Anda di halaman 1dari 10

Kritik Al Ghazali Tentang Ma’ad Dalam Pandangan Filosof

(Studi KitabTahafut Al Falasifah)

Oleh : Kirana Fatmawati

A. Latar Belakang
Filsafat islam mencapai puncaknya pada abad ke-9 dan ke-11
M. Berbeda dengan filsafat barat yang berkembang hingga abad
modern. Sementara filsafat islam tidak mampu melampaui abad
pertengahan dan mulai memasuki periode anti klimaks pada abad ke -
12 M, khususnya pasca Ibn Rusyd. Di antara filosof muslim abad
pertengahan, al-Gazali termasuk tokoh yang fenomenal. Disamping
sebagai seorang filosof, ia juga melakukan perlawanan terhadap
pemikiran filsafat pada masa itu dengan mengemukakan kritik
sistematif terhadap filosof.1
Kritiknya terhadap filsafat yang termuat dalam karyanya
Tahafut al-Falasifah, disinyalir mampu menghidupkan filsafat di
dunia islam dan menentukan jalannya sejarah pemikiran umat islam
berikutnya.2 Namun adapun yang beranggapan bahwa kritik al Gazali
tersebut sampai pada pengkafiran beberapa filosof Muslim dan
menempatkan filsafat islam pada posisi marginal.
Munculnya Tahafut al-Falasifah merupakan sanggahan-
sanggahan terhadap teori-teori filosof dan untuk mempertahankan
sendi-sendi pokok agama. karena mereka tidak menyakini tentang
keqadiman alam, Tuhan tidak mengetahui yang juz’iyah dan tidak
adanyaa kebangkitan jasmani.3
Telah bayak filosof yang mengkaji secara mendalam tentang
ma’ad. Antara lain: Ibn Sina, Al Ghazali, Suhrawardi dan Mulla
Sadra. Tentunya setiap pemikiran filosof tersebut memiliki pendapat
yang berbeda-beda tentang ma’ad. Namun disini penulis hanya
membatasi pemikiran Al Ghazali. Ia membahas secara khusus

1
Mutiali, Al-Gazali dan Kritiknya Terhadap Filosof, (jurnal Aqidah,
2016), hal 78
2
Nurcholish Majid, Khazanah Intelektual Islam, (cet II: Jakarta: Bulan
Bintang, 1994), hal, 35
3
Imam al Gazali, Tahafut al-Falasifat (Cet.IV: Mesir: Dat al-Ma’rif,
1966), hal.86

1
permasalahan eskatologi di dalam karyanya yang berjudul Tahafut al
Falasifah.
Pemikiran Al-Ghazali banyak menyerang pemikiran para
filsuf lainnya. Salah satunya bahwa beliau mengkritik pandangan Ibn
Sina tentang ma’ad. Karena menurutnya pemikiran Ibn Sina tidak
sesuai dengan prinsip al-Qur’an.
Demikianlah sekelumit pemaparan latar belakang pemikiran
al Gazali tentang kritrik terhadap ma’ad. Dan penjelasan lebih
mendetail akan dijelaskan di bab selanjutnya. Yakni penulis akan
menguraikan pemikiran al Gazali dalam karyanya yang berjudul
Tahafut al-Falasifah(keraguan filsafat).

B. Kritik Terhadap Ma’ad Dalam Tahafut Al-Falasifah


a. Pandangan Para Filsuf Terhadap Eskatologi
1. Kesenangan Jiwa Lebih Kekal Daripada Kesenangan Fisik.
Bahwasanya setelah tubuh ini mati, kemudian jiwa ini
akan tetap ada selamanya. Dan jiwa ini akan mencapai
kebahagiaan yang absolut yakni dengan melalui
kesempurnaan, kesucian, kebersihan, atau dengan kata lain
harus memiliki etika baik.4
Namun hal yang membuat jiwa sengsara ialah karena
kebodohan yang dilakukannya. Demikian cenderung terjadi
disebabkan oleh kecenderungan jiwa terdapat nafsu birahi.
Sehingga jiwa tersebut kesulitan untuk mendapatkan
kenikmatan –kenikmatan yang sebenarnya. Sebaliknya jika
terdapat jiwa yang telah mendapatkan kesempurnaan karena
pengetahuan, maka ia akan meninggalkan kesenangan fisik,
dan lebih memilih mendapatkan kesenangan-kesenangan
spriritual.5
Disini terdapat dua argumen untuk membuktikan
bahwa kesenangan intelektual lebih mulia dibandingkan
kesenangan fisik:

4
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah), (Yogyakarta:
Islamika, 2003), hal. 270
5
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah),hal. 271

2
Pertama: dijelaskan bahwa perbandingan kesenangan
antara malaikat dengan binatang buas. Bahwa malaikat tidak
memiliki kesenangan fisik, dan malaikat hanya menikmati
kesenangan dari keindahanNya, karena malaikat memiliki
kedekatan khusus dengan Tuhan. Hal ini tentu tidak sama
dengan kesenangan binatang buas yang berupa fisik, karena
binatang memiliki jarak yang sangat jauh dengan Tuhan.
Sehingga tingkatan kedekatan dengan Tuhan sangatlah
penting, karena hal ini berkaitan dengan kesenangan yang
hakiki.
Kedua: memuliakan kesenangan intelektual daripada
kesenangan fisik. Contohnya seseorang rela tidak makan dan
tidak minum sepanjang hari demi ingin menang main catur,
dan selama itu ia mampu menghilangkan rasa lapar didirinya.
Contoh lain seperti, seorang pemberani yang menyerang
segerombolan musuh, dan ia tidak perduli dengan bahaya
yang akan ia hadapi adalah kematian, namun sebab ia senang
mendapatkan pujian dan rasa bangga. Selain itu ia juga yakin
bahwa kesenangan intelektual di akhirat jauh lebih
menyenangkan dari di dunia.6
Kemudian para filsuf mengatakan bahwa, kiamat akan
bermula ketika seseorang telah mati. Dan telah banyak
syariat-syariat yang menjelaskan tentang kesenangan spiritual.
Oleh sebab pengetahuan manusia tidak memumpuni, maka
penjelasan tentang kesenangan spiritual tersebut dijelaskan
dengan menggunakan simbol atau alegori. Namun sebenarnya
kesenangan spiritual jauh lebih luas ketimbang hal-hal yang
telah dijelaskan melalui bentuk deskripsi. Demikianlah teori
para filsuf.

b. Unsur-Unsur Pemikiran Filsuf yang Bertentangan Dengan Islam


Al Gazali dalam menjawab argumentasi para filosof
mengenai kemustahilan-kemustahilan kebangkitan jasmani, ia
menjawab hal tersebut berdasarkan atas sifat Kemahakuasaan
Tuhan bahwa Tuhan mampu menciptakan segala sesuatu dari

6
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah),hal. 273

3
Tiada, maka Tuhan pun mampu membangkitkan kembali tubuh
dan tulang belulang manusia yang telah hancur menjadi tanah ke
dalam bentuk semula.7
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ajaran agama
tentang kebangkitan (ma’ad), bahwa kebangkitan eskatologi
sebenarnya tidak dapat dipahami tanpa immortalitas jiwa. Dalam
kitab tahafut al-falasifah menemukan beberapa unsur atau
pemikiran filsuf yang bertentangan dengan ajaran agama, yakni:
1) penolakan terhadap kebangkitan tubuh, 2) penolakan pada
kesenangan-kesenangan fisik di Surga, 3) penolakan atas adanya
rasa sakit secara fisik di Neraka, 4) penolakan terhadap eksistensi
Surga dan Neraka, sebagaimana disebutkan di al-qur’an.
Kemudian al Gazali memberi tanggapan terhadap empat hal
tersebut dengan dadil al qur’an dan hadis Qudsi
‫ي لَ ُه ْم ِم ْن قُ َّرةِ أ َ ْعيُ ٍن َجزا ًء ِبما‬ ُ ٌ ‫فَال ت َ ْعلَ ُم نَ ْف‬
َ ‫س ما أ ْخ ِف‬
َ‫كانُوا َي ْع َملُون‬
(Q.S as-Sajdah: 17): artinya Seorang pun tidak mengetahui
pahala yang disembunyikan untuk mereka yang dapat
menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang
telah mereka kerjakan.
Hadis Qudsi, Allah berfirman: “aku persiapkan bagi hamba-
hambaku yang saleh, apa yang tak terlihat oleh mata, tak
terdengar oleh telinga dan tak terbesit dalam hati manusia”.
Oleh karena itu, al Gazali berpikir bahwa tidak menutup
kemungkinan untuk menggabungkan bentuk yang bersifat
spiritual dan fisik untuk dipadukan hingga menjadi sebuah
kesempurnaan. Karena yang dijanjikan Allah adalah hal-hal yang
paling sempurna, maka kebenaran eksistensi tersebut sesuai
dengan ajaran agama. 8
Berikut ini sanggahan-sanggahan yang berikan Al-Gazali
terdapat para filsuf tentang kebangkitan”

7
Nasution Hasyimsyah, Filsafat Islam, (Cet.III, Jakarta: Gaya Media Pratama,
2002), hal.86
8
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah),hal. 277

4
1. Terdapat filsuf yang memberikan argumen- argumen
rasional yang secara aktual telah membuktikan akan
kemustahilan kebangkitan tubuh. Sehingga al-Gazali
menganggapan filsuf tersebut bearti telah membuktikan
kemustahilan sifat-sifat antropologis bagi Allah. Dalam
menjelaskan kemustahilan kebangkitan jasmani maka
filsuf tersebut berpijak pada dua pijakan, sebagai berikut
ini ialah:
a. Pijakan Pertama
Pijakan ini memiliki 3 alternatif untuk menyatakan
bahwa pengandaian kembalinya jiwa ke tubuh:
Alternatif pertama, kematian bearti tidak
berlangsungnya kehidupan, kemudian kehidupan
menjadi lenyap, demikian pula badan fisik. sehingga
dapat dikatakan bahwa ketika manusia telah dikubur,
maka yang akan dibangkitkan ialah tanah-tanah ini
dan kemudian membentuk jasad manusia lagi.
Alternatif kedua jiwa adalah maujud yang tetap
hidup setelah kematian, namun jiwa akan
dikembalikan pada saat kebangkitan kepada tubuh
yang asli. Maksudnya bahwa jiwa ini akan masuk
kembali kedalam tubuh tersebut ketika tubuh itu telah
terkumpul. Karena sebenarnya tubuh kita ini tersusun
dari berbagai elemen-elemen lainnya, karena kita
memakan, hewan, sayur dll.
Alternatif ketiga jiwa akan kembali kepada suatu
tubuh, maka manusia akan hidup kembali sejauh jiwanya
adalah jiwa orang itu sendiri. Maka manusia tidak menjadi
manusia karena materinya, namun karena jiwanya.9
Maksudnya ialah jiwa akan kembali ke tubuh, tetapi entah
tubuh materi yang asli ataupun tersusun dari materi yang
lain, namun pada intinya manusia dikatakan dirinya
karena jiwanya, bukan materinya.

9
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah),hal. 279

5
Dalam bagian ini al Gazali membantah ketiga unsur di atas.
Karena menurutnya ketiga prinsip tersebut semuanya ialah salah.
Berikut ini Kritikan Al Gazali pada:

Alternatif pertama. Al- Gazali mengartikan makna


“kembali”, ialah mengimplikasikan pengandaian keabadian satu hal
terhadap kebaharuan hal yang lainnya. Contohnya seperti kata
“kembali” bukan berarti harus pada asalnya sendiri, melainkan
kembali kepada sesuatu yang mirip dengannya. Diperumpamakan
ketika seseorang dikatakan kembali ke suatu kotanya, bahwa ia bisa
kembali kebagian manapun dari kota tersebut, entah ia kembali di
bagian selatan kota tersebut atau di bagain utaranya, yang jelas ia
telah kembali di kotanya. Kembali dengan keadaan yang berbeda
secara kuantitas dan jumlahnya.

Maka apa yang dikatakan filsuf tentang kembalinya sesuatu


yang sama sekali tidak ada adalah tidak masuk akal. Bahwa artinya
kembalinya sesuatu itu memang benar-benar ada. Artinya ia kembali
pada keadaan yang sebelumnya, dan kembali pada kondisi yang sama
dengan kondisi sebelum itu. Maka jika manusia di kremasi (dibakar,
kemudian menjadi debu), maka debu tersebut akan kembali semula
seperti kehidupan menusia tersebut.10

Alternatif kedua, filsuf menyebutkan bahwa jiwa manusia


akan kembali ke tubuh, ketika tubuh tersebut telah terkumpul dengan
elemen-elemen tubuh yang sebenarnya. Disebutkan bahwa mustahil
terjadi kembangkitan tubuh, karena tubuh manusia ini ketika
dikubur/dibakar, akan menjadi debu, atau dimakan ular, burung dan
berubah menjadi tanah, asap atau udara dan air yang ada di alam ini,
sehingga mustahil terpisahkan satu sama lain.

Tentunya pijakan kedua itu dibantah oleh al-Gazali. Karena


ketika ada orang-orang yang sejak awal fitrah, dilahirkan cacat atau
tidak ada tangan, telinga, tetapi ia memiliki pribadi yang mulia dan
kemudian ia merupa orang ahli surga, maka hal tersebut tidak adil
baginya, jika ia harus dibangkitkan dengan keadaan cacat juga kelak.

10
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah),hal. 281

6
Alternatif ketiga, batahan al-Gazali terhadap filsuf yang
menyatakan bahwa jiwa manusia akan kembali kepada tubuh
manusia dari berbagai materi apapun juga. Sifat materi itu terbatas,
karena dibatasi oleh lembah falak bulan, sehingga tidak mungkin
terjadi penambahan bagi materi (jumlah materi terbatas). Dan
sebaliknya, jiwa-jiwa yang terpisah dari tubuh itu tak terbatas,
sehingga materi tidak mungkin dapat menampung jiwa yang tak
terbatas itu. Maka tidak mungkin terjadi kebangkitan fisik.

Kemudian al-Gazali membantah hal tersebut, karena agama


mengajarkan kita untuk mempercayain kebangkitan kembali, yang
dibarengi dengan kemunculan kembali kehidupan. Yang
dimaksudkan kebangkitan adalah kebangkitan tubuh-tubuh. Maka
dimungkinkan untuk jiwa kembali kepada tubuh, baik tubuh itu
dibuat dari materi yang serupa atau terbuat dari materi tubuh lain.
Kebangkitan kembali merupakan urusan Allah, karena tubuh adalah
tempat asal kembalinya jiwa.

Pijakan Kedua, para filsuf pada pijakan kedua ini


menguraikan bahwa tidak mungkin tercipta manusia hanya dengan
kata “jadilah”/ kun”. Maka hal itu tentu tidak masuk akal. Dan akal
tidak dapat menerima ketika tubuh manusia yang bangkit hanyalah
terbuat dari sebuah batu, tanah, debu, maka tubuh itu tidak akan
menjadi manusia. karena sebab-sebabnya tidak memungkinkan.
Kecuali jika tubuh tersebut tersusun dari materi tulang belulang, urat
syarat, daging, tulang rawan, dan berbagai organ-organ dalam (ginjal,
hati, jantung dll), maka memungkinkan untuk terbentuknya manusia
pada umumnya. Selain itu, terbentuknya manusia itu melalui sebab-
sebab khusus yakni berasal dari tulang sumsum, gumpalan darah,
kemudian menjadi embrio, bayi dan seterusnya. Sehingga jika sebab-
sebab itu tidak terpenuhi, maka mustahil kebangkitan kembali
manusia secara fisik.

Kemudian al-Gazali membantah argumen tersebut, beliau


menyatakan bahwa sebab-sebab yang dibawa oleh para filosof diatas
itu merupakan bukan sebab yang hakiki. Karena akal manusia itu
terbatas, bahkan manusia tidak dapat menyingkap hal-hal miterius
seperti penolakan terhadap sihir, ilmu talismanik dan mukjizat.
7
Semua itu benar adanya bahkan disepakati banyak orang dan
merupakan fakta-fakta jelas yang berasal dari sebab-sebab misterius
yang tak terungkap oleh semua manusia.11

Penjelasan tersebut juga didukung dengan sebuah dalil al-


Qur’an (Q.S. al-Mutaffifin, ayat 17).

َ‫ث ُ َّم يُقا ُل هذَا الَّذي ُك ْنت ُ ْم ِب ِه ت ُ َك ِذبُون‬


Artinya : “Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah azab
yang dahulu selalu kamu dustakan.”.

c. Kritik Al-Gazali Terhadap Ibn Sina


Pemikiran Al-Ghazali banyak menyerang pemikiran para
filsuf lainnya. Salah satunya bahwa beliau mengkritik pandangan
Ibn Sina tentang ma’ad. Karena menurutnya pemikiran Ibn Sina
tidak sesuai dengan prinsip al-Qur’an.
Pandangan Ibn Sina tentang eskatologi ialah bahwa
kebangkitan yang terjadi pada manusia bukan berupa fisik,
namun hanya berupa jiwa. Hal demikian yang membuat Al
Ghazali bergerak untuk mengkritik eskatologi ibn Sina. Secara
khusus pandangan tersebut telah keluar dari prinsip-prinsip al-
qur’an, karena di dalam al-qur’an telah menjelaskan bahwa
kebangkitan manusia tidak hanya berupa jiwa, namun juga
meliputi fisik.

َ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
‫ض بِقاد ٍِر عَلى أَ ْن يَ ْخلُقَ ِمثْلَ ُه ْم بَلى َو ُه َو‬ َّ ‫ْس الَّذي َخلَقَ ال‬
ِ ‫سماوا‬ َ ‫أ َ َو لَي‬
‫ق ا ْلعَلي ُم‬
ُ َّ‫ا ْل َخال‬
Artinya: Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan
bumi itu berkuasa menciptakan kembali (manusia yang telah
hancur menjadi tanah itu) menjadi makhluk seperti mereka?
Benar, Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha
Mengetahui. (Q.S. Yasin: 81)

11
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah),hal. 287-289

8
Selain itu, pandangan Ibn Sina menurut al Ghazali juga
berarti telah menegasikan kekuasaan Tuhan, bahwa Tuhan yang
Mahakuasa mampu menciptakan kembali fisik yang telah hancur. Ia
juga memberikan argumentasi bahwa kesempurnaan manusia hanya
akan terjadi melalui perpaduan antara jiwa dan raga. Sehingga
menurut al Ghazali, kebangkitan fisik dan jiwa juga wajib untuk
diterima.

Bagi al Ghazali, makna ‘kembali’ (ma’ad), ialah kembali


kepada yang semisalnya. Bahwa ketika kehidupan telah hancur,
maka akan terjadi penciptaan kembali yang serupa dengan
keadaan sebelumnya. Pengandaiannya seperti disaat di dunia anda
memiliki kenikmatan, dan ketika anda telah meninggal maka
anda juga akan mendapatkan kembali kenikmatan yang serupa.
Sifat kenikmatan itu yang abadi dan tetap sampai kapanpun.
Al Ghazali juga menolak pandangan reinkarnasi yang terjadi
di duniawi. Baginya, perpindahan raga satu ke raga yang lain itu
bukan reinkarnasi. Namun jika peristiwa tersebut adalah
bangkitnya kembali jiwa dari alam kematian kemudian menuju
kehidupan akhirat, maka hal tersebut digolongkan sebagai
kebangkitan atau ma’ad. Pandangan dasar al Ghazali ialah bahwa
personalitas diri manusia bersifat tetap, dan personalitas tersebut
tidak terletak pada raga/ fisik, namun terletak pada jiwanya.
Sehingga seandainya jika seseorang dibangkitkan dengan raga
apapun, maka identitas diri seseorang tersebut tidak akan
berubah, hanya fisiknya saja yang berubah.
Terdapat beberapa kritik yang dilontarkan Al-Gazali terhadap
filosof-filosof sebelumnya. Karena menurutnya pemikiran filosof
tersebut telah menyimpang dari aspek-aspek agama. Sehingga
dalam salah satu karyanya, ia mencoba untuk menguraikan
kerancuan-kerancuan dari pemikiran filosof. Karenanya, Al-
Gazali dijuluki sebagai Si Penyembelih Ayam Bertelur Emas”.12

12
Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah), (Yogyakarta:
Islamika, 2003), hal pengantar. xvi

9
DAFTRA PUSTAKA

Abu Hamid al-Gazali, Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-


Falasifah, Yogyakarta: Islamika, 2003

Imam al Gazali, Tahafut al-Falasifat , Cet.IV: Mesir: Dat al-


Ma’rif, 1966)

Mutiali, Al-Gazali dan Kritiknya Terhadap Filosof, Jurnal


Aqidah, 2016

Nasution Hasyimsyah, Filsafat Islam, Cet.III, Jakarta: Gaya


Media Pratama, 2002

Nurcholish Majid, Khazanah Intelektual Islam, cet II:


Jakarta: Bulan Bintang, 1994

10