Anda di halaman 1dari 6

DINAS KESEHATAN ANGKATAN LAUT

RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO

SURAT KETETAPAN KEPALA RUMAH SAKIT TNI AL Dr. MINTOHARDJO


Nomor : SK / / / 201

tentang

PEMBENTUKAN BLUE TIM


RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO

KEPALA RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO

Menimbang : a. bahwa proses pelayanan pasien yang efektif akan menghasilkan


keputusan tentang pengobatan pasien yang harus segera dilakukan
kebutuhan dan pengobatan berkelanjutan untuk emergency, elektf atau
pelayanan terencana, bahkan ketika kondisi pasien berubah.
b. bahwa proses pelayanan pasien adalah terus menerus dan dinamis
yang digunakan pada sebagian besar unit kerja rawat inap dan rawat
jalan.
c. bahwa berdasarkan monitoring dan evaluasi maka perlu penetapan
nama-nama tim biru sesuai dengan kompetensinya
d. bahwa untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan di
RSAL Dr. Mintohardjo dioerlukan pembentukan blue tim yang ditetapkan
dengan keputusan karumkit Dr. Mintohardjo

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang


Kesehatan.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran.
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 / MENKES / PER / IX /
2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438 / MENKES / PER / IX /
2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691 / MENKES / PER / VIII /
2011 tentang Keselamatan Pasien.
MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Surat Ketetapan Kepala Rumkital Dr. Mintohardjo tentang


pembentukan tim biru di RSAL Dr. Mintohardjo
2. Panduan pembentukan blue tim Rumkital Dr. Mintohardjo
sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kesatu sebagaimana tercantum
dalam lampiran Keputusan ini.
3. Panduan pelayanan Pasien Rumkital Dr. Mintohardjo sebagaimana
dimaksud dalam Diktum Kedua harus dijadikan acuan dalam
menyelenggarakan pelayanan di Rumkital Dr. Mintohardjo.
4. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam ketetapan ini akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal Desember 2014

Kepala Rumkital Dr. Mintohardjo,

dr. M. Ichwanus Shofa, Sp.KFR


Kolonel Laut (K) NRP 10216/P

DINAS KESEHATAN ANGKATAN LAUT Lampiran Surat Ketetapan Kepala Rumkital


RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO Dr. Mintohardjo
Nomor : SK / 55 / XII / 2013
Tanggal : Desember 2013

KEBIJAKAN PELAYANAN PASIEN


RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO

1. Asuhan pelayanan pasien yang seragam:


a. Rumah sakit bersepakat untuk memberikan proses pelayanan yang seragam
b. Rumah sakit memandu pemberian pelayanan yang seragam sesuai dengan
Undang-Undang dan Peraturan yang terkait
c. Pemberian pelayana yang seragam memenuhi maksud dan tujuan tentang asuhan
pasien yang seragam :
1) Akses untuk asuhan dan pengobatan,yang memadai tidak tergantung atas
kemampuan pasien untuk membayar atau sumber pembiayaan.
2) Akses untuk asuhan dan pengobatan serta yang memadai yang diberikan oleh
praktisi yang kompeten tidak tergantung atas hari-hari tertentu atau waktu
tertentu
3) Ketepatan mengenali kondisi pasien menentukan alokasi sumber daya untuk
memenuhi kebutuhan pasien
4) Tingkat asuhan yang dberikan kepada pasien sama diseluruh rumah sakit
5) Pasien dengan kebutuhan asuhan keperawatan yang sama menerima asuhan
keperawatan yang setingkat diseluruh rumah sakit.

2. Rencana pelayanan diintegrasikan dan dikoordinasikan


a. Pelaksanaan pelayanan terintegraskan dan terkoordinasikan antar unit kerja,
departemen dan pelayanan.
b. Hasil atau kesimpulan rapat dari tim asuhan atau disisi lain tentang kolaborasi
dicatat dalam rekam medis pasien

3. Perencanaan asuhan untuk setiap pasien


a. Asuhan untuk setiap pasien direncanakan oleh dokter DPJP, perawat dan pemberi
pelayanan kesehatan lain dalam waktu 24 jam sesudah pasien masuk rawat inap
b. Rencana asuhan pasien harus individual dan berdasarkan data assesment awal
pasien
c. Rencana asuhan dicatat dalam rekam medis dalam bentuk kemajuan terukur
pencapaian sasaran
d. Kemajuan diantisipasi pasien dicatat atau direvisi sesuai kebutuhan berdasarkan
hasil asessment ulang atas pasien oleh praktisi pelayanan kesehatan
e. Rencana asuhan untuk tiap pasien diriview dan diverifikasi oleh DPJP dengan
mencatat kemajuannya
f. Rencana asuhan disediakan
g. Asuhan yang diberikan kepada setiap pasien dicatat dalam rekam medis pasien
oleh pemberi pelayanan.

4. Perintah dan pemeriksaan diagnosa lain bila diperlukan:


a. Perintah harus tertulis bila diperlukan dan mengikuti kebijakan rumah sakit
b. Permintaan pemeriksaan diagnostik imaging dan labolaorium klinis harus
menyertakan indikasi klinis dan alasan pemeriksaaan yang rasional agar
mendapatkan interprestasi yang diperlukan
c. Permintaan tertulis di lokasi yang seragam di rekammedis pasien.

5. Dokumentasi ditulis dalam rekam medis pasien


a. Hasil tindakan yang dilakukan harus ditulis dalam rekam medis pasien

6. Pemberian informasi pasien


a. Pasien dan keluarga diberi informasi tentang hasil asuhan dan pengobatan.

7. Pelayanan pasien resiko tinggi


a. Identifikasi pasien dan pemberian pelayanan resiko tinggi
b. Pemberian pelayanan resiko tinggi dilaksanakan di unit gawat darurat, ruang
ICU/ICCU, ruang haemodialisa, laboratorium/bank darah, ruang kemoterapi.
c. Petugas medis maupun non medis yang sudah mendapatkan pelatihan tentang
pelayanan resiko tinggi
8. Pelayanan pasien gawat darurat:
a. Asuhan pasien gawat darurat diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai.
b. Pasien menerima asuhan yang konsisten dengan kebijakan dan prosedur.

9. Pelayanan resusitasi yang seragam pada pasien:


a. Rumah sakit membentuk tim code blue untuk menyelenggarakan pelayanan
resusitasi yang seragam

10. Pemberian darah dan produk darah


a. Penanganan, penggunaan, dan pemberian darah dan produk darah diarahkan oleh
kebijakan dan produk yang sesuai
b. Darah dan produk darah diberikan sesuai kebijakan dan prosedur

11. Pasien koma dengan alat bantu hidup


a. Asuhan pasien koma diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai
b. Asuhan pasien dengan alat bantu hidup diarahkan oleh kebijakan dan prosedur
yang sesuai

12. Pelayanan pada pasien menular dan pasien dengan immunosuppressed


a. Asuhan pasien dengan penyakit menular diarahkan oleh kebijakan dan prosedur
yang sesuai
b. Asuhan pasien immunosuppresed diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang
sesuai
c. Pasien immuno-suppressed dan pasien dengan penyakit menular menerima
asuhan sesuai kebijakan dan prosedur.

13. Pelayanan dialisa pasien


a. Asuhan pasien dialisis diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai
b. Pasien dialisis menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur

14. Penggunaan alat pengikat (restraint) pada pasien


a. Penggunaan alat pengikat (restrain) diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang
sesuai
b. Pasien dengan alat pengikat menerima asuhan sesuai kebijakan dan prosedur

15. Pelayanan pasien rentan, lanjut usia, anak-anak dengan ketergantungan bantuan dan
resiko kekerasan
a. Asuhan pasien yang rentan, lanjut usia dan ketergantungan bentuan diarahkan
oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai
b. Pasien yang rentan, lanjut usia yang tidak mandiri menerima asuhan sesuai
kebijakan dan prosedur
c. Asuhan pasien anak dan anak dengan ketergantungan bantuan diarahkan oleh
kebijakan dan prosedur yang sesuai.
d. Anak-anak dan anak dengan ketergantungan menerima asuhan sesuai kebijakan
dan prosedur.
e. Populasi pasien dengan resiko kekerasan harus diidentifikasi dan asuhannya
diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai
f. Populasi pasien yang teridentifikasi dengan resiko kekerasan menerima asuhan
sesuai kebijakan dan prosedur.
16. Pelayanan pasien kemoterapi
a. Pelayanan pasien yang mendapat kemoterapi atau pengobatan resiko tinggi lain
diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai

17. Pelayanan gizi


a. Makanan atau nutrisi yang sesuai untuk pasien, tersedia secara regular.
b. Sebelum memberi makan pasien, semua pasien rawat inap telah memesan
makanan dan dicatat.
c. Pesanan didasarkan atas status gizi dan kebutuhan pasien
d. Ada bermacam variasi pilihan makanan bagi pasien konsisten dengan kondisi dan
pelayanannya.
e. Bila keluarga menyediakan makanan, mereka diberikan edukasi tentang
pembatasan diet pasien.
f. Makanan disiapkan dengan cara mengurangi kontaminasi dan pembusukan.
g. Produk nutrisi enteral disimpan sesuai rekomendasi pabrik
h. Distribusi makanan secara tepat waktu dan memenuhi permintaan khusus.
i. Praktek pelaksanaan memenuhih peraturan dan perundangan yang berlaku
j. Pasien denga resiko nutrisi mendapat terapi nutrisi
k. Ada proses yang menyeluruh untuk merencanakan, memberikan dan memonitor
terapi nutrisi
l. Respon pasien terhadap terapi nutrisi dimonitor
m. Respon pasien terhadap terapi gizi dicatat dalam rekam mediknya.

18. Manajemen nyeri


a. Berdasarkan lingkup pelayanan yang diberikan, rumah sakit memiliki prosedur
untuk identifikasi pasien yang kesakitan.
b. Pasien yang kesakitan mendapat asuhan sesuai pedoman manajemen nyeri
c. Berdasarkan lingkup pelayanan yang diberikan, rumah sakit menjalankan proses
untuk berkomunikasi dan mendidik pasien dan keluarga tentang rasa sakit
d. Berdasarkan lingkup pelayanan yang diberikan, rumah sakit menjalankan proses
mendidik staf tentang rasa sakit

19. Pelayanan pasien tahap terminal


a. Semua staf memahami kebutuhan pasien yang unik pada akhir kehidupan
b. Rumah sakit membuat pelayanan tahap terminal sesuai dengan kebutuhan pasien
yang akan meninggal
c. Kualitas asuhan akhir kehidupan dievaluasi oleh staf dan keluarga pasien:
1) Memastikan gejala-gejalanya akan dilakukan assessmen dan dikelola secara
tepat
2) Memastikan bahwa pasien dengan penyakit terminal dilayani dengan hormat
dan respek
3) Melakukan asesmen keadaan pasien sesering mungkin sesuai kebutuhan
untuk mengidentifikasi gejala-gejala.
4) Merencanakan pendekatan preventif dan terapeutik dalam mengelola gejala-
gejala
5) Menyampaikan isu yang sensitive seperti otopsi dan donasi organ.
6) Menghormati nilai yang dianut pasien, agama dan preferensi budaya
7) Mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam semua aspek pelayana
8) Memberi respon pada masalah-masalah psikologis, emosional, spiritual dan
budaya dari pasien dan keluarganya
9) Mendidik staf tentang pengelolaan gejala-gejala
d. Intervensi dilakukan untuk mengatasi rasa nyeri dan gejala primer atau sekunder
e. Sedapat mungkin dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya gejala dan
komplikasi
f. Interverensi ditujukan kepada pasien dan keluarga meliputi aspek psikososial,
emosional dan kebutuhan spiritual pasien dan keluarga dalam hal menghadapi
kematian dan kesedihan
g. Interverensi yang ditunjukan kepada pasien dan keluarga didasarkan pada agama
atau kepercayaan dan budaya.
h. Pasien dan keluarga terlibat dalam mengambil keputusan terhadap asuhan

Kepala Rumkital Dr. Mintohardjo,

dr. M. Ichwanus Shofa, Sp.KFR


Kolonel Laut (K) NRP 10216/P