Anda di halaman 1dari 98

GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PENGKAJIAN

LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD RADEN


MATTAHER
PROVINSI JAMBI

SKRIPSI

Oleh :

NAMA : Dora Hasibuan

NIM : 1514201046

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN HARAPAN IBU JAMBI
TAHUN 2019
GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PENGKAJIAN
LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD RADEN
MATTAHER
PROVINSI JAMBI

Skripsi Ini Diajukan


Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarajan Keperawatan

Oleh :

NAMA : Dora Hasibuan

NIM : 1514201046

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN HARAPAN IBU JAMBI
TAHUN 2019

i
PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Dora Hasibuan

NIM : 1514201046

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi dengan judul “Gambaran

Pengetahuan Perawat Tentang Pengkajian Luka Pada Pasien Diabetes

Melitus Di Rsud Raden Mattaher Provinsi Jambi” adalah hasil karya saya

sendiri dan semua sumber baik yang dikutip secara langsung maupun tidak

langsung ataupun dirujuk, adalah benar.

Jambi, September 2019

Dora Hasibuan

NIM : 1514201046

ii
iii
iv
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

Skripsi, Agustus 2019

Dora Hasibuan

Gambaran pengetahuan perawat tentang pengkajian luka pada pasien diabetes militus di
RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019

x + 53 Halaman, 10 Tabel, 2 Bagan, 9 Lampiran

ABSTRAK

Angka kejadian diabetes militus pada 2015 penderita diabetes pada orang dewasa
sebanyak 415 juta, angka ini menunjukkan kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta ditahun
1980-an dan pada tahun 2040 diperkirakan jumlah penderita DM mencapai 642 juta.
Komplikasi pada pasien diabetes adalah neuropatik pada ekstremitas bawah yang
menyebabkan ulkus diabetic, dalam melakukan perawatan ukkus diabetic maka perlu
melakukan pengkajian luka terlebih dahulu. Dalam melakukan pengkajian luka maka
seorang perawat harus memiliki pengetahuan yang baik dalam melakukan pengkajian.
Penelitian ini merupakan deskriptif untuk melihat gambaran pengetahuan perawat
tentang pengkajian luka pada pasien diabetes militus di RSUD Raden Mattaher Jambi
pada tanggal 13 sampai 26 Juli 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
perawat yang ada diruang Interne RSUD Raden Mattaher 2019 sebanyak 31 perawat,
sampel diambil menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini dilakukan dengan cara
pengisian kuesioner, Analisa data dalam penelitian ini secara univariat.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa Sebagian besar responden memiliki
pendidikan S1 Profesi keperawatan dan memiliki pengalaman kerja > 3 tahun Dan
sebagian responden memiliki pengetahuan kurang tentang pengkajian luka di RUSD
Raden Mattaher Jambi Tahun 2019.
Diharapkan kepada perawat yang memiliki pengetahuan yang kurang dapat
menambah pengehatuannya dengan mencari sumber referensi dari berbagai sumber. Dan
diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi tenaga kesehatan khususnya
perawat untuk meningkatkan pemberian asuhan keperawatan dan menjadi landasan dalam
melakukan pengkajian luka.

Daftar Bacaan : 37 (2007-2018)

Kata Kunci : Pengkajian Luka, Pengetahuan, Diabetes Militus

v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik STIKES Harapan Ibu Jambi, Saya yang


bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Dora Hasibuan

NIM : 1514201046

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangkan ilmu pengetahuan, saya menyetujui untuk memberikan


kepada STIKES Harapan Ibu Jambi Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-
exclusive Royality Free Ringht) atas karya ilmiah saya yang berjudul :“
Gambaran pengetahuan perawat tentang pengkajian luka pada pasien
diabetes melitus di rsud raden mattaher
Provinsi Jambi”
Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini STIKES Harapan Ibu Jambi berhak
menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengolah dalam bentuk pangkalan data
(database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai Pemilik Hak
Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jambi
PadaTanggal : Agustus 2019
Yang
Menyatakan

Dora Hasibuan

vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dora Hasibuan


Tempat/Tanggal Lahir : Jambi, 20 Oktober 1996
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Stastus : Belum Menikah
Alamat :Jln. PatimuraPerumahan Griya Rukun Sentosa
3 Blok B No.22 RT 41 Kec.Alam Barajo
Kel.Kenali Besar Kota Jambi.

Riwayat Pendidikan
1. Sekolah Dasar : SD Negeri 219 Kota Jambi
(Lulus Tahun 2009)
2. Sekolah Menegah Pertama : SMPN 22 kota jambi
(Lulus Tahun 2012)

3. Sekolah Menegah Akhir : SMK Fania(Salsabila Kota Jambi


(Lulus Tahun 2015)
4. Perguruan Tinggi : Stikes Harapan Ibu Jambi
(tahun 2015-selesai)

vii
KATA PENGANTAR

Asalamualaikum wr.wb

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Perubahan
Kadar Glukosa Darah Dengan Terapi Relaksasi Otot Progresif Pada Penderita
Diabetes Mellitus tipe 2 di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019”.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa skripsi penelitian ini tidak mungkin


dapat diselesaikan tanpa bantuan berbagai pihak, oleh karena itu saya
mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Ns. Susi Widiawati, M.Kep, Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Harapan Ibu Jambi yang telah memberikan izin kepada penulis
dalam membuat skripsi ini.

2. Ibu Ns. Nofrida Saswati, M.Kep, selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Harapan Ibu Jambi.

3. Ibu Ns. Maulani, M.Kep selaku pembimbing I yang telah berkenan


meluangkan waktu untuk membimbing, memberi petunjuk, dorongan, dan
saran- saran dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Ns. Diah Merdekawati, M.Kep, selaku pembimbing II yang telah


berkenan meluangkan waktu untuk membimbing, memberi petunjuk,
dorongan, dan saran- saran dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh dosen pengajar beserta staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapam
Ibu Jambi yang telah banyak memberiikan ilmu yang berguna dan bermanfaat
untuk skripsi ini.

viii
6. Untuk keduan orang tuaku tercinta papa (Aman Sormin), mama (Sammi
Hasibuan), semua saudaraku dan keluarga yang telah memberikan dukungan,
do’a serta segala fasilitas dalam penyelesaikan skripsi ini.

7. Untuk sahabatku tercinta (Winda, Melisa, May, Merry, Debby, Fitri, Aura,
Ahmed ,Satrio dan Saka) yang selalu memberikan motivasi dan
dukungannya, serta teman satu angkatan yang memberikan semangat dan
terlibat langsung dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Semua pihak yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang
telah membantu dan menyelesaiakan skripsi ini ini.

Meskipun penulis menyadari telah berusaha semaksimal mungkin dalam


penulisan skripsi ini namun kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, karena itu
penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini banyak kekurangan dan penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk meyempurnakan
skripsi ini.

Akhirnya peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti


sendiri dan pembaca pada umumnya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan
rahamt dan hidayahnya kepada kita semua, Amin.

Jambi, Agustus 2019

Penulis

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PERNYATAAN ORISINALITAS ii
PERNYATAAN PENGESAHAN iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN iv
ABSTRAK v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP vii
KATA PENGANTAR viii
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR BAGAN xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiv
DAFTAR SINGKATAN xv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan Penelitian 4
1.4 Manfaat Penelitian 5
1.5 Ruang Lingkup Penelitian 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Diabetes Melitus 7
2.1.1 Pengertian 7
2.1.2 Klasifikasi DM 7
2.1.3 Manifestasi Klinis DM 9
2.1.4 Nilai Normal Kadar Gula Darah 9
2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik 10
2.1.6 Kriteria Diagnostik 11
2.1.7 Komplikasi Diabetes 12

x
2.1.8 Pencegahan 13
2.2 Pengkajian Luka 13
2.2.1 Pengkajian Luka Pada DM 16
2.2.2 Pengkajian Fisik Dasar Luka 17
2.3 Pengetahuan 23
2.3.1 Pengertian 23
2.3.2 Tingkat Pengetahuan 23
2.3.3 Cara Pengukuran Pengetahuan 26
2.4 Kerangka Teori 27

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1 Kerangka Konsep 28
3.2 Variabel dan Definisi Operasional 29
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 29
3.4 Desain Penelitian 29
3.5 Populasi dan Sampel 30
3.6 Pengumpulan Data 30
3.7 Pengolahan Data 32
3.8 Teknik Analisa Data 34
3.9 Etika Penelitian 34

BAB IV HASIL PENELITIAN


4.1 Hasil Penelitian 36
4.1.1 Karakteristik Responden 36
4.1.2 Gambaran Pengetahuan 37

BAB V PEMBAHASAN
5.1 Keterbatasan Penelitian 38
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian 38

xi
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan 47
6.2 Saran 47

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

2.1 Kadar Glukosa Darah 18


3.1 Definisi Operasional 34
4.1 Karakteristik Umur 39
4.2 Karakteristik Pendidikan 39
4.3 Karakteristik Pelatihan 40
4.4 Karakteristik Lama Kerja 40
4.5 Karakteristik Jenis Kelamin 40
4.6 Distribusi Pengetahuan 41

xiii
DAFTAR BAGAN

2.1 Kerangka Teori 31


3.1 Kerangka Konsep 30

xiv
DAFTAR SINGKATAN

AKPER : Akademi Keperawatan

BWAT : Bates-Jansen Wound Assessment Tool

DKA : ketoasidosis diabetic

DM : Diabetes Melitus

IDF : International Diabetes Federation

LKD : Luka Kaki Diabetes

PTM : Penyakit Tidak Menular

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah

SKRT : Survey Kesehatan Rumah Tangga

UU : Undang-undang

WHO : World Health Organization

xv
DAFTAR LAMPIRAN

1. Lembar Informed Consent dan Lembar Persetujuan Responden

2. Lembar Kuesioner

3. Master Data

4. Output Analisa Data SPSS

5. Surat Izin Pengambilan Data

6. Surat izin uji validitas

7. Surat izin penelitian

8. Surat keterangan selesai penelitian

9. Lembar konsultasi skripsi

10. Dokumentasi penelitian

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik

dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi

insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang menimbulkan

berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah

(Perkeni, 2015).

Menurut World Health Organization (WHO), diabetes merupakan

penyebab kematian ke enam dunia. menurut ` (IDF) Pada tahun 2015

penderita diabetes pada orang dewasa sebanyak 415 juta, angka ini

menunjukkan kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta ditahun 1980-an dan pada

tahun 2040 diperkirakan jumlah penderita DM mencapai 642 juta.

Prevalensi penderita diabetes setiap tahun mengalami peningkatan yang

signifikan dimana angka kejadian DM tertinggi terdapat di China, Amerika

Serikat, Brazil, Rusia dan Meksiko dengan jumlah estimasi orang dengan

diabetes sebesar 10 juta sedangkan Indonesia menempati peringkat ke

tujuh (IDF Atlas, 2015).

Prevalensi Diabetes Melitus berdasarkan Diagnosis Dokter pada

Penduduk Semua Umur sebanyak 1.017.290 (1.5%). Berdasarkan provinsi,

prevalensi penderita diabetes melitus di Provinsi Jambi sebanyak 13.692

(1.0%) (Riskesdas, 2018).

Salah satu komplikasi pada pasien diabetes adalah neuropatik pada

ekstremitas bawah yang menyebabkan ulkus diabetik, dan di perkirakan

1
2

bahwa 15% pasien dengan diabetes akan berkembang menjadi ulkus

ektremitas bawah selama perjalanan penyakitnya (Smeltzer & Bare, 2013).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Medikal Rekord RSUD

Raden Mattaher, penderita Diabetes Melitus yang melakukan perawatan

pada tahun 2018 sebanyak 62 penderita dengan jenis kelamin perempuan

sebanyak 35 orang dan laki-laki 27 orang. Penderita DM yang dirawat

dirumah sakit mayoritas mengalami ulkus diabetik sebanyak 60 penderita

dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 34 orang dan laki-laki

sebanyak 26 orang.

Menurut Ekaputra (2013) dimana pengkajian luka diabetes harus

dilakukan secara berurutan dimulai dari letak luka, ukuran luka, gambaran

klinis, eksudat, kulit sekitar luka, tepi luka, nyeri dan re-assessment.

Dalam melakukan penanggulangan perawatan luka yang dapat membantu

proses penyembuhan luka maka dilakukan pelaksanaan pengkajian luka

yang optimal mulai dari data umum, type luka, type penyembuhan,

kehilangan jaringan, penampilan klinis, lokasi, ukuran luka, infeksi luka,

nyeri dan implikasi psikososial. Apabila pengkajian luka tidak dilakukan

dengan baik maka dapat menyebabkan infeksi pada luka serta membuat

luka menjadi lebih lama proses penyembuhannya. Dalam melakukan

pengkajian luka maka seorang perawat harus memiliki pengetahuan yang

baik dalam melakukan pengkajian.

Hasil penelitian diatas maka pada proses ini dibutuhkan untuk

meningkatkan pengetahuan dalam metode pengkajian luka. Notoatmodjo

(2005) menyebutkan bahwa sikap dam perilaku selayaknya berjalan secara


3

sinergis karena terbentuknya perilaku baru yang dimulai dari domain

kognitif/pengetahuan. Pernyataan diatas didukung oleh penelitian Pamuji

(2008) mengemukakan bahwa makin tinggi pendidikan seorang perawat

maka makin baik pengetahuan dalam melakukan tindakan sesuai dengan

standar operasional prosedur misalnya tingkat pengetahuan lulusan D III

termasuk dalam kategori baik dibandingkan dengan SPK yang berkategori

cukup.

Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan penulis di Ruang

Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi, hasil wawancara terhadap 5 perawat

didapatkan hasil bahwa 3 perawat tidak memahami tentang pengkajian

luka karena hanya memahami sesuai dengan format pengkajian luka dari

rumah sakit dan tidak mengikuti pelatihan perawatan luka. Sebanyak 2

perawat lainnya mengetahui pengakajian luka secara lebih mendalam atau

rinci dikarenakan mengikuti perawatan luka namun tetap melakukan

pengkajian sesuai dengan pengkajian luka dirumah sakit meskipun telah

mengikuti pelatihan perawatan luka. Kelima perawat tersebut mengatakan

rumah sakit tidak memiliki pengkajian khusus.

Berdasarkan format pengkajian luka yang dilakukan di RSUD

Raden Mattaher dilakukan secara umum terlebih dahulu dimulai dari

anamnesa dan system integument khusus luka dimulai dari keluhan yang

dirasakan oleh pasien, turgor, kelainan kulit (lesi/ulkus) meliputi lokasi

dan karakteristik, ulkus dekubikus meliputi likasi, stadium, warna, dan

bau, ukuran dan excudate dan lain-lain.


4

Hasil penelitian Eka (2017) ini menunjukkan bahwa walaupun

83,3% perawat di ruang bedah RSD Mayjend. H.M.RyacuduKotabumi

berlatar belakang pendidikan D3 tapi 53,3% dari mereka telah mengetahui

atau memahami konsep umum perawatan ulkus diabetik dengan metode

moist wound healing secara benar, mulai dari mencuci luka, mengkaji luka

sampai dengan mengganti balutan luka. Memahami teknik

mempertahankan kondisi luka yang tetap lembab dengan menggunakan

balutan penahan kelembaban, occlusive dan semi occlusive, dengan

mempertahankan luka tetap lembab dan dilindungi selama proses

penyembuhan dapat mempercepat re-epitelisasi 30-50%.

Berdasarkan latar belakang, maka penulis tertarik mengambil judul

gambaran pengetahuan perawat tentang pengkajian luka pada pasien

diabetes melitus di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019.

1.2 Rumusan masalah

Dari uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan

masalah ini adalah bagaimana gambaran pengetahuan perawat tentang

pengkajian luka pada pasien diabetes melitus di RSUD Raden Mattaher

Jambi Tahun 2019?.

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Diketahuinya gambaran pengetahuan perawat tentang

pengkajian luka pada pasien diabetes melitus di Ruang Interne

RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019.


5

1.3.2 Tujuan khusus

a. Diketahuinya gambaran karakteristik (pendidikan, lama kerja

dan pelatihan luka) pada perawat pelaksana pengkajian luka

pada pasien diabetes melitus Di Ruang Interne RSUD Raden

Mattaher Provinsi Jambi

b. Diketahuinya gambaran pengetahuan perawat tentang

pengkajian luka pada pasien diabetes melitus di Ruang Interne

RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi RSUD Raden Mattaher

Sebagai bahan masukan bagi Rumah Sakit Raden Mattaher

Jambi khususnya bidang keperawatan dalam rangka menjaga dan

meningkatkan mutu pelayanan dalam melakukan pengkajian luka

pada pasien diabetes dan dapat menjadi masukan untuk membuat

format pengkajian khsuusnya pengkajian ulkus diabetik.

1.4.2 Bagi Ilmu Keperawatan

Dapat digunakan sebagai acuan penelitian lanjutan yang

berkaitan dengan melakukan pengkajian luka pada pasien diabetes

melitus serta untuk mengembangan dan meningkatkan pendidikan

dalam bidang keperawatan secara professional dalam meningkatkan

mutu pelayanan keperawatan.


6

1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya yang

akan melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang Pengetahuan

terkait pengkajian luka pada pasien diabetes melitus.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk

melihat gambaran pengetahuan perawat tentang pengkajian luka pada pasien

diabetes mellitus yang telah dilaksanakan di Ruang Interne RSUD Raden

Mattaher Jambi pada tanggal 13 Juni sampai 26 Juni 2019. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh perawat yang ada diruang Interne RSUD Raden

Mattaher Jambi tahun 2019 sebanyak 31 perawat, sampel diambil

menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini dilakukan dengan cara

pengisian kuesioner dan data diambil secara univariat .


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus

2.1.1 Pengertian

Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik

yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia)

akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Tiga

komplikasi akut utama diabetes melitus terkait ketidakseimbangan kadar

glukosa yang berlangsung dalam jangka waktu pendek ialah

hipoglikemia, ketoasidosis diabetic (DKA) dan sindrom nonketotik

hipersomar hiperglikemik. Hiperglikemia jangka panjang dapat berperan

menyebabkan komplikasi mikrovaskular kronik (penyakit ginjal dan

mata) dan komplikasi neuropatik. Diabetes juga dikaitkan dengan

peningkatan insidensi penyakit makrovaskular, seperti penyakit arteri

koroner (infark miokard), penyakit serebrovaskular (stroke) dan

penyakitvaskular perifer (Smeltzer & Bare, 2013).

2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus

Menurut Smeltzer & Bare (2013) tipe diabetes melitus adalah

sebagai berikut :

a. Tipe 1 (dulu disebut dengan diabetes melitus tergantung insulin)

1) Sekitar 5% sampai 10% pasien mengalami diabetes tipe 1. Tipe

ini ditandai dengan destruksi sel-sel beta pancreas akibat faktor

genetis, imonologis dan mungkin juga lingkungan (mis, virus).

Injeksi insulin diperlukan untuk mengontrol kadar glukosa dara.

7
8

2) Awitan diabetes tipe 1 terjadi secara mendadak, biasanya

sebelum usia 30 tahun.

b. Tipe 2 (dulu disebut dengan diabetes melitus tak tergantung insulin)

1) Sekitar 90% sampai 95% pasien menyandang diabetes penderita

diabetes melitus tipe 2. Tipe ini disebabkan oleh penurunan

sensitivitas terhadap insulin resistensi insulin) atau akibat

penurunan jumlah insulin yang diproduksi.

2) Pertama-tama, diabetes melitus tipe 2 ditangani dengan diet dan

olahraga, dan juga dengan agens hipoglemik oral sesuai

kebutuhan

3) Diabetes melitus tipe dua paling sering dialami oleh pasien

diatas usia 30 tahun dan pasien yang obes.

c. Diabetes melitus gestasional

1) Diabetes gestasional ditandai dengan derajat intoleransi glukosa

yang muncul selama kehamilan (trimester kedua dan ketiga)

2) Risiko diabetes gestasional, glikosuria, atau riwayat personal

pernah mengalami diabetes gestasional, glikosuria, atau riwayat

kuat keluarha pernah mengalami diabetes. Kelompok etnis yang

berisiko tinggi mencakup penduduk Amerika.


9

2.1.3 Manifestasi klinis diabetes melitus

Menurut Smeltzer & Bare (2013) menifestasi klinis penderitas

diabetes melitus adalah sebagai berikut :

a. Poliuria, polidipsia, dan polifagia

b. Keletihan dan kelemahan, perubahan secara mendadak, sensai

kesemutan atau kebas ditangan atau kaki, kulit kering, lesi kulit atau

luka yang lambat sembuh atau infeksi berulang.

c. Awitan diabetes tipe 1 dapat disertai dengan penurunan berat badan

mendadak atau mual, muntah atau nyeri lambung

d. Diabetes tipe 2 disebabkan oleh intoleransi glukosa yang profresif

dan berlangsung perlahan (bertahun-yahun) dan mengakibatkan

komplikasi jangka panjang apabila diabetes tidak terdeteksi selama

bertahun-tahun.

e. Tanda dan gejala keteodosis diabetes (DKA) mencakup nyeri

abdomen, mual, muntah, perventilasi dan napas berbau buah, DKA

yang tidak tertangani dapat menyebabkan perubahan tingkat

kesadaran, koma dan kematian.

2.1.4 Nilai normal kadar gula darah

Nilai untuk kadar gula dalam darah bias dihitung dengan beberapa

cara dan criteria yang berbeda. Berikut ini tabel untuk penggolongan

kadar glukosa dalam darah sebagai patokan penyaring.


10

Tabel 2.1

Kadar glukosa darah

Bukan DM Belum Pasti DM

DM

Kadar gula Plasma Vena <100 100-199 ≥200

darah Plasma Kapiler <90 90-199 ≥200

sewaktu

Kadar Plasma Vena <100 100-125 ≥126

glukosa Plasma Kapiler <90 90-99 ≥100

darah puasa

Sumber : Kemenkes (2014)

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Hurst (2014) pemeriksaan glukosa pada serum dan

urine:

a. Glukosa urine kualitatif (hanya pemeriksaan skrining) merupakan

komponen urinalisis rutin. Spesimen acak harus menunjukkan hasil

glukosa negatif.

b. Glukosa plasma puasa (8 jam) normal <99 mg/dl : hasil 100 sampai

125 mg/dL mengindikasikan pradiabetes dan > 125 mg/dL

mengindikasikan diabetes

c. Tes toleransi glukosa oral dapat menegaskan diabetes dan pra

diabetes, bahkan ketika gula darah puasa normal, tujuh puluh lima

gram glukosa diberikan per oral dan darah diambil 2 jam setelah itu

hasil 140 sampai 199 mg/dL mengindikasikan pradiabetes,


11

sementara glukosa plasma 2 jam sebesar 200 mg/dL atau lebih

mengindikasikan diabetes.

2.1.6 Keriteria Diagnostik

Menurut Parkeni (2015) Diagnosis DM ditegakkan atas dasar

pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang

dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan

plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan

menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer.

Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Berbagai

keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan adanya DM

perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:

a. Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan

berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

b. Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan

disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita

Kriteria Diagnosis DM Menurut Parkeni (2015) :

a. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl. Puasa adalah kondisi

tidak ada asupan kalori minimal 8 jam

b. Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2-jam setelah Tes Toleransi

Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram

c. Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan keluhan

klasik.
12

d. Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang

terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization

Program (NGSP)

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau

kriteria DM digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi:

toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu

(GDPT).

a. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa

plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa

plasma 2-jam

b. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa

plasma 2 -jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa

plasma puasa

c. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT

d. Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil

pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.

2.1.7 Komplikasi diabetes

Menurut Brunner & Suddart (2016) komplikasi diabetes melitus

diklasifikasikan sebagai komplikasi akut dan kronik. Komplikasi akut

terjadi akibat intoleransi glukosa yang berlangsung dalam jangka waktu

pendek dan mencakup berikut :

a. Hiperglikemia

b. DKA

c. HHNS
13

Komplikasi kronik biasanya terjadi 10-15 tahun selalau awitan

diabetes melitus komplikasinya mencakup berikut ;

a. Penyakit makrovaskular (pembuluh darah besar) memengaruhi

sirkulasi koroner pembuluh darah perifer dan pembuluh darah otak

b. Penyakit mikrovaskular (pembuluh darah kecil) : memengaruhi mata

(retinopati) dan ginjal (nefropati) : kontrol kadar gula darah untuk

menunda atau mencegah awita komplikasi mikrovaskular maupun

makrovaskular

c. Penyakit neuropatik memengaruhi saraf sensori motorik dan otonom

serta berperan memunculkan sejumlah masalah, seperti inpotensi dan

ulkus kaki.

2.1.8 Pencegahan

Menurut Smeltzer & Bare (2013) bagi pasien yang obes

(khususnya yang menyandang DM tipe 2), penurunan berat badan adalah

kunci untuk menangani diabetes dan merupakan faktor preventif utama

munculnya penyakit DM.

2.2 Pengkajian Luka

Pengkajian atau penilaian luka berdasarkan wound assessment tool

yang harus dilakukan untuk menilai perkembangan luka meliputi 13 item skor

yaitu mulai dari ukuran, kedalaman, pinggiran luka, undermining, tipe

jaringan necrotic, jumlah jaringan necrotic, tipe exudate, jumlah exudates,

warna kulit sekitar luka, peripheral tissue edema, peripheral tissue induration,

granulation tissue, epithelialization tissue.


14

Sedangkan menurut The Australian Wound Management Association

(AWMA) (2010) telah memiliki standar perawatan luka yang baku. Standar

perawatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: melakukan pengkajian

secara komprehensif yang mencerminkan kesehatan, budaya dan faktor

lingkungan yang memiliki dampak pada penyembuhan luka atau risiko

cedera. Dokumentasi bukti hasil pengkajian individu tentang alasan

terjadinya luka, riwayat kesehatan, usia dan perubahan terkait usia, riwayat

luka sebelumnya dan hasil, riwayat obat-obat yang diresepkan, implikasi

psikososial akibat luka, status gizi, sensitivitas dan alergi, diagnostik yang

relevan sebelumnya dan investigasi, penilaian nyeri dengan penggunaan alat

validasi nyeri, tanda-tanda vital. Penilaian lain yang diperlukan adalah

penilaian risiko jatuh dan integritas kulit, vascular dan penilaian sensorik:

pengujian monofilamen atau pengujian tekanan tumpul /sentuhan tajam,

getaran sensasi - garpu tala atau biothesiometer, pengujian reflex. Pengkajian

luka awal dan berkelanjutan harus didokumentasikan berdasarkan bukti yang

temukan tentang: tipe luka, etiologi dan mekanisme terjadinya luka, durasi

luka, lokasi, dimensi, karakteristik klinis dasar luka, penampilan tepi luka,

kulit sekitar luka, eksuda, bau, peradangan, infeksi, nyeri, dan benda asing

seperti benang jahitan. Pengkajian tentang lingkungan yang mempengaruhi

penyembuhan individu perlu diidentifikasikan seperti: faktor yang dapat

berdampak pada kerahasiaan, kinerja perawatan sesuai prosedur,

pengendalian infeksi atau penyembuhan luka, dan mungkin termasuk : faktor

gaya hidup, individu, masalah kerahasiaan dan privasi, keamanan

penyimpanan catatan individu, status kebersihan lingkungan (AWMA, 2010).


15

Langkah berikut adalah investigasi diagnostik akan dilakukan ketika

terindikasi secara klinis untuk memastikan dan memantau etiologi luka,

potensi penyembuhan, hasil penilaian, terkait, diagnosa dan manajemen

intervensi. Prosedur diagnostic yang memungkinkan dilakukan adalah:

analisis biokimia darah, mikrobiologi, histopatologi, penciteraan diagnostic,

penilaian vascular, penilaian neurologist, penilaian gizi, penilaian psikologis

(AWMA, 2010).

Tahap selanjutnya adalah melakukan pencucian luka dengan tekhnik

aseptic dan bersih sesuai dengan kondisi luka dan kondisi individu.

Kemudian kondisi luka harus dipertahankan pada kondisi lembab, dan

menjaga suhu luka tetap konstan dengan cara: hindarkan luka terpapar suhu

dingin, produk, obatobatan, terapi atau perangkat, gunakan solusion

pembersihan luka pada suhu tubuh, hindari suhu ekstrim pada kulit. Kondisi

lain yang harus diperhatikan dan di jaga adalah: PH, resiko infeksi.

Melindungi luka menjadi bagian yang penting yang dapat dilakukan

dengan cara menghindari pembersihan luka agresif kecuali tujuan perawatan

adalah debridement, hindari penggunaan produk, obat-obatan, perangkat

danintervensi yang mengeringkan atau menimbulkan trauma pada dasar luka

atau kulit di sekitarnya, hindari penggunaan agen beracun atau allergen,

lindungi luka dan area ping dari trauma dan maserasi. Pemilihan dressing

adalah bagian terpenting yang bertujuan untuk mempercepat proses

penyembuhan. Menggunakan dressing pada luka harus sesuai petunjuk atau

indikasi yang disetujui oleh Administrasi Barang dari produk, atau digunakan
16

sebagai komponen protokol penelitian dengan persetujuan etis yang tepat

(AWMA, 2010).

2.3 Pengkajian Luka pada Pasien Diabetes Melitus (DM)

Menurut (Ekaputra, 2013) pengkajian luka diabetikum diantaranya :

a. Letak luka : letak luka pada pasien-lasien diabetes juga bisa

menggambarkan penyebab luka tersebut. Misalnya ada perlukaan

diplantar pedis kemungkinan besar pasien mengalami neuropati, luka

kehitaman di ujung-ujung jari kaki bisa mengindikasikan kemungkinan

iskemia.

b. Ukuran luka : meliputi panjang yang diukur “head to toe” atau vertika,

luas dan kedalaman luka. Selain itu dikaji juga adanya goa (undermining

tissue) atau adanya sinus.

c. Gambaran Klinis : biasa digunakan istilah R (red) untuk luka kemerahan

atau granulasi, Y (yellow) untuk luka berslough, B (Black) untuk luka

necrotic.

d. Eksudat : mengacu pada moisture balace, pengkajian exudates menjadi

sangat penting terutama mengenai jumlah dan tipe exudates.

e. Kulit sekitar luka : melindungi kulit sekitar luka sangatlah penting,

terutama untuk luka-luka ber exudates. Dengan perlindungan pada kulit

sekitarnya diharapkan tidak terjadi maserasi atau denudasi.

f. Tepi luka : tepi luka bisa menjadi informasi penting mengenai penyebab

dan status proses penyembuhan. Misalnya tepi luka yang irriguler dan

tajam mengkarakteritikkan luka karena gangguan arteri. Bila terlihat


17

epitelisasi pada tepi luka menunjukkan bahwa luka mengalami proses

penyembuhan.

g. Nyeri : kapan nyeri muncul, apakah terus menerus, atau dipacu oleh

faktor-faktor tertentu. Pada pasien dengan gangguan neuropati nyeri akan

sulit untuk dikaji.

h. Re-assessment : tujuan dilakukan pengkajian ulang adalah untuk

mengetahui adakah tanda-tanda komplikasi dan memonitor

perkembangan luka.

2.3.1 Pengkajian fisik

a. Lokasi dan letak luka (Muskuloskeletal)

Gangguan neuropati terutama motorik dan pembuluh darah

akan menyebabkan kelemahan pada otot dan tulang. Pada para

penyandang diabetes sering ditemukan kelainan bentuk kaki seperti

Charcot foot (kelainan pada persendian sehingga tulang menjadi

bengkok), claw toes (jari-jari yang mencengkeram) atau juga

hammer toes (bentuk jari yang seperti palu).

Kelainan bentuk (deformitas) kaki ini akan menimbulkan titik

tekan yang tidak biasa sehingga pada titik-yiyik tersebut pasien

sering mengalami perlukaan karena tekanan. Dan juga akibat

penekanan karena gangguan sepatu terlalu sempit.

b. Persyarafan

Neurofati yang terjadi pada pasien diabetes melitus bisa

campuran yaitu sensoris dan motoris dan autonom. Gangguan

sensoris yang terjadi faktor predisposisi pada tarauma mekanik,


18

termal dan kimia. Neuropati motorik mengakibatkan kelemahan

pada otot yang ikut member andil pada deformitas kaki. Missal.

Caln Toe Neuropati autonom menurunkan respirasi sehingga kulit

kaki menjadi kering, pecah-pecah yang menjadi faktor posisi

terjadinya infeksi dan ulcerasi juga charcot.

Neuropati ini dikarakteristikkan dengan :

1) Bebas, adanya rasa terbakar pada kulit

2) Kelemahan otot

3) Kulit kering

4) Kaki tidak bisa merasa

5) Callus (kapalan) sebagai respon pada pressure dan shearing

6) Deformitas

Luka kaki diabetes yang disebabkan oleh neuropati sembuh

2.5 kali lebih capay dari pada gangguan ischemia dan tujuh kali

lebih cepat pada luka dengan gangguan arteri. Untuk mengkaji

fungsi adalah neuropati sensori bisa dilakukan melalui Semmes

Weisten (monofilament 10 gr) test.

c. Vaskularisasi

Untuk mengetahui status vaskuler pada penyandang diabetes bisa

dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

1) Palpasi/meraba denyut nadi di dorsal pedis atau tibialis untuk

menilai ada tidaknya denyut nadu


19

Klien lanut usia biasanya ada kesulitan untuk meraba

denyut nadi dapat dikerjakan dengan menggunakan stetoskop

ultra sonic dopler.

Tingkatan denyut nadi :

0 Absen/tidak teraba

1 Ada denyut nadi sebentar

2 Teraba tapi kemudian hilang

3 Normal

4 Sangat jelas, kemungkinan ada bendungan

Temperature kulit memberikan infoemasi tentang kondisi

perfusi jaringan dan fase inflamasi, serta merupakan variabel

penting dalam menilai adanya peningkatan atau penurnan

perfusi jaringan terhadap tekanan. Cara melakukan penilaian

dengan menempelkan punggung tangan pada kulit disekitar luka

dan membandingkannya dengan kulit pada bagian lain yang

sehat.

2) Mengukur pengisian pembuluh darah kapiler capillary refill

Time/CRT. Pengisian kapiler kembali setalah

mendapatkan tekanan yang melebihi detik mengindikasikan

adanya masalah aliran darah. Waktu mengisi kapiler dievaluasi

dengan memberikan tekanan pada ujung jari, setelah tampak

kemerahan, segera lepaskan tekanan dan lihat apakah ujung jari

segera kembali kekulit normal. pada beberapa kondisi,

menurunnya atau hilangnya denyut nadi, pucat, kulit dingin,


20

kulit jari yang tipis dan rambut yang tidak tumbuh merupakan

indikasi iskemia dengan capillary refill lebih dari 40 detik.

Capillary refill time :

Normal 10-15 detik

Iskemia sedang 15-25 detik

Iskemia berat 25-40 detik

Iskemia sangat berat >40 detik

3) Pengukuran ankle brachial pressure index (ABPI)

Adalah hasil yang didapat dari membagi tekanan sistolik

lengan. Kriteria hasil : normal >0.9 mmH, adanya hasil

pengkajian yang abnormal pada vaskularisasi merupakan

indikasi untuk konsultasi kebagian beda vaskuler.

d. Kaki

Status kaki diabetes-klasifikasi wagner

System ini berguna untuk menentukan rencana tindakan,

komunikasi antar tim kesehatan dan prediksi hasil perawatan.

1) Stadium wagner (untuk luka diabetic)

Superficial Ulcer :

a) Stadium 0 : tidak terdapat lesi, kulit dalam keadaan baik,

tetapi dengan bentuk tulang kaki yang menonjol/charcot

arthropathies.

b) Stadium 1 : hilangnya lapisan kulit hingga dermis dan

kadang-kadang tampak tulang menonjol


21

Deep Ulcer

c) Stadium 2 : lesi terbuka dengan penetrasi ke tulang tatau

tendon (dengan goa)

d) Stadium 3 : Penetrasi hingga dalam ostiomylitis, pyarhrosis,

plantar abses atau infeksi sehingga tendon

Gangren

e) Stadium 4 : gangrene sebagian, menyebar hingga sebagian

dari jari kaki, kulit sekitarnya selulitis, ganggren

lembab/kering

f) Stadium 5 : seluruh kaki dalam kondisi nekrotik dan

ganggren

2) Edema

Pengkajian ada tidaknya edema dilakukan dengan mengukur

lingkar medcalf, ankle dan dorsum kaki kemudian dilanjutkan

dengan menekan jari pada tulang menonjol di tibia atau medical

malleolus. Kulit yang edema akan tampak lebih coklat

kemerahan atau mengkilat seringkali merupakan tanda adanya

gangguan darah balik vena.

Tingkatan edema

0-¼ inc 1+ (Mild)

¼-¼ inc 2+ (Moderat)

¼-1 Inc 3+ (Severe)


22

d. Status neurologic

Pengkajian status neurologic terbagi dalam pengkjian status fungsi

motorik, sensorik dan fungsi otonom.

1) Fungsi motorik : pengkajian fungsi motorik berhubungan dengan

adanya kelemahan otot secara umum, yang merupakan adanya

perubahan bentuk tubuh, terutama pada kaki, seperti pada

jari0jari yang menekuk/mencengkram (clewed toes) dan telapak

kaki menonjol (prominent metatarsal head). Penurunan fungsi

motorik menyebabkan penggunaan sepatu/sandal terjadi tidak

sesuai sehingga pada darah sempit yang menonjol akan terjadi

penekanan teru-menerus kemudian timbul cellus disertai luka.

2) Fungsi sensorik : pengkajian fungsi sensorik berhubungan

dengan penilaian terhadap kehilangan sensasi pada ujung-ujung

ekstermitas. Banyak klien diabetic dengan gangguan neuropati

sensori akan mengatakan bahwa lukanya baru terjadi, namun

munkin kenyataannya terjadi pada beberapa waktu yang lalu.

3) Fungsi otonom : pengkajian fungsi otonom pada klien diabetic

duilakukan untuk menilai tingkat kelembaban kulit.

e. Infeksi

Kejadian infeksi dapat diidentifikasikan dengan adanya tanda-

tanda infeksi secara klinis seperti peningkatan suhu tubuh dan

jumlah hitungan leukosit yang meningkat, pada luka infeksi diabetic

dengan adanya gas ganggren dengan bakteri clostridia,


23

pembengkakan jeringan disebabkan efek toxis pathogen antara lain :

Clostridium perfringen. Clostridium novyi dan clostridium septicum.

f. Edukasi

Proses penyembuhan luka kaki diabetes yang rata-rata

memerlukan waktu lama tidak emmungkinkan pasien untuk berada

di RS atau dibawah pengawasan tenaga kesehatan 24 jam smapai

sembuh, edukasi cara memperlakukan kaki yang mengalami

perlukaan harus diberikan supaya pasien tidak melakukan tindakan

yang justru akan memperlambat proses penyembuhan.

2.3 Pengetahuan

2.3.1 Pengertian

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan

sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar

pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga),

dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek

mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo,

2014).
24

2.3.2 Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2014) secara garis besarnya dibagi dalam

6 tingkat pengetahuan yakni :

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan hanya sebagai Recall (memanggil) memori

yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk

mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat

menggunakan pertanyaan-pertanyaan.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut

harus dapat menginterprestasikan secara benar tentang objek yang

diketahui tersebut.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami

objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan

prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan

dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara

komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek

yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah

sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat
25

membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat

diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari

komponen-komponenpengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain

sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru

dari formulasi-formulasi yang telah ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.

Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.

3.3.3 Pengetahuan Perawat perawatan luka

Manajemen dan perawatan luka merupakan aspek penting

untuk kelangsungan hidup jaringan. Pentingnya perawat

mengembangkan pengetahuan yang luas pada perawatan luka untuk

menilai risiko, pencegahan dan manajemen luka serta penyembuhan

pada luka (Abraham, 2008).

Pengetahuan dan sikap dibutuhkan dalam penggunaan

pemilihan produk perawatan luka, jika menggunakan bahan dan

teknik tidak sesuai, menyebabkan proses inflamasi memanjang dan

dan kurangnya suplai oksigen ditempat luka, hal ini akan


26

mengakibatkan proses penyembuhan luka menjadi lama (Morrison,

2004).

Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam

manajemen luka pada pasien terutama pada pasien di rumah sakit

dimana pasien hampir 24 jam dalam monitoring dan tanggungjawab

perawat. Selama ini, perawat hanya fokus pada rutinitas penggantian

balutan luka tanpa memperhatikan status kelembapan, monitoring

kondisi jaringan dan juga asupan nutrisi pasien yang dapat

mempercepat perbaikan jaringan. Oleh karena itu, perawat dituntut

untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat

terkait dengan proses perawatan luka yang adekuat terkait dengan

proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang

komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implentasi

tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta

dokumentasi hasil yang sistematis (Sinaga, 2012).

3.3.4 Cara Pengukuran

Menurut Arikunto (2006) dalan Wawan (2010:18) kriteria

tingkat pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan

dengan skala yang bersifat kualitatif yaitu :

1) Baik : Hasil persentase 76%-100%

2) Cukup : Hasil Persentase 56%-75%

3) Kurang: Hasil persentase > 56%


27

2.4 Kerangka Teori

Bagan 2.1
Pengkajian Luka Diabetikum

Pengatahuan Tengang Pengkajian Ulkus


Diabetik :
1. Lokasi dan letak luka
(Muskuloskeletal)
2. Persyarafan
3. Vaskularisasi
4. Kaki
5. Status neurologic
6. Infeksi
7. Edukasi
(Ekaputra, 2013)

Sumber : Notoatmodjo (2014) dan Ekaputra (2013)


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka teori, maka kerangka konsep dalam

penelitian ini disesuaikan dengan Ekaputra (2013) dalam pengkajian luka

diabetikum perawat harus menentukan terlebih dahulu lokasi dan letak

luka diabetes militus, stadium luka (antomi, wagner, dan warna dasar

luka), bentuk dan ukuran luka, infeksi, status neurologis dan vaskuler.

Maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai

berikut.

Bagan 3. 1
Kerangka Konsep

pengetahuan perawat tentang pengkajian luka


pada pasien diabetes melitus

3.2 Variabel Dan Definisi Operasional

Defenisi operasional adalah mendefenisikan variabel secara

operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan

peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat

terhadap suatu objek atau fenomena. Defenisi operasional ditentukan

berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan

cara pengukuran merupakan cara dimana variabel dapat diukur dan

ditentukan karakteristiknya (Hidayat, 2012).

28
29

Tabel 3.1
Defenisi Operasional
No Variabel Defenisi Cara Alat Hasil Ukur Skala
Operasional
1 a. Pendidikan Jenjang P Pendidikan
L : Ordinal
pendidikan e 1= eD III
terakhir n mKeperawatan
perawat, dan g 2 =bS1
pelatihan i aKeperawatan
yang pernah s 3 =rProfesi Ners
diikuti i
sebelum a k
menjadi n u
responden e
K s
u i
e o
s n
i e
o r
n
e
r

b. lama kerja Dari hari P Lama


L Ordinal
pertama kerja e Kerja
e :
dirumah sakit n 1= m<6 Tahun
sampai saat g 2= b6-10 Tahun
menjadi i 3= a> 10 Tahun
responden s r
i
a k
n u
e
K s
u i
e o
s n
i e
o r
n
e
r
30

c. Pelatihan Pelatihan P Pelatihan


L luka Ordinal
luka yang pernah e 1=pernah
e
diikuti n 2=tidak
m Pernah
sebelum g b
menjadi i a
responden s r
i
a k
n u
e
K s
u i
e o
s n
i e
o r
n
e
r

Independen Segala P 2=Baik


L = Hasil O
Pengetahuan sesuatu yang e persentase
e r
diketahui n 76%-100%
m d
oleh perawat g 1=Cukup
b = i
tentang i Hasil
a n
pengkajian s Persentase
r a
luka diabetes i 56%-75% l
militus a 0=Kurang
k =
n uHasil
epersentase <
K s56%.
u i
e o
s n
i e
o r
n
e
r
31

3.3 Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di RSUD Raden Mattaher Jambi

pada tanggal 13 Juli sampai 26 Juli 2019.

3.4 Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu suatu pendekatan

penelitian yang pada umumnya digunakan untuk pengumpulan data yang

luas dan banyak, yang bertujuan untuk menggambarkan atau

mendeskripsikan fenomena yang terjadi mengenai gambaran pelaksanaan

pengkajian luka pada pasien diabetes melitus Di Rsud Raden Mattaher

Provinsi Jambi.

3.5 Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek

atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Hidayat, 2012:68). Populasi dalam penelitian ini

adalah seluruh perawat yang ada diruang Interne RSUD Raden

Mattaher 2019 sebanyak 31 perawat.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti

(Arikunto, 2010). Sampel dalam penelitian ini sebanyak 31 responden

dengan menggunakan teknik total sampling.


32

3.5 Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data umum

yaitu data yang diperoleh pada saat penelitian dan data khusus yaitu

data yang diperoleh dari Dinas kesehatan kota jambi dan data dari

RSUD Raden Mattaher Jambi.

2. Sumber Data

a. Data Primer

Pengumpulan data yang dikumpulkan lansung dari

sumbernya. Dalam penelitian ini, seluruh data diambil secara

langsung dari responden yang meliputi data penderita luka

diabetes, karakteristik repsonden, pengetahuan tentang Pengkajian

luka yang diukur dengan menggunakan kuesioner.

b. Data Sekunder

Yaitu pengumpulan data penunjang atau pelengkap yang

diambil dari Dinas Kesehatan Kota Jambi dan RSUD Raden

Mattaher Jambi.

3. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri yang dibantu

oleh seorang enumator dengan cara membagikan kuesioner kepada

responden dan melakukan pengisian kuesioner langsung pada saat

responden melakukan pengkajian luka diabetikum.


33

4. Instrumen Penelitian

Pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara pengisian

kuesioner. Dengan memberian pertanyaan untuk variabel karakteristik

responden, pengkajian luka dan penatalaksanaan luka menggunakan

lembar kuesioner.

5. Uji Validitas dan Reabelitas

Uji validitas telah dilakukan di RSUD H.Abdul Manap,

dikarenakan RSUD H.Abdul Manap merupakan rumah sakit yang

mempunyai karakteristik yang sama dengan RSUD Raden Mattaher.

Uji validitias dan reabilitas dilakukan kepada 6 responden dengan 17

pertanyaan pada pengetahuan. Setelah dilakukan uji validitas dan

rebilitas untuk pertanyaan pengetahuan terdapat 15 pertanyaan yang

valid dan 2 pertanyaan yang tidak valid. Teori uji valid jika nilai r

hitung > r tabel (n=6) = 0,0811. Reliabilitas jika nilai α > 0.07. Untuk

pertanyaan yang tidak valid tidak digunakan sehingga pertanyaan

pengetahuan menjadi 15 pertanyaan.

3.6 Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah melalui tahapan sebagai

berikut :

1. Editing

a. Memeriksa kelengkapan data yaitu memeriksa kelengkapan semua

pertanyaan yang diajukan.


34

b. Memeriksa kesinambungan data yaitu memeriksa apakah ada

keterangan data yang bertentangan antara satu dengan yang

lainnya.

c. Memeriksa apakah semua pertanyaan sama.

2. Scoring

Memberikan kode pada setiap data yang ada, berupa angka atau

huruf. skor diberikan baik kepada variabel-variabel yang diteliti namun

kepada atribut dari masing-masing variabel. Dalam pengkodean

penelitian penelitian sebagai berikut :

a. Pendidikan Perawat

1) D III diberi kode 1

2) S1 diberi kode 2

3) Profesi Ners diberi kode 3

b. Lama Kerja

1) 1 sampai 3 Tahun diberi kode 1

2) > 3 tahun diberi kode 2

c. Pelatihan Luka

1) Pernah diberi kode 1

2) Tidak Pernah diberi kode 2

d. Peengetahuan

1) Baik diberi kode 2

2) Cukup diberi kode 1

3) Kurang diberi kode 0


35

3. Coding

Menetapkan kode sesuai dengan format kuesioner yang

digunakan pada program pengolahan data. Pengetahuan terdiri dari 10

soal jika jawaban benar maka diberi nilai 1 dan jika jawaban salah

diberi nilai 0, jadi apabila jawaban yang benar 76%-100% berarti

pengetahuannya baik, apabila jawabannya 56%-76% berarti

pengetahuannya cukup dan apabila jawaban yang benar <56% berarti

pengetahuannya kurang (Wawan dan Dewi, 2011).

4. Entry Data (memasukkan data) atau Processing

Setelah semua jawaban-jawaban dari masing-masing

responden yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan

dalam program atau “software” komputer. Maka pemprosesan data

dilakukan dengan cara mengentry data dari angket ke paket program

SPSS.

5. Data Cleaning (pembersihan data)

Apabila semua data dari setiap responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-

kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidak lengkapan,

dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau dikoreksi.

3.7 Teknik Analisis Data

Setelah data didapat pada hasil pengisian kuesioner data diolah

dengan menggunakan komputer, selanjutnya dianalisis dalam bentuk

analisis univariat. Analisis univariat dilakukan untuk menyederhanakan

atau memudahkan intervensi data kedalam bentuk penyajian tabel.


36

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi

variabel-variabel yang diteliti meliputi variabel pengetahuan.

3.8 Etika Penelitian

Etika dalam penelitian merupakan masalah yang sangat penting

dalam penelitian, menggingat penelitian keperawatan berhubungan

langsung dengan manusia. Oleh karena itu, segi etika harus diperhatikan

karena manusia mempunyai hak asasi dalam segi penelitian.

Masalah etika penelitian meliputi :

1. Informent Consent (persetujuan)

Lembar persetujuan diberikan kepada subjek yang akan diteliti,

peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang akan

dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah

pengumpulan. Jika responden bersedia diteliti, maka harus

mendatangani lembar persetujuan tersebut. Jika para responden

menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap

menghormati hak-haknya.

2. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan subjek, peneliti tidak akan

mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur, lembar

tersebut hanya diberi nomor kode pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Untuk menjaga kerahasiaan hasil penelitian, peneliti

memberikan kerahasiaan semua informasi yang telah dikumpulkan

dari responden dijamin oleh peneliti.


BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Karakteristik responden

Tabel 4.1

Karakteritik Responden Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah Persen (%)

1 D III Keperawatan 12 38.7

2 S1 Keperawatan 1 3.23

3 Profesi Ners 18 58.1

Jumlah 31 100

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa sebagian besar pendidikan S1

Profesi Keperawatan sebanyak 18 responden (58.1%).

Tabel 4.2

Karakteritik Responden Berdasarkan Pelatihan Yang Pernah Diikuti

No Pelatihan Perawatan Luka Jumlah Persen (%)

1 Pernah 10 32.3

2 Tidak Pernah 21 67.7

Jumlah 31 100

37
38

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui sebagian besar responden tidak pernah

mengikuti pelatihan perawatan luka sebanyak 21 responden (67.7%).

Tabel 4.3

Karakteritik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

No Lama Kerja Jumlah Persen (%)

1 <6 Tahun 11 35.5

2 6-10 Tahun 12 38.7

3 >10 Tahun 8 25.8

Jumlah 31 100

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa sebagian besar responden

memiliki lama kerja 6-10 tahun sebanyak 12 responden (38.7%).

4.1.3 Gambaran pengetahuan perawat tentang pengkajian luka pasien

diabetes melitus Di RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi

Berdasarkan hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi responden

berdasarkan pengetahuan dapat dilihat pada diagram 4.4 di bawah ini :


39

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi pengetahuan perawat tentang pengkajian luka

pada pasien diabetes melitus Di RSUD Raden Mattaher Provinsi

Jambi

No Pengetahuan Jumlah Persen (%)

1 Baik 10 32.3

2 Cukup 9 29.0

3 Kurang 12 38.7

Total 31 100.0

Tabel data 4.4 diketahui bahwa dari 31 responden sebagian

responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 12 responden (38.7%).


BAB 5

PEMBAHASAN

4.1 Keterbatasan Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 sampai 22 Juli 2019 di ruang

Interne RSUD Raden Mattaher Jambi dengan jumlah responden sebanyak 31

perawat. Saat penelitian, peneliti tidak menjumpai semua calon responden

secara bersamaan dikarenakan perbedaan shif dan kesibukan pada responden.

Untuk itu ada beberapa responden tidak dilakukan secara lansung sehingga

peneliti harus melakukan penelitian pada hari berikutnya. Peneliti ini tidak

mengukur kemampuan perawat dalam melakukan perawatan dan pengkajian

luka karena tidak semua perawat melakukan perawatan luka.

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

4.2.1 Gambaran karakteristik perawat pelaksanaan pengkajian luka pada

pasien diabetes melitus Di RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden

pendidikan S1 Profesi Keperawatan. Hasil Penelitian tidak sama dengan

penelitian Meidina (2016) pendidikan perawat dalam pengkajian luka

diabetes militus di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang siantar

Seluruh responden (100.00%) memiliki latar belakang pendidikan DIII

Keperawatan. Sedangkan hasil penelitian ini sama dengan hasil

penelitian Rina (2010) di RSUD Koja Jakarta Selatan sebagian perawat

40
41

yang melakukan pengkajian luka dengan baik merupakan perawat yang

berpendidikan S1 profesi keperawatan.

Hal ini juga sama dengan penelitian Bady (2017) menyatakan

bahwa distribusi tingkat pendidikan formal tenaga keperawatan

profesional hanya sebesar 6% yaitu tenaga keperawatan dengan

pendidikan Sarjana Keperawatan atau S1, selebihnya tenaga

keperawatan bukan professional yaitu DIII/DIV 72% dan SPK/SPR

22%, untuk meningkatkan tenaga keperawatan professional perlu

diadakan pendidikan penjenjangan dari SPK/SPR ke Akper, dari Akper

ke S1 Keperawatan. Tenaga keperawatan profesional yang menjalankan

pekerjaan berdasarkan ilmu pengetahun sangat berperan dalam

penanggulangan tingkat komplikasi penyakit, terjadinya infeksi

nosokomial, dan memperpendek lama rawat, selain itu angka kematian

di rumah sakit akan lebih rendah bila mempunyai komposisi tenaga

keperawatan profesional yang lebih banyak. Jadi, dengan pendidikan

yang lebih tinggi, maka pengetahuan dan profesionalitas akan lebih

baik dan tentu saja kinerja perawat juga akan lebih baik.

Secara umum Pendidikan Keperawatan di Indonesia mengacu

kepada Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional yang mencakup tiga tahap, yaitu: Pendidikan

Vokasional, yaitu jenis Pendidikan Diploma Tiga (D3) Keperawatan

yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi keperawatan untuk

menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sebagai pelaksana

asuhan keperawatan; Pendidikan Akademik, yaitu pendidikan tinggi


42

program sarjana dan pasca sarjana yang diarahkan terutama pada

penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu; Pendidikan Profesi,

yaitu pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan

peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian

khusus (program spesialis dan doktor keperawatan).

Pendidikan Keperawatan diselenggarakan berdasarkan

kebutuhan akan pelayanan keperawatan, seperti yang tercantum dalam

UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 1 Ayat (6), yang

menyebutkan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang

mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan

dan/ atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang

untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya

kesehatan.

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang dapat

menambah pengetahuan seseorang, sehingga tingkat pendidikan

mendukung pengetahuan baik yang dimiliki responden pada penelitian

ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Budiman (2013) bahwa semakin

tinggi pendidikan seseorang diharapkan semakin luas pula

pengetahuannya. Namun bukan berarti seseorang dengan pendidikan

rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan

tidak mutlak diperoleh pada pendidikan formal, akan tetapi juga dapat

diperoleh pada pendidikan non-formal dan faktor pendukung lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden

memiliki lama kerja 6-10 tahun. Berdasarkan hasil penelitian


43

karakteristik penelitian diketahui bahwa sebagian besar lama kerja 6-10

tahun sebanyak 12 responden (38.7%). Hal ini sama dengan penelitian

Mediana (2016) masa kerja perawat dalam pengkajian luka diabetes

militus di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang siantar, Masa kerja

responden mayoritas berada pada rentang 5-10 tahun sebanyak 66.70%

(20 responden). Tabel 1 memperlihatkan komposisi distribusi frekuensi

dan persentase karakteristik responden.

Lama bekerja adalah lama waktu untuk melakukan kegiatan atau

lama waktu seseorang sudah bekerja (Tim Penyusun KBBI, 2010).

Menurut Nursalam (2009) menyatakan bahwa semakin banyak masa

kerja perawat maka semakin banyak pengalaman perawat tersebut

dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar

atau prosedur tetap yang berlaku. Hasil penelitian Sofiana dan Purbadi

(2016) menyatakan bahwa berdasarkan lama kerjanya, perawat dengan

masa kerja lebih dari 3 tahun memiliki pengetahuan lebih baik

dibandingkan perawat yang memiliki masa kerja kurang dari 3 tahun.

Menurut opini peneliti lama bekerja sangat mempengaruhi

pengkajian perawat dalam melakukan pengkajian luka, terutama pada

perawat yang memiliki lama kerja >6 tahun meyoritas memiliki

pengetahuan yang baik dalam melakukan pengkajian luka, sedangkan

perawat yang memiliki pengalaman kerja yang sedikit secara tidak

lansung perawat akan lebih sedikit memiliki pengalaman dalam

melakukan pengkajian luka sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan

perawat dalam melakukan pengakajian luka.


44

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden

tidak pernah mengikuti pelatihan luka. Hasil penelitian ini sama dengan

penelitian Rohmayanti (2015) dalam implemntasi pengkajian luka di

RS Harapan Magelang sebagian besar perawat melakukan pelatihan

pengkajian luka. Penelitian Ulfa (2016) RSUD DR. Djasamen Saragih

Pematangsiantar juga menyatakan bahwa sebagian besar perawat yang

bekerja diruang bedah dan interne adalah perawat yang sudah

mengikuti pelatihan perawatan luka.

Pengkajian luka dimulai dari penilaian luka dasar hal ini sesuai

dengan teori diane (2007) penkajian luka pada penilaian luka dasar yaitu

klasifikasi luka umum, pemilihan metode penilaian luka, keandalan dan

keabsahan, metode kualitatif dan kuantitatifm, menilai kedalaman luka,

stanging, menggambarkan tingkat kerusakan jaringan, mengukur

kedalaman luka, gua (undermining), dan penerowongan (tunneling),

volume, penilain dasar luka, menilai tepi luka dan kulit disekitarnya,

menilai eksudat dan bau, penilaian klinis dari infeksi, dokumentasi dan

interpretasi.

Pelatihan keperawatan merupakan kegiatan pendidikan

berkelanjutan bagi perawat (continuing nursing education), sebagai

bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi perawat

(PKB2PP), yang dikembangkan oleh organisasi profesi. Pelatihan ini

untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan

terhadap peserta untuk memberikan asuhan keperawatan dengan proses


45

keperawatan dengan benar dan pelatihan ini mengacu pada filosofi

pelatihan.

Pengkajian LKD dilakukan untuk menilai status LKD dari waktu

ke waktu, tujuannya agar praktisi dapat mengevaluasi intervensi yang

telah dilakukan (Chaiteerakij et al., 2016). Selain penggunaan instrumen

pengkajian LKD dengan paper based, dapat juga dilakukan dengan

penggunaan aplikasi pada smartphone. Dari 8 artikel yang digunakan

dalam literature review ini, mengemukakan hasil bahwa penggunaan

smartphone dalam pengkajian LKD valid, akuarat, mudah digunakan,

dan konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan aplikasi

smartphone untuk pengkajian LKD sangat memungkinkan untuk

dilakukan. Salah satunya dengan melakukan pengembangan aplikasi

smartphone untuk melakukan pengkajian atau evaluasi penyembuhan

LKD. Beberapa riset sebelumnya terkait pengembangan aplikasi

pengkajian LKD hanya berfokus pada penggunaan kamera dari

smartphone, sehingga diharapakan kedepannya dapat dilakukan riset

pengembangan instrumen pengkajian atau evaluasi penyembuhan LKD.

Menurut asumsi peneliti pelatihan luka memeliki pengaruh

terhadap pengetahuan responden terhadap pengetahuan perawat dalam

pengkajian luka, semakin banyak/sering pengkajian luka yang diikuti

oleh perawat maka semakin tinggi pengetahuan perawat terhadap

pengkajian luka.
46

4.2.2 Gambaran pengetahuan perawat tentang pengkajian luka pada pasien

diabetes melitus Di RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 13

responden (41.9%) menjawab salah dengan pertanyaan tentang Pada

luka dengan warna dasar merah, sedikit eksudat dan terdapat banyak

vaskularisasi, tujuan utama perawatan lukanya, Pada luka yang

mempunyai eksudat banyak, prinsip pemilihan balutannya dan Pada

luka dengan eksudatif berwarna dasar kuning dan berbau tujuan utama

perawatan lukanya.

Dari pengisian kuesioner masih banyak perawat yang tidak

mengetahui tentang prinsip pemilihan balutan pada perawatan luka

diabetes militus oleh karena itu responden memiliki pengetahuan yang

kurang.

Hasil penelitian sesuai dengan penelitian Septiyanti (2013),

dengan judul hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap perawat

tentang perawatan luka diabetes menggunakan teknik moist wound

healing di Eka Hospital Pekanbaru. Hasil penelitian 59,3% perawat

berpengetahuan tinggi, 31,5% pengetahuan sedang dan 9,3%

pengetahuan rendah. Hal ini didukung oleh adanya kegiatan sosialisasi

perawatan luka dengan metode moist wound healing pada tahun 2011.

Hal ini juga sama dengan hasil penelitian Naralia, (2015), yang

berjudul pengetahuan perawat tentang perawatan luka dengan metode

moist wound healing di RSUP H. Adam Malik Medan. Mayoritas


47

responden berpendidikan D3 (68,3%) dan hasil penelitian menunjukkan

bahwa pengetahuan responden tentang perawatan luka dengan metode

lembab tergolong masih rendah karena data menunjukkan mayoritas

responden memiliki pengetahuan cukup dan kurang.

Pengkajian luka yang umum digunakan adalah Bates-Jansen

Wound Assessment Tool (BWAT) yang mengkaji status luka yang

diakibatkan oleh berbagai macam penyebab serta karena adanya

tekanan. BWAT berisi 13 item untuk menilai ukuran luka, kedalaman,

tepi luka, kerusakan jaringan, jenis jaringan nekrotik, jumlah nekrotik,

granulasi dan jaringan epitelisasi, jenis eksudat dan jumlah, warna kulit

sekitar luka, edema dan indurasi (Harris et al., 2010). Pengkajian

BWAT dapat digunakan untuk memprediksi penyembuhan luka namun

pengkajian ini dibuat untuk mengkaji luka dekubitus. Pengkajian ini

tidak melihat beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka

kronik seperti maserasi dan infeksi. Komponen tersebut juga penting

dipertimbangkan penggunaan obat topikal untuk luka serta menentukan

intervensi lebih lanjut (Arisandi et al., 2016)

Pengkajian luka meliputi peneliaian luka dasar dimana perawat

harus bisa mengklasifikasi luka umum, pemilihan metode penilaian

luka, keandalan dan keabsahan, kualitatif dan kuantitatif, staging,

menilai kedalaman luka, menggambarkan tingkat kerusakan jaringan,

Mengukur kedalaman luka, gua (undermining), dan penerowongan

(tunneling), volume, penilaian dasar luka, menilai tepi luka dan kulit
48

sekitarnya, menilai eksudat dan bau, penilaian klinis dari infeksi, serta

menginterpretasi luka (Diene, 2007).

Pengakajian luka yang baik untuk dilakukan adalan pengkajian

luka menurut Diene karena pada penelitian Harris et al., 2010

pengkajian luka hanya Harris et al., 2010 hanya berisi 13 item untuk

menilai ukuran luka, kedalaman, tepi luka, kerusakan jaringan, jenis

jaringan nekrotik, jumlah nekrotik, granulasi dan jaringan epitelisasi,

jenis eksudat dan jumlah, warna kulit sekitar luka, edema dan indurasi

sedangkan Diene perawat harus bisa mengklasifikasi luka umum,

pemilihan metode penilaian luka, keandalan dan keabsahan, kualitatif

dan kuantitatif, staging, menilai kedalaman luka, menggambarkan

tingkat kerusakan jaringan, Mengukur kedalaman luka, gua

(undermining), dan penerowongan (tunneling), volume, penilaian dasar

luka, menilai tepi luka dan kulit sekitarnya, menilai eksudat dan bau,

penilaian klinis dari infeksi, serta menginterpretasi luka.

Pengetahuan repsonden juga dipengaruhi oleh lama kerja perawat

di rumah sakit dimana sebagain besar perawat sudah bekerja lebih dari

3 tahun yang dapat dikategorikan sudah berpengalaman. Jika dilihat

dari pengkajian luka yang dilakukan oleh perawat hampir semua

perawat melakukannya dengan baik hal ini juga berkemungkinan

dikarena pengalaman kerja serta adanya pelatihan-pelatihan yang

diadakan dirumah sakit atau diluar rumah sakit yang diikuti oleh

perawat tersebut. Selain itu juga dipengaruhi oleh pendidikan perawat

yang mayoritas adalah S1 profesi dan umur yang lebih dari 35 tahun.
49

Sedangkan perawat yang memiliki pengkajian luka yang kurang baik

kemungkinan dikarenakan perawat masih belum berpengalaman dalam

bekerja, usia yang masih muda serta pendidikan yang masih D III

Keperawatan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan perawat

tersebut untuk tidak dapat melakukan pengkajian luka dengan baik

karena perawat mayoritas mengkuti pelatihan-pelatihan yang sering

diadakan oleh pihak rumah sakit ataupun diluar rumah sakit.


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebagian besar responden memiliki pendidikan Profesi Ners dan

memiliki pengalaman kerja > 3 tahun di RUSD Raden Mattaher Jambi

Tahun 2019

2. Sebagian responden memiliki pengetahuan kurang tentang pengkajian

luka di RUSD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019

6.2 Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian, maka dapat dikemukakan

beberapa saran sebagai berikut :

1. Bagi RSUD Raden Mattaher Jambi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi

tenaga kesehatan khususnya perawat untuk meningkatkan pemberian

asuhan keperawatan dan menjadi landasan dalam melakukan pengkajian

luka serta memiliki pengkajian khusus mengenai pengkajian ulkus

diabetic.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan

penelitian lanjutan yang berkaitan dengan melakukan pengkajian luka pada

pasien diabetes serta untuk mengembangan dan meningkatkan pendidikan

50
51

dalam bidang keperawatan secara professional dalam meningkatkan mutu

pelayanan keperawatan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan penelitian berikutnya dapat melakukan penelitian

tentang pengkajian perawatan dengan desain dan variabel yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA

Abraham, 2008. Studies on Litter Characterization Using 13C NMR and


Assesment of Microbial Activity in Natural Forest and Plantation Crops
(Teak and Rubber) Soil Ecosystem in Kerala, India. Plant Soil. 303 : 265-
273.
Arikunto, Suharmi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi
VI.jakarta: Rineka Cipta
Arisandi, D., Yotsu, R. R., Masaru Matsumoto, Ogai, K.,Nakagami,G., Tamaki,
T., Junko Sugama. (2016). Evaluation of Validity of The New Diabetic
Foot Ulcer Assessment Scale in Indonesia. Wound Repair and
Regeneration, 24(5), 876–884
Bady (2017). Urgensi Percepatan Pengesahan RUU Keperawatan di Indonesia,
makalah disampaikan dalam Diskusi tim kerja kajian RUU Keperawatan
Setjen DPR RI dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Jakarta, 23 Juni 2017.
Bech Nielsen, 2009. Patologi dan fisiologi penyakit. Penerbit Nuha Medika
Yogyakarta
Chaiteerakij et al., 2016. Manajemen Ulkus Kaki Diabetik. Dexa Medika Jurnal
Kedokteran dan Farmasi No 3, Vol 20 , 103.

Depkes RI, (2012). Infodatin Diabetes. Kementerian kesehatan rupublik Indonesia


: Jakarta

Diene, 2007. Chronic wound care. Penerbit HMP Communication

Dinas kesehatan kota jambi. (2016). Jumlah penyakit Ulkus Diabetes Melitus.
Dinkes Jambi

Dinas kesehatan kota jambi.(2017). Jumlah penyakit Ulkus Diabetes Melitus.


Dinkes Jambi

Ekaputra (2013). Evaluasi manajemen luka. Penerbit Trans Info Media


Yogyakarta

Firmansyah (2016). Pengetahuan dan Sikap Perawat dalam Penerapan Evidance


- Based Nursing Practice di Ruang Rawat Inap RSUP Dr. M. Jamil
Padang Tahun 2015, Skripsi, PSIK- Universitas Andalas
Harris, C., Nancy, B. B., Rose, P., Mina, R., & Ketchen, R. (2010). Bates-Jensen
Wound Assessment Tool Pictorial Guide Validation Project, 37(June),
253–259.
Hidayat, Alimul Aziz. A. 2012. Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik
Analisis Data. Penerbit Salemba Medika.Jakarta
Hurst, Marlene, (2014), Keperawatan Medikal Bedah, Vol 2. Jakarta:EGC

International Diabetes Federation. 2015. IDF Diabetes Atlas 7th Edition. Brussels:
International Diabetes Federation. http://www. diabetes atlas. org/.
[Sitasi: 9 Februari 2017]. [Sitasi pada 8 Januari 2019].

Kana Fajar, 2016. Fambaran tingkat pengetahuan perawat tentang metode


debriment pada luka kronik. Jurnal Keperawatan Universitas Indonesia

Kemenkes, 2009. Standar Profesional dalam Praktek Keperawatan. Dalam


http://regional.kompasiana. com/201/05/12/standar-profesional-
dalampraktek-keperawatan/.

Kemenkes, 2016. Infpdatin Kesehatan. kementerian Kesehatan Republik


Indonesia

Monks (2010). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Perawat Tentang


Perawatan Ulkus Diabetik di RSUD PKU Muhammadiyah Bantul.
Jurnal Kesehatan Holistik (The Journal of Holistic Healthcare),
Volume 11, No.2, April 2017: 123-131

Morison, M. (2004). Manajemen Luka. Jakarta: EGC.

Naralia, (2015). Pengetahuan Perawat Tentang Perawatan Luka dengan Metode


Moist Wound Healing di RSUP H. Adam Malik Medan, Skripsi,
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara CDK-230/ vol. 42
no. 7, th. 2015

Nursalam, (2009). Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik


Keperawatan profesional. Jakarta : Salemba medika

Parkeni, 2011. Indonesia Society if endocrinology. Consensus pengelolaan dan


pencegahan diabetes mellitus tipe 2. https://pbperkeni.or.id/wp-
content/uploads/2019/01/4.-Konsensus-Pengelolaan-dan-Pencegahan-
Diabetes-melitus-tipe-2-di-Indonesia-PERKENI-2015.pdf

Prasetyono, 2014. Panduan Klinis Manajemen Luka. Jakarta : EGC

RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2018

Rohmayanti (2015). Pengetahuan Perawat Tentang Pelaksanaan Luka Kronik


Dengan Konsep Lembab di RS Harapan Magelang. Jurnal Keperawatan
Vol. XXV, No. 1, April 2015

Septiyanti (2013). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Perawat


Tentang Perawatan Luka Diabetes Menggunakan Teknik Moist Wound
Healing di Eka Hospital Pekan Baru tahun 2013, Jurnal, PSIK
Universitas Riau Vol. XXV, No. 1, April 2013
Sinaga, M. S. (2012). Penggunaan Bahan Pada Perawatan Luka, Jurnal Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Smeltzer & Bare, (2013). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Suriadi, 2015. Pengkajian Luka dan penanganannya. Penerbit Sagung Seto :


Jakarta

Sudoyo, 2014. Ilmu Penyakit dalam. Internal Publishing : Yogyakarta

Sofiana dan Purbadi (2016). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap


Perawat Tentang Perawatan Luka Diabetes Menggunakan Teknik
Moist Wound Healing di Eka Hospital Pekan Baru tahun 2013, Jurnal,
PSIK Universitas Riau, p-ISSN: 2088-8872; e-ISSN: 2541-2728

The Australian Wound Management Association Standards for


woundmanagement (2nd ed). Australia: The Australian Wound
Management Association Inc, 2010;

Ulfa (2016). Penggunaan Bahan pada Perawatan Luka RSUD DR. Djasamen
Saragih Pematangsiantar. Jurnal, Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara. Volume 15 Nomor 2

Wawan dan Dewi, 2011. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Manusia. Penerbit Nuha Medika Yogyakarta : viii+132

World Health Organization. 2016. Global Report on Diabetes. France: World


Health Organization. http://www.who.int/diabetes/global-
report/en/.[Sitasi: 9 Jnauari 2019].
Tabel 1
Distribusi Frekuensi pengetahuan perawat tentang pengkajian luka
pasien diabetes melitus Di RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi
Distribusi

No Pernyataan Benar Salah

f % f %

1 Waktu yang baik untuk melakukan pengkajian 25 80.6 6 19.4


luka

2 Pernyataan yang paling tepat mengenai 22 71.0 9 29.0


pengkajian luka

3 Kemungkinan apasaja yang dapat terjadi 25 80.6 6 19.4


apabila letak luka kehitaman di ujung-ujung jari
kaki

4 Apasaja yang harus diperhatikan saat mengukur 19 61.3 12 38.7


luka

5 Kemungkinan besar yang dialami pasien 25 80.6 6 19.4


apabila letak luka diplatar pedis

6 Pada luka dengan warna dasar merah, sedikit 18 58.1 13 41.9


eksudat dan terdapat banyak vaskularisasi,
tujuan utama perawatan lukanya

7 Metode balutan luka yang baik 20 64.5 11 35.5

8 Warna luka yang baik 21 67.7 10 32.3

9 Apasaja yang harus dikaji pada cairan eksudat 20 64.5 11 35.5


sehingga menjadi sangat penting adalah

10 Pada luka yang mempunyai eksudat banyak, 18 58.1 13 41.9


prinsip pemilihan balutannya

11 Alat yang perlu digunakan saat mengukur luka 20 64.5 11 35.5

12 Pada luka dengan eksudatif berwarna dasar 18 58.1 13 41.9


kuning dan berbau tujuan utama perawatan
lukanya

13 Pada luka dengan warna dasar hitam dan kering 21 67.7 10 32.3
tanpa eksudat tujuan utama perawatan lukanya

14 Terlihat epitelisasi pada tepi luka menunjukkan 20 64.5 11 35.5


bahwa luka mengalami

15 Indikator balutan luka harus segera diganti 23 74.2 8 25.8


PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(INFORMEND CONSENT)

Yang bertanda tangan dibawan ini


Kode :
Inisial : *)diisi oleh peneliti

Umur :

Alamat :

Mengatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang


berjudul “GAMBARAN PELAKSANAAN PENGKAJIAN LUKA PADA
PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD RADEN MATTAHER
PROVINSI JAMBITAHUN 2019“, saya telah diberitahu peneliti bahwa
jawaban angket ini bersifat sukarela, rahasia dan hanya digunakan untuk
kepentingan penelitian. Setelah selesai maka data akan dimusnahkan oleh peneliti.

Demikianlah pernyataan ini untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Jambi, 2019

Hormat saya,

Responden

(…………………..)
KUESIONER PENELITIAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG
PENGKAJIAN LUKA

No Responden

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Pendidikan :

Lama bekerja :

Pelatihan yang pernah diikuti :

Petunjuk pengisian : Pilihlah jawaban yang paling tepat menurut Anda dengan
melingkari opsi tersebut.

1. Menurut Bapak/ibu, kapan saja waktu yang baik untuk melakukan pengkajian
luka?
a. Sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka
b. Setiap kali sebelum melakukan perawatan luka
c. Setiapkali selesai melakukan perawatan luka

2. Menurut Bapak/ibu, Pernyataan yang paling tepat mengenai pengkajian luka


adalah ...
a. Pengkajian luka dilakukan setelah luka dibersihkan dan cukup pada
kondisi luka kronik terutama luka diabetes
b. Pengkajian luka dilakukan pertama kali sebelum luka dibersihkan,
meliputi kondisi keseluruhan luka
c. Pengkajian luka dilakukan setelah luka dibersihkan meliputi lokasi luka,
ukuran, stadium, dan warna dasar luka
3. Menurut Bapak/ibu, Kemungkinan apasaja yang dapat terjadi apabila letak
luka kehitaman di ujung-ujung jari kaki?
a. Iskemia
b. Neuropati
c. Vaskularisasi

4. Menurut Bapak/ibu, Apasaja yang harus diperhatikan saat mengukur luka ?


a. Letak luka dan panjang luka “head to doe” atau vertical
b. Luas dan kedalaman luka
c. Panjang, luas, kedalaman luka serta adanya sinus

5. Menurut Bapak/ibu, Kemungkinan besar yang dialami pasien apabila letak


luka diplatar pedis?
a. Iskemia
b. Neuropati
c. Vaskularisasi

6. Menurut Bapak/ibu, Pada luka dengan warna dasar merah, sedikit eksudat
dan terdapat banyak vaskularisasi, tujuan utama perawatan lukanya adalah
…..
a. Menjaga kelembaban luka dan menampung cairan darah
b. Menjaga kelembaban luka dan penyerapan cairan eksudat
c. Menjaga kelembaban luka dan proteksi mencegah perdarahan

7. Menurut Bapak/ibu, metode balutan luka yang baik adalah perawatan luka
dengan prinsip ...
a. Kering dan terbuka
b. Lembab dan tertutup
c. Basah dan tertutup

8. Menurut Bapak/ibu apa warna luka yang baik...


a. Merah muda
b. Merah tua
c. Merah kehitaman

9. Menurut Bapak/ibu, Apa saja yang harus dikaji pada cairan eksudat sehingga
menjadi sangat penting adalah?
a. Untuk mengetahui jumlah dan tipe eksudat
b. Untuk mengetahui warna cairan eksudat
c. Untuk mengetahui jenis cairan eksudat

10. Menurut Bapak/ibu, Pada luka yang mempunyai eksudat banyak, prinsip
pemilihan balutannya adalah …
a. Mempertahankan kelembaban luka dan menampung eksudat
b. Memproteksi luka dari trauma dengan menutup luka
c. Menjaga luka tetap kering dan menampung eksudat

11. Menurut Bapak/ibu, alat apasaja yang perlu digunakan saat mengukur luka…
a. Penggaris
b. Pinset
c. Kertas ukur

12. Menurut Bapak/ibu, Pada luka dengan eksudatif berwarna dasar kuning dan
berbau tujuan utama perawatan lukanya adalah…
a. Mempertahankan kelembaban luka dan mencegah perdarahan berulang
pada luka
b. Menghilangkan slough hingga terlihat warna dasar luka dan mengurangi
bau luka
c. Mempertahankan lingkungan basah dan lembab serta meningkatkan
maserasi kulit

13. Menurut Bapak/ibu, Pada luka dengan warna dasar hitam dan kering tanpa
eksudat tujuan utama perawatan lukanya adalah.....
a. Mempertahankan kelembaban luka dengan mekanik debridemang
b. Meningkatkan kelembaban luka dengan autolisis debridemang
c. Memproteksi luka agar tidak terjadi perdarahan berulang

14. Menurut Bapak/ibu, Apabila terlihat epitelisasi pada tepi luka menunjukkan
bahwa luka mengalami adalah ....
a. Proses penyembuhan
b. Luka bertambah parah dan melebar
c. Luka tidak mengalami perubahan

15. Menurut Bapak/ibu, Indikator balutan luka harus segera diganti ialah ....
a. Terlihat tanda infeksi disekitar balutan luka
b. Balutan sudah kotor, tidak utuh lagi, dan eksudat luka penuh
c. Ditemukan peningkatan jumlah bakteri pada hasil kultur jaringan luka
Pelaksanaan Pengkajian Luka
Pengetahuan
Hasil
No P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 p11 p12 p13 p14 p15 Jumlah Ukur Kategori
1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 8 0 cukup
2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 13 2 baik
3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 13 2 baik
4 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 2 baik
5 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 11 1 cukup
6 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 1 cukup
7 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 10 1 cukup
8 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 13 2 baik
9 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 8 0 kurang
10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 14 2 baik
0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 7 0 kurang
12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 13 2 baik
13 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 8 0 kurang
14 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 8 0 kurang
15 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 13 2 baik
16 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 8 0 kurang
17 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 9 1 cukup
18 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 12 2 baik
19 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 8 0 kurang
20 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 9 1 cukup
21 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 7 0 kurang
22 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 9 1 cukup
23 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 13 2 baik
24 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 8 0 kurang
25 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 10 1 cukup
26 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 14 2 baik
27 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 10 1 cukup
28 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 8 0 kurang
29 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 8 0 kurang
30 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 11 1 cukup
31 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 8 0 kurang
ANALISIS UNIVARIAT

Frequency Table

Pengetahuan 1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 6 19.4 19.4 19.4

Banar 25 80.6 80.6 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 9 29.0 29.0 29.0

Banar 22 71.0 71.0 100.0

Total 31 100.0 100.0


Pengetahuan 3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 6 19.4 19.4 19.4

Banar 25 80.6 80.6 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 12 38.7 38.7 38.7

Banar 19 61.3 61.3 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 6 19.4 19.4 19.4

Banar 25 80.6 80.6 100.0

Total 31 100.0 100.0


Pengetahuan 6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 13 41.9 41.9 41.9

Banar 18 58.1 58.1 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 11 35.5 35.5 35.5

Banar 20 64.5 64.5 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 10 32.3 32.3 32.3

Banar 21 67.7 67.7 100.0

Total 31 100.0 100.0


Pengetahuan 9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 11 35.5 35.5 35.5

Banar 20 64.5 64.5 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 13 41.9 41.9 41.9

Banar 18 58.1 58.1 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 11 35.5 35.5 35.5

Banar 20 64.5 64.5 100.0


Pengetahuan 11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 11 35.5 35.5 35.5

Banar 20 64.5 64.5 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 13 41.9 41.9 41.9

Banar 18 58.1 58.1 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 13

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 10 32.3 32.3 32.3

Banar 21 67.7 67.7 100.0

Total 31 100.0 100.0


Pengetahuan 14

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 11 35.5 35.5 35.5

Banar 20 64.5 64.5 100.0

Total 31 100.0 100.0

Pengetahuan 15

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Salah 8 25.8 25.8 25.8

Banar 23 74.2 74.2 100.0

Total 31 100.0 100.0

Hasil Ukur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang 12 38.7 38.7 38.7

Cukup 9 29.0 29.0 67.7

Baik 10 32.3 32.3 100.0

Total 31 100.0 100.0


UJI VALIDITAS PENGETAHUAN

N Pernyataan
1 2 3o 4 5 6 7 8 9 10 1 1 1 1 1 1 1
1 2 3 4 5 6 7
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
2 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0
3 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1
4 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0
6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


N %
Cases Valid 6 100.0
Excludeda 0 .0
Total 6 100.0
a. Listwise deletion based on all
variables in the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.829 17
Item Statistics
Std.
Mean Deviation N
Pengetahuan 1 1.00 .000 6
Pengetahuan 2 .83 .408 6
Pengetahuan 3 .83 .408 6
Pengetahuan 4 .83 .408 6
Pengetahuan 5 1.00 .000 6
Pengetahuan 6 .83 .408 6
Pengetahuan 7 .83 .408 6
Pengetahuan 8 .83 .408 6
Pengetahuan 9 .83 .408 6
Pengetahuan 10 .83 .408 6
Pengetahuan 11 .67 .516 6
Pengetahuan 12 .67 .516 6
Pengetahuan 13 .67 .516 6
Pengetahuan 14 .67 .516 6
Pengetahuan 15 .83 .408 6
Pengetahuan 16 .67 .516 6
Pengetahuan 17 .50 .548 6

Item-Total Statistics
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
Pengetahuan 1 12.33 14.267 .830 .832
Pengetahuan 2 12.50 13.900 .966 .839
Pengetahuan 3 12.50 15.500 .836 .863
Pengetahuan 4 12.50 13.900 .866 .839
Pengetahuan 5 12.33 14.267 .880 .832
Pengetahuan 6 12.50 11.900 .881 .801
Pengetahuan 7 12.50 11.900 .881 .801
Pengetahuan 8 12.50 11.900 .881 .801
Pengetahuan 9 12.50 11.900 .881 .801
Pengetahuan 10 12.50 11.900 .881 .801
Pengetahuan 11 12.67 13.467 .141 .840
Pengetahuan 12 12.67 11.467 .824 .800
Pengetahuan 13 12.67 11.467 .824 .800
Pengetahuan 14 12.67 11.467 .824 .800
Pengetahuan 15 12.50 11.900 .981 .801
Pengetahuan 16 12.67 11.467 .824 .800
Pengetahuan 17 12.83 14.567 -.144 .859

Diketahui r tabel pada a 5% dengan n=6 yaitu 0.811, sehingga r hitung > r tabel
artinya butir tersebut valid.
Pengetahuan 1 : Valid
Pengetahuan 2 : Valid
Pengetahuan 3 : Valid
Pengetahuan 4 : Valid
Pengetahuan 5 : Valid
Pengetahuan 6 : Valid
Pengetahuan 7 : Valid
Pengetahuan 8 : Valid
Pengetahuan 9 : Valid
Pengetahuan 10 : Valid
Pengetahuan 11 : Tidak Valid
Pengetahuan 12 : Valid
Pengetahuan 13 : Valid
Pengetahuan 14 : Valid
Pengetahuan 15 : Valid
Pengetahuan 16 : Valid
Pengetahuan 17 : Tidak Valid
kuesioner dikatakan reliable jika memiliki nilai alpha minimal 0.7. melihat hasil
uji diatas menunjukkan bahwa nilai alpha adalah 0.829, hal ini menunjukkan
bahwa nilai alpha diatas 0.7 sehingga kuesioner tersebut dikatakan reliable.
DOKUMENTASI