Anda di halaman 1dari 4

Quantity discount

Quantity discount adalah pengurangan harga yang ditawarkan kepada pembeli


yang melakukan pembelian dalam jumlah besar, untuk merangsang mereka
membeli dalam jumlah banyak.

2.4 Model Economic Order Quantity


2.4.1 Pengertian EOQ
Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2010 : 92), model kuantitas pesanan ekonomis
(Economic Order Quantity) adalah salah satu teknik kontrol persediaan yang meminimalkan biaya
total dari pemesanan dan penyimpanan. Teknik ini relatif mudah digunakan tetapi didasaarkan pada
beberapa asumsi :
1. Jumlah permintaan diketahui, konstan, dan independen.
2. Waktu tunggu yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan diketahui dan
konstan.
3. Penerimaan persediaan bersifat instan dan selesai seluruhnya. Dengan kata lain, persediaan
dari sebuah pesanan datang dalam satu kelompok pada suatu waktu.
4. Tidak tersedia diskon kuantitas.
5. Biaya variabel hanya biaya untuk menyiapkan atau melakukan pemesanan (biaya penyetelan)
dan biaya menyimpan persediaan dalam waktu tertentu (biaya penyimpanan).
6. Kehabisan persediaan (kekurangan persediaan) dan dapat sepenuhnya dihindari jika
pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat.
Dengan asumsi seperti diatas, maka tahapan untuk mencari jumlah pemesanan yang
menyebabkan biaya minimal adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan persamaan untuk biaya pemasangan atau pemesanan.
2. Mengembangkan persamaan untuk biaya penahanan atau penyimpanan.
3. Menetapkan biaya pemasangan sama dengan biaya penyimpanan.
4. Menyelesaikan persamaan dengan hasil angka jumlah pemesanan yang optimal.
Secara umum model perhitungan (rumus) EOQ adalah sebagai berikut.

2.D.S
a. EOQ =
H
Keretangan :
EOQ = Jumlah optimal barang per pemesanan (Q*)
D = Permintaan tahunan barang persediaan dalam unit
S = Biaya pemasangan atau pemesanan setiap pesanan
H = Biaya penahan atau penyimpanan per unit per tahun

Q*
Average Inventory 
b. 2
D
c. Orders per period =
Q*
D
d. Annual Setup Cost = .S
Q*

e. Annual Holding Cost = .H

f. Total Cost per Unit = Unit Cost x D


a. Total Cost = Total Cost per Unit + Annual Setup Cost + Annual Holding
Cost.
D
b. Daily Demand =
Jumlah hari kerja per tahun
c. ROP = d x L
Keterangan :
d = Jumlah permintaan per hari
L = Waktu tunggu pemesanan (Lead Time)

Asumsi dasar dalam penggunaan model EOQ

Model EOQ digunakan oleh perusahaan untuk melakukan pembelian bahan dalam rangka
usaha pengadaan bahan baku. Penggunaan model ini harus dilandasi asumsi tertentu, karena belum
tentu sebuah perusahaan langsung dapat menerapkan EOQ untuk pengadaan bahan.
Model EOQ dapat diterapkan bila memenuhi asumsi berikut ini:

1. Permintaan akan produk konstan, seragam, diketahui dan mudah didapat

2. Harga per unit produk konstan

3. Biaya penyimpanan per unit per tahun konstan

4. Biaya pemesanan per pesanan konstan

5. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang diterima konstan

6. Tidak terjadi kekurangan bahan atau back orders

Gambar 2.1 Grafik EOQ (Economic Order Quantity)

2.4.2 Pengertian ROP


Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2010 : 99), titik pemesanan ulang (Reorder Point)
yaitu tingkat persediaan dimana ketika persediaan mencapai tingkat tersebut, pemesanan harus
dilakukan.

Tingkat Persediaan

Q* Kemiringan = unit/hari = d

ROP
(unit)
Gambar 2.2 Titik Pemesanan Ulang (Reorder Point)
Sumber : Jay Heizer dan Barry Render (2010 :100)

Keterangan : Q* adalah kuantitas pesanan optimum, dan waktu tunggu mempresentasikan


waktu antara penempatan pesanan dan penerimaan pesanan.

Rumus untuk menentukan ROP adalah sebagai berikut :


ROP = d x L
Keterangan : d = Permintaan per hari
L = Waktu tunggu pesanan baru dalam hari
Persamaan untuk ROP ini mengasumsikan permintaan selama waktu tunggu dan waktu
tunggu itu sendiri adalah konstan.

Permintaan per hari (d) dihitung dengan membagi permintaan tahunannya (D) dengan
jumlah hari kerja dalam satu tahun :
D
Permintaan per hari =
Jumlah hari kerja per tahun

Faktor penghambat reorder point :

 Terjadinya kesalahan dalam meramalkan perhitungan.


Keterlambatan penerimaan barang dari supplier yang disebabkan oleh beberapa hal seperti terlalu
banyak proses administrasi yang berbelit–belit, sarana transportasi yang kurang memadai baik dari
segi kualita maupun kuantitas