Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PENGETAHUAN LINGKUNGAN

PRAKTIKUM III

SEDIMENTASI

OLEH :

NAMA : GITA INDRI PRATIWI

STAMBUK : F1D8031

KELOMPOK : 3 (TIGA)

ASISTEN PEMBIMBING : IDHAM FAUSAN T.

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
APRIL 2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sedimentasi merupakan salah satu operasi pemisahan campuran padatan

dan cairan (slurry) menjadi cairan bening dan slurry yang memiliki konsentrasi

tinggi dengan menggunakan gaya gravitasi. Proses sedimentasi berperan

penting dalam berbagai proses industri, misalnya pada proses pemurnian air

limbah, pengolahan air sungai, pengendapan partikel padatan pada bahan

makanan cair, pengendapan kristal dari larutan induk, pengendapan partikel

terendap pada industri minuman beralkohol, dan lainlain. Ketika suatu partikel

padatan berada pada jarak yang cukup jauh dari dinding atau partikel padatan

lainnya, kecepatan jatuhnya tidak dipengaruhi oleh gesekan dinding maupun

dengan partikel lainnya, peristiwa ini disebut free settling. Ketika partikel

padatan berada pada keadaan saling berdesakan maka partikel akan mengendap

pada kecepatan rendah, peristiwa ini disebut hindered settling. Pada hindered

settling, kecepatan endapan yang turun ke bawah akan semakin lama, sehingga

untuk memperoleh hasil sedimentasi sampai proses pengendapan berhenti

memerlukan waktu yang cukup lama pula. Guna menghasilkan proses

sedimentasi yang optimum maka perlu menentukan waktu pengendapan yang

efektif. Waktu pengendapan yang efektif dapat diasumsikan sebagai batas saat

terjadi perubahan pengendapan dari free settling ke hindered settling.

proses sedimentasi dilakukan setelah proses koagulasi dan flokulasi,

tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih


berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat. Ukuran dan bentuk

partikel akan mempengaruhi rasio permukaan terhadap volume partikel,

sedangkan konsentrasi partikel mempengaruhi pemilihan tipe bak sedimentasi,

dan temperatur mempengaruhi viskositas dan berat jenis cairan. Semua faktor

yang disebutkan di atas mempengaruhi kecepatan mengendap partikel pada bak

sedimentasi. Oleh karena itu dibutuhkan data kecepatan turunnya partikel

untuk mendesain bak sedimentasi yang efektif dan efisien.

Proses sedimentasi pada daerah sungai merupakan kejadian yang simultan

yang dapat mengakibatkan pendangkalan pada dasar sungai dan perubahan

elevasi sehingga akan mempengaruhi morfologi sungai, perubahan morfologi

sungai tersebut sedikit banyak mempengaruhi ketersediaan air dilingkungan

sekitar, pada musim kemarau akan berdampak kekurangan air dan pada musim

penghujan akan mengalami kebanjiran. Berdasarkan uraian di atas maka

dilakukan praktikum yang berjudul Sedimentasi.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu bagaimana kecepatan laju

sedimentasi pada lokasi pengamatan?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kecepatan laju

sedimentasi pada lokasi pengamatan.


D. Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat di ambil dari praktikum ini adalah agar mahasiswa

dapat mengetahui kecepatan laju sedimentasi pada lokasi pengamatan.


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sedimentasi

Sedimentasi merupakan suatu proses pengendapan material yang

ditranspor oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta yang

terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dan proses pengendapan material-

material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes)

yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah pengendapan dari material-

material yang diangkut oleh angin. Proses tersebut terjadi terus menerus,

seperti batuan hasil pelapukan secara berangsur diangkut ke tempat lain oleh

tenaga air, angin, dan gletser. Air mengalir di permukaan tanah atau sungai

membawa batuan halus baik terapung, melayang atau digeser di dasar sungai

menuju tempat yang lebih rendah. Hembusan angin juga bisa mengangkat

debu, pasir, bahkan bahan material yang lebih besar. Makin kuat hembusan itu,

makin besar pula daya angkutnya. pengendapan material batuan yang telah

diangkut oleh tenaga air atau angin tadi membuat terjadinya sedimentasi

(Alimuddin, 2012).

Tanah atau bagian-bagian tanah yang terangkut oleh air dari suatu tempat

yang mengalami erosi pada suatu daerah aliran sungai (DAS) dan masuk

kedalam suatu badan air secara umum disebut sedimen. Sedimen yang

dihasilkan oleh proses erosi dan terbawa oleh aliran air akan diendapkan pada

suatu tempat yang kecepatan alirannya melambat atau terhenti. Peristiwa

pengendapan ini dikenal dengan peristiwa atau proses sedimentasi. Proses


sedimentasi berjalan sangat komplek, dimulai dari jatuhnya hujan yang

menghasilkan energi kinetik yang merupakan permulaan dari proses erosi.

Begitu tanah menjadi partikel halus, lalu menggelinding bersama aliran,

sebagian akan tertinggal di atas tanah sedangkan bagian lainnya masuk ke

sungai terbawa aliran menjadi angkutan sedimen (Mokonio dkk, 2013).

B. Proses Sedimentasi

Sedimen yang diangkut oleh air dari penggerusan dibagian udik sungai

dan dasar maupun pada tepi sungai dan merupakan hasil penggerusan di

cathment area (daerah tangkapan air). Dengan kondisi lahan tersebut dan juga

curah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan banyak sedimen terangkut ke

sungai sehingga menjadi sumber sedimentasi di waduk. Bagi waduk yang

sedang beroperasi bahaya sedimen akan mempengaruhi umur waduk. Untuk

penelitian ini maka direncanakan menghitung volume sedimen yang

mengendap setelah beberapa tahun waduk beroperasi. Angkutan sedimen dari

tempat yang lebih tinggi ke daerah hilir dapat menyebabkan pendangkalan

waduk, sungai, saluran irigasi dan terbentuknya tanah-tanah baru di pinggir-

pinggir dan di delta-delta sungai. Proses sedimentasi dapat memberikan

dampak yang menguntungkan dan merugikan. Dikatakan menguntungkan

karena pada tingkat tertentu adanya aliran sedimen ke daerah hilir dapat

menambah kesuburan tanah serta terbentuknya tanah garapan baru di daerah

hilir. Tetapi, pada saat bersamaan aliran sedimen juga dapat menurunkan

kualitas perairan dan pedangkalan badan perairan seperti pada sungai (Tatipata

dkk, 2015).
C. Hidrologi dan Erosi

Hidrologi merupakan bahan informasi yang sangat penting dalam

pelaksanaan inventarisasi potensi sumber-sumber air, pemanfaatan dan

pengelolaan sumber-sumber air yang tepat dan rehabilitasi sumber- sumber

alam seperti air, tanah, dan hutan yang telah rusak. Fenomena hidrologi seperti

besarnya curah hujan, temperatur, penguapan, lama penyinaran matahari,

kecepatan angin, debit sungai, tinggi muka air sungai, kecepatan aliran, dan

konsentrasi sedimen sungai akan selalu berubah menurut waktu. Dengan

demikian suatu nilai dari sebuah data hidrologi itu hanya dapat terjadi lagi pada

waktu yang berlainan sesuai dengan fenomena pada saat pengukuran nilai itu

dilaksanakan. Proses hidrologi sangat mempengaruhi proses erosi dan

sedimentasi. Erosi tanah mempengaruhi produktivitas lahan kering yang

biasanya mendominasi daerah aliran sungai bagian hulu dan juga akan

memberikan dampak negative di daerah aliran sungai bagian hilir. Secara

umum, terjadinya erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim (terutama intensitas

hujan), topografi, karakteristik tanah, vegetasi penutup tanah, dan tataguna

lahan (Purwadi dkk, 2016).

D. Faktor-faktor yang Berperan dalam Proses Sedimentasi

Faktor-faktor yang berperan dalam proses sedimentasi dan erosi adalah

faktor litologi, angin, gelombang dan arus. Faktor tersebut merupakan gejala

alam yang saling berkaitan, selain itu faktor manusia baik langsung maupun

tidak langsung dapat mempengaruhi proses tersebut. Penyebab utama


sedimentasi adalah erosi. Erosi tanah adalah pengaruh pukulan air hujan pada

tanah. Hujan menyebabkan erosi tanah melalui dua jalan, yaitu pelepasan

butiran tanah oleh pukulan air hujan pada permukaan tanah dan kontribusi

hujan terhadap aliran. Faktor lainnya yaitu faktor kemiringan lereng (Setiady

dkk, 2010).
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, 4 april 2019 pada pukul

15.30-17.00 WITA, yang bertempat di sungai tepat di belakang polda, Kendari.

B. Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Alat dan kegunaan


No. Nama alat kegunaan
1. Pipa paralon Sebagai alat tempat pengamatan
2. Tali rafia Untuk mengikat pipa
3. Kamera Sebagai alat dokumentasi selama praktikum
4. Alat tulis Untuk mencatat hasil pengamatan
5. Alat bor Untuk member atau melubangi pipa
6. Plastik Sebagai alas bawah pipa
7. Ban dalam Untuk mengikat pipa dan plastik
8. Patok Sebagai alat bantu pipa dalam proses sedimentasi
9. Gunting Untuk menggunting tali
10. Oven Untuk mengeringkan hasil sedimen

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Mengukur kekuatan arus


3. Mengikat pipa dan patok kayu dengan menggunakan tali raffia atau ban

dalam

4. Kemudian tanam ditiga tempat yaitu sisi kanan kiri sungai masing-masing

sejauh satu meter dan tepat dibagian tengah sungai.

5. Mencegah agar pipa tidak hanyut dengan cara menancapkan patok sekuat

mungkin

6. mendiamkan pipa sampai hari ketujuh

7. setelah satu minggu melihat sedimen yang terjadi

8. mengambil pasir yang terendap lalu menyimpan didalam kantung

9. menimbang berat basah pasir lalu masukkan kedalam oven selama 24 jam

10. setelah kering menimbang berat kering dari pasir tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Alimuddin, A., 2012, Pendugaan Sedimentasi pada Das Mamasa di Kab. Mamasa
Provinsi Sulawesi Barat, Skripsi, Universitas Hasanuddin, Makassar : 19

Mokonio, O., Mananoma, T., Tanudjaja, dan L., Binilang, A., 2013, Analisis
Sedimentasi di Muara Sungai Saluwangko di Desa Tounelet Kecamatan
Kakas Kabupaten Minahasa, Jurnal Sipil Statik, 1(6) : 453

Purwadi, O. T., Indriana, dan D., Lubis, A. M., 2016, Analisis Sedimentasi di
Sungai Way Besai, Jurnal Rekayasa, 20(3) : 168

Setiady, D., Geurhaneu, N., dan Usman, E., Proses Sedimentasi dan Erosi
Pengaruhnya terhadap Pelabuhan Sepanjang Pantai Bagian Barat dan
Bagian Timur Selat Bali, Jurnal Geologi Kelautan, 8(2) : 86

Tatipata, W. H., Soekarno, I., Sabar, A., dan Legowo, S., 2015, Analisis Volume
Sedimen yang Mengendap Setelah T-Tahun Waduk Beroperasi (Studi
Kasus: Waduk Cirata), Jurnal Teknik Sipil, 22(3) : 236-237