Anda di halaman 1dari 10

Budidaya rumput laut, Kappaphycus alvarezii .....

(I Nyoman Radiarta)

BUDIDAYA RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii


SECARA TERINTEGRASI DENGAN IKAN KERAPU DI TELUK GERUPUK
KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT

I Nyoman Radiarta, Erlania, dan Ketut Sugama

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya


Jl. Ragunan No. 20, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540
E-mail: radiarta@yahoo.com

(Naskah diterima: 3 Februari 2014; Disetujui publikasi: 2 April 2014)

ABSTRAK

Budidaya ikan laut dalam keramba jaring apung menghasilkan banyak sisa pakan dan
feses yang dapat meningkatkan kandungan nutrien berupa nitrogen dan fosfat
perairan. Pemanfaatan nutrien tersebut dapat dilakukan melalui budidaya rumput laut
di sekitar keramba ikan laut. Pengamatan pertumbuhan dan laju pertumbuhan spesifik
terhadap dua varietas rumput laut (Kappaphycus alvarezii var. Maumere dan Tambalang)
telah dilakukan di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah untuk satu siklus musim tanam
pada bulan September-Oktober 2013. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
performansi pertumbuhan rumput laut yang terintegrasi dengan keramba ikan laut
sangat baik. Laju pertumbuhan spesifik terbesar ditemukan pada varian Maumere
yaitu berkisar antara 4,26%-4,68%/hari dibandingkan dengan varian Tambalang yaitu
berkisar antara 3,90%-4,20%/hari. Secara umum melalui sistem budidaya multi-tropik
terintegrasi (IMTA) ini, peningkatan produksi rumput laut dapat mencapai 74% di-
bandingkan dengan sistem monokultur. Model IMTA sangat relevan dengan program
ekonomi biru Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mendukung pengembangan
perikanan budidaya yang berkelanjutan.

KATA KUNCI: rumput laut, budidaya multi-tropik terintegrasi, nutrien, Teluk


Gerupuk

ABSTRACT: Integrated mariculture of seaweed, Kappaphycus alvarezii, and


grouper cages in Gerupuk Bay Central Lombok Regency, West
Nusa Tenggara. By: I Nyoman Radiarta, Erlania, and Ketut
Sugama

Marine fish farming produce large amounts of wastes that can increase dissolved
inorganic phosphorous and nitrogen. Utilization of available nutrients can be done
through seaweed cultivation around the marine fish cages. Observation of growth
and specific growth rate of the two strains of seaweed (Kappaphycus alvarezii var.
Maumere and Tambalang) was conducted in Gerupuk Bay, Central Lombok for one
cycle of cultivation during September-October 2013. The results showed that the
growth of seaweeds that integrated with marine fish cage was very good. The high
specific growth rate was found in straint of Maumere ranging from 4.26%-4.68%/day
compared with straint of Tambalang ranging from 3.90%-4.20%/day. In general
through integrated multi-trophic aquaculture (IMTA) system, seaweed production
could increased for about 74% compared to monoculture system. Implementation of
integrated multi-trophic aquaculture (IMTA) model highly relevant to the blue economic

125
J. Ris. Akuakultur Vol. 9 No. 1 Tahun 2014: 125-134

program of Ministery of Marine Affair and Fisheries in order to support sustainable


aquaculture development.

KEYWORDS: seaweeds, integrated multi-trophic aquaculture, nutrient,


Gerupuk Bay

PENDAHULUAN KJA sebagian dapat dimanfaatkan melalui


budidaya rumput laut. Ketersediaan dissolved
Ikan kerapu dan rumput laut merupakan inorganic nutrient (DIN) yang berasal dari KJA
komoditas industrialisasi Kementerian Ke- ikan akan mendukung secara positif per-
lautan dan Perikanan (KKP). Produksi ikan kembangan dan pertumbuhan rumput laut
kerapu di Indonesia menunjukkan pening- yang dibudidayakan (Troell et al., 1997; Chopin
katan yang sangat fluktuatif. Produksi ikan et al., 2001; Sanderson et al., 2008). Melalui
kerapu tahun 2002 mencapai 7.057 ton, na- penempatan unit budidaya rumput laut pada
mun pada tahun 2006 mengalami penurunan kisaran jarak tertentu dengan KJA ikan selain
produksi yaitu 3.132 ton, dan selanjutnya
meningkatkan produktivitas budidaya juga
menunjukkan peningkatan yang perlahan
dapat mengurangi pengkayaan nutrien dalam
dengan produksi mencapai 8.091 tahun 2011
kolom air yang dapat berdampak pada ter-
(DJPB, 2012). Dibandingkan dengan ikan ke-
jadinya eutrofikasi. Model pengembangan
rapu, produksi rumput laut menunjukkan
budidaya secara terintegrasi ini dikenal
peningkatan yang sangat signifikan yaitu 4,5
dengan integrated multi-trophic aquaculture/
juta ton di tahun 2011 dibandingkan dengan
IMTA (Barrington et al., 2009). IMTA adalah
produksi tahun 2002 hanya mencapai 233 ribu
budidaya terintegrasi antara beberapa ko-
ton (DJPB, 2012). Di tahun 2011, produksi rum-
moditas yang memiliki tingkat tropik yang
put laut ini memberikan kontribusi sekitar 98%
berbeda dalam hal pemanfaatan sumber
dari total produksi budidaya laut di Indonesia,
makanan (energi) dalam perairan meliputi
sedangkan ikan kerapu hanya berkontribusi
komoditas yang diberikan pakan yaitu ikan
sekitar 0,2% (DJPB, 2012).
dengan dengan komoditas yang dapat meng-
Laju perkembangan budidaya laut secara ekstrak dissolved inorganic nutrients (rumput
intensif sering menimbulkan dampak negatif laut) atau particulate organic matter (ke-
berupa penurunan mutu lingkungan perairan kerangan), sehingga terjadi keseimbangan
(Beveridge, 1996; Costa-Pierce, 2008). Dampak antara proses biologi dan kimia pada sistem
kegiatan budidaya terhadap lingkungan ha- yang berkembang. IMTA merupakan opsi
rus diminimalkan atau bahkan dapat dihilang- pengembangan budidaya perikanan ke depan.
kan. Oleh sebab itu, segala kegiatan budidaya Hal ini disebabkan karena selain dapat me-
perikanan harus berwawasan lingkungan ningkatkan produksi dari beberapa komodi-
sehingga aktivitas budidaya perikanan ter- tas secara simultan juga dapat meminimal-
sebut dapat berkelanjutan. Dampak yang pa- kan dampak negatif terhadap lingkungan
ling terlihat dari budidaya ikan laut dalam perairan. Penerapan IMTA sangat fleksibel dan
keramba jaring apung (KJA) adalah adanya sisa dapat diterapkan di perairan terbuka atau
pakan yang terurai dalam kolom air yang dapat unit budidaya di daratan baik itu di perairan
meningkatkan biochemical oxygen demand, tawar atau laut, bahkan pengembangan IMTA
meningkatkan kandungan fosfat terlarut dan juga sudah menyebar sampai pada lautan
meningkatkan kandungan nitrogen terlarut terbuka (Troell et al., 2009). Yang paling utama
(Troell et al., 1997). Secara umum hanya se- dalam penerapan IMTA adalah pemilihan ko-
kitar 30% nutrien yang berasal dari pakan moditas sesuai dengan fungsinya dalam suatu
termanfaatkan oleh ikan, dan sisanya akan ekosistem dan juga memperhatikan nilai jual
terlepas ke perairan dalam bentuk sisa pakan komoditas tersebut. Model pengembangan
dan feses (Beveridge, 1996; Troell et al., 1997; budidaya berbasis IMTA sangat relevan
Rachmansyah et al., 2004), namun hal ini dengan program ekonomi biru Kementerian
bergantung daripada kualitas pakan yang Kelautan dan Perikanan (KKP), yang mana dapat
diberikan dan manajemen budidaya yang di- meningkatkan produksi secara maksimal tanpa
terapkan. merusak lingkungan budidayanya (zero waste)
Ketersediaan nutrien dalam perairan yang sehingga dapat menuju pengembangan per-
berasal dari aktivitas budidaya ikan dalam ikanan budidaya yang berkelanjutan. Pene-

126
Budidaya rumput laut, Kappaphycus alvarezii ..... (I Nyoman Radiarta)

litian ini bertujuan untuk menganalisis per- pengembangan budidaya rumput laut men-
tumbuhan rumput laut yang dibudidayakan capai 322 ha (Radiarta & Rasidi, 2012). Kawasan
secara terintegrasi (IMTA) dengan ikan kera- pengembangan budidaya rumput laut umum-
pu dan melihat karakteristik nutrien perairan nya terletak di tengah-tengah teluk dengan
di sekitar kawasan IMTA di Teluk Gerupuk, karakteristik perairan yang cukup bersih (jauh
Lombok Tengah. dari sedimentasi), arus yang memadai dan
gelombang yang tidak terlalu besar.
BAHAN DAN METODE
Model IMTA yang diterapkan di lokasi pe-
Penelitian telah dilaksanakan pada bulan nelitian merupakan integrasi antara ikan ke-
September-Oktober 2013 di Teluk Gerupuk rapu dan rumput laut (Gambar 1B). Jenis ikan
Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara yang digunakan sebagai komoditas utama dari
Barat (Gambar 1). Teluk Gerupuk dengan luas- sistem budidaya ini adalah ikan kerapu cantang
an sekitar 814 ha, sangat berpotensi untuk (Epinephelus sp.) yang merupakan jenis kerapu
pengembangan budidaya laut. Perairan ini hibrid hasil perkawinan silang antara ikan
telah dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
di antaranya perikanan budidaya (ikan, lobster, sebagai induk betina dengan kerapu kertang
dan rumput laut), perikanan tangkap, dan (E. lanceolatus) sebagai induk jantan. Ikan ke-
pariwisata (surfing). Luasan potensial untuk rapu dibudidayakan pada empat lubang KJA

116o21’E 116o22’E

8 o54’S

A Keterangan (Legend)

KJA ikan (Fish cage)

8 o55’S
Rumput laut (Seaweed)
Kontrol rumput laut (Seaweed
control)
Bakau (Mangrove)
0 0.5 1 Pemukiman (Settlement)
Daratan (Land)
Kilometers

116o21’E 116o22’E

Unit rumput laut Unit rumput laut


(Seaweed) (Seaweed)
KJA ikan
(Fish cage)
7 6 5 1 2 3 4 Line 1
B
Long line Barat Long line Timur
(West long line) (East long line)

0 25 50

Meters

Gambar 1. Lokasi penelitian di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah yang menampilkan posisi unit
IMTA (A) dan desain IMTA (B). Angka menunjukkan titik pengambilan data kualitas perairan
dan line 1 adalah lokasi analisis kualitas perairan secara stratifikasi
Figure 1. The study area in Gerupuk Bay, Central Lombok that shows integrated multi-trophic
aquaculture (IMTA) unit (A) and IMTA design (B). Numbers indicate water quality sampling
stations and line 1 was used for vertical water quality analysis

127
J. Ris. Akuakultur Vol. 9 No. 1 Tahun 2014: 125-134

dengan ukuran 3 m x 3 m x 3 m. Setiap lubang di mana:


KJA diisi sebanyak 500 ekor dengan bobot Wt adalah bobot basah akhir pemeliharaan (g), Wo
awal ikan adalah sekitar 31,57±3,77 g. Komo- adalah bobot basah awal pemeliharaan (g) dan t
ditas selanjutnya adalah rumput laut. Terda- adalah lama pemeliharaan (hari).
pat dua varian rumput laut yang dibudidaya-
kan pada penelitian ini, yaitu Kappaphycus Sedangkan produksi (P) rumput laut di
hitung dengan rumus:
alvarezii var. Maumere dan Tambalang
(cottonii). Rumput laut dibudidayakan dengan P (kg/ha) = {( W x 1,000) x J x L} x 4
sistem long line; yang terdiri atas tiga unit long
line masing-masing berukuran 50 m x 50 m. di mana:
Unit long line-1 dan long line-2 ditempatkan W adalah bobot rata-rata akhir pemeliharaan (g),
pada jarak sekitar 20 m sebelah Barat dan Ti- J adalah jumlah titik dalam satu line (250 titik),
mur budidaya ikan dengan keramba jaring L adalah jumlah line dalam satu unit (25 line) pa-
apung (KJA); sedangkan long line-3 yang rameter pengamatan. Analisis statistik ANOVA
single factor juga dilakukan untuk melihat ada
merupakan long line kontrol terletak sekitar
tidaknya perbedaan antara budidaya rumput laut
550 m ke arah luar teluk (Gambar 1). Satu unit dengan sistem IMTA dan kontrol/monokultur.
long line terdiri atas 25 bentangan tali ris dan
setiap tali ris terdiri atas 250 titik tanam/ikat- Data kualitas air yang dikumpulkan di-
an rumput laut, dan tiap titik tanam berjarak analisis secara spasial yang ditampilkan se-
sekitar 20 cm. Bibit rumput laut diikatkan cara vertikal. Perangkat lunak yang digunakan
sepanjang tali ris dengan bobot sekitar 100 dalam analisis ini adalah Ocean Data View
g/titik tanam (SNI 7579.2:2010; BBL, 2012). (ODV). Untuk melakukan analisis spasial,
Pengamatan pertumbuhan rumput laut di- seluruh data yang terkumpul diinterpolasi
lakukan setiap 15 hari sekali, dengan mengu- dengan teknik VG gridding (Schlitzer, 2011).
kur bobot dari contoh rumput laut. Sebanyak
lima titik contoh rumput laut yang diambil HASIL DAN BAHASAN
secara acak (n = 5) dari setiap varian rumput
laut pada ketiga unit long line selama budidaya Pertumbuhan Rumput Laut
dilakukan yaitu 45 hari.
Secara umum, rumput laut yang dibudi-
Selain data performansi pertumbuhan, dayakan dengan sistem IMTA memperlihatkan
kondisi kualitas perairan yang berhubungan pertambahan bobot yang relatif lebih besar
dengan sisa pakan yang terurai dalam ben- dan cenderung tumbuh lebih baik (meningkat
tuk DIN yang dapat dimanfaatkan oleh rumput dari awal hingga akhir masa pemeliharaan) ji-
laut juga diamati (Barrington et al., 2009). ka dibandingkan dengan rumput laut kontrol
Sebanyak tujuh titik pengamatan kualitas (Gambar 2). Hal ini dapat dijadikan indikasi awal
perairan disebar di sekitar unit IMTA (Gambar terjadinya ekspos nutrien yang berasal dari
1B). Pengamatan kualitas perairan dilakukan limbah KJA terhadap rumput laut yang di-
secara stratifikasi pada tiga kedalaman yaitu budidayakan di sekitar KJA tersebut. Menurut
permukaan (0 m), 3 m, dan dasar. Parameter Neori et al. (2000), ide yang tergambar dari
yang diamati meliputi nitrit (NO2-N), amoniak kondisi budidaya dengan sistem IMTA ini yaitu
(NH3-N) dan fosfat (PO4-P). Contoh air diambil tingginya pertumbuhan rumput laut didukung
setiap bulan untuk dianalisis di Laboratorium oleh terdapatnya amoniak yang diekskresikan
Pengujian Balai Budidaya Laut Lombok. Metode oleh ikan ke lingkungan; selain itu, rumput laut
pengambilan, preservasi, dan analisis contoh juga berperan dalam memfiltrasi amoniak dari
air mengacu pada metode standar APHA lingkungan perairan.
(2005).
Pertumbuhan rata-rata dari kedua varie-
Analisis Data tas rumput laut yang dibudidayakan yaitu
Kappaphycus alvarezii var. Maumere dan
Rumput laut yang dibudidayakan dihitung Tambalang menunjukkan bahwa jenis K.
laju pertumbuhan spesifik (specific growth alvarezii varietas Maumere memiliki laju
rate/SGR) dengan rumus (Effendie, 1979; pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan
Neori et al., 2000): K. alvarezii varietas Tambalang, dengan bobot
akhir rata-rata 628 g dan 822 g untuk long line
ln Wt – Ln Wo Barat dan Timur. Bobot tersebut jauh lebih
SGR (%) = x 100 %
t besar dibandingkan dengan long line kontrol

128
Budidaya rumput laut, Kappaphycus alvarezii ..... (I Nyoman Radiarta)

1,200 1,200
Long line Barat Long line Timur

Weight increasement (g)

Weight increasement (g)


1,050 1,050
West long line East long line

Pertambahan bobot

Pertambahan bobot
900 900
750 Maumere 750 Maumere
600 Tambalang 600 Tambalang
450 450
300 300
150 150
0 0
0 15 30 45 0 15 30 45

Masa budidaya (hari) Masa budidaya (hari)


Day of culture (days) Day of culture (days)

1,200
Long line kontrol
Weight increasement (g)

1,050
Control long line
Pertambahan bobot

900
750 Maumere
600 Tambalang
450
300
150
0
0 15 30 45

Masa budidaya (hari)


Day of culture (days)

Gambar 2. Pertumbuhan rata-rata rumput laut antara budidaya terintegrasi (IMTA) dan kontrol di
Teluk Gerupuk, Lombok Tengah. Lokasi long line rumput laut dapat dilihat pada Gambar 1
Figure 2. Average growth of seaweed between IMTA system and control in Gerupuk Bay, Central
Lombok. Position of seaweed units are shown in Figure 1

yaitu 433 g (Gambar 2). Adanya perbedaan kontrol hanya memberikan laju pertumbuhan
bobot akhir rumput laut dari hasil penelitian spesifik berkisar antara 2,83%-3,26%/hari untuk
ini mengindikasikan bahwa dispersi nutrien dua jenis varian rumput laut (Gambar 3). Ber-
dari KJA ke dalam perairan cukup berbeda dasarkan lokasi penempatan long line budi-
bergantung dari posisi penempatan unit rum- daya rumput laut menunjukkan bahwa long line
put laut tersebut (Barat, Timur dan kontrol). yang ditempatkan di sebelah Timur KJA meng-
Hasil serupa juga ditemukan oleh Troell et al. hasilkan laju pertumbuhan spesifik yang lebih
(1997) pada penempatan unit Gracilaria tinggi dibandingkan dengan long line di
chilensis di sekitar KJA ikan salmon di perairan sebelah Barat KJA, dengan kisaran nilai masing-
Puerto Montt, Chile. Pertumbuhan Gracilaria masing 4,20%-4,68%/hari dan 3,90%-4,27%/hari
chilensis pada jarak 10 m dari KJA memberikan (Gambar 3). Hasil analisis ANOVA menunjukkan
pertumbuhan yang lebih tinggi daripada jarak bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
150 m dan 1 km dari KJA. Hal ini didukung oleh pada laju pertumbuhan spesifik antara long line
adanya kandungan nutrien yang tinggi pada Timur (P<0,05) dan long line Barat (P<0,01)
lokasi dekat dengan KJA (Troell et al., 1997). dengan long line kontrol.
Laju pertumbuhan spesifik rumput laut hasil Laju pertumbuhan spesifik yang diperoleh
budidaya dengan IMTA dan kontrol disajikan dari hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang
pada Gambar 3. Rumput laut K. alvarezii va- lebih baik dibandingkan dengan hasil pene-
rietas Maumere memiliki laju pertumbuhan litian di Filipina untuk jenis yang sama yaitu
spesifik yang lebih baik yaitu berkisar antara Kappaphycus alvarezii (Hurtado et al., 2001).
4,26%-4,68%/hari dibandingkan dengan va- Laju pertumbuhan spesifik yang tertinggi di-
rietas Tambalang yaitu berkisar antara 3,90%- peroleh oleh Hurtado et al. (2001) selama masa
4,20%/hari. Pada budidaya rumput laut di unit pemeliharaan yaitu pada bulan Januari-Februari

129
J. Ris. Akuakultur Vol. 9 No. 1 Tahun 2014: 125-134

5.0 Long line Barat (West long line)

Laju pertumbuhan Spesifik (%/hari)


4.5 Long line Timur (East long line)

Spesific growth rate (%/day) 4.0


3.5
3.0
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
0
IMTA Kontrol
14 (Control) IMTA Kontrol (Control)
Maumere Tambalang
Varian rumput laut (Seaweed varians)

Gambar 3. Laju pertumbuhan spesifik (%/hari) dua varietas rumput laut pada
unit IMTA dan kontrol di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah
Figure 3. Specific growth rate (%/day) of two seaweed straints at the IMTA
unit and control in Gerupuk Bay, Central Lombok

dengan berkisar antara 2,3%-4,2%/hari. Hal ini menerima intensitas cahaya yang sama, se-
menunjukkan bahwa perairan di Teluk Gerupuk hingga ketersediaan cahaya dapat dikatakan
sangat mendukung untuk pengembangan bukan faktor penghambat pertumbuhan.
budidaya rumput laut. Selain itu, faktor waktu Sebaliknya, ketersediaan nutrien akan menjadi
dan tempat pemeliharaan akan sangat me- faktor penentu pertumbuhan rumput laut.
mengaruhi produktivitas rumput laut (Hurtado Empat elemen utama yang dibutuhkan oleh
et al., 2001; Radiarta et al., 2013). tumbuhan akuatik untuk pertumbuhannya
adalah oksigen, karbon, nitrogen, dan fosfor,
Hasil perhitungan pertumbuhan dan laju
dengan rasio O:C:N:P pada air laut adalah
pertumbuhan spesifik yang diperoleh dari 212:106:15:1 (Davis, 1977 dalam Dawes, 1981).
penelitian ini hanya memberikan gambaran Senyawa nitrogen yang umumnya ditemukan
sesaat, karena penelitian hanya dilakukan pada pada air laut adalah NO3, NO2, dan NH3 yang
satu siklus musim tanam rumput laut. Perhi- konsentrasinya semakin menurun dengan
tungan yang lebih komprehensif dengan bertambahnya kedalaman perairan; pada alga
memperpanjang masa pemeliharaan (siklus) merah makroskopik ditunjukkan bahwa ter-
tentunya akan memberikan gambaran yang dapatnya hubungan antara laju pertumbuhan
lebih baik mengenai performansi pertumbuhan dengan bentuk dan konsentrasi senyawa ni-
rumput laut yang dibudidayakan. trogen (Dawes, 1981). Parameter yang ber-
hubungan dengan ketersediaan nutrien di
Kondisi Nutrien Perairan
sekitar unit IMTA disajikan pada Gambar 4.
Nutrien dan ketersediaan cahaya matahari Di perairan alami, nitrit ditemukan dalam
merupakan faktor utama yang memengaruhi jumlah sangat sedikit, karena bersifat tidak
pertumbuhan dan produktivitas budidaya stabil dengan keberadaan oksigen; nitrit me-
rumput laut (Sanderson et al., 2008; Troell et rupakan senyawa peralihan (intermediate)
al., 2009). Rumput laut yang dibudidaya di antara amonia dan nitrat pada proses nitrifikasi,
lokasi penelitian telah mengikuti standar dan antara nitrat dan gas nitrogen pada proses
operasi pengembangan rumput laut (BBL, denitrifikasi (Effendi, 2003). Oleh karena itu,
2012) dengan menggunakan sistem rawai (long sebaran vertikal parameter nitrit akan di-
line). Sesuai dengan standar operasi tersebut, pengaruhi oleh konsentrasi oksigen terlarut,
rumput laut umumnya ditanam pada kedala- di samping faktor-faktor lainnya. Sebaran ver-
man 30 cm dari permukaan air. Hal ini menun- tikal nitrit pada lokasi penelitian pada bulan
jukkan bahwa unit rumput laut tersebut akan September relatif tinggi pada bagian Barat KJA

130
Budidaya rumput laut, Kappaphycus alvarezii ..... (I Nyoman Radiarta)

A September: NO2-N (mg/L) Oktober: NO2-N (mg/L)


0 0.06 0 0.06
Kedalaman (Depth) (m)

Kedalaman (Depth) (m)


0.05 0.05

5 0.04 5 0.04

0.03 0.03

Ocean Data View

Ocean Data View


10 0.02 10 0.02

0.01 0.01

15 0.00 15 0.00
116.355oE 116.356oE 116.355oE 116.356oE

B September: NH3-N (mg/L) Oktober: NH3-N (mg/L)


0 0.10 0 0.10
Kedalaman (Depth) (m)

Kedalaman (Depth) (m)


0.08 0.08
5
5
0.06 0.06

Ocean Data View

Ocean Data View


0.04 10 0.04
10
0.02 0.02
15
15 0.00 0.00
116.355oE 116.356oE 116.355oE 116.356oE

C September: PO4-P (mg/L) Oktober: PO4-P (mg/L)


0 1.75 0 1.75
Kedalaman (Depth) (m)

Kedalaman (Depth) (m)

1.50 1.50
1.25 1.25
5 5
1.00 1.00
Ocean Data View

Ocean Data View


0.75 0.75
10 10
0.50 0.50
0.25 0.25
15 0.00 15 0.00
116.355oE 116.356oE 116.355oE 116.356oE

Gambar 4. Sebaran vertikal nitrit (A), amoniak (B), dan fosfat (C) bulan September-Oktober pada
stasiun pengamatan unit IMTA di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah. Stasiun pengamatan
disajikan pada Gambar 1B
Figure 4. Vertical distribution of nitrite (A), ammonia (B), and phosphate (C) from September-
October at the IMTA sampling stasiun in Gerupuk Bay, Central Lombok. Samplings
position show in Figure 1B

yang menyebar sampai pada dasar perairan. tinggi dibandingkan pada bulan September
Bulan Oktober konsentrasi nitrit juga ting- (Gambar 4B). Pada bulan ini konsentrasi amonia
gi di bagian Barat KJA namun hanya pada yang tinggi tersebar pada kedalaman kurang
permukaan (Gambar 4A). Nilai parameter nitrit dari 5 m. Kisaran nilai amonia pada bulan Sep-
pada lokasi penelitian dari bulan September tember yaitu 0,001-0,047 mg/L; sedangkan
antara 0,01-0,06 mg/L; dan bulan Oktober pada bulan Oktober berkisar antara 0,001-
berkisar antara 0,01-0,03 mg/L. Kadar nitrit di 0,082 mg/L. Konsentrasi amonia pada lokasi
perairan sebaiknya tidak lebih dari 0,06 mg/L penelitian ini masih tergolong rendah. Nilai
karena akan bersifat toksik terutama terhadap baku mutu kandungan amonia perairan untuk
organisme akuatik yang sangat sensitif (Moore, biota laut berdasarkan KEPMENLH No. 51 Tahun
1991 dalam Effendi, 2003; KLH, 2004). 2004 adalah 0,3 mg/L (KLH, 2004).
Amonia merupakan salah satu bentuk nu- Secara umum, sumber nitrogen yang pa-
trien anorganik yang dapat dimanfaatkan oleh ling penting untuk makroalga adalah amonium
rumput laut. Pada bulan September (awal budi- (NH4+) dan nitrat (NO3-), namun tidak semua
daya), nilai parameter amonia relatif tinggi di makroalga dapat tumbuh sama baiknya dengan
sekitar KJA dan menyebar sampai pada lokasi kedua bentuk sumber nitrogen tersebut
unit budidaya rumput laut yang berada di Timur (Hanisak, 1983). Hasil penelitian tentang
KJA dari lapisan permukaan hingga dasar per- penyerapan nitrogen oleh berbagai jenis alga
airan (Gambar 4B). Pada bulan Oktober sebaran dari air mengindikasikan bahwa alga pada
amonia cenderung bergerak ke bagian Barat umumnya lebih menyukai senyawa nitrogen
KJA dengan konsentrasi yang relatif lebih dalam bentuk nitrat, tapi alga dapat juga me-

131
J. Ris. Akuakultur Vol. 9 No. 1 Tahun 2014: 125-134

manfaatkan nitrit atau amonia sebagai sumber dan Perikanan (KKP, 2012). Perkembangan
nutrien (Dawes, 1981). Penelitian terhadap kegiatan budidaya laut dengan konsep nir-
salah satu spesies chlorophyta yaitu Codium limbah secara praktis sangat penting baik
fragile, menunjukkan pertumbuhan yang sama untuk kegiatan budidaya itu sendiri maupun
baiknya dengan sumber nitrogen dalam ben- bagi lingkungan perairan pantai (Neori et al.,
tuk NO2- dengan NO3- maupun NH4+; sedangkan 2000). Sistem budidaya terintegrasi atau IMTA
Goniotrichum elegans dan Nemalion multi- merupakan sistem budidaya yang didesain
fidum dapat tumbuh lebih baik dengan sumber untuk mengurangi permasalahan lingkungan
nitrogen dalam bentuk NO2- dibandingkan NO3- perairan yang disebabkan oleh dampak peng-
(Hanisak, 1983). gunaan pakan dalam kegiatan budidaya (Abreu
et al., 2009; Barrington et al., 2009; Troell,
Fosfat merupakan bentuk fosfor yang da-
2009). Berbagai hasil penelitian menyebutkan
pat dimanfaatkan oleh tumbuhan (Dugan,
bahwa budidaya ikan dalam KJA secara inten-
1972 dalam Effendi, 2003) yang merupakan
sif akan menghasilkan limbah yang terbuang
unsur esensial bagi alga. Secara umum, pa-
dan secara nyata memengaruhi kualitas air
rameter fosfat menyebar pada lapisan per-
(Loya & Kramarsky-Winter, 2003). Dengan
mukaan perairan. Pada bulan September kon-
budidaya terintegrasi tersebut, limbah yang
sentrasi fosfat yang cukup tinggi ditemui di
dihasilkan dari KJA ikan dapat dimanfaatkan
sebelah Timur KJA, sedangkan bulan Oktober
oleh biota dengan tingkat tropik yang berbeda
konsentrasi yang rekatif tinggi ditemui di
di antaranya kekerangan dan rumput laut.
sebelah Timur KJA pada kedalaman sekitar 5 m
Penelitian yang dilakukan baik pada sistem
(Gambar 4C). Kisaran nilai parameter fosfat
IMTA di darat maupun di laut telah menun-
pada lokasi penelitian dari bulan September-
jukkan bahwa nutrien yang berasal dari sisa
Oktober yaitu 0,03-1,59 mg/L. Pada air laut,
pakan dari komoditas budidaya (ikan) adalah
senyawa fosfor anorganik berada dalam bentuk
sangat berguna bagi pertumbuhan rumput laut
H2PO4- dan HPO42- (Dawes, 1981). Tumbuhan
(Neori et al., 2000; Neori, 2007; Troell et al.,
akuatik umumnya memanfaatkan ortofosfat
2009). Dengan sistem IMTA ini hasil yang di-
sebagai sumber fosfor (Effendi, 2003; Dawes,
peroleh juga akan meningkat karena me-
1981). Effendi (2003) juga menyatakan bahwa
rupakan produksi gabungan dari beberapa
pada saat perairan mengandung fosfor dalam
komoditas yang dibudidayakan.
jumlah cukup, alga akan mengakumulasi fosfor
di dalam sel melebihi kebutuhannya (luxury Implementasi sistem IMTA yang diterapkan
consumption), dan kelebihan tersebut akan di Teluk Gerupuk menunjukkan produksi dan
dimanfaatkan pada saat perairan mengalami peningkatan produksi yang sangat signifikan
defisiensi fosfor sehingga alga masih dapat dibandingkan dengan kontrol/monokultur
tumbuh selama beberapa waktu. Namun pada (Tabel 1). Perhitungan produksi rumput laut
perairan laut, biasanya fosfor bukan meru- untuk dua varian menunjukkan hasil yang
pakan faktor pembatas pertumbuhan. sangat baik yaitu berkisar antara 15,5-18,8
ton/ha dibandingkan dengan kontrol yang
Hasil karakteristik sebaran nutrien di sekitar
produksinya hanya mencapai 8,9-10,8 ton/ha.
unit IMTA menunjukkan pola sebaran nutrien
Melalui sistem IMTA ini, peningkatan produksi
yang relatif seimbang antara sisi Barat dan
rumput laut sangat signifikan yaitu mening-
Timur (Gambar 4). Kondisi tersebut dipengaruhi
kat sekitar 74%. Beberapa hasil penelitian
oleh karakteristik arus di lokasi penelitian,
telah menunjukkan hasil yang signifikan
yang umumnya merupakan arus pasang surut
dari produksi rumput laut dengan sistem
yang banyak dipengaruhi oleh kondisi ge-
IMTA (Troell et al., 1997; Shi et al., 2013). Ber-
lombang dan kecepatan angin. Ketersediaan
dasarkan hasil penelitian Troell et al. (1997)
nutrien pada kedua sisi unit budidaya rumput
menunjukkan bahwa penerapan sistem IMTA
laut ini sangat mendukung pertumbuhan
dan non IMTA (monoculture) untuk budidaya
budidaya rumput laut dari dua varian rumput
rumput laut, Gracilaria chilensis, memberikan
laut yang dibudidayakan.
hasil yang sangat berbeda nyata. Kombinasi
Perspektif Pengembangan Budidaya antara Gracilaria chilensis dan ikan salmon
Laut Terintegrasi menghasilkan produksi sebesar 34 ton rumput
laut kering/ha, sedangkan sistem monokultur
Budidaya laut secara terintegrasi antara Gracilaria chilensis hanya menghasilkan 16
beberapa komoditas sangat sesuai dengan ton rumput laut kering/ha. Hasil yang di-
program ekonomi biru Kementerian Kelautan peroleh dari penelitian ini sesuai dengan

132
Budidaya rumput laut, Kappaphycus alvarezii ..... (I Nyoman Radiarta)

Tabel 1. Produksi dan peningkatan produksi rumput laut antara IMTA dan kontrol yang diterapkan
di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah
Table 1. Production and its increasement between IMTA system and control that was imple-
mented in Gerupuk Bay, Central Lombok

Produksi Peningkat an produksi


Komodit as budidaya Product ion (kg/ha) Product ion increasem ent
Aquacult ure com m odit ies
IMTA Kont rol ( Cont rol ) kg/ha %

K. alvarezii v ar. Maumere 18,819 10,837 7,983 73.67


K. alvarezii v ar. Tambalang 15,482 8,928 6,554 73.40

pernyataan Neori et al. (2000) bahwa multi- DAFTAR ACUAN


komoditas yang dibudidayakan dengan sistem
IMTA memberikan hasil produksi yang lebih Abreu, M.H., Varela, D.A., Henríquez, L.,
baik dibandingkan dengan budidaya komoditas Villarroel, A., Yarish, C., Sousa-Pinto, I., &
dengan sistem monokultur. Namun nilai positif Buschmann, A.H. 2009. Traditional vs. in-
yang lebih besar lagi dari sistem budidaya IMTA tegrated multi-trophic aquaculture of
selain peningkatan nilai produksi budidaya, Gracilaria chilensis C. J. Bird, J. McLachlan,
yaitu kualitas lingkungan perairan yang relatif & E.C. Oliveira: Productivity and physiologi-
lebih baik dan peluang keberlanjutan usaha cal performance. Aquaculture, 293: 211-
budidaya yang lebih menjanjikan. 220.
APHA (American Public Health Association).
KESIMPULAN 2005. Standard methods for the examina-
tion of water and wastewater. 21st Edition.
Budidaya ikan laut yang dilakukan telah
American Water Works Association (AWWA)/
banyak memberikan dampak pada lingkungan
American Public Works Association/Water
sekitar salah satunya berupa pengkayaan nu-
Environment Federation. Washington, USA,
trien. Ketersediaan nutrien yang berasal dari
1,368 pp.
sisa pakan dan feses ikan dalam perairan dapat
dimanfaatkan oleh komoditas lainnya yaitu Barrington, K., Chopin, T., & Robinson, S. 2009.
rumput laut. Hasil dari penelitian ini yang di- Integrated multi-trophic aquaculture (IMTA)
lakukan dalam satu siklus budidaya rumput in marine temperate waters. In Soto, D.
laut secara terintegrasi (IMTA) dengan ikan (Ed.). Integrated mariculture: a global re-
kerapu telah menunjukkan secara signifikan view. FAO Fisheries and Aquaculture Tech-
tingkat pertumbuhan dan laju pertumbuhan nical Paper. No. 529. Rome, FAO. p. 7-46.
spefisik rumput laut lebih tinggi dibandingkan Beveridge, M.C.M. 1996. Cage aquaculture, 2nd
dengan budidaya monokultur. Melalui sistem Ed. Blackwell Fishing News Books, Oxford,
IMTA ini, peningkatan produksi rumput laut 346 pp.
sangat signifikan yaitu sekitar 74%. Penerapan BBL (Balai Budidaya Laut Lombok). 2012.
sistem budidaya IMTA ini memberikan nilai Petunjuk teknis Budidaya Rumput Laut.
positif yaitu selain peningkatan nilai produksi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
budidaya, juga kualitas lingkungan perairan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
yang relatif lebih baik dan peluang keber- Chopin, T., Buschmann, A.H., Halling, C., Troell,
lanjutan usaha budidaya yang lebih men- M., Kautsky, N., Neori, A., Kraemer, G.,
janjikan. Zertuche-Gonzalez, J., Yarish, C., & Neefus,
C. 2001. Integrating seaweeds into aqua-
UCAPAN TERIMA KASIH
culture systems: a key towards sustain-
Penulis mengucapkan terima kasih kepada ability. J. Phycol., 37: 975-986.
Balai Budidaya Laut Lombok di Sekotong dan Costa-Pierce, B. 2008. An ecosystem approach
di Gerupuk atas bantuannya selama kegiatan to marine aquaculture: a global review. In
lapangan. Terutama kepada Bapak Buntaran, Soto, D., Aguilar-Manjarrez, J., & Hishamunda,
M.Si., Bapak Rusman, M.Si., dan Bapak Seme. N. (Eds.). Building an ecosystem approach
Penelitian ini dibiayai oleh DIPA T.A. 2013. to aquaculture. FAO Fisheries and Aquacul-

133
J. Ris. Akuakultur Vol. 9 No. 1 Tahun 2014: 125-134

ture Proceedings. No. 14. Rome, FAO. p. 81- fish, seaweed and abalone. Aquaculture,
155. 186: 297-291.
Dawes, C.J. 1981. Marine botany. John Wiley Rachmansyah, Kaswadji, R.F., Bengen, D.G., &
and Sons, Inc. Canada, 628 pp. Soedharma, D. 2004. Pendugaan laju se-
DJPB (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya). dimentasi dan dispersi limbah partikel
2012. Statistik perikanan budidaya Indo- organik dari budidaya bandeng dalam
nesia 2011. Kementerian Kelautan dan keramba jaring apung di laut. Aquacultura
Perikanan. Jakarta, 116 hlm. Indonesiana, 5: 91-101.
Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air: bagi Radiarta, I N. & Rasidi. 2012. Analisa spasial
pengelolaan sumber daya dan lingkungan kondisi kualitas perairan untuk mendukung
perairan. Kanisius. Yogyakarta, 258 hlm. budidaya rumput laut di Teluk Gerupuk
Effendie, M.I. 1979. Metode biologi perikanan. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa
Cetakan pertama. Yayasan Dwi Sri. Bogor, Tenggara Barat. Prosiding Seminar Nasio-
112 hlm. nal Perikanan Indonesia 2012. Sekolah
Tinggi Perikanan. Jakarta.
Hanisak, M.D. 1983. The nitrogen relationships
of marine macroalgae. In Carpenter, E.J. & Radiarta, I N., Erlania, & Rusman. 2013. Pengaruh
Capone, D.G. (Eds.). Nitrogen in The Marine iklim terhadap musim tanam rumput laut,
Environment. New York. Academic Press. Kappaphycus alvarezii, di Teluk Gerupuk,
p. 699-730. Kabupaten Lombok Tengah, Nusa
Tenggara Barat. J. Ris. Akuakultur, 8(3): 453-
Hutardo, A.Q., Agbayani, R.F., Sanares, R., & de
464.
Castro-Mallare, A.T.R. 2001. The seasonal-
ity and economic feasibility of cultivating Sanderson, J.C., Cromey, J., Dring, M.J., & Kelly,
Kappaphycus alvarezii in Panagatan Cays, M.S. 2008. Distribution of nutrients for
Caluya, Antique, Philippines. Aquaculture, seaweed cultivation around salmon cages
199: 295-310. at farm sites in north-west Scotland. Aqua-
culture, 278: 60-68.
KLH (Kementerian Lingkungan Hidup). 2004.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Schlitzer, R. 2011. Ocean data view. WWW Page.
Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku http://odv.awi.de.
Mutu Air Laut. Shi, H., Zheng, W., Zang, X., Zhu, M., & Ding, D.
KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan). 2013. Ecological-economic assessment
2012. Blue economy: Pembangunan ke- of monoculture and integratde multi-
lautan dan perikanan berkelanjutan untuk trophic aquaculture in Sanggou Bay of
kesejahteraan masyarakat (sustainability- China. Aquaculture, 410-411: 172-178.
social inclusiveness-innovative invest- Troell, M., Halling, C., Nilsson, A., Buschmann,
ment).32 hlm. A.H., Kautsky, N., & Kautsky, L. 1997. Inte-
Loya, Y. & Kramarsky-Winter, E. 2003. In situ grated marine cultivation of Gracilaria
eutrophication caused by fish farms in the chilensis (Gracilariales, Rhodophyta) and
northern Gulf of Eilat (Aqaba) is beneficial salmon cages for reduced environmental
for its coral reefs: a critique. Mar. Ecol. Prog. impact and increased economic output.
Ser., 261: 299-303. Aquaculture , 156: 45-61.
Neori, A. 2007. Essential role of seaweed culti- Troell, M. 2009. Integrated marine and brack-
vation in integratedmulti-trophic aquacul- ish-water aquaculture in tropical regions:
ture farms for globalexpansion of maricul- research, implementation and prospects.
ture: an analysis. J. Appl. Phycol., 20: 567- In D. Soto (ed.). Integrated mariculture: a
570. global review. FAO Fisheries and Aquacul-
ture Technical Paper. No. 529. Rome, FAO.
Neori, A., Spigel, M., & Ben-Ezra, D. 2000. A sus-
p. 47-131.
tainable integrated system for culture of

134