Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
IPA adalah ilmu yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-
fakta, konsep-konsep prinsip saja, tetapi juga merupakan satuan proses
penemuan. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga
perkembangan Teknologi. Pembelajaran IPA diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa
untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam
penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Abdullah (1998:18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau
disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi,
eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian
seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.
Tujuan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar seperti yang diamanatkan dalam kurikulum
KTSP tidaklah hanya sekedar siswa memiliki pemahaman tentang alam semesta saja.
Melainkan melalui pendidikan IPA siswa juga diharapkan memiliki
kemampuan, (1) Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains,
teknologi dan masyarakat.(2) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam
sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.(3) Mengembangkan pengetahuan
dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.(4) Mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya sains
dalam kehidupan sehari-hari.(5) Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman
ke bidang pengajaran lain. (6) Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan
melestarikan lingkungan alam. (7) Menghargai berbagai macam bentuk ciptaan Tuhan di
alam semesta ini untuk dipelajari (Sri Sulistiyorini, 2007: 40).
Siswa sebagai subjek pendidikan, di tuntut supaya aktif dalam belajar mencari informasi
dan mengeksplorasi sendiri atau secara berkelompok. Guru hanya berperan sebagai
fasilitator dan pembimbing kearah pengoptimalan pencapaian ilmu pengetahuan yang
dipelajari. Diharapkan dalam proses pembelajaran siswa mau dan mampu mengemukakan
pendapat sesuai dengan apa yang telah dipahami, berinteraksi secara positif antara siswa
dengan siswa maupun antara siswa dan guru apabila ada kesulitan.
Kenyataan yang terjadi, mata pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang disukai
siswa. Bahkan siswa beranggapan mata pelajaran IPA sulit untuk dipelajari. Dimana
 Metode pembelajaran yang digunakan kurang relevan.
 Karena materi pelajaran mengacu pada menghafal.
 Hanya menggunakan pedoman buku paket.
 Guru kurang memanfaatkan lingkungan.
Akibatnya rata-rata hasil belajar siswa cenderung lebih rendah dibanding mata pelajaran
lainnya. Pada umumnya siswa cenderung pasif, hanya menerima apa yang di sampaikan
guru tanpa bisa mengeluarkan pendapat, bertanya, serta menjawab pertanyaan. Jika guru
mengajukan pertanyaan, siswa tidak berani menjawab, jika ada itu hanya 4-5 orang siswa
saja. Dan jika ada kendala siswa tidak berani bertanya. Dan nilai yang di peroleh siswa
masih di bawah standar ketuntasan belajar, dimana standar yang di gunakan adalah 65.
Namun masih terdapat 60 % dari siswa dalam pembelajaran IPA mendapat nilai di bawah
standar yaitu ( 25 – 60 ).
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti di kelas IV SD Negeri 25
kota Bengkulu tahun 2013 dan data hasil ulangan materi, susunan dan fungsi bagian-bagian
tumbuhan, prestasi belajar siswa masih rendah. Persentasi siswa tuntas hanya 45,96%
persen dari 37 siswa dan untuk siswa seluruhnya diperlukan remedial.
Rendahnya hasil belajar IPA siswa dibanding mata pelajaran lain karena hingga kini
proses pembelajaran masih menggunakan paradigma absolutisme yaitu proses dimulai dari
merancang kegiatan pembelajaran, mengajar, belajar, dan melakukan evaluasi yang
mengalir secara linier. Guru lebih banyak berfungsi sebagai instruktur yang sangat aktif dan
siswa sebagai penerima pengetahuan yang pasif. Siswa yang belajar tinggal datang ke
sekolah duduk mendengarkan, mencatat, dan mengulang kembali di rumah serta menghafal
untuk menghadapi ulangan. Pembelajaran seperti ini membuat siswa pasif karena siswa
berada pada rutinitas yang membosankan sehingga pembelajaran kurang menarik. Pada
umumnya pembelajaran lebih banyak memaparkan fakta, pengetahuan, hukum, kemudian
biasa dihafalkan bukan berlatih berpikir memecahkan masalah dan mengaitkannya dengan
pengalaman empiris dalam kehidupan nyata sehingga pembelajaran menjadi kurang
bermakna.
Terkait belum optimalnya hasil belajar siswa kelas IV SD N 25 kota Bengkulu, maka
penulis berupaya menerapkan model pembelajaran nyata menggunakan media yang bersifat
konkret sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang bermakna yang bermuara pada
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Bertitik tolak daripada latar belakang masalah di atas, penelitian ini mengambil judul
“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MEDIA BERSIFAT
KONKRET DALAM PEMBELAJARAN IPA KELAS IV MATERI POKOK
SUSUNAN DAN FUNGSI BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN”.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian diatas peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah penerapan media yang bersifat konkret dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas
IV SD N 25 kota Bengkulu kecamatan Sungai Serut?

C. Tindakan pemecahan masalah


Dari rumusan masalah diatas tindakan pemecahan masalah yang digunakan untuk
meningkatkan hasil belajar IPA kelas IV SD N 25 kota Bengkulu adalah menerapkan media
pembelajaran yang bersifat konkret.

D. Hipotesa tindakan
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang dikaji dalam penelitian.
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: dengan menggunakan media
pembelajaran dalam mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam kelas IV SD Negeri 25 kota Bengkulu.
E. Tujuan dan Manfaat penelitian
1) Tujuan penelitian
Yang menjadi tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan aktivitas
belajar Ilmu Pengetahuan Alam melalui penerapan media yang bersifat konkret pada siswa
kelas IV SD N 25 kota Bengkulu kecamatan Sungai Serut.
2) Manfaat Penelitian
a. Manfaat secara teoretis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
a) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan
pendidikan, terutama dapat mengembangkan khazanah ilmu tentang peningkatan hasil
belajar Ilmu Pengetahuan Alam melaui media yang bersifat konkret.
b) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi peneliti terdahulu
yang terkait dengan penelitian ini.
1. Manfaat secara praktis
a) Bagi siswa
Untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA sehingga pemahaman siswa
mengenai konsep IPA yang dipelajari menjadi lebih baik.
b) Bagi guru
Sebagai pedoman dalam menerapkan media pembelajaran IPA khususnya dengan media
yang bersifat konkret.
c) Bagi sekolah
Penelitian ini merupakan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan dalam
pembelajaran IPA.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kerangka Teoritis

1. Hakikat Tentang Hasil Belajar

a) Pengertian Belajar

Belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini usaha
untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhannya mendapatkan ilmu atau atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya.
Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat
melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu menurut Fudyartanto, 2002 (dalam Teori
Belajar dan Pembelajaran).
Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil
latihan atau pengalaman ( Morgan dkk, 1986).
Belajar menurut Morris L. Bigge seperti yang dikutip Max Darsono dkk adalah
perubahan yang menetap dalam diri seseorang yang tidak dapat diwariskan secara genetis.
Dari beberapa pendapat diatas ada beberapa unsur yang termasuk ciri-ciri adanya
proses belajar :
1. Usaha untuk memperoleh sejumlah pengetahuan, nilai dan sikap.
2. Belajar menghasilkan adanya perubahan tingkah laku.
3. Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman.
4. Perubahan tingkah laku adalah hasil interaksi aktif dengan lingkungan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan Belajar adalah usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
b) Pengertian Hasil Belajar

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui
tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai
berikut:

Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan
yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu
nilai atau kompleks nilai.
Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular
(menghubungkan, mengamati).

2. Tinjauan tentang Media Pembelajaran

a) Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala
sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses
belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan,
manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media
pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar,
termasuk teknologi perangkat keras.
Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung
dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting
sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan
terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung
secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran
Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta
didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
b) Jenis-Jenis Media Pembelajaran

Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :

1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik


2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan
sejenisnya.
Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri
yang menentukan hasil belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran
dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan,
(2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam
memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga
faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan
hasil yang maksimal.

c) Tujuan Menggunakan media pembelajaran

Ada beberapa tujuan menggunakan media pembelajaran, diantaranya yaitu :

 mempermudah proses belajar-mengajar

 meningkatkan efisiensi belajar-mengajar

 menjaga relevansi dengan tujuan belajar

 membantu konsentrasi siswa

 Menurut Gagne : Komponen sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar

 Menurut Briggs : Wahana fisik yang mengandung materi instruksional

 Menurut Schramm : Teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional

 Menurut Y. Miarso : Segala sesuatu yang dapat merangsang proses belajar siswa

3. Materi Pembelajaran IPA


Bagian-bagian tumbuhan :

1. Akar

a. Struktur akar

Akar terdiri dari beberapa bagian, di antaranya rambut akar (bulu akar) tudung akar.
Rambut akar merupakan jalan masuk air dan zat hara dari tanah ke tumbuhan. Tudung akar
berfungsi melindungi akar saat menembus tanah.
Rambut akar tudung akar
b. Jenis –jenis akar

Ada 2 jenis akar :


a) Akar serabut
Akar yang berbentuk serabut. Bagian ujung dan pangkal akar berukuran hampir sama
besar. Semua bagian akar keluar dari pangkal batang. Akar serabut juga bercabang-cabang,
tetapi ukuran percabangannya tidak terlalu berbeda. Akar serabut dimiliki oleh tumbuhan
biji berkeping satu misalnya jagung, padi, tebu.
b) Akar tunggang
Akar tunggang memiliki akar pokok. Akar pokok bercabang-cabang menjadi bagian akar
yang kecil. Perbedaan ukuran antara akar pokok dan akar cabang sangat nyata. Akar
tunggang dimiliki oleh tumbuhan berkeping dua misalnya mangga, jeruk, kacang-kacangan.
c) Akar khusus
Akar khusus pada tumbuhan :
Akar gantung, Akar ini tumbuh dari bagian batang tumbuhan di atas tanah. Akar tesebut
menggantung di udara dan tumbuh kea rah tanah. Misalnya akar gantung pohon beringin.
Akar pelekat, Akar ini tumbuh di sepanjang batang. Akar pelekat dimiliki tumbuhan
yang memanjat, misalnya sirih.
Akar tunjang, Akar ini tumbuh dari bagian bawah akar ke segala arah. Akar tersebut
seakan-akan menunjang batang akar tidak rebah, misalnya pohon bakau.
Akar napas, akar ini tumbuh tegak lurus ke atas sehingga muncul dari permukaan tanah
atau air, misalnya akar pohon kayu api.

c. Kegunaan akar

Akar memiliki kegunaan :


1) Menyerap air dan zat hara, 2) Memperkokoh tumbuhan, 3)Alat pernapasan.
2. Batang

a. Jenis batang

Batang tumbuhan dapat di golongkan menjadi 3 jenis :


 Batang basah, memiliki batang yang lunak dan berair. Misalnya bayam.
 Batang berkayu, dimiliki oleh tumbuhan batang berkayu. Contohnya pohon jati, jambu,
rambutan, namgka, dan mahoni.
 Batang rumput, tumbuhan batang rumput mempunyai ruas-ruas yang nyata dan sering
berongga, misalnya tanaman padi dan rumput-rumputan.
b. Kegunaan batang

1) Sebagai pengangkut, 2) Penopang, 3) Penyimpanan cadangan makanan.


3. Daun

a. Bentuk daun

Bentuk daun berdasarkan tulang daunnya :


 Tulang daun menyirip, berbentuk seperti susunan sirip-sirip ikan, misalnya avokad, nangka,
mangga, rambutan.
 Tulang daun menjari, berbentuk seperti susunan jari tangan, misalnya daun jarak, kapas,
singkong.
 Tulang daun melengkung, berbentuk seperti garis-garis lengkung, misalnya daun genjer.
 Tulang daun sejajar, berbentuk seperti garis-garis lurus yang sejajar, misalnya rumput-
rumputan.
b. Kegunaan daun

1) Tempat pemasakan makanan, 2) Alat pernapasan, )Tempat terjadinya proses penguapan.


4. Bunga

Bunga sempurna meiliki tangkai, kelopak, mahkota, benang sari, putik


Kegunaan dari bunga :
5. Hiasan tumbuhan
6. Tempat berlangsungnya perkembangbiakan tumbuhan
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan waktu penelitian


1. Lokasi penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 25 kota Bengkulu. Dengan
alasan SD tersebut merupakan tempat magang sehingga mempermudah untuk melaksanakan
penelitian.
2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester V tahun ajaran 2013/2014.

B. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang mengarah kepada penggunaan media untuk meningkatkan hasil belajar
siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi pokok susunan dan fungsi
bagian-bagian tumbuhan.

C. Subjek dan objek penelitian


1. Subjek penelitian
Subjek penelitian ditetapkan pada siswa kelas IV SD N 25 kota Bengkulu tahun
ajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa 37 anak terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 18 siswa
perempuan. Kelas IV merupakan kelas dengan nilai IPA paling rendah dibanding kelas-
kelas lain. Hal ini mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas
dengan menerapkan media pembelajaran yang konkret dalam pembelajaran IPA untuk
meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV.
2. Objek penelitian
Objek penelitian ini adalah bagaimana penggunaan media yang konkret pada materi
pokok susunan dan fungsi bagian-bagian tumbuhan dikelas IV di SD Negeri 25 kota
Bengkulu.

D. Sumber Data
Sumber data atau informasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Sumber data primer (pokok), yaitu siswa kelas IV, Kepala Sekolah dan pihak lain yang
berhubungan.
2. Sumber data sekunder yaitu arsip atau dokumen, nilai hasil belajar siswa, dan lembar
observasi.

E. Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada dua siklus yang meliputi,
perencanaan , pelaksnaan, observasi dan refleksi.
Siklus I
1. Perencanaan

Pada tahap ini kegiatan yang yang dilakukan adalah merencanakan tindakan penyusunan
skenario dengan menggunakan media konkret pada materi pokok susunan dan fungsi bagia-
bagian tumbuhan .
Menyiapkan rencana pembelajaran
a. Merancang membentuk kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa yaitu terdiri
dari siswa yang pintar, sedang dan kurang

b. Menyediakan alat peraga yang dibutuhkan selama proses belajar mengajar

c. Menyiapkan lembar observasi.

1) Lembar observasi untuk siswa

2) Lembar observasi untuk guru

d. Menyediakan angket untuk mengetahui belajar siswa

2. Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan sesuai rencana yang tersusun dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Secara garis besar tindakan yang dilaksanakan
pada setiap siklus sesuai dengan yang tersusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) anatara lain sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran IPA

b. Menyajikan materi tentang Sususnan dan fungsi bagian-bagian tumbuhan

c. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok- kelompok belajar yang terdiri dari 4-5 orang
per kelompok

d. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara berkelompok

e. Guru membimbing kelompok bekerja dan belajar

f. Mengevaluasi hasil kerja yang dikerjakan oleh setiap kelompok

g. Memberikan penghargaan bagi kelompok yang memiliki nilai tertinggi dan kelompok yang
nilainya terendah diberikan hukuman

h. Menyimpulkan hasil kelompok yang sedang berlangsung, mampu menerima pendapat


didalam kelompok.
3. Observasi
Observasi yang dilakukan meliputi pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dan
kinerja guru selama pembelajaran menggunakan media konkret. Aspek yang diamati adalah
sebagai berikut. 1) Guru, Kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan media konkret
dengan pendekatan kontekstual ini meliputi menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa,
menyajikan/menyampaikan informasi, mengorganisasikan siswa dalam kelompok-
kelompok belajar, membimbing kelompok bekerja dan belajar, evaluasi, memberikan
penghargaan. 2) Siswa, pengamatan terhadap siswa meliputi perhatian siswa saat
menjelaskan, bertanya tentang materi yang dipelajari, mendiskusikan diri dalam kelompok,
antusias dalam menyelesaikan tugas, menyatukan pendapat dalam diskusi, kerja sama,
memberi masukan saat presentasi, memberi respon positif atas jawaban temannya, serta
mengerjakan evaluasi secara jujur.
4. Refleksi
Pada tahap ini peneliti merefleksi dan mengevaluasi semua kegiatan yang telah
dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, tindakan hingga observasi,
evaluasi dilakukan setelah satu siklus, kriteria evaluasi ditentukan 70% dari siswa yang
aktif sehingga termotivasi dalam belajar dikelas melalui penggunaan media konkret.
Kriteria evaluasi tentang berhasil atau tidaknya tindakan setelah melihat beberapa
indikator yang dimiliki siswa, antara lain: Menyukai tugas- tugas menentang, Selalu
menyelesaikan tugas dengan cepat, Memiliki semangat yang tinggi, Tidak cepat putus asa,
tidak bosan, Tidak menyelesaikan tugas setengah-tengah, Puas terhadap nilai sebagai usaha
sendiri, Bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, Suka berinteraksi dengan orang-
orang, Selalu mempertahankan pendapat yang dianggap benar, Ciri-ciri prilaku
belajar:(Kreatif, Lebih gigih, Energik, Suka bertindak, Produktif, Penuh inisiatif, Lebih
semangat).
Siklus 2
Pada rancangan siklus 2 ini tindakan diambil dari hasil yang telah dicapai pada siklus
1 sebagai usaha perbaikan. Langkah-langkah yang dilaksanakan peneliti dalam siklus kedua
hampir sama dengan siklus pertama.
1. Perencanaan Ulang
1. Mengidenifikasi masalah dan rumusan masalah berdasarkan pada permasalahan yang
muncul dari siklus I.
2. Guru menyusun dan menyiapkan rencana pembelajaran tentang susunan dan fungsi bagian-
bagian tumbuhan.
3. Merancang skenario pembelajaran dengan menggunakan media konkret.
4. Merancang tes siklus 2 dan kunci jawaban.
5. Membuat lembar observasi.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan dengan mengimplementasikan dan perencanaan yang
dipersiapkan yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada mata
pelajaran IPA.
Pada tahap ini guru melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
dengan skenario yang telah dibuat.
3. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
menggunakan media konkret.
4. Refleksi
Mengadakan refleksi dan evaluasi dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan dan
tahap observasi serta pencapaian indikator keberhasilan. Hasil pengamatan pada pengamatan
siklus 2 dikumpulkan untuk dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti dan observer. Hal tersebut
ditandai dengan perubahan sebagai berikut :
a. Pada saat pembelajaran siswa lebih aktif
b. Siswa tertarik mengikuti pembelajaran
c. Pembelajaran lebih bermakna
d. Siswa yang kurang jelas pada siklus kedua, pada siklus ketiga lebih jelas dan paham.
e. Siswa antusias dalam proses pembelajaran.

F. Alat pengumpulan data


Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
“observasi dan angket”.
a. Observasi

Observasi yang dilakukan merupakan pengamatan terhadap seluruh kegiatan pengajaran


dan perubahan yang terjadi pada saat dilakukan pemberian tindakan. Observasi dilakukan
untuk mengetahui kesesuaian tindakan dengan rencana yang telah disusun untuk mengetahui
sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan yang sesuai dengan
perubahan yang dikehendaki. Selain itu kegiatan observasi juga ditujukan untuk melihat
hasil belajar siswa selama pembelajaran dengan menggunakan media konkret diterapkan.
Observasi ini dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada siklus I pertemuan 1 dan 2, dan pada
siklus II pada pertemuan 1 dan 2. Lembar observasi terdiri dari:
1) Lembar observasi kegiatan guru

2) Lembar observasi motivasi belajar siswa

b. Angket

Angket berisi pernyataan- pernyataan yang membutuhkan jawaban siswa. Adapun


bentuk angket yang digunakan adalah sebagai berikut: Sangat baik (4), Baik (3), Kurang
baik (2), Sangat tidak baik (1). Angket dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada awal sebelum
tindakan dilakukan dan pada akhir siklus II.

G. Teknik Analisis Data


Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa. Bentuk
pengukuran yang dilakukan sebagai berikut:
1. Adapun cara menganalisis data untuk mengetahui peningkatanhasil belajar secara individu
adalah dilakukan dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:
Hasil belajar = skor yang diperoleh siswa x 100
Skor maksimal
Kriteria :

- Skor 80- 100 hasil belajar siswa tinggi

- Skor 60 – 79 hasil belajar siswa sedang

- Skor 0 – 59 hasil belajar siswa rendah

2. untuk mengukur persentase hasil belajar siswa secara klasikal digunakan rumus sebagai
berikut:

P= x 100 %
Keterangan:

P = Angka hasil klasikal


f = Jumlah siswa yang mengalami perubahan
n = Jumlah seluruh siswa

Kriteria :
- Skor 80 %- 100% motivasi belajar siswa tinggi

- Skor 60% – 79% motivasi belajar siswa sedang

- Skor 0% – 59% motivasi belajar siswa rendah

3. Untuk menentukan hasil angket motivasi digunakan dengan rumus:


Perubahan = Jumlah skor yang diperoleh siswa x 100 (aqib, 2008:54)
Jumlah siswa maksimal