Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM II

KIMIA ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF


‟KESADAHAN AIR (HARDNESS)”
Disusun oleh :
Nama : Vitharina Sarijowan

NIM : 18101101008

Jurusan : Kimia

Kelompok : I (Satu)

Tanggal :

Acc :

Dosen/Asisten

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2019
KESADAHAN AIR (HARDNESS)

I. Tujuan
1.1 Menganalisa nilai kesadahan dari beberapa air minum dalam kemasan (AMDK)
yang beredar di sekitar kampus.

II. Dasar Teori


Air merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh makhluk hidup
untuk dapat bertahan hidup dan juga berkembang. Tanpa air, kehidupan di dunia ini tidak
akan ada karena segala sesuatu membutuhkan air. Salah satu syarat air berkualitas adalah
mengandung garam-garam mineral di dalam jumlah yang tidak berlebihan. Garam-garam
mineral di dalam air tergantung pada lapisan tanah yang dilewati air tersebut. Apabila air
melewati suatu lapisan tanah kapur maka air akan menjadi sadah karena sudah mengandung
Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 (Asmadi, 2011).

Air yang banyak mengandung kalsium dan magnesium dikenal sebagai air sadah atau air
yang sukar dipakai untuk mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun
akan membentuk endapan dan mencegah adanya busa di dalam air. Karena senyawa-senyawa
kalsium dan magnesium relatif sukar untuk larut di dalam air maka senyawa-senyawa ini
cenderung untuk memisah dari larutan di dalam bentuk endapan atau presipitat yang akhirnya
menjadi kerak (Aribiyanto, 2006).

Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air.
Penyebabnya air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+ dan Mg2+. Air sadah
adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan
kadar mineral yang rendah. Penyebab dari air sadah pun dapat terjadi karena adanya ion-ion
lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam
bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil. Air sadah banyak dijumpai di
daerah pegunungan kapur atau di daerah pesisir pantai. Jenis sumber air yang banyak sadah
dari tanah (Boris, 2005).

Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air mengendapkan sabun, dimana sabun
diendapkan oleh ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang khususnya Ca2+ maka arti dari kesadahan
dibatasi sebagai sifat atau karakteristik air yang dapat menggambarkan konsentrasi dari
jumlah ion Ca2+ dan Mg2+ yang dinyatakan sebagai CaCo3 (Oxtoby, 1999).
Titrasi kompleksometri merupakan titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan
kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Kompleksometri merupakan jenis
titrasi dimana titran dan titrat yang saling mengompleks membentuk hasil berupa kompleks.
Reaksi-reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan
penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengetahuan yang luas
tentang kompleksi sekalipun pertama-tama akan ditetapkan dengan titrasi itu sendiri
(Stimuari, 2004).

Titrasi kompleksometri dikenal sebagai reaksi yang meliputi tentang reaksi


pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi di
dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat
kelarutan yang tinggi. Selain titrasi kompleks di atas, dikenal pula kompleksometri yang
dikenal sebagai titrasi kelatomeri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Asam etilen
diamina tetra asetat atau EDTA merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat
(Husaini, 2006).

Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum tetapi dapat menyebabkan beberapa
masalah. Air sadah dapat menyebabkan suatu pengendapan mineral yang menyumbat pipa
atau keran. Air sadah juga dapat untuk membuat pemborosan sabun di rumah tangga dan air
sadah yang bercampur dengan sabun dapat membentuk suatu gumpalan yang sukar untuk
dihilangkan. Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia dan
untuk mengetahui nilai kesadahn air, biasanya digunakan metode titrasi dengan larutan asam
etilen diamina tetra asetat (Basiet, 1994).

Menurut Chang (2003), air sadah digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan jenis
anion yang diikat oleh kation (Ca2+ dan Mg2+) yaitu :
 Air sadah sementara ialah air yang mengandung garam hidrokarbonat seperti
Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Air sadah sementara dapat dihilangkan dengan cara
memanaskan air tersebut yang dapat membuat garam karbonatnya mengendap. Selain
dengan memanaskan air, dapat pula dilakukan dengan mereaksikan larutan yang
mengandung Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 dengan kapur Ca(OH)2.
 Air sadah tetap ialah air sadah yang mengandung garam bersulfat (CaSO4 atau MgSO4)
terkadang juga mengandung garam klorida (CaCl2 dan MgCl2). Air sadah tetap dapat
dihilangkan kesadahannya dengan cara mereaksikan dengan soda NaCO3 dan kapur
Ca(OH)2, supaya dapat membentuk endapan garam karbonat atau hidroksida. Selain
dengan cara mereaksikan dengan soda, air sadah tetap juga dapat dihilangkan dengan
cara proses zeolite dengan natrium zeolite (suatu zat silikat) maka kedudukannya akan
digantikan dengan senyawa ion kalsium dan ion magnesium atau kalsium zeolite.

Eriochrome Black T (EBT) adalah indikator untuk kompleksometri yang merupakan


bagian dari pengompleksian, contohnya proses dari dterminasi kesadahan air. Dalam bentuk
protonate EBT berwarna biru lalu berubah menjadi warna merah ketika membentuk
kompleks. Pembentukan kompleks tersebut adalah dengan kalsium, magnesium dan juga ion-
ion lainnya. Nama lain dari Eriochrome Black T dikenal dengan Solochrome Black T. Suatu
kelemahan dari EBT adalah larutannya yang tidak stabil. Bila disimpan maka akan terjadi
penguraian secara lambat yang akhirnya pada jangka waktu tertentu indikator tidak lagi
berfungsi. Sebgaai gantimya dapat digunakan indikator Calmagite. Indikator ini stabil dan
dalam kebanyakan sifatnya dapat dikatakan sama dengan indikator EBT (Atkins, 2002).

EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamene Tetra Acid, yaitu asama amino yang
dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat di dalam hal menarik ion-ion logam
(termasuk kalsium) dalam tubuh pada jaringan-jaringan dan melarutkannya, kemudian
dibuang melalui urin. EDTA sebenarnya merupakan ligan yang dapat berkoordinasi dengan
suatu ion logam lewat kedua nitrogen dari keempat gugus karboksilnya. Juga dapat disebut
dengan ligan yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul misalnya asam 1,
2 – diaminoetanatetraasetat (EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan
empat atom oksigen penyumbang dalam molekul (Astuti, 2016).

Dikalangan masyarakat awam, sangat sulit untuk membedakan mana air yang tingkat
kesadahannya rendah dan mana air yang tingkat kesadahannya tinggi. Mereka hanya bisa
memperkirakannya saja berdasarkan apa yang timbul dari air, misalnya mereka mengamati
kerak yang ditimbulkan oleh air pada dasar panci. Memberikan suatu pemahaman pada
masyarakat bahwa air yang dikonsumsi yaitu tingkat kesadahannya tinggi dan sebaliknya jika
tidak terlihat kerak yang ditimbulkan artinya bahwa air yang dikonsumsi tingkat dari
kesadahannya masih tergolong rendah atau tidak mengandung banyak mineral-mineral
(Aribiyanto, 2006).

Satuan ukuran untuk menyatakan kesadahan ada tiga namun berorientasi pada asal
negara. Pada derajat Jerman dilambangkan dengan °D, sedangkan derajat Inggris dan derajat
Perancis dapat dilambangkan masing-masing °E dan °F. Dari ketiganya yang sering
digunakan adalah derajat Jerman, dimana 1°D setara dengan 10 mg CaO per liter. Artinya jika
suatu kesadahan air bernilai 1°D maka di dalam air tersebut mengandung 10 mg CaO di
dalam setiap liternya (Oxtoby, 1999).
Menurut Khopkar (1990), apabila kandungan CaCO3 dan MgCO3 dalam arti melewati
batas 10°D akan menyebabkan antara lain :
 Mengurangi efektifitas kerja sabun;
 Menyebabkan lapisan kerak pada alat dapur yang terbuat dari logam;
 Kemungkinan terjadinya ledakan pada boiler;
 Pipa air menjadi tersendat atau tersumbat;
 Sayuran-sayuran menjadi keras apabila dicuci dengan air bersih.

Proses pelunakan air sadah dikenal dengan proses yang bertujuan untuk mengurangi
kandungan kapur di dalam air. Pelunakan air sadah adalah pengurangan ion-ion penyebab
utama kesadahan yaitu kalsium dan magnesium sehingga tidak menggangu lagi. Selain
kalsium dan magnesium ion-ion stronsium, besi, barium dan mangan juga berperan di dalam
adanya kesadahan. Pelunakan air bertujuan untuk mencegah penggunaan sabun lebih banyak
dan juga berfungsi untuk mencegah terbentuknya kerak pada dinding pipa yang dapat
disebabkan oleh endapan kalsium karbonat (CaCO3) (Stimuari, 2004).

Menurut Khopkar (1990), proses pelunakan air sadah terbagi atas tiga cara, yaitu :
 Proses pelunakan melalui pengendapan yaitu pada proses ini keadaan harus dibuat lebih
jenuh karena di dalam keadaan yang tidak jenuh terjadi reaksi yang menyebabkan kerak
pada pipa. Kerak tipis tersebut akibat keadaan sedikit jenuh itu justru dapat melindungi
dinding dari kontak air yang tidak jenuh (agresif). Ion Mg2+ akan bereaksi dengan ion
OH ̄ membentuk garam yang melewati batas kejenuhan dan mengendap sebagai zat
Mg(OH)2 bila titik kejenuhan dilewati. Proses pengendapan dapat dipercepat dengan
menggunakan tawas. Tawas menurunkan pH larutan dan merubah perbandingan CO2 /
HCO3 sehingga diperlukan tambahan untuk penetralan larutan itu.
 Proses pelunakan melalui pertukaran ion ialah bahan yang digunakan dalam proses ini
adalah zeolite atau resin sintetik dimasukkan di dalam suatu kolon dimana air sadah
dialirkan melalui senyawa tersebut. Zeolite adalah senyawa kimia aluminio silikat
berhidrat dengan kation natrium, kalium daan barium. Salah satu sifat dari zeolite adalah
mudah melepas kation dan dapat diganti oleh kation lainnya.
 Proses pemanasan dapat mengurangi kesadahan yang sifatnya sementara dan dapat
diterapkan dalam skala rumah. Seperti merebus air sampai mendidih dengan rentang
waktu yang semakin lama pemanasan setelah air mendidih. Untuk tempat
penyimpangan air mendidih di dalam termos, penurunan suatu kesadahan sendiri akan
semakin lebih besar.
Kesadahan umum yaitu kesadahan total atau total hardness ini merupakan penjumlahan
dari GH dan KH. Kesadahan umum atau general hardness merupakan ukuran untuk
menunjukkan jumlah ion kalsium (Ca2+) dan ion magnesium (Mg2+) dalam air. Ion-ion lain
sebenarnya ikut pula mempengaruhi nilai GH, akan tetapi pengaruhnya diabaikan. GH pada
umumnya dinyatakan di dalam satuan ppm (part per million) (Basiet 1994).

Kesadahan karbonat atau carbonate hardness (KH) merupakan besaran yang


menunjukkan kandungan ion bikarbonat (HCO3 ̄ ) dan karbonat (CO3 ̄ ) di dalam air. KH
sering disebut sebagai alkalinitas yaitu suatu ekspresi dari kemampuan air untuk mengikat
suatu kemasaman (ion-ion yang mampu mengikat H+). Oleh karena itu dalam sistema air
tawar istilah kesadahan karbonat, pengikat zat kemasaman, kapasitas pembufferan asam dan
juga alkalinitas sering digunakan untuk menunjukkan hal yang sama (Husaini, 2006).

Menurut Fardias (1999), keuntungan yang dapat diperoleh dari air sadah adalah sebagai
berikut :
 Mempunyai rasa yang lebih baik daripada air lunak;
 Menyediakan kalsium yang diperlukan oleh tubuh, misalnya untuk pembentukan gigi
dan tulang;
 Senyawa timbal (dari pipa air) lebih sukar larut dalam air.

Di dalam kaitannya dalam proses viologi, GH lebih penting perananya daripada KH


ataupun kesadahan total. Ketidaksesuaian GH akan mempengaruhi transfer hara atau gizi dan
hasil dari sekresi melalui membran dan dapat mempengaruhi kesuburan, fungsi dari organ
dalam (seperti ginjal) dan pertumbuhan. Setiap jenis ikan memerlukan kisaran kesadahan
(GH) tertentu pada hidupnya. Hampir semua ikan dan tanaman perlu kondisi GH lokal
(Asmadi, 2011).
III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
 Botol Selai
 Gelas Ukur
 Pipet tetes
 Spatula

3.2 Bahan
 Buffer pH 10 ± 0,1
 EDTA 0,01 M
 Indikator EBT
 Sampel AMDK

IV. Prosedur Percobaan


1. Diambil 100 mL sampel (240 mL, 600 mL, 1500 mL) dan dimasukkan ke dalam
botol selai kosong.
2. Ditambahkan 1 mL Buffer pH 10.
3. Indikator EBT ditambahkan sebanyak 0,1 gram.
4. Dititrasi dengan larutan EDTA 0,01 M dari warna ungu menjadi warna biru.
V. Hasil Pengamatan

Jenis Sampel Volume Sampel Nilai Kesadahan


No Perubahan Warna
(mL) (mL) (ppm)

1. Amidis 330 mL 100 33,08 Tidak ada perubahan


2. Amidis 600 mL 100 33,08 Tidak ada perubahan
3. Amidis 1500 mL 100 33,08 Tidak ada perubahan

4. Club 330 mL 100 29,77 Ungu ke Biru

5. Club 600 mL 100 10,58 Ungu ke Biru


6. Club 1500 mL 100 19,85 Ungu ke Biru
7. Oasis 330 mL 100 14,88 Ungu ke Biru
8. Oasis 600 mL 100 18,85 Ungu ke Biru
9. Oasis 1500 mL 100 19,85 Ungu ke Biru

1. Air minum dalam kemasan bermerek Amidis


 Amidis 330 mL
Diketahui : mL EDTA : 5 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
5 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
3.307,5
=
100
= 33,08
 Amidis 600 mL
Diketahui : mL EDTA : 5 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
5 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
3.307,5
=
100
= 33,08
 Amidis 1500 mL
Diketahui : mL EDTA : 5 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
5 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
3.307,5
=
100
= 33,08 ppm

2. Air minum dalam kemasan bermerek Club


 Club 330 mL
Diketahui : mL EDTA : 4,5 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
4,5 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
2.976,75
=
100
= 29,77 ppm
 Club 600 mL
Diketahui : mL EDTA : 1,6 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
4,5 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
1.058,4
=
100
= 10,58 ppm
 Club 1500 mL
Diketahui : mL EDTA : 3 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
3 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
1.984,5
=
100
= 19,85 ppm

3. Air minum dalam kemasan bermerek Oasis


 Oasis 330 mL
Diketahui : mL EDTA : 2,25 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
2,25 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
1.488,375
=
100
= 14,88 ppm
 Oasis 600 mL
Diketahui : mL EDTA : 2,85 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
2,85 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
1.885,275
=
100
= 18,85 ppm
 Oasis 1500 mL
Diketahui : mL EDTA : 3 mL
M EDTA : 0,01 M
mL sampel : 100 mL
Ditanya : Hardness?
mL
mL x M EDTA x 66,15 (bst)x 1000
L
Penyelesaian : Hardness (ppm) =
ml Sampel
mL
3 mL x 0,01 M x 66,15 (bst) x 1000
L
=
100 ml
1.984,5
=
100
= 19,85 ppm
VI. Pembahasan
Pada praktikum mengenai kesadahan air digunakan sampel air minum dalam kemasan
yang beredar di sekitar Universitas Sam Ratulangi. Praktikan memilih sampel dari merek
Amidis, Club dan Oasis. Seperti yang diketahui untuk menguji nilai dari kesadahan air
dilakukan / dibuat dengan cara mencampur sabun atau melalui proses penyabunan. Namun,
pada praktikum kesadahan air ini dilakukan dengan metode titrasi kompleksometri.

Sampel yang digunakan memiliki ukuran yang beragam dari 330 mL, 600 mL dan 1500
mL. Agar nilai kesadahannya diketahui maka sampel harus ditambahkan beberapa indikator
atau larutan, yaitu indikator EBT, larutan buffer pH 10 ± 0,1 dan larutan EDTA 0,01 M.

Pada awalnya semua sampel yang digunakan / dipakai dalam praktikum berwarna
bening tetapi setelah ditambahkan larutan serta indikator lainnya, sampel menjadi berubah
warna antara warna ungu sampai biru atau langsung berwarna biru. Penambahan larutan
buffer pH 10 ± 0,1 berfungsi untuk menjaga tingkat pH agar tetap dalam suasana basa, hal ini
bertujuan untuk menghindari pembentukan senyawa yang tidak stabil (keadaan asam) serta
karena digunakan jenis indikator EBT maka harus dalam pH 10. Indikator EBT berfungsi
untuk menentukan tingkat pH.

Pertama-tama dari setiap sampel diambil 100 mL. Kemudian ditambahkan larutan
buffer pH 10 ke dalam masing-masing sampel. Kemudian ditambahkan indikator EBT
sebanyak 0,1 gram dan selanjutnya siap dititrasi dalam keadaan basa. Buffer pH 10 yang
dimasukkan bertujuan untuk menghindari adanya zat-zat maupun ion-ion logam yang dapat
menyebabkan adanya kesadahan dalam air membentuk endapan. Perubahan akan semakin
jelas pada suasana pH yang tinggi, namun pH / tingkat keasaman yang terlalu tinggi dapat
mengakibatkan ion-ion kesadahan hilang dari larutan yang ada, sehingga pH yang dibutuhkan
serta dianggap tepat ialah yang memiliki pH 10.

Setelah melakukan percobaan ditemukan adanya perubahan fisik yaitu perubhan warna.
Sampel dari merek Amidis (330 mL, 600 mL dan 1500 mL) itu langsung berubah warna dari
bening ke biru tanpa berubah menjadi warna ungu artinya sampel ini memiliki nilai kesadahan
yang cukup tinggi. Lalu sampel merek Club dan Oasis (330 mL, 600 mL dan 1500 mL)
mengalami proses perubahan warna dari bening menjadi ungu kemudian menjadi warna biru.
Hal ini berarti sampel bermerek Club serta Oasis memiliki nilai kesadahan yang lebih rendah
dari sampel Amidis, sehingga sampel Club serta Oasis ini lebih dianjurkan untuk dikonsumsi.

Kemudian praktikan juga menemukan hal baru yaitu jika larutan-larutan sampel di atas
yang telah berubah warna menjadi biru ditambahkan dengan sejumlah EDTA sampai jumlah
tertentu maka sampel akan kembali ke warna semula. Hal ini disebabkan oleh karena adanya
laju reaksi yang prinsipnya jika melewati batas maksimum maka terjadilah reaksi balik pada
larutan tersebut.

Hasil akhir nilai kesadahan yang diperoleh ialah untuk Amidis masing-masing memiliki
nilai yang sama / setara yaitu 33,08 ppm. Sampel Club masing-masing 29,77 ppm, 10,58 ppm
dan 19,85 ppm. Serta dari sampel Oasis bernilai 14,88 ppm, 18,85 ppm dan 19,85 ppm. Dari
hasil nilai kesadahan ini dapat diberikan kesimpulan bahwa setiap sampel dengan merek yang
sama dengan ukuran yang berbeda memiliki perbedaan nilai kesadahan. Begitu pun pada
setiap sampel dengan merek yang berbeda-beda.
VII. Penutup
7.1 Kesimpulan
Dalam praktikum kali ini diperoleh kesimpulan bahwa jenis-jenis air minum
dalam kemasan yang beredar di sekitaran kampus memiliki kadar kesadahan yang
berbeda-beda baik menurut mereknya ataupun menurut jenis ukuran semua penyajian
dalam botol kemasan.

7.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih memperhatikan lagi kecepatan tetesan EDTA (bila
menggunakan pipet tetes) pada saat melakukan titrasi agar tidak terjadi kesalahan saat
menentukan titik ekuivalen sampel.
DAFTAR PUSTAKA

Aribiyanto, M. A. A. 2006. Pemetaan Kesadahan Total Air Sumur di Wilayah Surabaya


Barat. Jurnal Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR 1(1) : 1-5.

Asmadi. 2011. Teknologi Pengolahan Air Minum. Pontianak : Gosyen Publishing.

Astuti, A. 2016. Analisis Kadar Kesadahan Air di Bandung Playen Kidul. Analytical and
Enviroment, Chemistry 1(1) : 69-73.

Atkins, Y. P. 2002. Kimia Dasar. Yogyakarta : Erlangga.

Basiet. 1994. Kimia Analisis Anorganik. Jakarta : EGC.

Boris, D. 2005. Pengaruh Kesadahan pada Media Budidaya Salinitas. Jurnal Akuakultur
Indonesia 4(1) : 17-24.

Chang. 2003. Kimia Dasar II. Jakarta : Erlangga.

Fardias. 1999. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta : Kanisius.

Husaini, S. 2006. Pengurangan Kesadahan Ca, Mg dan Logam Berat dalam Bahan Baku Air.
Jurnal Zeolit Indonesia 5(1) : 1-13.

Khopkar, M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Oxtoby. 1999. Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.

Stimuari, C. 2004. Analisi Kesadahan Air Tanah. Jurnal Analisis Kimia 1(1) : 1-9.

Tim Penyusun. 2019. Kumpulan Praktikum Kimia Analisis Kualitatif dan Kuantitatif. Manado
: FMIPA UNSRAT.
LAMPIRAN

Sampel Oasis Sampel Club Sampel Amidis

Buffer pH 10 Indikator EBT Larutan EDTA

Larutan setelah Larutan setelah Larutan setelah di


ditambahkan ditambahkan EBT titrasi dengan
Buffer pH 10 EDTA