Anda di halaman 1dari 46

PERLINDUNGAN

TERHADAP KEBAKARAN

Oleh :
Dr. Ir. Lily Pudjiastuti,MT.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja


1. PROGRAM PERLINDUNGAN TERHADAP
KEBAKARAN
Apabila kebakaran telah mulai terjadi,
pekerja tahu peran mereka dalam prosedur :
1. Mendeteksi Api dengan segera dan
menyembunyikan alarm.
2. Memulai Pengungsian.
3. Membatasi Api.
4. Memadamkan Api.
1.1 TUJUAN PROGRAM
PERLINDUNGAN KEBAKARAN
 Tujuannya dapat dinyatakan dalam bentuk
keselamatan bagi orang dan untuk kegiatan
pabrik, dimana sistem perlindungan harus
sesuai atau melebihi semua persyaratan pabrik.
 Beberapa kenyataan umum tentang
perlindungan kebakaran yang harus tetap
berada dalam pikiran :
1. Tidak ada fasilitas yang benar-benar tahan api.
2. Energi panas dipancarkan melalui konveksi,
konduksi, radiasi.
3. Nyala api akan menyebar di dalam bangunan
secara vertikal dan horisontal.
4. Asap dan gas beracun merupakan penyebab 66%
kematian akibat kebakaran bangunan.
5. Pendeteksian awal kebakaran ditempat adalah
hal penting.
6. Penggunaan bangunan dan penghuninya
mempengaruhi tingkat bahaya kebakaran.
7. Isi bangunan merupakan faktor yang lebih
penting dibandingkan struktur bangunannya.
8. Sangat sering hanya mebutuhkan waktu beberapa menit
saja antara awal terjadinya api sampai menjadi
kebakaran yang merusakkan.
9. Terjadi, atau tidak akan terjadinya kebakaran,
ditentukan dalam menit-menit awal kebakaran.
10. Kebakaran biasanya dikendalikan melalui peralatan
yang terpasang, atau melalui petugas pemadaman.
11. Tingkat optimum perlindungan kebakaran adalah
meminimalkan biayab dari kerugian akibat kebakaran.
12. Biaya perlindungan kebakaran SETARA dengan
pengurangan jumlah kerugian atau risiko.
13. Sprinkler otomatis merupakan alat yang paling baik
untuk mengurangi kerugian akibat kebakaran.
14. Orang dan tindakannya merupakan elemen kunci
terjadinya kebakaran.
15. Konstruksi sendiri tidak cukup sebagai unsur
perlindunfgan terjadi kebakaran.
1.2 REKAYASA PERLINDUNGAN
KEBAKARAN
 Pencapaian yang paling efisien dari sistem
perlindungan kebakaran melibatkan beberapa
pihak :
 Arsitek.
 Perencana Interior.
 Rencana kependudukan.
 Kontraktor Bangunan.
 Ahli Listrik Dan Struktur.
 Produsen Sistem Kebakaran.
 Ahli K3 Bangunan.
 Instansi Kebakaran Setempat.
2. KEGIATAN PENCEGAHAN
KEBAKARAN
2.1. Inspeksi
 Manfaat dari inspeksi adalah memeriksa penempatan dan pengoperasian yang benar,
memperbaiki hal-hal yang menjadi penyebab kebakaran.
 Lingkup peralatan yang di inspeksi :
1. Katup Pengontrol pipa yang memasok air untuk
perlindungan kebakaran.
2. Hidran.
3. Pompa Kebakaran.
4. Box Selang Kebakaran dan Peralatan yang berhubungan.
5. Air pasokan untuk sistem sprinkler, termasuk tangki.
6. Sistem spinkler otomatis.
7. Jenis Khusus Perlindungan (serbuk kering, busa, CO2 )
8. Alat Pemadam Api
9. Detektor
10. Ruang Kontrol atau panel pengendali.
11. Sistem dan peralatan Alarm dan Komunikasi.
12. Komunikasi pada dinas pemadam kebakaran atau lainnya.
2.2. IJIN KERJA PANAS
Untuk Membuka suatru program ijin kerja panas, pertama-tama
manajemen harus membuat suatu prosedur. Ciri-ciri yang penting dari suatu
program ijin kerja panas di mana termasuk di dalamnya adalah :
1. Menginspeksi area dimana pekerjaan akkan
dilakukan, dan dilihat seberapa dekatnya bahan-
bahan mudah terbakar dengan area kerja.
2. Dilakukan pengawasan kebakaran tetap siaga sampai
30 menit setelah peralatan yang menghasilkan
percikan atau nyala api dimatikan.
3. Siapkan alat pemadam api.
4. Hubungkan, dan koordinasikan aktivitas semua
departemen yang terlibat, denga perlindungan
kebakaran.
5. Isolasi bahan-bahan mudah terbakar dari sumber-
sumber penyalaan.
6. Batasi penggunaan secara tidak sah peralatan-
peralatan yang menghasilkan nyala atau percikan api.
2.3. LATIHAN DARURAT KEBAKARAN
 Perencanaan darurat kebakaran bukanlah ilmu
pengetahuan yang pasti. Buatlah suatu rencana
keadaan darurat dalam prakteknya setelah
mengevaluasi situasi dari kondisi yang ada. Siapkan
pedoman untuk menjelaskan prosedur-prosedur dan
latihan, dan menunjukkan tanggung jawab dari setiap
orang yang terlibat. Tujuan Utama dari perencanaan
darurat adalah untuk mencegah cedera dan
kehilangan nyawa.
 Latihan Darurat kebakaran dilakukan secara
periodik, dan dapat menunjukkan keterlibatan dan
minat manajemen pada kegiatan pencegahan
kebakaran.
2.4. PERLINDUNGAN BANGUNAN LAIN
 Bila suatu kebakaran terjadi pada suatu
bangunan, lindungi bangunan didekatnya
dengan :
1. Menutup setiap jendela yang berhadapan dengan
bangunan yang terbakar.
2. Menempatkan pekerja sebagai regu pemadam
dengan alat pemadam pada setiapo jendela yang
dekat dengan api.
3. Menempatkan petugas pemadam di atas atap
bangunan yang berhadapan dengan selang
kebakaran untuk mrnjaga agar tetap basah, dan
dengan alat pemadam untuk memadamkan setiap
bara api yang timbul.
2.5. PENDIDIKAN UNTUK PEKERJA
 Pelatihan alat pemadam kebakaran
dimaksudkan untuk melatih pekerja bagaimana
menahan menyebarnya api kecil sehingga tidak
terkontrol.
 Gunakan cara peragaan untuk menjelaskan
kepada pekerja dalam pelatihan penggunaan
alat pemadam. Saat peragaan, buat juga
simulasinya
3. TEORI API
 API adalah suati proses penyalaan yang cukup
kuat, cepat dan menghasilkan panas dan cahaya.
 Api dapat dibedakan menjadi 2 :
1. Api Nyala, adalah terbakarnya langsung gas atau
uap bahan bakar yang disertai reaksi kimia
berantai.
2. Api permukaan, adalah terjadi pada permukaan
suatu bahan bakar padat. Api permukaan
dihasilkan dari segitiga api (Panas, bahan bakar,
dan udara).
3.1 MENDINGINKAN KEBAKARAN
 Memadamkan api dengan pendinginan, akan
mengurangi panas dari total panas yang
dihasilkan oleh api.
 Proses pendinginan dapat menghentikan
terjadinya uap-uap dan gas-gas yang mudah
terbakar.
 Bahan umu yang biasa dugunakan adalah air,
atau dicampur denga busa.
3.2. MEMISAHKAN BAHAN BAKAR
 Dari status kimiawinya, bahan bakar dapat
dikategorikan sebagai :
1. Karbon dan bahan non-logam lain yang siap
beroksidasi. (mis : sulfur, phospor, arsen).
2. Senyawa yang kaya dengan karbon dan hydrogen
(hidrokarbon).
3. Senyawa yang mengandung karbon, hydrogen, dan
oksigen, alkohol, aldehida, asam organik, selulosa,
dan lignin (bahan makanan dan tumbuhan)
4. Berbagai logam dan campurannya (termasuk
sodium, potassium, magnesium, alumunium, seng,
titanium, zicronium, dan uranium).
3.3. MEMBATASI OKSIGEN DI DALAM API

 Pembakaran dapat mudah terjadi apabila


prosentase oksigen dalam udara lebih darin15%,
sedangkan pembakaran tidak akan terjadi, bila
prosentase oksigen di uadar kurang dari 12%.
 Contoh cara umum mengurangi oksigen adalah
dengan memasukkan gas CO2 khususnya untuk
kebakaran didalam ruang tertutup atau
setengah tertutup sehingga kadar oksigen yang
diperlukan pembakaran menjadi berkurang.
3.4. MEMUTUS REAKSI KIMIA BERANTAI
 Dalam analisis anatomi api, pada tahap awal
terjadi reaksi rantai-cabang yang kemudian
terjadi penyalaan api. Molekul yang muncul saat
tahap reaksi itu dinamakan radikal bebas.
 Bahan pemadam yang digunakan untuk
memutus reaksi tersebut adalah dengan serbuk
kimia kering dan halogen yang akan
menghilangkan fungsi normal radikal bebas
sebagai rantai penghubung pada reaksi rantai-
cabang.
3.5. PENGGUNAAN BAHAN PEMADAM
 Beberapa bahan pemadaman membantu
mengendalikan lebih dari satu di antara
keempat penyebab kebakaran.
 Contoh : kabut semprotan air dan CO2,
keduanya dapatt bereaksi pada suhu api dengan
karbon bebas yang relatif lambat terbakarnya,
menghasilkan karbonmonoksida (CO), dengan
dampak menurunkan pembentukan asap hitam.
4. KLASIFIKASI KEBAKARAN

Kelas-A •Terjadi pada benda padat, kecuali logam


•Ex : kebakaran rumah, kayu, hutan, dll

•Disebabkan oleh gas-gas dan bahan cair mudah menyala

Kelas-B dan terbakar.


•Ex : kebakaran akibat minyak mentah, alkohol,
hidrokarbon

Kelas-c
•Terjadi pada peralatan di dekat peralatan bertenaga
listrik dan harus menggunakan bahan berkonduktif untuk
memadamkannya.

Kelas-D •Terjadi pada logam mudah terbakar


•Ex : Magnesium, Titanium, Pothassium, sodium.
5. RISIKO KEBAKARAN
5.1. Analisis Bahaya Kebakaran 5.2. Evaluasi Bahaya Kebakaran

5.1.1. Lokasi Berdasarkan survei dan resiko

5.1.2. Konstruksi
Sesuai prosedur
Bangunan

5.1.3. Isi
Bangunan

5.1.4. Faktor
Manajemen

5.1.5. Faktor
Oarang

5.1.6. Sistem Perlindungan


Kebakaran

5.1.7. Pasca
Kebakaran
6. RANCANGAN BANGUNAN AMAN
KEBAKARAN
 Rancangan dan konstruksi bangunan harus
memperhitungkan cakupan yang luas tentang
keselamatan terhadap kebakaran.
 Tidak hanya interior dan isinya yang dilindungi
dari bahaya api, tetapi lokasi bangunan juga
harus mempunyai pasokan air yang cukup, dan
akses yang mudah bagi pemadam kebakaran.
6.1. TUJUAN RANCANGAN
 Rancangan dan konstruksi bangunan mempunyai
tujuan yang sama seperti halnya perlindungan
kebakaran, yaitu :
Keselamatan Kehidupan

Kelanjutan Operasi

Perlindungan Harta Benda


6.2. BAHAYA KEBAKARAN DI DALAM
BANGUNAN
• Pemaparan asap dan gas menyebabkan
Asap dan gas pneumonia dan masalah paru-paru lainnya.

Karbonmonoksida • Menyebabkan lemas, tidak sadarkan diri, dan


(CO) dapat menyebabkan kematian.

Gas Hidrogen • Menghalangi penggunaan oksigen oleh sel-sel


Sianida (HCN) tubuh.

• Menyebabkan iritasi pada indera manusia


Gas Akrolin dan paru-paru.

Gas hidrogen • Menyebabkan iritasi pada indera dan paru-


Klorida (HCL) paru.
6.3. RENCANA KESELAMATAN KEBAKARAN
UNTUK BANGUNAN

•Akses menuju ke bangunan


maupun akses di dalam interior
Akses bangunan.
pemadaman

•Untuk menghilangkan asap, gas,


dan panas sehingga petugas
pemadam kebakaran dapat
Ventilasi mencapai lokasi yang terbakar.
6.4. PERENCANAAN KESELAMATAN
KEBAKARAN UNTUK LOKASI

1. Lalu Lintas dan Transportasi

2. Akses Pemadam Kebakaran Ke


Lokasi

3. Pasokan Air Ke Lokasi


7. KONSTRUKSI TAHAN API

Konstruksi •Termasuk semua jenis struktur, diantaranya struktur


Tidak itu sendiri, hiasan yang eksklusif, penyelesaian interior
dan isinya.
Terbakar

Konstruksi •Terdiri atas dinding eksterior batu, atau bahan tidak


mudah terbakar.
Biasa
•Jenisnya penyelesaian banyak, bervariasi, dan
memenuhi berbagai kegunaan
•Plastik
Penyelesaian •Kayu

Interior •Baja
•Beton
•Gypsum
•Pasangan batu
8. METODA KONSTRUKSI
PERLINDUNGAN KEBAKARAN

8.1. Membatasi Api


Tangga
Tertutup
Unit- unit Pintu
dan
terpisah Kebakaran
Dinding
Kebakaran
8.2. Pengendalian Asap

- Asap dapat dikendalikan dengan cara


membatasi panas, dan gas-gas pada suatu
area, ditipiskan atau dibuang keluar.
- Metode pengendalian asap adalah
dengan menggunakan penghalang fisik
(pintu, dinding, atau alat pengatur untuk
menahan pergerakan asap)
8.3. Evakuasi

Ketentuan umum merencanakan evakuasi bangunan :


1. Jangan merencanakan pintu ke luar dan upaya
pengaman lainnya.
2. Pintu keluar harus dapat menahan api dan asap
selama waktu sesuai nilai ketahanannya.
3. Sediakan Jalur dan pintu keluar alternatif bila
yang satu terhalang oleh api. ,etc.
9. FAKTOR PENYUMBANG PADA
KEBAKARAN INDUSTRI
9.1. Peralatan Listrik
Penyebab kebakaran
Listrik :
Luas
Hubungan Beban
Penampang
Singkat terlalu tinggi
Terlalu Kecil
9.2. Merokok
- Membuang dengan sembarangan puntung
rokok termasuk yang sering menyebabkna
kebakaran. Oleh karena itu, sebagai
pemecahannya para pekerja diijinkan
merokok pada jam-jam khusus dan harus
pada tempat yang aman.
- Beri tanda larangan merokok dengan
tanda-tanda yang menyolok.
9.3. Gesekan

- Panas berlebihan yang


disebabkan oleh gesekan telah
menyebabkan kebakaran dengan
prosentase yang cukup tinggi.
Misal : gesekan yang terjadi pada
ban (belt) penggerak mesin.
9.4. Api Terbuka

- Api terbuka tetap diperhitungkan


karena kebakaran pada industri
prosentasenya besar. Kegiatan
operasi peralatanj pemanas,
pembakar, pengelasan dan
pemotongan adalah termasuk
penyebab terpenting awal kebakaran.
9.5. Penyalaan Spontan
- Penyalaan spontan dihasilkan dari reaksi
kimia dimana terjadi pembentukan suhu secara
pelan akibat proses oksidasi bahan organik,
yang terus meningkat mecapai titik nyala
bahan.
- Penyalaan spontan biasanya terjadi bila ada
penumpukan bahan dalam jumlah besar dengan
permukaan yang cukup luas untuk terjadinya
proses oksidasi.
9.6. Kerumah Tanggaan

Untuk mencegah bahaya kebakaran yang terjadi akibat kegiatan


rumah tangga dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut :
1. Pengumpulan dan Penyimpanan Bahan Mudah Terbakar, yaitu
dengan cara menampung bahan-bahan tersebut pada tempat yang
tidak mudah terbakar.
2. Pembuangan Sampah, yaituapabila sampah dibakar maka
gunakan incinerator yang memenuhi persyaratan pengendalian
pencemaran lingkungan.
3. Ruang Ganti, yaitu gunakan tempat penyimpanan pakaian dari
logam yang tahan api. Pintunya mempunyai lubang ventilasi.
9.7. Udara Mudah Meledak
9.7.1. Debu
Bahaya ledakan debu muncul bila bahan yang akan terbakar atau
beroksidasi berada dalam bentuk bubuk. Untuk mencegah hal
tersebut dapat dilakukan dengan cara yaitu :
1. Cegah pembentukan campuran peledak dari debu dan udara.
2. Cegah penyalaan campuran peledak bila pembentukannya tidak
dapat dicegah.
9.7.2. Gas- gas dan Uap
Gas dan uap yang membentuk ledakan dengan udara dan oksigen
biasanya terjadi di industri. Gas tersebeut diantaranya hidrogen,
asitelen, propan, metan.
10. DETEKSI API

Ada 2 Fungsi dari


peralatan deteksi api :
1. Memeberikan
peringatan dini agar 2. Memulai prosedur
penghuni bangunan dapat pemadaman.
menyelamatkan diri.
Sistem Deteksi Api ada 2 :
2. Sistem Deteksi Otomatis
- Thermal/ Heat Detectors
-Fixed-temperature Detectors
1. Pengamatan Oleh Manusia - Rate-compensate Thermal Detectors
Pengamatan oleh manusia -Rate-of-Rise Thermal Detectors
merupakan deyeksi yang baik - Line Thermal Detectors
karena pengamat dapat segera
melakukan tindakan dengan - Eutectic-salt-line Thermal Detectors
fleksibel. - Bulb Detection System Detectors
- Smoke Detectors
- etc
11. SISTEM ALARM PERINGATAN
1. Sistem Alarm •Terdiri atas bel, terompet, sirine, atau perangkat
Setempat peringatan lainnya pada bangunan.

2. Sistem Alarm •Suatu sistem menempatkan detektor di dekat box


Pembantu panggilan kebakaran.

3. Sistem Alarm •Memberikan tanda kepada petugas pemadam


gedung itu sendiri, atau regu pemeliharaan, dan
Pemilik paling jauh kepada dinas pemadam kebakaran.

4. Rancangan •Jarak, penempatan, dan pemeliharaan detektor


api merupakan pertimbangan penting dalam
Sistem perencanaan
12. ALAT PEMADAM API RINGAN

12.1. Prinsip Penggunaan


- Meskipun pabrik sudah dilengkapi dengan spinkler otomatis
atau peralatan perlindungan kebakaran lainnya, perlu
disediakan alat pemadam api portabel yang siap untuk
keadaan darurat.
- Portabel yang dimaksud disini adalah digunakan secaa
manual pada api yang kecil, awal kebakaran, atau waktu
antara ditemukannya api sampai mulai berfungsinya
peralatan otomatis.
12.1.1. •Kelas A : untuk kebakaran biasa pada benda padat kecuali
logam

Klasifikasi Alat •Kelas B : untuk kebakaran cairan dan gas


•Kelas C : untuk kebakaran pada kabel dan peralatan listrik
Pemadam Api •Kelas D : untuk kebakaran logam

12.1.2.
•Diletakkan dekat dengan kemungkinan bahaya timbul,
Lokasi Alat tetapi jangan terlalu dekat agar tidak rusak oleh api.

Pemadam Api

12.1.3. •Kelas A : berhubungan dengan kelas bahaya bangunan


•Kelas B : untuk perlindungan terhadap api pada area
laboratorium, dapur.
Distribusi Alat •Kelas C : untuk peralatan listrik

Pemadam Api •Kelas D : disesuaikan dengan ukuran yang terbakar saat


memilih jenis bahan pemadamnya yang tepat.
12.2. Seleksi Alat Pemadam Api
12.2.1. Jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

APAR • Merupakan salah satu jenis alat pemadam


api serbaguna. Alat ini dapat memutus
Kimia Kering rantai reaksi kimia api.

• Alat ini menggunakan air, atau campuran


APAR air dengan busa AFFF.
Campuran Air • Efektif untuk kebakaran kelas A

APAR • Memadamkan api dengan mengurangi


kadar oksigen dan tidak meninggalkan sisa
Karbondioksida bahan pemadam.

APAR • Digunakan untuk memadamkan kebakaran


akibat bahan logam.
Serbuk Kering
12.2.2. Cara Bekerja APAR
- APAR jenis Patrum (catridge),
tekanan disuplai melalui suatu
gas yang tersimpan di dalam
tabung terpisah.
- APAR jenis bertekanan,
tekanan disuplai dari tabung
pemadam apinya.
12.3. Alat Pemadam Api Lainnya
12.3.1. • Ukuran 23kg, 34kg, dan 45kg
Alat Pemadam jenis CO2
Beroda

12.3.2. • Berupa alat pemadam berada di atas


Alat Pemadam kendaraan yang ditarik, kendaraan
Bergerak bermotor, kapal, kapal terbang.

12.3.3.
• Dipasang dengan sistem deteksi dan
Sistem Instalasi bekerja secara otomatis
Karbondioksida

12.3.4. • Digunakan untuk api kecil, terbuat dari


Selimut Api bahan campuran asbes dan alumunium.
13. SISTEM SPRINKLER DAN
SEMPROTAN AIR

13.1. Pasokan dan Penyimpanan Air


Sistem Sprinkler memerlukan pasokan air
yang banyak dan tekanan yang cukup untuk
pemadaman yang efisien. Yang mana air dapat
diperoleh dari : saluran air utama, danau, kolam,
sungai, tangki di atas tanah, tangki bertekanan,
etc.
13.2. SPRINKLER OTOMATIS
• Sistem ini paling sering digunakan
Sistem Pipa
• Seluruh bagian dari sistem ini sampai ke
Basah (wet-pipe) kepala sprinkler berisi air bertekanan.

• Digunakan sebagai pengganti sistem wet-pipe


Sistem Pipa
• Pada sistem ini pipa berisi udara bertekanan,
Kering(Dry-Pipe) yang menekan suatu katup air.

Sistem Pra-aksi • Sistemnya sama dengan wet-pipe tetapi dapat


lebih cepat beraksi, dengan demikian
(Pre-action) meminimalkan kegagalan suplai air.

Sistem • Sistem ini membasahi area dengan


Membanjiri membiarkan air ke sprinkler yang selalu
dalam keadaan terbuka.
(Deluge system)
13.3. HIDRAN KEBAKARAN

13.3.1. • Sistem ini selalu terbuka katup


pasokan airnya dan tekanan airnya
Sistem Pipa selalu terpelihara setiap saat.
Hidran- • Sistem ini memudahkan penghuni
mengadakan latihan pemadaman api.
Basah

13.3.2. • Air dialirkan melalui cara manual dari


alat pengendali jarak jauh yang
Sistem Pipa terletak di kotak selangnya.
• Biasanya sistem ini dipasang pada
Hidran- daerah tangga, tetapi dapat juga pada
Kering bagian luar bangunan.