Anda di halaman 1dari 13

BAB VII

BAK PRASEDIMENTASI

7.1 Dasar Teori


Kekeruhan pada air baku yang berasal dari air permukaan (misalnya sungai) mempunyai
fluktuasi, dimana kekeruhan yang tinggi dapat terjadi pada saat musim hujan yang berasal
dari aliran air yang membawa lumpur. Kekeruhan pada sungai dalam perencanaan bangunan
pengolahan air minum ini adalah 15 NTU. Kekeruhan ini dapat diminimalisasi dengan
bantuan bangunan prasedimentasi.
Bak prasedimentasi ini berfungsi sebagai tempat pengendapan partikel diskrit, seperti
lempung, pasir, dan zat padat lainnya yang dapat mengendap secara gravitasi (memiliki
spesific gravity ≥ 1,2 dan diameter ≤ 0,05 mm). Partikel diskrit adalah partikel yang selama
proses pengendapannya tidak berubah ukuran, bentuk, dan beratnya. Dalam
pengoperasiannya, prasedimentasi dapat mengurangi zat padat (SS) sampai sebesar 50 – 75
%.
Dalam pengoperasiannya, terjadi pemisahan dimana zat padat tersuspensi akan menjadi
fluida yang sudah terklarifikasi dan lumpur. Dalam unit prasedimentasi, dibagi dalam empat
zone, yaitu :
1. Inlet Zone
Sebagai tempat memperkecil pengaruh transisi aliran dari influen ke aliran steady yang terjadi
di settling zone. Fungsi dari inlet zone ini agar proses settling yang terjadi di settling zone
tidak terganggu.
2. Settling Zone
Sebagai tempat terjadinya pengendapan partikel diskrit sehingga terpisah dari air baku.
3. Sludge Zone
Tempat penampungan sementara dari material yang diendapkan di settling zone.
4. Outlet Zone
Sebagai tempat memeperkecil pengaruh transisi aliran dari settling zone ke aliran effluen.

7.2 Kriteria Desain


Hal-hal yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan dalam desain bangunan
prasedimentasi adalah sebagai berikut :

44
1. Efisiensi removal partikel diskrit (Xt)

dimana : Xt = Efisiensi removal


Xo = Fraksi berat yang tersisa
dxi = Fraksi berat
Vxi = Kecepatan pengendapan untuk tiap fraksi
Vs = Kecepatan pengendapan

2. Diameter Partikel

dimana : d = diameter partikel (m)


Vs = kecepatan pengendapan (m/dt)
υ = viskositas kinematik air
Ss = Spesific gravity partikel
g = percepatan gravitasi bumi = 9,81 m/dt2

3. Bilangan Reynold
Perhitungan ini digunakan untuk mengontrol kondisi aliran dalam bangunan agar laminer.

dimana : NRe = bilangan reynold


VH = kecepatan aliran horizontal
R = jari-jari hidrolis
υ = viskositas kinematik air

4. Bilangan Froude
Perhitungan ini digunakan untuk mengontrol terjadinya aliran pendek

dimana : NFR = bilangan froude


VH = kecepatan aliran horizontal

45
R = jari-jari hidrolis
g = percepatan gravitasi (9,81 m/dt)

5. Kecepatan Penggerusan
Perhitungan ini untuk mengontrol agar jangan sampai terjadi penggerusan lumpur yang telah
terkumpul.

dimana : Vs = kecepatan penggerusan (m/dt)


k = faktor koreksi porositas (0,02 – 0,12)
f = faktor friksi hidrolik (0,02)
Ss = spesific gravity partikel (2,65)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/dt2)
d = diameter partikel

6. Kecepatan mengendap partikel, berdasarkan analisa air baku dengan test kolom settling di
laboratorium, sehingga didapatkan nilai kecepatan pengendapan partikel diskrit dan efisiensi
removal partikel pada bangunan prasedimentasi.
7. Nre < 2000, untuk menjaga aliran tetap laminer.
8. NFr > 10-5, untuk mencegah aliran pendek
9. Kecepatan horisontal (VH) < VS
10. Untuk memudahkan pengambilan lumpur, kedalaman zona settling ditentukan
menggunakan rumus : H = 1/12 P0,8
dimana : H = Kedalaman (m)
L = Panjang ruang pengendapan (m)

7.3 Perhitungan Detail


7.3.1 Analisa Kolom Pengendapan
Uji kolom pengendapan berfungsi untuk menentukan efisiensi removal dan kecepatan
pengendapan di bangunan prasedimentasi. Uji analisa kolom pengendapan yang telah
dilakukan digunakan kolom pengendapan setinggi 200 cm titik samplin diambil pada
kedalaman 150 cm. Dari uji analisa didapatkan data sebagai berikut :

46
Tabel 7.1 Hasil Uji Analisa Kolom Pengendapan
Waktu
Kecepatan
Sampling Fraksi Tersisa (%)
Mengendap (m/dt)
(menit)
15 0,0005 0,002
30 0,0003 0,01
60 0,00014 0,05
90 0,0009 0,04
120 0,0006 0,03
Sumber : Data Pribadi, 2018
Dari data tersebut kemudian dilakukan plotting kurva fraksi tersisa dengan kecepatan
pengendapan dan didapatkan hasil sebagai berikut:

Kurva Hasil Analisa Uji Kolom


Pengendapan
0.06
0.05
0.04
0.03 Kurva Hasil Analisa Uji
0.02 Kolom Pengendapan

0.01
0
0.0005 0.0003 0.00014 0.0009 0.0006

Grafik 7.1 Kurva Hasil Analisa Uji Kolom Pengendapan


Sumber : Data Pribadi, 2018
Dari data dan kurva tersebut diatas, kemudian dicari luas daerah diatas kurva berdasarkan
nilai Vo dan Fo (Fo terjadi saat Vo). Pada uji lab telah didapatkan nilai Vo adalah
0,00167m/dt dan Fo adalah 0,05%.
Tabel 7.2 Luas Daerah Diatas Kurva Hasil Analisa
dF V VdF
0,005 0,00184 9,2 × 10−7
0,005 0,00184 9,2 × 10−7
0,006 0,00009 5,4 × 10−7
0,006 0,00008 4,8 × 10−7

47
dF V VdF
0,004 0,00007 2,8 × 10−7
0,004 0,00006 2,4 × 10−7
0,002 0,00004 0,8 × 10−7
0,007 0,00003 2,1 × 10−7
Total 𝟑, 𝟔𝟕 × 𝟏𝟎−𝟔
Dari luas daerah yang telah dihitung tadi, dapat dilakukan perhitungan terhadap persentase
efisiensi removal partikel diskrit dari bangunan prasedimentasi. Perhitungannya adalah sebagi
berikut :
𝐹𝑜
1
𝑅 = (1 − 𝐹𝑜) + ∫ 𝑉𝑑𝐹
𝑉𝑜
0
1
𝑅 = (1 − 0,05) + (3,67 × 10−6 )
0,00167
𝑅 = 0,95 + 0,00219
𝑅 = 0,95219
𝑅 = 95%

Setelah persentase removal diketahui, maka langkah selanjutnya adalah menghitung waktu
pengendapan dan surface loadingnya.
1. Waktu Pengendapan Uji Kolom = 2m/0,00167m/dt = 1198 dt = 0,3 jam
2. Waktu Efisiensi untuk Desain = 1 jam
3. Surface loading = 0,0016 m/detik

7.3.2 Zona Pengendapan


Direncanakan :
1. Terdapat 2 bak prasedimentasi agar jika satu bak dibersihkan, bak lainnya masih dapat
beroperasi
2. Dimensi bak = panjang : lebar = 2 : 1 (agar area pengendapan lebih luas)
3. Suhu air (T) = 30⁰ C  v = 0,8039 x 10−6 m²/detik

Perhitungan :
Karena terdapat 2 bak, maka :
0,1197𝑚3 /𝑑𝑡
𝑄(1 𝑏𝑎𝑘) = = 0,0599𝑚3 /𝑑𝑡
2

48
𝑄 0,0599𝑚3 /𝑑𝑡
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐵𝑎𝑘 (𝐴) = = = 37,5𝑚2
𝑆𝑜 0,0016𝑚/𝑑𝑡

A =PxL
37,5m²= 2L²
L = 4,3 m  P = 8,6 m

1 0,8
𝐾𝑒𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑘 = 𝑃
12
1
= 2 (8,6)0,8 = 0,5 𝑚

𝑃 8,6𝑚
𝑉 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙 (𝑉ℎ) = = = 8,6𝑚/𝑗𝑎𝑚 = 0,0023 𝑚/𝑑𝑡
𝑡𝑑 1𝑗𝑎𝑚

1/2
18. 𝑉𝑠. 𝑣 1/2 18. (0,0016). (0,8039.10−6 )
𝐷𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑡𝑖𝑘𝑒𝑙 (𝑑) = [ ] =[ ]
𝑔(𝑆𝑠 − 1) (9,81) × (2,65 − 1)
= 1,198 × 10−4 𝑚 = 119,8 𝜇𝑚
0,5
8𝑘(𝑆𝑠 − 1)𝑔. 𝑑
𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎𝑛 = 𝑉𝑠𝑐 = [ ]
𝑓
0,5
8 ×0,04 ×(2,65−1)×9,81×1,198.10−4
𝑉𝑠𝑐 = [ ]
0,02

𝑉𝑠𝑐 = 0,56 𝑚/𝑑𝑡


Karena Vs < Vh < Vsc  tidak terjadi penggerusan (OK)

Kontrol Nre dan Nfr


𝐵×𝐻 8,6 × 0,5
𝑅= = = 0,44
𝐵 + 2𝐻 8,6 + (2 × 0,5)
𝑉ℎ × 𝑅 8,2. 10−4 × 0,44
𝑁𝑟𝑒 = = = 44,88
𝑣 0,8039 × 10−6
(Nre = 44,88 < 2000 OK!)

𝑉ℎ2 (8,2. 10−4 )2


𝑁𝐹𝑟 = = = 1,56 × 10−7
𝑔 × 𝑅 9,81 × 0,44

49
7.3.3 Zona Lumpur
Ruang Lumpur
Dari data karakteristik air sungai didapat :
Kadar kekeruhan = 15 NTU (700 mg/L)
Specific gravity partikel = 2,65

Perhitungan :
Sludge yang akan dihilangkan =65% x 700 mg/L = 455 mg/L
Partikel yang lolos = 700 mg/L – 455mg/L = 245 mg/L
Berat lumpur yang diendapkan per hari = partikel teremoval x Q bak
= 0,455 kg/m3 x 0,05985 m³/dt
= 0,027kg/dt = 2333 kg/hr
Berat jenis lumpur → Kadar solid : Kadar air = 5 % : 95 %
Densitas lumpur = (Densitas SS x 5%) + (Densitas air x 95%)
= (2650 kg/m3 x 5 %) + (995,68 kg/m3 x 95 %)
= 132,5 kg/m3 + 945,9 kg/m3 =945,9 kg/m3
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑙𝑢𝑚𝑝𝑢𝑟+ 95⁄5𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑙𝑢𝑚𝑝𝑢𝑟
Volume lumpur = 𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑙𝑢𝑚𝑝𝑢𝑟

2333+ 95⁄52333
= 945,9

= 49,32 m³/hr
= 2,06 m³/hr
Desain ruang lumpur :
1. Ruang lumpur berbentuk limas terpancung, dipasang dibawah pervorated wall, agar mudah
dalam pengurasannya.
2. Lumpur dikuras secara gravitasi tiap 24 jam sekali, agar tidak terlalu menumpuk
3. Slope ruang lumpur 30⁰ – 60⁰, agar mudah dalam pengurasan
4. Panjang permukaan lumpur (B) = lebar bak = 4,3 m
5. Lebar permukaan lumpur (L) = 2,2 m
6. Panjang dasar permukaan lumpur (B’) = 2,15 m
7. Lebar dasar permukaan lumpur (L’) = 2,15 m

Sehingga :
Luas permukaan lumpur (A) = B x L = 4,3 m x 2,2 m = 9,46 m²
Luas dasar permukaan lumpur (A’) = B’ x L’ = 2,15 m x 2,15 m = 4,6 m²

50
Periode pengurasan lumpur = 5 jam sekali
sehingga volume lumpur selama 24 jam = 2,06 m³/jam x 5 jam
= 10,3 m³
Kedalaman ruang lumpur (h)

Volume lumpur = 3 (𝐴 + 𝐴′ + √𝐴 × 𝐴′

10,3 = 3 (9,46 + 4,6 + √9,46 × 4,6

h = 1,5 m

Kemiringan ruang lumpur (α) : tan α = (𝐿−𝐿′ )/2
1,5
= (2,2−2,15)/2

= 60
α = 89⁰

Pipa Penguras Lumpur


Direncanakan :
1. Pengurasan lumpur dilakukan secara gravitasi
2. V dalam pipa = 1 m/dt
3. Waktu pengurasan = 5 menit = 300 dt
Perhitungan :
Volume lumpur selama 5 jam = 10,3 m³
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑙𝑢𝑚𝑝𝑢𝑟 10,3
Debit lumpur pada pipa = = = 0,034𝑚3 /𝑑𝑡
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑟𝑎𝑠𝑎𝑛 300
𝑄 0,34
A pipa =𝑉= = 0,34𝑚2
1

4𝐴 4×0,34
Dpipa =√𝜋 =√ 𝜋

1,36
=√ 𝜋

= 0,65 m = 65 cm

7.3.4 Zona Inlet


Saluran Pengumpul
Merupakan saluran pengumpul air baku sebelum menuju ke bak prasedimentasi.
Q saluran pengumpul = 0,1197 m³/dt
V rencana = 0,5 m/dt
Lebar saluran (B) = 2 x H saluran

51
Panjang saluran (L) = (Lebar bak prasedimentasi x 2) + tebal dinding
= ( 4,3 m x 2 ) + 0,2 = 8,8 m
Dimensi saluran :
𝑄 0,1197
𝐴=𝑉= = 0,24𝑚2
0,5

A=HxH
0,24 m² = 2 H²
H = 0,35 m
B = 2H = 0,7 m
Dimensi saluran pengumpul :
Tinggi (H) + Freeboard (fb) = 0,35 m + 0,17 m = 0,52 m
Panjang (L) = 8,8 m
Lebar (B) = 0,7 m
Headloss di saluran pengumpul :
Mayor Losses (hm) :
1 ℎ𝑓 1/2
𝑉 = 0,015 [0,5ℎ]2/3 [ 𝐿 ]

1 ℎ𝑓 1/2
0,5 = 0,015 [0,5 × 0,52]2/3 [8,8]

ℎ𝑓 1/2
0,5 = 0,41 [ ]
8,8

hf = 13,112 m
Head Kecepatan (hv) :
𝑉2 0,52
ℎ𝑣 = = 2×9,81 = 0,013𝑚
2𝑔
ℎ𝑓 13,112
Slope = = = 1,49𝑚
𝐿 8,8

Headloss total = hf + hv
= 13,112 m + 0,013 m
= 13,13 m

Pintu Air
Direncanakan :
Lebar pintu rencana (B) = 1 m (agar bukaan tidak terlalu besar)
Q pintu air = Q tiap bak = 0,1405 m3/dt
Diketahui :
Tinggi muka air sebelum pintu = 0,53 m (pada saluran pengumpul)
Perhitungan :

52
Bukaaan pintu air (a) :
Q = k . μ . a . b . (2 𝑔 ℎ)0,5
0,1405 m3/dt = 1 . 1 . a . 1 . (2 × 9,81 × 0,52)0,5
a = 0,019 m

Headloss di pintu air
Hl saluran berpintu = 1/3 x (hf + hv saluran pengumpul)
= 1/3 x (13,13)
= 4,4 m
Hl di pintu air = Hl saluran berpintu / (1 – β2)
= 4,4 m / ( 1 – 0,99²)
= 22,1 m

7.3.5 Zona Outlet


Perencanaan Weir
Direncanakan :
Weir Loading Rate (WLR) = 3 L/dt.m = 3.10ˉ³ m³/dt.m (agar daya tampungnya masih
memenuhi pengaliran walaupun dimensinya tidak terlalu besar).
Terdapat 8 buah gutter (diperkirakan cukup untuk debit pada tiap bak), dengan jarak antar
gutter = 3 x lebar gutter.
Diketahui : Q tiap bak = 0,05985 m³/dt
Perhitungan :
𝑄 0,05985
Panjang weir yang dibutuhkan (B) = 𝑊𝐿𝑅 = = 19,95𝑚 = 1995𝑐𝑚
3×10−3


Jumlah weir :
W = (8 x S) + (3 x S)7 + 14t, dimana :W = lebar bak
S = lebar gutter
t = tebal weir (10 cm)
4,3 m = 29S + 1,4
S = 0,1 m = 10 cm
Panjang tiap gutter (b) :
b = 14L + 8S + (7 x 3S)
1995 cm = 14L + 290 cm
14 L = 1705 cm
L = 121,8 cm
53
Tinggi air di atas weir :
2
𝑄 = 3 × 𝐶𝑑 × 𝐵 × √2 × 9,81 × ℎ3/2 , 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝐶𝑑 = 0,6
2
0,05985 = 3 × 0,6 × 19,95 × 4,43 × ℎ3/2

0,05985 = 35,35 × ℎ3/2


h = 0,014 m
h = 1,4 cm
Dimensi saluran :
Q = 1,84 x B x 𝐻 3/2
dimana : B = lebar gutter = S = 10 cm
H = tinggi air dalam gutter
Q = 1,84 x B x 𝐻 3/2
0,05985 m³/dt = 1,84 x 0,1 m x 𝐻 3/2
H = 0,022 m = 2,2 cm
Tinggi gutter = Tinggi air + Freeboard
= 2,2 cm + 16,5 cm = 18,7 cm

Saluran Pengumpul Outlet


Data perencanaan (diketahui dari perhitungan sebelumnya) :
Q saluran pengumpul = 0,05985 m³/dt
Bentuk saluran segi empat dengan B = 2H
L = lebar bak prasedimentasi = 4,3 m
Perhitungan :
Q = 1,375 x B x 𝐻 3/2
0,05985 = 1,375 x 2H x 𝐻 3/2
H = 0,12 m ; B = 0,24 m
Dimensi saluran pengumpul :
Panjang (L) = 4,3 m
Lebar (B) = 0,24 m
Kedalaman (H) = 0,12 m + 0,3 (fb) = 0,15 m
Kecepatan dalam saluran pengumpul :
V = Q/A = 0,05985/ (0,12 x 0,24) = 2,08 m/dt
Slope :
1
V = 0,015 [0,5ℎ]2/3 [𝑆]1/2

54
1
2,08 m/dt = 0,015 [0,5 × 0,12]2/3 [𝑆]1/2

2,08 m/dt = 10,22[𝑆]1/2


S = 0,042 m

Headloss saluran (hf) = S x L = 0,042 x 4,3 m = 0,181 m
Head Kecepatan (hv) :
𝑉2 2,082
ℎ𝑣 = = 2×9,81 = 0,22𝑚
2𝑔

Headloss total = hf + hv
= 0,181 m + 0,22 m = 0,401 m

Saluran Outlet
Berfungsi untuk mengumpulkan air dari tiap-tiap bak yang kemudian akan dialirkan ke
saluran pembawa.
Data Perencanaan (sesuai perhitungan sebelumnya):
Q saluran outlet = 0,1197 m³/dt
Lebar saluran = 2 x Hsaluran
Panjang saluran = (lebar bak x 2) + tebal dinding
= (4,3 x 2) + 0,2 = 8,8 m
V rencana = 0,6 m/dt
Perhitungan :
A = Q/V = 0.1197 m³/dt / 0,6 m/dt = 0,21 m²
A=BxH
0,21 m² = 2H x H
H = 0,32 m ; B = 2H = 64 m
Dimensi saluran outlet :
Panjang (L) = 41,8 m
Lebar (B) = 0,96 m
Kedalaman (H) + fb = 0,32 m + 0,22 m = 0,54 m
Headloss di saluran outlet :
Mayor Losses (hm) :
1 ℎ𝑓 1/2
𝑉 = 0,015 [0,5ℎ]2/3 [ 𝐿 ]

1 ℎ𝑓 1/2
0,6 = 0,015 [0,50 × 0,32]2/3 [8,8]

ℎ𝑓 1/2
0,6 = 19,7 [ 𝐿 ]
55
hf = 0,0082 m
Head Kecepatan (hv) :
𝑉2 0,62
ℎ𝑣 = = 2×9,81 = 0,018𝑚
2𝑔
ℎ𝑓 0,0082
Slope = = = 0,072𝑚
𝐿 8,8


Headloss total = hf + hv
= 0,0082 m + 0,018 m = 0,026 m

56