Anda di halaman 1dari 57

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penyuluhan pertanian merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan
kemampuan petani baik pengetahuan sikap dan keterampilan sehingga mereka mampu dan
berdaya serta menetapkan keputusan sendiri terkait dengan usaha tani yang dilaksanakannya.
Salahsatu kegiatan yang dilakukan dalam penyuluhan adalah mengadakan pelatihan teknis bagi
petani. Kegiatan tersebut bertujuan agar petani belajar dengan melibatkan seluruh panca
inderanya, dengan harapan mau dan mampu mengadopsi suatu teknologi untuk kemajuan dan
perubahan usaha taninya.
Pelatihan yang baik, harus memenuhi beberapa kriteria, seperti tersusunnya kegiatan pra
perencanaan, terwujudnya perencanaan yang baik, pelaksanaan kegiatan dan evaluasi yang
memenuhi syarat sebuah pelatihan yang baik. Berdasarkan hal tersebut, sebuah pelatihan
hendaknya harus mengadopsi unsur-unsur manajemen agar terlaksana sesuai harapan.
Kegiatan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik, yang dilaksanakan di Kelompok Tani Lembur
Warung, Desa Batu Lawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat, juga telah
menerapkan berbagai prinsip pelatihan tersebut, sehingga pelatihan berjalan dengan baik dan
lancar, namun meski begitu, tetap saja memiliki berbagai kekurangan dalam beberapa segi dan
akan diuraikan dalam laporan akhir pelaksanaan pelatihan ini.

Tujuan
Tujuan disusunnya laporan ini adalah sebagai berikut:
Sebagai bentuk pertanggung jawaban atau akuntabilitas dari kegiatan pelatihan yang telah
dilaksanakan.
Memenuhi persyaratan pelaksanaan ujian akhir semester tujuh di Sekolah Tinggi Penyuluhan
Pertanian Bogor.

METODE PELAKSANAAN
Waktu dan Tempat
Pelatihan pembuatan pupuk organik dengan Promi dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 30
November 2013, pukul 13.300 sd 16.30. wib, di kelompok tani Lembur Warung, desa Batu
Lawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat.

Peserta Pelatihan
Peserta pelatihan adalah anggota dan pengurus kelompok tani Desa Lembur Warung, tokoh
masyarakat, dan penyuluh pertanian setempat, rincian peserta yang hadir adalah sebagai
berikut: anggota kelompok tani berjumlah 15 orang, tokoh masyarakat sebanyak 3 orang, dan
penyuluh pertanian setempat sebanyak 2 orang (keterangan lebih lanjut ada dalam lampiran).

Materi Pelatihan
Materi pelatihan yang diberikan adalah Pembuatan Pupuk Organik (Kompos Jerami) dengan
Promi.

Alasan Penentuan Materi


Promi adalah salahsatu bahan yang digunakan untuk membuat kompos jerami tanpa bantuan
bahan lain, caranya mudah dan praktis dan sangat aplicable bagi petani.

Metode Penyampaian Materi


Materi disampaikan dengan beberapa tahap, pertama sambutan dan pengenalan identitas
mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan pendahuluan materi yang berisi tentang pentingnya
pupuk kompos bagi tanah dan tanaman, setelah itu disampaikan alasan mengapa membuat
kompos dengan Promi serta langkah-langkah pembuatannya. Selanjutnya dilaksanakan praktek
langsung pembuatan promi sesuai dengan tahapan yang telah disampaikan.
Dalam tahap akhir pelatihan, disampaikan evaluasi langsung bagi petani, terkait materi dan
praktek yang telah dilaksanakan serta di beri dorongan agar petani dapat melaksanakan
pembuatan pupuk organik atau kompos sendiri, dengan memberi mereka Promi secara gratis
berikut petunjuk penggunaannya dalam folder yang telah dibuat sebelumnya.

Alat dan bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan manajemen pelatihan pembuatan pupuk organik
dengan promi adalah sebagai berikut:
Alat
Alat yang digunakan adalah: Laptop, alat Tulis (ball point, pinsil dan spidol), Printer dan Kamera
Digital.

Bahan
Sedangkan bahan yang digunakan dalam pelatihan adalah: Kertas karton, Kertas HVS A4,
Spanduk, Bambu dan paku (oleh petani), Promi, Rafia, dan Plastik Pembungkus Jerami warna
Hitam.

Sumber Dana
Dana bersumber dari anggaran APBN Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor sebesar Rp.
700.000

Tahapan Pelaksanaan Pelatihan


Tahapan pelaksanaan yang dilakukan dalam pelatihan adalah: Pra perencanaan, perencanaan,
pelaksanaan, dan terkahir evaluasi serta pelaporan kegiatan.

Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan kegiatan pelatihan didasarkan pada beberap aspek yaitu: tahapan
kegiatan, jumlah kehadiran peserta, ketepatan waktu, partisipasi peserta, penyampaian materi
dalam kegiatan, pengololaan anggaran dan sikap dan pengetahuan peserta pasca pelatihan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Waktu, Kehadiran dan Partisipasi Peserta Pelatihan
Pelaksanaan kegiatan yang sejatinya dijadwalkan pada pukul 13.00 Wib, mundur menjadi pukul
13.45 Wib karena beberapa alasan, yaitu: banyak petani yang masih di sawah, ada kepentingan
lain, dan petani yang di amanahkan untuk membuat tempat (media pencetak) jerami belum
menyelesaikan tugasnya. Sedangkan untuk jumlah peserta ketika acara dimulai sebanyak 18
orang, belum termasuk penyuluh setempat yang datang terlambat.
Sementara untuk partisipasi petani terhadap acara pelatihan kurang, karena sebelumnya mereka
telah memiliki pengalaman pembuatan pupuk organik menggunakan EM 4 dan tidak berhasil,
alasan yang mengemuka adalah, bahan untuk pembuatan dengan EM 4 terlalu banyak, butuh
pembalikan, tidak efektif dll.

Tahapan Kegiatan Pelatihan


Pra Perencanaan
Pelaksanaan kegiatan di awali dengan persiapan pra perencanaan terkait penetapan judul
pelatihan, dan pendekatan dan penentuan rancang bangun pelatihan serta survey pendahuluan
yang dilakukan ketua tim ke desa, ke kelompok tani dan ke Balai Penyuluhan Pertanian
Kecamatan Cipanas.

Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan terkait dengan beberapa kegiatan yaitu: penetapan waktu dan
tempat kegiatan, jumlah peserta, susunan panitia pelatihan, pembuatan undangan, materi,
metode penyampaian materi, jumlah materi dalam satuan mata pelatihan, kebutuhan alat dan
bahan serta penentuan jumlah anggaran yang dibutuhkan. Selain itu juga dipertimbangkan
penggunaan kendaraan dan waktu berangkat ke tempat pelatihan tersebut dilaksanakan.

Pelaksanaan
Tutor (Mahasiswa STPP Bogor) hadir di lokasi pada pukul 12.30, setelah sebelumnya
bersilaturahmi dengan ketua kelompok, langsung membantu pembuatan tempat cetak dari
bambu yang dibuat oleh petani, karena bahan tersebut belum selesai dibuat. Anggota tim lain
dibagi tugas, untuk memasang spanduk, menentukan tempat yang pas dan memasang peta
singkap yang telah disiapkan serta menentukan lokasi praktek pembuatan pupuk kompos jerami
dan membantu mengumpulkan bahan pupuk (jerami).
Dalam pelaksanaan kegiatan tim mendapat tugas masing-masing yang telah sesuai dengan
kesepakatan yang dibuat dalam proses perencanaan, rincian tugas anggota tim dalam
pelaksanaan pelatihan pupuk kompos jerami dengan Promi adalah sebagai mana tertuand dalam
tabel 1 berikut:

Rincian tugas tim pelatihan


Daseng A Samsudin (Ketua Tim)
Mengontak Penyuluh, menjadi leader dan pengawas jalannya kegiatan
Ajat Juhaedi (Sekretaris):
Mengurus administrasi pelatihan

Idrus M Mustofa (Bendahara)


Bertanggung jawab terhadap alat dan bahan pelatihan, bertanggung jawab terhadap urusaan
administrasi keunagan kegiatan

Anggota
Bertanggung jawab terhadap pemberian materi teori pembuatan pupuk kompos jerami termasuk
media yang digunakan yaitu peta singkap, dan membuat spanduk kegiatan.
Bertanggung jawab terhadap alat dan baha praktek serta memimpin kegiatan praktek
pembuatan pupuk kompos.
Bertanggung jawab terhadap dokumentasi kegiatan dan membantu administrasi dan pelaporan
kegiatan

Evaluasi dan Laporan


Evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi langsung materi pelatihan petani, dan evaluasi
keseluruhan tahapan kegiatan yang dilaksanakan oleh tim, sedangkan laporan disusun setelah
tahapan kegiatan evaluasi dilaksanakan.

Evaluasi terhadap pemberian materi


Evaluasi terhadap pemberian materi diberikan melalui pertanyaan langsung oleh pembawa
materi (Sdr. Matriman) setelah rangkaian teori dan praktek selesai. Pertanyaan yang diberikan
terkait dengan pemberian materi dan praktek yang dilaksanakan, beberapa pertanyaan yang
diberikan antara lain:
Apa pentingnya pupuk organik (kompos jerami) jerami bagi tanah?
Alasan penggunaan promi dibanding bahan lain seperti EM 4?
Berapa dosis promi?
Sebutkan langkah-langkah (secara umum) pembuatan pupuk kompos jerami dengan Promi?
Penutupan Acara Pelatihan
Kegiatan yang dilakukan selama penutupan acara adalah sebagai berikut: ucapan penutupan dan
permohonan maaf, pemberian folder pembuatan pupuk kompos jerami dengan Promi dan
pemberian Promi kepada anggota kelompok.

Evaluasi Terhadap Keseluruhan Kegiatan


Evaluasi terhadap keseluruhan kelompok dilakukan dalam dua tahap. Pertama dilakukan
langsung setelah acara selesai dan dilakukan di Asrama Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian oleh
seluruh anggota tim.

Indikator Keberhasilan Berdasarkan Beberapa Asumsi


Berdasarkan kegiatan pelatihan yang dilaksanakan maka dapat disusun beberapa Indikator
keberhasilan kegiatan, yang disusun pada beberapa asumsi seperti, perencanaan, manajemen
tim, partisipasi peserta, penyampaian materi dalam kegiatan, pengololaan anggaran dan sikap
dan pengetahuan peserta pasca pelatihan.

Kelebihan, Kekurangan dan Permasalahan Pelatihan


Berdasarkan indikator dan asumsi keberhasilan pelatihan di atas, maka dapat diketahui beberapa
kelebihan yang mendukung keberhasilan pelatihan dan kekurangan serta masalah penghambat
keberhasilan pelaithan, yang diuraikan seperti dibawah ini:

Kelebihan
Kelebihan dari pelaksanaan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos jerami dengan Promi
ini adalah:
Pembagian tugas terperinci dan jelas
Anggota tim kompak
Alat dan bahan yang digunakan memadai
Pemateri memiliki kemampuan dan pengalaman dalam menyampaikan metaeri pelatihan
Kemampuan pengelolaan keuangan yang baik
Kekurangan
Karakter inti tani belum terlalu dikenal
Lokasi terlalu jauh
Adanya kegiatan pembuatan pupuk organik sebelumnya (menggunakan EM 4 ) dan gagal,
membuat antusiasme petani kurang

Permasalahan
Survey pendahuluan yang dilakukan oleh ketua tim, tidak langsung menyentuh keseluruhan atau
representasi anggota kelompok, tapi hanya kunjungan ke ketua kelompok, sehingga karakter
anggotan secara umum tidak diketahui akbiatnya, saat pelatihan dilaksanakan, terlihat
antusiasme petani kurang, terutama dalam kegiatan praktek, petani lebih banyak melihat dan
kurang berpartisipasi. Selain itu, jadwal kegiatan mundur beberapa jam karena banyak petani
belum mengetahui atau memiliki acara lain.
Jadwal pelaksanaan pendek, membuat tim tidak mampu berbuat banyak terutama dalam
melaksanakan kegiatan dinamika kelompok, padahal kegiatan ini sangat penting untuk
membangun suasana dan bridging menuju acara inti (preparation of learner circumstance) yang
bisa menyebabkan suasana dan antusiame peserta lebih baik.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan laporan ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:
Kegiatan secara umum berjalan dengan lancar, karena seluruh tahapan pelaksanaan kegiatan
dari pra perencanaan sampai evaluasi pelatihan dilaksanakan dengan baik.
Jumlah anggaran yang terbatas dapat dikelola dengan baik sehingga tidak menjadi masalah
dalam pelatihan
Pembagian tugas dalam tim jelas sehingga setiap anggotan tim memiliki tugas dan tanggung
jawab yang jelas untuk dilaksanakan dan berdasarkan kompetensi yang dimiliko
Antusiasme dan partisipasi peserta kurang, diduga karena tidak adanya dinamika kelompok
Saran
Beberapa saran yang disampaikan baik bagi anggotan tim adalah sebagai berikut:
Survey pendahuluan yang dilakukan sebaiknya dilakukan lebih komperhensif, terutama terkait
dengan karakter anggota kelompok sebenarnya.
Penggunaan waktu yang disediakan lebih baik, sehingga beberapa kegiatan penting tidak
terabaikan

Lampiran 1. Rincian Penggunaan Anggaran Pelatihan


Lampiran 2. Daftar Hadir Peserta
Lampiran 3. Jadwal Kegiatan
Lampiran 4 Foto Kegiatan

CONTOH LAPORAN KEGIATAN (Seminar, Diklat, IHT, dll)

SMK MUHAMMADIYAH 4 SURAKARTA


KOMPETENSI KEAHLIAN FARMASI
Alamat: Jalan Slamet Riyadi Nomor 443
Telp. (0271) 712192 Surakarta

LAPORAN KEGIATAN

A. NAMA KEGIATAN
“Seminar Nasional Bedah Kurikulum 2013” dalam rangka Dies Natalis ke-48 Universitas Negeri
Semarang (UNNES) 2013

B. WAKTU PELAKSANAAN
8 April 2013
C. TEMPAT
Graha Perhutani Solo
Jl. Slamet Riyadi No. 473 Solo

D. TUJUAN
Setelah mengikuti seminar nasional Bedah Kurikulum 2013 dengan tema: “Mampukah Kurikulum
2013 menjawab tantangan peningkatan kompetensi guru”, diharapkan peserta mampu:
1. Memahami ihwal Kurikulum 2013
2. Memahami cara mengembangkan Kurikulum 2013
3. Memahami cara merancang strategi pembelajaran pada implementasi Kurikulum 2013
4. Mengevaluai kurikulum 2013
5. Mengimplementasikan kurikulum 2013 pada semua jenjang dan jenis pendidikan.

E. MATERI SEMINAR
Secara umum, materi seminar adalah mengenai ihwal Kurikulum 2013 yang disampaikan oleh
Prof. Dr. Rustono, M.Hum (TIM PUSKUR Kemendiknas RI).
Materi seminar secara rinci adalah sebagai berikut.
1. Hasil Evaluasi BSNP
2. Arah perubahan Kurikulum
3. Penyederhanaan mapel
4. Pokok-pokok kurikulum 2013
5. Kompetensi inti
6. Kompetensi dasar
7. Struktur kurikulum
8. Beban belajar
9. Pembelajaran tematik integrative
10. Mata pelajaran dan alokasi waktunya
11. Mapel peminatan
12. Standar isi
13. Tabel kompetensi inti
14. Tabel kompetensi dasar

F. TINDAK LANJUT
1. Terselenggaranya kegiatan/ workshop/ IHT dalam rangka merancang dan mengembangkan
strategi pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh sekolah.
2. Mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan baik dan benar

G. DAMPAK
Dampak dari kegiatan ini terhadap peningkatan kompetensi peserta selaku pendidik antara lain
sebagai berikut.
1. Secara umum seminar nasional ini berdampak pada meningkatnya kompetensi pendidik dan
tenaga kependidikan, khususnya kompetensi paedagogik dan kompetensi professional.
2. Secara khusus seminar nasional ini berdampak pada meningkatnya pemahaman peserta tentang
kurikulum 2013 dan peserta bisa membagikan pemahaman itu kepada pendidik dan tenaga
kependidikan di lingkungan bekerja (sekolah).

H. PENUTUP
Demikian laporan ini kami buat sebagai wujud pertanggungjawaban kami atas tugas yang
diberikan. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terimakasih atas semua dukungan. Semoga
bermanfaat.

Surakarta, 8 April 2013


Dilaporkan kepada Yang Diberi Tugas,
p ala SMK Muhammadiyah 4 Surakarta,

Elly Elliyun Dr. Rahayuningsih, M.Pd.


NIP. ---- NIP. 197003302008012010

BAB I
BAGIAN AWAL

A. Nama Kegiatan
Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru SD

B. Waktu Pelaksanaan
14 September 2015 s/d 18 September 2015

C. Tempat Pelaksanaan
Hotel Royal Jelita, Jl. A. Yani Km. 4,5 Komplek Kencana No. 2 Banjarmasin

D. Tujuan Pelaksanaan
Setelah mengikuti Bimtek Implementasi Kurikulum 2013 di harapkan peserta mampu:
1. Memahami konsep kurikulum 2013
2. Memahami cara mengembangkan Kurikulum 2013
3. Memahami cara merancang strategi pembelajaran pada implementasi Kurikulum 2013
4. Mengevaluasi Kurikulum 2013
5. Mengimplementasikan Kurikulum 2013 pada satuan pendidikan
E. Lama Pelaksanaan
Bimtek Implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan selama 5 hari atau 88 jam pelajaran.

F. Surat Penugasan
Surat Penugasan dari Dinas Pendidikan kabupaten Hulu Sungai Tengah terlampir

G. Penyelenggaraan Bimtek
Bimtek diselenggarakan Oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan Bekerja Sama dengan
LPMP Provinsi Kalimantan selatan.

BAB II
BAGIAN ISI

A. Uraian Tujuan Diklat


Tujuan Diklat bagi guru adalah:
1. Memahami konsep dan karakteristik Kurikulum 2013 serta implementasi Kurikulum 2013
(rasional, elemen perubahan, SKL, KI, KD, dan strategi implementasinya serta pendekatan
pembelajaran tematik terpadu, saintifik, model-model pembelajaran, dan penilaian pada
Kurikulum 2013).
2. Terampil menganalisis Buku Guru, dan Buku Siswa.
3. Memahami dan terampil dalam merancang penerapan pendekatan Saintifik pada
pembelajaran tematik terpadu.
4. Terampil merancang penerapan model pembelajaran (Problem Based Learning/
Discovery Learning/ Inquiry Learning Project Based Learning) dan cara penilaiannya.
5. Memahami dan terampil dalam melakukan penilaian dan melaporkan hasil penilaian
pembelajaran dalam rapor.
6. Terampil menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) mengacu pada Kurikulum 2013
7. Mampu dan terampil melakukan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan dan model-
model pembelajaran sesuai Kurikulum 2013.
8. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut, benar, dan santun.
9. Dapat menyesuaikan konteks pembahasan dengan lingkungan sekitar.
10.Mampu mengintegrasikan berbagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.

B. Isi materi
Adapun materi yang disampaikan dalam Bimtek Implementasi Kurikulum 2013 yaitu:
1. Pengarahan program
2. Konsep Kurikulum 2013
3. Rasional Pengembangan Kurikulum 2013
4. Karakteristik Kurikulum 2013
5. Pembelajaran Tematik Terpadu
6. Pembelajaran Saintifik
7. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa
8. Perancangan Pembelajaran dan Penilaian
9. Praktek Pembelajaran Terbimbing

C. Tindak Lanjut
1. Terselenggaranya kegiatan Bimtek Kurikulum 2013 dalam rangka merancang dan
mengembangkan strategi pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh
sekolah.
2. Mengimplementasikan Kurikulum 2013 dengan baik dan benar

D. Dampak
Dampak dari kegiatan ini terhadap peningkatan kompetensi peserta selaku pendidik antara lain
sebagai berikut:
1. Secara umum Bimtek Implementasi Kurikulum 2103 ini berdampak pada meningkatnya
kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, khususnya kompetensi paedagogik dan
kompetensi professional. 2. Secara khusus Bimtek Implementasi Kurikulum 2013 ini berdampak
pada meningkatnya pemahaman peserta tentang kurikulum 2013 dan peserta bisa membagikan
pemahaman itu kepada pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan bekerja (sekolah).

E.Penutup
Demikian laporan ini kami buat sebagai wujud pertanggungjawaban kami atas tugas yang
diberikan. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terimakasih atas semua dukungan. Semoga
bermanfaat.

Laporan Hasil Mengikuti TOT Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan TIK bagi guru
SMP/MTs, SMA/MA/SMK Angkatan II

Tahun 2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendayagunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam pendidikan adalah untuk
mencapai efektivitas dan efisiensi pendidikan yang optimal, Suatu keharusan, karena TIK memiliki
potensi dan fungsi yang sangat besar suka atau tidak suka arus TIK telah mengalir pada setiap
aspek kehidupan. Oleh karena itu diperlukan perubahan paradigm dalam pendidikan guna
peningkatan kualitas pendidikan. Kemajuan TIK dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran
sekaligus sumber belajar dalam upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Selain itu
peran penting integrasi TIK dalam proses pembelajaran adalah untuk membangun keterampilan
masyarakat abad 21, yaitu : 1) keterampilan melek TIK dan media; 2) keterampilan berpikir kritis;
3) keterampilan memecahkan masalah; 4) keterampilan berkomunikasi efektif; dan 5)
keterampilan bekerjasama secara kolaboratif. Untuk itu diperlukan suatu gerakan budaya
pemanfaatan dan pendayagunaan TIK untuk pendidikan.
Indonesia merupakan negara yang luas dan memiliki kondisi geografis yang terkadang
terkendala dalam penyelenggraan system pembelajaran secara berkualitas. Untuk mewujudkan
ketersediaan sarana pembelajaran bermutu, merata dan dapat dijangkau oleh masyarakat di
wilayah terpencil sekalipun, maka kementrian pendidikan dan kebudayaan mengembangkan
akses pembelajaran secara elektronik dalam bentuk “Rumah Belajar”. Sistem pembelajaran
dalam “Rumah Belajar” ini memungkinkan pendidik dan peserta didik dapat berkomunikasi
secara virtual dan tidak selalu membutuhkan interaksi langsung antara pembelajar dengan
pendidik dan memungkinkan pembelajar akan berinteraksi secara mandiri dengan sumber
belajar.
Saat ini aplikasi rumah belajar memiliki beberapa memiliki beberapa vasilitas yang dapat
dimanfaatkan oleh guru, siswa maupun masyarakat dalam bentuk Kelas Maya, Sumber Belajar,
Bersosialisasi Kurikulum 2013, Profesi Berkelanjutan da Wahana Jelajah Angkasa. Aplikasi
“Rumah Belajar” saat ini memiliki konten-konten pembelajaran yang merupakan kolaboratif hasil
karya guru-guru di seluruh Indonesia, selain konten-konten yang dikembangkan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Fasilitas yang ada dirumah belajar juga diharapkan dapat
dimanfaatkan secara optimal oleh guru-guru di daerah demi terwujudnya kualitas pendidikan
yang merata di seluruh wilayah Indonesia.
Untuk dapat mendayagunakan dan memanfaatkan TIK khususnya “Rumah Belajar” baik
sebagai media pembelajaran maupun sebagai sumber belajar perlu adanya berbagai kesiapan
baik infrastruktur maupun manusianya. Berdasarkan sejumlah survey yang telah dilakukan,
terdapat beberapa factor yang sering menjadi keluhan para guru, antara lain; tidak tersedianya
peralatan, mahalnya akses internet, kurangnya pengetahuan dan kemampuan menggunakan TIK
alias gaptek, kurangnya dukungan kebijana, dll. Sekurang-kurangnya ada lima factor yang harus
dipenuhi untuk terjasinya optimalisasi pendayagunaan dan pemanfaatan TIK di sekolah, yaitu
factor infrastruktur, SDM, konten, kebijakan dan budaya.
Dalam rangka meningkatkan keterampilan masyarakat/guru abad 21 dan mengoptimalkan
pendayagunaan dan pemanfaatan TIK serta berdasarkan alas an-alasan sebagaimana tersebut
diatas, maka UPT Teknologi dan Komunikasi Pendidikan menganggap perlu untuk mengadakan
kegiatan TOT Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan TIK bagi guru SMP/MTs,
SMA/MA/SMK.

B. Dasar Hukum
1. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 No. 125,
Tambahan Lembar Negara RI No. 4437)
2. UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
3. Peraturan Pemerintah RI No. 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan
4. Perda No. 1 Tahun 2013 tentang APBD Provinsi Riau Tahun 2013 (Lembaran Daerah Provinsi Riau
Tahun 2013 Nomor 1)
5. Peraturan Gubernur Riau No. 1 Tahun 2013 tentang Penjabaran APBD Provinsi Riau Tahun 2013
6. DPA-SKPD UPT Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Riau Tahun
Anggaran 2013

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Secara umum kegiatan TOT Pengembangan Media Pembelajaran bertujuan untuk menyiapkan
master trainer dan meningkatkan kemampuan peserta dalam mendayagunakan,
mengembangkan, memanfaatkan TIK dengan baik, memanfaatkan TIK dengan baik, khususnya
memanfaatkan “Rumah Belajar”, sehungga guru dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran
dan Profesional sebagai seorang guru.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus tujuan kegiatan ini adalah setelah mengikuti kegiatan peserta diharapkan dapat:
1) Memiliki wawasan tentang keutamaan penggunaan media pembelajaran berbasis TIK terhadap
efektivitas pembelajaran di sekolah
2) Memahami kebijakan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran
3) Memahami konsep umum dan rancangan aplikasi rumah belajar
4) Memahami cara mengisi aplikasi rumah belajar yang meliputi “kelas maya” dan “sumber belajar”
5) Melakukan pengisian aplikasi rumah belajar yang meliputi “kelas maya” dan “sumber belajar”
6) Memahami strategi pemanfaatan aplikasi rumah belajar untuk kegiatan pembelajaran
7) Melakukan pelatihan lanjutan bagi guru lainnya.

D. Hasil yang diharapkan


Hasil yang diharapkan dari kegiatan TOT ini adalah :
1. Terlatihnya 384 orang guru SMP dan SMA/SMK sebagai Calon Master Trainer pengembangan
Multimedia pembelajaran
2. Meningkatnya kreatifitas guru dalam merancang dan mengembangkan bahan ajar dan media
pembelajaran yang sesuai dan dibutuhkan dalam proses pembelajaran
3. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan efektifitas proses pembelajaran di sekolah
4. Meningkatnya wawasan dan kesadaran guru terhadap pentingnya pemanfaatan dan
pendayagunaan media pembelajaran berbasis TIK dalam proses pembelajaran
5. Menumbuhkan budaya/kultur pembelajaran inovatif, aktif, kreatif dan menyenangkan.
6. Terlaksananya pelatihan lanjutan dengan materi yang sama bagi guruguru di daerah yang
dilaksanakan dengan sumber dana APBD kab/kota.

E. Strategi Pelatihan
Strategi yang ditempuh dalam TOT ini adalah pemberian teori dan praktek, dengan
perbandingan 30:70. Untuk teori kepada para peserta akan disajikan materi-materi yang
mengarah pada petunjuk Bagaimana mengisi dan memanfaatkan aplikasi rumah belajar “kelas
maya” dan “sumber belajar”. Selain itu sebagai bahan pembekalan bagi peserta TOT dalam
melakukan pelatihan kepada guru-guru di daerah maka peserta pada akan diberikan materi
“prinsip-prinsip pelatihan lanjutan bagi guru di daerah”.
TOT ini terbagi dalam dua angkatan yakni angkatan pertama dan kedua masing-masing
dengan jumlah peserta 192 orang terdiri dari SMP 96 orang dan guru SMA/SMK 96 orang dan
dibagi dalam 4 (empat) kelas.

F. Materi dan Alokasi Waktu TOT Pengembangan Media


Materi TOT yang akan diberikan kepada peserta dengan bobot 50 jam adalah sebagai berikut
:
1. Kebijakan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran
2. Konsep umum dan Rancangan Aplikasi Rumah Belajar
3. Pengisian Aplikasi Rumah Belajar “Kelas Maya”
4. Pengisian Aplikasi Rumah BElajar “sumber Belajar”
5. Strategi Pemanfaatan Aplikasi Rumah Belajar untuk Kegiatan Pembelajaran
6. Prinsip-prinsip Pelatihan Lanjutan Bagi Guru di Daerah

BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Tempat dan Waktu Pelatihan.


Kegiatan TOT Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan TIK bagi Guru SMP, SMA/SMK
se Provinsi Riau dilaksanakan:
a. Tempat : Hotel Furaya Jl. Sudirman Pekanbaru
b. Waktu : Tanggal 06 s.d 10 Mei 2013

B. Narasumber/Instruktur dan Pembimbing.


1. Instruktur/Narasumber
Instruktur/Narasumber dalam kegiatan TOT ini adalah yang memiliki wawasan dan keahlian
dalam menganalisis, merancang, membuat dan memanfaatkan Aplikasi Rumah Belajar dan
mengembangkan media pembelajaran berbasis TIK. Instruktur/Narasumber diambil dari Pusat
Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Depdiknas Jakarta, dan Guru yang telah
mengikuti TOT Fasilitator Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia dan Web.

2. Pembimbina.g/Pendamping
Peserta mendapat bimbingan dalam praktek pembuatan media pembelajaran dari para
pembimbing/pendamping yang telah memiliki wawasan dan keahlian dalam bidangnya.

C. Panitia dan Peserta Pelatihan.


1. Panitia
Panitia kegiatan TOT disesuaikan dengan yang telah ditetapkan dalam Surat Keputusan
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, terdiri dari unsur pimpinan dan staf baik dari Dinas
Pendidikan maupun UPT Teknologi Komunikasi Pendidikan.

2. Peserta
Peserta diikuti oleh guru SMP, SMA/SMK se Provinsi Riau Angkatan II yang ditunjuk dari 12
Kabupaten/Kota masing-masing sebanyak 16 orang, 8 orang guru SMP dan 8 orang guru
SMA/SMK.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan.
a. Dalam pelaksanaan pelatihan kegiatan TOT Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan
TIK Bagi Guru SMP dan SMA/SMK Se Provinsi Riau Angkatan II tahun 2013 selama lima hari
berjalan dengan baik, aman, lancar dan sukses.
b. Materi pelajaran yang diberikan dapat dijadikan wawasan dan pedoman dalam mendukung
pelaksanaan tugas.
B. Saran.
a. Perlu adanya pelatihan TOT Fasilitator Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia
dan Web berkelanjutan bagi peserta masing-masing daerah yang mengikuti Kegiatan TOT
Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan TIK Bagi Guru SMP dan SMA/SMK Se Provinsi
Riau.
b. Perlu adanya tambahan tools kirim tiket pertanyaan untuk guru dan siswa dan jawaban oleh tutor
pada rumah belajar.
c. Perlu adanya materi pengembangan Multimedia pembelajaran yang lain pada guru peserta TOT
ini selain aplikasi Rumah Belajar agar tercapai hasil yang diharapkan dari kegiatan TOT ini.

BAB IV
PENUTUP

Demikian laporan Hasil Mengikuti Pelatihan Kegiatan Kegiatan TOT Pengembangan Media
Pembelajaran Menggunakan TIK Bagi Guru SMP dan SMA/SMK Se Provinsi Riau Angkatan II tahun
2013 sebagai Calon Master Trainer pengembangan Multimedia pembelajaran.

Mengetahui, Dumai, 10 Mei 2013


Ketua Panitia Pelaksana Peserta Kota Dumai

Joko Mulyono, SmHk Triani Lailatunnahar, S. Si, M. Pd


NIP. 196015291987031005 NIP. 197910302006042013
Modul 2:Keterampilan Berkomunikasi

Gambaran umum

Kompetensi Dasar

Mendemonstrasikan keterampilan berkomunikasi dalam pelatihan

Indikator

1. Mendeskripsikan prinsip-prinsip dari komunikasi efektif


2. Mendeskripsikan model-model komunikasi dalam pelatihan
3. Mendemonstrasikan 9 komponen dasar keterampilan dasar dalam
pembelajaran/pelatihan

Materi

Keterampilan berkomunikasi

1. Prinsip dari komunikasi efektif


2. Gaya Berkomunikasi dalam Pelatihan
3. Komponen dari keterampilan mengajar/melatih

Aktivitas

WAKTU KEGIATAN IKHTISAR MATERIAL

 Fasilitator mengucapkan selamat datang di


pelatihan dan membuka pelatihan dengan doa Informasi PPT
5 menit
pembukaan. pembukaan
 Menginformasikan tata tertib pelatihan
WAKTU KEGIATAN IKHTISAR MATERIAL

 Fasilitator menjelaskan tentang topik dan tujuan


dari sesi pertama

 Fasilitator meminta dua orang peserta untuk


berpartisipasi dalam diskusi singkat tanpa
memberitahu terlebih dahulu mengenai topik
yang dibahas dalam pelatihan
 Setelah itu, mintalah 2 peserta untuk berdiskusi
mengenai topik dan berikan mereka waktu untuk
berdiskusi ringan terlebih dahulu Demontrasi
20
 Para peserta diminta untuk menganalisis Pertanyaan & PPT
menit
perbedaan dari kedua demonstrasi teknik Jawaban
berkomunikasi, untuk mendapatkan jawaban
manakah yang mampu menciptakan komunikasi
yang efektif
 Pelatih menegaskan prinsip-prinsip dari
komunikasi efektif

 Fasilitator memberikan masalah dari model


komunikasi dalam pelatihan untuk para peserta
 Secara mandiri peserta diberi kesempatan 2-5
Berpikir,
30 menit untuk berfikir.
berdiskusi, dan PPT
menit  Ketika sudah selesai, mintalah mereka untuk
berbagi
berdiskusi tentang masalah yang sama dengan
rekan di sebelahnya selama 3-5 menit
(berpasangan)
WAKTU KEGIATAN IKHTISAR MATERIAL

 Akhirnya pilihlah satu pasangan untuk


mengemukakan pendapat mereka di depan kelas
(share).
 Fasilitator menjelaskan tentang model-model
berkomunikasi dalam pelatihan

 Pelatih menjelaskan materi tentang 9 keahlian


dasar dalam mengajar
 Peserta diminta berkelompok untuk membuat
materi pelatihan untuk mempraktikkan 9
keterampilan dasar dalam mengajar
 Dua kelompok dipilih untuk mensimulasikan
30 PPT
keterampilan dasar mengajar Simulasi
menit
 Peserta yang lain akan bertindak sebagai
pengamat
 Diskusikan hasil dari pengamatan
 Fasilitator memberi penguatan tentang 9
keterampilan dasar mengajar

 Fasilitator meminta salah seorang peserta untuk Refleksi sesi


5 menit merefleksikan implementasi dari sesi pertama pertama dan
penutupan

Bahan Bacaan

Pendahuluan

Komunikasi adalah keterampilan utama yang harus dimiliki seorang pelatih. Ada beberapa hal
yang harus dipahami termasuk maksud dan tujuan dari komunikasi dan prinsip-prinsip yang tepat
atau komunikasi yang efektif. Hal yang sama juga diperlukan oleh pelatih Skenario Pembangunan
Rencana Kontinjensi menggunakan OpenStreetMap (OSM) dan QGIS / InaSAFE.

Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari memegang peranan yang sangat penting, hal ini
dikarenakan komunikasi memiliki fungsi untuk menghubungkan keinginan seseorang kepada
orang lain. Secara spesifik komunikasi menjalankan empat fungsi, yaitu: fungsi kendali, motivasi,
pengungkapan emosional dan informasi.

Komunikasi secara umum diartikan sebagai proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide
yang disampaikan. Kepentingan pelatih dalam melatih tentu saja diperlukan komunikasi efektif
yang digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan dan memotivasi seseorang untuk
melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan pelatihan. Gagasan yang akan disampaikan dalam
pelatihan ini adalah tentang kebencanaan khususnya pada Pengembangan Skenario untuk
Rencana Kontijensi dengan menggunakan OpenStreetMap (OSM) dan QGIS/InaSafe. Berkaitan
dengan hal tersebut yang harus dimiliki pelatih adalah keterampilan dasar mengajar atau melatih
karena pada prinsipnya melatih adalah mengajar kepada peserta untuk dapat melakukan
sesuatu.

1. The principles of effective communication

Komunikasi secara umum diartikan sebagai proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide
yang disampaikan. Dalam hal ini komunikasi diperlukan sekurang-kurangnya 4 komponen atau
unsur, yaitu: (1) Pengirim atau pembawa pesan/ komunikator, (2) Isi Pesan , (3) Penerima
pesan/komunikan, (4) Media/saluran . Pada proses komunikasi yang efektif, komunikator dan
komunikan tidak hanya berkomunikasi yang bersifat linier, tetapi diharapkan juga bersifat
sirkuler.

Model komunikasi linier adalah proses yang hanya terdiri dari dua garis lurus, dimana proses
komunikasi berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Sedangkan komunikasi
model sirkuler adalah proses komunikasi yang tidak hanya berawal dari komunikator dan
berakhir pada komunikan, tetapi memperhatikan adanya feedback dari komunikan, sehingga
komunikasi sirkuler merupakan proses satu lingkaran penuh. Artinya suatu saat pelatih
berkedudukan sebagai sumber informasi tetapi pada saat yang lain sebagai penerima informasi,
begitu sebaliknya. Peserta bisa sebagai penerima informasi tetapi bisa juga sebagai sumber
informasi. Jadi komunikasi adalah sebuah pemberitahuan atau pertukaran.

Proses komunikasi di atas menunjukkan bahwa peserta pelatihan bisa berperan sebagai
penerima informasi/pesan dan bisa sebagai sumber informasi/pesan. Tetapi pelatih sebagai
pelaku dalam proses komunikasi, tetap harus mengendalikan proses pelatihan. Untuk itu pelatih
tetap harus memposisikan sebagai komunikator, karena komunikator memegang peranan yang
sangat penting terutama dalam mengendalikan jalannya komunikasi, sehingga pesan tersebut
diterima oleh penerima (komunikan) atau peserta pelatihan secara baik. Hal tersebut sesuai
dengan fungsi komunikasi.

Fungsi komunikasi menurut Gordon I Zinmmerman dalam Thomas M. Scheidel (1976) adalah
fungsi isi, yg melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas kita,
dan fungsi hubungan, yg melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita
dengan orang lain. Sedangkan fungsi komunikasi menurut Thomas M. Scheidel (1976) adalah:
“Kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk
membangun kontak sosial, mempengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir dan bertindak
seperti yg kita inginkan.

Dua pendapat di atas menunjukkan bahwa tujuan komunikasi adalah penerima pesan dapat
mengerti dan memahami pesan yang disampaikan pemberi pesan. Pelatih diharapkan mampu
menjelaskan keinginan atau ide sesuai tujuan pelatihan kepada peserta dengan sederhana
namun tepat atau akurat. Berikut ini proses komunikasi yang diharapkan untuk memperhatikan
kepada masukan dari peserta.

Proses komunikasi di atas menunjukkan bahwa komunikasi merupakan pesan yang disampaikan
kepada komunikan (penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik
secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan
sesuai dengan yang diingikan komunikator. Proses komunikasi tersebut melalui 5 tahap, yaitu:
(1) Tahap pertama “Penginterpretasian”, (2) Tahap kedua “Penyandian” , (3) Tahap ketiga
“Pengiriman” , (4) Tahap keempat “Penerimaan” , dan (5) Tahap kelima “Feedback/Umpan balik”
. Untuk mencapai tujuan komunikasi diperlukan juga penggunaan prinsip-prinsip komunikasi
efektif. Supaya komunikasi berjalan dengan baik, maka diperlukan penggunaan prinsip
komunikasi efektif. Prinsip itu antara lain: Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble.

1. Respek.

Respect adalah perasaan positif atau penghormatan diri kepada lawan bicara. Semua
orang ingin dihargai dan dihormati dan menjadi kebutuhan setiap individu. Untuk itu
pelatih diharapkan menghargai lawan bicara atau dalam hal ini adalah peserta pelatihan.

2. Empati.

Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang
tengah dihadapi orang lain. Komunikasi akan terjalin dengan baik sesuai kondisi psikologis
lawan bicara. Ber-Empati artinya pelatih harus menempatkan diri sebagai pendengar yang
baik, bahkan sebelum orang lain mendengarkan kita. Dan pelatih harus mampu
merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dalam hal ini peserta pelatihan.

3. Audible/Dapat Didengar
1. Audible mengandung makna bahwa pesan harus dapat didengarkan dan
dimengerti. Dalam kepentingan ini yang harus dilakukan pelatih adalah:
2. Pesan harus mudah dipahami, menggunakan bahasa yang baik dan benar. Hindari
bahasa yang tidak dipahami oleh lawan bicara.
3. Pesan disampaikan yang penting, dengan cara menyederhanakan pesan, langsung
saja pada inti persoalan karena sebagian besar orang tidak suka mendengar yang
bertele-tele.
4. Menggunakan bahasa tubuh. Mimik wajah, kontak mata, gerakan tangan dan
posisi badan bisa dengan mudah terbaca oleh lawan bicara.
5. Menggunakan ilustrasi atau contoh. Analogi sangat membantu dalam
penyampaian pesan. Dapat digunakan Ilustrasi dan contoh nyata.
4. Clarity/Jelas.

Clarity adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan. Pada prinsip ini pelatih
menetapkan tujuan secara jelas sebelum pelaksanaan pelatihan dan menggunakan
intonasi suara yang baik.

5. Humble/Rendah Hati

Sikap rendah hati memberikan pamor positif pada komunikator. Dalam kepentingan ini
rendah hati dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbicara
terlebih dahulu dan pelatih menjadi pendengar yang baik. Sikap ini membangun rasa
hormat dan pada akhirnya mengembangkan respek kepada peserta.

2. Communication models in training

Komunikasi dalam pelatihan adalah adalah proses penyampaian komunikasi yang dikondisikan
untuk tujuan pelatihan. Proses pelatihan pada hakekatnya adalah proses komunikasi yang
merupakan penyampaian pesan berisi materi-materi pelatihan. Berkaitan dengan hal tersebut
dalam pelatihan diharapkan menggunakan komunikasi model sirkuler, yaitu proses komunikasi
yang tidak hanya berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan, tetapi memperhatikan
adanya feedback dari komunikan, sehingga komunikasi bisa efektif.

Komunikasi efektif dalam pelatihan, diharapkan menggunakan komunikasi verbal dan non verbal.
Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal/dengan kata
atau secara lisan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah komunikasi dengan tidak
menggunakan kata-kata, tetapi menggunkan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak
mata. Bisa juga dengan penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut dan lain sebagainya.

Komunikasi non verbal akan membantu pelatih untuk menjadi pembicara yang menarik. Dalam
komunikas verbal atau lisan harus didukung dengan cara berbicara seperti intonasi, pemberian
tekanan, kualitas suara, gaya berbicara dan gaya emosi. Selain itu juga menggunakan gerak
isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata. Dan didukung juga dengan penggunaan
objek seperti pakaian, potongan rambut dan lain sebagainya.

Metode Pelatihan

Pelatihan pada hakikatnya adalah suatu proses belajar mengajar yang mengandung tiga unsur,
yaitu input (bahan mentah yang akan diolah), process (kegiatan mengolah input) dan output
(hasil yang telah diolah). Input pelatihan adalah peserta sebelum mengikuti pelatihan, proses
pelatihan adalah interaksi antara komponen-komponen belajar mengajar yaitu tujuan, bahan,
metode, peserta pelatihan, fasilitas dan penilaian. Output dari pelatihan adalah peserta setelah
menerima pelatihan.

Suatu proses dipandang baik apabila kualitas output lebih baik dari pada input. Proses belajar
atau pelatihan adalah suatu perubahan tingkah laku, yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Ini
berarti, hanya dapat dikatakan terjadi proses belajar apabila seseorang menunjukkan tingkah
laku yang tidak sama. Jika ia dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau ia
bisa melakukan sesuatu, yang sebelumnya ia tidak dapat melakukannya. Jadi, proses belajar
menempatkan seseorang dari status kemampuan atau kecakapan yang satu kepada
kemampuan/kecakapan yang lain.

Model komunikasi pelatihan merupakan salah satu komponen proses dalam pelatihan karena
model komunikasi pelatihan sebenarnya merupakan penggunaan metode dalam pelatihan.
Untuk memaksimalkan output dalam pelatihan diharapkan metode yang dipilih dalam
pelatihanpun sesuai dengan komponen yang lain, yaitu tujuan, bahan, peserta pelatihan, fasilitas
dan penilaian. Jadi untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada suatu pelatihan,
metode pelatihan dan komunikasi harus mendapat perhatian khusus dalam setiap proses
pelatihan.

Pelatih yang baik seharusnya memahami karakteristik peserta pelatihan agar ia sukses dalam
melaksanakan peran mengajarnya. Pelatih diharapkan dapat merencanakan proses belajar
mengajar yang sesuai dengan keadaan dan kepribadian peserta pelatihan. Metode adalah cara
untuk mencapai tujuan sebaik-baiknya. Metode dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu metode
pembelajaran langsung, pembelajaran tidak langsung, pembelajaran interaktif, belajar melalui
pengalaman, dan pembelajaran mandiri.

1. Pembelajaran langsung: pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak


diarahkan oleh pelatih. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun
keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif.
Contoh metode dalam pembelajaran langsung adalah: ceramah, tanya jawab,
demonstrasi latihan dan drill.
2. Pembelajaran tidak langsung: Umumnya berpusat pada peserta pelatihan. Peranan
pelatih bergeser dari seorang penceramah menjadi fasilitator. Pelatih mengelola
lingkungan belajar dan memberikan kesempatan peserta pelatihan untuk terlibat. Contoh
metode pembelajaran tidak langsung adalah: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah,
peta konsep.
3. Pembelajaran interaktif: Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing
di antara peserta pelatihan. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta pelatihan
untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan pelatih
atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.
Contoh merode dalam pembelajaran interaktif adalah: diskusi kelas, diskusi kelompok
kecil atau projek, kerja berpasangan.
4. Belajar melalui pengalaman: Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif,
berpusat pada peserta pelatihan, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang
pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain
merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Contoh metode dalam
pembelajaran empirik adalah: bermain peran, observasi/survey, simulasi.
5. Pembelajaran mandiri: Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan
untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah
pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta pelatihan dengan bantuan pelatih. Belajar
mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil.
Contoh metode dalam pembelajaran mandiri adalah: projek penelitian, belajar berbasis
komputer.

a. Metode dalam pembelajaran langsung

Pembelajaran langsung biasanya diidentikkan dengan metode ceramah, dimana pembelajaran


ini disinyalir kurang mengaktifkan peserta. Namun demikian pembelajaran langsung masih dapat
digunakan dengan menggunakan metode tanyajawab, demonstrasi, dan latihan. Selanjutnya
dapat digunakan beberapa cara untuk lebih mengefektifkan pembelajaran langsung, misalnya:

 Peserta mereview materi pelatihan yang telah dipelajari dan materi baru disajikan kepada
peserta:
o materi pelatihan telah diatur per bagian
o menggunakan media visual (penting untuk dibaca)
 Para peserta berlatih dengan didampingi pelatih.
 Para peserta berlatih sendiri-sendiri
 Peserta dimonitor perolehan keterampilan/pengetahuannya secara periodik.

Berbagai macam metode yang dapat dikembangkan ketika siswa menerima penjelasan dari
guru antara lain:

1. Contoh dan analogi: Pelatih menyediakan contoh dan ilustarsi yang terkait dengan
materi. Pelatih juga dapat membuat perbandingan antara materi pelatihan dengan
pengalaman peserta.
2. Permainan: Pelatih menggunakan permainan dalam pembelajaran. Permainan
diharapkan sesuai dengan topik pelatihan. Contoh permainan misalnya tebak gambar,
tebak mesteri dalam kotak, atau berbagai jenis kuis di TV dapat diterapkan di kelas
pelatihan dengan beberapa modifikasi (misalnya who wants to millioner, gamezone,
permainan kata, dll).
3. Kartu respon: Pelatih meminta peserta untuk menjawab pertanyaan pada kartu atau
potongan kertas dengan tidak menuliskan nama atau identitas lain. Dapat dikembangkan
dengan kartu soal ataupun kartu jawab. Pada kartu soal peserta mendapatkan kartu
pertanyaan yang berbeda dan menjawab dengan angkat tangan; gunakan pertanyaan
terbuka, produktif atau imajinatif. Pada kartu jawab peserta mendapatkan kartu jawab,
ia angkat tangan saat kartunya cocok dengan pertanyaan pelatih; gunakan pertanyaan
terbuka, produktif atau imajinatif.
4. Poling: Pelatih melakukan survey yang singkat untuk memperoleh data secara cepat. Hal
ini dapat dilakukan dengan survey verbal misalnya dengan meminta peserta mengangkat
tangan atau mengangkat kartu jawaban
5. Permasalahan: Pelatih mengajukan permasalahan yang terkait dengan topik pelatihan.
6. Demonstrasi: Pelatih ataupun peserta dapat mendemonstrasikan sesuatu sesuai topik
dengan menggunakan gerak tubuh ataupun alat peraga.
7. Reviu koran atau berita: peserta diminta mereview koran atau berita pada bacaan lain.
8. Curah pendapat: peserta diminta untuk berpendapat tentang sesuatu sesuai topik
pelatihan. Pendapat-pendapat itu ditampung untuk diambil kesimpulan bersama tentang
permasalahan yang dibahas.

Metode yang dapat dikembangkan setelah peserta menerima penjelasan dari pelatih antara
lain:

1. Berbagi catatan: setelah serangkaian kegiatan peserta pelatihan membandingkan hasil


catatannya dengan catatan rekannya yang lain
2. Tanya jawab: peserta diberikan kesempatan untuk bertanya terkait dengan konsep dan
aplikasinya. Jika tidak ada pertanyaan dari peserta, pelatih dapat memancing dengan
bertanya pada peserta.
3. Headline: pelatih meringkas pelajaran dengan kata-kata kunci agar mudah diingat.

Metode untuk mengetahui penguasaan peserta terhadap konsep yang telah dipelajari

1. One minute paper: kegiatan ini dapat dilakukan di akhir pelatihan. Mintalah peserta
mengeluarkan secarik kertas. Ajukan sebuah pertanyaan terbuka atau tertutup terkait
konsep yang telah dipelajari. Berikan waktu satu atau dua menit bagi peserta untuk
menjawabnya.
2. Refleksi: mintalah satu atau dua peserta maju di depan kelas dan menceriterakan kesan
terhadap pembelajaran. Refleksi juga dapat memancing perasaan dan kesulitan peserta
dalam mengikuti pembelajaran.
3. Quis: peserta mengajukan beberapa masalah atau soal terkait konsep dan meminta
peserta menjawabnya. Quis dapat dilakukan dengan menyertakan nama peserta maupun
tidak mencantumkan nama. Quis juga bisa digunakan dengan adu cepat, teka-teki atau
sejenisnya. Quis dapat dilakukan secara lisan; gunakan pertanyaan terbuka, produktif,
imajinatif.
4. Turnamen: secara berkelompok peserta berkompetisi untuk menyelesaikan masalah
yang terkait dengan konsep yang telah dipelajari. Kelompok peserta yang memenangkan
turnamen mendapatkan reward tertentu.
5. Review: Minta peserta untuk mereview isi pelajaran dengan yang lain atau memberi
mereka tes skor review.

b. Pembelajaran tidak langsung

1. Metode Inkuiri: peserta melakukan pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan,


mengajukan mengajukan pertanyaan. Selanjutnya peserta merumuskan dugaan, dan
mengumpulkan data. Berdasarkan data yang diperoleh, peserta diminta untuk
menyimpulkan.
2. Metode memecahkan masalah: Setiap peserta diminta untuk merumuskan masalah
dengan jelas dan ringkas. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan masalah.
Mengumpulkan informasi yang dibutuhkan (fakta dan pengetahuan). Menentukan
berbagai pemecahan masalah. Memilih pemecahan yang paling sesuai. Menguji
pemecahan masalah yang dipilih. Menilai hasil pemecahan masalah.
3. Metode berdagang: Setiap peserta menuliskan satu hal (misal, pengalaman, ide kreatif,
pertanyaan, pendapat atau yang lain) pada sepotong kertas. Setiap peserta menempelkan
hasil tulisan pada bajunya. Berkeliling untuk menjual dan membeli (membaca) hasil
teman lain. Tetapkan aturan bahwa setiap hasil kerja harus dijual dan dibeli. Secara
klasikal, secara bergiliran peserta menyampaikan hasil perdagangannya. Penguatan oleh
pelatih.
4. Analisa studi kasus: kepada peserta diberikan kasus yang harus dipecahkan baik secara
individual maupun secara berkelompok berdasarkan data, fakta atau konsep yang telah
dipelajari di kelas.
5. Mengevaluasi hasil kerja teman: dapat dilakukan setelah mengembangkan suatu produk.
Umumnya peserta menggunakan rubrik untuk mengevaluasi hasil kerja temannya

c. Metode dalam pembelajaran interaktif

1. Diskusi kelompok: Pelatih meminta peserta berkelompok dengan anggota tiga atau lebih
untuk berbagi informasi.
2. Think, pair and share: ajukan permasalahan pada peserta. Berikan kesempatan 2-5 menit
untuk berfikir sendiri think. Setelah selesai mintalah mereka mendiskusikan masalah
yangsama dengan peserta di sebelahnya selama 3-5 menit (pair). Akhirnya pilihlah satu
pasangan untuk mengemukakan pendapat mereka di depan kelas (share).
3. Metode Investigasi Kelompok: peserta membentuk kelompok. Pelatih memanggil ketua-
ketua kelompok untuk diberi materi/tugas yang berbeda.Setiap kelompok membahas
tugas yang diberikan secara kooperatif dan melakukan investigasi. Setelah selesai diskusi,
lewat juru bicaranya kelompok menyampaikan hasil pembahasan. Pelatih memberikan
penguatan.
4. Metode TGT (Team Game Tournament): Pelatih menyajikan materi baru. Peserta
membentuk kelompok belajar secara heterogen. Setiap kelompok mengikuti turnamen
akademik. Setiap peserta mewakili kelompoknya pada kegiatan turnamen. Beri
penghargaan terhadap kelompok yang menang.
5. Metode Jigsaw: Pelatih menyiapkan tugas sebanyak jumlah kelompok. Peserta
berkelompok dengan jumlah anggota sama dengan jumlah kelompok (peserta harus hafal
anggotanya). Setiap peserta dalam kelompok diberi bagian materi yang berbeda. Peserta
dari berbagai kelompok yang memperoleh tugas yang sama membentuk kelompok baru
dan mendiskusikan bagiannya. Setelah selesai diskusi dengan kelompok ahli, tiap anggota
kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar/melaporkan hasil diskusi kepada
anggota kelompok yang lain. Secara acak peserta menyampaikan seluruh tugas yang
diberikan pelatih. Penguatan
6. Metode Debat: Guru membagi dua kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lain
kontra. Setiap kelompok membaca materi yang akan didebatkan. Pelatih menunjuk satu
anggota pro untuk berbicara dan ditanggapi oleh anggota kelompok kontra, demikian
seterusnya. Pelatih menuliskan ide/gagasan dari setiap pembicaraan di papan tulis
sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi. Pelatih menambahkan ide yang
belum terungkap. Dari data-data di papan tulis, pelatih mengajak peserta membuat
kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada kompetensi yang ingin dicapai.
7. Metode STAD (Student Team Achievement Division): Pembelajaran oleh pelatih. Peserta
membentuk kelompok. Tiap kelompok mendiskusikan permasalahan yang diterima (tiap
peserta harus memahami jawaban kelompoknya). Salah seorang dari setiap kelompok
mengerjakan soal-soal (kuis). Nilai setiap anggota menentukan nilai kelompok.
Penguatan.
8. Kelompok belajar kolaboratif: peserta dibentuk dalam kelompok heterogen 3-6 orang.
Mintalah salah satu peserta menjadi pemimpinnya dan satu yang lain menjadi pencatat.
Berikan kesempatan pada peserta untuk belajar secara berkolaborasi. Hasil kelompok
berupa laporan tertulis.
9. Belajar berpasangan: Pelatih meminta peserta untuk mengerjakan tugas atau berdiskusi
dengan teman di dekatnya secara berpasangan. Belajar berpasangan cocok untuk
mengerjakan tugas yang rumit.

d. Metode belajar melalui pengalaman

1. Bermain peran: masing-masing kelompok diminta merancang permainan peran


berdasarkan konsep yang sedang dipelajari. Kelompok yang satu menanggapi hasil
permainan peran kelompok yang lain.
2. Simulasi/latihan praktek: setelah peserta belajar tentang keterampilan motorik tertentu,
secara acak peserta diminta untuk mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari di
depan kelas.

e. Metode pembelajaran mandiri

Metode Projek: Metode projek adalah suatu cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari
masalah dimana pemecahannya memerlukan tinjauan dari berbagai segi. Dasar pemikiran
penggunaan metode ini adalah masalah hanya bisa diselesaikan dengan berbagai segi atau ilmu.
Untuk itu hanya pada masalah-masalah yang memerlukan pemecahan unit yang dapat digunakan
metode projek.

3. Components of basic skills in teaching / training

Pelatih dalam interaksi atau dalam tatap muka dengan peserta pelatihan memerlukan sejumlah
keterampilan dasar mengajar. Hal ini mutlak perlu untuk membantu pelatih dalam menjalankan
tugas pelatih dalam interaksi edukatif. Keterampilan dasar mengajar pelatih tidak bedanya
dengan guru yang mengajar di kelas. Keterampilan dasar yang harus dimiliki, yaitu:

1. Keterampilan dasar membuka dan menutup pelajaran.


2. Keterampilan dasar menjelaskan
3. Keterampilan dasar bertanya.
4. Keterampilan dasar membuat variasi.
5. Keterampilan dasar memberi penguatan.
6. Keterampilan dasar mengelola kelas.
7. Keterampilan dasar membimbing diskusi kelompok kecil.
8. Keterampilan dasar mengajar secara perorangan.
9. Keterampilan dasar kelompok kecil

a. Keterampilan Dasar Membuka dan Menutup Pelajaran

Pengertian dan Tujuan


Membuka pelajaran diartikan dengan perbuatan pelatih untuk menciptakan suasana siap mental
dan menimbulkan perhatian peserta agar terpusat kepada apa yang akan dipelajari. Sedangkan
menutup pelajaran adalah kegiatan pelatih dalam mengakhiri inti pelajaran, yaitu memberikan
gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari peserta, mengetahui peserta, dan
tingkat keberhasilan pelatih dalam proses pelatihan. Kegiatan membuka dan menutup pelajaran
mempunyai tujuan:

1. Menarik perhatian dan memotivasi dalam pengerjaan tugas yang dihadapi.


2. Memungkinkan peserta mengetahui batas tugas yang akan dikerjakan.
3. Peserta dapat mengetahui pendekatan yang akan digunakan.
4. Memungkinkan peserta mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang
dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari.
5. Memberi kemungkinan peserta untuk menggabungkan fakta, keterampilan, dan konsep-
konsep yang tercakup dalam suatu peristiwa.
6. Memungkinkan peserta mengetahui tingkat keberhasilannya.

Komponen Keterampilan Dasar Membuka Pelajaran

Membuka pelajaran dapat dilakukan dengan:

1. Menarik perhatian peserta.

Beberapa cara yang dapat digunakan pelatih untuk menarik perhatian peserta, antara
lain:

1. Menggunakan variasi gaya melatih dan pola interaksi.


2. Penggunaan alat-alat bantu melatih.
2. Memotivasi.

Menimbulkan motivasi dapat dikerjakan dengan cara antara lain:

1. Menunjukkan kehangatan dan keantusiasan.


2. Menimbulkan rasa ingin tahu.
3. Mengemukakan ide-ide yang bertentangan.
4. Memperhatikan minat peserta.
3. Memberikan acuan

Memberikan acuan merupakan usaha memberikan gambaran yang jelas mengenai hal
yang akan dipelajari dengan cara memasukkan secara spesifik dan singkat serangkaian
alternatif yang relevan, dengan cara:

1. Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas.


2. Menyarangkan langkah-langkah yang akan dilakukan, mengingatkan masalah
pokok yang akan dibahas.
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
4. Membuat kaitan.

Beberapa usaha pelatih dalam membuat kaitan antara lain:

1. Membuat kaitan antara aspek-aspek yang relevan dari materi pelatihan yang
dikenal peserta.
2. Pelatih membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang telah diketahui.
3. Menjelaskan konsepnya terlebih dahulu baru kemudian uraian secara rinci.

Komponen Keterampilan Dasar Menutup Pelajaran

Menutup pelajaran dimaksudkan untuk memperoleh gambaran utuh pada akhir kegiatan, dan
untuk mengetahui tingkat pencapaian peserta atau tingkat keberhasilan peserta. Ada beberapa
cara yang dapat dilakukan pelatih dalam menutup pelajaran, antara lain:

1. Meninjau kembali penguasan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan
membuat ringkasan.
2. Mengevaluasi dengan berbagai bentuk evaluasi, misalnya:
1. Mendemontrasikan keterampilan.
2. Meminta peserta mengaplikasikan ide baru dalam situasi lain.
3. Mengeksplorasikan pendapat peserta sendiri.
4. Memberikan soal-soal tertulis.

Prinsip-prinsip Penggunaannya

Berapa prinsip yang perlu dipertimbangkan oleh pelatih dalam membuka dan menutup pelajaran
adalah:

1. Kebermaknaan
2. Untuk menarik perhatian atau motivasi peserta, pelatih harus memilih cara yang relevan
dengan isi dan tujuan pelajaran.
3. Berurutan dan berkesinambungan.
4. Aktivitas yang ditempuh pelatih dalam mengenalkan dan merangkum pokok-pokok
pelajaran hendaknya merupakan bagian yang utuh, kaitan antara bagian yang satu
dengan bagian yang lain atau dengan pengalaman peserta harus jelas.

b. Keterampilan Dasar Menjelaskan

Pengertian

Menjelaskan/menerangkan adalah menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara


sismatik untuk menunjukan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Penekanan
memberikan penjelasan ialah proses penalaran peserta dan bukan indoktrinasi. Contohnya:
memberikan gambaran tentang suatu keadaan, mengungkapkan sebab-sebab suatu kejadian dan
sebagainya. Keberhasilan menerangkan ditandai oleh terbentuknya pengertian peserta terhadap
suatu hal. Struktur bahan pengajaran dalam rangka menerangkan biasanya direncanakan
sedemikian rupa agar dapat dikendalikan. Keterangan logika, keterampilan mengungkapkan
bahan dan strategi penyusunan bahan merupakan prosedur utama untuk menerangkan.
Menjelaskan tidak terlupa dari usaha mengadakan hubungan antara hal yang sudah diketahui
dan yang belum diketahui. Penjelasan yang lengkap selalu disertai bukti dan sebab akibatnya
yang didasarkan pada hubungan logis antara generalisasi, ketentuan-ketentuan, kenyataan-
kenyataan sesuai dengan sistem persepsi peserta. Tujuan keterampilan menjelaskan adalah:

Tujuan keterampilan menjelaskan adalah:

1. Memberikan pengertian kepada orang lain.


2. Membuat peserta berfikir secara logis dan sistematis.
3. Melatih peserta berfikir berdasarkan sebab-sebab dan alasan-alasan.
4. Melatih peserta mandiri di dalam mengambil keputusan.
5. Menanamkan sikap yakni bahwa cara berfikir benar.
6. Menuntun peserta kepada pengertian yang jelas dalam memecahkan pertanyaan: “Apa”
“Mengapa” dan “Bagaimana”.
7. Melibatkan peserta dalam berfikir memecahkan masalah.
8. Untuk memperoleh umpan balik dari peserta berdasarkan tingkat pengertiannya.
9. Membantu peserta menggunakan proses penularan dan bukti-bukti dalam memecahkan
masalah.

Komponen keterampilan dasar menjelaskan

Dalam merencanakan komponen keterampilan menjelaskan meliputi :

1. Merencanakan penjelasan

Merencanakan penjelasan perlu diperhatikan isi pesan yang akan disampaikan dan
kesiapan penerima pesan. Yang berhubungan dengan isi pesan (materi), mencakup :

1. Menganalisis masalah secara keseluruhan.


2. Menentukan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan.
3. Menggunakan hukum, rumus, atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan
yang telah ditentukan.
Yang berhubungan dengan penerima pesan (peserta), perlu diperhatikan adalah kepada
siapa penjelasan itu akan disajikan, misalnya usia, jenis kelamin, kemampuan, latar
belakang sosial, dan lingkungan belajar peserta. Sehingga yang perlu dipertimbangkan
sehubungan dengan penerima pesan ini adalah :

4. Penjelasan harus cukup relevan dengan permasalahan peserta


5. Penjelasan harus mudah diterima oleh peserta.
6. Penjelasan harus cocok dengan khazanah pengetahuan peserta pada saatnya.
2. Menyajikan penjelasan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyajikan suatu penjelasan adalah:

1. Kejelasan, yang dapat dicapai dengan :


 Bahasa yang diucapkan harus jelas kata-katanya, ungkapannya, maupun
suaranya.
 Pembicaraan harus lancar dengan menghindari kata-kata yang tidak perlu,
misalnya “ee”, “aa”, dan lain sebagainya.
 Kalimat disusun dengan tata bahasa yang baik dengan menghindari
kalimat yang tidak lengkap.
 Istilah-istilah teknis atau istilah baru harus didefinisikan dengan jelas.
 Menggunakan waktu diam sejenak (senyap) untuk melihat apakah yang
dijelaskan itu telah dimengerti oleh siswa.
2. Menggunakan contoh dan ilustrasi, meliputi penggunaan
 Induktif : Contoh/ilustrasi konsep/generalisasi.
 Deduktif: Konsep/generalisasi contoh/ilustrasi
3. Memberikan penekanan, meliputi penggunaan variasi suara, mimik, gerak,
ikhtisar, pengulangan, memberi tanda dan sebagainya.
4. Hal tersebut untuk menunjukan bagian yang penting yang perlu mendapat
perhatian dari pada orang lain.
5. Pengorganisasian, meliputi membuat hubungan antara contoh dan generalisasi
yang jelas serta memberikan ikhtisar selama atau pada akhir sajian.
6. Umpan balik, meliputinya adanya perubahan tingkah laku peserta dan
memberikan kesempatan kepada peserta untuk menjawab pertanyaan pelatih
serta mengajukan pendapat apakah penjelasan yang diberikan oleh pelatih
memberikan manfaat bagi peserta.

Keterampilan Dasar Bertanya

Pengertian dan Tujuan

Bertanya dapat diartikan sebagai ucapan yang disampaikan dengan maksud meminta respon dari
orang lain. Dalam proses pengajaran respon yang diberikan mencerminkan sampai dimana
tingkat pengetahuan peserta. Jadi bertanya dalam pembelajaran penting karena tingkat
kemampuan pelatih dalam mengajukan pertanyaan yang efektif akan merupakan stimulus yang
akan merangsang dan akan mendorong kemampuan berpikir peserta.

Tujuan bertanya antara lain :

1. Merangsang kemampuan berpikir peserta.


2. Membantu peserta dalam belajar.
3. Mengarahkan peserta pada tingkat interaksi belajar yang mandiri.
4. Meningkatkan komponen berfikir peserta dari komponen berfikir tingkat rendah ke
tingkat yang lebih tinggi.
5. Membantu peserta dalam mencapai tujuan pelajaran yang disampaikan.

Komponen Keterampilan Dasar Bertanya

1. Keterampilan tingkat dasar

Komponen yang termasuk dalam keterampilan dasar bertanya meliputi:

1. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat.


2. Perincian dalam, supaya peserta dapat menjawab dengan tepat, dalam
mengajukan pertanyaan pelatih perlu memberikan informasi-informasi yang
menjadikan contoh pertanyaan.
3. Pemusatan ke arah jawaban yang diterima
4. Pemusatan dapat dikerjakan dengan cara: memberikan pertanyaan yang luas
(terbuka) yang kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan yang sempit.
5. Pemindahan giliran menjawab.
6. Pemindahan giliran menjawab dapat dikerjakan dengan cara meminta peserta
yang berbeda untuk menjawab yang sama.
7. Penyebaran pertanyaan

Untuk maksud tertentu pelatih dapat melemparkan pertanyaan ke seluruh kelas, ke


peserta tertentu atau menyebarkan peserta ke peserta yang lain.

8. Pemberian waktu berfikir

Dalam mengajukan pertanyaan pelatih harus berdiam diri sesaat sebelum


menunjukkan peserta merespon pertanyaannya.

9. Pemberian tuntunan

Bagi peserta yang mengalami kesukaran dalam menjawab pertanyaan strategi


pemberian tuntunan perlu dikerjakan. Strategi itu meliputi pengungkapan
pertanyaan dengan bentuk atau cara yang lain, mengajukan pertanyaan lain yang
lebih sederhana, dan mengulangi penjelasan-penjelasan sebelumnya.

2. Keterampilan Tingkat Lanjutan, ditambahkan komponen:


1. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan.
2. Untuk mengembangkan kemampuan berfikir peserta diperlukan pengubahan
tuntunan tingkat kognitif pertanyaan (ingat, pemahaman, penerapan, analisis
sistetis, dan evaluasi)
3. Pengaturan urutan pertanyaan.
4. Pertanyaan yang diajukan haruslah mempunyai urutan yang logis.
5. Penggunaan pertanyaan pelacak.
6. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta yang berkaitan dengan
jawaban yang dikemukakan, keterampilan melacak perlu dipunyai oleh pelatih.
Melacak dapat dikerjakan dengan meminta peserta untuk memberikan
penjelasan tentang jawabannya, memberikan alasan, memberikan contoh yang
relevan, dan sebagainya.
7. Keterampilan mendorong terjadinya interaksi antar peserta.

d. Keterampilan Dasar Memberi Penguatan

Pengertian dan Tujuan

Penguatan ada dua macam, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif
adalah tingkah laku pelatih dalam merespons secara positif suatu tingkah laku tertentu dari
peserta yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali. Sedangkan penguatan negatif
adalah pengurangan hingga penghilangan suatu stimulus yang tidak menyenangkan untuk
mendorong terulang kembali suatu tingkah laku yang timbul yang sebagai akibat dari
pengurangan atau penghilangan tersebut.

Tujuan penguatan adalah:

1. Meningkatkan perhatian peserta.


2. Melancarkan/memudahkan proses pembelajaran.
3. Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
4. Mengontrol atau mengubah sikap dan tingkah laku yang mengganggu.
5. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar.
6. Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik/divergen dan inisiatif pribadi.

Pemberian penguatan diberikan pada saat:

1. Perhatian pada pelatih, kawan, atau objek diskusi.


2. Tingkah laku belajar, membaca, pekerjaan di papan tulis.
3. Penyelesaian hasil pekerjaan
4. Kualitas pekerjaan/tugas (kerapian, keindahan)
5. Perbaikan/penyempurnaan tugas.
6. Tugas-tugas mandiri

Komponen Keterampilan Dasar Penguatan

Penggunaan komponen keterampilan dalam kelas harus bersifat selektif berhati-hati, disesuaikan
dengan usia peserta, tingkat kemampuan, kebutuhan serta latar belakang, tujuan dan sifat tugas.
Pemberian penguatan harus bermakna dari peserta.

Beberapa komponen keterampilan memberi penguatan adalah:

1. Penguatan Positif
1. Penguatan verbal

Penguatan verbal dapat berupa kata-kata kalimat yang diucapkan guru. Contoh,
“baik”, “bagus”, “tepat”, “saya sangat menghargai pendapatan”, “pikiranmu
sangat cerdas”, dan lain-lain.

2. Penguatan gestural

Penguatan ini diberikan dalam bentuk mimik, gerakan wajah atau anggota badan
yang dapat memberikan kesan kepada siswa. Misal : Mengangkat alis, tersenyum,
kerlingan mata, tepuk tangan, anggukan tanda setuju, menaikkan ibu jari tanda
“jempolan”, dan lain-lain.

3. Penguatan dengan cara mendekati

Penguatan ini dikerjakan dengan cara mendekati siswa untuk menyatakan


perhatian pelatih terhadap pekerjaan, tingkah laku atau penampilan peserta.
Misalnya: pelatih duduk dalam kelompok, berdiri disamping peserta. Seringkali
pelatih mendekati peserta diberikan untuk memperkuat pengetahuan yang
bersifat verbal.

4. Penguatan dengan sentuhan

Pelatih dapat menyatakan penghargaan kepada peserta dengan menepuk pundak


peserta, menjabat tangan peserta atau mengangkat tangan peserta.

5. Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan

Penguatan ini dapat berupa meminta peserta membantu temannya bila dia
selesai mengerjakan pekerjaan terlebih dahulu dengan tepat, peserta diminta
memimpin kegiatan dan lain-lain.

6. Penguatan berupa tanda atau benda

Penguatan bentuk ini merupakan usaha pelatih dalam menggunakan bermacam-


macam simbol penguatan untuk menunjang tingkah laku peserta yang positif.
Bentuk penguatan ini antara lain: komentar tertulis dalam buku pekerjaan,
pemberian prangko, data uang koleksi, bintang, persen dan sebagainya.

2. Penguatan negatif

Cara yang dilakukan dalam penguatan negatif sama dengan pemberian penguatan positif,
hanya saja yang dilakukan yang tidak menyenangkan bagi peserta supaya dapat
mengurangi atau menghilangkan tindakan peserta.

Cara menggunakan komponen:

1. Bervariasi
2. Pemberian penguatan lebih baik diberikan secara langsung dan segera.
3. Untuk keperluan tertentu penggunaan penguatan tidak pernah dapat diberikan. Misalnya
kepada peserta yang menjawab salah, penguatan diberikan pada usaha peserta dalam
menjawab dan bukan pada kualitas jawaban. Perbuatan pelatih ini segera dilanjutkan
dengan meminta peserta pertama untuk menirukan jawaban atau memberikan
pertimbangan kepada jawaban temannya.
4. Memberikan penguatan merupakan tingkah laku yang mudah untuk diucapkan dan sukar
dilakukan. Oleh karena itu, latihan-latihan yang intensif dikerjakan oleh calon pelatih.

e. Keterampilan Dasar Menggunakan Variasi

Pengertian dan Tujuan

Menggunakan variasi diartikan sebagai perbuatan pelatih dalam konteks proses pelatihan yang
bertujuan mengatasi kebosanan peserta, dalam mengikuti pelatihan, sehingga dalam proses
belajarnya peserta senantiasa menunjukan ketekunan, keantusiaan serta berperan secara aktif.

Kegunaan dalam kelas untuk:

1. Memelihara dan meningkatkan peserta terhadap hal-hal yang berkaitan dengan aspek
belajar.
2. Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi rasa ingin tahu melalui kegiatan
investigasi dan eksplorasi.
3. Membentuk sikap positif terhadap pelatih.
4. Kemungkinan dilayaninya peserta secara individual sehingga memberi kemudahann
belajar.
5. Mendorong aktivitas belajar yang melibatkan peserta dalam berbagai kegiatan. Belajar,
menarik dan berguna dalam berbagai tingkat kognitif.

Komponen keterampilan mengadakan variasi

1. Variasi dalam gaya mengajar pelatih.

Variasi gaya mengajar pelatih meliputi komponen-komponen:

1. Variasi suara: keras lemah, cepat lambat, tinggi rendah, besar kecil.
2. Pemusatan perhatian. Pemusatan perhatian dapat dikerjakan secara verbal,
isyarat atau dengan menggunakan modal.
3. Kesenyapan. Pada saat pelatih menerangkan seringkali diperhatikan kegiatan
berhenti sejenak secara tiba-tiba.
4. Ada kalanya diam sejenak diperlukan apabila pelatih akan berpindah dari segman
mengajar ke segman mengajar yang lain.
5. Kontak Pandang. Untuk meningkatkan hubungan dengan siswa dan menghindari
hal-hal yang bersifat impersonal, maka kontak pandang perlu dikerjakan selama
proses pengajaran
6. Gerakan badan dan lirik: Perubahan ekspersi wajah, gerakan kepala, badan,
sangat penting dalam proses komunikasi
7. Perubahan posisi pelatih. Perhatian peserta dapat ditingkatkan melalui perubahan
posisi pelatih dalam proses interaksi komunikasi.
2. Variasi penggunaan media dan bahan pengajaran.

Variasi di dalam setiap jenis media atau variasi antara jenis media perlu diperhatikan
dalam proses belajar mengajar.

3. Variasi pola interaksi dan kegiatan peserta.

Rentangan interaksi dapat bergerak diantara dua kutup yang ekstrim yakni pelatih
sebagai pusat kegiatan dan peserta sebagai pusat kegiatan. Perubahan interaksi diantara
kedua kutup tadi akan berakibat pada pola kegiatan yang dialami peserta. Dari uraian
tersebut di atas, jelas bahwa keterampilan menggunakan variasi bersifat lebih luas jika
dibandingkan dengan keterampilan memberi penguatan dan keterampilan bertanya.

Prinsip-prinsip yang perlu dipahami

Prinsip-prinsip yang perlu alami penggunaan variasi antara lain:

1. Perubahan yang digunakan harus lancar dan tepat.


2. Pengguanaan teknik variasi harus lancar dan tepat.
3. Penggunaan komponen-komponen variasi harus benar-benar terstuktur dan
direncanakan sebelumnya.
4. Penggunaan komponen variasi harus fleksibel dan spontan berdasarkan feedback peserta

f. Keterampilan Mengelola Kelas

Pengertian

Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan pengelolaan pelatihan dapat
berlangsung secara optimal. Hal ini berbeda dengan pengelolaan pembelajaran, yaitu kegiatan
mengajar itu sendiri yang melibatkan secara lansung komponen materi, metode, dan alat bantu
mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.

Contoh masalah pengelolaan pembelajaran misalnya tujuan pembelajaran tidak jelas, materi
pelajaran terlalu mudah atau terlalu sulit, media atau metode pembelajaran tidak sesuai, urutan
materi tidak sistematis, penilaian tidak jelas, dan lain sebagainya. Sedangkan contoh masalah
pengelolaan kelas adalah peserta mengantuk, peserta ramai, peserta tidak mengerjakan tugas,
peserta senang mengganggu teman, kursi banyak yang rusak, ruang kelas kotor, dan masih
banyak contoh lain.

Mengelole kelas merupakan fungsi pelatih sebagai manajer. Manajemen artinya sebagai
penyelenggaraan atau pengurusan supaya yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif,
dan efesien. Sehingga dalam hal ini fungsi pelatih sebagai manajer adalah sebagai pengorganisasi
atau pengelola. Sedangkan tujuan mengelola kelas adalah: (1) ntuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal, (2) mengembalikan bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar.

Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas

Macam-macam pendekatan pengelolaan kelas adalah :

1. Pendekatan perubahan tingkah laku.


2. Pendekatan iklim sosial.
3. Pendekatan kelompok.

Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku

Pendekatan pengubahan perilaku bertolak dari psikologi tingkah laku dengan anggapan dasar
bahwa tingkah laku manusia yang baik maupun yang buruk, dalam batas tertentu merupakan
hasil belajar. Dengan demikian maka tingkah laku manusia tersebut dapat dimodifikasi.

Modifikasi tersebut antara lain menggunakan teknik penguatan positif, penguatan negatif,
penghapusan, dan hukuman. Penguatan positif adalah respons terhadap suatu tingkah laku, yang
dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali tingkah laku tersebut. Penguatan negatif
adalah pengurangan hingga penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan untuk mendorong
terulang kembali suatu tingkah laku yang timbul sebagai akibat dari pengurangan atau
penghilangan tersebut.

Prinsip penggunaan:

1. Menghindari pemberian stimulus yang menyakitkan.


2. Sasaran jelas
3. Pemberian penguatan dengan segera.
4. Menyajikan stimulus dengan bervariasi.
5. Rasa antusias
6. Dikombinasikan dengan teknik lain.

Pendekatan Iklim Sosial (Iklim Sosial-Emosional)

Pendekatan iklim sosial-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling, dengan anggapan
dasar bahwa kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien apabila ada hubungan sosial-
emosional yang baik antara pelatih dengan peserta dan peserta dengan peserta. Hal tersebut
dapat diupayakan pelatih dengan cara:
1. Sikap terbuka.
2. Sikap menerima dan menghargai peserta
3. Sikap empati
4. Sikap membicarakan situasi pelanggaran dan pelaku pelanggaran.
5. Sikap demokratis

Pendekatan Proses Kelompok

Pendekatan proses kelompok bertolak dari psikologi sosial dan dinamika kelompok, dengan
anggapan dasar bahwa kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien berlangsung dalam
konteks kelompok, yaitu kelompok kelas. Untuk itu tugas pelatih disini adalah menciptakan
kelompok kelas yang mempunyai ikatan yang kuat serta dapat bekerja secara efektif dan efisien.

Untuk menciptakan suasana ikatan kelompok yang baik perlu adanya pembentukan tujuan yang
sama dalam kelompok, aturan yang jelas untuk mengikat peserta menjadi kelompok, dan
kepemimpinan pelatih dalam kelompok. Dan untuk memelihara suasana kerja kelompok yang
sehat pelatih perlu melakukan misalnya:

1. Mendorong dan memeratakan partisipasi


2. Mengusahakan kompromi.
3. Mengurangi ketegangan.
4. Memperjelas komunikasi.
5. Mengatasi pertentangan antar pribadi atau kelompok.
6. Menunjukkan bahwa kehadiran peserta adalah fisik dan psikis.
7. Menerangkan sangsi.

Daftar Bacaan
Arend, Ricard. 1997. Classroom Instructional Management. New York: The Mc

Graw-Hill Company.

Brent D. Ruben dan Lea P. Stewart.* 2013. Komunikasi dan Perilaku Manusia
(Edisi Kelima), terjemahan Ibnu Hamad. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Bahri Syaeful dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :

Rineka Cipta.

Budimansyah, D. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio.

Bandung: Genesindo.

Joyce, B. and Weil, M. (1980) Models of Teaching. Englewood Cliffs, New

Jersey: Prentice-Hall Inc.

Sanjaya Wina. 2007. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Thomas M. Sheidel. 1976. Speech Communication and Human Interaction. 2nd

Edition. Glenville, III. Scott, Foresman & Co.

1. Pengertian komunikasi

Pembangunan, termasuk pembangunan disektor kesehatan tidak akan berjalan dengan baik dan
efektif tanpa adanya proses komunikasi. Komunikasi disektor kesehatan bukan saja diperlukan
untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat agar berpartisipasi dalam pembangunan
kesehatan, tetapi juga diperlukan untuk memperoleh dukungan politik dan kebijaksanaan dari
para pejabat penyelenggara negara/pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, dan para
pejabat lintas sektor yang lain.

Ilmu komunikasi merupakan cakupan ilmu sosial yang bersifat multisipliner. Istilah komunikasi
dalam bahasa inggirs “communication” berasal dari “Communicatus” dalam bahasa latin yang
artinya “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan kata lain menurut Iexicographer (ahli
kamus bahasa) menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai
kebersamaan atau kesepakatan.

Secara teoritis pengertian konsep komunikasi dapat dijelaskan berdasarkan bentuk-bentuk


pengertian berikut.

1. a. Pengertian etimologis

Komununikasi berasal dari bahasa latin : “Communication” yang bermakna pemberitahuan,


pertukaran pikiran atau partisipasi. “communicare”, yang berarti : mengumumkan, bertukar
pikiran, informasi dan perasaan atau menciptakan hubungan yang baik. Sedangkan kata
“communis” berarti : bersifat umum, milik bersama, atau berlaku di mana-mana.

1. b. Pengertian terminologis

Pengertian ini menekankan pada proses. Jadi, kominikasi berarti proses penyampaian pesan dari
seseorang kepada orang lain.

1. c. Pengertian paradigmatis

Pengertian ini mkenekankan pada tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam menyampaikan pesan
dapat dilakukan dengan berbagai cara : lisan, tulisan tatap muka, melalui media massa (surat
kabar, majalah, televisi, radio, film, dan internet) atau media non massa (surat, telepon, dan
sebagainya). Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain
untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat atau perilaku, secara langsung atau tidak
langsung.

Lebih rinci Frank E. X. Dance (1976) dalam bukunya “Human Communication Theory”
menginventarisasi defenisi komunikasi dari beberapa ahli, antara lain : Defenisi komunikasi dari
Hovland, janis dan Kelley (1953) bahwa : Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang
(komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan
mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak)
Menurut Harold. D. Laswell (1960) bahwa :

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa, mengatakan apa,
dengan saluran apa, kepada siapa dan dengan akibat atau hasil apa”. (Who ? sayas what ? in
which channel : to Whom ? With What effect?.

Secara khusus komunikasi kesehatan masuk dalam lingkup komunikasi manusia (Human
Communication). Secara khusus komunikasi kesehatan secara spesifik memfokuskan pada
transaksi kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi transaksi tersebut. Menurut
pettegrew (1982) terjadi antara para ahli kesehatan dan antara para ahli kesehatan dengan klien
(pasien), khususnya dalam hal-hal komunikasi kesehatan. Transaksi ini dapat berbentuk verbal
atau nonverbal, lisan atau tulisan, personal atau in terpersonal, dan isu-isu yang berorientasi
pada hubungan.

Tingkat komunikasi kesehatan dapat mencakup semua unsur-unsur level atau tingkat komunikasi
antara lain :

1. Komunikasi interpersonal, meliputi interaksi langsung antara para ahli kesehatan dengan
para pasien. Disiplin ilmu komunikasi kesehatan yang berada pada area ini adalah
psikologi kesehatan, sosiologi pengobatan, komunikasi biomedik, perilaku pengobatan,
perilaku kesehatan, dan komunikasi medical.
2. Komunikasi kelompok kecil, meliputi pertemuan, laporan staf, dan interaksi tim-tim
keseahatan
3. Komunikasi organisasi, meliputi administrasi rumah sakit, hubungan dengan staf, iklim
komunikasi organisasi.
4. Komunikasi publik, meliputi presentasi, pidato.
5. Komunikasi massa, meliputi cakupan dalam level nasional dan program-program
kesehatan dunia, promosi kesehastan dan perencanaan kesehatan masyarakat.

Pada dasarnya komunikasi berlangsung dalam suatu proses yang merupakan urutan atau
rangkaian kegiatan tindakan atau peristiwa dari beberapa komponen untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Dengan demikian komunikais memiliki karakter yang dinamis, interaktif,
transaksional, berlangsung dalam konteks fisik, konteks sosial dan sebagainya.

1. b. Pengertian informasi

Informasi adalah pesan yang disampaikan seseorang komunikator kepada komunikan. Menurut
Rakhmat (1986), proses informasi meliputi empat tahap, yakni tahap sensasi, persepsi, memori
dan berpikir. Tahap sensasi merupakan tahap yang paling awal dalam penerimaan informasi
melalui alat indera, sehinnga individu dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Selanjutnya
individu mepersepsikan objek, peristiwa, atau pun hubungan-hubungan yang diperoleh,
kemudian menyimpulkan atau menafsirkan informasi tersebut. Sensasi yang telah dipersepsikan
oleh individu direkam oleh memori.

Memori berperan penting dalam mempengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Dengan memori
inilah informasi dapat direkam, disimpan, dan kemudian digunakan kembali, jika diperlukan.
Tahap terakhir proses pengolahan informasi adlah berpikir, yang mempengaruhi penafsiran
individu terhadap stimuli. Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil
keputusan, memecahkan persoalan, dan menghjasilkan pengetahuan baru. Proses pengolahan
informasi ini akan dapat menimbulkan suatu perubahan pada sikap atau tindakan individu.

Menurut Aristoteles (dalam fisher, 1986), (dalam Tina Afianti, 2007), informasi dapat digunakan
sebagai alat persuasi. Informasi dapat digunakan untuk mebujuk dan mempengaruhi perilaku
manusia, atau untuk mengubah perilaku manusia, sesuai yang diinginkan pemberi informasi.
Melalui informasi individu mendapatkan pengetahuan.

Dalam pendekatan konstruktivisme, menurut Edgen dan kauchack (1997), dalam (Afiatin, 2007),
pengetahuan adalah hasil konstruksi individual dalam terhadap realitas. pemahaman individu
tentang realitas, atau pengetahuan, atau pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi
pengalaman aktifnya sendiri dari pada presentasi orang lain. Individu menggunakan pengalaman
mereka secara aktif untuk membangun pengertian yang bermakna bagi mereka. Pengetahuan
dibangun melalui kreasi yang terus menerus, individu aktif memformulasikan hipotesis baru
ketika terjadi perbedaan antara pengetahuan yang dimiliki dengan observasi baru. Pengetahuan
dibangun melalui pengalaman langsung, interaksi guru dengan murid, serta antara murid yang
satu dengan murid yang lainnya.

Peningkatan pengetahuan terhadap penyalahgunaan Napza dapat mempengaruhi sikap individu,


dan selanjutnya hal ini juga akan mempengaruhi perilakunya. Blom (1964) dalam (Tina Afiatin,
2007), menyebutkan bahwa eratnya hubungan antara pengetahuan dan pembentukan sikap
telah banyak dibuktikan lewat berbagai penelitian. Sejak adanya kesediaan untuk menerima,
memberikan perhatian membedakan nilai dan arti serta mengorganisasikan informasi mulai
berlangsung pada diri seseorang. Proses ini penting sebagai dasar dalam meyakini informasi
untuk dipertimbangkan dalam menyikapi permasalahan.

Peningkatan kesadaran dan pengetahuan tentang Napza/Narkoba dilakukan melalui program


yang mendasarkan pada informasi (Olson, dkk., 1992), (dalam Tina Afiatin, 2007). Asumsi yang
mendasari program ini adalah bahwa dengan meberikan kesadaran dan pengetahuan remaja
tentang bahaya penyalahgunaan Napza, maka pilihan penolakan terhadap penyalahgunaan
Napza benar-benar diyakini.

Hasil penelitian Horan dan Horrison (dalam Oson dkk., 1992) menunjukan bahwa individu yang
mendapatkan program yang mendasar pada pemberian informasi memiliki tingkat pengetahuan
tentang penyalahgunaan Napza lebih baik dari pada individu yang tidak mendapatkan program.
Informasi mempunyai peranan dan dampak besar dalam kehidupan seseorang. Informasi dapat
digunakan untyuk mengubah perilaku seseorang sesuia dengan apa yang diinginkan oleh
pemberi informasi.

Melalui informasi dapat mengarahkan seseorang pada perilaku pencapaian tujuan seperti yang
diinginkan seseorang. Selain itu informasi dapat pula membantu seseorang dalam mengatasi
sejumlah masalah yang dihadapi, dan membuat seseorang lebih siap menghadapi situasi yang
belum dikenal (fisher, 1986). Informasi-informasi yang telah diterima oleh individu selanjutnya
akan membentuk pengetahuan yang dimilki seseorang.
Dengan memberikan informasi tentang cara mencapai hidup sehat, cara – cara mencapai hidup
sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Selanjutnya dengan pengetahuan
– pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang
berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau perubahan perilaku
dengan cara ini memakan waktu lama, tetapi perubahan yang dicapai akan akan bersifat
langgeng karena didasari oleh kesadaran mereka sendiri (bukan karena paksaan).

Dengan memberikan informasi tentang cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan
kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang hal tersebut. Selanjutnya dengan pengetahuan – pengetahuan itu akan
menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai
dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau perubahan perilaku dengan cara ini
memakan waktu yang cukup lama, tetapi perubahan yang dicapai akan akan bersifat langgeng
karena didasari oleh kesadaran mereka sendiri (bukan karena paksaan).

1. C. Pengertian Edukasi Kesehatan

Menurut Ross (1998) dalam (Afiatin, 2007), pendidikan yang berusaha mengubah pengetahuan,
sikap dan perilaku, lebih penting dibandingkan hanya sekedar memberikan informasi tanpa
disertai usaha pembentukan sikap dan perubahan perilaku nyata. Haloran (1970) menyatakan
bahwa interaksi dengan tatap muka langsung antara pihak penerima pesan dean pihak
penyampai pesan merupakan intervensi dua arah yang lebih memungkinka untuk menghasilkan
perubahan. Dengan demikian peningkatan pengetahuan yang bertujuan untuk mengubah sikap
akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara tatap muka langsung.

Upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasi,
bujukan, himbauan, ajakan, memberikan iformasi, meberikan kesadarn, dan sebagainya, melalui
kegiatan yang disebut pendidikan atau penyuluhan kesehatan. Memang dampak yang timbul dari
cara ini trhadap perubahan perilaku masyarakat memakan waktu yang lama, dibanding dengan
cara koersi. Namun demikian bila perilaku tersebut berhasil diadopsi masyarakat, maka akan
langgeng, bahkan selama hidup dilakukan.

Dalam rangka pembinaan dan peningkatan perilaku kesehatan masyarakat, tampaknya


pendekatan edukasi (pendidikan kesehatan) lebih tepat dibandingkan dengan pendekatan
koersi. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan adaalah suatu bentuk intervensi atau
upaya yang ditujukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut kondusif untuk kesehatan. Dengan
perkataan lain pendidikan kesehatan mengupayakan perilaku individu, kelompok, atau
masyarakat mempunyai pengaruh positf terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

Iklan

Share this: