Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh karena ada
penyebabnya, sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan, agar untuk selanjutnya dengan
tindakan korektif yang ditunjukan kepada penyebab itu serta dengan upaya preventif lebih lanjut
kecelakaan dapat dicegah dan kecelakaan tesebut tidak dapat diulang kembali. Di seluruh dunia,
terdapat lebih dari 2,6 milyar pekerja dan tenaga kerja yang terus-menerus berkembang. Sekitar
75% nya merupakan pekerja di negara sedang berkembang yang risiko di tempat kerjanya jauh
lebih parah. Setiap tahun terdapat sekitar 250 juta kasus cedera akibat kerja yang mengakibatkan
330.000 kematian.

Kecelakaan Kerja
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada
perusahaan. Hubungan kerja dapat berarti bahwa kecelakaan itu terjadi karena pekerjaan atau
pada waktu melaksanakan pekerjaan. Kadang-kadang kecelakaan akibat kerja diperluas ruang
lingkupnya, sehingga meliputi juga kecelakaan-kecelakaan tenaga kerja yang terjadi pada saat
perjalanan atau transpor ke dan dari tempat kerja.1

Sedangkan pengertian kecelakaan kerja yang tercantum dalam petunjuk teknis


penyelesaian jaminan kecelakaan kerja BPJS Ketenagakerjaan adalah kecelakaan yang terjadi
berhubung dengan hubungan kerja termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja,
demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat
kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. Suatu kasus dinyatakan
sebagai kasus kecelakaan kerja apabila terdapat unsur ruda paksa yaitu cidera pada tubuh
manusia akibat suatu peristiwa atau kejadian (Seperti terjatuh, terpukul, tertabrak, dan lain-lain).2

Berdasarkan Frank Bird Jr, definisi kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak
diinginkan yang terjadi dan menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Tingkat
kecelakaan dapat dibahagikan kepada 3 jenis :

 Accident : kejadian yang tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian baik


bagi manusia maupun terhadap harta benda

 Incident : kejadian yang tidak diinginkan yang belum menimbulkan kerugian.

 Near miss : kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini hampir
menimbulkan kejadian incident maupun accident.1

Prinsip 7 langkah diagnosis


1
Penegakan diagnosis penyakit akibat kerja dilakukan dengan menggunakan pendekatan
Prinsip 7 Langkah Diagnosis Akibat Kerja agar dapat memastikan penyebab penyakit berasal
dari pekerjaan baik dari proses, bahan, alat, dan perilaku maupun lingkungan kerja. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Penentuan Diagnosis Klinis

Langka ini dilakukan oleh dokter dan/atau dokter spesialis klinis terkait penyakitnya. Diagnosis
klinis harus ditegakkan terlebih dahulu dengan melakukan:
a. Anamnesa

b. Pemeriksaan fisik

c. Bilak diperlukan lakukan pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan khusus.

Setelah diagnosis ditegakkan kemudian lakukan langkah selanjutnya.


1. Penentuan pajanan yang dialami pekerja ditempat kerja

Diagnosis klinis dapat disebabkan oleh satu atau beberapa pajanan yang dialami oleh pekerja,
sehingga perlu dicari semua pajanannya.
 Penentuan pajanan yang dialami pekerja di tempat kerja dilakukan dengan anamnesa
yang lengkap pekerjaan pasien, mencakup:

a. Deskripsi semua pekerjaan secara kronologis dan pajanan yang dialami (pekerjaan
terdahulu sampai saat ini)

b. Periode waktu melakukan masing-masing pekerjaan

c. Produk yang dihasilkan

d. Bahan yang digunakan

e. Cara bekerja

f. Proses kerja

g. Riwayat kecelakaan kerja

h. Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan atau upaya perlindungan lain yang telah
dilakukan

 Anamnesa tersebut dapat ditunjang dengan data yang objektif, seperti informasi bahan
dan alat yang digunakan saat bekerja, catatan perusahaan mengenai informasi pajanan
atau kunjungan ke tempat kerja.

1. Penentuan hubungan antara pajanan dengan diagnosis klinis

2
Langkah selanjutnya menentukan apakah ada hubungan antara diagnosis klinis dan pajanan yang
dialami pasien.
 Identifikasi hubungan penyakit yang dialami (diagnosis klinis) dengan pajanan yang ada
didasarkan pada evidence based,yang mana dapat mengacu pada Occupational Disease
atau data lainnya.

 Hubungan pajanan dengan diagnosis klinis dipengaruhi oleh waktu timbulnya gejala
setelah terpajan oleh bahan tertentu.

 Umumnya penyakit lebih sering timbul apabila berada ditempat kerja dan berkurang saat
libur atau cuti.

 Umumnya terdapat pekerja dengan pajanan yang sama menderita penyakit serupa.

 Hasil pemeriksaan kesehatan prakerja, berkala dan purna kerja dapat digunakan sebagai
salah satu data untuk menentukan penyakit berhubungan dengan pekerjaannya.

1. Penentuan besarnya pajanan

Langkah selanjutnya menentukan besarnya pajanan, apakah cukup untuk menimbulkan penyakit
tersebut.
 Penentuan besarnya pajanan dilakukan melalui anamnesis tentan pekerjaan yang
lengkap, mencakup:

a. Jumlah jam terpajan perhari.

b. Masa kerja

c. Pemakaian APD

d. Besarna pajanan secara kualitatif dan/atau kuantitatif

e. Ada kecukupan besar pajanan yang menyebankan adanya diagnosa klinis

 Anamnesa tersebut dapat ditunjang dengan data yang objektif, sperti catatan perusahaan
mengenai informasi tersebut diatas dan hasil biomonitoring

 Penentuan besarnya pajanan juga dapat dilakukan dengan melihat referensi karateristik
besarnya pajanan pada industri atau pekerjaan tertentu, dosis minimal dan masa kerja
minimal.

 Apabila penyakit yang dialami pekerja disebabkan oleh beberapa pajanan sekaligus,
maka besarnya pajanan tidak bisa dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) saja,
tetapi perlu juga melihat efek saling menguatkan beberapa pajanan dalam menimbulkan
penyakit.

1. Penentuan faktor individu yang berperan


3
Langkah selanjutnya menentukan adanya faktor individu yang dapat menjadi perancu.
 Fakktor individu yang berperan terhadap timbulnya penyakit antara lain: jenis kelamin,
usia, kebiasaan, riwayat penyakit keluarga (genetik), riwayat atopi, penyakit penyerta.

 Adanya faktor individu dapat menjadi perancu diagnosis penyakit akibat kerja, namun
belum tentu meniadakan adanya penyakit akibat kerja. Sehingga interpretasi langka ini
harus dilakukan secara hati-hati oleh dokter yang memiliki kompetensi dalam diagnosis
penyakit akibat kerja.

1. Penentuan faktor lain diluar tempat kerja

Langka selanjutnya menentukan faktor lain diluar tempat kerja yang dapat menjadi perancu.
 Faktor lain di luar tempat kerja yang dapat menjadi perancu, diantaranya seperti hobi dan
kegiatan lain yang dilakukan diluar pekerjaan.

 Adanya faktor lain diluar tempat kerja dapat menjadi perancu diagnosis penyakit akibat
kerja, namun belum tentu meniadakan adanya penyakit akibat kerja. Sehingga interpretasi
langkah ini harus dilakukan secara hati-hati oelh dokter yang memiliki kompetensi dalam
diagnosis penyakit akibat kerja.

1. Penentuan diagnosis okupasi

Setelah melakukan analisis 6 langkah diatas, maka dapat disimpulkan penyakit yang diderita
oleh pekerja adalah penyakit akibat kerja atau bukan.3
BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan)


merupakan program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi
risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraan nya menggunakan mekanisme asuransi
sosial. Sebagai Lembaga Negara yang bergerak dalam bidang asuransi sosial BPJS
Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT Jamsostek (Persero) merupakan pelaksana undang-
undang jaminan sosial tenaga kerja.2

BPJS Ketenagakerjaan sebelumnya bernama Jamsostek (jaminan sosial tenaga kerja),


yang dikelola oleh PT. Jamsostek (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS,
PT. Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari 2014. BPJS
Kesehatan dahulu bernama Askes bersama BPJS Ketenagakerjaan merupakan program
pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diresmikan pada tanggal 31
Desember 2013. Untuk BPJS Kesehatan mulai beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2014,
sedangkan BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi sejak 1 Juli 2015. 2

4
Jaminan Kecelakaan Kerja

Program dari jaminan kecelakaan kerja adalah memberikan perlindungan atas risiko-
risiko kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam
perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh
lingkungan kerja.2

Untuk kecelakaan kerja yang terjadi sejak 1 Juli 2015, harus diperhatikan adanya masa
kadaluarsa klaim untuk mendapatkan manfaat. Masa kadaluarsa klaim selama selama 2 (dua)
tahun dihitung dari tanggal kejadian kecelakaan. Perusahaan harus tertib melaporkan baik secara
lisan (manual) ataupun elektronik atas kejadian kecelakaan kepada BPJS Ketenagakerjaan
selambatnya 2 kali 24 jam setelah kejadian kecelakaan, dan perusahaan segera menindaklanjuti
laporan yang telah dibuat tersebut dengan mengirimkan formulir kecelakaan kerja tahap I yang
telah dilengkapi dengan dokumen pendukung.2

Manfaat yang diberikan, antara lain;


1. Pelayanan kesehatan (perawatan dan pengobatan), antara lain:

 pemeriksaan dasar dan penunjang;

 perawatan tingkat pertama dan lanjutan;

 rawat inap dengan kelas ruang perawatan yang setara dengan kelas I rumah sakit
pemerintah;

 perawatan intensif (HCU, ICCU, ICU);

 penunjang diagnostic;

 pengobatan dengan obat generik (diutamakan) dan/atau obat bermerk (paten)

 pelayanan khusus;

 alat kesehatan dan implant

 jasa dokter/medis;

 operasi;

 transfusi darah (pelayanan darah); dan

 rehabilitasi medik.
1. Santunan berbentuk uang, antara lain:

5
a) Penggantian biaya pengangkutan peserta yang mengalami kecelakaan kerja/penyakit
akibat kerja, ke rumah sakit dan/atau kerumahnya, termasuk biaya pertolongan pertama pada
kecelakaan;.

 Angkutan darat/sungai/danau diganti maksimal Rp1.000.000,- (satu juta rupiah).

 Angkutan laut diganti maksimal Rp1.500.000 (satu setengah juta rupiah).

 Angkutan udara diganti maksimal Rp2.500.000 (dua setengah juta rupiah).


a) Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), dengan perincian penggantian, sebagai
berikut:

 6 (enam) bulan pertama diberikan sebesar 100% dari upah.

 6 (enam) bulan kedua diberikan sebesar 75% dari upah.

 6 (enam) bulan ketiga dan seterusnya diberikan sebesar 50% dari upah.
a) Santunan Kecacatan

 Cacat Sebagian Anatomis sebesar = % sesuai tabel x 80 x upah sebulan.

 Cacat Sebagian Fungsi = % berkurangnya fungsi x % sesuai tabel x 80 x upah sebulan.

 Cacat Total Tetap = 70% x 80 x upah sebulan.


a) Santunan kematian dan biaya pemakaman

 Santunan Kematian sebesar = 60 % x 80 x upah sebulan, sekurang kurangnya sebesar


Jaminan Kematian.

 Biaya Pemakaman Rp3.000.000,-.

 Santunan berkala selama 24 bulan yang dapat dibayar sekaligus= 24 x Rp200.000,- =


Rp4.800.000,-.
1. Program Kembali Bekerja (Return to Work) Berupa pendampingan kepada peserta
yang mengalami kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang berpotensi mengalami
kecacatan, mulai dari peserta masuk perawatan di rumah sakit sampai peserta tersebut dapat
kembali bekerja.
2. Kegiatan Promotif dan Preventif Untuk mendukung terwujudnya keselamatan dan
kesehatan kerja sehingga dapat menurunkan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
3. Rehabilitasi Berupa alat bantu (orthese) dan/atau alat ganti (prothese) bagi Peserta
yang anggota badannya hilang atau tidak berfungsi akibat Kecelakaan Kerja untuk setiap
kasus dengan patokan harga yang ditetapkan oleh Pusat Rehabilitasi Rumah Sakit Umum
Pemerintah ditambah 40% (empat puluh persen) dari harga tersebut serta biaya rehabilitasi
medik.

6
4. Beasiswa pendidikan anak bagi setiap peserta yang meninggal dunia atau mengalami
cacat total tetap akibat kecelakaan kerja sebesar Rp12.000.000,- (dua belas juta rupiah)
untuk setiap peserta.
5. Terdapat masa kadaluarsa klaim 2 tahun sejak kecelakaan terjadi dan tidak
dilaporkan oleh perusahaan.2
Tindakan perusahaan
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 03/MEN/98 tentang pelaporan dan
pemeriksaan kecelakaan pengurus atau pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi
ditempat kerja yang dipimpinnya. Laporan tertulis disampaikan kepada Kepala Kantor
Departemen Tenaga Kerja setempat dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam terhitung sejak
terjadinya kecelakaan dengan formulir laporan kecelakaan sesuai contoh bentuk 3 KK2 A
lampiran 1.4

Selain pengusaha harus mengetahui bahwa ada beberapa hal yang tidak boleh dijadikan
alasan dilakukannya PHK. Itu tercantum dalam Pasal 153 ayat (1) UU Ketenagakerjaan poin J
disebutkan bahwa pekerja/buruh dalam keadaan cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja, atau
sakit karena hubungan kerja yang menurut surat keterangan dokter yang jangka waktu
penyembuhannya belum dapat dipastikan tidak boleh dijadikan alasan dilakukannya PHK. Bila
perusahaan melakukan PHK dengan alasan di atas, maka PHK tersebut batal demi hukum dan
perusahaan/pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja/buruh yang bersangkutan.5

Pekerja yang mengalami cacat akibat korban kecelakaan kerja juga dapat bekerja kembali
dapat memilih pekerjaan yang dia mampu sesuai dari rekomendasi dokter perusahaan.
Rekomendasi ini berdasarkan kemampuan pekerja itu sendiri. Misalnya, pekerja operator alat
berat yang cacat bagian kaki karena diamputasi beralih ke pekerjaan lain yang tidak menggangu
aktivitas di perusahaan. Sesuai dengan UU no. 13 tahun 2003 pasal 19 yang berbunyi Pelatihan
kerja bagi tenaga kerja penyandang cacat dilaksanakan dengan memperhatikan jenis,derajat
kecacatan, dan kemampuan tenaga kerja penyandang cacat yang bersangkutan.

Pencegahan Kecelakaan
Sudah jelas bahwa kecelakaan menelan biaya yang sangat banyak. Dari segi biaya saja
dapat dipahami, bahwa kecelakaan harus dicegah.Pernyataan ini berbeda dari pendapat jaman
dahulu yang menyatakan bahwa kecelakaan adalah nasib.Kecelakaan dapat dicegah, asal ada
kemauan untuk mencegahnya.Dan pencegahan didasarkan atas pengetahuan tentang sebab-sebab
kecelakaan itu terjadi.Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang sebab-sebab

7
kecelakaan.Sebab-sebab kecelakaan di suatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisa
kecelakaan. Maka dari itu sebab-sebab dan cara analisanya harus betul-betul diketahui.
Pencegahan ditujukan kepada lingkungan, mesin-mesin alat-alat kerja, dan manusia.
Lingkungan harus memenuhi syarat-syarat diantaranya:6
1. Lingkungan kerja yang baik. Syarat-syarat lingkungan kerja meliputi:
a. Ventilasi.
b. Penerangan cahaya.
c. Sanitasi, dan
d. Suhu udara.
1. Pemeliharaan rumah tangga yang baik. Pemeliharaan rumah tangga perusahaan meliputi:
a. Penimbunan.
b. Pengaturan mesin.
c. Bejana-bejana dan lain-lain.
1. Keadaan gedung yang selamat, harus memiliki:
a. Alat pemadam kebakaran.
b. Pintu keluar darurat.
c. Lubang ventilasi.
d. Lantai yang baik.
1. Perencanaan yang baik, meliputi:
a. Pengaturan operasi.
b. Pengaturan tempat mesin.
c. Proses yang selamat.
d. Cukup alat-alat.
e. Cukup pedoman-pedoman pelaksanaan dan aturan-aturan.
Alat Pelindung Diri (APD)
Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan temapt mesin,
peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan.Namun kadang-kadang resiko terjadinya
kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan alat pelindung
diri / alat proteksi diri.Jadi penggunaan APD adalah alternatif terakhir yaitu pelengkapan dari
segenap upaya teknis pencegahan kecelakaan. APD harus memenuhi persyaratan:5
1. Enak (nyaman) dipakai;

2. Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan: dan

3. Memberikan perindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi.

Pakaian kerja harus dianggap suatu alat pelindung terhadap bahaya kecelakaan pakaian
pekerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya berlengan pendek, pas (tidak longgar) pada
dada atau punggung, tidak berdasi dan tidak ada lipatan atau kerutan yang mungkin

8
mendatangkan bahaya.Wanita seharusnya memakai celana panjang, jala atau ikat rambut, baju
yang pas dan tidak menggunakan periasan.Pakaian kerja sintetis hanya baik terhadap bahan
kimia korosit tetapi justru berbahaya pada lingkungan kerjadengan bahan yang dapat meledak
oleh aliran listrik sintetis. Alat proteksi diri beraneka ragam. Jika digolongkan menurut bagian
tubuh yang dilindunginya, maka jenis alat proteks diri dapat dilihat pada daftar sbb:

1. Kepala: pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai jenis yaitu topi pengaman
(safety helmt), topi atau tudung kepala, tutup kepala.

2. Mata: kacamata pelindung ( protective goggles)

3. Muka: pelidung muka (face shields)

4. Tangan dan jari: sarung tangan (sarung tangan dengan ibu jari terpisah, sarung tangan
biasa, gloves); peindung telapak tangang (handpad) dan sarung tangan yang menutupi
pergelangan tangan sampai lengan (sleeve).

5. Kaki: sepatu pengaman (safety shoes)

6. Alat pernapasan: respirator, masker, alat bantu pernafasan

7. Telinga: sumbat telinga, peutup telinga

8. Tubuh: pakaian kerja yang menurut keperluan yaitu pakaian kerja tahan panas, pakaian
kerja tahan dingin, pakaian kerja lainnya.

9. Lainnya: sabuk pengaman.7