Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang
Untuk mengenali dan mendefinisikan masalah atau peluang, para pengambil
keputusan memerlukan informasi mengenai lingkungan, keuangan, dan operasi.
Pendidikan, pengalaman, watak, karakter, dan faktor keperilakuan lainnya dari para
pengambil keputusan dapat menentukan apakah masalah tersebut akan dianggap
penting, menjanjikan peluang atau menginisiasikan proses pengambilan keputusan.
Terkadang, masalah atau peluang telah ditentukan sebagai pokok perhatian maka
masalah tersebut harus didefinisikan dengan hati-hati. Pada situasi yang kompleks,
aktivitas ini sebaiknya dilakukan oleh sebuah tim yang anggota-anggotanya
memiliki latar belakang pendidikan dan keahlian yang berbeda.
2) Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya
Pada langkah ini, alternatif praktis sebaiknya sebanyak mungkin diidentifikasi dan
dievaluasi. Pencarian sering dimulai dengan melihat masalah serupa yang terjadi di
masa lalu dan tindakan yang dipilih pada saat itu. Fitur-fitur yang dapat
dikuantifikasikan akan berupa estimasi keuangan atas biaya dan manfaat yang
berkaitan dengan setiap alternatif.
3) Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan
Tahap yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan adalah memilih
salah satu dari beberapa alternatif. Meskipun langkah ini mungkin memunculkan
pilihan rasional, pilihan terakhir sering didasarkan pada pertimbangan politik dan
psikologis daripada fakta ekonomi.
4) Penerapan dan tindak lanjut
Kesuksesan atau kegagalan dari keputusan akhir bergantung pada efisiensi
penerapannya. Pelaksanaan hanya akan berhasil jika individu-individu yang
memiliki kontrol atas sumber daya organisasi yang diperlukan untuk melaksanakan
keputusan (misalnya, uang, orang, dan informasi) benar-benar berkomitmen untuk
membuatnya bekerja.

1.2 Motif Kesadaran


Motif kesadaran ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu yang masih berada dalam tingkat kesadaran seseorang. Terdapat dua faktor penting
dari motif kesadaran dalam konteks pengambilan keputusan, yaitu:
1) Keinginan akan kestabilan atau kepastian
Keinginan akan kestabilan menegaskan adanya kemampuan untuk memprediksikan.
Motif ini mengaktifkan baik pikiran sadar dan bawah sadar untuk membuat masuk
akal suatu ketidakseimbangan, ambigu, atau ketidakpastian informasi.
2) Keinginan akan kompleksitas dan keragaman
Motif kompleksitas menimbulkan keinginan akan suatu stimulus dan eksplorasi serta
mengaktifkan pikiran sadar dan bawah sadar untuk mencari data baru dari ingatan atau
lingkungan, kemudian menyeimbangkannya dan mengaturnya dengan motif. Dua
faktor penting dari proses pengambilan keputusan adalah kompleksitas dan
prediksinya (pasti atau tidak pasti). Dengan menggunakan dimensi-dimensi
kompleksitas dan kemampuan untuk membuat prediksi, para ahli psikologi telah
mengembangkan empat jenis model keputusan:
a. Model keputusan yang diprogram secara sederhana
Model ini ditandai dengan aturan-aturan prediksi yang tidak kompleks, yang
ditetapkan oleh orang lain yang bukan si pengambil keputusan.
b. Model keputusan yang tidak diprogram secara sederhana
Pada model ini, apa pun akan terlihat baik pada saat itu bagi si pengambil
keputusan yang langsung memilih alternatif tersebut. Informasi bersumber dari
prasangka melalui keyakinan-keyakinan umum.

1
c. Model keputusan yang diprogram secara kompleks
Pada model ini melibatkan perencanaan yang begitu rinci. Masalah dan peluang
diantisipasi dengan skala prioritas yang begitu hati-hati. Alternatif-alternatif yang
ada dievaluasi berdasarkan pertimbangan untuk memaksimalkan manfaat jangka
panjang.
d. Model keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks
Model ini memiliki ciri khas yaitu partisipasi yang terus-menerus dari semua
orang yang terlibat untuk memaksimalkan perolehan informasi dan koordinasi.

1.3 Jenis-jenis dari Model Proses


Tiga model utama dalam pengambilan keputusan dari seorang pengambilan keputusan
dalam suatu organisasi, model-model tersebut adalah:
a. Model Ekonomi
Model tradisional ini mengasumsikan bahwa semua tindakan manusia dan
keputusan secara sempurna rasional dan bahwa dalam sebuah organisasi, ada
konsistensi antara berbagai motif dan tujuan.
b. Model Sosial
Model ini mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya tidak rasional dan bahwa
keputusan dihitung berdasarkan interaksi sosial.
c. Model Kepuasan Simon
Model ini didasarkan pada konsep Simon tentang orang administrasi, di mana
manusia dipandang rasional karena mereka memiliki kemampuan untuk berpikir,
memproses informasi, membuat pilihan, dan belajar.

2. Cara Pengambilan Keputusan dalam Organisasi


Berikut merupakan tinjauan atas suatu bukti penting yang akan memberikan
penjelasan yang lebih akurat tentang bagaimana sebenarnya kebanyakan keputusan dalam
organisasi yang diambil.

2
a. Rasional Terbatas
Salah satu aspek yang menarik dari konsep rasional terbatas adalah membuat urutan
pertimbangan beberapa alternative. Pengurutan alternative tersebut sangat penting dalam
menentukan alternative yang dipilih. Jika pengambilan keputusan sedang melakukan
optimasi, semua alternatif akhirnya akan dicantumkan dalam hierarki urutan preferensi.
Karena semua alternatif aan dipertimbangkan, maka urutan dengan mana
alternatif-alternatif tersebut dievaluasi tidak akan relevan.
b. Intuisi
Pengambilan keputusan intuitif merupakan suatu proses tidak sadar yang diciptakan
dari pengalaman bersaing. Intuisi ini tidak harus berjalan secara independen dari analisis
rasional. Tepatnya, keduanya saling melengkapi.
c. Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang tampak cenderung memiliki kemungkinan terpilih yang lebih
tinggi dibandingkan dengan masalah-masalah yang penting. Pernyataan ini didasarkan
pada dua alasan. Pertama mudah untuk mengenali masalah-masalah yang tampak, kedua
perlu diingat bahwa semua orang menaruh perhatian yang besar terhadap pengambilan
keputusan dalam organisasi.
d. Membuat Pilihan
Untuk menghindari informasi yang terlalu padat, para pengambil keputusan
mengandalkan heuristic atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan.
Terdapat dua kategori umum heuristik yaitu ketersediaan dan keterwakilkan.
Masing-masing kategori menciptakan bias dalam penilaian. Bias lain yang sering ada
pada para pengambil keputusan adalah kecenderungan untuk mengangkat komitmen ke
jalur tindakan yang gagal.
e. Perbedaan Individu: Gaya Pengambilan Keputusan
Riset tentang gaya pengambilan keputusan telah mengidentifikasi empat pendekatan
individual yang berbeda terhadap pengambilan keputusan. Pertama adalah cara berpikir
ada yang memang logis dan rasional sebaliknya ada orang yang intuitif dan kreatif. Orang
yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah atas ambiguitas dan

3
mencari rasionalitas. Tipe analitis memiliki toleransi yang lebih besar terhadap ambiguitas
dibandingkan dengan mengambil keputusan yang direktif. Konseptual cenderung menjadi
sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternative sehingga
orientasi mereka jangka panjang. Kategori terakhir gaya perilaku yang dicirikan oleh
pengambil keputusan yang dapat bekerja baik dengan pihak lain.
f. Keterbatasan Organisasi
Organisasi itu sendiri merupakan penghambat bagi para pengambil keputusan, para
manajer misalnya membentuk keputusan untuk mencerminkan sistem penilaian kinerja
dan pemberian imbalan untuk memenuhi peraturan-peraturan formal dan untuk memenuhi
batas waktu yang ditetapkan organisasi.

3. Asumsi – asumsi keperilakuan dalam Pengambilan Keputusan


3.1 Perusahaan sebagai Unit Pengambilan Keputusan
Suatu perusahaan dapat dianggap sebagai unit pengambilan keputusan yang serupa
dalam banyak hal dengan seorang individu. Masalah keputusan yang dihadapi perusahaan
begitu banyak dan kompleks. Masalah-masalah tersebut sering kali melibatkan lebih dari
satu departemen atas aktivitas. Keputusan yang rutin atau berulang muncul secara regular,
sedangkan keputusan lain biasanya bersifat unik dan tidak berulang.
Untuk mengatasi kelebihan beban dalam pengambilan keputusan, organisasi
mengembangkan “prosedur operasi standar” yang formal atau tidak formal untuk
masalah-masalah yang berulang. Cyber dan March menggambarkan empat konsep dasar
relasional sebagai inti dari pengambilan keputusan bisnis:
a. Resolusi Semu dari Konflik.
Teori keputusan klasik mengasumsikan bahwa konflik dapat diselesai-kan dengan
menggunakan rasionalitas lokal.
b. Penghindaran Ketidakpastian
Cyber dan March (1963) menemukan bahwa para pengambil keputu-san dalam
organisasi sering kali menggunakan strategi yang kurang rumit ketika berhadapan

4
dengan risiko dan ketidakpastian. Schiff dan Lewin (1974) menambahkan slack
organisasi ke alat-alat yang digunakan untuk menghindari ketidakpastian.
c. Pencarian Masalah
Menurut Cybert dan March pencarian masalah didefinisikan sebagai proses
menemukan suatu solusi atas suatu masalah tertentu atau sebagai suatu cara untuk
bereaksi terhadap suatu peluang.
d. Pembelajaran organisasional
Walaupun organisasi tidak mengalami proses pembelajaran seperti yang dialami oleh
individu, organisasi memperlihatkan perilaku adaptif dari karyawannya.

3.2 Manusia – Para Pengambil Keputusan Organisasional


Penting untuk diingat bahwa manusia, dan bukannya organisasi, yang mengenali dan
mendefinisikan masalah atau peluang dan yang mencari tindakan alternatif. Manusialah
yang memilih kriteria pengam-bilan keputusan, memilih alternatif yang optimal, dan
menerapkanya.

3.3 Kekuatan dan Kelemahan Individu sebagai Pengambil Keputusan


Manusia merupakan makhluk yang rasional karena mereka memiliki kapasitas untuk
berpikir, memilih, dan belajar. Tetapi rasionalitas manusia adalah sangat terbatas karena
mereka hampir tidak pernah memperoleh informasi yang penuh dan hanya mampu
memproses informasi yang tersedia secara berurutan.
Batasan pengambilan keputusan secara rasional dari individu bervariasi menurut :
a. Lingkup pengetahuan yang tersedia dalam kaitannya dengan seluruh alternative yang
mungkin dan konsekuensinya
b. Gaya kognitif mereka (misalnya kemampuan untuk berfikir secara kritis dan analisis,
ketergantungan pada orang lain, kemampuan asosiatif, dan sebagainya). Dengan
asumsi bahwa tidak ada satu pun gaya kognitif yang ungguh karena dalam situasi
tertentu, lebih dari satu pendekatan dapat mengarah pada hasil yang diinginkan.
c. Struktur nilai mereka yang berubah

5
d. Tendensi mereka yang lebih cenderung untuk “memuaskan” daripada untuk
melakukan optimalisasi.

3.4 Peran Kelompok Sebagai Pembuat Keputusan dan Pemecah Masalah


Kemampuan kelompok untuk menganalisis masalah, mendefinisikan dan menilai
alternative secara kritis, serta untuk mencapai keputusan yang valid dapat di perlemah oleh
2 fenomena perilaku (pemikiran kelompok dan pergeseran yang berisiko) atau dampak
diskusi kelompok.
1) Fenomena Pemikiran Kelompok
Pemikiran kelompok (group think) menggambarkan situasi dimana tekanan untuk
mematuhi mencegah anggota-anggota kelompok individual untuk mempresantasikan ide
atau pandangan yang tidak populer. Karena mereka ingin menjadi bagian yang positif dari
kelompok tersebut dan bukan sebagai kekuatan yang disruptif. Janis mengartikulasikan
gejala dari fenomena ini sebagai berikut:
a. Anggota kelompok perlawanan merasionalisasi dengan asumsimereka telah dibuat.
b. Anggota menerapkan tekanan langsung pada mereka yang sebentar
mengungkapkan keraguan tentang apapun pandangankelompok itu bersama atau
yang mempertanyakan validitas argumen pendukung alternatif disukai oleh
mayoritas.
c. Para anggota yang memiliki keraguan atau memegang sudut pandang yang berbeda
berusaha untuk menghindari menyimpang dari apa yang tampaknya menjadi
konsensus kelompok dengan menjaga diam tentang sangsi dan bahkan
meminimalkan untuk diri mereka sendiri pentingnya keraguan mereka.
d. Tampaknya terdapat suatu ilusi mengenai kebulatan suara. Jika seseorang tidak
berbicara, maka diasumsikan bahwa ia sepenuhnya setuju.
2) Fenomena Pergeseran yang Berisiko (Dampak Kelompok)
Pergeseran yang berisiko atau dampak kelompok, merpakan produk sampingan dari
intraksi manusia, ini dicirikan oleh kelompok yang lebih memilih alternatif yang lebih
agresifberisiko dibandingkan dengan apa yang mungkin oleh individu-individu jika

6
mereka bertindak sendiri.
3) Kesatuan Kelompok
Kesatuan Kelompok didefenisikan sebagai tingkat dimana anggota-anggota kelompok
tertarik satu sama lain dan memiliki tujuan kelompok yang sama. Dengan kesatuan yang
kuat pada umumnya lebih efektif dalam suatu pengambilan keputusan dibandingkan
dengan kelompok ini dimana terdapat banyak konflik internal dan kurangnya semangat
kerja sesama anggotanya. Tingkat kesatuan kelompok dipengaruhi oleh jumlah waktu
yang dihabiskan bersama oleh para anggota kelompok, tingkat kesulitan dari penerimaan
anggota baru ke dalam kelompok, ancaman eksternal, dan sejarah keberhasilan dan
kegagalan masa lalu. Faktor lainnya yang juga mempengaruhi kesatuan kelompok secara
menguntungkan adalah riwayat dari kelompok itu. Sejarah pengambilan keputusan yang
sukses menyatukan para anggota dan meningkatkan kesatuan, sementara kegagalan
memiliki dampak yang buruk.

3.5 Pengambilan Keputusan dengan Konsensus versus Aturan Mayoritas


Konsensus dalam konteks pengambilan keputusan didefinisikan oleh Holder (1972)
sebagai “kesepakatan semua anggota kelompok dalam pilihan keputusan.” Dalam
kebanyakan situasi, konsensus hanya bisa dicapai setelah pertimbangan yang matang serta
evaluasi yang kritis atas lebih atau kurangnya. Pengambilan keputusan dengan konsensus
membutuhkan lebih banyak waktu dibandingkan dengan penambilan keputusan dengan
pengaturan mayoritas.

3.6 Kontroversi yang Disebabkan oleh Hubungan Atasan – Bawahan


Ketika kelompok pengambilan keputusan terdiri atas atasan dan bawahan, kontroversi
tidak bisa di-hindarkan. Atasan mempunyai akses terhadap informasi yang berbeda,
sehingga memiliki pendapat yang berbeda pula dibandingkan dengan bawahannya.
Kualitas dari pilihan keputusan akan sangat bergantung bagaimana atasan menangani
kontroversi tersebut.
Kontroversi dalam situasi pengambilan keputusan tidak terlalu berpengaruh buruk

7
terhadap berfungsinya kelompok. Kontroversi cukup sehat dan ketika ditangani dengan
bijaksana dan konstruktif oleh atasan, akan dapat mengarah pada pengambilan keputusan
yang lebih baik.
Menurut Vroom dan Yetton (1973), atasan sebagai pemimpin memiliki piihan-pilihan
keperilakuan sebagai berikut:
a. Menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan
informasi yang tersedia pada saat itu.
b. Memperoleh informasi yang diperlukan dari bawahan, kemudian menggunakannya
untuk memutuskan suatu solusi bagi masalah tersebut. Atasan tersebut dapat saja
memberitahu atau tidak memberitahu bawahannya untuk masalah yang mana
informasi itu dikumpulkan. Peran yang dimainkan oleh bawahan yaitu untuk
menyediakan informasi yang diperlukan, dimana bawahan tidak ikut serta dalam
menghasilkan atau mengevaluasi solusi alternative.
c. Menceritakan masalah tersebut dengan bawahan yang relevan secara pribadi,
memperoleh ide-ide dan saran-saran mereka tanpa mengumpulkan mereka sebagai
satu kelompok. Kemudian dibuatlah keputusan yang dapat saja dipengaruhi atau
tidak dipengaruhi oleh ide bawahan tersebut.
d. Menceritakan masalah tersebut kepada bawahannya sebagai suatu kelompok,
memperoleh ide-ide serta saran-saran mereka, kemudian dibuatlah keputusan yang
yang dapat saja dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh ide bawahan tersebut.
e. Menceritakan masalah tersebut kepada bawahannya sebagai suatu kelompok,
mendiskusikan kelebihan dan kekurangan yang ada serta mencoba untuk mencapai
suatu kesepakatan (baik dengan consensus atau aturan mayoritas) atas suatu solusi
.
3.7 Pengaruh Dasar Kekuasaan
Dalam situasi pengambilan keputusan, seseorang mampu memengaruhi hasil
keputusan karena we-wenang atau kekuasaan yang diberikan oleh organisasi. Elemen
kekuasaan yang paling sering disebutkan adalah kekuasaan posisi, kekuasaan keahlian,
kekuasaan sumber daya, atau kekuasaan politik.

8
3.8 Dampak dari Tekanan Waktu
Tekanan waktu menyebabkan para anggota kelompok menjadi lebih sering setuju guna
mencapai konsensus kelompok; lebih kurang menuntut dan lebih bersifat mendamaikan
dalam situasi tawar-menawar; lebih membatasi partisipasi dalam proses pengambilan
keputusan hanya pada relatif sedikit anggota; dan lebih menyukai aturan mayoritas.

4. Pengambilan Keputusan oleh Pendatang Baru versus oleh Pakar


Bouwman (1984) mengungkapkan sejumlah perbedaan yang menarik dalam strategi
dan pendekatan yang digunakan serta data spesifik yang dipilih oleh pakar dan pendatang
baru ketika mengambil keputusan berdasarkan informasi akuntansi atau informasi
keuangan lainnya. Pendatang baru mengumpulkan data tanpa melakukan deskriminasi
dan menunggu untuk melihat apa yang terjadi. Sebaliknya, para pakar mengumpulkan data
secara diskriminatif guna menindaklanjuti observasi tertentu. Untuk menggambarkan
perbedaan dalam penggunaan data dibagi kedalam kedalam tiga komponen:
a. Pengujian Informasi
Pengujian didefinisikan sebagai kegiatan menganalisis informasi yang disajikan dan
menyeleksi untuk dipertimbangkan lebih lanjut, hanya informasi yang terlihat sangat
relevan dengan tugas keputusan itu yang harus dilaksanakan
b. Integrasi pengamatan dan temuan
Pada konteks ini, integrase melibatkan pengelompokan atas pengamatan, baik
berdasarkan hubungan sebab akibat maupun berdasarkan komponen fungsional dari
perusahaan.
c. Pertimbangan
Pertimbangan yang digunakan sepanjang proses pengambilan keputusan tampak lebih
jelas dalam formulasi hipotesis, pengembangan petunjuk dalam formulasi keputusan
akhir, dan dalam penyusunan ringkasan temuan.

5. Peran Kepribadian dan Gaya Kognitif dalam Pengambilan Keputusan


Kepribadian mengacu pada sikap atau keyakinan individu, sementara gaya kognitif

9
mengacu pada cara atau metode dengan mana seseorang menerima, menyimpan,
memproses,serta meneruskan informasi. Memiliki gaya kognitif yang berbeda dan
menggunakan metode yang sama sekali berbeda ketika menerima, menyimpan, dan
memproses informasi. Dalam situasi pengambilan keputusan, kepribadian dan gaya
kognitif saling berintraksi dan mempengaruhi yaitu menambah atau mengurangi dampak
dari informasi akuntansi.
Toleransi untuk mengukur ambiguitas sejauh mana individu merasa terancam oleh
ambiguitas dalam situationa keputusan dan bagaimana ambiguitas mempengaruhi
kepercayaan diri mereka dalam pengambilan keputusan. Beberapa penulis merasa bahwa
orang-orang yang tidak toleran terhadap ambiguitas diharapkan menjadi kurang percaya
diri dalam mitra toleran mereka. Lain menunjukkan bahwa tolerants dapat mengurangi
persepsi mereka tentang ketidakpastian. Menyebabkan mereka untuk mengabaikan
ketidakpastian dan ultimetly bertindak seolah-olah ada kepastian. Oleh karena itu mereka
mungkin menunjukkan kepercayaan yang lebih besar dan mencari informasi bahkan
kurang dari tolerants.
Kemerdekaan lapangan adalah kemampuan individu untuk sampai pada persepsi yang
benar dengan mengabaikan ecintext interfing. Ketergantungan lapangan adalah
ketidakmampuan untuk mengecualikan informasi yang tidak relevan dan menyesatkan
ketika attemting untuk membentuk opini. Lapangan individu depent lebih recepting
daripada individu independen yang diajukan ke informasi ambigu dan situasi masalah.
Lapangan individu tergantung dalam pilihan keputusan mereka daripada lapangan
yang independen, terlepas dari tingkat ambiguitas. Bagaimanapun, akan lebih parah untuk
individu dengan toleransi rendah dibandingkan mereka dengan toleransi tinggi

6. Peran Informasi Akuntansi Dalam Pengambilan Keputusan


Secara defenisi, keputusan manajemen mempengeruhi kejadian atau tindakan masa
depan. Sedangkan informasi akuntansi memfokuskan pada peristiwa-peristiwa dimasa lalu
tidak dengan sendirinya dapat mengubah kejadian atau dampaknya kecuali jika hal itu
dilakukan melalui proses pengambilan keputusan dengan kejadian masa depan beserta

10
konsekuensinya ditentukan.
Karena pengambilan keputusan dan informasi mengenai hasil kinerja akuntansi focus
pada periode waktu yang berbeda, maka keduanya hanya dihubungkan oleh fakta bahwa
proses pengambilan keputusan menggunakan data akuntansi tertentu yang dimodifikasi
selain informasi nonkeuangan.

6.1 Data Akuntansi sebagai Stimuli dalam Pengenalan Masalah


Akuntansi dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan masalah melalui
pelaporan deviasi kinerja aktual dari sasaran standar anggaran atau melalui informasi
kepada manajer bahwa mereka gagal untuk mencapai target output atau laba yang
ditentukan sebelumnya.
Ketika informasi akuntansi digunakan sebagai alat pengenalan masalah, maka
informasi tersebut juga digunakan sebagai dasar untuk menentukan konsekuensi yang
dapat dikuantifikasi atas tindakan alternatif yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut.

6.2 Dampak Data Akuntansi dalam Pilihan Keputusan


Bobot yang diberikan kepada informasi akuntansi dalam pilihan akhir sangat
bervariasi. Hal itu bergantung pada samapi sejauh mana hal itu dipandang mengurangi
ketidakpastian yang mengelilingi proses pengambilan keputusan. Data penjualan dan biaya
masa lalu,misalnya, akan digunakan sebagai pendekatan pertama terhadap permintaan
masa depan untuk produk yang di jual pada masa lalu.

6.3 Hipotesis Keperilakuan Dari Dampak Data Akuntansi


Informasi akuntansi adalah salah satu input dalam model pengambilan keputusan.
Input tersebut dapat bersifat keuangan, nonkeuangan, atau bahkan tidak dapat
dikuantifikasi. Bruns (1981) mengelompokkan pengambil keputusan ke dalam tiga
kelompok:

11
1. Para pembuat keputusan dalam perusahaan yang mengambil keputusan mengenai
operasi dan sistem akuntansi digunakan untuk menyusun laporan (manajemen
puncak).
2. Para pengambil keputusan dalam perusahaan yang hanya dapat membuat keputusan
mengenai operasi saja (manajer operasi).
3. Mereka yang berada di luar perusahaan yang membuat keputusan mengenai
perusahaan tersebut yang dapat memengaruhi lingkungan dan operasinya, tetapi
yang tidak memiliki kendali langsung atas operasi perusahaan atau aktivitas apapun
yang dilakukannya.

Para peneliti lain mempelajari pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana para


pengambil keputusan menyesuaikan terhadap perubahan dalam metode dan terminology
akuntansi. Mereka menemukan bahwa ada dua faktor yang menentukan tingkat
penyesuaian, yaitu: umpan balik dan fiksasi fungsional.
Umpan Balik
Untuk memahami perubahan dalam metode atau istilah akuntansi dan untuk
menyesuaikan aturan pengambilan keputusan sesuai dengan itu, maka pengambil
keputusan harus menerima informasi mengenai perubahan tersebut atau memiliki umpan
balik tidak langsung mengenai perubahan tersebut. Jika seseorang mengabaikan dampak
jangka pendek yang mungkin akibat selang waktu antara perubahan dan indikasinya,maka
kecil kemungkinannya bahwa tidak terdapat umpan balik sama sekali.
Fiksasi Fungsional
Hal ini merupakan fenomena keperilakuan yang mengimplikasikan ketidakmampuan
di pihak pengguna informasi akuntansi untuk memahami apa yang tersirat di balik label
yang diberikan kepada suatu angka. Ketika mereka menerima suatu pendekatan
pengukuran akuntansi sebagai alat untuk mengelola proses pengambilan keputusan mereka,
maka perilaku mereka jarang sekali akan dipengaruhi oleh perubahan dalam metode
akuntansi yang digunakan. Sebagai suatu atribut dari pengambilan keputusan, fiksasi
fungsional bervariasi tingkatnya dari situasi yang satu ke situasi yang lain namun tidak
pernah tidak ada sama sekali.

12
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keperilakuan. Edisi ke 2. Jakarta: Salemba Empat.

Ay, Haris. 2016. Aspek Keperilakuan pada Pengambil Keputusan dan Para Pengambil
Keputusan.
http://mohayworld.blogspot.co.id/2016/12/aspek-keperilakuan-pada-pengambilan.ht
ml. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2019.

Christanty, Made Puspita. 2015. Aspek Keperilakuan pada Pengambilan Keputusan dan
Para Pengambil Keputusan.
http://thequeenparadise.blogspot.co.id/2015/05/aspek-keperilakuan-pada-pengambila
n.html. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2019.

Tantycristanty. 2015. Aspek Keperilakuan pada Pengambilan Keputusan dan Para


Pengambil Keputusan
http://thequeenparadise.blogspot.com/2015/05/aspek-keperilakuan-pada-pengambila
n.html (diakses pada 20 oktober 2018)
Roheja. 2016. Aspek Keprilakuan Pada Pengambilan Keputusan Dan Para Pengambil
Keputusan.http://roejha.blogspot.com/2016/05/aspek-keprilakuan-pada-pengambilan
.html (Diakses pada 19 Oktober 2019 )

13