Anda di halaman 1dari 19

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK EMERGENCY
KEMBUNG PADA ANAK

KELOMPOK : B-6
KETUA : NABILA 1102014178
SEKRETARIS : NORA SAPUTRI 1102014197
ANGGOTA : MUHAMMAD AIDIL FITRI 1102014165
MUHAMMAD HAEKAL FADHILAH 1102014168
MUTAMMIMA RIZQIYANI 1102014173
NISA NABIILAH 1102014195
NUR ANNISYA 1102014199
NURUL AMALIA UTAMI 1102014202
ZENNA AL-KAUTSAR 1102014293
SRI MARYANA 1102013280

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2017/2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...........................................................................................................2


SKENARIO ............................................................................................................3
KATA-KATA SULIT ............................................................................................4
PERTANYAAN ......................................................................................................5
JAWABAN .............................................................................................................5
HIPOTESIS ............................................................................................................6
SASARAN BELAJAR ...........................................................................................7
Memahami Dan Menjelaskan Intususepsi .............................................................
Definisi Intususepsi ..................................................................................................8
Etiologi Intususepsi ..................................................................................................8
Epidemiologi Intususepsi .........................................................................................9
Patofisiologi Intususepsi ..........................................................................................9
Manifestasi klinis Intususepsi ................................................................................10
Diagnosis dan Diagnosis banding Intususepsi .......................................................11
Tatalaksana Intususepsi ..........................................................................................15
Komplikasi Intususepsi ..........................................................................................17
Pencegahan Intususepsi ..........................................................................................17
Prognosis Intususepsi .............................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................19

2
SKENARIO

KEMBUNG PADA ANAK

Seorang bayi perempuan berumur 6 bulan dibawa ibunya ke UGD dengan keluhan sejak
satu hari yang lalu BAB berupa lendir bercampur darah tanpa feses sebanyak tiga kali
dan muntah berwarna hijau lima kali. Anak rewel dan sering menangis mengangkat
kaki, tidak mau makan dan minum, serta badan panas. Hasil pemeriksaan fisik keadaan
tampak sakit sedang. Tekanan darah 100/60 mmHg; frekuensi nadi 150 x/menit;
frekuensi napas 36 x/menit; suhu 39oC. Rectal toucher ditemukan ampula collaps dan
tidak ditemukan feses. Darah positif lendir current jelly positif. Pemeriksaan penunjang
BNO 3 posisi ditemukan adanya step ladder dan herring bone serta air fluid level. USG
abdomen ditemukan donut sign positif.

3
KATA SULIT

1. Donut Sign
 Gambaran yang terlihat pada USG yang menandakan adanya intususepsi.

2. Air fluid level


 Gambaran cairan dan udara yang terkumpul dalam usus.

3. Step ladder
 Gambaran adanya cairan transudasi dalam usus halus yang mengalami distensi.

4. Ampulla collaps
 Kejaidan yang diakibatkan karena adanya gerakan peristaltic saat usus kosong.

5. Herring bone
 Gambaran seperti tulang ikan yang menandakan adanya penebalan dinding usus
halus yang dilatasi.

6. Current Jelly
 Adanya darah dan lendir yang keluar dari rectum akibat bendungan vena dan limfe
yang semakin meningkat sehingga aliran darah arteri terganggu.

4
PERTANYAAN
1. Mengapa muntah berwarna hijau?
2. Mengapa BAB bayi berbentuk lender bercampur darah tanpa feses?
3. Mengapa pasien demam?
4. Mengapa tekanan darah rendah sedangkan nadi tinggi?
5. Apa pemeriksaan penunjang yang dilakukan selain yang ada di scenario?
6. Apa diagnosis kasus ini?
7. Apa tatalaksana awal untuk pasien ini?
8. Apa penyebab kasus ini?
9. Apa komplikasi dari kasus ini?

JAWABAN
1. Muntah bewarna hijau karena bercampur dengan cairan empedu.
2. Perdarahan terjadi karena ada bagian proximal yang masuk ke bagian distal, dan
mesentrium yang banyak pembuluh darah juga ikut masuk.
Saat terjadinya infeksi tubuh mempertahankan dengan mengeluarkan mucus
(lendir).
3. Obstruksi menyebabkan makanan yang masuk akan menumpuk dan terjadi infeksi
dan kemudian demam.
4. Tekanan darah rendah mengakibatkan perdarahan dan kemudian menjdai anemia.
Saat tekanan darah rendah tubuh mengompensasi dengan meningkatkan nadi.
5. Barium meal, darah rutin.
6. Intususepsi.
7. Terapi cairan RL dan NGT.
8. Hernia, adanya tumor, adesi, intususepsi, idiopatik, makanan yang masih terlalu
padat buat bayi (pisang), riwayat infeksi GIT, hirschprung disease.
9. Iskemik, nekrosis, perforasi, sepsis.

5
HIPOTESIS

Intususepsi dapat disebabkan oleh hernia, adanya tumor, adesi, intususepsi, idiopatik,
makanan yang masih terlalu padat buat bayi seperti pisang, riwayat infeksi GIT,
hirschprung disease dengan gejala khas seperti muntah yang bewarna hijau karena
bercampur cairan empedu, perdarahan yang terjadi karena ada bagian proximal yang
masuk ke bagian distal, dan mesentrium yang banyak pembuluh darah juga ikut masuk,
saat terjadinya infeksi tubuh mempertahankan dengan mengeluarkan mucus (lendir)
dan pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan adalah barium meal dan
darah rutin, jika tidak segera ditangani dapat terjadi iskemik, nekrosis, perforasi, sepsis.

6
SASARAN BELAJAR
LI.1 Memahami Dan Menjelaskan Intususepsi
LO.1.1 Definisi Intususepsi
LO.1.2 Etiologi Intususepsi
LO.1.3 Epidemiologi Intususepsi
LO.1.4 Patofisiologi Intususepsi
LO.1.5 Manifestasi klinis Intususepsi
LO.1.6 Diagnosis dan Diagnosis banding Intususepsi
LO.1.7 Tatalaksana Intususepsi
LO.1.8 Komplikasi Intususepsi
LO.1.9 Pencegahan Intususepsi
LO.1.10 Prognosis Intususepsi

7
SASARAN BELAJAR
LI.1 Memahami Dan Menjelaskan Intususepsi
LO.1.1 Definisi Intususepsi
Invaginasi atau Intususepsi adalah keadaan yang umumnya terjadi pada anak-anak, dan
merupakan kejadian yang jarang terjadi pada dewasa, intususepsi adalah masuknya
segmen usus proksimal (kearah oral) kerongga lumen usus yang lebih distal (kearah
anal) sehingga menimbulkan gejala obstruksi berlanjut strangulasi usus. Definisi lain
Invaginasi atau intususepsi yaitu masuknya segmen usus (Intesusceptum) ke dalam
segment usus di dekatnya (intususcipient). Pada umumnya usus bagian proksimal yang
mengalami invaginasi (intussuceptum) memasuki usus bagian distal (intussucipient),
tetapi walaupun jarang ada juga yang sebaliknya atau retrograd. Paling sering masuknya
ileum terminal ke kolon. Intususeptum yaitu segmen usus yang masuk dan intususipien
yaitu segmen usus yang dimasuki segmen lain.
Invaginasi terjadi karena adanya sesuatu di usus yang menyebabkan peristaltik
berlebihan, biasanya terjadi pada anak-anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Pada
anak-anak 95% penyebabnya tidak diketahui, hanya 5% yang mempunyai kelainan
pada ususnya sebagai penyebabnya. Misalnya diiverticulum Meckeli, Polyp,
Hemangioma. Sedangkan invaginasi pada dewasa terutama adanya tumor yang
menyebabkannya. Daerah yang secara anatomis paling mudah mengalami invaginasi
adalah ileo coecal, dimana ileum yang lebih kecil dapat masuk dengan mudah ke dalam
coecum yang longgar. Invaginasi dapat menyebabkan obstruksi usus baik partiil
maupun total.
LO.1.2 Etiologi Intususepsi
Etiologi dari intususepsi terbagi menjadi 2, yaitu idiopatik dan kausal
1. Idiopatik
Menurut kepustakaan, 90-95 % intususepsi pada anak di bawah umur satu tahun tidak
dijumpai penyebab yang spesifik sehingga digolongkan sebagai “infantile idiophatic
intussusceptions”(13). Kepustakaan lain menyebutkan di Asia, etiologi idiopatik dari
intususepsi berkisar antara 42-100%.
Definisi dari istilah intususepsi ‘idiopatik’ bervariasi di antara penelitian terkait
intususepsi. Sebagian besar peneliti menggunakan istilah ‘idiopatik’ untuk
menggambarkan kasus dimana tidak ada abnormalitas spesifik dari usus yang diketahui
dapat menyebabkan intususepsi seperti diverticulum meckel atau polip yang dapat
diidentifikasi saat pembedahan.
Intususepsi idiopatik memiliki etiologi yang tidak jelas. Salah satu teori untuk
menjelaskan kemungkinan etiologi intususepsi idiopatik adalah bahwa hal itu terjadi
karena Peyer patch yang membesar; hipotesis ini berasal dari 3 pengamatan:
(1) penyakit ini sering didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas,
(2) wilayah ileokolika memiliki konsentrasi tertinggi dari kelenjar getah bening di
mesenterium.
(3) pembesaran kelenjar getah bening sering dijumpai pada pasien yang memerlukan
operasi. Apakah Peyer patch yang membesar adalah reaksi terhadap intususepsi atau
sebagai penyebab intususepsi, masih tidak jelas.
8
2. Kausal
Pada penderita intususepsi yang lebih besar (lebih dua tahun), adanya kelainan usus
dapat menjadi penyebab intususepsi seperti : inverted Meckel’s diverticulum, polip
usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep nevi, lymphoma dan
duplikasi usus. Divertikulum Meckel adalah penyebab paling utama, diikuti dengan
polip seperti peutz-jeghers syndrom, dan duplikasi intestinal. Lead point lain
diantaranya lymphangiectasias, perdarahan submukosa dengan Henoch-Schönlein
purpura, trichobezoars dengan Rapunzel syndrome, caseating granulomas yang
berhubungan dengan tuberkulosis abdominal.
Intususepsi dapat juga terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul setelah dua
minggu pasca bedah, hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik usus, disebabkan
manipulasi usus yang kasar dan lama, diseksi retroperitoneal yang luas dan hipoksia
local.
LO.1.3 Epidemiologi Intususepsi
Berdasarkan penelitian O’Ryan et al, dari kasus intususepsi di RS Santiago tahun 2000-
2001 ditemukan bahwa insidens invaginasi pada pasien berusia kurang dari 12 bulan
sebanyak 55 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan untuk usia 0-24 bulan sebanyak
35 per 100.000 kelahiran hidup. Insiden puncaknya pada umur 4-9 bulan terjadi
perubahan diet makanan dari cair ke padat, perubahan pola makan bulan, Hampir 70%
terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun dimana laki-laki lebih sering dari
wanita perbandingan 4:1 kemungkinan karena peristaltic lebih kuat.
LO.1.4 Patofisiologi Intususepsi
Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada dewasa pada
intinya adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu bagian usus
yang bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang bebas
dibandingkan bagian lainnya, karena arah peristaltik adalah dari oral keanal sehingga
bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal, keadaan
lainnya karena suatu disritmik peristaltik usus, pada keadaan khusus dapat terjadi
sebaliknya yang disebut retrograd intususepsi pada pasien pasca gastrojejunostomi.
Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya akan menyebabkan
dinding usus yang terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah menurun dan
keadaan akhir adalah akan menyebabkan nekrosis dinding usus.

Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum.


Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Perubahan pada intususeptum
ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari intususepien, dan
juga karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya
mesenterium. Edema dan pembengkakan dapat terjadi. Pembengkakan dapt sedemikian
besarnya sehingga menghambat reduksi. Adanya bendungan menimbulkan perembesan
(ozing) lendir dan darah ke dalam lumen. Ulserasi pada dindidng usus dapat terjadi.
Sebagai akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren. Gangren dapat berakibat
lepasnya bagian yang mengalami prolaps. Pembengkakan dari intisuseptum umumnya
menutup lumen usus. Akan tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent, sehingga
obstruksi komplit kadang - kadang tidak terjadi pada intususepsi.

Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun
total dan strangulasi. Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobil

9
menyebabkan usus tersebut masuk ke lumen usus distal. Usus bagian distal yang
menerima (intussucipient) ini kemudian berkontraksi, terjadi edema. Akibatnya terjadi
perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi invaginasi.

LO.1.5 Manifestasi klinis Intususepsi


 Manifestasi klinis berupa trias, yaitu sakit perut (85%) yang timbul mendadak,
periodik, dan anak menekuk kaki (drawing up the leg).
 Muntah (60%) dan feses bercampur darah (currant-jelly stool), baik occult atau darah
segar.
 Perut terlihat membuncit, terjadi peningkatan suara usus, teraba massa berbentuk
sosis.

Anak atau bayi yang semula sehat dan biasanya dengan keadaan gizi yang baik, tiba-
tiba menangis kesakitan, terlihat kedua kakinya terangkat ke atas, penderita tampak
seperti kejang dan pucat menahan sakit, serangan nyeri perut seperti ini berlangsung
dalam beberapa menit. Di luar serangan, anak/bayi kelihatan seperti normal kembali.
Pada waktu itu sudah terjadi proses intususepsi. Serangan nyeri perut datangnya
berulang-ulang dengan jarak waktu 15-20 menit dengan lama serangan 2-3 menit. Pada
umumnya selama serangan nyeri perut itu diikuti dengan muntah berisi cairan dan
makanan yang ada di lambung.

Sesudah beberapa kali serangan dan setiap kalinya memerlukan tenaga, maka di luar
serangan si penderita terlihat lelah dan lesu dan tertidur sampai datang serangan
kembali. Proses intususepsi pada mulanya belum terjadi gangguan pasase isi usus
secara total, anak masih dapat defekasi berupa feses biasa, kemudian feses bercampur
darah segar dan lendir, kemudian defekasi hanya berupa darah segar bercampur lendir
tanpa feses. BAB darah dan lendir (red currant jelly stool) baru dijumpai sesudah 6-8
jam serangan sakit yang pertama kali, kadang-kadang sesudah 12 jam. BAB darah
lendir ini bervariasi jumlahnya dari kasus per kasus, ada juga yang dijumpai hanya pada
saat melakukan colok dubur.
Karena sumbatan belum total, perut belum kembung dan tidak tegang, dengan demikian
mudah teraba gumpalan usus yang terlibat intususepsi sebagai suatu massa tumor
berbentuk curved sausage di dalam perut di bagian kanan atas, kanan bawah, atas
tengah atau kiri bawah. Tumor lebih mudah teraba pada waktu terdapat peristaltik,
sedangkan pada perut bagian kanan bawah teraba kosong yang disebut dance’s sign.
Hal ini akibat caecum dan kolon naik ke atas, ikut proses intususepsi.
Sesudah 18-24 jam serangan sakit yang pertama, usus yang tadinya tersumbat partial
berubah menjadi sumbatan total, diikuti proses oedem yang semakin bertambah,
sehingga pada pasien dijumpai tanda-tanda obstruksi, seperti perut kembung dengan
gambaran peristaltik usus yang jelas, muntah warna hijau dan dehidrasi.
Oleh karena perut kembung maka massa tumor tidak dapat diraba lagi dan defekasi
hanya berupa darah dan lendir. Apabila keadaan ini berlanjut terus akan dijumpai
muntah feses, dengan demam tinggi, asidosis, toksis dan terganggunya aliran pembuluh
darah arteri. Pada segmen yang terlibat menyebabkan nekrosis usus, gangren, perforasi,
peritonitis umum, shock dan kematian.

10
Perlu perhatian bahwa untuk penderita malnutrisi, gejala-gejala intususepsi tidak khas.
Tanda-tanda obstruksi usus baru timbul dalam beberapa hari. Pada penderita ini tidak
jelas tanda adanya sakit berat. Pada defekasi tidak ada darah. Intususepsi dapat
mengalami prolaps melewati anus. Hal ini mungkin disebabkan pada pasien malnutrisi,
memiliki tonus yang melemah, sehingga obstruksi tidak cepat timbul.
Rasa sakit adalah gejala yang paling khas dan hampir selalu ada. Dengan adanya
seranganrasa sakit/kholik yang makin bertambah dan mencapai puncaknya, dan
kemudian menghilang samasekali, diagnosis hampir dapat ditegakkan. Rasa sakit
berhubungan dengan passase dari intususepsi. Diantara satu serangan dengan serangan
berikutnya, bayi atau orang dewasa dapat sama sekali bebasdari gejala.Selain dari rasa
sakit gejala lain yang mungkin dapat ditemukan adalah muntah, keluarnya darahmelalui
rektum, dan terdapatnya masa lunak memanjang seperti sosis (sausage shape mass)
dimana biasanya perut kuadran kanan bawah teraba seakan kosong (dance’s sign).
Beratnya gejala muntahtergantung pada letak usus yang terkena. Semakin tinggi letak
obstruksi, semakin berat gejala muntah. Hemathocezia disebabkan oleh kembalinya
aliran darah dari usus yang mengalami intususepsi. Terdapatnya sedikit darah adalah
khas, sedangkan perdarahan yang banyak biasanya tidak ditemukan.
Gambaran klinis intususepsi dewasa umumnya sama seperti keadaan obstruksi
usus pada umumnya, yang dapat mulai timbul setelah 24 jam setelah terjadinya
intususepsi berupa nyeri perut dan terjadinya distensi setelah lebih 24 jam ke dua
disertai keadaan klinis lainnya yang hampir sama gambarannya seperti intususepsi pada
anak-anak. Pada orang dewasa sering ditemukan perjalanan penyakit yang jauh lebih
panjang, dan kegagalan yang berulang-ulang dalam usaha menegakkan diagnosis
dengan pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan- pemeriksaan lain. Adanya gejala
obstruksi usus yang berulang, harus dipikirkan kemungkinan intususepsi. Kegagalan
untuk memperkuat diagnosis dengan pemeriksaan radiologis sering kali menyebabkan
tidak ditegakkanya diagnosis. Pemeriksaan radiologis sering tidak berhasil
mengkonfirmasikan diagnosis karena tidak terdapat intususepsi pada saat
dilakukan pemeriksaan. Intussusepsi yang terjadi beberapa saat sebelumnya telah
tereduksi spontan. Dengan demikian diagnosis intussusepsi harus dipikirkan pada kasus
orang dewasa dengan serangan obstruksi usus yang berulang, meskipun pemeriksaan
radiologis dan pemeriksaan- pemeriksaan lain tidak memberikan hasil yang positif.
LO.1.6 Diagnosis dan Diagnosis banding Intususepsi

Untuk menegakkan diagnosa invaginasi didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik,


laboratorium dan radiologi.

Gejala klinis yang menonjol dari invaginasi adalah suatu trias gejala yang terdiri dari:

1. Nyeri perut yang datangnya secara tiba – tiba, nyeri bersifat serang –serangan., nyeri
menghilang selama 10 – 20 menit, kemudian timbul lagi serangan baru.
2. Teraba massa tumor di perut bentuk bujur pada bagian kanan atas, kanan bawah, atas
tengah, kiri bawah atau kiri atas.
3. Buang air besar campur darah dan lendir

11
TRIAS INVAGINASI :
1. Anak mendadak kesakitan episodic, menangis dan mengankat kaki (Craping pain),
bila lanjut sakitnya kontinyu
2. Muntah warna hijau (cairan lambung)
3. Defekasi feses campur lendir (kerusakan mukosa) atau darah (lapisan dalam) à
currant jelly stool

Obstruksi usus ada 2 :


1. Mekanis à kaliber usus tertutup
2. Fungsional à kaliber usus terbuka akibat peristaltik hilang

Pemeriksaan Fisik :
 Obstruksi mekanis ditandai darm steifung dan darm counter.
 Teraba massa seperti sosis di daerah subcostal yang terjadi spontan
 Nyeri tekan (+)
 Dancen sign (+) à Sensai kekosongan padakuadran kanan bawah karena masuknya
sekum pada kolon ascenden
 RT : pseudoportio(+), lender darah (+) à Sensasi seperti portio vagina akibat
invaginasi usus yang lama

Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya tumor,
oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias
invaginasi. Mengingat invaginasi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun,
sedangkan penyakit disentri umumnya terjadi pada anak – anak yang mulai berjalan
dan mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur di bawah satu
tahun, sakit perut yang bersifat kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari /
malam, ada muntah, buang air besar campur darah dan lendir maka pikirkanlah
kemungkinan invaginasi.

Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan darah rutin ditemukan peningjkatan jumlah leukosit (leukositosis


>10.000/mm3

Pemeriksaan Radiologi

Photo polos abdomen : didapatkan distribusi udara didalam usus tidak merata, usus
terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda – tanda obstruksi usus dengan
gambaran “air fluid level”. Dapat terlihat “ free air “ bilah terjadi perforasi.

Barium enema : dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis
dikerjakan bila gejala – gejala klinik meragukan, pada barium enema akan tampak
gambaran cupping, coiled spring appearance.

12
Foto abdomen 3 posisi.

Tanda obstruksi (+) : Distensi, Air fluid level, Hering bone (gambaran plika circularis
usus).

Colon In loop berfungsi sebagai :

 Diagnosis : cupping sign, letak invaginasi


 Terapi : Reposisi dengan tekanan tinggi, bila belum ada tanda2 obstruksi dan
kejadian < 24 jam

Gambar : cupping sign pada colon in loop

Reposisi dianggap berhasil bila setelah rectal tube ditarik dari anus barium keluar
bersama feses dan udara.

Pada orang dewasa diagnosis preoperatif keadaan intususepsi sangatlah sulit, meskipun
pada umumnya diagnoasis preoperatifnya adalah obstruksi usus tanpa dapat
memastikan kausanya adalah intususepsi, pemerikasaan fisik saja tidaklah cukup
sehingga diagnosis memerlukan pemeriksaan penunjang yaitu dengan radiologi
(barium enema, ultra sonography dan computed tomography), meskipun umumnya
diagnosisnya didapat saat melakukan pembedahan.

13
Gambar : CT Scan abdomen pada pasien invaginasi (target sign)

Coil spring appearance pada invaginasi Pseudokidney pada USG abdomen

Gambar : USG abdomen pada pasien invaginasi

14
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat yang khas dan pemeriksaan fisik. Pada
penderita dengan intususepsi yang mengenai kolon, barium enema mungkin dapat
memberi konfirmasi diagnosis. Mungkin akan didapatkan obstruksi aliran barium pada
apex dari intususepsi dan suatu cupshaped appearance pada barium di tempat ini.

Diagnosa Banding

Gastro – enteritis, bila diikuti dengan invaginasi dapat ditandai jika dijumpai perubahan
rasa sakit, muntah dan perdarahan.

Divertikulum Meckel, dengan perdarahan, biasanya tidak ada rasa nyeri.

Disentri amoeba, disini diare mengandung lendir dan darah, serta adanya obstipasi, bila
disentri berat disertai adanya nyeri di perut, tenesmus dan demam.

Enterokolitis, tidak dijumpai adanya nyeri di perut yang hebat.

Prolapsus recti atau Rectal prolaps, dimana biasanya terjadi berulang kali dan pada
colok dubur didapati hubungan antara mukosa dengan kulit perianal, sedangkan pada
invaginasi didapati adanya celah.

LO.1.7 Tatalaksana Intususepsi


Keberhasilan penatalaksanaan invaginasi ditentukan oleh cepatnya pertolongan
diberikan, jika pertolongan sudah diberikan kurang dari 24 jam dari serangan pertama
maka akan memberikan prognosis yang lebih baik.
Penatalaksanaan penanganan suatu kasus invaginasi pada bayi dan anak sejak dahulu
mencakup dua tindakan penanganan yang dinilai berhasil dengan baik :
1. Reduksi dengan barium enema
2. Reduksi dengan operasi

Sebelum dilakukan tindakan reduksi, maka terhadap penderita : dipuasakan, resusitasi


cairan, dekompressi dengan pemasangan pipa lambung. Bila sudah dijumpai tanda
gangguan pasase usus dan hasil pemeriksaan laboratorium dijumpai peninggian dari
jumlah leukosit maka saat ini antibiotika berspektrum luas dapat diberikan. Narkotik
seperti Demerol dapat diberikan (1mg/ kg BB) untuk menghilangkan rasa sakit.

Reduksi Dengan Barium Enema

Telah disebutkan pada bab terdahulu bahwa barium enema berfungsi dalam diagnostik
dan terapi. Barium enema dapat diberikan bila tidak dijumpai kontra indikasi seperti :
Adanya tanda obstruksi usus yang jelas baik secara klinis maupun pada foto abdomen
1. Dijumpai tanda – tanda peritonitis
2. Gejala invaginasi sudah lewat dari 24 jam
3. Dijumpai tanda – tanda dehidrasi berat.
4. Usia penderita diatas 2 tahun

Hasil reduksi ini akan memuaskan jika dalam keadaan tenang tidak menangis atau
gelisah karena kesakitan oleh karena itu pemberian sedatif sangat membantu.

15
Kateter yang telah diolesi pelicin dimasukkan ke rektum dan difiksasi dengan plester,
melalui kateter bubur barium dialirkan dari kontainer yang terletak 3 kaki di atas meja
penderita dan aliran bubur barium dideteksi dengan alat floroskopi sampai meniskus
intussusepsi dapat diidentifikasi dan dibuat foto. Meniskus sering dijumpai pada kolon
transversum dan bagian proksimal kolon descendens.
Bila kolom bubur barium bergerak maju menandai proses reduksi sedang berlanjut,
tetapi bila kolom bubur barium berhenti dapat diulangi 2 – 3 kali dengan jarak waktu 3
– 5 menit. Reduksi dinyatakan gagal bila tekanan barium dipertahankan selama 10 – 15
menit tetapi tidak dijumpai kemajuan. Antara percobaan reduksi pertama, kedua dan
ketiga, bubur barium dievakuasi terlebih dahulu.

Reduksi barium enema dinyatakan berhasil apabila :

1. Rectal tube ditarik dari anus maka bubur barium keluar dengan disertai massa feses
dan udara.
2. Pada floroskopi terlihat bubur barium mengisi seluruh kolon dan sebagian usus
halus, jadi adanya refluks ke dalam ileum.
3. Hilangnya massa tumor di abdomen.
4. Perbaikan secara klinis pada anak dan terlihat anak menjadi tertidur serta norit test
positif.

Penderita perlu dirawat inap selama 2 – 3 hari karena sering dijumpai kekambuhan
selama 36 jam pertama.
Keberhasilan tindakan ini tergantung kepada beberapa hal antara lain, waktu sejak
timbulnya gejala pertama, penyebab invaginasi, jenis invaginasi dan teknis
pelaksanaannya.

Reduksi Dengan Tindakan Operasi


1. Memperbaiki keadaan umum
Tindakan ini sangat menentukan prognosis, janganlah melakukan tindakan operasi
sebelum terlebih dahulu keadaan umum pasien diperbaiki. Pasien baru boleh dioperasi
apabila sudah yakin bahwa perfusi jaringan telah baik, hal ini di tandai apabila produksi
urine sekitar 0,5 – 1 cc/kg BB/jam. Nadi kurang dari 120x/menit, pernafasan tidak
melebihi 40x/menit, akral yang tadinya dingin dan lembab telah berubah menjadi
hangat dan kering, turgor kulit mulai membaik dan temperature badan tidak lebih dari
38o C.

Biasanya perfusi jaringan akan baik apabila setengah dari perhitungan dehidrasi telah
masuk, sisanya dapat diberikan sambil operasi berjalan dan pasca bedah. Yang
dilakukan dalam usaha memperbaiki keadaan umum adalah :
a. Pemberian cairan dan elektrolit untuk rehidrasi (resusitasi).
b. Tindakan dekompresi abdomen dengan pemasangan sonde lambung.
c. Pemberian antibiotika dan sedatif.

Suatu kesalahan besar apabila buru – buru melakukan operasi karena takut usus menjadi
nekrosis padahal perfusi jaringan masih buruk. Harus diingat bahwa obat anestesi dan
stress operasi akan memperberat keadaan umum penderita serta perfusi jaringan yang
belum baik akan menyebabkan bertumpuknya hasil metabolik di jaringan yang
seharusnya dibuang lewat ginjal dan pernafasan, begitu pula perfusi jaringan yang

16
belum baik akan mengakibatkan oksigenasi jaringan akan buruk pula. Bila dipaksakan
kelainan – kelainan itu akan irreversible.

2. Tindakan untuk mereposisi usus


Tindakan selama operaasi tergantung kepada penemuan keadaan usus, reposisi manual
dengan cara “milking” dilakukan dengan halus dan sabar, juga bergantung pada
keterampilan dan pengalaman operator. Insisi operasi untuk tindakan ini dilakukan
secara transversal (melintang), pada anak – anak dibawah umur 2 tahun dianjurkan
insisi transversal supraumbilikal oleh karena letaknya relatif lebih tinggi.

Ada juga yang menganjurkan insisi transversal infraumbilikal dengan alasan lebih
mudah untuk eksplorasi malrotasi usus, mereduksi invaginasi dan tindakan
apendektomi bila dibutuhkan. Tidak ada batasan yang tegas kapan kita harus berhenti
mencoba reposisi manual itu.

Reseksi usus dilakukan apabila : pada kasus yang tidak berhasil direduksi dengan cara
manual, bila viabilitas usus diragukan atauditemukan kelainan patologis sebagai
penyebab invaginasi. Setelah usus direseksi dilakukan anastomosis ”end to end”,
apabila hal ini memungkinkan, bila tidak mungkin maka dilakukan “exteriorisasi” atau
enterostomi.

LO.1.8 Komplikasi Intususepsi


Intususepsi dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Komplikasi lain yang dapat
terjadi adalah dehidrasi dan aspirasi dari emesis yang terjadi. Iskemia dan nekrosis usus
dapat menyebabkan perforasi dan sepsis. Nekrosis yang signifikan pada usus dapat
menyebabkan komplikasi yang berhubungan dengan “short bowel syndrome”.
Meskipun diterapi dengan reduksi operatif maupun radiografik, striktur dapat muncul
dalam 4-8 minggu pada usus yang terlibat.

Komplikasi post operatif :


 Adynamis usus yang berkepanjangan
 Demam, infeksi pada luka operasi, urinary tract infection
 Enterostomy stenosis, subhepatic abses
 Gangguan keseimbangan elektrolit

Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi berat,
seperti kematian jaringan usus, perforasi usus, infeksi dan kematian

LO.1.9 Pencegahan Intususepsi


Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan ialah dengan tidak memberikan makanan
padat selain asi pada bayi dibawah 6 bulan karena sistem pencernaan dan daya tahan
tubuh bayi belum sempurna. Vaksin rotavirus generasi lama diketahui dapat
menimbulkan intususepsi pada bayi/anak yang mendapatkannya. Akibatnya pemakaian
vaksin ini kemudian dilarang. Vaksin rotavirus generasi yang baru telah diantisipasi
untuk tidak menyebabkan hal yang sama sebelum dipakai secara massal pada bayi dan
anak. Tidak ada obat atau cara untuk mencegah terjadinya intususepsi yang diketahui
sampai saat ini.

17
LO.1.10 Prognosis Intususepsi
Kematian disebabkan oleh intususepsi idiopatik akut pada bayi dan anak-anak sekarang
jarang di negara maju. Sebaliknya, kematian terkait dengan intususepsi tetap tinggi di
beberapa negara berkembang. Pasien di negara berkembang cenderung untuk datang ke
pusat kesehatan terlambat, yaitu lebih dari 24 jam setelah timbulnya gejala, dan
memiliki tingkat intervensi bedah, reseksi usus dan mortalitas lebih tinggi.
Keberhasilan penatalaksanaan invaginasi ditentukan oleh cepatnya pertolongan yang
diberikan, jika pertolongan kurang dari 24 jam dari serangan pertama, maka akan
memberikan prognosis yang lebih baik. Kematian dengan terapi sekitar 1-3 %. Jika
tanpa terapi, 2-5 hari akan berakibat fatal.
Apabila pasien anak dengan intususepsi tidak ditangani dengan baik, prognosisnya
buruk. Kemungkinan untuk sembuh tergantung dari waktu reduksi intususepsi,
perbaikan intususepsi dalam 24 jam pertama lebih baik dari pada harus menunggu
sampai hari kedua. Nilai rata-rata rekurensi setelah reduksi intususepsi adalah 10 % dan
setelah melalui pembedahan untuk reduksi adalah sebesar 2-5%, dan tidak ada
rekurensi pada yang telah di reseksi.

18
DAFTAR PUSTAKA

M. Kliegman, Robert. Nelson Text Book of Pediatric-18th Ed. USA : Saunders El


sevier. 2007. p 1569-1570
Rasad, Syahriar. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta : Balai penerbit
FKUI.2008. p 245-253, p 256-258, p 415-416
Syamsuhidayat, R dan Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 2004. p 617, 626-628, 646.

19