Anda di halaman 1dari 56

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEJADIAN DEPRESI

PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGETAYU


SEMARANG

Proposal Skripsi

Oleh:

MUSLIKHATUL KHOIRIYAH

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAxM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peingkatan Usia Harapan Hidup (UHH) merupakan salah satu indikasi

keberhasilan dari pembangunan kesehatan (Herlinah, Rekawati, & Wiarsih,

2013). Perkembangan negara Indonesia termasuk salah satu yang cepat di

dunia, termasuk dalam dunia kesehatan. Berdasarkan peningkatan usia

harapan hidup, diketahui semakin tinggi usia harapan hidup dan pada tahun

2020 diperkirakan mencapai umur lebih dari 70 tahun (Darmojo B. , 2015).

Word Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa di kawasan Asia

Tenggara tahun 2000 dengan jumlah 8% yaitu sekitar 142 juta lansia.

Sedangkan jumlah lansia tahun 2010 sebanyak 24.000.000 atau 9,77%, dan

akan diperkirakan jumlah lansia tahun 2020 mencapai 28.800.000 lansia atau

11,34% (Depkes, 2013).

Di Indonesia, jumlah lansia terus mengalami peningkatan. Menurut

Biro Pusat Statistik tahun 2008, jumlah lansia pada tahun 2000 yaitu 7,5%

atau sekitar 15 juta jiwa. Penduduk lansia tahun 2020 di Indonesia yaitu 28,8

juta atau 11,34 % (Hamid, 2007). Berdasarkan Jumlah penduduk di Provinsi

Jawa Tengan melalui Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah jumlah

penduduk mengalami kenaikan pada tahun 2005 yaitu berjumlah 3.832.295,

sedangkan pada tahun 2004 berjumlah 3.741.811 jiwa. Pada tahun 2014,

kelompok umur 50 – 54 tahun berjumlah 1.868.820, dan kelompok umur 55 –

59 tahun berjumlah 1.429.667, sedangkan kelompok umur 60 – 64 tahun

1
2

berjumlah 1.057.744, kelompok umur 65 – 65 tahun berjumlah 837.662 ,

kelompok umur 70 – 75 tahun berjumlah 635.171 dan pada kelompok umur

di atas 75 tahun berjumlah 815.914 (Badan pusat statistik Provinsi Jawa

Tengah, 2014).

Di Kota Semarang pada tahun 2006 jumlah penduduk lansia yaitu

90.080 jiwa dan pada tahun 2007 yaitu 141.853 jiwa. Sedangkan pada tahun

2012 jumlah penduduk lansia100.050 jiwa, dan berdasarkan sensus tahun

2017 jumlah penduduk lansia sebanyak 141.697 jiwa atau mencapai 8,193%

dari 1.729.428 jiwa. Penduduk lanjut usia ini diukur berdasarkan penduduk

yang berusia lanjut 60 tahun keatas (BPS Kota Semarang, 2017). Peningkatan

jumlah lansia selain menjadi indikator keberhasilan pembangunan kesehatan

yang baik tetapi ini juga merupakan tantangan yang harus dihadapi, karena

pada lansia mengalami masalah fisik dan psikologis. Masalah fisik yang

dihadapi lansia adalah menurunnya kemampuan melakukan aktivitas sehari-

sehari secara mandiri termasuk aktivitas spiritual. Sedangkan secara

psikologis masalah yang sering muncul adalah merasa kesepian dan cemas

terhadap kematian yang mengakibatkan terjadinya depresi.

Hasil penelitian Widianingrum, Rachma, dan Nurullya (2017) tentang

gambaran Depresi di Panti Wilayah Kota Semarang, menemukan bahwa

sebanyak 71,8% lansia mengalami depresi. Berdasarkan karakteristik terdapat

42,7% lansia berumur 70-80 tahun yang mengalami depresi, sebanyak 73,6%

lansia yang berjenis kelamin perempuan mengalami depresi, sebanyak 38,2%

lansia yang tidak sekolah mengalami depresi. Lansia dengan depresi


3

mempunyai riwayat mengonsumsi obat analgesik yaitu 43 lansia (39,1%) dan

memiliki dukungan sosial kurang yaitu 59 lansia (53,6%).

Depresi dapat dipengaruhi oleh beberapa macam factor, dimana salah

satunya adalah tidak adanya hubungan yang baik dengan keluarga atau

rusaknya hubungan keluarga dan adanya jarak antar anggota keluarga, yang

dapat menyebabkan adanya situasi seperti kesepian dan isolasi afektif serta

perasaan ditinggalkan dan kekosongan. (Oliveira, 2014) Mengingat adanya

peningkatan lansia dari tahun ke tahun, dirasa perlu untuk mengkaji lebih

dalam lagi mengenai hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat

depresi pada lansia, dikarenakan keluarga memegang peranan penting dalam

peningkatan kejadian depresi pada lansia.

Pemberian dukungan keluarga kepada lansia ini dipengaruhi oleh

beberapa faktor, yaitu kurangnya pengetahuan keluarga mengenai pentingnya

dukungan keluarga, keluarga kurang sensitif terhadap sekitarnya, tidak

adanya sumber daya untuk menolong, keluarga sedang menghadapi stres atau

karena lansia tidak mampu memahami maksud dukungan keluarga, sehingga

tidak menerima dukungan dari keluarga (Safarino, 2006). Dampak positif dari

adanya keluarga yang mendukung adalah meningkatkan kesejahteraan dan

kesehatan pada lansia (Setiati, 2014).

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti

dengan wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Semarang ditemukan untuk

kelompok lansia dengan usia 60 tahun ke atas berjumlah 637 orang.

Berdasrkan hasil wawancara yaitu pada tanggal 1 Agustus 2019 dengan


4

jumlah 10 keluarga yang memiliki anggota lansia, didapatkan hasil bahwa 4

(40%) diantaranya mengatakan bahwa lansia yang tinggal bersama mereka

mengalami depresi berat yang ditandai dengan menyendiri, kesulitan tidur,

nafsu makan rendah serta merasa malas untuk memperhatikan penampilan.

Hasi survey juga menemukan 3 (30%) keluarga dengan lansia lainya

menyatakan depresi ringan, yang ditandai dengan kesulitan tidur, nafsu

makan berkurang dan merasa sudah tidak berguna. Hasil survei juga

menamukan 3 (30%) keluarga dengan lansia mengatakan tidak terjadi depresi

karena mendapatkan perhatian lebih dari keluarganya. Berdasarkan

penjelasan tersebut penulis tertarik untuk meneliti “Hubungan dukungan

keluarga dengan depresi pada lansia”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalahnya adalah “adakah hubungan dukungan keluarga

dengan kejadian depresi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu

Semarang?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan depresi pada

lansia di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Semarang.


5

2. Tujuan khusus

a. Mendeskripsikan karakteristik responden (usia, jenis kelamin, status

pernikahan, pendidikan terakhir dan pekerjaan).

b. Mendeskripsikan dukungan keluarga terhadap lansia di wilayah kerja

Puskesmas Bangetayu Semarang

c. Mendeskripsikan tingkat depresi lansia di wilayah kerja Puskesmas

Bangetayu Semarang.

d. Menganalisis kekuatan dan arah hubungan antara dukungan keluarga

dengan depresi lansia di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu

Semarang.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Profesi Keperawatan

Sebagai masukan untuk profesi keperawatan dalam memahami

bahwa pentingnya dukungan keluarga dengan depresi lansia agar ketika

memberikan asuhan keperawatan pada lansia di masyarakat mampu secara

lebih komprehensif dan berkualitas dengan melibatkan anggota keluarga

dalam proses perawatan.

2. Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah literatur serta

mengembangkan penerapan ilmu pengetahuan terkait dukungan keluarga

dengan depresi lansia.


6

3. Bagi Masyarakat

Untuk menambah pengetahuan serta wawasan pada masyarakat

khususnya keluarga untuk terlibat dalam proses perawatan lansia agar

tercipta kualitas hidup yang baik.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Lansia

a. Pengertian Lansia

Lansia merupakan periode tahap perkembangan pada usia 60

tahun dan akan berakhir pada kematian. Hal ini yaitu masa

penyesuaian dalam menghadapi penurunan kesehatan dan kekuatan

pada lansia dalam kehidupannya dengan peran sosial (Santrock,

2006). Pada lansia ada tiga kategori yaitu: orang tua muda (young

old) dengan usia(65-74 tahun), orang tua tua (old old) dengan usia

(75-84 tahun) dan orang tua yang sangat tua (oldest old) dengan

usia (85 tahun ke atas) (Papalia, 2005). Masa lansia dibagi dalam

dua periode oleh Barbara Newman dan Philip Newman, yaitu pada

masa dewasa akhir (later adulthood) dengan usia (60-75 tahun) dan

pada usia yang sangat tua (very old age) dengan usia (75 tahun

sampai meningal dunia) (Newman, 2006).

b. Klasifikasi Lansia

Menurut WHO dalam (Dewi, 2014), lansia dibagi menjadi

tiga golongan yaitu usia lanjut (60 sampai 74 tahun), usia Tua ( 75

sampai 89 tahun), dan Sangat Tua(lansia >90 tahun). Maryam,

(2008) mengklasifikasikan lansia menjadi beberapa kelompok

sebagai berikut:

7
8

1) Pra lansia atau masa ketika sudah memasuki usia 45 sampai 59

tahun.

2) Lanjut usia yaitu ketika seseorang sudah mulai usia 60 tahun

atau lebih.

3) Lanjut usiayang telah mencapai 70 tahun atau lebih akan

mengalami resiko yang tinggi.

4) Lanjut usia aktif yaitu ketika seorang lanjut usia masih

menjalankan pekerjaan aktif dalam kesehariannya.

5) Lanjut usia yang tidak aktif yaitu ketika seorang lanjut usia

sudah tidak dapat lagi beraktifitas sebagaimana mestinya, jadi

segala kebutuhannya sudah sangat tergantung kepada orang

lain.

c. Perubahan pada lansia

Menurut Nugroho (2009), perubahan lansia meliputi:

1) Perubahan Fisik

Pada lansia akan mengalami perubahan atau penurunan

fisik, yaitu perubahan pada fungsi system organ seperti adanya

perubahan pada sel, perubahan sistem persarafan, perubahan

system pendengaran, perubahan system penglihatan,

perubahan system kardiovaskuler, perubahan system imunitas,

perubahan system pernafasan, perubahan system endokrin,

perubahan system genitourinaria, perubahan system

musculoskeletal, perubahan system gastrointestinal.


9

2) Perubahan Mental

Perubahan-perubahang yang terjadi pada lansia seperti

perubahan tubuh, penurunan ingatan, penurunan ilmu

pengetahuan, perubahan pada kondisi kesehatannya serta

pengaruh lingkungan yang ada disekitarnya menyebabkan

terjadinya perubahan mental pada lansia.

3) Perubahan Psikososial

Kehilangan dari sumber financial atau pemasukan

berkurang, kehilangan status, jabatan, fasilitas, teman, relasi,

dan pekerjaan yang dulu pernah dimiliki, sertamerasakan akan

hadirnya kematian atau sense of awareness of mortality.

4) Perubahan spiritual

Lansia dengan matangnya agama dan kepercayaan akan

mengalami Perubahan spiritual pada lansia, yaitu dengan pola

berfikir dan bertindak dalam kehidupannya. Perkembangan

spiritual yang matang akan membantu lansia untuk

menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan,

maupun merumuskan arti dan tujuan keberadaannya dalam

kehidupan.

2. Depresi

a. Definisi Depresi

Depresi merupakan suatu kondisi yang menunjukkan

ketergantungan fungsi manusia yang berkaitan dengan alam


10

perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan

pada berbagai indikator seperti nafsu makan dan pola tidur,

konsentrasi, psikomotor, dan perasaan putus asa serta

ketidakberdayaan yang bisa menyebabkan keinginan untuk bunuh

diri (Kaplan, 2010).

Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi

yang dapat di sebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau

beberapa aminergik neurotransmiter (Noeradrenalin, serotonin,

dopamin) pada sinaps neuron di SSP (teruama pada sistem limbik)

(Maslim, 2010).

Kaplan menyebutkan bahwa depresi adalah salah satu

gangguan alam perasaan yang di tandai oleh hilangnya perasaan

kontrol dan adnya penderitaan berat berdasarkan pengalaman

subjektif. Mood atau alam perasaan adalah eksperi emosional pada

saat itu yang diakibatkan oleh adanya perasaan emosional akibat

dari kondisi internal maupun eksternal pada diri seseorang

(Kaplan, 2010).

b. Etiologi Depresi

1) Faktor Biologi

Hasil-hasil penelitian terdahulu menemukan bahwa

pada seseorang yang mengalami gangguan mood ditemukan

adanya kelainan amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5- hidroksi

indol asetik acid), HVA (Hhomovanilic acid), di dalam darah,


11

urin dan cairan serebrospinal. Serotonin dan epineprin sebagai

patologi depresi yaitu sebagai neurotransmiter. Depresi dapat

terjadi akibat serotonin yang menurun, dan pada serotonin yang

rendah banyak ditemukan pada pasien bunuh diri. Pada terapi

despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam

patofisiologi depresi (Kaplan, 2010). Pada seseorang yang

menalami depresi terjadi aktivitas dopamin yang menurunkan

konsentrasinya seperti respirin. Penurunan konsentrasi dopamin

ini menjadi gejala terjadinya penyakit parkinson yang disertai

dengan gejala depresi. Obat yang dapat menurunkan gejala

depresi dan meningkatkan dopamin seperti tyrosin,

amphetamine dan bupropion (Kaplan, 2010).

Disregulasi neuroendokrin, hipotalamus merupakan

pusat pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron

yang mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien

depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin.

Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang

mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres ronik yang

mengaktifasi aksis Hypothalamic – pituitary – adrenal (HPA)

dapat menimbulkan perubahan pada amin biogenik sentral.

Aksis neuro endokrin yang paling sering terganggu yaitu

adrenal, tiroid dan aksis hormon pertumbuhan. Aksis HPA

merupakan aksis yang paling banyak diteliti (Landefeld et,all,


12

2010). Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis HPA

yang sangat fundamental pada pasien depresi. Hipersekresi

yang terjadi diduga akibat adanya defek pada sistem umpan

balik kortisol di sistem limpik atau adanya kelainan pada

sistem umpan balik kortisol di sistem limpik atau adanya

kelainan pada sistem monoaminogenik dan neuromodulator

yang mengatur CRH (Kaplan, 2010). Sekresi CRH dipengaruhi

oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah

berhubungan dengan Paraventricular nucleus (PVN), yang

merupakan organ utama pada sistem endokrin dan fungsinya

diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN,

yang menyebabkan peningkatan sekresi CRH (Landefeld,

2011). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi

hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem

dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti MPTP,

6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama dengan

antioksidan juga merusak monoamine oxidase (Unutzer dkk,

2010).

Kehilangan saraf atau penurunan neurotrasmiter.

Selama proses menua maka sel-sel saraf akan hilang secara

selektif. Selama rentang kehidupan akan mengalami kehilangan

sel saraf secara konstan, di dalam lokus seroleus mengalami

kehilangan sel yang lebih besar dan terjadi degenerasi neuronal


13

korteks, substansi nigra, serebelum dan bulbus olfaktorius

(Lesler, 2010). Di dalam otak terjadi penurunan noradrenergik

dan serotonergik yang disebabkan oleh bertambahnya umur

yang semakin menua. Terutama penurunan fungsi aktifitas

pada usia 80-an tahun menjadi setengahnya dibandingkan

dengan usia lebih muda saat 60-an tahun (Kane dkk, 2010)

2) Faktor Genetik

Resiko kejadian depresi pada keluarga yang mengalami

depresi pada tingkat pertama, berdasarkan hasil penelitian

diperkirakan memiliki resiko 2 sampai 3 kali menderita depresi

berat dibandingkan dengan keluarga yang tidak mengalami

depresi. Angka keselarasan sekitar 11% pada kembar dizigot

(Davies, 2011).

Oleh Lesler (2011) menyebutkan bahwa tidak

disebukan secara spesifik tentang pengaruh genetik terhadap

depresi, namun secara genetik pada penderita depresi memiliki

ketahanan yang lebih rendah dalam mengatasi stres. Proses

menua bersifat individual, sehingga dipikirkan kependekan

seseorang terhadap penyakit adalah genetik. (Fatimah, 2010).

3) Faktor Psikososial

Berdasarkan teori psikodinamik yang dikembangkan

oleh Freud, disebutkan bahwa penyebab kehilangan objek yang

dicintai menjadi penyebab terjadinya depresi (Kaplan, 2010).


14

Jadi faktor kehilangan menjadi faktor kuat terhadap

kejadian gangguan mental pada lansia yang juga disebut

sebagai faktor psikososial. Hilangnya peran sosial, penurunan

kesehatan, kehilangan sanak saudara, teman, ekonomi,

keterbatasan finansial dan penurunan kesehatan serta

penurunan fungsi kognitif menjadi penyebab pada faktor

psikososial. (Kaplan, 2010). Kane juga menyebutkan tentang

faktor psikososial yang terdiri dari meliputi penurunan rsaa

kepercayaan diri, penurunan finansial dan penyakit fisik,

kesepian, perpisahan, penurunan kemampuan untuk

mengadakan hubungan intim, penurunan jaringan sosial,

(Kane, 2010).

Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi

meliputi: peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan,

kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori

kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010).

Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa

kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului

episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para

klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya

memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stresor

lingkungan yang paling berhubungan dengan onsetsuatu

episode depresi adalah adalah kehilangan pasangan (Kaplan,


15

2010).

Stresor psikososial yang bersifat akut, seperti

kehilangan orang yang di cintai, stresor kronis misalnya

kekurangan finansial yang berlansung lama, kesulitan

hubungan interpersonal,ancaman dapat menimbulkan depresi

(Hardywinoto, 2010).

Faktor kepribadian, beberapa ciri kepribadian tertentu

yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen,

anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk

terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan

paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai

mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan,

2010).

Faktor psikodinamika, berdasarkan teori psiko dinamika

Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang di cintai dapat

menimbulkan depresi. Dalam upaya untuk mengerti depresi,

Sigmud Freud berpendapat tentang suatu hubungan antara

kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa

kekrasan yang di lakukan pasien depresi diarahkan secar

internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud

mempercayai adanya kemungkinan intropeksi menjadi satu-

satunya cara ego untuk melepaskan suatu objek, Freud

membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar


16

bahwa pasien yang mengalami depresi dapat merasakan

penurunan harga diri yang menjadi penyebab dalam hubungan

dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendri, sedangkan

orang yang berkabung tidak demikian (Kaplan, 2010).

Kejadian pada berulangnya suatu kegagalan dapat

ditunjukkan dari percobaan terhadap hewan yang diberikan

kejutan dari aliran listrik secara berulang sehingga hewan itu

pun menyerah dan tidak melakukan percobaan lagi dan

berupaya untuk menghindari aliran listrik. Kondisi tersebut

menunjukkan adanya proses belajar pada hewan untuk tidak

mencoba melakukan hal yang sama dan menunjukkan

ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan yang mirip dengan

kejadian ini juga ditemukan pada orang yang mengalami

depresi (Kaplan, 2010).

Faktor kognitif, adanya interpretasi yang keliru terhadap

sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang

pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan

keputus asaan. Oleh sebab itu kejadian depresi disebabkan oleh

pandangan yang negatif seperti itu (Kaplan, 2010).

c. Gambaran Klinis

Depresi pada lansia adalah proses patologis, bukan

merupakan proses normal dalam kehidupan. Umumnya orang-

orang akan menanggulangi dengan mencari dan memenuhi rasa


17

kebahagiaan, bagaimanapun,lansia cenderung menyangkal bahwa

terjadi deprsi pada dirinya. Umumnya berbagai gejala muncul

diberbagai bentuk seperti sikap rendah diri, dan biasanya sulit

untuk di diagnosa (Evans, 2011).

1) Perubahan Fisik

a) Nafsu makan menurun

b) Tidur terganggu

c) Terjadi penurunan energi dan merasa kelelahan

d) Agitasi

e) Tanpa adanya penyebab fisik tiba-tiba muncul nyeri, sakit

kepala, otot kaku (kram)

2) Perubahan Perasaan

a) Ketertarikan terhadap lawan jenis dan keinginan untuk

melakukan hubungan intim menjadi menurun

b) Timbulnya rasa sedih, ketidakberdayuaan dan merasa

bersalah

c) Perasaan terasa hampa

d) Tanpa adanya alasan yang jelas tiba-tiba menangis

e) Iritabilitas, marah dan terkadang agresif

3) Perubahan Pada Kebiasaan Sehari-hari

a) Lingkungan sosial, pekerjaan semuanya ditinggalkan

b) Tidak bersedia memutuskan suatu masalah

c) Pekerjaan rumah di tunda


18

d) Penurunan aktifitas fisik dan latian

e) Peningkatan konsumsi alcohol dan obat-obatan terlarang

d. Derajat Depresi dan Penegakan Diagnosis

PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan

Jiwa III) yang merujuk pada ICD 10 (International Classification

Diagnostic 10) membuat pedoman dalam menegakkan gangguan

depresi pada lanjut usia. Klasifikasikan gangguan depresi dibagi

menjadi depresi berat, sedang dan ringan yang didasarkan pada

berat dan banyaknya gejala serta dampak yang ditimbulkan terhadap

fungsi kehidupan seseorang (Maslim, 2010).

1) Gejala Utama

a) Timbulnya rasa depresif

b) Semangat dan minat yang hilang

c) Tenaga hilang dan mudah lelah

2) Gejala Lain

a) Menurunnya perhatian dan konsentrasi

b) Penurunan harga diri dan diikuti rasa percaya diri

c) Timbulnya rasa berrsalah dan serasa tidak berguna

d) Perasaan yang pesimis terhadap masa depan

e) Gagasan membahayakan diri atau bunuh diri

f) Gangguan tidur

g) Gangguan nafsu makan

h) Menurunnya libido
19

Menurut Maslim, depresi di bedakan dalam tiga tingkatan,

yaitu:

1) Depresi ringan (mild), jika terdapat sekurang-kurangnya dua

dari tiga gejala utama ditambah sekurang-kurannya dua dari

segala tambahan yang sudah berlangsung sekurang-kurannya

selama dua minggu. Dan tidak boleh ada gejala yang berat di

antaranya.

2) Depresi sedang (moderate), jika terdapat sekurang-kurannya dua

dari tiga gejala utama ditambah sekurang-kurannya tiga

(sebaiknya empat) gejala tambahan.

3) Depresi berat (severe), jika terdapat tiga gejala utama ditambah

sekurang-kurangnya empat gejala tambahan, beberapa di

antaranya harus berintensitas berat.

Tabel 2.1 Tingkat Depresi

Tingkat Gejala Gejala


Fungsi Keterangan
Depresi Utama Lain
Ringan 2 2 Baik -
Sedang 2 3-4 Terganggu Nampak distres
Berat 3 >4 Sangat terganggu Sangat distres

3. Depresi pada lansia

a. Definisi

Depresi merupakan gangguan psikologis yang paling umum

terjadi pada tahun-tahun terakhir kehidupan individu. Depresi pada

lanjut usia ini muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti:


20

gangguan atau penurunan nafsu makan, terjadi masalah

pencernaan, gangguan tidur atau insomnia, dan sakit kepala.

Depresi merupakan suatu keadaan yang menyebabkan

lanjut usia merasa putus asa, merasakan bahwa kehidupannya

serasa suram dengan berbagai rintangan yang terlihat seperti nyata

dalam kehidupannya. Lansia yang menderita depresi banyak

mengeluhkan keadaan fisiknya jika dibandingkan dengan keadaan

emosionalnya. Penanganan terhadap depresi akan sering menjadi

terlambat akibat tidak dikenalinya tanda depresi yang diakibatkan

oleh keluhan fisik. Keluhan fisik 6tersebut tidak mudah untuk

dibedakan antara faktor fisik dengan mental sehingga pendetsulit

dibedakan apakah disebabkan faktor fisik atau psikis, sehingga

pendeteksian kejadian depresi sering terlambat terlambat.

b. Etiologi

Depresi geriatri belum bisa dipastikan penyebabnya secara

jelas, apakah karena disebabkan penurunan fungsi otak atau karena

kemunduran struktur otak pada lansia yang menyebabkan

gangguan pada neurotranmitter dan neuroindokrin.

Terjadi pembesaran ventrikel otak lateral jika dilakukan

pemeriksaan CT scan, onset lambat depresi menjadi gambarannya,

anti biologgis pembesaran ventrikel tidak jelas tapi menjadi terlihat

bila dihubungkan dengan lemahnya respon terhadap pengobatan

antidepresan, sama halnya dengan abnormalitas fungsi depresi


21

termasuk hiperkortisolemi, hipotiroidisme, penurunan dopamine

beta hedrosilase, peningkatan konsentrasi 5 HIAA pada cairan

serebrospinal (Kaplan & Sadock, 2010).

c. Diagnostik dan Komorbiditas

Diagnosis pada depresi harus didahului dengan anamnesis.

Anamnesis ini digunakan untuk mencari adanya perubahan dari

fungsi terdahulu yang ditunjukkan dengan 5 gejala atau lebih yaitu

pada gejala mayor seperti yang telah disebutkan. Keluarga dan

informan lain sangat penting untuk dilibatkan dalam proses

anamnesis.

Munculnya gejala seperti gangguan memori, apatis,

penarikan diri dari aktivitas sosial dan rendahnya perhatian serta

memburuknya kognitif secara nyata merupakan gejala awal depresi

yang sering muncul. Sementara tanda sedih atau disfori seringkali

tidak ditemukan. Timbulnya penurunan perhatian terhadap hal-hal

yang disukai sebelumnya, nafsu makan yang juga ikut menurun,

kesulitan tidur sulit untuk diketahui.

Adanya penurunan fisik atau penyakit menua seringkali

menyebabkan tidak terdiagnosisnya kejadian depresi, karena

penyakit fisik yang dialami lansia seringkali mengacaukan deteksi

terhadap depresi. Keadaan atau perasaan sedih yang dialami lansia

seringkali ditutupi dengan berbagai aktifitas dan bahkan terjadinya

penurunan berat badan juga tidak dijadikan sebagai deteksi


22

terhadap gejala awal depresi.

Gejala-gejala depresi yang lain juga sering kali ada yang

ditutup-tutupi seperti kecemasan, obsesionalitas, histeria dan

hipokondria. Seringkali terjadi salah persepsi dimana ditemukan

pasien yang dimasukkan ke bangsal penyakit dalam atau bedah

karena hipokondria (misalnya karena diperlukan penelitian untuk

konstipasi dan lain sebagainya). Serta masalah sosial yang juga

diderita seringkali membua gambaran depresi menjadi lebih rumit.

Timbulnya berbagai gejala tersebut maka dalam

pemeriksaan lansia yang terindikasi depresi maka diperlukan tes

yang digunakan untuk mendeteksi seperti skala depresi geriatrik

(GDS) atau skala penilaian (depresi) Hamilton (Hamilton Rating

Scale / HRS).

d. Perjalanan dan prognosis

Faktor-faktor psikososial, kemunduran kognitif dan

komorbiditas medis menjadi faktor yang menyebabkan

kekambuhan depresi geriatri (Reynold, etal, 2011).

Pasien dengan riwayat berulang memiliki kemungkinan

yang tinggi terhadap kejadian relaps atau rekurens. Faktor lainnya

seperti onset sakit lebih tua, riwayat distimia, sakit medis yang

sedang terjadi dan mungkin tingginya kehebatan dan kronisitas

depresi (Kaplan & Sadock, 2010).


23

e. Penatalaksanaan depresi pada lansia

Kombinasi terapi farmakologis dan psikologis dilakukan

untuk penatalaksanaan yang adekuat serta dilakukan pendekatan

multidisiplin yang menyeluruh. Aspek-aspek individual seperti

aspek individual harapan-harapan pasien, martabat (dignity) dan

otonomi/kemandirian pasien. Problem fisik yang ada bersama-sama

dengan penyakit mental harus diobati.

1) Terapi fisik

a) Obat (Farmakologis)

Efektifitas penggunaan obat antidepresan secara

umum adalah sama. Pengobatan dimulai dengan dosis

separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan

sampai ada perbaikan gejala. Beberapa kelompok anti

depresan adalah Trisiklik, SSRI's (Selective Serotonin Re-

uptake Inhibitors), MAOI's (Monoamine Oxidase

Inhibitors) dan Lithium.

b) Terapi Elektrokonvulsif (ECT)

2) Terapi Psikologik

a) Psikoterapi :

Terapi dilakukan secara bersama-sama antara

psikoterapi kelompok dan individu dengan pemberian

depresan akan yang disertakan menjadi lebih efektif. Pasien

akan dapat merasa nyaman, mampu persoalannya sendiri


24

dan lebih percaya diri jika terjalin hubungan yang cocok

dan harmonis antara penderita dengan pemberi terapis.

3) Terapi Kognitif :

Pasien harus diarahkan untuk dapat

mengembangkan pola pikir yang positif atau netral dan

menghindarkan dari pola pikir yang negatis seperti yang

terkait dengan persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak

berguna, tak mapu, dan sebagainya.

4) Terapi Keluarga :

Dukungan keluarga terhadap penderita depresi sangat

pentng, karena setiap ada permasalahan yang dihadapi keluarga

akan berperan dalam proses kejadian depresi. Lansia memiliki

kencederungan perubahan peran dalam keluarga yaitu lebih

menjadi dependen karena bertambahnya usia dan kemunduran

berbagai fungsi. Terapi keluarga bertujuan untuk meredakan

perasaan frustasi dan putus asa pada lansia yang memiliki

gejala depresi. Sehingga untuk mempercepat proses

kesembuhan pasien sangat penting untuk memperbaiki sikap

dan struktur dalam keluarga.

5) Pengobatan Berkelanjutan dan Perawatan

Penyusul remisi dari depresi, pengobatan anti depresan

harus berkelanjutaan sedikitnya 6 bulan secara terus menerus

(fase berkelanjutan). Pengobatan ini dengan cara ini penting


25

untuk menghindari terjadinya kekambuhan (Serby & Yu,

2011). Namun demikian resiko terjadinya kekambuhan atau

episode baru depresi masih dapat dimungkinkan setelah

menjalani pengonatan selama 6 bulan.

Terjadinya kekambuhan bisa terjadi dengan riwayat

kejadian mencapai 3 kali atau lebih episode.

Riwayat tiga atau lebih episode adalah prediksi kuat

untuk kekambuhan. Adanya kecemasan yang dirasakan oleh

lansia menjadi episode awal. Proses pengobatan dapat

berlangsung selama 1-2 bagi pasien dengan resiko tinggi

mengalami kekambuhan. Antidepresan yang dapat di pakai

golongan fluoexin dan paroxetim (O’Connor, et al, 2011).

Home Health Care (rawat rumah) bagi lansia

merupakan salah satu unsur pelayanan kesehatan secara luas

yang diperuntukkan bagi kesehatan perorangan atau kesehatan

keluarga di tempat tinggal mereka untuk tujuan promotif,

rehabilitatif, kuratif, asesmen dan mempertahankan

kemampuan individu untuk mandiri secara optimal selama

mungkin. Rawat Rumah Geriatri adalah salah satu unsur

pelayanan kesehatan bagi usia lanjut (60 tahun keatas) baik

perorangan atau keluarga ditempat tinggal masing-masing

untuk mempertahankan kemampuan individu agar secara

optimal dapat mandiri penuh (Probosuseno & Triwibowo,


26

2010). Lansia dengan kondisi tubuh yang semakin renta dan

sakit kronik maka perlu adanya rumah rawat yang menjadi

bagian penting dan tidak terpisahkan untuk membantu

kesejahteraan lansia.

Dokter atau paramedis lainnya yang melakukan

kunjungan rumah ke pasien sangat membantu dan bermanfaat

karena dapat membantu memahami keadaan penderita yang

dirawat secara menyeluruh, selain itu penderita akan dapat

memperoleh kesembuhan dengan cepat karena merasakan ada

kepuasan mendapatkan perhatian (Probosuseno & Triwibowo,

2010).

4. Keluarga

a. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sjumlah individu yang hidup bersama dengan

memiliki aturan, emosional yang berbeda-beda sesuai peran dari

keluarga tersebut (Friedman, and Marilyn, 2010).

1) Keluarga yaitu perkembangan individu yang mempunyai

anggota yang berpengaruh besar terhadap perkembangan

individu.

2) Keluarga adalah anggota yang memiliki kebutuhan untuk

menjalankan tuntunan di masyarakat.


27

3) Keluarga sebagai stabilisasi fungsi dalam memenuhi kebutuhan

anggota keluarga, antara lain kebutuhan kasih sayang, sosial

ekonomi dan kebutuhan seksual.

4) Identitas atau harga diri seseorang dapat terbentuk karena

dipengaruhi oleh adanya keluarga (Andarmoyo, S. 2012).

b. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman, and Marilyn (2010) menyatakan keluarga

memiliki fungsi sebagai berikut:

1) Fungsi efektif :keperibadian seseorang yang meliputi

kebutuhan psikososial, saling mengasuh, memberikan kasih

sayang, saling mendukung dan saling membantu.

2) Fungsi penepatan sosial: yaitu perubahan dalam perkembangan

di dalam anggota keluarga untuk memulai belajar untuk

berperan dengan lingkungan sekitar.

3) Fungsi reproduktif: untuk mengembangkan sumber daya

manusia.

4) Fungsi ekonomis: kebutuhan di dalam anggota keluarga yang

harus terpenuhi seperti sandang, pangan, dan papan.

5) Fungsi perawatan kesehatan : untuk melakukan pengobatan

atau perawatan kepada masalah kesehatan yang dialami oleh

anggota keluarga.

c. Dukungan Keluarga

1) Pengertian Dukungan Keluarga


28

Dukungan keluarga yaitu anggota keluarga yang

mempunyai sikap, tindakan dan penerimaan yang berupa

dukungan dalam melakukan bantuan atau pertolongan

(Friedman, and Marilyn, 2010).

2) Jenis dukungan Sosial keluarga

Jenis-jenis dukungan keluarga menurut Caplan (1964)

dalam Friedman, and Marilyn (2010) yaitu:

a) Dukungan Informasional

Jenis dukungan dari keluarga yang berupa informasi melalui

jaringan komunikasi yang memiliki solusi untuk

memberikan nasehat, pengarahan, saran, atau umpan balik

terhadap masalah depresi aktivitas spiritual yang dilakukan

oleh seseorang anggota keluarga yang dapat dipertanggung

jawabkan.

b) Dukungan Penilaian

Dukungan yang memiliki unsur penialian positif terhadap

aktivitas spiritual pada seseorang.Seseorang yang memiliki

keluarga untuk memechkan masalah tentang spiritual dan

mendukung hal yang positif kepada orang lain. Dalam ide-

ide atau perasaan seseorang yang memiliki berbandingan

unsur yang positif dengan orang lain, misalnya orang yang

belum bisa melakukan aktivitas spiritual secara mandiri.

Koping seseorang dapat meningkat karena adanya

Dukungan keluarga yang memiliki strategi alternatif berupa


29

pengalaman yang berfokus pada aspek positif terhadap

aktivitas spiritual.

c) Dukungan Instrumental

Dukungan yang berupa bantuan finansial dan material yaitu

bantuan yang secara nyata dalam penyediaan pelayanan

dukungan jasmani untuk membantu memecahkan

permasalahan pada aktivitas spiritual yang dilakukan lansia,

bantuan yang secara langsung seperti saat mengantarkan

atau menyediakan transportasi saat ada aktivitas

spiritual,memberikan pesan bila ada aktivitas spiritual

ataupun ikut merawat bila mengalami sakit atau depresi.

d) Dukungan Emosional

Dukungan emosional yang memberikan perasaan seseorang

merasa nyaman, merasa dicintai dan menyediakan tempat

untuk beristirahat dan memberikan semangat dalam

menjalankan aktivitas spiritual saat mengalami masalah.

Bantuan ini berupa semangat, empati, rasa percaya

danperhatiankepada seseorang sehingga yang menerima

merasa berharga.

d. Faktor-Faktor yang Meempengaruhi Dukungan Keluarga, yaitu:

Dukungan keluarga akan dipengaruhi oleh beberapa faktor

sebagai berikut: (Purnawan, 2008):


30

1) Faktor Internal

a) Tahap perkembangan

Dalam tahap ini dukungan dapat di tentukan dari faktor usia

yang dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan

seseorang, dengan setiap renang usia banyi sampai lansia

dengan respon pemahaman yang berbeda-beda terhadap

perubahan kesehatan.

b) Pendidikan atau tingkat pengetahuan

Keyainan yang telah terbentuk terhadap variabel intelektual

dari dukungan keluarga yaitu berupa pengetahuan, latar

belakang, pendidikan dan pengalaman pada masa lalu.

Dalam kemampuan kognitif dengan membentuk cara

berfikir untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan

dengan kesehatan atau penyakit, seseorang perlu

kematangan dalam pengetahuan yang dimilikinya.

c) Faktor emosi

Faktor emosi dapat dipengaruhi oleh keyakinan terhadap

dukungan dan bagaimana cara melakukanya. Seseorang

yang mengalami perubahan respon yang tidak baik terhadap

berbagai tanda penyakit, dengan cara menghawatirkan

bahwa penyakit tersebut akan mengancam terhadap

kehidupanya. Sedangkan Seseorang yang koping

emosionalnya baik mereka akan menyangkal adanya

ancaman dari gejala penyakit akan mengancam terhadap


31

kehidupannya dan eseorang tersebut tidak akan menjalani

pengalaman yang dialaminya.

d) Spiritual

Dalam aspek spiritual dengan apa yang telah dialami dalam

kehidupan seseorang yang mencakup nilai dan keyakinan

untuk melaksanakan hubungan dengan keluarga, teman, dan

cara bagaimanacara untuk mencari harapan dalam arti

sebuah hidup.

2) Faktor Eksternal

a) Praktik di keluarga

Cara dimanaanggota keluarga memberi dukungan yang

dapat mempengaruhi penderita dalam melaksanakan

kesehatanya.

b) Faktor sosial ekonomi

Faktor sosial dan psikososial yang dapat mempengaruhi

meningkatnya resiko terjadinya penyakit dan mendefinisi

serta bereaksi terhadap penyakitnya. Dalam Variabel

psikososial yaitu dengan adanya : stabilitas perkawinan,

gaya hidup dan lingkungan kerja, Seseorang akan mencari

persetujuan dalam mencari dukungan dari kelompok sosial

yang akan mempengaruhi terhadap keyakinan, kesehatan

dan cara pelaksanaanya. Semakin tinggi tingkat ekonomi

seseorang, mereka akan lebih cepat dan tanggap terhadap

gejala penyakit yang dialaminya. Sehingga seseorang akan


32

segera mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan

pada kesehatanya.

c) Latar belakang budaya

Latar belakang budaya seseorang memiliki keyakinan

keyakinan, nilai dan kebiasaan dalam memberikan

dukungan pelaksanaan kesehatan mandiri.

e. Sumber Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga yang mengarah pada dukungan sosial

keluarga yang di anggap sebagai bentuk yang dapat diakses atau

diadakan untuk keluarga, tetapi anggota keluarga memandang

bahwa orang yang memandang bersifat mendukung selalu siap

memberikan peartolongan dan bantuan jika diperlukan. Dukungan

keluarga berupa dukungan keluarga internal, seperti dukungan dari

saudara kandung atau dukungan keluarga eksternal (Friedman, and

Marilyn, 2010).

f. Manfaaat Dukungan Keluarga

Sepanjang kehidupan setiap orang memerlukan bentuk

dukungan keluarga dan terus berproses selama rentang

kehidupannya. Fungsi dari dukungan keluarga akan membentuk

pengalaman yang memberikan kepandaian dan hal ini terus

berlangsung selama siklus kehidupan, sehingga membantu untuk

membentuk adaptasi dan membantuk menciptakan kesehatannya

(Friedman, and Marilyn, 2010).


33

Dukungan keluarga memberikan dampak positif berupa

meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan lansia (Setiadi, 2008).

Dukungan keluarga juga dapat meningkatkan semangat dan

kepercayaan diri pada lansia (Tamher dan Noorkhasiani, 2009).

B. Mekanisme hubungan antara dukungan keluarga dengan depresi pada

lansia

Keluarga merupakan suatu kesatuan yang utuh yang mana di dalamnya

ada hubungan saling ketergantungan, saling membutuhkan, dan adanya kerja

sama yang baik. Oleh sebab itu dukungan keluarga mempunyai peranan yang

penting dalam segala hal. Persoalan-persoalan hidup yang mendera lanjut usia

seperti kematian pasangan hidup, persoalan keuangan yang berat, pindah dan

dukungan sosiaal yang buruk dapat memicu terjadinya depresi pada lansia

(Boedhi R. Darmodjo, 2011). Depresi terjadi lebih banyak pada umur yang lebih

tua dan dukungan keluarga yang rendah. Lansia yang berada di lingkungan

keluarga atau tinggal bersama keluarga serta mendapat dukungan dari keluarga

akan membuat lansia lebih sejahtera (Marchira, dkk, 2010).

Studi-studi tentang dukungan keluarga telah mengkonseptualisasi

dukungan sosial sebagaai koping keluarga, baik dukungan-dukungan yang

bersifat eksternal maupun internal terbukti sangat bermanfaat (Friedman, and

Marilyn, 2010). Efek dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan

bersamaan. Secara lebih spesifik, keberadaan dukungan sosial yang adekuat

terbukti berhubungan dengan menurunnya mortilitas, lebih mudah sembuh dari

sakit, fungsi kognitif, fisik, kesehatan emosi. Disamping itu, pengaruh positif
34

dari dukungan sosial keluarga adalah pada penyesuaian terhadap kejadian dalam

kehidupan yang penuh dengan stress.

Dukungan keluarga sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang

terhadap tinghadap tingkat depresi dan dapat pula mengurangi tekana-tekanan

yang ada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan,

motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya

merasa lebih senang, rasa aman, rasa puas, rasa nyaman dan membuat orang

yang bersangkutan merasa mendapat dukungan emosional yang akan

mempengaruhi kesejahteraan jiwa manusia. Dukungan keluarga berkaitan

dengan pembentukan keseimbangan mental dan kepuasan psikologis. Dari ketiga

hal ini di yakinkan dapat mengurangi rasa tertekan / depresi lansia.

Dengan adanya dukungan keluarga yang baik dapat meminimalkan rasa

cemas pada setiap lansia, karena lansia dapat mengelola rasa cemas tersebut

menjadi suatu membangkitkan rasa percaya pada diri sendiri dan berpikir

(Savitri, 2010).
35

C. Kerangka Teori

Lanjut usia:
1. middle age (45-59 tahun)
2. elderly (60-74 tahun)
3. old (75-90 tahun)
4. very old (diatas 90 tahun)
Perubahan Pada Lansia
1. Fisik
2. Mental
3. Psikososial
4. Spiritual

Faktor- faktor Depresi


- Biologi
- Genetik Depresi pada
Lansia
- Psikososial

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Dukungan Keluarga: Dukungan Keluarga
1. Dukungan 1) Faktor Internal
Informasional a) Tahap perkembangan
2. Dukungan b) Pendidikan atau tingkat
Penilaian pengetahuan
3. Dukungan c) Faktor emosi
Instrumental d) Spiritual
4. Dukungan 2) Faktor Eksternal
emosional a) Praktik di keluarga
b) Faktor sosial ekonomi
c) Latar belakang budaya

Gambar 2.1. Kerangka Teori


Sumber : Hamid (2009),Young (2007), Nugroho (2009), White (2004),
Maslow (2006)
36

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Jadi

hipotesis dalam suatu penelitian berarti jawaban sementara peneliti, patokan

atau dugaan sementara yang kebenaranya akan dibuktikan dalam penelitian

tersebut (Notoatmodjo, 2010).

Rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ho : Tidak ada hubungan dukungan keluarga dengan kejadian depresi

lansia di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Semarang.

Ha : Ada hubungan dukungan keluarga dengan aktivitas spiritual lansia di

wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Semarang.


37

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Keluarga Depresi lansia

Gambar 3.1. 2Kerangka Konsep

B. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek yang ditekiti, yang dijadikan perhatian dalam

suatu penelitian. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel

bebas (independent variable) yaitu dukungan keluarga dan variabel terikat

(dependent variable) yaitu depresi lansia (Arikunto, 2010).

1. Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah

Dukungan keluarga.

2. Variabel terikat (Dependent variable) dalam penelitian ini adalah

Kejadian depresi pada lansia.

C. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian korelasional, untuk

menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel. Sedangkan

pendekatan yang digunakan adalah cross sectional, dimana pengukuran


38

antara variabel bebas dan variabel terikat dilakukan dalam satu waktu

tertentu (Nursalam, 2012).

D. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek dalam suatu penelitian yang

memiliki karakteristik yang sama (Chandra, 2008). Populasi dalam

penelitian ini adalah semua lansia yang tinggal di wilayah kerja

Puskesmas Bangetayu Semarang yaitu sebanyak 637 lansia.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti

(Sastroasmoro, 2011). Besarnya sampel dihitung menggunakan

rumus:

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁 (𝑑)2

637
𝑛=
1 + 637 (0,1)2

n = 86,43 dibulatkan menjadi 86 responden

Keterangan :

n = jumlah sampel

N = jumlah populasi

d = tingkat signifikan 0,1

Total sampel dalam penelitian ini adalah 86 lansia. Dalam

penelitian ini digunakan cara pengambilan sampel dengan simple

random sampling, dimana seluruh populasi akan dipilih secara acak


39

sederhana (Nursalam, 2012). Dalam menentukan sampel penelitian

tidak boleh menyimpang dari populasi. Maka dari itu sebelum

dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi

(Notoatmodjo, 2010).

a. Kriteria inklusi

Kriteria insklusi adalah karakteristik umum dari subjek

penelitian yang layak untuk dilakukan penilaian. Kriteria inklusi

dalam penelitian ini meliputi:

1) Lansia yang berjenis kelamin Laki-laki dan perempuan berusia

60 tahun ke atas.

2) Lansia dapat menjalin komunikasi dengan baik dan kooperatif.

3) Lansia yang keluarganya dapat membaca dan menulis dengan

baik.

4) Lansia yang tinggal bersama keluarga.

b. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi dalam suatu penelitian adalah subjek

penelitian yang tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian

sehingga tidak dapat mewakili sampel. Kriteria eksklusi dalam

penelitian ini meliputi:

1) Lansia yang sedang mengalami .

2) Lansia yang mengalami penurunan kemampuan pola berfikir

3) Lansia yang sedang berduka karena adanya anggota keluarga

meninggal
40

E. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah Kerja Puskesmas Bangtayu

Kota Semarang.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan September hingga bulan

januari 2019 .

F. Definisi Operasional

Tabel 3.1
Definisi Operasional

Definisi
No Variabel Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional
1 Dukungan Dukungan yang Pengukuran Hasil Ukur: Ordinal
Keluarga diberikan oleh dilakukan dengan Tinggi: Jika 91-120
keluarga kepada menggunakan
lansia yang kuesioner yang berisi Sedang jika 61-90
terdiri dari 30 pernyataan.
dukungan SS = Sangat Setuju Rendah: Jika 30-60
emosional, S= Setuju
informasional, TS= Tidak Setuju
instrumental dan STS= Sangat Tidak
penilaian Setuju.
Pratiwi (2007) dan
Hawari (2009).
41

2 Depresi Gangguan alam Kuesioner Geriatric Hasil pengukuran Ordinal


perasaan yang Depression Scale 15 item pernyataan
dialami oleh (GDS) dengan 15 yaitu :
lansia yang item pertanyaan 1. Nilai 15-20 :
diikuti berbagai dengan jawaban Ringan
gejala seperti 1. Nilai 1 : Tidak 2. Nilai 21-25:
gangguan tidur, 2. Nilai 2 : Ya sedang
nafsu makan, 3. Nilai 26-30:
rasa putus asa Berat
dan sebagainya

G. Instrumen atau Alat Pengumpul Data

1. Instrument data

Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan

kuesioner, lembar checklist. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari

sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi

dari responden

Kuesioner ini terdiri dari dua bagian, yaitu:

a. Kuesioner A

Kuesioner tentang data demografi warga, digunakan untuk

mengetahui data seperti nama, umur, jenis kelamin, dari

responden.

b. Kuesioner B

Kuesioner dukungan keluarga yang berisi tentang dukungan

yang diberikan oleh keluarga untuk mendorong keaktifan lansia

dalam melakukan aktivitas spiritual. Pernyataan-pernyataan

dalam kuesioner B ini semua bersifat favorable dan unfavorable.


42

Pernyataan-pernyataan yang dibuat untuk memperoleh data

tentang dukungan atasan tersebut dalam bentuk skala Likert

dengan memberi bobot pada setiap jawaban. Instrumen dukungan

atasan ini menggunakan skala 1-4, dengan kategori:

a. Sangat Setuju (SS) yang berarti sangat sesuai/sangat

memadai, bobot nilai 4.

b. Setuju (S) yang berarti sesuai/ memadai, bobot nilai 3.

c. Tidak Setuju (TS) yang berarti tidak sesuai/ tidak memadai,

bobot nilai 2.

d. Sangat Tidak Setuju (STS) yang berarti sangat tidak sesuai/

sangat tidak memadai, bobot nilai 1.

Sedangkan untuk pernyataan unfavorable diberi skor 1

untuk jawaban sangat setuju (SS), skor 2 untuk jawaban setuju

(S), skor 3 untuk jawaban tidak setuju (TS), skor 4 untuk jawaban

sangat tidak setuju (STS).

Pernyataan Nomor
1,3,5,6,7,8,9,12,14,15,17,18,19,
Favorable
21,22,23,25,26,27,28,29
Unfavorable 2,4,10,11,13,16, 20, 24, 30

c. Kuesioner C

Kuesioner B adalah kuesioner Geriatric Depression Scale

(GDS). GDS terdiri dari 15 item pertanyaan yang bersifat positif

(favorable). 15 item pernyataan terdiri dari nomor 1 sampai 15

dengan pilihan jawaban dengan nilai 1 : tidak dan nilai 2 : ya


43

Nilai yang diperoleh dari responden dengan 15 item

pertanyaan ditotal sehingga dapat dikategorikan menjadi tingkat

spiritual yaitu:

1. Nilai 15-20 : tingkat spiritualitas rendah

2. Nilai 21-25: tingkat spiritualitas sedang

3. Nilai 26-30: tingkat spiritualitas berat

2. Uji Kuesioner

Pada suatu penelitian untuk mengumpulkan data dan fakta

dibutuhkan instrument yang valid dan realiabel. Instrument yang valid

dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian

yang valid dan reliabel.

a. Uji Validitas

Validitas dapat diartikan bahwa instrumen sebagai alat ukur

itu benar – benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2010).

Selanjutnya dilakukan analisa dengan bantuan metode korelasi

antara skor variabel dengan skor total. Variabel dikatakan valid

apabila hasil skor variabel signifikan dengan hasil skor total

(Saryono, 2011). Apabila nilai r hitung lebih besar dari nilai r

table, maka pada item pernyataan tersebut valid dan dapat

digunakan.Namun apabila nilai r hitung lebih kecil dibandingkan

nilai r table maka item pertanyaan tersebut tidak valid dan tidak

dapat digunakan.
44

Pada penelitian ini, instrument GDS telah dilakukan uji

validitasnya. Kuesioner GDS Kuesioner GDS merupakan

kuesioner yang sudah baku dengan nilai reliabilitas α=0,93-0,91

(Aaron & Brown, 2012)

Kuesioner tentang dukungan keluarga akan dilakukan uji

validitas terhadap 30 responden di luar sampel penelitian

(Notoatmojo, 2010). Uji validitas instrumen dilakukan di

Kecamatan Genuk Semarang karena memiliki karakteristik yang

sama dengan tempat penelitian. Uji validitas dilakukan untuk

ketepatan atau kecermatan pengukuran, dikatakan valid apabila

alat pengukur tersebut tepat untuk mengukur apa yang peneliti

inginkan. Keputusan ujinya apabila r hitung lebih besar atau sama

dari r table dengan taraf signifikansi 5% (0,5) artinya variable

tersebut valid. Bila r hitung lebih kecil dari r tabel dengan taraf

signifikan 5% (0,5) artinya variable tersebut tidak valid (Riyanto,

2011).

b. Uji Reliabilitas Instrument

Reabilitas artinya instrument sebagai alat ukur dapat

memperoleh hasil ukur yang consistant atau tetap asas

(Notoatmodjo, 2010). Jika nilai alpha > 0,6 artinya reabilitas

mencukupi (sufficient reability) sementara jika alpha > 0,80 ini

mensugestikan seluruh item reliable. Namun jika alpha rendah,

kemungkinan satu atau beberapa item tidak reliable. Bila nilai


45

Cronbach’s Alpha lebih ≥ konstanta (0,6), maka pernyataan

tersebut reliabel. Sedangkan bila nilai Cronbach’s Alpha <

konstanta (0,6), maka pernyataan tersebut tidak reliabel (Riyanto,

2011).

H. Metode Pengumpulan Data

Setelah peneliti mendapatkan ijin dari Kepala Puskesmas Bangetayu

Semarang, peneliti melanjutkan dengan menjelaskan tujuan dan manfaat

dari penelitian yang akan dilakukan. Pengumpulan data dilakukan oleh

peneliti dengan menggunakan kuesioner yang telah digunakan sebelumnya

dan telah diuji validitas dan reabilitasnya dan lembar checklist.

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan kunjungan ke rumah

responden yaitu di wilayah Puskesmas Bangetayu Semarang. Responden

yang memenuhi syarat sesuai kriteria inklusi dan bersedia menjadi

responden dalam penelitian diberi diberikan penjelasan cara mengisi

kuesioner ini. Lalu kuesioner diisi dan diserahkan kembali kepada peneliti.

Dalam metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan

kepada responden, peneliti dibantu oleh tiga asisten yaitu teman dari

Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula.


46

I. Analisis Data

1. Teknik pengolahan data

Teknik pengolahan data menurut Notoatmodjo (2010) adalah

sebagai berikut:

a. Editing ( Pemeriksaan )

Dalam tahap ini peneliti melakukan pemeriksaan data untuk melihat

kelengkapan dan kebenaran dalam pengisian kuesioner. Proses ini

dilakukan langsung saat pengambilan data supaya apabila ada

kesalahan dapat segera diperbaiki.

b. Coding ( Memberi kode )

Pemberian kode pada data dilakukan peneliti untuk mempermudah

pemasukan data ke SPSS dalam proses analisa data.

c. Entry ( Memasukkan data )

Peneliti memasukkan data ke dalam table untuk menghitung

frekuensi serta menganalisa data dengan bantuan SPSS versi 19.

d. Cleaning ( Pembersihan data )

Proses cleaning dilakukan untuk melihat kembali apakah ada

kesalahan atau tidak pada data yang dimasukkan kedalam SPSS versi

23.
47

2. Analisa Data

Analisa data dapat dilakukan dengan program computer SPSS

sesuai dengan uji statistic yang cocok dengan variable peneliti.

Terdapat dua macam yaitu:

a. Analisis univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mendeskripsikan

masing-masing dari variable yang diteliti (Notoadmojo, 2010).

Data univariat dalam penelitian ini terdiri dari variable bebas

(Dukungan keluarga) dan variable terikat (deprsi pada lansia).

b. Analisis bivariat

Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang

diduga berhubungan atau berkorelasi. Pada penelitian ini untuk

mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan depresi

pada lansia di Wilayah Puskesmas Bangetayu Semarang. Untuk

mengetahui hubungan kedua variabel, peneliti menggunakan Uji

Korelasi Rank Kendal Thau. Hasil uji korelasi didasarkan pada

nilai kekuatan korelasi, serta arah korelasinya.

Jika intepretasi kekuatan korelasi (r) sangat lemah maka

didapatkan nilai 0,0 sampai dengan < 0,2. Jika interpretasi

kekuatan korelasi (r) lemah maka didapatkan nilai 0,2 sampai

dengan > 0,4. Jika kekuatan korelasi (r) sedang maka didapatkan

nilai 0,4 sampai dengan < 0,6. Jika kekuatan korelasi (r) kuat

maka didapatkan nilai 0,6 sampai dengan <0,8. Jika kekuatan


48

korelasi (r) sangat kuat maka didapatkan nilai 0,8 sampai

dengan1.

Ketentuan yang berlaku dalam pengambilan keputusan Uji

korelasi Kendal Thau yaitu :

1) Apabila nilai p ≤ 0,05), maka terdapat korelasi yang

bermakna antara dua variabel yang diuji.

2) Apabila nilai p > 0,05), maka tidak terdapat korelasi yang

bermakna antara dua variabel yang diuji.

Apabila arah korelasi searah, yaitu semakin besar nilai satu

variabel semakin besar pula nilai variabel lainnya maka

didapatkan hasil korelasi yang positif, namun jika arah korelasi

berlawanan, yaitu semakin besar nilai satu variable sementara

variabel yang lain semakin kecil berari arah hubungan kedua

variabel adalah negatif.

J. Etika Penelitian

Menurut Hidayat (2009) etika penelitian dalam keperawatan dibagi

menjadi:

1. Informed consent (Persetujuan)

Persetujuan yang dimaksud adalah persetujuan untuk menjadi

responden dalam penelitian.Lembar persetujuan diberikan sebelum

penelitian dilakukan supaya responden mengerti maksud dan tujuan

penelitian.
49

2. Anonymity (Tanpa nama)

Etika dalam penelitian keperawatan tidak menuliskan nama pada

lembar pengumpulan data, melainkan diganti dengan kode.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Dalam penelitian ada etika untuk menjamin kerahasiaan dari hasil

penelitian.Dari semua informasi yang terkumpul harus terjamin

kerahasiaannya, dan hanya beberapa data tertentu yang dilaporkan pada

hasil riset.
50

KUESIONER B

DUKUNGAN KELUARGA

PETUNJUK PENGISIAN:
Berikan tanda checlist (√) pada salah satu pilihan jawaban.
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
Setiap pernyataan hanya boleh ada 1 pilihan jawaban. Menjawab pernyataan ini
tidak ada suatu anggapan baik, cukup atau kurang. Semua berdasarkan kenyataan
yang ada dalah diri anda. Maka kejujuran sangat diperlukan untuk menjawab
sesuai dengan kesadaran diri anda. Identitas dan jawaban anda akan dijaga
kerahasiaanya.

No. Pernyataan SS S TS STS


A. Dukungan Emosional
1. keluarga menjadi salah satu tempat terbaik
dalam memperdalam keagamaan diusia saya
yang sudah renta ini
2. Keluarga saya kurang memperhatikan saya di
usia renta ini
3. Keluarga memberikan perhatian dengan
menciptakan suasana lingkungan rumah yang
nyaman bagi saya untuk melakukan aktivitas
kerohanian
4. Keluarga jarang memberikan saya kepercayaan
penuh dalam melakukan aktivitas keagamaan
saya sehari-hari
5. Keluarga mendengarkan curahan hati saya
ketika saya sedih
6. Saya mencurahkan perasaan saat berkumpul
dengan yang seusia saya
7. Keluarga memberikan kasih sayang kepada
51

saya dalam setiap aktivitas keagamaan yang


saya lakukan
B. Dukungan Informasional
8. Keluarga menyarankan saya untuk datang
berkunjung ke aktivitas keagamaan
9. Keluarga menyarankan saya untuk datang
mengikuti kegiatan keagamaan yang
diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal
saya
10. Penyakit yang saya derita itu karena saya sudah
tua
11. Keluarga mengingatkan bahwa beribadah dapat
menghindarkan diri dari serangan penyakit
12. Keluarga mengantar saya untuk kontrol
kesehatan
13. Keluarga sering mengabaikan kesehatan saya di
hari tua
14. Keluarga memberikan solusi permasalahan
aktivitas sehari-hari
15. Saya menyelesaikan masalah saya sendiri tanpa
bantuan keluarga
C. Dukungan Instrumental
16. Keluarga memberi fasilitas yang saya perlukan
untuk melakukan aktivitas keagamaan
17. Keluarga menyediakan kebutuhan alat
beribadah untuk saya
18. Keluarga kadang meluangkan waktu untuk
menemani saya agar tetap aktif dalam kegiatan
keagamaan
19. Saya tidak mau terlibat terlalu sering dalam
aktivitas keagamaan
20. Saya terkendala dalam masalah transportasi
dalam mengikuti aktivitas keagamaan
21. Keluarga acuh saja saat saya akan pergi
mengikuti acara keagamaan
22. Keluarga menunjukan tempat di mana ada
acara keagamaan
23. Keluarga tidak membantu saya ketika saya
mengalami kendala dalam mengikuti aktivitas
52

sehari-hari
Dukungan Penilaian
24. Saya harus dihargai karena saya merasa lebih
tua di keluarga saya
25. Keluarga membimbing saya agar tetap menjaga
kondisi kesehatan meskipun saya sudah tua
26. Keluarga menunjukkan bahwa keluarga
memperdulikan saya dalam hal kerohanian
27. Keluarga menghormati setiap keputusan yang
diungkapkan oleh saya
28. Keluarga menyarankan saya agar tetap
menjalin hubungan sosial dengan orang
lain/rekan sebaya
29. Saya merasa berharga saat berada dengan
rekan sebaya
30. Keluarga jarang memotivasi saya untuk tetap
menjalankan kegiatan/ keagamaan.
53

Variabel Indikator Pertanyaan


keluarga menjadi salah satu tempat terbaik
dalam memperdalam keagamaan diusia saya
yang sudah renta ini (+)
Keluarga saya kurang memperhatikan saya di
usia renta ini (-)
Keluarga memberikan perhatian dengan
menciptakan suasana lingkungan rumah yang
nyaman bagi saya untuk melakukan aktivitas
kerohanian (+)
Dukungan
Keluarga jarang memberikan saya kepercayaan
Emosional
penuh dalam melakukan aktivitas keagamaan
saya sehari-hari (-)
Keluarga mendengarkan curahan hati saya
ketika saya sedih (+)
Saya mencurahkan perasaan saat berkumpul
dengan yang seusia saya (+)
Keluarga memberikan kasih sayang kepada saya
dalam setiap aktivitas keagamaan yang saya
lakukan (+)
Keluarga menyarankan saya untuk datang
berkunjung ke aktivitas keagamaan (+)
dukungan Keluarga menyarankan saya untuk datang
keluarga mengikuti kegiatan keagamaan yang
diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal
saya (+)
Penyakit yang saya derita itu karena saya sudah
tua (-)
Keluarga mengingatkan bahwa beribadah dapat
Dukungan menghindarkan diri dari serangan penyakit (-)
Informasional Keluarga mengantar saya untuk kontrol
kesehatan (+)
Keluarga sering mengabaikan kesehatan saya di
hari tua (-)
Keluarga mengingatkan bahwa beribadah dapat
menghindarkan diri dari serangan penyakit (+)
Keluarga memberikan solusi permasalahan
aktivitas sehari-hari (+)
Saya menyelesaikan masalah saya sendiri tanpa
bantuan keluarga (-)
Keluarga memberi fasilitas yang saya perlukan
untuk melakukan aktivitas keagamaan (+)
Dukungan
Keluarga menyediakan kebutuhan alat beribadah
Instrumental
untuk saya (+)
Keluarga kadang meluangkan waktu untuk
54

menemani saya agar tetap aktif dalam kegiatan


keagamaan (+)
Saya terkendala dalam masalah transportasi
dalam mengikuti aktivitas keagamaan (-)
Keluarga membiarkan begitu saja saat saya akan
pergi mengikuti acara keagamaan(+)
Keluarga acuh saja saat saya akan pergi
mengikuti acara keagamaan (+)
Keluarga menunjukan tempat di mana ada acara
keagamaan (+)
Keluarga tidak membantu saya ketika saya
mengalami kendala dalam mengikuti aktivitas
sehari-hari (-)
Saya harus dihargai karena saya merasa lebih
tua di keluarga saya (-)
Keluarga membimbing saya agar tetap menjaga
kondisi kesehatan meskipun saya sudah tua(+)
Keluarga menunjukkan bahwa keluarga
memperdulikan saya dalam hal kerohanian (+)
Keluarga menghormati setiap keputusan yang
Dukungan
diungkapkan oleh saya (+)
Penilaian
Keluarga menyarankan saya agar tetap menjalin
hubungan sosial dengan orang lain/rekan sebaya
(+)
Saya merasa berharga saat berada dengan rekan
sebaya (+)
Keluarga jarang memotivasi saya untuk tetap
menjalankan kegiatan/ keagamaan. (-)
55

GERIATRIC DEPRESSION SCALE (GDS) SHORT FORM


Indonesian Translation
Translated and Back Translated by: Karel Karsten Himawan, M.Psi.

Pilihlah jawaban yang paling tepat sesuai dengan apa yang telah Anda rasakan selama 1
(satu) minggu terakhir:
1. Pada dasarnya apakah Anda merasa puas dengan hidup Anda? YA TIDAK
2. Apakah Anda mengurangi banyak kegiatan dan minat Anda? YA TIDAK
3. Apakah Anda merasa hidup Anda hampa? YA TIDAK
4. Apakah Anda sering merasa bosan? YA TIDAK
5. Apakah biasanya Anda memiliki semangat yang bagus? YA TIDAK
6. Apakah Anda merasa takut bahwa sesuatu yang buruk akan YA TIDAK
terjadi pada Anda?
7. Apakah biasanya Anda merasa bahagia YA TIDAK
8. Apakah Anda sering merasa tidak berdaya? YA TIDAK
9. Apakah Anda lebih memilih tinggal di rumah (kamar), YA TIDAK
daripada pergi keluar dan melakukan hal-hal yang baru?
10. Apakah Anda merasa mempunyai lebih banyak masalah YA TIDAK
dengan ingatan Anda dibandingkan kebanyakan orang?
11. Apakah menurut Anda sangat menyenangkan bisa hidup YA TIDAK
hingga sekarang ini?
12. Apakah Anda merasa sangat tidak berharga dengan kondisi YA TIDAK
Anda sekarang?
13. Apakah Anda merasa penuh semangat? YA TIDAK
14. Apakah Anda merasa keadaan Anda tidak ada harapan? YA TIDAK
15. Menurut Anda, apakah kebanyakan orang lebih baik daripada YA TIDAK
Anda?

TOTAL SKOR: ___ /15