Anda di halaman 1dari 139

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Book
Report ini dengan baik. Laporan ini disusun atas dasar tugas dari mata kuliah
Perencanaan Pembangunan. Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk
pemenuhan tugas mata kuliah Perencanaan Pembangunan. diharapkan dengan
adanya tugas ini dapat bermanfaat bagi penulis dan orang yang membacanya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah


perencanaan pembangunan, Ibu Putri Kemala Dewi Lubis, S.E,M.Si,Ak. yang
telah membimbing penulis dalam penyelesaian tugas ini. Penulis menyadari
bahwa laporan Critical Book Report ini masih memiliki banyak kekurangan baik
dari segi penulisan serta tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saran
dan kritik dari pembaca yang membangun sangat penulis harapkan guna
menyempurnakan tugas ini. Semoga bagi para pembaca mendapatkan manfaat
dari hasil pelaporan kritikan buku ini.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Medan, 16 Oktober 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................1

DAFTAR ISI ...........................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................3

1.1 Latar Belakang Masalah..............................................................................3


1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................................3
1.3 Manfaat Penulisan ......................................................................................3
BAB II IDENTITAS BUKU ..................................................................................4

2.1 Identitas Buku Utama .................................................................................4


1 Identitas Buku Utama ...............................................................................4

2 Identitas Buku Pembanding ......................................................................4

BAB III PEMBAHASAN ......................................................................................6

3.1 Ringkasan Buku ..........................................................................................6


3.2 Kelebihan Buku .....................................................................................136
3.3 Kelemahan Buku ....................................................................................137
BAB IV PENUTUP ............................................................................................138

4.1 Kesimpulan .................................................................................................1


4.2 Saran ..........................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................139

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak keluarnya Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang sistem


perencanaan pembangunan nasional (SPPN 2004), kedudukan perencanaan
pembangunan daerah di Indonesia menjadi semakin kuat. Dengan adanya
Undang-undang tersebut, diharapkan pelaksanaan perencanaan pembangunan di
Indonesia akan menjadi lebih baik dan bersifat baku dan mengikat. Dengan kata
lain pelaksanaan perencanaan pembangunan di Indonesia, baik untuk tingkat
nasional maupun daerah harus mengacu dan berpedoman pada sistem ini.

Sesuai dengan SPPN 2004, perencanaan pembangunan merupakan satu


kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana –
rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggaraan negara dan masyarakat di tingkat pusat
dan daerah, dimana masing – masing dokumen perencanaan berkaitan satu sama
lainnya dan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu
sama lainnya, karena telah diatur melalui undang – undang, maka sifatnya
mengikat dan mempunyai implikasi hukum tertentu.

Pada laporan makalah ini bertujuan untuk memberikan secara ringkas dan
padat mengenai seluk beluk dari Konsep Perencanaan Pembangunan dimana
sesuai dengan SPPN 2004, perencanaan pembangunan merupakan satu kesatuan
tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana – rencana
pembangunan jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan
oleh unsur penyelenggaraan negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah,
dimana masing – masing dokumen perencanaan berkaitan satu sama lainnya dan
harus dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya,
karena telah diatur melalui undang – undang, maka sifatnya mengikat dan
mempunyai implikasi hukum tertentu.

3
1.2 Tujuan Penulisan
1. Menambah pengetahuan pembaca mengenai perencaan pembangunan di
Indonesia baik secara konseptual maupun praktikal
2. Mengetahui bagaimana perbandingan buku utama dan buku pembanding.
3. Memenuhi tugas critical book report mata kuliah Perencanaan Pembangunan.

1.3 Manfaat penulisan


Mengetahui perbandingan antara kedua buku dan menambah wawasan melalui
ringkasan buku utama serta membaca buku pembanding.

4
BAB II IDENTITAS BUKU

2.1 Identitas Buku

1. Identitas Buku Utama

Judul buku : Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Era Otonomi

Penulis : Sjafrizal

Penerbit : Rajawali Press

Tahun terbit : 2017

Jumlah halaman : 399 halaman

Bahasa : Indonesia

2. Identitas Buku Pembanding

Judul buku : Perencanaan Pembangunan

Penulis : Dr. Ridwan S.E

Penerbit : Alfabeta Bandung

Tahun terbit : 2017

Jumlah Halaman : 238 Halaman

Bahasa : Indonesia

5
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 RINGKASAN ISI BUKU

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak keluamya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem


Permcamn Pembangunan Nasional (SPPN 2004)), kedudukan perencanaan
pembangunan daerah di Indonesia menjadi semakin kuat. Argumentasi yang
semula berkembang tentang tidak perlunya pembangunan diatur melalui sistem
perencanaan dalam era otonomi daerah, otomatis sudah tidak perlu diperdebatkan
lagi. Dengan adanya undang-undang tersebut, maka penyusunan perencanaan
menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap aparat pemerintah
dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari dan bila hal ini tidak dilakukan akan
menimbulkan implikasi hukum tenentu.

Dari segi lain, keluamya SPPN 2004 tersebut, juga menimbulkan


perubahan yang cukup signifnkan dalam penyusunan dokumen perencanaan
pembangunan daerah di Indonesia. Perubahan tersebut antara lain adalah: Mama,
menyangkut dengan jenis dokumen perencanaan pembangunan daerah yang hams
dibuat oleh masing-masing daerah sesuai dengan perkembangan demokratisasi
dan otonomi dalam sistem pemerintahan daerah. Kedua, sesuai dengan perubahan
jenis dokumen yang perlu dibuat, maka teknis penyusunan Rncana juga
mengalami perubahan yang cukup mendasar. Ketiga, tahapan penyusunan rencana
juga mengalami perubahan untuk dapat menerapkan Sistem Perencanaan

6
Partisipatif (Participatory Planning) guna meningkatkan penyerapan aspirasi
masyarakat dalam penyusunan rencana pembangunan.

Di samping itu, dengan dimulainya pelaksanaan otonomi daerah sejak


tahun 2001 yang lalu, peranan pemerintah daerah menjadi semakin penting dalam
mendorong proses pembangunan di daerahnya masing-masing. Perubahan sisrem
pemerintahan daerah tersebut mendorong semua daerah berlomba-lomba untuk
mempercepat proscs pembangunan daerah dalam rangka memenuhi tuntutan
umum untuk dapat segera meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah
bersangkutan. Kondisi yang demikian menyebabkan semakin pentingnya peranan
perencanaan pembangunan daerah sebagai wadah untuk melaksanakan
kewenangan daerah dalam mendorong kegiatan pembangunan daerah secara lebih
terarah dan sistematis.

Perubahan yang cukup mendasar tersebut tentunya memerlukan


pemahaman baru bagi para aparatur dan perencana daerah dalam menyusun
dokumen perencanaan pembangunan yang diperlukan dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Sementara itu, kemampuan aparatur daerah dalam teknis
penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah ternyata juga masih
terbatas, terutama pada daerah kabupaten dan kota. Untuk mengatasi

B. Maksud dan Tuiuan

Maksud utama dari penulisan buku ini adalah untuk dapat mcnghasilkan
salah satu buku ajar yang dapat dijadikan sebagai acuan akademik yang bersifat
praktis dan operasional dalam ilmu Perencanaan Pembangunan Daerah dj
Indonesia khusus dalam era otonomi sesuai dengan ketentuan perundangan
yangberlaku. Dengan demikian, buku ini tidak hanya dapat digunakan dalam
bidang akademik saja, tetapi juga dapat menjadi salah satu buku acuan bagi pm
perencana di daerah dalam memahami sistem perencanaan pembangunan daerah
dan mengembangkan kemampuan teknis aparatur dalam menyusun dokumen
perencanaan pembangunan daerah.

7
Sedangkan tujuan utama penulisan buku ini secara lebih spesiflk adalah
sebagai berikut:

1. Membentuk dan mengembangkan kompetensi Ilmu Perencanaan


Pembangunan Daerah (PPD) khusus dalam era otonomi sebagai landasan
akademik serta dukungan ilmiah untuk pelaksanaan perencanaan
pembangunan daerah di Indonesia dewasa ini;

2. Memberikan analisis yang memadaj tentang penerapan beberapa jenis


teknik perencanaan pembangunan daerah yang bersifat praktis dan
operasional sesuai dengan kondisi data dan kemampuan teknis tenaga
perencana yang umumnya tersedia di daerah;

3. Membahas konsep dan teknis penyusunan dokumen perencanaan


pembangunan daerah yang bersifat operasional sesuai dengan ketent'uan
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dewasa ini.

C. Perlunya Perencanaan Pembangunan

Pertanyaan yang sangat mendasar dalam ilmu perencanaan pembangunan


adalah: mengapa kegiatan dan proses pembangunan perlu diatur dan didorong
dengan sistem perencanaan? Pertanyaan ini muncul karena Teori Ekonomi Klasik
(Ekonomi Liberal) mengajarkan bahwa penggunaan mekanisme pasar akan lebih
etisien dari campur tangan pemerintah. Karena itu pulalah banyak negara~ negara
yang sudah maju tingkat pembangunannya, seperti Amerika Serikat dan negara-
negaxa Eropa tidak lagi menggunakan Perencanaan pembangunan sebagai alat
untuk mendorong proses pembangunan, tetapi menggunakan mekanisme pasar
sebagai faktor penggerak dalam bentuk "invisible hand”.

Akan tetapi untuk negara berkembang, termasuk Indonesia, perencan dan


pembangunan temyata masih mempunyai peranan yang sangat besar sebaga alat
untuk mendorong dan mengendalikan proses pembangunan secara lebih cepat dan

8
temah. Ada tiga alasan utama mengapa perencanaan pembangunan masih temp
banyak digunakan di negara berkembang, yaitu:

1. Karena mekanisme pasar belum berjalan secara sempuma (Market


Failure), maka kondisi masyarakat banyak yang masih sangat terbelakang
tingka: pendidikannya menyebabkan mereka belum mampu bersaing
dengan golongan yang sudah maju dan mapan. Di samping itu, informasi
belum tersebar secara merata ke s.e1uruh tempat karena masih banyak
daerah yang terisolir karena keterbatasan prasarana dan sarana
perhubungan. Dalam hal ini, campur tangan pemerintah yang dilakukan
secara terencana menjadi sangat penting dan menentukan terlaksananya
proses pembangunan secara baik.

2. Karena adanya ketidakpastian masa datang sehingga perlu disusun


perencanaan pembangunan untuk mengantisipasi kemungkinan situasi
buruk yang mungkin timbul di kemudian hari berikut tindakan dan
kebijakan preventif yang perlu dilakukan sebelumnya.

3. Untuk dapat memberikan arahan dan koordinasi yang lebih baik terhadap
para pelaku pembangunan, baik di kalangan pemerintah, swasta maupun
masyarakat secara keseluruhan sehingga dalam jangka panjang akan
terwujud proses pembangunan yang terpadu, bersinergi, dan saling
menunjang satu sama lainnya.

D. Dari Perencanaan Ekonomi ke Perencanaan Pembangunan

llmu perencanaan pembangunan sebenarnya berasal dari perencanaan


ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara
keseluruhan. Sebagaimana diungkapkan oleh Bintoro (1976) bahwa literatur
tentang perencanaan sosial yang terbit sebelum tahurr 1965 kebanyakan
menggunakan istilah perencanaan ekonomi (Economic Planning) karena sasaran
akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat dari buku

9
Arthur Lewis terdahulu yang diterbitkan tahun 1951 berjudul The Principles of
Economic Planning. Demikian pula halnya dengan buku-buku karangan Mead, J.
E (1948), Gunnar Myrdal (1957), dan United Nation (1963) yang juga
menggunakan istilah perencanaan ekonomi.

Akan tetapi, setelah 1965 sampai sekarang banyak literatur yang


menggunakan istilah perencanaan pembangunan (Development Planning).
Perkembangan ini terlihat dari judul buku Arthur Lewis berikutnya yang
diterbitkan pada tahun 1966 menggunakan judul Development Planning dan juga
buku A.Waterson (1965). Khusus untuk Indonesia, buku Perencanaan karangan
Bintoro Tjokroamidjojo (1976) dan Hendra Esmara (1986) juga menggunakan
istilah Perencanaan Pembangunan. Bahkan lembaga perencanaan resmi
pemerintah di Indonesia umumnya menggunakan istilah Badan Perencanaan
Pembangunan, baik untuk tingkat nasional (BAPPENAS) maupun untUk tingkat
daerah (BAPPEDA).

E. Sejarah Perencanaan Pembangunan di Indonesia

Sebenarnya, perencanaan pembangunan bukanlah hal yang barn di


Indonesia, karena sistem ini sudah dimulai sejak kemerdekaan diproklamirkan.
Hal ini dilandasi oleh pemikiran para ahli ekonomi dan politik nasional waktu itu
bahwa pembangunan ekonomi dan sosia] tidak dapat hanya diserahkan kepada
mekanisme pasar (Market Mechanism) saja sebagaimana banyak dilakukan oleh
negara-negara yang menganut paham ekonomi liberal. Sesuai dengan Undang-
Undang Dasar 1945, pemerintah mempunyai peranan penting dalam pengendalian
ekonomi dan proses pembangunan nasional dan daerah. Namun demikian,
peranan pemerintah (Government Intervention) tersebut perlu dilakukan secara
sistematis melalui pelaksanaan sistem perencanaan pembangunan.

Penerapan sistem, perencanaan pembangunan di Indonesia dimulai pada


tanggal 12 April 1947 dengan dibentuknya oleh Presiden Republik Indonesia
Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang disebut juga sebagai ”Brain Trust".
Kemudian, panitia ini Berhasil menyusun landasan perencanaan pembangunan

10
pertama di Indonesia yang diberi judul: Dasar Pokok Daripada Plan Mengatur
Ekonomi Indonesia yang merupakan landasan dasar untuk penyusunan
perencanaan pembangunan yang lebih rinci. Panitia ini diketuai oleh Wakil
Presiden Mohammad Hatta dengan tiga orang wakil ketua yaitu A.K, Gani,
Mohammad Roem, dan Sjafruddin Perwiranegara.

Berpedoman pada dasar pokok kebijakan ekonomi tersebut, pada bulan


Juli tahim 1947 itu juga, disusunlah dokumen perencanaan pembangunan yang
lebih rinci untuk beberapa sektor ekonomi oleh IJ. Kasimo dengan judul Plan
Produksi Tiga Tahun Republik Indonesia 1948-1950. Ruang lingkup perencanaan
ini masih terbatas pada sektor-sektor pertanian, petemakan, kehutanan, dan
perindustrian. Namun demikian, karena Indonesia pada waktu itu masih dalam
perjuangan fisik menghadapi agresi Belanda yang berkuasa kembali di Indonesia,
maka pelaksanaan rencana pembangunan ini tidak dapat berjalan dengan baik
(Bintoro, 1976).

F. Perencanaan Pembangunan Nasonal vs Daerah

Penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah sangat


diperlukan sebagai bagian integral dalam perencanaan pembangunan nasional.
Alasannya adalah karena potensi pembangunan masnig-masing daerah umumnya
sangat berbeda, baik segi geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia,
kondisi ekonomi, sosial dan budaya. Perbedaan potensi pembangunan daerah ini
menyebabkan kemampuan daerah untuk bertumbuh dan berkembang menjadi
tidak dama antara satu daerah.

G. Perencanaan Pembangunan Daerah dalam Era Otonomi

Perubahan yang terjadi pada dasarnya menyangkut dua hal pokok yaitu
pertama, pemerintah daerah diberikan kewenangan lebih besar dalam melakukan
pengelolaan pembangunan (desentralisasi pembangunan). Kedua, pemerintah
daerah diberikan sumber keuangan baru dan kewenangan pengelolaan yang lebih
besar (dsesntralisasi fiskal). Kesemuanya ini dimaksudkan agar pemerintah daerah
dapat lebih diberdayakan dan dapat melakukan kreasi dan terobosan baru dalam

11
rangka mendorong proses pembangunan di daerahnya masing-masing sesuai
dengan potensi dan aspirasi masyarakat daerah bersangkutan.

H. Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah


Untuk dapat menyusun perencanaan pembangunan daerah yang baik dan
berkualitas, diperlukan panduan acuan yang bersifat praktis dan operasional.
Sehingga mudah dipedomani oleh para perencana di seluruh daerah. Panduan
yang prakatis dan operasional ini sangat penting artinya mengingat kemampuan
tenaga perencanaan pada tingkat daerah, khususnya kabupaten dan kota, masih
relatif terbatas dibandingkan dengan tingkat nasional. Di asmping itu, data yang
tersedia di daerah masih terbatas dengan tingkat ketepatan yang masih rendah.
Karena itu, teknik-teknik perencaan yang digunakan perlu disesuaikan dengan
dengan kondisi yang terdapat di daerah dan dapat dipahami oleh masyarakat
umum.
BAB 3

UNSUR POKOK PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

A. Kondisi Umum Daerah

Penyusunan setiap dokumen perencanaan pembangunan daerah


biasanyaselalu dimulai dengan analisis tentang kondisi umum(exiting condition)
darinegara atau daerah bersangkutan. Analisis ini sangat penting artinya
untukdapat mengetahui secara jelas kondisi objektif yang terdapat pada
negaraatau daerah tersebut yang selanjutnya akan dijadikan sebagai landasan
utamauntuk menyusun rencana ke depan secara realistis. Adalah suatu hal
yangsangat tidak realistis dan berbahaya bila suatu perencanaan
pembangunantidak didasarkan pada kondisi riil yang terdapat daerah
bersangkutan.

Analisis tentang kondisi umum daerah tersebut biasanya meliputi


aspekgeografis, sumber daya alam, agama dan budaya. penduduk dan sumberdaya
manusia, potensi ekonomi daerah, hukum dan pemerintahan, danlain-lainnya.

12
Aspek geografis yang perlu dianalisis adalah yang mempunyaipengaruh terhadap
kegiatan pembangunandan posisi daerah, geormofologi, tata guna lahan dan
sistem jaringan jalan.Termasuk dalam aspek geografi ini adalah menyangkut
dengan analisis tentangkondisi lingkungan hidup yang meliputi hutan lindung,
abrasi pantai danlongsor serta pencemaran udara dan sungai.

Aspek sumber daya alam yang perlu dibahas terutama diarahkan padajenis
dan kualitas lahan yang sangat berpengaruh bagi kegiatan pertaniandalam arti
luas. Tidak kalah pentingnya adalah analisis tentang potensipertambangan seperti
minyak dan gas, batu bara, panas bumi, dan sumberdaya air. Untuk daerah yang
berlokasi di tepi pantai, analisis potensi sumberdaya alam ini tentunya meliputi
juga potensi perikanan dan kelautan lainnyayang sangat penting bagi kehidupan
para nelayan dan masyarakat yang hidupdan bekerja di tepi pantai.

Di bidang sosial, pembahasan tentang kondisi umum daerah


dimulaidengan analisis tentang agama dan budaya yang terdapat dalam
masyarakatsetempat. Aspek ini juga berkaitan erat dengan upaya untuk
mencapaipercepatan pembangunan daerah karena tingkah laku masyarakat
sangatdipengaruhi oleh unsur agama dan budaya tersebut. Dalam hal
ini,pembahasan terutama diarahkan komposisi penduduk daerah menurut
agamadan etnis. Kemudian pembahasan juga ditujukan pada perkembangan
saranaperibadatan serta fasilitas pendukung kegiatan budaya yang terdapat
padadaerah bersangkutan.

Penduduk dan sumber daya manusia merupakan aspek penting


lainnyayang juga harus dibahas dalam kondisi umum daerah. Alasannya
jelaskarena pada satu pihak, penduduk adalah merupakan sasaran akhir
darikegiatan pembangunan daerah. Sedangkan pada pihak lain, penduduk
jugaberfungsi sebagai sumber daya manusia yang merupakan kekuatan utamayang
diperlukan untuk menggerakkan proses pembangunan daerah tersebut.

Termasuk dalam analisis kependudukan adalah jumlah dan


pertumbuhanpenduduk, distribusi, kepadatan dan komposisi umur, jenis mata

13
pencahariandan struktur lapangan kerja. Sedangkan dalam analisis sumber
dayamanusia aspek yang perlu dibahas paling kurang adalah menyangkut
denganpendidikan, kesehatan serta tingkat pengangguran dan kemiskinan.Unsur
lainnya yang juga sangat penting dibahas dalam kondisi umumdaerah ini adalah
menyangkut dengan aspek hukum dan pemerintahan.

Di bidang hukum, kondisi yang perlu dibahas adalah seberapa jauh hukum
telah ditegakkan dalam masyarakat yang dapat dilihatdari perkembangan jumlah
pelanggaran hukum yang terjadi. Sedangkandalam bidang pemerintahan aspek
yang perlu dibahas adalah seberapa jauhpelayanan publik sudah dapat dilakukan
oleh aparatur negara dan daerahuntuk masyarakat. Termasuk dalam hal ini adalah
kualitas dan profesionalismeyang dimiliki oleh seluruh aparatur daerah
bersangkutan.

Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan


bermanfaattentang kondisi pembangunan pada suatu negara atau daerah,
analisissebaiknya menggunakan beberapa indikator pembangunan secara
terukurIndikator pembangunan ini sebaiknya menggunakan beberapa indeks
ataukoefisien sederhana yang mudah dipahami secara umum dan
dikelompokkanmenurut sektor atau bidang. Misalnya untuk bidang ekonomi,
kondisiumum daerah dapat diketahui dengan menggunakan tiga indeks
utamayaitu: struktur perekonomian, pertumbuhan ekonomi dan potensi
ekonomiStruktur ekonomi dapat dipresentasikan melalui persentase kontribusi
nilaiPDRB dari suatu periode ke periode lainnya. Pertumbuhan ekonomi
dapatdiketahui melalui persentase kenaikan nilai PDRB dengan harga
konstanuntuk periode tertentu. Sedangkan potensi ekonomi secara relatif
dapatdiukur dengan menggunakan Koefisien Lokasi (Location Quotient, LQ)
yang merupakan indikator Keuntungan Komperatif (Comperative Advantage)
yangdimiliki oleh suatu daerah dibandingkan dengan daerah lainnya.

Salah satu sistem analisis yang dapat dilakukan untuk menilaikondisi


umum suatu negara atau daerah adalah dengan jalan membahasperkembangan

14
indikator pembangunan yang terdapat pada daerah tersebutuntuk periode 5-10
tahun yang lalu. Kemudian dilakukan pula analisis tentangpermasalahan dan
kendala pokok yang dihadapi oleh masyarakat setempatdalam proses
pembangunan. Setelah itu dilakukan pula penilaian terhadappotensi-potensi
sosial-ekonomi yang dimiliki oleh negara atau daerahbersangkutan yang dijadikan
sebagai modal dasar untuk mendorong prosespembangunan. Pembahasan dari
masing-masing aspek tersebut sebaiknyadiusahakan sekonkret mungkin dengan
menampilkan beberapa fakta tertentudalam bentuk indikator pembangunan
sebagai diuraikan di atas.

Cara lain yang juga lazim digunakan dalam melakukan analisis


tentangkondisi umum daerah adalah dengan menggunakan analisis SWOT
yanglazim juga disebut sebagai Teknik Evaluasi Diri (Self-Evaluation).
Sebagaimanadigambarkan oleh nama dari teknik analisis ini, pembahasan
dilakukandengan menganalisis kondisi umum daerah melalui empat unsur utama
yaitu:kekuatan (Strength), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities),
danancaman (Threat) yang dihadapi oleh daerah bersangkutan. Unsur kekuatan
dan kelemahan pada dasarnya adalah merupakan faktor yang terdapat
dalamdaerah sendiri (internal), sedangkan unsur peluang dan ancaman adalah
faktoryang berada di luar daerah bersangkutan (eksternal)

Penggunaan analisis SWOT ini dalam melakukan penilaian


terhadapkondisi pembangunan mempunyai dua keuntungan. Pertama,
analisismenjadi lebih tajam dengan melihat kepada empat indikator
yaitu,kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terdapat pada
daerahbersangkutan. Kedua, analisis SWOT ini selanjutnya dapat digunakan
untukmerumuskan strategi pembangunan yang akan ditempuh untuk
mendorongproses pembangunan pada daerah tersebut. Ini berarti bahwa
strategiyang dirumuskan tersebut akan bersifat riil dan sangat bermanfaat
karenabenar-benar didasarkan pada kondisi objekif yang terdapat pada
daerahbersangkutan. Inilah kelebihan dari penggunaan metode SWOT
tersebutdalam perumusan rencana pembangunan.

15
B. Visi dan Misi Pembangunan Daerah

Di samping tujuan, setiap perencanaan pembangunan, baik jangkapanjang


dan jangka menengah, disusun dengan mengacu pada visi dan misiyang telah
ditetapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan agar perencanaan yangdisusun benar-
benar mengacu pada tujuan dan saran pada visi dan misi yang telah disepakati dan
ditetapkan tersebut. Visi dan misi pembangunandaerah yang baik biasanya
dijaring secara intensif dari aspirasi dan keinginandari masyarakat yang menjadi
sasaran utama pembangunan tersebut.

Untuk dapat memahami perumusan visi tersebut, berikut ini


diberikanbeberapa contoh visi yang telah ditetapkan dalam dokumen
perencanaanpembangunan, sebagai berikut:

1. Visi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2005-


2025: "Terwujudnya Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur".

2. Visi dalam RPJP Provinsi Sumatera Barat 2005-2025; "Menjadi


ProvinsiTerkemuka Berbasis Sumber Daya Manusia yang Agamais di
Tahun 2025."

3. Visi dalam RPJM Nasional 2010-2015: "Terwujudnya Indonesia


yangSejahtera, Demokratis dan Berkeadilan

4. Visi dalam RPJM Provinsi Sumatera Barat 2006-2010:


"TerwujudnyaMasyarakat Sumatera Barat Madani Yang Adil, Sejahtera,
dan Bermartabat.

Sedangkan, misi pada dasarnya merupakan cara dan upaya umum


danbersifat pokok yang akan dilakukan dalam mewujudkan dan
merealisasikanvisi yang telah ditetapkan tersebut. Karena itu misi berhubungan
erat denganarah, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang akan
dilakukanuntuk mewujudkan visi pembangunan. Ini berarti bahwa arah,

16
strategi,kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang dimuat dalam
dokumenperencanaan pembangunan sebaiknya dijabarkan dari misi pembangunan
yangtelah ditetapkan semula. Dengan cara demikian diharapkan pencapaian
visidan misi tersebut akan menjadi lebih terjamin dalam pelaksanaan
kegiatanpembangunan nantinya.

Dalam hal ini, tentunya misi tersebut harus sesuai dengan fungsi
danperanan dari para pelaku pembangunan, baik dari
unsurpemerintah,swastamaupun masyarakat umum. Di samping itu, misi
pembangunan ini jugadirumuskan dengan memperhatikan permasalahan dan
kendala yang dihadapidimasa lalu serta sasaran pembangunan yang ingin dicapai
dimasa mendatang.

Misi pembangunan ini selanjutnya akan dijabarkan menjadi arah,


strategi,kebijakan dan program pembangunan yang dirumuskan secara lebih
konkretdan operasional sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber
daya,baik dana dan tenaga yang dimiliki para pelaku pembangunan
tersebut.Sebagai contoh dapat diberikan bahwa misi yang tertera dalam
RPJPIndonesia 2005-2025 meliputi delapan aspek utama, yaitu:

1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika,


berbudaya,dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila;

2. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing tinggi;

3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum;

4. Mewujudkan Indonesia yang aman, damai, dan bersatu;

5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan;

6. Mewujudkan Indonesia yang asri dan lestari;

7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri,


maju,kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional;

17
8. Mewujudkan Indonesia yang berperan dalam pergaulan
duniainternasional;

Sedangkan misi yang tertera dalam RPJP Provinsi Sumatera Barat 2005-
2025 hanya meliputi 5 aspek saja, yaitu:

1. Mewujudkan tata kehidupan masyarakat beragama dan


berbudayaberdasarkan falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi
Kitabullah";

2. Mewujudkan sistem hukum dan tata pemerintahan yang baik


dandemokratis;

3. Mewujudkan sumber daya insani yang berkualitas, amanah, dan


berdayasaing tinggi;

4. Mewujudkan usaha ekonomi yang produktif dan efisien serta


mampubersaing di dunia global;

5. Mewujudkan kondisi lingkungan hidup yang hijau, asri, dan berkelanjutan.

C. Sasaran dan Target Pembangunan Daerah

Perencanaan yang baik seharusnya mempunyai sasaran dan


targetpembangunan secara jelas untuk periode waktu tertentu. Sasaran
padadasarnya adalah bentuk konkret dari tujuan yang ingin dicapai
melaluipelaksanaan pembangunan sesuai yang direncanakan. Sedangkan target
adalahsasaran lebih konkret dan spesifik lagi dalam bentuk kuantitatif yang
hanusdicapai pada waktu tertentu. Dengan adanya sasaran dan target
pembangunan yang jelas tersebut, maka perencanaan akan menjadi lebih jelas,
konkret danterukur. Pada satu segi, penetapan sasaran dan target yang bersifat
konkret dan terukur ini sangat penting artinya untuk memudahkan
pelaksanaanpembangunan daerah. Sedangkan di segi lain, penetapan sasaran dan
targetyang jelas dan konkret tersebut juga penting artinya untuk

18
meudahkanmelakukan monitoring dan evaluasi dari hasil pelaksanaanbagi instansí
pelaksanarencana tersebut.

Penentuan sasaran dan target pembangunan daerah memerlukanteknik


proyeksi tertentu karena menyangkut dengan prediksiProyeksi dapat dilakukan
berdasarkan kecenderungan (trend) yang terjadidimasa lalu dengan
memperhatikan data dan fakta yang tersedia. Bila hasilperkiraan dengan
menggunakan cara ini kurang logis, maka proyeksi dapatpula dilakukan dengan
memperhatikan perkiraan kemampuan daerah dalammelakukan investasi, baik
dengan menggunakan dana pemerintah, swastaatau masyarakat. Di samping itu,
proyeksi dapat pula dilakukan denganmenggunakan kombinasi dari kedua cara
tersebut, sehingga kelemahanmasing-masing dapat dihilangkan. Hasil proyeksi
mana yang akan digunakansangat tergantung dari penilaian perencana dan
kesepakatan dengan pihaklain yang berwenang untuk menentukannya.

D. Strategi Pembangunan Daerah

Strategi pembangunan daerah pada dasarnya adalah merupakan cara


ataujalan terbaik untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan
semula.Karena itu strategi yang baik dan tepat akan dapat menghasilkan
pencapaiantujuan secara tepat dan terarah sehingga tujuan pembangunan dapat
dicapaisecara efektif dan efisien. Tentunya penetapan strategi yang tepat untuk
suatunegara dan daerah akan sangat ditentukan pula oleh kondisi, potensi yang
dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya pencapaian tujuan dan
sasaranpembangunan daerah turut pula menentukan.

Strategi pembangunan daerah sebaiknya dirumuskan


denganmemperhatikan kondisi umum dan potensi yang dimiliki
daerahbersangkutan, baik yang sudah dapat dilaksanakan, maupun
belum.Pertimbangan ini sangat penting artinya agar proses pembangunan
tersebutdapat berjalan secara lebih terarah dan efisien sehingga mampu
bersaingdengan daerah lainnya.

1. Pilihan Strategi Pembangunan

19
Secara teoritis, ada empat jenis strategi yang digunakan, dikaitkandengan
keadaan dan kebutuhan. Strategi Klasik dan Strategi Sistematik digunakandalam
keadaan normal sebaliknya Strategi Evolusi dan Strategi Proses digunakanuntak
mengatasi keadaan krisis. Strategi Klasik dan Evolusi dapat digunakanuntuk
mencapai keuntungan maksimum dan sebaliknya Strategi Proses danStrategi
Sistematik adalah untuk mewujudkan keuntungan optimum.
Dalampelaksanaannya, strategi tersebut terbagi kepada empat kategori yaitu
strategikepemimpinan (leadership strategy) dan strategi pilihan (strategic choices)
sertastrategi pertumbuhan (growth strategy) dan strategi pengelolaan
(managingstrategy). Pilihan strategi tersebut harus digunakan dengan tepat
agarsumber daya yang digunakan dalam strategi tersebut dapat mencapai
tujuandan sasarannya karena ada strategi yang disusun untuk jangka pendek
danmenengah.

Strategi Klasik digunakan dalam keadaan normal bertujuan


untukmencapai manfaat maksimum berlandaskan kepada konsep dan teori
denganserta panjang.Strategi Evolusi digunakan dalam keadaan krisis dan
bertujuan mencapaimanfaat maksimum berdasarkan analisa situasi dan kondisi
yang sesuai untuk jangka pendek. Strategi Proses juga digunakan dalam keadaan
krisisnamun bertujuan untuk mewujudkan kepuasan atau manfaat optimumdengan
menggerakkan beberapa satuan kerja tertentu yang dianggap mampumengatasi
masalah dalam jangka pendek. Strategi Sistemik digunakan dalamkeadaan normal
yang bertujuan untuk mengendalikan seluruh satuankerja untuk beroperasi
berdasarkan sistem kerja tertentu untuk mencapaikeuntungan optimum. Keempat
strategi tersebut berbeda menurut keadaan,waktu dan satuan kerja pelaksananya
sehingga keberhasilannya bergantungkepada analisis situasi.

Dengan demikian, strategi pembangunan pada dasarnya harusberlandaskan


kepada empat kategori tersebut di atas. Strategi kepemimpinanberdasarkan
pembentukan visi dan misi dengan melibatkan sekelompokpemangku kepentingan
strategis (elites). Strategi pilihan berdasarkankeputusan investasi oleh pemangku
kepentingan dalam perencanaansektoral dan regional. Strategi pertumbuhan

20
berdasarkan inovasi termasukkebijakan bersifat insentif dan disinsentif. Strategi
pengelolaan berdasarkankarakteristik struktur dan budaya organisasi serta
perubahan lingkunganluar. Konsekuensi dari pemilihan strategi adalah
keselarasan strategi dengan kebutuhan dan kemampuan dikaitkan dengan berbagai
upaya penguatanaspek-aspek kepemimpinan (leadership), kewirausahaan
(entrepreneurship),dan pengelolaan (managerialship)

2. Strategi Menyeluruh dan Strategi Parsial

Strategi pembangunan daerah dapat bersifat menyeluruh danparsial.


Strategi yang menyeluruh berkaitan dengan upaya meningkatkanpertumbuhan
ekonomi melalui peningkatan tabungan dan investasi. Strategiparsial berkaitan
dengan alokasi dan distribusi anggaran pendapatan danbelanja menurut satuan
kerja untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentuKeseluruhan upaya bersifat
parsial dianggap sebagai bagian dari upayamenyeluruh karena bagian dari sistem
kerja dalam organisasi yang telahdirumuskan melalui visi dan misi serta
kewenangan tertentu bersifat spesifik.

3. Strategi Fokus dan Strategi Campuran

Strategi pembangunan daerah bertujuan meningkatkan laju


pertumbuhanekonomi berdasarkan sektor-sektor yang potensial dikembangkan
padakawasan-kawasan yang memiliki faktor penumbuh (growing
factors).Pembangunan perlu diarahkan kepada sektor-sektor tertentu dalam
suatu.wilayah atau dikaitkan dengan pengembangan antarsektor dalam satu
wilayahdan antar wilayah. Strategi pembangunan demikian akan dapat
meningkatkanlaju pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataannya sehingga
stabilitaspembangunan dapat terwujud sebagai resultan dari keduanya.
Strategipembangunan demikian mengaitkan kebijakan sektoral dan
kewilayahanmelalui strategi konsolidasi dan strategi ekspansi serta strategi
integrasi yangdisesuaikan dengan karakteristik sektor dan kawasannya.Dari segi
metode dan cara penyusunan strategi pembangunan daerah,terdapat dua cara yang
lazim digunakan. Pertama, dengan menggunakanmetode SWOT yang didasarkan

21
pada aspek-aspek kekuatan (Strength),kelemahan (Weaknesses), peluang
(Opportunities), dan ancaman (Treath).

E. Kebijakan Pembangunan Daerah

Kebijakan (wisdom) pada dasarnya adalah merupakan keputusan


pemerintah untuk menciptakansuatu kondisi tertentu yang perlu dilaksanakan
dalam rangka mendorong proses pembangunan daerah bersangkutan. Kebijakan
pembangunan daerah pada dasarnya merupakan pengambilan keputusan oleh
pimpinan atau elite politik daerah untuk mewujudkan kondisi yang dapat
mendorong dan mendukung pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang
telah ditetapkan semula dalam perencanaan. Kebijakan ini diperlukan agar
program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan dapat diarahkan dan
diwujudkan sesuai dengan kebijakan yang telah diambil. Misalnya kebijakan
nasional yang menetapkan pelaksanaan Wajib Belajar SembilanTahunadalah
merupakan salah satu kebijakan untuk mendorong pemerataan pendidikan dasar
dan sekolah menengah pertama untuk seluruh lapisan masyarakat. Contoh lainnya
adalah kebijakan penanggulangan kemiskinanyang dilakukan dalam rangka
mengurangi jumlah penduduk miskin pada suatu daerah tertentu dan sekaligus
untuk mendorong peningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara
keseluruhan.

Perumusan kebijakan pembangunan daerah perlu dilakukan secara hati-


hati dengan memperhatikan berbagai aspek penting seperti: visi dan misi
pembangunan, kondisi dan potensi daerah, permasalahan pokok pembangunan
dan proyeksi pembangunan ke depan. Di samping itu. perumusan kebijakan
pembangunan juga harus sesuai, atau tidak berlawanan dengan kondisi sosial
budaya setempat agar pelaksanaan kebijakan tersebut tidak mendapat tantangan
dan reaksi negatif dari masyarakat daerah bersangkutan. Untuk dapat mewujudkan
keterpaduan pembangunan, maka perumusan kebijakan daerah tersebut juga harus
memperhatikan kebijakan pembangunan pada tingkatan yang lebih tinggi, seperti
kebijakan provinsi dan nasional. Baik buruknya suatu kebijakan akan ditentukan
dari seberapa jauh kebijakan tersebut dapat dilaksanakan dan memberikan hasil

22
(outcome) positifterhadap proses pembangunan daerah sebagaimana telah
direncanakan semula dan diharapkan oleh masyarakat.

Kenyataan menunjukkan bahwa pengambilan kebijakan ini juga sangat


dipengaruhi oleh pertimbangan politis dari pengambil kebijakan. Dalam kondisi
demokratis dewasa ini, pengambilan kebijakan akan sangat dipengaruhi oleh
kekuatan partai politik yang berkuasa pada saat itu, baik yang berada pada jajaran
eksekutifmaupun legislatif. Namun demikian, diharapkan pengambilan kebijakan
tersebut masih tetap mengacu dan berpedoman kepada kepentingan pembangunan
daerah dan nasional serta masyarakat secara keseluruhan, di atas kepentingan
politik golongan tertentu. Dalam hal ini, kontrol dari masyarakat dan media massa
akan sangat diperlukan, baik pada tingkat perencanaan, penyusunan anggaran
maupun pelaksanaannya, agar kepentingan umum tidak terabaikan.

F. Prioritas Pembangunan Daerah

Prioritas pembangunan pada dasarnya diperlukan dalam rangka


mengoptimalkan pencapaian sasaran pembangunan daerah dengan dana dan
sumber daya yang terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa aspek lain di luar yang
ditetapkan sebagai prioritas menjadi tidak penting sama sekali. Prioritas
pembangunan pada dasarnya menunjukkan pusat perhatian dan tekanan utama
yang harus dilakukan untuk dapat mencapai sasaran yang digambarkan dalam visi
pembangunan. Sedangkan aspek dan kegiatan pembangunan lainnya merupakan
faktor penunjang yang dapat dilakukan kegiatannya sebagaimana biasa bilamana
sumber daya tersedia mencukupi.

Penetapan prioritas pembangunan perlu dilakukan secara hati-hati agar


perencanaan menjadi lebih terarah dan tepat sehingga upaya untuk pencapaian
sasaran pembangunan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Berdasarkan
pertimbangan ini, biasanya prioritas pembangunan didasarkan pada beberapa
pertimbangan tertentu, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Program dan sektor yang diprioritaskan sebaiknya berhubungan erat


dengan visi dan misi pembangunan daerah yang ditetapkan semula

23
sehingga pencapaian visi dan misi tersebut menjadi lebih terjamin sesuai
dengan janji yang diberikan pada masyarakat dalam Pilkada;

2. Program dan sektor yang diprioritaskan sebaiknya mencakup sebagian


besar dari kehidupan sosial ekonomi pada negara dan daerah
bersangkutan, seperti sektor pertanian, sumber daya manusia, sektor
industri dan lain-lainnya;

3. Kegiatan dan sektor tersebut merupakan sektor unggulan dan mempunyai


Keuntungan Komperatif tinggi sehingga dapat diharapkan untuk
mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat pada negara dan daerah bersangkutan;

4. Program dan kegiatan dan tersebut dapat mendukung dan bersinergi


dengan kegiatan lainnya sehingga proses pembangunan secara
keseluruhan akan menjadi lebih maju dan berkembang;

5. Program dan kegiatan yang diperioritaskan haruslah yang layak dalam arti
manfaatnya yang dapat diberikan adalah lebih besar dari biaya yang
diperlukan untuk pelaksanaannya;

6. Program dan kegiatan tersebut sesuai dengan kondisi sosial ekonomi


daerah bersangkutan sehingga pembangunan tidak mendapatkan reaksi
negatif dari Namun demikian, penetapan prioritas pembangunan daerah
perlu pula diselaraskan dengan dinamika sosial terutama karakteristik
penduduk. Dinamika sosial ini juga akan sangat menentukan tingkah laku
danetos kerja masyarakat sehingga kondisi ini akan sangat mempengaruhi
aktivitas dan capaian pembangunan daerah secara keseluruhan.
Sedangkan dinamika sosial tersebut sangat ditentukan pula oleh budaya
dan agama yang dianut oleh masyarakat secara umum serta pandangan
masyarakat terhadap pembangunan. Bila masyarakat mempunyai
pandangan yang positif terhadap proses pembangunan, maka kepedulian
masyarakat terhadap kemajuan akan menjadi lebih tinggi, dan demikian

24
pula sebaliknya bila pandangan masyarakat kurang positif dan tidak acuh
terhadap proses pembangunan daerah.

Di samping itu, prioritas pembangunan daerah seharunya juga perlu


mempertimbangkan faktor khusus seperti akses dan intensitas interaksi yang
mampu memacu perkembangan suatu kawasan. Akses terhadap kawasan
tertinggal seperti daerah pinggiran dan perbatasan perlu dipacu perkembangannya,
namun dilematik bagi investasi sebab daya tarik relatif rendah. Sedangkan akses
terhadap daerah maju juga perlu dijaga agar keterkaitan antar daerah dapat pula
mendorong proses pembangunan di daerah tertinggal. Oleh karena itu, perlu
kebijakan khusus yang dapat mengintegrasikan pengembangan kawasan tersebut
dengan proses pembanguan daerah secara keseluruhan dengan jalan memberi
insentiflebih besar kepada dunia usaha untuk melakukan investasi di daerah yang
belum berkembang, tetapi mempunyai potensi cukup besar.

G. Program dan Kegiatan Pembangunan Daerah

Program dan kegiatan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan


upaya dan tindakan konkret dalam bentuk intervensi pemerintah dengan
menggunakan sejumlah sumber daya, termasuk dana dan tenaga, yang dilakukan
dalam rangka melaksanakan kebijakan pembangunan yang telah ditetapkan di
atas. Dengan kata lain, program pembangunan tersebut mempakan jabaran
konkret dari strategi dan kebijakan yang mempunyai tujuan dan sasaran tertentu
dalam rangka mendorong proses pembangunan nasional atau daerah. Program
tersebut dapat berbentuk pembangunan fisik. Seperti pembangunan jalan,
jembatan, kantor, dan lain-lainnya maupun yang berbentuk nonfisik seperti
penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan masyarakat. Program tersebut dapat
dilakukan langsung oleh instansi pemerintah terkait maupun oleh pihak swasta
dan masyarakat umum atau melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.

H. Indikator Kinerja

Sejak keluarnya Undang-Undang Nomor. 17 Tahun 2003 tentang


Keuangan Negara, pemerintah baik pusat dan di daerah diamanatkan untuk

25
menggunakan sistem Anggaran Kinerja (Performance Budget). Dengan cara
demikian, diharapkan penyusunan rencana serta pengalokasian anggarannya
benar-benar didasarkan pada target capaian (kinerja) dari program dan kegiatan
yang dilakukan oleh pemerintah. Penerapan sistem anggaran yang demikian
sangat penting artinya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran sesuai
dengan rencana dan program yang telah ditetapkan semula.

Mengingat penyusunan anggaran adalah didasarkan pada perencanaan


pembangunan yang telah ditetapkan sesuai dengan prinsip “Planning,
Programing, and Budgeting System (PPBS)”, maka penyusunan dokumen
perencanaan, baik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJMD) dan
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tentunya juga hams menggunakan
teknik Indikator Kinerja secara eksplisit dalam penyusunan program dan
kegiatannya. Dengan demikian, keterpaduan antara perencanaan dan
penganggaran akan dapat diwujudkan secara baik.

Berdasarkan konsep ilmu, Indikator Kinerja dapat ditetapkan dalam 5


unsur yaitu: masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat
(benefit) dan dampak (impact). Unsur masukan yang lazim digunakan dalam
penilaian kinerja pelaksanaan kegiatan pembangunan adalah dalam bentuk
penggunaan (penyerapan) dana atau tenaga kerja. Keluaran adalah produk
langsung dari pelaksanaan program dan kegiatan tersebut. Sedangkan hasil adalah
tingkat penggunaan dari keluaran tersebut oleh masyarakat sehingga bermanfaat
bagi kegiatan pembangunan. Manfaat adalah kontribusi dari pelaksanaan program
dan kegiatan tersebut terhadap proses pembangunan. Sedangkan dampak adalah
pengaruh yang timbul sebagai hasil dari pelaksanaan program dan kegiatan
tersebut terhadap pembangunan.

Di sini terlihat bahwa perbedaan antara unsur manfaat dan dampak adalah
sangat tipis sekali. Di samping itu, pengukurannya juga tidak mudah dan
memerlukan survei dan observasi lapangan yang mendalam. Akibatnya, banyak
dari pelaksanaan Laporan Kinerja dan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP)

26
atau Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) belum dapat sampaj pada
penilaian unsur hasil (outcome). Manfaat dan dampak dari pelaksanaan program
dan kegiatan. Untuk memudahkan pelaksanaan evaluasi kinexja ini, mengingat
penilaian terhadap manfaat dan dampak memerlukan observasi dan bahkan
penelitian yang cukup sulit, maka Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2008
mewajibkan pelaksanaan evaluasi kinerja pembangunan daerah hanya mencakup
tiga unsur pokok saja yaitu: masukan (input), keluaran (output) dan hasil
(outcome) saja. Unsur hasil sangat penting artinya karena aspek ini merupakan
hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

BAB 4

RUANG LINGKUP DAN BENTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN


DAERAH

a. Perencanaan Makro

Perencanaan makro menyangkut dengan ruang lingkup dan bentuk


perencanaan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan secara keseluruhan.
Bentuk dan ruang lingkup perencanaan ini menjadi penting karena kinerja
pembangunan yang baik adalah berdampak secara menyeluruh dan tidak untuk
sektor dan bagian tertentu saja. Di samping itu, para pimpinan daerah sebenarnya
lebih berkepentingan dengan dampak yang menyeluruh tersebut dibandingkan
dengan menurut sektor atau program, dalam rangka memenuhi harapan publik
akan perbaikan kesejahteraaan masyarakat secara keseluruhan. Dalam pola
penulisan RPJM, aspek ini lazim disebut sebagai kerangka ekonomi makro yang
berisikan strategi, kebijakan serta sasaran dan target pembangunan secara
menyeluruh baik untuk tingkat nasional maupun daerah.

Aspek-aspek utama yang dibahas dalam perencanaan makro ini paling kurang
meliputi hal-hal berikut ini: pertumbuhan ekonomi daerah, kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pemerataan
pembangunan, keuangan dan sumber pembiayaan pembangunanserta kebutuhan
investasi dan strategi dan kebijakan pembangunan secara menyeluruh. Dalam hal

27
ini, perencana dapat menambah pembahasan dengan aspek makro lainnya sesuai
dengan visi dan misi pembangunan daerah yang telah ditetapkan terlebih dahulu
oleh kepala daeraah terpilih.

Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Aspek makro pertama yang sangat penting dibahas adalah menyangkut


dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang pada dasarnya merupakan peningkatan
kemampuan produksi yang terdapat pada daerah yang bersangkutan. Alasannya
adalah karena pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu unsur penting dalam
peningkatan proses pembangunan daerah. Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan
bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tersebut adalah merupakan motor penggerak
utama dalam proses pembangunan daerah bersangkutan.

Realisasi pertumbuhan ekonomi daerah dapat diukur dengan menggunakan


peningkatan nilai produk domestik regional bruto (PDRB) dengan harga konstan
dari suatu periode ke periode waktu lainnya. PDRB harga konstan sengaja
digunakan agar dalam perhitungan tidak termasuk kenaikan harga (inflasi). Di
samping itu, pertumbuhan ekonomi daerah ini juga dapat dihitung untuk masing-
masing sektor dan subsektor sesuai dengan data yang tersedia. Dengan cara
demikian akan dapat diketahui secara konkret peraan masing-masing sektor dan
subsektor dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Data untuk keperluan ini umumnya sudah tersedia pada badan pusat statistik
(BPS) setempat.

Aanalisis pertumbuhan ekonomi daerah ini pada satu segi dapat digunakan
sebagai salah satu indikator untuk penilaian keberhasilan pembangunan ekonomi
daerah bersangkutan. Sedangkan pada segi lain, perkiraan pertumbuhan ekonomi
daerah dapat pula dijadikan sebagai dasar untuk melakukan prediksi sasaran dan
target pertumbuhan ekonomi daerah untuk masa mendatang yang cukup realistis
sesuai kemampuan di masa lalu. Di samping itu, target pertumbuhan ini juga
dapat dijadikan dasar untuk menentukan kebutuhan investasi yang diperlukan
untuk menggerakkan proses pembanguna daerah bersangkutan.

28
Pemerataan Pembangunan Ekonomi Daerah

Pemerataan pembangunan ekonomi daerah merupakan unsur dan bagian


perencanaan makro lainnya yang juga sangat penting artinya. Pertumbuhan
ekonomi yang cepat, tetapi tidak diikuti dengan pemerataan akan mengurangi
tingkat kemakmuran masyarakat dan dapat menimbulkan kecemburuan sosial
sehingga dapat mendorong timbulnya keresahan dan ketegangan politik. Karena
itu, strategi dan kebijakan serta program dan kegiatan yang bertujuan untuk
meningkatkan pemerataan pembangunan ekonomi daerah merupakan hal yang
sangat strategis dalam perencanaan makro.

Strategi dan kebijakan pemerataan pembangunan ekonomi daerah yang lazim


digunakan pada negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia adalah
dalam bentuk upaya penanggulangan kemiskinan dan perbaikan distribusi
pendapatan dalam masyarakat. Karena itu cukup beralasan kiranya bila
pengurangan jumlah penduduk miskin dan penurunan ketimpangan distribusi
pendapatan sudah umum merupakan salah satu sasaran pokok pembangunan
daerah secara makro.

Secara teknis, penduduk miskin adalah warga masyarakat yang nilai


pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan secara berkala
oleh pemerintah. Sedangkan garis kemiskinan yang ditetapkan secara berkala oleh
pemerintah. Sedangkan garis kemiskinan tersebut ditentukan berdasarkan nilai
pendapatan minimum yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk dapat bertahan
hidup. Garis kemiskinan tersebut akan berubah dari waktu ke waktu tergantung
dari perubahan harga barang-barang kebutuhan pokok secara umum. Kemiskinan
yang demikian lazim disebut sebagai kemiskinan absolut (absolute proverty).
Sedangkan dalam dunia internasional, Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan
sebesar US $2.00 per hari yang ternyata lebih tinggi dari garis kemiskinan yang
lazim ditetapkan oleh pemerintah Indonesia dewasa ini yaitu sekitar US $1.00 per
hari.

29
Namun demikian, dalam praktiknya di Indonesia terdapat dua cara untuk
mengukur jumlah penduduk miskin. Pertama, menggunakan data konsumsi
sebagai dasar penentuan jumlah penduduk miskin sebagaimana yang dilakukan
oleh Badan pusat statistik (BPS). Kedua, menggunakan beberapa indikator sosial
seperti pendapatan, kondisi rumah tangga dan unsur lain-lainnya sebagaimana
dilakukan oleh badan koordinasi keluarga berencana (BKKBN). Masing-
masingnya mempunyai kelemahan dan kekuatan tersendiri, sehingga pemilihan
ukuran kemiskinan yang tepat akan sangat ditentukan oleh tujuan dari penggunaan
angka kemiskinan tersebut.

Kondisi distribusi pendapatan dalam masyarakat dapat diukur dengan jalan


membandingkan persentase jumlah pendapatan yang dikuasai oleh masyarakat
umum yang jumlahnya banyak dibandingkan dengan yang dikuasai oleh
kelompok pendapatan tinggi seperti para elite dan pengusaha yang jumlahnya
sedikit. Untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan
antarkelompok masyarakat tersebut, para ilmuwan lazim menggunakan
menggunakan perkembangan angka indek gini ratio dari satu periode ke periode
lainya.

Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemerataan


pembangunan ekonomi daerah adalah dengan jalan mengurangi ketimpangan
pembangunan ekonomi antar wilayah. Ketimpangan pembangunan ekonomi antar
wilayah dapat di ukur dengan menggunakan indek williamson dengan
menggunakan data PDRB perkapita dan rasio jumlah penduduk. Data untuk
keperluan ini juga umumnya sudah tersedia pada BPS di daerah. Di samping itu,
ketimpangan ekonomi wilayah yang tinggi biasanya ditandai pula oleh masih
banyaknya daerah-daerah yang termasuk dalam kategori daerah tertinggal.

Strategi dan kebijakan lainnya yang juga penting artinya untuk meningkatkan
pemerataan ekonomi antar daerah adalah dalam bentuk penanggulangan tingkat
pengangguran. Bila tingkat pengangguran dapat dikurangi, maka otomatis jumlah
penduduk miskin juga akan berkurang karena kebanyakan kemiskinan muncul

30
karena tingkat pengangguran yang relatif tinggi dalam masyarakat. Sedangkan
penanggulangan pengangguran tersebut biasanya dapat dilakukan dengan jalan
meningkatkan penciptaan lapangan kerja serta mengurangi jumlah angkatan kerja
melalui pelaksanaan program keluarga berencana (KB).

Tingkat pengangguran biasanya diukur dalam bentuk persentase jumlah


pencari kerja dibagi dengan jumlah penduduk umur kerja (15-65 tahun).
Sedangkan pencari kerja dapat diketahui dengan jalan mengurangi jumlah
angkatan kerja dengan mereka yang tidak mau bekerja seperti anak sekolah dan
ibu rumah tangga. Angkatan kerja adalah penduduk yang berada dalam kelompok
umur kerja dan secara fisik mampu bekerja.

Kemakmuran Dan Kesejahteraan Masyarakat

Sesuai dengan tujuan nasional dan daerah, aspek kemakmuran adalah salah satu
sasaran akhir dari proses pembangunan pada suatu daerah. Alasannya jelas karena
seluruh masyarakat menginginkan kemakmurannya semakin lama akan semakin
meningkat dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sejahtera dalam jangka
panjang. Karena itu, cukup logis kiranya bilamana aspek kemakmuran daerah ini
merupakan salah satu unsur penting dalam perencanaan makro karena
menyangkut dengan sasaran umum pembangunan daerah.

Indikator kemakmuran daerah yang dapat digunakan untuk memperlihatkan


kemajuan dalam peningkatan kemakmuran masyarakat daerah dapat dilakukan
dalam beberapa bentuk. Pertama, adalah dengan melihat pada perkembangan nilai
PDRB dengan harga berlaku yang sudah dapat dihasilkan dalam periode
perencanaan. Alasannya adalah karena nilai PDRB tersebut adalah merupakan
nilai produksi barang dan jasa yang dapat dihasilkan oleh masyarakat suatu daerah
dalam periode tertentu. Kedua, nilai pendapatan per kapita yang diperoleh dengan
membagi nilai PDRB dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama. Nilai
PDRB per kapita ini merupakan indikator kemakmuran ekonomi daerah yang
lebih baik dan dapat dibandingkan antar daerah. Ketiga, mengingat kemakmuran
tersebut bukanlah hanya bersifat materi saja, maka indikator yang lebih baik dan

31
bersifat komprehensif adalah indeks pembangunan manusia (IPM). Angka IPM
pada dasarnya adalah indeks gabungan dari tiga unsur kemakmuran yaitu
pendapatan (daya beli masyarakat), pendidikan, dan kesehatan.

Sumber Pembiayaan Pembangunan

Upaya pembangunan daerah baru akan dapat dilaksanakan bilamana terdapat


sumber pembiayaan yang cukup, baik berasal dari pemerintah maupun swasta dan
masyarakat. Untuk tingkat daerah, ketersediaan sumber pembiayaan
pembangunan ini lebih penting dibandingkan dengan tingkat nasional karena
mendapatkan pinjaman pada tingkat daerah lebih sulit dibandingkan dengan
tingkat nasional. Karena itu, dalam penyusunan perencanaan makro, analisis
tentang perkembangan ketersediaan sumber pembiayaan pembangunan daerah
perlu dicantumkan secara tegas dan konkret. Sumber pembiayaan pembangunan
tersebut tercermin dalam kemampuan keuangan yang dimiliki oleh suatu daerah.
Sumber pembiayaan pembangunan tersebut dapat ditunjukkan dengan data-data
kemampuan keuangan (kapasitas fiskal) yang dimiliki oleh suatu daerah.

Sumber pendapatan lainnya yang sah sesuai ketentuan berlaku pada umumnya
relatif kecil dibandingkan dengan dana yang sudah dijelaskan terdahulu. Sumber
pendapatan tersebut meliputi dua hal. Pertama, penerimaan retribusi karena dinas
dan instansi memberikan pelayanan tertentu kepada masyarakat. Sehingga wajar
untuk menerima dana dari masyarakat. Kedua, laba bersih hasil dari kegiatan
badan usaha milik daerah (BUMD) yang terdaoat pada daerah yang bersangkutan.

Perkiraan Kebutuhan Investasi

Untuk dapat menjamin tercapainya target pertumbuhan ekonomi khususnya


dan pembangunan daerah umunya yang telah ditetapkan terdahulu, perlu
diperkirakan berapa besarnya kebutuhan investasi yang diperlukan. Perkiraan
kebutuhan investasi ini adalah merupakan unsur yang juga sangat penting
dicantumkan dalam perencanaan makro, perkiraan kebutuhan investasi ini
nantinya akan dijadikan sebagai dasar untuk penyusunan rencana investasi baik
secara menyeluruh maupun sektoral. Di samping itu, perkiraan kebutuhan

32
investasi ini dapat pula dijadikan sebagai dasar untuk penyusunan dokumen
rencana pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) untuk daerah bersangkutan.

Dengan menggunakan teori pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar, kebutuhan


investasi secara total dapat dihitung dengan jalan mengalikan koefisien
incremental capital-output ratio (ICOR) dengan target laju pertumbuhan ekonomi
yang telah ditetapkan semula. Dalam hal ini hasil yang diperoleh adalah dalam
bentuk persentase investasi total yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran
pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan. Bila perkiraan kebutuhan investasi
tersebut diperlukan dalam bentuk nilai rupiah, maka ICOR tersebut harus
dikalikan dengan tambahan nilai PDRB yang dapat dihasilkan karena adanya
pertumbuhan ekonomi tersebut.

Selanjutnya kebutuhan investasi secara total tersebut dapat pula dibagi


menjadi kebutuhan investasi pemerintah serta swasta dan masyarakat dengan
mempedomani proporsi rata-rata realisasi investasi dimasa lalu. Proporsi investasi
yang dibutuhkan untuk sektor swasta dapat diperkirakan dengan mempedomani
data realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal
asing (PMA) yang tersedia. Sedangkan perkiraan kebutuhan investasi masyarakat
pada dasarnya adalah residual dari perkiraan total investasi dikurangi dengan
perkiraan investasi pemerintah dan swasta karena data-data untuk jenis ini
biasanya tidak tersedia.

Strategi Dan Kebijakan Pembangunan Daerah

Salah satu aspek penting yang perlu dibahas dalam perencanaan makro adalah
menyangkut dengan strategi dan kebijakan pembangunan daerah yang dipilih
sebagai landasan dasar perencanaan pembangunan daerah bersangkutan. Sesuai
dengan Undang-undang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN),
pemilihan strategi dan kebijakan pembangunan daerah ini harus sesuai dengan visi
dan misi pembangunan dari kepala daerah terpilih. Alasannya adalah karena visi
dan misi dari kepala daerah terpilih tersebut pada dasarnya merupakan janji yang
telah disepakati dan menjadi harapan umum bagi masyarakat setempat.

33
Namun demikian, perumusan strategi dan kebijakan pembangunan daerah
yang baik juga jangan sampai terpengaruh oleh slogan-slogan politik yang
terdapat dalam masyarakat seperti Ekonomi Terpimpin, Ekonomi Pancasila atau
Ekonomi Kerakyatan dan lain-lainnya. Sebaiknya perumusan strategi dan
kebijakan pembangunan tersebut harus juga dilandasi oleh prinsip dan konsep
ilmu yang jelas dan telah teruji kebenarannya. Berkaitan dengan hal ini, landasan
teoritis yang digunakan juga harus sesuai dengan Ilmu ekonomi Regional
(Regional Economics) yang mempertimbangkan aspek ruang (wilayah) secara
konkret dalam analisisnya.

Di dalam literatur Ilmu Ekonomi Regional terdapat berbagai bentuk teori yang
berkaitan dengan pembangunan ekonomi daerah, sebagai contoh, Teori
Pertumbuhan Regional Export-base yang menyatakan bahwa berasal dari sektor
basis merupakan faktor utama yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi
daerah. Selanjutnya, terdapat pula Teori pPertumbuhan Ekonomi Regional Neo-
Klasik yang menekankan pentingnya aspek tenaga kerja, stok modal atau investasi
dan kemajuan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan. Di
samping itu, terdapat pula Teori Pertumbuhan Cumulative Causation yang tidak
hanya menekankan pada aspek pertumbuhan saja, tetapi juga tetapi juga pada
aspek ketimpangan pembangunan antar wilayah yang muncul sebagai akibat
proses akumulasi dalam kegiatan pembangunan daerah.

Perencanaan Sektoral

Perencanaan sektoral adalah perencanaan yang ruang lingkupnya hanya untuk


satu bidang atau sektor pembangunan tertentu saja, misalnya pertanian,
pendidikan, kesehatan dan lain-lainnya. Perencanaan yang demikian dapat muncul
sebagai bagian dari sebuah dokumen perencanaan pembangunan daerah tertentu
seperti RPJMD atau disusun khusus untuk atau dinas instansi atau SKPD
tersendiri yang lazim dikenal dengan nama rencana strategis satuan kerja
perangkat daerah (Renstra SKPD ) yang disusun untuk periode 5 tahun.

34
Sedangkan pada tingkat nasional, perencanaan sektoral ini muncul dalam bentuk
renstra kementerian dan lembaga (renstra KL).

Karena perencanaan sektoral ini diperuntukkan khusus untuk dinas atau SKPD
tertentu, maka penyusunannya harus mengacu pada tugas pokok dan fungsi
(TUPOKSI) institusi bersangkutan. Karena itu, tentunya isi dari perencanaan
sektoral tersebut akan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan kegiatan dinas dan
instansi yang menyusunnya. Namun demikian, arah umumnya harus sesuai dan
mendukung visi dan misi kepala daerah terpilih yang tercantum dalam RPJMD
daerah bersangkutan. Keselarasan ini perlu dijaga agar terwujud perencanaan
yang saling mendukung antara satu sektor dengan sektor lainnya dalam suatu
daerah dan sesuai dengan aspirasi masyarakat pada daerah yang bersangkutan.

Komponen perencanaan sektoral ini pada dasarnya adalah sngat mirip dengan
perencanaan makro yang dibahas terdahulu. Analisis dimulai dengan kondisi
umum yang berkaitan dengan Tupoksi SKPD bersangkutan. Misalnya, kalau kita
menyusun renstra untuk sektor pertanian, maka kondisi umum yang perlu dibahas
adalah menyangkut dengan pertanian yang terdapat daerah bersangkutan.
Tujuannya adalah agar perencanaan yang disusun didasarkan pada kondisi riil
yang terdaapat pada daerah bersangkutan, termasuk potensi yang dimiliki.
Analisis ini sangat penting artinya untuk dapat menjaga agar perencanaan yang
akan disusun menjadi lebih bersifat realistis dan tidak muluk-muluk sesuai dengan
kondisi sebenarnya yang terdapat pada daerah tersebut.

Analisis tentang sumber pembiayaan pembangunan tidak perlu dicantumkan


dalam perencanaan sektoral. Alasannya adalah karenasumber pembiayaan
pembangunan bukan berasal dari penerimaan sektor yang bersangkutan, tetapi
adalah dari sumber penerimaan daerah secara keseluruhan. Demikian pula halnya
dengan analisis tentang aspek-aspek hukum. Pemerintahan, sosial, dan politik
yang tidak tergantung pada kebijakan sektoral.

Karena perencanaan menyangkut masa datang, maka langkah berikutnya yang


perlu dilakukan adalah melakukan perkiraan (proyeksi) untuk periode 5 tahun

35
mendatang untuk beberapa unsur dan variabel penting yang berkaitan dengan
bidang atau sektor bersangkutan. Proyeksi yang perlu dilakukan paling kurang
menyangkut dengan perkembangan kegiatan produksi dari bidang atau sektor
bersangkutan serta penyediaan lapangan kerja yang dapat dihasilkan. Sejalan
dengan hal ini perlu pula dilakukan perkiraan terhadap jumlah dan kualitas
prasarana dan sarana yang sudah dapat disediakan untuk mendukung kegiatan
produksi dari bidang dan sektor bersangkutan. Perkiraan dan proyeksi ini
selanjutnya akan dijadikan dasar untuk menentukan sasaran pembangunan
sektoral secara menyeluruh.

Perencanaan sektoral juga mempunyai visi dan misi sendiri sesuai dengan
aspirasi dan harapan dari SKPD bersangkutan. Namun demikian, sebagaimana
sudah disinggung terdahulu, bahwa visi misi ini harus sejalan dan tidak
bertentangan dengan visi dan misi kepala daerah sebagaimana tercantum dalam
RPJMD daerah bersangkutan. Visi dan misi SKPD tersebut selanjutnya akan
dijadikan sebagai dasar utamaa perumusan strategi, kebijakan, program dan
kegiatan yang akan direncanakan dalam renstra bersangkutan.

Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah menyusun strategi dan


kebijakan dari SKPD tersebut untuk 5 tahun mendatang dengan memperhatikan
kondisi umum serta visi dan misi dari SKPD bersangkutan. Penyusunan strategi
dan kebijakan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan teknik analisis SWOT
yang didasarkan pada kekuatan (strength), kelemahan (weaknesses), peluang
(opportunities), dan ancaman (treath) yang terdapat pada daerah bersangkutan. Ini
berarti bahwa teknik SWOT diperlukan agar perumusan strategi dan kebijakan
tersebut sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki oleh daerah
bersangkutan.

Cara lain yang juga dapat dilakukan dalam menyusun strategi dan kebijakan
adalah dengan jalan menurunkan secara langsung dari visi dan misi yang telah
ditetapkan semula. Keuntungan cara ini adalah bahwa strategi dan kebijakan akan
berkaitan langsung dengan visi dan misi pada perencanaan bersangkutan. Akan

36
tetapi, karena visi dan misi pada perencanaan bersangkutan. Akan tetapi, karena
visi dan misi berasal dari aspirasi kepala SKPD dengan berpedoman pada
RPJMD, maka besar kemungkinan pula strategi dan kebijakan tersebut tidak
sesuai dengan kondisi dan potensi daerah yang bersangkutan. Bila hal ini terjadi
maka besar kemungkinan strategi yang dirumuskan trsebut menjadi tidak sesuai
dan sulit dilaksanakan dalam masyarakat.

Ujung akhir dari sebuah perencanaan sektoral adalah penyusunan program dan
kegiatan yang akan dilakukan oleh SKPD bersangkutan. Program dan kegiatan
ini tentunya harus bersifat operasional sesuai dengan kewenangan dan
kemampuan SKPD bersangkutan. Di samping itu, masing-masing program dan
kegiatan tersebut juga harus dilengkapi dengan indikator kinerja dan tolak ukur
(target) yang jelas dan konkret sesuai dengan data yang tersedia. Sedangkan
indikator dan target kinerja yang ditetapkan tersebut sebaiknya mencakup unsur
masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit) dan
dampak (Impacts). Dengan cara demikian, evaluasi terhdap keberhasilan
pelaksanaan dari renstra tersebut akan lebih mudah dapat dilakukan secara lebih
konkret dan terukur.

Perencanaan Wilayah (Regional)

Perencanaan wilayah (regional) pada dasarnya adalah ruang lingkup dan


bentuk perencanaan pembangunan yang didalamnya terdapat unsur tata-ruang dan
lokasi kegiatan ekonomi dan sosial secara terintegrasi. Jenis perencanaan ini
sering kali pula disebut dengan Spatial (Regional Development Planning) di mana
seluruh unsur dan variabel pembangunan dirinci menurut aspek ruang dan
lokasinya. Sasaran utama perencanaan ini adalah menyusun strategi, kebijakan
dan program pembangunan dengan memanfaatkan potensi wilayah dan
keuntungan lokasi yang terdapat di daerah bersangkutan dan daerah tetangganya.
Biasanya aspek tata-ruang dan lokasi ini ditampilkan dalam rencana
pembangunan wilayah dengan menggunakan peta dalam berbagai skala.

37
Terdapat dua undang-undang yang melandasi perlunya disusun
perencanaan wilayah (regional) tersebut. Keduanya adalah Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup dan Undang-Undang Nomor
26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Untuk perencanaan pembangunan pada
tingkat provinsi dan kabupaten, Undang-undang Lingkungan hidup menjadi lebih
penting karena aspek tata ruang masih dalam bentuk umum. Sedangkan untuk
perencanaan pembangunan pada tingkat kota di mana aspek tata-ruang lebih
menonjol, maka Undang-undang Tata Ruang akan menjadi lebih berperan dan
mengikat. Tujuan utama perencanaan wilayah (Regional) secara khusus adalah:
(a) mendorong proses pembangunan daerah bersangkutan, (b) mendorong proses
pembangunan khusus untuk daerah tertinggal, (C) mengurangi ketimpa
pembangunan antar wilayah, (d) meningkatkan daya dukung lingkungan
eningkatkan efisiensi penggunaan lahan, dan (f) meningkatkan kualita lingkungan
hidup daerah bersangkutan. Kesemua tujuan perencanaan wilayah ini adalah
saling mempengaruhi satu sama lainnya sehingga pendekatan yang digunakan
sebaiknya adalah bersifat lintas sektoral dan komprehensif.

Perencanaan pembangunan wilayah ternyata mempunyai karakteristik


khusus bila dibandingkan dengan perencanaan pembangunan secara umum.
Karakteristik khusus tersebut antara lain adalah: (a) Terkandung unsur tata ruang
dan lokasi kegiatan secara terintegrasi, (b) Disusun sesuai dengan kondisi,
potensi, dan permasalahan daerah setempat, (c) Terpadu antar sektoral dan antar
wilayah, (d) Mempertimbangkan aspek daya dukung lahan dan lingkungan hidup,
serta (e) Menonjolkan peranan pemerintah daerah dalam mendorong proses
pembangunan di daerahnya masing-masing. Dalam perencanaan wilayah
(regional) aspek perencanaan penggunaan lahan (Land-used Planning) menjadi
sangat penting. Sasaran utama dari perencanaan penggunaan lahan ini adalah
untuk dapat menyesuaikan Antara potensi ekonomi daerah dengan potensi dan
daya dukung lahan berikut konektivitasnya atau eksesibilitasnya antar wilayah
sehingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan menjadi lebih cepat dan
efisien. Di samping itu, perencanaan penggunaan lahan dimaksudkan juga untuk

38
menjaga tingkat efisiensi penggunaan lahan terutama untuk daerah dengan lahan
yang relative sempit, tapi dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi,
seperti daerah perkotaan atau daerah dengan wilayah relatif kecil.

Penyusunan program dan kegiatan dalam perencanaan wilayah (regional) harus


menjadi lebih rinci. Hal ini disebabkan karena di samping jenis kegiatan yang
akan dilakukan, indikator dan target kinerja, pagu indikatif anggaran dan instansi
penanggung jawab, dalam perencanaan wilayah perumusan program dan kegiatan
juga termasuk penetapan lokasi dari kegiatan bersangkutan. Aspek ini diperlukan
agar perencanaan pembangunan tersebut menjadi lebih konkret dan sesuai dengan
karakteristik dan potensi daerah bersangkutan.

Mengingat perencanaan wilayah menyangkut dengan daerah tertentu.


maka dalam perencanaan wilayah (regional) tersebut, peranan pemerintah daerah,
baik provinsi, kabupaten dan kota, menjadi lebih menonjol. Hal ini sangat penting
artinya dalam era otonomi di mana pemerintah daerah diberikan wewenang dan
urusan tersendiri dalam mengelola kegiatan pembangunan di daerahnya masing-
masing. Dalam perencanaan wilayah ini, pemerintah daerah dapat
memformulasikan dan menerapkan strategi dan kebijakan yang spesifik sesuai
dengan kondisi dan permasalahan serta kemampuan keuangan daerah
bersangkutan.

Perencanaan proyek (kegiatan)

Perencanaan proyek (kegiatan) adalah perencanaan yang khusus disusun untuk


pembangunan suatu proyek atau kegiatan tertentu, misalnya pembangunan jalan,
pembangkit tenaga listrik, sekolah, rumah sakit dan lain lainnya. Perencanaan
proyek ini sangat penting artinya bila kegiatan yang akan dibangun mencakup
nilai yang cukup besar sehingga perencanaannya perlu dibuat secara baik, teliti,
dan rinci untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaan pembangunan proyek
tersebut nantinya.

Konsep ilmiah tentang perencanaan proyek ini sebenarnya sudah lama


berkembang dalam literatur ekonomi dan perencanaan pembangunan seperti

39
Gitingger (1972), Little and Mirless (1974), dan lain-lainnya. Konsep ini mula-
mula digunakan oleh bank dunia (1972) dalam menilai kelayakan pengalokasian
dana untuk pembangunan proyek-proyek pembangunan yang lazim dikenal
dengan nama evaluasi proyek (project appraisal). Dewasa ini, konsep ini sudah
berkembang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam ilmu perencanaan
pembangunan baik untuk tingkat nasional maupun daerah.

Teknik dan metode yang digunakan dalam penyusunan rencana dan evaluasi
proyek tersebut adalah analisis biaya dan manfaat 9cost benefit analysis) yang
ditimbulkan dari kegiatan pembangunan dan pengelolaan proyek yang
bersangkutan. Untuk keperluan penyusunan perencanaan proyek ini, terlebih
dahulu perlu ditetapkan deskripsi rinci dari kegiatan yang akan dilakukan tersebut
termasuk umur proyek tersebut.

Mengingat penerimaan dan manfaat dari pembangunan proyek akan diterima


pada tahun-tahun mendatang secara reguler dan juga biaya operasional harus
dikeluarkan setiap tahunnya dalam pengelolaan proyek, maka perhitungan biaya
dan manfaat harus dilakukan dalam bentuk nilai sekarang (present values). Dalam
hal ini, jangka waktu yang digunakan adalah sesuai dengan umur proyek dan
jangka waktu [perjanjian kredit sedangkan discount rate yang digunakan biasanya
adalah tingkat bunga deposito di bank. Akan tetapi, apabila pembangunan proyek
tersebut menggunakan dana bantuan luar negeri, maka menurut Deepak Lal
(1975), discount rate yang digunakan seharusnya adalah dana dalam bentuk
Domestic Resources Cost (DRC).

Dalam kondisi harga dikendalikan oleh pemerintah, maka harga pasar tidak
dapat mencerminkan kondisi permintaan dan penawaran yang sebenarnya terjadi
di pasar. Akibatnya, bila kalkulasi biaya dan manfaat didasarkan pada harga yang
dikendalikan tersebut, maka tingkat kelayakan penilaian proyek sebenarnya
tidaklah tepat.

Secara umum terdapat tiga kriteria penilaian terhadap kelayakan finansial


(financial feasibility) dari pembangunan proyek tersebut. Pertama, adalah

40
perbandingan manfaat dan biaya (Benefit-Cost Ratio, B/F ratio), kedua, adalah
nilai sekarang penerimaan bersih penerimaan proyek (Net Present Values, NPV).
Ketiga, tingkat penerimaan internal proyek (Internal Rate of Return, IRR). Ketiga
kriteria penilaian ini sebenarnya adalah sejalan, tetapi masing-masingnya
memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu sehingga sering menjadi perdebatan
para ahli. Karena itu, dalam pelaksanaanya ketiga penilaian ini dapat digunakan
secara sekaligus agar penilaian kelayakan proyek menjadi lebih lengkap dan
objektif.

Menggunakan ketiga kriteria tersebut manfaat suatu proyek atau kegiatan


dapat dikatakan layak bilamana memenuhi kriteria sebagai berikut :

B/C rasio > 1 yang artinya adalah manfaat proyek lebih besar dari biaya yang
harus dikeluarkan sehingga pembangunan proyek tersebut tidak akan
memboroskan keuangan negara atau daerah.

NPV > 0 yang artinya nilai rupiah manfaat lebih besar dari nilai rupiah biaya yang
diperlukan sehingga manfaat yang diperoleh lebih besar dari pengorbanan yang
harus dikeluarkan pemerintah

IRR > bunga deposito yang artinya hasil keuntungan dari pembangunan proyek
harus lebih besar dari tingkat bunga deposito. Bila tidak maka akan lebih
menguntungkan bila dana tersebut disimpan di bank daripada diinvestasikan pada
proyek bersangkutan

Penilaian kelayakan proyek yang berorientasi bisnis akan lebih mudah


dihitung dibandingkan proyek yang berorientasi pada pembangunan. Alasannya
adalah karena proyek yang berorientasi bisnis mempunyai benefit yang jelas
dalam bentuk penghasilan dari proyek bersangkutan. Disamping itu, data yang
diperlukan untuk penilaian kelayakan finansial juga lebih mudah diperoleh
dibandingkan dengan data yang diperlukan untuk mengukur kelayakan ekonomi.
Karena itu, banyak buku-buku evaluasi proyek ini diarahkan untuk membantu
analisis untuk menilai kelayakan proyek pembangunan atau proyek yang bersifat
"non fisik".

41
Dalam praktik perencanaan pembangunan proyek, langkah dan kegiatan
yang akan dilakukan biasanya mempedomani apa yang dikenal sebagai "siklus
proyek” yang menggambarkan lingkup kegiatan perencanaan proyek. Secara
umum siklus proyek tersebut meliputi kagiatan beberapa tahap berikut ini:

 Tahap Indentifikasi, yang merupakan identifikasi kebutuhan pembangunan


proyek sesuai dengan kebutuhan daerah atau rencana yang ditetapkan
semula seperti RPJMD;

 Tahap Persiapan Proyek, yang berisikan penelitian terhadap faktor-faktor


yang menentukan kerberhasilan dan kegagalan pelaksanaan proyek
bersangkutan;

 Tahap Pelaksanaan, yang meliputi berbagai kegiatan yang menyangkut


dengan konstruksi pembangunan atau pengadaan fisik proyek
bersangkutan;

 Tahap Evaluasi, yang melaksanakan kegiatan evaluasi kinerja proyek


terhadap pembangunan daerah dengan menggunakan data-data hasil
pelaksanaan operasional proyek.

A. Permasalahan Perencanaan Pembangunan di Indonesia

Memperhatikan pengalaman masa lalu dan perkembangan yang terjadi di


Indonesia dewasa ini, terlihat adanya beberapa permasalahan pokok dalam
perencanaan pembangunan di Indonesia. Permasalahan ini timbul baik dalam
penyusunan rencana, maupun dalam pelaksanaannya. Di samping itu, dalam
penyusunan rencana, maupun dalam pelaksanaannya. di samping itu, terjadi pula
beberapa perubahan peraturan dan perundangan berlaku yang membawa implikasi
terhadap penyusunan rencana pembangunan. Kesemua permasalahan dan
perubahan ini merupakan dasar dan latar belakang utama keluarnya Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2001 tentang SPPN.

42
Permasalaahan pertama adalah adanya perubahan yang cukup fundamental
tentang ketentuan Majelis Permusyawarahan Rakyat (MPR) yang semula satu
tugasnya adalah menyusun Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). sedangkan
di dalam GBHN tersebut termasuk Garis Besar Pembangunan Jangka Panjang
yang merupakan acuan utama dalam penyusunan rencana pembangunan baik pada
tingkat nasional maupun daerah. Dengan adanya perubahan tersebut MPR tidak
lagi berkewajiban menyusun GBHN dan ini berarti pula tidak aka nada lagi garis
besar pembangunan jangka panjang. Karena itu, pemerintah perlu menyusun
sendiri Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk periode 20 tahun,
baik untuk nasional maupun daerah yang akan dijadikan pedoman unyuk
penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk periode 5 tahunan.

Permasalahan berikutnya adalah masih sangat dirasakan adanya “ego sektoral”


anatara para aparat pemerintah dalam melaksanakan kegiatan pembangunan.
Masing-masing dinas dan instansi cenderung mengatakan tugas dan fungsinyalah
yang terpenting dalam kegiatan pembangunan. Permasalahan tersebut
menyebabkan koordinasi dalam penyusunan rencana dan pelaksanaan
pembangunan menjadi sulit dilakukan. Akibat selanjutnya adalah kurang
optimalnya pelaksanaan proses pembangunan karena kurangnya keterpaduan dan
sinergi antarsektor dan akibatnya sasaran yang dituju juga tidak dapat terlaksana
sama sekali.

Pelaksanaan otonomi daerah yang secara formal dimulai tahun 2001 yang lalu
pada dasarnya dimaksudkan untuk mendorong proses pembangunan dengan jalan
memberikan wewenang dan alokasi dana yang lebih besar ke daerah. Akan tetapi,
kenyataannya setelah beberapa tahun pelaksanaan otonomi daerah tersebut
dilakukan, ternyata yang berkembang justru meningkatkan “ego daerah”. Hal ini
terlihat dari makin meningkatnya keinginan untuk mementingkan daerahnya
sendiri, yang sering kali meningkat menjadi konflik antar daerah. Sementara itu,
pembangunan daerah memerlukan keterpaduan pembangunan antar daerah baik
antara pusat dan daerah, dan antar daerah sendiri, baik antar provinsi, kabupaten,
dan kota.

43
Permasalahan selanjutnya yang juga sangat dirasakan sampai saat ini adalah
kurang terpadunya antara perencanaan dan penganggaran. Tidak hanya itu, tetapi
kekurangterpaduan ini juga dirasakan antara perencanaan dan pelaksanaan serta
pengawasan. Akibatnya, apa yang dilaksanakan cenderung tidak sama dengan apa
yang direncanakan sehingga dalam jangka panjang apa yang diharapkan dapat
dicapai melalui pembangunan ternyata tidak terwujud sama sekali, walaupun
waktu dan dana telah habis digunakan untuk keperluan tersebut.

Terakhir, permasalahan yang sampai saat ini masih belum dapat dipecahkan
adalah belum optimalnya dimanfaatkan peran serta masyarakat dalam proses
penyusunan rencana pembangunan sehingga kebanyakan Perencanaan yang
disusun masih bersifat ““Top-down Planning”. Akibatnya, kebanyakan kegiatan
pembangunan yang dilakukan tidak sesuai dengan asPirasi dan keinginan
masyarakat di daerah sehingga pemanfaatan dan' hasil Pembangunan oleh
masyarakat menjadi tidak maksimal. Bahkan banyak pula masyarakat yang
kecewa karena apa yang dibangun oleh pemerintah ternyata tidak berkaitan sama
sekali dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Kondisi demikian
menyebabkan masyarakat menjadi apatis dan kepedulian serta tanggung jawab
mereka terhadap program dan kegiatan pembangunan menjadi sangat kecil sekali,
bahkan cenderung pula tidak peduli sama sekali, atau bisa pula menolak.

B. Sasaran Pokok SPPN

Memperhatikan permasalahan yang dihadapi perencanaan pembangunan


Indonesia sebagaimana dijelaskan di atas, maka sasaran utama perencanaan
pembangunan yang ingin dicapai pemerintah dengan diterapkannya SPPN secara
menyeluruh di Indonesia tersebut, mencakup lima hal poko yaitu :

a. Meningkatnya koordinasi antarpelaku pembangunan sehingga hasil


yang diharapkan menjadi lebih optimal;
b. Meningkatkan keterpaduan dan sinergitas perencanaan antara pusat
dan daerah serta antar daerah yang terkait;

44
c. Meningkatkan keterpaduan antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan;
d. Mengoptimalkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam
penyusunan dan pelaksanaan perencanaan pembangunan;
e. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien,
efektif, dan adil.
C. Dokumen Perencanaan Pembangunan

Bentuk konkret dari hasil kegiatan perencanaan pembangunan adalah tersusunnya


dokumen perencanaan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan berlaku.
Dokumen perencanaan ini tentunya berbeda menurut jenis dan cakupan
perencanaan yang bersangkutan. Dalam kaitan dengan hal ini, SPPN 2004
menetapkan adanya lima dokumen perencanaan pembangunan yang perlu disusun
oleh badan perencana, baik pada tingkat nasional maupun tingkat daerah. Kelima
dokumen perencanaan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD);


b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ;
c. Rencana Strategis Institusi (Renstra SKPD) ;
d. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD);
e. Rencana Kerja lnsntusi (Renja SKPD);
D. Keterkaitan Antar Dokumen Perencanaan Pembangunan

Sebagaimana telah disinggung terdahulu pada bagian 5.B bahwa salah satu
sasaran utama SPPN 2004 adalah untuk meningkatkan keterpaduan dan sinergitas
perencanaan antara pusat dan daerah serta antar daerah terkait. Hal ini sangat
penting artinya dalam rangka mewujudkan kesatuan arah dan efisiensi proses
pembangunan secara nasional sehingga sasaran yang dituju akan dapat
diwujudkan secara lebih cepat dan tepat. Aspek ini menjadi lebih penting dalam
era otonomi dewasa ini di mana daerah diberikan kewenangan Yang lebih luas
sehingga dapat menentukan sendiri arah, strategi dan kebijakan pembangunan
sendiri.

45
Keterkaitan pertama yang sangat penting dan harus diupayakan
semaksimal mungkin adalah antara RPJP Nasional dan RPJP Daerah.
Sebagaimana ditetapkan dalam SPPN 2004, penyusunan RPJP daerah harus
mengacu pada RPJP nasional. Hal ini sangat penting artinya untuk menjaga agar
pelaksanaan pembangunan daerah dalam jangka panjang searah, terpadu, dan
saling mendukung dengan pelaksanaan pembangunan nasional. Dalam rangka ini
Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2007 tentang RPJP Nasional telah
mengamanatkan bahwa periode RPJP Nasional harus sama dengan periode RPJP
Daerah yaitu 2005-2025, walaupun waktu penyusunan RPJP daerah tergantung
dari pelaksanaan PILKADA daerah bersangkutan. Di samping itu, Peraturan
Pemerintah No. 40 Tahun 2006 dan No. 08 Tahun 2008 juga memberikan acuan
yang lebih rinci tentang tata cara dan sistematika penyusunan dokumen
perencanaan baik untuk tingkat nasional maupun tingkat daerah.

Keterkaitan selanjutnya yang perlu diupayakan adalah antara RPJM Nasional


dengan RPJM Daerah. Mengingat pembangunan daerah adalah bagian integral
dari pembangunan nasional, maka keterkaitan antara RPJM daerah dengan RPJM
nasional merupakan keharusan untuk mewujudkan keterpaduan dan sinergi
pembangunan. RPJM dan Renstra adalah dokumen perencanaan jangka menengah
untuk periode 5 tahun, Agar perencanaan pembangunan menjadi lebih
operasional, maka rencana jangka menengah ini perlu dijabarkan lebih lanjut
menjadi rencana tahunan (Annual Planning). Mengikuti terminolgi dan istilah
teknis resmi yang ditetapkan dalam SPPN 2004, rencana tahunan pada tingkat
nasional dinamakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun oleh
pemerintah pusat. Sedangkan pada tingkat daerah rencana tahunan tersebut
disebut sebagai Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Hubungan Renstra
KL dengan RKP dan Renstra SKPD dan RKPD adalah bersifat mengikat yaitu
penyusunan rencana tahunan harus berpedoman pada rencana lima tahunan.
Sedangkan hubungan antara Renstra KL dan Renstra SKPD adalah bersifat
konsultatif yaitu penyusunan Renstra SKPD harus memperhatikan Renstra KL.

46
Sesuai dengan SPPN 2004, RKPD merupakan dasar untuk penyusunan
Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD). Karena itu penyusunan
RKPD tersebut perlu dilakukan secara lebih rinci dengan tekanan utama pada
penetapan program dan kegiatan prioritas tahun bersangkutan. Di samping itu,
untuk memudahkan penyusunan RAPBD, program dan kegiatan dalam RKPD
harus pula mencakup indikator dan target kinerja serta perkiraan kebutuhan dana
untuk mendukung pelaksanaan masing-masing program dan kegiatan tersebut.

E. Mekanisme Penyusunan Rencana Pembangunan

Mekanisme perencanaan menyangkut dengan prosedur pelaksanan instansi


terlibat, jadwal pelaksanaannya dan pejabat yang berwen menetapkan dokumen
perencanaan. Mekanisme ini diperlukan sebagai pedoman bagi aparat perencanaan
dalam melaksanakan penyusunan dokumen berikut penetapannya. Mekanisme
perencanaan yang dilakukan pada tingkat nasional pada dasarnya adalah sama
dengan tingkat daerah dan perbedaan, hanyalah pada lembaga yang terlibat pada
setiap tahapan perencanaan.

Menteri perencanaan pembangunan nasional yang dibantu oleh Bappem,


menyiapkan rancangan (konsep awal) RPJP nasional, sedangkan Kepah Bappeda
menyiapkan rancangan RPJP untuk daerahnya masing-masing Rancangan RPJP
nasional dan RPJP daerah tersebut kemudian dijadika bahan utama bagi
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) jangh panjang. Dalam
Musrenbang ini diikutsertakan pemuka dan tokoh masyarakat pemuka adat, cerdik
pandai, LSM, dan lain-lainnya dalam rangka menyerap asPirasi masyarakat guna
memberikan masukan dalam penyusunan dokume!1 perencanaan.

F. Perencanaan dan Penganggaran

Dalam rangka mewujudkan keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran,


Undang-Undang N omor 25 Tahun 2004 juga telah melakukan perubahan yang
cukup penting. Perubahan tersebut menyangkut dengan penyusunan anggaran
yang dewasa ini didasarkan pada rencana tahunan. Sebelumnya, untuk tingkat
nasional anggaran didasarkan pada Program Perencanaan Pembangunan Nasional

47
(PROPENAS). Sedangkan untuk tingkat daerah, penyusunan anggaran tersebut
dilakukan berdasarkan Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) atau Rencana
Strategis Daerah (Renstrada) yang disusun sekali dalam 5 tahun. Karena rencana
pembangunan adalah untuk 5 tahun, maka sifatnya menjadi lebih umum,
sedangkan anggaran yang bersifat tahunan memerlukan program dan kegiatan
yang lebih rinci. Akibatnya penyusunan anggaran mengalami kesulitan dan
cenderung tidak sinkron dengan perencanaan yang telah disusun.

G. Pengendalian (Monitoring) dan Evaluasi

SPPN 2004 mengamanatkan pula bahwa tahapan perencanaan pembangunan


meliputi empat hal, yaitu: (a) penyusunan rencana, (b) penetapan rencana,
pengendalian (monitoring) pelaksanaan rencana, dan (d) evaluasi pelaksanaan
rencana. Dengan demikian, terlihat bahwa tugas badan perencana pembangunan
bukan hanya meliputi kegiatan penyusunan dan penetapan rencana saja, tetapi
juga sampai pada kegiatan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana
tersebut.

Pengendalian atau pemantauan dilakukan pada waktu program dan kegiatan


sedang dilaksanakan. Kegiatan pengendalian ini dilakukan untuk memastikan
kesesuaian antara pelaksanaan program dan proyek dengan apa yang direncanakan
sebelumnya. Unsur-unsur pengendalian yang dilakukan adalah dari segi
kesesuaian fisik dan kualitas kerja, realisasi penggunaan dana maupun waktu yang
digunakan untuk pelaksanaan program dan kegiatan. Sedangkan Evaluasi
dilakukan setelah program dan kegiatan selesai dilaksanakan. Beberapa tahun
kemudian dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah pelaksanaan
pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran dari perencanaan.

Pada tingkat pusat, pengendalian dan pemantauan pelaksanaan rencana dilakukan


oleh menteri dan kepala lembaga sedangkan pada tingkat daerah dilakukan oleh
Gubernur, Bupati, dan Walikota. Menteri dan Kepala Lembaga melakukan
pengendalian terhadap pelaksanaan program dan kegiatan yang tertera dalam
Renja-KL. Gubernur melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap program

48
dan proyek dengan dana dekonsentrasi dan pembantuan. Sedangkan Bupati dan
Walikota melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap program dan proyek yang
menggunakan dana desentralisasi (APBD). Pemantauan tersebut dilakukan
terhadap perkembangan realisasi penyerapan dana, realisasi pencapaian target
keluaran dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program dan kegiatan.
Hasil pemantauan tersebut disusun dalam bentuk laporan triwulan.

H. Perencanaan Pembangunan Nasional Versus Daerah

Dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sebagaimana diamanatkan


dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, sesuai dengan apa yang dilakukan
pada tingkat nasional, setiap daerah juga diwajibkan menyusun seperangkat
dokumen perencanaan daerah yang meliputi RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD,
RKPD, dan Renja SKPD. Di samping itu, mekanisme penyusunan dokumen
perencanaan tersebut pada tingkat daerah juga sama dengan apa yang dilakukan
pada tingkat nasional. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa hal ini
diperlukan dan apa perbedaan prinsipil yang mengharuskan masing-masing
daerah untuk menyusun sendiri dokumen perencanaannya sebagai pasangan dari
dokumen perencanaan pada tingkat nasional.

Secara umum ada empat hal pokok yang menjadi dasar Pertimbanganutama yang
menyebabkan perlunya masing-masing daerah men dokumen perencanaannya
sendiri. Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Struktur pembangunan daerah berbeda dengan struktur Pembangunan


nasional;
2. Pada pembangunan daerah terdapat interaksi yang erat dengan daerah
lainnya baik dalam bentuk perdagangan, perpindahan penduduk, dan
mobilitas modal;
3. Struktur dan komponen keuangan daerah berbeda dengan keuangan
nasional;

49
4. Ruang lingkup kewenangan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan
pembangunan daerah berbeda dengan lingkup kewenangan pemerintah
pusat.

BAB 6

Perencanaan Pembangunan Dalam Era Otonomi


Pengertian otonomi menyangkut dengan dua hal pokok yaitu :
kewenangan untuk membuat hukum sendiri dan kebebasan untuk mengatur
pemerintahan sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, maka otonomi daerah
pada hakikatnya adalah hak atau wewenang untuk mengurus rumah tangga sendiri
bagi suatu daerah otonom (Sarundajang, 2000). Hak atau wewenang tersebut
meliputi pengaturan pemerintahan dan pengelolaan pembangunan yang
diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah

Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga


sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara
memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung
jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber
potensi yang ada di daerahnya masing-masing.

Sedangkan yang di maksud Otonomi Daerah adalah wewenang untuk


mengatur dan mengurus rumah tangga daerah, yang melekat pada Negara
kesatuan maupun pada Negara federasi. Di Negara kesatuan otonomi daerah lebih
terbatas dari pada di Negara yang berbentuk federasi. Kewenangan mengantar dan
mengurus rumah tangga daerah di Negara kesatuan meliputi segenap kewenangan
pemerintahan kecuali beberapa urusan yang dipegang oleh Pemerintah Pusat
seperti :

1. Hubunganluarnegeri
2. Pengadilan

50
3. Moneterdankeuangan
4. Pertahanandankeamanan
Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga
sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara
memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung
jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber
potensi yang ada di daerahnya masing-masing.

1. Desentralisasi Pembangunan
Didalam pendelegasian kewenangan dalam pengelolaan pembangunan,
Simanjuntak(1999) mengidentifikasi tiga unsur penting dalam konsep otonomi
daerah. Pertama adanya dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) yang
berwenang menentukan pelayanan jasa apa saja yang harus disediakan oleh
Pemerintah Daerah yang bersangkutan dan pengeluaran dana untuk itu. Kedua,
adanya kebebasan dan keleluasaan pemerintah daerah untuk menetapkan bentuk
organisasi pemerintahan yang diperlukan dan merekrut sendiri pegawai sesuai
kebutuhan daerahnya. Ketiga, adanya sumber sumber pendapatan yang dikuasai
oleh Pemerintah daerah, tetapi ini tidak berarti bahwa daerah tidak memerlukan
subsidi dari pemerintah pusat untuk menggerakkan kegiatan pembangunan di
desanya

2. DesentralisasiFiskal
Undang undang No 32 tahun 2004 melakukan desentralisasi fiscal dimana
pemerintah daerah diberikan wewenang pengelolaan pengeluaran keuangan yang
lebih besar sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah. Desentralisasi fiskal
tersebut mencakup pemberian wewenang yang lebih besar kepada daerah dalam
mengelola pengeluaran dan pemasukan pemerintah sesuai dengan ketentuan
berlaku. Sesuai dengan pedoman operasional, pemerintah daerah mengeluarkan
pula 5 buah PP baru pada akhir tahun 2000 yang lalu. Dengan dilakukannya
desentralisasi fiskal tersebut diharapkan pemanfaatan dana pemerintah akan

51
menjadi lebih terarah dan efisien dengan memperhatikan kebutuhan masing
masing daerah

A. ReorientasiPerencanaan Pembangunan Daerah


Tidak dapat dielakkan, pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi
fiskal selanjutnya akan memengaruhi pula orientasi perencanaan pembangunan
daerah. Perubahan orientasi perencanaan tersebut meliputi arah, system, kegiatan
maupun peranan kelembagaan perencanaan daerah

1. SistemPerencanaan Pembangunan Daerah


Karena dalam era otonomi, campur tangan pemerintah pusat menjadi
semakin berkurang dan daerah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk
mengelola pembangunan didaerahnya masing masing, maka system perencanaan
pembangunan daerah yang semula lebih bersifat sektoral kemudian berubah
menjadi bersifat regional

Pada otonomi daerah dalam kerangka NKRI ini, kewenangan tidak


diberikan secara keseluruhan kepada daerah, tetapi dibagi antara pemerintah pusat
dan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten dan kota. Daerah
kabupaten atau kota diberikan kewenangan yang lebih besar yaitu selain
kewenangan pusat dan provinsi , ini berarti bahwa otonomi daerah sebenarnya
menitikberatkan pada kabupaten dan kota dalam rangka lebih mendekatkan
pemerintahan dengan rakyat yang dipimpinnya

2. PenerapanKonsep Wilayah Pembangunan


Dalam era otonomi daerah, penerapan konsep perencanaan wilayah
semakin intensif dilakukan, seyogyanya penggunaan konsep wilayah
pembangunan akan semakin diperlukan. Dalam PROPEDA Provinsi Sumatera

52
Barat 2001-2005 di tetapkan 7 wilayah pembangunan dengan memperhatikan
lebih banyak struktur dan fungsi wilayah serta potensi social ekonomi wilayah
yang bersangkutan. Dalam hal ini pengelompokan wilayah pembangunan
didasarkan pada dua kriteria utama yaitu : a. kesamaan kondisi social ekonomi
wilayah, b. keterkaitan social ekonomi antar daerah dalam wilayah yang
bersangkutan. Dengan adanya perubahan tersebut diharapkan penetapan wilayah
pembangunan akan menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan penyusunan
perencanaan wilayah.

3. Penetapan Program danKegiatan Pembangunan Daerah


Proses penetapan program dan kegiatan pembangunan daerah yang akan
dibiayai dan dilaksanakan pada setiap tahun anggaran dilakukan penilaian dan
penyeleksiannya melalui Rapat Koordinasi Pembangunan (RAKORBANG) yang
dimulai dari tingkat pemerintahan paling bawah yaitu desa. Pada RAKORBANG
ini dibahas usulan proyek baik dari dinas dan instan maupun dari masing masing
daerah. BAPPEDA melakukan penilaian dan seleksi terhadap usulan proyek
tersebut dengan memperhatikan kesesuaian dengan arah dan prioritas
pembangunan sebagaimana tertera dalam rencana tahunan yang telah disusun
semula

4. Peranan BAPPEDA
Kenyataan umum yang terjadi adalah bahwa jumlah dan kualitas tenaga
perencanaan yang ada di BAPPEDA ternyata masih sangat kurang dibandingkan
kebutuhan. Hal ini terutama sangat dirasakan pada BAPPEDA pada tingkat
kabupaten atau kota. Karena itu, terobosan yang cukup penting perlu dilakukan
untuk meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga perencana pada semua
BAPPEDA yang ada didaerah.Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN 2004) pada dasarnya
dikeluarkan pemerintah untuk memperbaiki berbagai kelemahan perencanaan
pembangunan yang dirasakan di masa lalu

1.KeterpaduandanSinergi Pembangunan

53
Tujuan utama SPPN 2004 adalah untuk meningkatkan kembali koordinasi
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Koordinasi tsb baik antara
perencanan nasional dan daerah, antar masing masing daerah serta masing masing
instansi pemerintah yang terkait. Koordinasi pembangunan jangka panjang
nasional dilakukan melalui penyusunan Rencana Pembangunan jangka panjang
Nasional untuk periode 20 tahun RPJP Nasional ini diberikan visi, misi, dan arah
pembangunan secara nasional yang merupakan penjabaran dari tujuan
terbentuknya pemerintahan negara Indonesia yang tercantum dalam UUD 1945.

Pada tingkat daerah, baik provinsi, kabupaten dan kota, SPPN 2004 juga
melakukan keterkaitan yang sama antar perencanaan guna mewujudkan
keterpaduan dan sinergi dalam proses pembangunan. Setelah gambaran umum
tentang dokumen perencanaan pada tingkat nasional diperoleh, maka masing
masing daerah, baik provinsi, kabupaten dan kota diwajibkan pula untuk
menyusun beberapa dokumen perencanaan pembangunan daerah berikutnya.

Dengan mempedomani rancanagan RPJPD yang telah selesai disusun,


pemerintah daerah diwajibkan pula menyusun RPJM Daerah (RPJMD) yang
berisikan arah dan strategi kebijakan pembangunan daerah dan program satuaj
kerja perangkat daerah (SKPD), bak yang bersifat lintas sektoral maupun lintas
wilayah. Termasuk dalam RPJMD ini adalah rencana kerja dan kerangka regulasi
dan pendanaan yang bersifat indikatif. Agar perencanaan menjadi lebih konkret,
maka target-target yang ditetapkan perlu diusahakan dalam bentuk kuantitatif,
walaupun disadari hal ini tidak dapat dilakukan untuk semua sektor. Target yang
bersifat kuantitatif tersebut nantinya juga akan sangat diperlukan pada waktu
melakkan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pelaksanaan program.

Rancangan RPJMD yang telah selesai dibuat tersebut,selanjutnya


dijadikan sebagai dasar untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD) yang merupakan rencana tahunan (Annual Planning) bersifat
operasional. RKPD pada dasarnya merupakan jabaran lebih konkret dari RPJMD
yang berisikan rencana kerja pembangunan daerah, prioritas, dan program

54
pembangunan daerah, berikut pendanaannya, baik yang dilaksanakan secara
langsung maupun tidak langsung oleh pemerintah daerah untuk tahun yang
bersangkutan.

1. Perencanaan Wilayah danPerencanaanInstitusi


Beberapa tahun yang lalu, para ahli perencanaan maupun ilmuwan
dibingungkan dnegan keluarnya dua buah instruksi dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah untk menyusun perencanaan jangka menengah bagi daerahnya
masing-masing. Meneteri perencanaan pembangunan nasional sebagai otoritas
perencanaan mengisntruksikan pemerintah daerah untuk menyusun Program
Pembangunan Daerah (PROPEDA) sebgai pasangan dari program Perencanaan
Pembangunan Nasional (PROPENAS). Sedangkan meneteri dalam negeri
mengeluarkan pula instruksi kepada pemerintah daerah untuk menyusun rencana
strategis daerah. Karena kedua instruksi ini datang dari pemerintah pusat, maka
pemerintah daerah tidka mau mengambil resiko sehingga dalam praktiknya kedua
dokumen perencanaan ini disusun oleh semua pemerintah daerah baik pada
tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Namnun demikian, pada waktu itu,
sebenarnya tidak terlalu elas apa perbedaan prinsip antara kedua dokumen
perencanaan jangka menengah tersebut.

Dalam praktik di daerah kelihatanyya RENSTRADA lebih banyak


diperlihatkan oleh pemerintah daeraj karena dapartemen dalam negeri mengaitkan
dokumen perencanaan ini dengan pertanggungjawaban kepada daerah. Karena itu
dalam penusunan APBD, RENSTRADA ini lebih banyak dijadikan sebagai dasar,
sedangkan PROPEDA tidak terlalu banyak diperhatikan sehingga hanya tinggal
dalam lemari saja. Sebenarnya bila diperhatikan secara seksama, kedua dokumen
tersebut mempunyai sifat yan berbeda dan saling mendukung satu sama lainnya.

Program pembangunan Daerah (PROPEDA) yang sekarang bertukar nama


menjadi RPJM adalah merupakan dokumen perencanaan yang mencakup satu
kesatuan wilayah tertentu baik secara nasioanal maupun pada tingkat daerah.
Dalam satu wilayah biasanya terdapat berbagai institusi baik yang tergabung

55
dalam unsur pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Karena itu, RPJM
mencakup tidak hanya kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh berbagai
instansi saja, baik puusat maupun daerah, tetapi juga yang dilakukan oleh pihak
swasta maupun kelompok masyarakat lainnya. Karena itu, dalam mengelola
kegiatan pembangunan, seharusnya pemerintah pusat maupun daerah lebih
banyak memperhatikan RPJM masing-masing yang mencakup kegiatan
pembangunan secara keseluruhan. Sedangkan RENSTRA merupakan jabaran
lebih konkret dari RPJM untuk institusi tertentu. Di samping itiu, RENSTRA
dpaat juga berfungsi sebagai masukan dari dinasdan institusi untuk penyusunan
RPJM yang sudah akan menjadi final melalui MUSRENBANG.

2. KoordinasidanPenyerapanPartisipasiMasyarakat
Sesuai dengan amanat SPN 2004, Musyawarah Rencana Pembangunan
(MUSRENBANG) mempunyai dua fungsi utama. Pertama, sebagai alat untuk
melakukan kordinasi penyusunan perencanaan pembangunan antar berbagai
pelaku kegiatan pembangunan. Tujuan koordinasi ini jelas adalah untuk dapat
mewujudkan kegiatan pembangunan yang terpadu dan saling mennjang satu sama
lainnya sehingga proses pembangunan akan menjadi lebih efisien dan efektif.
Kedua, sebagai alat untuk menyerap partisipasi masyarakat dalam penyusunan
perencanaan dengan mengikutsertakan berbagai tokoh masyarakat, cerdik panadi,
alim ulama, dan pemuka adat. Tujuan utama dalam hal ini adalahagar perencanaan
yang disusun dpaat disesuaikan dengan aspirasi masyarakat umum sehingga
dukungan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan akan dapat dioptimalkan.
Ini berarti bahwa MUSRENBANG juga berfungsi sebagai alat untuk dapat
mewujudkan sistem perencanaan partisipatif (Participatory Planning) yang
merupakan salah satu bentuk dari penerapan prinspin demokrasi dlaam
pelaksanaan pembangunan.

Di masa lalu, kegiatan MUSRENBANG dilakukan dalam bentuk Rapat


Koordinasi Pembangunan (RAKORBANG). Sasaran utama RAKORBANG ini
adalah untuk menkooordinasikan program dan kegiatan pembangunan yang
diusilkan oleh dinas dan onstansi untuk tahun yang bersangkutan. Akan tetapi,

56
kelemahan yang terjadi di daerah selama ini adalah bahwa sebelum melakukan
RAKORBANG, BAPEDA belum menyusun Rencana Tahunan yang merupakan
jabaran lebih konkret dari RAKORBANG atau RENSTRA yang seharusnya
menjadi acuan utama dalam menyaring program dan proyek yang diajukan oleh
dinasi dan instansi. Akibatnya RAKORBANG yang dilakukan di masa lalu lebih
banyak bersifat mengumpulkan program dan proyek yang diusulkan oleh dinas
dan instansi tanpa melakukan koordinasi dan sinkronisasi secara konkret dalam
rangka memudahkan pencapaian sasaran pembangunan nantinya dalam
pelaksanaan.

Kelemahan ini diperbaiki secara sistematis dengan keluarnya SPPN 2004,


disini MUSRENBNAG yang ditetapkan sebagai RAKORBANG dilakukan secara
komprehensif, tidak hanya dlaam rangka koordinasi program dan kegiatan
pembangunan yang akan dilakukan pada setiap tahun, tetapi juga dilakukan untuk
semua tingkat erencanaan, baik RPJDP, RPJMD, dan RKPD. Hal ini dilakukan
agar koordinasi dan sinkronisasi dpaat dilakukan secara meyeluruh dan terpadu,
baik secara sektoral maupun menurut tingkat pemerintah. Dengan demikian,
kelemahan otonomi daerah yang mendorong terjadinya “Ego Daerah” dalam
kegiatan pembangunan akan dapat dikurangi, kalau tidak dapat dihapuskan sama
sekali.

3. PerencanaanTahunan
Keluhan umum yag selama ini terdengar dari kalangan birokrat khususnya
dan masyarakat pada umumnya adala bahwa perencanaan yang telah dibuat oleh
Badan Perencanaan pada umumnya kurang operasional sehingga sukar dapat
dilaksanakan dengan baik dalam praktik. Akibatnya, apa yang sudah direncanakan
belum tentu dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Di samping itu, terdengar
pula kekecewaan bahwa sering kali perencanaan yang dibuat sudah tidaks esuai
lagi dengan perkembangan situasi dan kondisi sosial ekonomi yang terdapat pada
pelaksanaan kegiatan. Ha ini terjadi karena situasi dan kondisi sosial ekonomi
dewasa ini sering berubah dnegan cepat sesuai dengan dinamika yang terjadi
dalam masyarakat. Kedua permasalahan ini adalah snagat penting dan mendasar

57
sehingga perlu dipecahkan segera, karena kalau tidak, maka kegiatan
pembangunan yang dilaksanakan tidak akan dapat memecahkan masalah rill yang
dialami oleh masyarakat, dan hal ini tentunya tidak diinginkan.

Dengan adanya perencanaan tahunan tersebut akan dpat dilihat secara


lebih lengkap sejumlah program dan kegiatan pembangunan yang akan dilakukan
pada tahun yang bersangkutan berikut dapartemen dan lembaga atau dinas dan
instansi yang akan melaksanakannya. Di samping itu, pada rencana tahunan yang
baik dan biasanya tercaantum pula dengan tegas apa indikator kerja dari masing-
masing program dan kegiatan yang direncanakan. Hal ini diperlukan agar
penyusunan anggaran berbasis kinerja (Performance Budget) dapat dilakukan dna
evaluasi pelaksanaan rencana pada periode atau tahun mendatang akan lebih
mudah dilakukan.

4. PerencanaandanPenganggaran
Literatur peencanaan pembangunan umumnya berpendapat bahwa rencana
pembangunan akan terjamin pelaksanaanyya dalam praktik bilamana terdapat
dukungan anggaran yang jeas dan cukup nilainya. Dengan kata lain, untuk
terlaksananya sebuah rencana perlu diwujudkan keterpaduan dalam sistem
Planning, programming, dan Budgeting System (PPBS). Bila antara perencanaan,
penetapan program pembangunan dan penyusunan anggaran pembangunan tidak
terdapat konsistensi dan keterpaduan , maka apa yang direncanakan akan tidak
sama dengan apa yang dapat dilaksanakan di lapangan. Hal ini tentunya sangat
tidak diinginkan karena kegiatan pembangunan akan menjadi tidak terarah dan
tidak efisien dan hal ini jels tidak sesuai dengan keinginan masyarakat secara
umum.

Kenyataan dalam praktik selama ini menunjukkan bahwa penyusunan


anggaran masih kurang terpadu dan konsisten dengan dokumen perencanaan
pembangunan yang ada. Rencana anggaran pendapatan belanja yang sudah
disusun tidak sepenuhnya berdasrkan rencana pembangunan yang ada, tetapi lebih
banyak berasal dari keputusan yang diambil dalam RAKORBANG. Dangkan

58
keputusan RAKORBANG tersebut lebih banyak didasarkan pada usulan dinas
dan instansi yang sering kali kurang memperhatikan dokumen perencanaan yang
ada. Alasan yang diberikan pada umumnya dalah karena dokumen perencanaan
yang ada kurang operasional dan tidak memuat program proyek dalam jumlah
memadai, sehingga sulit untuk dijadikan dasar untuk penyusunan anggaran.

Untuk mengatasi kelemahan ini, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003


tentang keuangan negara mengamanatkan bahwa dalam proses penyusunan
Rencana Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) , pemeritah diwajibkan
menyusun Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Priorotas dan Plafond Anggaran
Sementara (PPAS) dan Rencana kerja (RKA). Penyusunan KUA dimaksudkan
untuk memilih dan menentukan prpogram dan kegiatan yang menjadi urusan
daerah sehingga dapat dibiayai dengan APBD daerah bersangkutan.

5. Kelemahan SPPN 2004


Namun demikian, SPPN sendiri sebenarnya juga tidak luput dari
kekurangan dan kelemahan. Kelemahan utama dari SPPN2004 ini adalah bahwa
sistem perencanaan pembangunan ini ternyata kurang mempertimbangkansecara
eksplisit aspek-aspek tata-ruang dan pembangunan wilayah dalam penyusunan
dokumen perencanaan pembangunan. Aspek perencanaan wilayah yang terdapat
di dalamnya hanyalah berkaitan dengan wilayah administratif seperti provinsi,
kabupaten, dan kota. Sedangkan pengertian wilayah dalam perencanaan
pembangunan sebenarnya lebih luas dari wilayah administratif tersebut.

Perencanaan wilayah diperlukan untuk dapat mewujudkan perencanaan


pembangunan yang terpadu fan bersinergi baik antar sektor maupun antar ilayah.
Untuk dapat mewujudkan keterpaduan pembangunan dengan aspek wilayah maka
upaya praktis yang dapat dilakukan adalah dengan jalan memadukan atau
mengintegrasikan antara dokumen perencanaan pembangunan seperti
RPJP,RPJM, dan RKPD dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang
umumnya telah terdapat di masing-masing daerah.

B. Komplikasi Otonomi Terhadap Perencanaan Pembangunan Daerah

59
Setelah sistem perencanaan pembangunan nasional sesuai Undang-undang
Nomor 25 tahun 2004 efektif dilaksanakan sejak tahun 2005 yang lalu, maulai
dirasakan adanya berbagai komplikasi dalam pelaksanaan perencanaan
pembangunan daerah yang disebabkan oleh pelaksanaan demokratisasi dan
otonomi daerah. Penerapan proses demokratisasi menyebabkan penyusunan
rencana pembangunan harus dilakukan dengan lebih memperhatikan keingnan dan
aspirasi masyarakat yang sering kali berbeda antara satu daerah dengan daerah
lainnya. Sedangkan penerapan otonomi daerah memberikan kewenangan lebih
besar kepada pemerintah daerah untuk menentukan arah dan kebijakan
pembangunan untuk daerahnya maisng-masing. Kedua hal ini menyebabkan
timbulnya variasi yang sangat besar dalam penyusunan perencanaan
pembangunan di masing-masing daerah. Sementara itu, penerapan sistem
pemilihan kepala Daerah (PILKADA) cenderung menyebabkan arah
pembangunan daerah menjadi sangat bervariasi sesuai dengan visi dan misi kepala
daerah terpilih. Kesemuaannya ini menyebabkan koordinasi dan konsistensi
dalam penyusunan perencanaan pembangunan daerah secara nasional menjadi
sangat sulit dilakukan.

1. KonsistensiVisidanMisi Pembangunan Daerah


2. KetidaksinkronanJadwalWaktuPerencanaan
3. InkonsistensiAntarDokumenPerencanaan

BAB 7
Perencanaan dan Pelaksanaan
Buruknya sebuah perencanaan pembangunan sangat ditentukan oleh
seberapa jauh perencanaan tersebut dapat dilaksanakan dalam praktik. Suatu
perencanaan pembangunan dikatakan baik dan berkulitas bilamana rencana yang
telah disusun tersebut dapat terlaksana dan berjalan dengan baik walaupun secara
teknis dan akdemik tidak terlalu istimew. Sedangkan suatu perencanaan dikatakan

60
kurang baik bahkan buruk bilamana rencana tersebut tidak dapat dilaksanakan
dalam praktik, walaupun secara teknis dan akademis sangat menonjol.
Kenyataan dalam sejarah menunjukkan bahwa Indonesia sudah sejak lama
menerapkan sistem perencanaan pembangunan, yaitu mulai tahun 1957 yang lalu
ketika pemerintah Indonesia meresmikan penerapan dari sistem Perencanaan
Pembangunan dalam mendorong proses pembangunan nasional. Kemudian secara
lebih intensif dan berkelanjutan sistem perencanaan pembangunan ini juga
diterapkan dalam masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soehato
sejak tahun 1969 ketika pelaksanaan RmanaPembangunan Lima Tahun
(REPELITA) yang berjalan selama 30 tahum Akan tetapi, kenyataan
menunjukkan bahwa pembangunan Indonesia. baik Secara nasional maupun
daerah masih tetap saja ketinggalan dibandingkan dengan negara tetangga yang
sama misalnya Malaysia.

A. Persyaratan untuk Terjaminnya Pelaksanaan Rencana

Untuk dapat lebih terjaminnya pelaksanaan suatu perencanaan


pembangunan diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan
tersebut antara lain adalah: (a) Perencanaan harus berorientasi pada pelaksanaan
dan tidak “window dressing”; (b) Perencanaan tersebut harus dapat selalu
disesuaikan dengan perubahan kondisi sosial ekonomi; (c) Menjaga keterkaitan
antara perencanaan dan penganggaran; (d) Mengembangkan kapasitas dan
kualitas tenaga perencana; dan (e) Melakukan optimalisasi peran serta
masyarakat. Berikut ini diberikan uraian lebih lanjut dari ketiga aspek tersebut.
1. Perencanaan Harus Berorientasi Pada Pelaksanaan
Untuk dapat mewujudkan perencanaan pembangunan yang berorientasi
pada pelaksanaan, maka hal pertama yang perlu diusahakan antara lain adalah
perlunya dukungan elite politik yang terdapat di daerah bersangkutan. Elite politik
tersebut meliputi pimpinan daerah, pimpinan dinas dan instansi, serta anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Alasannya jelas karena para
elite politik inilah yang mengambil keputusan tantang kebijakan. program dan

61
kegiatan pembangunan pada daerah bersangkutan. Dengan demikian, bila para
elite politik ini mempunyai komitmen yang 'kuat, maka pelaksanaan perencanaan
pembangunan akan dapat terjamin dan demikian pula sebaliknya bilamana
komitmen elite politik tersebut sangat rendah atau tidak ada sama sekali.

2. Perlu Adanya Stabilitas Politik


Terdapatnya stabilitas politik, baik pada tingkat nasional maupun daerah:
merupakan unsur lain yang diperlukan untuk dapat terjaminnya pelaksana suatu
perencanaan pembangunan. Misalnya bila tiba-tiba terjadi petukaran
pemerintahan atau kepala daerah sebelum periode perencanaan berakhir, maka hal
ini dapat mengancam kelanjutan pelaksanaan perencanaan tersebut, Kondisi ini
dapat terjadi karena besar kemungkinan elite pemerintahan dan kepala daerah
baru mempunyai pandangan lain dalam perencanaan Pembangunan daerah
bersangkutan. Hal yang demikian juga dapat terjadi bilamana terjadi huru hara
besar dan bahkan peperangan yang dapat menyebabkan terhentinya kegiatan
pembangunan pada daerah bersangkutan.

3. Perencanaan ltu Sendiri Harus Layak Secara Teknis


Tidak dapat disangkal bahwa dokumen perencanaan pembangunan yang
diperkirakan akan dapat terjamin pelaksanaannya di lapangan adalah perencanaan
yang secara teknis layak dan operasional. Ini berarti bahwa perencanaan yang
akan dapat dilaksanakan dalam praktik adalah perencanaan yang sasaran dan
targetnya tidak muluk-muluk dan sesuai dengan kondisi dan kemampuan
keuangan dan sumber daya daerah bersangkutan dan sejalan dengan aspirasi
masyarakat setempat secara keseluruhan.
Kelayakan teknis pertama yang perlu diperhatikan adalah menyangkut
dengan data-data yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rencana
tersebut. Bila data-data yang digunakan tidak cukup akurat, maka besar
kemungkinan perencanaan yang disusun juga menjadi salah sehingga tidak
mungkin dapat dilaksanakan. Dalam hal ini, perencana harus selalu hati-hati
dalam menggunakan data, walaupun berasal dari instansi resmi seperti Badan

62
Pusat Statistik (BPS) atau laporan dan informasi dari dinas dan instansi
pemerintah. Kemampuan perencana dalam menilai kebenaran data akan turut pula
menentukan kelayakan teknis perencanaan bersangkutan.
Kelayakan teknis lainnya yang juga perlu diperhatikan adalah menyangkut
dengan kualitas tenaga perencana yang menyusun dokumen perencanaan tersebuti
Suatu dokumen perencanaan pembangunan akan terjamin kelayakannya bilamana
disusun oleh tenaga-tenaga perencana yang berkualitas, profesional” dan sudah
mempunyai pengalaman yang cukup. Kenyataan menunjukkan bahwa tenaga
perencana yang demikian masih Sangat terbatas pada badan perencana di daerah,
khususnya kabupaten dan km Karena itu, secara bertahap Bappeda perlu
memperbanyak aparatur yang berstatus sebagai Jabatan Fungsional Perencana
(JFP).
4. Kemampuan Administrasi Daerah Bersangkutan
Kesuksesan pelaksanaan suatu perencanaan pembangunan akan sangat
ditentukan pula oleh kemampuan administrasi yang terdapat pada daerah
bersangkutan. Bila kemampuan administrasi daerah ternyata cukup baik, maka
besar kemungkinan perencanaan pembangunan akan terjamin pelaksanaannya dan
demikian pula sebaliknya bila kemampuan administrasi daerah tersebut ternyata
sangat lemah. Sebegitu jauh kenyataan di masyarakat menunjukkan bahwa
kemampuan administrasi yang dimiliki oleh daerahdaerah di Indonesia pada
umumnya masih relatif lemah.
Kemampuan administrasi daerah tersebut ditentukan oleh berbagai faktor.
Pertama, kualitas aparatur yang melaksanakan administrasi tersebut baik tingkat
pendidikan dan pengalaman serta termasuk moral yang dimiliki. Kedua,
kepatuhan terhadap hukum dan ketentuan yang berlaku di bidang administrasi dan
kepegawaian. Ketiga, ketersediaan prasarana seperti gedung clan kantor dan
sarana seperti peralatan serta teknologi informasi yang dumhki oleh kantor
tersebut. Keempat, keseriusan dan komitmen yang tinggi dan punpinan daerah
yang akan mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan administrasi gembangunan
tersebut.
5. Melakukan Penyesuaian Rencana (Planning Adjustment)

63
Persyaratan selanjutnya yang diperlukan untuk dapat menjamin
pelaksanaan dari rencana tersebut adalah bahwa perencanaan tersebut harus selalu
dapat disesuaikan dengan perubahan situasi dan kondisi daerah bersangkutan. Hal
ini diperlukan mengingat kondisi sosial ekonomi dan politik daerah selalu
mengalami perubahan yang cukup drastis. Di samping itu, undang-undang dan
peraturan berlaku serta kebijakan nasional juga sering berubah yang otomatis
mempengaruhi kondisi daerah. Akibatnya perubahan tersebut, dokumen
perencanaan yang sudah disusun dan ditetapkan sebelumnya menjadi tidak sesuai
lagi dengan situasi dan kondisi daerah dewasa ini.Penyesuaian rencana tersebut
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui revisi perencanaan (Mid-term
Review) setelah menjalani suatu periode tertentu dan menyusun rencana tahunan
(Annual Plan) secara rutin setiap tahunnya.
6. Menjaga Konsistensi Perencanaan dan Penganggaran
Persyaratan penting lainnya yang perlu diupayakan guna menjamin
pelaksanaan suatu rencana adalah menjaga konsistensi antara penyusunan
anggaran dengan dokumen perencanaan yang sudah ada, terutama RKPD.
Sebagaimana telah disinggung pada bab terdahulu bahwa sesuai dengan ketentuan
dan perundangan berlaku, RKPD adalah dasar utama dalam penyusunan RAPBD.
Bila konsistensi ini dapat dijaga, maka pelaksanaan dari apa yang telah
direncanakan menjadi lebih terjamin karena pelaksanaan program dan kegiatan
pembangunan sangat tergantung pada ketersedian anggaran.
Untuk dapat menjaga konsistensi antara perencanaan dan penganggaran Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tersebut di atas juga mengamanatkan bahwa
anggaran pembangunan yang disusun oleh pemerintah pusat dan daerah haruslah
dalam bentuk Anggaran Kinerja (Performance Budget). Dalam hal ini besarnya
alokasi anggaran didasarkan pada target kinerja dari SKPD bersangkutan serta
program dan kegiatan yang akan dilakukan. Dengan cara demikian, pengalokasian
anggaran pembangunan daerah akan dapat menjadi lebih terarah dan efisien serta
dapat menjamin pelaksanaan program dan kegiatan yang telah direncanakan
semula oleh SKPB bersangkutan.
7. Optimalisasi Peran Serta Masyarakat

64
Optimalisasi peran serta masyarakat juga dapat berperan untuk lebih
menjamin terlaksananya perencanaan bersangkutan. Alasannya adalah karena
bilamana perencanaan tersebut dilakukan sesuai dengan aspirasi masyarakat
umum, maka kemungkinan protes dari masyarakat akan sangat kecil. Dalam hal
ini rasa memiliki masyarakat terhadap proyek-proyek pemerintah akan dengan
sendirinya muncul dan mereka akan cenderung mendukung pelaksanaan program
dan proyek-proyek pemerintah daerah Di samping itu, masyarakat juga akan
senang dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah sehingga mereka akan
cenderung tidak menghalangi pelaksanaan proyek-proyek pemerintah yang berada
di daerah tempat tinggalnya, Bila hal ini dapat diwujudkan, maka pelaksanaan
perencanaan pembangunan dalam masyarakat akan menjadi lebih terjamin.
8. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
perencanaan Pembangunan Nasional, tugas badan perencana bukanlah terbatas
hanya pada penyusunan dan penetapan dokumen perencanaan pembangunan saja,
tetapi juga mencakup kegiatan monitoring (pengendalian) dan evaluasi. Dalam
praktiknya kedua kegiatan ini sering kali disatukan yang lazim dikenal dengan
istilah Monitoring and Evaluation (MONEV). Kedua kegiatan ini sangat penting
dilakukan untuk dapat menjamin agar apa yang telah direncanakan semula akan
dapat dilaksanakan secara baik di lapangan, sesuai dengan apa yang diharapkan
masyarakat.
B. Kegagalan Teknis Perencanaan
Sebagaimana disinggung pada permulaan dari bab ini bahwa kegagalan
pelaksanaan rencana dapat terjadi karena dokumen perencanaan yang telah
disusun dan ditetapkan tersebut secara teknis sebenarnya kurang layak Akibatnya
pelaksanaan dari rencana pembangunan tersebut cenderung akan mengalami
berbagai kesulitan dan kendala di lapangan karena tidak sesuai dengan kondisi
dan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat daerah bersangkutan. Analisis
kegagalan rencana ini didasarkan pada pengalaman penyusunan rencana yang
terdapat di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya. Secara

65
umum terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kegagalan rencana
(Planning Failure) tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah
1. Dualisme Pola Penyusunan dan Penetapan Rencana
2. Arah Pembangunan Daerah Kurang Realistis
3. Kelemahan Teknis Penyusunan Rencana
4. Keterbatasan Data Statistik Tersedia
5. Kurang Terpadunya Perencanaan dan Penganggaran
6. Adanya Goncangan Perekonomian dan Bencana Alam
7.. Struktur Badan Perencana Pembangunan Daerah

C. Kegagalan Pelaksanaan Rencana


Akan tetapi, walaupun secara teknis, dokumen perencanaan yang disusun
sudah cukup layak, namun demikian pelaksanaannya dalam masyarakat masih
mungkin dapat mengalami kegagalan karena banyaknya kelemahan dan kendala
yang terdapat pada pemerintah tersebut sebagai aparat pelaksana dari perencanaan
pembangunan daerah tersebut. Dengan kata lain, hambatan yang terjadi dalam
pelaksanaan perencanaan tersebut adalah disebabkan oleh karena kegagalan
pemerintah daerah bersangkutan (Government Failures) dalam mengelola
kegiatan pembangunan di daerahnya masing-masing. Ada berbagai faktor yang
dapat menyebabkan terjadinya kegagalan pemerintah tersebut. kegagalan
pemerintah tersebut.
1. Kurangnya Dukungan Elite Politik Berkuasa
2. Kurang Sempurnanya Penyusunan Anggaran Kinerja
3. Kurang Optimalnya Pemanfaatan Partisipasi Masyarakat
4. Kebiasaan Melakukan KKN

BAB 8
Teknik Indikator Pembangunan Daerah
Suatu dokumen perencanaan pembangunan daerah yang baik adalah
bilamana bersifat konkret, jelas faktor penemunya dan terukur. Sifat yang
demikian sangat diperlukan supaya perencanaan pembangunan yang disusun

66
mempunyai indikator yang jelas, sasaran dan target yang konkret, kebijakan yang
tegas serta mudah dilaksanakan dalam praktiknya. Untuk keperluan ini,
diperlukan analisis data secara kuantitatif dengan menggunakan metode atau
teknik matematik dan statistik yang tidak harus terlalu tinggi dan rumit. tetapi
cukup yang sederhana saja dan mudah dimengerti oleh publik. Akan tetapi. bila
perencanaan hanya dilakukan secara kualitatif dan normatif saja. maka
perencanaan tersebut menjadi tidak konkret dan tidak terukur sehingga
penyusunan anggaran serta monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan
pelaksanaan rencana tersebut menjadi sulit dilakukan.
Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua
ukuran tersebut dapat dihitung dengan menggunakan data Statistik Yang tersedia,
karena keterbatasan data tersedia. Di samping itu, terdapat pula beberapa sektor
dan bidang yang memang sulit diukur dengan menggunakan data kuantitatif
seperti bidang sosial, agama, dan budaya. Untuk mengatasi hal tersebut,
pengukuran kondisi dan kemajuan pembangunan daerah dapat dilakukan meiaiui
penggunaan Indikator Pembangunan Daerah. Indikator pembangunan daerah ini
pada dasarnya merupakan indikasi atau tanda-tanda umum tentang kondisi dan
perkembangan dari sesuatu aspek pembangunan daerah. Indikator pembangunan
daerah tersebut terdiri dari Indikator Ekonomi daerah dan Indikator Kesejahteraan
Sosial.

A. Indikator Ekonomi Daerah


1. Struktur Ekonomi Daerah
Analisis tentang struktur ekonomi daerah diperlukan dalam penyusunan
perencanaan pembangunan daerah sebagai dasar untuk menentukan arah umum
pembangunan daerah. Bila struktur perekonomian suatu daerah didominasi oleh
kegiatan pertanian (agraris), maka arah pembangunan juga disesuaikan dengan
struktur perekonomian daerah tersebut. Demikian pula sebaliknya bilamana
struktur perekonomian suatu daerah sudah mulai didominasi oleh sektor industri
atau jasa, maka kebijakan pembangunan daerah juga harus difokuskan pada
kegiatan tersebut.

67
Di samping itu, analisis tentang struktur ekonomi daerah juga dapat
digunakan untuk mengetahui tingkat kemajuan pembangunan dengan melihat
pada kemajuan perubahan struktur ekonomi daerah bersangkutan. Suatu
perekonomian dikatakan sudah maju bilamana kontribusi sektor industri sudah
lebih tinggi dari sektor pertanian dan jasa, dan demikian pula sebaliknya Alasan
dari penggunaan analisis ini jelas karena sektor industri adalah merupakan
kegiatan ekonomi yang sudah maju dan menggunakan teknologi modern sehingga
tingkat produktivitas kerja juga menjadi lebih tinggi.
Pengukuran struktur ekonomi daerah dapat dilakukan secara sederhana
yaitu dengan menghitung kontribusi masing-masing sektor dalam nilai Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah bersangkutan berdasarkan harga
berlaku. Kontribusi sektoral dalam PDRB tersebut dengan mudah dapat dihitung
sebagai berikut:
Bahkan angka kontribusi sektoral ini umumnya sudah disediakan dalam
perhitungan PDRB atau dalam statistik Daerah Dalam Angka, sehingga bisa
langsung digunakan.
2. Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Indikator ekonomi daerah berikutnya yang lazim digunakan dalam
penyusunan rencana pembangunan daerah adalah menyangkut dengan
pertumbuhan ekonomi daerah. Aspek ini penting artinya mengingat pertumbuhan
ekonomi daerah merupakan salah satu unsur penting dalam proses pembangunan
daerah di samping aspek pemerataan dan stabilitas, Dengan kata lain, peningkatan
kegiatan pembangunan suatu daerah akan sukar diwujudkan tanpa adanya
pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup tinggi.
Pertumbuhan ekonomi daerah pada dasarnya adalah peningkatan kegiatan
produksi secara riil (tidak termasuk kenaikan harga), baik dalam bentuk barang
maupun jasa, dalam periode tertentu. Karena itu, pengukuran tingkat pertumbuhan
ekonomi daerah dapat dilakukan dengan menghitung peningkatan nilai PDRB
pada tahun tertentu ke tahun berikutnya. Untuk menghindarkan kenaikan harga
dalam perhitungan, maka data yang digunakan sebaiknya adalah PDRB dengan
harga konstan dan bukan dengan harga berlaku. Perhitungan tingkat pertumbuhan

68
ekonomi daerah dapat dilakukan dalam bentuk perkiraan laju pertumbuhan
ekonomi tahunan atau untuk periode waktu tertentu. Laju pertumbuhan ekonomi
tahunan tersebut dapat dihitung menggunakan formula sederhana, yaitu:

3 Tingkat Kemakmuran Ekonomi Daerah


Indikator ekonomi daerah berikutnya yang juga sangat penting dalam
proses pembangunan daerah adalah menyangkut dengan tingkat kemakmuran
ekonomi daerah. Tingkat kemakmuran ini sering kali pula disebut sebagai tingkat
kemakmuran kasar karena hanya memuat aspek ekonomi saja, sedangkan aspek
kemakmuran lainnya yang menyangkut bidang sosial belum termasuk di
dalamnya. Namun demikian, tingkat kemakmuran ekonomi tersebut dewasa ini
lazim dipakai sebagai ukuran kemakmuran masyarakat, baik pada tingkat nasional
maupun daerah.
Pengukuran tingkat kemakmuran ekonomi daerah yang lazim digunakan
adalah dalam bentuk nilai pendapatan perkaita yang dihitung dengan harga
berlaku. Nilai ini dengan mudah dapat diketahui dengan jalan membagi nilai
PDRB atas harga berlaku dengan jumlah penduduk daerah bersangkutan pada
Waktu (tahun) tertentu, yang dapat ditulis sebagai berikut:

Untuk dapat membandingkan tingkat kemakmuran daerah tersebut dengan daerah


di negera lain, pendapatan perkapita tersebut dapat pula dinilai dalam mata uang
yang berlaku umum di dunia internasional seperti mata uang dolar Amerika.
4. lncremental CapitaI-Output Ratio (ICOR)
Koefisien ICOR merupakan salah satu teknik yang populer dalam
penyusunan perencanaan pembangunan. Penggunaan ICOR ini mulamula muncul
dalam Model Harrod-Domar dalam Teori Ekonomi Makro yang membahas
tentang pertumbuhan ekonomi nasional yang diinginkan (Warranted rate of
Growth) serta menaksir kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mencapai
tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut. Kedua aspek ini sangat penting dalam

69
penyusunan dokumen perencanaan pembangunan nasional sehingga kemudian
ICOR ini juga menjadi populer di kalangan perencana pembangunan daerah.
Pengertian ICOR secara ringkas adalah suatu koefesien yang menunjukkan
tambahan (incremental) modal (capital) yang diperlukan untuk mencapai
peningkatan satu unit produksi (output) tertentu. Dengan demikian, secara
matematis formula ICOR dapat ditulis sebagai berikut:
Mengaitkan ICOR dengan investasi diperlukan karena data kapital sampai saat ini
masih belum tersedia dalam data statistik di Indonesia sehingga investasi
digunakan sebagai pengganti.
Namun demikian, investasi yang dilakukan pada satu tahun tidak selalu
dapat menghasilkan produksi secara langsung pada tahun bersangkutan, tetapi
sering kali baru terjadi pada tahun depan atau bahkan 2 tahun kemudian. Ini
berarti bahwa terdapat jarak jangka waktu (time lag) bagi investasi tersebut untuk
dapat menghasilkan output tertentu. Lamanya jangka waktu untuk dapat
menghasilkan produksi ini ditentukan oleh jenis investasi dan teknologi yang
digunakan dalam kegiatan produksi. Bila aspek jangka waktu ini
dipertimbangkan, maka rumus ICOR sedikit mengalami perubahan menjadi:
Dan defenisi dan formula ini timbul dua penafsiran yang berbeda di
kalangan para ahli tentang implikasi dari konsep ICOR tersebut terhadap proses
pertumbuhan ekonomi. Pendapat Pertama yang didasarkan pada Pari Kasliwal
(1995) yang melihat ICOR sebagai indikasi tingkat efisiensi penggunaan modal
dalam menghasilkan satu unit produksi. Pendapat ini didasarkan pada pemahaman
teori produksi dan fakta empiris yang didasarkannya pada angka perkiraan Bank
Dunia. Sebagaimana diungkapkan oleh Kasliwal dalam bukunya bahwa negara-
negara yang tergolong pertumbuhan tinggi (highgrowth) cenderung mempunyai
ICOR yang rendah. Sedangkan negara dengan tingkat pertumbuhan rendah
(lowgrowth) cenderung mempunyai ICOR tinggi.
B. Indikator Kesejahteraan Sosial
Indikator pembangunan daerah lainnya yangjuga tidak kalah
pentingnya dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan
daerah adalah Indikator Kesejahteraan Sosial. Indikator ini pada dasarnya

70
memberikan indikasi tentang peningkatan kesejahteraan sosial yang dapat
dicapai oleh suatu daerah dalam periode tertentu. Termasuk ke dalam
Indikator Kesejahteraan Sosial ini adalah Indeks Pembangunan Manusia
(Human Development Index, HDI), Koefisien Gini (Gini Ratio) yang
merupakan ukuran distribusi pendapatan (Income Distribution), T ingkat
Kemiskinan (Poverty Rate), dan Tingkat Pengangguran (Unemployment
Rate).

BAB 9

TEKNIK PERENCANAAN

REGIONAL

Dalam menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerahyang baik,


diperlukan beberapa teknik analisis khusus di bidangperencanaan regional.
Alasannya adalah bahwa teknik perencanaanyang biasanya dipakai dalam
penyusunan perencanaan pembangunan nasionalbanyak yang tidak sesuai dengan
kondisi dan struktur pembangunan daerahdi mana aspek ruang (space) dan
perbedaaan potensi pembangunan antarwilayah merupakan unsur sangat penting
Pengertian regional di sini adalahwilayah administratif dalam suatu negara
(subnation) yang meliputi provinsi,kabupaten, dan kota. Teknik analisis regional
menjadi penting karena jumlahprovinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia dewasa
ini mencapai lebih dari 500.

Bab ini membahas beberapa teknik analisis regional yang banyak


terpakaidalam penyusunan perencanaan pembangunan daerah. Dengan
menggunakanteknik perencanaan regional ini diharapkan penyusunan rencana
menjadilebih tepat dan terarah. Teknik analisis regional yang banyak terpakai
dalampenyusunan perencanaan pembangunan daerah antara lain adalah:
ProdukDomestik Regional Bruro(PDRB), Koefisien Lokasi (Location Quotient),

71
AnalisisShift-Share, Ketimpangan Pembangunan Regional (Regional Disparity),
KlassenTypology, dan Model Gravitasi.

A. Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada dasarnya merupakan data


daninformasi dasar tentang kegiatan ekonomi suatu daerah. Secara definitif,
PDRB tersebut pada dasarnya adalah jumlah nilai produksi barang dan jasa yang
dihasilkan pada suatu daerah pada periode tertenru. Dewasa ini, data
PDRBseluruh daerah provinsi. kabupaten, dan kota diini sudah tersedia
dihampirIndonesia yang dipublikasikan oleh BPS setempat seuap tahunnya.
Analisisdan perencanaan pembangunan yang menyangkut dengan
perekonomiandacrah, seperti struktur perekonomian daerah, pertumbuhan
ekonomi dantingkat kemakmuran dacrah, umumnya menggunakan PDRB ini
sebagai datadan informasi das ar.

Secara teoritis, aliran barang dan jasa baik dari segi input maupun
outputakan dapat dilihat melalui bagan alir (Circular Flow) antara perusahaan
(firms)sebagai unit produksi dan rumah tangga (households) sebagai unit
konsumsiSeperti terlihatmenuju firms melalui pasar input (input Market) untuk
menawar berbagai jenisfaktor produksi baik tanah (land), tenaga kerja (labor),
modal (capital) dan sifatkewirausahaan (enterpreneurship). Perusahaan kemudian
dapat memanfaatkanfaktor produksi tersebur untuk melakukan kegiatan produksi
sesuai dengankebutuhan pasar Setelah proses produksi selesai, kemudian barang
dan jasahasil produksi tersebut dikirim ke rumah tangga unruk dikonsumsi
melaluipasar output (Output Market) Di sini akan terlihat dua jenis aliran barang
danjasa, yairu dalam bentuk nilaiperusahaan dan nilai hasil produksi (output)
barang dan jasa dari perusahaanke rumah tangga. Oleh karena unsur harga
termasuk dalam perhitungan nilai tambahtersebur maka penyajian tabel PDRB
dapat dilakukan dalam dua bentukyaitu PDRB dengan harga berlaku dan PDRB
dengan harga konstan. PDRBdengan harga berlaku adalah bilamana nilai tambah
tersebut dihitung denganharga pada tahun bersangkutan.

72
B.Koefisien Lokasi

Dalam melakukan analisis terhadap kondisi umum daerah dan


perumusanstrategi permbangunan yang tepat dan terarah, pertanyaan pokok yang
selalumuncul adalah apa potensi pembangunan utama yang dimiliki oleh
daerahbersangkutan. Pertanyaan ini sangat penting artinya karena anali sis
kondisiumum daerah harus dapat memunculkan analisis tentang potensi
utamaekonomi daeralh secara sektoral dan kalau dapat sampai ke tingkat
komoditi.Dengan cara demikian, diharapkan perumusan strategi dan kebijakan
tersebutakan menjadi lebih rerarah dan tepat sesuai dengan potensi yang
dimilikioleh daerah bersangkutan.

C. Analisis Shift-Share

Metode Shift-Share adalah salah satu reknik analisis dalam 1lmuEkonomi


Regional yang bertujuan unruk mengetahui faktor-faktor utamayang
mempengaruhi dan menentukan pertumbuhan ekonomi pada suatudaerah Dalam
hal ini faktor yang mempengaruhi tersebut dapat berasal dari Luar daerah maupun
dari dalam daerah bersangkutan sendiri. Faktor luardaerah dapat berasal dari
perkembangan kegiatan ekonomi nasional maupuninternasional yang dapat
mempengaruhi karena terdapatnya hubunganekonomi yang cukup erat dengan
perekonomian nasional dan bahkan jugainternasional Sedangkan faktor yang
berasal dari dalam daerah biasanyatimbul dari struktur perekonomian daerah serta
potensi khusus yang dimilikidaerah bersangkutan (Sjafrizal, 2008 dan 2012)

Analisis Shift Share Analysis ini terdapat pada be berapa buku teksllmu
EkonomiRegional, antara lain adalah John P Blair (1991). Peningkatan
nilaitambah suatu daerah dapat diuraikan (decompose) atas tiga bagian
Bagianpertama pada sisi kiri persamaan tersebut adalah:

1. Regional Share ly, (Y/Y- 1 )] adalah merupakan komponen


pertumbuhanekonomi daerah yang disebabkan oleh dorongan faktor luar
yaitupeningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijaksanaan nasional

73
yang berlaku pada seluruh daerah, atau karenn dorongan pertumbekonomi dan
perdagangan dengan daerah tetangga.
2. Proportionality Shift (Mixed Ship) y ( -(/Vadalahkomponpertumbuhan
ekonomi dari dalam daerah sendiri yang disebabkan estrukrur ekonomi daerah
yang relatif baik, yaitu berspesialissektor-sektor yang secara nasional dapat
perrumbuhannya cepat sepeiSsektor industri.komponen pertumbuhan ekonomi
daerah karena kondisi spesifik daershyang bersifat kompetitif Unsur
pertumbuhan inilah yang merupakKeuntungan Kompetitif daerah yang dapat
mendorong pertumbekspor daerah bersangkutan.

Dalam model pertumbuhan ekonomi nasional, misal model Neo-Klasunsur


perrumbuhan yang dibahas biasanya adalah kontribusi tenaga kerjamodal dan
teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Sedangkan aspekpengaruh
perekonomian nasional, struktur pertumbuhan ekonomi daetahdan kekhususan
yang dimiliki oleh daerah tersebut tidak dapat dianalisisKarena itu, dalam
membahas pertumbuhan ekonomi pada tingkat daerah,diperkirakan akan lebih
sesuai denganpenggunaan model Shift Share inistruktur perekonomian daerah
pada umumnya dibandingkan dengan bilamenerapkan model yang biasanya untuk
perekonomian nasional, sebagaimanayang terdapat dalam Teori Ekonomi Makro,
pada perekonomian daerah.

D. Indeks Ketimpangan Ekonomi Regional

Kenyataan umum hampir di semua negara sedang berkembang,


termasukIndonesia, menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi antar wilayah
adalahcukup besar Hal ini dipicu oleh beberapa hal antara lain: perbedaan
potensidaerah yang sangat besar, perbedaan kondisi demografis dan
ketenagakerjaandan perbedaan kondisi sosial budaya antar wilayah. Di samping
itu, kuranglancarnya mobilitas barang dan orang antar daerah juga turut
mendorongterjadinya ketimpangan pembangunan regional tersebut.Bila
ketimpangan ekonomi antar wilayah tersebut cukup besar, maka halini dapat
membawa dampak negatif dari segi ekonomi, sosial, dan politik. Sebagaimana
diungkapkan oleh Sjafrizal (2008), ketimpangan ekonomiantar wilayah yang

74
besar akan menyebabkan kurang efisiennya penggunaansumber daya yang
tersedia dan mendorong terjadinya ketidakmerataandalam distribusi pendapatan
(kemakmuran). Sedangkan dari segi sosial,ketimpangan pembangunan antar
daerah tersebut akan memicu terjadinyakecemburuan dan keresahan sosial.
Bahkan kondisi tersebut selanjutnya dapatpula mempunyai implikasi politik yang
mendorong timbulnya keinginanmasyarakat dan organisasi politik untuk
melakukan pemekaran daerah. Melihat adanya ketimpangan ekonomi antar
wilayah dalam suatu Negaraatau suatu daerah bukanlah hal yang mudah karena
hal ini dapat menimbulkandebat yang berkepanjangan Adakalanya masyarakat
berpendapat bahwaketimpangan suatu daerah cukup tinggi setelah melihat banyak
kelomposmiskin pada daerah bersangkutan.

E Tipologi Klassen

Sebagai implikasi dari perbedaan struktur dan potensi ekonomi


wilayah,pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah cenderung sangat
bervariasiausama lainnya. Ada daerah yang mengalami pertumbuhan
ekonomiyang sangat cepat, tetapi ada pula yang relatif lambat dan bahkan ada
pulayang mengalami stagnasi sama sekali. Kondisi terscbut tentunya
akanmempengaruhi pula tingkat kemakmuran masyarakat pada masing-
masingdaerah bersangkutan, ada yang telah berkembang menjadi daerah
maju,daerah sedang berkembang, dan ada pula masih merupakan daerah
yangrelatif masih terbelakang. Dalam melakukan perumusan kebijakan dan
program pembangunandcrah, agar lebih tepat dan terarah, maka perbedaan
struktur dan kondisu pembangunan ekonomi daerah tersebut perlu diperhatikan
dengan cermatkebijakan dan program untuk daerah yang mempunyai
pertumbuhan ekonomicepat tentunya tidak akan sama dengan kebijakan dan
program untuk daerahyang bertumbuh lambat atau bahkan stagnasi. Karena itu,
pengelompokandacrah menurut struktur pertumbuhan dan tingkai pembangunan
akan sangatpenting artinya sebagai dasar pertimbangan dalam perumusan
kebijakan danprogram pembangunan daerahPengelompokan daerah menurut
struktur pertumbuhan dan tingkatpembangunan ini antara lain dapat dilakukan

75
dengan menggunakan MatrikTipologi Klassen. Dalam hal ini, pengelompokan
daerah dilakukan denganmenggunakan dua indikator utama yaitu: laju
pertumbuhan dan tingkatpendapatan perkapita. Dengan cara demikian, akan
terdapat empat kelompokdaerah yaitu: (1) Daerah Maju (Developed Region) pada
kuadran 1 di mana lajupertumbuhan dan pendaparan per kapita lebih tinggi dari
rata-rata (2) DaerahMaju.

Untuk kelompok Daerah Maju, kebijakan dan program


pembangunandaerah sebaiknya lebih banyak diarahkan kepada sektor dan
kegiatanekonomi dan sosial yang menggunakan teknologi lebih moden danpadat
modal seperti sektor industri dan jasa. Dengan cara demikian,produktivitas
perekonomian daerah akan dapat lebih ditingkatkansehingga dapat mendorong
peningkatan pendapatan per capitalmasyarakat dan kemakmuran daerah setempat;

F. Model Gravitasi

Keterkaitan antar wilayah yang biasanya diukur dengan mobiltaorang dan


barang antar daetah merupakan salah satu aspek yang cuipenting dalam analisis
perencanaan pembangunan daerah. Aspek ini perludiperhitungkan karena
pembangunan suatu daerah juga ditenrukan olehketerkaitan dan hubungan
ekonomi dan perdagangan dengan daerah tetanggan berdekatan Di samping itu,
keterkaitan antar wilayalh ini juga merupakanaspek penting dalam perencanaan
transportasi dengan melihat kepada jumlahdan frekuensi perjalanan, baik
penumpang maupun barang. Untuk dapat melakukan penaksiran terhadap volume
perdagangan sertajumlah dan frekuensi perjalanan, baik penumpang maupun
barang antar-daerah dapat digunakan Model Gravitasi (Gravity Model). Model ini
merupakanaplikasi dari Hukum Gravitasi Newton dalam llmu Fisika yang
mengatakanhahwa "dua masayang berdekatan akan saling tarik-menarik dan daya
tarikmasing masing mas sa adalah sebanding dengan bobotnya" (Tarigan, 2002).

Dalam penerapannya untuk perencanaan dan pembangunan wilayah,


keduatitik tersebut dapat diaruikan sebagai dua kota yang merupakan
konsentrasipenduduk dan kegiatan ekonomi yang dihubungkan oleh fasilitas

76
transportasibaik darat, laut, maupun udara. Sasaran utama Model Gravitasi adalah
untuk menaksir secara kuantitatifhubungan ekonomi kedua titik tersebut, baik
dalam bentuk interaksipenumpang maupun barang atau perdagangan antar daerah.
Pada abadke-20 John Q Stewart dan kelompoknya pada School of Social Physics
mulaimenerapkan model ini untuk menganalisis interaksi sosial ekonomi
antarwilayah. Kemudian Walter Isard (1960) juga menerapkan model ini kedalam
bidang Ilmu Wilayah (Regional Science) dan Jan Timbergen (1962)
untukperdagangan internasional. Bahkan belakangan ini, beberapa ahli seperti
HelgaKritjansdottir (2005) juga mulai menerapkan model ini untuk
menganalisiskegiatan perdagangan antara 2 wilayah terkait dengan
mempertimbangkanaspek ongkos transpor secara eksplisit

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlahmigran yang masuk ke


dalam suatu kota dipengaruhi oleh besaran jumlahpenduduk kota yang didatangi,
penduduk kota asal migran dan jarak antarakedua kota tersebut. Ternyata
keterkaitan ini mengikuti Model Gravitasisebagaimana diuraikan di atas.
Sebagaimana diungkapkan oleh Walter Isard(1960) selanjutmya, Q Stewart dan
kelompoknya dari School of Social Physicpada abad ke 20 para ekonom mulai
pula menerapkan secara sistematis modelgravitasi ini untuk menganalisis interaksi
sosial dan ekonomiSelanjutnya, para ahli transportasi mulai pula menerapkan
ModelGravitasi ini untuk menaksir jumlah volume angkutan penumpang padaruas
jalan tertentu untuk beberapa periode waktu mendatang.

Berdasarkanperkiraan tersebut, kemudian akan dapat disusun perencanaan


pengembanganfasilitas transportasi untuk melayani pengembangan pada daerah
tertentuStudi-studi yang berkaitan dengan hal ini antara lain adalah Erlander
andStewart (1990) Di samping itu, model gravitasi belakangan ini mulai
banyakpula digunakan untuk analisis perdagangan internasional dan antar
daerahtertentu seperti: Tiiu Paas (2002) and Helga Kristjandottir (2005)Untuk
keperluan analisis perdagangan antar daerah, Model Gravitasimengalami sedikit
perubahan yaitu menukar variabel penduduk denganpendapatan nasional (PDB)

77
atau regional (PDRB)di mana Y dan Y, masing-masingnya adalah PDB atau
PDRB negara ataudaerah asal i dan tujuan j.

Sedangkan d, adalah jarak antara kedua negara ataudaerah bersangkutan


dan koefisien k, b adalah konstanta. Hal yang menarikdalam hal ini adalah bahwa
penggunaan model Gravitasi dalam perdaganganinternasional dan interregional
adalah karena analisis ini dapat mengatasisalah satu kelemahan Model Hechser-
Ohlin yang selalu mengasumsikan bahwaongkos angkut dalam kegiatan
perdagangan diasumsikan nol. Asumsi initentunya jelas tidak logis terutama untuk
negara berkembang yang kegiatanperdagangannya masih didominasi oleh produk-
produk pertanian danpertambangan yang umumnya relatif berat dan memerlukan
ongkos angkutyang cukup besar dalam pendistribusiannya.

BAB 10

TEKNIK ANALISIS INPUT DAN OUTPUT

Kenyataan yang terjadi pada negara maju maupun sedang berkembang,


umumnya menunjukkan bahwa kegiatan sosial ekonomi masyarakat adalah saling
berkaitan satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena berkembangnya suatu
kegiatan sosial ekonomi juga dipengaruhi oleh kegiatan lainnya. Oleh karena itu,
tentunya perencanaan pembangunan daerah yang baik adalah yang bersifat
terpadu dengan kegiatan-kegiatan terkait lainnya. Namun demikian, untuk
mewujudkan perencanaan yang terpadu tersebut tidaklah mudah, karena
membutuhkan peralatan analisis tersendiri. Untuk dapat mewujudkan perencanaan
pembangunan terpadu ini, alat analisis yang lazim digunakan dalam Ilmu
Ekonomi adalah Teknik Analisis Input-Output. Bab ini membahas secara rinci
tentang konsep dasar dari teknik analisis Input-Output yang selanjutnya dapat
digunakan sebagai salah satu bentuk teknik perencanaan pembangunan daerah.
Pembahasan dimulai dengan aspek landasan teoritis yang melatarbelakangi
munculnya Analisis Input-Output ini. Kemudian analisis dilanjutkan dengan
penjelasan tentang Teknik Input- Output Nasional yang mula-mula muncul untuk
membahas perekonomian suatu negara. Selanjutnya, pembahasan dilanjutkan
dengan Teknik Input- Output Regional yang merupakan pengembangan khusus
untuk membahas perekonomian daerah. Pada bagian terakhir dibahas pula
beberapa bentuk pemanfaatan analisis Input-Output ini sebagai salah satu bentuk
teknik perencanaan pembangunan daerah.

78
A. Landasan Teoritis

Dalam suatu perekonomian, baik nasional maupun daerah, terdapat banyak


konsumen dan produsen yang berinteraksi satu sama lainnya secara simultan
(sekaligus). Kondisi yang demikian, tidak dapat dianalisis dengan pendekatan
Analisa Partial yang membahas masing-masing aspek secara terpisah. Karena itu
pembahasan yang bersifat simultan tersebut harus dilakukan dalam bentuk
Keseimbangan Umum (General Equilibirum).Keseimbangan umum yang
dimaksudkan di sini adalah suatu kondisi di mana semua konsumen melakukan
kegiatan ekonominya untuk mencapai kepuasan maksimum dan produsen
melakukan kegiatannya untuk mencapai profit maksimum. Dalam kondisi
keseimbangan umum tersebut semua pihak berada dalam keadaan puas dan tidak
ada yang merasa dirugikan. Kondisi tersebut adalah kondisi ideal yang diinginkan
untuk mencapai ekonomi kemakmuran (Welfare Economics) dalam masyarakat.

Untuk dapat mewujudkan titik keseimbangan umum tersebut, buku teks


Teori Ekonomi Mikro umumnya menyatakan bahwa kondisi tersebu akan dapat
dicapai melalui apa yang lazim disebut sebagai Pareto Optimal Condition. Ini
adalah suatu kondisi di mana setiap individu, baik konsumen maupun produsen,
tidak dapat lagi meningkatkan kegiatan ekonominya tanpa merugikan pihak lain.
Bilamana seorang individu masih bisa meningkatkan kegiatannya tanpa
merugikan pihak lain, maka kondi si tersebut belum berada pada titik optimal dan
peningkatan kegiatan tersebut tentunya masih dapat dilakukan dalam rangka
mendorong kemakmuran masyarakat.

Kerangka dan landasan analisis dari teori Keseimbangan Umum tersebut


pada dasarnya adalah sistem aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen
melalui pasar yang lazim disebut sebagai Circular Flow sebagaimana terlihat pada
Gambar 9.1 pada bab terdahulu. Aliran tersebut terjadi tidak hanya untuk barang
dan jasa (output), tetapi juga untuk input baik dalam bentuk tenaga kerja atau
modal. Sistem aliran ini sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah sistem
perekonomian bekerja dan berkaitan satu sama lainnya dalam suatu masyarakat

Analisis tentang Keseimbangan Umum secara teoritis dapat


diformulasikan dan dibahas dalam bentuk terintegrasi dengan menggunakan
matematika sebagai alat. Namun demikian, metode ini sulit untuk dapat
dilaksanakan dalam analisis ekonomi secara praktik. Ini berarti bahwa untuk dapat
mengaplikasikan sistem Keseimbangan Umum tersebut perlu dibuat sebuah
sistem perhitungan (Computable General Equilibrium) sesuai dengan kondisi data
yang tersedia.

79
Dalam rangka mewujudkan konsep keseimbangan umum yang dapat
dihitung dengan data yang tersedia, muncullah seorang ekonom kelahiran
Polandia bernama Wassily Leontief dengan konsep Input-Output. Konsep ini
mula-mula diterapkannya dalam suatu penelitian yang membahas struktur
perekonomian Amerika Serikat 1919-1929 (Leontief, 1941) dan beberapa tahun
kemudian ditulis dalam bentuk buku ajar untuk perguruan tinggi leontief, 1966).
Begitu besarnya manfaat teknik analisis Input-input untuk membahas kondisi
perekonomian dan sekaligus untuk menyusun dokumen perencanaan
pembangunan, beberapa tahun kemudian, Wassily Leontief pada tahun 1973
dianugerahi hadiah Noble (Noble Price Winer) untuk karyanya yang terkenal dan
monumental tersebut (Miller and Blair, 1985).

Analisis yang menarik dalam teknik Input-Output ini adalah dapat


ditunjukkannya keterkaitan ekonomi secara langsung dan tidak langsung
antarsektor baik dari segi input (Backward Linkages) dan dari segi output
(Forward Linkages). Selanjutnya, analisis Input-Output tersebut dapat pula
menunjukkan hubungan antara permintaan akhir (Final demand) yang meliputi:
konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah serta ekspor bersih (ekspor kurang
impor) terhadap produksi. Hubungan sangat penting artinya untuk merumuskan
kebijakan publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Bahkan teknik Input-Output ini juga dapat digunakan sebagai alat untuk
melakukan peramalan (prediksi) perkembangan kondisi perekonomian secara
kuantitatif dimasa mendatang.

Pada awalnya Leontief menyu sun analisis ini untuk membahas


perekonomian berikut kebijakan pembangunan untuk suatu negara yang lazim
disebut sebagai Input-Output Nasional. Selanjutnya beberapa tahun kemudian
Isard (1960) melanjutkan dengan Analisis Input-Output untuk tingkat wilayah
yang lazim dikenal sebagai Analisis Input-Ouput regional dan interregional
(Regional and Interregional Input-Output Analysis). Bahkan untuk mengatasi
kelemahan analisis Input-Output yang bersifat statis karena adanya asumsi
teknologi tetap (Fixed Technical Koefisien), kemudian dikembangkan pula
Analisis Input-Output Dinamis (Dynamic Input-Output Analysis), walaupun
teknik ini belum begitu populer dan penerapannya masih sangat terbatas.

B. Teknik Analisis Input-Output Nasional

Analisis Input-Output yang pertama diciptakan oleh Wassily Leontief


adalah untuk membahas sistem keterkaitan dalam perekonomian suatu negara
(Input-Output Nasional). Pembahasan dimulai dengan kegiatan produksi yang

80
menghasilkan output (X) yang akan didistribusikan kepada konsumen untuk..
memenuhi berbagai kebutuhan dalam perekonomian. Kebutuhan tersebut dapat
dalam bentuk input yang diperlukan untuk kegiatan produksi barang dan jasa
lainnya dan baik untuk memenuhi permintaan akhir (Final Demand Sedangkan
permintaan akhir tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi (C)
dan Investasi (I) baik untuk masyarakat atau pemerintah (C) dan juga untuk
keperluan ekspor (E) ke luar daerah atau ke luar negeri.

Mengikuti Miller and Blair (1985), formulasi Input-Output analisis


dimulai dengan suatu kenyataan umum dalam transaksi ekonomi bahwa hasil
produksi (output) dari suatu kegiatan atau sektor (X) dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan input antara (z) untuk keperluan beberapa kegiatan atau
sektor lain yang terkait dan sisanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
permintaan akhir masyarakat (Final Demand). Hubungan transaksi ekonomi ini
dapat ditulis sebagai berikut:

X1 = zi1+ zi2+……zin + Yi , I = 1,2….n

Unsur z pada ruas kanan persamaan (10.1) lazim dinamakan sebagai


jumlah penjualan ke beberapa sektor terkait (interindustri sales), sedangkan unsur
Y jumlah penjualan untuk memenuhi permintaan akhir. Dengan demikian,
persamaan (10.1) menunjukkan distribusi hasil produksi sektor i.

Menggunakan terminologi Input-Output Analisis, dapat dikatakan bahwa


unsur z,, adalah jumlah output sektor 1 yang digunakan sebagai input oleh sektor
bersangkutan dalam melakukan produksi. Sedangkan unsur z, adalah jumlah
output sektor 1 yang digunakan sebagai input oleh sektor 2 dalam kegiatan
produksi. Sebaliknya unsur z2, adalah output sektor 2 yang digunakan sebagai
input oleh sektor 1 dan unsur z,, adalah output yang digunakan sebagai input pada
sektor bersangkutan. Dengan demikian, unsur z lazim juga disebut sebagai input
antara (Intermediate Inputs).

Selanjutnya, selain input antara tersebut, proses produksi juga membutuhkan pula
input primer seperti tenaga kerja (L) dengan balas jasa (w) dan modal (K) dengan
balas jasa r. Penjumlahan dari balas jasa tersebut disebut sebagai Nilai Tambah
(Value-added) yang diterima oleh pemilik faktor produksi atau masyarakat secara
keseluruhan. Dengan demikian, bentuk umum dari transaksi kegiatan ekonomi
dalam kerangka strukur Tabel Input- Output dari suatu perekonomian atau suatu
daerah secara lebih lengkap dan sistematis dapat digambarkan sebagaimana
terlihat pada Tabel 10.2.

C. Teknik Input-Output Regional

81
Karena buku ini khusus membahas tentang Perencanaan Pembangunan
Daerah, maka teknik analisis Input-Output yang relevan adalah Teknik Input-
Output Regional yang dapat diterapkan pada tingkat provinsi, kabupaten, dan
kota. Secara umum terdapat dua bentuk teknik Input-Output Regional, yaitu:
Model Satu Region (Single Region Model) dan Model Antar Region (Inter-
regional Model). Berikut ini diuraikan masing-masing bentuk Input-Output
regional tersebut.

1. Model Satu Region

Teknik analisis Input-Output regional yang paling sederhana adalah dalam


bentuk Model Satu Region. Dalam hal ini diasumsikan bahwa hanya terdapat satu
daerah (region) dalam perekonomian nasional. Dengan demikian metode
perhitungan yang akan digunakan secara umum adalah sama dengan analisis
Input-Output pada tingkat nasional sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu pada
bagian 10.2 di atas. Namun demikian, tentunya koefisien input yang akan
dipergunakan tidaklah sama dengan tingkat nasional.

Penaksiran koefisien Input-Output regional tersebut dapat dilakukan


melalui dua cara. Cara yang paling mudah adalah dengan melakukan penyesuaian
(adjustment) terhadap koefisien Input-Output Nasional yang telah ada. Cara ini
juga lazim disebut sebagai Non Survey Technique karena memang tidak ada
dilakukan penelitian untuk mendapatkan data-data baru pada tingkat regional. Hal
ini terpaksa dilakukan karena pelaksanaan survei untuk penyusunan tabel Input-
Output tersebut sangat mahal.

2. Model Input-Output Antar-Daerah

Pada umumnya masing-masing negara terdapat beberapa daerah


administratif (regions) baik dalam bentuk provinsi (states), kabupaten (regencies),
dan kota (cities). Ada negara yang mempunyai sedikit daerah dan ada pula yang
banyak. Amerika Serikat sudah mempunyai 50 negara bagian (states) yang
masing-masingnya terbagi atas beberapa counties dan cities. Sedangkan Indonesia
sampai dengan tahun 2010 sudah mempunyai 205 daerah yang terdiri dari 33
provinsi, 164 kabupaten, dan 34 kota (Sjafrizal, 2011)

Karena adanya kondisi pembagian daerah administratif dalam negara yang


demikian, maka para ahli telah mengembangkan pula apa yang lazim disebut
dengan Model Input-Output Antar Daerah (Interregional Input-Output Model).
Perbedaan prinsipil dengan Model Satu Region adalah bahwa pada Model Antar-
Daerah terdapat interaksi antar daerah dalam bentuk kegiatan perdagangan antar

82
daerah (Interregional Trade). Sedangkan pada Model Satu Region, perdagangan
keluar dan masuk daerah tersebut dianggap sebagai kegiatan ekspor dan impor
sebagaimana halnya pada Model Input-Output Nasional.

D. Manfaat Bagi Perencanaan Pembangunan Daerah

Sebagaimana telah disinggung terdahulu bahwa teknik analisis Input-


Output sangat bermanfaat sebagai alat ilmiah untuk membantu menyusun
dokumen perencanaan pembangunan, baik nasional maupun daerah. Secara umum
terdapat tiga manfaat utama dari teknik analisis Input-Output terhadap
penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. Pertama, dapat mengukur
keterkaitan antarsektor baik dalam bentuk kaitan ke muka (Forward Linkages) dan
kaitan ke belakang (Backward Linkages). Kedua, dapat mengukur dampak
perubahan unsur permintaan akhir, baik konsumsi, investasi, pengeluaran
pemerintah dan ekspor-impor terhadap produksi pada masing-masing sektor.
Ketiga, dapat melakukan prediksi pertumbuhan produksi atau ekonomi menurut
sektor untuk beberapa tahun mendatang.

1. Keterpaduan Antar-Sektor

Keterpaduan antarsektor adalah sangat penting dalam perencanaan


pembangunan daerah dalam rangka mewujudkan proses pembangunan yang dapat
bersinergi dan saling menunjang satu sama lainnya. Bila hal ini bisa diwujudkan
maka proses pertumbuhan ekonomi dan proses pembangunan daerah akan
menjadi lebih cepat sehingga sasaran pembangunan secara keseluruhan akan dapat
dicapai secara lebih cepat.

Keterpaduan pembangunan ekonomi tersebut akan dapat diwujudkan


melalui keterkaitan ekonomi antarsektor. Keterkaitan antarsektor tersebut akan
dapat diketahui melalui penggunaan analisis Input-Output. Bila keterkaitan
antarsektor tersebut ternyata cukup tinggi, ini berarti bahwa keterpaduan
pembangunan juga akan cukup baik. Karena itu, untuk mewujudkan kegiatan
pembangunan yang terpadu, maka prioritas sebaiknya diberikan pada sektor-
sektor yang mempunyai keterkaitan antarsektor yang cukup tinggi dan demikian
pula sebaliknya.

Keterkaitan antarsektor tersebut dapat muncul dalam bentuk kaitan ke


muka (Forward Linkages) dan kaitan ke belakang (Backward Linkages). Kaitan
ke muka adalah kaitan kegiatan produksi dengan pemasaran outputnya ke sektor-

83
sektor lain yang terkait, misalnya antara sektor pertanian dengan sektor industri
dan jasa. Sedangkan kaitan ke belakang adalah kaitan kegiatan ekonomi dengan
sektor-sektor lain penyedia inputnya seperti sektor industri dan jasa dengan sektor
pertanian dan pertambangan.

2. Analisis Dampak Pembangunan

Analisis dampak terhadap pembangunan, baik nasional maupun daerah,


merupakan manfaat sangat penting dalam penerapan Teknik Analisis Input-
Output dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah. Alasan
jelas karena analisis dampak dapat memberikan perkiraan dari pengaruh atau
dampak perubahan unsur permintaan akhir seperti konsumsi, investasi,
pengeluaran pemerintah dan ekspor serta impor terhadap kegiatan produksi dalam
daerah bersangkutan. Dengan demikian, melalui analisis dampak ini akan dapat
diketahui berapa pengaruh kebijakan dan program pembangunan yang
direncanakan terhadap peningkatan produksi yang merupakan unsur utama dari
kegiatan ekonomi dan pembangunan daerah. Sedangkan besarnya dampak
tersebut akan sangat tergantung dari angka pengganda (multiplier) yang
dihasilkan oleh Tabel Input-Output bersangkutan.

3. Prediksi Pertumbuhan Ekonomi

Manfaat lainnya untuk perencanaan pembangunan daerah yang juga dapat


diperoleh melalui pemanfaatan Analisis Input-Output adalah guna membantu
penyusunan peramalan (prediksi) pertumbuhan ekonomi, baik nasional maupun
daerah untuk suatu periode tertentu. Prediksi ini dapat dilakukan dengan
mengalikan perubahan dari keseluruhan unsur permintaan akhir pada periode
waktu tertentu dengan angka pengganda output. Dengan demikian akan dapat
diketahui berapa peningkatan jumlah produksi untuk periode berikutnya sebagai
akibat dari peningkatan nilai permintaan akhir pada tahun mendatang yang dalam
bahasa Input-Output dapat ditulis sebagai berikut:

AX t+k = O AY t+k

di mana t adalah waktu dan k periode waktu peramalan. Sedangkan nilai AY


paling kurang dapat diperkirakan dengan menggunakan teknik prediksi trend
sederhana. Patut dicatat di sini bahwa peramalan (prediksi) yang dapat dilakukan
dengan menggunakan analisis Input-Output ini hanyalah untuk jangka pendek (di
bawah 5 tahun). Alasannya adalah karena asumsi yang digunakan dalam anlisis
Input-Output adalah fixed Input Coefisient yang berarti teknologi produksi
dianggap tetap. Ini berarti bahwa untuk jangka panjang (di atas 5 tahun) di mana

84
sering terjadi perubahan dan kemajuan teknologi (Technological Change), analisis
Input-Output tersebut akan cenderung tidak lagi berlaku. Peramalan yang lebih
baik untuk jangka panjang sebaiknya menggunakan Teknik Analisis Input-Ouput
Dinamis (Dynamic Input-Output Analysis) di mana perubahan teknologi
antarwaktu turut dipertimbangkan.

BAB 13

TEKNIK INDIKATOR KERJA

A. Pengertian Indikator Kerja

Dadang Solichin (2008) mengemukakan indikator kinerja (Performance


Indicators) pada dasarnya adalah merupakan alat yang dapat membantu perencana
dalam mengukur perubahan yang terjadi dalam proses pembangunan. Sedangkan
indikator adalah ukuran dari suatu kegiatan dan kejadian yang berlangsung pada
suatu negara atau daerah. Secara lebih spesifik, indikator adalah angka statistik
dan hal normatif yang menjadi perhatian para perencana yang dapat membantu
dalam membuat penilaian ringkas, komprehensif, dan berimbang terhadap kondisi
atau aspek penting pada suatu masyarakat.

Sedangkan kinerja (performance) pada dasarnya diartikan sebagai


gambaran tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kebijakan, program atau kegiatan
pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan serta visi dan misi dari suatu
negara, daerah atau organisasi (LAN, 1993). Sehubungan dengan hal diatas, maka
analisis indikator kinerja tidak hanya cukup menekankan pada aspek biaya (cost)
dan manfaat (benefit) yang diperoleh dari pelaksanaan program, dan kegiatan
pembangunan tertentu, tetapi juga harus mencakup manfaat terhadap
pembangunan secara keseluruhan yang meliputi bidang ekonomi, sosial dan
budaya.

B. Fungsi dan Manfaat Indikator Kerja

Secara umum, fungsi dan peranan dari indikator kinerja dalam penyusunan
dokumen perencanaan pembangunan daerah meliputi beberapa hal, yaitu
diantaranya:

85
1) Untuk memperjelas tentang: what, how, who and when suatu program dan
kegiatan dilakukan;
2) Menciptakan konsensus yang dibangun oleh pihak yang berkepentingan
dengan pembangunan (stakeholders);
3) Membangun landasan yang jelas untuk pengukuran dan analisis
pencapaian sasaran pembangunan
4) Sebagau alat untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja pembangunan
yang telah dapat dilaksanakan dalam periode waktu tertentu.

C. Jenis Indikator Kerja

Indikator kinerja pembangunan daerah secara umum dapat dibagi atas dua
jenis utama, yaitu Indikator Kinjera Makro dan Indikator Kinerja Program dan
Kegiatani. Indikator Kinerja Makro menyangkut dengan keberhasilan pelaksanaan
pembangunan yang bersifat menyeluruh atau lintas program dalam suatu negara
atau daerah tertentu. Sedangkan Indikator Kinerja Program dan Kegiatan hanyalah
menyangkut dengan keberhasilan pelaksanaan pembangunan pada suatu program,
dan kegiatan tertentu saja.

Contoh Indikator Kinerja Makro Menurut Jenis

No. Bidang dan Unsur Indikator Kinrja Formulasi Indikator


Pembangunan Makro Makro

I Ekonomi Daerah

1. Struktur Perekonomian Kontribusi sektor % kontribusi sektoral


Daerah ekonomi dalam PDRB dalam PDRB

2. Pertumbuhan Ekonomi Peningkatan Nilai % kenaikan PDRB


Daerah PDRB tahunan Harga Konstan

3. Distribusi Pendapatan Perbandingan Gini Rasioa (Indek


pendapatan kelompok Gini)

86
penduduk miskin dan
penduduk kaya

4. Kemakmuran Ekonomi Nilai PDRB per kapita Rasio nilai PDRB


Daerah Harga Berlaku dengan
jumlah penduduk

5. Daerah Tertinggal Jumlah daerah Ditetapkan pemerintah


tertinggal

II Kesejahteraan Sosial

1. Tingkat Pengangguran Tingkat pengangguran % penganggur dari


terbuka jumlah angkatan kerja

2. Tingkat Kemiskinan Penduduk dibawah garis % penduduk miskin


kemiskinan dari jumlah penduduk

3. Tingkat Kesejahteraan Gabungan unsur Index Pembangunan


Masyarakat pendapatan, pendidikan Manusia (IPM)
dan kesehatan

Contoh Indikator Kinerja Program dan Kegiatan Menurut Jenis

No. Bindang dan Sektor Indikator Kinerja Formulasi Indikator


Program dan Kegiatan

I Pendidikan

1. Pemerataan Pendidikan Angka Partisipasi Kasar Jumlah penduduk umur


(APK) sekolah yang sudah
bersekolah

2. Kualitas Pendidikan Capaian nilai rata-rata Nilai Ujian Negara (UN)

87
sekolah Rata-rata

3. Efisiensi Pendidikan Angka Efisiensi Edukasi 1. Rasio lulusan dan


(AEE) jumlah siswa
2. Rata-rata lama studi
4. Fasilitas Pendidikan 1. Ketersediaan guru 1. Rasio guru dan murid
2. Ketersediaan ruang 2. Rasio murid dan ruang
belajar belajar
II Kesehatan

1. Kesehatan Secara Umum Angka Harapan Hidup Rata-rata umur penduduk


(AHH)

2. Kesehatan Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) Kematian per 10.000 ibu
melahirkan

3. Kesehatan Anak Angka Gizi Buruk % anak gizi buruk

III Prasarana

1. Jalan Ketersediaan jalan Rasio jalan dan luas


wilayah

2. Listrik Ketersediaan listrik Kwh listrik per kapita

3. Air Minum Ketersediaan air minum Rata-rata air minum per


kapita tersedia

4. Telepon Ketersediaan telepon Rata-rata saluran telepon


per kapita

D. Pengukuran Indikator Kerja

88
Terdapat lima jenis pengukuran indikator kinerja yang dapat digunakan
dalam merencanakan atau menilai keberhasilan (kinerja) pelaksanaan program
dan kegiatan pembangunan, yaitu diantaranya:

1) Masukan (input), yaitu berbagai jenis sumber daya (faktor produksi) yang
diperlukan dalam melaksanakan program dan kegiatan seperti dana,
tenaga, peralatan, bahan-bahan yang digunakan dan masukan lainnya
2) Keluaran (output), yaitu bentuk produk yang dihasilkan secara langsung,
baik bersifat fisik maupun nonfisik yang dapat dihasilkan dari pelaksanaan
program dan kegiatan yang direncanakan.
3) Hasil (outcome), yaitu seberapa jauh keluaran dari pelaksanaan program
dan proyek dapat dimanfaatkan secara baik sehingga dapat memberikan
sumbangan terhadap proses pembangunan daerah pada bidang terkait.
4) Manfaat (benefit), yaitu keuntungan serta aspek positif lainnya yang dapat
dihasilkan oleh program dan kegiatan bersangkutan bagi masyarakat
dengan berfungsinya keluaran secara optimal.

E. Persyaratan Indikator Kerja

Persyaratan dari sebuah indikator kinerja yang baik secara umum


tergambar dalam satu istilah yaitu SMART yang merupakan singkatan dari unsur
perkataan berikut ini:

1) Specific, yaitu rumusan harus jelas dan tidak membingungkan atau


mengundang multi interprestasi dalam masyarakat
2) Measurable, dapat diukur secara kuantitatif atau paling kurang dapat
ditampilkan dalam bentuk persentase capaian sehingga masih
memperlihatkan tingkat keberhasilan secara nyata.
3) Attainable, dapat atau dimungkinkan untuk tercapainya penyusunan
dengan biaya yang cukup wajar dan logis
4) Relevant, sesuai dengan data dan informasi yang dibutuhkan serta tersedia
cukup dalam masyarakat

89
5) Timely, tepat waktu baik dalam pelaksanaan program dan kegiatan,
maupun pada waktu pelaporan hasil evaluasi

F. Target Kinerja

Indikator kinerja baru mempunyai arti konkret bila didukung oleh target
kinerja. Target kinerja pada dasarnya merupakan ukuran besaran keluaran yang
direncanakan untuk dapat dicapai melalui pelaksanaan suatu program dan
kegiatan tertentu dalam periode perencanaan. Dalam hal ini, target kinerja tersebut
harus berbentuk dan memenuhi persyaratan berikut ini:

1) Angka numerik (kuantitatif)


2) Dapat diperbandingkan
3) Bersifat spesifik

Target kinerja ini ditentukan dengan memperhatikan capaian yang dapat diraih di
masa lalu dan kemampuan sumber daya institusi atau daerah bersangkutan yang
tersedia pada saat ini berikut prediksi ke depan. Sumber daya tersebut meliputi
dana, baik yang berasal dari pemerintah maupun swasta dan masyarakat, jumlah
dan kualitas tenaga kerja dan aparatur serta peralatan yang tersedia.

G. Langkah Operasional Penyusunan Indikator Kerja

Penetapan indikator kinerja yang baik dalam penyusunan dokumen


perencanaan memerlukan berbagai prosedur dan langkah operasional tertentu
yang harus ditempuh untuk dapat memberikan hasil baik sesuai diharapkan.
Langkah-langkah tersebut adalah:

1) Susun dan tetapkan secara baik serta memenuhi kelayakan teknis dokumen
Rencana Strategis Institusi bersangkutan yang meliputi visi, misi, tujuan,
sasaran, kebijakan, program dan kegiatan yang direncanakan;
2) Indentifikasikan secara jelas data dan informasi akurat dan relevan yang
diperlukan untuk membantu memformulasikan jenis indikator kinerja yang
tepat sesuai dengan kebutuhan perencanaan

90
3) Teliti jenis dan jumlah sumber daya yang dibutuhkan, baik dalam bentuk
dana, tenaga, dan peralatan diperlukan dalam penyusunan perencanaan
atau evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan
4) Pilih dan tetapkan indikator yang paling relevan dan berpengaruh besar
terhadap keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan bersangkutan.

H. Contoh Penyusunan Indikator Kerja

Agar pemahaman terhadap konsep indikator kinerja berikut metode


pengukurannya menjadi lebih jelas dan tidak meragukan bagi seorang perencana,
maka berikut ini diberikan beberapa contoh konkret baik untuk kegiatan yang
bersifat fisik maupun nonfisik, yaitu diantaranya :

1) Pembangunan Terminal Bus Antar Kota

No. Indikator Kinerja Hasil Evaluasi Kinerja

1. Spesifikasi Kegiatan Pembangunan sebuah terminal angkutan bus


antarkora yang dilengkapi dengan fasilitas parkir
bus, terminal penumpang berikut fasilitas ruang
tunggu dengan alat pendingin. Kafetaria untuk
minum dan makan, fasilitas listrik, telepon dan toilet
umum dengan tujuan utama adalah untuk
meningkatkan kelancaran angkutan bus antarkota
dan peningkatan pelayanan penumpang dengan
alokasi biaya pembangunan sebesar Rp. 10 Miliar.

2. Masukan (Input) Cukup baik karena tingkat penyerapan dana


mencapai 97,5%

3. Hasil (Outcome) Sangat baik karena objek yang dibangun sudah


berfungsi dan dimanfaatkan masyarakat secara baik
dan optimal

91
4. Manfaat (Benefit) Sangat baik karena keberadaan terminal telah dapat
meningkatkan kelancaran angkutan bus dan
perbaikan pelayanan penumpang.

5. Dampak (Impacts) Cukup baik karena keberadaan terminal tersebut


ternyata sudah dapat meningkatkan penyediaan
lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan
masyarakat sekitarnya.

2) Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

No. Indikator Kinerja Hasil Evaluasi Kinerja

1. Spesifikasi Kegiatan Melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat dalam


bentuk ceramah dan pemberian informasi secara
tertulis (pamflet) kepada masyarakat setempat pada
beberapa daerah pedesaan tertentu dengan sasaran
utama adalah meningkatkan budaya dan tingkah
laku hidup sehat dalam masyarakat setempat.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan alokasi biaya
sebesar Rp. 500 juta yang berasal dari APBD daerah
setempat

2. Keluaran (Output) Cukup baik karena tingkat penyerapan dana


mencapai 98%

3. Masukan (Input) Cukup baik karena jumlah masyarakat yang diberi


ceramah dan jumlah pamflet yang ditempelkan
sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi teknis
dalam kontrak kerja

4. Hasil (Outcome) Cukup baik karena masyarakat telah dapat


memahami dengan baik pentingnya budaya hidup

92
sehat

5. Manfaat (Benefit) Cukup baik karena masyarakat sudah mulai


menerapkan budaya hidup sehat yang tercermin dari
tingkat kebersihan rumah, jenis makanan dan cara
melaksanakan kegiatan sehari-hari

6. Dampak (Impacts) Sangat baik karena derajat kesehatan masyarakat


setelah penyuluhan sudah dapat ditingkatkan yang
terlihat dari menurunnya tingkat kematian bayi di
daerah setempat

BAB XIV

TEHNIK EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA

Evaluasi pelaksananaan rencana pembangunan daerah perlu dilakukan


untuk dapat mengetahui seberapa jauh rencana pembangunan yang telah
dilaksanakan oleh pemerintah daerah dapat memberikan hasil sesuai dengan
tujuan serta visi dan misi yang ditetapkan semula. Karena itulah, untuk tingkat
daerah, kegiatan evaluasi ini sering pula dinamakan sebagai Evaluasi Kinerja
Pemerintah Daerah (EKPD). Evaluasi pelaksanaan rencana ini penting artinya
sesuai dengan amanat dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 yang tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang mengamanatkan
perlunya dilakuakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pembangunan, baik
pada tingkat nasional maupun daerah.

A. Tujuan, Sasaran dan Manfaat Evaluasi

93
Evaluasi pelaksanaan pembangunan daerah secara umum bertujuan untuk
mengetahui seberapa jauh rencana pembangunan daerah yang telah disusun dan
ditetapkan oleh pejabat berwenang dapat dilaksanakan dalam praktik. Karena itu,
teknik evaluasi ini lazim pula dinamakan sebagai Evaluasi Kinerja Pembangunan
Daerah (EKPD). Bilamana ternyata pelaksanaan rencana tersebut sesuai atau lebih
tinggi dari sasaran dan target pembangunan yang telah ditetapkan semula, maka
pelaksanaan rencana tersebut dikatakan berjalan dengan baik. Akan tetapi,
bilamana ternyata pelaksanaan rencana tersebut tidak sesuai atau berada di bawah
sasaran dan target yang ditetapkan maka pelaksanaan rencana pembangunan
daerah tersebut dikatakan kurang berhasil.

Evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah dapat dilakukan dalam


berbagai bentuk. Pertama, evaluasi tahunan seperti Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP). Kedua, Evaluasi Pertengahan Jalan, Ketiga, Evaluasi
Tahunan, Keempat, Evaluasi lima tahunan ketika melakukan penyusunan
dokumen RPJMD. Kesemua jenis evaluasi ini dilakukan secara berkala sesuai
dengan periode waktu masing-masing perencanaan. Sasaran utama evaluasi
pelaksanaan rencana secara umum adalah untuk mengetahui seberapa jauh
rencana yang telah ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah dapat mencapai
hasil yang telah ditetapkan dalam rencana semula.

B. Tehnik Evaluasi Kinerja Makro

Evaluasi kinerja Makro dilakukan untuk menilai keberhasilan kebijakan


pembangunan daerah yang mencakup aspek menyeluruh serta lintas sektoral.
Termasuk ke dalam evaluasi ini yang menyangkut dengan evaluasi terhadap
penyediaan lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi,
dan lain sebagainya. Sedangkan Evaluasi Kinerja Program dan Kegiatan
dilakukan untuk penilaian keberhasilan pelaksanaan pembangunan pada tingkat
program dan kegiatan yang telah direncanakan semula. Karena itu dalam
praktiknya, kedua jenis evaluasi ini pada dasarnya sangat diperlukan untuk dapat

94
mengetahui secara lengkap kinerja dari pelaksanaan kegiatan pembangunan
daerah.

Tehnik evaluasi kinerja makro dapat dilakukan dalam tiga bentuk.


Pertama, dengan membandingkan antara target pembangunan daerah yang telah
ditetapkan dalam rencana dengan realisasi yang dapat dicapai dalam
pembangunan daerah. Kedua, bilamana target pembangunan secara kuantitatif
tidak tersedia, maka teknik evaluasi yang dapat dilakukan adalah dengan
membandingkan realisasi dari indikator pembangunan daerah yang tersedia
dengan nilai rata-rata pada tingkat nasional atau tingkat provinsi. Ketiga, dengan
melihat trend perkembangan selama 5 tahun dari beberapa indikator pembangunan
daerah utama.

1. Perbandingan Target dan Realisasi

Teknik Evaluasi Komprehensif paling sederhana yang dapat dilakukan


dalam melakukan evaluasi pelaksanaan suatu perencanaan pembangunan daerah
adalah dengan jalan membandingkan kondisi pembangunan sesudah rencana
dilaksanakan dengan sebelumnya. Dengan cara demikian, tentunya pelaksanaan
rencana tersebut dapat dikatakan berhasil bila kinerja pembangunan dalam daerah
cakupan ternyata lebih baik dibandingkan dengnan kondisi sebelum rencana
tersebut dilaksanakan, dengan asumsi tidak terjadi suatu perubahan yang luar
biasa dalam periode tersebut. Demikian pula sebaliknya bilamana kemudian
ternyata kinerja pembangunan daerah tersebut tidak menjadi lebih baik
sebagaimana yang direncanakan semula, maka rencana tersebut dikatakan kurang
berhasil.

2. Perbandingan Dengan Nilai Rata-Rata

Pertimbangan utama yang dijadikan dasar dalam penggunaan metode


evaluasi ini adalah bahwa keberhasilan pembangunan suatu bidang atau sektor

95
tertentu akan dapat diketahui dengan jalan membandingkan realisasi
pembangunan atau prestasi yang dapat dicapai dengan kondisi rata-rata dan unsur
atau aspek yang sama. Dalam hal ini pelaksanaan rencana pembangunan dapat
dikatakan berhasil bilamana angka capaian yang dapat diperoleh lebih tinggi dari
nilai rata-rata unsur yang bersangkutan. Demikian pula sebaliknya, bila capaian
yang diperoleh berada atau sama dengan nilai rata-rata dari unsur atau variabel
yang bersangkutan.

3. Analisis Trend Perkembangan

Pertimbangan utama yang dijadikan dasar dalam menggunakan metode


evaluasi ini adalah bahwa keberhasilan kinerja pembangunan daerah akan dapat
pula dilihat dari trend perkembangan masing-masing indikator pembangunan
daerah yang digunakan. Dalam hal ini, kinerja pembangunan daerah dikatakan
berhasil bilamana terdapat trend perkembangan yang bersikap positif dari masing-
masing indikator pembangunan daerah secara signifikan dibandingkan dengan
masa sebelumnya. Sebaliknya kinerja pembangunan dikatakan kurang baik
bilamana trend perkembangannya sangat kecil atau bahkan menurun (negatif).

C. Teknik Evaluasi Makro Spesifik

Evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah secara makro dapat


pula dilakukan dengan menggunakan indikator spesifik yang besifat khusus.
Indikator spesifik yang lazim digunakan sebagai indikasi keberhasilan adalah
penciptaan lapangan kerja lokal yang merupakan sasaran umum pembangunan
ekonomi dan peningkatan kesejahteraan sosial secara umum (makro). Di samping
itu, dapat pula digunakan indikator perpindahan investasi dari satu daerah ke
daerah lain atau investasi luar negeri yang masuk ke daerah bersnangkutan.
Alasannya adalah karena perpindahan investasi akan terjadi bilamana daerah
tujuan dapat menggerakkan pembangunannya sehingga dapat memberikan daya
tarik yang cukup besar bagi investor swasta untuk melakukan investasi pada
daerah yang bersangkutan

96
1. Evaluasi Penciptaan Lapangan Kerja Lokal

Salah satu bentuk dari evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan secara


spesifik adalah dalam bentuk evaluasi penciptaan lapangan kerja lokal. Alasannya
adalah bahwa peningkatan kegiatan pembangunan secara makro dapat juga
diwakili oleh penciptaan lapangan kerja lokal yang akan berpengaruh langsung
bagi peningkatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat daerah secara
keseluruhan. Dengan demikian, keberhasilan pemerintah dalam mendorong
peningkatan penyediaan lapangan kerja dapat diartikan sebagai keberhasilan
pemerintah dalam mendorong proses pembangunan di daerahnya.

Namun demikian cara penilaian keberhasilan pelaksanaan kebijakan


pembangunan regional sebagaimana diuraikan di atas mempunyai kelemahan
karena sistem tersebut tidak dapat memisahkan dampak yang juga dihasilkan oleh
rencana dan kebijakan yang bersifat nasional. Sebagaimana diketahui bahwa
kemajuan pembangunan pada suatu daerah tidak hanya disebabkan oleh rencana
dan kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh daerah bersangkutan saja, tetapi
juga terjadi karena kebijakan pembangunan yang bersifat nasional dilakukan oleh
pemerintah pusat. Karena itu untuk dapat mengevaluasi pengaruh pelaksanaan
rencana dan kebijaksanaan pembangunan daerah secara lebih baik, maka damapak
pembangunan daerah sebagai hasil kebijakan nasional seharunya sehingga
perhitungan menjadi lebih tepat dan adil.

2. Evaluasi Mobilitas Inevestasi Daerah

Penilaian keberhasilan pelaksanaan kebijakan pembangunan suatu daerah


dapat pula dilakukan melalui analisis mobilitas investasi yang masuk ke daerah
bersangkutan. Hal ini dilakukan karena keberhasilan pelaksanaan rencana dan
kebijakan pembangunan pada suatu daerah tersebut dapat pula ditunjukkan oleh
keberhasilan dalam menarik industri dan kegiatan ekonomi lainnya dari luar

97
daerah maupun luar negeri untuk masuk ke suatu daeah tertentu. Bila jumlah
investasi yang masuk ternyata cukup besar nilainya, maka unsur-unsur penting
pembangunan daerah seperti pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja
dan peningkatan pendapatan masyarakat akan dapat ditingkatkan pula.
Berdasarkan pandangan tersebut maka mobilitas industri dan kegiatan ekonomi
daerah dapat diukur dalam bentuk arus investasi sehingga dapat ditulis sebagai
berikut:

M = f(I)

Di mana M adalah mobilitas industri atau kegiatan ekonomi secara umm,


sedangkan I adalah nilai investasi luar yang masuk ke daerah bersangkutan dalam
rupiah atau dolar. Mobilitas investasi masuk ke suatu daerah biasanya disebabkan
oleh adanya daya tarik (A) tertentu yang terdapat di daerah bersangkutan baik
karena kondisi prasarana yang lebih baik, adanya potensi sumber daya alam
khusus ataupun kualitas sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Bila unsur
rencana dan kebijakan pembangunan daerah (RP) juga ikut dipertimbangkan
maka fungsi mobilitas terdahulu akan dapat pula ditulis dalam bentuk fungsi
sebagai berikut:

I = f (A, RP)

Di mana A melabangkan data tarik daerah dan RP adalah rencana dan


kebijakan pembangunan regional yang dilaksanakan pada daerah tersebut. Bila
pengukuran dilakukan dengan metode regresi, maka persamaan diatas dapat
diubah menjadi:

I = σ + β A + δ (RP) + ε

Di mana σ, β dan δ adalah koefisien regresi dan ε adalah faktor kesalahan.


Mengingat RP adalah variabel kebijakan regional yang juga dapat diwakili oleh
jumlah anggaran daerah yang dialokasikan untuk pelaksanaan rencana dan
kebijakan pembangunan tersebut, maka keberhasilan pelaksanaan kebijakan

98
pembangunan regional dapat dukur dari besarnya koefisien regresi δ yang
seharusnya mempunyai nilai positif.

D. Tehnik Evaluasi Kinerja Program

Evaluasi pelaksanaan rencana dan kebijakan pembangunan daerah secara


pasial dilakukan dengan melihat pada keberhasilan pelaksanaan pembangunan
pada tingkat program atau proyek (kegiatan). Evaluasi ini diaktakan parsial karena
hanya melihat kepada sebagian dari kegiatan pembangunan daerah saja yang
belum tentu menggambarkan kondisi pembangunan daerah secara keseluruhan.
Karena itu, untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dari keberhasilan
pelaksanaan rencana dan kebijakan pembangunan suatu daerah, perlu dilakukan
penilaian terhadap sejumlah program dan kegiatan utama yang berskala besar dan
memberikan dampak cukup besar atau siginifikan terhadap proses pembangunan
daerah bersangkutan.

Karena penilaian dilakukan pada tingkat program dan kegiatan, maka


dalam hal ini terdapat tiga jenis teknik evaluasi yang dapat digunakan, yaitu:

1. Tehnik Evaluasi Indikator Kinerja

Tehnik ini menilai keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan


pembangunan berdasarkan konsep Evaluasi Kinerja menggunakan lima kriteria,
yaitu masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dan
dampak (impacts). Pengalaman praktik menunjukkan bahwa pengukuran manfaat
dan dampak tidaklah mudah karena hal ini memerlukan pengamatan dan survei
lapangan secara intensif dengan kriteria tertentu. Di samping itu, pembedahan
yang tegas antara manfaat dan dampak juga tidak mudah dilakukan karena kedua
hal ini pada dasarnya hampir sama. Karena itu, sesuai dengan PP No. 6 Tahun
2008, untuk kemudahannya penilaian tersebut dapat difokuskan hanya kepada tiga
unsur saja yaitu masukan, keluaran, dan hasil.

99
Penilaian terhadap unsur masukan (input) terutama diarahkan pada tingkat
penggunaan dan penyerapan dana yang telah dapat dilakukan dalam pelaksanaan
program dan kegiatan bersangkutan. Sedangkan penilaian terhadap keluaran
(output) diarahkan pada hasil langsung dari pelaksanaan program dan kegiatan
bersangnkutan baik bersifat fisik maupun non fisik. Penilaian terhadap hasil
ditekankan pada hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat dari keluaran
pelaksanaan program dan kegiatan tersebut. Sedangkan penilaian terhadap
manfaat adalah dalam bentuk kegunaan dari adanya program dan kegiatan
pembangunan tersebut. Penilaian terhadap dampak (impact) adalah dalam bentuk
pengaruh yang dapat dihasilkan dengan adanya pelaksanaan program dan kegiatan
tersebut terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Tabel di bawah ini memberikan ringkasan dari Tehnik Evaluasi Kinerja.

Indikator Tolak Ukur Target Kinerja


Masukan Penggunaan dana Jumlah dan persentase
(Input) pelaksanan kegiatan penyerapan dana
Keluaran Keluaran langsung Jumlah dan persentase
(Output) dari kegiatan keluaran sesuai
dengan spesifikasi
teknis program dan
kegiatan bersangkutan
Hasil Hasil dinikmati dari Jumlah dan persentase
(Outcome) adanya keluaran masyarakat yang
menggunakan
keluaran program dan
kegiatan bersangkutan
Manfaat Manfaat bagi Jumlah dan persentase
(Benefit) kehidupan masyarakat yang
masyarakat menerima manfaat
langsung dari

100
penggunaan program
dan kegatan
bersangkutan
Dampak Pengaruh terhadap Jumlah dan persentase
(Impacts) pembangunan masyarakat yang
dipengaruhi langsung
oleh keluaran
program dan proyek
bersangkutan

2. Analisis Biaya dan Manfaat

Analisis biaya dan manfaat yang digunakan pada dasarnya adalah sama
dengan teknik yang lazim dipakai pada penilaian kelayakan dengan menggunakan
Analisis Biaya dan Manfaat. Perbedaannya adalah bahwa pada evaluasi pelaksana
rencana pembangunan daerah ini, data informasi tentang biaya dan manfaat yang
digunakan dalam analisis adalah realisasi karena program dan kegiatan tersebut
sudah selesai dilaksanakan sebelumnya. Dengan demikian, evaluasi pelaksanaan
rencana atau suatu kebijakan yang dilakukan melalui pelaksanaan sebuah program
atau kegiatan dapat dikatakan berhasil bilamana kegiatan tersebut dapat
menghasilkan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang
dikeluarkan.

Tehnik analisis biaya dan manfaat yang digunakan dapat dijelaskan


sebagai berikut. Seandainya 𝐼𝑡 adalah nilai investasi proyek yang dilakukan pada
tahun t, C𝑡 adalah biaya operasional yang dikeluarkan dalam pelaksanaan program
dan kegiatan untuk setiap tahunnya dan 𝐵𝑡 adalah manfaat yang dihasilkan, maka
evaluasi keberhasilan pelaksanaan rencana atau kebijakan pembangunan daerah
dapat dilakukan menggunakan kriteria sebagai berikut:

 Benefit-Cost-Ratio
 Not Present Value (NPV)

101
 Internal Rate of Return
Satu hal yagg perlu diingat dalam melakukan evaluasi rencana atau
kebijakan pembangunan daerah dengan metode biaya dan manfaat ini adalah
bahwa kebanyakan pada negara berkembang, termasuk Indonesia, harga dalam
negeri untuk harga barang atau komoditi strategis biasanya disubsidi oleh
pemerintah sehingga harganya lebih rendah dari harga pasar tanpa subsidi, seperti
halnya dengan bahan bakar minyak di Indonesia. Dalam hal ini evaluasi
seharunya menggunakan harga bayangan yang menggambarkan harga pasar yang
sebenarnya. Bila hal ini tidak dilakukan dikhawatirkan penilaian menjadi terlalu
tinggi dari kondisi yang sebenarnya sehingga banyak program dan kegiatan dalam
perhitungan dinilai berhasil, tetapi sebenarnya keberhasilan pembangunan daerah
tersebut adalah karena didukung oleh adanya subsidi.

3. Kerangka Logis

Pada kerangka logis ini evaluasi pelaksanaan pembangunan daerah


dilakukan secara lebih sederhana dengan menggunakan sebuah tabel (matrik).
Pada matrik ini dijelaskan latar belakang pelaksanaan kegiatan, tujuan, deskripsi
program dan kegiatan, sasaran dan tolak ukur keberhasilan yang digunakan serta
manfaat yang diharapkan dari hasil pelaksanaan program dan kegiatan tersebut.
Bila indikator dan ukuran secara kuantitatif sulit diperoleh untuk masing-masing
unsur tersebut, dapat juga digunakan angka persentase atau hanya secara kualitatif
saja dengan memperhatikan hasil pelaksanaan pembangunan yang terlibat dalam
masyarakat.

Dibandingkan dengan teknik evaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan


daerah sebagaimana yang sudah dijelaskan terdahulu, tentunya penggunaan
metode kerangka logis ini mengandung banyak kelemahan dan kekeliruan karena
sifatnya yang sangat sederhana dan lebih banyak bersifat kualitatif. Namun
demikian, untuk evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan dengan nilai dana
dan lebih kecil dan jumlah kegiatannya cukup banyak, maka tehnik evaluasi ini

102
dirasakan lebih efektif dan lebih mudah dilakukan dalam kondisi jumlah dan
kualitas tenaga perencana yang masih terbatas dewasa ini di daerah terutama pada
daerah kabupaten.

BAB 15

PENYUSUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG


DAERAH

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan agar masing-masing daerah
menyusun rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJPD) untuk
daerahnya masing-masing. RPJPD tersebut disusun untuk periode 20 tahun yang
berisikan visi, misi, dn arah pembangunan jangka panjang daerah. Sasaran utama
penyusunan RPJPD ini adalah untuk dapat memberikan arah yang jelas tentang
pembangunan dalam jangka panjang yang selanjutnya menjadi pedoman dalam
penyusunan dokumen rencana pembangunan daerah yang lebih pendek seperti
RPJMD untuk periode 5 tahun dan RKPD yang merupakan rencana tahunan.

A. PERIODE WAKTU RPJPD

Sebagaimana diamanatkan dalam undang undang nomor 25 tahun 2004,


bahwa rencana pembangunan jangka panjang adalah untuk periode 20 tahun.
ketentuan tentang periode waktu RPJPD yang harus sama tersebut sebenarnya
cukup membingungkan dan banyak diperdebatkan oleh kalangan pemerintah
daerah mauoun oleh para perencana. sedangkan sesuai ketentuan berlaku,
penyusunan RPJP tersebut dilakukan setelah kepala daerah berhasil PILKADA
dilantik yang waktunya berbeda beda tergantung dari waktu pelaksanaan
PILKADA tersebut. akibatnya terjadi hal yang kurang logis yaitu RPJPD yang
kebetulan baru disusun pada tahun 2008, tetapi isinya harus juga mencakup
periode perencanaan 2005-2025 sehingga tiga tahun pertama sebenarnya sudah
bukan lagi rencana, tetapi sudah dilaksanakan atau terealisasi. akan tetapi, hal ini
terpaksa harus ditempuh karena Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007

103
mengharuskan bahwa RPJPD harus mempunyai periode waktu yg sama dengan
RPJP nasional.

komplikasi yang lebih rumit lagi terjadi dalam penyusunan rencana


pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang seharusnya juga mengacu
pada RPJPD daerah bersangkutan. sesuai dengan Undang-Undang nomor 25
tahun 2004, RPJMD harus sudah dapat ditetapkan paling lama 3 bulan setelah
kepala daerah dilantik. sedangkan pelantikan tersebut berbeda beda. Akibatnya
penyusunan RPJMD juga dilakukan untuk periode yang berbeda-beda pula.
Memang benar bahwa Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 tidak menuntut
periode RPJMD harus sama dengan RPJPD, akan tetapi akibat perbedaan periode
waktu perencanaan tersebut maka konsistensi antara RPJMD dan RPJPD pada
masing-masing daerah menjadi sukar untuk diwujudkan.

Permasalahan ini muncul sebagai konsekuensi logis dari penerapan


otonomi daerah dan sistem PILKADA dalam pemilihan kepala daerah. Dalam
rangka mewujudkan perencanaan yang terpadu, baik pada tingkat nasional
maupun pada masing-masing daerah, maka masalah ini perlu segera dipecahkan.
Alternative jalan keluar yang dapat dilakukan adalah melakukan PILKADA
secara serentak sehingga masa tugas dan jadwal waktu perencanaan menjadi
sama.

B. POLA PENULISAN RPJPD

Pola penulisan dokumen perencanaan pembangunan sangat penting artinya


baik bagi badan perencana pembangunan nasional dan daerah sendiri maupun
bagi publik. Bagi badan perencanaan, pola penulisan ini sangat penting untuk
dapat menentukan isi dokumen yang perlu dibuat dan sekaligus sebagai alat untuk
menkoordinasikan pembagian tugas antara tim penyusunan rencana. Sedangkan
bagi publik, pola penulisan ini juga penting! artinya untuk mendapatkan gambaran
menyeluruh yang jelas tentang isi dokumen perencanaan pembangunan tersebut.

104
Secara ringkas, pola penulisan rencana ini dapat dilihat dari daftar isi dokumen
perencanaan bersangkutan.
Pola penulisan sebuah dokumen perencanaan sebenarnya tidak harus
mengikuti pola tertentu (seragam), tetapi dapat berbeda satu sama lainnya. Hal
yang penting dijaga adalah seberapa jauh dokumen tersebut bermanfaat untuk
mengarahkan para pelaku pembangunan dalam melaksanakan kegiatannya
sehingga sasaran dapat terwujud. Variasi penulisan dokumen perencanaan
tersebut dimungkinkan, mengingat Indonesia dewasa ini sudah berada dalam era
otonomi daerah di mana pemerintah daerah dapat menentukan sendiri apa yang
baik untuk daerahnya masing-masing sesuai dengan kondisi dan situasi daerah
bersangkutan.
Memperhatikan ketentuan yang berlaku dan perundangan yang berlaku, secara
umum dewasa ini terdapat dua pola penulisan dokumen RPJPD. Pertama adalah
pola penyusunan RPJPD versi BAPPENAS sebagaimana ditetapkan dalam
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentan RPJP Nasional 2005-2025. Pola
ini juga sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) di mana ditetapkan bahwa RPJPD
harus mengacu pada RPJPN. Kedua, pola penyusunan RPJPD versi DEPDAGRI
sesuai dengan Permendagri 54 Tahun 2010 yang merupakan pelaksanaan dari
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008.

1. Pola Penulisan RPJPD Versi BAPPENAS


RPJP nasional yang disusun oleh BAPPENAS pada dasarnya merupakan
penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan negara Indonesia
sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. RPJP nasional tersebut merupakan
perencanaan jangka panjang untuk periode 20 tahun (2005-2025). Pola
penulisan RPJP nasional bagaimana yang telah disusun oleh Bappenas adalah
seperti terlihat pada tabel 15.1. Di sini terlihat bahwa RPJP nasional tersebut
terdiri dari 5 bab yang meliputi Pendahuluan, Kondisi Umum, Visi dan Misi
Pembangunan Nasional Tahun 2005-2025, Arah, Tahapan, dan Prioritas

105
Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025 dan Penutup. Dalam kondisi
umum, aspek yang dibahas adalah sosial budaya dan kehidupan beragama,
ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, sarana dan prasarana, politik,
pertahanan dan keamanan, hukum dan aparatur, wilayah dan tata-ruang, serta
sumber daya alam dan lingkungan.
Sedangkan gaya penulisan kelihatannya mirip dengan apa yang biasa
ditemukan pada dokumen Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang
biasanya disusun pada masa Orde Baru yang lalu. Kekuatan utama pola
penulisan RPJP versi Bappenas ini adalah lebih bersifat komprehensif sesuai
dengan sifat dari pola penulisan rencana pembangunan jangka panjang.
Pembahasan pada masing-masing aspek dimulai dengan permasalahan dan
kendala yang dihadapi dan kemudian dilanjutkan dengan arah pembangunan
jangka panjang untuk memecahkan permasalahan tersebut. Setelah itu dibahas
pula dampak dari arah pembangunan jangka panjang tersebut terhadap
peningkatan proses pembangunan nasional dan perbaikan kesejahteraan
masyarakat. Pernyataan-pernyataan yang diberikan dalam RPJP ini lebih
bersifat umum sehingga fleksibilitas terhadap perubahan dimasa mendatang
dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Sedangkan kelemahan utama pola penulisan RPJP versi Bappenas ini
antara lain adalah terlalu bersifat normatif sehingga arah pembangunan
menjadi kurang konkret. Selanjutnya terlihat pula bahwa analisis terlalu
bersifat kualitatif sehingga target-target capaian yang diharapkan dalam angka
panjang menjadi kabur. Di samping itu, RPJP versi Bappenas ini sangat ukit
sekali menyinggung aspek tata-ruang dan perencanaan wilayah yang
sebenarnya sangat penting untuk melihat pola pembangunan ruang dimasa
mendatang. Bagi penyusunan RPJP pada tingkat daerah, aspek perencanaan
wilayah ini jelas akan menjadi sangat penting sekali.

2. Pola Penulisan RPJPD Versi DEPDAGRI

RPJP versi Permendagri menekankan pada pola penyusunan RPJP pada


tingkat daerah, baik provinsi, kabupaten dan kota. Jumlah bab pada RPJP versi

106
Permendagri 54 terdiri dari 6 bab yang meliputi: pendahuluan, gambaran kondisi
umum daerah, analisis isu-isu strategis, visi dan misi, arah pembangunan jangka
panjang daerah dan kaedah pelaksanaan. Tahapan dan prioritas pembangunan
untuk periode lima tahunan juga perlu dicantumkan dalam pola penulisan ini.

Kekuatan utama pola penulisan RPJP daerah versi DEPDAGRI ini adalah
tidak terlalu filosofis dan mudah dimengerti oleh orang awam. Di samping itu,
dalam RPJPD ini terdapat diharuskan melakukan prediksi kondisi umum daerah
untuk memberikan gambran tentang masa depan pembangunan.

C. KONDISI UMUM DAERAH

Kondisi umum daerah pada dasarnya berisikan gambaran menyeluruh


tentang kondisi daerah bersangkutan pada saat ini yang selanjutnya menjadi dasar
utama untuk penyusunan proyeksi ke depan dan penyusunan visi, misi dan arah
pembangunan jangk panjang daerah. Analisis kondisi umum daerah mencakup
kondisi daerah dalam lima tahun terakhir. Dalam RPJPD versi BAPPENAS
pembahasan meliputi tentang hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek: sosial
budaya dan kehidupan beragama, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi,
sarana dan prasarana, politik, pertahanan dan keamanan, hukum dan
pemerintahan, tata-ruang wilayah serta sumber daya alam dan lingkungan.
Sedangkan dalam pola penulisan RPJPD versi DEPDAGRI pembahasan terutama
ditujukan pada aspek – aspek geografi dan demografi, kesejahteraan masyarakat,
pelayanan umum dan daya saing daerah.

Analisis kondisi umum daerah juga mencakup pembahasan tentang


struktur dan potensi pembangunan yang dimiliki daerah. Pembahasan tentang
struktur perekonomian daerah dapat dilakukan dengan melihat perkembangan
kontribusi masing- masing sektor dalam nilai PDRB daerah bersangkutan.
Sedangkan pembahasan tentang potensi daerah biasanya dilakukan dengan
menggunakan konsep keuntungan komperatif (comperative advantage).

D. ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH

107
Isu strategis daerah dapat bersifat internal dalam daerah bersangkutan,
maupun eksternal yang terjadi di luar daerah maupun di luar negeri. Contoh isu
strategis daerah yang datang dari dalam daerah sendiri (internal) antara lain adalah
: peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong terjadinya perubahan jenis
konsumsi dan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat dari pemerintah. Akibat
terjadinya hal ini, maka pola pembangunan dimasa depan akan turut terpengaruh.
Untuk isu strategis daerah yang terjadi di luar (eksternal), contoh yang dapat
diberikan antara lain adalah semakin baiknya pelaksanaan otonomi daerah yang
berlaku secara nasional. Bila pelaksanaan otonomi daerah sudah semakin baik,
maka pola pembangunan daerah akan mengalami perubahan yang cukup
signifikan dimana partisipasi aktif dan sekaligus kontrol dari masyarakat akan
semakin besar.

E. PREDIKSI SASARAN UMUM PEMBANGUNAN DAERAH

Prediksi sasaran umum pembangunan daerah disusun berdasarkan fakta


dan data yang terdapat dalam kondisi umum daerah sebagaimana dijelaskan
terdahulu. Dalam hal ini prediksi diusahakan semaksimal mungkin secara
kuantitatif, kecuali untuk hal yang tidak memungkinkan dapat dilakukan analisis
kualitatif untuk periode 20 tahun mendatang. Untuk lebih memfokuskan analisis,
prediksi sebaiknya diarahkan pada tiga aspek utama pembangunan daerah yaitu :
pembangunan ekonomi, pembangunan sosial (manusia), dan pembangunan
prasarana dan tata – ruang wilayah. Dalam aspek pembangunan ekonomi
perhatian terutama diberikan pada perkiraan (proyeksi) laju pertumbuhan ekonomi
daerah, laju pertumbuhan penduduk, kebutuhan investasi (pemerintah dan swasta)
untuk mencapai target pertumbuhan tertentu dan peningkatan pendapatan per
kapita.

1. Prediksi Sasaran Pembangunan Ekonomi

Prediksi pertumbuhan ekonomi daerah yang bersifat sederhana dan banyak


digunakan adalah metode harrod-domar yang didasarkan pada teori ekonomi

108
makro keynes. Dasar pemikiran utama metode ini adalah bahwa pertumbuhan
ekonomi, baik untuk suatu negara atau daerah terutama didorong oleh kegiatan
investasi, baik swasta maupun asing. Karena itu laju pertumbuhan yang sebaiknya
ditetapkan (warranted rte of growth) dapat dihitung berdasarkan perkalian antara
tambahan investasi yang akan dilakukan dengan incremental capital output ratio
(ICOR).

Bila penggunaan Model Harrod Domar ini tidak dimungkinkan misalnya

karena keterbatasan data tentang tabungan saving sehingga MPS sulit dihitung

atau keterbatasan data investasi daerah terutama yang berasal dari swasta dan

masyarakat umum, maka cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan jalan

memproyeksikan PDRB harga konstan untuk 20 tahun mendatang. Proyeksi dapat

menggunakan metode non linier trend atau auto regressive model yang ditaksir

dengan metode regresi .hasil proyeksi tersebut akan langsung memberikan

perkiraan tentang laju pertumbuhan ekonomi daerah yang diperlukan dalam

penyusunan RPJP. Metode regresi mana yang akan digunakan tergantung pada

tingkat signifikansi statistik yang dihasilkan.

2. Prediksi Sasaran Pembangunan Sosial

Pembangunan sosial terutaa diarahkan pada aspek pembangunan manusia

yang merupakan unsur penting dalam pembangunan nasional dan daerah. Karena

itu prediksi pembangunan bidang sumber daya manusia disusun berdasarkan

kepada konsensus internasional tentang pendidikan yaitu EFA serta pembangunan

manusia millenium Development Goals (MDG) .

109
Ukuran minimum pembangunan sosial yang menggabungkan pencapaian

pemerataan pendidikan,kesehatan dan daya beli masyarakat melalui indeks

pembangunan manusia, yang lazim digunakan secara internasional, sedangkan

prediksinya mempedomani hasil perkiraan yang dilakukan oleh pemerintah

indonesia terhadap indikator indokator yang menunjukkan tinggi rendahnya

pencapaian dari mutu dan pemerataan kualitas manusia.

Prediksi bidang kesehatab masyarakat didasarkan pada target millenium

development goals. Disamping aspek pendidikan ,kesehatan ,prediksi

pembangunan sosial juga mencakup aspek tenaga kerja. Pengangguran dan

kemiskinan . prediksi terhadap masalah tenaga kerja dan pengangguran dilakukan

dengan menggunakan angka tingkat pengangguran yang merupakan persentase

jumlah angkatan kerja yang belum mendapatkan lapangan kerja .

3. Prediksi Sasaran Tata ruang dan pembangunan Wilayah

Prediksi tata ruang dan pembangunan wilayah didasarkan pada rencana

tata ruang wilayah yang telah ada ditetapkan dengan peraturan daerah setempat

dan memperhatikan undang undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang

. untuk daerah provinsi dan kabupaten, indikator utama yang digunakan lebih

bersifat umum seperti luas daerah konservasi, hutan produksi ,kawasan strategis

hierarki kota dan jaringan jalan. Sedangkan untuk daerah perkotaan yang

diguankan lebih rinci yang meliputi kawasan konservasi daerha permukiman

,daerah industri, pusat kota dan jaringan transportasi kota.

110
Prediksi tata ruang dan pembangunan wilayah ini dilakukan dengan

mennggunakan peta sebagai acuan utama disampung angka angka statistik yang

tersedia .penggunan peta ini saangat penting artinya dapat melakukan presentasi

kondisi wilayah dan tata ruang secara eksplisit. Agar prediksi menjadi lebih jelas ,

dlaam hal ini perlu diusahakan agar peta yang digunakan dalam memnyusun

perencanaan adalah dengan skala lebih kecil misalnya , 1 : 10000.

F. PENETAPAN VISI DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH

Penetapan visi dan misi dalam RPJP merupakan aspirasi dan cita cita

masyarakat daerah yang bersangkutan untuk jangka panjang yaitu 20 tahun

kedepan. Karena itu visi misi jangka panjang ditetapkan secara terpisah dengan

peraturan daerah tersendiri , tapi banyak juga hanya ditetapkan dalam penyusunan

RPJP bersangkutan. Sedangkan visi dan misi dalam RPJM pada dasarnya adalah

visi dan misi kepala negara atau daerah terpilih yang disusun untuk periode 5

tahun sesuai dengan masa jabatan presiden atau kepala daerah bersangkutan.

Dalam melakukan penetapan visi jangka panjang perlu diusahakan agar realistis,

harus memperhatikan 3 kriteria utama yaitu pertama, sesuai dengan kondisi umum

daerah serta prediksi jangka panjang yang telah dilakukan sebelumnya . kedua,

visi tersebut sebaiknya diukur , dan jelas batas wkatu pencapaiannya sehingga

jabarannya pada RPJM menjadi lebih mudah dan evaluasi pelaksanaanya

dikemudian hari dapat dilakukan secara lebih konkret menggunakan ukuran dan

indijator yang jelas . ketiga, singkat padat agar mudah diinat seluruh lapisan

111
masyarakat sehingga menyebabkan timbulnnya pemahaman baik dan mendorong

rasa ikut bertanggung jawab untuk melaksanakannya.

G. PERUMUSAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH


Agar perencanaan menjadi lebih terarah, maka dalam melakukan perumusan
arah pembangunan daerah, tekanan pembahasan hanya diberikan pada aspek-
aspek yang sangat strategis dan menentukan keberhasilan dan menentukan
keberhasilan pelaksanaan misi pembangunan yang telah ditetapkan semula.
Berdasarkan misi pembangunan yang telah ditetapkan, paling kurang arah
pembangunan daerah mencakup lima aspek utama, yaitu :
a. Terwujudnya tata kehidupan beragama dan berbudaya,
b. Terwujudnya tata pemerintahan yang baik (good governance),
c. Terwujudnya kualitas SDM yang mempunyai daya saing global, dan
d. Terwujudnya kualitas lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan.
Berkaitan dengan arah pembangunan daerah untuk peningkatan kualitas
lingkungan hidup secara berkelanjutan, maka upaya pembangunan daerah perlu
diarahkan pada penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang
ditetapkan secara konsisten melalui penerapan sanksi yang tegas terhadap
pihak yang melanggar. Selanjutnya, arah pembangunan juga perlu ditujukan
untuk memelihara kawasan lindung dan konservasi yang telah ditetapkan
dalam RTRW agar kerusakan lingkungan dapat dicegah atau paling kurang
diminimumkan.

H. PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAERAH


Secara umum arah dan prioritas pada masing-masinf tahap pembangunan
daerah tersebut dapat digeneralisasi sebagai berikut :
1. RPJM kesatu (2005-2010) sebaiknya diarahkan pada penyelesaian
masalah sedang dihadapi serta melanjutkan proses pembangunan yang
telah berjalan pada awal periode perencanaan.
2. RPJM Kedua (2011-2015) sebaiknya diarahkan pada penyelesaian
pembangunan sarana dan prasarana yang menjadi landasan utama

112
kemajuan ekonomi daerah seperti : fasilitas perhubungan, listrik, air
minum, dan komunikasi.
3. RPJM ketiga (2016-2020) sebaiknya diarahkan pada pencapaian
kualitas SDM yang cukup tinggi melalui peningkatan dan pemerataan
kualitas pendidikan, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, dan
meletakkan landasan yang kuat bagi pengembangan IPTEKS.
4. RPJM keempat (2021-2025) Sebaiknya diarahkan pada upaya
pengembangan IPTEKS tepat guna yang akan dijadikan landasan
utama mewujudkan era industrialisasi dan penggunaan teknologi
tinggi.

BAB 16

PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH


DAERAH

A. Periode Waktu RPJMD

Penyusunnan RPJMD harus sudah dapat diselesaikan dan ditetapkan


selambat-lambatnya 3 bulan setelah presiden atau kepala daerah baru dilantik.
Dalam praktiknya di lapangan, penyusunan dan penetapan RPJMD selama 3
bulan ini jelas terlalu singkat waktunya sehingga sulit direalisasikan. Lebih – lebih
lagi bila RPJMD tersebut akan ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda)
yang ternyata juga cukup memakan waktu dalam pembahasan di DPRD setempat.
Karena itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 masa penyusunan
RPJMD tersebut diperpanjang menjadi maksimum 6 bulan sesudah kepala daerah
resmi dilantik.

Sesuai dengan prinsip demokrasi dan otonomi daerah, pemilihan kepala


daerah dilakukan melalui sistem pemilihan langsung oleh rakyat yang waktunya
berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain sesuai dengan waktu
berakhirnya jabatan kepala daerah sebelumnya. Oleh karena periode waktu
RPJMD ditetapkan maksimum 6 bulan sejak kepala daerah mulai dilantik, maka
otomatis periode waktu berjalannya RPJMD tentunya juga akan berbeda-beda
antara satu daerah dengan daerah lainnya sesuai dengan berakhirnya masa jabatan
kepala daerah yang bersangkutan. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari

113
pelaksanaan otonomi daerah dan PILKADA di Indonesia yang secara resmi
berlaku mulai tanggal 1 Januari 2001 yang lalu.

Perbedaan jangka waktu berlaku RPJMD tersebut menyebabkan terjadinya


beberapa permasalahan yang cukup serius dalam penyusunan dan pelaksanaan
rencana pembangunan daerah di seluruh Indonesia. Pertama, menyangkut dengan
keterpaduan perencanaan antara RPJMD dengan RPJPD sebagaimana
diamanatkan oleh undang-undang menjadi sukar diwujudkan karena RPJP
mempunyai jangka waktu yang sama di seluruh daerah yaitu 2005-2025,
sedangkan RPJMD berbeda-beda tergantung dari masa jabatan kepala daerah
bersangkutan. Kedua, sinkronisasi dan konsistensi rencana pembangunan antar
daerah yang berdekatan dan berkaitan serta dengan pembangunan nasional yang
juga sulit diwujudkan. Akibatnya, proses pembangunan nasional yang terpadu,
efisien , dan bersinergi antara satu daerah dengan daerah lain sulit untuk dapat
diwujudkan. Karena itu, permasalahan ini perlu dipecahkan dan dicarikan jalan
keluarnya secepat mungkin dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional
yang optimal.

Ada dua kemungkinan jalan keluar yang diperkirakan akan dapat ditempuh
untuk dapat mewujudkan kesamaan periode waktu perencanaan tersebut. Pertama,
melakukan penyamaan periode waktu pelaksanaan rencana melalui undang-
undang sebagaimana yang pernah dilakukan dalam penyusunan Rencana
Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) pada zaman pemerintahan Orde Baru
yang lalu. Kalau periode perencanaan tersebut harus berbeda dengan masa jabatan
kepala daerah, maka kepala daerah harus mengikuti periode tersebut sesuai
dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Dengan demikian, masa jabatan
kepala daerah tidak harus sama dengan masa berlakunya RPJMD.

Kedua, melakukan kegiatan Pilkada secara serentak di seluruh Indonesia


sehingga masa jabatan kepala daerah dan jangka waktu berlakunya RPJMD
otomatis menjadi sama. Cara kedua ini juga akan dapat pula mengurangi biaya
pelaksanaan Pilkada masing – masing daerah yang ternyata juga sangat besar
sehingga memboroskan keuangan negara dan mendorong terjadinya korupsi yang
dilakukan oleh kepala daerah. Alternatif mana yang akan dipilih tentunya sangat
bergantung pada kebijakan pemerintah nasional

B.Pola Penulisan RPJMD

114
Sesuai dengan prinsip otonomi daerah, seyogianya pola penulisan
dokumen perencanaan pembangunan daerah tidak harus mengikuti pola tertentu
(seragam), tetapi dapat berbeda satu sama lainnya. Hal yang penting diupayakan
dalam hal ini adalah seberapa jauh dokumen perencanaan tersebut bersifat
operasional dan bermanfaat untuk mengarahkan para pelaku pembangunan daerah
dalam melaksanakan kegiatan pembangunan sehingga sasaran yang diinginkan
dapat terwujud. Variasi perencanaan pembangunan daerah tersebut dimungkinkan
mengingat Indonesia dewasa ini sudah berada dalam era otonomi daerah dan
disentralisasi pembangunan di mana pemerintah daerah dapat menentukan sendiri
apa yang baik untuk daerahnya masing – masing sesuai dengan kondisi dan situasi
daerah yang bersangkutan. Pola penulisan rencana pembangunan daerah tersebut
secara ringkas dapat dilihat dari daftar isi pada masing – masing dokumen
perencanaan pembangunan tersebut.

Secara umum, dewasa ini terdapat dua pola penulisan RPJMD yang
berlaku di Indonesia. Pertama, mengikuti pola Bappenas yang dapat dilihat dari
buku RPJM Nasional 2004-2009 dan 2010-2014 yang telah diterbitkan
sebelumnya secara resmi. Pola ini didasarkan pada amanat Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2004 yang mengamanatkan bahwa penyusunan RPJMD harus
mengacu pada RPJM nasional. Kedua, adalah dengan mengikuti pola penulisan
sebagaimana ditetapkan dalam Surat Edaran (SE) Mendagri No. 050/2020/SJ
tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah
dan RPJM Daerah yang kemudian dikukuhkan dalam bentuk Permendagri 54
Tahun 2010.

Kedua pola penulisan RPJM ini mempunyai kelebihan dan kelemahan


masing – masing sehingga sulit mengatakan yang satu lebih baik dari yang
lainnya. Karena itu tidaklah mengherankan bilamana dalam menyusun RPJMD
ada daerah yang menggunakan pola Bappenas dan ada pula menggunakan pola
Depdagri.

C.Kondisi Umum Daerah

Sebagaimana lazimnya dalam penyusunan sebuah rencana, hal yang mula – mula
harus dilakukan adalah analisis tentang kondisi umum daerah yang
memperlihatkan kondisi daerah pada waktu menulis rencana (existing condition)
yang akan dijadikan landasan utama penulisan rencana. Memperhatikan dokumen
RPJMD yang telah selesai baik pada tingkat nasional maupun daerah, dimana
terdapat dua cara yang lazim digunakan dalam menganalisis kondisi umum daerah
tersebut.

115
1. Menekankan pembahasan terhadap potensi daerah setempat, tendensi
perkembangan, serta pembangunan serta permasalahan dan kendala
yang dihadapi oleh daerah yang bersangkutan dalam melaksanakan
kegiatan pembangunan
2. Menggunakan analisis teknik SWOT yang menekankan kepada empat
unsur pokok kondisi umum daerah yaitu kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman.

D. Kerangka Ekonomi Makro dan Sumber Pembiayaan

Mengingat pembangunan bertujuan untuk meningkatkan pembangunan daerah


yang bersifat menyeluruh, maka dalam penyusunan dokumen RPJMD, perlu
disusun pula suatu bab khusus tentang kerangka ekonomi makro dan sumber
pembiayaan pembangunan daerah bersangkutan. Melalui analisis kerangka
ekonomi makro ini akan dapat diperoleh gambaran umum perekonomian daerah
secara makro dan analisis ini sangat penting artinya sebagai dasar dalam
perumusan strategi, sasaran pembangunan, kebijakan dan program pembangunan
daerah dari segi ekonomi dan keuangan. Dengan cara demikian, perumusan
strategi, kebijakan, dan program pembangunan akan menjadi lebih tepat dan
terarah sesuai dengan potensi ekonomi dan kondisi masyarakat daerah
bersangkutan.

E. Visi dan Misi Kepala Daerah

Dalam penyusunan RPJMD juga terdapat perumusan visi dan misi, dimana visi
dan misi dalam RPJMD adalah visi dan misi kepala daerah terpilih yang
ditawarkannya kepada masyarakat pada waktu pelaksanaan kampanye dalam
pelaksanaan Pilkada daerah bersangkutan.

Dalam perumusan visi dan misi adalah untuk menjaga keselarasan antara visi dan
misi dalam RPJMD dengan yang terdapat pada RPJPD daerah bersangkutan.
Keterkaitan ini sangat penting artinya bagi pencapaian tujuan pembangunan
daerah secara berkelanjutan dan juga sesuai dengan prinsip yang digariskan dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 bahwa penyusunan RPJMD harus
mengacu pada RPJPD yang telah ada.

F. Strategi Pembangunan Daerah

116
Perumusan strategi pembangunan daerah merupakan bagian yang sangat penting
dalam penyusunan sebuah dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk
RPJMD dan Renstra SKPD. Sedangkan strategi pembangunan daerah itu sendiri
secara umum adalah merupakan cara atau jalan terbaik untuk mencapai tujuan dan
sasaran pembangunan daerah sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan
semula dalam rencana tersebut.

Dalam perumusan strategi pembangunan daerah perlu pula dilakukan secara


konkret dan operasional sehingga penjabarannya untuk menjadi kebijakan,
program, dan kegiatan pembangunan akan menjadi lebih mudah dengan
memperhatikan kondisi sumber daya yang dimiliki oleh daerah tersebut, serta
kondisi sosial guna mencegah munculnya antipati dan gejolak sosial dalam
pelaksanaan strategi pembangunan tersebut.

G.Arah Kebijakan Keuangan Daerah

Arah kebijakan umum keuangan daerah sebaiknya diarahkan pada dua hal
penting, yaitu peningkatan efisiensi pengelolaan penerimaan dan belanja daerah
dan peningkatan sumber pendapatan baru sepanjang tidak bertentangan dengan
ketentuan perundangan yang berlaku.

BAB 17

Penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah

A. Pengertian Rencana Strategis

Rencana strategis pada dasarnya adalah rencana pembangunan yang berkaitan


dengan penyusunan strategi pengembangan suatu institusi dengan memperhatikan
kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal yang
dialami institusi tersebut. Berdasarkan prinsip ini, maka rencana strategis ini
biasanya disusun untuk menghadapi dan memenangkan persaingan yang terdapat
dalam pelaksanaan kegiatan usaha institusi bersangkutan. Karena itu, tidaklah
mengherankan bilamana konsep perencanaan strategis ini sangat populer dalam
Ilmu Manajemen dan Bisnis yang memfokuskan analisisnya pada pengembangan
dunia usaha yang syarat dengan persaingan..

Selanjutnya, secara lebih konkret Burhan (1994) merinci empat karakteristik


dari rencana strategis. Karakteristik tersebut adalah: (a) menyangkut jangkauan

117
masa depan dari keputusan-keputusan yang dibuat sekarang, (b) merupakan suatu
proses yang dimulai dengan menggariskan sasaran strategis dan kebijakan serta
mengembangkan rencana pelaksanaan (Action Plan) untuk mencapai hasil akhir
yang diharapkan, (c) merupakan suatu sikap dan cara hidup tertentu karena
rencana strategis menuntut kebiasaan untuk bekerja berdasarkan perkiraan masa
depan, dan (d) mengaitkan tiga rencana sekaligus yaitu: rencana strategis, rencana
jangka menengah, dan anggaran jangka pendek.

B. Kaitan Antara Renstra SKPD Dengan RPJMD

Dengan dimulainya pelaksanaan otonomi daerah mulai tahun 2001 yang lalu,
maka fungsi dan peranan dinas dan instansi yang berada di daerah mengalami
perubahan cukup penting. Dalam era sentralisasi sebelumnya, fungsi dan peranan
dinas dan instansi di daerah pada dasarnya adalah merupakan tangan kanan dari
departemen teknis pemerintah pusat di Jakarta. Akan tetapi, dalam era otonomi
daerah, fungsi dan peranan dinas dan instansi daerah tesebut berubah menjadi
"tangan kanan" kepala daerah bersangkutan.

Perubahan fungsi dan peranan SKPD ini otomatis mempengaruhi pula


hubungan antara Renstra SKPD dengan dokumen perencanaan pembangunan
lainnya. Dalam era sentralisasi terdahulu, renstra yang disusun oleh dinas dan
instansi di daerah pada dasarnya adalah merupakan penjabaran dari Renstra
Kementerian dan Lembaga (Renstra KL) untuk daerah bersangkutan.

Akan tetapi, pada kenyataannya dalam praktik, menjaga keterkaitan dan


keterpaduan antara Renstra SKPD dan RPJMD ini tidaklah mudah. Kendala ini
muncul karena sampai saat ini sifat "ego sektoral" yang mengatakan bahwa
SKPDnya adalah yang sangat penting dibandingkan dengan yang lainnya di
daerah, ternyata masih cukup besar.

C. Proses Penyusunan Renstra SKPD

Sebagaimana sudah disinggung terdahulu bahwa dalam era otonomi daerah


yang secara formal berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 Januari 2001, fungsi dan

118
peranan dinas dan instansi di daerah mengalami perubahan yang cukup
signifikan. Peranan dinas dan instansi di daerah, baik provinsi kabupaten dan kota,
yang dalam era sentralisasi adalah merupakan unit pelaksanaan program dan
kegiatan pembangunan di daerah sekarang berubah menjadi "tangan kanan"
kepala daerah. Karena itu, istilah dinas dan instansi sekarang sudah berubah
menjadi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Pada dasarnya proses dan prosedur penyusunan Renstra SKPD adalah sangat
mirip dengan proses penyusunan RPJMD. Memperhatikan Peraturan Pemerintah
Nomor 08 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, rengendalian,
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, maka penyusunan
Renstra SKPD mempunyai proses dan prosedur tertentu. Proses dan prosedur
penyusunan Renstra SKPD tersebut adalah sebagai berikut:

1. Karena penyusunan Renstra SKPD harus mengacu pada RPJM daerah


bersangkutan, maka langkah pertama yang perlu dilakukan oleh tim
penyusun rencana adalah mempelajari RPJMD tersebut secara baik dan
mendalam. Aspek yang sangat perlu diperhatikan adalah visi dan misi,
strategi dan kebijakan yang dirumuskan dalam RPJMD tersebut,
khususnya yang terkait secara langsung atau tidak langsung dengan
TUPOKSI SKPD bersangkutan.
2. Menyusun naskah awal Renstra tersebut oleh masing-masing SKPD
bersangkutan yang didahului dengan melakukan evaluasi secara mendalam
dengan menggunakan analisis SWOT tentang kondisi umum daerah sesuai
dengan TUPOKSI SKPD bersangkutan. Analisis ini perlu dilakukan
secara jujur tanpa ada hal yang ditutupi atau dilebihkan agar perumusan
strategi, kebijakan, dan program pembangunan dalam Renstra SKPD ini
menjadi lebih tepat dan terarah sesuai dengan potensi dan permasalahan
yang dihadapi oleh daerah bersangkutan.
3. Melakukan pertemuan Musyawarah Perencanaan Pembangunan
(MUSRENBANG) jangka menengah yang sekurang-kurangnya
melibatkan aparatur SKPD bersangkutan, aparatur perencanaan dan tokoh-

119
tokoh masyarakat yang peduli dengan aspek pembangunan yang terkait
dengan TUPOKSI SKPD bersangkutan. Sasaran utama pelaksanaan
MUSRENBANG ini adalah untuk dapat memanfaatkan partisipasi
masyarakat dengan jalan memberikan masukan dari para pemangku
kepentingan (stakeholders) untuk perbaikan naskah awal Renstra SKPD
tersebut. Sedangkan proses dan prosedur pelaksanaan MUSRENBANG ini
juga diatur secara terpisah dalam Permendagri tersendiri.
4. Menyusun naskah akhir Renstra SKPD dengan memasukkan saran dan
koreksi yang diberikan oleh para pemangku kepentingan terkait dalam
MUSRENBANG tersebut. Dengan cara demikian diharapkan Renstra
SKPD yang sedang disusun tersebut akan dapat pula disesuaikan dengan
aspirasi dan harapan yang berkembang pada masyarakat setempat.
5. Melakukan penetapan dan pengesahan Renstra SKPD tersebut oleh Kepala
SKPD bersangkutan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
D. Kondisi Umum SKPD

Secara formal, kerangka penulisan Rentra SKPD telah diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 08 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian, dan Evaluasi pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah yang
selanjutnya dirinci dalam Permendagri 54 Tahun 2010. Dalan Pasal 40 PP ini
ditetapkan bahwa penyusunan Renstra SKPD paling sedikit mencakup:

1. Pendahuluan, termasuk gambaran pelayan pokok yang harus dilaksanakan


SKPD bersangkutan.
2. Isu-isu Strategis.
3. Tujuan, visi, misi, saran strategi dan kebijakam.
4. Rencana prograrm dan kegiatan berkut Indikator Kinerjansa
5. Penutup.

E. Isu Strategi Daerah

120
Sebagaimana lazimnya pada penyusunan sebuah dokumen perencanaan
pembangunan, analisis biasanya dimulai dengan pembahasan dan evaluasi kondisi
umum yang terdapat pada daerah bersangkutan sesuai dengan TUPOKSI SKPD
bersangkutan, Analisis ini merupakan landasan utama dalam penyusunan unsur -
unsur perencanaan pemhangunan selajutnya.

pembahasan ini kemudian dilanjutkan dengan analisis tentang beberapa isu


strategis yang akan atau sedang mempengaruhi perkembangan masa depan dari
proses pembangunan daerah dalan ruang lingkup TUPOKSI SKPD bersangkutan.
Analisis tentang isu strategis ini sangat peting artinya untuk mendapatkan
informasi tentang kondisi masa depan yang akan atau mungkin terjadi.

F. Prediksi dan sasaran jangka menengah

Isu strategis daerah pada dasarnya adalah menyangkut dengan kondisi dan
permasalahan pokok serta unsur lingkungan fisik dan sosial penting yang
diperkirakan akan menentukan perkembangan pembangunan daerah di masa
mendatang.

Kondiai dan permasalahan pokok yang dimasukkan di sini adalah situasi


yang kalau dapat dipecahkan akan membawa kemajuan pembangunan secara
signifikan dimasa mendatang. Isu strategis ini sangat penting dan perlu dibahas
secara rinci dan dijadikan dasar untuk perumusan kebijakan pembangunan daerah
di masa mendatang.

G. Perumusan Strategi dan kebijakan pembangunan

Agar penyusunan rencana strategis ini tidak hanya bersifat umum dan
normatif, tetapi dibuat secara terukur dengan sasaran yang jelas dan konkret, maka
prediksi masa depan dan sasaran pembangunan secara konkret sangat diperlukan.

Memperhatikan struktur pembangunan daerah, paling kurang prediksi


tersebut meliputi dua unsur pokok yaitu : pertama, pembangunan untuk bidang
yang terkait langsung dengan TUPOKSI SKPD bersangkutan. Kedua, untuk aspek
– aspek lainnya yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan.

121
Dalam hal memilih tekbik yang tepat digunakan dalam melakukan prediksi
tersebut, pertimbangan pertama yang perlu dilakukan adalah melihat ketersediaan
data. Mengingat Renstra SKPD disusun dengan mengacu pada RPJMD wilayah
bersangkutan, maka penyusunan prediksi Renstra tersebut juga harus sinkron
dengan prediksi yang telah dibuat dalam RPJMD

H. Perumusan program dan kegiatan pembangunan

Sesuai dengan nama perencanaan ini, perumusan Strategi dan kebijakan


pembangunan adalah merupakan bagian sangat penting dalam penyusunan sebuat
rencana strategis (Renstra). Strategi dan kebijakan tersebut dirumuskan untuk
dapat mencapai semua sasaran dan target pembangunan daerah yang telah
ditetapkan diatas. Bahkan strategi dan kebijakan ini selanjutnya dapat juga
dijadikan sebagai landasan utama dalam menetapkan program dan kegiatan
pembangunan yang merupakan tindakan (intervensi) konkret yang akan
dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai suatu sasaran pembangunan yang
telah ditetapkan.

Pembahasan tentang perumusan Strategi pembangunan daerah dapat


dilakukan dengan menggunakan peralatan Matrix SWOT yang telah dijelaskan
pada bagian terdahulu. Strategi pembangunan daerah yang dimaksudkan disini
adalah merupakan cara dan upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk dapat
mencapai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dengan memperhatikan
kondisi internal dan eksternal institusi bersangkutan.

Strategi pembangunan daerah yang dirumuskan dengan teknik SWOT


didasarkan pada kondisi umum daerah yang dibahas dalam bentuk kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman yang terdapat pada daerah bersangkutan.

Dengan menggunakan matrix SWOT sebagai alat analisis, akan dapat


diperoleh empat bentuk perumusan Strategi pembangunan daerah yaitu :

a. Pada kuadran I dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk


merebut peluang yang tersedia yaitu (S-O Strategi)

122
b. Pada kuadran II dengan memanfaatkan kekuatan untuk menghilangkan
kelemahan yang ada (S-T Strategi)
c. Pada kuadran III dengan mengurangi kelemahan merebut peluang (W-O
strategi) dan akhirnya
d. Kuadran IV dengan mengurangi kelemahan untuk mengatasi ancaman
yang mungkin muncul dibelakang hari (W-T strategi)

Dari sistem perumusan Strategi pembangunan sebagaimana diuraikan di atas,


terlihat bahwa kelebihan utama dari penggunaan analisis SWOT adalah bahwa
strategi pembangunan daerah yang dihasilkan benar – benar didasarkan pada
kondisi daerah bersangkutan baik secara internal maupun eksternal.

Berdasarkan perumusan Strategi pembangunan daerah yang telah dilakukan,


dapat pula ditentukan jenis kebijakan yang diperlukan untuk mendukung
pelaksanaan strategi tersebut. Dalam melakukan perumusan kebijakan
pembangunan daerah, perlu di ingat bahwa tujuan dan sasaran harus jelas dan
dapat dipahami oleh masyarakat.

I. Indikator Kinerja Program dan kegiatan

Disamping strategi dan kebijakan, perumusan program dan kegiatan


pembangunan merupakan bagian yang sangat penting dalam penyusunan sebuah
Renstra SKPD. Program pembangunan pada dasarnya adalah tindakan intervensi
yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat melaksanakan kebijakan yang telah
diambil dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah
bersangkutan. Sedangkan kegiatan adalah rincian program pembangunan untuk
masing-masing aspek pelaksanaan program tertentu pada suatu lokasi. Karena itu,
dapat juga dikatakan bahwa program pada dasarnya adalah merupakan kumpulan
dari kegiatan yang perlu dilakukan untuk dapat melaksanakan program
pembangunan bersangkutan.

BAB 18

123
PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan salah satu dokumen


perencanaan pembangunan yang juga diwajibkan oleh undang-undang no 25
tahun 2004 kepada pemerintah daerah setempat untuk disusun setiap tahunnya.
RKPD ini pada dasarnya adalah merupaakn rencana tahunan bersifat rinci dan
operasional yang di susun sebagai jabaran dari rencana pembangunan jangka
menengah daerah (RPJMD) bersangkutan. Sebagaimana dikatakan oleh Bintoro
(1976) bahwa rencana tahunan adalah merupakan penterjemahan tahunan secara
lebih kongkrit, spesifik dan operasional rencana jangka menengah. RKPD ini
selanjutnya dijadikan pula sebagai dasar utama dalam penyusunan rencana
anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) bersangkutan.

A. Pengertian Rencana Kerja Pemerintah Daerah


Sesuai dengan pasal 5 ayat (3) Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang
system perencanaan pembangunan nasional dinyatakan bahwa rencana kerja
pemerintah daerah (RKPD) merupakan penjabaran dari RPJMD dan mengacu
pada RKP (Nasional) yang memuat rencangan kerangka ekonomi daerah, rencana
kerja dan pendanaannya, baik dilaksanakan secara langsung oleh pemerintah
daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Dengan
demikian jelas bahwa RKPD ini bukanlah kumpulan dari rencana kerja yang
dibuat oleh masing-masing SKPD (lazim disebut sebagai renja SKPD )
sebagaimana yang juga dipersepsikan oleh para aperatur daerah.
RKPD dapat dikatakan sebagai dokumen perencanaan yang sangat praktis
dan operasional karena isinya lebih banyak diarahkan pada perumusan program
dan kegiatan secara rinci, lengkap dengan indikator dan target kinerjanya untuk
masing-masing program dan kegiatan. Disamping itu, RKPD juga memuat
perkiraan kebutuhan dana untuk masing-masing program dan kegiatan berikut
unit atau bagian yang akan mengerjakan dan bertanggung jawab terhadap
pelaksanaannya.

124
Penyusunan RKPD harus dilakukan setiap tahun agar dapat disesuaikan
dengan perkembangan kondisi sosial ekonomi, kebijakan pemerintah dan
kemampuan dana pada tahun bersangkutan. Penyusunan RKPD dimulai dengan
menyiapkan rancangan awal oleh Bappeda daerah bersangkutan melalui
penjabaran RPJMD setempat dengan memperhatikan isu-isu dan permasalahan
mendesak yang terdapat pada tahun bersangkutan.

B. Peranan Rencana Tahunan


Sebelum uu no 25 tahun 2004 keluar, perhatian terhadap rencana tahunan
masih rendah. Walupuu p[ada waktu itu pemerintah juga telah memintah daerah
menyusun rencana pembangunan tahunan daerah (repatada), namun demikian
da;lam prakteknya dokumen ini hanya merupakan kumpulan dari hasil rapat
kordinasi pembangunan (rakorbang) dengan dinas instansi terrkait .
Dengan keluarnya UU no 25 tahun 2004 tentang system perencanaan
pembangunan nasional (SPPN) penyusunan perencanaan tahunan merupakan
kewajiban yang harus dilaksanakn pemerinnttah baik pada tigkat pusat maaupun
daerah. Bahkan begitu pentingnya penyusuna rencana tahunan tersebut uu
menukar namanya dengan rencana kerja pemerintah (RKP) dan rkpd untuk tingkat
daerah agar rencana tahunan tersebut benar-benar dipedomani dalam pelaksanan
pembangunan.
Ada tiga alasan penting dalmm penyusuna rencana tahunan tersebut menjadi
sangat penting dalm system perencanaan pembangunan secara keseluruhan
Pertama, melalui penyusunan RKPD tersebut akan dapat dilakukan
penyesuaian secara berkala terhadap RPJMD sesuai dengan perubahan kondisi
sosial ekonomi serta kebijakan pemerintah pada tingkat nasional maupun
regional.
Kedua, melalui penyusunan rencana tahunan tersebut, maka dokumen
perencanaan pembangunan yang ada menjadi lebih rinci dan operasional
karena RKPD lebih menekankan pada penyusunan program dan kegiatan yang
bersifat operasional.

125
Ketiga, dengan disusunnya RKPD tersebut yang selanjutnya dijadikan dasar
utama penyusunan RAPBD, maka akan dapat diwujudkan keterpaduan antara
perencanaan dan penganggaran sesuai dengan prinsip teori perencanaan yaitu
Planning, programming, and budgeting system (PPBS).

C. Unsur Pokok Rencana Tahunan


Mengingat rencana tahunan merupakan dokumen perencanaan yang yang
lebih operasional, maka unsur pokok yang terkandung didalamnya juga berbeda
dengan yang lazim terdapat dalam rencana jangka menengah atau rencana
pembangunan jangka panjang. Bintoro Tjokroamidjojo (1976) menyatakan dalam
bukunya bahwa sebagai suatu perencanaan yang lebih kongkrit dan operasional,
rencana tahunan paling kurang harus memuat unsur-unsur pokok sebagai berikut:
a. Program dan kegiatan apa yang perlu dilakukan pada tahun bersangkutan
berikut spesifikasi lokasi dan rincian aktifitasnya
b. Siapa yang akan melakukan dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
program dan kegiatan tersebut, berikut tata hubungan kerja antara unit
yang terkait.
c. Jadwal waktu pelaksanaan program dan kegiatan tersebut berikut
kebutuhan dana sumber pembiayaan.
d. Bentuk keluaran (output) dan hasil (outcome) yang diharapkan dapat
dihasilkan melalui pelaksanaan program dan kegiatan tersebut.
Untuk dapat menyusun sebuah rencana tahunan yang baik dan operasional,
maka aspek-aspek yang perlu dilakukan menurut Bintoro (1976) paling kurang
adalah sebagai berikut:
1. Review yaitu tinjauan dan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan
pelaksanaan program dan proyek pada tahun sebelumnya berikut
permasalahan dan kendala yang dihadapi.
2. Forecast, yaitu melakukan perkiraan (proyeksi) tentang perkembangan
kondisi tahun depan yang akan dilalui oleh rencana tersebut.
3. Resource Assessment yaitu penilaian terhadap ketersediaan dan
kecukupan sumberdaya yang dimiliki daerah bersangakutan khususnya

126
menyangkut dengan dana pembangunan, jumlah dan kualitas tenaga kerja
serta aperatur daerah dan sumber daya alam yang dimiliki.
4. Policy Formulation yaitu perumusan kebijakan pembangunan daerah
untuk tahun bersangkutan setelah memperhatikan hasil evaluasi
pelaksanaan program dan kegiatan tahun berjalan, peramalan kondisi
social budaya dan penilaian terhadap sumber daya yang tersedia.
5. Programming and Activity Planing yaitu penyusunan program dan
kegiatan pembangunan yang akan dilakukan pada tahun bersangkutan
yang direncanakan secara rinci lengkap dengan indicator dan target
kinerjanya serta bagian atau unit yang akan melaksanakan dan
bertanggung jawab.

D. Keterkaitan RKPD Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya


Sebagaimana telah disinggung terdahulu bahwa dalam Undang Undang
Nomor 25 Tahun 2004 dinyatakan bahwa RKPD pada dasarnya adalah merupakan
jabaran lebih konkret dan operasional dari RKPD pada dasarnya adalah
merupakan jabaran lebih konkret dan operasional dari RPJMD untuk tahun
bersangkutan. Dari pengertian ini jelas bahwa keterkaitan antara RKPD dengan
RPJMD adalah unsure pertama yang perlu dijaga dalam penyusunan dokumen
RKPD. Keterakaitan ini sangat penting artinya untuk dapat menjaga keberlanjutan
pelaksanaan dari RPJMD selama 5 tahun, sesuai dengan masa jabatan kepala
daerah dan periode berlakunya RPJMD tersebut

E. Keterkaitan RKPD dan APBD


Sebagaimana juga diamanatkan dalam Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara dan Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) suatu daerah disusun berdasarkan pada RKPD daerah
bersangkutan. Hal ini sangat penting artinya untuk dapat menjaga agar penyusunan
anggaran benar benar dilakukan berdasarkan program dan kegiatan yang telah
ditetapkan dalam perencanaan tahunan sebelumnya

127
Keterkaitan antara RKPD dan APBD ini perlu dijaga agar terwujud
keterpaduam antara perencanaan dan penganggaran sesuai dengan salah satu
prinsip dalam Ilmu Perencanaan Pembangunan yaitu planning, programming, and
budgeting system (PPBS). Melalui penerapan prinsip ini diharapkan apa yang
telah direncakan benar benar dapat dilaksanakan dalam praktik. Alasannya adalah
karena apa yang direncanakan tidak akan dapat dilaksanakan bilamana tidak
didukung dengan anggaran yang mencukupi

F. Kerangka Penulisan RKPD


Disamping undang-undang no 25 tahun 2004, kerangka penulisan RKPD
dapat disusun dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku, yaitu Peraturan
Pemerintah no. 40 Tahun 2006, Peraturan Pemerintah no. 08 Tahun 2008, dan
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri no. 640/751/SJ tanggal 12 Maret 2009
tentang penyusunan RKPD dan musrenbang tahun 2010. Disamping itu, dapat
pula diperhatikan dokumen RKPD yang telah disusun oleh beberapa provinsi,
kabupaten dan kota lainnya dapat pula dijadikan sebagai bahan pertimbangan
dalam penyusunan angka penulisan tersebut. Selanjutnya, agar penyusunan RKPD
tersebut juga memenuhi persyaratan akademik, maka unsur-unsur pokok rencana
tahunan sebagaimana telah diuraikan terdahulu perlu pula diperhatikan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kerangka penulisan RKPD yang
dianggap baik dan dianjurkan untuk digunakan oleh para perencana pembangunan
daerah adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Ruang Lingkup Perencanaan
1.4 Sistematika Penulisan

BAB II Evaluasi Kinerja Pelaksanaan Pembangunan Tahun Lalu


2.1 Evaluasi Kinerja Makro
2.2 Evaluasi Kinerja Program dan Kegiatan
2.3 Faktor Penentu Keberhasilan Pelaksanaan Program dan Kegiatan
2.4 Permasalahan dan Kendala Pembangunan

128
BAB III Kerangka Ekonomi Daerah dan Pendanaan
3.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun Bersangkutan
3.2 Tantang dan Prospek Perekonomian Daerah
3.3 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
3.4 Arah Kebijakan Keuangan Daerah

BAB IV Prioritas dan Sasaran Pembangunan Tahun Bersangkutan


4.1 Isu dan Masalah Mendesak
4.2 Penyesuaian Kebijakan Pembangunan
4.3 Prioritas Pembangunan Tahun Bersangkutan

BAB V Penetapan Program dan Kegiatan Prioritas


5.1 Program dan Kegiatan Pemerintah daerah
5.2 Program dan Kegiatan Partisipasi Masyarakat

BAB VI Penutup
6.1 Rencana Pelaksanaan (Action Plan)
6.2 Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan

G. Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Tahun Sebelumnya


Analisis ini diperlukan untuk dapat mengetahui kinerja sebelumnya yang
dapat dicapai dalam pelaksanaan pembangunan baik secara makro (menyeluruh)
maupun untuk tingkat program dan kegiatan.
Evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan tahunan sebelumnya dapat
dilakukan dengan menggunakan dua jenis metode. Pertama, untuk evaluasi
pelaksanaan pembangunan yang bersifat makro dapat digunakan beberapa
indicator pembangunan dengan menggunakan data sekunder yang tersedia.
Kedua, untuk evaluasi pelakssanaan pembangunan pada tingkat program dan
kegiatan biasanya digunakan teknik evaluasi kinerja dengan menggunakan 5
indikator penilaian yaitu masukan, keluarkan, hasilkan, manfaatkan dan dampak.
Analisis tentang evaluasi pelaksanaan pembangunan tahunan sebelumnya
diperlukan untuk mendapatkan informasi dan masukan tentang keberhasilan
pelaksanaan pembangunan berikut factor keberhasilan dankendala yang dihadapi.
Informasi ini sangat berguna dalam merumuskan kebijakan pembangunan berikut

129
program dan kegiataan yang akan direncanakaan untuk tahun berikutnya dalam
penyusunan RKPD daerah bersangkutan .
Mempertimbangkan hasil evaluasi pelaksanaan pembanguna ini sangat
penting artinya agar kesalaha yang sama terjadi dalam pelaksanaan pembangunan
daerah tidak terulang sehingga efisiensi pelaksanaan pembangunan dapat dijaga.
Sejalan dengan hal tersebut, faktor-faktor keberhasilan yang dialami sebelumnya
akan dapat pula dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong proses
pembangunan daerah kedepan.

H. Penilaian Ketersediaan dana Pembangunan


Tidak dapat disangkal bahwa pelaksanaan program dan kegiatan banyak
ditentukan oleh ketersediaan dana yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang
bersangkutan yang dijadikan sebagai sumber pembiayaan pembangunan daerah.
Sedangkan ketersediaan dana tersebut untuk satu tahun kedepan relative akan
lebih mudah diketahui dibanding dengan lima tahun kedepan seperti dalam
penyusunan RPJMD. Karena itu, analisis tentang ketersediaan dana dan sumber
pembiayaan pembangunan perlu dilakukan dalam penyusunan RKPD suatu
daerah.
Ketersediaan dana dan sumber pembiayaan pembangunan perlu
dipertimbangkan kerana hal ini akan sangat mempengaruhi jumlah dan nilai
program dan kegiatan pembangunan yang dapat direncanakan dalam RKPD
bersangkutan.

I. Perumusan Kebijakan Pembangunan Tahunan


Kebijakan pembangunan daerah yang telah ditetapkan didalam RPJMD
adalah untuk periode lima tahun, sesuai dengan masa jabatan kepala daerah.
Karena jangka waktu itu relative cukup panjang, maka kebijakan ini dapat saja
tidak lagi tepat dan relefan dengan kondisi tahun bersangkutan karena terjadinya
perubahan kondisi sosial ekonomi bersangkutan. Untuk dapat menyesuaikan
perencanaan dengan perobahan tersebut, maka RKPD harus memasukkan

130
kebijakan baru untuk tahun bersangkutan sesuai dengan perubahan yang terjadi
pada daerah yang bersangkutan.
Dalam bidang infrastuktur, penyesuaian kebijakan pembangunan yang dapat
terjadi misalnya adalah karena terjadinya gempa bumi yang cukup kuat
mengakibatkan banyak bangunan kantor pemerintah dan jalan raya yang rusak.
Kerusakan ini perlu ditanggulangi sesegera mungkin dan untuk penanggulangan
tersebut pemerintah terpaksa melakukan perobahan kebijakan untuk dapat
mengalihkan sebagian dana pembangunan daerah untuk perbaikan akibat gempa.
Kebijakan yang bertujuan untuk memecahkan permasalahan dalam jangka
menengah sebaiknya dimasukkan pada penyusunan RPJMD periode berikutnya.

J. Penetapan Program dan Kegiatan RKPD


Sebagai sebuah dokumen perencanaan yang operasional, penetapan program
dan kegiatan pembangunan daerah merupakan bagian sangat penting dalam
penyusunan RKPD ini. Program dan kegiatan dalam RKPD ini pada dasarnya
adalah merupakan jabaran lebih komplit dan rinci dari program yang telah
ditetapkan dalam RPJM daerah bersangkutan.
Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan dalam penjabaran lebih lanjut
program dan kegiatan pada penyusunan RKPD. Pertama, Bilamana RPJMD
bersangkutan mempunyai beberapa agenda pembangunan daerah, maka program
dan kegiatan dalam RKPD merupakan jabaran lebih rinci dari agenda
pembangunan tersebut. Kedua, bilamana RPJMD tidak mempunyai agenda
pembangunan secara eksplisit, tetapi adalah langsung dalam bentuk pembangunan
yang bersifat umum, maka penetapan program dan kegiatan dalam penyusunan
RKPD adalah penjabaran lebih kongkrit dan rinci dari program umum yang telah
ditetapkan dalam RPJMD tersebut.
Aspek terakhir yang juga perlu dipertimbangkan adalah agar program dan
kegiatan pembangunan tersebut tidak bertentangan dengan kondisi sosial dan
budaya daerah setempat. Hal ini sangat penting artinya untuk menjamin dapat
terlaksananya program dan kegiatan tersebut secara baik dalam masyarakat

131
K. Indikator dan Target Kinerja
Penggunaan indikator dan target kinerja dalam penyusunan RKPD ini
biasanya dilakukan dengan jalan memasukkannya pada Matrik Program dan
Kegiatan. Karena jumlah program dan kegiatan ini umumnya cukup banyak, maka
biasanya matrik ini diletakkan sebagai lampiran dari buku dokumen RKPD
bersangkutan. Untuk lebih operasionalnya , dalam matrik program dan kegiatan
tersebut sebaiknya dicantumkan pula pagu dana indikatif untuk masing masing
kegiatan berikut bagian atau unit kerja dalam SKPD bersangkutan yang akan
melaksanakannya. Besarnya pagu indikatif ini dapat diperoleh dari Renja SKPD
yang disusun oleh instansi teknis yang akan melaksanakan program dan kegiatan
tersebut nantinya

BAB 19
PENYUSUNAN RENCANA KERJA
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Dokumen perencanaan pembangunan daerah terakhir yang wajib disusun


sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional adalah Rencana Kerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah yang lazim disebut sebagai Renja SKPD. Sama hal nya dengan
RKPD, Renja SKPD pada dasarnya adalah rencana tahunan (Annual Planning)
yang bersifat lebih operasional. Perbedaannya adalah bahwa RKPD disusun oleh
Bappeda karena mencakup seluruh aspek pembangunan dalam suatu daerah,
sedangkan Renja SKPD disusun oleh SKPD bersangkutan untuk aspek
pembangunan daerah tertentu saja, misalnya pendidikan, pertanian, kesehatan, dan
lain-lainnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD bersangkutan.
Sama dengan dokumen perencanaan yang telah dijelaskan terdahulu,
Renja SKPD ini juga mempunyai kaitan yang erat pula dengan dokumen
perencanaan lainnya, yaitu Renstra SKPD, RKPD, dan Rencana Kerja Anggaran
(RKA). Keterkaitan ini perlu dijaga untuk dapat mewujudkan keterpaduan

132
perencanaan baik dengan rencana jangka menengah (5 tahun), maupun dengan
penyusunan anggaran.
Kerangka penulisan Renja SKPD yang dibahas pada buku tersebut disusun
berdasarkan unsur-unsur pokok yang harus dipenuhi oleh sebuah rencana tahunan
secara akademik. Berdasarkan pertimbangan, maka kerangka penulisan Renja
SKPD yang dianggap cukup baik sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Landasan Hukum
1.4 Keterkaitan dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
1.5 Sistematika Penulisan
Bab 2 Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Tahun Lalu
2.1 Evaluasi Kinerja SKPD
2.2 Permasalahan dan Kendala Pelaksanaan Pembangunan
2.3 Peluang dan Tantangan
Bab 3 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Daerah
3.1 Strategi Pembangunan Tahunan
3.2 Kebijakan Pembangunan Tahunan
Bab 4 Analisis Kemampuan Sumber Pembiayaan Pembangunan
4.1 Alokasi Dana Tahun Sebelumnya
4.2 Kemungkinan Peningkatan Sumber Dana
4.3 Kemampuan Sumber Daya Manusia Daerah
Bab 5 Penetapan Program dan Kegiatan
133
5.1 Program dan Kegiatan SKPD
5.2 Program dan Kegiatan Lintas SKPD
Bab 6 Indikator dan Target Kinerja
Kebijakan pembangunan daerah untuk bidang dan sektor tertentu yang
telah ditetapkan dalam Renstra SKPD bersangkutan adalah untuk periode 5 tahun
sesuai dengan masa jabatan kepala daerah. Karena jangka waktu ini relatif cukup
panjang, maka kebijakan ini dapat saja tidak lagi tepat dan relevan karena
terjadinya perubahan situasi dan kondisi sosial ekonomi daerah bersangkutan.
Untuk dapat menyesuaikan dengan perubahan tersebut, maka Renja SKPD
sebaiknya menyusun perumusan kebijakan baru khusus untuk tahun bersangkutan
sesuai dengan perubahan yang terjadi pada SKPD tersebut. Melalui penetapan
kebijakan baru ini, akan dapat dilakukan penyesuaian terhadap kebijakan yang
telah ditetapkan semual dalam Renstra SKPD terdahulu sesuai dengan prinsip
perencanaan bergulir (RollingPlan).
Aspek lainnya yang juga sangat penting diperhatikan dalam perumusan
program dan kegiatan pembangunan daerah adalah sinerginya dengan program
dan kegiatan yang lainnya yang terkait. Dalam hal ini, program dan kegiatan yang
ditetapkan sebaiknya mampu bersinergi dengan program dan kegiatan lainnya.
Bila sinergi ini dapat diwujudkan, maka efek berganda (Multiplier effect) yang
dapat dihasilkan akan menjadi lebih besar sehingga proses pembangunan daerah
akan menjadi lebih cepat dan efisien.
Aspek lainnya yang juga sangat penting diperhatikan dalam perumusan
program dan kegiatan adalah tingkat kelayakannya baik secara finansial maupun
secara sosial ekonomi. Dalam hal ini program dan kegiatan pembangunan yang
akan ditetapkan sebaiknya cukup layak yang berarti manfaat (baik secara finansial

134
maupun sosial ekonomi) lebih besar atau paling kurang sama dengan biaya yang
dibutuhkan untuk pembangunan program dan proyek tersebut. Pertimbangan ini
sangat penting artinya untuk lebih menghemat dan mengefisienkan penggunaan
sumber pembiayaan pembangunan yang tersedia pada daerah bersangkutan.
Aspek terakhir yang juga perlu dipertimbangkan dalam penetapan program
dan kegiatan pembangunan adalah agar tidak bertentangan dengan kondisi sosial
dan budaya setempat. Hal ini sangat penting artinya untuk menjamin dapat
terlaksananya program dan kegiatan pembangunan tersebut dalam masyarakat.
Bila program dan kegiatan yang ditetapkan ternyata berlawanan dengan nilai-nilai
dan pandangan sosial dan budaya setempat, maka besar kemungkinan akan timbul
nantinya penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan program dan kegiatan
tersebut.
Penggunaan indikator dan target kinerja dalam penyusunan Renja SKPD
ini biasanya dilakukan dengan jalan memasukkannya pada Matrik Program dan
Kegiatan. Karena jumlah program dan kegiatan ini umumnya cukup banyak, maka
biasanya matrik ini diletakkan sebagai lampiran dari buku dokumen Renja SKPD
tersebut. Untuk lebih operasionalnya, dalam Matrik Program dan Kegiatan
tersebut dicantumkan pula pagu dana indikatif untuk masing-masing kegiatan
berikut unit kerja dalam institusi SKPD bersangkutan yang akan
melaksanakannya.
Pagu dana indikatif pada dasarnya merupakan perkiraan kebutuhan dan
secara kasar untuk dapat melaksanakan program dan kegiatan bersangkutan.
Penentuan pagu dana indikatif ini biasanya akan lebih mudah dilakukan untuk
program dan kegiatan yang bersifat fisik karena ukurannya jelas dan konkret.
Akan tetapi, untuk kegiatan yang bersifat nonfisik, biasanya penetapan pagu dana
indikatif akan lebih sulit karena ukurannya yang tidak konkret. Dalam hal ini
tentunya pengalaman masa lalu dalam melaksanakan program dan kegiatan
nonfisik tersebut akan sangat berguna sebagai dasar penentuan besarnya pagu
dana indikatif tersebut.
Perlu dicatat bahwa pagu dana indikatif ini diperkirakan dengan
memperhatikan Standar Anggaran Belanja (SAB) yang ditetapkan secara berkala

135
oleh pemerintah daerah setempat. Di samping itu, penentuan pagu indikatif
tersebut tentunya juga harus dilakukan dengan memperhatikan kemampuan
keuangan pemerintah daerah bersangkutan berdasarkan pengalaman pada tahun-
tahun sebelumnya. Namun demikian, pagu indikatif tersebut adalah bersifat
sementara dan tidak mengikat, karena nantinya kemampuan dana sebenarnya yang
lebih riil akan terlihat pada waktu dokumen Prioritas dan Plafond Anggaran
Sementara (PPAS) ditetapkan dalam bentuk nota kesepakatan antara DPRD
(legislatif) dan Kepala Daerah bersangkutan (eksekutif). Pada waktu itu besarnya
pagu dana untuk masing-masing program dan kegiatan akan dapat disesuaikan
kembali.
3.2 Kelebihan Buku

Kelebihan buku utama dibandingkan buku pembanding yaitu :

1. Buku utama membahas materi perencanaan pembangunan lebih kompleks


dibandingkan dengan buku pembanding dan buku utama pastinya menggunakan
bahasa yang komunikatif sehingga mempermudah pembaca untuk memahami isi
pembahasan yang cukup luas
2. Buku utama kaya akan kajian teori yang cukup banyak menambah referensi
pembaca
3. Buku utama juga membahas hal detail seperti mengenai beberapa teknik dalam
melakukan perencanaan pembangunan di daerah dengan menggunakan beberapa
teknik seperti teknik infikator pembangunan daerah, teknik perencanaan regional,
tekni analisis input-output, teknik prediksi, dan teknik analisis SWOT.
4. buku utama memberikan gambaran secara tertulis lebih lengkap khususnya
mengenai perencanaan pembangunan dalam era otonomi secara konseptual
5. Buku utama juga memaparkan rumus dan kurva mengenai materi pembahasan
yang menyangkut perencanaan pembangunan.
6. Buku utama dielngkapi cara penyusunan dokumen perencanaan pembangunan
daerah seperti penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah.
7. Buku utama dilengkapi contoh mengenai cara penyusunan indikator kinerja.

136
3.3 Kelemahan Buku
Dalam buku utama pada pembahasan perencanaan pembangunan dengan
menggunakan kajian teori yang cukup banyak tidak dilengkapi dengan solusi atas
program peningkatan kesejahteraan secara adil bagi rakyat seperti pada buku
pembanding.

137
BAB IV PENUTUP

4.1Kesimpulan
Perencanaan pembangunan pada dasarnya adalah cara, teknik atau metode
untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara tepat, terarah, dan efisien sesuai
dengan sumber daya yang tersedia. Sedangkan tujuan dari perencanaan
pembangunan adalah untuk mendorong proses pembangunan secara lebih terarah
dan cepat guna untuk mewujudkan masyarakat yang maju, makmur, dan sejahtera
dan hal ini dilakukan karena Mengingat pembangunan bertujuan untuk
meningkatkan pembangunan daerah yang bersifat menyeluruh, maka dalam
penyusunan dokumen RPJMD, perlu disusun pula suatu bab khusus tentang
kerangka ekonomi makro dan sumber pembiayaan pembangunan daerah
bersangkutan. Melalui analisis kerangka ekonomi makro ini akan dapat diperoleh
gambaran umum perekonomian daerah secara makro dan analisis ini sangat
penting artinya sebagai dasar dalam perumusan strategi, sasaran pembangunan,
kebijakan dan program pembangunan daerah dari segi ekonomi dan keuangan.
Dengan cara demikian, perumusan strategi, kebijakan, dan program pembangunan
akan menjadi lebih tepat dan terarah sesuai dengan potensi ekonomi dan kondisi
masyarakat daerah bersangkutan.

4.3Saran
Dalam pembahasan mengenai perencanaan pembangunan, sebaiknya membuat
sebuah peta konsep di tiap awal bab, agar pembaca lebih memahami setiap
pembahasan secara garis besar terlebih dahulu.

138
DAFTAR PUSTAKA

Sjafrizal. 2017. Perencanaan Pembangunan Daerah DalamEra Otonomi. Depok :


Ridwan. 2017. Perencanaan Pembangunanan . Bandung : Alfabeta Bandung

139