Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya setiap negara membutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik
termasuk di Indonesia. Good governance merupakan function of governing, salah
satunya mengandung prinsip untuk memberikan pelayanan masyarakat yang baik
oleh jajaran pemerintah dalam segala aspek kehidupan. Menurut Lembaga
Administrasi Negara pada dasarnya good governance merupakan penyelenggaraan
pemerintahan negara yang solid dan bertanggung jawab, serta efisiensi dan efektif
dengan menjaga kesinergisan interaksi yang konstruktif di antara domain-domain
negara, sektor swasta dan masyarakat (Kurniawan, 2005).
Perubahan pada sistem pemerintahan yang awalnya menganut pola
pertanggungjawaban terpusat berubah menjadi pola desentralisasi. Otonomi daerah
dilaksanakan sesuai dengan landasan hukum yang mengaturnya yaitu Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, kedua landasan tersebut merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan
dengan pemerintah pusat dalam upaya meningkatkan daya guna dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat serta telah membuka
jalan bagi pelaksanaan reformasi sektor publik di Indonesia.
Indonesia telah mengadopsi pemikiran new public management (NPM) dengan
melakukan reformasi keuangan negara yang mulai bergulir sejak akhir tahun 2003,
dengan dikeluarkannya tiga paket peraturan keuangan negara yang baru, yaitu
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara, dan Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Keuangan Negara. Dengan ketiga paket
peraturan keuangan negara tersebut telah merubah pola pikir yang lebih efisien,
profesionalitas, akuntabel, dan transparan, dengan melakukan perubahan dari
penganggaran tradisional menjadi penganggaran berbasis kinerja, yang membuka
koridor bagi penerapan basis kinerja di lingkungan pemerintah. Dengan basis kinerja
ini, arah penggunaan dana pemerintah menjadi lebih jelas yang hanya mempunyai
input dan proses sekarang menjadi berorientasi pada output (Jahra, 2013).
Berdasarkan Undang-Undang tersebut, instansi pemerintah yang tugas pokok
dan fungsinya memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat menerapkan pola

1
pengelolaan keuangan yang fleksibel, berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-
praktik bisnis yang sehat dalam rangka memaksimalkan pelayanan kepada
masyarakat dengan tetap menonjolkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas melalui
Badan Layanan Umum (BLU). Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 74 tahun 2012 perubahan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU)
adalah instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual
tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2012
perubahan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) menyebutkan pula
mengenai Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum adalah pola
pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
menerapkan praktik-praktik bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa, sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah ini, sebagai
pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya.
Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan publik memegang peranan
penting bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Rumah sakit dituntut untuk
dapat melayani masyarakat, dapat berkembang dan mandiri serta harus mampu
bersaing dan memberikan pelayanan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat.
Dalam hal ini rumah sakit umum daerah (RSUD) merupakan salah satu institusi
pelayanan publik milik pemerintah daerah yang termasuk ke dalam Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD).
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menyebutkan Badan Layanan Umum Daerah
yang selanjutnya disingkat BLUD adalah sistem yang diterapkan oleh unit pelaksana
teknis dinas/badan daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
mempunyai fleksibilitas dalam pola pengelolaan keuangan sebagai pengecualian dari
ketentuan pengelolaan daerah pada umumnya.
RSUD sebagai instansi yang tugas pokok dan fungsinya memberikan pelayanan
kepada masyarakat dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD. Penelitian
yang berkaitan pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu diantaranya penelitian yang

2
dilakukan oleh Jahra (2013) yang meneliti mengenai analisis implementasi pola
pengelolaan badan layanan umum pada rumah sakit daerah Kalisat-Jember. Hasil
penelitiannya menunjukan bahwa secara keseluruhan PPK BLUD berpengaruh
secara signifikan terhadap kinerja keuangan, kinerja pelayanan serta kinerja mutu
dan manfaat bagi masyarakat sesudah penerapan PPK BLUD.
RSUD Sultan Sulaiman merupakan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten
Serdang Bedagai. Sejak mulai beroperasinya RSUD Sultan Sulaiman berbagai upaya
telah dilakukan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui
penyediaan kesehatan kepada masyarakat melalui penyediaan sumber daya
manusia (SDM) secara kuantitas dan peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan
dan pelatihan dan melakukan pembenahan secara manajemen guna memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan di RSUD Sultan Sulaiman. Sumber daya yang
penting dalam manajemen adalah sumber daya manusia. Pentingnya sumber daya
manusia ini perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen karena majunya
teknologi saat ini, faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan
suatu organisasi. Ketika mengelola manusia, maka harus memperhatikan praktik-
praktik manajemen sumber daya manusia yang penting, yaitu analisis dan desain
pekerjaan, menentukan perencanaan SDM, rekrutmen, seleksi, pelatihan dan
pengembangan, kompensasi, penilaian kinerja, hubungan karyawan. Merujuk pada
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2019 Tentang
Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit bahwa sumber daya manusia di RSUD Sultan
Sulaiman masih belum sesuai dengan standar. Selain itu dalam melegkapi segala
kebutuhan untuk memudahkan proses pelayanan di RSUD Sultan Sulaiman juga
harus melalui tahapan yang memakan waktu yang lama sehingga sering
menghambat dalam kelancaran pelayanan.
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik penelitian tentang “Analisis
Proses Penerapan BLUD Terhadap Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan
Keuangan di Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang
Bedagai”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan penulis, dapat
diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimana pernerapan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum
daerah (PPK-BLUD) di RSUD Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai.

3
b. Bagaimana Proses Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) di Rumah Sakit
Umum Daerah Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai?
c. Bagaimana Proses Pengelolaan Keuangan di Rumah Sakit Umum Daerah
Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai?
d. Apakah terdapat pengaruh penerapan pola pengelolaan keuangan badan
layanan umum daerah (PPK-BLUD) terhadap Proses Pengelolaan Sumber
Daya Manusia (SDM) dan Keuangan di Rumah Sakit Umum Daerah Sultan
Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, secara khusus penelitian ini bertujuan
untuk :
a. Untuk mengetahui bagaimana penerapan pola pengelolaan keuangan badan
layanan umum daerah (PPK-BLUD) di RSUD Sultan Sulaiman Kabupaten
Serdang Bedagai.
b. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di
RSUD Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai.
c. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan keuangan di RSUD Sultan Sulaiman
Kabupaten Serdang Bedagai.
d. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan pola pengelolaan
keuangan badan layanan umum daerah (PPK-BLUD) terhadap Proses
Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Keuangan di Rumah Sakit
Umum Daerah Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat diantaranya sebagai berikut
:
a. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai penerapan pola pengelolaan
keuangan badan layanan umum daerah (PPK-BLUD) terhadap Proses Pengelolaan
Sumber Daya Manusia (SDM) dan Keuangan di Rumah Sakit Umum Daerah Sultan
Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai.
b. Bagi Pemerintah
Bahan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dalam mengambil
kebijaksanaan untuk terus meningkatkan kinerja instansi atau entitas yang termasuk

4
kedalam BLUD Kabupaten Serdang Bedagai dan penerapan pola pengelolaan
keuangan badan layanan umum daerah (PPK-BLUD).

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Badan Layanan Umum (BLUD)


1. Sejarah BLU
Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum berdiri di
Tahun 2006 sebagai amanat dari Undang-Undang Keuangan Negara. Hal utama yang
diamanatkan adalah mengenai pola pengelolaan keuangan untuk Badan Layanan
Umum yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-
praktik bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam
rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Adapun pendekatan mengenai Badan Layanan Umum bertujuan untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan
fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan
produktivitas, dan penerapan praktik bisnis yang sehat.
Instansi pemerintah dapat ditinjau dari sudut mechanic view, sebagai bagian dari
birokrasi, atau organic view, sebagai organisasi yang berkembang dinamis. Dari
kacamata organic view, instansi pemerintah dapat dipersepsikan sebagai agen
pemerintah untuk melayani masyarakat (public service agency). Fungsi ini bersifat
dinamis dan dapat ditransformasikan ke dalam bentuk autonomous agency, yaitu
semacam badan otonom yang tetap menjadi bagian pemerintah dan melaksanakan
kaidah-kaidah bisnis yang sehat, namun tidak mengutamakan mencari keuntungan.
Sejalan dengan terbitnya Undang-Undang nomor 1 tahun 2014 tentang
Perbendaharaan Negara, pemerintah memperkenalkan Pola PK-BLU bagi satker yang
menyediakan layanan kepada masyarakat. Secara khusus ketentuan mengenai PK
BLU diatur pada pasal 68 dan 69 Undang-Undang dimaksud, yang kemudian
diterjemahkan dalam Peraturan Peraturan Nomor 23 tahun 2005 tentang PPK BLU.
Hal ini membuka koridor baru bagi penerapan basis kinerja ini di lingkungan
pemerintah. Dengan Pasal 68 dan 69 dari Undang-Undang tersebut, instansi
pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat
dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan
produktivitas, efisiensi, dan efektivitas.
Instansi BLU ini diharapkan menjadi contoh konkrit yang menonjol dari
penerapan manajemen keuangan berbasis pada hasil kinerja. Secara khusus, peluang

6
untuk menjadi satker BLU terbuka bagi satker pemerintah yang melaksanakan tugas
operasinal pelayanan publik (seperti layanan kesehatan, pendidikan, pengelolaan
kawasan, dan lisensi), untuk membedakannya dari fungsi pemerintah sebagai
regulator dan penentu kebijakan.
Praktik ini telah berkembang luas di manca negara berupa upaya pengagenan
(agencification) aktivitas yang tidak harus dilakukan oleh lembaga birokrasi murni,
tetapi diselenggarakan oleh instansi yang dikelola ala bisnis (business like) sehingga
pemberian layanan kepada masyarakat menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan Pola
PK BLU, fleksibilitas diberikan dalam rangka pelaksanaan anggaran, termasuk
pengelolaan pendapatan dan belanja, pengelolaan kas, dan pengelolan aset.
Kepada satker BLU juga diberikan kesempatan untuk mempekerjakan tenaga
profesional non PNS serta kesempatan pemberian imbalan jasa kepada pegawai
sesuai dengan kontribusinya. Sebagai penyeimbang, satker BLU dikendalikan secara
ketat dalam perencanaan dan penganggarannya, serta dalam
pertanggungjawabannya. BLU dapat berperan sebagai agen dari menteri/pimpinan
lembaga induknya dengan menandatangani kontrak kinerja (a contractual
performance agreement), dimana menteri/pimpinan lembaga induk bertanggung
jawab atas kebijakan layanan yang hendak dihasilkan, dan satker BLU bertanggung
jawab untuk menyajikan layanan yang diminta.

2. Pengertian Badan Layanan Umum (BLUD)


Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang Badan
Layanan Umum Daerah pasal 1 menyebutkan bahwa pengertian Badan Layanan
Umum Daerah adalah sistem yang diterapkan oleh unit pelaksana teknis dinas/badan
daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mempunyai
fleksibilitas dalam pola pengelolaan keuangan sebagai pengecualian dari ketentuan
pengelolaan daerah pada umumnya.

3. Tujuan Badan Layanan Umum (BLUD)


Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang Badan
Layanan Umum Daerah pasal 2 BLUD bertujuan untuk memberikan layanan umum
secara lebih efektif, efisien, ekonomis, transparan dan bertanggungjawab dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan dan manfaat sejalan dengan Praktek Bisnis
Yang Sehat, untuk membantu pencapaian tujuan pemerintah daerah yang
pengelolaannya dilakukan berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh kepala

7
daerah.

4. Persyaratan Penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)


Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang Badan
Layanan Umum Daerah pasal 29 menyebutkan bahwa Unit PelaksanaTeknis
Dinas/Badan Daerah yang akan menerapkan BLUD memenuhi persyaratan yang
meliputi :
a. Substantif
Persyaratan substantif terpenuhi apabila tugas dan fungsi Unit Pelaksana
Teknis Dinas/Badan Daerah bersifat operasional dalam menyelenggarakan layanan
umum yang menghasilkan semi barang/jasa publik. Layanan umum sebagaimana
dimaksud berhubungan dengan :
a. penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum, diutamakan untuk pelayanan
kesehatan, tidak termasuk penyediaan jasa layanan umum yang berkaitan dengan
pajak daerah, retribusi perizinan tertentu dan perizinan.
b. pengelolaan dana khusus untuk meningkatkan ekonomi dan/atau layanan kepada
masyarakat; dan/atau
c. pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian
masyarakat atau layanan umum.

b. Teknis
Persyaratan teknis terpenuhi apabila karakteristik tugas dan fungsi Unit
Pelaksana Teknis Dinas/Badan Daerah dalam memberikan pelayanan lebih layak
apabila dikelola dengan menerapkan BLUD, sehingga dapat meningkatkan
pencapaian target keberhasilan; dan berpotensi meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dan kinerja keuangan apabila dikelola dengan menerapkan BLUD.

c. Persyaratan Administratif
Persyaratan administratif terpenuhi, apabila Unit Pelaksana Teknis
Dinas/Badan Daerah membuat dan menyampaikan dokumen, meliputi :
a. surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja
Surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja ditandatangani
oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas/Badan Daerah dan diketahui oleh
kepala SKPD.
b. pola tata kelola

8
merupakan tata kelola Unit Pelaksana Teknis Dinas/Badan Daerah yang akan
menerapkan BLUD memuat kelembagaan, prosedur kerja, pengelompokan
fungsi dan pengelolaan sumber daya manusia.
c. renstra
merupakan perencanaan 5 (lima) tahun yang disusun untuk menjelaskan strategi
pengelolaan BLUD dengan mempertimbangkan alokasi sumber daya dan kinerja
dengan menggunakan teknik analisis bisnis.
d. standar pelayanan minimal
memuat batasan minimal mengenai jenis dan mutu layanan dasar yang harus
dipenuhi oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas/Badan Daerah yang akan
menerapkan BLUD.
e. laporan keuangan atau prognosis/proyeksi keuangan
disusun oleh kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas/Badan Daerah yang akan
menerapkan BLUD sesuai dengan sistem akuntansi yang diterapkan pada
pemerintah daerah. Laporan keuangan terdiri atas :
i. laporan realisasi anggaran
ii. neraca
iii. laporan operasional
iv. laporan perubahan ekuitas; dan
v. catatan atas laporan keuangan.
f. laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit oleh pemeriksa
eksternal pemerintah.
merupakan laporan audit oleh pemeriksa eksternal pemerintah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan atas laporan keuangan tahun
terakhir sebelum Unit Pelaksana Teknis Dinas/Badan Daerah yang akan
menerapkan BLUD direkomendasikan untuk menerapkan BLUD.

B. Sumber Daya Manusia


1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah ilmu dan seni yang mengatur unsur
manusia (cipta, rasa, dan karsa) sebagai aset suatu organisasi demi terwujudnya
tujuan organisasi dengan cara memperoleh, mengembangkan, dan memelihara tena
ga kerja secara efektif dan efisien (Arep dan Tanjung, 2003).
Manejemen adalah satu aktivitas yang sudah dipraktekkan sejak manusia
hidup (Baldry dan Amaratunga, 2002). Manajemen sumber daya manusia (MSDM)

9
merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Proses ini terdapat
dalam fungsi/bidang produksi, pemasaran, keuangan, maupun kepegawaian. Karena
sumber daya manusia (SDM) dianggap semakin penting perannya dalam
pencapaian tujuan perusahaan, maka berbagai pengalaman dan hasil penelitian
dalam bidang SDM dikumpulkan secara sistematis dalam apa yang disebut
manajemen sumber daya manusia. Istilah “manajemen” mempunyai arti sebagai
kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memanage (mengelola)
sumber daya manusia.
Dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi
manajemen bukan hanya terdapat pada bahan mentah, alat-alat kerja, mesin-mesin
produksi, uang dan lingkungan kerja saja, tetapi juga menyangkut karyawan (sumber
daya manusia) yang mengelola faktor- faktor produksi lainnya tersebut. Namun, perlu
diingat bahwa sumber daya manusia sendiri sebagai faktor produksi, seperti halnya
faktor produksi lainnya, merupakan masukan (input) yang diolah oleh perusahaan
dan menghasilkan keluaran (output). Karyawan baru yang belum mempunyai
keterampilan dan keahlian dilatih, sehingga menjadi karyawan yang terampil dan ahli.
Apabila dia dilatih lebih lanjut serta diberikan pengalaman dan motivasi, dia akan
menjadi karyawan yang matang. Pengelolaan sumber daya manusia inilah yang
disebut manajemen SDM.
Makin besar perusahaan, makin banyak karyawan yang bekerja di dalamnya,
sehingga besar kemungkinan timbulnya permasalahan di dalamnya, dan
permasalahan manusianya. Banyak permasalahan manusiawi ini tergantung pada
kemajemukan masyarakat di mana karyawan itu berasal. Makin maju suatu
masyarakat, makin banyak permasalahan. Makin tinggi kesadaran karyawan akan
hak-haknya, makin banyak permasalahan yang muncul. Makin beragam nilai yang
dianut para karyawannya, makin banyak konflik yang berkembang.
Penanganan semua persoalan tersebut sangat tergantung pada tingkat
kesadaran manajemen terhadap pentingnya sumber daya manusia dalam
pencapaian tujuan perusahaan. Kita dapat melihat adanya perbedaan
antarperusahaan dalam penyediaan waktu, biaya, dan usaha dalam pengelolaan
SDM.
Perkembangannya kita melihat bahwa sampai dengan akhir abad ke-20
hampir semua negara di dunia terlibat dengan isu ekonomi, teknologi dan keamanan,
dan sekaligus merupakan masalah yang dikembangkan di seluruh dunia. Memasuki

10
abad ke-21 atau yang dikenal juga dengan era globalisasi, sebagai era tanpa batas
yang tercermin dengan adanya kebebasan dalam berusaha, kebebasan dalam
berpendapat, dan dalam bersaing, praktis tidak ada lagi batas antarsatu negara
dengan negara lain. Kebebasan berusaha sudah menjadi tuntutan semua
masyarakat di seluruh dunia. Keberadaan manajemen SDM sangat penting bagi
perusahaan dalam mengelola, mengatur, mengurus, dan menggunakan SDM
sehingga dapat berfungsi secara produktif, efektif, dan efisien untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Manajemen sebagai ilmju dan seni mengatur proses pendayagunaan
sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efisien, efektif, dan produktif
merupakan hal yang paling penting untuk mencapai tujuan tertentu. Selain itu
manajemen juga untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain, artinya
tujuan dapat dicapai bila dilakukan oleh satu orang atau lebih. Dalam manajemen
sumber daya manusia, karyawan adalah kekayaan (asset) utama perusahaan,
sehingga harus dipelihara dengan baik. Manajemen SDM menggunakan pendekatan
modern dan kajiannya secara makro. Faktor yang menjadi perhatian dalam
manajemen SDM adalah manusianya itu sendiri. Saat ini sangat disadari bahwa SDM
merupakan masalah perusahaan yang paling penting, karena dengan SDM
menyebabkan sumber daya yang lain dalam perusahaan dapat berfungsi/dijalankan.
Di samping itu SDM dapat menciptakan efisiensi, efektivitas dan produktivitas
perusahaan. Melalui SDM yang efektif mengharuskan manajer atau pimpinan dapat
menemukan cara terbaik, dalam mendayagunakan orang-orang yang ada dalam
lingkungan perusahaannya agar tujuan-tujuan yang diinginkan dapat tercapai.

1. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Merupakan tugas manajemen Sumber Daya Manusia untuk mengelola
manusia seefektif mungkin agar diperoleh suatu satuan Sumber Daya Manusia yang
merasa puas dan memuaskan. Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan
bagian dari manajemen umum yang memfokuskan diri pada Sumber Daya Manusia.
Adapun fungsi-fungsi manajemen Sumber Daya Manusia, seperti halnya fungsi
manajemen umum menurut Rivai, (2004) yaitu :
a. Fungsi Manajerial
1) Perencanaan (Planning)
1) Para manajer yang efektif menyadari bahwa sebagian besar dari waktu mereka
harus disediakan untuk perencanaan. Bagi manajer sumber daya manusia,

11
perencanaan berarti penentuan program perusahaan yang akan membantu
tercapainya sasara. Dengan perkataan lain proses penentuan sasaran akan
melibatkan partisipasi aktif dan penuh dari manajer sumber daya manusia
dengan keahliannya dalam bidang sumber daya manusia (human resources)
Pengorganisasian (Organizing)
Setelah apa yang akan dilakukan diputuskan maka perlu dibuat organisasi
untuk melaksanakannya, organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Jika
telah ditentukan bahwa fungsi-fungsi sumber daya manusia tertentu akan
membantu ke arah tercapainya sasaran perusahaan, maka manajer sumber daya
manusia harus menyusun suatu organisasi dengan merancang struktur
hubungan antara pekerjaan, personalia dan faktor-faktor fisik. Karena rumitnya
hubungan antara jabatan-jabatan yang ada, banyak pimpinan perusahaan yang
mengharapkan agar manajer sumber daya manusia bisa memberikan saran
untuk organisasi secara keseluruhan.
2) Pengarahan (Directing)

Jika kita sudah memiliki rencana dan organisasi untuk melaksanakannya,


maka fungsi selanjutnya adalah melaksanakan pekerjaan tersebut. Tetapi telah
terbukti bahwa fungsi yang menghidupkannya menjadi semakin penting. Maka
definisi dari fungsi di atas diberi nama pengarahan, tetapi fungsi tersebut mungkin
dapat diberi nama lain seperti motivasi, pelaksanaan, atau memberikan perintah.
Banyak sekali kesulitan yang dihadapi dalam menyuruh orang lain untuk bekerja
dengan efektif, meskipun tingkat kesulitan itu tentu bermacam-macam.
1) Pengendalian (Controling)
Fungsi yang keempat dari manajemen adalah fungsi pengawasan, yaitu
mengamati dan membandingkan pelaksanaan dengan rencana dan mengoreksinya
jika terjadi penyimpangan atau, kalau perlu, menyesuaikan kembali rencana yang
dibuat. Dengan demikian pengawasan adalah fungsi manajemen yang menyangkut
masalah pengaturan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana sumber daya
manusia, yang dirumuskan sebagai dasar analisa dari tujuan organisasi yang
fundamental.

b. Fungsi Operasional Manajemen Sumber Daya Manusia


1) Pengadaan tenaga kerja
Fungsi operasional manajemen sumber daya manusia yang pertama adalah

12
berusaha memperoleh jenis dan jumlah yang tepat dari sumber daya manusia yang
diperlukan untuk menyelesaikan sasaran organisasi. Hal-hal yang perlu dilakukan
dalam kaitan ini adalah penentuan sumber daya manusia yang dibutuhkan dan
perekrutannya, seleksi, dan penempatan. Menentukan kebutuhan tenaga kerja
menyangkut, baik mutu maupun jumlah tenaga. Sedangkan seleksi dan penempatan
menyangkut masalah memilih dan menarik tenaga kerja, pembahasan formulir
lamaran, tes psikologis, dan wawancara.
1) Pengembangan
Setelah karyawan diperoleh maka langkah berikutnya adalah
mengembangkan tenaga kerja (karyawan) sampai pada tingkat ketrampilan dengan
pelatihan yang perlu untuk prestasi kerja yang tepat. Kegiatan ini semakin menjadi
penting karena pesatnya perkembangan teknologi, dan makin kompleksnya tugas-
tugas manajer.
2) Kompensasi
Fungsi ini dapat didefinisikan sebagai pemberian penghargaan yang adil dan
layak kepada para karyawan sesuai dengan sumbangan mereka dalam mencapai
tujuan organisasi. Walaupun beberapa penelitian tentang moral yang dilakukan akhir-
akhir ini cenderung mengurangi pentingnya arti penghasilan dalam bentuk uang bagi
para karyawan, tetapi kompensasi tetap merupakan salah satu fungsi manajemen
sumber daya manusia yang sangat penting. Dalam membahas masalah ini kita hanya
mempertimbangkan kompensasi ekonomis.
3) Integrasi
Meskipun kita sudah memperoleh karyawan, mengembangkan mereka, dan
memberikan kompensasi yang layak, kita tetap menghadapi masalah yang cukup
sulit yakni integrasi. Integrasi adalah usaha untuk menghasilkan suatu rekonsilasi
(kecocokan) perorangan, masyarakat dan organisasi. Dengan demikian kita perlu
memahami perasaan dan sikap para karyawan untuk dipertimbangkan dalam
penentuan berbagai kebijakan organisasi.

2) Pemeliharaan
Fungsi sumber daya manusia berikutnya adalah mempertahankan dan
meningkatkan kondisi yang telah ada. Pemeliharaan adalah usaha untuk
mengabdikan keadaan yang telah sesuai dengan perencanaan. Fungsi ini tentu saja
mengharuskan dilaksanakannya keempat fungsi lainnya secara terus-menerus.
Tetapi pada fungsi ini perhatian dititikberatkan pada pemeliharaan kondisi fisik dari

13
para karyawan (kesehatan dan keamanan), dan pemeliharaan sikap yang
menyenangkan (program-program pelayanan karyawan).

3) Pemutusan hubungan kerja


Fungsi sumber daya manusia ini adalah mengembalikan karyawan yang telah
purna-tugas kepada masyarakat, karena sebagian besar karyawan tidak meninggal
dunia pada masa kerjanya. Organisasi bertanggungjawab untuk melaksanakan proses
pemisahan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dan,
menjamin bahwa karyaan yang telah purna-tugas itu dikembalikan kepada masyarakat
dalam keadaan sebaik mungkin.
Definisi dari manajemen sumber daya manusia sendiri ada berbagai pendapat
yang berbeda dari beberapa ahli. Antara lain menurut Flippo (1999), manajemen
sumber daya manusia ialah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi,
pemeliharaan dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk
mencapai sasaran perorangan, organisasi dan masyarakat.
Selain pendapat di atas ada juga definisi lain yang menyatakan bahwa
manajemen sumber daya manusia adalah beberapa kegiatan untuk mengusahakan
agar karyawan dan perusahaan memiliki kesesuaian mengenai tujuan perusahaan
dan lingkungan kerjanya dan memastikan bahwa kesesuaian tersebut tercapai.
Sedangkan menurut Nitisemito (2000), pengertian manajemen sumber daya
manusia dirumuskan sebagai berikut suatu ilmu atau seni untuk melaksanakan
antara lain planning, organizing, controlling sehingga efektivitas dan efisiensi dapat
ditingkatkan semaksimal mungkin dalam mencapai tujuan.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang definisi manajemen sumber daya
manusia maka dapat penulis simpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia
merupakan pelaksanaan dari perencanaan sehingga tercapai kesesuaian terhadap
tujuan perusahaan dan lingkungan kerja.

c. Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Rivai, (2004) konsep manajemen sumber daya manusia dilaksanakan
melalui tahapan sebagai berikut :
1) Penerapan Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia Secara Makro dan Mikro
Penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam manajemen sumber daya
manusia dalam arti makro adalah fungsi-fungsi pokok manajemen umum, seperti

14
fungsi manajerial, sedangkan dalam arti mikro adalah fungsi-fungsi manajemen
sumber daya manusia secara fungsi operasional. Perbedaannya adalah bahwa
fungsi tersebut dilakukan bukan oleh manajer perusahaan swasta biasa, tetapi oleh
badan pemerintah yang diserahi tugas dalam pengelolaan sumber daya manusia. Di
Indonesia badan pengelola sumber daya manusia terdiri dari Departemen Tenaga
Kerja beserta seluruh instansi vertikal, badan perencanaan Departemen dan
Lembaga Non Departemen lain yang terkait.

2) Prinsip-Prinsip Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia selain fungsi manajerial dan fungsi operasional
di dalam penerapannya harus diperhatikan pula prinsip-prinsip manajemen sumber
daya manusia. Adapun prinsip-prinsip manajemen sumber daya manusia yang
perlu diperhatikan antara lain, adalah :
a) Prinsip kemanusiaan;
b) Prinsip demokrasi;
c) Prinsip The Right man Is The Right Place;
d) Prinsip Equal Pay for Equal Work;
e) Prinsip kesatuan arah;
f) Prinsip kesatuan komando;
g) Prinsip efisiensi;
h) Prinsip efektivitas;
i) Prinsip produktivitas kerja;
j) Prinsip disiplin; dan
k) Prinsip wewenang dan tanggung jawab

C. Kinerja Karyawan
Kinerja yang dimiliki oleh seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja.
Teori mengenai kinerja dikemukakan oleh Mangkunegara (2009) yang mengatakan
bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan. Kinerja menurut Donnely, Gibson, dan Ivancevich yang dikutip oleh
Rivai (2005:15) dinilai sebagai tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta

15
C. Pengelolaan Keuangan
Pengelolaan keuangan badan layanan umum merupakan bagian integral dari
pengelolaan keuangan negara sehingga pengelolaannya tidak boleh terlepas dari
hukum keuangan negara. Ketika pengelolaan keuangan badan layanan umum
terpisah secara tegas dan pengelolaan keuangan negara berarti suatu penyimpangan
atau berlawanan dengan hukum keuangan negara. Menteri, pimpinan lembaga non
kementerian, atau pimpinan lembaga negara wajib mengarahkan agar pengelolaan
keuangan badan layanan umum yang berada dalam naungannya berpedoman pada
hukum keuangan negara (Saidi. 2008).
Meskipun badan layanan umum dapat melakukan pengelolaan keuangannya
berbeda dengan instansi pemerintah yang bukan badan layanan umum, tetap memiliki
keterikatan untuk tidak melanggar hukum keuangan negara. Jika pengelola keuangan
badan layanan umum dalam pengelolaannya menimbulkan kerugian negara, berarti
wajib mempertanggungjawabkan, baik di luar peradilan maupun melalui peradilan.
Pertanggungjawaban itu merupakan konsekuensi dari pengelolaan keuangan suatu
badan layanan umum yang menyimpang dan pengelolaan keuangan negara yang
dilakukan oleh pengelola yang menerapkan pola pengelolaan keuangan badan
layanan umum.
Menurut Saidi (2008) aspek yang penting diperhatikan dalam pengelolaan
keuangan BLU/BLUD yaitu:
1. Perencanaan dan penganggaran
Badan layanan umum menyusun rencana strategis bisnis lima tahunan dengan
mengacu kepada rencana strategis yang telah ditetapkan oleh kementerian negara.
Rencana bisnis dan anggaran memuat antara lain :
a. kondisi kinerja tahun berjalan.
b. asumsi makro dan mikro
c. target kinerja (output yang terukur)
d. analisis dan perkiraan biaya per output dan agregrat.
e. perkiraan harga, anggaran dan prognosa laporan keuangan.

2. Dokumentasi pelaksanaan anggaran


Anggaran yang dilaksanakan oleh badan layanan umum harus ditetapkan dalam
bentuk dokumen sehingga mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
Dokumentasi pelaksanaan anggaran mencakup seluruh pendapatan/biaya, proyeksi

16
arus kas, serta jumlah dan kualitas jasa atau barang yang akan dihasilkan.

3. Pendapatan dan belanja


Pendapatan badan layanan umum adalah penerimaan dari anggaran negara,
pendapatan diperoleh dari jasa layanan, hibah terikat/tidak terikat, hasil kerja sama
dengan pihak lain dan hasil usaha lainnya.

4. Pengelolaan kas, piutang dan utang


Dalam rangka pengelolaan kas, badan layanan umum menyelenggarakan hal-
hal antara lain:merencanakan penerimaan dan pengeluaran, melakukan pemungutan
pendapatan/tagihan, menyimpan kas dan mengelola rekening bank, melakukan
pembayaran, mendapatkan sumber dana untuk menutup defisit jangka pendek dan
memanfaatkan surplus kas jangka pendek.

5. Pengelolaan Barang
Kewenangan pengadaan barang dan jasa oleh badan layanan umum didasari
pada prinsip efisiensi dan ekonomis, sesuai dengan praktik bisnis yang sehat.

6. Penyelesaian kerugian
Setiap kerugian negara pada BLU yang disebabkan oleh tindakan melanggar
hukum atau kelalaian seseorang diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai penyelesaian kerugian negara. Bendahara, pegawai
negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar
hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung
merugikan keuangan negara, wajib mengganti kerugian tersebut.

7. Akuntansi, pelaporan dan pertanggungjawaban.


BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dengan mengacu
pada standar akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis layanannya dan ditetapkan
oleh menteri/pimpinan lembaga. Laporan keuangan BLU dikonsolidasikan dengan
laporan keuangan kementerian/lembaga sesuai standar akuntansi pemerintahan dan
diaudit oleh pemeriksa eksternal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.. Menteri/pimpinan lembaga bertanggungjawab atas keberhasilan
pencapaian sasaran program berupa hasil (political accountability), sedangkan
pimpinan BLU bertanggungjawab atas keberhasilan pencapaian sasaran kegiatan

17
berupa keluaran (operational accountability) dan terhadap kinerja BLU sesuai dengan
tolok ukur yang ditetapkan dalam RBA.

8. Akuntabilitas kinerja
Pimpinan badan layanan umum mengikhtisarkan dan melaporkan kinerja
operasional dan pengintegrasiannya dengan laporan keuangan dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.

9. Surplus dan defisit


Surplus anggaran BLU adalah selisih lebih antara pendapatan dengan belanja BLU
yang dihitung berdasarkan laporan keuangan operasional berbasis aktual pada suatu
periode anggaran. Estimasi surplus dalam tahun anggaran berjalan diperhitungkan
dalam RBA tahun anggaran berikut untuk disetujui penggunaannya. Defisit anggaran
BLU dapat diajukan pembiayaannya dalam tahun anggaran berikutnya kepada Menteri
Keuangan melalui Menteri/Pimpinan Lembaga. Menteri Keuangan dapat mengajukan
anggaran untuk menutup defisit pelaksanaan anggaran BLU dalam APBD tahun
anggaran berikutnya.

C. Kinerja Keuangan
1. Pengertian Kinerja Keuangan
Pengertian kinerja menurut Bastian (2006) adalah gambaran pencapaian
pelaksanaan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan
visi suatu organisasi. Sedangkan menurut Fahmi (2011) kinerja keuangan adalah
suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara
baik dan benar.
Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan
suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat, analisis keuangan, sehingga dapat
diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang
mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Hal ini sangat penting agar
sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Konsep kinerja keuangan menurut Gitosudarmo dan Basri (2002) adalah
rangkaian aktivitas keuangan pada suatu periode tertentu yang dilaporkan dalam
laporan keuangan diantaranya laporan laba rugi dan neraca. Dalam hal ini Penilaian
kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pihak

18
manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya terhadap para penyandang dana dan
juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

2. Pengertian Rasio Keuangan


Menurut Harahap (2009) rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil
perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan relevan dan signifikan. Menurut Simamora (2010), rasio keuangan
merupakan cara penting untuk menyatakan hubungan-hubungan yang bermakna
diantara komponen-komponen dari laporan-laporan keuangan. Rasio
menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain,
dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio yang akan menjelaskan dan
menggambarkan kepada penganalisa baik atau buruknya keadaan posisi keuangan
suatu perusahaan.
Menurut Roos, dkk (2004) Rasio Keuangan adalah “Hubungan yang dihitung
dan informasi keuangan suatu perusahaan dan digunakan untuk tujuan
perbandingan”. Sedangkan menurut Jumingan (2006) “Analisis Rasio Keuangan
merupakan analisis dengan membandingkan satu pos laporan dengan dengan pos
laporan keuangan lainnya, baik secara individu maupun bersama-sama guna
mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun dalam
laporan laba rugi”. Rasio mengambarkan suatu hubungan dan perbandingan antara
jumlah tertentu dalam satu pos laporan keuangan dengan jumlah yang lain pada pos
laporan keuangan yang lain. Dengan menggunakan metode analisis seperti berupa
rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran tentang baik atau
buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan. Dengan rasio keuangan
pula dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan
keuangan perusahaan.
b
3. Laporan Keuangan
Munawir (2004), “laporan keuangan adalah hasil dua daftar yang disusun oleh
akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan, kedua daftar itu adalah daftar
neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba”.
Menurut Harahap (2004) laporan keuangan menggambarkan kondisi dan hasil usaha
suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan
keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan rugi/laba, laporan arus kas, dan
laporan perubahan posisi keuangan.

19
Menurut PSAK (Pernyataan Standar Akutansi Keuangan) No. 1 (2007), tujuan
laporan keuangan adalah sebagai berikut:
(a) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan keputusan.
(b) Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian
besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari
kejadian masa lalu.
(c) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Laporan keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan saat
ini dan untuk memperkirakan hasil operasi serta arus kas di masa depan.
Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 2008 tentang Pelaporan Keuangan
Badan Layanan Umum yang terdiri atas neraca, laporan aktivitas, laporan arus kas
dan catatan atas laporan keuangan.
(1) Laporan Aktivitas, Laporan aktivitas adalah laporan operasional Badan Pelayanan
Umum yang mencerminkan pendapatan yang dihasilkan Badan Layanan Umum serta
biaya yang dikeluarkan kemudian dilihat apakah dari hasil kegiatan tesebut dihasilkan
surplus atau defisit.
(2) Neraca, Menurut Soemarso (2004) neraca adalah laporan keuangan yang dapat
memberi informs tentang sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan sumber
pemebelanjaan untuk memperolehnya. Laporan ini menyajikan posisi keuangan
perusahaan. Ikatan Akuntansi Indonesia (2009) menyatakan bahwa unsur yang
berkaitan secara langsung dengan posisi keuangan adalah aset, kewajiban dan
ekuitas. Masing-masing unsur tersebut dapat diuraikan sabagai berikut : 1) Aset
(Assets), 2) Kewajiban (Liabilities, 3) Equitas.
4. Jenis – Jenis Rasio Keuangan
Menurut Riyanto (2010), pada umumnya rasio keuangan dapat dikelompokkan
dalam 3 (tiga) tipe dasar, yaitu:
(1) Rasio Likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya yang dapat di hitung melalui:
a) Current ratio (rasio lancar)
b) Quick ratio atau acitd test ratio (rasio sangat lancar)
c) Rasio Kas (cash ratio).

20
(2) Rasio Solvabilitas adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan di
belanjai dengan hutang yang dapat di hitung melalui :
a) Debt to asset ratio (rasio utang terhadap aset)
b) Debt to equity ratio (rasio utang modal).

(3) Rasio Rentabilitas adalah rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah
kebijaksanaan dan keputusan keputusan yang dapat di hitung melalui:
a) Net Return On Assets (ROA)
b) Net Return On Equit.

Menurut Munawir (2004), berdasarkan sumber datanya maka angka rasio dapat
dibedakan atsa :
a. Rasio neraca (Balance Sheet Ratios), yang tergolong dalam kategori ini adalah
semua rasio yang semua data diambil atau bersumber pada neraca.
b. Rasio-rasio laporan laba/rugi (Income Statement Ratios) yaitu angka-angka rasio
yang dalam penyusunan semua data diambil dari laporan laba/rugi.
c. Rasio-rasio antar laporan (Interstatement Ratios), yaitu angka yang penyusunan
data berasal dari neraca dan data lainnya dari laporan laba rugi.

5. Perhitungan Rasio Laporan Keuangan.


Analisis kinerja keuangan bisanya dilihat dari laporan keuangan dan untuk
menghitungnya biasanya menggunakan rasio keuangan, ada beberapa rasio
keuagan yang digunakan untuk menghitung dan membandingkan kinerja keuangan
sebelum dan sesudah diterapkannya pola pengelolaan keuangan badan layanan
umum yang telah di tetapkan pada Peraturan Direktur Jendral Pembendaharaan
Nomor Per-54 Tahun 2013, yaitu :
1) Rasio Kas (Cash Ratio)
2) RasioLancar (Current Ratio)
3) Periode Penagihan Piutang (Collection Period)
4) Perputaran Aset Tetap (Fixed Asset Turnover)
5) Imbalan Ekuitas (Return on Equity)
6) Imbalan atas Aktiva Tetap (Returnon Asset)
7) PerputaranPersediaan (InventoryTurnover)
8) Rasio PendapatanPNBP terhadap Biaya Operasional

21
F. Kerangka Pikir

Penerapan BLUD

Sebelum Sesudah

PROSES
PROSES
PENGELOLAAN
PENGELOLAAN
SUMBER DAYA
SUMBER DAYA
MANUSIA DAN
MANUSIA DAN
KEUANGAN
KEUANGAN

G. Hipotesis
1. Proses penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) mempengaruhi
pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan Keuangan di RSUD. Sultan
Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Proses penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) tidak
mempengaruhi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan Keuangan di
RSUD. Sultan Sulaiman Kabupaten Serdang Bedagai.

22
Daftar Pustaka

Fahmi, I. (2011). Analisa Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta. Gitosudarmono, I.,


& Basri. (2002). Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE. Harahap, S. S.
(2004). Akuntansi Aktiva Tetap, Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja
Grafindo.
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana. 1996. Total Quality Management. Yogyakarta:
Andy Offset.
Gibson, James L., James H. Donnelly, JR. John M. Ivancevich. 1997. Manajemen.
Jakarta: Erlangga
Gomes, Faustino Cardoso. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta:
Andy Offset
Handoko, T. Hani. 1995. Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Harahap,S.S.(2009).Analisis Kritis Laporan Keuangan, cetakan ketiga,edisi.1.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Indarto, W. (2011). Badan Layanan Umum Sebuah Pengelolaan Keuangan di Satuan
Kerja Pemerintah. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol.IX.No.2 ,
Halaman 1-15.
Insonesia, I. A. (2009). Standar Akuntansi Keuangan, PSAK No.1 : Penyajian Laporan
Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Jumingan. (2006). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Kasmir. (2010). Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta: Kencana.
Jusuf Irianto. 2001. Tema – Tema Pokok Manajemen Sumber Daya Manusia. Jatim:
Insan Cendekia
Maharani, A., Adi, W., & Muhtar. (2013). Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan
Sesudah Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
Jupe UNS, Vol.1, No.3 , hal 1-10.
Manulang, M. 1988. Dasar – Dasar Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia
Mardiasmo. (2004). Akuntansi Sektor Publik, Edisi kedua. Yogyakatra: Andi.
Mohammad Agus Tulus. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Siagian, Sondang P. 1996. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi
Aksara
Simamora, Henry. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Kedua.
Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN

23
Soekidjo Notoatmodjo. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Sutopo, HB. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret
University Press.

24