Anda di halaman 1dari 5

TUGAS SISTEM TRANSPORTASI MAKRO

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN TRANSPORTASI DI KAWASAN SARBAGITA BERDASARKAN TEORI MANHEIM

TRANSPORTASI DI KAWASAN SARBAGITA BERDASARKAN TEORI MANHEIM Ayu Agung Mas Permatasari 1981511012 PROGRAM STUDI MAGISTER

Ayu Agung Mas Permatasari

1981511012

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

2019

Judul Tulisan :

Identifikasi Permasalahan Transportasi Di Kawasan Sarbagita Berdasarkan Teori Maenheim.

Pembahasan :

Transportasi merupakan suatu hal mutlak yang diperlukan terutama pada daerah yang sedang berkembang. Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Dengan adanya transportasi, akan mempermudah pergerakan manusia maupun barang untuk mencapai suatu tujuan. Namun, kondisi saat ini permasalahan transportasi menjadi topik utama daerah Bali seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, perekonomian serta sentral-sentral kegiatan yang berpusat pada perkotaan. Terjadinya pertumbuhan pusat-pusat kegiatan yang terfokus pada pusat kota menimbulkan bangkitan pergerakan. Bangkitan pergerakan (Trip Generation) di Provinsi Bali terpusat di Bali Selatan. Kota Denpasar telah berkembang ke arah luar dan membentuk aglomerasi dengan kabupaten disekitarnya yaitu Badung, Tabanan dan Gianyar membentuk Kota Metropolitan Sarbagita. Permasalahan transportasi semakin kompleks, kemacetan yang sudah cukup parah diperkirakan akan semakin parah di masa mendatang. Mengingat pentingnya peranan transportasi khususnya bagi daerah Bali yang merupakan daerah tujuan wisata dunia, tentunya diperlukan penanganan yang tepat bagi permasalahan-permasalahan yang ada. Sebagai langkah awal untuk mencapai solusi yang tepat dalam penanganan permasalahan transportasi, diperlukan identifikasi permasalahan transportasi dikawasan Sarbagita. Menurut Manheim (1979), sistem transportasi merupakan kesatuan atas elemen- elemen prasarana fisik, sarana angkutan, sistem operasi dan sistem manajemen yang saling berinteraksi dalam mencapai terciptanya perpindahan objek fisik (manusia dan barang) dari suatu tempat asal ke tempat tujuan. Keterkaitan transportasi dan system aktivitas dapat didefinisikan ke dalam 3 variabel yaitu system transportasi (T), Sistem Aktivitas/kegiatan (F) dan pola arus /flow (F) dapat ditunjukkan seperti bagan berikut ini:

SISTEM TRANSPORTASI (T) FLOW (F) SISTEM AKTIVITAS (A)
SISTEM TRANSPORTASI (T)
FLOW (F)
SISTEM AKTIVITAS (A)

Gambar 1 Hubungan Dasar Sistem Transportasi

Seperti kita ketahui, karena adanya proses pemenuhan kebutuhan maka akan timbul pergerakan lalu lintas. Kita perlu bergerak karena kebutuhan kita tidak bisa terpenuhi di tempat kita sekarang berada. Setiap tata guna lahan (sistem kegiatan) mempunyai jenis kegiatan tertentu yang akan membangkitkan dan menarik pergerakan dalam proses pemenuhan kebutuhan.

Identifikasi permasalahan di kawasan Metropolitan Sarbagita sesuai dengan penjelasan teori Manhem (1979) di atas adalah:

1. Sistem Transportasi (T) Menurut Manheim (1979) komponen utama dari transportasi hanya meliputi jalan dan terminal, kendaraan, dan sistem pengelolaan. Ketiga komponen di atas merupakan komponen sarana dan prasarana transportasi yang saling terkait dalam memenuhi permintaan akan transportasi. Sistem transportasi suatu wilayah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sistem aktivitas sosial dan ekonomi manusia (Manheim, 1979), dimana sistem transportasi dari waktu ke waktu akan berkembang sejalan dengan perkembangan dan perubahan sistem aktivitas sosial dan ekonomi manusia. Pada kondisi saat ini, kapasitas jaringan jalan sudah mulai terlampaui dan antrian panjang merupakan pemandangan sehari-hari pada ke-empat koridor jalan utama tersebut. Pembangunan jaringan jalan baru yaitu Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa yang

berada diatas perairan tentunya akan semakin mempermudah pergerakan arus lalu lintas pada Kawasan Sarbagita. Pembangunan infratruktur transportasi untuk mengimbangi laju pertumbuhan arus lalu lintas akan semakin meningkatkan arus lalu lintas menuju kawasan ini, sehingga menimbulkan dampak kemacetan baru. Permasalahan kemacetan tentunya akan berpengaruh terhadap prilaku pengemudi seperti tekanan perasaan maupun stress, kejenuhan dan menurunnya tingkat konsentrasi sehingga menimbulkan kecelakaan. Selain itu, meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi juga memperburuk kondisi lingkungan seperti polusi udara serta pemanasan global yang sedang kita rasakan saat ini.

2. Sistem Aktivitas (A) Sistem transportasi dan tata guna lahan memiliki keterkaitan, sehingga biasanya dianggap membentuk satu landuse transport system. Pola distribusi kegiatan guna lahan pada saat sekarang khususnya di Bali sangat tidak teratur diakibatkan banyaknya rencana kota yang diabaikan karena alasan ekonomi. Pemberian izin tata guna lahan yang baru akan menimbulkan tumbuhnya tujuan perjalanan yang signifikan karena pergerakan penduduk di dasari kebutuhan akan pekerjaan, tempat tinggal serta fasilitas. Denpasar adalah kota yang berkembang secara alami. Bukan kota yang terencana. Hampir semua pusat-pusat kegiatan berlokasi di Kota Denpasar. Pusat pemukiman menjadi sumber bangkitan perjalanan (trip generation). Pemukiman, seperti rumah-rumah penduduk asli, perumahan BTN, kompleks rumah dinas, rumah-rumah kost dan sebagainya, kesemuanya itu memproduksi perjalanan (trip production). Penduduk keluar rumah melakukan perjalanan menuju pusat-pusat kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dan keberlangsungan hidupnya. Sementara pusat-pusat kegiatan seperti

pemerintahan, pendidikan, bisnis, rekreasi dan lain-lainnya itu, menarik perjalanan (trip attraction). PNS atau karyawan swasta dari daerah Tabanan, Gianyar dan Badung melakukan perjalanan menuju kantornya, guru/dosen dan siswa ke sekolah atau ke kampus, yang beraada di daerah pusat Kota Denpasar. Demikian juga pasar, mall, taman kota, museum, tempat-tempat ibadah menarik perjalanan penduduk. Perjalanan menuju pusat-pusat kegiatan, tentu diikuti perjalanan sebaliknya menuju rumah masing-masing setelah selesai melaksanakan kegiatannya. Tata guna lahan seperti ini tentu saja membuat kuantitas perjalanan penduduk di dalam kota semakin banyak. Belum lagi jumlah perjalanan penduduk dari luar kota menuju ke pusat-pusat kegiatan yang berlokasi di Denpasar.

3. Arus (F) Pergerakan arus lalu lintas akan timbul karena adanya proses pemenuhan kebutuhan akan aktivitas. Setiap sistem aktivitas mempunyai jenis kegiatan tertentu yang akan membangkitkan pergerakan dan akan menarik pergerakan dalam proses pemenuhan kebutuhan. Peranan sistem transportasi serta sistem aktivitas mempengaruhi pola arus tujuan kegiatan. Keteraturan sistem transportasi di suatu wilayah dapat meningkatkan pola arus kegiatan manusia pada ruang tersebut. Pada kondisi saat ini beberapa segmen jalan hampir mengalami kepadatan volume lalu lintas akibat arus volume kendaraan yang melebihi kapasitas jalan pada hari dan jam-jam tertentu. Dapat dilihat pada sepanjang segmen Jalan Gatot Subroto Kota yang merupakan kawasaan jalan arteri primer dimana merupakan jalan lingkar Kota Denpasar yang dilalui arus lalu lintas nasional, regional, dan lokal. Segmen Jalan tersebut dilalui arus kendaraan dari Tabanan menuju Gianyar, Tabanan menuju pusat Kota, dan sebaliknya, disamping juga jalur kendaraan berat yang melintasi segmen jalan masih dalam satu jalur dengan kendaraan ringan dan sepeda motor yang menyebabkan rentan terjadi kecelakaan. Disamping itu pengembangan pusat perkantoran di Lumintang menimbulkan bangkitan dan menambah beban lalu lintas pada sepanjang ruas jalan tersebut sehingga secara tidak langsung terjadi ketidakseimbangan supply dan demand.

DAFTAR PUSTAKA

Suweda, I Wayan. 2008. Manajemen Lalu Lintas (Traffic Management TS 7142). Buku Ajar. Denpasar: Lab. Transportasi Unud. Tamin, Ofyar Z. 2008. Perencanaan, Pemodelan, & Rekayasa transportasi: Teori, Contoh Soal, dan Aplikasi. Bandung: ITB. Marheim, L., M.,1979, Fundamental Transportation Systems Analysis, Volume 1, Basic Concept, The MIT Press, Cambrigde.