Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit endemi di Amerika Serikat.
Sekitar enam juta orang Amerika terkena beberapa penyakit jantung atau pembuluh
darah. Penyakit kardiovaskuler merupakn penyebab kematian nomor satu di Amerika
Serikat setiap tahunnya, hampir satu juta orang meninggal akibat gangguan
kardiovaskuler. Menurut American Heart Assosiation, semakin banyak kematian
yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dibandingkan dengan gabungan
ketujuh penyebab penyakit utama berikutnya. Hal ini menunjukan terjadinya satu
kematian akibat penyakit kardiovaskuler setiap 33 detik (Price & Wilson, 2015).
Selama ini terdapat suatu pemahaman yang salah bahwa penyakit
kardiovaskuler terutama terjadi pada laki-laki, akan tetapi kenyataan di Amerika
Serikat, penyakit kardiovaskular merupakan penyakit pembunuh satu pada laki-lakii
dan perempuan. Penyakit kardiovaskular tidak hanya menjadi penyakit pembunuh
nomor satu pada laki-laki maupun perempuan tetapijuga pada setiap tahunnya selama
15 tahun, penyakit kardiovaskular merupakan ancaman bagi lebih banyak perempuan
daripada laki-laki. Kecenderungan pada perempuan juga terjadi pada populasi yang
lebih kecil (Afro-Amerika,Kaukasia, Hispanik, dan Indian Amerika/ asli Alaska).
Penyedia layanan kesehatan harus menyadari statistic inikarena hamper satu dari
setiap dua orang Amerika akan meninggal akibat penyakit kardiovaskular (Price &
Wilson, 2015).
Perbedaan utama antara kedua gender adalah adalahusia awitan penyakit.
Menurut American Heart estrogen sebelum awitan menopause dianggap merupakan
faktor pelindung utama untuk menghindari timbulnya penyakit kardiovaskular,
penyakit jantung koroner, dan terutama stroke pada saat ini. Pencegahan primer
identifikasi dini dan modifikasi factor resiko bagi timbulnya penyakit kardovaskular
penting dilakukan untuk menurunkan angka mortalitas, morbiditas, dan angka
kecacatan, saat ini tengah dilakukan penelitian mengenai pathogenesis penyakit ini,
demikian juga dengan penelitian mengenai strategi penatalaksanaan yang paling
efektif (Price & Wilson, 2015).

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan struktur dan fungsi kardiovaskular ?
2. Jelaskan konsep gangguan kardiovaskular ?
3. Jelaskan embriogenesis dan kongenital ?
4. Jelaskan gangguan aktivitas listrik : koroner, aorta, dan gagal jantung ?

C. Tujuan
1. Dapat menjelaskan struktur dan fungsi kardiovaskular
2. Dapat mengetahui konsep gangguan kardiovaskular
3. Dapat menjelaskan embriogenesis dan kongenital
4. Dapat mengetahui gangguan aktivitas listrik : koroner, aorta, dan gagal jantung

BAB II
PEMBAHASAN

A. STRUKTUR DAN FUNGSI KARDIOVASKULER


a. Anatomi jantung
Sumber : Herman, 2011
Jantung terletak diatas diafragma, di pertengahan rongga dada agak ke
kiri, dalam suatu ruangan yang disebut mediastinum ( dari bahasa Latin,
mediastinum artinya ruangan di antara paru kiri dan kanan). Kira-kira dua-
pertiga bagian jantung terletak di sebelah kiri midline (dari bahasa inggris,
mid = pertengahan, line = garis) tubuh. Di sebelah depan, jantung dibatasi
oleh sternum (dari bahasa Latin, artinya tulang dada), di sebelah belakang
oleh susunan tulang belakang atau kolumna vertebralis (dari bahasa latin
columna vertebralis, column = lajur, barisan sedangkan vertebrata =
tulang belakang). Di bagian kiri dan kanan, jantung dibatasi oleh paru-paru
( Herman, 2011).
Secara anatomis, jantung merupakan organ yang mempunyai rongga di
dalamnya. Rongga di dalam jantung ini terdiri dari 4 ruang, yaitu 2 ruang
atrium di sebelah atas dan 2 ruang ventrikel di sebelah bawah. Ukuran
jantung kira-kira sebesar tinju individu pemiliknya. Ukuran jantung pada
orang dewasa adalah panjang kira-kira 12 cm, lebar di bagian yang paling
lebar kira-kira 6 cm, dan berat kira-kira 300 gram (Herman, 2011).
di dalam rongga dada, jantung terletak dalam posisi seperti kerucut
terbalik dengan ujung mengarah ke bawah dan bagian dasar yang melebar
mengarah ke atas. Ujung jantung disebut apeks (dari bahasa Latin apex =
ujung kerucut). Apeks jantung terbentuk dari ventrikel kiri, sedangkan
bagian dasarnya yang mengarah ke atas disebut basis jantung, yang
terbentuk dari atrium, terutama atrium kiri (Herman, 2011).
Secara fungsional, jantung manusia terdiri atas dua bagian yang
teroisah, yaitu bagian kanan dan bagian kiri. Jantung bagian kanan dan kiri
masing-masing terdiri pula atas dua ruang pompa yang berdenyut, yaitu
atrium dan ventrikel, jadi secara fungsional, juga ada 4 ruang pompa pada
jantung, yaitu atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri
(Herman, 2011).
Fungsi atrium adalah sebagai pompa primer bagi ventrikel, yaitu
membantu memasukkan darah ke dalam ventrikel. Artinya, atrium hanya
berfungsi ntuk mengisi dara ke dalam ventrikel yang akan memompakan
darah tersebut keluar jantung. Darah yang masuk ke dalam atrium adalah
darah yang kembali ke jantung melalui pembuluh darah balik (vena).
Namun, kekuatan pemompaan atrium relatif lebih lemah dibandingkan
dengan ventrikel, perbedaan kekuatan ini sesuai dengan fungsi atrium
untuk memompakan darah sampai ke ventrikel saja. Darah yang masuk ke
dalam ventrikel kemudian dipompakan dengan kekuatan yang jauh lebih
kuat dari atrium karena ventrikel harus memompakan darah ke system
sirkulasi (Herman, 2011).
Ventrikel kiri memommpakan darah ke aorta dan selanjutnya ke
sirkulasi umum atau sistemik, yaitu ke seluruh organ tubuh termasuk paru-
paru dan jantung sendiri. Darah dari ventrikel kiri ini kaya akan oksigen
dan akan menyuplai oksigen bagi seluruh jaringan tubuh. Darah balik dari
sirkulasi sistemik yang kaya CO2 masuk ke dalam atrium kanan melalui
vena cava. Atrium kanan kemudian memompakan darah yang kaya CO2
ini ke ventrikel kanan. Darah yang kaya CO2 ini selanjutnya dipompakan
ventrikel kanan ke trunkus pulmonalis dan selanjutnya ke sirkulasi paru-
paru untuk dibersihan. Sesampainya di paru-paru, CO2 yang ada di dalam
darah dikeluakan dan diganti dengan O2 yang diambil melalui udara
pernafasan. Darah dari sirkulasi paru-paru yang telah kaya oksigen
kembali ke jantung melalui vena pulmonalis dan masuk ke atrium kiri.
Darah di atrium kiri yang kaya oksigen ini dipompakan lagi ke ventrikel
kiri yang akan memompakannya ke sirkulasi sistemik. Demikianlah
sirkulasi darah melalui system kardiovaskular yang terjadi secara terus-
menerus (Herman, 2011).
b. Perikardium
Perikardium (dalam bahasa Latin pericardium, peri = di sekitar, cardio
= jantung) adalah suatu struktur berbentuk kantong yang membungkus dan
melindungi jantung. Perikardium memiliki struktur sedemkian rupa
sehingga memungkinkan jantung tetap bertahan di tempatnya yaitu
mediastinum (Herman, 2011).
Perikardium terdiri atas dua bagian, yaitu :
1) Pericardium fibrosa terletak di sebelah luar, terbentuk dari jaringan
penyambung fibrosa yang kaku, tidak elastis. Pericardium fibrosa
berfungsi mencegah jantung mengalami peregangan yang berlebihan
terjadi bila volume darah didalam jantung sangat banyak, melindungi
jantung dan “ menambatkan” jantung di mediastinum agar tetap berada
di tempatnya (Herman, 2011).
2) Pericardium serosa yaitu lapisan pericardium paling dalam,
pericardium serosa berbentuk membrane yang lebih lentur dan terdiri
atas dua lapisan yang membungkus jantung. Lapisan luarnya disebut
lapisan parietal, menyatu dengan pericardium fibrosa. Lapisan
dalamnya disebut lapisan visceral yang menjadi bagian terluar dinding
jantung sehingga disebut juga epikardium (Herman, 2011).

c. Dinding jantung
Menurut (Herman,2011). Dinding jantung dibentuk oleh tiga lapisan
jaringan dengan urutan dari luar ke dalam secara berturut-turut adalah
epikardium, miokardium, dan endocardium
1. Epikardium (dari bahasa Latin epicardium, epi= di atas, cardio =
jantung) adalah lapisan yang tipis dan transparan. Epikardium
terbentuk oleh lapisan pericardium serosa bagian visceral. Epikardium
terdiri dari mesotelium dan jaringan penyambung jarang yang halus
dan licin, karena itulah permukaan paling luar dinding jantung ini licin.
2. Miokardium (dari bahasa Latin myocardium, myo = otot, cardio =
jantung) adalah lapisan tengah dinding jantung. Lapisan ini terdiri dari
jaringan otot, dan merupakan bagian terbesar dinding jantung.
Miokardumlah yang bertanggung jawab untuk memompa darah
dengan cara berkontraksi dan berelasi berganti-ganti secara otomatis.
3. Endokardium (dari bahasa Latin endocardium, endo = di dalam, cardio
= jantung) adalah lapisan tipis yang terdiri atas selapis tipis
endothelium ( dari bahasa Latin endothelium = lapisan sel yang
menutupi bagian dalam jantung dan pembuluh darah ). Di bawah
lapisan endotelium yang melekat erat pada lapisan ini adalah selapis
tipis jaringan penyambung. Lapisan endokardium di pangkal pembuluh
darah besar yang keluar dari dan masuk ke jantung menyatu dengan
lapisan endotelium pembuluh darah tersebut.

d. Ruang jantung
Bagian interior jantung terbagi menjadi empat ruangan. Dua yang
terletak di sebelah atas disebut atrium ( dari bahasa Latin atrium =
serambi, jamak, atria) kanan dan kiri. Sedangkan dua ruang yang terletak
di sebelah bawah disebut ventrikel (dari bahasa Latin ventriculus = rongga
kecil, jamak, ventricula) kanan dan kiri. Di antara atrium dan ventrikel
terdapat jaringan penyambung yang membatasi otot atrium dan otot
ventrikal, jadi miokardium atrium terpisah dari miokardium ventrikel baik
secara anatomis maupun secara fungsional. (Herman, 2011).
Kedua atrium berdinding tipis karena fungsinya hanya untuk
memompakan darah di dalam ventrikel. Ventrikel kiri harus memompakan
darah ke seluruh jaringan tubuh sehingga sirkulasi yang melibatkan
ventrikel kiri disebut sirkulasi sistemik, sementara ventrikel kanan hanya
memompakan darah ke paru-paru sehingga sirkuasinya disebut sirkulasi
pulmonal, jadi ventrikel kiri bekerja jauh lebih berat. Ventrikel kiri harus
mempertahankan kecepatan aliran darah pada sirkulasi sistemik sama
dengan kecepatan aliran darah pada sirkulasi pulmonal (Herman, 2011).
e. Katup jantung
Menurut Herman, 2011. Ada dua kelompok katup jantung, yaitu katup
atrioventrikular yang terletak di antara atrium dan ventrikel, dan katup
seminular yang terletak di antara ventrikel dan pembuluh darah aorta atau
trunkus pulmonalis.
1. Katup atrioventrikular
Katup atrioventrikular disingkat dengan sebuah katup A-V.
Katup A-V terletak antara atrium kiri dan atrium kanan disebut katup
bikuspidal karena mempunyai dua buah daun katup. Katup A-V yang
terletak antara atrium kanan dan ventrikel kanan disebut katup
trikuspidal.
Katup A-V membuka bila tekanan di dalam atrium lebih tinggi
dari tekanan didalam ventrikel sehingga darah mengalir dari dalam
atrium ke dalam ventrikel. Sebaliknya sewaktu ventrikel berkontraksi
sehingga tekanan di dalam ventrikel meningkat, darah akan
mendorong daun-daun katup A-V ke atas,yaitu kea rah atrium,
sehingga menutup.
2. Katup seminular
Katup seminular ada dua buah yaitu katup aorta dan katup
pulmonalis. Masing-masing katup ada 3 daun katup yang berbentuk
setengah bulan sehingga disebut katup seminular, karena adanya katup
seminular. Darah hanya dapat mengalir ke satu arah, yaitu darah yang
ada di dalam ventrikel kiri mengalir ke dalam aorta dan darah yang ada
di dalam ventrikel kanan mengalir ke dalam trunkus pulmoalis

f. Suplai darah untuk jantung


Menurut Herman, 2011. Sirkulasi koronaria terdiri dari arteri koronaria
dan pembuluh sebaliknya, vena koronaria
1. Arteri koronaria
Pada umumnya jaringan atau organ tubuh menerima darah dari
beberapa cabamg pembuluh darah yang berasal dari lebih dari satu
arteri, artinya suatu area di jaringan tubuh disuplai oleh dua atau lebih
arteri. Cabang-cabang arteri ini saling berhubungan, yang disebut
sebagai anastomosis. Nutrisi dan oksigenyang dibawa oleh arteri
koronaria dan cabang-cabangnya dilepaskan ke jaringan dinding
jantung melalui system kapiler yang merupakan lanjutan dari system
arteri.
System kapiler mempunyai struktur dinding yang
semipermeable sehingga dapat dilewati oleh bahan-bahan nutrisi dan
oksigen. Karbon dioksidan dan sisa-sisa metabolism yang merupakan
bahan buangan juga dapat melewati dinding kapiler dengan mudah.
2. Vena koronaria
Darah dalam vena koronaria yang mengumpulkan darah dari
kapiler-kapiler pada dinding ventrikel kiri masuk ke atrium kanan
melalui sinus koronarius ini merupakan bagian terbesar aliran darah
balik dari dinding jantung. Darah yang mengalir melalui sinus
koronaria kira-kira 75% aliran darah coroner total, sedangkan darah
dalam vena koronaria yang merupakan kumpulan darah dari kapiler-
kapiler pada ventrikel kanan kembali ke atrium kanan melalui vena
kardiaka anterior.
B. Konsep gangguan kardiovaskuler
1. Cacat katup jantung
Herman (2011). Cacat katup dapat terjadi karena :
a. Lesi katup akibat radang
Lesi katup akibat radang paling sering disebabkan oleh kuman
streptokokus hemolitikus grup A yang merupakan penyebab penyakit
demam reumatik yaitu penyakit autoimun yang dipicu oleh toksin yang
diproduksi oleh kuman streptokokus sehingga terbentuk antibody
terhadap toksin tersebut di dalam tubuh. Tepi katup jantung yang
meradang akibat penyakit demam reumatik akan berkembang menjadi
lesi berupa pendarahan atau hemoragia, fibrinosa, dan penebalan.
Lesi katup akut pada awalnya terjadi di tepi daun katup
sehingga daun-daun katup dapat bersengketan. Beberapa minggu
sampai beberapa tahun kemudian, terbentuk jaringan parut pada katup.
Daun katup yang sebelumnya tipis dan saling terpisah sehingga bebas
membuka dan menutup, berubah menjadi tebal, saling bersengketan
dan menyatu akibat jaringan parut.
Akibatnya daun katup tidak lagi dapat membuka dan menutp
dengan sempurna. Bila daun katup tidak dapat membuka dengan
sempurna, darah juga tidak dapat mengalir dari atrium ke ventrikel
atau dari ventrikel ke aorta/arteri dengan sempurna keadaan ini disebut
stenosis. Bila daun katup tidak dapat menutup dengan sempurna, darah
yang sudah masuk ke ventrikel atau aorta/arteri akan kembali ke
asalnya, yaitu ke atrium atau ke ventrikel, keadaan ini disebut
regurgitasi.

b. Cacat katup karena kelainan kongenital


Stenosis dapat pula terjadi akibat kelainan kongenital. Stenosis
kongenital ini sering dijumpai. Kadang-kadang, dapat pula terjadi
kelainan kongenital berupa kurangnya daun katup sehingga katup tidak
dapat menutup dengan sempurna.

2. Murmur atau bising jantung


Harmer (2011). Murmur atau bising jantung adalah bunyi abnormal
yang dapatmuncul pada periode sistolik maupun diastolic. Murmur
dapat timbul akibat cacat katup jantung atau kelainan kongenital yang
disebut patent ductus arteriosus.
a. Murmur akibat stenosis aorta
Stenosis aorta berarti katup aorta tidak dapat membuka dengan
sempurna, jadi darah yang dipompakan dari ventrikel kiri ke dalam
aorta mengalami hambatan, yaitu seperti melewati lubang yang
kecil. Akibat hambatan aliran darah ini, resistensi meningkat
sehingga tekanan di dalam ventrikel kiri juga meningkat, kadang-
kadang hingga mencapai 300 mmHg, sedangkan tekanan di dalam
aorta tetap normal. Sewaktu sistolik, darah dipompakan dari
ventrikel kiri dengan sangat kuat akibat tekanan yang sangat tinggi,
tetapi darah harus melewati lubang permukaan katup aorta yang
kecil sehingga terjadilah turbulensi aliran darah yang hebat di
aorta. Aliran turbulensi dapat menimbulkan getaran pada dinding
aorta yang dapat didengar dengan stetoskop sebagai murmur atau
bising jantung.
b. Murmur akibat regurgitasi aorta
Regurgitasi aorta berarti katup aorta tidak dapat menutup
dengan sempurna. Akibatnya, darah yang sudah dipompakan ke
dalam aorta sewaktu sistolik kembali lagi ke dalam ventrikel kiri
sewaktu diastolic. Hal ini terjadi karena pada saat diastolic, tekanan
di dalam ventrikel kiri jauh lebih rendah daripada tekanan di dalam
aorta. Akibatnya, darah yang sudah berada di dalam aorta
terdorong kembali ke dalam ventrikel kiri sehingga terjadi
turbulensi darah di dalam ventrikel kiri.

c. Murmur akibat stenosis mitral


Pada keadaan stenosis mitral, darah yang dipompakan oleh atrium
kiri ke venrikel kiri pada masa diastolic mengalami kesulitan
sewaktu melewati katup mitral, namun karena tekanan di dalam
atrium kiri sangat jarang melebihi 30 mmHg. Akibatnya murmur
yang terjadi juga lemah dengan frekuensi yang sangat rendah.
Sedemikian rendahnya frekuensi murmur ini sehingga seringkali
tidak dapat terdeteksi dengan stetoskop karena frekuensinya berada
di bawah ambang pendengaran manusia.

d. Murmur akibat reguritasi mitral


Pada keadaan regurgitasi mitral, darah yang sudah berada di dalam
atrium kiri sewaktu masa sistolik, yaitu sewaktu ventrikel kiri
berkontraksi. Murmur yang timbul pada keadaan ini mirip dengan
murmur pada reguritasi aorta, yaitu murmur yang bersifat blowing
dengan frekuensi tinggi, tetapi sangat halus seperti bisikan dan
ditransmisikan ke dalam atrium kiri, akan tetapi karena atrium kiri
terletak lebih ke dalam, artinya jauh dari permukaan dinding dada,
bunyi murmur ini sulit didengar. Lokasi mendengarkan murmur ini
adalah di atas proyeksi atrium pada dinding dada.

3. Penyakit jantung iskemik


Penyakit jantung iskemik termasuk penyakit yang paling banyak
menjadi penyebab kematian di era kehidupan modern sekarang ini.
Penyebab penyakit iskemik adalah gangguan aliran darah arteri
koronaria atau paling populer dengan sebutan gangguan aliran darah
koroner. Penyebab gangguan aliran darah koroner yang paling sering
adalah aterosklerosis, athero berasal dari atheroma = timbunan lipid di
lapisan intima arteri, sclerosis = pengerasan dinding pembuluh darah)
( Harmer, 2011).

C. Embryogenesis dan kongestif


Pada masa kehidupan janin (fetus) di dalam kandungan, paru – paru
janin, termasuk alveolinya berada dalam keadaan kolaps sehingga pembuluh
darahnya yaitu arteri pulmonalis, juga dalam keadaan kolaps, jadi pada arteri
pulmonalis, resistensi terhadap aliran darah sangat tinggi sehingga tekanannya
pun tinggi, sedangkan darah yang mengalir melalui aorta janin tidak
mengalami hambatan sehingga tekanan di dalam aorta janin jauh lebih rendah
daripada tekanan di dalam arteri pulmonalisnya. Akibatnya hamper semua
darah dari arteri pulmonalis yang seharusnya menuju ke paru-paru, mengalir
melalui suatu pembuluh darah khusus yang disebut duktus arteriosus yaitu
pembuluh darah yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta janin
tenpa melewati paru-paru. Perlu diketahui bahwa darah janin dioksigenasi di
plasenta, bukan di paru-paru ( Harmer, 2011).
Begitu bayi lahir, paru-paru mengembang dengan seketika sehingga
alveoli terisi udara dan resistensi terhadap aliran darah pada arteri pulmonalis
berkurang dengan cepat, dengan demikian tekanan pada arteri pulmonalis pun
turun dengan segera. Sementara itu tekanan di dalam aorta meningkat karena
terputusnya aliran darah melalui plasenta, dengan demikian tekanan arteri
pulmonalis menurun, sedangkan tekanan aorta meningkat. Akibatnya darah
tidak lagi mengalir melalaui duktus arteriosus dari arteri pulmonalis menuju ke
aorta, tetapi berbalik arah dari aorta ke arteri pulmonalis. Aliran darah yang
berbalik arah ini menyebabkan duktus arteriosus mengalami oklusi dan
tertutup dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah bayi lahir.
Diperkirakan mekanisme menutupnya duktus arteriosus ini adalah sebagai
berikut : begitu lahir, aliran darah aorta yang mengalir melalui duktus
arteriosus mengandung oksigen dua kali lebih banyak dibandingkan aliran
darah pada arteri pulmonalis yang mengalir melalui duktus arteriosus semasa
kehidupan janin. Kadar oksigen yang tinggi menyebabkan lapisan otot pada
duktus arteriosus berkontraksi sehingga duktus ini mengalami konstriksi
(Harmer, 2011).
Pada beberapa bayi, duktus ini tidak menutup. Kegagalan penutupan
duktus ini diduga disebabkan oleh adanya prostaglandin sehingga duktus ini
mengalami dilatasi yang berlebihan. Pemberian indomestasin yang
menghambat efek dilatasi prostaglandin dapat membantu penutupan duktus
arteriosus ini pada beberapa kasus. Kira-kira 1 dari 5500 bayi, duktus
arteriosus gagal menutup, keadaan ini disebut sebagai patent ductus arteriosus
atau duktus arteriosus yang menetap ( Harmer, 2011).
Pada bayi dengan duktus arteriosus yang menetap, kadang-kadang
tidak terjadi kelainan bunyi jantung karena jumlah darah yang mengalir dari
aorta melalui duktus arteriosus ke arteri pulmonalis tidak cukup banyak untuk
menimbulkan bunyi ang abnormal. Akan tetapi dengan semakin bertambahnya
umur bayi, biasanya begitu mencapai umur 1 sampai 3 tahun, bunyi murmur
yang bersifat meniup (blowing) dan “ kasar” mulai dapat dideteksi dengan
stetoskop di daerah proyeksi pilmonal pada dinding dada. Murmur ini
terdengar jauh lebih keras padawaktu sistolik karena tingginya tekanan aorta
pada saat itu. Sedangkan, pada waktu diastolik, bunyinya menjadi jauh lebih
lemah sering dengan berkurangnya tekanan aorta ke level yang sangat rendah,
jadi murmur keadaan ini sangat khas, yaitu mengeras dan melemah mengikuti
irama detak jantung dan disebut sebagai “ machinery murmur” ( Harmer,
2011).
D. Gangguan aktivitas listrik
1. Coroner
2. Aorta
3. Gagal jantung

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Rahmatina B. Herman. 2011. Buku Ajar Fisiologi Jantung. Penerbit Buku Kedokteran.
Jakarta : EGC
Sylvia A Price & Lorraine M Wilson. 2015. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit volume 1.edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC