Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

“Fungsi Agen Pembaharu, Tokoh Masyarakat, Saluran Komunikasi, Keputusan

Kolektif, Keputusan Kekuasaan, dan Konsekuensi Inovasi”

Oleh:

Kelas E

Kelompok 10

Rizqy Fauzan Ridwan 200110180004

Siska Amelia 200110180089

Muhammad Triviana 200110180194

Muhammad Rifan Pratama 200110180279

Muthia Nabilah Khofiyah 200110180301

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan

sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa

pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah

ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda

tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di

akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat

sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis

mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata

kuliah Komunikasi Pembangunan dengan judul “Fungsi Agen Pembaharu,

Tokoh Masyarakat, dan Saluran Komunikasi”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna

dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,

penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian

apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang

sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya

kepada guru Bahasa Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis

makalah ini. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Jatinangor, 19 Oktober 2019


Penulis
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tridharma perguruan tinggi merupakan salah satu tanggung jawab yang harus

ditopang penuh oleh mahasiswa, karena mahasiswa merupakan salah satu agen

pembaharu, oleh karena itu sebagai mahasiswa peternakan perlu untuk mengetahui

mengenai peranan agen pembaharu.

Agen pembaharu perlu mengetahui komunikasi yang baik dalam melaksanakan

tugasnya, karena komuniksi sangatlah penting untuk dipahami oleh setiap manusia

khususnya mahasiswa peternakan, karena komunikasi adalah dasar dari setiap

kegiatan atau aktivitas yang hendak dilakukan.

Mengenal dan bekerjasama atau berhubungan dengan tokoh masyarakat perlu

dilakukan oleh agen pembaharu agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik

mungkin untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

1.2 Identifikasi Masalah


 Apa pengertian fungsi agen pembaharu, tokoh masyarakat, saluran komunikasi,

keputusan inovasi kolektif, keputusan inovasi kekuasaan dan konsekuensi

inovasi?

 Apa peranan agen pembaharu?

 Apa faktor-faktor keberhasilan agen pembaharu?


1.3 Maksud dan Tujuan
 Mengetahui pengertian agen pembaharu tokoh, masyarakat, saluran

komunikasi, keputusan kolektif, keputusan inovasi, dan konsekuensi inovasi.

 Mengetahui peranan agen pemabaharu

 Mengetahui faktor-faktor keberhasilan agen pembaharu


II

TINJAUAN PUSTAKA

Agen pembaharu (change agent) ialah orang yang bertugas mempengaruhi

klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh

pengusaha pembaharu (change agency) (Ibrahim, 1988). Faktor-faktor keberhasilan

agen pemabaharu usaha agen pembaharu, lebih berorientasi pada klien,

menyesuaikan dengan kebuutuhan sasaran, kemampuan empathi, homopili dengan

sasaran, kredibilitas agen pembaharu, kerjasama dengan pemuka pendapat. Tujuan

akhir agen pembaharu adalah berkembangnya perilaku “memperbaharui diri

sendiri” pada diri klien (Rogers, 1995).

Orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain yang

tumbuh bukan karena ditunjang oleh kekuatan atau birokrasi formal (Y. Unang,

2011). Kecepatan penyebaran inovasi keseluruh pasar tergantung pada banyaknya

komunikasi antara pemasar dan konsumen, maupun komunikasi antara konsumen

(Schiffman dan Kanuk, 2010). Rogers dalam Mardikanto (1988) menyatakan

bahwa saluran komunikasi sebagai sesuatu melalui mana pesan dapat disampaikan
dari sumber kepada penerimanya. Saluran komunikasi dapat dibedakan menjadi

saluran interpersonal dan media massa. Cangara (2009) menyebutkan, saluran

komunikasi antar pribadi ialah saluran yang melibatkan dua orang atau lebih secara

tatap muka.

Mardikanto (1988) menyebutkan bahwa saluran antar pribadi merupakan

segala bentuk hubungan atau perukaran pesan antar dua orang atau lebih secara

langsung tatap muka, dengan atau tanpa alat bantu yang memungkinkan semua

pihak yang berkomunikasi dapat memberikan respons atau umpan balik secara

langsung.
Keputusan inovasi otoritas ialah pengambilan keputusan yang didasarkan atas

kepemilikan kekuasaan atau kewenangan seseorang atau yang berada dalam posisi

atasan yang memerintahkan kepada unit adopsi untuk menerima atau menolak

inovasi. Penerimaan anggota terhadap keputusan inovasi otoritas berhubungan

positif dengan tingkat artisispasi dan dengan kohesi (tingkat keterikatan anggota

dengan sistem sosial menurut persepsinya sendiri) (Y. Unang,2011).


III

PEMBAHASAN

3.1 Fungsi Agen Pembaharu, Tokoh Masyarakat, dan Saluran Komunikasi

Agen pembaharu (agent of change) adalah orang yang bertugas mempengaruhi

klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh

pengusaha pembaharuan (change agency). Pekerjaan ini mencakup berbagai

macam pekerjaan seperti guru, konsultan, penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian

dan sebagainya. Semua agen pembaharu bertugas membuat jalinan komunikasi

antara pengusaha pembaharuan (sumberinovasi) dengan sistem klien (sasaran

inovasi).

Tugas utama agen pembaharu adalah melancarkan jalannya arus inovasi dari

pengusaha pembaharuan ke klien. Proses komunikasi ini akan efektif jika inovasi

yang disampaikan ke klien harus dipilih sesuai dengan kebutuhannya atau sesuai

dengan masalah yang dihadapinya. Agar jalinan komunikasi dalam proses difusi ini

efektif, umpan balik dari sistem klien harus disampaikan kepada pengusaha

pembaharuan melalui agen pembaharu. Dengan umpan balik ini pengusaha


pembaharuan dapat mengatur kembali bagaimana sebaiknya agar komunikasi lebih

efektif. Jika tidak terdapat kesenjangan sosial dan teknik antara pengusaha

pembaharuan dan klien dalam proses difusi inovasi, maka tidak perlu agen

pembaharu. Tetapi biasanya pengusaha pembaharu adalah orang-orang ahli dalam

inovasi yang sedang di difusikan, oleh karena itu terjadi kesenjangan pengetahuan

sehingga dapat terjadi hambatan komunikasi. Disinilah pentingnya agen pembaharu

untuk penyampaian difusi inovasi agar dapat mudah diterima oleh klien.

Agen pembaharu harus mampu menjalin hubungan baik dengan pengusaha

pembaharuan dan juga dengan sistem klien. Adanya kesenjangan heterophily pada

keduasisi agen pembaharu dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi. Sebagai


penghubung antara kedua sistem yang berbeda sebaiknya agen pembaharu bersikap

marginal, ia berdiri dengan satu kaki pada pengusaha pembaharu dan satu kaki yang

lain pada klien.Keberhasilan agen pembaharu dalam melancarkan proses

komunikasi antara pengusaha pembaharu dengan klien, merupakan kunci

keberhasilan proses difusi inovasi. Selain itu agen pembaharu melakukan seleksi

informasi untuk dapat disesuaikan dengan masalah dan kebutuhan klien.

Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara pengusaha

pembaharuan (change agency) dengan klien, tujuannya agar inovasi dapat diterima

atau diterapkan oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha pembaharuan. Kunci

keberhasilan diterimanya inovasi oleh klien terutama terletak pada komunikasi

antara agen pembaharu dengan klien. Jika komunikasi lancar dan efektif proses

penerimaan inovasi akan lebih cepat dan makin mendekati tercapainya tujuan yang

diinginkan. Sebaliknya jika komunikasi terhambat makin tipis harapan diterimanya

inovasi. Oleh karena tugas utama yang harus dilakukan agen pembaharu adalah

memantapkan hubungan dengan klien. Kemantapan hubungan antara agen

pembaharu dengan klien, maka komunikasi akan lebih lancar.

Rogers, mengemukakan ada tujuh langkah kegiatan agen pembaharu dalam


pelaksanaan tugasnya inovasi pada sistem klien, sebagai berikut:

1. Membangkitkan kebutuhan untuk berubah

Biasanya agen pembaharu pada awal tugasnya diminta untuk membantu

kliennya agar mereka sadar akan perlunya perubahan. Agen pembaharu mulai

dengan mengemukakan berbagai masalah yang ada, membantu menemukan

masalah yang penting dan mendesak, serta meyakinkan klien bahwa mereka

mampu memecahkan masalah tersebut. Pada tahap ini agen pembaharu menentukan

kebutuhan klien dan juga membantu caranya menemukan masalah atau kebutuhan

dengan cara konsultatif.


2. Memantapkan hubungan pertukaran informasi

Sesudah ditentukannya kebutuhan untuk berubah, agen pembaharu harus

segera membina hubungan yang lebih akrab dengan klien. Agen pembaharu dapat

meningkatkan hubungan yang lebih baik kepada klien dengan cara menumbuhkan

kepercayaan klien pada kemampuannya, saling mempercayai dan juga agen

pembaharu harus menunjukan empati pada masalah dan kebutuhan klien.

3. Mendiagnosa masalah yang dihadapi

Agen pembaharu bertanggung jawab untuk menganalisa situasi masalah yang

dihadapi klien, agar dapat menentukan berbagai alternatif jika tidak sesuai

kebutuhan klien. Untuk sampai pada kesimpulan diagnosa agen pembaharu harus

meninjau situasi dengan penuh empati. Agen pembaharu melihat masalah dengan

kacamata klien, artinya kesimpulan diagnosa harus berdasarkan analisa situasi dan

psikologi klien, bukan berdasarkan pandangan pribadi agen pembaharu.

4. Membangkitkan kemauan klien untuk berubah

Setelah agen pembaharu menggali berbagai macam cara yang mungkin dapat

dicapai oleh klien untuk mencapai tujuan, maka agen pembaharu bertugas untuk

mencari cara memotivasi dan menarik perhatian agar klien timbul kemauannya
untuk berubah atau membuka dirinya untuk menerima inovasi. Namun demikian

cara yang digunakan harus tetap berorientasi pada klien, artinya berpusat pada

kebutuhan klien jangan terlalu menonjolkan inovasi.

5. Mewujudkan kemauan dalam perbuatan

Agen pembaharu berusaha untuk mempengaruhi tingkah laku klien dengan

persetujuan dan berdasarkan kebutuhan klien jadi jangan memaksa. Dimana

komunikasi interpersonal akan lebih efektif kalau dilakukan antar teman yang dekat

dan sangat bermanfaat kalau dimanfaatkan pada tahap persuasi dan tahap keputusan

inovasi. Oleh kerena itu dalam hal tindakan agen pembaharu yang paling tepat
menggunakan pengaruh secara tidak langsung, yaitu dapat menggunakan pemuka

masyarakat agar mengaktifkan kegiatan kelompok lain.

6. Menjaga kestabilan dan mencegah tidak berkelanjutannya inovasi

Agen pembaharu harus menjaga kestabilan penerimaan inovasi dengan cara

penguatan kepada klien yang telah menerapkan inovasi. Perubahan tingkah laku

yang sudah sesuai dengan inovasi dijaga jangan sampai berubah kembali pada

keadaan sebelum adanya inovasi.

7. Mengakhiri hubungan ketergantungan

Tujuan akhir tugas agen pembaharu adalah dapat menumbuhkan kesadaran

untuk berubah dan kemampuan untuk merubah dirinya, sebagai anggota sistem

sosial yang selalu mendapat tantangan kemajuan jaman. Agen pembaharu harus

berusaha mengubah posisi klien dari ikatan percaya pada kemampuan agen

pembaharu menjadi bebas dan percaya kepada kemampuan sendiri.

Peranan agen pembaharu dalam keputusan inovasi kolektif ialah dapat

bertindak sebagai stimulator dan mungkin inisiator, tetapi jarang bertindak sebagai

legitimator. Dan peranan pembaharu dalam keputusan inovasi otoritas adalah

berperan dalam tahap pengenalan dan tahap persuasi.


Faktor-Faktor Keberhasilan Agen Pembaharu :

Berdasarkan hasil penelitian maupun pengamatan terhadap berbagai proyek

difusi inovasi dan hasilnya dirumuskan dalam bentuk generalisasi. Adapun faktor-

faktor yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu, berkenaan dengan hal-

hal sebagai berikut:

1. Usaha agen pembaharu

Sebagai indikator untuk mengetahui kegigihan usaha yang dilakukan agen

pembaharu. Sebagai indikator untuk mengetahui kegigihan (besarnya) usaha agen

pembaharu ialah: jumlah klien yang dihubungi untuk berkomunikasi, banyaknya

waktu yang digunakan untuk berpartisipasi di desa (tempat tinggal) klien


dibandingkan dengan waktu di kantor atau di rumah sendiri, banyaknya keaktifan

yang dilakukan dalam proses difusi inovasi, ketepatan memilih waktu untuk

berkomunikasi dengan klien dan sebagainya. Makin banyak jumlah klien yang

dihubungi, makin banyak waktu yang digunakan di tempat tinggal klien, makin

banyak keaktifan yang dilakukan dalam proses difusi dan makin tepat agen

pembeharu memilih waktu untuk berkomunikasi dengan klien, dikatakan makin

gigih atau makin besar usaha klien untuk kontak dengan klien. Dari berbagai bukti

dirumuskan generalisasi bahwa keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif

dengan besarnya usaha mengadakan kontak dengan klien.

2. Orientasi pada klien

Sebagaimana telah kita ketahui posisi agen pembeharu berada ditengah-tengah

antara pengusaha pembeharuan dan sistem klien. Agen pembeharu harus

mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada pengusaha pembeharuan, tetapi di

lain pihak ia juga harus bekerja bersama dan untuk memenuhi kepentingan klien.

Agen pembaharu akan mengalami kesukaran jika apa yang diminta oleh pengusaha

pembaharu tidak sesusai dengan kebutuhan klien. Namun demikian agen

pembaharu akan berhasil melaksanakan tugasnya jika ia mampu untuk mengambil


kebijakan dengan lebih berorientasi pada klien. Agen pembaharu harus menunjukan

keakraban dengan klien, memperhatikan kebutuhan klien, sehingga memperoleh

kepercayaan yang tinggi dari klien. Dengan dasar hubungan yang baik itu agen

pembaharu dapat mengambil kebijakan menyesuaikan kebutuhan klien dengan

kemauan pengusaha pembaharuan. Tetapi jika agen pembaharu tampat berorientasi

pada pengusaha pembaharuan, maka akan dianggap lawan oleh klien dan sama

sekali tidak dapat mengadakan kontak atau komunikasi. Dari berbagai bukti hasil

pengamatan dan penelitian dirumuskan generalisasi. Keberhasilan agen pembaharu

berhubungan positif dengan orientasi pada klien dari pada orientasi pada pengusaha

pembaharuan.
3. Sesuai dengan kebutuhan klien

Menurut Rogers (1983), salah satu tugas agen pembaharu yang sangat penting

dan sukar melaksanakannya ialah mendiagnosa kebutuhan klien. Banyak terbukti

usaha difusi inovasi gagal karena tidak mendasarkan kebutuhan klien, tetapi lebih

mengutamakan pada target inovasi sesuai kehendak pengusaha pembaharuan.

Sebagai contoh, disebuah desa suku Indian, mendapat dana dari pemerintah untuk

membangun irigasi agar dapat meningkatkan hasil pertaniannya. Tetapi sangat

dibutuhkan orang didesa itu tendon air untuk minum, karena mereka harus berjalan

sejauh 3 km untuk mendapatkan air sungai. Maka akhirnya penduduk membangun

waduk air bukan disawah tetapi didekat desa dan menggunakan air itu untuk minum

bukan untuk irigasi. Dari berbagai bukti itu, dirumuskan generalisasi. Keberhasilan

agen pembaharu berhubungan positif dengan kesesuaian program difusi dengan

kebutuhan klien.

4. Empati

Seperti telah kita ketahui bahwa empati akan mempengaruhi efektifitas

komunikasi. Komunikasi yang efektif akan mempercepat diterimanya inovasi.

Generalisasi keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan empati


terhadap klien.

5. Homophily

Sebagaimana telah kita ketahui yang dimaksud dengan homophily ialah

pasangan individu yang berinteraksi dengan mimiliki ciri-ciri atau karakteristik

yang sama (sama bahasa, kepercayaan, adat istiadat dan sebagainya). Heterophily

ialah pasangan individu yang berinteraksi dengan memiliki ciri-ciri atau

karakteristik yang berbeda. Biasanya agen pembaharu yang berbeda dengan klien

lebih disegani, dan lebih suka mengadakan dengan klien yang memiliki persamaan

dengan dia. Dari pernyataan umum ini melahirkan serangkaian generelisasi yang

ditunjang dengan bukti-bukti berdasarkan pengalaman para ahli.


-“Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan status sosial

antara klien”.

-“Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan besarnya

partisipasi sosial antar klien”.

-“Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan tingginya

tingkat pendidikan antara klien”.

-“Kontak yang dilakukan agen pembaharu, berhungan positif dengan sifat

kosmopolitan antara klien”.

Generalisasi tersebut berdasarkan pemikiran bahwa kontak komunikasi antara

agen pembaharu dengan klien akan lebih efektif jika homophily.

6. Kontak agen pembaharu dengan klien yang berstatus lebih rendah

Sebenarnya klien yang kurang mampu ekonominya, rendah pendidikannya,

harus mendapat lebih banyak bantuan dan bimbingan dari agem pembaharu. Tetapi

sesuai dengan prinsip homophily maka justru agen pembaharu lebih banyak kontak

dengan klien yang berstatus lebih tinggi baik pendidikan maupun ekonominya.

Sehingga dapat timbul pendapat yang kurang benar dari agen pembaharu yang

menyatakan bahwa klien yang berstatus lebih rendah tidak termasuk


tanggungjawabnya dalam pelaksanaan difusi inovasi. Jika ini terjadi maka

akibatnya makin parah, karena makin terbuka kemungkinan klien yang berstatus

lebih rendah tidak terjamah sama sekali oleh bantuan agen pembaharu. Salah satu

cara untuk mengatasi dengan jalan memilih pembaharu yang sedapat mungkin sama

dengan klien atau paling tidak mendekati, misalnya sama daerahnya, sama

bahasanya, sama kepercayaannya dan sebagainya. Dengan dasar itu maka

dirumuskan generalisasi ‟Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif

dengan klien yang homophily‟.


7. Pembantu para-professional

Pembantu para-professional ialah orang yang bertugas membantu agen

pembaharu agar terjadi kontak dengan klien yang berstatus lebih rendah. Pembantu

para-professional dari segi pengetahuan tentang inovasi dan teknik penyebaran

inovasi, kurang dari agen pembaharu. Tetapi dengan mengangkat pembantu para-

professional ada keuntungannya yaitu biaya lebih rendah dapat kontak dengan klien

yang berstatus lebih rendah dari agen pembaharu, karena para pembantu para-

profesional lebih dekat dengan klien (homophily).

8. Kepercayaan klien terhadap agen pembaharu (credibility).

Pembantu agen pembaharu kurang memperoleh kepercayaan dari klien, jika

ditinjau dari segi kompentensi professional karena ia memang kurang professional.

Tetapi pembantu agen pembaharu, memiliki kepercayaan dari klien karena adanya

hubungan yang akrab sehingga tidak timbul kecurigaan. Klien percaya pada

pembantu agen pembaharu karena keyakinannya akan membawa kebaikan bagi

dirinya, yang disebut: kepercayaan, keselamatan (Savety, credibility). Pada

umumnya agen pembaharu (professional dan hetrophily) memiliki kepercayaan

kompetensi (competency credibility), sedangkan pembantu agen pembaharu (tidak


professional dan homophily) memiliki kepercayaan keselamatan (savety,

credibility). Seharusnya agen pembaharu yang ideal harus memiliki kedua

kepercayaan tersebut secara seimbang. Tetapi hal ini sukar diperoleh, karena jika

agen pembaharu itu professional berarti ia sarjana yang menguasai ilmu dan teknik,

maka timbul perbedaan dengan klien yang berpendidikan rendah (heterophily).

Hambatan-Hambatan dalam Difusi Inovasi

Dalam implementasinya kita sering mendapati beberapa hambatan yang

berkaitan dengan inovasi. Pengalaman menunjukkan bahwa hampir setiap individu

atau organisasi memiliki semacam mekanisme penerimaan dan penolakan terhadap


perubahan. Segera setelah ada pihak yang berupaya mengadakan sebuah perubahan,

penolakan atau hambatan akan sering ditemui. Orang-orang tertentu dari dalam

ataupun dari luar sistem akan tidak menyukai, melakukan sesuatu yang berlawanan,

melakukan sabotase atau mencoba mencegah upaya untuk mengubah praktek yang

berlaku. Penolakan ini mungkin ditunjukkan secara terbuka dan aktif atau secara

tersembunyi dan pasif. Alasan mengapa ada orang yang ingin menolak perubahan

walaupun kenyataannya praktek yang ada sudah kurang relevan, membosankan,

sehingga dibutuhkan sebuah inovasi. Fenomena ini sering disebut sebagai

penolakan terhadap perubahan. Banyak upaya telah dilakukan untuk

menggambarkan, mengkategorisasikan dan menjelaskan fenomena penolakan ini.

Ada empat macam kategori hambatan dalam konteks inovasi. Keempat kategori

tersebut adalah:

1. Hambatan psikologis

2. Hambatan praktis

3. Hambatan nilai-nilai

4. Hambatan kekuasaan

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu berkaitan

dengan hal-hal sebagai berikut:

1. Usaha Agen Pembaharu: keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan

besarnya usaha mengadakan kontak dengan klien.

2. Orientasi pada klien: Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan

orientasi pada klien daripada orientasi pada pengusaha pembaharuan.

3. Sesuai dengan kebutuhan klien: Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif

dengan kesesuaian program difusi dengan kebutuhan klien.

4. Empati: Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan emphati

terhadap klien.
5. Homophily: Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan

status sosial antar klien, tingginya tingkat pendidikan antar klien dan sifat

kosmopolitan antar klien.

6. Kontak agen pembaharu dengan klien yang berstatus lebih rendah: Keberhasilan

agen pembaharu berhubungan positif dengan klien yang homophily.

7. Pembantu para-professional: Pembantu para-professional ialah orang yang bertugas

membantu agen pembaharu agar terjadi kontak dengan klien yang berstatus lebih

rendah.

8. Kepercayaan klien terhadap agen pembaharu (credibility): Keberhasilan agen

pembaharu berhubungan positif dengan kepercayaan (credibility) dari sudut

pandang klien.

9. Professional Semu: Agen pembaharu tetap masih sangat dibutuhkan untuk menatar

atau melatih pembantu agen pembaharu. Satu masalah yang sering dijumpai

pembantu agen pembaharu ialah timbulnya professional semu yang terjadi karena

pembantu agen pembaharu bergaya seperti agen pembaharu yang professional.

10. Pemuka Pendapat: Keberhasilan agen pembaharu berhubungan postif dengan

besarnya usaha untuk bekerjasama dengan pemuka pendapat.


11. Kemampuan klien untuk menilai inovasi: Keberhasilan agen pembaharu

berhubungan postif dengan meningkatnya kemampuan klien untuk menilai inovasi.

Tokoh Masyarakat

Orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain yang

tumbuh bukan karena ditunjang oleh kekuatan atau birokrasi formal. Sedangkan

kepemimpinan pendapat adalah tingkat kemampuan seseorang untuk

mempengaruhi sikap dan perilaku oranglain secara informal relatif sering. Di

masyarakat modern bersifat monomorfik, dengan di masyarakat trasional bersifat

polimorfik.
Mengenali Tokoh Masyarakat Setempat

Untuk mengetahui tokoh yang ada di dalam masyarakat ada beberapa teknik

yang bisa dilakukan diantaranya :

1. Teknik Sosiometri

Teknik ini dapat di lakukan dengan menanya kepada anggota masyarakat

kepada siapa mereka meminta nasehat atau mencari informasi mengenai masalah-

masalah kemasyarakatan yang mereka hadapi. Pemimpin dalam hal ini adalah

mereka-mereka yang banyak di sebut oleh responden. Teknik sosiometri ini adalah

alat pengukur yang paling valid untuk menetukan siapa-siapa pemimpin di dalam

suatu masyarakat "tokoh masyarakat" sesuai dengan pandangan para pengikutnya.

Akan tetapi teknik ini sulit dilakukan jika sistem sosial yang di maksudkan

populasinya cukup besar.

2. Teknik Informan’s Rating


Dalam menggunakan teknik ini, pada prinsipnya sama dengan sosiometri.

Tetapi yang ditanyakan bukan anggota masyarakat, melainkan orang yang dianggap

narasumber di sana yang dianggap mengenal dengan baik situasi sistem sosial.

Kepada narasumber ini ditanya, siapakah menurut pendapatnya yang di anggap

pemimpin dan siapa yang oleh pendapat umum di pandang pemimpin masyarakat

"tokoh masyarakat". Dalam menggunakan teknik ini kita harus memilih

narasumber yang betul-betul mengenal masyarakat yang kita maksud.


3. Teknik Self Designating

Dalam teknik ini kepada setiap responden diajukan serangkaian pertanyaan

untuk menentukan seberapa jauh ia menganggap dirinya sebagai pemimpin dalam

masyarakatnya. Pertanyaan yang khas yang biasa ditanyakan adalah “menurut

pendapat saudara, selain kepada pemuka pendapat, pada siapakah masyarakat

meminta informasi atau nasehat? Atau “siapakah pemimpin anda, apakah anda juga

memimpin?”. Teknik ini bergantung pada keakuratan responden dalam pengenalan

dirinya sendiri dan pengutaraan khayal pribadi mereka. Pengukuran kepemimpinan

pendapat seperti ini tepat sekali jika di lakukan dengan wawancara terhadap suatu

random dalam suatu sistem sosial.

Ciri-Ciri Tokoh Masyarakat

Tokoh masyarakat memiliki hubungan sosial lebih luas dari pada pengikutnya.

Mereka lebih sering bertatap dengan media massa, lebih sering mengadakan

perjalanan keluar dan lebih kerap berhubungan dengan agen pembaru. Tokoh

masyarakat agaknya perlu memiliki pengetahuan dan keahlian tertentu orang

kebanyakan, terutama pengikutnya. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan


dan keahlian adalah dengan cara membuka pintu untuk ide-ide baru, dan pintu

masuk itu adalah hubungan dengan dunia luar agar tidak menyimpan pengetahuan

dan keahliannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha untuk menyebarkan

kepada orang lain; mereka menjadi tumpuan bertanya dan meminta nasihat. Untuk

dapat melaksanakan fungsinya itu ia harus dekat warga masyarakat, ia harus

diterima oleh pengikutnya. Maka dari itu para pemimpin "tokoh masyarakat" aktif

dalam kegiatan-kegiatan sosial, dalam pertemuan-pertemuan, diskusi-diskusi dan

komunikasi komunikasi tatap muka lainnya. Dalam forum-forum seperti itulah

gagasan-gagasan baru itu dikomunikasikan.


Dapat diharapkan bahwa para pengikut mencari pemimpin "tokoh masyarakat"

yang agak tinggi status sosialnya daripada dirinya sendiri, dan memang rata-rata

tokoh masyarakat itu lebih tinggi status sosialnya.

Saluran Komunikasi

Alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan, pesan ini bisa dalam

bentuk lambang-lambang pembicaraan seperti kata, gambar, maupun tindakan.

Kekuatan media massa (powerful media) sebagai saluran untuk mempengaruhi

khalayak, telah banyak memberikan andil dalam pembentukan opini publik.

Kemampuan melipatgandakan pesan-pesan di media massa mempunyai dampak

terhadap berubahnya periilaku komunikasi. Pendapat oleh Berlo (1960),

mengartikan dalam beragam pengertian, yaitu:

a) saluran sebagai alat pembawa pesan,

b) saluran yang dilalui oleh alat pembawa pesan,

c) media/wahana yang memungkinkan alat pembawa pesan itu melalui jalan atau

saluran yang harus dilaluinya, dan

d) media/wahana yang dapat dijadikan sarana untuk berkomunikasi, seperti:

pertemuan serta pertunjukan.


Macam saluran komunikasi

Secara konseptual, dikenal adanya tiga macam saluran atau media komunikasi,

yaitu: saluran antar pribadi (inter-personal), media massa (mass media), dan forum

media yang dimaksudkan untuk menggabungkan keunggulan-keunggulan yang

dimiliki oleh saluran antar pribadi dan media masa.

Semakin banyak ragam media yang digunakan oleh pihak-pihak yang

berkomunikasi (baik sumber maupun penerima manfaat), akan memberikan

pengaruh yang sangat baik. Karena selain jumlah informasi menjadi lebih lengkap,

biasanya juga lebih bermutu/semakin memberikan kejelasan terhadap inovasi yang

diterimanya.

1. Saluran Antar Pribadi

Media antar pribadi (inter personal), adalah media yang memungkinkan para

pihak yang berkomunikasi dapat berkomunikasi secara langsung, baik dengan tatap

muka (ex: percakapan antar individu, diskusi dalam kelompok kecil, pertemuan di

dalam maupun di luar ruangan), atau menggunakan alat (ex: melalui telepon,

chating lewat internet, dan menggunakan teleconference). Lionberger dan Gwin

(1982), mengemukakan dua ciri yang harus diperhatikan dalam penerapan saluran
antar pribadi, yaitu:

a) Saluran antar pribadi sebenarnya merupakan saluran ganda (multi channels), di

dalam berkomunikasi tatap muka memperhatikan bahasa yang digunakan, serta

menyangkut ekspresi raut muka, pakaian yang dikenakan, tingkat kelantangan

suara, waktu dan tempat yang tepat untuk berkomunikasi.

b) Saluran antar pribadi sering menghadapi hambatan (barrier) yang berupa:

kesenjangan budaya, generalisasi yang salah, serta perilaku yang mencurigakan.


2. Saluran Media Masa

Saluran media masa adalah segala bentuk media masa (media cetak, media

elektronik, dan multi media) yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang

berkomunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan mereka. Yang termasuk dalam

media cetak adalah surat kabar, tabloid, majalah, jurnal ilmiah, poster, leaflet,

folder, serta brosur. Media elektronik dapat berbentuk audio suara (ex: radio, pita

rekaman atau tipe recorder dan CD/compact disc), atau audio visual (ex: film,

TV,VCD). Serta multi media merupakan segala bentuk produk media (cetak dan

audio visual) yang digabungkan dalam satu peket media komunikasi.

Media masa biasanya lebih efektif dan lebih murah untuk mengenalkan inovasi

pada tahap-tahap penyadaran dan menumbuhkan minat, tetapi saluran/media ini

memiliki kelemahan-kelemahan yang mencakup:

a) Pesan yang disampaikan sering kurang jujur.

b) Bahasa dan kalimat (istilah) yang digunakan seringkali kurang akrab dengan

masyarakat penerima manfaatnya.

c) Isi pesan sering kurang memperhatikan kebutuhan pembangunan masyarakat.

d) Isi pesan sering kali terlalu berorientasi kepada masalah-masalah teknis.


e) Isi pesan kurang memperhatikan sistem nilai yang berlaku di dalam masyarakat.

3. Forum Media

Forum media adalah saluran komunikasi yang berupa sekelompok kecil orang

yang dapat saling tatap muka untuk berkomunikasi (mendiskusikan pesan-pesan

tertentu) yang diterima media masa. Bentuk-bentuk forum media yang dapat kita

jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah: kelompok belajar, kelompok

pendengar, dan kelompok pencapir ( kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa

televisi).
Homofili dan Agen Pembaharu

1. Agen pebaharu cenderung berinteraksi dengan klien yang ciri-cirinya mirip

dengannya, yaitu dengan anggota masyarakat yang status sosialnya tinggi,

partisipasi sosial tinggi, lebih tinggi pendidikan dan kemelek-hurupannya,

serta lebih kosmopolit.

Homofili dan Tokoh Masyarakat

1. Jika homofili sebagai perintang difusi, maka agen pembaharu harus bekerja

dengan bermacam tokoh masyarakat sehingga menjangkau seluruh anggota

sistem sosial.

2. Difusi interpersonal (menggunakan saluran komunikasi interpersonal)

umumnya lebih homopilus.

3. Difusi interpersonal heterofili, maka anggota masyarakat akan mencari

pemuka pendapat yang lebih dalam status sosialnya, pendidikan,

berhubungan dengan agen pembaharu, membaca media dan inovatif.

3.2 Keputusan Kolektif, Keputusan Kekuasaan, dan Konsekuensi inovasi


Keputusan inovasi adalah proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya

inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau menolaknya dan

mengukuhkannya. Keputusan inovasi merupakan suatu tipe pengambilan

keputusan yang khas, keputusan ini mempuyai ciri-ciri tersendiri yang tak

diketemukan dalam situasi pembuatan keputusan yang lainnya.

Ada beberapa tipe keputusan inovasi, yaitu :

1) Keputusan otoritas, yaitu keputusan yang dipaksakan kepada seseorang oleh

individu yang berada dalam posisi atasan.

2) Keputusan individual, yaitu keputusan di mana individu yang bersangkutan

ambil peranan dalam pembuatannya.


Keputusan Inovasi Kolektif

Keputusan kolektif yakni keputusan yang dibuat oleh individu-individu yang

ada dalam sistem sosial melalui konsensus. Proses ini melibatkan lebih banyak

individu. Pengambilan keputusan inovasi kolektif ini prosesnya lebih panjang atau

banyak memakan waktu. Tahap-tahap dalam proses keputusan inovasi kolektif :

1. Stimulasi, merupakan minat ke arah kebutuhan akan ide-ide baru. Ada

orang yang sadar bahwa sistem sosial membutuhkan inovasi tertentu,

anggota sistem sosial belum anggap penting inovasi, stimulator biasanya

orang dari luar sistem atau anggota sistem yang berorientasi ke luar dan

lebih kosmopilit, keahlian stimulator terletak pada kompetisinya mengenai

inovai dan berorientasi pada pesan.

2. Inisiasi, yaitu ide-ide baru ke dalam sistem sosial.Ide baru mulai

diperhatikan oleh anggota sistem sosial dan disesuaikan dengan kebutuhan

sistem, inisiator membuat rancangan inovasi dalam sistem sosial dengan

menyesuaikan dengan kondisi yang ada, inisiator lebih mengal liku-liku

sistem dan berorientasi pada sistem (penerima pesan inovasi), antara

inisiator dan stimukator harus ada jalinan komunikasi yang baik.


3. Legitimasi, yaitu ide-ide baru yang ditimbulkan oleh pemegang kekuasaan

atau legitimator.inovasi disetujui oleh orang-orang yang secara informal

mewakili sistem sosial dalam norma-norma dan nilai-nilainya dan salam

kekuasaan sosial yang mreja miliki, peranan legiitimator sebagai penyaring

ide yang akan dikukuhkan, kecepatan adopsi inovasi kolektif berhubungan

positif dengan tingkat keterlibatan legitimator sistem sosial itu dalam proses

pengambilan keputusan, status sosial legitimator lebih tinggi dari oada

anggota sosial yang lain.


Partisipasi Dalam Keputusan Kolektif

Partisipasi adalah tingkat keterlibatan anggota sistem sosial dalam proses

pengambilan keputusan. Tingkat partisipasi tersebut berhubungan positif dengan

kepuasan mereka terhadap keputusan inovasi kolektif. ini berarti semakin tinggi

partisipasi anggota dalam proses pengambilan keputusan, semakin besar pula

tingkat kepuasan mereka terhadap keputusan.

Anggota sistem sosial lebih puas dengan keputusan kolektif jika mereka

merasa terlibat dalam pembuatan keputusan itu karena :

1. Dengan ikut serta dalam proses pengambilan keputusan, anggota itu

mengetahui bahwa sebagian besar anggota dalam sistem juga ingin

melaksanakan keputusan itu. Jika seseorang anggota tahu bagaimana

dukungan kelompok terhadap keputusan, dia mungkin menjadi lebih puas.

2. Keputusan untuk menerima atau menolak lebih sesuai dengan kebutuhan

anggota sistem jika mereka ikut ambil bagian dalam pembuatan keputusan

tersebut.

3. Partisipasi yang luas memungkinkan para pemuka pendapat di dalam sistem

dapat menduga apa yang diinginkan oleh sebagian besar anggota terhadap
keputusan yang akan di ambil. dengan demikian posisi para pemuka

pendapat lebih mantap dan para anggota terdorong untuk mentaati

keputusan dengan rasa puas.

Penerimaan Anggota Terhadap Keputusan Inovasi Kolektif

Penerimaan anggota terhadap keputusan inovasi kolektif berhubungan positif

dengan tingkat partisipasi mereka, semakin banyak mereka berpartisipasi dalam

proses pembuatan keputusan kolektif semakin besar penerimaan mereka terhadap

keputusan.
Penerimaan anggota terhadap keputusan inovasi kolektif juga berhubungan

positif dengan kohesi anggota dengan sistem sosial. Kohesi adalah tingkat

keterikatan anggota dengan sistem sosial menurut persepsinya sendiri. Orang yang

merasa sangat terikat atau punya ikatan kuat dengan kelompok akan merasa lebih

terdorong untuk merubah kepercayaan atau tingkah lakunya jika kelompok

menginginkan.

Keputusan inovasi otoritas

Keputusan inovasi otoritas merupakan desakan terhadap seorang individu oleh

seseorang yang menduduki posisi kekuasaan superordinat. Seseorang (atau tipe unit

adopsi lainnya) diminta oleh seseorang yang menduduki posisi otoritas yang lebih

tinggi untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi. Seorang individu tidak

memiliki kebebasan untuk mempergunakan pilihannya dalam proses keputusan –

inovasi. Dia didesak oleh seseorang yang memegang lebih banyak otoritas pada

sistem sosial untuk mengadopsi atau menolak inovasi. Jadi, struktur otoritas dari

sistem sosial (dalam bahasa perencana disebut “boss”) mempengaruhi seseorang

untuk menyesuaikan diri dengan putusan.

Setidaknya ada dua jenis unit yang terlibat dalam keputusan inovasi otoritas:
1. Unit Adopsi, yang merupakan individu, kelompok atau unit lainnya yang

mengadopsi inovasi.

2. Unit putusan, yang merupakan individu, kelompok atau unit lainnya yang

memiliki otoritas yang lebih tinggi dibandingkan unit adopsi dan yang

menentukan putusan akhir apakah unit adopsi akan menerima atau menolak

suatu inovasi.

Proses Keputusan Inovasi Otoritas

Harus bisa dipahami bahwa Keputusan Inovasi Otoritas lebih kompleks

dibandingkan dengan Keputusan Opsional. Salah satu alasan adalah Keputusan

Inovasi Otoritas melibatkan 2 komponen unit yang penting, yaitu unit adopsi dan
unit keputusan. Unit keputusan (decision unit) memiliki otoritas lebih dibandingkan

unit adopsi dan karenanya dapat menunjuk pada konfirmasi keputusan itu sendiri,

unit keputusan harus bisa mengetahui mengenai ide baru, cara mengevaluasi ide,

dan memutuskan apakah harus diadopsi ke dalam sistem. Apabila unit keputusan

telah menerima suatu ide, keputusan ini dikomunikasikan pada unit adopsi yang

akan mengambil suatu aksi. Bahkan setiap aktivitas yang berbeda ini bisa dilakukan

oleh individu yang berbeda pada suatu organisasi. Pada suatu kasus keputusan

opsional yang berbeda semua muncul dari pemikiran individual.


Paradigma fungsi pada Proses Keputusan Inovasi Otoritas

1. PENGETAHUAN mengenai kebutuhan untuk

perubahan dan inovasi

2. PERSUASI dan evaluasi dari inovasi Fase pembuatan

Keputusan oleh

unit keputusan

3. KEPUTUSAN berhubungan dengan penerimaan

atau penolakan inovasi oleh unit

keputusan

4. KOMUNIKASI dari keputusan

untuk unit adopsi pada

organisasi

Fase

implementasi

Keputusan
5. AKSI atau implementasi/penerapan dari

keputusan: adopsi atau penolakan dari

inovasi oleh unit adopsi


Fungsi Keputusan Inovasi Fungsi individu keputusan Langkah-langkah dalam

Otoritas inovasi keputusan inovasi kolektif

1. Pengetahuan 1. Pengetahuan 1. Stimulasi / rangsang

2. Persuasi 2. Persuasi 2. Inisiasi

3. Keputusan 3. Keputusan 3. Legitimasi

4. Komunikasi - 4. Keputusan

5. Aksi 4. Aksi -

5. Aksi

Langkah-langkah dalam proses inovasi keputusan kolektif

Pengetahuan

Pengetahuan adalah langkah awal dalam proses keputusan inovasi untuk suatu

keputusan otoritas. Dalam hal ini fungsi dari unit keputusan menjadi awal

kesadaran dari inovasi yang pada akhirnya akan menjadi unit adopsi. Pengetahuan

ini yang manjadi bagian dari pengetahuan pada unit keputusan yang akan membawa

pada kesadaran dari inovasi oleh unit adopsi.

Kesadaran-pengetahuan mengenai inovasi dapat dikomunikasikan melalui

subordinat kepada boss (pemimpin), subordinat kemudian menunggu untuk

persetujuan formal oleh unit keputusan. Ini merupakan jalannya/alurnya inovasi

(Rogers, dkk 1968), mempelajari difusi inovasi pendidikan tertentu di SMP di

Thailand, menemukan bukti yang mengejutkan pada jalannya inovasi. Peneliti

mengharapkan adanya penerapan jalur dari bawah pada eksekutif tertinggi yaitu

Mentri Pendidikan Thailand, secara level hirarki petugas pendidikan regional

kepada kepala sekolah dan guru. Kenyataannya mereka menemukan inovasi jalur

dari atas dari guru, terutama guru-guru muda yang baru-baru saja/sering pelatihan

kepada kepala sekolah dan berlanjut pada petugas yang lebih tinggi. Walaupun

inovasi seharusnya mengalir ke bawah, kenyataan alirannya mengalir tampak

sebaliknya.
Observasi empiris menunjukkan indikasi pola ini sering menuju langsung pada

permasalahan. Unit keputusan juga bisa menjadi waspada terhadap inovasi dari

sumber luar. Beberapa peneliti (Griffith, 1964; Miles, 1964) menyarankan sumber

dari luar adalah hal yang paling penting dalam perubahan katalist untuk pengaturan

organisiasi formal. Penelitian dalam skala besar pada suatu perubahan organisasi

menunjukkan bahwa suatu sumber dari luar, misalnya konsultan, memegang

peranan penting pada pengembangan perhatian perlunya perubahan pada sistem

formal ( Rice, 1958; Seashore dan Bowers, 1963).

Persuasi

Apapun sumber inputnya, unit keputusan harus mengevaluasi inovasi

berdasarkan kebutuhan organisasinya. Fungsi persuasi dibentuk berdasarkan

informasi terinci dalam pencarian informasi dan evaluasi, kemungkinan akan

dilakukan dan kemungkinan tidak dilakukan. Sebagai efek organisasi formal

dipertimbangkan dari hypotesis trial.

Kesulitan yang paling utama adalah rendahnya kemampuan dalam menilai atau

mengevaluasi dari suatu organisasi inovasi. Satu alasan dari batasan keterlambatan

dalam suatu organisasi yang besar, perubahan berkala dalam struktur formal
organisasi itu sendiri, serta keuntungan psikologis maupun ekonomis dari sebuah

inovasi tidak bisa langsung dinikmati sebagaimana inovasi pencampuran bibit atau

penemuan penisilin.

Keputusan

Saat unit keputusan telah mengenalkan kesadaran pengetahuan memngenai

inovasi dan mengevaluasi dalam satu fase mengenai keuntungan, kemungkinan

penolakan dan konsekuensi yang diharapakan, Pada fase keputusan formal pilihan

tetap dibuat oleh unit keputusan untuk menerima atau menolak inovasi,

1. Penerimaan individu pada otoritas keputusan inovasi sangat mungkin

berhubungan dalam partisipasi dalam pengambilan keputusan.


2. Kepuasan individu dengan otoritas inovasi sangat mungkin berhubungan

dengan pengambilan keputusan inovasi.

Komunikasi

Saat unit keputusan telah memilih alternatif inovasi yang diharapkan untuk

diadopsi, pesan harus ditransmisikan dengan proses dari bawah ke atas, dari atasan

ke bawahan, mengikuti posisi/pola otoritas secara hirarki pada unit adopsi. Pada

proses keputusan inovasi individu tidak termasuk pada tingkatan komunikasi, sejak

pembuat keputusan dan fungsi implementasi keputusan muncul dalam pikiran

seorang individu. Pada keputusan otoritas, namun komunikasi memegang fungsi

yang krusial, sebab adopsi atau penolakan tidak akan terjadi sampai sudah

dilakukan transfer yang berarti dari unit keputusan kepada unit adopsi.

Saat terjadi kontak antara individu dengan status yang berbeda, sangat mudah

diketahui komunikasi dari atasan kepada bawahan terjadi lebih mudah

dibandingkan dari komunikasi dari bawahan ke atasan, tapi juga akan mudah

diperkirakan semakin lebar perbedaan (lebih luas perbedaannya semakin terbatas

saluran komunikasi) dan semakin mirip saluran yang dipakai akan semaik sering

diulang. (Barnlund dan Harlnd, 1963, p.468). Sebuah penelitian pada sebuah unit
organisasi kecil (Gerard, 1957) menemukan bahwa designating 1 anggota dari 4

anggota yang memiliki posisi sebagai atasan (boss) akan meningkatkan frekuensi

komunikasi dari individu ke anggota yang lain (komunikasi dari atasan ke

bawahan). Keberadaan struktur hirarki mempengaruhi pola dalam sistem.

Aksi

Aksi mengacu pada adopsi atau penggunaan inovasi secara aktual oleh unit

adopsi sebagai suatu langkah akhir dari proses Keputusan Inovasi Otoritas. Sering

kali konsekuensi perilaku dari inovasi menjadi lebih jelas, apakah hasilnya

menguntungkan ataupun mengecewakan dalam tahapan aksi.


Pendekatan terhadap Perubahan Organisasional

Ada dua basis pendekatan: (1) pendekatan autoritatif di mana terdapat

distribusi kekuasaan yang sangat tidak sepadan, keputusan mengenai perubahan

dibuat oleh posisi kekuasaan sentral, sedangkan pihak lainnya hanya diharuskan

untuk mematuhi keputusan, dan (2) pendekatan partisipatif, di mana terdapat

pembagian kekuasaan yang luas serta keputusan-keputusan tentang perubahan

diputuskan melalui konsultasi dengan mereka yang terpengaruh oleh perubahan.

Pendekatan Autoritatif

Pendekatan autoritatif terhadap perubahan organisasi mencakup

pemberitahuan satu – arah yang dimulai dengan seseorang yang berada pada posisi

otoritas formal yang cukup tinggi dan dan diteruskan pada mereka yang berada pada

posisi yang lebih rendah. “Dekrit pendekatan” ini (Taylor 1911; Gouldner, 1954;

Greiner, 1965) merepresentasikan keputusan unilateral yang dibuat oleh figur-figur

otoritas. Mereka yang terpengaruh tidak perlu mengatakan apapun mengenai

bagaimana serta kapan perubahan itu akan terjadi. Tanpa pertanyaan, pendekatan

autoritatif jauh lebih umum digunakan pada sektor industri, jika dibandingkan

dengan pendekatan partisipatif (Barnes, 1967). Dalam konteks proses Keputusan


inovasi otoritas, pendekatan ini mencakup partisipasi minimum dari unit adopsi

dalam proses keputusan.

Pendekatan Parsitipatif

Pendekatan terhadap perubahan organisasional ini mencakup interaksi dua –

arah antara eksekutif yang menginisiasi perubahan dengan mereka yang

terpengaruh (terdampak) oleh perubahan. Kekuasaan untuk menentukan keputusan

dibagi kepada semua lapisan yang fokus pada tahapan yang berbeda dalam

perubahan organisasional. Dalam putusan otoritas, pendekatan partisipatif

mencakup keterlibatan yang luas dari unit- unit adopsi, terutama pada fungsi

putusan. Unit adopsi dapat dilibatkan dalam pengidentifikasian inovasi yang


relevan, dalam pengevalusian inovasi tersebut serta dalam memutuskan untuk

menerima atau menolak inovasi tersebut.

Pada pendekatan autoritatif, setiap keputusan dibuat oleh top eksekutif.

Perubahan organisasional akan jauh lebih cepat terjadi dibandingkan pada

pendekatan partisipatif. Oleh karena itu, ketika kecepatan perubahan diperlukan,

pendekatan autoritatif dapat mencapai hasil dengan cepat. Namun perubahan yang

dicapai tidaklah bersifat permanen, dan kadangkala para anggota organisasional

menolak inovasi, yang menyebabkan diskontinuitas (seperti yang kita lihat pada

Sekolah Menengah Adam).

Kebutuhan Akan Unit Adaptif

Tingkat struktur sosial yang cukup tinggi pada suatu organisasi formal,

seringkali dianggap sebagai penghambat aliran komunikasi. Hirarki seringkali

disalahkan atas dampak yang ditimbulkannya terhadap distorsi pesan, kurangnya

timbal balik, dan bahkan disalahkan karena menyebabkan meluapnya informasi.

Misalnya, dalam investigasi yang mereka lakukan terhadap sejumlah agensi public

yang cukup besar, Janowitz dan Delany (1957) menemukan bahwa posisi seseorang

yang lebih tinggi dalam birokrasi, menyebabkan kurangnya pengetahuan yang ia


miliki tentang para klien dalam organisasinya. Gardner (1963, hal. 78 – 79)

menunjukkan bahayanya “penyaringan pengalaman” sebagai suatu penyebab

kekakuan birokratis. Argumennya adalah: jika organisasi menjadi jauh lebih besar

dan lebih rumit, orang-orang yang berada di posisi atas seharusnya tidak terlalu

bergantung pada pengalaman dari pihak pertama serta harus memiliki lebih banyak

informasi yang akan diproses mulai dari level hirarki yang lebih rendah. Namun

pengolahan informasi ini akan menyaring emosi, sentiment, serta keswan sensoris

lainnya tidak mudah diekspresikan dalam bentuk kata-kata atau angka, atau kode

organisasional. Gambaran realita yang mencapai top birokrasi seringkali tidak

sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.


Terdapat metode lain untuk mendapatkan timbal balik dari tingkatan hirarki

yang lebih rendah: struktur organisasional dapat didesentralisasikan untuk

meminimalisir jumlah lapisan hirarkis antara lapisan atas dengan lapisan bawah,

antara klien dengan presiden. Organisasi juga dapat menciptakan suatu atmosfir

yang memberikan peluang pada staff untuk melewati berbagai jenis timbal balik

secara informal yang tidak dapat diekspresikan dalam kode organisasional.

Struktur sosial dari suatu organisasi formal dapat dibentuk untuk melakukan

komunikasi yang efektif, dibandingkan untuk menghambatnya. Salah satu

metodenya ialah dengan membentuk suatu unit adaptif sebagai bagian dari struktur

organisasi. Hal ini juga mungkin dapat menuntun pada terbentuknya unit riset dan

pengembangan atau sejumlah title euphemistis lainnya. Tujuan dari unit adaptif

ialah untuk melakukan sejumlah perubahan pada lingkungan, untuk

mempertimbangkan kebutuhan atas perubahan pada organisasi, untuki

mengidentifikasi inovasi yang sesuai dan untuk mengevaluasi inovasi.

Unit adaptif berperan sebagai agen perubahan. “Mungkin apa yang dibutuhkan

oleh setiap organisasi ialah suatu departemen pembaharuan kontinyu yang akan

memandang organisasi keseluruhan sebagai suatu sistem yang memerlukan inovasi


yang kontinyu” (Gardner, 1963, hal. 76). Unit pembaharuan inhi harus ditempatkan

berdekatan dengan puncak dari struktur kekuasaan hirarki. Jika unit ini ingin

mampu beroperasi sebagai sebuah agen perubahan yang efektif, unit ini harus

memiliki para personil yang ahli serta terlatih serta memiliki dana yang cukup

memadai untuk mempengaruhi para adopter yang potensial, di posisi manapun

dalam organisasi.
Konsekuensi Inovasi

Suatu inovasi akan melahirkan konsekuensi. Konsekuensi inovasi adalah suatu

dampak yang mengikuti proses adopsi suatu inovasi (Purwanto, 105:2000).

Penyebarluasan inovasi biasanya didasarkan asumsi bahwa konsekuensi atau akibat

inovasi itu akan positif. Para agen pembaharuan berasumsi bahwa inovasi itu

merupakan kebutuhan klien atau masyarakat, oleh karena itu penyebarluasan atau

diseminasinya dianggap sebagai hal yang wajar, dan ia menaruh harapan bahwa

difusinya akan berhasil.

Klasifikasi Konsekuensi Inovasi

Konsekuensi adalah perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial

sebagai akibat dari mengadopsi atau menolak suatu inovasi. Terdapat tiga

klasifikasi dari konsekuensi, masing-masing klasifikasi tersebut merupakan suatu

kontinum yang memiliki dua kutub berlawanan. Klasifikasi berbagai konsekuensi

inovasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

1. Konsekuensi diharapkan dan tidak diharapkan

Konsekuensi yang diharapkan adalah suatu inovasi mempunyai pengaruh


fungsional sesuai dengan keinginan individu atau sistem sosial. Sedangkan

konsekuensi yang tidak diharapkan adalah suatu dampak yang timbul padahal

hal tersebut tidak dikehendaki.

Konsekuensi fungsional adalah akibat-akibat dari penyebaran suatu inovasi

dalam suatu sistem sosial yang sesuai dengan keinginan dari pengadopsi.

Akibat-akibat itu memiliki konotasi yang positif. Sebaliknya konsekuensi

disfungsional adalah akibat-akibat dari pengadopsian inovasi yang tidak

diinginkan oleh pengadopsi.


2. Konsekuensi langsung dan tidak langsung

Konsekuensi langsung adalah suatu inovasi mempunyai pengaruh yang

segera terhadap individu atau suatu sistem sosial, sedangkan konsekuensi tidak

langsung adalah inovasi yang memberikan pengaruh yang tidak segera.

Konsekuensi langsung suatu inovasi menghasilkan perubahan-perubahan sistem

sosial yang terjadi sebagai respon segera penyebaran suatu inovasi.

Konsekuensi tidak langsung adalah perubahan-perubahan dalam sistem

sosial yang terjadi sebagai hasil konsekuensi langsung suatu inovasi yang masih

memerlukan upaya tambahan dan prosesnya masih memerlukan waktu yang

lebih lama.

Konsekuensi langsung sebuah inovasi merupakan perubahan pada individu

atau sistem sosial yang terjadi secara langsung dari sebuah inovasi. Sedangan

konsekuensi atau akibat tidak langsung merupakan perubahan pada individu atau

sistem sosial yang terjadi sebagai hasil dari konsekuensi langsung suatu inovasi.

3. Konsekuensi diantisipasi dan tidak diantisipasi

Konsekuensi yang diantisipasi adalah konsekuensi yang telah diperkirakan

sebelumnya, sedangkan konsekuensi yang tidak diantisipasi adalah dampak


ikutan yang muncul kemudian setelah adopsi atau menolak inovasi. Konsekuensi

yang tidak diantisipasi bisa bersifat positif, bisa pula bersifat negatif.

Konsekuensi ini juga disebut sebagai konsekuensi yang nampak dan yang latent.

Konsekuensi yang nampak adalah perubahan-perubahan yang terlihat dan

dikehendaki oleh anggota sistem sosial yang mengadopsi suatu inovasi. Contoh

yang tampak dari suatu pengadopsian suatu inovasi misalnya : adanya

pengembangan keterampilan kerja baru bagi orang yang menerapkan

penggunaan gergaji mesin untuk memotong kayu. Sedangkan konsekuensi yang

latent adalah perubahan-perubahan yang tidak tampak dan tidak dikehendaki

oleh anggota suatu sistem sosial. Semakin maju dan modern suatu inovasi, akan
semakin banyak pula menghasilkan konsekuensi baik konsekuensi yang nampak

maupun yang tidak tampak.

Konsekuensi yang terantisipasi merupakan perubahan yang berkenaan

dengan inovasi yang diketahui dan diingingkan atau dimaksud oleh para anggota

sistem sosial. Konsekuensi yang tidak terantisipasi merupakan perubahan dari

sebuah inovasi yang tidak diketahui dan diinginkan atau dimaksud oleh para

anggota sistem sosial.


IV

KESIMPULAN

4. 1. Kesimpulan

Agen pembaharu (change agenl): pekerja profesional yang berusaha

mempengaruhi atau mengarahkan keputusan inovasi orang lain selaras dengan yang

diinginkan oleh Lembaga pembaharuan dimana ia bekerja. Fungsi utamanya adalah

menjadi mata rantai penghubung antara dua sistem sosial atau lebih.

Tokoh masyarakat adalah orang yang memiliki kemampuan untuk

mempengaruhi orang lain yang tumbuh karena ditunjang oleh kekuaran atau

birokrasi formal.

Saluran komunikasi merupakan alat dalam mana pesan berpindah dari

sumber kepada penerima. Memiliki macam saluran yaitu : 1. Saluran interpersonal

dan media massa, 2. Saluran lokal dan kosmopolit.

Keputusan kolektif merupakan keputusan untuk menerima atau menolak

inovasi yang dibuat individu-individu yang ada dalam sistem sosial melalui

“consensus”. Keputusan kekuasaan merupakan pengambilan keputusan inovasi

yang didasarkan atas kepemilikan kekuasaan atau kewenangan seseorang atau yang
berada dalam posisi atsan yang memerintahkan kepada unit adopsi untuk menerima

atau menolak inovasi.

Konsekuensi inovasi adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada

individu atau sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.
DAFTAR PUSTAKA

Cangara, H. (2009). Komunikasi Politik: Konsep, Teori dan Strategi. Jakarta:

Rajawali Pers

Ibrahim. (1988). Inovasi Pendidikan. Proyek Pengembangan LPTK Depdikbud.

Jakarta: Dikti

Sutarni, T. M. (1983). Pengantar Penyuluhan Pertanian dalam Teori dan Praktek.

Surakarta: Hapsara.

Rogers, Everett, M. (1983). Diffusion of Innovations. London: Collier Macmillan

Publishers.

Yunasaf, U. (2011). Komunikasi Pembangunan: Suatu Rangkuman. Jatinangor:

Laboratorium Sosiologi dan Penyuluhan Fakultas Peternakan Universitas

Padjadjaran.