Anda di halaman 1dari 12

Perancangan Bangunan Air

PERENCANAAN HIDROLIS BENDUNG

Deketahui debit banjir rencana dari DAS sungai Dotula Tumba dengan kala ulang 100 tahun
(Q100) sebesar 201,25 mm3/det. Dari debit tersebut, akan direncanakan hidrolis bendung yang
aman terhadap erosi bawah tanah (piping). Berikut ini akan dijeaskan langkah-langkah
perencanaan hidrolis bendung.

Langkah-langkah pengerjaan :

1. Elevasi titik bendung. Elevasi titik di lokasi bendung dapat diukur dari peta yang ada
2. Menentukan kemiringan rata-rata dasar sungai
- Ukurlah jarak 500 m ke hulu dan 500 m ke hilir (jarak tinjau =1 km) dari titik bendung yang
ada di peta (dengan skala peta 1 : 50.000, maka 500 m = 1 cm di peta)
Elevasi bendung : 165 m
Elevasi hulu : 111 m
Elevasi hilir : 106 m
- HItung kemiringan dasar sungai rata-rata dengan cara; jarak tinjau dibagi dengan selisih dari
elevasi hulu dan hilir
111 𝑚−106 𝑚
𝑠= = 0.005
1000 𝑚

3. Menentukan tinggi muka air sebelum pembendungan


- Karena debit banjir diketahui, bentuk penampang sungai diketahui, kemiringan dasar saluran
diketahui, dan n = 0.04 (saluran tanah berkelok-kelok landau berumput) maka tinggi muka air
(h) dapat dihitung dengan menggunakan rumus Manning

1
𝑄= 𝐴 𝑅 2/3 𝑆 1/2
𝑛
𝑛𝑄
𝐴𝑅 2/3 =
𝑠1/2
0.04 𝑥 201.25
𝐴𝑅 2/3 =
0.0051/2
𝐴𝑅 2/3 = 113.8842

Untuk mendapatkan nilai h, gunakanlah cara coba-coba dengan nilai-nilai h > 0, hitunglah
nilai A, P, dan R hingga hasil dari cara coba-coba tersebut mendekati nilai 𝐴𝑅 2/3 yang telah
ada. Gunakanlah rumus-rumus berikut

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

Misalnya ditentukan tinggi muka air sebelum pembendungan (h) = 2.2 m.

𝐴 𝑄
𝐴 = (𝑏ℎ + 𝑚ℎ)² 𝑃 = 𝑏 + 2ℎ√1 + 𝑚2 𝑅= 𝑉=
𝑃 𝐴

Di mana :
A = luas penampang basah (m²)
P = keliling penampang basah (m)
R = jari-jari hidrolis (m)
n = Koefisien kekasaran Manning (dilihat di tabel)
m = Kemiringan tebing sungai (1 vertikal/m horizontal)
h = Tinggi aliran sungai (maksimal 4 m)
v = Kecepatan aliran sungai (m/s)

b A V P R AR⅔ B
30 70.84 2.840909091 36.22253967 1.955688382 110.7843268 34,7
30.1 71.06 2.832113707 36.32253967 1.956360999 111.1538562 35,5
30.828 72.6616 2.769688529 37.05053967 1.961148222 113.8444603 35,228

Dari cara coba-coba di atas, maka didapatkan lebar dasar sungai (b) = 30.828 m

4. Menentukan lebar sungai atas sungai


- Seharusnya lebar sungai diukur langsung di lokasi, namun pada tugas ini lebar sungai
diperkirakan dari peta dan menggunakan pendekatan dengan rumus

Q=VxA
𝑄
A=
𝑉

201.25
A= = 80.50 m²
2.5

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

untuk mendapat lebar atas sungai, gunakan rumus : 35,228 m

B = b + 2mh , diketahui h =2.2 m

B = 30.828+2 x1x 2.2


2,2m
B = 35,228 m
1
1
30,828 m
Sketsa pendekatan untuk sungai di titik tinjauan

5. Menentukan lebar efektif bendung (Beff)


- Di tugas ini, lebar pintu bilas = 3 m sedangkan lebar pilar = 1 m
- Untuk lebar bendung = 1.2 x B
= 1.2 x 35,228
= 42,275 m
Untuk lebar mercu = lebar bendung – (lebar pintu bilas + lebar pilar)
= 42,274 – 4
= 38,274 m
- Dalam tugas ini, dibuat bendung dengan 1 pintu bilas (air tidak diijinkan lewat di atas pintu
bilas) dan 1 pilar yang berujung bulat. Untuk menghitung Beff, gunakan rumus :

Untuk mencari H1, gunakan rumus :


Di mana :
3/2
𝑄𝑠𝑝𝑖𝑙𝑙𝑤𝑎𝑦 = 𝑐 × 𝐿 × 𝐻 C = 1.9 – 2.2 (diambil 2.1)
L = 38,274 m (Lebar mercu)
𝑄𝑠𝑝𝑖𝑙𝑙𝑤𝑎𝑦 2/3
𝐻=( )
𝑐 ×𝐿
2/3 Untuk nilai jari-jari Mercu r = 0.3 – 0.7 x H1
201,25 (diambil 0.65)
𝐻=( )
2.1 × 38,274
𝐻1 = 1.85 m r = 0.65 x 1.85 = 1.21

Kp dan Ka adalah koefisien konstraksi pilar dan koefisien konstraksi abutment. Nilai Kp dan
Ka diambil sesuai dengan jenis pilar dan jenis abutment yang dipakai. Dalam tugas ini
dipakai pilar berujung bulat dan abutment dengan pangkal persegi dengan hulu pada 90ᵒ,
sehingga nilai Kp dan Ka;
Kp = 0.01
Ka = 0.2

Lebar Efektif Bendung (BMercueff) = BMercu – 2(n.Kp + Ka) H1


= 34,24 m – 2{(1 x 0,02) + 0,2} 1,21 m
Beff = 37,766 m

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

6. Menentukan elevasi mercu bendung


- Tinggi mercu = 3 m (piilih dari 3 m – 4 m)
Elevasi dasar sungai=165 m

Faktor-faktor kehilangan :

1 Peil muka air sawah 0.2 m


2 Kehilangan tekanan dari tersier ke sawah 0.1 m
3 Kehilangan tekanan dari sekunder ke tersier 0.1 m
4 Kehilangan tekanan dari primer ke sekunder 0.1 m
5 Kehilangan tekanan karena turning saluran 0.2 m
6 Kehilangan tekanan dari alat ukur 0.4 m
7 Kehilangan tekanan karena eksploitasi 0.1 m
8 Kehilangan tekanan dari sungai ke primer 0.3 m
9 Persediaan untuk lain-lain bangunan 0.2 m
Jumlah 1.7 m

Elevasi mercu = Faktor kehilangan + Elevasi sawah tertinggi


Tinggi mercu = Elevasi mercu – Elevasi dasar sungai
Tinggi mercu = (Faktor kehilangan + Elevasi sawah tertinggi) – Elevasi dasar sungai
Elevasi sawah tertinggi = Tinggi mercu + Elevasi dasar sungai – Faktor kehilangan
Elevasi sawah tertinggi = 3 + 165 – 1.7
= 166.3 m

7. Merancang Peredam Energy Tipe MDS


Sebelum mendesain type ini perlu ditentukan terlebih dahulu nilai parameter :
- Tipe mercu bendung harus bentuk bulat dengan satu atau dua jari-jari.
- Permukaan tubuh bendung bagian hilir dibuat miring dengan perbandingan kemiringan 1
: m atau lebih tegak dari kemiringan 1 : 1.
- Tubuh bendung dan peredam energi harus dilapisi dengan lapisan tahan aus.
- Elevasi muka air hilir bendung yang dihitung, berdasarkan elevasi dasar sungai dengan
kemungkinan perubahan geometri badan sungai.

Selain parameter di atas kriteria desain yang disyaratkan yaitu :


- Tinggi air udik bendung dibatasi maksimum 4 meter;.
Tinggi pembendungan (dihitung dari elevasi mercu bendung sampai dengan elevasi
dasar sungai di hilir) maksimum 10 meter.
- Dalam hal tinggi air udik bendung lebih dari 4 meter dan atau tinggi pembangunan lebih
dari 10 meter tata cara peredam energi tipe MDS ini masih dapat digunakan asalkan
dimensinya perlu diuji dengan model test.

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

Untuk peredam energy tipe MDS, bagian-bagian yang perlu dihitung adalah :

a. Kedalaman Lantai Peredam Energi (Ds)


Kedalaman lantai peredam energi (Ds) biasanya diambil sekitar 1,5 - 2 kali dari tinggi
mercu, atau dengan kata lain:
Ds = Konstanta Peredam Energi (diambil 1,5 – 2 ) x Tingi Mercu
Diambil konstanta = 2, maka:
Ds =2x3m
=6m

b. Panjang Lantai Dasar Peredam Energi (Ls)


Syarat panjang lantai dasar peredam energi (Ls) sama dengan syarat kedalaman lantai
peredam energi, yaitu 1,5 kali dari kedalaman lantai dasar energi, atau dengan kata lain:

Ds = Konstanta Peredam Energi (diambil 1,5 – 2 ) x Tingi Mercu


Diambil konstanta = 2, maka:
Ds =2x3m
=6m

c. Tinggi Ambang Hilir (a)


Tinggi ambang hilir (a) biasanya diambil sekitar 0,2 sampai 0,3 kali dari kedalaman lantai
peredam energi, atau dengan kata lain:
a = Konstanta Ambang Hilir (diambil 0,2 – 0,3) x Ds
Diambil kontanta = 0,3, maka :
a = 0,3 x 6 m
= 1,8 m

d. Lebar Ambang Hilir (b)


Lebar ambang hilir (b) sama dengan 2 kali dari tinggi ambang hilir, atau dengan kata lain:
b = 2 x Tinggi Ambang Hilir (a)
= 2 x 1,8 m
= 3,6 m

e. Panjang Sayap Hilir (Lsi)


Panjang tembok sayap hilir (Lsi) diambil berdasarkan batasan berikut:
𝐿𝑠 ≤ 𝐿𝑠𝑖 ≤ 1,5𝐿𝑠
Dalam tugas ini, diambil panjang tembok sayap hilir sama dengan 1,5 kali panjang lantai
dasar peredam energi. jadi:

Lsi = Panjang Lantai Dasar Peredam Energi (Ls) x Konstanta Sayap Hilir

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

(Konstanta Sayap Hilir diambil 1,5 – 2)


Diambil konstanta =1,5, maka :
Lsi = 6 x 1,5 m
=9m

- Tebal Lantai Olak


Dalam tugas ini, akan direncanakan lantai kolam olak dengan tebal lantai kolam
olak setebal 1 m.

Lsi = 9 m

Ls <= Lsi <= 1.5 Ls

A. Stabilitas Terhadap Erosi Bawah Tanah (Piping)


Bangunan-bangunan utama seperti bendung harus dicek stabilitasnya terhadap erosi bawah
tanah dan bahaya runtuh akibat naiknya dasar galian (heave) atau rekahnya pangkal hilir
bangunan.
Bahaya ini dianjurkan dicek dengan membuat jaringan aliran/ flownet. Dalam hal ditemui
kesulitan berupa keterbatasan waktu, perhitungan dengan beberapa metode empiris dapat
diterapkan, seperti :
1. Metode Bligh
2. Metode Lane
3. Metode Koshia

Namun dalam tugas ini, akan digunakan metode Lane untuk mengecek stabilitas bendung
terhadap erosi bawah tanah (piping).

 Metode Lane
Metode Lane, disebut metode angka rembesan Lane (weighted creep ratio method), adalah
metode yang dianjurkan untuk mengecek bangunan-bangunan utama untuk mengetahui
adanya erosi bawah tanah (piping). Metode ini memberikan hasil yang aman dan mudah
dipakai. Untuk bangunan-bangunan yang relatif kecil, metode-metode lain mungkin dapat
memberikan hasil-hasil yang lebih baik, tetapi penggunaannya lebih sulit.
Metode ini membandingkan panjang jalur rembesan di bawah bangunan disepanjang
bidang kontak bangunan / pondasi dengan beda tinggi muka air antara kedua sisi bangunan.
Di sepanjang jalur rembesan ini, kemiringan yang lebih curam dari 45° dianggap vertikal
dan yang lebih landai dari 45° dianggap horizontal. Jalur vertikal dianggap memiliki daya
tahan terhadap aliran 3 kali lebih kuat daripada jalur horizontal.

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

Rumus yang digunakan untuk mengecek stabilitas bendung terhadap erosi bawah tanah
(piping) menurut metode Lane adalah sebagai berikut:
∑ 𝐿𝑉 + 1⁄3 ∑ 𝐿𝐻
𝐶𝐿 =
𝐻
Dengan :
∑ 𝐿𝑉 = Jumlah panjang vertikal (m)
∑ 𝐿𝐻 = Jumlah panjang horizontal (m)
∆𝐻 = Beda tinggi muka air (m)
CL = Angka rembesan Lane (Lihat tabel di halaman sebelumnya)
CL adalah angka rembesan Lane yang tergantung klasifikasi tanah di dasar
bendung. Untuk tabel nilai CL dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Harga-Harga Minimum Angka Rembesan Lane (CL)

Untuk dapat mengecek stabilitas bendung terhadap erosi bawah tanah (piping), maka harus
dihitung terlebih dahulu parameter-parameter yang diperlukan, antara lain:

a. Angka Rembesan Lane


Dalam tugas ini, diasumsikan klasifikasi tanah di dasar bendung berupa lempung sedang.
Sehingga berdasarkan tabel diatas, maka nilai angka rembesan Lane adalah 2.

b. Beda Tinggi Muka Air


REINALDO REMBET 16021101019 2019
Perancangan Bangunan Air

Beda tinggi muka air dapat dihitung dengan cara menambahkan tinggi mercu dengan tinggi
air diatas mercu kemudian dikurangi dengan tinggi muka air sungai sebelum pembendungan.
Jadi:
H = (𝐻𝑚𝑐 + 𝐻1 ) − ℎ

= (3 𝑚 + 1,85 𝑚) − 2,2 𝑚
= 3,35 m
c. Panjang Jalur Rembesan
Pertama-tama, rencanakanlah model bentuk di ujung dasar bendung seperti pada gambar
bendung di halaman berikutnya. Kemudian ukur dan hitung panjang jalur rembesan dimulai
dari pertemuan bendung dengan tanah dasar di bagian paling hulu sungai sampai di bagian
paling hilir sungai, baik jalur rembesan vertikal maupun horizontal. Jika terdapat jalur
rembesan yang miring, maka jalur yang lebih curam dari 40° dianggap vertikal dan yang
lebih landai dari 40° dianggap horizontal. Hasil perhitungan panjang jalur rembesan
ditunjukkan pada tabel di halaman setelah gambar bendung di halaman berikutnya.

Berdasarkan tabel diatas, maka didapatkan:


o Jumlah panjang jalur rembesan vertikal (ΣLv) = 15.6 m
o Jumlah panjang jalur rembesan horizontal (ΣLh) = 15.3658 m
Setelah semua parameter yang diperlukan dalam mengecek stabilitas bendung terhadap erosi
bawah tanah (piping) diketahui, maka langkah terakhir adalah mengecek stabilitas bendung
terhadap erosi bawah tanah (piping) dengan menggunakan rumus menurut metode Lane
yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi:

Untuk menghitung stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping), gunakan Metode Lane dengan rumus

Dengan:

- CL = Angka rembesan Lane = 7 (pasir sedang)


- Σ Lv = jumlah panjang vertical (m)
- Σ LH = jumlah panjang horisontal (m)
-H = beda tinggi muka air (m)

Data :
ΣLv = 15.6 m
ΣLh = 15.3658 m
H = 3.35 m

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

1
15.6 + 15.3658
3 ≥ 𝐶𝐿
3.35

6.1875 ≥ 7 … Tidak ok
-
Karena tidak ok, maka harus ditambahkan dengan lantai muka

- Pada tugas ini, karena nilai CL diambil = 7, maka panjang lantai muka yang digunakan
minimal 7 m, dan lantai muka dibuat dari pasangan batu dengan tebal = 0.25 m, sehingga
data yang ada menjadi

ΣLv = 18.85 m
ΣLh = 22.3658 m
H = 3.35 m
1
18.85 + 3 22.3658
≥ 𝐶𝐿
3.35

7.85466 ≥ 7 … 𝑜𝑘

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

PERENCANAAN DIMENSI PINTU PENGAMBILAN (INTAKE)

Perencanaan dimensi pintu pengambilan (intake) ditentukan berdasarkan debit yang


diperlukan untuk mengaliri daerah irigasi (DI). Oleh karena itu, maka harus dicari terlebih dahulu
debit yang diperlukan untuk mengaliri daerah irigasi.

A. Menentukan Debit Irigasi di Pintu Pengambilan (Intake)


Diketahui data-data yang akan digunakan dalam perhitungan sebagai berikut:
o Kebutuhan Air Irigasi (NFR) = 1,1 liter/ha/s
o Luas Daerah Irigasi (ADI) = 850 ha

1. Debit Irigasi pada Saluran Tersier


Debit irigasi yang melalui saluran tersier atau debit aliran yang masuk dalam daerah irigasi
dihitung dengan menggunakan rumus:
𝑄𝐼(𝑡𝑒𝑟𝑠𝑖𝑒𝑟) = 𝑁𝐹𝑅 × 𝐴𝐷𝐼
Jadi:
𝑄𝐼(𝑡𝑒𝑟𝑠𝑖𝑒𝑟) = 1,1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟/ℎ𝑎/𝑠 × 900 ℎ𝑎 = 935 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟/𝑠 = 0,935 𝑚3 /𝑠

2. Debit Irigasi pada Saluran Sekunder


Selama aliran air melalui saluran tersier, akan ada kemungkinan terjadinya kehilangan air
sebesar 10%. Dengan demikian, debit irigasi yang melalui saluran sekunder (sebelum
melalui saluran tersier) adalah debit irigasi pada saluran tersier ditambah dengan kehilangan
sebesar 10%. Jadi:
QI(sekunder) = QI(tersier) + (10% × QI(tersier))
= 0,935 m3/s + (10% × 0,935 m3/s)
= 0,99 m3/s + 0,099 m3/s
= 1,0285 m3/s

3. Debit Irigasi pada Saluran Primer


Selama aliran air melalui saluran sekunder, akan ada kemungkinan terjadinya kehilangan
air sebesar 10%. Dengan demikian, debit irigasi yang melalui saluran primer (sebelum
melalui saluran sekunder) adalah debit irigasi pada saluran sekunder ditambah dengan
kehilangan sebesar 10%. Jadi:
QI(primer) = QI(sekunder) + (10% × QI(sekunder))
= 1,0285 m3/s + (10% × 1,0825 m3/s)
= 1,089 m3/s + 0,1089 m3/s
= 1,13675 m3/s

4. Debit Irigasi pada Pintu Pengambilan (Intake)

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

Selama aliran air melalui saluran primer, akan ada kemungkinan terjadinya kehilangan air
sebesar 20%. Dengan demikian, debit irigasi yang masuk dalam pintu pengambilan
(sebelum melalui saluran primer) adalah debit irigasi pada saluran primer ditambah dengan
kehilangan sebesar 20%. Jadi:

Qintake = QI(primer) + (20% × QI(primer))

= 1,13675 m3/s + (20% × 1,13675 m3/s)

= 1,13675 m3/s + 0,22375 m3/s

= 1,366125 m3/s

Debit tersebut akan digunakan dalam menentukan dimensi pintu pengambilan (intake).

B. Menentukan Dimensi Pintu Pengambilan (Intake)


Diketahui debit aliran irigasi yang masuk melalui pintu pengambilan sebesar 1,5972 m3/s.
Dimensi pintu pengambilan (intake) dihitung berdasarkan rumus debit aliran yang melalui
pintu pengambilan (intake) sebagai berikut:

𝑄𝑖𝑛𝑡𝑎𝑘𝑒 = 𝜇𝑏𝑎√2𝑔𝑧
Keterangan:
Qintake = Debit aliran yang melalui pintu pengambilan (m3/s)

μ = Koefisien debit (0,8)

b = Lebar bukaan (m)

a = Tinggi bukaan (m)

g = Percepatan gravitasi (9,81 m/s2)

z = Kehilangan tinggi energi pada bukaan (0,15 – 0,30 m, diambil 0,25 m)

Dimisalkan tinggi bukaan sama dengan 1,,2 kali lebar bukaan, atau dengan kata lain,

𝑎 = 1,2 𝑏
Maka, dengan mensubstitusikan a = 1,2b ke dalam rumus debit aliran diatas, akan didapatkan
lebar bukaan. Jadi:

Qintake = 𝜇𝑏𝑎√2𝑔𝑧

REINALDO REMBET 16021101019 2019


Perancangan Bangunan Air

Qintake = 𝜇𝑏(1,2𝑏)√2𝑔𝑧

Qintake =1,2𝜇𝑏 2 √2𝑔𝑧

𝑄𝑖𝑛𝑡𝑎𝑘𝑒
b2 =
1,2𝜇√2𝑔𝑧
1,366125
b2 =
(1,2)(0,8)√(2)(9,81)(0,25)
2
b = 0,64
b = √0,6425
b = 0,8015 m

Sedangkan lebar bukaan adalah:

a = 1,2 x b

= 1,2 x 0,8015 m

=0,97 m

Maka, direncanakan dimensi pintu pengambilan (intake) dengan lebar bukaan 0,87 m dan
tinggi bukaan 0,97 m.

REINALDO REMBET 16021101019 2019