Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia akan mengalami perkembangan, sejak masa bayi, periode
kanak-kanak, masa pubertas atau masa remaja yang kemudian berkembang
menjadi manusia dewasa. Kehidupan sebagai remaja merupakan salah satu
periode dalam rentang kehidupan manusia. Menurut John W. Santrock
(2003:26) bahwa “remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi
antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahana biologis,
kognitif dan sosial emosional”. Senada dengan itu, Sarlito Wirawan (2001:51)
menyatakan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke
dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik.
Pada umumnya remaja mengalami berbagai kesulitan dan masalah dalam
melakukan penyesuaian diri terhadap dirinya dan lingkungan pada masa
pubertas. Perubahan-perubahan fisik menyebabkan kecanggungan bagi
remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang
terjadi pada dirinya (Sarlito Wirawan, 2001:52).
Perubahan-perubahan pesat yang terjadi selama masa puber
menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman dan
mengakibatkan perilaku yang kurang baik. Remaja seharusnya mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada masa puber sehingga
remaja mencapai kepuasan terhadap diri dan lingkungan. (Suryani, Syahniar
dan Zikra, 2013:137)
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi masa pubertas ?
2. Bagaimana karakteristik pada masa pubertas ?
3. Apa saja perubahan dan permasalahan yang terjadi pada masa pubertas ?
4. Apakah gangguan psikologi pada masa pubertas ?
5. Bagaimana cara mengatasi dan pemecahan masalah pada masa pubertas ?
6. Bagaimana peran bidan terhadap masalah yang dialami pada masa
pubertas ?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi masa pubertas.
2. Mengetahui karakteristik pada masa pubertas.
3. Mengetahui perubahan dan permasalahan pada masa pubertas.

1
4. Mengetahui gangguan psikologi pada masa pubertas.
5. Mengetahui cara mengatasi dan pemecahan masalah pada masa pubertas.
6. Mengetahui peran bidan terhadap masalah pada masa pubertas.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Masa Pubertas


Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to
grow atau to grow maturity yang artinya tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolescence seperti yang dipergunakan saat ini, mempunyai
arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan
fisik. (Elizabeth Hurlock, 2002:206).
Pubertas adalah masa transisi dari masa anak ke masa dewasa, yang
ditandai dengan munculnya tanda–tanda seksual sekunder dan kemampuan
bereproduksi dengan ditandai dengan perubahan hormonal, perubahan fisik,
maupun perubahan psikologis dan sosial (Styne, 2000). Puber berasal dari kata
latin Pubescere berarti mendapat pubes atau rambut kemaluan yaitu suatu

2
tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual (Panuji &
Umami, 1999).
Menurut Chaplin (1993:408), pubertas adalah periode-periode kehidupan
dimana terjadi kematangan organ-organ seks mencapai tahap menjadi
fungsional terhadap variasi yang jelas sekali diantara individu-individu yang
berbeda, pada umumnya usia akhir periode untuk anak perempuan adalah 13
tahun dan pada anak laki-laki 14 tahun.
B. Karakteristik Masa Pubertas
Berikut ini merupakan karakteristik menurut Elizabeth Hurock
(2002:211) yang terjadi selama masa pubertas.
1. Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan fisik mengalami perubahan dengan pesat, lebih cepat
dibandingkan masa kanak-kanak dan dewasa. Untuk mengimbangi
pertumbuhan yang cepat itu, remaja membutuhkan makan dan tidur lebih
banyak.

2. Perkembangan Seksual
Pada anak laki-laki diantaranya: mengalami mimpi pertama (mimpi
basah), pada lehernya tumbuh seperti buah jakun yang membuat
suaranya seperti pecah, dan di sekitar bibir dan kemaluannya mulai
tumbuh rambut.
Pada anak perempuan diantaranya: rahimnya sudah mulai bisa
dibuahi atau sudah menstruasi (datang bulan), di bagian mukanya mulai
tumbuh jerawat, penimbunan lemak membuat dadanya mulai tumbuh,
pinggulnya mulai melebar, dan pahanya mulai membesar.
3. Cara Berfikir Kausalitas
Yaitu menyangkut hubungan sebab dan akibat, remaja mulai berfikir
kritis sehingga dia akan melawan bila orang tua, guru, dan lingkungan
masih menganggapnya sebagai anak kecil. Bila guru dan orang tua tidak
tahu cara berpikir remaja, akibatnya timbulah kenakalan remaja.
4. Emosi Yang Meluap-Meluap
Keadaan emosi remaja masih labil karena erat hubungannya dengan
keadaan hormon. Suatu saat ia bisa sedih sekali dan lain waktu bisa
senang sekali. Hal ini terlihat pada remaja yang baru putus cinta atau

3
remaja yang tersinggung perasaannya karena misalnya diplototi. Dan
emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka dari pada
pikiran yang realitas.
5. Mulai Tertarik Pada Lawan Jenis
Secara biologis manusia terbagi atas dua jenis yaitu laki-laki dan
perempuan. Dalam kehidupan sosial remaja mereka mulai tertarik pada
lawan jenisnya dan mulai berpacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang
mengerti, kemudian melarangnya, akan menimbulkan masalah, dan
remaja akan cenderung tertutup dengan orang tuanya.
6. Menarik Perhatian Lingkungan
Pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dalam lingkungannya,
berusaha mendapatkan status dan peranan seperti kegitan remaja di
kampung-kampung yang diberi peranan, pasti ia akan melaksanakan
dengan baik. Bila tidak diberi peranan maka ia akan melakukan
perbuatan untuk menarik perhatian masyarakat, bila perlu maka akan
melakukan perkelahian dan kenakalan lainnya. Remaja akan berusha
mencari peranan di luar rumah bila orang tua tidak memberi peranan
kepadanya karena menganggapnya sebagai anak kecil.
7. Terikat Dengan Kelompok
Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok
sebayanya dalam pengalaman pun mereka berusah untuk berbuat yang
sama misalnya, berpacaran, berkelahi, dan mencuri. Apa yang dilakukan
pemimpin kelompoknya ditirunya, walaupun yang dilakukan itu tidak
baik. Dalam kelompok itu bisa melampiaskan perasaan tertekan karena
mungkin tidak dimengerti oleh orang tua dan kakak-kakaknya.
Kelompok atau gang sebenarnya tidak berbahaya asalkan saja kita
bisa mengarahkannya. Karena dalam kelompok tersebut remaja hanya
ingin memperoleh kebutuhannya untuk dianggap, dimengerti, mancari
pengalaman baru, berprestasi, diterima statusnya, harga diri, rasa aman,
yang semua itu belum tentu diperoleh di rumah maupun di sekolah.
C. Perubahan dan Permasalahan Masa Pubertas
1. Penyebab Munculnya Pubertas
Penyebab munculnya pubertas adalah hormon yang dipengaruhi
oleh hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasilan hormon
tubuh). Berkat hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga

4
mulai muncul ciri-ciri kelamin sekunder yang dapat membedakan antara
perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, pubertas terjadi karena tubuh
mulai memproduksi hormon-hormon seks sehingga alat reproduksi telah
berfungsi dan tubuh mengalami perunahan.
Hormon seks yang mempengaruhi perempuan adalah estrogen dan
progesteron yang diproduksi di indung telur, sedangkan pada laki-laki
diproduksi oleh testis dan dinamakan testosteron. Hormon-hormon
tersebut terdapat didalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh,
sehingga terjadilah beberapa pertumbuhan.

2. Perubahan Perubahan Tubuh pada Masa Puber


Perubahan pada masa puber dapat dilihat pada table berikut:
Table 1.1 PerubahanTubuhpada Masa Puber
Perubahan
No Masa Anak Laki-laki Anak Perempuan
Puber
1. Perubahan Perubahan tinggi tubuh dari Dua tahun sebelum haid dan
kuran tubuh usia 12,8 tahun sampai 15,3 setahun setelah haid. Berhenti
tahun. Puncaknya pada usia sekitar 18 tahun.
14 tahun.

2. Ciri-ciri Gonad atau testes yang a. Berat uterus anak usia 11


terletak dalam scrotum pada atau 12 tahun berkisar 5,3
seks primer
usia 14 tahun baru sekitar gram, pada usia 16 tahun
rata-rata beratnya 43 gram.
10% dari ukuran matang.
b. Tuba falopi, telur-telur,
Kemudian terjadi dan vagina juga tumbuh
pertumbuhan pesat selama 1 pesat pada saat ini.
atau 2 tahun, setelah itu c. Datangnya haid yang akan
pertumbuhan menurun, testes terjadi kira-kira setelah 28
sudah berkembang penuh hari sampai menopause,
pada usia 20/21 tahun. pada akhir 40 atau 50
tahun.

3. Ciri-ciri a. Rambut a. Pinggul


Rambut kemaluan tumbuh Pinggul menjadi
seks
sekisar 1 tahun setelah bertambah lebar dan bulat,
sekunder testes dan penis mulai akibat membesarnya
membesar. Rambut ketiak tulang pinggul dan
dan rambut diwajah berkembangnya lemak

5
timbul jika pertumbuhan bawah kulit.
rambut kemaluan hampir b. Payudara
selesai, demikian pula Segera setelah pinggul
rambut tubuh. mulai membesar, payudara
b. Kulit juga berkembang, putting
Kulit menjadi lebih kasar, susu membesar dan
tidak jernih, warna pucat menonjol, dan dengan
dan pori-pori meluas. berkembangnya kelenjar
c. Kelenjar susu, payudara menjadi
Kelenjar lemak atau yang lebih besar dan lebih bulat.
memproduksi minyak
dalam kulit semakin
membesar dan menjadi
lebih aktif sehingga dapat
menimbulkan jerawat.
c. Rambut
Rambut kemaluan timbul
d. Otot setelah pinggul dan
Otot-otot bertambah besar payudara mulai
dan kuat sehingga member berkembang. Rambut
bentuk bagi lengan, ketiak dan rambut pada
tungkai kaki, dan bahu. wajah mulai tampak
e. Suara setelah haid. Semua
Suara berubah setelah rambut, kecuali rambut
rambut kemaluan timbul. wajah mula-mula lurus
Mula-mula suara menjadi dan terang warnanya,
serak, kemudian tinggi kemudian menjadi lebih
suara menurun, volume subur, lebih kasar, lebih
meningkat dan mencapai gelap, dan agak keriting
pada yang lebih enak. d. Kulit
Suara yang pecah sering Kulit menjadi lebih keras,
terjadi jika kematangan lebih tebal, agak pucat,
berjalan pesat. dan lubang pori-pori
f. Benjolan dada bertambah besar.
Benjolan-benjolan kecil di e. Kelenjar
sekitar kelenjar susu pria Kelenjar lemak dan
timbul sekitar usia 12 dan kelenjar keringat menjadi
14 tahun. Ini berlangsung lebih aktif. Sumbatan
selama beberapa minggu, kelenjar lemak dapat
kemudian menurun, baik menyebabkan jerawat.
jumlahnya maupun Kelenjar keringat di ketiak
besarnya. mengeluarkan banyak
keringat dan baunya
menusuk sebelum dan
selama masa haid.
f. Otot
Otot semakin besar dan
semakin kuat, terutama
pada pertengahan dan
menjelang akhir masa
puber sehingga
memberikan bentuk pada
bahu, lengan dan tungkai
kaki.
g. Suara
Suara menjadi lebih penuh

6
dan lebih semakin merdu.
Suara serak dan suara
yang pecah jarang terjadi
pada anak perempuan.
Sumber: DikembangkanPenulisdari Hurlock (2002: 188-190)
D. Gangguan Psikologi pada Masa Pubertas
Perubahan fisik pada masa puber berpengaruh terhadap semua bagian
tubuh, baik secara internal maupun secara eksternal sehingga mempengaruhi
fisik dan psikologis remaja. Tidak hanya itu, akibat perubahan masa puber
berpengaruh juga terhadap sikap dan perilaku remaja.
Adapun sikap remaja sebagai dampak dari perubahan masa puber adalah
sebagai berikut:
1. Ingin menyendiri
Anak puber sering menarik diri dari pergaulan, serta mengadakan
eksperiment seks melalui maturbasi.
2. Bosan
Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnya sangat digemari,
tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial, dan kehidupan pada
umumnya.
3. Inkoordinasi
Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi
gerakan, anak akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu.
4. Antagonisme sosial
Anak puber sering tidak mau bekerjasama, sering membantah dan
menantang.
5. Emosi yang meninggi
Kemurungan, merajuk, ledakan amarah, dan kecenderungan untuk
menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian
awal masa puber.
6. Hilangnya keprcayaan diri
Anak remaja yang semula sangat yakin pada diri sendiri menjadi kurang
percaya diri dan takut kegagalan.
7. Terlalu sederhana
Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan anak
menjadi sangat sederhana dalam segala penampilannya karena takut
orang lain akan memperhatikan prubahan yang dialaminya dan
memberikan mereka komentar yang buruk.
E. Pemecahan Masalah pada Masa Pubertas
Cara Mengatasi / Pemecahan Masalah Pada Masa Pubertas
1. Komunikasi

7
Bicarakan isu pubertas kapan saja sebelum usia puber mereka. Hal
ini supaya anak tidak kaget. Atau coba buat pertanyaan untuk
mengarahkan diskusi mengenai pubertas seperti pengalaman orangtua
mengalami menstruasi atau mimpi basah. Jangan menunggu anak
bertanya dan usahakan berbicara dari hati ke hati dan dalam suasana yang
santai diselingi dengan gurauan ringan. Menghadapi remaja, susah-susah
gampang. Perlu waktu dan kesabaran, tapi juga perlu logika rasional
supaya orang tua tidak terbawa emosi atau salah menangkap arti. Sikap
dominan dan otoriter untuk memaksa mereka untuk berterus terang
malah memperburuk hubungan.
Kembangkan pola komunikasi dua arah yang dapat mendukung
proses penyampaian informasi secara efektif dari kedua belah pihak,
orangtua dan anak. Orangtua dapat menjadi pemberi informasi dan teman
diskusi yang bijak namun tetap tegas, yang diidolakan oleh anak.
2. Kawan
Anak usia puber butuh tempat berkeluh-kesah. Sebab, mereka mulai
untuk mandiri. Dan pada saat yang sama, mereka tidak menyandarkan
diri pada orang tua dan keluarga. Posisikan diri Anda untuk lebih
mendengarkan. Oleh karenanya, menjadi teman dan penguat akan jauh
lebih diperlukan dari pada sekedar nasihat, apalagi menjadi hakim.
Hadirlah dengan sikap memahami, tanpa banyak berkata-kata bagi
mereka sesuatu yang menenangkan.
3. Kontrol
Kontrollah perilaku-perilaku negatif yang mungkin terjadi pada
anak. Tetap memberikan kebebasan yang bijak kepadanya.
4. Hargai
Anak yang memasuki masa puber ini ingin dihargai. Pada masa ini,
mereka semakin perasa karena perubahan fisiknya yang cepat. Hargai
keterbukaan dan kejujuran anak, libatkan mereka dalam tanggungjawab
atau peranan tertentu yang membuat mereka merasa berharga dan
dihargai orangtua. Mulailah melibatkan mereka dalam beberapa
keputusan keluarga.

Bagi mereka kadang bercerita dan berekspresi adalah hal yang


sangat sulit. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Pada masa ini,

8
logika mereka semakin matang dan cenderung bersikukuh dengan
pemikiran yang mereka miliki. Bersedialah untuk mendengarkan
pendapat anak dan menghargai pemikiran yang mereka miliki.
5. Kendala
Waspadalah dan hadapi hambatan yang ada. Misalnya, hubungan
anak dengan orang tua, perselisihan antara sang anak dengan orang tua,
perselisihan antara kedua orangtua. Strata ekonomi dan sosial keluarga
terkadang berdampak negatif atau positif terhadap puber.
Pada kondisi ini, anak biasanya tampak murung atau suka
menyendiri, mengurangi interaksinya dengan keluarganya dan cenderung
suka bergaul dengan kawan-kawannya. Langkah itu bagi anak dianggap
hal yang bisa membantunya menghilangkan kunkungan keluarga. Oleh
karena itu, setiap orang tua perlu mewaspadai beberapa perilaku di atas
dan berusaha membiarkan sang anak untuk percaya diri, mengatur waktu
luangnya serta kebersamaan emosi dalam urusan keluarga.
6. Manajemen Waktu
Gunakan satu waktu tertentu secara cukup untuk bercengkerama
bersama anak setiap hari. Begitu pula dari sisi anak. Sibukkan mereka
dengan hal-hal yang positif untuk mengembangkan kecerdasannya agar
tidak sibuk dengan hal-hal negatif yang merusak. Anak pada masa ini
cenderung untuk mulai berpikir kritis dan cerdas. Berikan kepada mereka
sarana yang bisa membantu mereka memanfaatkan waktu luang mereka
secara positif.
7. Terbuka dan Empati
Pada masa ini anak cenderung suka meniru orang lain atau hal lain
yang sedang "ngehits" atau tren. Sikap terbuka dan cara berpikir yang
"open minded" membuat anak tidak menyembunyikan hal-hal yang
mereka hadapi. Tenang dan bijaksanalah saat menghadapi tingkah laku
anak remaja yang tengah bereksperimen dengan hal baru. Misalnya,
berdandan lama, kamarnya ganti suasana seperti toko poster, mencoba
aneka peran, dan lain-lain. Saat orangtua terbuka, secara tidak langsung
anak juga merasa terbuka dan percaya pada orangtua. Bersikaplah toleran
dan membiasakan sang anak berperilaku benar dan berkata jujur. Anda
bisa memulai bercerita kepada anak tanpa tendensi mempersuasi anak

9
untuk mau cerita. Anda sudah pernah mengalami masa tersebut dan itu
hal yang menarik untuk didiskusikan.
8. Nilai
Terus tanamkan nilai dengan cara yang kreatif. Bisa nilai agama atau
kearifan lain. Namun cara paling efektif untuk menanamkan nilai justru
dari memberi contoh konkrit melalui kehidupan yang kita jalankan
sehari-hari. Bagaimana cara kita menghadapi masalah dan apa makna
masalah buat kita, apa makna kegagalan dan bagaimana menyikapinya.
Itu semua akan menjadi ajaran nilai kalau anak melihat langsung dari
orang tuanya.
Jangan mudah menyerah saat tidak didengar atau ditolak. Cari waktu
yang tepat untuk mendiskusikan hal ini dengan lebih kondusif.
9. Kenali teman-teman anak
Orangtua perlu mengetahui siapa teman-teman dekat anak. Hal ini
dapat orangtua lakukan secara santai melalui komunikasi yang terbuka
dengan anak. Media sosial yang sekarang sedang marak menjadi teman
dekat juga perlu dimonitor supaya anak-anak tidak terjebak pada
perhatian orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
10. Siapkan mental dan emosional
Orangtua sendiri juga harus menyiapkan mental dan emosional
untuk menghadapi cerita anak. Kuasai diri dan bersikap rasional supaya
melihat masalah yang dia ceritakan dengan obyektif dan kepala dingin
sehingga bisa memisahkan antara perasaan Anda dengan solusi yang
harus diambil. Pahami dan terimalah bahwa pubertas merupakan proses
alami yang akan dijalani oleh sang buah hati sejalan dengan proses
tahapan perkembangan yang akan anak lalui. Sikap pemahaman dan
penerimaan yang baik dari orang tua akan mengantarkan anak-anak
menjalani masa pubertas secara positif dan menunjang perkembangan
mereka menuju masa dewasa secara matang.
F. Peran Bidan Terhadap Masalah pada Masa Pubertas
1. Konseling, informasi kesehatan reproduksi dan pelayanan Keluarga
Berencana (KB), pelayanan kehamilan dan persalinan (termasuk:
pelayanan aborsi yang aman, pelayanan bayi baru lahir/ neonatal),
pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular
seksual (PMS). Termasuk juga bidan berperan di dalam pencegahan

10
kemandulan, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja
(KRR), konseling, informasi dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan
reproduksi.
2. Sebagai pendidik dimana bidan mempromosikan ‘wellness’ kepada
remaja putri sehingga terlepas dari kenakalan remaja serta dapat
mengurangi resiko terjadinya penyakit dan sebagai suppoter
mengidentifikasi faktor resiko yang mungkin terjadi akibat kenakalan
remaja; seperti hamil pada usia muda, screening untuk deteksi awal
penyakit akibat kenakalan remaja.
3. Bidan juga sebagai konselor bagi orangtua sehingga orangtua memberi
kasih sayang kepada remaja putrinya. Kasih sayang dan perhatian dari
orangtua sangat perlu dalam hal apapun. Dengan adanya rasa kasih
sayang dari orangtua maka anak merasa diperhatikan dan dibimbing.
Dengan kasih sayang itu pula akan mudah mengontrol remaja jika ia
mulai melakukan kenakalan, dan juga sebagai pemberi asuhan kebidanan
serta sebagai peneliti.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pubertas adalah masa transisi antara masa anak dan masa dewasa yang
mencakup perubahana biologis, kognitif dan sosial emosional, yang ditandai
dengan munculnya tanda–tanda seksual sekunder dan kemampuan
bereproduksi dengan ditandai dengan perubahan hormonal, perubahan fisik,
maupun perubahan psikologis dan sosial.
Perubahan-perubahan pesat yang terjadi selama masa puber
menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman dan
mengakibatkan perilaku yang kurang baik. Remaja seharusnya mampu

11
menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada masa puber sehingga
remaja mencapai kepuasan terhadap diri dan lingkungan
B. Saran
1. Dalam perkembangan remaja merupakan salah satu perjalanan yang bisa
mempengaruhi dalam kehidupannya, oleh sebab itu butuh arahan serta
didikan agar bisa melewati masa-masa transisi itu dengan baik dalam
fisik maupun psikis sehingga bisa mengatasi dan mengaplikasikan
perubahan-perubahan itu dalam kehidupan sehari-hari.
2. Orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih
berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu
perkembangan remaja menuju kedewasaan. Bimbingan orang tua dan
guru sangat diperlukan agar remaja tidak salah arah, karena dimasyarakat
amat banyak pengaruh negatif yang dapat menyengsarakan masa depan
remaja.Sebaiknya orang tua memberikan pengetahuan mengenai dampak
seks.
3. Peran bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada remaja adalah
sebagai pendidik dimana bidan mempromosikan ‘wellness’ kepada
remaja putri sehingga terlepas dari kenakalan remaja serta dapat
mengurangi resiko terjadinya penyakit dan sebagai suppoter
mengidentifikasi faktor resiko yang mungkin terjadi akibat kenakalan
remaja; seperti hamil pada usia muda, screening untuk deteksi awal
penyakit akibat kenakalan remaja

12
DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth B. 2002. Psikologi Perkembangan. Alih Bahasa Istiwidayanti


dan Soedjarwo. Editor Ridwan Max Sijabat. Jakarta: Erlangga.

John W. Santrock. 2003. Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.

Panuji, Panut dan Umami, Ida. 1999. Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara
Wacana Yogya.

Styne DM. 2000. The physiology of puberty. In: Brook CG, Hindmarsh PC,
editors. Clinical Pediatric Endocrinology. Fourth ed. London: Blackwell
Science. C.P Chaplin (Penerjemah Dr.Kartini Kartono). 1993. Kamus
Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers.

Suryani, Syahniar dan Zikra. 2013. Penyesuaian Pada Masa Pubertas. Konselor,
Jurnal Ilmiah Konseling.Vol(2)/2 hlm.136-140. Diakses pada 2 Juli 2019.

Wirawan, Sarlito Sarwono. 2008. Psikologi Remaja. Jakarta: C.V Rajawali

13