Anda di halaman 1dari 6

3.

Perubahan Mamma dan Laktasi


A. Anatomi Mamma

Mamma (dan glandula mammae) pertumbuhannya sudah dimulai saat


kehidupan embrio. Pada saat embrio sudah terbentuk putik primer (primary bud)
dibagian ventrolateral antara tonjolan ektremitas depan dan belakang yang dalam
perkembangan selanjutnya akan menghilang dan hanya tersisa sepasang didaerah
dada. Pada saat umur pertengahan kehamilan putik primer tersebut akan
berkembang menjadi 15 – 25 putik sekunder (secondary bud) yang nantinya akan
menjadi cikal bakal sistem saluran kelenjar glandula mammae di kemudian hari.
Tiap putik sekunder akan tumbuh memanjang dan bercabang cabang dan
mengalami difrensiasi menjadi lapisan sel – sel kubis yang konsentris dan
membentuk lumen sentral. Lapisan yang lebih dalam akan berkembang menjadi
epitil sekretoris yang akan memproduksi susu dan lapisan sel yang diluar akan
membentuk mioepitil yang berguna untuk kontraksi mengeluarkan air susu ke
sistem saluran sir susu. Glandula mammae yang matang terdiri atas 15 – 25 lobus
yang berkembang dari pertumbuhan secondary buds. Lobus lobus itu tersusun
radier dan dipisahkan satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari
banyak lobulus yang selanjutnya akan membentuk alveoli. Produksi susu oleh
epitil sekretoris di alveoli akan dikumpulkan dalam duktulus dan selanjutnya
mengumpul pada saluran yang lebih besar dan masuk mengumpul di sinus
laktiferus yang selanjutnya akan keluar melalui duktus laktiferus yang bermuara
di puting susu. Masing masing lobus mempunyai duktulus, duktus dan sinus
laktiferus sendiri sendiri. Orientasi lokasi payudara setelah wanita dewasa adalah
di sebelah lateral linea mediana diantara kosta II dan VI dan melebar kesamping
dari pinggir sternum sampai linea aksilaris medialis. Glandula mamma berada
dijaringan subkutan menutupi otot pektoralis mayor dan sebagian otot serratus
anterior dan otot oblikus eksterna. Pada puncak payudara ada bagian yang
menonjol dengan warna lebih gelap yaitu puting susu (mammilia) dan kalang susu
(areola mammae) yang berisi 20–24 kelenjar Montgomery yang bermuara di
kalang susu tersebut untuk kepentingan lubrikasi. Bentuk dan ukuran mamma
bervariasi tergantung saat pertumbuhannya seperti misalnya, masa sebelum
pubertas, pubertas, adolesen, dewasa, saat menyusui dan pada ibu multipara.
Mamma akan berkembang menjadi besar saat hamil dan masa laktasi dan akan
mengecil dan kisut menjelang masa menopause. Faktor yang berperan untuk
memperbesar ukuran mamma adalah hipertropi pembuluh darah, sel mioepitil,
jaringan ikat dan deposit lemak serta retensi cairan dan elektrolit. Saat kehamilan,
aliran darah ke mamma dua kali lebih banyak dibandingkan sebelum kehamilan.

B. Pembentukan Air Susu


Glandula mammae juga dapat dianggap sebagai “cermin” kinerja organ
endokrin sebab pada saat laktasi kelenjar ini sangat dipengaruhi oleh hasil
interaksi kerja beberapa hormon. Hubungan yang baik poros hipothalamus dan
hipofise merupakan persyaratan yang penting. Sebelum dapat berfungsi untuk
menghasilkan air susu maka mamma sesungguhnya tumbuh dan berkembang
dalam tiga tahapan yaitu :
 Tahap mammogenesis : tahap pertumbuhan dan perkembangan mamma.
Sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, prolaktin, growth
hormone, glukokortikoid dan epithelial growth factor.
 Tahap laktogenesis : awal terbentuknya air susu ibu. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh hormon prolaktin, menurunnya kadar estrogen dan
progesteron serta hPL (human placental lactogen), serta peran
glukokortikoid dan insulin.
 Tahap galaktopoesis : tahap mempertahankan produksi air susu tetap
ada.yang dipengaruhi oleh : turunnya hormon gonad, isapan puting susu
saat menyusui, disamping juga peran growth hormone, glukokortikoid,
insulin dan hormon thiroksin dan hormon parathiroid.
Estrogen berperan pada pertumbuhan duktus dan duktulus serta
pembentukan alveoli sedangkan progesteron dibutuhkan untuk pematangan secara
optimal epitil sekresi alveoli. Perkembangan difrensiasi sel kelenjar menjadi
bagian sekresi dan bagian mioepitel ada dibawah pengaruh hormon prolaktin,
growth hormone, insulin, kortisol dan epithelial growth factor. Meskipun sel
sekretoris alveoli aktif membentuk lemak susu dan protein akan tetapi hanya
sedikit saja yang masuk ke lumen duktus. Prolaktin merupakan hormon terpenting
untuk inisiasi produksi air susu tetapi tetap membutuhkan suasana rendah
estrogen. Estrogen dan progesteron plasenta memblok pengaruh prolaktin
terhadap fungsi sekresi epitel kelenjar susu. Itulah sebabnya laktasi belum bisa
dimulai kecuali sudah adanya penurunan plasma estrogen, progesteron dan hPL
segera setelah persalinan.

Untuk mempertahankan produksi air susu dibutuhkan mekanisme


pengisapan puting susu dan proses pengosongan saluran dan alveoli kelenjar
susu.. Growth hormone, kortisol, tiroksin serta insulin menyebabkan hal itu
mudah terjadi. Prolaktin dibutuhkan saat galaktopoesis akan tetapi bila ibu itu
tidak menyusui maka konsentrasinya akan menurun sampai mencapai konsentrasi
seperti wanita tidak hamil dalam tiga minggu. pasca kelahiran . Oleh karena itu
dengan terus menerus melakukan menyusui akan merangsang keluarnya
perolaktin (prolactin reflex) yang mungkin melakukan inhibisi terhadap dopamine
yang diduga sebagai hipothalamic prolactin inhibiting factor (PIF). Kecupan bayi
terhadap puting susu juga akan menimbulkan refleks pelepasan oksitosin yang
akan menyebabkan kontraksi uterus dan juga kontraksi sel mioepitil yang terdapat
disekitar alveoli dan duktuli sehingga air susu akan muncrat ke luar (let down
reflex/milk ejection reflex).

C. Proses Menyusui Dan Rawat Gabung


Untuk kepentingan kesehatan reproduksi maka proses menyusui (laktasi)
bayi oleh ibu yang baru melahirkan sangat dianjurkan. Manajemen rawat gabung
telah menjadi persyaratan bagi rumah sakit sayang ibu. Hanya dengan menyusui
bayi maka prolactin reflex dan milk ejection reflex akan tetap terjaga dan akan
menunjang suksesnya masa laktasi. Sebaliknya bayi yang sehat untuk proses
menyusuinya telah mempunyai tiga refleks intrinsic yang diperlukan untuk
berhasilnya menyusui yaitu : refleks mencari (rooting reflex), refleks mengisap
(sucking reflex) dan refleks menelan (swallowing reflex). Ada banyak keuntungan
yang didapatkan oleh ibu dan bayi serta rumah sakit yang melaksanakannya.
Prinsip rawat gabung adalah pemahaman dan pelaksanaan tentang hal hal sebagai
berikut :
 Bila tak ada kontra indikasi maka sesegera mungkin ibu menyusui bayi
yang baru dilahirkan.
 Menyusui tanpa jadwal tertentu tetapi sesuai dengan kebutuhan bayi,
makin sering dan makin lama menyusui makin baik.
 Membersihkan dan merawat payudara dan menyusukan bergantian kanan
dan kiri Tidak memakai susu pengganti atau susu botol.
 Melakukannya terus menerus secara eksklusif selama empat bulan.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan let down / milk ejection reflex


adalah dengan : ibu melihat bayi, ibu mendengarkan suara bayi, ibu mendekap
dan mencium bayi serta ibu memikirkan untuk menyusui bayi. Sebaliknya ada
faktor-faktor yang dapat menghambatnya adalah : ibu yang kacau pikiran, takut
atau cemas yang berlebihan.

D. Penggunaan Obat Saat Laktasi


Sebagian besar obat yang diberikan pada ibu akan masuk ke air susu ibu.
Banyak factor yang mempengaruhi ekskresinya antara lain : konsentrasinya dalam
plasma, derajat ikatan protein, derajat keasamanplasma, ionisasi, kelarutan lipid
dan berat molekul. Secara umum jumlah konsentrasi obat yang masuk ke air susu
dan diminum bayi sangat sedikit dan efeknya diabaikan. Akan tetapi ada juga
golongan obat obat yang di kontraindikasikan untuk diminum ibu yang sedang
laktasi yaitu : bromokriptin, kokain, siklofospamid, siklosporin, doksorubisin,
lithium, methotreksat, pensiklidin, fenindion dan yodium radioaktif. Oleh karena
itu setiap memberikan obat kepada ibu yang sedang laktasi harus dipertimbangkan
dengan sangat cermat antara keperlua, keuntungan serta dampak buruknya.

E. Keuntungan Laktasi Bagi Ibu Dan Bayi


Disamping sangat ekonomis maka peristiwa menyusui mempunyai
keuntungan, diantaranya :
 Meningkatkan kontraksi uterus sehingga mempercepat involusi uterus
 Meningkatkan jumlah produksi air susu
 Meningkatkan hubungan emosional ibu anak secara lebih sempurna
 Secara epidemiologis, ibu menyusui lebih terlindung dari kanker payudara
 Bila dilakukan secara eksklusif selama empat bulan, akan dapat berfungsi
sebagai kontrasepsi alamiah.

Sejauh ini tidak dijumpai kerugian menyusui bagi ibu, hanya diberikan
kontra indikasi menyusui untuk ibu yang :
 Mempunyai TBC infeksius
 Mastitis yang berat
 Menderita HIV / AIDS
 Kanker payudara
 Keadaan umum / gizi yang sangat buruk
 Menderita cytomegalo virus dan hepatitis B, kecuali sudah mendapatkan
iminisasi untuk kedua hal tersebut.
 Mengalami psikosis berat

Keuntungan laktasi bagi bayi adalah jelas berupa :

 Mendapatkan makanan dengan komponen nutrisi terbaik


 Mendapatkan kekebalan pasif non spesifik (berupa : faktor pertumbuhan
laktobasilus bifidus, laktoferin, lisozim dan laktoperoksidase) dan
kekebalan non spesifik (berupa : sistem komplemen, sitem seluler dan
immunoglobulin) dari ibu.
 Siap pakai dengan tempratur yang sesuai dan tidak repot.
 Secara emosional lebih menguntungkan bayi
 Secara epidemiologis merangsang lebih aktif sistem kekebalan aktif bayi
yang sedang tumbuh.

Kontra indikasi bayi untuk rawat gabung bila :

 Lahir asfiksia berat sehingga perlu perawatan intensif


 Ada kelainan bawaan daerah mulut yang tak mungkin melakukan laktasi
 Bayi kejang atau kesadarannya menurun
 Bayi dengan kelainan jantung dan paru

Segera melakukan rawat gabung untuk ibu dan anak merupakan kebijakan
nasional yang harus dilakukan pada setiap rumah sakit / tempat bersalin yang
menyatakan dirinya : sayang bayi. Oleh karena sudah diketahui manfaatnya untuk
ibu dan bayinya rawat gabung dapat dilakukan secara temporer maupun kontinyu
dan diatur dengan berbagai model sesuai fasilitas yang dipunyai masing masing
rumah sakit. Komunikasi , informasi dan edukasi tentang hal ini harus dipahami
oleh seluruh petugas kesehatan dan segera diberikan mulai saat awal pemeriksaan
ante-natal (Karkata, 2004)

Sumber : Karkata, M. K. (2004). Ilmu Kedokteran Fetomaternal, 122–126.


Retrieved from https://id.scribd.com/doc/201703128/ILMU-
KEDOKTERAN-FETOMATERNAL diakses pada 01 Agutus 2019 pukul
20.05 WIB