Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PERILAKU ORGANISASI

“Perbedaan Kelompok dan Tim”

Disusun oleh:
1. Delvia Ersa 1202017301
2. Rayhan Salsabila 1202017335
3. Reinhat 1202016231
4. Selfia Irmayanti 1202017250
5. Septiyana 1202017342
6. Suni Suhartini 1202017348

Kelompok 7

Manajemen D Semester 5, Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Yarsi
KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan kami semoga
makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman baik untuk pribadi, teman-
teman dan para pembaca.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta teman-
teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga
makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Kami menyadari sekali,
didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan,
baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-
teman sekalian, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun
untuk lebih menyempurnakan makalah kami kedepannya dapat lebih baik.

Jakarta, 15 Oktober 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kelompok adalah dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung,
yang bergabung untuk mncapai tujuan tertentu. Yang dapat bersifat formal ataupun informal.
Perkembangan Kelompok mempunyai lima tahapan model secara umumya itu pembentukan
(forming), keributan (storming), penormaan (norming), pelaksanaan (perfoming), dan
peristirahatan (adjourning). Tahap pertama dicirikan dengan ketidakpastian mengenai
maksud, struktur dan kepemimpinan kelompok. Tahap ini selesai ketika para anggota telah
mulai berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok. Tahap kedua,
keributan dicirikan oleh konflik dalam kelompok. Tahap ketiga dicirikan oleh hubungan yang
erat. Tahap keempat terjadi ketika kelompok sepenuhnya telah berfungsi. Tahapan yang
terakhir dicirikan dengan perhatian kepenyelesaian aktivitas bukan ke kinerja tugas.
Selain kelompok, dewasa ini sangat populer adalah adanya sebuah tim. Tim jelas
berbeda dengan kelompok. Katzenbach dan Smith mendefinisikan Tim sebagai sekelompok
kecil orang dengan keterampilan yang saling melengkapi yang berkomitmen untuk maksud
bersama, menghasilkan tujuan-tujuan, dan pendekatan bersama dimana mereka mengikatkan
diri dalam kebersamaaan tanggung jawab . “Bukti menunjukkan bahwa lazimnya kinerja tim
lebih unggul daripada kinerja individu bila tugas yang harus dilakukan menuntut
keterampilan, penilaian dan pengalaman yang bervariasi (Stephen, 2006: 355)”. Banyak
perusahaan yang menggunakan tim untuk meningkatkan kinerja karyawannya. Manajemen
telah menemukan bahwa tim lebih tanggap dan responsif terhadap masalah karena tim
memiliki kemampuan untuk cepat berkumpul, menyebar, fokus, dan membubarkan diri.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan pengertian kelompok dan tim ?


2. Apa saja teori pembentukan kelompok, ciri-ciri dan bentuk-bentuk kelompok ?
3. Apa saja manfaat kelompok ?
4. Apa saja jenis kelompok ?
5. Apakah perbedaan kelompok dan tim ?
1.3 Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perilaku dan Pengembangan
Organisasi sebagai bahan untuk diskusi mengenai Perbedaan Kelompok & Tim dan
bertujuan untuk:

1. Mengajak mahasiswa untuk mengetahui tentang kelompok dan tim


2. Menjelaskan proses terjadinya kelompok
3. Menguraikan atau menjelaskan perbedaan kelompok dan tim
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KELOMPOK

Menurut Wiraatmadja. Kelompok adalah suatu kumpulan manusia yang terdiri dari dua
orang atau lebih dengan pola interaksi yang nyata dan dapat membentuk satu kesatuan.

Menurut Mayor Polak pengertian kelompok berdasarkan persepsi adalah merupakan


sejumlah orang yang ada dalam hubungan antara
satu sama lain dan antara hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.

Menurut Johnson pengertian kelompok adalah sebagai dua individu atau lebih yang
berinteraksi melalui tatap muka (face to face interaction), dan masing-
masing menyadari keanggotaannya dalam kelompok, masing-masing menyadari
keberadaan anggota kelompok lainnya ,masing -masing menyadari saling ketergantungan
secara positif dalam mencapai tujuan bersama.

Menurut Soerjono Dirdjosisworo. Kelompok adalah individu –individu


yang hidup bersama dalam satu ikatan, yang dalam
satu ikatan terjadi interaksi sosial dan ikatan organisasi antar anggota masing-masing
kelompok sosial .

Menurut Wila Huky, bahwa kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari
dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi. Huky secara
lebih rinci menjelaskan beberapa ciri dasar suatu kelompok sebagai berikut:

1. Kelompok terdiri dari paling sedikit dua orang dan dapat terus bertambah menjadi
lebih dari dua.
2. Kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak dianggap terbentuk karena memenuhi
persyaratan jumlah.
3. Komunikasi dan interaksi yang merupakan unsur pokok suatu kelompok harus
bersifat timbal balik.
4. Kelompok-kelompok bisa bertahan sepanjang hidup atau dalam jangka panjang tetapi
juga bisa hanya dapat bertahansementara atau jangka pendek.
5. Minat dan kepentingan bersama merupakan dasar utama pembentukan kelompok.
Pembentukan kelompok dapat berdasarkan situasi yang beraneka ragam yang dalam
situasi tertentu manusia dituntut untuk bersatu.
Menurut Abdul Syani sejumlah rangkaian atau sistem yang dapat menyebabkan
kelompok dapat dikatakan berstruktur, yaitu:

1. Adanya sistem dari status-


status para anggotanya. Ia memiliki susunan pengurus yang merupakan suatu
rangkaian yang bersifat hierarkis.
2. Terdapat atau berlakunya nilai-nilai, norma-norma (kebudayaan) dalam
mempertahankan kehidupan kelompoknya yang berartu bahwa keberhasilan struktur
selalu diutamakan.
3. Terdapat peranan-peranan sosial (social role) yang merupakan aspek dinamis dari
struktur

2.2 Pengertian Perilaku Kelompok dalam Organisasi

1. Pengertian Kelompok
Secara etimologi, kelompok dalam bahasa inggris diartikan dengan “group”. Sedangkan
secara terminologi, banyak pendapat yang mendefinisikan mengenai kelompok. Menurut
Robbins dan Coulter, kelompok adalah, “dua atau lebih individu yang berinteraksi dan saling
bergantung yang bekerja sama untuk meraih tujuan tertentu”.

Menurut Karen, kelompok dapat didefinisikan sebagai, “A group is at least two


individuals gathered together because of some common bond, to meet members’ social and
emotional needs, or to fulfill some mutual purpose”. Kelompok adalah sekurang-kurangnya
dua orang yang berkumpul bersama karena suatu keadaan, untuk bertemu anggota
sosialnya dan kebutuhan emosi, atau untuk saling memenuhi tujuan.

Menurut Gito Sudarmo (2000:57), kelompok sebagai dua orang atau lebih berkumpul
dan berinteraksi serta saling tergantung untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Indrawijaya (1989:91), menyatakan bahwa dalam suatu kelompok terdapat


pengaruh dari pelaku organisasi (kelompok) terhadap perilaku perorangan.

Sedangkan menurut David dan Frank, terdapat 7 definisi tentang kelompok antara lain
sebagai berikut:

a. Sejumlah orang yang berkumpul bersama untuk mencapai tujuan


b. Kumpulan orang-orang yang saling bergantung dalam beberapa hal.
c. Sejumlah individu yang saling berinteraksi.
d. Suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih yang menganggap diri mereka
berada dalam satu kelompok.
e. Kumpulan individu yang interaksinya tersusun oleh peran dan norma.
f. Sekumpulan orang yang saling memengaruhi satu sama lain.
g. Sekumpulan individu yang mencoba untuk memuaskan beberapa kebutuhan pribadi melalui
kebersamaan mereka.
Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kelompok adalah dua orang atau
lebih yang berkumpul dan beriteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.

2.3 Teori Pembentukan Kelompok


Banyak teori yang mengembangkan suatu anggapan mengenai awal mula terbentuknya
suatu kelompok. Teori yang sangat dasar terbentuknya kelompok adalah mencoba
menjelaskan adanya afiliasi diantara orang-orang tertentu teori ini disebut Propinquiti atau
teori pendekatan, teori pendekatan ini ialah bahwa seseorang berhubungan dengan orang
lain disebabkan karena adanya kedekatan uang dan daerahnya (spatial and geographical
proximity).

Teori ini mencoba meramalkan bahwa seorang mahasiswa yang duduk berdekatan
dengan seorang mahasiswa lain di kelas akan mudah membentuk suatu kelompok di
bandingkan dengan mahasiswa yang duduknya berjauhan.

Sebenarnya ada beberapa hasil riset yang mendukung teori propinquiti. Tetapi usaha
tersebut hanya menjelaskan pada permukaan saja dari pembentukan kelompok. Hasil-hasil
riset itu kurang mencoba menganalisa tentang kekomplekan dari pembentukan kelompok,
sehingga memerlukan eksplorasi lebih lanjut.

Teori pembentukan kelompok yang lebih komprehensip adalah suatu teori yang berasal
dari George Homans. Teorinya berdasarkan pada aktivitas-aktivitas, interaksi-interaksi, dan
sentimen-sentimen (perasaan atau emosi). Tiga elemen ini salah satu berhubungan secara
langsung , dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Semakin banyak aktivitas-aktivitas seseorang dilakukan dengan orang lain (shared), semakin
beraneka interaksi-interaksinya, dan juga semakin kuat tumbuhnya sentimen-sentimen
mereka.
2) Semakin banyak interaksi-interaksi diantara orang-orang, maka semakin banyak
kemungkinan aktivitas-aktivitas dan sentimen yang ditularkan (shared) pada orang lain.
3) Semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain, dan semakin
banyak sentimen seseorang dipahami oleh orang lain, maka semakin banyak ditularkannya
aktifitas dan interaksi-interaksi.
Banyak teori lain yang berusaha untuk menjelaskan tentang pembentukan kelompok.
Pada umumnya teori-teori tersebut saling melengkapi, karena teori yang satu menerangkan
dari sisi yang berbeda dari teori yang lain sehingga perbedaan sisi tadi membuat teori-teori
pembentukan kelompok tersebut saling melengkapi.
2.4 Ciri – Ciri Berkelompok
Penelitian mendalam mengenai sifat-sifat dan hasil-hasil interaksi dalam
kehidupan (empat) ciri kelompok yaitu :

1. Terdapat dorongan (motif) yang sama pada individu-individu yang menyebabkan


terjadinya interaksi di antaranya ke arah tujuan yang sama.

2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu-individu yang satu


dari yang lain berdasarkan reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan-kecakapan yang
berbeda-beda antara individu yang terlibat di dalamnya. Oleh karea itu, lambat laun
mulai terbentuk pembagian tugas serta struktur tugas-tugas tertentu dalam usaha
bersama untuk mencapai tujuan yang sama itu. Di sisi lain, terbentuk pula norma-norma
yang kkhas Dalam interaksi kelompok kearah tujuannya sehinggga mulai terbentuk
kelompok sosial dengan cirri-ciri yang khas.

3. Pembentukan dan penegasan strukutr (organisasi) kelompok yang jelas dan terdiri
atas peranan-peranan dan kedudukan hierarkis yang lambat laun berkembang dengan
sendirinya dalam usaha pencapaian tujuan. Terjadi pembatasan yang jelas antara usaha-
usaha dan orang yang termasuk ingroup serta usaha-usaha dan orang outgroup.

4. Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma pedoman tingkah laku


anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam
merealisasikan tujuan kelompok. Norma-norma dan pedoman tingkah laku ini
sebagaiman juga struktur pembagian tugas anggotanya merupakan norma dan struktur
yang khas bagi kelompoknya itu.

Duncam dalam Sofyandi (2007:126), mengemukakan ada empat ciri utama kelompok, yaitu:

1) Common motive leading to group interaction.


Anggota suatu kelompok paling tidak harus mempunyai satu tujuan bersama.
2) Members who are affected differently by their interaction.
Hubungan dalam suatu kelompok harus memberikan pengaruh kepada setiap anggotanya.
Tingkat pengaruh tersebut diantara mereka dapat berbeda.
3) Group structure with diferent degress of status.
Dalam kelompok selalu ada perbedaan tingkat/status, karena akan selalu ada pimpinan dan
pengikut.
4) Standard norms and values.
Karena kelompok terbentuk untuk mencapai tujuan bersama, maka biasanya
pembentukannya disertai tingkah laku dan system nilai bersama. Anggota kelompok
diharapkan mengikuti pola tersebut.

Menurut Muhyadi, ada 5 alasan pembentukan kelompok yaitu :


a. Kebututuhan Interaksi sosial

Kebutuhan dalam melakukan interaksi sosial (baca pengertian interaksi sosial)


merupakan salah satu alasan pembentukan kelompok. Manusia merupakan makhluk sosial
yang akan selalu mencari hubungan dengan orang lain. Dengan membentuk kelompok,
manusia dapat menyalurkan keinginan mereka. Dalam berkelompok, manusia dapat berbagi
rasa dengan teman temannya dalam kelompok.

b. Kebutuhan akan keamanan

Semua orang memiliki kebutuhan pokok terhadap rasa aman terhadap sekitarnya.
Kebutuhan akan keamanan inilah yang memberikan mereka dorongan dan alasan untuk
membentuk kelompok. Dalam sebuah organisasi, para anggota ataupun karyawan dalam
perusahaan akan takut dipecat serta dipindahkan. Oleh karena itu, ketakutan akan tidak
amannya mereka maka mereka membentuk serikat buruh.

c. Kebutuhan akan status

Dalam membentuk kelompok, salah satu alasannya dapat berupa kebutuhan akan
status atau diakui oleh masyarakat dikarenakan mampu menjadi anggota sebuah kelompok.
Kelompok ini dapat merupakan kelompok pekerjaan dan identitas sosial lainnya yang akan
menaikkan status mereka dalam masyarakat.

d. Kedekatan tempat kerja

Sesuai dengan pengertiannya, memberi dan berbagi nilai dibutuhkan dimensi tempat
atau ruang yang dapat mendukung adanya interaksi atau komunikasi antara anggota atau
manusia. Dengan adanya kedekatan tempat kerja atau kedekatan ruang, mereka akan
membentuk kelompok baik secara sadar ataupun secara alamiah.

e. Tujuan bersama

Hal ini sering kita dengar dalam istilah kesamaan visi dan misi anggota. Yah betul,
manusia atau individu individu akan berkumpul dan membentuk suatu kelompok apabila
mereka memiliki tujuan yang sama. Tujuan tersebut mereka dapat deklarasikan dalam
bentuk tekstual ataupun hanya lewat mulut dan perilaku. Umumnya, kelompok yang
terbentuk dengan alasan ini, akan menjadi lebih besar tergantung dari tujuan yang ingin
dicapai oleh kelompok dan pengembangan tujuan itu sendiri.

Menurut (Gibson dkk, 1989, 205-207, Marvin E.Shaw, 1981, 81-97)

1. Pemuasan Kebutuhan
Hasrat untuk mendapatkan kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan dapat
merupakan daya motivasi yang kuat dalam pembentukan kelompok.

a. Keamanan
Individu yang berada dalam kelompok bisa mengurangi rasa tidak aman karena sendirian.
Individu akan merasa lebih kuat, percaya diri, dan tahan terhadap ancaman.

b. Sosial
Keinginan untuk termasuk dalam kelompok dan menjadi anggota kelompok menunjukkan
kebutuhan sosial semua orang.

c. Penghargaan
Dalam lingkungan tertentu, suatu kelompok yang bergengsi tinggi karena berbagai macam
alasan (missal; keahlian, teknis, kegiatan di luar, dsb).

2. Kedekatan dan Daya Tarik


Kedekatan adalah jarak fisik antara para karyawan yang melaksanakan pekerjaan ,
sedangkan daya tarik adalah menunjukkan daya tarik orang yang satu dengan lainnya
karena mereka mempunyai kesamaan persepsi,sikap,hasil karya atau motivasi.

3. Tujuan Kelompok
Untuk mencapai tujuan kelompok dan menyelesaikan tugas dibutuhkan lebih dari satu atau
dua orang. Ada kebutuhan mengumpulkan bakat, pengetahuan, atau kekuasaan untuk
menyelesaikan pekerjaan.

4. Alasan Ekonomi
Motif ekonomis menyebabkan terbentuknya kelompok, karena mereka menganggap akan
memperoleh keuntungan ekonomis yang lebih besar dari pekerjaan mereka, jika mereka
membentuk kelompok.

2.5 Bentuk – Bentuk Kelompok


Berdasarkan alasan terbentuknya, kelompok dapat dibagi menjadi dua yaitu dapat
berbentuk kelompok formal ataupun kelompok informal.

1. Kelompok Formal (Formal Group)

Kelompok formal adalah kelompok yang terbentuk karena tindakan manajerial


organisasi, dirancang secara intensional untuk mengarahkan anggotanya ke arah tujuan
organisasi. Dalam kelompok formal, perilaku anggota yang terikat didalamya ditentukan dan
diarahkan pada tujuan organisasional. Kelompok formal merupakan kelompok kerja yang
terbatas pada satu struktur organisasi dan memiliki rancangan penugasan kerja serta tugas-
tugas spesifik yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi. Manajer menciptakan
kelompok kerja untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan yang ditugaskan
kepadanya. Kelompok formal memunyai dua bentuk, antara lain:

a. Kelompok Komando (Command Group), merupakan kelompok yang ditentukan oleh


hubungan diantara individu yang menjadi bagian formal dari organisasi, mereka yang
memunyai legitimasi memberi perintah kepada yang lain.

b. Kelompok Tugas (Task Group), merupakan kelompok formal organisasional yang dibentuk
untuk melakukan tugas spesifik. Kelompok ini terdiri dari individu dengan minat dan
keahlian khusus dalam bidang tertentu tanpa memandang posisi mereka dalam hirarki
organisasi.
2. Kelompok Informal (Informal Group)

Kelompok informal adalah kelompok yang berkembang secara alamiah diantara


individu, tanpa pegarahan dari organisasi dimana mereka bekerja. Kelompok informal tidak
terstruktur maupun ditentukan secara organisasional. Kelompok informal terbentuk sebagai
konsekuensi dari tindakan individu sebagai tanggapan atas kebutuhan dan kontak sosial.
Kelompok ini merupakan kelompok sosial yang berkembang berdasarkan minat yang sama
dan pertemanan. Walau tidak dibentuk oleh manajemen, kelompok jenis ini dapat
memengaruhi kinerja individu dan organisasi. Dampaknya dapat bersifat positif atau negatif
tergantung tujuan dari para anggota kelompoknya. Kelompok formal memunyai dua bentuk,
antara lain:

a. Kelompok Minat (Interest Group) adalah kelompok pekerja yang berkumpul untuk
memuaskan minat atau kepentingan bersama.

b. Kelompok Persahabatan (Friendship Group) adalah kelompok informal yang berkembang


karena anggotnya adalah teman, sering saling bertemu di luar organisasi.

PERBEDAAN KELOMPOK FORMAL DAN INFORMAL

ASPEK KELOMPOK FORMAL KELOMPOK INFORMAL

· Hubunga antar pribadi · jelas/terstruktur · tergantung pada motif dan


· Kepemimpinan · dirancang dan ditetapkan tujuan
· Pengendalian perilaku · penghargaan dan hukuman · muncul dan dipilih
· Ketergantungan · bawahan lebih tergantung · pemenuhan kebutuhan
· keanggotaan bebas dan
tidak tergantung

Sedangkan David dan Frank membagi kelompok menjadi empat jenis berdasarkan
prestasinya, antara lain sebagai berikut:

1. Kelompok Pseudo, merupakan kelompok dimana anggotanya telah menetapkan untuk


bekerjasama, tetapi tidak seorangpun tertarik untuk menjalankannya. Susunannya
menimbulkan persaingan satu sama lain. contohnya seperti kelompok penjualan regional
yang bekerja sama untuk meningkatkan keuntungan.
2. Kelompok Tradisional, merupakan kelompok dimana anggotanya setuju untuk bekerja sama,
tetapi melihat hanya sedikit keuntungan dalam menjalankannya. Anggotanya menjalankan
pekerjaan sendiri-sendiri walaupun saling berinteraksi. Cotohnya seperti kelompok belajar
yang dibentuk oleh guru, dimana ada beberapa murid yang mengerjakan tugas sedangkan
yang lain tidak melakukan apapun.
3. Kelompok Efektif, adalah kelompok yang anggotanya bekerja sama untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Anggotanya yakin bahwa mereka dapat mencapai tujuan jika
bekerjasama dengan anggota kelompok lain dan mencapai tujuan bersama.
4. Kelompok prestasi tinggi, adalah kelompok yang memenuhi semua kriteria kelompok efektif
dan menunjukkan semua harapan yang layak, yang diberikan oleh para anggotanya. Yang
membedakan dengan kelompok efektif adalah tingkat komitmen anggota yang menganggap
anggota lain adalah keluarga dengan adanya cinta dan kepercayaan.

Sedangkan dilihat dari interaksinya, kelompok dibedakan menjadi dua jenis, antara
lain sebagai berikut:

1. Kelompok Primer, merupakan kelompok dengan interaksi atau hubungan langsung. Dalam
kelompok ini terdapat interaksi sosial secara tatap muka (face to face). Kelompok ini
memegang peranan penting dalam pembentukan perilaku individu, karena dalam kelompok
inilah individu berkembang sebagai makhluk sosial. Yang termasuk dalam kelopok ini adalah
keluarga, tetangga, kelompok agama, dan sebagainya.
2. Kelompok Sekunder, merupakan kelompok dengan interaksi tidak langsung. Hubungan
dalam kelompok ini didasarkan atas perhitungan rasional, untung dan rugi sehingga kurang
bersifat kekeluargaan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah serikat pekerja, persatuan
pengusaha, berbagai himpunan dan berbagai lembaga ilmiah.
Kelompok Terbuka Dan Tertutup

Kelompok terbuka adalah suatu kelompok yang secara ajeg (teratur) mempunyai rasa
tanggap akan perubahan dan pembaharuan. Sedangkan kelompok tertutup adalah kecil
kemungkinannya menerima perubahann dan pembaharuan, atau mempunyai
kecenderungan tetap menjaga kestabilan. Kelompok terbuka berbeda dengan kelompok
tertutup dilihat dari empat dimensi berikut ini:

a. Perubahan Keanggotaan Kelompok

Suatu kelompok terbuka secara ajeg adalah dapat dengan bebas menerima dan melepas
anggota-anggotanya. Kelompok tertutup memelihara kestabilan keanggotaan kelompok,
dengan sedikit sekali kemungkinan adanya penambahan dan pelepasan anggota setiap saat.
Hubungan status dan kekuasaan biasanya lebih mapan dalam kelompok tertutup.

b. Kerangka Referensi

Perluasan kerangka referensi dalam kelompok terbuka dapat menambah kreatifitas


karena kelompok terbuka mempunyaikemungkinana kebebasan menerima dan melepas
anggota. Sedangkan dalam kelompok tertutup karena kestabilan keanggotaan yang
diutamakan maka kerangka yang baru kurang terangsang untuk membawa ide-ide baru
yang segar yang menuju kearah pembaharuan dan perubahan.

c. Perspektif Waktu

Kelompok terbuka dalam perspektif waktu ini lebih berfikir untuk masa sekarang dan
masa depan yang dekat hal ini disebabkan karena kelompok ini tidak stabil keanggotaannya
dan kecenderungannya secara ajeg menerima perubahan dan pembaharuan. Adapun
kelompok tertutup sebaliknya, mampu memelihara horizon waktu dalam perspektif yang
berjangka panjang. Banyak dari anggota kelompok ini menimbang sejarah masa lalu, dan
mengaharapkan bisa melanjutkan untuk masa-masa yang panjang, dengan suatu
perencanaan jangka panjang.

d. Keseimbangan

Keseimbangan adalah keadaan adanya suatu sistem yang menjaga kestabilan setelah
mempunyai keadaan yang memporak porandakan. Kelompok terbuka lebih mengarah
kurang adanya keseimbangan dibandingkan dengan kelompok yang stabil yakni kelompok
tertutup. Lain halnya yang menjaga adanya kestabilan yang mengutamakan adanya
keseimbangan dibandingkan keguncanagan.

2.6 Manfaat Kelompok bagi Organisasi


Banyak manfaat yang dapat dipetik dari adanya kelompok baik di dalam maupun di luar
satuan organisasi, antara lain:

1) Kelompok merupakan alat perjuangan bagi anggotanya.


2) Kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan inovasi dan kreatifitas.
3) Kelompok lebih baik daripada perorangan dalam pengambilan keputusan yang mengangkut
orang banyak
4) Anggota kelompok dapat memperoleh keuntungan dari pelaksanaan pengambilan
keputusan.
5) Kelompok dapat mengendalikan dan mendisiplinkan anggotanya dibanding dengan mereka
yang tidak masuk dalam kelompok
6) Kelompok membantu menangkis pengaruh – pengaruh negative dari meningkatnya
organisasi yang semakin besar.
7) Kelompok adalah fenomena alami di dalam organisasi. Perkembangannya yang spontan tidak
dapat dihalangi, dan dibutuhkan oleh para anggota sebagai alat untuk mencapai tujuan.

B. JENIS TIM

Tim adalah kelompok yang usaha-usaha individualnya menghasilkan kinerja lebih tinggi
daripada jumlah masukan individual. Tim bisa melakukan berbagai hal: membuat produk,
memberikan jasa, menegosiasikan berbagai perjanjian, mengoordinasi proyek-proyek,
memberikan nasihat, dan membuat keputusan.

Tim dapat diklasifikasikan berdasar tujuannya. Terdapat 4 bentuk umum dari tim yang
biasa kita temukan sehari-hari yaitu : Tim Problem-Solving, Tim Self-Managed Work, Tim
Cross-Functional, dan Tim Virtual.
Gambar 20 Tim Problem Solving versi Robbins

TIM PROBLEM-SOLVING – Kata tim mulai populer sejak 1980-an. Bentuk tim awalnya
serupa satu sama lain. Mereka umumnya terdiri atas 4 hingga 12 pekerja yang dibayar per
jam dari departemen yang sama yang saling bertemu sekian jam setiap minggu untuk
membahas peningkatan kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja. Tim seperti ini disebut Tim
Problem-Solving.
Dalam tim jenis ini, para anggota saling berbagi gagasan dan menawarkan saran
seputar proses dan metode kerja seperti apa yang perlu dilakukan agar produktivitas dapat
ditingkatkan. Jarangkali tim-tim ini diberikan otoritas untuk secara unilateral (sendirinya)
menerapkan saran mereka ke dalam tindakan. Satu hal yang dikenal sebagai bentuk Tim
Problem-Solving adalah Lingkaran Kualitas. Ini merupakan tim kerja terdiri atas gabungan 8
hingga 10 pekerja dan supervisor yang saling berbagi gagasan wilayah kewenangan dan
bertemu secara teratur guna mendiskusikan masalah kualitas pekerjaan mereka, menyelidiki
sebab-sebab masalah, dan merekomendasikan penyelesaian.

Gambar 21 Tim Self-Managed Work versi Robbins

TIM SELF-MANAGED WORK – Tim Problem-Solving sudah ada di jalur yang benar, tetapi
mereka tidak beranjak jauh dalam hal pelibatan pekerja dalam proses pembuatan keputusan
(apalagi implementasi) yang berhubungan dengan suatu pekerjaan. Kekurangan ini
mendorong eksperimen dari tim yang benar-benar otonom yang tidak hanya bercorak
problem-solving melainkan juga menerapkan penyelesaian dan punya kewenangan penuh
atas hasil-hasilnya.
Tim Work Self-Managed umumnya terdiri atas 10 hingga 15 orang yang mengambil alih
tanggung jawab dari para supervisor. Tanggung jawab ini termasuk kendali menyeluruh atas
kecelakaan kerja, penentuan penilaian pekerjaan, pemecahan masalah organisasi, dan pilihan
prosedur-prosedur pemeriksaan yang dilakukan secara kolektif. Tim ini bahkan memilih
sendiri anggotanya. Robbins mencontohkan Xerox, General Motors, Coors Brewing,
PepsiCO, Hewlett-Packard, Honeywell, M&M/Mars, dan Aetna Life sebagai contoh sejumlah
nama perusahaan populer yang telah mengimplementasikan konsep tim self-managed work.
Perkiraan menyebut sekitar 30% pekerja Amerika Serikat menggunakan bentuk tim, dan
diantara firma-firma besar, jumlah tersebut mendekati angka 50%.

Gambar 22 Tim Cross-Functional versi Robbins


TIM CROSS-FUNCTIONAL – Menurut Robbins, Custom Research, Inc, firma riset pemasaran
di Minneapolis, Amerika Serikat secara historis telah mengorganisir departemen-departemen
yang bersifat fungsional, tetapi manajemen senior menyimpulkan bahwa departemen-
departemen tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan yang berubah-ubah dari klien-klien
firma. Akibat dari hal tersebut, firma ini menggagas dibentuknya satu tim lintas departemen
yang bertujuan meningkatkan komunikasi dan penelusuran catatan kerja, yang akan
membawa pada peningkatan produktivitas dan kepuasan klien. Organisasi ini mencerminkan
Tim Cross-Functional. Tim ini terdiri atas pekerja-pekerja dari tingkat hirarki yang serupa
tetapi beda wilayah pekerjaannya. Mereka bergabung bersama guna menyelesaikan suatu
pekerjaan.
Robbins menyebutkan, banyak organisasi sudah menggunakan Tim Cross-Functional
seperti ini semisal IBM membentuk gugus tugas tahun 1960-an yang terdiri atas pekerja
lintas departemen dalam perusahaan guna mengembangkan Sistem 360 yang terbukti sukses.
Gugus tugas tiada lain melainkan Tim Cross-Functional yang sifatnya temporer. Namun,
Robbins mencatat bahwa ledakan penggunaan Tim Cross-Functional kemudian juga terjadi
di tahun 1980-an yang dilakukan oleh Toyota, Honda, Nissan, BMW, General Motors, Ford,
dan DaimlerChrysler.

Gambar 23 Tim Virtual versi Robbins

TIM VIRTUAL – Tim-tim yang telah dibahas melakukan pertemuan face-to-face. Tim
Virtual menggunakan teknologi komputer guna menghubungkan orang-orang yang terpisah
secara fisik guna mencapai sasaran bersama.Teknik tersebut memungkinkan orang saling
bekerjasama lewat metode online, kendati mereka dipisahkan yuridiksi negara bahkan benua.
Tim Virtual dapat melakukan lebih banyak hal ketimbang tim-tim lainnya, terutama dalam
hal berbagi informasi, pembuatan keputusan, dan perampungan pekerjaan. Mereka terdiri atas
para anggota dari organisasi yang sama ataupun hubungan anggota organ dengan para pekerja
dari organisasi lain semisal supplier ataupun partner perusahaan.
Terdapat 3 faktor utama yang membedakan Tim Virtual dengan tim-tim lain yang face-to-
face, yaitu : (1) Ketiadaan komunikasi lisan-fisik; (2) terbatasnya konteks sosial, dan (3)
kemampuan mengatasi masalah waktu dan hambatan tempat. Robbins mencontohkan,
perusahaan seperti Hewlett-Packard, Boeing, Ford, VeriFone, dan Royal Dutch/Shell menjadi
pengguna utama Tim Virtual ini.
Ukuran efektivitas suatu tim kerja tersembut di bawah ini :

Gambar 24 Model Analisis Efektivitas Tim berikut Variabel-variabel Bebasnya versi Robbins

DESAIN KERJA – Variabel desain kerja meliputi variabel-variabel seperti kemerdekaan dan
otonomi, kesempatan menggunakan aneka keahlian dan bakat, kemampuan menyelesaikan
pekerjaan atau menciptakan produk, dan mengerjakan tugas atau proyek yang punya dampak
signifikan atas orang lain.
KOMPOSISI – Kategori ini terdiri atas variabel-variabel yang berhubungan dengan
bagaimana tim harus diisi, lewat:
(1) Kemampuan, dalam tim dibutuhkan orang yang ahli dalam membuat keputusan dan problem
solving, teknis, dan interpersonal skill;
(2) Personalitas, yaitu The Big Five personality seperti ada dalam pendekatan sifat dalam
kepemimpinan;
(3) Pengalokasian peran dan keragaman, yaitu tim harus memiliki 9 peran, yaitu :
- creator-inovator – menginisiatif gagasan kreatif;
- explorer-promoter – juara gagasan setelah dimulai;
- assessor-developer – menganalisa pilihan keputusan;
- thruster-organizer – menyediakan struktur;
- concluder-producer – menyediakan arah dan mengikutinya;
- controller-inspector – memeriksa rincian;
- upholder-maintainer – bertarung di pertempuran luar;
- reporter-adviser – menjadi informasi seluas-luasnya; dan
- linker – mengkoordinir dan mengintegrasikan.
(4) Fleksibilitas anggota – Tim terdiri atas individu-individu fleksibel yang anggotanya dapat
saling melengkapi tugas satu sama lain. Ini nyata berguna bagi suatu tim karena secara
signifikan mampu meningkatkan adaptabilitas dan membuatnya luwes di mata para
anggotanya. Jadi, pemilihan anggota dilancarkan atas mereka yang memiliki nilai
fleksibilitas, yang lalu secara silang melakukan lahihan untuk saling mengerjakan pekerjaan
anggota lain.
KONTEKS – Tiga faktor kontekstual yang muncul paling signifikan sehubungan dengan
kinerja tim adalah adanya sumber daya yang mencukupi, kepemimpinan yang efektif, dan
evaluasi kinerja dan sistem reward yang mencerminkan kontribusi tim.
- Sumber daya mencukupi. Kelompok kerja adalah bagian kecil dari sistem organisasi sebagai
totalitas. Seluruh tim kerja bersandar pada sumber daya di luar kelompok agar tetap hidup.
Kelangkaan sumber daya langsung mengurangi kemampuan tim untuk bekerja secara efektif.
Faktor yang paling penting dari sumber daya ini adalah dukungan dari organisasi secara
keseluruhan, terutama dana, sumber daya manusia, dan pendelegasian wewenang.
- Kepemimpinan dan Struktur. Anggota tim harus setuju siapa dapat melakukan apa dan
memastikan seluruh anggota berkontribusi secara sama dalam pembagian beban pekerjaan.
Sebagai tambahan, tim perlu menentukan bagaimana jadual kerja tim sebaiknya dirancang,
skill apa yang dibutuhkan bagi kemajuan tim, bagaimana kelompok menyelesaikan konflik,
dan bagaimana kelompok membuat dan memodifikasi keputusan yang sebelumnya pernah
dibuat. Kepemimpinan tidak selalu dibutuhkan. Contoh, bukti-bukti menunjukkan bahwa tim
yang bekerja secara mandiri (self-managed work team) kerap menunjukkan kinerja yang
lebih baik ketimbang tim yang punya pemimpin yang diangkat secara formal. Pemimpin
dapat merusak kinerja, baik tatkala mereka ikut campur dalam kerja-kerja yang tengah
dilakukan tim self-managed work. Dalam Tim Self-Managed Work, anggota tim menyerap
banyak pekerjaan secara leibh besar ketimbang yang bisa diasumsikan oleh manajer.
- Evaluasi Kinerja dan Sistem Reward. Secara tradisional, evaluasi berorientasi individu dan
sistem reward harus dimodifikasi guna merefleksikan kinerja tim. Evaluasi kinerja individu
seperti upaya resmi per jam, insentif individu, dan sejenisnya tidak konsisten dengan
perkembangan kinerja tinggi yang ditunjukkan tim. Jadi, selaku tambahan guna
pengevaluasian dan mereward pekerja bagi kontribusi individualnya di dalam tim,
manajemen harus mempertimbangkan appraisal berdasar kelompok, pembagian keuntungan,
perolehan saham, insentif kelompok, dan modifikasi sistem lainnya yang akan menguatkan
upaya dan komitmen tim.
PROSES – Kategori terakhir berhubungan dengan efektivitas tim adalah variabel proses.
Variabel-variabel proses terdiri atas komitmen setiap anggota tim terhadap tujuan,
pembentukan sasaran tim secara khusus, efikasi tim, manajemen konflik yang terorganisasi
baik, serta pengurangan social loafing.

- Tujuan Bersama. Tim yang efektif harus punya tujuan bersama sekaligus bermakna, berfungsi
sebagai arahan, momentum, dan komitmen di antara anggotanya. Tujuan ini dapat diibaratkan
sebuah visi. Ia lebih luas ketimbang sasaran tertentu saja.
- Sasaran Spesifik. Tim yang sukses adalah yang mampu menerjemahkan tujuan bersama
mereka ke dalam sasaran kinerja yang realistik, spesifik, dan bermakna.
- Efikasi Tim. Tim yang efektif punya kepercayaan diri. Mereka yakin mereka akan berhasil.
Hanyak sukses yang mampu melahirkan sukses. Tim yang telah sukses meningkat keyakinan
mereka untuk meraih sukses di masa datang. Kesuksesan akan memotivasi mereka lebih
keras lagi untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar.
- Tingkat Konflik. Konflik dalam tim tidak selamanya buruk. Tim yang sama sekali tidak pernah
terlibat konflik akan mandek dan apatis. Jadi, konflik sebenarnya meningkatkan efektivitas
tim, kendati tidak semua konflik punya pengaruh positif. Konflik hubungan yang berdasarkan
ketidaknyamanan antar individu, ketegangan, dan permusuhan terhadap orang lain selalu
bersifat disfungsi, merugikan. Kendati begitu, pada tim yang menunjukkan kegiatan nonrutin,
ketidaksetujuan antar anggota seputar pekerjaan tidak terlampau punya daya rusak tinggi.
- Social Loafing. Individu dapat bersembunyi di dalam kelompok. Mereka dapat terlibat dalam
social loafing dalam upaya kelompok karena kontribusi individu tidak bisa diidentifikasi
secara mudah. Tim yang efektif menggarisbawahi kecenderungan ini dengan menahan
mereka yang akuntabel baik di tingkat individu ataupun tim.

2.7 CIRI-CIRI TIM YANG EFEKTIF :

a. Tujuan yang sama.

Jika semua anggota tim mendayung ke arah yang sama, pasti kapal yang didayung akan
lebih cepat sampai ke tempat tujuan, dari pada jika ada anggota tim yang mendayung ke
arah yang berbeda, berlawanan, ataupun tidak mendayung sama sekali karena bingung ke
arah mana harus mendayung. Jadi, pastikan bahwa tim memiliki tujuan dan semua anggota
tim Anda tahu benar tujuan yang hendak dicapai bersama, sehingga mereka yakin ke arah
mana harus mendayung.

b. Antusiasme yang tinggi.

Pendayung akan mendayung lebih cepat jika mereka memiliki antusiasme yang tinggi.
Antusiasme tinggi bisa dibangkitkan jika kondisi kerja juga menyenangkan: anggota tim tidak
merasa takut menyatakan pendapat, mereka juga diberi kesempatan untuk menunjukkan
keahlian mereka dengan menjadi diri sendiri, sehingga kontribusi yang mereka berikan juga
bisa optimal.
c. Peran dan tanggung jawab yang jelas.

Jika semua ingin menjadi pemimpin, maka tidak akan ada yang mendayung. Sebaliknya,
jika semua ingin menjadi pendayung, maka akan terjadi kekacauan karena tidak ada yang
memberi komando untuk kesamaan waktu dan arah mendayung. Intinya, setiap anggota tim
harus mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing yang jelas. Tujuannya adalah
agar mereka tahu kontribusi apa yang bisa mereka berikan untuk menunjang tercapainya
tujuan bersama yang telah ditentukan sebelumnya.

d. Komunikasi yang efektif.

Dalam proses meraih tujuan, harus ada komunikasi yang efektif antar-anggota tim.
Strateginya: Jangan berasumsi. Artinya, jika Anda tidak yakin semua anggota tim tahu apa
yang harus menjadi prioritas utama untuk diselesaikan, jangan berasumsi, tanyakan
langsung kepada mereka dan berikan informasi yang mereka perlukan. Jika Anda tidak yakin
bahwa tiap anggota tim tahu bagaimana melakukan ataupun menyelesaikan suatu tugas,
jangan berasumsi mereka tahu, melainkan informasikan atau tujukanlah kepada mereka
cara melakukannya. Komunikasi juga perlu dilakukan secara periodik untuk tujuan
monitoring (misalnya: sudah seberapa jauh tugas diselesaikan) dan correcting (misalnya:
apakah ada kesalahan yang perlu diperbaiki dalam menyelesaikan tugas yang telah
ditentukan).

e. Resolusi Konflik.

Peace is not the absence of conflict, but the presence of justice. Ini merupakan pendapat
Martin Luther King. Rasanya hal ini berlaku pula pada pencapaian sebuah tujuan. Dalam
mencapai tujuan mungkin saja ada konflik yang harus dihadapi. Tetapi konflik ini tidak harus
menjadi sumber kehancuran tim. Sebaliknya, konflik ini yang dapat dikelola dengan baik bisa
dijadikan senjata ampuh untuk melihat satu masalah dari berbagai aspek yang berbeda
sehingga bisa diperoleh cara baru, inovasi baru, ataupun perubahan yang memang
diperlukan untuk melaju lebih cepat ke arah tujuan. Jika terjadi konflik, jangan didiamkan
ataupun dihindari. Konflik yang tidak ditangani secara langsung akan menjadi seperti kanker
yang menggerogoti semangat tim. Jadi, konflik yang ada perlu segera dikendalikan.

f. Shared power.

Jika ada anggota tim yang terlalu dominan, sehingga segala sesuatu dilakukan sendiri,
atau sebaliknya, jika ada anggota tim yang terlalu banyak menganggur, maka pasti ada
ketidakberesan dalam tim yang lambat laun akan membuat tim menjadi tidak efektif. Jadi,
tiap anggota tim perlu diberikan kesempatan untuk menjadi ”pemimpin”, menunjukkan
”kekuasaannya” di bidang yang menjadi keahlian dan tanggung jawab mereka masing-
masing. Sehingga mereka merasa ikut bertanggung jawab untuk kesuksesan tercapainya
tujuan bersama.
g. Keahlian.

Bayangkan sebuah paduan suara dengan anggota memiliki satu jenis suara saja: sopran
saja, tenor saja, alto saja, atau bas saja. Tentu suara yang dihasilkan akan monoton.
Bandingkan dengan paduan suara yang memiliki anggota dengan berbagai jenis suara yang
berbeda (sopran, alto, tenor dan bas). Paduan suara yang dihasilkan pasti akan lebih
harmonis.

h. Evaluasi.

Bagaimana sebuah tim bisa mengetahui sudah sedekat apa mereka dari tujuan, jika
mereka tidak menyediakan waktu sejenak untuk melakukan evaluasi? Evaluasi yang
dilakukan secara periodik selama proses pencapaian tujuan masih berlangsung bisa
membantu mendeteksi lebih dini penyimpangan yang terjadi, sehingga bisa segera
diperbaiki. Evaluasi juga bisa dilakukan tidak sekadar untuk koreksi, tetapi untuk mencari
cara yang lebih baik. Evaluasi bisa dilakukan dalam berbagai cara: observasi, riset pelanggan,
riset karyawan, interview, evaluasi diri, evaluasi keluhan pelanggan yang masuk, atau
sekedar polling pendapat pada saat meeting. Ingin sukses? Jangan lupa membantu anggota
tim Anda untuk sukses. Jika mereka sukses, maka mereka pun akan menjadi tim sukses yang
mendukung Anda.

2.8 Perbedaan Tim dengan Kelompok

Stephen P. Robbins melakukan pembedaan antara Kelompok Kerja dengan Tim Kerja
berdasarkan 4 variabel yaitu: Sasaran, Sinergi, Akuntabilitas, dan Keahlian.

1) Sasaran
a. Kelompok : Berbagi informasi, saling membantu membuat keputusan kinerja
masing-masing.
b. Tim : Kebutuhan kerja kolektif, saling membantu demi usaha bersama.

2) Sinergi
a. Kelompok : Netral (kadang negatif)
b. Tim : Positif melaui usaha yang terkoordinasi

3) Akuntabilitas
a. Kelompok : Individu tidak saling melengkapi
b. Tim : Individual dan saling melengkapi

4) Keahlian
a. Kelompok : Acak dan jarang
b. Tim : Saling mengganti
Perbedaan Kelompok dan Tim, sebagai berikut:

KELOMPOK TIM

1. Anggota beranggapan pengelompokan 1. Anggota menyadari ketergantungan satu

hanya sekedar administrasi. sama lain,dan tidak mencari keuntungan

2. Pendekatan hanya sebagai tenaga bayaran. pribadi.

3. Mengerjakan tugas bagian masing-masing 2. Adanya komitmen terhadap sasaran

masih harus diperintah. yang akan dicapai.

4. Dalam penyampaian saran harus berhati- 3. Rasa peka, atau sadar diri terhadap tugas

hati, karena dapat dianggap sebagai upaya masing-masing, yang dapat

untuk memecah belah. dikontribusikan untuk keberhasilan.

5. Dalam penerapan hasil kerja sangat dibatasi4. Bekerja dalam suasana saling percaya,

oleh pemimpin. saran dapat diterima dengan terbuka.

6. Anggota tidak berperan aktif terhadap 5. Penerapan hasil kerja sangat didukung

pengambilan keputusan. oleh tim.

6. Anggota berpartisipasi dalam

pengambilan keputusan.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Menurut Wiraatmadja. Kelompok adalah suatu kumpulan manusia yang terdiri dari dua
orang atau lebih dengan pola interaksi yang nyata dan dapat membentuk satu kesatuan.
Menurut Mayor Polak pengertian kelompok berdasarkan persepsi adalah merupakan
sejumlah orang yang ada dalam hubungan antara
satu sama lain dan antara hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.
Bentuk-bentuk kelompok; kelompok formal, kelompok komando, kelompok tugas,
kelompok informal, kelompok minat, kelompok persahabatan.
Pengertian tim adalah kelompok yang usaha-usaha individualnya menghasilkan kinerja
lebih tinggi daripada jumlah masukan individual. Tim bisa melakukan berbagai hal: membuat
produk, memberikan jasa, menegosiasikan berbagai perjanjian, mengoordinasi proyek-proyek,
memberikan nasihat, dan membuat keputusan.
Jenis-jenis tim; tim problem solving, tim self managed work, tim cross funcional dan tim
virtual. Ciri-ciri tim yang efektif adalah memiliki tujuan yang sama, antusiasme tinggi, peran
dan tanggung jawab jelas, komunikasi yang efektif, resolusi konflik, shared power, keahlian,
evaluasi.

3.2 Saran

Dengan demikian makalah yang kami buat, semoga bermanfaat bagi kelompok kami
khususnya dan bermanfaat juga bagi teman-teman semuanya. Dalam penulisan makalah ini
kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan maka dari itu pembaca
diharapkan menambah sumber atau referensi lain mengenai materi ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://seputarpengertian.blogspot.com/2015/12/pengertian-kelompok.html

https://muhhasbib.blogspot.com/2017/10/makalah-perilaku-kelompok-dalam.html

http://ojan-jan.blogspot.com/2012/10/makalah-tentang-kelompok.html

http://aniatih.blogspot.com/2015/03/makalah-tim.html