Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

MELALUI PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5

I PUTU YOAN SUGIANTARA (P07120217026)

KADEK MEGA ASRINI (P07120217027)

I GEDE JUMENEK ARTA YASA (P07120217028)

PIA PERMATASARI (P07120217029)

PUTU PEBY DEWA YANTHI (P07120217030)

I G A N VIOLA UTAMI DEWI (P01720217031)

SEMESTER V TINGKAT 3.A

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan


pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien
dengan injuri atau sakit yang mengancam kehidupan. Sebagai seorang
spesialis, perawat gawat darurat menghubungkan pengetahuan dan
keterampilan untuk menangani respon pasien pada resusitasi, syok,
trauma, ketidakstabilan multisystem, keracunan, dan kegawatan yang
mengancam jiwa lainnya (Krisanty, 2009). Sebagai penyedia layanan
pertolongan 24 jam, perawat dituntut memberikan pelayanan yang
cepat, tepat, dan cermat dengan tujuan mendapatkan kesembuhan
tanpa kecacatan. Oleh karena itu, perawat perlu membekali dirinya
dengan pengetahuan dan perlu meningkatkan keterampilan yang
spesifik yang berhubungan dengan kasus-kasus kegawatdaruratan
(Maryuani, 2009).

Bantuan hidup dasar (BHD), merupakan pelayanan yang sangat


penting untuk mencegah terjadinya kematian dan kecacatan korban.
Bantuan hidup dasar ditujukan pada seseorang yang mengalami kasus
kegawatdaruratan henti jantung. Dalam praktiknya, tingkat
keberhasilan bantuan hidup dasar dipengaruhi oleh beberapa factor,
termasuk lamanya penolong sampai pada korban. Akan tetapi,
ketidakberhasilan BHD yang diberikan menjadi salah satu penyebab
ketidakpuasan pasien akan pelayanan yang diberikan yang sering kali
menyebabkan suatu konflik. Kleiman (2007) menunjukkan bahwa
kurangnya pengetahuan dasar mengenai aspek etika dan hukum
membuat perawat merasa tidak berdaya dan sering membuat
kesalahan, sehingga mengantarkan perawat ke konflik.
Penyakit jantung dan pembuluh darah mengalami peningkatan
setiap tahunnya. Penyakit jantung masih merupakan penyebab
kematian yang utama saat ini di Indonesia dan di dunia. Angka
kejadian ini akan mengalami peningkatan secara terus menerus dari
tahun ke tahun. (Ners. I Putu Budiarsana, S.Kep.,MN.Sc (EM) dalam
Modul Bantuan Hidup Dasar, 2018)

Berdasarkan penelitian yang ada saat ini, kematian karena penyakit


kardiovaskuler dapat dicegah jika penanganan 5 menit pertama
dilakukan secara baik dan benar dengan menggunakan metode
Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan pemberian defibrilasi segera.
Semakin lama jeda antara mulai kejadian dengan pertolongan pertama
yang diberikan maka angka keselamatan akan turun antara 7-10% per
menit. Penundaan ini bisa terjadi karena pertolongan dimulai di rumah
sakit yang jaraknya cukup jauh dari kejadian atau menunggu tenaga
kesehatan yang punya otoritas seperti dokter. Untuk memperpendek
penundaan pemberian pelayanan tersebut maka perlu dilakukan
pelatihan kepada seluruh lapisan masyarakat tentang Bantuan Hidup
Dasar (BHD). (Ners. I Putu Budiarsana, S.Kep.,MN.Sc (EM) dalam
Modul Bantuan Hidup Dasar, 2018)

Henti jantung secara statistik banyak terjadi di luar rumah sakit dan
perlu mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah
komplikasi. Penelitian di Amerika Serikat ditemukan 400.000-460.000
kasus henti jantung tiap tahun di luar rumah sakit dan ventrikuler
fibrilasi serta pulsesles ventricular tachicardi sekitar 40-50% menjadi
penyebab kematiannya (Suharsono dan Ningsih, 2009). Tindakan
bantuan hidup dasar (BHD) atau basic life support (BLS) dapat
dilakukan untuk menghindari kematian dari kasus henti jantung.
Bantuan hidup dasar memiliki tujuan untuk mengembalikan fungsi
organ vital (otak, jantung, dan paru) dan memberikan bantuan
eksternal pada sirkulasi dan ventilasi melalui resusitasi jantung paru
(Krisanty, 2009). Pelaksanaan bantuan hidup dasar dalam kasus henti
jantung terdiri dari penilaian awal (lingkungan dan korban), resusitasi
jantung paru (RJP), defibrilasi, transportasi dan perawatan paska henti
jantung. American Heart Association telah menerbitkan pedoman
terbaru pada tahun 2015 yang mengubah pedoman tahun 2010 yang
mengutamakan resusitasi jantung paru yang berkualitas.

Karakteristik data didapatkan jenis kelamin laki-laki 49 orang


(28,9%) dan perempuan 121 orang (71,1%). Umur 18 tahun adalah
umur yang terbanyak 134 orang (78,8%), 17 tahun 15 orang (8,8%)
dan 19 tahun 21 orang (12,4%). Program studi pendidikan dokter 65
orang (38,2%), keperawatan 35 orang (13,5%), psikologi 26 orang
(11,8%), kedokteran gigi 16 orang (9,4%), fisioterapi 20 orang
(11,8%), dan ilmu kesehatan masyarakat 26 orang (15,3%). Pada
masing-masing program studi didapatkan hasil tingkat pengetahuan
terhadap BHD tidak ada yang baik, sedangkan tingkat pengetahuan
sedang pendidikan dokter merupakan program studi yang memiliki
pengetahuan yang lebih banyak dari program studi yang lain yakni 4
orang (6,2%), keperawatan 2 orang (8,7%) dan psikologi 1 orang
(5,0%). Sedangkan yang lainnya memiliki tingkan pengetahuan yang
kurang. Hal ini menunjukkan bahwa program studi mempengaruhi
dari tingkat pengetahuan terhadap BHD.

Pada pengalaman responden yang sudah pernah mendapatkan


materi sebelumnya dan yang tidak pernah mendapatkan materi sama-
sama memiliki pengetahuan yang sedang dan kurang tidak ada
responden yang memiliki pengetahuan yang baik.

Diluar sana sangat banyak sekali masyarakat diperkotaan


khususnya daerah pelosok yang masih awam mengenai Bantuan Hidup
Dasar (BHD) terutama Resusitasi Jantung Paru (RJP). Banyaknya
kasus meninggal mendadak maupun tiba-tiba tanpa disertai dulu
dengan penanganan rawat inap di Pelayanan Kesehatan seperti Rumah
Sakit sering kita jumpai di lingkungan masyarakat. Masyarakat sering
kali mengkonotasikan sebagai kejadian mistis, apalagi di wilayah
masyarakat Bali. Padahal kasus seperti ini memiliki penjelasan ilmiah
yang sesuai dengan logika manusia yang secara singkat disebut “Henti
Jantung”. Kasus seperti ini tidak akan dapat kita prediksi kapan
terjadinya, dimana terjadinya maupun kepada siapapun dapat terjadi.
Hal seperti ini juga dapat diperparah lagi jika seorang itu memang
memiliki penyakit bawaan yang kronis seperti hipertensi, penyakit
jantung, dan lain lain.

Penting bagi kita semua untuk mengetahui secara jelas dari sumber
terpercaya mengenai metode RJP yang benar untuk dapat melakukan
pertolongan pertama dalam kasus henti jantung ini. Tak hanya untuk
tenaga kesehatan, masyarakat yang bukan dari tenaga kesehatan juga
wajib mengetahuinya karena kejadian seperti ini tidak dapat diprediksi.
Singkatnya jika seseorang mengalami henti jantung selama > 8-10
menit maka akan terjadi kerusakan pada organ tubuh. Jika hal ini
terjadi maka diperlukan penanganan yang sigap, cepat dan tepat.
Tenaga medis memang akan berusaha sigap dan cepat dalam
penanganan ini, akan tetapi jarak tempuh umumnya akan menjadi
masalah yang mempengaruhi kecepatan penanganan pasien. Maka dari
itu pentingnya masyarakat untuk mengerti tentang pendidikan bantuan
hidup dasar (BHD) agar dapat memberikann pertolongan pertama
dalam menanganan pasien henti jantung.

B. TEMA

C. TUJUAN

a. Tujuan Umum

Tujuan umum dilakukannya kegiatan ini adalah untuk


meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam
memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi
Jantung Paru (RJP).

b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengikuti


pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi
Jantung Paru (RJP).

2. Meningkatkan kemauan masyarakat untuk mengikuti pelatihan


Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi Jantung
Paru (RJP).

3. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan


Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi Jantung
Paru (RJP).

4. Masyarakat mampu menerapkan BHD khususnya RJP apabila


terjadi kasus henti jantung di daerahnya secara mandiri.
BAB II

RENCANA KEGIATAN

A. PESERTA
Peserta Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi Jantung Paru
(RJP) adalah seluruh masyarakat dan karang taruna Banjar A.
B. SUSUNAN PANITIA
Panitia Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi Jantung Paru (RJP)
adalah mahasiswa tingkat III Prodi S.Tr Keperawatan semester V Poltekkes
Kemenkes Denpasar. (terlampir)

C. WAKTU
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) khususnya Resusitasi Jantung Paru
(RJP) dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2019 Pukul 19:00 – 21:00 di
Banjar A
D. KEGIATAN
Kegiatan pelatihan ini berupa kegiatan dengan masyarakat banjar A untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan Bantuan Hidup
Dasar (BHD) khususnya Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Jadwal kegiatan
Hari,tgl,waktu Kegiatan Penanggung Jawab
Pukul 19:00 wita Pembukaan acara
Pukul 19:15–20:00 Pemberian materi BHD dan
RJP
Pukul 20:00-20:30 Praktik RJP
Pukul 20:30-20:45 Evaluasi Acara
Pukul 20:45–21:00 Penutupan Acara

E. SASARAN
1. Masyarakat Banjar A
2. Karang Taruna Banjar A
F. SUMBER DANA
Dana yang digunakan dalam kegiatan ini adalah khas kelas dan sponsorship
yang tidak mengikat. (terlampir)
LEMBAR PENGESAHAN

Nama Pembimbing Institusi , ………………2019


Ketua Kelompok

…………………………………. I Putu Yoan Sugiantara


NIM. P07120217026
NIP
RANCANGAN ANGGARAN BIAYA

RENCANA PENDAPATAN

JUMLAH
NO UNIT BANYAKNYA JUMLAH
PEMASUKAN
1. Khas Kelas Rp 1.000.000,- - Rp 2.000.000,-
2. Dana Sponsorship Rp 5.000.000,- - Rp 5.000.000,-

TOTAL PEMASUKAN Rp 7.000.000

RENCANA PENGELUARAN

JUMLAH
NO UNIT BANYAK JUMLAH
PENGELUARAN
ACARA
1. Narasumber Rp 300.000,- 1 Rp 300.000,-
KONSUMSI DAN ROHANI
1 Konsumsi
Rp 10.000 1 Rp 10.000
Narasumber
2 Konsumsi Undangan Rp 5.000 70 orang Rp 350.000
3 Air mineral Rp 20.000 5 dus Rp. 100.000
4 Pejati Rp 50.000 1 Rp 50.000
5 Canang Rp 25.000 1 Rp 25.000
6 Sari Pejati Rp 50. 000 1 Rp 50.000
PERLENGKAPAN
1 Sewa Pantum RJP Rp 100.000 3 Rp 300.000
TOTAL PEMASUKAN Rp 1.185.000,
SUSUNAN KEPANITIAAN

PRAKTIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Pelindung : Bapak Mustika

Ketua Kelompok : I Putu Yoan Sugiantara

Wakil Ketua : Kadek Mega Asrini

Sie Acara : I Gede Jumenek Arta Yasa

Sie Perlengkapan : Pia Permatasari & Putu Peby Dewa Yanthi

Sie Konsumsi Rohani : I Gusti Ayu Viola Utami Dewi