Anda di halaman 1dari 12

PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN, DIREKTIF, NON DIREKTIF

DAN KOLABORATIF DAN HAL-HAL YANG TERKAIT

MAKALAH

Sebagai Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Administrasi Supervisi Pendidikan

Oleh Kelompok 5
HEKSA ARI YUSTIANI (NPM. 19001848)
YUNI DWI LESTARI (NPM. 19001867)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PROGRAM PASCASARJANA
IAIN METRO LAMPUNG
2019

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur selalu terucap kepada Allah SWT atas segala
limpahan nikmat dan karunia-Nya sehingga makalah dengan judul “Pendekatan
Supervisi Pendidikan, Direktif, Non Direktif dan Kolaboratif dan Hal-Hal yang
Terkait” dapat terselesaikan dengan baik.

Tak lupa ucapan terima kasih terhatur kepada Dr. Ratu Vina Rohmatika,
M.Pd sebagai dosen pengampu mata kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan
dalam perkuliahan pasca sarjana IAIN Metro.

Makalah ini membahas mengenai pendekatan-pendekatan dalam supervisi


pendidikan.Pemakalah menyadari masih banyak sekali hal yang belum tercakup
dalam pembahasan ini, baik mengenai detail pembahasan, kurangnya referensi, dan
juga pengolahan pengetahuan yang kurang baik. Oleh karena itu pemakalah sangat
mengharap peran serta dari rekan-rekan sekalian untuk melengkapi,
menyempurnakan ataupun kritikan demi lebih bermanfaatnya makalah ini

Akhir kata, saran dan kritik membangun sangat diharapkan guna


memperluas dan menambah pemahaman serta memperdalam keilmuan kita
khususnya dalam materi yang kita bahas dalam makalah ini. Semoga memberikan
manfaat. Aamiin.

Kelompok 5
1. Heksa Ari Yustiani
2. Yuni Dwi Lestari

ii
DAFTAR ISI

Halaman
Judul ................................................................................................................ i
Kata Pengantar ................................................................................................ ii
Daftar isi .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1


A. Latar belakang Masalah ...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 4


A. Pendekatan Direktif ............................................................................. 5
B. Pendekatan Non Direktif ..................................................................... 5
C. Pendekatan Kolaboratif ....................................................................... 6
D. Hal-hal lain yang terkait dengan pendekatan supervise akademik ..... 6

BAB III SIMPULAN ..................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat


menuntut lembaga pendidikan untuk lebih dapat menyesuaikan dengan arus
perkembangan tersebut. Lulusan suatu sekolah harus sesuai dengan tuntutan
perkembangan yang ada. Personil sekolah yang memadai kemampuannya
menjadi perhatian utama bagi setiap lembaga pendidikan.

Diantara personil yang ada, guru merupakan jajaran terdepan dalam


menentukan kualitas pendidikan. Guru setiap hari bertatap muka dengan siswa
dalam proses pembelajaran. Karena itu guru yang berkualitas sangat
dibutuhkan oleh setiap sekolah.

Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah memerlukan pendidikan


profesional dan sistematis dalam mencapai sasarannya. Efektivitas kegiatan
kependidikan di suatu sekolah dipengaruhi banyaknya variabel (baik yang
menyangkut aspek personal, operasional, maupun material) yang perlu
mendapatkan pembinaan dan pengembangan secara berkelanjutan. Proses
pembinaan dan pengembangan keseluruhan situasi merupakan kajian supervisi
pendidikan.

Kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah memiliki kewajiban


membina kemampuan para guru. Dengan kata lain kepala sekolah hendaknya
dapat melaksanakan supervisi secara efektif. Sementara ini pelaksanaan
supervisi di sekolah seringkali masih bersifat umum. Aspek-aspek yang
menjadi perhatian kurang jelas, sehingga pemberian umpan balik terlalu umum
dan kurang mengarah ke aspek yang dibutuhkan guru. Sementara guru

1
sendiripun kadang kurang memahami manfaat supervisi. Hal ini disebabkan
tidak dilibatkannya guru dalam perencanaan pelaksanaan supervisi. Padahal
proses pelaksanaan supervisi yang melibatkan guru sejak tahap perencanaan
memungkinkan guru mengetahui manfaat supervisi bagi dirinya.

Supervisi merupakan pendekatan yang melibatkan guru sejak tahap


perencanaan. Supervisi merupakan jawaban yang tepat untuk mengatasi
kekurangtepatan permasalahan yang berhubungan dengan guru pada
umumnya. Kepala sekolah diharapkan memahami dan mampu melaksanakan
supervisi karena keterlibatan guru sangat besar mulai dari tahap perencanaan
sampai dengan analisis keberhasilannya. Salah satu usaha untuk meningkatkan
kualitas guru ialah melalui proses pembelajaran dan guru merupakan
komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan secara
terus menerus agar dapat melaksanakan fungsinya secara profesional
(Sahertian, 2000:1).

Pelaksanaan supervisi yang diasumsikan merupakan pelayanan


pembinaan guru diharapkan dapat memajukan dan mengembangkan
pengajaran agar guru dapat mengajar dengan baik dan berdampak pada belajar
siswa. Supervisi berfungsi membantu guru dalam mempersiapkan pelajaran
dengan mengkoordinasi teori dengan praktik. Pandangan guru terhadap
supervisi cenderung negatif yang mengasumsikan bahwa supervisi merupakan
model pengawasan terhadap guru dengan menekan kebebasan guru untuk
menyampaikan pendapat.

Hal ini dapat dipengaruhi sikap supervisor seperti bersikap otoriter,


hanya mencari kesalahan guru, dan menganggap lebih dari guru karena
jabatannya. Kasus guru senior cenderung menganggap supervisi merupakan
kegiatan yang tidak perlu karena menganggap bahwa telah memiliki
kemampuan dan pengalaman yang lebih. Self evaluation merupakan salah satu
kunci pelayanan supervisi karena dengan self evaluation supervisor dan guru

2
dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga
dimungkinkan akan memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan
tersebut secara terus menerus. Berdasarkan latar belakang di atas maka yang
akan dikaji adalah tentang konsep supervisi, proses pelaksanaan supervisi,
tujuan dan fungsi supervisi, dan teknik dan pendekatan dalam kegiatan
supervisi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis dalam


menyusun makalah ini dapat mengambil beberapa rumusan masalah yaitu:
1. Pendekatan direktif
2. Pendekatan non direktif
3. Pendekatan kolaboratif
4. Hal-hal yang terkait dengan pendekatan supervisi pendidikan

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pendekatan direktif dalam supervisi pendidikan.
2. Mengetahu pendekatan non direktif dalam supervisi pendidikan.
3. Mengetahui pendekatan kolaboratif dalam supervisi pendidikan.
4. Mengetahui hal-hal yang terkait dengan supevisi pendidikan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

Supervisi berasal dari kata supervision yang terdiri dari dua kata yaitu super
yang berarti lebih dan vision yang berarti melihat atau meninjau.1 Secara
terminologis supervisi sering diartikan sebagai serangkaian usaha bantuan pada
guru. Sehingga supervisi secara etimologis mempunyai konsekuensi disamakannya
pengertian supervisi dengan pengawasan dalam pengertian lama, berupa inspeksi
sebagai kegiatan kontrol yang otoriter.

Jadi supervisi adalah segala usaha dari petugas sekolah dalam memimpin
guru dan petugas lainnya dalam memperbaiki pembelajaran yang mencakup
menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru, merevisi
tujuan pendidikan lembaga pendidikan, bahan, metode, dan evaluasi pembelajaran.2

Seorang guru yang mendapat layanan supervisi akan mengalami proses


belajar. Ia akan melakukan dari pengalaman mengajarnya dan dengan bantuan
supervisor berusaha untuk memperbaiki prilaku mengajarnya. Dengan demikian,
teknik supervisi yang dipakai untuk membantu guru harus didasarkan kepada teori
dan prinsip belajar.

Pengetahuan tentang teori belajar ini dapat diperoleh dari disiplin ilmu
psikologi belajar. Di bawah ini diuraikan satu persatu pendekatan dan teknik dalam
supervisi yang didasarkan atas aliran-aliran psikologi yang menjelaskan tentang
proses belajar.

1
Prof.Drs. Piet A.Sahertian, Konsep Dasar Dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Jakarta:
Rineka cipta, 2008), h. 16
2
Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty, Kepemimpinan Dan Supervisi Pendidikan,
(Jakarta : bina aksara ,cet 2 1988), h. 15

4
1. Pendekatan Direktif

Pendekatan direktif disebut juga pendekatan langsung. Yang dimaksud


dengan pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang
bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu
pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini
berdasarkan pemahaman terhadap psikologi behaviorisme.

Prinsip behaviorisme ialah bahwa segala perbuatan berasal dari refleks,


yaitu respon terhadap rangsangan / stimulus. Oleh karena guru ini mengalami
kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bereaksi. Supervisor
dapat menggunakan penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment).
Pendekatan seperti ini dapat dilakukan dengan perilaku supervisor seperti :
menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, memberi contoh, menetapkan tolak
ukur, menguatkan.

2. Pendekatan Non Direktif

Pendekatan non direktif disebut juga pendekatan tidak langsung. Yang


dimaksud pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan
terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor tidak
secara langsung menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu
mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan guru-guru. Ia memberi
kesempatan sebanyak mungkin kepada guru untuk mengemukakan
permasalahan yang mereka alami. Pendekatan non-direktif berdasarkan
pemahaman terhadap psikologi humanistik.

Psikologi Humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu.


Oleh karena pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyak
mendengarkan permasalahan yang dihadapi guru-guru. Guru mengemukakan
masalah, Supervisor mencoba mendengarkan, memahami apa yang dialami

5
guru-guru. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah seperti:
mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, memecahkan
masalah.

3. Pendekatan Kolaboratif

Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara


pendekatan direktif dan non-direktif menjadi cara pendekatan baru. Pada
pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama sepakat untuk
menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses
percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Pendekatan ini berdasarkan
pada psikologi Kognitif.

Psikologi Kognitif beranggapan bahwa belajar adalah hasil paduan


antara kegiatan individu dengan lingkungan pada gilirannya nanti berpengaruh
dalam pembentukan aktivitas individu. Dengan demikian pendekatan dalam
supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke
atas. Perilaku supervisor dalam pendekatan kolaboratif seperti: menyajikan,
menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, negosiasi.

4. Hal-hal yang terkait dengan pendekatan supervisi pendidikan

Dalam pendekatan supervisi juga berkembang adanya pendekatan


humanistik, ini timbul dari keyakinan bahwa guru tidak dapat diperlakukan
sebagai sebagai alat semata- mata untuk meningkatkan kualitas belajar
mengajar. Guru bukan masukan mekanistik dalam proses pembinaan, dan tidak
sama dengan masukan sistem lain yang bersifat kebendaan.3

3
http://farkhanbanget.weebly.com/knowledges/pendekatan-supervisi-pendidikan
diunggah Kamis, 12 September 2019 Pukul 19.50 WIB.

6
Dalam proses pembinaan, guru mengalami perkembangan secara terus
menerus, dan program supervisi harus dirancang untuk mengikuti pola
perkembangan itu. belajar harus dilakukan melalui pemahaman tentang
pengalaman nyata yang diambil secara nyata.

Teknik supervisi yang digunakan oleh para supervisor yang


menggunakan humanistik tidak mempunyai format yang standar, tetapi
tergantung pada kebutuhan guru. Mungkin ia hanya melakukan observai tanpa
melakukan analisis dan interpretasi, mungkin ia hanya mendengar tanpa
membuat observasi atau mengatur penataan dengan atau tanpa memberi
sumber dan bahan belajar yang diminta guru.

7
BAB III
SIMPULAN

Dari pembahasan di atas bisa kami simpulkan bahwa:

1. Pendekatan Direktif yaitu cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat


langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh
perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan
pemahaman terhadap psikologi behaviorisme.

2. Pendekatan Non Direktif yaitu cara pendekatan terhadap permasalahan


yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor tidak secara langsung
menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif
apa yang dikemukakan guru-guru. Ia memberi kesempatan sebanyak
mungkin kepada guru untuk mengemukakan permasalahan yang mereka
alami. Pendekatan non-direktif berdasarkan pemahaman terhadap psikologi
humanistik.

3. Pendekatan Kolaboratif yaitu cara pendekatan yang memadukan cara


pendekatan direktif dan non-direktif menjadi cara pendekatan baru. Pada
pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama sepakat untuk
menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses
percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Pendekatan ini
berdasarkan pada psikologi Kognitif.

8
DAFTAR PUSTAKA

Prof.Drs. Piet A.Sahertian, Konsep Dasar Dan Teknik Supervisi Pendidikan,


(Jakarta: Rineka cipta, 2008)

Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty, Kepemimpinan Dan Supervisi


Pendidikan, (Jakarta : bina aksara ,cet 2 1988.

http://farkhanbanget.weebly.com/knowledges/pendekatan-supervisi-pendidikan
diunggah Kamis, 12 September 2019 Pukul 19.50 WIB.