Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS

BIDANG ILMU PENYAKIT MULUT


ULKUS TRAUMATIKUS

Dosen Pembimbing :
drg. Christiana Cahyani, M. Phil

Disusun Oleh :
Shahnaz Dwi Permata Putri
G4B018034

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO
2019
LAPORAN KASUS

A. Ringkasan Kasus

Pasien seorang mahasiswa berusia 23 tahun datang ke unit Integrasi Rumah

Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan UNSOED untuk memeriksakan sariawan

yang terdapat pada bibir bawahnya. Berdasarkan keterangan pasien, sariawan

tersebut mucul 4 hari yang lalu ketika secara tidak sengaja mengigit bibirnya

ketika makan dan 2 hari kemudian kembali tergigit di lokasi yang sama.

Pasien merasa tidak nyaman ketika digunakan untuk melakukan aktifitas

seperti makan, minum dan berbicara karena sariawan masih terasa sakit.

B. Pemeriksaan Subjektif

1. Chief Complain

Pasien datang ingin memeriksakan sariawan yang terdapat pada bibir

bawahnya.

2. Present Illness

Sariawan tersebut mucul 4 hari yang lalu ketika secara tidak sengaja

mengigit bibirnya ketika makan dan 2 hari kemudian kembali tergigit di

lokasi yang sama. Pasien merasa tidak nyaman ketika digunakan untuk

melakukan aktifitas seperti makan, minum dan berbicara karena sariawan

masih terasa sakit.

3. Past Medical History

Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat apapun.

4. Past Dental History

Pasien melakukan scaling 7 bulan yang lalu di RSGM Unsoed.


5. Social History

Pasien seorang mahasiswa.

6. Family History

Tidak terdapat riwayat penyakit sistemik.

C. Pemeriksaan Obyektif

1. Pemeriksaan Ekstraoral

a. Wajah : Simetris

b. Mata : Tidak ada kelainan

c. Leher : Tidak ada kelainan

d. Tangan dan jari : Tidak ada kelainan

e. Limfonodi : Tidak ada kelainan

f. TMJ : Tidak ada kelainan

2. Pemeriksaan Intraoral

a. Inspeksi

Terdapat lesi berupa ulser berjumlah 1 dengan ukuran 6mm x 2mm

dengan konsistensi lunak berwarna dasar putih dengan tepi ireguler

kemerehan pada bagian bibir bawah sinistra.

a. Palpasi

Tidak terdapat pembengkakan pada limfonodi.


3. Pemeriksaan Radiografi

Tidak dilakukan pemeriksaan radiologi.

D. Diagnosa Banding

Diagnosa banding kasus ini antara lain adalah

Differential Diagnosis Tanda Klinis Oral Tanda & Gejala lain


Ulcer dengan jumlah 1-5 Ulser pada orofaring dan
Recurrent Aphtous
buah dengan ukuran gastrointestinal
Stomatitis
<1cm
Hand-foot-and-mouth Ulser yang terbentuk dari Disertai demam dan
disease vesikel malaise
Ulcer yang diawali pada Mempunyai gejala
bagian intraoral dan seperti demam, malaise,
Varicella Zoster Virus
kemudia timbul beberapa dan rasa terbakar pada
vesikel pada kulit kulit.
Ulser dengan jumlah Diawali dengan
lebih dari 5 yang banyak munculnya vesikula
Herpes Simplex Virus menyerang pada mukosa pada mukosa dan
cekat gingival dan demam
menyebar
Lesi vesikobulosa pada Lesi dapat muncul pada
mukosa cekat dan kulit
Pemphigus Vulgaris mukosa tak cekat dan
pemeriksaan tes Nikolsky
positif.

E. Diagnosa

Berdasarkan dari pemeriksaan subjektif dan objektif maka dapat ditarik

diagnosa dari kasus tersebut adalah Ulkus Traumatikus. Hal ini dikarenakan

pada saat anamnesa pasien mengatakan bahwa bibirnya tergigit pada saat

makan sehingga menimbulkan luka pada bibirnya.

F. Rencana Perawatan

Dental Health Education dan pemberian medikasi.


G. Tahapan Perawatan

1. Kunjungan Pertama

a. Pasien diinstruksikan untuk berkumur secara perlahan.

b. Pemeriksaan rongga mulut pasien meliputi pemeriksaan subjektif dan

objektif pasien.

c. Melakukan penjelasan kepada pasien mengenai keadaan rongga

mulut pasien terutama mengenai ulkus traumatikus atau sariawan

karena trauma dan penanganannya.

d. Melakukan DHE pada pasien yang meliputi :

1) Cara menyikat gigi yang baik dan benar.

2) Waktu yang tepat untuk menggosok gigi.

3) Waktu yang tepat untuk mencuci tangan.

4) Diagnosa penyakit pasien.

5) Prognosis pasien.

e. Pemberian medikasi berupa Triamnicolone acetonid 0,1% yang

merupakan golongan obat kortikosteroid topikal yang dioleskan pada

lokasi ulkus menggunakan cotton buds sebanyak 2 kali sehari yaitu

setelah makan dan sebelum tidur.

2. Kunjungan Kedua

Melakukan kontrol ulkus traumatikus.


PEMBAHASAN

A. Definisi

Traumatik ulser adalah lesi yang paling sering terjadi pada jaringan

lunak rongga mulut. Ulkus adalah hilangnya seluruh ketebalan epitel

sehingga jaringan ikat dibawahnya terbuka yang disebabkan oleh

peradangan yang menembus membran mukosa atau kulit, sedangkan

traumatik merupakan suatu kejadian yang berhubungan dengan adanya

trauma (Harty dan Ogston, 2012). Traumatik ulser adalah bentukan lesi

ulseratif yang disebabkan oleh adanya trauma dan dapat terjadi pada

mukosa yang mengalami keratinisasi maupun nonkeratinisasi (Brand dan

Isselhard, 2014).

Lesi ini mempunyai gambaran khas berupa ulkus tunggal, lunak saat

disentuh dan bentuknya tidak teratur . Jenis trauma yang menjadi penyebab

ulkus traumatik dapat diketahui saat dilakukan pemeriksaan riwayat

penyakit atau pemeriksaan klinis. Lesi biasanya muncul dengan ukuran

yang bervariasi, berbentuk bulat hingga sabit dengan dasar lesi berwarna

merah atau putih kekuningan dan tepi kemerahan. Ukuran lesi tergantung

pada durasi, intensitas dan tipe trauma yang menyebabkan iritasi (Lewis dan

Lamey, 2012).

B. Etiologi

Ulkus traumatik dapat disebabkan oleh trauma fisik, termal, serta

bahan kimia. Kemungkinan trauma akan meningkat pada bagian yang


cenderung mudah terkena trauma, seperti bibir, mukosa bukal, atau bagian

yang berbatasan dengan gigi tiruan (Cawson dan Odell, 2008). Etiologi

yang paling sering menjadi penyebab ulkus traumatik adalah trauma

mekanik atau fisik. Contoh trauma fisik adalah gigitan, plat ortodontik, sikat

gigi, dan makanan. Lokasi yang sering kali berpotensi terkena trauma fisik

berupa gigitan adalah mukosa bukal, bibir, dan lidah. Makanan yang tajam

dan berpotensi melukai mukosa juga dapat menyebabkan ulkus traumatik

(Coulthard dkk., 2003).

Ulser traumatik juga dapat diakibatkan oleh bahan-bahan kimia,

panas, listrik, atau gaya mekanik. Iritasi kimiawi pada mukosa mulut dapat

menimbulkan ulserasi. Penyebab umum dari ulserasi jenis ini adalah tablet

aspirin atau krim sakit gigi yang diletakkan pada gigi-gigi yang sakit atau

di bawah protesa yang tidak nyaman. Luka bakar dari makanan dan

minuman yang terlalu panas umumnya terjadi pada palatum (Langlais dan

Miller, 2013).

Traumatik ulser bisa juga iatrogenik yaitu disebabkan secara tidak

sengaja oleh seorang praktisi kesehatan melalui perawatan medis atau

dengan prosedur diagnostik yang salah. Manipulasi jaringan yang terlalu

berlebihan atau terlalu berkonsentrasi dalam mengobati jaringan terutama

keras dapat mengakibatkan kecelakaan dan cedera yang sebenarnya bisa

dihindari pada jaringan lunak. Traumatik ulser dapat disebabkan karena

isolasi jaringan yang kurang baik, tekanan negatif dari saliva ejector, atau

dengan menusuk mukosa secara tidak sengaja dengan instrumen dental

(Neville dkk., 2002).


C. Gambaran Klinis

Secara klinis traumatik ulser memiliki ciri yang beragam, tetapi

biasanya traumatik ulser memiliki ciri yaitu tunggal, sakit, permukaannya

berwarna merah muda atau putih kekuning–kuningan dan dikelilingi oleh

lapisan tipis eritematosa. Traumatik ulser umumnya lembut saat dipalpasi,

dan sembuh tanpa bekas luka dalam 6-10 hari, secara spontan atau setelah

menghilangkan faktor penyebabnya. Traumatik ulser kronis secara klinis

mirip seperti karsinoma. Traumatik ulser yang masih terjadi lebih dari 10-

12 hari, harus dilakukan biopsi untuk mencegah terjadinya kanker. Pada

awalnya daerah eritematous dijumpai di perifer, yang perlahan-lahan

menjadi muda karena proses keratinisasi. Bagian tengah lesi biasanya

kuning kelabu. Seringkali trauma penyebabnya jelas terungkap pada

pemeriksaan riwayat penyakit atau pemeriksaan klinis. Mukosa yang rusak

karena bahan kimia seperti terbakar oleh aspirin umumnya batasnya tidak

jelas dan mengandung kulit permukaan yang terkoagulasi dan mengelupas

(Langlais dan Miller, 2013).

D. Terapi dan Perawatan

Terapi trumatik ulser berupa terapi kausatif yaitu dengan

menghilangkan faktor etiologi atau penyebab. Ulkus traumatik akan

sembuh dengan sendirinya jika faktor penyebab dihilangkan sekitar 7

sampai 14 hari kecuali trauma berlangsung terus menerus (Ibsen dan Phelan,

2014). Pemberian medikasi berupa kortikosteroid topikal salep, gel, atau

eliksir namun dapat juga diberikan untuk membantu menangani nyeri dan
mempercepat durasi penyembuhan ulkus mulut. Kortikosteroid yang

mengandung antiinflamasi digunakan secara luas untuk menangani

berbagai penyakit peradangan seperti asma, radang usus, radang ginjal,

radang mata, serta alergi. Kortikosteroid topikal untuk penanganan

inflamasi mukosa oral salah satunya adalah Kenalog in Orabase® yang

mengandung triamcinolone acetonide 0.1% (Neville dkk., 2002).

Terapi simptomatik pasien dengan traumatik ulser yaitu dengan

pemberian obat kumur antiseptik seperti chlorhexidin gluconate. Terapi

paliatif pada pasien ini dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Terapi

suportif dapat berupa dengan mengkonsumsi makanan lunak. Jika lesi

benar-benar trauma, maka ulser akan sembuh dalam waktu 7-10 hari.

Pendapat lain mengatakan bahwa setelah pengaruh traumatik hilang, ulser

akan sembuh dalam waktu 2 minggu, jika tidak maka penyebab lain harus

dicurigai dan dilakukan biopsi. Setiap ulser yang menetap melebihi waktu

ini, maka harus dibiopsi untuk menentukan apakah ulser tersebut

merupakan karsinoma (Langlais & Miller, 2013).

E. Mekanisme Kerja

Senyawa ini merupakan bentuk garam acetonide dari triamcinolone

yang merupakan glukokortikosteroid sintetis yang bersifat imunosupresif

dan anti-inflamasi. Mekanisme aktifitas anti inflamasi steroid topikal secara

umum belum jelas. Kortikosteroid diduga menginduksi protein inhibitor

phospolipase A2 yang disebut dengan lipocortins. Protein ini mengontrol

biosintesa mediator inflamasi yang poten seperti prostaglandin dan


leukotrien dengan menghambat prekursornya yaitu asam arakidonat. Asam

arakidonat dilepaskan dari membran fosfolipid oleh fosfolipase A2. Hal ini

menyebabkan induksi sintesis protein anti-inflamasi tertentu sekaligus

menghambat sintesis mediator inflamasi sehingga

pencegahan peradangan kronis dan reaksi autoimun dapat dilakukan

(Langlais dan Miller, 2013).


DAFTAR PUSTAKA

Brand, R. W., Isselhard, D. E., 2014, Anatomy of Orofacial Structures: A


Comprehensive Approach 7th ed, Elsevier, Missouri
Cawson. R. A., Odell. E. W., 2008, Cawson’s Essentials of Oral Pathology and
Oral Medicine 8th ed, Elsevier, Philadelphia
Coulthard, P., 2003, Master Dentistry 1st ed : Oral and Maxillofacial Surgery,
Chuchill Livingstone, Manchester
Harty, F.J., Ogston, R., 2012, Kamus Kedokteran Gigi, EGC, Jakarta.
Ibsen, O.A.C., Phelan, J.A., 2014, Oral Pathology for The Dental Hygienist 6 th
ed., Elsevier., St. Louis Missouri
Langlais, R.P., Miller, C.S., Nield-Gehrig, J.S., 2013, Atlas Berwarna Lesi Mulut
yang Sering Ditemukan. 4rd ed, EGC, Jakarta.
Lewis, M.A.O., Lamey, P.J., 2012, Tinjauan Klinis Penyakit Mulut, Widya Medika,
Jakarta
Neville, B.W., Damm, D. D., Allen, C. N., Bouquot, J. E., 2002, Oral and
Maxillofacial Pathology, W.B., Saunders Company, Philadelphia