Anda di halaman 1dari 5

JF

ISSN: 1693-1246 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 42-46


Januari 2009
PFI
http://journal.unnes.ac.id

PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS


UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP
SUHU DAN PEMUAIAN
Y. Subagyo, Wiyanto, P. Marwoto*

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam


Universitas Negeri Semarang (Unnes), Semarang, Indonesia, 50229

Diterima: 1 Oktober 2008, Disetujui: 1 November 2008, Dipublikasi: Januari 2009

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa SMP dengan pendekatan keterampilan proses pada
pokok bahasan suhu dan pemuaian. Penelitian dilaksanakan dengan metode pre-post eksperimen tanpa kendali. Pre dan pos tes
dilakukan untuk melihat peningkatan pemahaman konsep siswa. Pengamatan keterampilan dan sikap ilmiah dilakukan pada awal
dan akhir kegiatan laboratorium berbasis inkuiri. Data penelitian diambil sebelum percobaan, selama percobaan, dan setelah
percobaan. Hasil belajar pretes pemahaman konsep diperoleh rata-rata 51%, postes 61,73%, dan gain sebesar 0,219 (low-gain).
Hasil belajar keterampilan proses, pengamatan awal diperoleh rata-rata 54%, pengamatan akhir 76%, dan gain sebesar 0,478
(medium-gain). Hasil pengamatan sikap ilmiah awal siswa rata-rata 55%, pengamatan akhir 67%, dan gain sebesar 0,267 (low-
gain). Jadi hasil belajar siswa pada penelitian ini mengalami peningkatan.

ABSTRACT

The research aimed to observe the improvement of junior high Scholl students in learning on temperature and expansion by
process skill approach. Uncontrolled pre-post experiment method was used in this study. Pre and post test was used to obtain the
student's understanding. The observation of skills and scientific attitudes was done on the beginning and at the end of each inquiry
based laboratory activity. The data extracted from beginning, during and after lab's activity. The achievements in concept
understanding yield the value of 51 % for pre test and 61.73% for post test thus gain the gain is 0.219 (low gain). The
achievements in process skills end up with the value of 54 % for initials and 76% for the final's observations give the gain of 0.478
(medium-gain). The observations in scientific attitude give the average value 55% at the beginning and 67% at the end, so the gain
is 0,267. Overall conclusion, the student's achievement is improved.

© 2009 Jurusan Fisika MIPA UNNES, Semarang

Keywords: science; process skills; learning achievements

PENDAHULUAN ditingkatkan melalui kegiatan laboratorium. Hal ini sesuai


dengan hasil penelitian Yaqin (2005) yang menyatakan
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang bahwa keterampilan melaksanakan percobaan dapat
dikembangkan dalam pendidikan saat ini, menuntut ditingkatkan dengan menyelenggarakan kegiatan
siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan laboratorium. Demikian juga hasil penelitian Suskandani
mempersyaratkan kompetensi sebagai hasil belajar (2001) yang menyatakan bahwa kegiatan laboratorium
yang meliputi tiga ranah yaitu pengetahuan, dapat meningkatkan pemahaman siswa.
keterampilan dan sikap. Kurikulum SMP/MTs Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan
mengharapkan ada penekanan pembelajaran proses memungkinkan siswa dapat menumbuhkan sikap
Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masya- ilmiah untuk mengembangkan keterampilan-
rakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman keterampilan yang mendasar, sehingga dalam proses
belajar untuk merancang dan membuat suatu karya pembelajaran siswa dapat memahamii konsep yang
melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja dipelajarinya. Dengan demikian hasil belajar yang
ilmiah secara bijaksana. meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai
Hakikat belajar sains tentu saja tidak cukup tuntutan kompetensi dalam kurikulum yang
sekadar mengingat dan memahami konsep yang dikembangkan saat ini akan tercapai.
ditemukan oleh ilmuwan. Akan tetapi, yang sangat Pembelajaran dengan penemuan (inquiry)
penting adalah pembiasaan perilaku ilmuwan dalam merupakan model yang dapat memfasilitasi
menemukan konsep yang dilakukan melalui percobaan keterampilan proses dalam belajar. Pendekatan
dan penelitian ilmiah. Proses penemuan konsep yang keterampilan proses dapat dilakukan melalui belajar
melibatkan keterampilan keterampilan yang mendasar kolaborasi dan diskusi/berargumentasi (Maloney &
melalui percobaan ilmiah dapat dilaksanakan dan Simon, 2007). Dalam pembelajaran dengan penemuan/
inquiry, siswa didorong untuk belajar sebagian besar
*
melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-
Alamat korespondensi
Jl. Stonen Timur No. 35 Semarang konsep dan prinsip-prinsip dan mendorong siswa untuk
Telp.: (024) 8413554, Mobile Phone: 08122553878 memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang
E-mail: pmarwoto@yahoo.com
Y. Subagyo, dkk., - Pembelajaran dengan Pendekatan Keterampilan Proses Sains 43

memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip peningkatan hasil belajar sains siswa sekolah menengah
untuk mereka sendiri (Nurhadi, 2003). Menurut Gagne pertama kelas VII semester I SMP Negeri 24 Semarang
belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil dengan pendekatan keterampilan proses pada pokok
belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang bahasan suhu dan pemuaian.
memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.
Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari, i) stimulasi METODE
yang berasal dari lingkungan dan ii) proses kognitif yang
dilakukan oleh pembelajar. Piaget berpendapat bahwa Sumber data adalah siswa SMP Negeri 24
pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu Semarang. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa
melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. sekolah menengah pertama kelas VII semester I yang
Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan diambil satu kelas secara acak sebagai sampel
adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek penelitian.
semakin berkembang. Penelitian diawali dengan pengembangan
Pendekatan keterampilan proses adalah suatu perangkat pembelajaran, yang meliputi rencana
pendekatan dalam pembelajaran IPA yang beranggapan pengajaran (RP), lembar kerja siswa (LKS), dan alat
bahwa IPA itu terbentuk dan berkembang melalui suatu evaluasi. Sebelum diterapkan pada subyek penelitian
proses ilmiah yang juga harus dikembangkan pada maka dilakukan uji coba. Setelah uji coba dilakukan,
peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna yang perangkat pembelajaran diterapkan dan dilaksanakan
dapat digunakan sebagai bekal perkembangan diri dengan metode pre-post eksperimen tanpa kontrol. pre-
selanjutnya (Memes, 2000). Pendekatan keterampilan post tes tertulis dilakukan untuk melihat gain
proses menekankan bagaimana siswa belajar dan (peningkatan) pemahaman konsep atau aspek
mengelola perolehannya, sehingga mudah dipahami dan pengetahuan. Selama proses kegiatan laboratorium
digunakan dalam kehidupan di masyarakat. Dalam dilakukan pengamatan keterampilan dua kali (awal dan
proses pembelajaran siswa dapat memperoleh akhir) untuk melihat peningkatannya. Selain itu,
pengalaman dan pengetahuan sendiri, penyelidikan dilakukan pengamatan sikap ilmiah siswa dalam
ilmiah, melatih kemampuan intelektualnya. Menurut kelompok. Instrumen penelitian adalah rencana
Yarden et al. (2008) menyatakan perlu asesmen autentik pembelajaran (RP), lembar kerja siswa (LKS), tes tertulis
sehingga siswa mendapat penilaian sebenarnya sesuai obyektif, lembar pengamatan keterampilan dan sikap.
pengalaman yang dialami selama belajar. Tes tertulis obyektif digunakan untuk mengukur
Dengan mengembangkan keterampilan- pemahaman konsep siswa sedangkan lembar
keterampilan memproseskan perolehan anak akan pengamatan keterampilan dan sikap ilmiah digunakan
mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan
dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan laboratorium. Uji coba instrumen berupa LKS
sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, diseminarkan di depan guru-guru kemudian dilengkapi
keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak kekurangannya dari masukkan yang diberikan selama
penemuan dan pengembangan fakta dan konsep, serta seminar. Soal tes obyektif diujicobakan pada siswa yang
penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai telah menerima materi fisika suhu dan pemuaian yaitu
(Semiawan, 1992). kelas VIII semester II. Hasil uji coba dianalisis
Pembelajaran dengan kegiatan laboratorium berdasarkan validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan
sesuai dengan teori belajar konstruktivisme. Dalam daya pembeda.
kegiatan laboratorium siswa dapat membangun Data pada penelitian ini diperoleh melalui
pengetahuan atau pemahaman konsep sesuai data dan observasi/pengamatan dan tes. Lembar pengamatan
fakta yang diperoleh melalui kegiatan percobaan. digunakan untuk mengamati ketrampilan dan sikap
Kegiatan laboratorium memiliki peran penting dalam ilmiah yang muncul ketika siswa melakukan percobaan.
pendidikan sains, karena dapat memberikan metode Tes yang digunakan dua macam yaitu pre-tes dan post-
ilmiah siswa. Siswa dilatih untuk membaca data secara tes. Pre-tes diberikan sebelum siswa melakukan
objektif dan dari data yang diperoleh yang berupa fakta- percobaaan untuk mengetahui pengetahuan awal yang
fakta maka dapat diambil suatu kesimpulan. Melalui telah dimiliki oleh siswa. Post-tes diberikan setelah
percobaan-percobaan dalam kegiatan laboratorium percobaan untuk mengetahui pemahaman konsep siswa
siswa akan melaksanakan proses belajar aktif setelah melaksanakan percobaan dengan
memperoleh pengalaman langsung sehingga siswa pendekakatan keterampilan proses. Data penelitian
dapat mengembangkan berbagai keterampilan dikumpulkan sebelum percobaan, selama percobaan,
psikomotorik yang sebenarmya sudah ada dalam diri dan setelah percobaan.
siswa tersebut. Rata-rata skor pre-tes dan post-tes yang
Permasalahan pada penelitian ini, apakah menunjukkan penguasaan konsep serta rata-rata skor
pembelajaran sains dengan pendekatan keterampilan keterampilan awal dan akhir serta aspek psikomotorik
proses dapat meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dianalisis untuk menentukan faktor gain atau pening-
menengah pertama kelas VII semester I SMP Negeri 24 katannya dengan rumus Hake (1998),
Semarang pada pokok bahasan suhu dan pemuaian.
Untuk memperjelas rumusan masalah di atas, perlu
ditegaskan bahwa hasil belajar pada penelitian ini
S post -
S pre
g = (1)
mencakup pemahaman konsep (pengetahuan), 100% - S pre
keterampilan, dan sikap ilmiah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
44 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 42-46

dimana adalah peningkatan hasil belajar, Spre-test adalah keterampilan awal (percobaan I) dan keterampilan akhir
rata-rata pre-test atau keterampilan awal (%), dan Spost-test (percobaan II) dianalisis dengan persamaan 1, hasilnya
adalah rata-rata post-test atau keterampilan akhir (%). rata-rata keterampilan awal: S pre = 54%; rata-rata
Hake mengklasifikasikan gain ke dalam g-tinggi:..........
g ³ 0.7; keterampilan akhir: S post = 76%; Hake's normalized gain:
g-sedang 0.7 > g ³ 0.3; dan g- rendah: g < 0 .3 . g = 0,478 dan kriteria gain: sedang (medium gain).
......
Hasil pengamatan sikap ilmiah yang berhasil Perbandingan hasil pengamatan keterampilan
diperoleh dalam proses pembelajaran dianalisis dengan proses yang dikembangkan pada percobaan I dan II
persamaan 1.1 untuk melihat perubahannya. ditunjukkan pada Gambar 1. Melalui kegiatan
laboratorium inkuiri pada pembelajaran sains dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN pendekatan keterampilan proses muncul sikap ilmiah
siswa. Pengamatan sikap ilmiah dilakukan sebanyak dua
Pre-tes dan post-tes digunakan untuk mengukur kali dan secara singkat perbandingan hasil yang muncul
pemahaman konsep yang dimiliki siswa. Pre-test pada percobaan I dan percobaan II pada tabel 3.
bertujuan untuk mengetahui pemahaman awal yang Hasil yang diperoleh dari pengamatan sikap ilmiah
telah dimiliki siswa tentang materi suhu dan pemuaian. dianalisis dengan persamaan 1.1 sebagai berikut. Rata-
Post-test bertujuan untuk mengetahuai pemahaman rata keterampilan awal: ........ S pre = 55%; rata-rata
konsep yang dimiliki siswa setelah melakukan keterampilan akhir: S post = 67 %; Hake's normalized gain:
pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses = 0,267 dan kriteria gain: rendah (low gain).
melalui kegiatan laboratorium. Perbandingan hasil pengamatan sikap ilmiah
Hasil yang diperoleh dari pre-tes dan post-tes yang muncul pada percobaan I dan II dinyatakan pada
yang menunjukan pemahaman konsep dianalisis Gambar 2.
dengan persamaan 1 sebagai berikut (n=39; satu siswa Secara umum terjadi peningkatan hasil belajar
tidak mengikuti pre-tes dan post-test). Rata-rata pre-test: kognitif, psikomotorik, dan sikap pada pembelajaran
S post = 61, 73 %; Hake's sains dengan pendekatan keterampilan proses. Pada
S pre = 51 %; rata-rata post-tes;..........
.........
normalized gain:..... g = 0, 219; dan kriteria gain: rendah aspek pemahaman konsep untuk pretes diperoleh hasil
(low gain). rata-rata sebesar 51% dan untuk post-test dipeoleh hasil
Data hasil pengamatan keterampilan proses yang rata-rata sebesar 61,73%. Setelah dilakukan analisis
dikembangkan saat implementasi LKS inkuiri dan lembar peningkatan dengan persamaan 1 diperoleh g-faktor
pengamatan pada percobaan I diperoleh hasil seperti sebesar 0,219. Hasil ini menunjukan peningkatan hasil
pada Tabel . belajar aspek pemahaman konsep dan termasuk dalam
Data hasil percobaan II saat implementasi LKS kriteria rendah (low-gain).
inkuiri dan lembar pengamatan ketrampilan proses yang Peningkatan yang rendah (low gain) bisa
dikem-bangkan diperoleh hasil yang ditunjukkan Tabel 2. disebabkan karena adanya perubahan materi suhu dan
Data yang diperoleh dari pengamatan pemuaian yang semula diterapkan di kelas VIII semester

Tabel 1. Hasil pengamatan keterampilan proses yang yang dikembangkan pada percobaan I suhu dan
pengukurannya
Aspek keterampilan yang dikembangkan Skor (%)
Menyiapkan alat dan bahan percobaan 78
Menyusun dan melaksanakan percobaan 53
Melakukan pengamatan dan pengukuran 59
Membaca hasil pengukuran/ pengamatan dan membuat tabel 56
Menuliskan data hasil pengukuran/ pengamatan 72
Menyimpulkan hasil percobaan 41
Mengkomunikasikan hasil percobaan dan diskusi 16
Mengembalikan alat/ bahan percobaan 59
Persentase rata-rata 54

Tabel 2. Hasil pengamatan keterampilan proses yang yang dikembangkan pada percobaan II pemuaian berbagai
jenis zat.
Aspek keterampilan yang dikembangkan Skor (%)
Menyiapkan alat dan bahan percobaan 87,5
Menyusun dan melaksanakan percobaan 75,0
Melakukan pengamatan dan pengukuran 84,0
Membaca hasil pengukuran/ pengamatan dan membuat tabel 78,0
Menuliskan data hasil pengukuran/ pengamatan 91,0
Menyimpulkan hasil percobaan 66,0
Mengkomunikasikan hasil percobaan dan diskusi 47,0
Mengembalikan alat/ bahan percobaan 78,0
Persentase rata-rata 76,0
Y. Subagyo, dkk., - Pembelajaran dengan Pendekatan Keterampilan Proses Sains 45

Keterangan:
100 1. Menyiapkan alat dan bahan percobaan
80 2. Menyusun dan melaksanakan percobaan
Prosentase

3. Melakukan pengamatan dan pengukuran


60 Keterampilan Awal
4. Membaca hasil pengukuran/ pengamatan dan membuat tabel
40 Keterampilan Akhir 5. Menuliskan data hasil pengukuran/ pengamatan
20 6. Menyimpulkan hasil percobaan
2. Mengkomunikasikan hasil percobaan dan diskusi
0
1 2 3 4 5 6 7 8
3. Mengembalikan alat/ bahan percobaan
Keterampilan Proses

Gambar 1. Grafik perbandingan hasil pengamatan keterampilan proses yang dikembangkan pada percobaan 1
dan percobaan II

Tabel 3. Perbandingan hasil pengamatan sikap pada percobaan I dan percobaan II


Skor (%)
Sikap Ilmiah
I II
Bekerja sama dalam kelompok 66 76
Peduli terhadap alat dan tempat percobaan 76 90
Menghargai pendapat orang lain 65 74
Berpendapat secara ilmiah dan kritis 19 25
Jujur 59 69
Persentase rata-rata 55 67

100

90

80 Keterangan:
70 1. Bekerja sama dalam kelompok
60 2. Peduli terhadap alat dan tempat
Sikap Ilmiah I percobaan.
%

50
Sikap Ilmiah II 3. Menghargai pendapat orang lain
40
4. Berpendapat secara ilmiah dan kritis
30 5. Jujur
20

10

0
1 2 3 4 5
Sikap Ilmiah
Gambar 2. Grafik perbandingan hasil pengamatan sikap ilmiah pada percobaan I dan percobaan II

I menjadi di kelas VII semester I sehingga secara mental karena siswa telah melakukan kegiatan yang sama pada
siswa belum terlalu siap dengan materi yang akan percobaan I yaitu dengan LKS inkuri dan kegiatan
dipelajarinya. laboratorium. Formulasi konsep fisika dapat
Aspek psikomotorik yang diamati yaitu memudahkan pemahaman dan pengembangan berpikir,
keterampilan-keterampilan mendasar yang sehingga meningkatkan pemahaman konsep (Slisko,
dikembangkan dalam pembelajaran sains fisika. Secara 2008).
umum terjadi peningkatan antara percobaan I dan Hasil pengamatan, keterampilan untuk
percobaan II. Pada saat percobaan II siswa semakin mengkomunikasikan hasil percobaan dan diskusi sangat
terbiasa dalam kegiatan laboratorium dengan rendah yaitu pada percobaan I sebesar 16% dan
pendekatan pembelajaran yang diterapkan dan meningkat pada percobaan II secara rata-rata menjadi
implementasi LKS inkuiri. Keterampilan proses yang 47%. Hal ini terjadi karena pada percobaan II peneliti
dikembangkan dan diamati dengan menggunakan memberikan bimbingan pada siswa untuk menuliskan
lembar pengamatan secara rata-rata mengalami hasilnya di papan tulis kemudian membacakannya.
peningkatan. Pada percobaan I diperoleh hasil rata-rata Peningkatan ini sesuai dengan hasil penelitian Aryanti
sebesar 54% dan percobaan II sebesar 76%. (2006) yang menyatakan keterampilan
Peningkatan yang terjadi sebesar 0,478 dan mengkomunikasikan pada siklus I sebesar 77,9%,
berada dalam kriteria sedang (medium-g). Hal ini terjadi meningkat pada siklus II sebesar 81,1%.
46 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 42-46

Lembar pengamatan hasil belajar afektif (sikap Proses Dalam Rangka KBK Untuk Meningkatkan
ilmiah) mencakup bekerja sama dalam kelompok, peduli Ketun-tasan Belajar Pada Pembelajaran Optika
terhadap alat dan tempat percobaan, menghargai Geometri Pada Siswa Kelas X SMA Negeri I
pendapat orang lain, berpendapat secara ilmiah dan Cepu Tahun Ajaran 2005/2006. Skripsi.
kritis, dan jujur. Pada percobaan I diperoleh hasil sebesar Semarang: FMIPA UNNES
55% sedangkan untuk percobaan II diperoleh hasil 67%. Hake, R.R. 1998. Interactive-Engagment vs Traditional
Setelah dianalisis dengan persamaan 1.1 diperoleh hasil Methods: A Six-Thousand-Student Survey of
0,267 dengan kriteria gain rendah (low-g). Pada Mechanics Test Data for Introductory Physics
pengamatan sikap ilmiah untuk berpendapat secara Courses. Am. J. Phys. 66: 64-74
ilmiah dan kritis sangat rendah sekali yaitu secara rata- Maloney, J. & Simon, S. 2007. Mapping Children's
rata mencapai 19% pada percobaan I dan meningkat Discussions of Evidence in Science to Assess
menjadi 25% pada percobaan II. Collaboration and Argumentation. Journal
Pembelajaran sekuensial melalui rekonstruksi International of Science Education, 28 (15): 1817-
ilmu pengetahuan merupakan teknik memudahkan 1841
penguasaan konsep (Viiri & Savinainen, 2008). Memes, W. 2000. Model Pembelajaran Fisika di SMP.
Pembelajaran sains dengan pendekatan keterampilan Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah
proses penting sekali untuk diterapkan karena Menengah (PGSM) IBRD
melibatkan siswa untuk aktif dan dapat meningkatkan Nurhadi dan Agus, G. 2003. Pembelajaran Kontekstual
hasil belajar siswa sesuai dengan tuntutan kurikulum (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan
yang dikembangkan. Implementasi LKS inkuiri Penerapannya Pada KBK. Malang: Universitas
membantu siswa dalam mempelajari konsep dan Negeri Malang
memberikan kesempatan pada siswa untuk berlaku Pusat Kurikulum, Departemen Pendidikan Nasional,
seperti ilmuwan sehingga memberikan pengalaman 2005. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
yang lebih mendalam tentang konsep sains fisika. untuk Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Senada dengan hasil penelitian ini, Wahyudi dan Tsanawiyah
Treagust (2004) menegaskan bahwa penguasaan fisika Semiawan, C. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses.
siswa SMP meningkat dengan menerapkan model Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
belajar praktik dan inkuiri. Siswa dalam pembelajaran Slisko, J. 2008. How can formulation of physics problems
juga memiliki kesempatan untuk mengkomunikasikan and exercises aid students in thinking about their
hasil percobaan yang telah dilakukan dalam kegiatan results? Lat. Am. J. Phys. Educ., 2(2): 137-142
laboratorium. Suskandani, E. 2001. Upaya Meningkatkan Pemahaman
Hukum Lenz Melalui Kegiatan Laboratorium di
SIMPULAN DAN SARAN SMUN 2 Semarang Kelas III IPA Cawu I Tahun
2000/2001. Skripsi. Semarang: FMIPA UNNES
Dari analisis dan pembahasan hasil penelitian Viiri, J. & Savinainen, A. 2008. Teaching-learning
dapat disimpulkan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan sequences: A comparison of learning demand
dengan pendekatan keterampilan proses pada pokok analysis and educational reconstruction. Lat. Am.
bahasan suhu dan pemuaian. Kriteria peningkatan hasil J. Phys. Educ., 2(2): 80-102
belajar pemahaman konsep rendah, psikomotorik yang Wahyudi & Treagust, D.F. 2004. An Investigation of
berupa keterampilan sedang, dan sikap ilmiah siswa Science Teaching Practices in Indonesian Rural
rendah. Selain itu, juga dapat memberikan pengalaman Secondary Schools. Research in Science
belajar secara langsung pada siswa melalui penggunaan Education, 34: 455-474
dan pengembangan keterampilan proses dan sikap Yaqin, A.E. 2005. Meningkatkan Kom-petensi Dasar “
ilmiah. Melaksanakan Penelitian Ilmiah Melalui Kegiatan
Saran yang dapat dirumuskan pada penelitian ini, Laboratorium Berbasis Inkuiri “ Bagi Siswa K e l a s
pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses II SMA. Skripsi. Semarang: FMIPA UNNES
dapat dijadikan alternatif untuk diterapkan karena dapat Yarden, A., Falk, H., Federico-Agraso, M., Jiménez-
meningkatkan hasil belajar siswa. Aleixandre, M.P., Norris, S.P. & Phillips, L.M. 2009.
Supporting Teaching and Learning Using
DAFTAR PUSTAKA Authentic Scientific Texts: A Rejoinder to Danielle
J. Ford., 39: 393-395
Aryanti, I. 2006. Penerapan Pendekatan Keterampilan