Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK FISIK

PERCOBAAN 1
PEMBUKTIAN TEORI ASAM BASA

Disusun oleh:
Nama : Novena Tesalonika Rasuh
NIM : 171444008
Shift/Kelompok : A1/01

Dosen Pengampu:
Johnsen Harta, M.Pd.

Asisten Dosen:
1. Yosua Agung Santoso
2. Ivonna Yuni Nugraheni

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA, YOGYAKARTA
SEMESTER GANJIL 2019/2020
PERCOBAAN 1
PEMBUKTIAN TEORI ASAM BASA

A. Judul Praktikum
Pembuktian Teori Asam Basa
B. Hari dan Tanggal Praktikum
Senin, 9 September 2019
C. Tujuan Praktikum
Untuk membuktikan dan menganalisis karakteristik asam dan basa menurut Teori
Arrhenius, Bronsted Lowry, dan Lewis.
D. Landasan Teori
Asam basa merupakan salah satu substansi penting dalam ilmu kimia. Asam
merupakan suatu komponen yang memberikan ion hidrogen (H+) dalam larutan berair.
Untuk basa sendiri, didefinisikan sebagai komponen yang menghasilkan ion
hidroksida (OH-) dalam larutan berair. Definisi asam dan basa tersebut dijelaskan
melalui teori Arrhenius dengan konsep sederhananya (Petrucci et al., 2011).
Asam : HCl(aq) + H2O(l)  H3O+(aq) + Cl-(aq)
Basa : NaOH(aq) + H2O(l)  Na+(aq) + OH-(aq)
(Brady & Humiston, 1999).
Asam dan basa memiliki beragam interpretasi konsep dalam mendefinisikannya.
Selain teori Arrhenius, asam dan basa dapat didefinisikan melalui teori Bronsted
Lowry. Teori ini dapat diaplikasikan pada tipe-tipe pelarut yang berproton. Teori ini
menjelaskan bahwa asam merupakan zat yang mendonorkan protonnya (donor
proton). Sebaliknya, basa ialah zat yang menerima proton (akseptor proton) yang
diberikan itu (Cotton & Wilkinson, 2014).
H2O(l
NH4+(aq) +  NH3(aq) + H3O+(aq)
)
Asam Basa Basa konjugasi Asam konjugasi

Pasangan asam-basa konjugasi


(Brady & Humiston, 1999).
Adapun teori yang dikemukakan oleh Gilbert N. Lewis tentang konsep asam
basa. Teori Lewis menunjukkan asam adalah zat yang menerima sepasang elektron
dalam membentuk ikatan kovalen dan basa adalah zat yang memberikan sepasang
elektron untuk membentuk ikatan kovalen. Teori ini memiliki kelebihan dalam
mengklasifikasi asam dan basa yang tidak menghadirkan ion hidrogen (H+) maupun
ion hidroksida (OH-) dalam reaksinya (Brady & Humiston, 1999).

1
Asam Basa
(Brady & Humiston, 1999).
Dalam menganalisis sifat asam dan basa suatu zat, diperlukan suatu indikator.
Indikator asam basa yang digunakan tidaklah sembarangan. Indikator tersebut harus
berupa senyawa yang dapat berubah warna saat kondisi pH diatur sedemikian rupa.
Perubahan warna tersebut akan menunjukkan sifat zatnya asam atau basa (Santoso &
Wahyu, 2015).
Indikator asam basa yang sering digunakan berupa kertas lakmus, indikator
universal, dan pH meter. Dalam perkembangannya, indikator asam basa dapat dibuat
menggunakan indikator alami. Indikator alami ini merupakan zat yang diekstrak dari
tanaman. Beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai indikator asam basa,
seperti ubi ungu, bunga kana, bunga terompet ungu, dan bahkan bunga kangkung
(Sukemi et al., 2017).
E. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Gelas kimia 50 mL
b. pH meter
c. Pipet ukur
d. Pipet tetes
e. Tabung reaksi
2. Bahan Kimia (Alami dan Buatan)
a. Susu Kedelai
b. Jus Jambu Biji Merah (tanpa
gula)
c. Indikator Alami Kulit
Manggis
d. Kertas Lakmus
e. Indikator Universal
f. Larutan Buffer pH 4, 7, dan
10
g. Larutan CoCl2 0,1 M
h. Amonia 25%

2
F. Prosedur Kerja
1. Pembuktian Teori Asam Basa Arrhenius dan Bronsted Lowry
Sampel (Susu Kedelai dan Jus Jambu Biji Merah) disiapkan praktikan

dipindahkan

Dua gelas kimia berbeda

diidentifikasi

Indikator alami, kertas lakmus, indikator universal, dan pH meter


(kalibrasi dan diukur dengan larutan buffer 4, 7, dan 10)

Hasil didata dan dituliskan dalam persamaan reaksi kimia sesuai teori
Arrhenius dan Bronsted Lowry
2. Pembuktian Teori Asam Basa Lewis
Larutan Kobalt (II) klorida 0,1 M dan amonia 25% disiapkan praktikan

Larutan Kobalt (II) klorida 0,1 M sebanyak 2 mL


dimasukkan ke tabung reaksi

Amonia 25% ditambahkan tetes demi tetes


ke dalam tabung reaksi

Perubahan yang terjadi dicatat dan diamati oleh praktikan

Hasil didata dan dituliskan dalam persamaan reaksi


kimia sesuai teori Lewis

3
G. Data Pengamatan
Tabel 1. Pembuktian Teori Asam Basa Arrhenius dan Bronsted Lowry
Data Pengukuran
No. Sampel Jenis Indikator Sifat Persamaan Reaksi Kimia
(Warna/pH)

Kertas lakmus
Biru Basa Asam Basa Arrhenius
merah Keadaan asam:

Kertas lakmus
Biru Basa Keadaan basa:
biru

Indikator Asam Basa Bronsted-Lowry


1. Susu Kedelai pH = 6 Asam
Universal

pH meter pH = 6,48 Asam

Kulit Manggis Kuning pekat Basa

2. Jus Jambu Biji Kertas lakmus Merah Asam Asam Basa Arrhenius
Merah merah H2O
C6H8O6 (l) C6H7O6- (aq) + H3O+ (aq)

4
Kertas lakmus Asam Basa Bronsted-Lowry
Merah Asam C6H8O6 (l) + H2O (l)  C6H7O6- (aq) + H3O+ (aq)
biru Asam Basa Basa Konj. Asam Konj.
Indikator
pH = 4 Asam
Universal

pH meter pH = 4,35 Asam

Kulit Manggis Kuning muda Asam

Tabel 2. Pembuktian Teori Asam Basa Lewis


Perubahan Asam Basa
Reagen 1 Reagen 2 Persamaan Reaksi Kimia
Warna Lewis Lewis
Merah muda [Co(H2O)6]Cl2(aq) + 2NH3(l)  [Co(H2O)4(OH)2](aq) + 2NH4Cl(aq)
[Co(H2O)6]Cl2 NH3 Co2+ NH3
menjadi hijau [Co(H2O)4(OH)2](aq) + 6NH3(l)  [Co(NH3)6]2+ (aq) + 6H2O(l)

5
H. Pembahasan
Percobaan kali ini bertujuan untuk membuktikan dan menganalisis karakteristik
asam dan basa menurut teori asam basa Arrhenius, Bronsted Lowry, dan Lewis pada
suatu sampel. Sampel yang digunakan dalam percobaan ini ialah susu kedelai dan jus
jambu biji merah.

Gambar 1. Sampel Susu Kedelai dan Jus Jambu Biji Merah (kiri ke kanan)
Untuk mengetahui sifat asam atau basa pada susu kedelai dan jus jambu biji
merah, dilakukan percobaan menggunakan beberapa indikator, seperti indikator alami,
kertas lakmus, indikator universal, dan pH meter.
Indikator alami yang digunakan adalah kulit manggis yang diekstrak dengan
pelarut etanol. Penggunaan kulit manggis dalam mendeteksi sifat asam dan basa suatu
asam dilihat dari perubahan warna pada ekstraknya. Pada keadaan asam, larutan
ekstrak kulit manggis berwarna kuning terang. Saat larutan ekstrak kulit manggis
berada pada keadaan basa, warna yang dihasilkan berwarna coklat. Semakin tinggi pH
suatu zat atau senyawa, maka warna yang dihasilkan semakin coklat (Ngatin &
Mulyono, 2013).

Gambar 2. Indikator Alami Ekstrak Kulit Manggis

6
Adapun kertas lakmus merah dan biru yang cukup umum digunakan untuk
mengetahui sifat asam atau basa suatu zat. Suatu zat yang bersifat asam akan
mengubah kertas lakmus biru menjadi merah, sedangkan zat yang bersifat basa
mengubah kertas lakmus merah menjadi biru (Mulyono, 2006). Indikator universal
memiliki perubahan warna mulai dari warna merah sampai ungu sesuai dengan pH
dari zat dianalisis (Rufiati, 2011). Indikator selanjutnya yang digunakan adalah pH
meter dengan keakuratan yang tinggi dibandingkan indikator lain dalam mengukur pH
zat atau senyawa (Petrucci et al., 2011).
1. Pembuktian Teori Asam Basa Arrhenius dan Bronsted Lowry
Pada percobaan ini, sifat asam atau basa sampel susu kedelai dan jus jambu
biji merah dapat dibuktikan melalui teori asam basa Arrhenius dan Bronsted
Lowry. Kedua sampel diuji sifat asam basanya melalui beberapa indikator. Pada
sampel susu kedelai yang diuji dengan kertas lakmus menunjukkan sifatnya yang
cenderung netral. Hal ini terlihat dari perubahan warna kertas lakmus menuju
warna biru. Pada kertas lakmus merah, terjadi sedikit perubahan warna menjadi
biru. Untuk kertas lakmus biru, relatif tidak terjadi perubahan warna meski masih
terlihat beberapa titik merah pada kertas.

(a) (b)
Gambar 3. Susu kedelai diuji dengan kertas lakmus merah (a) dan biru
(b)
Selain itu, susu kedelai diuji juga dengan menggunakan indikator alami
ekstrak kulit manggis. Hasil pengamatan menunjukkan susu kedelai bersifat basa
karena warna kuning pekat yang dihasilkan. Suatu zat atau senyawa memiliki sifat
basa saaat warna yang dihasilkan semakin coklat (Ngatin & Mulyono, 2013).

7
Gambar 4. Susu kedelai dengan Indikator Ekstrak Kulit Manggis
Pengujian pH dengan indikator universal menunjukkan susu kedelai memiliki
pH 6. Nilai pH tersebut didukung dengan pH meter yang menunjukkan pH susu
kedelai sebesar 6,48. Penyebab hal ini terjadi karena sampel susu kedelai disusun
sebagian besar oleh protein (Ringgenberg, 2011). Dalam protein mengandung
asam amino yang mempengaruhi sifat asam atau basa pada sampel susu kedelai.
Asam amino merupakan suatu senyawa yang memiliki gugus yang bersifat asam (-
COOH) dan gugus yang bersifat basa (-NH 2). Karakteristik asam amino tersebut
yang membuat senyawa bisa memiliki muatan positif dan negatif, sehingga asam
amino dapat dikatakan sebagai ion Zwitter (Clark et al., 2019).

Gambar 5. Asam Amino


Pada saat asam amino dilarutkan dalam air, senyawa tersebut berperan
sebagai asam dan basa. Reaksi asam amino dengan air merupakan reaksi
kesetimbangan karena asam amino termasuk asam lemah. Sifatnya sebagai ion
Zwitter menyebabkan susu kedelai memiliki pH cenderung netral, yaitu 6,48 (pH
meter).
Berdasarkan teori asam basa Arrhenius, reaksi asam amino yang dilarutkan
dalam air dituliskan pada persamaan reaksi di bawah ini.

(Suasana Asam) (Suasana Basa)

8
Sesuai teori Asam Basa Arrhenius, yakni zat bersifat asam saat melepas ion
hidronium dan zat bersifat basa saat melepas ion hidroksida dalam air. Pada susu
kedelai, reaksinya saat dilarutkan dalam air terjadi keduanya. Oleh karena itu, susu
kedelai cenderung bersifat netral (Clark et al., 2019).
Berdasarkan teori asam basa Bronsted Lowry, suatu zat bersifat asam saat
mendonorkan protonnya dan bersifat basa saat menerima proton tersebut. Pada
asam amino (susu kedelai) yang direaksikan dengan air, berlangsung kegiatan
mendonor dan menerima proton. Asam amino dapat bersifat asam karena
mendonorkan proton, tetapi juga dapat bersifat basa karena menerima proton.
Kegiatan donor dan menerima proton tersebut dapat dilihat pada reaksi di bawah
ini (Clark et al., 2019).

(Asam amino bersifat asam)

(Asam amino bersifat basa)


Pada sampel jus jambu biji merah, diuji terlebih dahulu dengan kertas lakmus.
Berdasarkan pengamatan, kertas lakmus menunjukkan warna merah, baik kertas
lakmus merah maupun biru. Hal ini menandakan sampel bersifat asam.

(a) (b)
Gambar 6. Jus jambu biji merah diuji dengan kertas lakmus merah (a) dan biru
(b)
Sampel jus jambu biji merah dianalisis dengan indikator alami, yaitu
indikator ekstrak kulit manggis. Sampel yang pada mulanya berwarna merah muda
berubah warna menjadi kuning muda agak pudar. Hal ini menunjukkan sampel
bersifat asam (Ngatin & Mulyono, 2013).

9
Gambar 7. Jus jambu biji merah dengan Indikator Ekstrak Kulit Manggis
Pengujian sifat asam basa pada jus jambu biji merah dilanjutkan dengan
menggunakan indikator universal. Hasil menunjukkan jus jambu biji merah
memiliki pH sebesar 4 yang didukung dengan penggunaan pH meter yang
menunjukkan nilai pH yang lebih tepat, yaitu 4,35. Nilai pH tersebut,
menunjukkan jus jambu biji merah bersifat asam.
Berdasarkan teori asam basa Arrhenius, jus jambu biji merah bersifat asam
saat dilarutkan dalam air. Sifat asam tersebut disebabkan oleh kandungan jus
jambu biji merah, yaitu asam askorbat. Asam askorbat bersifat asam karena
melepaskan proton saat dilarutkan dalam air. Berikut adalah persamaan reaksi
sampel dilarutkan dalam air.

Reaksi tersebut sesuai dengan pengujian yang dilakukan dengan beberapa


indikator yang menunjukkan jus jambu biji merah (asam askorbat) bersifat asam.
Hal serupa juga ditunjukkan melalui teori asam basa Bronsted Lowry bahwa jus
jambu biji merah bersifat asam. Jus jambu biji merah yang mengandung asam
askorbat mendonorkan protonnya, sehingga bersifat asam. Berikut adalah
persamaan reaksi yang terjadi.

2. Pembuktian Teori Asam Basa Lewis


Pada pembuktian teori asam basa Lewis, reagen yang digunakan adalah
larutan CoCl2 dan Amonia 25%. Percobaan ini mereaksikan 2 mL larutan CoCl 2
dengan 8 tetes amonia 25% di dalam lemari asam karena sifat amonia yang
beracun. Amonia direaksikan dengan larutan CoCl2 tetes demi tetes untuk melihat

10
seberapa banyak amonia yang dibutuhkan secara tepat untuk membentuk
kompleks. Reaksi kedua reagen tersebut meenyebabkan perubahan warna dari
merah muda menjadi hijau. Larutan CoCl2 memiliki larutan yang berwarna merah
muda karena sifatnya yang mengikat air. Saat direaksikan dengan amonia, amonia
mengikat ion hidrogen yang ada pada larutan CoCl2. Hal tersebut yang
menyebabkan terbentuknya kompleks yang berwarna hijau (Clark et al., 2019).

Gambar 8. Kompleks Reaksi antara CoCl2 dengan Amonia


Reaksi pembentukan kompleks tersebut dituliskan pada persamaan reaksi di
bawah ini.
[Co(H2O)6]Cl2 (aq) + 2NH3 (aq)  [Co(H2O)4(OH)2] (aq) + 2NH4Cl (aq)
Reaksi antara larutan CoCl2 dengan sejumlah kecil (8 tetes) amonia akan
membentuk kompleks tetraaquadihidroksidakobalt (II) berwarna hijau. Kompleks
tersebut akan berwarna coklat saat amonia yang diberikan berlebih dan semakin
hitam karena mudah teroksidasi. Teori asam basa Lewis ditunjukkan saat amonia
ditambahkan secara berlebih. Saat amonia berlebih direaksikan dengan kompleks
tetraaquadihidroksidakobalt (II), amonia akan menggantikan ligan air didalamnya
sehingga membentuk kompleks baru yang berwarna coklat (Clark et al., 2019).
Berikut adalah persamaan reaksi pembentuk kompleks heksaquakobalt (II) yang
berwarna coklat.
[Co(H2O)4(OH)2] (aq) + 6NH3 (l)  [Co(NH3)6]2+ (aq) + 6H2O(l)
Persamaan reaksi di atas sesuai dengan teori asam basa Lewis, yaitu amonia
sebagai basa lewis mendonorkan pasangan elektron bebasnya kepada ion kobalt
yang berperan sebagai asam lewisnya. Reaksi asam basa Lewis ini bisa dilihat
melalui hibridisasi keduanya.
Co2+ : [Ar] 3d7

NH3 sebagai ligan kuat mendesak elektron-elektron tersebut.


Co2+ : [Ar] 3d7
11
NH3 sebagai ligan menempati orbital kosong dalam bentuk xx (PEB)
Co2+ : [Ar] 3d7
xx
s
xx
p
xx xx xx
d
xx
Berdasarkan hibridisasi kompleks tersebut, maka didapatkan dsp3d yang
memiliki kompleks spin tinggi karena besarnya perbedaan energi. Hibridisasi
tersebut tidak memungkinkan dengan adanya spin tinggi. Berdasarkan teori,
amonia sebagai ligan kuat dan kobalt sebagai atom pusat memiliki bentuk
oktahedral yang memiliki 1 elektron tidak berpasangan (Petrucci et al., 2011).
I. Pertanyaan Pascapraktek
1. Jelaskan bagaimana kekuatan:
a. Asam – basa konjugasi dari zat yang terkandung pada sampel susu kedelai.
Pada sampel susu kedelai, zat yang terkandung didalamnya didominasi oleh
asam amino (protein).

Berdasarkan persamaan di atas, asam amino berperan sebagai asam dan


memiliki pasangan basa konjugasinya ialah asam amino yang melepas proton.
Dari persamaan tersebut, asam amino memiliki sifat asam lemah, sehingga
pasangan basa konjugasinya bersifat basa kuat (Durland et al., 2012).

Persamaan di atas menunjukkan H2O sebagai asam dan OH- sebagai


pasangan basa konjugasinya. Kekuatan asam dan basa konjugasi tersebut ialah
H2O termasuk asam lemah dan OH- termasuk pasangan basa konjugasi kuat.
Dalam sampel susu kedelai, zat yang terkandung didalamnya didominasi oleh
asam amino. Asam amino memiliki sifat basa lemah, sehingga pasangan

12
konjugasinya adalah asam konjugasi kuat. Dampaknya mempengaruhi
kekuatan asam dan basa konjugasi pada reaksi didalamnya (Durland et al.,
2012).
b. Basa – asam konjugasi dari zat yang terkandung pada sampel jus jambu biji
merah.
Pada sampel jus jambu biji, memiliki persamaan reaksi sebagai berikut.

C6H8O6 (l) + H2O (l)  C6H7O6- (aq) + H3O+ (aq)


Asam Basa Basa Asam
Konjugasi
Konjugasi
Berdasarkan persamaan reaksi di atas, H2O berperan sebagai basa dan
H3O+ sebagai asam konjugasinya. Kekuatan basa dan asam konjugasi tersebut
ialah H2O termasuk basa lemah dan H 3O+ memiliki kekuatan asam konjugasi
yang kuat. Hal ini dikarenakan zat yang terkandung dalam jus jambu merah
(asam askorbat) merupakan asam lemah, sehingga pasangan konjugasinya
(C6H7O6-) termasuk basa konjugasi yang kuat. C6H8O6 merupakan asam yang
lebih lemah dari H3O+ mempengaruhi C6H7O6- yang memiliki basa konjugasi
lebih kuat dari H2O (Durland et al., 2012).

2. Bagaimana penjelasan fenomena kimia yang terjadi pada saat larutan kobalt (II)
klorida ditetesi amonia 25%?
Larutan CoCl2 yang memiliki warna merah muda karena mengikat air,
sehingga disebut ion heksaaquakobalt. Larutan tersebut diteteskan dengan amonia
25% yang berperan sebagai basa lewis dan ligan. Jumlah kecil amonia 25%
menarik ion hidrogen pada ion heksaaqua yang membuat larutan berwarna merah
muda berubah warna menjadi hijau (Clark et al., 2019).
[Co(H2O)6]Cl2 (aq) + 2NH3 (aq)  [Co(H2O)4(OH)2] (aq) + 2NH4Cl (aq)
[Co(H2O)4(OH)2] (aq) + 6NH3 (l)  [Co(NH3)6]2+ (aq) + 6H2O(l)
J. Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, karakteristik asam dan basa
pada sampel susu kedelai dan jus jambu biji merah dapat dibuktikan dan dianalisis
sesuai teori asam basa Arrhenius dan Bronsted Lowry dengan menggunakan indikator
alami ekstrak kulit manggis, kertas lakmus, indikator universal, dan pH meter. Hasil
menunjukkan susu kedelai bersifat cenderung netral karena memiliki ion Zwitter,
sehinga bisa bersifat asam dan basa. Hasil pengamatan menunjukkan jus jambu biji
merah bersifat asam, sesuai teori asam basa Arrhenius maupun Bronsted Lowry. Pada
asam basa Lewis, larutan CoCl2 dan amonia direaksikan menghasilkan kompleks

13
hijau. Ion kobalt sebagai atom pusat berperan sebagai asam lewis, sedangkan amonia
berperan sebagai basa lewis yang mendonorkan pasangan elektron bebasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E., dan Humiston. (1999). General Chemistry Principle and Structure. New York:
John Wiley & Sons.
Clark, J., Han, C., dan Bassi, H. (2019). Chemistry of Cobalt. Diambil dari
chem.libretexts.org diakses tanggal 21 September 2019.
Cotton, F. A., dan Wilkinson, G. (2014). Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI Press.
Durland, G., Grutsch, J., Gustafson, E., dan Kaverman, S. (2012). Acid Base Pairs,
Strength of Acids and Bases, and pH. Indiana: The Bodner Group.
Mulyono, HAM. (2006). Kamus Kimia. Jakarta: Erlangga.
Ngatin, A., dan Mulyono, E. W. (2013). Ekstraksi Zat Warna dari Kulit Manggis dan
Pemanfaatannya untuk Pewarna Logam Aluminiun Hasil Anosidasi. Prosiding
Industrial Research Workshop and National Seminar. Vol. 4. Hal: 268 – 272.
Petrucci, R. H., Harwood, W. S., Herring, F. G., dan Madura, J. D. (2011). Kimia Dasar:
Prinsip – Prinsip dan Aplikasi Modern. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Riggenberg, E. (2011). The Physico – Chemical Characterization of Soymilk Particles and
Gelation Properties of Acid – Induced Soymilk Gels, as A Function of Soymilk
Protein Concentration. Thesis. The University of Guelph. Canada.
Rufiati, E. (2011). Indikator Universal. Diambil dari unair.ac.id diakses tanggal 21
September 2019.
Santoso, B., dan Wahyu, E. (2015). Penapisan Zat Warna Alam Golongan Anthocyanin dari
Tanaman Sekitar sebagai Indikator Asam Basa. Jurnal Fluida. 11(2): 1 – 8.
Sukemi., Usman., Putra, B. I., Purwati, W., Rahmawati, N. N., dan Pradani, S. (2017).
Indikator Asam Basa dari Ekstrak Etanol Pucuk Daun Pucuk Merah (Syzygium
oleana). Jurnal Kimia dan Pendidian Kimia. 2(3): 139 – 144.

14
15
LAMPIRAN

16
17
18