Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

(MATA KULIAH KEGAWATDARURATAN)


ASUHAN KEPERAWATAN
KEGAWATDARURATAN PADA CEDERA KEPALA
Dosen : Janes Jainurakhma, M.Kep

KELOMPOK 2 :
1. Ayu Indah Sari (1520044)
2. Bimbi Wahyu A. (1520060)
3. Mardya Fenti Arie S. (1520062)
4. Nadya Ulfa (1520064)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
TAHUN 2018

i
KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Warahmatullah Wabarakatuh


Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah, SWT, karena berkat
rahmat dan karunia-NYA kami dapat menyelesaikan Makalah ini yang berkenaan
dengan makalah Gawat Darurat tentang “Kegawatdaruratan Cedera Kepala”.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu metode pembelajaran pada
mata kuliah Gawat Darurat di Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes
Kepanjen. Pada kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan masukan, dorongan dan bimbingan
kepada kami dalam menyusun makalah ini baik dari segi moril dan materil.
Ucapan terimakasih tersebut ditujukan kepada:
1. Janes Jainurakhma,M.Kep selaku dosen pengajar mata kuliah
Kegawatdaruratan.
2. Rekan-rekan progam S1 4B Progam Studi Ilmu Keperawatan.
Kamipun menyadari bahwa susunan pembuatan makalah ini belum
mencapai hasil yang sempurna. Oleh karena itu, kritikan dan saran sangat
diharapkan yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata Kami mengucapkan selamat membaca dan semoga makalah ini
dapat membantu pembaca dalam mengetahui tentang Kegawatdaruratan Cedera
Kepala.
Waalaikumsalam Wr.Wb

Kepanjen, 16 Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ...................................................................................................... I
KATA PENGANTAR ............................................................................... II
DAFTAR ISI .............................................................................................. III

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Cedera Kepala ................................................................ 3
2.2 Jenis Cedera Kepala ......................................................................... 3
2.3 Etiologi Cedera Kepala .................................................................... 6
2.4 Patofisiologi Cedera Kepala ............................................................. 6
2.5 Manifestasi Klinis ............................................................................ 7
2.5 Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Cedera Kepala......................... 8
2.6 Prosedur Diagnostik ......................................................................... 11
2.7 Teori Asuhan Keperawatan .............................................................. 11
2.8 Peran Perawat ................................................................................... 14
BAB III STUDI KASUS ............................................................................ 17
BAB IV PEMBAHASAN........................................................................... 19
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .................................................................................... 20
5.2 Saran ............................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 21
LAMPIRAN ............................................................................................... 22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Otak merupakan organ yang sangat vital bagi seluruh aktivitas dan
fungsi tubuh, karena didalam otak terdapat berbagai pusat fungsi control
yaitu pengendalian fisik, intelektual, emosi, social, dan keterampilan
walaupun otak berada dalam ruang yang tertutup dan terlindungi oleh
tulang-tulang yang sangat kuat tetapi juga bisa mengalami trauma. Salah
satu penyebab dari kerusakan otak adalah jika terdinya trauma kepala yang
mengakibatkan kerusakan struktur otak, dapat juga merusak fungsinya.
Trauma kepala merupakan suatu kegawatdaruratan yang paling
sering dijumpai di rumah sakit. Trauma kepala merupakan penyebab
kematian ke tiga dari semua jenis trauma yang berkaitan dengan kematian
(CDC, 2010). Glaslow coma scale (GCS) merupakan suatu system yang
dapat mengukur tingkat kesadaran pada pasien dengan gangguan
kesadaran. GCS merupakan perhitungan angka dari kognitif, perilaku, dan
fungsi neurologis. GCS ini merupakan instrument standar yang digunakan
untuk mengukur tingkat kesadaran pasien trauma kepala kepala. Angka
kejadian trauma kepala lebih banyak pria 58% dibandingkan dengan
perempuan, hal ini disebabkan oleh mobilitas yang tinggi dikalangan usia
yang produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga keselamatan dijalan
masih rendah disamping penangan pertama yang belum benar-benar
rujukan yang terlambat (Smeltzer & Bare, 2002).

1.2 RUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah makalah ini ialah “ Bagaimanakah Asuhan Keperawatan
Kegawatdaruratan dari cedera kepala ?”
1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui lebih lanjut tentang asuhan keperawatan cedera kepala

1
2

1.3.2 Tujuan Khusus


Makalah ini disusun dengan tujuan khusus sebagai berikut ?
1.3.2.1 Mahasiswa mampu memahami tentang pengertian cedera kepala.
1.3.2.2 Mahasiswa mampu memahami tentang jenis cedera kepala
1.3.2.3 Mahasiswa mampu memahami tentang etiologi cedera kepala
1.3.2.4 Mahasiswa mampu memahami tentang patofisiologi cedera kepala
1.3.2.5 Mahasiswa mampu memahami tentang manifestasi klinis cedera
kepala
1.3.2.6 Mahasiswa mampu memahami tentang penatalaksanaan kegawat
daruratan pada cedera kepala meliputi primary survey dan secondary survey
1.3.2.7 Mahasiswa mampu memahami tentang pemeriksaan diagnostic
cedera kepala
1.3.2.8 Mahasiswa mampu memahami tentang asuhan keperawatan cedera
kepala
1.3.2.9 Mahasiswa mampu memahami tentang peran perawat pada kegawat
daruratan cedera kepala
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN CEDERA KEPALA


Trauma kepala adalah perdarahan yang berasal dari vena menyebabkan
lambatnya pembutukan hematoma karena rendahknya tekanan, laserisasi
arterial ditandai oleh pembentukan hematoma karena tingginya tekanan.

Cedera kepala dapat didefinisikan sebagai keadaan non kongenital dan


degenerative yang terjadi pada otak dan disebabkan oleh energy atau
kekuatan mekanik dari luar. Risiko yang mengalami cedera kepala gangguan
temporer atau permanen dalam fungsi kognitif, fisik, dan fungsi psikososial
disertai adanya penurunan atau kehilangan kesadaran (Dawodu, 2013;
Perdossi, 2006).

2.2 JENIS CEDERA KEPALA


Menurut Smeltzer dan Bare (2002) terdiri dari :
2.2.1 Cedera Kulit Kepala
Kulit kepala mengandung banyak pembuluh darah sehingga akan
berdarah jika mengalami cedera. Luka pada kulit kepala juga merupakan
tempat masuknya infeksi intra kranial.
2.2.2 Fraktur Tengkorak
Rusaknya kontuinitas tulang tengkorak yang disebabkan oleh
trauma, dapat terjadi dengan tanpa kerusakan otak. Adanya fraktur ini
biasanya menimbulkan tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak dibagi 2 yaitu
terbuka maka durameter akan rusak dan bila tertutup maka durameter tidak
akan rusak.
2.2.3 Cedera Otak
Cedera Otak dibagi menjadi :
2.2.3.1 Komosio Serebral
Gangguan fungsi otak tanpa adanya kerusakan struktur
anatomi jaringan otak akibat dari cedera kepala (Padila,2012)

3
4

2.2.3.2 Kontusio Serebral


Cedera kepala berat diamna otak mengalami memar
dengan kemungkinan adanya daerah hemoragi. Pasien
kehilangan gerakan, denyut nadi lemah, pernafasan dangkal,
kulit dingin dan pucat.
2.2.3.3 Hemoragi intra cranial
Hematoma (pengumpulan darah) yang terjadi di dalam
kubah intra kranial adalah akibat paling serius dari cedera
kepala.

2.2.3.4 Epidural hematoma (EDH)

Epidural hematoma adalah pengumpulan darah didalam


ruang epidural, yang terletak diantara tengkorak dan durameter.

2.2.3.5 Subdural hematoma (SDH)

Subdural hematoma yaitu pengumpulan darah diantara


durameter dan dasar otak dan merupakan akibat terjadi
putusnya pembuluh darah kecil (vena) yang menjembatani pada
ruang subdural. Disamping itu, menurut Patricia (2013)
menjelaskan bahwa jika pasien hematoma subdural akut dapat
memperlihatkan gejala dalam 24-48 jam setelah cedera karena
adanya akumulasi dara dari vena lebih lambat.

2.2.3.6 Perdarahan subdural kronik (SDH kronik)

Subdural hematoma kronik adalah terkumpulnya darah


diruang subdural lebih dari 3 minggu setelah trauma.

2.2.3.7 Perdarahan intra cerebral atau intracerebral hematom (ICH)

Intra cerebral hematom bukan disebabkan oleh


benturan antara parenkim otak dengan tulang tengkorak, tetapi
disebabkan oleh gaya akselerasi dan deselerasi akibat trauma
5

yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah kortikal dan


subkortikal.

2.2.4 Cedera kepala berdasarkan beratnya cedera, diklasifikasi penilaiannya


berdasarkan skor Glasgow Coma Scale (GCS) dan dikelompokkan menjadi
(Permana, 2013), yaitu :
2.2.4.1 Simple Head Injury
Nilai GCS, yaitu 15 (normal), dengan kesadaran
baik, tidak adanya tanda amnesia, pemeriksaan radiologi
sebagai dasar indikasi sehingga hanya perawatan luka dan tidak
perlu adanya mondok. Pesan dari anggota keluarga adalah
hanya melihat atau observasi kesadaran seseorang yang
mengalami cedera kepala.

2.2.4.2 Cedera Kepala Ringan (CKR)

Nilai GCS yaitu 14, pasien terkesan disorientasi


atau tidak mematuhi perintah. Sedangkan nilai GCS 15
menunjukkan adanya amnesia pasca cedera selama kurang dari
24 jam dan dapat terjadi kehilangan kesadaran selama < 10
menit, disertai adanya gejala klinik seperti mual, muntah, sakit
kepala atau vertigo. Vital sign dalam batas normal, tidak
adanya defisit neurologi pada pemeriksaan radiologis seperti
foto schedel, head CT scan. Hal ini pasien mondok untuk
observasi akan adanya lucid interval, dimana kesadarannya
semakin menurun atau dapat ditemukan lateralisasi dengan
diikuti GCS selama setiap 30 menit, pupil, defisit neurologi.

2.2.4.3 Cedera Kepala Sedang(CKS)

Nilai GCS yaitu 9-13, terjadi kehilangan kesadaran


selama > 10 menit tetapi <6 jam dan tidak ditemukan defisit
neurologis menunjukkan amnesia pasca cedera selama ≤ 7 hari
(positif atau negatif). Disertai gangguan kardiopulmonal dapat
diperiksa dan diatasi gangguan airway, breathing, circulation
6

oleh fiksasi cervical. Pemeriksaan radiologis adalah foto


schedel dan head CT scan. Pasien mondok dengan observasi
ketat untuk melihat dari GCS, pupil dan defisit neurologis.

2.2.4.4 Cedera Kepala Berat (CKB)

Nilai GCS yaitu <8, terjadi kehilangan kesadaran >


6 jam atau terjadi amnesia pasca cedera selama >7 hari jam,
dan ditemukan defisit neurologis disertai cedera multipel
selama adanya gangguan cerebral diikuti oleh gangguan
sistemik yang mempunyai survey primer dan riwayat
SAMPLE. HCTS adalah 40℅ massa intrakranial (hematom),
midline shift > 5 mm atau hematom > 25 cc dan tindakan
operasi segera 60℅ massa intrakranial (hematom), midline shift
< 5 mm atau hematom < 25 cc terapi konvensional.

2.3 ETIOLOGI CEDERA KEPALA


Penyebab cidera kepala antara lain: kecelakaan lalu lintas, perkelahian,
terjatuh, dan cidera olah raga. Cidera kepala terbuka sering disebabkan oleh
peluru atau pisau (Corkrin, 2001:175).
Menurut kowalak (2011), etiologi trauma kepala dapat meliputi :
1. Kecelakaan kendaraan atau transportasi
2. Kecelakaan terjatuh
3. Kecelakaan yang berkaitan dengan olahraga
4. Kejahatan dan tindak kekerasan

2.4 PATOFISIOLONGI CEDERA KEPALA


Otak dilindungi oleh perisai kubah tengkorak (rambut, kulit, tulang,
meningen dan cairan serebrospinal) yang akan merendam kekuatan dari
suatu benturan fisik. Di bawah tingkat kekuatan tertentu (kapasitas absopsi),
kubah tengkorak dapat mencegah energy benturan sehingga tidak mengenai
jaringan otak. Derajat cedera kepala akibat trauma biasanya sebanding
dengan besar kekuatan yang mencapai jaringan kranial. Lebih lanjut,
kemungkinan ini sudah dapat disingkirkan.
7

Trauma tertutup secara khas merupakan cedera akselerasi deselerasi


(coup/contrecoup) terjadi secara tiba-tiba. Pada cedera coup/contrecoup,
kepala membentur benda yang relative dalam keadaan stasioner sehingga
terjadi cedera pada jaringan kranial di dekat tempat benturan (yang disebut
coup). Kemudian kekuatan atau gaya yang masih tersisa mendorong otak
hingga menghantarkan sisi tengkorak yang lain dan dengan demikian terjadi
benturan serta cedera sekunder (yang disebut contrecoup).

Trauma terbuka dapat menembus kulit kepala, tulang tengkorak,


meningen, atau otak. Cedera kepala yang terbuka biasanya disertai dengan
fraktur tulang tengkorak (fraktur cranium), dan fragmen tulang yang patah
sering menimbulkan hematoma serta rupture meningen dengan kehilangan
cairan serebrospinal sebagai akibatnya.

2.5 MANIFESTASI KLINIS


1. Cedera kepala ringan menurut Sylvia A (2005)
a. Kebingungan saat kejadian dan kebinggungan terus menetap
setelah cedera.
b. Pusing menetap dan sakit kepala, gangguan tidur, perasaan cemas.
c. Kesulita berkonsentrasi, pelupa, gangguan bicara, masalah tingkah
laku Gejala-gejala ini dapat menetap selama beberapa hari,
beberapa minggu atau lebih lama setelah konkusio cedera otak
akibat trauma ringan.
2. Cedera kepala sedang Diane C (2002)
a. Kelemahan pada salah satu tubuh yang disertai dengan
kebinggungan atau hahkan koma.
b. Gangguan kesedaran, abnormalitas pupil, awitan tiba-tiba defisit
neurologik, perubahan TTV, gangguan penglihatan dan
pendengaran, disfungsi sensorik, kejang otot, sakit kepala, vertigo
dan gangguan pergerakan.
3. Cedera kepala berat, Diane C (2002)
a. Amnesia tidak dapat mengingat peristiwa sesaat sebelum dan
sesudah terjadinya penurunan kesehatan.
8

b. Pupil tidak aktual, pemeriksaan motorik tidak aktual, adanya


cedera terbuka, fraktur tengkorak dan penurunan neurologik.
c. Nyeri, menetap atau setempat, biasanya menunjukan fraktur.
d. Fraktur pada kubah kranial menyebabkan pembengkakan pada area
tersebut.

2.6 PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN CEDERA


KEPALA
Menurut Wahjoepramono (2005), Penanganan cedera kepala di
Instalasi Gawat Darurat mempunyai urutan prosedur, yaitu :
2.6.1 Primary Survey
a. Airway
gangguan jalan nafas (airway) terjadi dikarenakan lidah yang jatuh
kebelakang. Ketika cedera tidak ada di daerah cervikal, dengan
posisi kepala ekstensi, jika tidak membantu maka akan dilakukan
pemasangan pipa orofaring atau pipa endotrakeal dan dilakukan
pembersihan dibagian mulut dengan adanya lendir, darah, muntahan,
atau gigi palsu (Wahjoepramono, 2005). Gangguan airway ini juga
dapat timbul secara mendadak dan total, perlahan-lahan dan secara
berulang (Dewi, 2013dalamSetyawan, 2015 ). Membuka jalan nafas
menggunakan teknik head tilt chin lift atau mengadakan kepala dan
mengangkat dagu, periksa adakah benda asing yang mengakibatkan
tertutupnya jalan nafas. Muntahan, makanan, darah atau benda asing
lainnya. (Dewi, 2013)
b. Breathing
Memeriksa pernapasan dengan cara ‘lihat, dengar, rasakan’,
selanjutnya pemeriksaan status repirasi klien. Gangguan pernafasan
(breathing) terjadi adanya gangguan bersifat sentral maupun perifer.
Kelainan perifer disebabkan karena akibat dari adanya aspirasi atau
trauma dada yang menyebabkan pneumothorax atau gangguan
gerakan pernafasan. Hal ini terjadi karena kerusakan pusat napas di
otak (Wahjoepramono, 2005). Oleh sebab itu, hal yang pertama
9

harus segera dinilai yaitu perhatikan kontrol servikal in-line


immobilisasi dengan buka leher dan dada penderita, tentukan dengan
laju dan dalamnya pernafasan, lakukan inspeksi dan palpasi leher dan
thoraks untuk mengenali kemungkinan deviasi trakhea, espansi
thoraks yang simetris, perhatikan pemakaian otot-otot tambahan dan
tanda-tanda cedera, lakukan perkusi thoraks untuk menentukan redup
atau hipersonor dan auskultasi pada thoraks bilateral (Greenberg
2005 dalam Arsani, 2011)

c. Circulation
Perdarahan merupakan salah satu penyebab kematian setelah truma
(Krisanty, 2009). Gangguan sirkulasi (circulation) terjadi karena
cedera otak, dan faktor ekstra kranial. Gangguan ini terjadi kondisi
hipovolemia yang mengakibatkan pendarahan luar, atau ruptur organ
abdomen, trauma dada, tamponade jantung atau pneumothoraks dan
syok septik. (Wahjoepramono, (2005).

d. Disability
Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap
keadaan neurologis secara cepat (ATLS, 2004). Pemeriksaan
neurologis secara cepat yaitu dengan menggunakan metode AVPU
(Allert, Voice respone, Pain respone, Unrespone) (Pusbankes 118,
(2015). Hal ini yang dinilai yaitu tingkat kesadaran dengan memakai
skor GCS/PTS, ukuran dan reaksi pupil (Musliha, (2010). Dalam hal
ini, penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh adanya penurunan
oksigenasi atau perfusi ke otak serta trauma langsung (Pusbankes
118, 2015). Menurut Greenberg, (2005) dalam Arsani 2011 bahwa
nilai pupil dilihat dari besarnya isokor, reflek cahaya, awasi adanya
tanda-tanda lateralisasi, evaluasi maupun Re-evaluasi airway,
oksigenasi, ventilasi serta circulation.
10

e. Exposure
Pasien harus dibuka keseluruhan pakaiannya untuk melakukan
pemeriksaan thoraks kemudian diberikan selimut hangat, cairan
intravena yeng telah dihangatkan dan ditempatkan pada ruangan
cukup hangat ini dilakukan pada saat dirumah sakit (Musliha, 2010).
Periksa punggung dengan memiringkan pasien dengan cara long roll
(Dewi 2013). Pemeriksaan seluruh bagian tubuh harus segera
dilakukan tindakan agar mencegah terjadinya hiportermia. Dalam
pemeriksaan penunjang ini dilakukan pada survey primer, yaitu
pemeriksaan saturasi oksigen dengan pulse oxymetri, foto thoraks,
dan foto polos abdomen. Tindakan lainnyaseperti pemasangan
monitor EKG, kateter dan NGT Pusbankes 118, (2015).
2.6.2 Secondary Survey
a. Pemeriksaan kepala
 lecet di kulit kepala
 laserasi
 pembengkakan
 nyeri
 Battles
b. Pemeriksaan leher dan tulang servikal
 Deformitas
 Nyeri
 Spasme otot
 Vena leher yang mengembang
c. Pemeriksaan mata
 ukuran pupil
 ekualitas dan reaktivitas
 funduskopi

d. Pemeriksaan Telinga
 Darah di belakang gendang telinga
 Kebocoran LCS
11

e. Pemeriksaan Hidung
 Deformitas
 Pembengkakan
 Perdarahan
 Kebocoran LCS
f. Pemeriksaan Hidung
 trauma gigi
 trauma jaringan lunak

g. Patah tulang wajah


h. Fungsi motorik : Periksa alat gerak untuk melihat adanya refleks
dan kelemahan sesisi
i. Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score
2.7 PROSEDUR DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dalam menegakkan diagnosa medis
adalah :
a. CT- Scan
b. MRI
c. Cerbral Angiograpy
d. Serial EEG
e. X-Ray
f. BAER
g. PET
h. CSF
i. ABGs
j. Kadar elektrolit
k. Screen Toxikologi
2.8 TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
2.8.1 PENGKAJIAN
Dasar pemeriksaan fisik ‘head to toe’ harus dilakukan dengan
singkat tetapi menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki. Melakukan
pemeriksaan fisik secara cermat dengan prosedur diagnostic ketika
12

mengkaji pasien, khususnya individu yang tidak sadar, terintoksikasi,


dengan penurunan tingkat kesadaran, atau mempunyai riwayat cedera
kepala. Pengumpulan data pasien baik subyektif atau obyektif pada
gangguan sistem persyarafan sehubungan dengan trauma kepala sebagai
berikut :

1. Identitas pasien dan keluarga (penanggung jawab) : nama , umur,


jenis kelamin, hubungan pasien dengan penanggung jawab, dll

2. Riwayat Kesehatan :
Pada umumnya pasien dengan trauma kepala datang ke rumah sakit
dengan penurunan tingkat kesadaran (GCS di bawah 15), bingung,
muntah,dispnea/takipnea, sakit kepala wajah tidak simetris, lemah,
paralise, hemiparise, luka di kepala akumulasi spuntun pada saluran
pernafasan, adanya minuman keras dari hidung dan telinga dan
adanya kejang
Riwayat penyakit dahulu :
Haruslah lihat baik yang berhubungan dnegan sistem pernafasan dan
juga penyakit sistem sistemik lainnya. Demikian pula riwayat
penyakit keluarga, terutama yang miliki penyakit menular. Riwayat
kesehatan tersebutt dapat dikaji dari pasien atau keluarga sebagai
data subyektif. Data-data ini sangat arti karena dapat mempengaruhi
pronosa pasien.
3. Pengkajian psikologis :
Dimana pasien dengan tingkat kesadarannya menurun, psikologi
tidak dapat perhatikan, selagi pada pasien yang tingkat kesadarannya
baru saja normal akan terlihat adanya gangguan log, perubahan
tingkah laku, log yang labil, triabel, apatis, igauan dan kebingungan
keluarga pasien karena mengalami prospek sehubungan dengan
penyakitnya
Data sosial yang diperlukan adalah bagaimana pasien berhubungan
dengan orang-orang yang terdekat dan yang lainnya, kemampuan
13

berkomunikasi dan perannya dalam keluarga.Serta pandangan pasien


terhadap dia setelah mengalami trauma kepala dan rasa seorang pria

2.8.1.1 Primary Survey


1. Airway
2. Breathing
3. Circulation
4. Disability
5. Exposure
2.8.1.2 Secondary Survey
1. Aktivitas/istirrahat
Data Subyektif :
Data obyektif :
2. Sirkulasi
Data Obyektif :
Data Subyektif :
Data Obyektif :
3. Eliminasi
Data Subyektif :
Data subyektif :
Data Obyektif :
Data Subyektif :
Data Obyektif :
4. Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif :
Data Obyektif :
5. Pernafasan
Data Obyektif :
6. Keamanan
Data Subyektik :
Data Obyektif :
14

Adapun Penatalaksanaan medis pada trauma kepala :


a Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema
serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
b Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk
mengurangi vasodilatasi.
c Pemberian analgetika.
d Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu
manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol 10%.
e Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin)
atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidazole

Pada truma berat, hari-hari (2-3 hari), tidak terlalu


banyak cairan. Dekstrosa 5% 8 jam pertama, ringer dekstrose
8 jam kedua dan pertama, ringer dekstrose 8 jam ketiga. Pada
hari selanjutnya bila kesadaran rendah, makanan diberikan
melalui nasogastric tube (2500-3000 TKTP). Pemberian
protein tergantung nilai urea N.

Tanda-tanda klinik yang dapat membantu mendiagnosa adalah :

a Battle sign ( warna biru/ekhimosis dibelakang telinga di atas os


mastoid )
b Hemotipanum ( perdarahan di daerah gendang telinga )
c Periorbital ecchymosis ( mata warna hitam tanpa trauma
langsung )
d Rhinorrhoe ( liquor keluar dari hidung )
e Otorrhoe ( liquor keluar dari telinga)

2.8.2 DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
akumulasi secret
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan spinal
cord injury, trauma kepala
3. Nyeri akut bd trauma jaringan dan reflex spasme otot sekunder
15

4. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral bd edema


cerebral, peningkatan TIK
5. Resiko kekurangan volume cairan bd mual muntah dan
perdarahan
6. Resiko infeksi bd tempat masuknya organisme sekunder akibat
trauma
2.8.3 INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa
No NOC NIC
Keperawatan

Airway Management:

1. Auskultasi suara napas, catat adanya


Setelah diberikan asuhan suara napas tambahan (ronchi,
keperawatan selama…jam wheezing,gurgling)
jalan napas klien bebas2. Lakukan fiksasi pada daerah kepala
dengan KH: leher untuk meminimalkan terjadinya
gerakan
Ketidakefektifan a. RR normal (12-
3. Lakukan pembebasan jalan napas
bersihan jalan napas 24x/menit)
1. secara manual dengan teknik jaw
bd akumulasi secret,b. Ritme pernapasan reguler
thrust maneuver secara hati-hati untuk
sisa muntahan c. Klien mampu untuk
mencegah terjadinya gerakan leher
mengeluarkan secret, sisa
4. Lakukan pembebasan jalan napas
muntahan
dengan alat
d. Tidak terdengar suara
(nasophaaryngeal airway/oropharyn
napas tambahan (ronchi,
geal airway) jika dibutuhkan
wheezing, gurgling)
5. Monitoring pernapasan dan status
oksigenasi klien
6. Berikan oksigen tambahan

Ketidakefektifan Setelah diberikan asuhan


Airway Management
pola nafas bd spinal keperawatan selama …. jam
2.
cord injury, trauma pola nafas klien kembali1. Lakukan pemeriksaan fisik pada paru-
kepala adekuat paru secara tepat
16

dengan kriteria hasil: 2. Auskultasi suara nafas, kedalaman,


suara nafas tambahan,
1. Tidak ada penggunaan 3. Monitor status respirasi dan status
otot bantu nafas oksigenasi
2. Tidak ada dyspnea
4. Berikan oksigenasi, minimal
3. Gerak dada saat bernafas menggunakan simple mask
simetris

Manajemen nyeri :

1. Kaji nyeri secara komprehensif


(lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi).
Setelah diberikan
asuhan2. Observasi reaksi nonverbal dari
keperawatan selama…. jam ketidaknyamanan.
tingkat kenyamanan klien3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
meningkat, nyeri untuk mengetahui pengalaman nyeri
Nyeri akut bd terkontrol dg KH: klien sebelumnya.
trauma jaringan dan 4. Kontrol faktor lingkungan yang
3.
reflex spasme otota. Klien melaporkan nyeri mempengaruhi nyeri seperti suhu
sekunder berkurang dg scala nyeri
ruangan, pencahayaan, kebisingan.
2-3
5. Kurangi faktor presipitasi nyeri.
b. Ekspresi wajah tenang
6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
c. Klien dapat istirahat dan
(farmakologis/non farmakologis).
tidur
7. Ajarkan teknik non farmakologis
(relaksasi, distraksi dll) untuk
mengatasi nyeri.
8. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
9. Evaluasi tindakan pengurang
nyeri/kontrol nyeri.

Resiko Setelah diberikan asuhan Monitoring tekanan intrakranium:


4. ketidakefektifan keperawatan selama …. jam
perfusi jaringan klien menunjukan status1. Kaji, observasi, evaluasi tanda-tanda
17

cerebral bd edema sirkulasi dan perfusi jaringan penurunan perfusi serebral: gangguan
cerebral, serebral yang membaik mental, pingsan, reaksi pupil,
peningkatan TIK dengan KH: penglihatan kabur, nyeri kepala,
gerakan bola mata.
a. TD dalam rentang normal 2. Hindari tindakan valsava manufer
(120/80 mmHg) (suction lama, mengedan, batuk terus
b. Tidak ada tanda menerus).
peningkatan TIK 3. Berikan oksigen sesuai instruksi
c. Klien mampu bicara dokter
dengan jelas, 4. Lakukan tindakan bedrest total
menunjukkan 5. Minimalkan stimulasi dari luar.
konsentrasi, perhatian 6. Monitor Vital Sign serta tingkat
dan orientasi baik kesadaran
d. Fungsi sensori motorik 7. Monitor tanda-tanda TIK
cranial utuh : kesadaran 8. Batasi gerakan leher dan kepala
membaik (GCS 15, tidak 9. Kolaborasi pemberian obat-obatan
ada gerakan involunter) untuk meningkatkan volume
intravaskuler sesuai perintah dokter.

Setelah diberikan asuhan


keperawatan selama …. jam
1. Kaji intake dan out put.
tidak ditemukan tanda-tanda
2. Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor
Resiko kekurangan kekurangan volume cairan
kulit, membran mukosa, dan ubun-
volume cairan bd atau dehidrasi dengan KH:
5. ubun atau mata cekung dan out put
mual muntah dan
urine.
perdarahan a. membran mukosa lembab
3. Berikan cairan intra vena sesuai
b. integritas kulit baik
program.
c. nilai elektrolit dalam
batas normal.

Resiko infeksi bd Selama dilakukan perawatan1. Kaji adanya drainage pada area luka.
tempat masuknya di Rumah Sakit klien tidak2. Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh.
6.
organisme sekunder mengalami infeksi yang3. Lakukan perawatan luka dengan steril
akibat trauma ditandai dengan KH: dan hati-hati.
18

a. Tidak ada tanda-tanda 4. Kaji tanda dan gejala adanya


infeksi (rubor, kalor, meningitis, termasuk kaku kuduk,

dolor, hilangnya fungsio iritabel, sakit kepala, demam, muntah


laesa) dan kenjang.

b. suhu tubuh dalam batas


normal
c. tidak ada pus dari luka
d. leukosit dalam batas
normal.

2.8.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-
aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan klien. Agar
implementasi/pelaksanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu
mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon
pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumen-
tasikan pelaksanaan perawatan.
2.9 PERAN PERAWAT
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari:
1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Caring yang dilakukan pada ruang IGD meliputi Sembilan tema
yaitu:
 niat menolong dari hati
 komunikasi sebagai kunci kepercayaan
 penjelasan berkaitan segala hal tentang pasien agar keluarga
siap
 dukungan spiritual dan semangat untuk kesembuhan pasien
 peduli mendengar keluh kesah pasien dan keluarga
 mengalami perubahan emosi
 cepat merespon dan memilah kondisi pasien
 upaya maksimal perawat melakukan tindakan terbaik
19

 mementingkan kehadiran keluarga agar bisa memberikam


semangat pasien
(Januar F, et al., 2017)
2. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan
khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan &
melindungi hak-hak pasien meliputi :
 Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
 Hak atas informasi tentang penyakitnya
 Hak atas privacy
 Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
 Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan
yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien
setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Sebagai coordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta
mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga
pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan
kebutuhan klien.
5. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan
yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya
mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan.
6. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah
sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
20

7. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang
sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawata
BAB III
STUDI KASUS

Kasus menurut jurnal dari Healthy-Mu Journal oleh Alit Suwandewi 2017
dengan judul “Pengaruh Pemberian Oksigen Melalui Masker Sederhana dan
Posisi Kepala 30 ° Terhadap PerubahanTingkat Kesadaran Pada Pasien
Cedera Kepala Sedang di RSUD”

Pemeriksaan awal yang dilakukan pasien dengan cidera kepala adalah


dengan Glasglow coma scale (GCS) merupakan system penilaian yang digunakan
untuk menilai tingkat kesadaran pada pasien dengan gangguan kesadaran. Salah
satu penyebab dari kerusakan otak adalah terjadinya trauma kepala yang dapat
mengakibatkan kerusakan struktur otak ,sehingga fungsinya juga dapat terganggu
(Black & Hawks,2009). Otak merupakan organ yang sangat vital bagi seluruh
aktivitas dan fungsi tubuh, karena di dalam otak terdapat berbagai pusat kontrol
seperti pengendalian fisik, intelektual, emosional, sosial, dan keterampilan.
Walaupun otak berada dalam ruang yang tertutup dan terlindungi oleh tulang-
tulang yang kuat .

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis tanggal 2 Februari 2015 di


ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin, tidak ada SOP
(Standar Operasional Prosedur) tentang penanganan pasien cedera kepala. Tetapi
pihak rumah sakit telah memberikan kebijakan yang menyatakan bahwa petugas
yang berkompeten untuk melakukan atau penggunaan alat life saving
(Penggunaan alat bantuan hidup komponen yang digunakan sebagai acuan
ngobatan, dasar pembuatan keputusan klinis umum untuk pasien (Ricard Coton &
Michelle 2010). Selama ini belum diketahui apakah terapi pemberian oksigen
melalui masker sederhana dan posisi kepala 30o yang diberikan oleh perawat
dapat menunjukan perubahan tingkat kesadaran pada pasien cedera kepala sedang.

Tujuan utama pengelolaan cedera kepala adalah mengoptimalkan


pemulihan dari cedera kepala primer dan mencegah cedera kepala sekunder yang
disebabkan oleh iskemik otak (Tisdal M, 2008). Pengelolaan cedera kepala yang
baik harus dimulai dari tempat kejadian, selama transportasi, di instalasi gawat

21
22

darurat, hingga dilakukan terapi difinitif. Pengelolaan yang benar dan tepat akan
mempengaruhi hasil akhir pasien.

Hasil Penelitian ini diperoleh usia responden termuda adalah 11 tahun dan
tertua 68 tahun, sedangkan untuk jenis kelamin responden dalam penelitian ini
paling banyak adalah jenis kelamin laki-laki. Nilai selisih GCS dengan kategori
umur kurang atau sama dengan 32 tahun selisih nilai GCS dengan total selisih 15
atau sebesar 50% sedangkan distribusi responden dengan kategori umur lebih 32
tahun selisih nilai GCS dengan total selisih 9 atau sebesar 30%.

Evan (1996) dalam Nasution (2010) yang menyebutkan distribusi kasus


cedera kepala pada laki-laki dua kali lebih sering dari pada wanita. Penelitian lain
juga menyebutkan hal sama yaitu sebagian besar 74% kasus cedera kepala adalah
laki-laki (Suparnadi, 2002 dalam Nasution, 2010). Besarnya jumlah laki-laki
dalam kejadian cedera kepala erat kaitannya dengan mobilisasi individu yang
lebih sering.

Fokus utama penatalaksanaan pasien- pasien yang mengalami cedera


kepala adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder. Pemberian oksigenasi
dan memelihara tekanan darah yang baik dan adekuat untuk mencukupi perfusi
otak adalah hal yang paling utama dan terutama untuk mencegah dan membatasi
terjadinya cedera otak sekunder yang akhirnya akan memperbaiki hasil akhir
penderita. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Patria (2012) bahwa
pada pasien cedera kepala hendaknya diberikan terapi oksigen dengan
menggunakan masker ataupun masker reservoir dengan konsentrasi oksigen 40-
80%. Praktik keperawatan dapat dikembangkan berdasarkan hasil penelitian yang
telah ada, karenya bagi perawat praktisi hasil penelitian ini dapat diterapkan pada
cara pemberian, jenis serta dosis pemberian oksigen dengan posisi kepala 30°
dalam evidence based practice serta dapat dijadikan sebagai standar operasional
prosedur (SOP) untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan mandiri.
BAB IV
PEMBAHASAN
Hasil pembahasan ini diperoleh usia termuda adalah 11 tahun dan tertua 68 tahun,
sedangkan untuk jenis kelamin paling banyak adalah jenis kelamin laki-laki. Nilai
selisih GCS dengan kategori umur kurang atau sama dengan 32 tahun selisih nilai
GCS dengan total selisih 15 atau sebesar 50% sedangkan distribusi dengan
kategori umur lebih 32 tahun selisih nilai GCS dengan total selisih 9 atau sebesar
30%.

Evan (1996) dalam Nasution (2010) yang menyebutkan distribusi kasus cedera
kepala pada laki-laki dua kali lebih sering dari pada wanita. Penelitian lain juga
menyebutkan hal sama yaitu sebagian besar 74% kasus cedera kepala adalah laki-
laki (Suparnadi, 2002 dalam Nasution, 2010). Besarnya jumlah laki-laki dalam
kejadian cedera kepala erat kaitannya dengan mobilisasi individu yang lebih
sering.

Sesudah dilakukan pemberian oksigen masker sederhana dan posisi kepala 30°
terjadi peningkatan nilai pada gcs. Sastrodiningrat (2006) GCS merupakan faktor
prediksi yang kuat dalam menentukan prognosis. Dalam penelitian Jannet dkk
melaporkan 82% dari penderita dengan skor GCS 11 atau lebih, dalam waktu 24
jam setelah

cedera mempunyai good outcome atau moderately disabled dan hanya 12% yang
meninggal atau mendapat severe disability. Outcome secara progresif akan
menurun kalau skor awal GCS menurun.

Fokus utama penatalaksanaan pasien-pasien yang mengalami cedera kepala


adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder. Pemberian oksigenasi dan
memelihara tekanan darah yang baik dan adekuat untuk mencukupi perfusi otak
adalah hal yang paling utama dan terutama untuk mencegah dan membatasi
terjadinya cedera otak sekunder yang akhirnya akan memperbaiki hasil akhir
penderita. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Patria (2012) bahwa
pada pasien cedera kepala hendaknya diberikan terapi oksigen dengan
menggunakan masker ataupun masker reservoir dengan konsentrasi oksigen 40-
80%.

Hipoksia merupakan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat pada tingkat jaringan,
kondisi ini terjadi akibat defisiensi penghantaran oksigen atau penggunaan
oksigen diselular (Potter dan Perry, 2005). Oksigenasi merupakan kebutuhan
dasar manusia yang paling mendasar. Keberadaan oksigen merupakan salah satu
komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme dan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh (Sulistyo, 2010).

23
24

Kebutuhan dasar manusia menurut teori Hirarki Maslow merupakan sebuah teori
yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar
manusia pada saat memberikan perawatan. Kebutuhan fisiologi merupakan hal
yang penting untuk bertahan hidup, salah satunya adalah kebutuhan oksigenasi
(Potter dan Perry 2005).

Christopher B, et.al (2012) berkesimpulan bahwa oksigenasi jaringan otak sangat


berhubungan dengan beberapa parameter outcome dan prognosa pasien.
Penerapan terapi intervensi untuk tetap menjaga oksigenasi jaringan otak diatas
ambang tertentu dapat memperbaiki angka mortalitas dan outcome neurologis
pada pasien-pasien cedera kepala.

Elevasi kepala berdasarkan pada respon fisiologi merupakan perubahan posisi


untuk peningkatkan aliran darah ke otak dan mencegah terjadinya peningkatan
TIK. Beberapa perawat klinik melakukan tindakan bedrest dengan elevasi kepala
tidak boleh lebih dari 30°, dengan rasional mencegah peningkatan resiko
penurunan tekanan perfusi serebral dan selanjutnya dapat memperburuk iskemia
serebral jika terdapat vasospasme (Anne et.al, 2005)
25

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Trauma kepala merupakan sesuatu kegawatdaruratan yang paling sering
dijumpai di rumah sakit maupun di berbagai tempat. Trauma kepala menjadi
penyebab angka kematian ke tiga dari semua jenis trauma yang berkaitan dengan
kematian di Indonesia.
5.2 SARAN
Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya perawat dapat
mengerti dan memahami tentang trauma abdomen. Diharapkan pada perawat agar
lebih selektif dalam memberikan tranfusi darah pada pasien kegawatdaruratan
cedera kepala khususnya dan intensif aalam mengontrol proses transfuse darah,
sehingga adanya reaksi tranfusi dapat segera dicegah.
DAFTAR PUSTAKA

Smelzer & Bare. 2013. Textbook of Medical Surgical Nursing


Vol.2.Philadhelphia: Linppicott William & Wilkins.
Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.

Permana, A. 2013. The disease : diagnosis dan Terapi, Pustaka. Cendikia Press:
Yogyakarta

Januar F, Ratnawati, Lestari. 2017. Fenomologi: pengalaman Caring Perawat


Pada Pasien Trauma Kondisi Kritis (p1) di IGD Tarakan-Kalimantan
Utara. Vol.5

Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson (2013). Patofisiologi, konsep proses-proses


penyakit. EGC.jakarta

Pusbankes 118. (2015). Penanggulangan Penderita Gawat Darurat:Basic Trauma


and Cardiac Life Support (BTCLS). Edisi IV.Yogyakarta: Bake r-PGDM
PERSI.

26