Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTEK KLINIK

PENATALAKSANAAN AKUPUNKTUR PADA KASUS NYERI PADA


OSTEOARTHRITISSENDI LUTUT DI RSAL DR. RAMELAN SURABAYA

OLEH :

PURWANTO

P27240013007

POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA


JURUSAN AKUPUNKTUR
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN AKUPUNKTUR
2019

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktek Klinik ini, atas nama Purwanto, NIM.P27240013007 dengan judul
“Penatalaksanaan Akupunktur Pada Kasus Nyeri Osteoarthritis Sendi Lutut di RSAL dr.
Ramelan Surabaya” telah disetujui untuk dipergunakan sebagai salah satu persyaratan
menyelesaikan praktek klinik di RSAL dr. Ramelan Surabaya mulai tanggal 7 Oktober – 1
November 2019.
Surakarta, November 2019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Purwanto, S.ST.Akp., MPH Dr. Markus Antonius, Sp.KFR


NIP. 198311072010121004 NIP.
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktik klinik dengan judul
“Penatalaksanaan Akupunktur Pada Kasus Nyeri Osteoarthritis Sendi Lutut di RSAL dr.
Ramelan Surabaya”. Laporan ini kami susun berdasarkan hasil praktik klinik di RSAL dr.
Ramelan Surabaya.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pembimbing klinik, pembimbing akademik,
serta teman-teman yang telah memberikan motivasi selama proses penyususan laporan ini.

Kami menyadari bahwa laporan klinik ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu, kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

Semoga laporan ini bermanfaat bagi mahasiswa fisioterapi dan seluruh mahasiswa pada
umumnya.

Surakarta, Nopember 2019

penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Osteoarthritis adalah salah satu jenis arthritis yang paling umum terjadi. Kondisi ini
menyebabkan sendi-sendi terasa sakit, nyeri dan kaku. Pembengkakan juga dapat terjadi pada
sendi-sendi tersebut. Sendi yang paling sering mengalami kerusakan pada kondisi meliputi
tangan, lutut, pinggul, dan tulang belakang (Anies, 2018). Osteoarthritis merupakan penyakit
gangguan homeostasis metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan
kartilago yang penyebabnya diperkirakan multifaktorial antara lain oleh karena faktor umur,
stres mekanis atau kimia, penggunaan sendi yang berlebih defek anatomi, obesitas, genetik
dan humoral (Arismuandar, 2015).
Osteoartritis lutut merupakan penyakit degeneratif progresif yang ditandai dengan
hilangnya tulang rawan sendi lutut secara bertahap, yang mengakibatkan hilangnya gerakan
dan rasa sakit. Ini adalah penyebab utama kecacatan di antara orang dewasa, dan dikaitkan
dengan dampak besar pada fungsi fisik dan mobilitas. Diagnosis didasarkan pada perubahan
radiologis, dan presentasi klinis nyeri sendi; termasuk nyeri tekan, keterbatasan gerak,
krepitus, dan efusi sendi (Bhatia et al,. 2013).
Data dari WHO pada tahun 2008 menyebutkan pravelensi pada penderita osteoarthritis
di Dunia mencapai 151,4 juta jiwa dan 27,4 juta jiwa berada di Asia Tenggara. Menurut Dewi
SK (2009), pravelensi kasus osteoarthritis di Indonesia cukup banyak, pada usia 40 tahun
mencapai 5% sedangkan pada usia 40-60 tahun mencapai 30% dan pada usia lebih dari 61
tahun mencapai 65%, secara radiologis penderita osteoarthritis lutut cukup tinggi terjadi pada
pria yaitu 15% dan pada wanita 12,7%. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018
hasil dari wawancara pada usia lebih dari 15 tahun rata-rata prevalensi penyakit sendi/rematik
sebesar 4,1%. Provinsi Aceh merupakan provinsi dengan prevalensi osteoarthritis tertinggi
yaitu 13,3% dan provinsi dengan prevalensi terendah adalah Sulawesi Barat yaitu sekitar
3,2% sedangkan di Jawa Tengah angka prevalensinya cukup tinggi yaitu sekitar 5,4%.
Penderita osteoarthritis pada tanggal 7 Oktober sampai 1 Nopember 2019 di klinik
Akupunktur RSAL dr. Ramelan Surabaya sebanyak 25 orang.
Berkaitan dengan prevalensi angka kejadian yang banyak, perlu dilakukan stadi
kasus yang lebih lanjut lagi karena kebanyakan masyarakat belum mengetahui tentang
osteoarthritis sendi lutut dan penanganannya secara akupuntur. Oleh karena itu perlu
adanya sosialisasi pemanfaatan terapi akupunktur dan peranan akupunktur pada kasus
osteoarthritis. Sehingga masyarakat dapat memilih terapi akupunktur untuk mengatasi
keluhan dan meningkatkan kualitas hidup pada penderita osteoarthritis.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam laporan kasus ini adalah “Bagaimana penatalaksaan akupunktur
untuk mengatasi keluhan pada osteoarthritis sendi lutut?”

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui penatalaksaan akupunkur
pada osteoarthritis sendi lutut.
BAB II

ANATOMI FISIOLOGI

Sendi adalah pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini dipadukan dengan

berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon, fasia, atau otot

(Misnadiarly, 2010).

Berdasarkan strukturnya, sendi dibedakan atas :

1. Sendi Fibrosa

Sendi fibrosa yaitu sendi yang tidak memiliki lapisan tulang rawan, dan tulang

yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa.

Hubungan ini memungkinkan sedikit gerakan, tetapi bukan gerakan sejati. Contohnya,

perlekatan tulang tibia dan fibula bagian distal (Misnadiarly, 2010).

2. Sendi Kartilago

Sendi kartilago yaitu sendi yang ujung-ujung tulangnya terbungkus oleh tulang

rawan hialin, disokong oleh ligament dan hanya dapat sedikit gerak. Sendi ini terbagi

menjadi dua yaitu sinkondrosis dan simfisis. Sinkondoris yaitu sendi-sendi yang seluruh

persendiannya diliputi oleh tulang rawan hialin. Contohnya, sendi-sendi kostokondral.

Sedangkan simfisis yaitu sendi yang tulang-tulangnya memiliki suatu hubungan

fibrokartilago dan selaput tipis tulang rawan hialin yang menyeliputi permukaan sendi.

Contohnya, simfisis pubis dan sendi tulang punggung (Suratun dkk., 2008).

3. Sendi Sinovial

Sendi sinovial yaitu sendi tubuh yang dapat digerakkan, serta memiliki rongga

sendi dan permukaan sendi yang dilapisi tulang rawan hialin. Sendi ini adalah sendi yang

paling umum dalam tubuh dan lapisan-lapisan bursa diseluruh persendian membentuk

sinovium, sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental, yang membasahi

permukaan sendi (Suratun dkk, 2008; Misnadiarly 2010)


BAB III
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS

1. Etiologi Osteoarthritis
a. Usia
Diperkirakan satu sampai dua juta orang usia lanjut di Indonesia menderita cacat
karena osteoarthritis. Oleh karena itu tantangan terhadap dampak osteoarthritis akan
semakin besar karena semakin banyaknya populasi yang berusia tua (Imayati dan
Kambayana, 2015). Osteoarthritis umumnya terjadi pada usia diatas 50 tahun, pada
usia tersebut terjadi adanya penurunan elastisitas pada jaringan ikat sekitar sendi,
ligamen dan kartilago sehingga muncul keluhan osteoarthritis (Misnadiarly, 2010).
b. Jenis Kelamin
Angka kejadian osteoarthritis pada laki-laki sebelum usia 50 tahun lebih tinggi
dibandingkan perempuan, tetapi setelah usia lebih dari 50 tahun angka kejadian
osteoarthritis pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Perbedaan tersebut
diperkiraan karena pada maa usia 50-80 tahun wanita mengalami pengurangan
hormon esterogen yang signifikan (Misnadiarly, 2010).
c. Ras atau Warna kulit
Osteoarthritis banyak ditemukan pada ras kulit berwarna dibandingkan kulit
putih. Osteoarthritis lutut lebih banyak ditemukan pada wanita kulit hitam, ini
mungkin ada hubungannya dengan berat badan relatif yang lebih tinggi pada wanita
kulit hitam dari pada wanita kulit putih (Misnadiarly, 2010).
d. besitas
Obesitas merupakan salah satu faktor resiko terjadinya osteoarthritis lutut. Sendi
lutut meruapakan tumpuan dari setengah berat badan seseorang selama berjalan. Berat
badan yang meningkat akan memperberat tumpuan pada sendi lutut. Pembedahan
lutut dapat menyebabkan kerusakan kertilago, kegagalan ligamen dan struktur lain.
Penambahan berat badan membuat sendi lutut bekerja lebih kera akan mempengaruhi
daya tahan dari tulang rawan sendi (Syahirul, 2015).
e. Trauma
Trauma merupakan salah satu penyebab osteoarthritis. Rawan sendi dapat
mengalami kerusakan akibat luka oleh trauma paska jatuh atau kecelakaan, baik yang
bersifat akut maupun trauma berulang yang melebihi kekuatan otot dan tendon untuk
menahan beban mekanik dan menyalurkannya ke tulang rawan sendi dapat
menyebabkan sendi menjadi rusak hingga dapat menimbulkan osteoarthritis (Muchid
dkk, 2009).
f. Genetik
Faktor keturunan mempunyai peran terhadap terjadinya osteoarthrits. Sinovitis
sering kali dihubungkan dengan adanya mutasi genetik, yaitu gen Ank sebagai pemicu
timbulnya osteoarthritis, misalnya pada ibu dari seorang wanita dengan osteoarthritis
pada sendi-sendi interfalang distal memiliki resiko dua kali lebih sering terjadi
osteoarthritis pada sendi tersebuut. Pangaruh faktor genetik mempunyai konstribusi
sekitar 50% terhadap risiko terjadinya osteoarthritis tangan dan panggul, dengan
sebagian kecil osteoarthritis lutut (Muchid dkk, 2009).
g. Hormonal
Pada sendi kartilago terdapat reseptor estrogen, dan estrogen mempengaruhi
banyak penyakit inflamasi dengan merubah pergantian sel, metabolisme, dan
pelepasan sitokinin. Perempuan primenopause rupanya lebih cenderung menderita
arthritis. Hal tersebut memberi kesan bahwa estrogen berperan dalam osteoarthritis
(Misnadiarly, 2010).

2. Pathofisiologi Osteoarthritis
Berdasarkan penyebabnya osteoarthritis diklasifikasikan menjadi osteoarthritis
primer dan osteoarthritis sekunder. Osteoarthritis primer disebut juga sebagai osteoarthritis
idiopatik yaitu osteoarthritis yang penyebabnya tidak diketahui atau tidak ada
hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi.
Osteoarthritis sekunder merupakan osteoarthritis yang didasari oleh adanya inflamasi,
pertumbuhan, herediter, maupun penyakit metabolik. Osteoarthritis primer lebih sering
ditemukan dari pada osteoarthritis sekunder (Rasjad, 2015).
Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang paling sering mengenai kartilago.
Kartilago merupakan jaringan licin yang membungkus ujung-ujung tulang persendian.
Kartilago yang sehat memungkinkan tulang-tulang menggelincir sempurna satu sama lain.
Selain itu kartilago dapat menyerap renjatan (shock) dari gerakan fisik, yang terjadi pada
penderita osteoarthritis ialah sobek pada lapisan permukaan kartilago sendi oleh karena
proses biomecanical dan biochemical insults. Kedua proses tersebutlah yang
mengakibatkan munculnya berbagai proses enzimatik seperti dikeluarkannya enzim
proteolitik atau kolagenotik oleh kondrosit yang dapat menghancurkan matriks rawan
sendi (Muchid dkk, 2009).
Sendi lutut merupakan sendi yang paling sering terkena osteoarthritis. Secara
fisiologis, sendi lutut mendapatkan beban pada saat melakukan mobilitas. Pada beberapa
keadaan, penderita dengan cedera permukaan sendi, robekan meniscus, ketidakstabilan
ligament atau deformitas panggul atau lutut, mengalami peningkatan resiko gangguan
homeostasis metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago.
Pecahnya kartilago sendi lutut berawal di daerah gesekan berlebih. Jika telah berlangsung
lama, perubahan akan terlihat pada kompartemen medial. Tanda-tanda fibrilasi kartilago
yang khas, sklerosis tulang subkondral, dan pembentukan osteofit perifer. Pada kasus yang
parah permukaan sendi dapat kehilangan kartilago sama sekali dan tulang yang mendasari
akhirnya dapat remuk. Kerusakan struktur kartilago memnyebabkan kompresi saraf
disekitar lutut, penurunan fungsi lutut dalam melakukan mobilisasi fisik, dan intervensi
medis menimbulkan dampak psikologis (Muttaqin, 2012).

3. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis osteoarthritis antara lain adanya nyeri pada lutut dan pada foto

rontgen ditemukan adanya gambaran osteofit serta sekurang kurangnya satu dari usia

lebih dari 50 tahun, kaku sendi pada pagi hari < 30 menit dan adanya krepitasi. Nyeri

biasanya bertambah berat dengangerakan dan berkurang dengan istirahat. Hambatan

gerak yang seringkali sudah ada meskipun secara radiologis masih berada pada derajat

awal dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik. Selainitu dapat ditemukan adanya

krepitasi, pembengkakan sendi yang sering kali asimetris, nyeri tekan tulang, dan tak

teraba hangat pada kulit. Beberapa penderita mengeluh nyeri dan kaku pada udara dingin

dan atau pada waktu hujan.Beberapa gejala spesifik yang dapat timbul antaralain adalah

keluhan instabilitas pada penderita osteoarthritis lutut pada waktunaik turun tangga

(Pratiwi, 2015).

4. Diagnosis
Pemeriksaan fisik pada pasien osteoarthritis terdapat adanya gerak sendi baik

secara aktif maupun pasif. Selain itu biasanya terdengar adanya krepitasi yang semakin

jelas dengan bertambah parahnya penyakit. Gejala ini disebabkan karena adanya

pergesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan. Selain itu terdapat
hambatan gerak dan adanya pembengkakan pada sendi serta adanya tanda-tanda

peradangan, nyeri sendi dan kemerahan (Rasjad, 2015).

Diagnosa osteoarthritis selain berdasarkan gejala klinis juga bedasarkan pada hasil

radiologi. Penegakan diagnosis radiologis dapat dilakukan apabila ditemui penyempitan

celah sendi yang sering kali asimetris, sclerosis, tulang subkondral, kista tulang, osteofit

dan struktur anatomi sendi (Imayati dan Kambayana, 2015). Bila dicurigai terdapat

robekan meniskus atau ligamen, dapat dilakukan pemeriksaan MRI yang akan

menunjukkan gambaran tersebut lebih jelas. Walaupun demikian, MRI bukan alat

diagnostik yang rutin, karena mahal dan seringkali tidak merubah rancangan terapi

(Pratiwi, 2015).
BAB IV

STATUS KLINIK

A. Pengkajian

1. Data pasien

Dari pengkajian didapatkan data identitas pasien sebagai berikut nama

Ny. L berusia 51 tahun, beragama Islam dan beralamat di -------------------

------. Ny. L telah menempuh pendidikan S1 Pendidikan dan sekarang

bekerja sebagai guru olahraga di SMP dan status pernikahan Ny. L adalah

sudah menikah.

2. Data Vital Sign

Data vital sign meliputi tekanan darah 120/80 mmHg, respirasi 18x/menit,

frekuensi nadi 75x/menit, suhu tubuh 36,5° Celcius, berat badan 65

kilogram, tinggi badan 157 centimeter, kondisi umum compos mentis atau

sadar penuh, ada riwayat alergi yaitu obat antalgin.

3. Observasi/pengelihatan (Wang)

Pemeriksaan Shen didapatkan bahwa Ny. L terlihat semangat.

Pemeriksaan Se terlihat rona wajah Ny. L sedikit layu. Sedangkan pada

pengamatan Sing Tay terlihat postur tubuh Ny. L tidak membungkuk dan

ada hambatan gerak pada lutut kanan. Pada pemeriksaan lidah didapatkan

bahwa otot lidah berwarna merah muda, ukuran lidah kurus, dengan

selaput putih tebal permukaan basah tidak mengelupas, ada tapak gigi dan

tidak ada bercak sianotik.


4. Pendengaran dan Penciuman (Wen)

Pada pemeriksaan hasil pendengaran dan penciuman Ny. L diketahui saat

bicara suara pasien terdengar jelas, suara nafas teratur, tidak ada suara

batuk dan tidak ada suara perut keroncongan. Pada pasien tidak ada bau

keringat dan bau mulut. Sedangkan bau urin, bau riak, dan bau tinja tidak

dievaluasi.

5. Anamnesis (Wun)

Pasien datang dengan keluhan utama yaitu mengeluhkan pada lutut

sebelah kanan terasa nyeri. Keluhan dirasakan pasien selama kurang lebih

1,5 tahun. Nyeri dirasakan dengan skala nyeri 6. Awal mula terjadi

keluhan tersebut dikarenakan pasien yang sering naik turun tangga untuk

mengajar muridnya diruang atas. Nyeri dirasakan waktu ditekuk, beridiri

terlalu lama dan terkena dingin. Rasa nyeri berkurang saat pasien

mengoles fleksamin dan menggunakan deker. Pada anamnesa riwayat

penyakit dahulu, pasien memiliki riwayat penyakit maag dan bronkitis

kronis.

Pada pemeriksaan status diet didapatkan bahwa nafsu makan pasien

kurang dengan frekuensi makan 3x sehari. Untuk jenis makanan pasien

yaitu sayur dengan porsi makan 1 centong nasi dengan kecenderungan

rasa asin. Pasien suka camilan seperti gorengan. Frekuensi minum pasien

mengatakan sedang sehari kurang lebih 1 liter. Jenis minuman pasien

cenderung minum air putih hangat, menyukai minuman yang panas.


Pada pemeriksaan status BAB dan BAK, frekuensi buang air besar

1x, tidak ada gangguan mengejan, tidak ada keluar darah dan tidak ada

nyeri saat buang air besar, warna feses kuning kecoklatan. Konsistensi

fesesnya lembek dengan bentuk lonjong. Untuk buang air kecilnya pasien

mengatakan sehari buang air kecil kurang lebih 7x sehari. Pasien

mengatakan urinnya banyak, berwarna jernih kekuningan dan tidak pekat,

tidak ada gangguan seperti keluarnya darah atau pun nanah saat buang air

kecil.

Pada pemeriksaan status lokalis, berlokasi di lutut kanan pasien

dengan penampilan luar tidak bengkak, pergerakan terbatas di lutut kanan.

Sensasi lutut kanan terasa nyeri, pada perabaan tidak ada ketegangan otot

atau benjolan dan bila ditekan enak. Pada status ginekologis, pasien

mengatakan sudah menopause.

Pada pemeriksaan status organ pasien didapatkan data bahwa

manifestasi organ hati dan kandung empedu tidak didapatkan keluhan.

Pada organ jantung dan usus kecil didapatkan keluhan mudah lupa. Pada

organ limpa dan lambung didapatkan keluhan mudah lelah, BAB lembek,

lidah bertapak gigi dan nafsu makan menurun. Pada organ paru-paru dan

usus besar tidak didapatkan keluhan. Pada organ ginjal dan kandung

kemih didapatkan keluhan nyeri lutut, nyeri tulang dan rambut beruban.

Pada pemeriksaan sistem Wei, Qi, Ying, dan Xue didapatkan gangguan

atau keluhan pada sistem Qi yaitu mudah lelah.


6. Perabaan dan Palpasi (Cie)
Pada pemeriksaan palpasi pada daerah keluhan tidak terdapat
benjolan, tidak terdapat ketegangan otot, dan bila ditekan terasa enak.
Pada pemeriksaan palpasi nadi, ditemukan kedalaman nadi teraba

dalam, dengan kecepatan normal, ukuran nadi tipis, dan kekuatan nadi

lemah.

Tabel 3.2. Diferensiasi Nadi

KIRI KANAN

CUN Intermediet/ normal CUN Intermediet/normal

GUAN Intermediet/normal GUAN Intermediet/normal

CHI Dalam/lemah CHI Dalam/lemah

B. Diagnosa Akupunktur

1. Analisis data

a) Data umum

Pada pemeriksaan vital sign pada Ny. L didapatkan hasil sebagai

berikut tekanan darah 120/80 mmHg, tekanan darah tersebut

menandakan tekanan darah normal, tekanan darah yang tidak normal

ketika tekanan darah terlalu tinggi yaitu >130/80 mmHg atau terlalu

rendah <90/80 mmHg. Pemeriksaan respirasi 18x/menit menunjukkan

respirasi yang normal. Pemeriksaan denyut nadi 75x/menit


menunjukkan angka yang normal. Berat badan 65 kg dan tinggi badan

157 cm, berdasarkan perhitungan Body Mass Index (BMI) Ny. L

tergolong ke tubuh yang gemuk dengan hasil perhitungan BMI 27,08

kg/ . Ny. L memiliki riwayat alergi terhadap obat antalgin.

b) Observasi/pengelihatan (Wang)

Pemeriksaan Shen didapatkan bahwa Ny. L terlihat semangat.

Pemeriksaan Se terlihat rona wajah Ny. L sedikit layu. Sedangkan

pada pengamatan Sing Tay terlihat postur tubuh Ny. L tidak

membungkuk dan ada hambatan gerak pada lutut kanan. Pada

pemeriksaan lidah didapatkan bahwa otot lidah berwarna merah muda,

ukuran lidah kurus, dengan selaput putih tebal menandakan dingin

permukaan basah tidak mengelupas, ada tapak gigi dan tidak ada

bercak sianotik.

c) Pendengaran dan Penciuman (Wen)

Pada pemeriksaan hasil pendengaran dan penciuman Ny. L

diketahui saat bicara suara pasien terdengar jelas menandakan Qi yang

masih baik, suara nafas teratur, tidak ada suara batuk dan tidak ada

suara perut keroncongan. Pada pasien tidak ada bau keringat dan bau

mulut.

d) Anamnesis (Wun)

Pasien datang dengan keluhan utama yaitu mengeluhkan pada lutut

sebelah kanan terasa nyeri. Keluhan dirasakan pasien selama kurang

lebih 1,5 tahun. Awal mula terjadi keluhan tersebut dikarenakan


pasien yang sering naik turun tangga untuk mengajar muridnya

diruang atas. Nyeri dirasakan waktu ditekuk, beridiri terlalu lama dan

terkena dingin. Rasa nyeri berkurang saat pasien mengoles fleksamin

dan menggunakan deker yang menandakan manifestasi dari defisiensi

Yang. Skala nyeri berkisar pada angka 6. Pada anamnesa riwayat

penyakit dahulu, pasien memiliki riwayat penyakit maag dan bronkitis

kronis.

Pada pemeriksaan status organ pasien ditemukan kelainan organ

yang paling banyak pada sistem ginjal didapatkan keluhan nyeri lutut,

nyeri tulang dan rambut beruban.

e) Perabaan dan Palpasi (Cie)


Pada pemeriksaan palpasi pada daerah keluhan tidak terdapat

benjolan, tidak terdapat ketegangan otot, dan bila ditekan terasa enak.

Pada pemeriksaan palpasi nadi, ditemukan kedalaman nadi teraba

dalam, dengan kecepatan normal, ukuran nadi tipis, dan kekuatan nadi

lemah.

2. Diagnosis akupunktur
Dari analisa data diatas didapatkan hasil diagnosa akupunktur

adalah Ny. L usia 51 tahun dengan keluhan nyeri pada lutut sebelah kanan

dengan sindrom Bi defisiensi Yang ginjal oleh karena faktor usia,

overwork, dan kegemukan.


C. Perencanaan Terapi Akupunktur
Perencanaan terapi akupunktur dilakukan pada tanggal 19 Januari 2019

dengan hasil:

1. Prinsip terapi

Prinsip terapi pada kasus ini adalah mengurangi rasa nyeri atau

menguatkan pada daerah lutut dengan prinsip tonifikasi untuk

menguatkan Yang ginjal dan penghangatan.

2. Alat dan bahan

Dalam melakukan terapi akupunktur diperlukan alat dan bahan yang steril

dan bersih untuk menghindari faktor-faktor terjadinya infeksi. Pada

intervensi akupunktur yang dilakukan pada Ny. L berusia 51 tahun, alat

dan bahan yang digunakan yaitu menggunakan jarum akupunktur ukuran

1 dan 1,5 cun, kapas dan alkohol 70%, kom, bengkok, thermometer,

tensimeter, Hand sanitizer, elektrostimulator gelombang satu (Continous

wave) dan TDP.

3. Frekuensi terapi

Frekuensi terapi akupunktur yaitu 2 kali terapi dalam 1 minggu, dengan

waktu pertama posisi tengkurap (pronasi) selama 15 menit dan posisi

terlentang (supinasi) juga 15 menit dan dilakukan selama 8 kali terapi.

4. Pemilihan titik akupunktur

Dibedakan menjadi dua, yaitu titik utama (simtomatik) dan titik

diferensial (kausatif) :
Titik utama menggunakan :
 EX-LE 2 (Heding)
Lokasinya pada lekukan di atas patella, penusukannya 0,7-0,8
cun tegak lurus.
 EX-LE 4 (Neixiyan)
Lokasinya dalam lekukan pada patela bagian medial,
penusukannya sedalam 0,7-0,8 miring.
 EX-LE 5 (Xiyan)
Lokasinya dalam lekukan pada patela bagian lateral,
penusukannya 0,7-0,8 miring.
 ST 36 (Zusanli)
Lokasinya tiga cun dibawah Dubi (ST 35), 1 jari lateral krista
tibia, penusukannya 0,5-1,5 cun tegak lurus.
 SP 6 (Sanyinjiao)
Lokasinya 3 cun tepat diatas ujung malleolus medial dibatas
posterior tibia, penusukannya 1-1,5 cun tegak lurus.

Titik diferensial menggunakan:


 KI 3 (Taixi)
 Lokasinya diantara tendon akhiles dan meleolus internus
setinggi bagian prominens dari melelolus internus,
penusukanya 0,3-1 cun tegak lurus.
 KI 7 (Fuliu)
Lokasinya 2 cun diatas Taixi (KI 3), penusukan 0,5-1 cun
tegak lurus.

 BL 23 (Shenshu)
Lokasinya antara lumbal 2 dan 3, 2 jari lateral dari
meridian Du, penusukannya tegak lurus 0,5-1 cun.
 GV 4 (Mingmen)
Lokasinya dibawah prosesus spinalis lumbal 2,
penusukannya miring keatas 0,5-0,8 cun.

D. Pelaksanaan Terapi Akupunktur

Pasien dipersilahkan duduk terlebih dahulu untuk dilakukan vital

sign meliputi tekanan darah, nadi, respirasi, suhu tubuh, berat badan

dan tingi badan. Selanjutnya pasien dipersilahkan mempersiapkan diri

untuk melakukan terapi dengan waktu saat tengkurap (pronasi) 15

menit dan waktu terlentang (supinasi) 15 menit.

Melakukan cuci tangan terlebih dahulu, disinfeksi pada area kulit

yang akan ditusuk, melakukan penusukan dan pada titik yang sudah

ditentukan yaitu EX-LE 2 (Heding), EX-LE 4 (Neixiyan), EX-LE 5

(Xiyan), ST 36 (Zusanli), SP 6 (Sanyinjiao), KI 3 (Taixi), KI 7

(Fuliu), BL 23 (Shensu), GV 4 (Mingmen). Memasang elektroda

elektrostimulator pada titik dengan pasangan EX-LE 2 (Heding)

dengan elektroda (+) dan EX-LE 4 (Neixiyan) dengan elektroda (–),

EX-LE 5 (Xiyan) dengan elektroda (-) dan ST 36 (Zusanli) dengan

elektroda (+), KI 3 (Taixi) dengan elektroda (+) dan KI 7 (Fuliu)

dengan elektroda (-), BL 23 (Shensu) dengan elektroda (+) dan GV 4


(Mingmen) dengan elektroda (-) sedangkan SP 6 (Sanyinjiao) tidak

dipasang elektroda. Memasang alat TDP pada area lutut kanan dengan

jarak 20-30 cm. Setelah selesai, terapis mematikan elektrostimulator

dan TDP, melakukan pelepasan elektroda dan pencabutan jarum,

dinfeksi pada area yang sudah dilakukan penusukan, membuang

bekas jarum pada tempatnya. Merapikan kembali pakaian pasien dan

tempat terapi.

E. Edukasi.

Anjuran saran…………………………

F. Evaluasi

No. Hari/Tanggal Data Suyektif Data Obyektif Tindak lanjut

1. Keluhan………. Hasil pemerikaan:  Titik yg


 Lidah digunakan
 Nadi  Modalitas
 Nyeri terapi
 Tes gerakan  Titik tambahan
 Tes kekuatan
otot/MMT
2.

3. dst
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Pengkajian pada Ny. L dengan ditemukan keluhan yaitu nyeri pada lutut
sebelah kanan selama kurang lebih 1,5 tahun yang. Untuk ditekuk, berdiri
lama dan terkena dingin terasa sakit. Berdasarkan pemeriksaan observasi
(Wang), pendengaran dan penciuman (Wen), anamnesis (Wun), dan palpasi
(Cie) yang didasarkan pada teori dan literature mengarah pada kasus
osteoarthritis sindrom Bi defisiensi Yang ginjal.
2. Diagnosis akupunktur pada Ny. L usia 51 tahun dengan keluhan nyeri lutut
sebelah kanan pada kasus osteoarthritis sindrom Bi defisiensi Yang ginjal oleh
karena usia, overwork, dan kegemukan.
3. Perencanaan terapi akupunktur pada Ny. L dengan prinsip terapi menguatkan
organ ginjal, menghilangkan nyeri, memperbaiki peradangan dan
mengembalikan lingkup gerak sendi lutut.
4. Pelaksanaan terapi akupunktur menggunakan titik utama atau titik lokal
meliputi EX-LE 2 (Heding), EX-LE 4 (Neixiyan), EX-LE 5 (Xiyan), ST 36
(Zusanli), SP 6 (Sanyinjiao) dan titik diferensial atau titik sindrom meliputi KI
3 (Taixi), KI 7 (Fuliu), BL 23 (Shensu), GV 4 (Mingmen).
5. Evaluasi terapi akupunktur menunjukan bahwa setelah dilakukan 8 kali terapi
atau 2 kali terapi dalam satu minggu dengan keluhan nyeri lutut sebelah kanan
menunjukkan terapi akupunktur dapat memulihkan gejala nyeri lutut pada
penderita osteoarthritis mengurangi nyeri yang dirasakan oleh penderita dari
nyeri skala 6 berkurang menjadi nyeri skala 3.
B. Saran

1. Untuk penatalaksanaan studi kasus ini, sebaiknya intervensi terapi untuk

penanganan osteoarthritis dilakukan secara teratur sesuai teori dan literatur

yaitu 10 kali dalam 4 minggu. Dalam 2 minggu pertama terapi dilakukan 3

kali dalam seminggu. Selama 2 miggu terakhir dilakukan 2 kali terapi

dalam seminggu untuk mendapatkan hasil akhir yang maksimal dalam

menangani kasus osteoarthritis.

2. Saran dan anjuran yang sulit di lakukan paisen yaitu tuntutan pasien yang

harus naik turun tangga, bisa dianjurkan saat naik turun tangga bertumpu

pada kaki yang tidak terkena osteoarthritis agar dalam pemulihan dapat

berjalan dengan baik dan menunjang keberhasilan terapi.


DAFTAR PUSTAKA

------------------------------------