Anda di halaman 1dari 26

PEMERINTAH KABUPATEN HALMAHERA UTARA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TOBELO

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KABUPATEN HALMAHERA UTARA

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH TOBELO

NOMOR 445/237/KEP-DRSUD/IX/2019

TENTANG

PANDUAN PENGUKURAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH


SAKIT UMUM DAERAH TOBELO

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TOBELO,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu


pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah
Tobelo, diperlukan suatu proses pelayanan yang
professional, cepat dan tepat serta sesuai dengan
ketentuan dan standar yang berlaku;

b. bahwa untuk kepentingan tersebut diatas, perlu


diterbitkan Keputusan Direktur Tentang Panduan
Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien Di Rumah
Sakit Umum Daerah Tobelo;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29


tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
2. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan;
3. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 983 Tahun 1992 tentang
Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1438 Tahun 2010 tentang
Standar Pelayanan Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 11 Tahun
1 2017 tentang Keselamatan
Pasien;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 34 Tahun 2017 tentang Akreditasi Rumah
Sakit;
8. Pedoman Upaya Peningkatan Mutu
Rumah Sakit, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 1994;
9. Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan
Pasien (IKP), Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (KKP-RS) Tahun 2015;
10. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (Patient Safety), Depertemen Kesehatan
Republik Indonesia Tahun 2008;
11. Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu Pelayanan
Rumah Sakit, WHO-Departemen Kesehatan
Republik Indonesia Tahun 2001;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH TOBELO TENTANG PANDUAN PENGUKURAN
BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH TOBELO
KESATU : Panduan Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien
di Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo sebagaimana
tercantum dalam lampiran Keputusan ini.
KEDUA : Panduan Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien di
Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo ini harus dibahas
sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) tahun sekali dan
apabila diperlukan dapat dilakukan perubahan sesuai
dengan perkembangan yang ada di Rumah Sakit Umum
Daerah Tobelo
KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Tobelo
pada tanggal 11 Juni 2019

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH TOBELO,
KABUPATEN HALMAHERA UTARA,

IRWANTO TANDAAN

LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH TOBELO
NOMOR 445/237/KEP
DRSUD/IX/2019
TENTANG PANDUAN PENGUKURAN
BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
TOBELO

BAB I
DEFINISI

A. Budaya Keselamatan Pasien


Penerapan budaya keselamatan pasien yang adekuat akan
menghasilkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan kesehatan
yang bermutu tidak cukup dinilai dari kelengkapan teknologi, sarana
prasarana yang canggih dan petugas kesehatan yang profesional, namun
juga ditinjau dari proses dan hasil pelayanan yang diberikan (Ilyas,
2009).

Budaya keselamatan yang baik dapat memperkecil insiden yang


berhubungan dengan keselamatan pasien. Penelitian Harvard School of
Public Health (HSPH) (2011) menyebutkan bahwa dari seluruh dunia 43
juta orang dirugikan setiap tahun akibat perawatan yang tidak aman.
Sekitar 70% dari pasien yang mengalami kesalahan medis
menderita cacat ringan atau sementara, 7% pasien cacat permanen
dan 13,6% kasus berakibat fatal (Collinson, Throne, Dee, MacIntyre, &
Pidgeon, 2013). Menurut Blegen (2006) dalam Hamdani (2007),
budaya keselamatan pasien adalah persepsi yang dibagikan diantara
anggota organisasi ditujukan untuk melindungi pasien dari kesalahan
tata laksana maupun cidera akibat intervensi. Persepsi ini meliputi
kumpulan norma, standar profesi, kebijakan, komunikasi dan tanggung
jawab dalam keselamatan pasien. Budaya ini kemudian mempengaruhi
keyakinan dan tindakan individu dalam memberikan pelayanan. Budaya
keselamatan pasien merupakan bagian penting dalam keseluruhan
budaya organisasi yang diperlukan dalam institusi kesehatan. Budaya
3
keselamatan didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan, norma,
perilaku, peran dan praktek social maupun teknis dalam meminimalkan
pajanan yang membahayakan atau mencelakakan karyawan,
manajemen, pasien, atau anggota masyakat lainnya.
Menurut Fleming (2006) dalam Hamdani (2007), budaya
keselamatan pasien merupakan suatu hal yang penting karena
membangun budaya keselamatan pasien merupakan suatu cara
untuk membangun program keselamatan pasien secara keseluruhan,
karena apabila kita lebih focus pada budaya keselamatan pasien maka
akan lebih menghasilkan keselamatan yang lebih apabila dibandingkan
hanya dengan memfokuskan programnya saja.

Konsep budaya keselamatan berasal dari luar pelayanan


kesehatan. Rumah sakit merupakan organisasi yang kompleks dan
berisiko terjadi cedera pada pasien, pengunjung maupun staf maka
organisasi rumah sakit perlu menjaga komitmen terhadap keselamatan
di semua tingkat, mulai dari frontline, PPA, staf klinis hingga manajer
dan eksekutif.

B. Komponen Budaya Keselamatan Pasien


Menurut Reason (1997) dalam Hamdani (2007) budaya keselamatan
terdiri dari empat komponen (subculture) yaitu :

1. Informed Culture. Budaya dimana pihak yang mengatur dan


mengoperasikan system memiliki pengetahuan terkini tentang factor-
faktor yang menjelaskan keselamatan dalam suatu system

2. Reporting culture. Budaya dimana anggota di dalamnya siap


untuk melaporkan kesalahan atau near miss. Pada budaya ini
organisasi dapat belajar dari pengalaman sebelumnya.
Konsekuensinya makin baik reporting culture maka laporan kejadian
akan semakin meningkat
3. Just culture. Budaya membawa atmosfer trust sehingga anggota
bersedia dan memiliki motivasi untuk memberikan data dan
informasi serta sensitive terhadap perilaku yang dapat diterima dan
tidak dapat diterima. Termasuk di dalamnya lingkungan non punitive
(no blame culture) bila staf melakukan kesalahan. Penting bagi
setiap level di organisasi untuk bersikap jujur dan terbuka.

4. Learning culture. Budaya 4dimana setiap anggota mampu dan


bersedia untuk menggali pengetahuan dari pengalaman dan data
yang diperoleh serta kesediaan untuk mengimplementasikan
perubahan dan perbaikan yang berkesinambungan (continuous
improvement). Learning culture merupakan budaya belajar dari
insiden dan near miss.
C. Perilaku/Hal-hal yang mempengaruhi Budaya Keselamatan Pasien

Perilaku-perilaku di rumah sakit yang tidak mendukung budaya


keselamatan pasien adalah :

1. Perilaku yg tidak layak (Inappropriate), seperti kata-2 atau bahasa


tubuh yang merendahkan atau menyinggung perasaan
sesama staf, misalnya mengumpat, memaki

2. Perilaku yg mengganggu (disruptive) a.l. perilaku tidak layak yg


dilakukan secara berulang, bentuk tindakan verbal atau non verbal
yg membahayakan atau mengintimidasi staf lain, komentar
sembrono didepan pasien yg berdampak menurunkan kredibilitas
staf klinis lain, melarang perawat utk membuat laporan tentang KTD,
memarahi staf klinis lainnya didepan pasien, kemarahan yg
ditunjukkan dengan melempar alat bedah di kamar operasi,
membuang rekam medis diruang rawat, dll

3. Perilaku yang melecehkan (harassment) terkait dengan ras,


agama, suku termasuk gender
4. Pelecehan Seksual
Hal-hal penting untuk menuju budaya keselamatan pasien :
1. Staf rumah sakit mengetahui bahwa kegiatan operasional RS berisiko
tinggi dan bertekad untuk melaksanakan tugas dengan konsisten dan
aman.

2. Regulasi dan lingkungan kerja mendorong staf tidak takut


mendapat hukuman bila membuat laporan tentang kejadian tidak
diharapkan dan kejadian nyaris cedera

3. Direktur rumah sakit mendorong tim keselamatan pasien melaporkan


insiden keselamatan pasien ke tingkat nasional sesuai
peraturan perundang- undangan.

4. Mendorong adanya kolaborasi antar staf klinis dengan


pimpinan untuk mencari penyelesaian
5 masalah keselamatan pasien.
5. Komitmen organisasi menyediakan sumber daya, seperti staf,
pelatihan, metode pelaporan yang aman, dan sebagainya untuk
menangani masalah keselamatan.
D. Tujuan

1. Umum
Menjadi panduan dalam pengukuran budaya keselamatan pasien
di RSUD Tobelo

2. Khusus
a. Terlaksananya pengukuran budaya keselamatan pasien
di RSUD Tobelo

b. Tergalinya permasalahan terkait budaya keselamatan pasien


di RSUD Tobelo

c. Terwujudnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan


masyarakat
d. Terlaksananya pelaporan insiden dan belajar dari insiden
yang terjadi untuk mengurangi berulangnya dan keparahan dari
insiden keselamatan

6
BAB II
RUANG LINGKUP

Pengukuran Budaya Keselamatan pasien di RSUD Tobelo, dilaksanakan secara


periodik (setiap 6 bulan). Pengukuran budaya keselamatan pasien ini bertujuan
untuk melihat gambaran budaya keselamatan pasien di empat tingkatan yang
berjejaring di RS yaitu individual, unit kerja, manajemen dan organisasi sehingga
mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kondisi budaya keselamatan
pasien yang ada di RS menggunakan instrument berupa kuesioner dan diskusi
kelompok. Pengukuran budaya keselamatan pasien dilatarbelakangi oleh tidak
tercapainya indikator mutu RS tentang pelaporan insiden keselamatan pasien.

Kuesioner dari AHRQ ini menilai budaya keselamatan pasien dipengaruhi oleh 3
aspek yang dibagi kedalam 12 dimensi, diantaranya (AHRQ, 2004) :

1. Tingkat unit, terdiri atas dimensi :


a. Supervisor/manager action promoting safety
Pertimbangan supervise/manajer terhadap saran staf untuk meningkatkan
keselamatan pasien, pujian staf untuk mengikuti prosedur keselamatan
pasien dan tidak mengabaikan masalah keselamatan pasien pada petugas di
unit RS yang ditunjukkan dengan jawaban pada kuesioner

b. Organizational learning – perbaikan berkelanjutan


Proses pembelajaran dari kejadian kesalahan, bagaimana terjadi dan
tindakan pencegahan yang harus dilakukan supaya tidak lagi terjadi error yang
kemudian membuat proses perbaikan berkelanjutan sehingga membawa
perubahan yang positif

c. Kerja sama dalam unit di rumah sakit


Kondisi dimana individu dalam satu unit saling mendukung memperlakukan
satu sama lain dengan hormat dan bekerja sebagai tim yang ditunjukkan
dengan jawaban pada kuesioner

7
d. Komunikasi terbuka
Suatu proses penyampaian pesan (informasi, ide, gagasan, pernyataan) dari
staf tanpa rasa takut/bebas baik mengenai tindakan yang diputuskan
maupun jika mereka melihat sesuatu dengan negative yang dapat
mempengaruhi pasien yang ditunjukkan dengan jawaban pada kuesioner
e. Umpan balik dan komunikasi mengenai kesalahan
Proses dimana setiap anggota bersedia untuk mengkomunikasikan kesalahan
yang terjadi dalam unit dalam menggali pengetahuan dari pengalaman dan data
yang diperoleh dan membuat upaya pencegahan pada petugas yang
ditunjukkan dengan jawaban pada kuesioner

f. Respon tidak mempersalahkan terhadap kesalahan (Respon Non Punitive)


Sikap tidak menghukum/menuduh/memojokkan terhadap kejadian yang
tidak dharapkan dan kejadian nyaris cedera yang dibuat atau dilaporkan oleh
staf yang ditunjukkan dengan jawaban pada kuesioner

g. Staffing
Proses penataan staff dalam unit untuk menangani beban kerja dan jam kerja
yang sesuai untuk memberikan perawatan yang baik bagi pasien

2. Tingkat rumah sakit, terdiri atas dimensi :


a. Dukungan manajemen terhadap upaya keselamatan pasien

Sikap dan prioritas manajemen rumah sakit dalam menyediakan iklim kerja
terhadap upaya pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit yang
ditunjukkan dengan jawaban pada kuesioner

b. Kerja sama antar unit di rumah sakit


Kondisi dimana individu antar unit atau berlainan unit saling membantu,
berkoordinasi, dan saling mendukung satu sama lain untuk memberikan
perawatan terbaik bagi pasien yang ditunjukkan dengan jawaban pada
kuesioner

8
c. Handsoff/perpindahan dan transisi pasien
Proses berpindahnya pasien dari satu unit ke unit lain ataupun perpindahan
informasi mengenai pasien ketika terjadi pergantian shift antara petugas

3. Keluaran, terdiri atas dimensi :


a. Persepsi keseluruhan staf di rumah sakit terkait keselamatan pasien
Pemahaman staf mengenai program patient safety (keselamatan pasien)
kesalahan secara keseluruhan berupaya prosedur dan system yang baik
untuk mencegah kejadian keselamatan pasien yang ditunjukkan dengan
jawaban pada kuesioner
b. Frekuensi pelaporan kejadian
Seberapa sering pelaporan mengenai kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dan
kejadian nyaris cedera (KNC) yang ditunjukkan dengan jawaban pada
kuesioner. Hasil kuesioner budaya keselamatan pasien akan dianalisa dan
dilaporkan kepada Direktur RSUD Tobelo.

9
BAB III
TATA LAKSANA

A. Metode Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien


Pengukuran budaya keselamatan pasien menggunakan metode kuesioner dan
diskusi kelompok pada saat Ronde Keselamatan Pasien (RKP). Kuesioner
dibagikan kepada responden seluruh unit pelayanan. Responden dalam hal ini
adalah seluruh karyawan rumah sakit dari petugas keamanan, administrasi,
perawat, dan dokter. Kuesioner dibagikan setiap bulan menggunakan jumlah
sampel berdasarkan untuk setiap unit pelayanan per bulan. Sedangkan
Ronde Keselamatan Pasien dilakukan setiap bulan oleh Tim RKP.

Proses Pengumpulan Data :


a. Verifikasi jumlah responden
b. Tentukan jumlah sampel secara statistik :

Jumlah Populasi Sebulan (N) Jumlah Sampel Sebulan (n)


≥ 640 128
320 – 639 20 % Total populasi
64 – 319 64
< 64 100 % populasi

B. Evaluasi Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien


Kuesioner yang digunakan memiliki pernyataan positif dan negatif.
Berikut distribusi pernyataan positif dan negatif pada kuesioner

No Dimensi No. Pernyataan Total


Positif Negatif
1 Kerja sama dalam unit A1,A3,A4,A11 - 4
2 Harapan dan tindakan manajer B1, B2 B3, B4 4
dalam mempromosikan patient
safety
3 Organizational learning-Perbaikan A6, A9, A13 - 3
berkelanjutan
Dukungan manajemen terhadap

10
4 patient safety E1, E8 E9 3
5 Persepsi perawat terhadap patient A15, A18 A10,A17 4
safety
6 Umpan dan komunikasi C1, C3, C5 - 3
terhadap
balik
7 kesalahan
Komunikasi terbuka C2, C4 C6 3
8 Frekuensi pelaporan kejadian D1, D2, D3 - 3
9 Kerja sama antar unit E4, E10 E2,E6 4
10 Staffing A2 A5, A7, A14 4
11 Handsoff dan transisi - E3,E5,E7, E11 4
12 Respon punitive terhadap - A8, A12, A16 3
kesalahan
non
Total Pernyataan 42

Kuesioner pada penelitian ini menggunakan skala Likest. Jawaban Skala


Likest pada kuesioner ini terdiri dari sangat tidak setuju, tidak setuju,
setuju dan sangat setuju.

a. Mengkode data, yaitu membuat klasifikasi data dan member kode


atau nilai pada jawaban dari setiap pertanyaan dalam kuesioner.
Pemberian nilai tergantung pada pernyataan positif atau negative pada
kuesioner. Pada pernyataan positif maka aturan pemberian nilai jawaban
responden sebagai berikut :
Sangat Setuju / Selalu Diberi nilai 4
Setuju /Sering Diberi nilai 3
Tidak Setuju / Jarang Diberi nilai 2
Sangat Tidak Setuju /Tidak pernah Diberi nilai 1

Pada pernyataan negatif diberi nilai sebaliknya dari aturan pemberian nilai
pada pernyataan positif.
b. Menyunting data
Kuesioner yang telah diisi dilihat kelengkapan jawabannya, sebelum
dilakukan proses pemasukan data ke dalam komputer. Sehingga ketika
terdapat data yang salah atau meragukan dapat ditelusuri kembali ke
responden yang bersangkutan.

11
C. Analisa data pengukuran budaya
Setelah dilakukan pengolahan data, dilakukan pengklasifikasian data menjadi
2 kategori yaitu respon positif dan respon negatif. Respon positif adalah
jawaban responden berupa setuju/sering dan sangat setuju/selalu pada
pernyataan positif dan jawaban negatif berupa tidak setuju/jarang dan
sangat tidak setuju/tidak pernah pada pernyataan negatif. Respon negatif
adalah merupakan kebalikan dari respon positif adalah jawaban responden
berupa setuju/sering dan sangat setuju/selalu pada pernyataan negatif
dan jawaban tidak setuju/jarang dan sangat tidak setuju/tidak pernah pada
pernyataan positif. Untuk menghitung persentase budaya keselamatan
pasien adalah sebagai berikut :

Langkah 1. Identifikasi item pernyataan yang mengukur dalam satu dimensi


budaya keselamatan pasien yang terdiri dari pernyataan positif dan
negatif
Langkah 2. Hitung jumlah respon positif dan respon negative pada satu dimensi
Langkah 3. Hitung jumlah total respon pada satu dimensi
Langkah 4. Bagi jumlah respon positif pada satu dimensi dengan total respon pada
satu dimensi kemudian hasilnya dijadikan dalam bentuk persentase respon
positif. Hasil tersebut merupakan persentase respon positif pada setiap budaya
keselamatan pasien.
Pengkategorian budaya keselamatan pasien dibagi menjadi 3 kategori yaitu
budaya lemah, budaya sedang, dan budaya kuat berdasarkan pedoman pada
Hospital Survey On Patient Safety Culture yang dilakukan AHRQ. Suatu budaya
keselamatan pasien dikatakan kuat apabila jumlah rata-rata responden yang
memiliki respon positif 75% atau lebih, dikatakan sedang apabila rata-rata
responden memiliki respon positif sebesar 50% - 75%, dikatakan membudaya
lemah apabila rata-rata jumlah responden yang memiliki respon positif kurang
dari 50%.
Untuk melihat gambaran budaya keselamatan pasien secara keseluruhan
langkahnya pada dasarnya sama dengan langkah di atas, perbedaannya hitung

12
jumlah seluruh respon positif pada semua dimensi kemudian dibagi dnegan
jumlah seluruh respon yang didapat.

13
BAB IV
DOKUMENTASI

Dokumentasi pengukuran budaya keselamatan pasien dibuat per


dimensi dan rekapitulasi persentase respon positif dari semua dimensi.

A. Kuesioner pengukuran budaya keselamatan pasien, dibagikan kepada 2


kelompok :

1. Unit kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan pasien


2. Unit kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan pelayanan pasien
(pelayanan penunjang)
B. Hasil pengukuran budaya keselamatan pasien tiap dimensi
1. Kerja sama dalam unit

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
A1 Kami sesama staf di unit ini saling
mendukung satu sama lain
A3 Jika banyak pekerjaan yang harus
diselesaikan dengan cepat, kami saling
bekerja sama sebagai tim
A4 Saya merasa setiap orang di unit ini saling
menghargai satu sama lain
A11 Bila suatu area di unit ini sibuk, maka
petugas di area lain akan membantu
Total
Persentase (%)

2. Dimensi Harapan dan Tindakan Manajer/atasan


mempromosikan keselamatan pasien

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
B1 Atasan saya memberikan pujian jika
melihat pekerjaan diselesaikan sesuai

14
dari staf untuk meningkatkan
keselamatan pasien dengan serius
B3 Bila beban kerja tinggi, maka atasan kami
meminta kami bekerja dengan lebih cepat
walaupun harus mengambil jalan pintas
B4 Atasan saya gagal mengantisipasi
masalah keselamatan pasien (KTD
maupun KNC) yg telah terjadi berulang-2
Total
Persentase (%)
prosedur untuk keselamatan pasien
B2 Saya merasa Atasan saya sudah
mendengar dan mempertimbangkan saran

3. Organizational Learning – Perbaikan berkelanjutan

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
A6 Dalam unit ini kami secara aktif
melakukan kegiatan untuk keselamatan
pasien (sosialisasi, bertukar informasi,
diskusi mengenai keselamatan pasien)
A9 Kesalahan yang terjadi di unit ini
dijadikan pemicu untuk perubahan ke
arah yang lebih baik
A13 Setelah kami melakukan pelayanan
kepada pasien demi keselamatan pasien,
maka kami senantiasa mengevaluasi
keefektifannya
Total
Persentase (%)

15
4. Dukungan Manajemen terhadap patient-safety

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
E1 Manajemen rumah sakit menyediakan
iklim kerja yang mendukung bagi
keselamatan pasien
E8 Kebijakan manajemen rumah sakit
menunjukkan bahwa keselamatan pasien
merupakan prioritas
E9 Manajemen rumah sakit harus peduli
terhadap keselamatan pasien jika terjadi
KTD maupun KNC
Total
Persentase (%)

5. Persepsi petugas terhadap patient safety

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
A10 Jika ada Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
pada pasien terjadi di unit ini adalah
suatu hal yang kebetulan
A15 Staf di unit kami tidak pernah
mengorbankan keselamatan pasien
dengan alasan banyak pekerjaan
A17 Kami memiliki masalah mengenai
keselamatan pasien di unit ini
A18 Prosedur dan sistem kami sudah baik
dalam mencegah terjadinya
kesalahan/error (KTD atau KNC)
Total
Persentase (%)

16
6. Umpan balik dan komunikasi terhadap kesalahan

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
C1 Atasan saya memberikan umpan balik ke
arah perbaikan berdasarkan laporan
kejadian (KTD maupun KNC)
C3 Kami diberitahu mengenai kesalahan-
kesalahan KTD (Kejadian Tidak
DIharapkan) maupun KNC (Kejadian
Nyaris Cedera) yang terjadi di unit kami
C5 Di unit ini kami mendiskusikan dengan
sesama petugas /dokter bagaimana cara
untuk mencegah error/KTD dan KNC
supaya tidak terjadi kembali
Total
Persentase (%)

7. Komunikasi terbuka

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
C2 Kami bebas mengungkapkan
pendapatnya
jika melihat sesuatu yang bisa
berdampak negative terhadap pelayanan
C4 Kami merasa bebas untuk bertanya
pasien
kepada sesama petugas lain/dokter
tentang keputusan maupun tindakan
yang diambil di unit ini
C6 Kami merasa takut untuk bertanya ketika
mengetahui ada yang tidak beres dalam
pelayanan pasien
Total
Persentase (%)

17
8. Frekuensi pelaporan kejadian

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
D1 Ketika kesalahan terjadi, tetapi hal
tersebut segera diketahui dan dikoreksi
sebelum mempengaruhi atau berdampak
pada pasien, seberapa hal tersebut sering
dilaporkan ?
D2 Ketika kesalahan terjadi, namun tidak
berpotensi untuk membahayakan pasien,
seberapa sering hal tersebut dilaporkan ?
D3 Ketika kesalahan terjadi, yang berpotensi
membahayakan pasien, walaupun hal
yang buruk tidak terjadi pada pasien,
seberapa sering hal ini dilaporkan?
Total
Persentase (%)

9. Kerja sama antar unit

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
E2 Unit satu dengan unit lain di rumah sakit
ini tidak berkoordinasi dengan baik
E4 Saya sering kali merasa tidak nyaman bila
harus bekerja sama dengan staf unit lain
di rumah sakit ini
E6 Kami merasa ada kerja sama yang tidak
baik antar unit di rumah sakit saat
menyelesaikan pekerjaan bersama
E10 Unit-unit di rumah sakit bekerja sama
dengan baik untuk memberikan
pelayanan yang terbaik bagi pasien
Total
Persentase (%)

18
10. Staffing

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
A2 Kami memiliki jumlah staf yang cukup
untuk menangani beban kerja yang berat
di unit ini
A5 Perawat di unit ini bekerja sampai lembur
untuk melayani pasien
A7 Unit ini sering menggunakan tenaga
honorer/cadangan untuk melayani pasien
A14 Kami merasa pada unit kami bekerja
dalam “model krisis” dimana kami harus
melakukan banyak pekerjaan dengan
terburu-buru dalam melayani pasien
Total
Persentase (%)

11. Handsoff dan transisi

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
E3 Masalah sering terjadi saat pemindahan
pasien dari satu unit ke unit lainnya
E5 Saat pergantian shift, informasi penting
mengenai pasien sering hilang
E7 Masalah sering terjadi saat pertukaran
informasi antar unit-unit di rumah sakit
E11 Pergantian shift di rumah sakit
menyebabkan masalah bagi pasien di
rumah sakit ini
Total
Persentase (%)

19
12. Respon Non Punitive terhadap kesalahan

Kode Pernyataan Respon Respon Total


positif negatif
A8 Bila melakukan kesalahan dalam melayani
pasien kami merasa kesalahan tersebut
akan memojokkan/mengancam kami
A12 Bila suatu kejadian dilaporkan (baik KNC
atau KTD) maka yang menjadi fokus
pembicaraan adalah orang yang berbuat
salah, bukan masalahnya
A16 Kami merasa khawatir kesalahan yang
kami buat akan dicatat di dokumen
pribadi kami oleh pimpinan
Total
Persentase (%)

C. Hasil pengukuran budaya keselamatan pasien semua dimensi

No. Dimensi Respon Respon Jumlah Persentase Kategori


Positif Negatif Respon Respon Budaya
Positif
1 Harapan dan
tindakan manajer
dalam
mempromosikan
patient safety
2 Organizational
Learning-
Perbaikan
berkelanjutan
3 Kerja sama dalam
unit
4 Komunikasi
terbuka
5 Umpan balik dan
komunikasi
terhadap
kesalahan
6 Respon Non
Punitive terhadap
kesalahan

20
7 Staffing
8 Dukungan
manajemen
terhadap patient
safety
9 Kerja sama antar
unit
10 Handsoff dan
transisi
11 Persepsi perawat
mengenai patient
safety
12 Frekuensi
pelaporan kejadian
Total
Persentase

21
Lampiran

KUESIONER SURVEY BUDAYA KESELAMATAN PASIEN


RSUD KANJURUHAN KABUPATEN MALANG

Instruksi
Survey ini dilakukan untuk mengetahui persepsi anda mengenai Patient Safety,
medical error dan pelaporan insiden di RSUD Tobelo.
Isi kuesioner ini dalam waktu 15 menit. Isilah kuesioner ini dengan jujur sesuai
keadaan/suasana kerja di unit dan RS anda.
Keselamatan Pasien (Patient Safety) : menghindari dan mencegah cedera pasien
atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) pada pasien yang diakibatkan oleh proses
pemberian pelayanan kesehatan.

Harap diisi pernyataan-pernyataan di bawah ini sesuai pendapat anda.


Beri centang pada kolom jawaban anda.

Kode Pernyataa Sangat Tidak Setuju Sangat *Diisi


n
tidak Setuju setuju Tim
setuj
A1 Kami sesama staf di unit ini KPRS
[ ]
u
saling mendukung satu sama lain A1
A2 Kami memiliki jumlah staf yang [ ]
cukup
untuk menangani beban kerja A2
berat
yang di unit ini
A3 Jika banyak pekerjaan yang [ ]
harus
diselesaikan dengan cepat, kami A3
saling bekerja sama sebagai tim
A4 Saya merasa setiap orang di unit [ ]
ini A4
A5 Perawat di unit satu
saling menghargai ini sama
bekerja
lain [ ]
sampai
lembur untuk melayani pasien A5
A6 Dalam unit ini kami secara [ ]
aktif

22
melakukan kegiatan untuk A6
keselamatan pasien (sosialisasi,
bertukar informasi, diskusi mengenai
A7 Unit ini sering
keselamatan menggunakan
pasien) [ ]
tenaga
honorer/cadangan untuk A7
pasien
melayani
A8 Bila melakukan kesalahan [ ]
dalam
melayani pasien kami merasa A8
kesalahan tersebut akan
memojokkan/mengancam kami
A9 Kesalahan yang terjadi di unit [ ]
ini
dijadikan pemicu untuk perubahan A9
ke arah yang lebih baik
A10 JIka ada Kejadian Tidak [ ]
Diharapkan A10
(KTD) pada pasien terjadi di unit
ini adalah suatu hal yang kebetulan
A11 Bila suatu area di unit ini sibuk, [ ]
maka A11
A12 Bila
petugassuatu
di area kejadian dilaporkan
lain akan membantu [ ]
(baik A12
KNC atau KTD) maka yang menjadi
fokus pembicaraan adalah orang yang
berbuat salah, bukan masalahnya
A13 Setelah kami melakukan [ ]
pelayanan
kepada pasien demi A13
pasien,
keselamatanmaka kami
senantiasa

23
Kode Pernyataa Sangat Tidak Setuju Sangat *Diisi
n
tidak Setuju setuju Tim
setuj
mengevaluasi keefektifannya KPRS
u
A14 Kami merasa pada unit kami [ ]
bekerja A14
dalam “model krisis” dimana kami
harus melakukan banyak pekerjaan
A15 Staf di unit kami tidak [ ]
dengan
pernah terburu-buru dalam melayani
mengorbankan keselamatan A15
pasien
dengan
pasien alasan banyak pekerjaan
A16 Kami merasa khawatir kesalahan [ ]
yang A16
kami buat akan dicatat di
A17 Kami
dokumen memiliki masalah
pribadi kami oleh pimpinan [ ]
mengenai
keselamatan pasien di unit ini A17
A18 Prosedur dan sistem kami sudah [ ]
dalam
baik mencegah A18
kesalahan/error
terjadinya (KTD atau KNC)
B1 Atasan saya memberikan pujian [ ]
jika B1
melihat pekerjaan diselesaikan
B2 Saya merasa untuk
sesuai prosedur Atasan saya
keselamatan [ ]
sudah
mendengar dan B2
pasien
saran dari staf untuk
mempertimbangkan
meningkatkan keselamatan pasien
B3 Bila
denganbeban
seriuskerja tinggi, maka [ ]
atasan
kami meminta kami bekerja B3
lebih
dengancepat walaupun harus
mengambil jalan pintas
B4 Atasan saya gagal [ ]
masalah keselamatan pasien
mengantisipasi B4
maupun
(KTD KNC) yang telah
berulang-ulang
terjadi
C1 Atasan saya memberikan umpan [ ]
balik C1
ke arah perbaikan berdasarkan
C2 Kami bebas(KTD maupun KNC)
laporan kejadian [ ]
mengungkapkan
pendapatnya jika melihat sesuatu C2
bisa
yang berdampak negative
pelayanan pasien
terhadap
C3 Kami diberitahu mengenai [ ]
kesalahan-
kesalahan KTD (Kejadian C3
Tidak
Kode Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sangat *Diisi
tidak Setuju setuju Tim
setuju
KPRS
DIharapkan) maupun KNC
Nyaris Cedera) yang terjadi di unit
(Kejadian
C4 kami
Kami merasa bebas untuk [ ]
bertanya
kepada sesama petugas C4
tentang keputusan maupun
lain/dokter
tindakan yang diambil di unit ini
C5 Di unit ini kami mendiskusikan [ ]
dengan C5
sesama petugas /dokter bagaimana
cara untuk mencegah error/KTD dan
KNC supaya tidak terjadi kembali
C6 Kami merasa takut untuk [ ]
bertanya
ketika mengetahui ada yang tidak C6
beres dalam pelayanan pasien
D1 Ketika kesalahan terjadi, tetapi [ ]
hal
tersebut segera diketahui dan D1
sebelum
dikoreksi mempengaruhi
berdampak pada pasien, seberapa
atau
hal tersebut sering dilaporkan ?
D2 Ketika kesalahan terjadi, namun [ ]
tidak
berpotensi untuk D2
pasien, seberapa sering hal
membahayakan
tersebut dilaporkan ?
D3 Ketika kesalahan terjadi, [ ]
yang
berpotensi membahayakan D3
walaupun
pasien, hal yang buruk tidak
terjadi pada pasien, seberapa sering
hal ini dilaporkan?
E1 Manajemen rumah sakit [ ]
menyediakan
iklim kerja yang mendukung E1
keselamatan
bagi pasien
E2 Unit satu dengan unit lain di [ ]
rumah sakit ini tidak berkoordinasi E2
dengan baik
E3 Masalah sering terjadi saat [ ]
pemindahan E3
E4 Saya
pasiensering kali merasa
dari satu unit ke tidak nyaman
unit lainnya [ ]
bila harus bekerja sama dengan E4
staf unit lain di rumah sakit ini
E5 Saat pergantian shift, informasi [ ]
penting E5
mengenai pasien sering hilang
Kode Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sang *Diisi
at
tidak Setuju Tim
setuju setuj
u KPRS

E6 Kami merasa ada kerja sama yang


tidak baik antar unit di rumah E6
sakit saat menyelesaikan [ ]
pekerjaan bersama
E7 Masalah sering terjadi saat [ ]
pertukaran E7
E8 Kebijakan manajemen
informasi antar unit-unit dirumah [ ]
sakit
menunjukkan bahwa E8
rumah sakit
pasien merupakan prioritas
keselamatan
E9 Manajemen rumah sakit harus [ ]
peduli terhadap keselamatan E9
pasien jika terjadi KTD maupun
KNC
E10 Unit-unit di rumah sakit [ ]
dengan baik
bekerja sama untuk E10
pelayanan
memberikan yang terbaik bagi
E11 Pergantian
pasien shift di rumah [ ]
sakit
menyebabkan masalah bagi E11
pasien di rumah sakit ini
T
o
t
a
l