Anda di halaman 1dari 9

UNION: Jurnal Pendidikan Matematika Volume xx No xx Tahun xxxx

Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Ditinjau Dari Kemampuan


Pemecahan Masalah Melalui Blended Learning

Adelia Febby Indriana1 dan Ari Widiastuti2


1,2
Pendidikan Matematika, Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Jl. Raya Kaligawe KM. 4 Semarang, Jawa Tengah
1
Email: adeliafebby14@std.unissula.ac.id
2
Email: ariwidiastuti@std.unissula.ac.id

ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui
kemampuan komunikasi matematis siswa dengan cara menganalisis kemampuan pemecahan
masalah matematika melalui model pembelajaran blended learning. Pada penelitian ini peneliti
menggunakan model pembelajaran konversional tipe GI (Group Investigation) dan google
classroom sebagai model pembelajaran online-nya. Pengambilan data dari hasil ulangan materi
sebelumnya kemudian dianalisis dengan mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan
komunikasi matematis dengan subjek 9 sampel siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi
tinggi, sedang, dan rendah. Setelah mendapat data awal kemudian menerapkan blended learning
pada materi berikutnya untuk mendapat hasil ulangan yang akan dianalisis kemampuan komunikasi
matematisnya berdasarkan kemampuan pemecahan masalah. Berdasarkan hasil analisis dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
maka semakin tinggi pula kemampuan komunikasi matematisnya.
Kata Kunci : Kemampuan Komunikasi Matematis, Kemampuan Pemecahan Masalah, Blended
Learning

ABSTRACT
This research is a qualitative descriptive study that aims to determine students' mathematical
communication skills by analyzing mathematical problem solving skills through blended learning
models. In this study, researchers used the GI type of learning model (Group Investigation) and
Google classroom as their online learning model. Retrieval of data from the results of previous
material tests were then analyzed by grouping students based on their level of mathematical
communication skills with the subject of 9 samples of students who had high, medium, and low
communication skills. After getting the initial data then apply blended learning to the next material
to get the results of the test to be analyzed mathematical communication skills based on problem
solving skills. Based on the results of the analysis it can be concluded that the higher the level of
students' mathematical problem solving abilities, the higher the mathematical communication
skills.
Keywords: Mathematical Communication Ability, Problem Solving Ability, Blended Learning

PENDAHULUAN
Matematika merupakan bahasa simbolis yang digunakan untuk mengkomunikasikan
hubungan kuantitatif dengan keruangan dalam suatu konteks nyata atau pokok bahasan
tertentu. Matematika bukan hanya suatu rumpun ilmu yang selalu ada dan wajib dipelajari
di sekolah, namun matematika merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan
perhitungan, pertimbangan ataupun perbandingan dua atau lebih dari suatu variabel.
Dalam (NCTM, 2000) dijelaskan bahwa matematika mempunyai lima kemampuan
mendasar yang merupakan standar kemampuan matematika yaitu pemecahan masalah

1
Analisis Kemampuan Komunikasi….(Adelia Febby Indriana dan Ari Widiastuti)

(problem solving), penalaran dan bukti (reasoning and proof), komunikasi


(communication), koneksi (connection) serta representasi (representation). Berdasarkan
standar kemampuan yang ditentukan, pembelajaran matematika tidak hanya dituntut untuk
menyampaikan materi dan menerima materi, tetapi harus mempunyai kemampuan dan
keterampilan untuk mencapai keberhasilan dalam bidang matematika.
Kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam standar proses pembelajaran Kurikulum
2013 adalah kemampuan komunikasi, sedangkan dalam NCTM standar kemampuan siswa
salah satunya adalah kemampuan komunikasi matematis siswa. Mengingat pentingnya
kemampuan komunikasi matematis dalam matematika diperlukan untuk menyampaikan
informasi dan mengkomunikasikan gagasan. Menurut (NCTM, 1989) indikator
kemampuan komunikasi matematis siswa dapat dilihat dari kemampuan berikut :
Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematik secara lisan dan tulisan dengan
benda nyata, gambar, grafik dan aljabar.
1) Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika,
2) Menjelaskan dan membuat pertanyaan matematika yang telah dipelajari, dan
3) Menghubungkan benda nyata, gambar, diagram ke dalam ide matematika.
Menurut (Susanto, 2013) komunikasi matematis dapat didefinisikan sebagai suatu
dialog pada yang mana dalam dialog tersebut terjadi pengalihan pesan matematis yang berisi
materi matematika berupa konsep, rumus atau strategi penyelesaian masalah baik secara
lisan maupun tertulis. Kemampuan komunikasi matematis merupakan unsur terpenting
yang harus dimiliki siswa, karena: (1) kemampuan komunikasi matematis merupakan
kekuatan sentral bagi siswa untuk merumuskan konsep dan strategi dalam pembelajaran
matematika; (2) sebagai model pendekatan dan penyelesaian masalah dalam
pengembangan dan penelitian matematika bagi siswa; (3) sebagai wadah berkomunikasi
bagi siswa unuk mendapatkan informasi dan berbagi pikiran.
Pemecahan masalah merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai siswa
setelah belajar matematika. Kemampuan ini sangat diperlukan siswa, terkait dengan
kebutuhan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-
hari dan mampu mengembangkan diri mereka sendiri. Dalam (Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, 2013) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah matematika
yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh adalah salah satu dari tujuan
mata pelajaran matematika. Selain itu, banyak penelitian yang telah dilakukan terkait

2
UNION: Jurnal Pendidikan Matematika Volume xx No xx Tahun xxxx

dengan pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematis melalui penerapan


berbagai pendekatan dan model pembelajaran. Salah satu cara untuk mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah mataematis dengan menerapkan model pembelajaran
baru diantaranya adalah blended learning.
Di era revolusi industri 4.0 ini kemajuan teknologi semakin pesat ditandai dengan
kemunculan segala macam akses layanan serba online. Tak ketinggalan pula pendidikan di
Indonesia saat ini juga mulai mengalami kemajuan dimana sebagian besar guru millenial-
nya sudah menggunakan dan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Saat ini dunia
pendidikan sedang hangat-hangatnya dengan e-learning. E-learning yaitu pembelajaran
yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga
mampu mendukung proses pembelajaran (Michael, 2013). Sedangkan menurut
(Ardiansyah, 2013) e-learning adalah proses pembelajaran jarak jauh dengan
menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi. Adapun
manfaat e-learning dalam pembelajaran:
1) Pembelajaran lebih realistis dan kontekstual,
2) Penggunaan media e-learning sangat efisien dan praktis,
3) Membuat siswa lebih peka dengan kemajuan teknologi,
4) Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, dan
5) Memudahkan pelaksanaan ujian.
Peneliti memilih blended learning sebagai model pembelajaran dari penelitian ini.
Blended learning yaitu penggabungan antara pembelajaran offline dan online. Menurut
(Yaman, Melek and Graf, 2010) mengungkapkan bahwa blended learning adalah konsep
hybrid learning yang mengintegrasikan sesi model kelas tradisional dengan elemen-elemen
e-learning dalam sebuah pola
pengajaran, dimana dari kombinasi kedua model tersebut akan menghasilkan bentuk
pembelajaran yang lebih baik.
Blended learning lebih menekankan kepada penggabungan / penyatuan model
pembelajaran secara konvensional (face-to-face) dengan model online
yang banyak diaplikasikan melalui pembelajaran e-learning,
media sosial dan lain sebagainya dengan tujuan untuk membantu siswa dalam
memecahkan masalah belajar melalui diskusi serta kerjasama
yang dibangun dalam lingkungan belajar online.

3
Analisis Kemampuan Komunikasi….(Adelia Febby Indriana dan Ari Widiastuti)

Model pembelajaran secara konvensional (face-to-face) peneliti memilih model


pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation) sedangkan model online
menggunakan salah satu layanan dari google yaitu Google Classroom. Pembelajaraan
kooperatif tipe GI (Group Investigation) dikembangkan oleh Shlomo dan Sharon di
Universitas Tel Aviv (Hobri dan Susanto, 2006) kooperatif tipe GI (Group Investigation)
sering disebut model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. GI (Group
Investigation) merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi/ informasi
pelajaran yang akan dipelajari melalui buku pelajaran maupun internet. Pada model
pembelajaran ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik
maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut siswa memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan berkelompok.
Adapun keunggulan model pembelajaran kooperatif tipe GI menurut (Rusman, 2013)
sebagai berikut:
1) Dapat meningkatkan rasa tanggungjawab dan kreatifitas siswa, baik secara individu
maupun kelompok,
2) Dapat membantu siswa mengikuti dan berorientasi menuju pembentukan manusia
sosial,
3) Memberikan kesempatan berkolaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi
kelompok untuk memecahkan suatu masalah, dan
4) Serta mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran yang diberikan guru sehingga
dapat membangun pengetahuan siswa.
Google class room adalah suatu learning management system yang dapat digunakan
untuk menyediakan bahan ajar, tes yang terintegrasi penilaian. Berbeda dengan media
pembelajaran yang lain keunggulan media google classroom adalah masalah efektifitas dan
efisiensi dalam pembelajaran. Google Classroom membuat kegiatan belajar mengajar
menjadi lebih produktif dan bermakna dengan menyederhanakan tugas, meningkatkan
kolaborasi, dan membina komunikasi. Perangkat lunak ini telah diperkenalkan sebagai
keistimewaan Google Apps for Education lalu itu disudahi dengan pengeluaran kepada
khalayak sejak 12 Agustus 2014.
Materi yang digunakan oleh peneliti adalah materi yang sedang diajarkan yaitu BAB
IV materi Kekongruenan dan Kesebangunan. Sistem pengambilan data dari penelitian ini
adalah dengan mengambil data berupa hasil pretest dan postes siswa materi Kekongruenan

4
UNION: Jurnal Pendidikan Matematika Volume xx No xx Tahun xxxx

dan Kesebangunan dimana kemudian akan dianalisis untuk mengetahui keadaan sebelum
dan sesudah menerapkan blended learning.
Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui
kemampuan komunikasi matematis siswa dengan cara menganalisis kemampuan
pemecahan masalah matematika melalui model pembelajaran blended learning.

MODEL PENELITIAN
Jenis metode dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dengan demikian
kumpulan data sangat diperlukan guna menjawab pertanyaan yang muncul pada saat
dilakukannya penelitian. Data tersebut berupa hasil tes dari kedua model pembelajaran
yaitu GI (Group Investigation) yang diambil dari penilaian tugas kelompok dan google
classroom diambil dari penilaian tugas individu.
Pada penelitian ini terdiri dari beberapa tahap pelaksaaan. Tahap pertama yaitu
menentukan permasalahan yang akan diteliti kemudian menyusun rancangan penelitian.
Tahap kedua yaitu menentukan sekolah mana yang akan dijadikan tempat penelitian.
SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang dijadikan tempat penelitian karena ada beberapa hal
yang dipertimbangkan oleh peneliti. Tahap ketiga yaitu penentuan instrumen. Intrumen
yang digunakan antara lain instrumen tes kemampuan komunikasi matematis (lisan dan
tertulis) serta pedoman wawancara. Kedua instrumen tersebut digunakan untuk mengetahui
tingkat kemampuan komunikasi matematis siswa. Tahan keempat yaitu dengan
memberikan arahan kepada guru mata pelajaran matematika kelas X IPA 1 Bu Lana Najiha
Nadia, S.Pd, M.Pd untuk melakukan pembelajaran menggunakan model blended learning
pada materi yang sedang diajarkan yaitu BAB III Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel.
Pada tahap ini kerjasama dan keterbukaan antara guru mata pelajaran matematika dengan
peneliti sangat dibutuhkan agar penelitian dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Tahan
kelima, pelaksanaan penelitian dengan instrumen yang telah ditentukan. Tahap keenam
berupa pengumpulan data. Setelah semua data terkumpul barulah dilakukan analisis guna
menarik kesimpulan dari hasil penelitian.
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini antara lain peneliti sendiri, soal tes
kemampuan komunikasi matematis, lembar penilaian dan pedoman wawancara. Sedangkan
model pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model dokumentasi
dari hasil tes dari kedua model pembelajaran yaitu GI (Group Investigation) yang diambil
dari penilaian tugas kelompok dan Google classroom diambil dari penilaian tugas individu.

5
Analisis Kemampuan Komunikasi….(Adelia Febby Indriana dan Ari Widiastuti)

Penelitian ini dilakukan di SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang di kelas X IPA 1
dengan jumlah siswa sebanyak 21 yang terdiri 6 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.
Jadwal pelaksanaan penelitian hari Jum’at tanggal 11 Oktober 2019. Dilakukan pada jam
pelajaran ke 6-7 (10.45-12.00 WIB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan komunikasi matematis siswa dengan cara menganalisis kemampuan
pemecahan masalah matematika melalui model pembelajaran blended learning.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari analisis hasil ulangan materi sebelumnya, peneliti menggolongkan tiga kelompok
siswa berdasarkan tingkat kemampuan komunikasinya. Dari 21 siswa dalam satu kelas,
penulis mengambil tiga sampel yaitu tiga siswa dengan kemampuan komunikasi tinggi,
tiga siswa dengan kemampuan komunikasi sedang, dan tiga siswa dengan kemampuan
komunikasi rendah. Adapun datanya sebagai berikut:
1) FN adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis tinggi. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang baik pada
materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal kelompok GI
dan soal individu pada google classroom dengan nilai 97,5. Siswa ini mampu
memenuhi 4 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu menyelesaikan
masalah, mengubah masalah ke kalimat matematika, perhitungan matematika, dan
penggunaan simbol matematika.
2) MS adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis tinggi. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang baik pada
materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal kelompok GI
dan soal individu pada google classroom dengan nilai 95,5. Siswa ini mampu
memenuhi 4 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu menyelesaikan
masalah, mengubah masalah ke kalimat matematika, perhitungan matematika, dan
penggunaan simbol matematika.
3) AZ adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis tinggi. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang baik pada
materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal kelompok GI
dan soal individu pada google classroom dengan nilai 90. Siswa ini mampu
memenuhi 4 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu menyelesaikan

6
UNION: Jurnal Pendidikan Matematika Volume xx No xx Tahun xxxx

masalah, mengubah masalah ke kalimat matematika, perhitungan matematika, dan


penggunaan simbol matematika.
4) CA adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis sedang. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang cukup baik
pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal
kelompok GI dan soal individu pada google classroom dengan nilai 77,5. Siswa ini
mampu memenuhi 3 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu
menyelesaikan masalah, mengubah masalah ke kalimat matematika, dan perhitungan
matematika.
5) IN adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis sedang. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang cukup baik
pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal
kelompok GI dan soal individu pada google classroom dengan nilai 75. Siswa ini
mampu memenuhi 3 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu
menyelesaikan masalah, mengubah masalah ke kalimat matematika, dan perhitungan
matematika.
6) BK adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis sedang. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang cukup baik
pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal
kelompok GI dan soal individu pada google classroom dengan nilai 73,5. Siswa ini
mampu memenuhi 3 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu
menyelesaikan masalah, mengubah masalah ke kalimat matematika, dan perhitungan
matematika.
7) JE adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis rendah. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang kurang
baik pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal
kelompok GI dan soal individu pada google classroom dengan nilai 50. Siswa ini
hanya mampu memenuhi 2 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu
menyelesaikan masalah dan mengubah masalah ke kalimat matematika.
8) HB adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis rendah. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang kurang
baik pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal
kelompok GI dan soal individu pada google classroom dengan nilai 47,5. Siswa ini

7
Analisis Kemampuan Komunikasi….(Adelia Febby Indriana dan Ari Widiastuti)

hanya mampu memenuhi 2 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu


menyelesaikan masalah dan mengubah masalah ke kalimat matematika.
9) AR adalah siswa yang mempunyai kemampuan komunikasi matematis rendah. Siswa
ini juga mempunyai kemampuan memecahkan masalah matematika yang kurang
baik pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel secara tertulis pada soal
kelompok GI dan soal individu pada google classroom dengan nilai 45. Siswa ini
hanya mampu memenuhi 2 indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu
menyelesaikan masalah dan mengubah masalah ke kalimat matematika.
Hasil analisis data kemampuan komunikasi matematis siswa diperoleh sebagai berikut:
9 siswa mampu menyelesaikan masalah matematika, 9 siswa mampu mengubah masalah
ke kalimat matematika, 6 siswa mampu menyelesaiakan perhitungan matematika, dan 3
siswa mampu menggunakan simbol matematika yang benar.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terdapat perbedaan antara siswa yang
mempunyai kemampuan matematis tinggi, sedang dan rendah berdasarkan kemampuan
pemecahan masalah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat
kemampuan pemecahan masalah siswa maka kemampuan komunikasi matematisnya
semakin tinggi begitupun sebaliknya semakin rendah kemampuan pemecahan masalah
siswa maka kemampuan komunikasi matematisnya juga semakin rendah.

KESIMPULAN
Dengan penerapan blended learning, peneliti dapat mengetahui tingkat kemampuan
komunikasi matematis siswa ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah. Pada blended
learning siswa diberikan dua jenis soal, yaitu soal kelompok pada metode pembelajaran
konvensional tipe GI dan soal individu pada google classroom. Dari dua soal tersebut
kemudian diambil rata-rata nilai kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil analisis dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika
siswa maka semakin tinggi pula kemampuan komunikasi matematisnya

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang
khususnya kelas X IPA 1 dan Bu Lana Najiha Nadia, S.Pd, M.Pd selaku guru mata
pelajaran matematika kelas X IPA 1 yang bersedia membantu penelitian ini sehingga dapat
terlaksana dengan baik dan lancar. Penulis juga tak lupa mengucapkan banyak terimaksih

8
UNION: Jurnal Pendidikan Matematika Volume xx No xx Tahun xxxx

kepada Bu Nila Ubaidah, M.Pd selaku dosen pembimbing yang dengan sabar membimbing
peneliti hingga akhir penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, S. (2013). No Title. Teori Belajar Dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group).
Ardiansyah, I. (2013). Eksplorasi Pola Komunikasi dalam Diskusi Menggunakan Moddle
pada Perkuliahan Simulasi Pembelajaran Kimia. (Universitas Pendidikan Indonesia,
Bandung-Indonesia).
Hobri dan Susanto. (2006). Penerapan Pendekatan Cooperative Learning Model Group
Investigation untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas III SLTPN 8 Jember
Tentang Volume Tabung. Jurnal Pendidikan Dasar (Hal 77-80).
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Pengembangan Kurikulum 2013.
Paparan Mendikbud Dalam Sosialisasi Kurikulum 2013, (Jakarta: Kemdibud National
Council of Taecher of Mathematics. (2000). Principles and Standards for School
Mathematics. Reston, Viginia: NCTM).
Michael, A. (2013). Michael Allen’s Guide to E-learning. (Canada: John Wiley & Sons).
NCTM. (1989). Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. (Reston,
VA: NCTM).
NCTM. (2000). Principles and Standards for School Mathematics. (Reston: NCTM).
Rusman. (2013). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar. (Jakarta: PT. Bumi
Aksara).
Yaman, Melek and Graf, D. (2010). Evaluation of an International Blended Learning
Cooperation Project in Biology Teacher Education. The Turkish Online Journal of
Education Technology, Volume 9(Issue 2), pp 87-96.