Anda di halaman 1dari 26

BAB III PEDOMAN EJAAN BAHASA INDONESIA

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, berikut dipaparkan mengenai kaidah pemakaian huruf dan tanda baca dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam ragam bahasa Indonesia tulis.

A. PENULISAN HURUF

1. Huruf Kapital

a. Huruf kapital atau huruf besar digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Contoh:

Presiden memberikan sambutan di pembukaan acara itu. Pameran komputer terbesar tahun ini telah resmi ditutup.

b. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung. Contoh:

Mahasiswa berargumen, ―Jika massa mesin lebih berat, laju kendaraan akan pelan.‖ Pak Sapto mendoakan anaknya, ―Semoga lancar ujian hari ini, Nak.‖ ―Kapan engkau mulai mengerjakan tugas ini?‖ tanya Ibu.

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Contoh:

Islam Alquran Alkitab Kristen Tuhan Yang Maha Esa Tuhan Yang Mahakuasa

Tuhan Yang Maha Penyayang Tuhan akan membimbing hamba-Nya ke jalan yang benar.

d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Contoh:

Mahapatih Gajah Mada Sultan Agung Haji Agus Salim Imam Hanafi Nabi Muhammad Saw. Catatan:

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang Contoh:

Bapaknya baru saja dilantik menjadi gubernur. Dia telah beberapa kali menjalankan ibadah haji. Saat saya masih anak-anak, menjadi imam salat merupakan kebanggaan.

e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu. Contoh:

Gubernur Sulawesi Selatan Perdana Menteri Angela Merkel Profesor Rustono Menteri Susi Pudjiastuti Catatan:

1) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya. Contoh:

Rapat terbatas itu dipimpin langsung oleh Sekjen PBB . Indonesian Soccer Championship akhirnya direstui oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.

2) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu. Contoh:

Sebagian besar camat yang hadir menggunakan seragam yang sama. Setiap peleton dipimpin seorang danton. Setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.

f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Contoh:

Amir Hamzah Dewi Sartika Wage Rudolf Supratman Catatan:

1)

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal)

Contoh:

J. J. de Hollander, J. P. van Breukellen H. van der Vaart, Otto von Bismarck, Pedro da Silva 2) Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti. Contoh:

Abdullah bin Rahmad, Zaenal bin Adnan Siti Zaenab binti Salim, Zaitun binti Syamsul 3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Contoh:

pascal second

Pas

J/K atau JK-1

Joule per Kelvin

N

Newton

4)

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Contoh:

mesin diesel

25 volt, 10 ampere

g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Contoh:

bangsa Inca, suku Jawa, bahasa Indonesia Catatan:

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya:

pengindonesiaan kata asing kejawa-jawaan

h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya. Contoh:

tahun Masehi, tarikh Hijriah bulan April, bulan Maulid hari Jumat, hari Nyepi hari Lebaran, hari Natal Catatan:

1)

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama peristiwa sejarah.

Contoh:

Perang Nuklir

Perang Dunia II Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

2)

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.

Contoh:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi. Contoh:

Cilacap, Eropa Selatan, Trenggalek, Asia, dan Sulawesi Barat Catatan:

1)

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.

Contoh:

Gunung Leuser, Danau Maninjau Dataran Tinggi Dieng, Gunung Kerinci Jalan Hasanuddin, Jazirah Arab, Lembah Baliem Selat Sunda, Pegunungan Jayawijaya Sungai Kapuas, Tanjung Harapan Teluk Benggala, Terusan Panama

2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya. Contoh:

kerajinan Manding, asinan Bogor, tari Aceh, sarung Mandar 3) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi. Contoh:

menerjang laut, menyeberangi sungai, berenang di teluk 4) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis. Contoh:

nangka belanda, apel malang, garam madura

j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmu negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk. Contoh:

Republik Indonesia, Kementerian Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972 Catatan:

1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi. Contoh:

beberapa badan hukum Kerja sama antara pemerintah dan rakyat menjadi sebuah republik. Sinergi antara pemerintah dan rakyat menjadi republik. 2) Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital. Contoh:

Penenggelaman kapal di perbatasan sudah disetujui Menteri. Tahun ini Kementerian sedang mempelajari masalah itu. Surat itu telah ditandatangani oleh Presiden Direktur.

k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembagai ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan. Contoh:

Perserikatan Bangsa-Bangsa Rancangan Undang-Undang Kelautan Yayasan Ilmu-Ilmu Politik Dasar-Dasar Ilmu Pertanian

l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Contoh:

Saya telah membaca buku Dasar-Dasar Pragmatik. Dia adalah agen surat kabar Suara Rakyat.

Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Pidana".

m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri. Contoh:

dr.

S.Pd. sarjana pendidikan S.Akt. sarjana akuntansi

M.Hum.

Sdr. saudara Catatan:

Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

dokter

magister humaniora

n. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan. Contoh:

Kakak bertanya, "Nilai ulanganmu berapa, Dik?" Besok Bibi akan datang. Surat Saudara sudah saya terima. "Kapan Ibu berangkat?" tanya Sulaiman. Catatan:

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan dan penyapaan. Contoh:

Kita harus saling menghargai kakak dan adik kita. Semua orang tua dan wali sudah datang. Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Semarang.

o. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan. Contoh:

Sudahkah Anda mencicipi makanan itu? Siapa nama Anda?

p. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu.

2.

Huruf Miring

a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh: surat kabar Kedaulatan Rakyat.

b. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau kelompok kata. Contoh: Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.

c. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Contoh: Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana. Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi.

3.

Huruf Tebal Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran. Contoh:

Judul : LINGUISTIK UMUM Bab : BAB I PENDAHULUAN Bagian bab : 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Tujuan Daftar, indeks, dan lampiran:

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR LAMBANG DAFTAR PUSTAKA INDEKS LAMPIRAN

B. PENGGUNAAN TANDA BACA

1. Pemakaian Tanda Titik (.)

a. Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Contoh: Ayahku tinggal di Solo.

b. Dipakai di belakang angka atau huruf dalam satu bagan, iktisar, atau daftar.

Contoh:

III. Departemen Dalam Negeri

A. Direkorat Jenderal Pembangunan

B. Direktorat Jenderal Agraria

c. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu. Contoh: pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik).

d. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Contoh: 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik).

e. Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Contoh: Tarigan, Henry Guntur. 2015. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Bandung: Angkasa.

f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya, Contoh: Desa Citandui berpenduduk 24.200 jiwa.

g. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Contoh: Lihat halaman 47564 dan seterusnya.

h. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya. Contoh: Bentuk dan Kebudayaan

i. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat/ nama dan alamat penerima surat. Contoh:

Yth. Senja Ratnasari Jalan Kenari 143 Surabaya

2.

Pemakaian Tanda Koma (,)

a. Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Contoh: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

b. Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya

yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. Contoh: Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

c. Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Contohnya: Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

d. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

e. Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Contoh:

Oleh karena itu, Jadi, Lagi pula, Meskipun begitu, Akan tetapi,

f. Dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. Contoh: O, begitu?

g. Dipakai untuk memisahkan petikan langsungdari bagian lain dalam kalimat. Contoh: Kata ibu, ―Saya gembira sekali.‖

h. Dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Contoh:

Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

i. Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Contoh:

Keraf, Gorys. 2010. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

j. Dipakai diantara bagian-bagian dalam catatan kaki. Contoh: W.J.S Poerwadrminta, Bahasa Indonesia Untuk Karang Mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia.1967), hlm. 4

k. Dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Contoh: Embun Pagi, S.E.

l. Dipakai di muka angka persepuluhan atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Contoh: 12,5 m

m. Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Contoh: Hindun, sahabatku, tinggal di Palembang.

n. Dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Contoh:

Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

o. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Contoh: ―Di mana Saudara tinggal?‖ tanya Karim.

3. Pemakaian Tanda Titik Koma (;)

a. Dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Contoh: Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

b. Dapat dipakai sebagai kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Contoh: Ayah mengurus tanaman di kebunnya; ibu sibuk memasak di dapur.

4. Pemakaian Tanda Titik Dua (:)

a. Dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Contoh: Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

c.

Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Contoh:

tempat : Gedung Wijaya Kusuma pengantar acara : Bambang Sodiqin hari, tanggal : Senin, 15 Agustus 2016 waktu : 09.30 WIB

d. Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Contoh:

Ibu : (meletakkan beberapa kopor) ―Bawa kopor ini, Mir!‖ Amir : ―Baik, Bu.‖ (mengangkat kopor dan masuk)

e. Dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Contoh:

Tempo, I (1971), 8: 17 Surat Yasin: 11 Darmadi, Kaswan. 1996. Meningkatkan Kemampuan Menulis. Yogyakarta: Andi Offset.

5. Pemakaian Tanda Hubung (-)

a. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Contoh:

Di

ga

samping cara-cara lama itu ada ju- cara yang baru.

b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau

akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Contoh:

Kini ada cara yang lebih mudah untuk meng- ukur panas.

c. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Contoh: anak-anak, kehitam-hitaman, dll.

Contoh: p-a-n-i-t-i-a, 17-8-2016

e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan penghilangan bagian kelpmpok kata. Contoh: ber-evolusi

f. Dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan an, singkatan berbentuk huruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap. Contoh: se-Indonesia, hadiah ke-2, era 2000-an, ber-KTP

g. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Contoh: di-smash, men-support

6. Pemakaian Tanda Pisah ()

a. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Contoh:

Kemerdekaan itusaya yakin akan tercapaidiperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

b. Tanda pisah ini menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain

sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Contoh:

Rangkaian temuan inievolusi, teori kenisbian, dan juga pembelahan atomtelah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti sampai. Contoh: 19902000 Catatan:

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

7. Pemakaian Tanda Elipsis (…)

a. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Contoh: Kalau begitu…ya, marilah kita bergegas.

b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Contoh: Bahasa merupakan sistem tanda yang … dan konvensional.

Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks, dan satu untuk menandai akhir

kalimat.

Contoh: Bahasa merupakan sistem tanda yang arbitrer dan ….

8. Pemakaian Tanda Tanya (?)

a. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Contoh: Kapan kamu berangkat?

b. Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang

disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Contoh: Ia dilahirkan pada tahun 1786 (?).

9. Pemakaian Tanda seru (!) Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Contoh: Alangkah seramnya peristiwa itu!

10. Pemakaian Tanda Kurung ( (…) )

a.

Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Contoh: Bagian perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

c.

Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Contoh: Sajak Tranggono yang berjudul Ubud(nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

d.

Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat

dihilangkan. Contoh: Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

e.

Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Contoh: Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, (c) modal.

11. Pemakaian Tanda Kurung Siku ([…])

a. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Contoh:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

b. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Contoh:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya [lihat halaman 35-38] tidak dibicarakan) perlu dibentangkan di sini).

12. Pemakaian Tanda petik (“…”)

a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Contoh: ―Saya belum siap,‖ kata Wati, ―tunggu sebentar!‖

b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan atau ban buku yang dipakai dalam kalimat. Contoh: Sajak ―Berdiri Aku‖ terdapat pada halaman 5 buku itu.

c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Contoh: Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara ―coba dan ralat‖ saja.

d. Tanda petik penutup mengakhiri tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Contoh: Kata Markum, ―Saya juga minta satu.‖

e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Contoh: Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan ―Si Hitam‖.

Catatan:

Tanda petik pembuka dan tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

13. Pemakaian Tanda Petik Tunggal („…‟)

a. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Contoh: Tanya Basri, ―Kau dengar bunyi ‗kring-kring‘ tadi?‖

b. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing. Contoh: Ada trouble ‗kerusakan‘ yang parah pada mesin itu.

a. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Contoh:

125/PANSEL/OSIS/VIII/2016

Jalan Kramat II/10 Jakarta

b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, tiap.

Contoh: mahasiswa/mahasiswi, harganya Rp150.000/meter 15. Pemakaian Tanda Penyingkat atau Apostrof („) Tanda penyingkat atau apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Contoh: 1 Januari ‘89 (‘89= 1989)

C. PENULISAN SINGKATAN Berdasarkan penjelasan kaidah penulisan yang tercantum dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (Kemdikbud , 2016), kaidah penulisan singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan tersebut. Contoh:

W.R. Supratman : Wage Rudolf Supratman A.H. Nasution : Abdul Haris Nasution M.B.A. : master of business administration M.Hum. : magister humaniora M.Si. : magister sains S.E. : sarjana ekonomi

Sdr.

Kol Darmawati : Kolonel Darmawati Berikut ini beberapa jenis singkatan berdasarkan kaidah penulisan singkatan yang tepat.

a. Singkatan yang terdiri dari huruf awal setiap nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contoh:

NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia UMY : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa JTM : Jurusan Teknik Mesin

: saudara

KUHP : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

b. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:

PT

: perseroan terbatas

SMK

: sekolah menengah kejuruan

KTP

: kartu tanda penduduk

c. Selanjutnya, singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik. Contoh:

hlm.

: halaman

dll.

: dan lain-lain

dst.

: dan seterusnya

dkk.

: dan kawan-kawan

yth.

: yang terhormat

d.

Selain itu, singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat- menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Contoh:

a.n.

: atas nama

d.a.

: dengan alamat

s.d.

: sampai dengan

e. Berikutnya, singkatan lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Contoh:

Cu

: kuprum

cm

: sentimeter

kVA

: kilovolt-ampere

kg

: kilogram

f. Berikutnya, akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contoh:

BIG

: Badan Informasi Geospasial

BIN

: Badan Intelijen Negara

LIPI

: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

g. Jenis akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.

Contoh:

Bulog

: Badan Urusan Logistik

Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Kowani

: Kongres Wanita Indonesia

h. Jenis akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.

Contoh:

ipteks

: ilmu pengetahun teknologi dan sosial

pemilu

: pemilihan umum

puskesmas : pusat kesehatan masyarakat

rudal

: peluru kendali

D. PENULISAN ANGKA DAN BILANGAN

Kaidah penulisan angka dalam teks yang dinyatakan dengan satu atau dua kata dapat ditulis dengan huruf atau kata, kecuali jika dipakai secara berurutan, seperti contoh dalam

perincian. Akan tetapi, jika penulisan angka menggunakan lebih dari dua kata, penulisannya harus menggunakan angka. Contoh:

Kami memperbaiki mesin ini dua kali. Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku. Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang

abstain.

Berikut ini rincian jenis penulisan angka dalam kalimat yang sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia. a. Bilangan pada awal kalimat tetap ditulis dengan huruf atau kata. Contoh:

Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah darah. Tiga pemenang kompetisi robot mendapat uang pembinaan dan paket training robotika.

b. Apabila bilangan awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, susunan kalimatnya diubah. Contoh:

Panitia mengundang 250 orang peserta. Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

c. Penulisan angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf agar lebih mudah dibaca. Contoh:

Perusahaan itu mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.

d. Penulisan angka dipakai untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu, serta nilai uang. Contoh:

0,5 sentimeter

5

kilogram

2

tahun 6 bulan dan 5 hari

1

jam 20 menit

Rp3.000,00

e. Penulisan angka dipakai untuk menomori rincian alamat, seperti jalan, rumah,

apartemen, atau kamar. Contoh:

Jalan Pahlawan II No. 8 Hotel Gajayana No, 15

f. Penulisan bilangan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut, Contoh:

- tiga puluh (30)

- lima ribu (5.000)

- setengah atau seperdua (1/2)

- seperenam belas (1/16)

- tiga perempat (3/4)

- lima persen (5 %)

g. Penulisan angka yang bersamaan atau berurutan dengan imbuhan harus diberi tanda hubung (-). Contoh:

- ke-35, 2000-an, 1.900-an

- abad kedua puluh

- Perang Dunia Ke-2

- Perang Dunia Kedua

Catatan

: Penulisan angka romawi tidak dilengkapi tanda hubung (ke XX)

LATIHAN SOAL

1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang benar yaitu…

A. Ir. Malik, M. Eng. Ph.D.

B. Annisa Shofaya Rizki Pradana.,M.Pd.

C. M Malik Ibrahim, SS, MA.

D. Josephina Emmanuella, S.E, Msc.

E. RA. Hayati Rusmalina, SE.

2. Berikut ini merupakan contoh penggunaan tanda penghubung (-) yang benar , kecuali…

A. se-Jawa Barat

B. Tahun 90-an

C. Anak-anak

D. memPHK-kan

E. 12-12-2012

3. Penggunaan tanda kurung yang paling tepat terdapat pada kalimat …

A. Seluruh anggota (Pramuka) berlatih kemarin.

B. Rozak tidak datang membawa oleh-oleh ( bakpia, dodol dan kue) setelah berlibur ke jogja.

C. Dia akan pergi ke Surabaya dalam (dua hari lagi)

D. Anggota MA (Mahkamah Agung) menolak pengajuan kkemali oleh terdakwa.

E. UUD 1945 (Undang-undang Dasar 1945) adalah dasr hukum negara Indonesia.

A.

Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner : halaman 20-28.

B. Mullik, Marthen. 2011. Bahasa Indonesia Dalan Karya Tulis Ilmiah: Sebuah Tinjauan Aplikatif.

C. Kupang, Undana Press :1980

D. 12:50:07 WIB

E. Aku membeli perlatan sekolah : buku, bolpoin, penggaris dan penghapus.

5. …. dengan ini saya mengajukan lamaran pekerjaan untuk mengisi lowongan tersebut.

Adapaun identitas diri saya …. Pemberian identitas yang tepat untuk melengkapi surat lamaran tersebut adalah ….

A. nama tempat, tanggal lahir alamat

: Riana : Klaten, 5 April 1986

:

Jalan Bhakti Husada 10 Klaten

B. nama

: Riana

tempat, tanggal lahir

:

Klaten 5 4 - 1986

alamat

:

Jalan Bhakti Husada 10 Klaten

C. nama tempat, tanggal lahir alamat

D. nama tempat, tanggal lahir alamat

E. nama tempat, tanggal lahir alamat

: Riana : Klaten/ 5 April 1986

Jalan Bhakti Husada 10, Klaten

: RIANA : Klaten, 5 April 1986

:

: Riana : Klaten, 5 April 1986 Jalan Bhakti Husada 10, Klaten

:

:

Jalan Bhakti Husada 10 Klaten

6. Mental Pejabat belum berubah. Jika ingin … melesat, dibuatlah laporan yang baik-baik.

Akibatnya, ketika wakil Presiden melakukan

kebohongan itu. Kata serapan yang sesuai untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ….

A. karirnya, intruksi

B. Karirnya, instruksi

C. Kariernya, inspeksi

mendadak, terbongkarlah berbagai

E. karirnya, insepeksi

7. Menurut Gunawan hujan lebat di sebagian kawasan Indonesia, diperkirakan diikuti angin kencang. Berdasarkan dinamika atmosfir dan tekanan udara pada skala lokal, maka potential terbentuk awan comulonimbus (salah satu dari awan yang menimbulkan hujan) yang menjulang sampai ketinggian 7.000 meter. Kata baku untuk mengganti kata tidak baku dalam paragraf tersebut adalah …

A. atmosfer, sekala, potensial

B. atmosfer, skala, potensial

C. atmosfeir, sekala, potensial

D. atmosfier, skala, potensil

E. atmosfir, skala, potensil

8. Penulisan daftar pustaka yang benar adalah

A. R.A. Kartini. 1987. Habis Gelap terbitlah Terang. Jakarta: balai Pustaka.

B. Keraf, Gorrys. 1985. Argumentasi dan Narasi. Ende Flores, Pustaka Jaya.

C. Gorrys, Keraf. 1985. Argumentasi dan Narasi. Ende Flores: Pustaka Jaya

D. Kridalaksana, Harimukti dan Kentjano, Joko, Seminar Bahasa Indonesia 1968, Ende Flores: Nusa Indah, 1971

E. Rosidi, Ayip, 1977. Laut Biru Langit Biru, Pustaka Jaya, jakarta

9. Ketika saya datang, ibu sedang membubui sayur lodeh.

Kata berimbuhan ―me-i‖ dalam kalimat di atas semakna dengan imbuhan ―me-i‖ pada kalimat ….

A. Pisau itu melukai tangan kanannya.

B. Ayah memagari tanaman dengan bambu.

C. Mang Adun membului ayam dengan teliti.

D. Kurs uang rupiah turun mendekati sembilan ribu

E. Adik memunguti mangga yang jatuh di kebun

10. produksi biomasa rumput

pada musim hujan produksi rumput kume

dapat mencapai 17 ton bahan segar per ha atau 3,73 ton bahan kering per ha (dami dato

1998) sayangnya karena rumput ini tumbuh secara alami dan belum ada upaya budidaya sehingga hanya dapat dipanen sekali dalam setahun pada musim hujan.

kume cukup tinggi

Yang perlu diperbaiki dari cuplikan artikel diatas adalah di bagian …

A. Produksi, tanda titik setelah cukup tinggi, Pada, (Dami Dato, 1998)

B. Produksi, tanda titik setelah cukup tinggi, Pada, (Dami Dato, 1998) dan bagian sayangnya diberi tanda koma

C. Produksi, tanda titik setelah cukup tinggi, Pada, (Dami Dato, 1998). dan Sayangnya,

D. Produksi, tanda titik setelah cukup tinggi, (Dami Dato, 1998).

E. Produksi, tanda titik setelah cukup tinggi, Pada, Dami Dato, 1998.

11. Magelang yang sejuk (1) dikelilingi oleh banyak gunung (2), yaitu gunung (3) Sumbing, Telomoyo, Merbabu, Merapi, dan pegunungan (4) Menoreh Kata yang huruf pertamanya harus ditulis dengan huruf kapital ditandai nomor

A. (1) dan (2)

B. (1) dan (3)

C. (2) dan (4)

D. (3) dan (4)

E. (1) dan (4)

12. Bacalah kalimat berikut! Desy, memiliki bermacam tanaman hias : mawar, melati, dan aster. Tanda baca yang tidak tepat pada kalimat tersebut adalah

A. titik ( . ) di akhir kalimat

B. koma ( , ) di depan kata dan

C. titik dua ( : ) di belakang kata hias

D. koma ( , ) di belakang kata Desy

E. koma ( , ) setelah kata mawar.

13. Bacalah kalimat-kalimat berikut!

1)

Dia tertawa keras, saat melihat adiknya melucu.

2)

Ujian sudah dekat ; dia belum belajar dengan serius.

3)

Rina, sedang menyelesaikan pekerjaan rumahnya di kamar.

4)

Ayah mengajakku ke rumah nenek, tetapi aku punya acara lain.

Penggunaan tanda baca yang tepat terdapat pada kalimat

A. (1) dan (2)

B. (2) dan (3)

C. (3) dan (4)

D. (2) dan (4)

E. (1) dan (4)

14. Bacalah kalimat-kalimat berikut!

1)

Tempat praktek siswa itu berada di belakang aula sekolah.

2)

Obat yang harus dibeli hanya tersedia di apotik pusat kota.

3)

Sejak Kamis kemarin dia izin tidak mengikuti ekstrakurikuler.

4)

Dia harus menanggung risiko akibat keteledorannya.

Penggunaan ejaan yang tepat terdapat pada kalimat

A. (1) dan (2)

B. (2) dan (3)

C. (3) dan (4)

D. (1) dan (4)

E. (2) dan (4)

15. Ini bukan tulisan saya melainkan tulisan kakak

saya.

Penggunaan tanda koma yang tepat pada kalimat tersebut adalah

A. Ini bukan tulisan saya melainkan tulisan kakak saya

B. Ini bukan tulisan saya melainkan, tulisan kakak saya

C. Ini bukan tulisan saya, melainkan tulisan kakak saya

D. Ini bukan tulisan saya, melainkan, tulisan kakak saya

E. Ini bukan tulisan saya melainkan tulisan, kakak saya.

16. Sebelum dilantik menjadi bupati (1), Herlambang datang (2) ke candi (3) ngawen(4) Kata yang huruf pertamanya harus ditulis dengan huruf kapital ditandai dengan nomor

A. 1 dan 2

B. 1 dan 3

C. 3 dan 4

D. 1 dan 4

17.

Penulisan nama dan gelar yang benar adalah …

A. Prof. Dr. Budi Dharma Abadi, SH

B. Prof. Dr Budi Dharma Abadi, SH

C. Prof. Dr. Budi Dharma Abadi S.H.

D. Prof. Dr. Budi Dharma Abadi, S.H.

E. Prof. Dr. Budi Dharma Abadi, S.H

18. Alat ini mampu: mengupas, mengiris, dan menghaluskan.

Perbaikan penggunaan tanda baca dalam kalimat tersebut tepat adalah

A. mengganti tanda titik dua (:) dengan titik koma (;)

B. menghilangkan tanda titik dua (:)

C. mengganti tanda titik dua (:) dengan koma (,)

D. menghilangkan tanda koma (,) di depan dan

E. menghilangkan tanda koma (,) di depan kata mengiris

19. Pada tahun 90an telah diadakan pertemuan pemerhati lingkungan hidup seIndonesia di Jakarta. Perbaikan penulisan kalimat tersebut yang tepat adalah

A. Pada tahun 90 an telah diadakan pertemuan pemerhati lingkungan hidup se Indonesia di Jakarta.

B. Pada tahun 90-an telah di adakan pertemuan pemerhati lingkungan hidup seIndonesia di Jakarta.

C. Pada tahun 90-an telah diadakan pertemuan pemerhati lingkungan hidup se-Indonesia di Jakarta.

D. Pada tahun 90 an telah di adakan pertemuan pemerhati lingkungan hidup se-Indonesia di Jakarta.

E. Pada tahun 90 an telah diadakan pertemuan pemerhati lingkungan hidup se-Indonesia di Jakarta.

20. Hari ini aku membawa dua buku mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Penggunaan tanda baca yang tepat pada kalimat tersebut adalah

A. Hari ini, aku membawa dua buku mata pelajaran: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

B. Hari ini aku membawa dua buku mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

C. Hari ini, aku membawa dua buku mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

E. Hari ini, aku membawa dua buku mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.