Anda di halaman 1dari 5

SI BELANG

By Tisma Chania
Rintik hujan perlahan menetes, jauh di ujung kota Jakarta terselip lembah hijau kecil
nan menawan , air sungai jernih beriak di sela akar-akar pepohonan, sinar mentari pagi mulai
merekah menyinari rumput-rumput di sela-sela dedaunan, pagi di musim kemarau panjang
akan segera di mulai, Dessy si lebah kecil mulai mengepakkan sayapnya, seperti anak yang
lainnya Dessy bergegas untuk mengumpulkan bunga-bunga terakhir sebelum musim kemarau
tiba, mengitari segelumit jajaran taman bunga yang sembari layu dan berguguran, Dessy si
lebah pengumpul yang tinggal di kerajaan Maryana yang di pimpin oleh Ratu Riosa yang
bijaksana, memulai tugasnya.
‘pagiku cerahku matahari bersinar
ku gendong tas merah ku di pundak’
Begitulah bait lagu semangat memulai langkah Dessy, seperti biasa sebelum memulai
tugasnya untuk mengumpulkan madu-madu dari bunga yang bermekaran, lebah kecil ini
selalu menyempatkan untuk berolahraga yaitu dengan memulai mengepak-ngepakkan
sayapnya, sembari menunggu sarapan dari ibunya. Yah, memang hanya Dessy dan satu orang
adiknya lagi yang tinggal di sela cabang pohon tertinggi di perbukitan semenanjung
Jakarta,sebab sang ayah telah meninggal sebelum adiknya lahir, disebabkan tangan-tangan
jail manusia yang melakukan perburuan liar terhadap nekhtar-nekhtar hasil lebah kerajaan
Maryana beberapa tahun silam. Entah mengapa hal ini bisa terjadi, kadang Dessy sesekali
meratap di depan foto ayahnya sambil berdoa dan seolah berdialog dengannya, Dessy selalu
mendapat pesan yang sama dari sang ayah yaitu tetaplah berjuang sesuai tugas kita, lindungi
alam dan buat mereka tersenyum kepada kita. Terkenang selalu akan pesan ayahnya itulah
yang membuat Dessy selalu giat mengumpulkan madu-madu untuk di jadikan makanan pada
musim kemarau panjang. Hanya saja, yang menjadi permasalahan jika musim penghujan tiba,
lebah-lebah pengumpul akan sulit mengumpulkan madu dari bunga sebab air hujan akan
menggangu terbang mereka bila sayap mereka basah. Untuk itu, dibutuhkan waktu-waktu
yang tepat untuk mengumpulkan madu, tapi manusia hanya bisa merampas milik mereka
tanpa memikirkan usaha untuk mengumpulkannya dan mengambil semuanya tanpa perasaan,
jadi mereka lebah-lebah tidaklah salah jika apa yang telah menjadi milik mereka di ambil,
mereka berontak dan membuat pormasi penyerangan terhadap manusia. Tidak hanya itu saja,
tidakkah kita berpikir mengapa Indonesia meski memiliki hutan hujan tropis yang luas tetapi
tetap saja belum mampu menjadi penghasil madu, dengan bertambahnya jumlah tangan-
tangan kotor yang menebang pohon, perluasan lahan pertanian tanpa meihat sisi buruk akibat
perbuatan itu, tanpa adanya tindakan untuk reboisasi hutan, hal itu akan mustahil. Pepohonan
adalah salah satu media vital dalam tumbuh kembang spesies lebah dan produksi madu sebab
dengan semakin kecilnya hutan yang ada di Indonesia akan mengurangi pula bunga-bunga
penghasil madu yang hendak dikumpulkan oleh para lebah. Nah, inilah masalah sebenarnya.
Kerajaan Maryana sedang dilanda kemelaratan, banyaknya lebah-lebah yang mati karena
asap pembakaran, baik dari pembakaran hutan maupun asap buang kendaraan, yang
mengakibatkan polusi udara di sekitar kerajaan. Dan inilah yang menjadi motivasi Dessy
untuk giat mengumpulkan madu demi kerajaan, belum lagi ratu Riosa yang sedang sakit
parah. Dessy dan teman-teman lebahnya yang lain bergegas untuk mengitari beberapa taman
bunga yang ada di sekitar kota Jakarta. Betul, jika di Jakarta kita masih akan menemukan
banyak taman bunga, akan tetapi nekhtar yang terkandung di dalamnya dapat di jadikan
madu terbaik atau telah terkontaminasi oleh barteri-bakteri jahat dari polusi atau tidak, itulah
yang menjadi permasalahannya.
Segerombolan lebah mulai berpencar menghisap nekhtar bunga.
‘Dessy , lihatlah aku menemukan madu yang masih sangat lezat sekali, hmm injeksi hisapku
semakin segar menerima nekhtar bunga ini,’ ujar Alen si lebah kecil teman Dessy.
Sedang Dessy masih sibuk terbang mengitari bunga mawar merah yang mekar sedang bunga
yanng lainnya telah layu dan berguguran, melihat hal itu Alen pun mendekati Dessy yang
sedang sibuk dengan sendirinya.
‘Alen, tidakkah kamu berpikir apa yang terjadi dengan bunga ini ,aku yakin bunga ini pasti
memiliki keajaiban sehingga membuatnya mampu bertahan di panasnya terik mentari,
begitupun dengan tanah yang mulai kering kerontang disekitarnya ‘ Dessy bertanya pada
Alen.
‘iya juga, tapi yah sudahlah itu sudah biasa mungkin mawar ini telat mekar, atau kemarin-
kemarin belum minat mekar’ujar Alen dengan santainya.
‘ah kamu ini , mana ada bunga yang gak minat mekar? Karena, sudah menjadi kodratnya
bahwa tanaman begitupun bunga, telah di tugaskan untuk mencapai tujuan
penciptaannya,seperti mereka tumbuh, lalu dewasa,berbunga,bermekaran,layu dan
berguguran, begitulah siklusnya terus menerus yang akan selalu dilaluinya, makanya aku
heran kepada manusia, mengapa mereka suka memetik bunga lalu di berikannya kepada
lawan jenisnya, eh, malah cuma di di hirup aromanya sebentar,terus di buang gitu aja, nah
begitupun kita Alen, lebah pengumpul tugasnya adalah mengumpulkan nekhtar yang ada
dimana saja demi kemakmuran kerajaan Maryana’ jelasnya.
‘oh jadi begitu ya Dessy, wah aku jadi tambah benci sama manusia, mengapa mereka tidak
menghargai tanaman, padahal jika kita mendapatkan banyak madu pasti meraka dengan tanpa
bersalahnya merenggut semua madu yang kita punya ’lugasnya.
‘bukan semua manusia yang seperti itu, hanya saja sebahagian dari mereka’ ujar Dessy.
‘iya sih tapi,.. Oke oke Dessy, ayo kita segera pulang, malam akan tiba sebentar lagi, orang
tua kita akan cemas jika kita tidak pulang sebelum senja.
Terlihatlah para lebah berterbangan di angkasa untuk kembali ke kerajaan untuk
mengumpulkan hasil nekhtar yang didapat hari ini. Dan malampun tiba, lebah-lebah kembali
ke sarang mereka untuk kembali berkumpul dengan keluarga mereka, begitupun dengan
Dessy dan Alen.
‘dessy pulang ibu, lily kakak pulang’ salam dessy. Namun sarangnya terasa sunyi senyap.
Tiba-tiba Alen datang tergesa-gesa dengan wajah paniknya,
‘dessy,dessy.. Ada berita buruk!’ dengan terengah-engah. Dessy pun langsung menghampiri
Alen di depan sarangnya.
‘iya Alen, ada apa?’ jawab Dessy dengan tenangnya.
‘ratu.. ratu Riosa .. Semua warga kerajaan berkumpul di kabaret(tempat berkumpul
kerajaan),untuk mendengarkan pidato terakhir ratu, sebab penyakit ratu semakin parah dan
mungkin akan sulit untuk disembuhkan’ ujar Alen.
‘tapi ibu dan adikku tidak ada di sarang, dan aku belum meminta izin kepada mereka’ Dessy
menjawab.
‘ibu dan lily juga disana Dessy’
‘benarkah, ayo Alen kita bergegas’
Dessy dan Alen pun segera terbang ke kabaret. Sesampainya di sana, Dessy bertemu dengan
ibu dan lily adiknya. Namun terlihat ratu Riosa berbalik ke dalam kerajaan, lebah-lebah
lainnya tampak murung dan sedih, namun Dessy tak tahu apa-apa.
‘ibu, apa yang telah terjadi ?’
‘mungkin musim kemarau ini akan menjadi musim kemarau terakhir di kerajaan Maryana
Dessy,karena kondisi ratu yang semakin parah begitu pula dengan persediaan nekhtar-nekhtar
yang semakin menipis ‘ ujar ibunya sambil meneteskan air mata.
‘lalu bagaimana dengan ratu Riosa ibu, apakah tidak ada obat penawar yang bisa
menyembuhkan nya?’ tanya Dessy
‘entahlah nak, yang pasti jika kemarau semakin panjang dan polusi udara tetap tidak
bekurang, ratu.. Tidak hanya ratu, mungkin kita juga tidak akan selamat’ jelas ibunya.
Mendengar hal itu hati Dessy tersentak seketika, Dessy memandangi Alen sembari berpikir
apa yang bisa dia lakukan. Selanjutnya Dessy dan keluarganya pun pulang ke sarang.
Keesokan harinya, Dessy bergegas keluar sarang untuk mengumpulkan nekhtar ujarnya,
namun ibunya berkata hal itu akan sia-sia saja, sebab bunga pastilah sudah layu semua.
Namun Dessy hanya tersenyum kepada ibunya dan berpamitan, di luar telah ada Alen yang
sedang menunggu, mereka bergegas melakukan misi besar untuk menyelamatkan ratu.
Di dalam perjalanan.
‘Dessy, jadi ketika aku mengendap-endap di kamar sang ratu tadi malam, sang peramu obat
berkata, hanya dengan nekhtar pucuk bunga di ujung bukit yang masih kuncup mampu
menjadi penawar bagi sang ratu’.
‘baiklah, kita akan ke ujung bukit sekarang.’
‘apa ? Kita, hanya berdua saja ? Yang benar saja Dessy?’
‘jangan melihat kita siapa, tapi yang harus kita ingat, apa yang akan bisa kita lakukan
meskipun kita kecil seperti ini, Alen’
‘tapi, ya kan tetap saja Dessy, jangan bercanda dong, aku gak berani tau’
‘kamu ikut atau tidak,yang pasti aku akan pergi untuk ratu’
‘Dessy ... yah dech aku ikut’
Mereka pun bergegas dengan misi itu, jauhnya perjalanan tidak menghalangi mereka pergi ke
ujung bukit di ujung kota Jakarta, dengan tekad yang kuat mereka tiba dan menemukan
bunga yang masih kuncup itu, namun mereka melihat ternyata ada manusia di sana, di balik
semak-semak Dessy dan Alen memperhatikan apa yang hendak dilakukan oleh si manusia
itu.
‘ah, dasar manusia, mereka pasti akan mengambil bunga itu, Dessy ayo cepat, jika tidak, kita
tidak akan bisa membawa bunga itu pulang ke kerajaan’
‘jangan bilang begitu dulu, mari kita lihat apa yang akan dilakukan manusia itu’
‘ya ampun Dessy, sudah pastilah manusia itu akan membawanya pulang lalu membuangnya
begitu saja, seperti ucapan mu dulu’ ujar Alen dengan kesal melihat manusia yang sedang
mendekati bunga tersebut.
Beberapa saat kemudian, manusia itu membawa kotak yang berisi alat-alat dan cairan dalam
botol kecil, lalu meneteskannya pada tanaman tersebut, kemudian dia memotretnya, lalu
menyuntikkan air di tanah dekat tumbuh bunga tersebut, yang mana ternyata aliran air yang
mengalir ke bunga berasal dari air terjun yang ada di samping bukit tersebut. Melihat
kejadian tersebut, serasa tak percaya dengan apa yang dia lihat, ternyata masih ada manusia
yang peduli dengan tanaman yang hampir mati itu, lebih lagi daerah itu di tengah perbukitan
yang jauh dari perkampungan manusia. Namun Alen tidak mengerti akan hal itu.
‘apa benar apa yang aku lihat barusan? manusia itu berusaha untuk meracuni tanaman itu
kan Dessy, ayo cepat kita cegah, hmm... dasar manusia tidak berperikebungaan’
Alen bergegas menuju manusia itu, terdengarlah dengungan suara kepakan sayap lebah oleh
manusia itu, dengan spontan manusia itu lari ketakutan menjauhi bunga tadi.
‘haha, dasar manusia penakut. sama lebah kecil aja takut.. Apalagi segerombolan lebah, ya
kan Dessy?’
Dessy tetap terdiam sambil terus berpikir, seperti kelihatannya manusia itu tidaklah bertindak
jahat terhadap bunga itu malahan bunga kuncup itu semakin subur saja dari semula terlihat.
‘manusia itu tidaklah bersikap jahat, cobalah Alen lihat apa yang di teteskan pada bunga ini ,
ini adalah vitamin, dan apa yang di suntikkan ke tanah dekat akar tanaman ini, yah, ini air
untuk terus membasahi dan mengairi tanaman ini agar tidak kering dan mati Alen’
Alen tersentak berpikir kembali ,ia pun menyadari tindakan manusia itu memanglah baik
seperti apa yang diucapkan Dessy, lalu mereka tersadar bahwa memang tidak semua manusia
yang tidak peduli terhadap tanaman, namun masih ada tangan-tangan mutiara yang
memelihara tanaman demi kelangsungan alam. Lalu bergegaslah Dessy menginjeksi bunga
kuncup itu untuk segera di bawa kepada sang ratu. Hingga akhirnya mereka tiba di kerajaan
dan memberikan kepada sang ratu, beberapa saat kemudian ratu Riosa pun membaik, dan
begitu pula dengan kerajaan Maryana kembali makmur dan tentram.