Anda di halaman 1dari 25

Suku Dayak Bakumpai (Belanda : Becompaijers/Bekoempaiers) adalah salah satu subetnis

Dayak Ngaju yang beragama Islam. Suku Bakumpai terutama mendiami sepanjang tepian daerah
aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu dari kota Marabahan
(sebagai pusatnya) sampai kota Puruk Cahu, Murung Raya. Suku Bakumpai merupakan suku baru
yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 7,51% dari penduduk Kalimantan Tengah,
sebelumnya suku Bakumpai tergabung ke dalam suku Dayak pada sensus 1930.
Suku Bakumpai berasal bagian hulu dari bekas Distrik Bakumpai sedangkan di bagian hilirnya
adalah pemukiman orang Barangas (Baraki). Sebelah utara (hulu) dari wilayah bekas Distrik
Bakumpai adalah wilayah Distrik Mangkatip (Mengkatib) merupakan pemukiman suku Dayak
Bara Dia atau Suku Dayak Mangkatip. Suku Bakumpai maupun suku Mangkatip merupakan
keturunan suku Dayak Ngaju dari Tanah Dayak.
Suku Bakumpai banyak mendapat pengaruh bahasa, budaya, hukum adat, dan arsitektur Banjar,
karena itu suku Bakumpai secara budaya dan hukum adat termasuk ke dalam golongan budaya
Banjar, namun secara bahasa, suku Bakumpai memiliki kedekatan dengan bahasa Ngaju.
Menurut situs "Joshua Project" suku Bakumpai berjumlah 41.000 jiwa.
Populasi suku Bakumpai di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan
Pusat Statistik berjumlah 20.609 jiwa. Di Kalimantan Selatan, suku Bakumpai terbanyak terdapat
di kabupaten Barito Kuala sejumlah 18.892 jiwa (tahun 2000).
Kabupaten/kota yang terdapat organisasi kerukunan suku Bakumpai :

 Kabupaten Barito Kuala (kecamatan Bakumpai, Tabukan dan Kuripan)


 Kabupaten Barito Selatan
 Kabupaten Barito Timur
 Kabupaten Barito Utara
 Kabupaten Murung Raya
 Kabupaten Kapuas
 Kabupaten Pulang Pisau
 Kota Palangkaraya
 Kabupaten Katingan, berupa enclave
 Kota Banjarmasin
 Kabupaten Kutai Barat (1,7% populasi)

Hampir seluruh suku Bakumpai beragama Islam dan relatif sudah tidak nampak religi suku seperti
pada kebanyakan suku Dayak (Kaharingan). Upacara adat yang berkaitan dengan sisa-sisa
kepercayaan lama, misalnya ritual "Badewa" dan "Manyanggar Lebu".
Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bakumpai merupakan suku kekeluargaan yang termasuk
golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil
bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju (Ot Danum).
Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum.
Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan
keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat
di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk
suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.
Silsilah suku Bakumpai;
Suku Dayak (suku asal), terbagi suku besar (rumpun):
 Dayak Laut (Iban)
 Dayak Darat
 Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
 Dayak Murut
 Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
o Dayak Maanyan
o Dayak Lawangan
o Dayak Dusun
o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan :
 Dayak Bakumpai
 dan lain-lain

Perbandingan hubungan suku Bakumpai dengan suku Dayak Ngaju, seperti hubungan suku
Tengger dengan suku Jawa. Suku Dayak Ngaju merupakan suku induk bagi suku Bakumpai.
Organisasi suku Bakumpai yaitu "Kerukunan Keluarga Bakumpai" (KKB), merupakan partai lokal
Kalimantan pada pemilu 1955.

Tokoh-Tokoh Dayak Bakumpai :

1. Panglima Wangkang, panglima Dayak di Barito Kuala dalam Perang Banjar.


2. Pambakal Kendet (Damang Kendet), ayah dari Panglima Wangkang, pejuang melawan
terhadap kolonial Belanda di daerah Bakumpai, Barito Kuala.
3. Tumenggung Surapati, adalah Panglima Dayak dari garis keturunan Dayak Siang yang
menumpas Belanda dan menenggelamkan kapal Perang Onrust di desa Lalutong Tuwur,
Barito Utara. Tumenggung Surapati adalah penerus perjuangan dalam perang Banjar
dibawah pimpinan Pangeran Antasari, tetapi Perang yang dipimpin Surapati jauh lebih
dahsyat dengan apa yang lebih dikenal Perang Barito tahun 1896 (...)Bangkai kapal
perang Onrust masih ada sebagai bukti dari sejarah perlawanan orang-orang Dayak di
bumi Kalimantan.
4. KH. Hasan Basri, Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia, berasal dari suku bakumpai,
dari orang tua yang berasal dari Muara Teweh ( Kalimantan Tengah) dan Marabahan
(Kalimantan Selatan).

Etimologis :
Secara etimologis, bakumpai adalah julukan bagi suku dayak yang mendiami daerah aliran sungai
barito. bakumpai berasal dari kata ba (dalam bahasa banjar yang artinya memiliki) dan kumpai
yang artinya adalah rumput.
dari julukan ini, dapat dipahami bahwa suku ini mendiami wilayah yang memiliki banyak rumput.
menurut legenda, bahwa asal muasal suku dayak bakumpai adalah dari suku dayak ngaju yang
akhirnya berhijrah ke negeri yang sekarang disebut dengan negeri marabahan.
Pada mulanya mereka menganut agama nenek moyang yaitu kaharingan, hal ini dapat dilihat dari
peninggalan budaya yang sama seperti suku dayak lainnya. kemudian mereka menjumpai akan
wilayah itu seorang yang memiliki kharismatik, seorang yang apabila dia berdiri di suatu tanah,
maka tanah itu akan ditumbuhi rumput. orang tersebut tidak lain adalah Nabiyullah Khidir as. di
dalam cerita mereka kemudian masuk agam islam dan berkembang biaklah mereka menjadi suatu
suku. suku bakumpai adalah julukan bagi mereka, karena apabila mereka belajar agama di suatu
daerah dengan gurunya khidir, maka tumbuhlah rumput dari daratan tersebut, sehingga kemudian
mereka dikenal dengan suku bangsa bakumpai.

Suku dayak bakumpai dahulunya memiliki suatu kerajaan yang lebih tua dibandingkan dengan
kerajaan daerah banjar, akan tetapi karena daya magis yang luar biasa akhirnya kerajaan ini
berpindah ke sungai barito dan rajanya dikenal dengan nama datuk barito.
Dari daerah marabahan ini mereka menyebar ke aliran sungai barito. dari cerita rakyat, bahwa ada
suatu daerah di kabupaten murung raya yaitu muara untu pada mulanya hanyalah suatu hutan
belantara yang dikuasai oleh bangsa jin bernama untu. kemudian ada dari suku bakumpai yang
hijrah kesana dan mendiami daerah tersebut yang bernama Raghuy. sampai sekarang jika ditinjau
dari silsilah orang yang mendiami muara untu, mereka menamakan moyang mereka Raghuy.

Kerukunan Keluarga Bakumpai :


Kerukunan Keluarga Bakumpai adalah organisasi primordialisme suku Bakumpai di Kalimantan
Selatan dan Kalimantan Tengah. Di luar wilayah kedua propinsi ini biasanya orang Bakumpai
bergabung ke dalam organisasi suku Banjar. Keturunan orang Bakumpai beserta orang Kutai dan
Berau di Malaysia termasuk ke dalam kategori suku Banjar. Pada tahun 1955, Kerukunan Keluarga
Bakumpai merupakan salah satu peserta pemilu di wilayah Kalimantan. Kantor pusat KKB terletak
di Banjarmasin, dengan cabang-cabang terdapat di Kabupaten Murung Raya, Barito Kuala, Barito
Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Kapuas, Katingan, Kotawaringin Timur dan Kota Palangka
Raya.

KEISTIMEWAAN BUDAYA
DAYAK BAKUMPAI
Posted on Mei 24, 2017 by Bakumpai Segah

Oleh: Nasrullah

Makalah disampaikan dalam seminar Kajian Budaya Daerah Memperkokoh Jati Budaya Bangsa
yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten
Barito Kuala Marabahan, 20 Juni 2013
1. Pendahuluan
Ada hal yang tidak mudah untuk dijawab ketika dipertanyakan apa yang membedakan Bakumpai
dibandingkan yang lain? Pertanyaan ini baru permulaan, belum lagi jika membahas
keistimewaannya. Sesungguhnya harus diakui kita kesulitan mencari sesuatu yang khas dari
Bakumpai, meski disadari bahwa tidak ada yang benar-benar khas, tetapi setidaknya mesti
ditemukan kekhasan tersebut. Pada tahap ini orang Bakumpai akan mengalami kebingungan
mencari identitas dirinya, karena tidak dari pakaian, bukan pula dari peninggalan materi. Salah
satu pintu untuk mendalami budaya Bakumpai adalah melalui bahasa. Kajian bahasa bukan
hanya dilihat dari sudut pandang kebahasaan belaka: linguistic atau sastra, tetapi dalam
antropologi salah satu dari tujuh unsur kebudayaan adalah bahasa. Bahasa merupakan
kebudayaan yang pertama dimiliki oleh setiap manusia dan bahasa itu berkembang karena akal
dan system pengetahuan manusia (Sibarani, 2004:9). Sehingga melalui bahasa pula, kita akan
mengetahui watak orang Bakumpai yang cenderung dilakukan tetapi tidak disadari
(unconscious).
Sebelum membahas lebih jauh, terlebih dahulu kita mengenal lebih dalam tentang asal usul
sukubangsa Bakumpai ini.

1. Siapa Bakumpai
Identitas Bakumpai dapat ditelusuri dengan melihat pendapat dari para ahli dan kajian mitos.
Suku-bangsa Dayak dibagi menjadi tujuh kelompok besar, yakni: (1) Dayak Ngaju, (2) Dayak
Apu Kayan, (3) Dayak Iban dan Heban atau Dayak Laut, (4) Dayak Klemantan atau Dayak
Darat; (5) Dayak Murut; (6) Dayak Punan, dan (7) Dayak Ot Danum. Masing-masing dari tujuh
bagian tersebut terbagi lagi dari puluhan hingga ratusan kelompok kecil suku-bangsa Dayak.
Khusus Dayak Ngaju pada kelompok pertama, terbagi lagi dalam 4 suku besar, yakni: Ngaju,
Ma’anyan, Lawangan dan Dusun. Masing-masing 4 besar Dayak Ngaju tersebut terbagi hingga
puluhan kelompok, adapun Dayak Bakumpai termasuk bagian dari Dayak Ngaju (Riwut, 1993).
Versi lain, suku-bangsa Dayak Bakumpai masuk dalam kategori kelompok ketujuh yakni Dayak
Ot Danum yang terbagi 68 suku kecil, di antaranya selain Bakumpai adalah Ngaju, Kapuas,
Kahayan, Katingan, Sampit, Seruyan (Riwut, 1993:267).

Tidak ditemukan alasan khusus dari Riwut mengenai perbedaan versi tentang posisi Bakumpai,
sebagai bagian dari dari Dayak Ngaju atau Dayak Ot Danum. Namun, melihat arti kata Ot
Danum dan Ngaju ternyata memiliki kesamaan makna. Ot Artinya Hulu; danumartinya air. Jadi,
Ot Danum artinya hulu air atau hulu sungai, menunjukkan orang yang tinggal di hulu Sungai
atau udik, sedangkan Ngaju berasal dari kata Bi-aju artinya; Bi = dari; aju = udik jadi Bi-aju
artinya dari Udik. Ngaju = Udik (Riwut, 1993:262). Ot Danum dan Ngaju memiliki kesamaan
makna ditinjau dari arti kata yakni berada di hulu Sungai. Mungkin Riwut secara tidak langsung
ingin menampakkan teritorial Dayak Ot Danum dan Ngaju berada di daerah Sungai. Inilah yang
menunjukkan posisi Bakumpai sebagai bagian dari suku-bangsa Dayak, dari kelompok Dayak
Ngaju atau pun Ot Danum.
Pendapat lain, suku-bangsa Bakumpai termasuk suku-bangsa Dayak, yang berasal dari salah satu
sub Kahayan, yang diduga dari suatu desa yang menyandang nama Bakumpai di hulu Sungai
Barito. Mereka menyebar ke selatan mendiami sepanjang Sungai Barito, berbelok ke Sungai
Kahayan dan Sungai Mentaya Sampit sampai ke Tumbang Samba (Kasongan), Kalimantan
Tengah (Maulani, 2000:141). Dari pendapat-pendapat di atas, terdapat perbedaan dalam
menguraikan silsilah suku-bangsa Bakumpai sebagai bagian dari suku-bangsa Dayak. Namun,
menunjukkan kesamaan bahwa Bakumpai bagian dari suku-bangsa Dayak dan tinggal di daerah
Sungai Barito.

Begitu pula berdasarkan mitos asal usul Bakumpai yakni kisah Patih Bahandang Balau dan
adiknya Datu Sadurung Malan,[1] menunjukkan terdapat hubungan saudara antara orang
Bakumpai dengan orang Dusun Biaju yang merupakan leluhurnya dari hulu Sungai Barito
(Ibrahim, dkk, 1979:98-99).
Justru sering menjadi persoalan klasik, orang Bakumpai muslim, tetapi Dayak. Permasalahan
bagi orang Bakumpai adalah untuk menempatkan diri sebagai Dayak sekaligus muslim, karena
sudah jadi kebiasaan sejak zaman penjajahan orang-orang Dayak yang beragama Islam dengan
resmi menyatakan diri sebagai orang Melayu, yang kemudian asal sukunya tidak pernah disebut-
sebut lagi, meskipun dalam batin mereka tetap mengakui bahwa mereka adalah suku Dayak
(Riwut, 1993:266). Orang Dayak yang memeluk Islam lebih mengidentifikasikan diri sebagai
Banjar, kasus yang tidak hanya menimpa orang Bakumpai saja juga Dayak Meratus, Dayak
Kenyah (Ibrahim, dkk. 1979; Riwut, 1993; Daud, 1997; Tsing, 1998; Maunati, 2004). Padahal
menurut H. Mursani dalam dalam Syair Orang Bakumpai: Itu merupakan siasat licik Bangsa
Belanda//Memisahkan rumpun Bakumpai dari rumpun asalnya//sebagai politik pemecah belah
adu domba//supaya tak ada persatuan dan kesatuan di antara kita (2009: 1-2)
Agama yang dianggap dekat dengan Dayak bukan agama Islam, agama Kristen yang justru
menentukan ciri khas Dayak saat ini. Orang Dayak masuk Kristen masih tetap diakui sebagai
Dayak, tetapi mereka yang menjadi Muslim tak lagi dianggap sebagai orang Dayak (Maunati,
2004: 86). Pernyataan ini melupakan fakta masa lalu, kenapa Islam lebih mudah masuk atau
diterima oleh orang Dayak dibanding Kristen. Kasus Dayak Lawangan dalam gerakan Nyuli
(kebangkitan dari Kematian) memperlihatkan hubungan animisme Dayak dan Melayu yang
identik dengan Islam.

[1] Selain mitos di atas, ada dua versi mitos lain tentang Datu Bahandang Balau. Versi pertama
daerah Bakumpai (Marabahan) sekarang pada zaman dulu didatangi sebuah perahu yang
terdiri dari satu keluarga berjumlah lima orang, dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan.
Ciri-ciri mereka berambut merah dan diduga berasal dari Spanyol, mereka inilah cikal bakal
orang Bakumpai (lihat, Sadzali, 2006). Versi kedua, asal usul orang Bakumpai berasal dari
seorang laki-laki yang juga keturunan Spanyol. Ia terdampar karena kapalnya karam di laut dan
akhirnya berada di Bakumpai (Marabahan), di situ ia sendirian dan diajarkan oleh orang gaib
bahasa Bakumpai. Ringkas cerita, lelaki Spanyol yang sendirian itu menemukan seorang
perempuan berambut lurus panjang bermata sipit keturunan Cina. Perempuan itu bernasib sama
yakni tersesat, karena sama-sama sendirian akhirnya mereka menikah dan melahirkan generasi
orang Bakumpai (Cerita ini diambil dari catatan tangan).
Kepercayaan animistiks Melayu dalam beberapa unsur mistik Islam memainkan perannya seperti
azimat. Obat jimat Melayu yang dikenal sebagai minyak bintang, yang mempunyai khasiat untuk
membangkitkan orang mati menjadi hidup kembali. Hubungan mistik ini mengarah kepada
kesamaan gerakan Nyuli yang terdapat banyak unsur-unsur kebiasaan Islam. Peng-Islam-an
sejumlah besar orang Dayak tidak begitu mengguncangkan. Lain halnya dengan Zending, agama
Kristen tidak mengakui kedudukan leluhur sebagai makhluk yang mempunyai kekuasaan.
Serapah roh dilarangnya. Dimintanya cara hidup yang lain dari yang dahulu. Pendeknya
dibawanya pada mereka dunia pikiran yang asing bagi mereka (Mallinckrodt, 1974:34).

Pembahasan apakah Islam atau bukan Islam sebagai agama orang Dayak akan membawa kepada
perdebatan yang panjang. Kedekatan suku-bangsa Dayak terhadap agama tertentu baik Islam,
Kristen, Hindu dan lain-lain, hendaknya tidak mengikutsertakan pandangan bahwa mereka
keluar dari identitas kedayakannya. Jadi, afiliasi agama itu saja masih tidak bisa membedakan
Dayak dan non-Dayak. Berpendapat bahwa Dayak adalah sebuah identitas religius berarti
mengabaikan karakteristik-karakteristik sosial dan politik yang sangat sentral dalam kajian
antropologis (Maunati, 2004:86).
Anggapan demikian terjadi karena kita melihat agama itu seakan melekat pada suku-bangsa
tertentu sehingga persoalan agama dan identitas ini rupanya terjadi juga dalam konteks global.
Misalnya untuk mengatakan “Kami orang Inggris” atau “Kami orang Prancis” menjadi persoalan
bagi orang Islam yang tinggal di sana. Apakah ada persoalan menyebutkan “Kami orang Inggris”
atau “Kami orang Prancis”? Seolah-olah berada pada satu tangan yang sama dan tangan lain
yang berbeda (Baudman, 1999:70). Dalam konteks lokal seperti kasus di atas terjadi pada
pandangan orang lain terhadap orang Dayak (Riwut, 1993; Daud, 1997). Sehingga oOrang
Bakumpai dalam kasus seperti ini berada di antara dua kutub tarik menarik.

Kedua versi ini agak sulit diterima walaupun dalam mitos apa saja bisa terjadi, pertama
keterbatasan kemampuan analisa penulis dan kalau memang nenek moyang Bakumpai keturunan
Spanyol atau Cina tentu orang Bakumpai menunjukkan warna kulit yang berbeda dengan orang
lain.

Dari gambar di atas posisi Bakumpai sesungguhnya berada di tengah, atau liminal. Ia menjadi
Dayak dikarenakan memang asal-usulnya demikian, di sisi lain Bakumpai cenderung menjadi
Banjar atau Melayu karena ia muslim. Ada rasa malu mengaku Dayak karena sering terjadi salah
faham bahwa Dayak identik dengan kepercayaan non-muslim. Kiranya atas kesadaran adanya
bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, pandangan demikian semakin lama
akan menjadi memudar. Hal lain, posisi Bakumpai yang berada di tengah, ia bisa menjadi
mediasi antara Banjar/Melayu dengan Dayak atau sebaliknya. Mediasi ini dapat terjadi karena:
(1) system perkawinan Bakumpai dilakukan secara bilateral sehingga muncul istilah bubuhan
hala apa dan bubuhan hala uma; (2) Kembali kepada budaya Bakumpai melalui bahasa tersebut.
Budaya dalam Bahasa Bakumpai
Hubungan bahasa dalam aktivitas sehari-hari tanpa disadari sangat erat hubungannya, termasuk
juga bahasa dan aktivitas orang Bakumpai. Bagian ini membahas tentang banyaknya istilah
Bakumpai yang membahas persoalan serupa:
1. Kepribadian
Kepribadian orang Bakumpai terlihat dari kegigihannya, sikap acuh tak acuh, dan memberikan
penilaian negatif. Kegigihan orang Bakumpai tercermin dari delapan istilah yang maknanya
sama, yakni dor, datar, nanar, samata, harait, sangkeker, ikau-ikau, eyei-eyei [2].Delapan kata
ini sebenarnya cenderung kepada penilaian atas kelakuan seseorang yang dilakukan secara terus
menerus, baik disenangi atau dibenci orang lain. Datar beh eyei hikau malandau (orang itu selalu
bangun kesiangan), bilang ikau-ikau beh lah ji duan mambanjur (kamu terus yang mendapatkan
ikan dari memancing).
Orang Bakumpai juga mengenal watak acuh tak acuh, yang boleh jadi ada kaitannya dengan
kegigihan seseorang (dor, datar, nanar dan lain-lain) dan sulit dicegah sehingga dibiarkan saja
dengan kata nehei ye, biarbeh, nauhei, langai ei, padu beh. Sehingga muncullah kalimat, padu
beheyei mawe gawi ei (biarkan saja dia melakukan pekerjaannya).
Puncak dari sikap acuh itu, menimbulkan interpretasi terhadap watak antagonis seseorang. Orang
Bakumpai kemudian memahaminya dalam istilah sombong, luntau, cakah, balecak. Penulis
beranggapan, orang Bakumpai mengambil istilah Banjar atau Melayu
untuk sombong dan cakah, tapi tidak menghilangkan istilah luntau dan balecak. Empat istilah ini
bagi penutur Bakumpai tidak digunakan sembarang, sebab menyangkut penilaian terhadap orang
lain. Tingkat tertinggi penilaian negative terhadap orang lain saya kira ada pada balecak, yakni
sudah sombong menjengkelkan pula.
Penyakit dan Pengobatan
Kelebihan orang Bakumpai lainnya adalah dalam memahami kondisi sakit yang dikenal dengan
istilah haban dan kapehe. Haban adalah sakit yang dirasakan seluruh anggota tubuh.
Contohnya haban yaku wa ai, dakawa hagerek kunge tuh (Saya sakit, kawan. Badan saya tidak
bisa digerakkan). Berbeda dengan istilah kapehe, sakit yang dirasakan bersifat local.
Misalnya paingku kapehe awi tambarusuk (Kaki saya sakit karena terperosok). Jika mengenal
sakit, berarti orang Bakumpai pun mengenal teknik pengobatan melalui media ramuan
tradisional, air dan angin.
[2] Boleh jadi lebih dari delapan kata. Terima kasih kepada Kanda Amir Mahmud dan kanda
Ibnu Sina atas masukan delapan kata ini.
Istilah i-ngasai dan i-wadak berarti mengoleskan ramuan tertentu pada bagian tubuh yang sakit,
sedangkan menggunakan pengobatan media angin dalam iniup, ihidu, merupakan pengobatan
dengan bacaan tertentu kemudian di tiupkan kepada bagian tubuh tertentu yang sakit. Berbeda
dengan inihun, dan i-nyambur menggunakan media air, yang terlebih dahulu dibacakan berbagai
ayat atau mantera ke air dan disemburkan melalui menggunakan mulut.
1. Aktivitas Keseharian
Bagian ini menegaskan aktivitas keseharian orang Bakumpai yang tidak terlepas dari kegiatan
menggunakan benda dan kemampuan penglihatan. Aktivitas menggunakan benda panjang
dikenal dengan istilah i-nantapis (ayunan horizontal) ,i-rujak (ayunan ke atas), i-numbuk dan i-
nepe (ayunan ke bawah). Aktivitas seperti i-numbuk, i-nepe biasanya dilakukan orang Bakumpai
dalam kegiatan mengolah tanaman purun untuk dibuat anyaman tikar kampil, atau membuat
tepung dari beras.
Orang Bakumpai juga mengenal aktivitas tali temali dalam berbagai istilah, i-makur, i-meteng,
in-jarat, i-huruk, im-babat. Kondisi alam berupa perairan sungai membuat transportasi pedesaan
umumnya menggunakan jukung, kelotok, membuat istilah i-huruk atau mengikat tali kelotok
menjadi popular, sedangkan i-makur umumnya untuk mengingat tali jukung agar tidak hanyut.
Pada kegiatan mengikat benda kecil biasanya menggunakan istilah i-meteng, in-jarat dan im-
babat.
2. Kemampun Menyelesaikan Masalah
Berbagai persoalan sehari-hari yang didapatkan orang Bakumpai dapat dapat diselesaikan
dengan berbagai cara. Pada benda berat, terutama ketika ingin memindahkannya dikenal dengan
istilah i-nunjul (didorong), im-baer (digeser sedikit demi sedikit), i-ngitar (digeser). Pada benda
kecil, tetapi dalam posisi sulit dikarenakan jarak maka dilakukan upaya i-nguir, i-ngais, yi-akis.
3. Kemampuan Mengamati
Orang Bakumpai pada dasarnya memiliki berbagai macam penggunaan indra penglihatan. Ma-
alang adalah upaya melihat dalam kegiatan sehari-hari, ma-nyatai, dilakukan untuk menegaskan
objek yang dilihat sepenuhnya. Apabila pandangan lebih focus kepada objek tertentu, maka
teknik yang dilakukan adalah ma-nangkilik.
4. Menggunakan Benda (tak) Terpakai
Dalam budaya material, sesungguhnya benda yang digunakan manusia memiliki sejarah sosial.
Posisi benda itu karena dipakai bisa berubah status, dari istimewa menjadi biasa saja, atau
sebaliknya dari biasa saja menjadi istimewa. Orang Bakumpai dalam menggunakan kain untuk
pakaian nyaris dimanfaatkan secara maksimal, bahkan sampai dalam kondisi sehancur-
hancurnya. Awalnya pakaian digunakan seperti biasanya, adakalanya digunakan pada waktu
tertentu dan moment istimewa saja. Lama kelamaan karena waktu dan sering dipakai, tentu
warna memudar dan ada bagian tertentu yang rusak baik robek atau jahitan lepas. Pakaian itupun
berubah status, dari moment tertentu menjadi pakaian sehari-hari atau digunakan untuk bekerja
ke sawah, ke hutan dan sebagainya yang dikenal dengan istilah tilasan. Apabila tilasan benar-
benar tidak terpakai lagi, maka status pakaian atau kain itu berubah menjadi sarubet[3] (kain
untuk membersihkan lantai) dan menjadi kupit

1. Makna Pengulangan
Dari berbagai contoh di atas, dapatlah dikatakan bahwa budaya Bakumpai kaya dalam
pengulangan kata. Menurut ahli linguistic inilah yang dinamakan Lexicalizations Of
Concepts(leksikon yang ada [diadakan oleh budaya tertentu] untuk menjelaskan, mendefinisikan,
membedakan konsep), misalnya orang Banjar banyak berisi istilah yang berkenaan dengan
“banyu”, karena budaya Banjar lekat dengan air. Bangsa Arab, kaya dengan istilah tentang
korma; eskimo kaya dengan istilah salju (Effendi, 2012)[4]. Boleh jadi istilah di atas sulit
ditemukan padanan katanya, sehingga diperlukan penjelasan panjang lebar. Hal yang terpenting
tentunya untuk manfaat paparan di atas, sebagai berikut:
Pertama, boleh jadi istilah Bakumpai di atas mulai asing dalam pendengaran kita, bahkan ada
yang tidak tahu. Serta (ini yang saya harapkan) tidak menutup kemungkinan ada tambahan lain
dari para pembaca guna menambah kekayaan budaya Bakumpai. Kedua, pengaruh bahasa Banjar
memang tidak bisa dihindarkan, tapi dalam bahasa memberi pengertian tersendiri dalam istilah
itu dan tidak meninggalkan istilah yang ada. Ketiga, kekayaan bahasa itu saya anggap semacam
software atau program dalam komputer dalam otak kita. Pada anak kecil, semakin banyak anak
Indonesia memiliki kemampuan berbahasa lokal, semakin unggul pula kecerdasannya (Sobri,
2012). Di dunia pendidikan, bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan identifikasi
dan klasifikasi sering dialami mahasiswa ketika menulis skripsi.
Keempat, kajian ini merupakan awal diskusi dengan harapan akan lebib berkembang lagi.
Menurut Abdullah (2006:105) faktor penting dalam pembentukan kebudayaan dan identitas
kebudayaan, bahasa daerah sangat perlu diidentifikasi dan dikaji secara lebih mendalam, khusus
terkait dengan pengembangannya.
Penutup
Budaya Bakumpai dapat dilihat dari bahasa Bakumpai itu sendiri, adanya tulisan ini diharapkan
mampu menggelorakan rasa cinta dan bangga sebagai anak manusia yang secara kebetulan
terlahir sebagai orang Bakumpai dan kiranya menjadi sumbangan bagi nilai-nilai kemanusiaan
yang universal, yakni manfaatnya bisa dirasakan bagi siapapun.

[3] Saya berterima kasih kepada ibu Hj. Nurmila yang mengingatkan kupit dan sarubet dalam
pembicaraan di rumah Bundar, 16/6/2013
[4] Dikutip dari diskusi di jejaring sosial 4 Januari 2011.
Biodata Nasrullah.
Staf pengajar program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FKIP Unlam.
Menyelesaikan pendidikan S2 di Antropologi UGM dengan judul tesis Ngaju, Ngawa,
Ngambu, Liwa (Analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap Konsep Ruang dalam
Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Tahun 2010, menjadi anggota tim
peneliti Warisan Teknologi Kampung Masyarakat Dayak Kalimantan Timur”. Saat ini
sedang merampung penelitian terbaru adalah Denah Rumah Banjar: Analisis Simbol
Berdasarkan Masyarakat Penggunanya di Kabupaten Banjar. Serta menulis buku
biografi seniman Banjar, Anang Ardiansyah. Dapat dihubungi pada nomor 081349596929

prosesi pernikah adat dayak bakumpai di desa muara tuhup kabupaten


murung raya

MAKALAH
Prosesi Pernikahan Adat Dayak Bakumpai Desa Muara Tuhup
Kelurahan Muara Tuhup Kabupaten Murung Raya
Disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah : Hukum Adat
Dosen pengampu:
DI SUSUN OLEH:

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGARAYA


FAKULTAS AGAMA ISLAM
PRODI SYARIAH
PALANGKA RAYA
2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN
Kata Pengantar
Alhamdulillah, puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kami sehingga penulisan makalah
yang berjudul “Prosesi Pernikahan Adat Dayak Bakumpai Desa Muara Tuhup
Kelurahan Muara Tuhup Kabupaten Murung Raya” ini dapat terselesaikan.
Selanjutnya,ucapan terima kasih dan penghargaan kami berikan kepada
semua pihak atas bimbingannya dalam mengarahkan kami sehingga kami bisa
memahami lebih jauh mengenai Hukum Adat.
Kami menyadari berbagai kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang
ada, sehingga tetap terbuka kemungkinan terjadi kekeliruan dan kekurangan dalam
penulisan makalah kami. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami
mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari para pembaca
terutama dari Dosen Mata Kuliah Hukum Adat, yang tentunya lebih menguasai
ilmu-ilmu di bidangnya, dalam rangka penyempurnaan makalah kami.
Wassalam

Penyusun

Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami
sebagai penulis memohon ma’af atas segala kekurangan dan terima kasih atas
perhatiannya.

BAB II
PEMBAHASAN
Kebudayaan adalah totalitas latar belakang sistem nilai, lembaga dan
perilaku hidup serta perwujudannya yang khas pada suatu masyarakat. Itu
merupakan seluruh gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi
kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan
masyarakat. Kebudayaan sekaligus menjadi identitas masyarakat yang
bersangkutan sehingga dalam kenyataannya tidak ada dua masyarakat yang
kebudayaannya seluruhnya sama. Melihat demikian beragamnya kebudayaan,
seperti beragamnya lingkungan, maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan itu
merupakan suatu respon terhadap lingkungan sekitar. Baik lingkungan manusia
maupun lingkungan alam. Respon itu tidak akan sama dari suatu masyarakat ke
masyarakat lain, karena manusia mempunyai kemampuan kreatif.
Begitu juga dengan masyarakat Dayak Bakumpai, banyak sekali budaya
serta adat yang sampai sekarang oleh sebagian orang masih dipertahankan dan
dilakukan. Dengan tujuan untuk mempertahankan adat, juga sebagian orang ada
yang berpendapat apabila tidak dilakukan takut terjadi hal-hal yang mungkin tidak
diinginkan, dan berharap akan ada berkah apabila melaksanakannya. Upacara adat
ini erat kaitannya dengan suatu doa atau amalan, mantra dan isim yang konon
berguna atau bermanfaat untuk mewujudkan tujuan seseorang yang
mengamalkannya. Demikian juga halnya dengan upacara adat perkawinan.
Perkawinan adat dayak bakumpai dipengaruhi oleh unsur dalam agama
Islam, dan merupakan silang budaya antara kebudayaan adat Bakumpai dan adat
Dayak. Dalam perkawinan Adat dayak bakumpai nampak jelas begitu besar
penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran
Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan
kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan
semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak
dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai
wanita.
Adapun untuk Urutan proses pernikahan suku Dayak Bakumpai/Bakumpai
pada umumnya terjadi dalam beberapa tahapan di kalangan keluarga calon
pengantin adalah sebagai berikut:
1. Basuluh/Meminang
Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan,
tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga.
Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan, atau yang sering
dikatakan orang dinilai “bibit-bebet-bobot”nya terlebih dahulu. Setelah ditemukan
calon yang tepat segera dicari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang
menyunting atau belum.
2. Baensekan atau Melamar.
Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka
dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat
lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis. Jika
lamaran tersebut diterima maka kedua pihak kemudian berembuk tentang hari
pertemuan selanjutnya yaitu Baatur Jujuran.
3. Baatur Jujuran atau membicarakan masalah Mahar/Maskawin
Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah
kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha
agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan
pihak lelaki. Untuk dapat menghadapi utusan dari pihak keluarga lelaki, terutama
dalam hal bersilat lidah, maka pihak keluarga sang gadis itu pun meminta kepada
keluarga atau tetangga dan kenalan lainnya, yang juga memang ahli dalam bertutur
kata dan bersilat lidah. Jika sudah tercapai kesepakatan tentang masalah kawin
tersebut. Maka kemudian ditentukan pula pertemuan selanjutnya yaitu Maanter
Jujuran.
4. Maanter Jujuran atau membawa Mahar/Maskawin
Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang
maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan
dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu,
baik dari keluarga maupun tetangga. Apabila acara Maanter Jujuran ini telah selesai
maka kemudian dibicarakan lagi tentang hari pernikahan dan perkawinan.
5. Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6. kakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan
persiapan, antara lain:
a. Bapingit dan Bakasai.
Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan
perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk
menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit). Dalam keadaan Bapingit ini
biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan
tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka
bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.
b. Batimuh.
Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah
banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya
pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian
pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut
Batimuh. Setelah Batimuh badan calon pengantin menjadi harum karena
mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimuh tadi.

c. Bapapai.
Ritual Bapapai, adalah sebuah acara mandi kembang calon pengantin
yang dilaksanakan pada malam hari, biasanya setelah akad nikah sekitar
pukul 20.00 hingga pukul 22.00 Wib. Sudah suatu kebiasaannya warga suku
yang banyak tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, pedalaman
Kalteng melakukan acara akad nikah pada malam hari. Proses mandi
kembang cukup sederhana dan unik, yaitu sebelum mandi kembang,
kedua calon pengantin harus berputar mengelilingi tempat mandi yang
dipagari benang hitam, diiringi oleh tujuh orang wanita yang berperan
sebagai dayang.
Kemudian setelah berputar sebanyak tujuh kali calon pengantin duduk
di tempat yang telah disediakan untuk dimandikan oleh tujuh orang dayang
secara bergantian. Untuk kemudian kedua mempelai didandani layaknya
para dayang yang melayani raja dan ratu.
Adat budaya Bapapai suku Bakumpai ini diartikan mempelai
membersihkan dan membuang masa lalu atau masa remaja, untuk
kemudian bersiap dengan jiwa raga yang bersih menyongsong hari depan
yang lebih bersih seperti layaknya seorang yang baru saja dimandikan.
Dikarenakan acara Bapapai ini dilakukan harus di lapangan terbuka
maka acara ini menjadi tontonan gratis bagi masyarakat setempat dan
biasanya cukup ramai dikunjungi warga, karena acara ini hanya
terselenggaran saat perayaan perkawinan saja.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang
perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan
Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak
melewati bulan purnama.
Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman
mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam
hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk
memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai,
mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja ije
andau (raja satu hari).
Proses-proses yang dilakukan sebelum bersanding (batatai-
red:bakumpai) pengantin, yaitu:
1. Balik Hejan atau Menurunakan Pangantin Laki-Laki, Upacara akan dimulai saat
pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah
mempelai wanita. Proses ini memang terlihat mudah, tetapi sering pada acara
inilah terjadi hal-hal yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh
acara perkawinan. Di masa lalu, tidak jarang laki-laki saingan yang gagal
memperoleh hati wanita yang akan segera menikah melakukan segala cara untuk
menggagalkan pernikahan yang akan segera berlangsung. Mereka berusaha
menggagalkan dengan cara halus (gaib) terutama saat ijab kabul tiba. Mempelai
laki-laki akan muntah-muntah dan sakit, ada juga yang tidak dapat menggerakkan
kakinya untuk melangkah padahal rumah wanitanya sudah di depan mata. Untuk
mengantipasi hal ini biasanya para tetuha keluarga memberikan pahatadengan
doa-doa khusus. Selain itu saat kaki calon pengantin laki-laki melangkah pertama
kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi behas bahenda (beraskuning).
2. Maarak. Acara ini di laksanakan beramai-ramai, yang di arak adalah Pengantin Laki-
laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak
menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat
sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di
depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan.
Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuntau, Lawang Sakaping. Pengantin Pria berada
pada barisan paling depan dengan di payungi oleh salah satu dari muhrimnya. Pada
saat berjalan menuju rumah pengantin wanita, para rombongan biasanya berhenti
beberapa kali yang selanjutnya pengantin pria berbalik arah menghadap ke barisan
belakang, kemudian salah satu dari rombongan barisan belakang yang mengiringi
pengantin pria mendendangkan syair-syair, pantun-pantun jenaka, untuk
memeriahkan penonton dan para warga yang dilewati pengantin pria. Hal ini
dilakukan beberapa kali dalam setiap jarak jalan yang di tempuh oleh pengantin
pria hingga sampai ketempat pengantin wanita yang sudah siap menunggu
datangnya pengantin pria beserta rombogan yang mengiringinya
3. Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan
dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang
hadir. Adapun para rombongan yang ikut mengantar pengantin pria di suguhkan
dengan hidangan oleh pihak mempelai wanita sedangkan Para penonton di hibur
dengan berbagai kesenian olah vocal seperti: kesenian Krungut, bajapin. Tapi pada
saat ini, hiburan itu mengalami kemerosotan. Tidak lagi seperti dahulu, digantikan
dengan orkes dangdut yang di laksanakan pada malam hari. Hal ini disebabkan oleh
faktor SDMnya yang sulit untuk didapatkan bisa dalam hal tersebut sehingga
dikalahkan oleh perkembangan jaman(orkes dangdut)
Begitulah proses upacara perkawinan yang dilakukan oleh suku Bakumpai
pada masa lalu. Namun pada era globalsasi saat ini tata cara perkawinan tersebut
sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat khususnya masyarakat Bakumpai. Hal
ini disebabkan oleh perkembangan zaman, yang otomatis dianggap tidak sesuai lagi
dengan budaya-budaya leluhur seperti contohnya upacara perkawinan tersebut.
Dan juga dianggap terlalu bertele-tele. Hal ini tentu sangat menyedihkan bagi kita,
budaya leluhur yang diajarkan secara turun temurun malah dengan mudahnya kita
tinggalkan tanpa ada upaya untuk melestarikannya. Maksudnya ada bagian
tertentu yang tidak dilaksanakan lagi karena dianggap sudah tidak sesuai.
Pada masa sekarang dalam hal mencari calon isteri tidak lagi pengaruh orang
tua berperan penting, sekarang anak muda dalam hal mencari jodoh ditempuh
dengan cara pacaran seperti yang telah dikemukakan di bagian awal tadi.
Untuk itu peran pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan untuk
melestarikan kebudayaan yang kita miliki ini. Negara kita terkenal karena
kebudayaannya yang unik untuk itu kita sebagai generasi penerus haruslah
melestarikan kebudayaan yang kita miliki.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa :
1. Suku dayak bakumpai/ Bakumpai merupakan sub etnis dayak Kalimantan Tengah
2. Dalam proses pernikahannya banyak di pengaruhi oleh ajaran agama islam.
3. Adapun urutan proses-proses yang hendaknya di lalui oleh calon pasangan
pengantin:
1. Basuluh
2. Baensekan/ mainsek
3. Baatur jujuran
4. Maanter jujuran
5. Nikah
6. Kakawinan
a. Bapingit dan bakasai
b. Batimuh
c. Bapapai
d. Perkawinan (pelaksanaan pernikahan / Walimatul ‘Ursy)
4. Adapun acara yang wajib dilalui pada saat mempelai pria mendatangi rumah
wanita pada saat pernikahan antara lain:
a. Balik hejan
b. Maarak
c. Batatai

Wara, upacara sakral Dayak Dusun


Masyarakat Dayak Dusun di Kalimantan Tengah memiliki upacara adat yang sangat sakral.
Upacara tersebut dinamakan wara. Upacara sakral ini mirip dengan upacara ngaben yang biasa dilakukan
masyarakat Hindu di Bali. Upacara ini bagi penganut agama Hindu Keharingan di Kalimantan Tengah
merupakan salah satu dari sekian banyak upacara adat yang memiliki nilai ritual dan sakral yang sangat
tinggi, khusus yang ditemui dalam upacara adat kematian.
Masyarakat Dayak membedakan manusia dalam tiga dimensi siklus, yaitu manusia sebelum lahir,
manusia setelah lahir yang dinamakan alam kehidupan (dunia) dan manusia setelah kehidupan (alam
surga atau syurga loka). Siklus ini selalu ditandai dengan berbagai upacara adat yang berurutan sejak
seorang manusia masih dalam kandungan hingga setelah meninggal dunia.Menurut kepercayaan
masyarakat Dayak yang memeluk kepercayaan Keharingan upacara ini memiliki nilai ritual tertinggi
dibandingkan dengan upacara adat sebelumnya. Dalam upacara ini, roh yang sebelumnya menunggu di
Gunung Lumut salah satu tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat Dayak di pedalaman sungai Tewei
(Teweh) dipanggil kembali untuk menerima sesajen dan pensucian sebelum dihantar ke syurga loka
(tempat suci).
Upacara adat wara adalah upacara adat kematian yang dilakukan oleh masyarakat Kaharingan
untuk mengantarkan arwah leluhur ke tempat paling akhir yang disebut lewu tatau (surga) . Wara
merupakan ritual upacara dalam rangka membagikan bagian harta benda kepada arwah kakek, nenek atau
orangtua atau saudara dari keluarga – keluarga penyelenggara upacara wara yang telah meninggal satu
atau dua tahun yang lalu. Pembagian harta benda tersebut dilambangkan dalam bentuk sesajen berupa
makanan dan minuman sesuai makanan kebiasaan arwah orang yang diupacarai tersebut. Upacara Wara
biasanya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Upacara Wara dipimpin oleh Wadian Wara yang berperan sebagai penghubung antara manusia
dengan arwah . Wadian Wara dibantu oleh pelayan-pelayannya yang disebut Pangading. Mereka
melakukan upacara demi upacara, misalnya ; makan diau (memberi makan arwah), dan nutui lalan diau
nuju gunung lumut (mengantar arwah dalam perjalanan ke surga).
Prosesi hari pertama adalah ngamaner wara artinya menyerahkan segala sesuatu yang
berhubungan dengan roh yang diupacarai kepada wadian wara.
Proses pada hari kedua sampai hari ke tiga adalah keluarga penyelenggara menerima tamu baik
dari desa sendiri maupun dari desa sekelilingnya, yakni tokoh-tokoh masyarakat.
Hari keempat acara Babea-Babebe yakni acara membuat ansak berupa anyaman bambu
sedemikian rupa sebanyak arwah yang diupacarai wara, untuk tempat sesaji.
Hari kelima adalah acara newek karewau atau penusukan kerbau (acara adu berani menikam
kerbau) yang merupakan klimaks dari rentetan upacara ini. Penusukan kerbau dilakukan oleh petugas dari
keluarga–keluarga yang diupacarai dengan ditusuk menggunakan lading atau badik atau pisau lancip
sedangkan kerbaunya diikat pada Pantogor yakni patung arwah yang diupacarai yang terbuat dari kayu
ulin setinggi lebih kurang 3 meter yang ditancap di tanah lapang. Begitu menariknya upacara adat ini,
biasanya yang datang bukan lagi dari lingkungan satu desa atau desa tetangga. Tak jarang ada pula
penduduk dari kabupaten lain yang mengirimkan wakilnya untuk ikut adu keberanian menikam kerbau.
Acara ini mirip dengan matador di Spanyol. Hanya bedanya melawan kerbau, bukan Banteng.
Menurut ketentuan adat, setiap peserta yang mengalami cedera atau korban jiwa dalam pertarungan ini
tidak dapat menuntut jaminan kecuali sebuah piring porselen putih.
Biasanya peserta yang tampil di gelanggang adalah orang pilihan atau yang memiliki kelebihan
tertentu. Oleh karena itu sangat jarang ada kasus korban jiwa dalam pertarungan melawan kerbau ini.
Selesai pembunuhan kerbau dilanjutkan dengan memasak dan makan bersama tamu undangan.
Sesaji yang telah ditaruh di atas ansak seperti yang disebut diatas dan harta benda lainnya diantar ke
kuburan oleh masing-masing keluarga pada hari keenam. Pekuburan tempat bersemayamnya tulang-
belulang nenek moyang kaum keluarga warga Dayak Dusun Kalahien disebut Si’at yang rata-rata diberi
atap dengan 4 tiang penyangga dan diakhiri dengan pelepasan salimbat (rakit bambu) yang melukiskan
kepergian roh menuju Lewu Tatau (Surga) pada hari ketujuh.
Upacara Wara dari hari pertama sampai hari kelima biasanya diiringi dengan ritual main judi dan
sabung ayam ala Liau (roh yang telah meninggal) antara manusia dengan Roh yang telah meninggal, serta
permainan Tinak Santukep. Perlambangannya adalah agar roh mendapatkan kemakmuran di Lewu Tatau
(surga)
Upacara adat ini merupakan aset budaya Dayak di Kalimantan Tengah dan merupakan salah satu
dari sekian banyak upacara adat yang sangat menarik dan perlu dilestarikan. Sayangnya, kendati tidak
kalah menariknya dengan ngaben di Bali atau upacara serupa di Tana Toraja, upacara adat ini merupakan
aset wisata yang masih terpendam di Kalimantan Tengah.

Dayak Bakumpai dalam Tradisi Tuping


bawayang/Mayang Digantung
Dayak Bakumpai dalam Tradisi Tuping bawayang/Mayang Digantung
Orang Halus Diundang.
Oleh: Maksum Asrorudin
Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran

Upacara Ritual Tuping Bawang atau Mayang Digantung Orang Halus Diundang

Pendahuluan

Sebelum datang agama Islam khususnya masyarakat Dayak Bakumpai belum mengenal
adanya seluk beluk ajaran agama Islam, tapi mereka juga sudah mempercayai adanya kekuatan yang
besar atau yang sering disebut kekuatan yang berbau mistik. Agama mereka sebelum datang Islam
yaitu animisme atau kapitayan (mempercayai roh-roh halus atau mempercayai hal-hal yang gaib). Dari
sini mereka melahirkan adat atau tradisi mereka yang sering dilakukan pada 10 tahun sekali. Ketika
Islam melihat keadaan yang ada pada masyarakt Dayak Bakumpai yang belum tesentuh sama sekali
sama oleh ajaran agama Islam, kemudian Islam mulai mentuh masyerakat Dayak Bakumpai. Melihat
kenyataan-kenyataan itu masyarakat Dayak Bakumpai bahwa Islam datang dengan cara damai tanpa
kekerasan militer atau dukungan pemerintah dan tidak merusak adad yang sudah ada pada adat
mereka sehingga mereka memeluk agama Islam.

Tadak adanya penentuan awal kedatangan Islam kurang begitu signifikan lantaran orang-
orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah. pertama tidak berlandaskan apa pun, selain tidak
mempunyai rasa tangggung jawab untuk melakukan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama-nama
mereka hilang begitu saja tertelan sejarah. Penentuan awal datangnya Islam dapat dikategorikan ke
dalam dua persepektif. Pertama, pandangan yang mengasumsikan awal datangnya Islam pada abad
ke-7 H/13 M. Kedua, pandangan yang menganut abad pertama Hijriah. Beberapa tesis berikut
menggambarkan perbedaan pandangan tersebut.
Islamisasi adalah suatu proses yang berlangsung terus hingga saat ini. Jangan dianggap bahwa
begitu suatu daerah diketahui mempunyai seorang penguasa muslim maka proses islamisasi sudah
selesai. Hal itu sangat mungkin, lebih melambangkan awal daripada akhir islamisasi di kalangan rakyat.
Proses Islamisasi menjadi suatu proses yang sangat penting bagi sejarah Islam di Indonesia dan sangat
menyulikan para sejarawan. Sedangakan para sajarawan sendiri tidak bisa menjelaskan pertanyaan
kapan Islam datang.

Pada saat itulah Islam mulai kelihatan di masyarakat Dayak Bakumpai, yang pada akhirnya mereka
menekuni ajaran-ajaran yang disamapaikan oleh para pendakwah pada saat itu, yang di dalam
makalah ini akan dijelaskan pertama sebab masyarakat Dayak Bakumpai memeluk agama Islam,
karakter masyarakat Dayak Bakumpai, tradisi sebelum datangnya Islam dan sesudah datangnya Islam
yaitu tradisi tuping bawayang atau mayang digantung orang halus diundang.

Karakter Masyarakat Dayak Bakumpai

Pada intinya masyrakat Dayak Bakumpai juga memiliki watak yang hampir sama dengan
masyarakat Jawa atau dengan masyarakat lainnya. Pada dasarnya merke juga baik dalam semua segi yang
mereka lakukan, baik dari segi pergaualan, segi keseharian mereka, dan masih banyak lainnya dan tidak
kalah baiknya dengan masyarakat Jawa maupun yang lainnya.

Mereka juga memili watak yang amat keras dan mengariakan, mereka gak akan menganggu satu
sama yang lainnya kalau mereka tidak diganggu. Apabila meraka sudah merasa diganggu maka mereka
membalasnya dengan segala cara, begitu juaga sebaliknya.

Meraka juga mau diajak kerja sama dalam segala hal, baik dari segi pribadi maupun yang bergotong
royong. Meraka bisa dikendalikan dengan berbagi macam cara, yaitu cara salah satunya diajak kerja sama.
Misal, merka diajak bekerja sama untuk membikin rumah, menanam padi, dan hajatan sekaligus. Watak
yang seperti ini tidak hanya dimiliki masyarakat Jawa maupun masyarakat lainnya, tetapi mereka juga
memiliki watak yang sama. Yang pada intinya karakter masyarakat Dayak Bakumpai pada dasarnya sama
hanya saja ada beberapa yang membedakan diri mereka yaitu yang sudah disebutkan diatas.

Sebab Masyarakat Dayak Bakumpai Memeluk Agama Islam

Pada dasarnya ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam hampir sama atau juga bisa disebut
sama dengan apa yang meraka amalkan dalam beribadah hanya ada beberapa yang tidak sama.
Kesamaan yang ada didalamnya ialah tentang ajaran ketauhidan yang tinggi kepada yang Agun
(Tunah). Ketauhidan masyakat Dayak Bakumpai yaitu terkenal dengan mististiknya sedangkan didalam
Islam terkenal dengan tasawufnya. Pada intinya keduanya sama dalam segi intuisinya (kandungan),
hanya saja dalam pelaksanaannya yang berbeda.

Ada juga perbedaan tingkah laku keseharian mereka yang kadan belum bisa dipahami oleh
para pendakwah ajaran agama Islam. Yaitu, yang diajdikan kiblat mereka ketika melakukan upacara
adat mereka sering mengunakan benda-benda disekliling mereka, ketika didaerah tersebut terdapat
pohon yang amat berar itulah kiblat mereka, ketiaka ada batu yang besar itulah kiblat mereka, dan lain
sebagainya. Inilah yang menjadiakan semangat para pendakwah untuk melakukan dakwahnya
didaerah tersebut.

Pada dasarnya Islam itu sendiri adalah agama yang universal, sempurna, lentur, elastis dan selalu
dapat menyesukai dengan situasi dan kondisi. Universal yakni risalah Islam ditunjukan untuk, semua umat,
segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat (al-Islam salih li kuli zaman wa makan).
Atau universalisme Islam merupakan suatu ajaran yang diterima oaleh seluruh umat Islam sebagai akidah.
Sedangkan ajaran Islam mengenai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan terwujud secara
subsantial, tampa menekan simbol ritual dan tekstual. Para pendakwah muali mengajarkan ajaran-
ajaran agama Islam dengan memahami keadaan masyarakat setempat. Mereka tidak sekaigus satu kali
mengajarkan tetapi melalu beberapa tahap, dari yang paling mudah dipahami hingga samapai kepada
tingkat yang lebih tinggi.

Dengan seiring waktu berjalan para masyarakat Dayak Bakumpai mulai memeluk agama Islam,
karena bagi mereka agma islam merupakan agam yang pernah mereka jumpai yang bisa mengerti
keadaan setempat atau bisa mengajarkan agama tanpa satu kekerasan sedikitpun. Dari sisnilah mereka
kagum dengan datangnya agama Islam yang bisa merubah kepribadian merekan dan bisa
memberikan suatu pemahan tampa harus mengilangkan tradisi-tradisi mereka yang terdahulu.

Bahan Utama yang Digunakan Untuk Ritual: Bungga Pohon Pinang

Tradisi Masyarakat Dayak Bakumpai Sebelum Islam

Dalam tradisi yang disebut dengan tradisi tuping bawayang atau mayang digantung orang halus
diundang. Tadisi ini pada dulunya hanyalah sebuah tradisi yang tanpa memiliki makna khusus, yang
dualunya hanya untuk memangil makhluk halus tanpa ada tujuan tertentu. Misalanya mereka hanya ini
berinteraksi dengan makhluk lain atau mereka hanya ini merasakan bersatuanya dengan mereka. Mereka
pun tidak menyadari bahwa yang merekan lakukan itu adalah melahirkan tradisi tanpa mereka sengaja.

Tradisi ini meliabatkan seorang yang sudah diangap masyakat setempat segai panutan dalam
setiap lanhakah mereka, penentu tindakan mereka. Pemimpin inilah yang memimpin acara tersebut yang
diikiti oleh semua masyarakat setempat. Pemimpin acara tersebut dengan memegang mayang dan
mengucapkan mantra-mantara yang sudah sering diabca pada acara tersebut. Mayarakat saling
berpegangan agar terliaht salinh berhubungan atara satu denagan yang lain, ini mengambarkan bahwa
manusia itu mempunyai satu tujuan dan bisa salaing mengerti satu sama yang lainnya.

Upacara ini diperlukan media khusus yang menghubungkan dengan orang halus. Salah satu media
itu adalah mayang yang diambil dari pohon pinang:

1. Mayang digantung dengan ketinggian sekitar 2 meter pada sore hari. Upacara Tuping
Bawayang dilakukan malam hari.

2. Upacara dimulai dengan batatabur (mengundang makhluk halus) baik yang tinggal di pegunungan,
sungai, taluk dan tanjung.

3. Salah satu tokoh orang halus yang diundang adalah Semar Sakti, kepadanya diminta untuk mengundang
yang lain apabila nama mereka tidak disebutkan.

Didalam melakukan tradisi ini terkadang mereka meraskan hal yang amat berbeda ketiaka orang
halus suadah datang. Yaitu, merasakan hawa panas yang menyenagta didalam jiwa mereka. Mereka juga
biala lupa tanpa batas ketika mereka sudah bersatu dengan orang halus seakan-akan yaitu diri mereka
sendiri. Tradisi ini semakin berwarna dan bermakana dialamnya ketika Islam bersentuhan di dalamnya.
Buakan berarti mereka hanya mencari kesenagan belaka melaikan bisa dijadikan tradisi tiap tahunnya
atau juga bisa diakukan kapan saja tanpa harus menungu bertahun-tahun.

Tradisi ini muncul sebelum Islam datang, ketiaka Islam datang tatanan tardisi tersebut tidak
berubah sama sekai hanya saja inti yang mengandung ajaran agama Islam dan ada berapa ucapan yang
berbau Islam yang sebelumnya belum ada di dalamnya. Tradisi mereka bisa digambarkan manusia sebagai
tradisi sedang agama Islam sebagi udara, manusia tanpa udara takakan bisa hidup, begitu juga udara
tanpa manusia hanya terombang ambing kesana kemari yang tak jelas. Ketiaka manusia dan udara sudah
bersatu mereka bisa merasakan apapun yang ada disekliling mereka.
Cahaya ini Sebagai Isarat Bahwa akan ada yang kesurupan

Tradisi Masyarakat Dayak Bakumpai sesudah Islam

Upacara ini diperlukan media khusus yang menghubungkan dengan orang halus. Salah satu media
itu adalah mayang yang diambil dari pohon pinang, ini pun masih sama seperti tradisi tedahulu yaitu
sebagi berikut:

1. Mayang digantung dengan ketinggian sekitar 2 meter pada sore hari. Upacara Tuping
Bawayang dilakukan malam hari.

2. Upacara dimulai dengan batatabur (mengundang makhluk halus) baik yang tinggal di pegunungan,
sungai, taluk dan tanjung.

3. Salah satu tokoh orang halus yang diundang adalah Semar Sakti, kepadanya diminta untuk mengundang
yang lain apabila nama mereka tidak disebutkan.

Tradisi ini meliabatkan seorang yang sudah diangap masyakat setempat segai panutan dalam
setiap lanhakah mereka, penentu tindakan mereka. Pemimpin inilah yang memimpin acara tersebut yang
diikiti oleh semua masyarakat setempat. Pemimpin acara tersebut dengan memegang mayang dan
mengucapkan mantra-mantara yang sudah sering diabca pada acara tersebut. Mayarakat saling
berpegangan agar terliaht salinh berhubungan atara satu denagan yang lain, ini mengambarkan bahwa
manusia itu mempunyai satu tujuan dan bisa salaing mengerti satu sama yang lainnya ini juga masih sama
seperti awlanya.
Tradisi ini yang sudah terisis oleh ajaran agama Islam ini dijadiakan untuk sarana pengobatan
tradisioanal. Mantra-mantra yang diucapak sebagai berkut yang langsung dipimpin oleh Batola. H. Idrus,
ia merpakan orang terdepan di masyarakat sekitar sehingga tidak jelas asal usulnya, yang masyarakat tau
ini masih keturunan nenek moyang mereka yang dulunya memimpin acara ini, dan ketika sudah siap
pemimpin acara badewa sekaligus memimpin tuping bawayang, membaca mantrabatatabur:...... :

Assalamu alaikum abu basar...................................................................................................


Assalamu alaikum abu basir....................................................................................................
Assalamu alaikum alias............................................................................................................
Assalamu alaikum alyasa.........................................................................................................
Assalamu alaikum bandar saleh...............................................................................................

Tokoh ini mengaku kesulitan membacakan keseluruhan mantra batatabur,kecuali saat upacara
dilakukan dan dalam waktu kurang lebih setengah jam. Ia memaparkan mayang itulah tempat orang halus
yang diundang berdiam diri. Selesai upacara batatabur. Ketika sudah selasai mengucapkan mantra
tersebut maka merka bisa menyakan sesuatu kepada yang kerasukan. Ketika sudah ada yang kesurupan
kita dapat mengetahui, yaitu:

1. Masyarakat dapat menanyakan penyakit yang diderita kepada mereka yang bergantungan di mayang.

2. Bagi yang kerasukan dapat menyebutkan penyakit yang diderita warga.

3. Dari situlah diketahui berbagai macam penyakit dan cara menghilangkan dengan perantaraan seorang
yang mengobati dalam badewa disebut tabit.

Dari sini biasa dilihat bahwa Islam memilki pengaruh terhadap tradisi mereka yang awalnya hanya tradisi
yang biasa menjadi luar biyasa. Yaitu tradisi ini bisa dijadikan pengobatan tradisional tampa harus
kedokter. Di dalam tradisi ini melibatkan satu tradisi yang disebut dengan Gantung Sarindit. Ada yang
perlu diketahui Bagi peserta badewaterutama yaitu: pertama, dapat mengalami keadaan gantung
sarindit, yakni kepala ke bawah dan kaki ke atas yang menempel di mayang. Kedua, Dalam keadaan
demikian, tubuhnya berputar kencang. Hanya sedikit orang yang mengalami posisi gantung sarindit dan
biasanya berdampak baik, memiliki kemampuan mengobati orang lain. Gantung sarindit sendiri dapat
bermakna lain.yaitu;

 Biasanya orang yang kena guna-guna dengan cara fotonya digantung sehingga mengalami sakit gila. Oleh
H. Idrus atau sehari-hari dipanggil Pa Rudi, ada delapan macam sakit gila. Dalam badewa, pengobatan
penyakit gila dari nomor satu dan tujuh dapat diupayakan, tapi tidak untuk sakit gila atau penyakit hati
nomor delapan.

Kesimpulan

Jadi tradisi ini pada awalnya hanya untuk kesenangan belaka. Akan tetapi, ketika Islam datang di
sekeliling mereka tradisi tersebut semakin berwarna dan bermakna berguna pula bagi masyarakat. Karena
Islam adalah agama yang elastis yang bisa mengerti keadaan masyarakt setempat. Islam dan tradisi tidak
harus dipsahan. Akan tetapi, dipersatukan untuk membentun suatu kehidupan yang lebih baik.
Islam mengajarkan kedamaiyan di dalamnya dan menyebarkan agamanya tanpa ada satu
kekerasan sedikitpun, maka dari itu masyarakat setempat suka dengan datangnya agama tersebut tanpa
harus memerangi agama dan tradisi tersebut. Yang pada akhrirnya mereka mememluk agama Islam
tersebut, dan Islam sendiri memiliki kesempatan yang besar terhadap masyarakat karena dapat dipercaya
untuk menyebarkan agama Islam. Jadi pada intinya Islam masuk kedaerah tersebut tanpa kekerasan dan
tidak merusak tradisi mereka yang sudah ada.