Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut World Health Organization (2014), proporsi penduduk di atas 60
tahun di dunia tahun 2000 sampai 2050 akan berlipat ganda dari sekitar 11% menjadi
22%, atau secara absolut meningkat dari 605 juta menjadi 2 milyar lanjut usia.
Peningkatan jumlah lanjut usia juga terjadi di negara Indonesia. Persentase penduduk
lanjut usia tahun 2008, 2009 dan 2012 telah mencapai di atas 7% dari keseluruhan
penduduk, dengan spesifikasi 13,04% berada di Yogyakarta, 10,4% berada di Jawa
Timur, 10,34% berada di Jawa Tengah, dan 9,78% berada di Bali (Susenas, 2012).
Penduduk lanjut usia terbesar di Yogyakarta berasal dari Kabupaten Sleman, yaitu
berkisar 135.644 orang atau 12,95% dari jumlah penduduk Sleman (Pemkab Sleman,
2015).
Meningkatnya populasi usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut membutuhkan pemeliharaan
serta peningkatan kesehatan dalam rangka usaha mencapai masa tua yang sehat,
bahagia, berdaya guna, dan produktif (UU No. 23 Tahun 1992 Pasal 19 tentang
Kesehatan. Menurut Susenas (2012), usia harapan hidup lanjut usia pada tahun 2000
adalah 64,5 tahun. Angka ini meningkat menjadi 69,43 tahun pada tahun 2010 dan
pada tahun 2011 menjadi 69,65 tahun. Menurut Rencana Kerja Pembangunan Daerah
(RKPD) Kabupaten Sleman tahun 2014, usia harapan hidup lanjut usia di Yogyakarta
mencapai 74 tahun dan untuk Kabupaten Sleman mencapai 2 76,08 tahun (laki-laki
73,46 tahun dan perempuan 77,12 tahun), yang menjadi angka harapan hidup
tertinggi nasional.
Meningkatnya jumlah lanjut usia dan umur harapan hidup berdampak besar
terhadap kesehatan masyarakat, terlebih dengan perubahan-perubahan yang dialami
lanjut usia dari berbagai sistem tubuh, baik dari segi fisik, psikologis, sosial dan
spiritual (Wirahardja dan Satya, 2014). Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
mengkaji lebih jauh lagi mengenai trend dan issue tentang lanjut usia, serta dasar
hukum pelayanan untuk lanjut usia sehingga dapat memahami masalah-masalah yang
dialami lanjut usia dewasa ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam trend dan issue
terkait dengan terapi komplementer ini adalah :
a. Bagaimana trend dan issue keperawatan lansia terkait dengan terapi
komplementer?
b. Bagaimana analisis jurnal terhadap keperawatan lansia terkait dengan terapi
komplementer?
1.3 Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui trend dan issue keperawatan lansia terkait dengan terapi
komplementer.
b. Untuk mengetahui analisis jurnal terhadap keperawatan lansia terkait dengan
komplementer.

1.4 Tujuan Khusus


1. Untuk mengidentifikasi trend dan issue keperawatan lansia terkait dengan
terapi komplementer.
2. Untuk mengidentifikasi analisa jurnal terhadap keperawatan lansia terkait
dengan komplementer.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lansia


Berdasarkan pengertian lanjut usia secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia
(lansia) apabila usianya 65 tahun keatas (Effendi dan Makhfudli, 2009). Menurut
organisasi kesehatan dunia, WHO seseorang disebut lanjut usia (elderly) jika
berumur 60-74 tahun. Menurut Prof. DR. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad, Guru
Besar Universitas Gajah Mada Fakultas Kedokteran usia 65 tahun keatas disebut
masa lanjut usia atau senium.
Lansia adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia dan
ditandai oleh gagalnya seorang untuk mempertahankan kesetimbangan kesehatan
dan kondisi stres fisiologis nya. Lansia juga berkaitan dengan penurunan daya
kemampuan untuk hidup dan kepekaan secara individual. Selain pengertian lansia
secara umum diatas, terdapat juga beberapa pengertian lansia menurut para ahli.
Usia lanjut juga dapat dikatakan sebagai usia emas karena tidak semua orang
dapat mencapai usia lanjut tersebut, maka jika seseorang telah berusia lanjut akan
memerlukan tindakan keperawatan yang lebih, baik yang bersifat promotif maupun
preventif, agar ia dapat menikmati masa usia emas serta menjadi usia lanjut yang
berguna dan bahagia.
Selain pengertian tadi, ada juga beberapa pengertian lansia menurut para ahli.
Berikut ini beberapa pengertian lansia menurut beberapa ahli:

1. Pengertian Lansia Menurut Smith (1999): Lansia terbagi menjadi tiga,


yaitu:young old (65-74 tahun); middle old (75-84 tahun); dan old old (lebih
dari 85 tahun).
2. Pengertian Lansia Menurut Setyonegoro: Lansia adalah orang yang berusia
lebih dari 65 tahun. Selanjutnya terbagi ke dalam 70-75 tahun (young old);
75-80 tahun (old); dan lebih dari 80 tahun (very old).

3. Pengertian Lansia Menurut UU No. 13 Tahun 1998: Lansia adalah seseorang


yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

4. Pengertian Lansia Menurut WHO: Lansia adalah pria dan wanita yang telah
mencapai usia 60-74 tahun.
5. Pengertian Lansia Menurut Sumiati AM: Seseorang dikatakan masuk usia
lansia jika usianya telah mencapai 65 tahun ke atas.

2.1. Batasan Usia Lanjut


Seperti yang telah di sebutkan tadi di atas, ada beberapa standar atau batasan
orang di katakana lansia. Di sini kami menyebutkan batasan usia dari WHO,
batasan lansia di indonesia dan menurut ahli.
Batasan umur lansia menurut organisasi kesehatan
Batasan umur lansia menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) lanjut usia
meliputi:

1. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.


2. Lanjut usia (elderly) = antara 60 sampai 74 tahun.

3. Lanjut usia tua (old) = antara 75 sampai 90 tahun.

4. Sangat tua (very old) = diatas 90 tahun.

Batasan umur lansia menurut Menurut Setyonegoro


Menurut Setyonegoro, batasan lansia adalah sebagai berikut :

1. Usia dewasa muda (elderly adulthood) usia 18/20-25 tahun


2. Usia dewasa penuh (medlle years) atau maturitas usia 25-60/65 tahun

3. Lanjut usia (geriatric age) usia > 65/70 tahun, terbagi atas :

 Young old (usia 70-75)

 Old (usia 75-80)

 Very old (usia >80 tahun)

Batasan umur lansia menurut Menurut Bee


Menurut Bee (1996) bahwa tahapan masa dewasa adalah sebagai berikut :
1. Masa dewasa muda (usia 18-25 tahun)
2. Masa dewasa awal (usia 26-40 tahun)
3. Masa dewasa tengah (usia 41-65 tahun)

4. Masa dewasa lanjut (usia 66-75 tahun)

5. Masa dewasa sangat lanjut (usia > 75 tahun)

Batasan umur lansia di Indonesia


Di Indonesia, batasan mengenai lanjut usia yaitu 60 tahun ke atas, dimana ini
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia pada Bab1 Pasal 1 Ayat 2. Menurut Undang-Undang tersebut di
atas lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, baik
pria maupun wanita.

2.2 Pengertian Gerontologi

Gerontologi berasal dari kata geros yang berarti lanjut usia dan logos berarti
ilmu. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang lanjut usia dengan masalah-
masalah yang terjadi pada lansia yang meliputi aspek biologis, sosiologis, psikologis,
dan ekonomi. Gerontologi merupakan pendekatan ilmiah (scientific approach)
terhadap berbagai aspek dalam proses penuaan (Tamher&Noorkasiani, 2009).
Menurut Miller (2004), gerontologi merupakan cabang ilmu yg mempelajari proses
manuan dan masalah yg mungkin terjadi pada lansia. Geriatrik adalah salah satu
cabang dari gerontologi dan medis yang mempelajari khusus aspek kesehatan dari
usia lanjut, baik yang ditinjau dari segi promotof, preventif, kuratif, maupun
rehabilitatif yang mencakup kesehatan badan, jiwa, dan sosial, serta penyakit cacat
(Tamher&Noorkasiani, 2009).

Gerontologi adalah suatau pendekatan ilmiah dari berbagai aspek proses


penuaan, yaitu biologis, psikologis, social, ekonomi, kesehatan, lingkungan dan lain-
lain. Menurut kozier (1987), gerontologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh
aspek penuaan. Menurut Miller (1990), gerontologi adalah Ilmu yang memperlajari
proses menua dan masalah yang mungkin terjadi pada lansia.
Gerontologi adalah suatu ilmu yang memperlajari proses penuaan dan maslaah
yang akan terjadi pada lansia (kozier,1987). Dalam referensi lain dikatakan
gerontology merupakan suatu pendekatan ilmiah dari berbagai proses penuaan yaitu
kesehatan, social, ekonomi , prilaku, lingkungan dan lain-lain (Depkes RI, 2000).

Pada tahun 1995 WHO menggariskan bahwa focus pembinaan bagi usia lanjut
adalah upaya promotif dan meminimalkan ketergantungan pada usia lanjut.

3. Keperawatan Gerontik
Keperawatan gerontik adalah istilah yang diciptakan oleh Laurie Gunter dan
Carmen Estes pada tahun 1979 untuk menggambarkan bidang ini. Namun istilah
keperawatan gerontik sudah jarang ditemukan di literature (Ebersole et al, 2005).
Gerontic nursing berorientasi pada lansia, meliputi seni, merawat, dan menghibur.
Istilah ini belum diterima secara luas, tetapi beberapa orang memandang hal ini
lebih spesifik. Menurut Nugroho (2006), gerontik adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan lanjut usia dengan segala permasalahannya, baik dalam
keadaan sehat maupun sakit. Menurut para ahli, istilah yang paling
menggambarkan keperawatan pada lansai adalah gerontological nursing karena
lebih menekankan kepeada kesehatan ketimbang penyakit. Menurut Kozier (1987),
keperawatan gerontik adalah praktek perawatan yang berkaitan dengan penyakit
pada proses menua. Menurut Lueckerotte (2000) keperawatan gerontik adalah ilmu
yang mempelajari tentang perawatan pada lansia yang berfokus pada pengkajian
kesehatan dan status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi.
Tujuan Keperawatan Gerontik
Adapun tujuan dari gerontologi adalah (Maryam, 2008):

1. Membantu individu lanjut usia memahami adanya perubahan pada dirinya


berkaitan dengan proses penuaan
2. Mempertahankan, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan lanjut
usia baik jasmani, rohani, maupun social secara optimal

3. Memotivasi dan menggerakkan masyarakat dalam upaya meningkatkan


kesejahteraan lanjut usia
4. Memenuhi kebutuhan lanjut usia sehari-hari

5. Mengembalikan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari

6. Mempercepat pemulihan atau penyembuhan penyakit

7. Meningkatkan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia


dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sesuai dengan
keberadaannya dalam masyarakat

Tujuan dari geriatrik menurut Maryam (2008) adalah sebagai berikut:

1. Mempertahankan derajat kesehatan pada lanjut usia pada taraf yang


setinggi-tingginya sehingga terhindar dari penyakit atau gangguan
2. Memelihara kondisi kesehatan dengan akticitas fisik dan mental

3. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan


menegakkan diagnosis yang tepat dan dini bila mereka menemukan
kelainan tertentu

4. Mencari upaya semaksimal mungkin agar para lanjut usia yang menderita
suatu penyakit atau gangguan, masih dapat mempertahankan kebebasan
yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian
secara maksimal)

5. Bila para lanjut usia sudah tidak dapat disembuhkan dan bila mereka
sudah sampai pada stadium terminal, ilmu ini mengajarkan untuk tetap
memberi bantuan yang simpatik dan perawatan dengan penuh pengertian
(dalam akhir hidupnya, memberi bantuan moral dan perhatian yang
maksimal sehingga kematiannya berlangsung dengan tenang).

Tujuan keperawatan gerontik adalah memenuhi kenyamanan lansia,


mempertahankan fungsi tubuh, serta membantu lansia menghadapi
kematian dengan tenang dan damai melalui ilmu dan teknik keperawatan
gerontik (Maryam, 2008).

Fungsi Perawat Gerontik

Perawat memiliki banyak fungsi dalam memberikan pelayanan prima dalam


bidang gerontik. Menurut Eliopoulus (2005), fungsi dari perawat gerontologi
adalah :

1. Guide persons of all ages toward a healthy aging process (membimbing


orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat)
2. Eliminate ageism (menghilangkan perasaan takut tua)

3. Respect the tight of older adults and ensure other do the same
(menghormati hak orang yang lebih tua dan memastikan yang lain
melakukan hal yang sama)

4. Overse and promote the quality of service delivery (memantau dan


mendorong kualitas pelayanan)

5. Notice and reduce risks to health and well being (memerhatikan serta
menguragi resiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan)

6. Teach and support caregives (mendidik dan mendorong pemberi


pelayanan kesehatan)

7. Open channels for continued growth (membuka kesempatan untuk


pertumbuhan selanjutnya)

8. Listen and support (mendengarkan dan member dukungan)

9. Offer optimism, encouragement and hope (memberikan semangat,


dukungan, dan harapan)
10. Generate, support, use, and participate in research (menghasilkan,
mendukung, menggunakan, dan berpartisipasi dalam penelitian)

11. Implement restorative and rehabilitative measures (melakukan perawatan


restorative dan rehabilitative)

12. Coordinate and managed care (mengoordinasi dan mengatur perawatan)

13. Asses, plan, implement, and evaluate care in an individualized, holistic


maner (mengkaji, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
perawatan individu dan perawatan secara menyeluruh)

14. Link service with needs (memberikan pelayanan sesuai kebutuhan)

15. Nurtuere futue gerontological nurses for advancement of the speciality


(membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli
dibidangnya)

16. Understand the unique physical, emotical, social, spiritual aspect of each
other (saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, social, dan
spiritual)

17. Recognize and encourage the appropriate management of ethical concern


(mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan
tempatnya bekerja)

18. Support and comfort through the dying process (memberikan dukungan
dan kenyamanan dalam menghadapi proses kematian)

19. Educate to promote self care and optimal independence (mengajarkan


untuk meningkatkan perawatan mandiri dan kebebasan yang optimal)

4. Trend dan Issue tentang Lanjut Usia terkait terapi komplementer


Pada tahun 2000 jumlah lansia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2002
menjadi sebesar 11,34% (BPS,1992). Data Biro Sensus Amerika Serikat
memperkirakan Indonesia akan mengalami pertambahan warga lanjut usia terbesar di
seluruh dunia pada tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414% (Kinsella dan
Taeuber,1993).

Menurut Dinas Kependudukan Amerika Serikat (1999), jumlah populasi lansia


berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hampir mencapai 600 juta orang dan
diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050, saat itu lansia akan melebihi jumlah
populasi anak (0-14 tahun). Proyeksi penduduk oleh Biro Pusat Statistik
menggambarkan bahwa antara tahun 2050-2010 jumlah lansia akan sama dengan
jumlah anak balita yaitu sekitar 19 juta jiwa atau 8,5% dari seluruh jumlah penduduk.

Seiring dengan berkembangnya Indonesia sebagai salah satu negara dengan


tingkat perkembangan yang cukup baik, maka makin tinggi pula harapan hidup
penduduknya. Diperkirakan harapan hidup orang Indonesia dapat mencapai 70 tahun
pada tahun 2000. Kesejahteraan penduduk usia lanjut karena kondisi fisik dan/atau
mentalnya tidak memungkinkan lagi untuk berperan dalam pembangunan, maka
lansia perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat (GBHN,
1993).

Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh instansi pemerintah diantaranya


pelayanan kesehatan, sosial, ketenagakerjaan dan lainnya telah dikerjakan pada
berbagai tingkatan, yaitu tingkat individu lansia, kelompok lansia, keluarga, Panti
Sosial Tresna Wreda (PSTW), Sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar (primer),
tingkat pertama (sekunder), tingkat lanjutan, (tersier) untuk mengatasi permasalahan
yang terjadi pada lansia.

Masalah Kesehatan Gerontik

a. Masalah kehidupan sexual


Adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang
adalah mitos atau kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada kenyataannya hubungan
seksual pada suami isri yang sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun.
Bahkan aktivitas ini dapat dilakukan pada saat klien sakit aau mengalami
ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau menyesuaikan diri dengan pasangan
masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa maturitas dan kemesraan antara
kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap hubungan intim dapat
terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan fisik dan emosional secara
mendalam selama masih mampu melaksanakan.

a. Perubahan prilaku
Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya ingat
menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan merawat diri,
timbulnya kecemasan karena dirinya sudah tidak menarik lagi, lansia sering
menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhinya menjadi sumber banyak
masalah.
b. Pembatasan fisik
Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama
dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan –
peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di dalam hal
mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang
memerlukan bantuan orang lain.
c. Palliative care
Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut ditunjukan
untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli fermasi dapat
menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat. Sebagai
contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan dioksin dan
diuretika. Diuretik berfungsi untu mengurangi volume darah dan salah satu efek
sampingnya yaitu keracunan digosin. Klien yang sama mungkin mengalami depresi
sehingga diobati dengan antidepresan. Dan efek samping inilah yang menyebaban
ketidaknyaman lansia.
d. Pengunaan obat
Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan merupakan
persoalan yang sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit. Persoalan utama
dan terapi obat pada lansia adalah terjadinya perubahan fisiologi pada lansia akibat
efek obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut. (Watson, 1992). Dampak
praktis dengan adanya perubahan usia ini adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih
kecil cenderung diberikan untuk lansia. Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia
sering kali menderita bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka
membutuhkan beberapa jenis obat. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan
adalah :
 Bingung
 Lemah ingatan

 Penglihatan berkurang

 Tidak bisa memegang

 Kurang memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi dan


dijalankan

e. Kesehatan mental
Selain mengalami kemunduran fisik lansia juga mengalami kemunduran mental.
Semakin lanjut seseorang, kesibukan soialnya akan semakin berkurang dan dapat
mengakibatkan berkurangnya intregrasi dengan lingkungannya.
Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi azas, pendekatan, dan jenis
pelayanan kesehatan yang diterima.
1. Azas
Menurut WHO (1991) adalah to Add life to the Years that Have Been Added
to life, dengan prinsip kemerdekaan (independence), partisipasi (participation),
perawatan (care), pemenuhan diri (self fulfillment), dan kehormatan (dignity).
Azas yang dianut oleh Departemen Kesehatan RI adalah Add life to the Years, Add
Health to Life, and Add Years to Life, yaitu meningkatkan mutu kehidupan lanjut
usia, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang usia.
2. Pendekatan
Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang digunakan adalag
sebagai berikut :
 Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social development)
 Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging persons)

 Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)

 Lansia turut memilih kebijakan (choice)

 Memberikan perawatan di rumah (home care)

 Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)

 Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the aging)

 Transportasi dan utilitas bangunan yang sesuai dengan lansia (mobility)

 Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya (productivity)

 Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help care and
family care)

3. Jenis pelayanan

Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lim upaya kesehatan, yaitu
Promotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta
pemulihan.

 Promotif
Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk
meningkatkan dukungan klien, tenaga profesional dan masyarakat terhadap
praktek kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial. Upaya perlindungan
kesehatan bagi lansia sebagai berikut :

a. Mengurangi cedera
b. Meningkatkan keamanan di tempat kerja
c. Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk
d. Meningkatkan keamanan, penanganan makanan dan obat-obatan
e. Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut
 Preventif

1. Mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. Contoh pencegahan


primer : program imunisasi, konseling, dukungan nutrisi, exercise,
keamanan di dalam dan sekitar rumah, menejemen stres, menggunakan
medikasi yang tepat.
2. Melakukakn pencegahan sekuder meliputi pemeriksaan terhadap penderita
tanpa gejala. Jenis pelayanan pencegahan sekunder: kontrol hipertensi,
deteksi dan pengobatan kanker, skrining : pemeriksaan rektal, mamogram,
papsmear, gigi, mulut.
3. Melakukan pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit dan
cacat. Jenis pelayanan mencegah berkembangnya gejala dengan
memfasilisasi rehabilitasi, medukung usaha untuk mempertahankan
kemampuan anggota badan yang masih bnerfungsi

 Rehabilitatif

Prinsip dari rehabilitatif :


1. Pertahankan lingkungan aman
2. Pertahankan kenyamanan, istirahat, aktifitas dan mobilitas
3. Pertahankan kecukupan gizi
4. Pertahankan fungsi pernafasan
5. Pertahankan aliran darah
6. Pertahankan kulit
7. Pertahankan fungsi pencernaan
8. Pertahankan fungsi saluran perkemihaan
9. Meningkatkan fungsi psikososial
10. Pertahankan komunikasi
11. Mendorong pelaksanaan tugas

5. Dasar Hukum Pelayanan Lansia

 UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia


 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 tentang Upaya Peningkatan
Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia
 Keppres No 52 Tahun 2004 tentang Komisi Nasional Lanjut Usia.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 60 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pembentukan Komda Lansia dan Pemberdayaan Masyarakat dalam
penanganan lansia di daerah
 Peraturan Menteri Sosial Nomor 19 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan
Sosial Lanjut Usia.
 UU No. 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo.
 UU No.14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja
 UU No.6 tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial
 UU No.3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
 UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
 UU No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian
 UU No.4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman
 UU No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera
 UU No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun
 UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan
 PP No.21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga
Sejahtera
 PP No.27 tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan
 UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia (tambahan lembaran
negara Nomor 3796) sebagai pengganti UU No.4 tahun 1965 tentang
Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo.
 UU No. 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :
 Hak, kewajiban, tugas, serta tanggung jawab pemerintah, masyarakat,
dan kelembagaan.
 Upaya pemberdayaan
 Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lansia potensial dan tidak
potensial
 Pelayanan terhadap lansia
 Perlindungan sosial
 Bantuan sosial
 Koordinasi
 Ketentuan pidana dan sanksi administrasi
 Ketentuan peralihan
BAB III

ANALISA JURNAL
BAB IV

STRATEGI INTERVENSI

Keperawatan kesehatan komunitas dapat menggunakan strategi intervensi


berupa pendidikan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi, kemitraan, dan
proses kelompok, dan negosiasi (Allender, Rector, & Warner, 2010; Anderson &
McFarlane, 2011; Friedman, Bowden, & Jones, 2003; Helvie, 1998; Hitchcock,
Schubert, & Thomas, 1999). Keperawatan kesehatan komunitas juga dapat
memberikan keuntungan dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit; bekerja,
belajar dan penyediaan pelayanan pada sepanjang rentang kehidupan
mengembangkan kapasitas masyarakat (capacity building) untuk kesehatan; bekerja
dengan bermitra, pemberdayaan masyarakat, berkoalisi (bergabung), dan pembuat
kebijakan untuk mempromosikan lingkungan yang lebih sehat (Allender, Rector, &
Warner, 2010; Anderson & McFarlane, 2011).

Strategi intervensi yang pertama adalah pendidikan kesehatan atau promosi


kesehatan. Promosi kesehatan adalah perilaku yang dimotivasi oleh keinginan untuk
meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan potensi kesehatan manusia (Pander,
Murdaugh, & Parsons, 2006 dalam Allender, Rector, & Warner, 2010; Hitchcock,
Schubert, & Thomas, 1999). Strategi pendidikan kesehatan merupakan suatu proses
yang memfasilitasi pembelajaran yang mendukung perilaku sehat dan mengubah
perilaku tidak sehat (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Strategi yang kedua yaitu pemberdayaan (empowerment) adalah sebuah


proses membantu masyarakat untuk bersama-sama mengekspresikan nilai dan ide
untuk orang lain di komunitas (Bernstein, et al.; Weis, Schank, & Matheus dalam
Allender, Rector, & Warner, 2010).

Strategi yang ketiga yaitu kolaborasi didefinisikan sebagai suatu proses


berbagi perencanaan dan tindakan secara berkelanjutan yang disertai tanggung jawab
bersama terhadap hasil (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Kolaborasi juga adalah
interaksi yang terarah antara perawat, klien, atau profesional lainnya dan anggota
masyarakat berdasarkan nilai-nilai bersama, saling pastisipasi dan usaha bersama
(Allender, Rector, & Warner, 2010). Teknik yang digunakan dalam kolaborasi adalah
penyelesaian masalah (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Strategi yang keempat yaitu kemitraan (partnership) adalah perjanjian antara


orang-orang (dan lembaga) yang mendukung tujuan bersama (Zahner, Kaiser, &
Kapelke-Dale, 2005 dalam Allender, Rector, & Warner, 2010). Pendapat lain terkait
partnership adalah suatu strategi negosiasi membagi kekuasaan antara tenaga
kesehatan profesional dengan individu, keluarga, dan/atau rekan komunitas yang
mempunyai tujuan saling menguntungkan untuk meningkatkan kemampuan individu,
keluarga dan mitra masyarakat untuk melakukan kepentingan sendiri secara efektif
(Helvie, 1998).

Strategi yang kelima yaitu proses kelompok (group process). Aspek penting
dari komunikasi dalam keperawatan komunitas termasuk kerja dengan kelompok
masyarakat dan perawat komunitas juga berkerja dengan kelompok dengan sering
mengajar, mengumpulkan pengkajian masyarakat, evaluasi data, dan memfasilitasi
kelompok pendukung. Penerapan atau aplikasi dari keterampilan proses kelompok
akan memudahkan tugas dari kelompok pendukung atau support group (Helvie,
1998).

Strategi yang keenam yaitu negosiasi adalah suatu upaya yang dilakukan
untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tentang isu-isu atau masalah yang spesifik
(Helvie, 1998). Kemampuan berkomunikasi dengan baik dan jelas serta bernegosiasi
secara efektif merupakan keterampilan interpersonal untuk keberhasilan suatu
kolaborasi (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
No Judul Penelitian Intervensi Keperawatan

1. Reminiscence Therapy Responden terbagi dalam 4 kelompok. Setiap kelompok


dengan Metode Terapi dilakukan terapi Reminiscience selama 90 menit setiap
Aktivitas Kelompok sesi dan dalam dua minggu dilakukan tiga sesi untuk
Meningkatkan Aktivitas masing- masing kelompok. Fungsi kognitif lansia diukur
Fungsi Kognitif Pada dengan menggunakan MMSE sebelum dan sesudah
Lansia. tindakan.

2. Pengaruh Hidroterapi Penelitian hidroterapi kaki ini diberikan selama 10 menit


Kaki Terhadap Penurunan selama 4 hari dan dilakukan 1 jam sebelum tidur. Sesuai
Skor Insomnia Pada dengan sebuah teori yaitu untuk mendapatkan hasil yang
Lanjut Usia Di Panti efektif dari terapi rendam air hangat pada kaki sebaiknya
Werdha Muhammadiyah dilakukan sebelum tidur malam. Lakukan secara rutin
Kota Probolinggo selama 3 - 6 hari, maka akan memberikan relaksasi pada
tubuh sehingga dapat mengatasi gangguan tidur
(Christina,2012).

3. Pengaruh Terapi Bekam Pengobatan hipertensi dapat dilakukan secara


Kering Terhadap Tekanan farmakologi & nonfarmakologi. Salah satu terapi
Darah Pada Lansia nonfarmakologi yang dapat digunakan untuk
Dengan Hipertensi Di penanganan hipertensi adalah dengan menggunakan
Pstw Jember terapi bekam kering.

4. Pengaruh Terapi Tertawa Salah satu jenis terapi yang dapat menimbulkan
Terhadap Stres Psikologis relaksasi sehingga dapat mengurangi stres yaitu
Pada Lanjut Usia Di Panti terapi tertawa. Peneliti yang sebelumnya telah
Werdha Kota Manado dilatih terapi tertawa melatih responden untuk
melakukan terapi tertawa selama 20-30 menit untuk satu
kali latihan. Pelaksanaan terapi tertawa berlangsung 4
kali selama 7 hari.
BAB V

PENUTUP

3.1 Simpulan

Lansia adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia dan ditandai
oleh gagalnya seorang untuk mempertahankan kesetimbangan kesehatan dan kondisi stres
fisiologis nya. Tujuan keperawatan gerontik adalah memenuhi kenyamanan lansia,
mempertahankan fungsi tubuh, serta membantu lansia menghadapi kematian dengan tenang
dan damai melalui ilmu dan teknik keperawatan gerontik (Maryam, 2008). Masalah
kesehatan lansia yaitu Masalah kehidupan sexual, pembatasan fisik, palliative care,
penggunaan obat dan kesehatan mental. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan
adalah : Bingung, Lemah ingatan, Penglihatan berkurang, Tidak bisa memegang, Kurang
memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi dan dijalankan

3.2 Saran

Diharapkan dengan disusunnya makalah ini, dapat menjadi suatu bahan


pembelajaran bagi pembaca. Serta untuk selanjutnya Makalah Tren dan Issue
Keperawatan Lansia terkait Terapi Komplementer yang dibuat penyusun, diharapkan
adanya saran-saran yang membangun, dikarenakan penyusun menyadari masih
banyak kekurangan dalam penyusunannya.

DAFTAR PUSTAKA
Effendi & Mukhfudli. 2009. Keperawatan Komunitas : Teori dan Praktek dalam
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Elliopolous, C. 2005. Gerontologic Nursing. Jakarta : Erlangga

Maryam, R siti.2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatanya. Jakatra: Salemba


medika

Situart dan Sundart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah 1. Jakarta: EGC

http://dinnyanggraini.mahasiswa.unimus.ac.id/2015/11/18/keperawatan-gerontik/

Tamher, S & Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dan Pendekatan Asuhan
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika