Anda di halaman 1dari 64

BAB IV

ANALISIS DAN PERENCANAAN

4.1 Analisis
Pada tahap analisis ini, model struktur gedung 3 dimensi diberi beban
gravitasi (beban mati dan beban hidup) dan beban lateral (beban gempa dan beban
angin). Selanjutnya model struktur gedung tersebut dihitung dengan menggunakan
ETABS 2016 v.16 sehingga diketahui besarnya perbedaan antara opon frem dengan
infilled frame

Bangunan yang akan dianalisa berupa bangunan hotel 14 lantai termasuk


atap yang berada di zona gempa 4, direncanakan menggunakan struktur baja.

4.2 Denah dan model struktur


Spesifikasi dari bangunan yang dianalisa sebagai berikut:
a. Panjang (arah y) : 23 m
b. Lebar (arah x) : 34.9 m
c. Tinggi antar lantai : lantai dasar dengan tinggi 7 m,
: lantai 1-10 dengan tinggi 3.25 m,
: lantai 11-12 dengan tinggi 4 m
: lantai 13 dengan tinggi 2.6 m

Gambar 4.1 Denah perencanaan struktur

1
Keterangan:
L 14
B2 = WF 250×175, berat 44,1 kg/m
K1 = WF 400×400, berat 415 kg/m
L 11 – L 13
B2 = WF 450×200, berat 76,0 kg/m
K1 = WF 400×400, berat 415 kg/m
L8 – L10
B2 = WF 450×200, berat 76,0 kg/m
K1 = WF 400×400, berat 605 kg/m
L7
B2 = WF 450×200, berat 76,0 kg/m
K1 = WF 14 × 16, berat 744,1 kg/m
L5-L6
B2 = WF 500×200, berat 103 kg/m
K1 = WF 14 × 16, berat 744,1 kg/m
L1-L4
B2 = WF 500×200, berat 103 kg/m
K1 = WF 14 × 16, berat 900,3 kg/m

Gambar 4.2 Struktur tanpa bresing Pot.6-6

4.2.1 mensi struktur berdasarkan kebutuhan gaya-gaya dalam


Dimensi elemen-elemen pada struktur dipilih dengan cara coba-coba (trial
and error) yang sudah dilakukan pada program SAP2000. Dimensi tersebut dipilih
dengan pertimbangan kemampuannya dalam menahan beban yang dibuktikan
dengan tampilan rasio tegangan ≤ 1. Dimensi yang akan ditampilkan di bawah ini
merupakan dimensi akhir dan sudah termasuk beban-beban didalamnya termasuk
beban gempa.

2
Gambar 4.6 Denah kompone struktur tanpa bresing
Tabel 4.3 Komponen struktur tanpa bresing
Lantai B1 B2 K1 K2
Atap W 250×175×7×12 W 400×400×30×50 W 400×400×30×50
13 W 250×175×7×12 W 450×200×9×14 W 400×400×30×50 W 400×400×30×50
12 W 250×175×7×12 W 450×200×9×14 W 400×400×30×50 W 400×400×30×50
11 W 250×175×7×12 W 450×200×9×14 W 400×400×30×50 W 400×400×30×50
10 W 300×200×8×12 W 450×200×9×14 W 400×400×45×70 W 400×400×45×70
9 W 300×200×8×12 W 450×200×9×14 W 400×400×45×70 W 400×400×45×70
8 W 300×200×8×12 W 450×200×9×14 W 400×400×45×70 W 400×400×45×70
7 W 300×200×8×12 W 450×200×9×14 W 498×432×56×89 W 498×432×56×89
6 W 400×200×8×13 W 500×200×11×19 W 498×432×56×89 W 498×432×56×89
5 W 400×200×8×13 W 500×200×11×19 W 498×432×56×89 W 498×432×56×89
Lanjut Tabel 4.3
Lantai B1 B2 K1 K2
4 W 500×200×9×14 W 500×200×11×19 W 14×16×60×97 W 14×16×66×106
3 W 500×200×9×14 W 500×200×11×19 W 14×16×60×97 W 14×16×66×106
2 W 500×200×9×14 W 500×200×11×19 W 14×16×60×97 W 14×16×66×106
1 W 500×200×9×14 W 500×200×11×19 W 14×16×60×97 W 14×16×66×106

3
4.3 Pembebanan Struktur
Spesifikasi komponen material struktur gedung dalam analisa ini adalah
sebagai berikut:
Tebal plat lantai : Type A = 12 cm
: Type B = 16 cm
: Type C = 12 cm
: Type D = 16 cm
: Type E = 20 cm
: Type F = 15 cm
Data material baja yang digunakn dalam perencanaan ini adalah sebgai berikut:
Modulus elastisitas (E) : 200000 Mpa
Modulus geser (G) : 77200 Mpa
Mutu baja yang digunakan : BJ 37
Fy : 340 Mpa
Fu : 370 Mpa
4.3.1 Berat mati tambahan struktur
1. Plat Lantai
beban mati yang bekerja pada plat lantai meliputi:
beban pasir setebal 1 cm 0.01 x 16 = 0.2 kN/m2
beban spesi setebal 3 cm 0.03 x 22 = 0.7 kN/m2
beban keramik setelabl 1 cm 0.01 x 22 = 0.2 kN/m2
berat plafon dan penggantung = 0.2 kN/m2
beban instalasi ME = 0.3 kN/m2
Total beban mati pada plat lantai 1.49 kN/m2
2. Plat Atap
beban mati yang bekerja pada plat atap meliputi
berat waterproofing dengan aspal tabal 2 cm 0.02 x 14 = 0.3 kN/m2
berat plafon dan penggantung = 0.2 kN/m2
beban instalasi ME = 0.3 kN/m2
Total beban mati pada plat atap 0.73 kN/m2

4
3. Tangga
berat anak tangga 0.171 x 0.31/2 x 24 = 0.63612 kN/m2
berat keramik 0.01 x 22 = 0.22 kN/m2
berat spesi 0.03 x 22 = 0.66 kN/m2
1.51612 kN/m2
4. Bordes
berat keramik dan spesi 0.01 x 22 = 0.22 kN/m2
0.03 x 22 = 0.66 kN/m2
0.88 kN/m2
5. Beban mati pada balok
Dinding menggunakan bata ringan (Hebel) dengan berat 6,5 kN/m3
Beban mati pada balok = tinggi dinding x berat normal hebel x tebal dinding

= 3,25 × 6,5 × 0,1 = 2,1125 𝑘𝑁/𝑚


= 4,00 × 6,5 × 0,1 = 2,6 𝑘𝑁/𝑚
= 2,60 × 6,5 × 0,1 = 1,69 𝑘𝑁/𝑚
6. Beban akibat beban lift
Tabel 4.7 Spesifikasi lift
Berat Ukuran lift (mm) Tinggi Berat
Kode Kapasitas
Lift Operasi Mesin
Lift Beban (Kg) CW CD CH
(Kg) (m) (Kg)
1PE 1000 2000 1600 1400 2700 80 258
2PE 1000 2000 1600 1400 2700 80 258
FE 1000 4000 1700 2400 2200 60 258
PE = Passangers elevators, lift penumpang
FE = Freight elevator, lift barang
Beban akibat lift penumpang 1 dan 2
Pu =Berat lift + berat mesin + Kapasitas beban
=2000 + 258 + 1000
=3258 kg
=32,58 kN

5
7. Beban kolam renang
Berat air = ρ x tinggi
= 1000 x 1.22
= 1220 kg/m2
= 12,2 kN/m2
4.3.2 Beban hidup yang bekerja pada struktur
Balkon dan dak = 4,79 kN/m2
Ruang pribadi dan koridor = 1,92 kN/m2
Ruang publik dan koridor = 4,79 kN/m2
Tangga = 4,79 kN/m2

4.3.3 Beban angin yang bekerja pada struktur


Data teknis yang digunakan
- Kecepatan angin 80 km/jam (lampiran) = 22.222 m/s
- Tinggi gedung = 50.1 m
- Panjang gedung (L) = 23 m
- Lebar gedung (B) = 34.9 m
- Rasio (B/L) = 1.5174
- Faktor arah angin, Kd (Tabel 2-11) = 0.85
- Kategori eksposur = C
- Kategori topografi (Kzt) = 1
- Kategori tiupan angin (G) = 0.85
- Koefisien tekanan (Cp)
dinding sisi angin datang = 0.8
dinding sisi angin pergi = -0.3
dinding tepi = -0.7
- Koefisien eksposur tekanan velositas Kz = 1.399
Dari data beban angin di atas, dimasukkan keprogram SAP 2000 v.15 seperti
Gambar 4.8 dan Gambar 4.9 di bawah ini.

6
Gambar 4.8 Input beban angin di sap 2000 v.15

Gambar 4.9 Input data beban angin


4.3.4 Menghitung beban gempa
Data yang dibutuhkan
- jenis gedung = Hotel
- kategori resiko gedung = Kategori resiko II
- faktor keutamaan gempa (I) = 1
- kordinat lokasi banguna Amarsvati = Lintang: -8.437987
Bujur : 116.039876

7
1. Mempersiapkan grafik respon spektrum
Gerapfik respon spektrum bisa dipersiapkan dengan langkah berikut ini.
a) Menentukan parameter percepatan gempa (Ss, S1)
Parameter percepatan gempa (Ss, S1) dapat diketahui secara detail melalui
situs online dinas PU di link di bawah.
http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/result/
data yang diinput dalam situs tersebut adalah koordinat lokasi bangunan yang
akan direncanakan atau nama kota dari lokasi perencanaan.

Gambar 4.10 Output desain sepktra pada website puskim.pu.go.id


Hasil Output percepatan gempa untuk gedung Hotel Amarspati adalah
sebesar Ss = 0.985 dan S1=0.287.
b) Menentukan koefisien situs dan parameter respon spectra percepatan gempa
Berdasarkan website di bawah.
http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/result/
didapat nilai parameter respon spektrum percepatan pada periode pendek
(Sms) dan periode 1 detik (SM1) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Respon spektrum desain berdasarkan website puskim.pu.go.id


PGA (g) 0,446 FPGA 0,900 SM1 (g) 0,949
SS (g) 0,985 FA 0,918 SDS (g) 0,603
S1 (g) 0,387 FV 2,451 SD1 (g) 0,633
CRS 1,057 PSA (g) 0,401 T0 (detik) 0,201
CR1 0,949 SMS (g) 0,904 TS (detik) 1,0491

8
c) Menetukan spektrum respon desain
Dari Tabel 4.8 didaptkan nilai SDS = 0,603; SD1= 0,633; T0 (detik) = 0,210;
Ts (detik) = 1,049.
1) Untuk periode ≤ T0, spektrum respon percepatan desain (Sa) dihitung
dengan persamaan (2-14)
𝑇 0
𝑆𝑎 = 𝑆𝐷𝑆 (0,4 + 0,6 ) = 0,603 (0,4 + 0,6 ) = 0,241
𝑇0 0,210
2) Untuk T ≥ T0 ≤ Ts, Sa = SDS = 0,603
3) Untuk T > Ts, nilai Sa dihitung menggunakan persamaan (2-17).
𝑆𝐷1 0,663
𝑆𝑎 = = = 0,603
𝑇 1,050
Perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Respon spektra desain


T Sa T Sa T Sa T Sa
0,000 0,241 1,750 0,362 2,650 0,239 3,550 0,178
0,210 0,603 1,850 0,342 2,750 0,230 3,650 0,173
1,050 0,603 1,950 0,325 2,850 0,222 3,750 0,169
1,150 0,551 2,050 0,309 2,950 0,215 3,850 0,164
1,250 0,507 2,150 0,294 3,050 0,208 3,950 0,160
1,350 0,469 2,250 0,281 3,150 0,201 4,000 0,158
1,450 0,437 2,350 0,269 3,250 0,195
1,550 0,408 2,450 0,258 3,350 0,189
1,650 0,384 2,550 0,248 3,450 0,183

0.700
Percepatan respon Spektra, Sa

0.600
0.500
0.400
(g)

0.300
0.200
0.100
0.000
0 1 2 3 4 5
Periode, T (detik)

Gambar 4.11 Grafik respon spektra desain

9
2. Analisa Gempa dinamik respon spektrum dengan SAP 2000 v.15
Langkah-langkah untuk perhitungan gempa dinamik dengan SAP 2000 v.15
dilakukan sesuai dengan sup bab 2.3.3.6.
a. Menginput data respon spektrum di SAP 2000 v.15
Dari langkah-langkah pengerjaan pada sub bab 2.3.3.6 poin (a) didapatkan
hasil seperti Gambar 4.12.

Gambar 4.12 Kurva respon spektrum dengan spektrum frome file


b. Mendefinisikan tipe analisis respon spektrum
Analisis respon spektrum dapat didefinisikan dengan langkah yang tertera
pada sub bab 2.3.3.6 poin b, dengan hasil seperti ditunjukkan pada Gambar
4.13.

10
Gambar 4.13 Analisa case gempa respon spektrum arah X
Faktor sekala untuk portal tanpan bresing adalah sebagai berikut:
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 ×𝐼 9,81 ×1
Faktor sekala = × 100% = × 100% = 1,2262
𝑅 8

Faktor sekala untuk rangka baja menggunakan bresing konsentris khusus


(SRBKK)
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 ×𝐼 9,81 ×1
Faktor sekala = × 100% = × 100% = 1,635
𝑅 6

Faktor sekala untuk rangka baja menggunakan bresing eksentris (SRBE)


𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 ×𝐼 9,81 ×1
Faktor sekala = × 100% = × 100% = 1,2262
𝑅 8

c. Anlisis model
Analisa model dikerjakan sesuai dengan poin c dari sub bab 2.3.2.6 dengan
hasil seperti Gambar 4.14.

11
Gambar 4.14 Analysis case untuk model
Max number of mode = jumlah mode x jumlah tingkat
= 3 x 14
= 42
d. Menentukan massa struktur dan mendifinisikan pelat lantai sebagai
diafragma.Langkah selanjutnya dilakukan dalam menganalisa gempa
dinamik mengikuti sub bab 2.3.3.6 poin d.

d) Menentukan tipe analisa ragam respon spektrum


Pada SNI 1726-2012 Pasal 7.9.3, nilai untuk masing-masing
parameter yang ditinjau dan dihitung untuk berbagai ragam, harus
dikombinasikan menggunakan metoda akar kuadrat jumlah kuadrat
(SRSS) atau metoda kombinasi kuadrat lengkap (CQC). Metoda CQC
harus digunakan untuk masing-masing nilai ragam di mana ragam berjarak
dekat mempunyai korelasi silang yang signifikan di antara respons translasi
dan torsi.
Sedangkan pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.2 menyatakan
bahwa struktur gedung yang mempunyai getar alami kurang dari 15%
harus menggunakan metode CQC, jika melebihi 15% menggunakan SRSS.
Dari hasil analisis pada SAP 2000 V.15 diperoleh nilai waktu getar struktur
gedung seperti pada Tabel 4.11.

12
Tabel 4.11 Perhitungan selisih periode (ΔT) setiap mode
Tanpa Bresing SRBKK SRBE
Mode
T (detik) ∆T% T (detik) ∆T% T (detik) ∆T%
1 2,883 11,335 2,448 40,115 2,449 29,106
2 2,556 5,301 1,466 22,279 1,736 21,973
3 2,421 56,148 1,140 25,345 1,355 37,062
4 1,062 11,815 0,851 40,953 0,853 25,692
5 0,936 9,598 0,502 5,022 0,634 19,817
6 0,846 27,323 0,477 18,287 0,508 8,908
7 0,615 11,210 0,390 16,651 0,463 20,677
8 0,546 13,668 0,325 6,655 0,367 9,952
9 0,472 7,764 0,303 3,523 0,331 7,323
10 0,435 11,220 0,293 3,024 0,306 2,700
Keterangan :
∆T : Selisih periode/waktu getar yang dihitung dengan cara = (T1-T2)/T1 x
100% dan seterusnya.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada Tabel 4.10, terlihat
bahwa waktu getar struktur sistem SRBE dan SBKK melebihi 15%, maka
sesuai dilakukan kombinasi ragam spektrum SRSS.
4.3.5 Kombinasi pembebanan
Kombinasi yang digunakan adalah sebagai berikut.
Kombinasi pembebanan tetap (akibat beban mati, hidup dan angin
a) U = 1,4 DL
b) U = 1,2 DL + 1,6 LL
c) U = 1,2 DL + WL + LL
d) U = 0,9 DL + WL
Kombinasi pembebanan semintara (akibat beban mati, hidup dan gempa)
a) U = 0,9 DL + 1,0 EQx + 0,3 EQy
b) U = 0,9 DL - 1,0 EQx - 0,3 Eqy
c) U = 0,9 DL + 1,0 EQx - 0,3 Eqy
d) U = 0,9 DL - 1,0 EQx + 0,3 EQy
e) U = 0,9 DL + 1,0 EQy + 0,3 Eqx
f) U = 0,9 DL - 1,0 EQy - 0,3 Eqx

13
g) U = 0,9 DL +1,0 EQy - 0,3 Eqx
h) U = 0,9 DL - 1,0 EQy + 0,3 EQx
i) U = 1,2 DL + 1,0 LL + 1,0 EQy + 0,3 EQx
j) U = 1,2 DL + 1,0 LL - 1,0 EQy - 0,3 Eqx
k) U = 1,2 DL + 1,0 LL + 1,0 EQy - 0,3 Eqx
l) U = 1,2 DL + 1,0 LL - 1,0 EQy + 0,3 EQx
m) U = 1,2 DL + 1,0 LL + 1,0 EQx + 0,3 Eqy
n) U = 1,2 DL + 1,0 LL - 1,0 EQx - 0,3 Eqy
o) U = 1,2 DL + 1,0 LL + 1,0 EQx - 0,3 EQy
p) U = 1,2 DL + 1,0 LL - 1,0 EQx + 0,3 EQy
Keterangan:
DL : Beban mati yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen, termasuk
dinding, lantai, atap, plafon, partisi tetap, tangga, dan peralatan layan tetap;
LL : Beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung, termasuk kejut,
tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti angin, hujan, dan lain-lain;
WL : Beban angin
E : Beban gempa

4.4 Gaya geser dasar nominal V (Base Share)


4.4.1 Base Share berdasarkan kebutuhan penelitian
Pada SNI Gempa 03-1726-2012 Pasal 7.1.3 disebutkan bahwa nilai akhir
respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat
pengaruh gempa rencana dalam suatu arah tertentu, tidak boleh diambil kurang dari
80% nilai respons ragam yang pertama. Bila respons dinamik struktur gedung
dinyatakan dalam gaya geser dasar nominal V, seperti persamaan berikut :
V dinamik > 0,8 V Statik
Gaya dasar seismik V ditentukan berdasarkan rumus (2-21)
V = Cs×W
1. Base share pada struktur rangka tanpa bresing
Nilai Cs dihitung menggunakan rumus (2-22)

14
𝑆𝐷𝑆 0,603
𝐶𝑠 = 𝑅
= 8
= 0,0754
(𝐼 ) (1)
𝑒

Nilai Cs yang dihitung dengan persamaan rumus (2-22) tidak perlu melebihi
nilai Cs yang dihitung menggunakan rumus (2-23)
𝑆𝐷1
𝐶𝑠 = 𝑅
𝑇 (𝐼 )
𝑒

Menentukan nilai Tc dengan persamaan berikut


Ta = Ct hnx = 0,0724 x 50,10,8 = 1,658
Sehingga
Tc = Cu×Ta = 1,4 × 1,658 = 2,321
𝑆𝐷1 0,633
𝐶𝑠 = 𝑅
= 8
= 0,034
𝑇 (𝐼 ) 2,321 (1)
𝑒

Setelah dilakukan analisa menggunakan SAP 2000 V.15 didapatkan base


reactions seperti Gambar 4.15

Gambar 4.15 Output base reactions (Tanpa Bresing)


Pada gambar 4.15, nilai base share dibaca pada kolom GlobalFX dan
GlobalFY karena sesuai dengan arahnya (lateral), dipilih tepe beban respon
spektrum RS-X dan RS-Y. Selain itu, Output base reaction juga bisa digunakan
untuk mengetahui berat struktur total, sekaligus juga memeriksa gaya geser statik
ekuivalen, tipe beban yang dipilih adalah tipe dead, mati tambahan dan live saja,
sedangkan kolom yang dibaca adalah kolom GlobalFZ.

15
Tabel 4.12 Gaya geser dasar struktur tanpa bresing
OutputCase GlobalFX GlobalFY
Text KN KN
RS-X 1670,021 536,207
RS-Y 513,387 1747,629

Tabel 4.13 Berat total struktur tanpa bresing


OutputCase GlobalFZ
Text KN
DEAD 42393,564
MATI T 19847,454
HIDUP 32772,058
W = Dead + Mati T + 30% × Hidup
= 42393,561 + 19847,454 + 30% × 32772,058
= 72072,635 kN
Sehingga
V = Cs×W = 0,034 × 72075,332 = 2456,704 kN
85%V = 2088,199 kN
Vdinamik X = 1670,271 kN ˂ 85%V = 2088,199 kN NO
V dinamik Y = 1747,785 kN < 85%V = 2088,199 kN NO
Dari hasil hitungan tersebut, gaya geser dasar lebih kecil 85% dari gaya
geser dasar (V) yang dihitung menggunakan rumus (2-21), maka V harus
𝑉
dikalikan dengan 0,85 𝑉 .
𝑑𝑖𝑛𝑎𝑚𝑖𝑘

Faktor skala gempa dinamik respon spektrum


2088,199 2088,199
Arah X =1670,271 = 1,250 Arah Y =1747,785 = 1,195

Nilai faktor sekala gempa yang sudah dihitung, di input ke Load Case Data
pada SAP 2000 v.15, seperti Gambar 4.16.

16
Gambar 4.16 Load Case Data Respon spektrum (Tanpa bresing)
Seteleh memasukkan nilai faktor skala gempa (Gambar 4.16), diperoleh base
reactions seperti Gambar 4.17.

Gambar 4.17 Output base reactions setelah dikali faktor sekala gempa (Tanpa
Bresing)
Tabel 4.14 Gaya geser dasar tanpa bresing setelah dikali faktor sekala gempa
OutputCase GlobalFX GlobalFY
Text KN KN
RS-X 2088,199 670,474
RS-Y 613.433 2088,198

V dinamik X = 2088,199 kN ≈ 80%V = 2088,199 kN OK


V dinamik Y = 2088,198 kN ≈ 80%V = 2088,199 kN OK

17
2. Base share pada struktur rangka bresing konsentris khusus (SRBKK)
Nilai Cs dihitung menggunakan rumus (2-22)
𝑆𝐷𝑆 0,603
𝐶𝑠 = 𝑅
= 6
= 0,101
(𝐼 ) (1)
𝑒

Nilai Cs yang dihitung dengan persamaan rumus (2-22) tidak perlu melebihi
nilai Cs yang dihitung menggunakan rumus (2-23)
𝑆𝐷1
𝐶𝑠 = 𝑅
𝑇 (𝐼 )
𝑒

Menentukan nilai Tc dengan persamaan berikut


Ta = Ct hnx = 0,0488 x 50,10,75 = 0,919
Sehingga
Tc = Cu×Ta = 1,4 × 0,919 = 1,2865
𝑆𝐷1 0,633
𝐶𝑠 = 𝑅
= 6
= 0,082
𝑇 (𝐼 ) 1,2865 (1)
𝑒

Setelah dilakukan analisa menggunakan SAP 2000 V.15 didapatkan base


reactions seperti Gambar 4.18

Gambar 4.18 Output base reactions (SRBKK)


Tabel 4.15 Gaya geser dasar SBRKK
OutputCase GlobalFX GlobalFY
Text KN KN
RS-X 2665,866 1253,124
RS-Y 803,196 4169,843

18
Tabel 4.16 Berat total struktur SRBKK
OutputCase GlobalFZ
Text KN
DEAD 42718,142
MATI T 19847,454
HIDUP 32772,058
W = Dead + Mati T + 30% × Hidup
= 42718,142 + 19847,454 + 30% × 32772,058
= 72397,213 kN
Sehingga
V = Cs×W = 0,082 × 72397 = 5936,965 kN
85%V = 5046,421 kN
Vdinamik X = 2665,866 kN ˂ 85%V = 5046,421 kN NO
V dinamik Y = 4169,843 kN < 85%V = 5046,421 kN NO
Faktor sekala gempa dinamik respon spektrum
5046,421 5046,421
Arah X = 2665,866 = 1,893 Arah Y = 4169,843 = 1,210

Nilai faktor sekala gempa yang sudah dihitung, di input ke Load Case Data
pada SAP 2000 v.15, seperti Gambar 4.19

Gambar 4.19 Load Case Data Respon spektrum (SRBKK)

19
Gambar 4.20 Output base reactions setelah dikali faktor sekala gempa
(SRBKK)
Tabel 4.17 Gaya geser dasar SRBKK setelah dikali faktor sekala gempa
OutputCase GlobalFX GlobalFY
Text KN KN
RS-X 5046,420 2372,134
RS-Y 972,043 5046,421
V dinamik X = 5046,420 kN ≥ 85%V = 5046,421 kN OK
V dinamik Y = 5046,421 kN ≥ 85%V = 5046,421 kN OK
3. Base share pada struktur rangka bresing eksentris (SRBE)
Nilai Cs dihitung menggunakan rumus (2-22)
𝑆𝐷𝑆 0,603
𝐶𝑠 = 𝑅
= 8
= 0,0754
(𝐼 ) (1)
𝑒

Nilai Cs yang dihitung dengan persamaan rumus (2-22) tidak perlu melebihi
nilai Cs yang dihitung menggunakan rumus (2-23)
𝑆𝐷1
𝐶𝑠 = 𝑅
𝑇 (𝐼 )
𝑒

Menentukan nilai Tc dengan persamaan berikut


Ta = Ct hnx = 0,0731 x 50,10.75 = 1,3766
Sehingga
Tc = Cu×Ta = 1,4 × 1,3766 = 1,9272
0.633
𝐶𝑠 = 8
= 0,0411
1,9272 (1)

Setelah dilakukan analisa menggunakan SAP 2000 V.15 didapatkan base


reactions seperti Gambar 4.21

20
Gambar 4.21 Output base reactions (SRBE)
Tabel 4.18 Gaya geser dasar SRBE
OutputCase GlobalFX GlobalFY
Text KN KN
RS-X 1994,857 818,179
RS-Y 601,967 2718,623

Tabel 4.19 Berat total struktur SRBE


OutputCase GlobalFZ
Text KN
DEAD 42695,417
MATI T 19847,454
HIDUP 32772,058
W = Dead + Mati T + 30% × Hidup
= 42695,417+ 19847,454 + 30% × 32772,058
= 72374,488 kN
Sehingga
V = Cs×W = 0,0411 × 72374,488 = 2971,478 kN
85%V = 2525,756 kN
Vdinamik X = 1994,857˂ 85%V = 2525,756 kN NO
V dinamik Y = 2718,623 kN > 85%V = 2525,756 kN OK
Faktor sekala gempa dinamik respon spektrum
2525,756 2525,756
Arah X = 1994,857 = 1,266 Arah Y = 2718,623 = 0,929

21
Gambar 4.22 Load Case Data Respon spektrum (SRBE)

Gambar 4.23 Output base reactions setelah dikali faktor sekala gempa
(SRBE)
Tabel 4.20 Gaya geser dasar SRBE setelah dikalikan faktor sekala gempa
OutputCase GlobalFX GlobalFY
Text KN KN
RS-X 2525,859 1012,850
RS-Y 604,067 2718,747

V dinamik X = 2525,859 kN > 80%V = 2525,756 kN OK


V dinamik Y = 2718,747 kN > 80%V = 2525,756 kN OK
Hasil perhitungan basa share berdasarkan kebutuhan penelitian untuk
ketiga model struktur dapat dilihat pada pada Tabel 4.21.

22
Tabel 4.21 Base share struktur rangka tanpa bresing, SRBKK dan SRBE
Gaya geser Tanpa bresing SRBKK SRBE
V RS-X (kN) 2088,199 5046,420 2525,859
V RS-Y (kN) 2088,198 5046,421 2718,747
Perbandingan base share pada Tabel 4.21 untuk ketiga model struktur
disajikan juga dalam bentuk grafik pada Gambar 4.24.
6000 5046,420 5046,421

4000 2718,747
2088,199 2525,859 2088,198
2000

0
V RS-X V RS-Y

Tanpa Bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.24 Base share struktur rangka tanpa bresing, SRBKK dan SRBE
Berdasarkan Gambar 4.24, struktur yang direncanakan berdasarkan
keperluan penelitian dimana dimensi tiap section sama, gaya geser dasar gempa
(V) untuk tiap struktur berbeda. Gaya geser dasar (V) gempa paling besar terjadi
pada struktur yang menggunakan bresing konsentris khusus (SRBKK) sebesar
5046,421 kN. Disusul oleh struktur yang menggunakan bresing eksentris (SRBE)
dengan nilai 2718,747 kN atau sekitar 53% dari struktur yang menggunakan bresing
konsentris. Hal ini disebabkan oleh berat struktur yang berbeda karena penambahan
bresing dan sistem struktur yang digunakan.
4.4.2 Gaya geser dasar bedasarkan kebutuhan gaya-gaya dalam
Perhitungan gaya geser dasar berdasarkan kebutuhan gaya-gaya dalam
mengikuti langkah perhitungan base share berdasarkan kebutuhan penelitian.
Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel 4.22.

Tabel 4.22 Gaya geser dengan profil yang berbeda


Tanpa
SRBKK SRBE
Bresing
DEAD 42393,564 40010,952 37848,565
Beban struktur
Mati T 19847,454 19847,454 19847,454
(kN)
Hidup 32772,058 32772,058 32772,058
Periode max T 2,321 1,287 1,927

23
Lanjut Tabel 4.22
Koef. Modifikasi
R 8 6 8
respon gempa
Berat total (kN) W 72072,635 69690,023 67527,636
Koef. Respon Cs (2-22) 0,075 0,101 0,075
gempa Cs (2-23) 0,034 0,082 0,041
V=Cs*W 2456,704 5714,961 2772,480
Gaya geser dasar 80%V 1965,363 4571,969 2217,984
(kN) V RS-X 2088,199 4857,717 2356,705
V RS-Y 2088,198 4857,717 2356,704
Kontrol
OK OK OK
V RS > 80% V
Perbandingan gaya geser dasar pada Tabel 4.22, untuk setiap model struktur
disajikan juga dalam bentuk grafik pada Gambar 4.25.

6000 4857,717 4857,717


4000
2088,199 2356,705 2088,198 2356,704
2000

0
V RS-X V RS-Y

Tanpa Bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.25 Gaya geser dasar untuk profi berbeda


Dari Gambar 4.25 menunjukkan gaya geser dasar gempa yang paling besar
dari ketiga model struktur terjadi pada sistem rangka bresing konsentris khusus
(SRBKK). Kondisi ini disebabkan oleh sistem struktur yang digunakan. Pemilihan
sistem struktur akan mempengaruhi nilai koefisien modifikasi respon (R), faktor
kuat kuat lebih sistem (Ωo), faktor pembesaran defleksi (Cd) dan periode maksimum
(T).
4.5 Simpangan struktur
Kriteria persyaratan simpangan mengacu pada SNI gempa 2012 dengan
faktor-faktor sebagai berikut:
a. Faktor pembesaran defleksi (Cd) untuk masing-masing struktur yang tertera
pada Tebel 2.8
b. Faktor keutamaan gempa yang terdapat pada Tabel 2.5

24
c. Simpangan antar lantai yang diizinkan untuk gedung dengan kategori resiko II
adalah 0,02 x tinggi tingkat.
4.5.1 Simpangan berdasarkan kebutuhan penelitian
Berikut merupakan hasil perhitungan simpangan berdasarkan kebutuhan
penelitian dengan profil yang sama untuk tiap model struktur, disajikan dalam
bentuk tabel dan gambar.
Simpangan ijin antar lantai 1 (∆a) = 0,02 × hx
= 0,02 × 700
= 140 mm
Simpang tingkat (δ) = 8,800 mm (didapat dari SAP 2000 v.15)
𝛿×𝐶𝑑 8,800×5,5
Simpang tingkat diperbesar (δi) = = = 48,400 𝑚𝑚
𝐼 1

Simpang antar lantai (∆) = δi – δn


= 48,400 – 0
= 48,400 mm ˂ 140 mm OK !!!
Perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 4.23 sampai Tabel 4.28.

Tabel 4.23 Simpangan struktur tanpa bresing sumbu memanjang, X


Simpang Simpang
Simpang
Diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
14 2600 52 84,100 462,550 18,700 OK
13 4000 80 80,700 443,850 35,750 OK
12 4000 80 74,200 408,100 32,450 OK
11 3250 65 68,300 375,650 28,050 OK
10 3250 65 63,200 347,600 30,800 OK
9 3250 65 57,600 316,800 33,000 OK
8 3250 65 51,600 283,800 35,200 OK
7 3250 65 45,200 248,600 34,650 OK
6 3250 65 38,900 213,950 34,100 OK
5 3250 65 32,700 179,850 33,550 OK
4 3250 65 26,600 146,300 31,900 OK
3 3250 65 20,800 114,400 33,000 OK
2 3250 65 14,800 81,400 33,000 OK
1 7000 140 8,800 48,400 48,400 OK
0 0,000 0

25
Tabel 4.24 Simpangan struktur tanpa bresing sumbu melintang, Y
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ Kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
14 2600 52 157,500 866,250 30,800 OK
13 4000 80 151,900 835,450 55,000 OK
12 4000 80 141,900 780,450 53,350 OK
11 3250 65 132,200 727,100 54,450 OK
10 3250 65 122,300 672,650 58,300 OK
9 3250 65 111,700 614,350 62,700 OK
8 3250 65 100,300 551,650 64,900 OK
7 3250 65 88,500 486,750 64,350 OK
6 3250 65 76,800 422,400 60,500 OK
5 3250 65 65,800 361,900 57,750 OK
4 3250 65 55,300 304,150 55,550 OK
3 3250 65 45,200 248,600 57,750 OK
2 3250 65 34,700 190,850 62,150 OK
1 7000 140 23,400 128,700 128,700 OK
0 0 0
Tabel 4.25 Simpangan struktur bresing konsentris khusus sumbu memanjang X
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
atap 2600 52 191,700 958,500 30,500 OK
13 4000 80 185,600 928,000 52,000 OK
12 4000 80 175,200 876,000 49,000 OK
11 3250 65 165,400 827,000 53,000 OK
10 3250 65 154,800 774,000 63,000 OK
9 3250 65 142,200 711,000 71,500 NO
8 3250 65 127,900 639,500 77,500 NO
7 3250 65 112,400 562,000 77,000 NO
6 3250 65 97,000 485,000 76,000 NO
5 3250 65 81,800 409,000 74,000 NO
4 3250 65 67,000 335,000 72,000 NO
3 3250 65 52,600 263,000 73,500 NO
2 3250 65 37,900 189,500 73,000 NO
1 7000 140 23,300 116,500 116,500 OK
dasar 0 0 0 0

26
Tabel 4.26 Simpangan struktur bresing konsentris khusus sumbu melintang Y
Simpang Simpang
Simpang
Diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
atap 2600 52 91,500 457,500 28,500 OK
13 4000 80 85,800 429,000 33,500 OK
12 4000 80 79,100 395,500 32,500 OK
11 3250 65 72,600 363,000 31,000 OK
10 3250 65 66,400 332,000 33,000 OK
9 3250 65 59,800 299,000 35,000 OK
8 3250 65 52,800 264,000 34,000 OK
7 3250 65 46,000 230,000 34,000 OK
6 3250 65 39,200 196,000 33,000 OK
5 3250 65 32,600 163,000 33,000 OK
4 3250 65 26,000 130,000 31,000 OK
3 3250 65 19,800 99,000 31,000 OK
2 3250 65 13,600 68,000 29,000 OK
1 7000 140 7,800 39,000 39,000 OK
dasar 0 0 0 0
Tabel 4.27 Simpangan struktur bresing eksentris sumbu memanjang, X
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar lantai Δ
(mm)
δi (mm) (mm)
atap 2600 52 101,200 404,800 14,000 OK
13 4000 80 97,700 390,800 26,400 OK
12 4000 80 91,100 364,400 23,200 OK
11 3250 65 85,300 341,200 22,800 OK
10 3250 65 79,600 318,400 26,000 OK
9 3250 65 73,100 292,400 29,200 OK
8 3250 65 65,800 263,200 31,600 OK
7 3250 65 57,900 231,600 31,600 OK
6 3250 65 50,000 200,000 31,200 OK
5 3250 65 42,200 168,800 30,400 OK
4 3250 65 34,600 138,400 30,000 OK
3 3250 65 27,100 108,400 30,000 OK
2 3250 65 19,600 78,400 30,800 OK
1 7000 140 11,900 47,600 47,600 OK
dasar 0 0 0 0

27
Tabel 4.28 Simpangan struktur bresing eksentris sumbu melintang, Y
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar lantai Δ
(mm)
δi (mm) (mm)
atap 2600 52 64,400 257,600 15,600 OK
13 4000 80 60,500 242,000 18,400 OK
12 4000 80 55,900 223,600 18,400 OK
11 3250 65 51,300 205,200 16,400 OK
10 3250 65 47,200 188,800 17,600 OK
9 3250 65 42,800 171,200 18,800 OK
8 3250 65 38,100 152,400 18,400 OK
7 3250 65 33,500 134,000 18,400 OK
6 3250 65 28,900 115,600 17,600 OK
5 3250 65 24,500 98,000 17,200 OK
4 3250 65 20,200 80,800 16,800 OK
3 3250 65 16,000 64,000 16,800 OK
2 3250 65 11,800 47,200 16,800 OK
1 7000 140 7,600 30,400 30,400 OK
dasar 0 0 0 0

Dari Tabel 4.20 sampai Tabel 4.25 dapat diketahui perbandingan simpang
tingkat (δ) yang terjadi pada tiap model struktur. Lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 4.26 dan Gambar 4.27.
220
200
Simpang Tingkat,δ (mm)

180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

Tanpa bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.26 Grafik perbandingan simpang tingkat sumbu memanjang, X

28
180
160

Simpang Tingkat, δ (mm)


140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

Tanpa Bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.27 Grafik perbandingan simpang tingkat sumbu melintang, Y


Berdasarkan Gambar 4.26 dan Gambar 4.27, dapat diketahui bahwa struktur
rangka tanpa bresing mengalami simpang tingkat yang paling besar pada sumbu
melintang Y yaitu 157.500 mm, dikarenkan kekakuan sumbu melingtang Y lebih
kecil jika dibandingkan dengan kekakuan sumbu memanjang X. Kemudian pada
sumbu melintang Y, dipasangkan bresing konsentris khusus (SRBKK) dan bresing
eksentris (SRBE) tanpa merubah dimensi elemen struktur sebelumnya. Setelah itu,
simpang tingkat pada sumbu melintang Y mengalami penuruanan sebesar 42%
untuk struktur SRBKK atau 91,500 mm, dan 59% untuk struktur SRBE atau 64,400
mm. Struktur tanpa bresing untuk sumbu memanjang X, mengalami deformasi
sebesar 84,1 mm. Setelah dipasangkan bresing, struktur SRBKK dan SRBE untuk
sumbu memanjang X terjadi kenaikan nilai simpangan secara berturut-turut
manjadi 191,700 mm dan 101,200 mm.
Simpang antar lantai (∆) pada Tabel 4.23 sampai Tabel 4.28 juga disajikan
dalam bentuk grafik Gambar 4.28 dan Gambar 4.29.

29
160

Simpang Antar Tingkat, ∆ (mm)


140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

SRBE SRBKK
TANPA BRESING simpangan izin

Gambar 4.28 Grafik perbandingan simpang antar lantai sumbu memanjang X


150
Simpang Antar Tingkat, ∆ (mm)

100

50

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

SRBE SRBKK
TANPA BRESING simpangan izin

Gambar 4.29 Grafik perbandingan simpang antar lantai sumbu melintang Y


Berdasarkan Gambar 4.28 dan Gambar 4.29 dapat dilihat bahwa simpang antar
lantai (∆) sumbu memanjang X untuk struktur rangka bresing konsentris khusus
(SRBKK), mulai tingkat 2 sampai tingkat 9 tidak masuk dalam interval simpangan
izin. Sedangkan untuk struktur rangka bresing eksentris (SRBE) dan struktur tanpa
bresing memenuhi simpangan izin baik sumbu memanjang X maupun sumbu
melintang Y. Dengan profil yang sama untuk ketiga model struktur, SRBE
menghasilkan simpang antar lantai paling kecil diantara ketiga model struktur.
4.5.2 Simpangan berdasarkan kebutuhan gaya-gaya dalam
Berikut merupakan hasil perhitungan simpangan antar lantai berdasarkan
gaya-gaya dalam pada masing-masing struktur disajikan pada Tabel 4.29 sampai
Tabel 4.34 berikut ini.

30
Tabel 4.29 Simpangan tanpa bresing sumbu memanjang, X
Simpang Simpang
Simpang
Diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
14 2600 52 84,100 462,550 18,700 OK
13 4000 80 80,700 443,850 35,750 OK
12 4000 80 74,200 408,100 32,450 OK
11 3250 65 68,300 375,650 28,050 OK
10 3250 65 63,200 347,600 30,800 OK
9 3250 65 57,600 316,800 33,000 OK
8 3250 65 51,600 283,800 35,200 OK
7 3250 65 45,200 248,600 34,650 OK
6 3250 65 38,900 213,950 34,100 OK
5 3250 65 32,700 179,850 33,550 OK
4 3250 65 26,600 146,300 31,900 OK
3 3250 65 20,800 114,400 33,000 OK
2 3250 65 14,800 81,400 33,000 OK
1 7000 140 8,800 48,400 48,400 OK
0 0,000 0
Tabel 4.30 Simpangan tanpa bresing sumbu melintang, Y
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ Kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
14 2600 52 157,500 866,250 30,800 OK
13 4000 80 151,900 835,450 55,000 OK
12 4000 80 141,900 780,450 53,350 OK
11 3250 65 132,200 727,100 54,450 OK
10 3250 65 122,300 672,650 58,300 OK
9 3250 65 111,700 614,350 62,700 OK
8 3250 65 100,300 551,650 64,900 OK
7 3250 65 88,500 486,750 64,350 OK
6 3250 65 76,800 422,400 60,500 OK
5 3250 65 65,800 361,900 57,750 OK
4 3250 65 55,300 304,150 55,550 OK
3 3250 65 45,200 248,600 57,750 OK
2 3250 65 34,700 190,850 62,150 OK
1 7000 140 23,400 128,700 128,700 OK
0 0 0

31
Tabel 4.31 Simpangan SRBKK sumbu memanjang X
Simpang Simpang
Simpang tingkat antar
Lantai mm kontrol
Diizinkan tingkat δ diperbesar δi lantai Δ
(Δa) mm (mm) (mm) (mm)
atap 2600 52 171,900 859,500 20,500 OK
13 4000 80 167,800 839,000 62,500 OK
12 4000 80 155,300 776,500 59,000 OK
11 3250 65 143,500 717,500 59,500 OK
10 3250 65 131,600 658,000 62,500 OK
9 3250 65 119,100 595,500 62,000 OK
8 3250 65 106,700 533,500 59,500 OK
7 3250 65 94,800 474,000 58,000 OK
6 3250 65 83,200 416,000 60,500 OK
5 3250 65 71,100 355,500 59,500 OK
4 3250 65 59,200 296,000 59,000 OK
3 3250 65 47,400 237,000 60,500 OK
2 3250 65 35,300 176,500 63,000 OK
1 7000 140 22,700 113,500 113,500 OK
dasar 0 0 0 0
Tabel 4.32 Simpangan SRBKK sumbu melintang, Y
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
atap 2600 52 113,000 565,000 42,000 OK
13 4000 80 104,600 523,000 49,500 OK
12 4000 80 94,700 473,500 50,000 OK
11 3250 65 84,700 423,500 44,500 OK
10 3250 65 75,800 379,000 45,500 OK
9 3250 65 66,700 333,500 44,500 OK
8 3250 65 57,800 289,000 40,500 OK
7 3250 65 49,700 248,500 38,000 OK
6 3250 65 42,100 210,500 38,500 OK
5 3250 65 34,400 172,000 36,000 OK
4 3250 65 27,200 136,000 34,000 OK
3 3250 65 20,400 102,000 32,500 OK
2 3250 65 13,900 69,500 29,000 OK
1 7000 140 8,100 40,500 40,500 OK
dasar 0 0 0 0

32
Tabel 4.33 Simpangan SRBE sumbu memanjang, X
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
atap 2600 52 126,100 504,400 12,000 OK
13 4000 80 123,100 492,400 36,000 OK
12 4000 80 114,100 456,400 30,000 OK
11 3250 65 106,600 426,400 27,600 OK
10 3250 65 99,700 398,800 30,800 OK
9 3250 65 92,000 368,000 32,400 OK
8 3250 65 83,900 335,600 34,800 OK
7 3250 65 75,200 300,800 37,200 OK
6 3250 65 65,900 263,600 39,600 OK
5 3250 65 56,000 224,000 40,000 OK
4 3250 65 46,000 184,000 42,000 OK
3 3250 65 35,500 142,000 40,000 OK
2 3250 65 25,500 102,000 42,400 OK
1 7000 140 14,900 59,600 59,600 OK
dasar 0 0 0 0
Tabel 4.34 Simpangan SRBE sumbu melintang Y
Simpang Simpang
Simpang
diizinkan tingkat antar
:Lantai mm tingkat δ kontrol
(Δa) mm diperbesar δi lantai Δ
(mm)
(mm) (mm)
atap 2600 52 118,000 472,000 33,200 OK
13 4000 80 109,700 438,800 40,800 OK
12 4000 80 99,500 398,000 43,200 OK
11 3250 65 88,700 354,800 34,800 OK
10 3250 65 80,000 320,000 35,600 OK
9 3250 65 71,100 284,400 32,000 OK
8 3250 65 63,100 252,400 32,000 OK
7 3250 65 55,100 220,400 30,000 OK
6 3250 65 47,600 190,400 30,000 OK
5 3250 65 40,100 160,400 29,200 OK
4 3250 65 32,800 131,200 28,800 OK
3 3250 65 25,600 102,400 26,000 OK
2 3250 65 19,100 76,400 26,000 OK
1 7000 140 12,600 50,400 50,400 OK
dasar 0 0 0 0

33
Dari Tabel 4.29 sampai Tabel 4.34 dapat diketahui perbandingan pola
simpang tingkat (δ) yang terjadi pada masing-masing model struktur. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.30 dan Gambar 4.31.
200
Simpang Tingkat, δ (mm)

180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

Tanpa Bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.30 Grafik perbandingan simpangan sumbu memanjang X


180
Simpang Tingkat, δ (mm)

160
140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

Tanpa Bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.31 Grafik perbandingan simpang tingkat (δ) sumbu melintang Y


Gambar 4.30 dan Gambar 4.31 memperlihatkan bahwa pemasangan bresing
berpengaruh terhadap simpangan yang dialami oleh struktur. Struktur rangka
bresing eksentris (SRBE) dan bresing konsentris khusus (SRBKK) memberikan
deformasi arah Y lebih kecil dari struktur tanpa bresing. Sedangkan pada Gambar
4.21 memperlihatkan struktur yang menggunakan bresing memiliki simpangan
yang lebih besar dari pada tanpa bresing, hal ini dikarenakan pemasangan bresing
pada sumbu melintnag Y.

34
Selain simpang tingkat (δ), didapatkan juga simpangan antar tingkat (∆),
dimana simpangan antar lantai merupakan besarnya perpindahan yang diukur antar
dua lantai pada setiap tingkat. Simpangan atar tingkat pada masing-masing model
struktur dapat dilihat pada Gambar 4.32 dan Gambar 4.33.
160
Simpang Antar Lantai, ∆ (mm)

140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

Tanpa Bresing SRBKK SRBE simpangan izin

Gambar 4.32 Grafik simpangan antar tingkat (∆) sumbu memanjang, X


160
Simpang Antar Lantai, ∆ (mm)

140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Lantai Tingkat

Tanpa Bresing SRBKK SRBE simpangan izin

Gambar 4.33 Grafik simpangan antar tingkat (∆) sumbu melintang Y


Simpangan antar tingkat pada Gambar 4.32 dan Gambar 4.33 memberikan
gambaran bahwa simpangan antar lantai pada setiap model struktur memenuhi dari
persyaratan simpangan izin.
4.6 Analisa Elemen Struktur
Analisis elemen struktur yang dilakukan disini adalah untuk mengecek rasio
kapasitas. Elemen struktur yang dianalisa adalah elemen struktur yang dimensinya
direncanakan berdasarkan kebutuhan gaya-gaya dalam. Sebagai contoh

35
perhitungan diambil analisis elemen struktur pada sturktur rangka baja dengan
bresing eksentris (SRBE), karena struktur ini memiliki elemen bresing, link, balok
dan kolom. Sehingga semua elemen dapat diberikan contoh perhitungan.

4.6.1. Elemen Link

Contoh perhitungan elemen link diambil pada tingkat 1 yaitu frame ID 26.
Profil yang digunakan adalah WF 450.200.9.14 dengan spesifikasi sebagai berikut:
W = 76 kg/m ro = 18 mm ry = 4,4 cm
d = 450 mm Ag = 96,76 cm2 Sx = 1490 cm3
b = 200 mm Ix = 33500 cm4 Sy = 187 cm3
tw = 9 mm Iy = 1780 cm4 E = 200000 Mpa
tf = 14 mm rx = 18,6 cm fy = 240 Mpa

a. Menentukan panjang link


a) Kapasitas geser plastis untuk link
Vp = 0,6 × fy × Aw
= 0,6×240×(400×9)
= 583200 N → Vp = 583,2 kN
b) Momen plastis penampang
Modulus pelastis penampang

36
1
𝑍𝑥 = 𝑏 ∙ 𝑡𝑓 ∙ (𝑑 − 𝑡𝑓 ) + 𝑡𝑤 ℎ2
4
1
𝑍𝑥 = 200 ∙ 14(450 − 14) + ∙ 9 ∙ (450 − 2 ∙ 14)2
4
𝑍𝑥 = 1621489 𝑚𝑚3
Momen plastis penampang
𝑀𝑝 = 𝑍𝑥 ∙ 𝑓𝑦
𝑀𝑝 = 16214489 ∙ 240
𝑀𝑝 = 389157360 𝑁. 𝑚𝑚 → 𝑀𝑝 = 389,1574 𝑘𝑁. 𝑚
Setelah mengetahui nilai Zx dan Mp, maka panjang link adalah sebagai berikut.
1,6𝑀𝑝 1,6 ∙ 389,1574
𝑒= = = 1,1385 𝑚𝑚 ≈ 1𝑚
𝑉𝑝 546,912

b. Kapasitas link
Lb = 1 m

𝐸 200000
𝐿𝑝 = 1,76𝑟𝑦 √ = 1,76 × 43,3√ = 2199,94 𝑚𝑚 = 2,199 𝑚
𝐹𝑦 240

Lb = 1 m < Lp = 2,199 m, sehingga kapasitas kekuatan link harus memenuhi


syarat berikut:
Mn = Mp = 389,157 kN.m
ɸMn > Mu
ɸMn = 0,9 × 389,157 = 350,242 kN.m > Mu = 267,132 kN.m OK !!!
𝑀𝑢 267,132
𝑅= = = 0,763 < 1 OK
𝜙𝑀𝑛 350,242
ɸVn > Vu
2𝑀𝑝
Nilai Vn diambil dari nilai yang terkecil dari Vp atau , sehingga Vn adalah:
𝑒
2𝑀𝑝 2×389,1574
Vp = 583,2 kN < = = 778,3147 𝑘𝑁
𝑒 1

ɸVn = 0,9 × 583,2 = 524,88 kN > Vu = 489,331 kN OK


𝑉𝑢 489,331
𝑅= = = 0,932 < 1 OK
𝜙𝑉𝑛 524,88

37
c. Sudut rotasi link
Sesuai dengan Tabel 2.1 sudut rotasi link tidak boleh melebihi 0,08 radian.
Sudut rotasi dari hasil analisa SAP 2000 v.15 pada link 253 di lantai 1 adalah
sebagai berikut:
Rotasi = 0,003 Radian < 0,08 Radian OK
Shingga jarak maksimum pengaku badan link adalah:
𝑑 450
Jarak pengaku badan = 52 × 𝑡𝑤 − 5 = 52 × 9 − = 378 𝑚𝑚
5

4.6.2. Elemen bresing

Contoh perhitungan elemen link diambil pada tingkat 1 yaitu Label 173.
Profil yang digunakan adalah WF 300.300.9.14 dengan spesifikasi sebagai berikut:
W = 40,2 kg/m ro = 18 mm ry = 7,51 cm
d = 298 mm Ag = 110,8 cm2 Sx = 1270 cm3
b = 299 mm Ix = 18800 cm4 Sy = 417 cm3
tw = 9 mm Iy = 6240 cm4 E = 200000 Mpa
tf = 14 mm rx = 13 cm Fy = 240 Mpa

Menghitung kuat tekan rencana


a) Cek kelangsingan penampang
Sayap
𝑏 299
= = 10,679
2𝑡𝑓 2 × 14

38
𝐸 200000
𝜆𝑟 = 0,56√ = 0,56 × √ = 16,1658
𝐹𝑦 240

𝑏
< 𝜆𝑟 penampang tidak langsing
2𝑡𝑓
Badan
ℎ (298 − 2 × 14)
= = 30
𝑡𝑤 9

𝐸 200000
𝜆𝑟 = 1,49√ = 1,49 × √ = 43,0126
𝐹𝑦 240

𝑏
< 𝜆𝑟 penampang tidak langsing
2𝑡𝑓
b) Menentukan tegangan kritis tekuk-lentur
Kondisi tumpuan jepit-jepit, k = 1

𝐾𝐿 1 × 7615,8 𝐸 200000
= = 101,409 < 4,71√ = 4,71√ = 135,966
𝑟𝑚𝑖𝑛 43,8 𝐹𝑦 240

Maka yang terjadi adalah tekuk plastis, maka Fcr adalah:


𝜋2𝐸 𝜋 2 200000
𝐹𝑒 = = = 192,100 𝑀𝑝𝑎
(𝐾𝐿/𝑟)2 (101,409)2
𝐹𝑦 240
𝐹𝑐𝑟 = (0,658 𝐹𝑒 ) 𝐹𝑦 = (0,658192,100 ) × 240 = 142,270 𝑀𝑝𝑎

c) Menentukan tegangan kritis tekuk-puntir


Nilai Fcr untuk penampang simetri ganda dihitung dengan rumus di atas, tetapi
nilai Fe untuk tegangan tekuk puntir dihitung menggunakan rumus di bawah.
1
𝐽 = (2𝑏𝑡𝑓 3 + 𝑑 ′ 𝑡𝑤 3 )
3
1
= (2 × 299 × 143 + (298 − 14) × 93 ) = 615982,667 𝑚𝑚4
3
1 1
𝐶𝑤 = (𝑑′)2 𝑏 3 𝑡𝑤 = (298 − 14)2 × 2993 × 9 = 8,805 × 1011 𝑚𝑚4
24 24
𝜋 2 𝐸𝐶𝑤 1
𝐹𝑒 = [ + 𝐺𝐽]
(𝐾𝑧 𝐿)2 𝐼𝑥 + 𝐼𝑦

39
𝜋 2 2 × 106 × 8,805 × 1011
=[ + 77,200
(1 × 7615,8)2
1
× 615982,667]
(18800 + 6240) × 104
= 299,687𝑀𝑝𝑎
𝐹𝑦 240
= = 0,801 < 2,25 tekuk plastis
𝐹𝑒 299,687
𝐹𝑦
𝐹𝑐𝑟 = (0,658 𝐹𝑒 ) 𝐹𝑦 = (0,6580,801 ) × 240 = 171,649 𝑀𝑝𝑎

d) Kuat tekan nominal


Fcr tekuk puntir > Fcr tekuk lentur (sb. y-y), maka tekuk yang terjadi adalah
lentur. Kuat tekan nominalnya adalah:

Pn = Fcr × Ag
= 142,270 ×11080
= 1576347,740 N → 1576,348 kN
Pu = 733,502 kN
𝑃𝑢 654,085
= = 0,517 < 1 OK
∅𝑃𝑛 0,9 × 1576,348
Menghitung kuan lentur rencana
e) Kuat lentur rencana
Lb = 7,616 m

𝐸 200000
𝐿𝑝 = 1,76𝑟𝑦 √ = 1,76 × 75,1√ = 3815,593 𝑚𝑚 = 3,816 𝑚
𝐹𝑦 240

𝐼𝑦 ℎ0 2 6240 ∙ (29,9 − 1,4)2


𝐶𝑤 = = = 1258233,600 𝑐𝑚6
4 4
√𝐼𝑦 𝐶𝑤 √6240 × 104 ∙ 1.258 × 1012
𝑟𝑡𝑠 2 = = = 6977,008 𝑚𝑚
𝑆𝑥 1270000
𝑟𝑡𝑠 = √6977,008 = 83,529 𝑚𝑚

𝐸 𝐽𝑐 𝐽𝑐 2 0,7𝐹𝑦 2
𝐿𝑟 = 1,95𝑟𝑡𝑠 √ + √( ) + 6,76 ( )
0,7𝐹𝑦 𝑆𝑥 ℎ0 𝑆𝑥 ℎ0 𝐸

40
2
200000 615982,667 ∙ 1 615982,667 ∙ 1 0,7 ∙ 240 2
𝐿𝑟 = 1,95 ∙ 83,529 √ + √( ) + 6.76 ( )
0,7 ∙ 240 1270000 ∙ (299 − 14) 1270000 ∙ (299 − 14) 200000

Lr = 12979 mm = 12,979 m
Karena Lp = 3,816 m < Lb =7,616 m < Lr = 12,979
12.5𝑀𝑚𝑎𝑥
𝐶𝑏 =
2.5𝑀𝑚𝑎𝑥 + 2𝑀𝐴 + 4𝑀𝑏 + 3𝑀𝐶
Mmax = 63,386 kN.m → SAP 2000 V.15 (COMB 12)
MA = 27,154 kN.m → SAP 2000 V.15 (COMB 12)
MB = 8,569 kN.m → SAP 2000 V.15 (COMB 12)
MC = 34,681 kN.m → SAP 2000 V.15 (COMB 12)
12.5 ∙ 63,386
𝐶𝑏 = = 2,257
2.5 ∙ 63,386 + 2 ∙ 27,154 + 4 ∙ 8,569 + 3 ∙ 34,681
1 2
𝑍𝑥 = 𝑏 × 𝑡𝑓 × (𝑑 − 𝑡𝑓 ) + × 𝑡𝑤 × (𝑑 − 2𝑡𝑓 )
4
1
𝑍𝑥 = 299 × 14 × (298 − 14) + × 9 × (298 − 2 ∙ 14)2
4
𝑍𝑥 = 1352849 𝑚𝑚
MP = Zx × Fy = 1352849 × 240 = 324683760 N.mm = 324,684 kN.m

𝐿 −𝐿𝑝
𝑀𝑛 = 𝐶𝑏 [𝑀𝑝 − (𝑀𝑝 − 0.7𝐹𝑦 𝑆𝑥 ) ∙ (𝐿𝑏−𝐿 )]
𝑟 𝑝

7616 − 3815,593
𝑀𝑛 = 2,257 [324683760 − (324683760 − 0.7 ∙ 240 ∙ 1270000) ∙ ( )]
12979 − 3815,593
𝑀𝑛 = 732707748,4 𝑁. 𝑚𝑚
𝑀𝑛 = 732,708 𝑘𝑁. 𝑚 > 𝑀𝑝 = 324,684 kN. m
Maka Mn = MP = 324,684 kN.m
Rasio tegangan
𝑀𝑢 63,385
𝑅= = = 0,217 < 1 𝑂𝐾
ϕM𝑛 0,9 ∙ 324,684
Sumbu Y
Zy = 1,6 × Sy = 1,6 × 417000 = 667200 mm3
Mn = Zy × Fy = 667200 × 240 = 160128000 N.mm = 160,128 kN.m
Mu = 4.229 kN.m → SAP 2000 V.15 (COMB 12)

41
Rasio tegangan
𝑀𝑢 4.229
𝑅= = = 0,029 < 1 𝑂𝐾
ϕM𝑛 0,9 ∙ 160,129
f) Interaksi aksial-lentur
𝑃
Karena ∅𝑃𝑢 > 0,2 maka:
𝑛

𝑃𝑟 8 𝑀𝑟𝑥 𝑀𝑟𝑦
+ ( + )≤1
𝑃𝑐 9 𝑀𝑐𝑥 𝑀𝑟𝑥
8
0,517 + (0,217 + 0,029) = 0,734 ≤ 1 𝑂𝐾
9

4.6.3. Elemen balok

Perhitungan dimensi balok diambil contoh balok pada tingkat 1 struktur yaitu
Label 521. Profil yang digunakan adalah WF 450.200.9.14 dengan data sebagai
berikut.
W = 76 kg/m ro = 18 mm ry = 4,4 cm
d = 450 mm Ag = 96,76 cm2 Sx = 1490 cm3
b = 200 mm Ix = 33500 cm4 Sy = 187 cm3
tw = 9 mm Iy = 1780 cm4 E = 200000 Mpa
tf = 14 mm rx = 18,6 cm Fy = 240 Mpa

a. Kuat lentur rencana


Cek kelangsingan penampang

42
sayap

𝐸 200000
𝜆𝑝𝑓 = 0,38√ = 0,38√ = 10,970
𝐹𝑦 240

𝐸 200000
𝜆𝑟𝑓 = 1√ = 1√ = 28,868
𝐹𝑦 240

𝑏𝑓 200
= = 7,143 < 𝜆𝑝𝑓 kompak
2𝑡𝑓 2 × 14
Badan

𝐸 200000
𝜆𝑝𝑤 = 3,76√ = 3,76√ = 108,542
𝐹𝑦 240

𝐸 200000
𝜆𝑟𝑤 = 5,7√ = 5,7√ = 164,545
𝐹𝑦 240

ℎ 450 × (2 − 14)
= = 47 < 𝜆𝑝𝑤 kompak
𝑡𝑤 9
Karena penampang kompak, maka Mn = Mp
1
𝑍𝑥 = 𝑏 ∙ 𝑡𝑓 ∙ (𝑑 − 𝑡) + 𝑡𝑤 ℎ2
4
1
𝑍𝑥 = 200 ∙ 14(450 − 14) + ∙ 9 ∙ (400 − 2 ∙ 14)2
4
𝑍𝑥 = 1621489 𝑚𝑚3
Mn = Mp = Fy × Zx
= 240 × 1621489
= 389157360 𝑁. 𝑚𝑚 → 389,157 𝑘𝑁. 𝑚
Mu = 201,048 kN.m → SAP 2000 v.15
𝑀 201,048
Rasio kapasitas adalah 𝜙𝑀𝑢 = 0,9×389,1574 = 0,574 < 1 𝐎𝐊
𝑛

b. Kuat geser rencana

ℎ 450 × (2 − 14) 𝐾𝑣 ∙ 𝐸 5 ∙ 200000


= = 46,89 < 1.1√ = 1.1√
𝑡𝑤 9 𝑓𝑦 240

= 71

43
Maka Cv = 1 ϕ=1
ϕVn = 0,9×0,6×Fy×Aw×Cv
= 0,9×0,6×240×(298×9)×1
= 583200 N → 583,200 kN
Vu = 105,531 kN → SAP 2000 v.15
𝑉 105,531
Rasio kapasitas: 𝜙𝑉𝑢 = 0,9×583,200 = 0,201 < 1 OK
𝑛

4.6.4. Elemen kolom

Kolom-kolom direncanakan untuk menahan gaya-gaya momen, geser dan


aksial tekan. Pengelompokan kolom-kolom didasarkan pada kebutuhan tahanan
gaya momen, geser dan normal. Untuk contoh perhitungan diambil kolom luar
lantai dua dengan frame ID 3800. Profil yang digunakan adalah W 300.300.30.50
dengan data sebagai berikut:
W = 415 kg/m ro = 22 mm ry = 10,7 cm
d = 458 mm Ag = 528,6 cm2 Sx = 8170 cm3
b = 417 mm Ix = 187000 cm4 Sy = 2900 cm3
tw = 30 mm Iy = 60500 cm4 E = 200000 Mpa
tf = 50 mm rx = 18,8 cm Fy = 240 Mpa

a) Cek kelangsingan penampang


Sayap
𝑏 417
= = 4,170
2𝑡𝑓 2 × 50

44
𝐸 200,000
𝜆𝑟 = 0,56√ = 0,56 × √ = 16,166
𝐹𝑦 240

𝑏
< 𝜆𝑟 penampang tidak langsing
2𝑡𝑓
Badan
ℎ (458 − 2 × 50)
= = 11,933
𝑡𝑤 30

𝐸 200,000
𝜆𝑟 = 1,49√ = 1,49 × √ = 43,013
𝐹𝑦 240

𝑏
< 𝜆𝑟 penampang tidak langsing
𝑡𝑓
b) Menentukan tegangan kritis tekuk-lentur

Arah X
𝐸𝐼 187000 187000
∑( ) ( + )
𝐿 𝑐 162,5 162,5
𝐺𝐴 = 𝐸𝐼
= 20000 20000
= 10,069
∑( ) ( + )
𝐿 𝑏 175 175

𝐸𝐼 187000 298000
∑( ) ( + )
𝐿 𝑐 162,5 350
𝐺𝐵 = 𝐸𝐼
= 33500 33500
= 5,230
∑( ) ( + )
𝐿 𝑏 175 175

Dari nomogram untuk portal tidak bergoyang diperoleh kx = 0,940

45
Arah Y
𝐸𝐼 60500 60500
∑( ) ( 162,5 + )
𝐿 𝑐 162,5
𝐺𝐴 = 𝐸𝐼
= 495 1450
= 69,198
∑( ) (200 + )
𝐿 𝑏 175

𝐸𝐼 94400 94400
∑( ) ( 162,5 + )
𝐿 𝑐 350
𝐺𝐵 = 𝐸𝐼
= 495 1870
= 72,430
∑( ) (200 + )
𝐿 𝑏 175

Dari nomogram untuk portal tidak bergoyang diperoleh ky = 1

𝐾𝐿 1 × 2800 𝐸 200000
= = 26,168 < 4,71√ = 4,71√ = 135,966
𝑟𝑚𝑖𝑛 107 𝐹𝑦 240

Maka yang terjadi adalah tekuk plastis, maka Fcr adalah:


𝜋2𝐸 𝜋 2 200000
𝐹𝑒 = = = 2884,900 𝑀𝑝𝑎
(𝐾𝐿/𝑟)2 (26,168)2
𝐹𝑦 240
𝐹𝑐𝑟 = (0.658 𝐹𝑒 ) 𝐹𝑦 = (0.6582884,900 ) × 240 = 231,787 𝑀𝑝𝑎

c) Menentukan tegangan kritis tekuk-puntir


Nilai Fcr untuk penampang simetri ganda dihitung dengan rumus di atas, tetapi
nilai Fe untuk tegangan tekuk puntir dihitung menggunakan rumus di bawah.
1
𝐽= (2𝑏𝑡𝑓 3 + 𝑑′ 𝑡𝑤 3 )
3
1
= (2 × 417 × 503 + (458 − 50) × 303 ) = 38422000 𝑚𝑚4
3
1 1
𝐶𝑤 = (𝑑′)2 𝑏 3 𝑡𝑤 = (458 − 50)2 × 4173 × 30 = 1,509 × 1013 𝑚𝑚4
24 24
𝜋 2 𝐸𝐶𝑤 1
𝐹𝑒 = [ 2
+ 𝐺𝐽]
(𝐾𝑧 𝐿) 𝐼𝑥 + 𝐼𝑦
𝜋 2 200000 × 1,509 × 1013
=[ + 77,200
(0,5 × 2800)2
1
× 38422000]
(187000 + 60500) × 104
= 2731,789 𝑀𝑝𝑎
𝐹𝑦 240
= = 0,088 < 2.25 tekuk plastis
𝐹𝑒 2731,789

46
𝐹𝑦
𝐹𝑐𝑟 = (0,658 𝐹𝑒 ) 𝐹𝑦 = (0.6580,088 ) × 240 = 231.335 𝑀𝑝𝑎

d) Kuat tekan nominal


Fcr tekuk puntir < Fcr tekuk lentur (sb. y-y), maka tekuk yang terjadi adalah
puntir. Kuat tekan nominalnya adalah:
Pn = Fcr × Ag
= 231,335 × 52860
= 12228374,3 N → 12228,374 kN
Pu = 4840,661 kN → SAP 2000 v.15
𝑃𝑢 4840,661
= = 0,440 < 1 OK
∅𝑃𝑛 0.9 × 12228,374
e) Kuat lentur rencana
Lb = 2,8 m

𝐸 200000
𝐿𝑝 = 1,76𝑟𝑦 √ = 1,76 × 10,7√ = 5436,330 𝑚𝑚 = 5,436 𝑚
𝐹𝑦 240

Karena Lb < Lp maka: Mn = Mp


Sumbu X
1
𝑍𝑥 = 𝑏 ∙ 𝑡𝑓 ∙ (𝑑 − 𝑡) + 𝑡𝑤 ℎ2
4
1
𝑍𝑥 = 417 ∙ 50 ∙ (458 − 50) + 35(458 − 2 ∙ 50)2
4
𝑍𝑥 = 9468030 𝑚𝑚3
Mn = Mp = Zx × Fy = 9468030 × 240 = 2272327200 N.mm → 2272,327 kN.m
Mu = 187,529 kN.m
Rasio tegangan
𝑀𝑢 187,529
𝑅= = = 0,092 < 1 𝑂𝐾
ϕM𝑛 0,9 ∙ 2272,327
Sumbu Y
Zy = 1,6 × Sy = 1,6 × 2900 = 4350000 mm3
Mn = Zy × Fy = 4350000 × 240 = 1044 kN.m
Mu = 13,827 kN.m
Rasio tegangan

47
𝑀𝑢 13,827
𝑅= = = 0,015 < 1 𝑂𝐾
ϕM𝑛 0,9 ∙ 1044
f) Interaksi aksial-lentur
𝑃
Karena ∅𝑃𝑢 > 0,2 maka:
𝑛

𝑃𝑟 8 𝑀𝑟𝑥 𝑀𝑟𝑦
+ ( + )≤1
𝑃𝑐 9 𝑀𝑐𝑥 𝑀𝑟𝑥
8
0,440 + (0,092 + 0,015) = 0,534 ≤ 1 𝑂𝐾
9
4.7 Berat Bangunan
Berat bangunan yang dibahas disini adalah berat bangunan pada struktur yang
dimensinya direncanakan sesuai dengan kebutuhan gaya-gaya dalam. Berat
bangunan dapat digunakan sebagai pertimbangan memilih tipe struktur dan
mengetahui struktur tipe mana yang lebih ekonomis.
Dari hasil analisa menggunakan SAP 2000 v.15 didapatkan berat struktur
sebagai berikut.

Gambar 4.34 Output base reactions struktur rangka baja tanpa bresing

Gambar 4.35 Output base reactions SRBKK

Gambar 4.35 Output base reactions SRBE

48
Beban pelat = DEAD GlobalFZ (Tabel 4.13) – DEAD GlobalFZ (Gambar 4.34)
= 42393,564 – 10375,290
= 32018,274 kN

Tabel 4.35 Berat beban struktur


Beban Berat (kN)
Tanpa Bresing 10375,290
Struktur
SRBKK 7992,679
Rangka
SRBE 5830,291
Plat 32018,274
Mati tambahan (Tabel 4.13) 19847,454
Hidup (Tabel 4.13) 32772,058

12000
10375,290
10000
7992,679
8000
5830,291
6000

4000

2000

0
Berat Rangka Baja

Tanpa Bresing SRBKK SRBE

Gambar 4.36 Grafik berat tiap struktur


Tabel 4.35 dan Gambar 4.36 memperlihatkan berat total struktur yang
berbeda. Struktur yang paling berat adalah struktur tanpa bresing yaitu sebesar
10375,290 kN, kemudian struktur SRBKK dengan berat 7992,291 kN mengalami
penurunan berat sebesar 23% dari berat struktur tanpa bresing dan struktur yang
paling ringan adalah struktur SRBE dengan berata 5830,291 kN dengan penurunan
berat struktur sebesar 44% dari struktur tanpa bresing.
Selain ditinjau dari berat struktur, keekonomisan struktur juga ditinjau dari
Rencana Anggaran Biaya (RAB) struktur. Dalam tugas akhir ini akan menghitung
RAB pada pekerjaan struktur rangka bajanya saja, seperti yang ditunjukkan pada
Tabel 4.36.

49
Tabel 4.36 RAB struktur rangka baja
Struktur Harga Satuan
Volume Satuan jumlah harga (Rp)
Rangka Baja (Rp)
Tanpa Bresing 1037529 kg Rp 23.300,00 Rp 24.174.425.700,00
SRBKK 799267,9 kg Rp 23.300,00 Rp 18.622.942.070,00
SRBE 583029,1 kg Rp 23.300,00 Rp 13.584.578.030,00

Bedasarkan Tabel 4.36 dapat dilihat bahwa struktur rangka baja yang paling
ekonomis dari ketiga struktur adalah struktur rangka baja SRBE dengan
penghematan sebesar Rp. 10.589.847.670,00 sama dengan 44% dari harga struktur
rangka baja tanpa bresing. Sedangkan struktur rangka baja SRBKK mampu
menghemat biaya struktur sebesar Rp. 5.551.483.630,00 sama dengan 23% dari
harga struktur tanpa bresing.

50
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada gedung Amarvati dengan
program SAP 2000 v.15 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penggunaan sistem rangka bresing konsentris khusus (SRBKK) dan sistem
rangka bresing eksentris (SRBE) sangat berpengaruh terhadap simpangan
dan dimensi struktur jika dibandingkan dengan struktur tanpa bresing.
2. Struktur dengan sistem rangka bresing konsentris khusus (SRBKK) dapat
mengurangi simpangan arah Y sebesar 43% dari simpangan struktur tanpa
bresing. Semintara struktur dengan sistem rangka bresing eksentris (SRBE)
dapat mengurangi simpangan arah Y sebesar 59% dari simpangan struktur
tanpa bresing. Kemudian, Gaya geser dasar (V) gempa paling besar terjadi
pada struktur bresing konsentris khusus (SRBKK) sebesar 5046,421 kN.
Disusul oleh struktur dengan bresing eksentris (SRBE) dengan nilai
2718,747 kN.
3. Ditinjau dari berat struktur, SRBE lebih ekonomis jika dibandingkan
dengan struktur SRBKK dan tanpa bresing. SRBE dan SRBKK mengurangi
berat struktur sebesar 44% dan 23% dari struktur tanpa bresing.

5.2 Saran
Saran penulis untuk rekan-rekan pembaca dari hasil laporan tugas akhir ini
adalah sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan evaluasi terhadap struktur yang sudah direncankana, salah
satunya menggunakan analisa phusover untuk melihat perilaku keruntuhan
bangunan.
2. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan jenis, type dan posisi bresing yang
berbeda, serta jumlah tingkat yang berbeda pula.
3. Penelitian bisa dilanjutkan dengan analisa gempa menggunakan metode
time history.

51
4. Analisa memakai open frama, sehingga penelitian bisa dilanjukan dengan
dinding dijadikan pengaku atau diaplikasikan dalm program
5. Program yang digunakan dalam analisis tugas akhir ini menggunakan
program SAP2000 yang merupakan program analisis struktur bersifat
umum. Akan lebih baik lagi jika analisis menggunakan program yang
khusus untuk gedung seperti ETAB.

52
DAFTAR PUSTAKA

Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2012. SNI 03-1726-2012 : Tata Cara


Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung Non Gedung.
Jakarta : BSN

Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2013. SNI 03-1727-2013 : Beban Minimum


untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain. Jakarta: Departemen
Pekerjaan Umum

Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2015. SNI 03-1729-2015 : Spesifikasi untuk


Bangunan Gedung Baja Struktural. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum

Budiono, B., Yurisman., Nidiasari. 2011, Perilaku Link Panjang dengan Pengaku
Diagonal Badan pada Sistem Struktur Rangka Baja Tahan Gempa, Seminar dan
Pameran HAKI, Hotel Borobudur Jakarta Pusat, 26-27 Juli 2011.

Dewabroto, W. 2016. Struktur Baja Edisi ke-2. Tangerang: Jurusan Teknik Sipil
UPH

Jaya, A. 2011. Perbandingan Simpangan Horizontal pada Struktur Gedung Tahan


Gempa dengan Menggunakan Bresing V dan Inverted V. Tugas Akhir di
Universitas Sebelas Maret

Rengganis, A. 2012. Studi Prilaku Struktur Eccentrically Braced Frames (D-EBF)


dengan Link Pendek. Tugas Akhir di Universitas Indonesia

Satyarno, I., Nawangalam, P., Pratomo, R. 2012. Belajar SAP 2000 Analisa Gempa.
Yogyakarta: Zamil Publishing

Schodek, D L. 1999. Struktur Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga.

Setiawan, A. 2008. Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD (Sesuai SNI
03 1729 2002. Jakarta: Erlangga

53
LAMPIRAN A
(Gambar Eksisting Gedung H. Amarsvati)
LAMPIRAN B
(Gambar Redesign Gedung H. Amarsvati)
(a)

(b) (c)
a) Struktur tanpa bresing; b) struktur bresing konsentris khusus (SRBKK); c)
struktur bresing eksentris;
LAMPIRAN C
(Gambar Lokasi Perhitungan dan Lain-lain)
Lokasi perhitungan elemen link (e) Lokasi perhitungan elemen balok
Lokasi perhitungan kolom
Lokasi perhitungan bresing
Kecepatan Angin dan Kelembaban di Stasiun Pengamatan BMKG, 2002-2010
Tahun 2002 2003 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Kecepatan Kecepatan Kecepatan Kecepatan Kecepatan Kecepatan Kecepatan Kecepatan


Provinsi Stasiun BMKG Angin Angin Angin Angin Angin Angin Angin Angin
(knot) (km/jam) (knots) (m/det) (m/det) (m/det) (m/det) (m/det)

Aceh Blang Bintang1 9,9 28,0 18,00 2,40 4,0 4,8 4,8
Sumatera Utara Polonia2 10,1 80,0 20,00 8,00 3,8 3,4 1,7 -
Sumatera Barat Sicincin 3 10,2 80,0 16,00 5,50 ,4 ,4 ,5 2,0
Riau Sultan Syarif Qasim4 7,2 22,0 4,30 4,6 5,6 6,6 6,6
Jambi Sungai Duren5 5,6 15,0 10,00 1,50 1,8 2,8 1,0 4,8
Sumatera Selatan Kenten6 10,3 80,0 30,00 3,00 3,0 3,1 2,8 -
Bengkulu Pulau Baai8 10,0 80,0 35,00 4,30 4,3 1,2 5,1 2,0
Radin Inten
8,8 33,0 2,80 2,8 1,4 3,0 2,4
Lampung II/Branti9
Kepulauan Bangka
13,1 28,0 17,00 3,90 5,7 1,8 3,5 2,5
Belitung Pangkal Pinang7
Kepulauan Riau Kijang 30,0 24,00 7,50 7,7 6,8 6,7 6,9
DKI Jakarta Tanjung Priok10 13,8 80,0 31,00 3,00 2,4 2,8 4,9 4,4
Jawa Barat Bandung11 27,0 25,00 4,80 3,1 1,2 1,8 -
Husein 9,1 27,0
Jawa Tengah Semarang12 37,0 25,00 3,60 6,6 6,3 1,9 7,5
Ahmadyani 10,8 37,0
DI Yogyakarta Sleman13 9,5 28,0 - ,9 2,1 ,8 -
Jawa Timur Juanda14 14,9 37,0 4,10 3,0 3,7 ... -
Banten Serang 11,9 39,0 12,00 2,40 2,8 1,1 2,2 2,3
Bali Ngurah Rai15 13,3 80,0 20,00 7,30 6,3 3,3 2,9 6,0
Nusa Tenggara Barat Selaparang16 16,8 80,0 30,00 2,40 7,2 6,6 3,7 6,6
Nusa Tenggara Timur Lasiana17 12,5 80,0 25,00 - 4,3 2,3 2,5 -
Kalimantan Barat Supadio18 5,3 80,0 30,00 4,90 5,1 4,3 2,5 4,8
Kalimantan Tengah Tjilik Riwut19 6,5 28,0 30,00 2,20 2,6 2,4 3,0 1,3
Kalimantan Selatan Banjarbaru20 8,7 80,0 2,80 3,5 3,5 3,3 -
Kalimantan Timur Temindung 7,0 28,0 - 1,9 1,5 2,8 5,0
Sulawesi Tengah Mutiara23 15,7 46,0 1,60 4,2 1,8 4,4 3,7
PERIODE STRUKTUR

Tanpa Bresing

SRBKK
SRBE
BASE SHARE DAN BERAT STRUKTUR UNTUK PROFIL YANG BERBEDA

SRBKK

SRBE