Anda di halaman 1dari 1

Mata Kuliah : Teori & Kritik Arsitektur

Nama : Yericho Christian Tamamengka


NIM : 18211060

Arsitektur Barat, merupakan arsitektur yang asal muasalnya dari dataran Eropa, Amerika
dan sebagainya. DiIndonesia sendiri, Arsitektur Barat penerapannya lebih kepada
Bangunan kuno/tua (Heritage), karena telah teradaptasi dari Gaya Belanda (Eropa)
sehingga bangunan kuno/tua diIndonesia sangat berciri dengan gaya Arsitektur Barat.
Gaya Arsitektur Barat sendiri memiliki ciri dari material yang dipakai dalam Bangunan-
nya yaitu Beton (Concrete) karena, Arsitektur Barat mengedepankan pada Pendekatan
Sains (Ilmu Pengetahuan) sehingga menimbulkan spekulasi bahwa Keindahan (Estetika)
didalamnya hanya dirasakan melalui Alat Indera saja dan juga makna Ruang yang ada
hanya dipandang pada Materi – materi yang menyusun Arsitektur Barat itu sendiri.

Arsitektur Timur, merupakan arsitektur yang asal muasalnya dari dataran Asia, dan
sebagainya. Indonesia juga termasuk didalamnya tetapi memiliki ciri khas sendiri
sehingga dibedakan dengan Arsitektur Nusantara. Arsitektur Timur, sendiri masih
memiliki kesamaan dengan Arsitektur Barat, contoh hal-nya Arsitektur yang diterapkan
diJepang. Mereka masih menggunakan Beton (Concrete), tetapi ada perbedaan juga dari
sisi Pemaknaan Ruang yang memiliki rasa/taste berbeda dari Arsitektur Barat yang hanya
terlalu bergantung dengan Sains (Ilmu Pengetahuan). Keindahan didalam Arsitektur
Timur mempunyai cara tersendiri untuk menikmatinya, sehingga bukan hanya Alat Indera
saja yang dapat merasakannya, terdapat juga Mitos (Mythic) yang secara tidak langsung
tidak terdapat pada Arsitektur Barat. Tetapi, memiliki kesamaan dengan Arsitektur
Nusantara karena, Arsitektur Nusantara sendnri masih mengadaptasi hal – hal yang
berbau Mitos (Mythic) didalam pembangunan Bangunannya.

Arsitektur Nusantara, merupakan arsitektur yang asal muasalnya dari dataran Indonesia.
Bangunan – bangunan Arsitektur Nusantara mempunyai ciri khas sendiri yang tidak
dimiliki oleh Arsitektur Barat maupun Arsitektur Timur, yaitu pada cara pembangunan
yang selalu mengadaptasi hal – hal yang bebau Mitos (Mythic) sehingga untuk
menentukan/memakai bahan material, Manusia Nusantara tidak sembarangan
menentukannya. Pemaknaan ruangnya-pun beragam, tidak focus pada daerah – daerah
tertentu, jadi setiap daerah memiliki pemaknaan ruang tersendiri, itulah Arsitektur
Nusantara. Material yang digunakanpun mengadopsi material alam (Organik) sehingga
dapat didaur ulang, dan meminimalisir ke-egoisan dari bangunan terhadap alam