Anda di halaman 1dari 17

Cast: Xiumin [EXO-M] & You [OC] || Genre: Friendship, Fluff, Romance || Rating: PG-13 || Length:

>4000wc

Soundtrack: Dashboard Confessional – You Have Stolen My Heart

Summary:

“and after fourteen years…I still want to marry my bestfriend”

(a/n: thanks ‘Made of Honor’, you’re my inspiration to write this kkk)

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

“Hei, Baozi! Jangan marah lagi.”

“Apa pedulimu? Aku tidak marah.”

“Tapi mukamu merah.”

“Aku tidak marah!”

“Dan kau berteriak, itu berarti kau masih marah.”

Sudah tiga puluh menit kami seperti ini—berada dalam posisi tidur di lantai penuh mainan—sementara
Xiumin ada di ranjang tingkat dua, tidak mau melihatku sama sekali.

Katakanlah kami sedang bertengkar. Aku merusak Mr. Hong Hong si robot favorit Xiumin. Karena, sejak ada
Mr. Hong Hong, Xiumin jadi lebih sering bermain dengannya daripadaku. Bagi anak berumur sembilan tahun,
tentu itu sangat menyebalkan, maka dengan sangat menyesal aku berpura-pura tidak sengaja menginjak
lengannya sampai patah.

“Aku kan tidak sengaja menginjak tangan Mr. Hong Hong,” kataku untuk yang keduapuluh kali, dan Xiumin
tetap tak mau mendengarkan. “Lagipula dia jelek,” lanjutku berbisik pelan.

“Aku dengar kau bilang dia jelek.” Ups, maaf.

Aku pun menghela napas lelah. Kalau dibiarkan terus menerus, bisa-bisa seharian ini kami tidak jadi bermain
dan ibu akan muncul untuk menyuruhku tidur siang. Oke, itu tidak bisa terjadi. (kau tahu kan, anak kecil benci
tidur siang).

Maka, aku pun beranjak dari lantai, memanjat tangga untuk mencapai ranjang tingkat dua di mana si gendut
itu berada. Aku mengintip sedikit dan mendapati Xiumin sedang berbaring menatap plafon kamarnya, lalu dia
menoleh padaku dan segera berbalik membelakangiku.

“Tuh ‘kan, kau masih marah.”

Diam sejenak.

“Baozi?” Aku mencolek punggungnya dan dia bergerak sedikit. Setelah itu, aku tahu Xiumin menangis. Itu
terdengar dalam suaranya yang bergetar. Dia terisak.
“Mr. Hong Hong…”

Aku memutar kedua bola mataku sebal. Apa bagusnya robot warna hijau itu? Dia hanya bisa berbicara dua
kalimat berulang-ulang kali, namun Xiumin menyukainya. Aku bisa mengucapkan beribu-ribu kalimat kalau
dia mau dan sekarang Xiumin tak mau berteman denganku lagi.

“Xiumin…” Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Oke, kuakui aku menyesal mematahkan lengan Mr. Hong
Hong. “Maaf, tapi aku tidak bisa memperbaiki Mr. Hong Hong.” Hei, aku jadi mau menangis kalau begini
caranya!

Xiumin menggelengkan kepalanya, masih tidak mau berbicara apa-apa, kecuali terisak, menyedot ingus,
batuk-batuk dan menangis lagi.

Aku pun memutar otak untuk ini dan aku punya ide yang…entahlah, aku pernah melihatnya di drama yang
kakakku tonton. Semoga cara ini berhasil membuat Xiumin berhenti menangisi Mr. Hong Hong. Karena, aku
lebih rela Xiumin menangisi tanaman toge di kelas kami yang layu.

“Baiklah, aku akan menawarkan satu hal sebagai permintaan maafku,” kataku cukup serius.

Xiumin pun membalikkan badannya, kini dia menatapku dengan kedua matanya yang berair. “Apa itu?”

“Ini bukan makanan, oke?”

“Oke.” Xiumin mengangguk.

Aku menarik napas dan bilang, “Menikahlah denganku.”

Xiumin menaikkan alisnya. Oh, tidak! Ini buruk. Aku seharusnya tidak berkata ini, karena sebentar lagi
Xiumin akan mendorongku ke belakang dan membiarkanku jatuh ke lantai, lalu aku akan bernasib sama
dengan Mr. Hong Hong.

“Menikah?”

“Iya, menikah denganku,” ujarku enteng.

Xiumin berpikir sejenak, menggaruk pipinya sambil mengerutkan dahi. Ah, dia pasti akan menolakku.

“Memangnya…menikah itu apa?”

Oh.

Apa ya?

Selagi pertanyaan itu menggantung di udara, aku pun ikut berpikir. Membayangkan potongan adegan di
drama itu. Umm…yang kuingat hanyalah si pria meminta si wanita untuk menikah dengannya, lalu dia
menyematkan cincin di jemarinya, dan mereka saling—eh, tunggu! Tidak! Ini salah. Yang mengajak menikah
itu prianya, bukan wanitanya. Dan aku PEREMPUAN!!

Tapi…
Sudahlah.

“Menikah itu…” Mataku bergerilya mencari sesuatu yang mirip cincin, tapi yang kutemukan hanyalah karet
di sisi tempat tidur.

“Menikah itu…seperti ini. Pinjam tanganmu!” Aku mengambil tangan Xiumin, dan mengikatkan karet di
jempolnya yang gendut. “Tada! Kita menikah!!”

Pada awalnya, Xiumin bingung setengah mati. Lalu setelah beberapa detik, senyuman merekah di wajahnya
dan dia tertawa gembira. “Kita menikah! Yeay!”

“Iya, kita menikah! Horeee!!”

Yeah, kami menikah walaupun tidak tahu apa artinya saat itu. Lalu karena saking senangnya, aku melepas
tanganku dari tangga dan jatuh ke belakang. Aww, itu rasanya sakit sekali, kau harus tahu. Aku kehilangan
kesadaranku saat merasakan kepalaku terantuk sesuatu yang ternyata Mr. Hong Hong (wow, Mr. Hong Hong,
kau sangat membenciku)

Tapi, tak mengapa.

Aku dibawa ke rumah sakit hari itu dan orang pertama yang kulihat adalah Xiumin saat membuka mata.

“Cherry, kau tidak apa-apa?”

“Yeah, aku pusing.”

Xiumin mendekatkan wajahnya padaku, dia berbisik. “Cherry, kata ibu, kita tidak boleh menikah di umur
sembilan tahun ini. Kita masih anak-anak. Tapi, tenang saja, aku tetap sahabatmu.”

Kau tahu, saat itu tanganku sakit karena ada jarum infus yang menusuk dagingku, kepalaku sakit bukan main,
rasanya ada planet mars sedang duduk di atas kepalaku. Namun, melihat Xiumin tersenyum dan dia mau
berbicara lagi denganku, aku merasa kepalaku ringan dan Xiumin adalah teman terbaik yang kumiliki

.
14 tahun kemudian…

“Hei, Cherry! Jangan marah lagi.”

“Apa pedulimu? Aku tidak marah.”

“Tapi kau tidak mau berbicara denganku sedari tadi.”

“Aku tidak marah!”

“Dan kau berteriak, itu berarti kau masih marah.”

Empat belas tahun berlalu dan kami bukanlah anak kecil yang suka bermain rumah-rumahan di kamar
Xiumin. Kenyataan menunjukkan bahwa kami sudah berumur 23 tahun dan Xiumin pulang dari Amerika
setelah menyelesaikan kuliahnya di sana.

Aku merindukannya, tentu. Aku hidup sekitar empat tahun tanpa seorang sahabat dan sesungguhnya kau pasti
berpikir mengapa saat dia kembali, aku malah marah-marah dengannya. Biar kujelaskan alasannya di bulan
Desember yang dingin ini.

Bagaimana rasanya saat kau merindukan sahabatmu dan ketika dia pulang, dia membawa berita yang tidak
enak terdengar di telingamu? Sangat, sangat, sangat, super duper sangat TIDAK MENYENANGKAN!

“Tentu aku marah!” pekikku dengan nada tinggi. “Kau mau menikah dan kau baru memberitahuku saat
sampai di sini?! Kau bisa menghubungiku lewat telepon atau…atau email. Kau—“ aku kehilangan kata-kata.
“—menyebalkan.”

Xiumin tersenyum padaku. Kami sedang berada di trotoar dalam cuaca dingin bulan Desember. Konyol
adalah saat dia masih bisa tersenyum di udara sedingin ini, lalu dia memberitahu berita itu…rasanya, ada
komet yang jatuh di kepalaku.
“Aku mau memberitahumu.”

“Lalu?”

Pria berumur 23 tahun itu menghembuskan napas. “Tapi aku merasa tidak siap.”

Aku mendengus, memutar kedua bola mataku karena dibuat kesal oleh tingkahnya. “Kau konyol, Baozi!
Apanya yang membuatmu tidak siap memberitahuku? Aku sahabatmu! Kau bahkan menceritakan rahasia-
paling-rahasia di hidupmu. Kau pernah pup di celana dan kau menceritakannya padaku. Kau pernah pipis di
kamar mandi wanita dan kau menceritakannya padaku. Bahkan sampai mimpi—“

Xiumin menutup mulutku untuk tidak membuka aibnya yang terdalam. Kini semua orang melihati kami.

“Kau berisik sekali, Nona Cherry.” Xiumin tertawa.

“Biar saja! Aku marah karena kau idiot.”

“Aku memberitahumu, pada akhirnya.”

Pada akhirnya, yeah.

Aku mengambil satu langkah menjauh darinya, tidak berbicara padanya selama sekitar dua menit.

Tidak ada satu sel di otakku yang mengerti apa yang dipikirkan Xiumin. Well, sesungguhnya, aku jauh lebih
tidak mengerti mengapa setelah bertahun-tahun aku tidak bisa mengusir perasaan ini. Perasaan yang membuat
jantungku berdetak kencang saat Xiumin berada di sampingku, yang menciptakan rona merah merayapi kulit
wajahku, yang membuatku tidak bisa tidur hampir setiap malam dan aku merasakannya sejak kami duduk di
bangku SMA. Aku…

Jatuh cinta pada sahabatku sendiri.

Yeah.

Saat dia pergi ke Amerika, seluruh saraf di tubuhku bersorak kegirangan. Aku pikir empat tahun tanpanya
akan membuatku pergi mencari pacar dan jatuh cinta pada orang lain. Namun, aku salah.

Empat tahun tanpa Xiumin adalah masa-masa terburuk dalam hidupku dan aku tak mau merasakannya lagi.
Tapi setelah kepulangannya, berita itu, well, aku tidak tahu bagaimana hidupku setelah ini.

“Cherry, apa ini bagus?” Xiumin membuyarkan lamunanku. Dia menunjuk sebuah kaus kaki bermotif rusa
warna abu-abu di etalase toko. “Kau mau membeli kaus kaki? Buat apa? Bukankah kau punya banyak di
rumah?” kataku penasaran.

“Untuk pernikahanku.”

“Pfftt.” Aku menyemburkan tawaku. “Apa kau bercanda? Kau mau memakai benda itu ke pernikahanmu?!
Xiumin, please.”

Matanya menelusuri kaus kaki itu. “Apanya yang buruk dari kaus kaki ini?”
Aku langsung menyambarnya dan mengambilkan kaus kaki berwarna hitam dengan motif sederhana. “Ini
baru bagus. Kau payah.”

“Kau selalu tahu seleraku.” Dia tersenyum. Ugh, aku benci setiap kali dia melakukannya! “Hei, Cherry.
Bagaimana kalau kau menemaniku berbelanja kebutuhan pernikahanku hari ini. Ah, aku baru memesan jas
dan…” Dia menghela napas. “Aku tidak tahu yang lainnya.”

Oh, kenapa kau tidak meminta calon istrimu untuk menemanimu dan tinggalkan saja sahabatmu yang satu
ini? Ya, tinggalkan saja.

Aku tidak yakin apakah ini yang kuinginkan, karena…seharusnya aku merusak rencana itu. Aku ingin
merusak rencana pernikahannya agar Xiumin tidak jadi menikah, tapi entahlah, aku melihat Xiumin
tersenyum senang dan hatiku tak tega menghapus senyuman itu dari wajahnya. Jadi…

“Oke,” gumamku melihat ke arah lain. Aku tahu aku akan menyesali ini semua nantinya.

“Kau mau menemaniku?”

Aku mengangguk.

“Thank you,” ujarnya seraya merangkulku dan kami berjalan lagi.

Kami berjalan dan berjalan, membeli jajanan di pinggir jalan. Lalu kami memasuki toko kemeja. Aku
memilihkan kemeja putih untuknya, mengunyah kenyataan bahwa Xiumin begitu tampan saat memakainya.
Dia pernah memakai kemeja putih saat prom night, tapi saat itu dia hanyalah seorang remaja tambun yang
kikuk dan aku tetap menyukainya.

Kemudian kami pergi ke toko sepatu. Aku memilihkan sepatu pantofel hitam yang mengkilap.

“Nomor 42,” ujar Xiumin pada sang pelayan toko.

“Nomor 41 setengah,” koreksiku. Aku menatapnya yang kebingungan. “Nomor 42 selalu kebesaran untukmu,
nomor 41 terlalu sempit untukmu.”

Kata-kataku terbukti benar saat Xiumin mencoba kedua sepatu itu. Dia tersenyum senang padaku. “Kau tahu
yang terbaik untukku.”

Hanya bisa bersedekap tangan, aku berujar. “Tentu.” Ya, tentu. Aku mengenalmu sepanjang hidupku.
Bagaimana tidak?

Lalu kami membeli beberapa dasi. Kuakui Xiumin punya selera fashion yang cukup parah. Dia tidak tahu
bagaimana memadukan motif yang satu dengan yang lainnya. Semuanya bertabrakan dan beruntunglah,
Baozi, kau punya sahabat sepertiku. Aku segera mengambil beberapa dasi dengan corak garis-garis dan kotak-
kota, lalu aku menarik dasi bermotif rusa dari tangannya.

“Tapi—“

“Nope, Xiumin.” Aku bersikeras. “Ada apa dengan motif rusa, huh?”

Xiumin mengangkat bahu dan kami membayar dasi itu di kasir.


Tujuan terakhir kami adalah toko jas pernikahan Xiumin. Seseorang bernama Byun Baekhyun—
perancangnya—datang menyambut kami di pintu. “Tuan Xiumin. Yang memesan jas hitam untuk
pernikahannya. Am I right?”

“Ya, itu aku.” Xiumin membalas dengan senyuman mengembang di wajah.

“Come, come, come here, “ senandung Baekhyun memanggil kami untuk masuk ke dalam toko.

Sejauh mataku memandang, yang kutemui hanyalah jas, jas, jas, jas, dan jas. Dimulai dari jas kasual, jas
formal, jas bermotif macan (apa?), jas bermotif bunga-bunga (ugh, ya ampun), jas berhiaskan manik-manik,
sampai di ujung etalase aku menemukan jas yang penuh lampu natal. Oh my God.

Aku rasa, aku terlalu asyik melihati koleksi jas butik Byun Baekhyun sampai aku tidak sadar bahwa sedari
tadi, Xiumin tidak bersamaku dan di menit berikutnya, aku menemukan dia berdiri di tengah-tengah tangga,
memanggil namaku hingga aku menoleh padanya.

“Cherry, lihat aku!”

Aku memalingkan pandanganku dari jas ‘uang dollar’ dan melihat sosok itu.

Wow.

Mataku mengerjap beberapa kali. Bukan karena ada debu yang masuk, tapi…pria ini—well, sahabatku ini…

“Bagaimana?”

Tidak ada yang spesial dari jas itu. Potongannya biasa saja. Warnanya hitam polos, begitu pas di tubuh
Xiumin yang tidak lagi gempal. Dengan kemeja putih yang kupilihkan tadi, dasi kupu-kupu, dipadu padankan
dengan celana dari bahan sutera warna hitam yang melekat di kedua kakinya terlihat begitu sempurna.

Tanpa kusadari, aku menaiki anak tangga satu persatu—menghampirinya.

Tanganku perlahan terulur membetulkan dasinya yang miring. Tangan ini otomatis meluncur ke lehernya,
mendarat di dadanya sembari merapikan kerutan di sana dan aku bertanya dalam hati, mengapa kau tidak
jatuh cinta padaku? Mengapa, Baozi? Mengapa?

“Aku memakai kaus kakinya juga.”

“A-apa?”

Xiumin nyengir dengan sangat lebar dan menarik celana panjangnya untuk menunjukkan kaus kaki pilihanku
yang tadi kami beli. “Oh, ya.” Aku tertawa kecil. “Apa kubilang, kaus kaki itu bagus bukan?”

“Yeah, thanks, Cherry. You’re the best.”

Aku yang terbaik? Mengapa kau tidak bisa menjadikanku yang terbaik di hidupmu juga? Mengapa dia?

“Umm…apa kau calon istrinya?” sebuah suara masuk ke dalam pembicaraan kami. Aku berbalik, Byun
Baekhyun sedang berdiri dengan tangan di pinggang dan dia tersenyum ramah pada kami.
Aku baru saja ingin menjawab pertanyaan itu, namun Xiumin lebih cepat, “Bukan. Dia…” Xiumin berhenti
untuk menatapku. Lalu dia merangkulku erat. “Dia sahabatku. Sahabat terbaik di dunia.”

Jika kami masih berumur 12 tahun, mungkin kalimat tadi bisa membuatku terbang ke lapisan langit paling
atas, namun kali ini…kalimat itu terdengar bagai angin lalu—tidak lagi mempan.

Karena…

Aku tidak ingin menjadi sekedar sahabat baginya.

“Tapi kalian cocok, kau tahu itu?”

Oh, andaikan begitu kenyataannya, Byun Baekhyun.

***

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat hari Sabtu, lagi-lagi aku mengatakan ‘oke’ untuk kesekian kalinya
atas permintaan Xiumin.

Ada apa denganmu, Cherry? Mengapa kau begini?!!

Aku protes pada diriku sendiri, mempertanyakan mengapa aku harus bingung memilih dress di tempat
tidurku. Aku sudah berdiri di depan cermin sekitar satu jam setelah mendapatkan telepon dari Xiumin. Ini
bukan kencan, ini bukan kencan.

“Aku ingin memperkenalkanmu dengan Cathlyn. Bagaimana jika kita bertiga makan siang bersama?”

“Oke.”

Bisa tolong jelaskan mengapa aku harus berkata ‘oke’ semudah itu? Hatiku tidak menginginkannya. Aku
belum siap menerima kenyataan bahwa sebentar lagi Xiumin akan menghabiskan sepanjang hidupnya
bersama wanita ini.

Oh, ini benar-benar menyakiti hatiku.

Aku juga tidak paham bagaimana bisa aku duduk di sana—restoran perancis, menatap kedua orang itu saling
memandang satu sama lain dengan tangan bertautan. Senyuman manis tidak pernah luntur dari wajah Xiumin,
begitu juga dengan Cathlyn—si wanita berambut merah burgundy. Ugh.

Aku pikir, aku tidak akan pernah bertemu Mr. Hong Hong ‘kedua’ di kehidupanku selanjutnya setelah aku
memberinya sedikit pelajaran. Bagaimana aku benci pada robot itu, dan sekarang ada ‘kembarannya’! Yang
satu ini bedanya bisa berbicara lebih banyak, bisa berdandan, jenis kelaminnya wanita, dan Xiumin jatuh cinta
padanya setengah mati.

Dan yang terparah adalah…aku tidak bisa menginjak tangannya hingga patah. Sial.

“Kau Cherry, teman Xiu—“


“Sahabat,” koreksiku cepat. “Sahabat terbaik yang Xiumin miliki di dunia,” lanjutku lagi sambil menyesap
cocktail.

“Ah, ya. Sahabat terbaik.” Dia tersenyum, kemudian bersandar di bahu Xiumin. “Dan aku Cathlyn, wanita
paling beruntung di dunia karena aku memiliki Xiumin. Iya kan, honey?”

‘Honey’?? Panggilan ‘Baozi’ku lebih baik dari itu!!

Aku benci wanita ini. Aku benci bagaimana dia bermanja-manja pada Xiumin, bergelayutan di lengannya
bagai monyet kecil yang meminta diberi perhatian. Oke, kuakui Mr. Hong Hong lebih baik darinya, 100
persen lebih baik!

Tak lama kemudian, pelayan datang dan memberikan kami menu makanan. Entah apa yang merasukiku, tiba-
tiba aku merasa kelaparan dan memesan begitu banyak makanan. Aku bahkan tidak peduli jika aku hanya
membawa beberapa lembar uang di dompetku. Aku tidak peduli!

“Kau mau makan apa, honey?”

“Umm…entahlah, terlalu banyak makanan di sini.” Xiumin menggumam pelan. “Aku bingung.”

Lalu dengan tidak sopannya, Mr. Hong Hong versi wanita ini merebut buku menu dari tangan Xiumin dan
membalik halamannya cepat. “Bagaimana dengan…umm…kepiting—“

“Tidak.”

“Tidak!”

Aku dan Xiumin bersamaan menolaknya. Wanita itu pun menatap kami bingung. “Umm…kenapa tidak?”

“Xiumin alergi kepiting. Dia tidak bisa makan apa pun yang mengandung daging kepiting,” jelasku.

Cathlyn membulatkan mulutnya dan mengangguk. Dia membalik halaman buku menu lagi, menunjuk satu
gambar piring penuh escargot. “Pesan yang ini saja—“

“Tidak.”

“Tidak!”

Aku bisa melihat wajah Cathlyn cemberut akan pernyataan kami yang lagi-lagi menolak pilihannya. “Apa lagi
sekarang?”

“Xiumin punya kenangan buruk memakan benda itu. Dia trauma. Hei…” aku menyadari sesuatu. “Apa kau
tahu apa saja yang boleh Xiumin makan dan yang tidak?”

“Ya, tentu saja,” balas Cathlyn mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Aku calon istrinya. Aku tentu tahu apa
yang terbaik untuk Xiumin.” Oh, benarkah kau tahu, Nona Hong Hong?!

“Apa kau tahu apa minuman soda kesukaan Xiumin?” tanyaku menantangnya.

“Umm…coca cola!”
“Salah!”

“Apa? Semua orang minum coca cola!”

“Xiumin suka pepsi. Kau saja yang tidak tahu! Apa kau tahu rasa es krim favorit Xiumin?”

“Cokelat?”

“Salah! Mint.”

“A-apa?? Tapi—“

“Apa kau tahu bagaimana cara Xiumin makan wafer?”

“Hahaha…apa kau berusaha membodohiku? Tentu saja dengan mengigitnya!”

“Salah! Xiumin selalu membuka lapis per lapisan, lalu memakannya satu persatu. Ha-ha-ha!”

“Jawaban macam apa itu?! Kau mengada-ada, Cherry!”

“Tidak, itu memang benar!”

“Girls, girls!!” Xiumin menaruh buku menu di antara wajah kami, tidak sadar kami telah berteriak kencang-
kencang, dan semua orang kini menatap kami seakan dua wanita ini benar-benar sudah kehilangan akal
sehatnya.

“Girls…” Xiumin menatap kami tidak percaya dengan kedua matanya. “Hentikan, oke?” dia bertanya dengan
sangat perlahan-lahan hingga keadaan mulai membaik, aku menyandarkan tubuhku ke belakang, begitu juga
dengan Cathlyn.

Xiumin menghela napas lega. “Aku pesan croissant keju saja, terima kasih.”

Aku membuang wajah setelah itu. Aku sedikit terluka setelah menemukan kenyataan ini.

Wanita ini tidak tahu apa-apa tentang Xiumin.

Nothing. She knows nothing!

Delapan bulan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan belasan tahun! Aku telah mengenal Baozi-ku
selama berbelas-belas tahun dan dia—wanita—ini tahu apa?

“Buka mulutmu, honey. Aaaa…” Xiumin melahap potongan croissant keju yang diberikan Cathlyn dengan
senang.

Kau tahu apa tentang Xiumin? Aku lebih mengenalnya.

(Lalu aku berakhir pergi ke kamar mandi hari itu dan pulang dengan perut yang sakit luar biasa. Aku tidak
akan pernah makan sebanyak itu lagi. Never.)
***

“Halo.”

“Ya?”

“Kau tidak mau membiarkanku masuk?”

“Tidak.”

“Cherry, buka jendelanya.”

“Tidak mau.”

“Oh ayolah, aku kedinginan.”

Xiumin terkadang bisa juga menjadi peganggu nomor satu di hidupku. Dia datang di saat yang paling tidak
tepat kali ini (yeah, datang di saat aku sedang memikirkan rencana untuk menggagalkan pernikahannya dua
hari lagi).

Xiumin mengetuk kacaku beberapa kali dan akhirnya aku bergerak dari tempat tidur dengan geraman. “Apa
yang kau inginkan?” tanyaku galak setelah membuka jendela.

“Fiuh…akhirnya kau mau membukakan jendelamu. Kau tahu di luar sini sangat dingin!”

“Siapa suruh datang? Demi Tuhan, ini pukul satu dini hari, Baozi.”

“Kau pernah datang ke rumahku pukul tiga dini hari dan aku tidak protes,” ugh, sial. Kenapa kau
mengingatnya? “Kenapa kau jadi galak seperti ini?” ujar Xiumin seraya kami duduk di tepi jendela. Sinar
rembulan menempa kulitnya yang putih, aku ingin menyentuhnya. Astaga, apa yang kupikirkan?!

Dia menelengkan kepalanya, mata penuh tanya. “Cherry?”

“Apa kau ingat saat ibumu memperkenalkan kita di taman waktu itu?”

“Oh.” Xiumin pasti tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulutku. Percayalah, aku juga tidak tahu apa
yang sedang kubicarakan. Dia tertawa. “Ya, tentu saja. Kita berumur enam tahun dan kau memberikanku
permen, lalu saat ibuku datang dari toilet, kau menangis. Kau bilang aku mengambil permenmu dan kau minta
dibelikan es krim sebagai gantinya.”

“Oh yeah, aku ingat kejadian itu. Aku cukup pintar, bukan?”

“Kau culas, oke?” kata Xiumin setengah tertawa, mendorong kepalaku menggunakan telunjuknya. “Aku
selalu jadi korban.”

“Kau juga pernah menjepit tanganku di pintu,” tudingku.

“Itu tidak sengaja.”


Kudorong kepalanya sebagai balasan. “Siapa yang tahu itu sengaja atau tidak. Kau hanya bocah ingusan
berumur tujuh tahun.”

“Apa kau meragukanku?” Xiumin merengkuh pinggangku agar mendekat ke arahnya, agar dia bisa
menggelitiki leherku dan beberapa titik lainnya yang membuatku mati kutu di tangannya. “Katakan lagi,
Cherry! Katakan kau meragukanku.”

“Tolong, tolong, hentikan. Oke, oke! Aku tidak meragukanmu—“ aku menjauhkan tangannya dari tubuhku
dan kami berdua tertawa hingga kehabisan napas. Hei, kapan terakhir kali kami seperti ini? Merasa senang,
tertawa lepas, kami…kami bahagia. Iya, bahagia.

Mata Xiumin memancarkan kebahagiaan yang telah lama tidak kulihat. Tidak terlihat bahkan ketika bersama
Cathlyn. Katakan aku salah, katakan aku salah lihat.

Tiga puluh menit ke depannya, kami berdua bercerita tentang masa kecil kami. Bernostalgia tentang donat,
tentang mainan roller coaster, tentang perosotan, tentang es krim yang kami buat dari tanah (dan Xiumin
dengan polosnya menjilat es krim itu, kami pun kena marah), sampai pada topik Mr. Hong Hong si robot hijau
itu.

“Apa kau ingat Mr. Hong Hong?”

“Ha! Mana mungkin aku melupakannya. Dia meninggalkan tujuh jahitan di kepalaku,” kataku seraya
mengusap bagian belakang kepalaku. Memori menyakitkan itu menghantamku kembali.

“Oh ya, kau jatuh dari tempat tidur dan menimpa Mr. Hong Hong. Itu karena kau jahat padanya. Coba, aku
lihat.” Dia memutar tubuhku hingga membelakanginya, lalu Xiumin mencari bekas jahitan itu.

“Aku tidak jahat padanya,” sanggahku. “Aku…tidak sengaja menginjaknya.”

“Oh ya? Benarkah?”

Tentu saja tidak benar! “Benar.”

Xiumin menggumam sesuatu tak jelas di belakangku dan aku tahu, mungkin ini waktunya aku jujur padanya.

“Baiklah, aku sengaja menginjak tangannya,” aku mengakui setelah bertahun-tahun. “Aku sebal kau selalu
bermain dengannya, sementara kau membiarkanku bermain sendirian. Setiap ada mainan baru, kau selalu
seperti itu.”

“Aku? Seperti itu?”

“Yeah, kau tidak menyadarinya ‘kan?” kataku jengkel. “Padahal apa bagusnya robot itu? Dia tidak punya
kemampuan khusus. Warnanya hanya itu-itu saja. Oh oke, baiklah, dia mungkin bagus, hebat. Tapi apa yang
dia ketahui tentangmu? Dia tidak tahu kau alergi apa, dia tidak tahu makanan apa yang boleh kau makan atau
tidak boleh kau makan, dia tidak tahu minuman kesukaanmu, es krim favoritmu, caramu makan wafer. Apa
yang dia tahu? Kenapa kau menyukainya? Ah ya, dia cantik. Rambutnya panjang dan dia bisa berdandan—“

“Cherry?”

“Ya?”
Aku berbalik menghadapnya kembali. Kulihat alis Xiumin terangkat tinggi, wajahnya penuh tanda tanya kasat
mata.

“Mr. Hong Hong…cantik? Rambut panjang…bisa berdandan—“

Lalu aku tidak mengijinkan Xiumin berbicara lebih banyak lagi, maka aku menarik wajahnya mendekat ke
arahku dan menciumnya.

Rasanya ada jutaan kembang api meledak di balik pelupuk mataku, rasanya ada smoothies stroberi menari-
nari di lidahku—memberikan sebuah sensasi luar biasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Rasanya sakit, rasanya senang, rasanya bahagia, rasanya sedih. Aku tidak mengerti saat mencium Xiumin
mungkin adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, namun juga meninggalkan jejak luka
mendalam di dada. Air mataku turun saat bibirnya bergerak dan dia menciumku balik.

He kisses me back.

Dia menciumku balik, dia memegang tengkukku dan memiringkan kepalanya agar mendapatkan angle yang
baik untuk menciumku lebih dalam, lebih manis, lebih dapat dikenang.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

“Aku mencintaimu…” bibirku menggumamkan kalimat itu. Detik itu juga kami kembali ke kenyataan dan
napas Xiumin menerpa wajahku. Matanya setengah terbuka, bibirnya begitu dekat denganku.

“Aku…Cherry, aku…”

“Aku mencintaimu, Baozi.”

Dia menggelengkan kepalanya, berbisik, “Aku akan menikah, Cherry.”

Lalu kenapa kau berbalik menciumku? Apa artinya, Baozi? Apa?

Dengan sentuhan bibirnya di dahiku, aku memejamkan mata dan membukanya beberapa detik kemudian.

Xiumin telah menghilang.

***

Hari ini…

Ya, hari ini.

Aku akan kehilangan sahabat sekaligus cinta dalam hidupku untuk selamanya.
Bukan karena Xiumin akan pergi perang dan semua orang tahu dia akan pulang dengan luka tembak di mana-
mana, dan nyawanya telah pergi entah ke mana.

Namun, lebih tepatnya hari ini Xiumin akan menikahi Cathlyn dan pergi selamanya dari hidupku. Aku
berharap aku dapat menghapusnya semudah aku menghapus goresan pensil di kertas. Andai semudah itu,
mungkin aku sudah melupakannya dari dulu.

Mungkin kami tidak perlu berciuman di malam itu dan hati ini semakin berat melepasnya.

Pagi itu aku datang ke rumah Xiumin. Aku tahu tak ada cara untuk membatalkan pernikahannya, kecuali jika
aku cukup sadis dengan menculik dan membunuh si pengantin wanitanya. Well, aku tidak sesadis itu.

Aku menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, kulihat pintu kamarnya sedikit terbuka dan aku menarik
napas sebelum masuk.

“Baozi?” panggilku pelan.

“Cherry?” Xiumin muncul dari balik pintu lemarinya. Rambutnya sangat berantakan walaupun jas dan segala
macamnya telah melekat di tubuh itu. “Cherry, kau…”

Aku tersenyum tipis. “Aku hanya ingin melihat sahabatku untuk yang terakhir kalinya. Boleh aku masuk?”

Xiumin memutar bola matanya. “Aku hanya akan menikah, aku tidak mati, oke? Masuklah, Cherry.”

Kau memang tidak mati, tapi hatiku yang mati.

Aku melangkahkan kaki ke sana. Tidak yakin dengan suasana kamarnya yang begitu berantakan. Ada
beberapa kemeja di tempat tidur, celana panjang, jas, kaus, bahkan pakaian dalam dan odol ada di sana.

“Xiumin, apa kau baik-baik saja?” tanyaku menatapnya bolak-balik masuk kamar mandi dan keluar lagi. Dia
terlihat linglung.

“Apa? Ya, ya, ya, aku baik-baik saja.”

“Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja.”

“Oh ya? Tapi…aku merasa sangat baik.”

Aku menggelengkan kepala. “Aku tahu dirimu. Aku mengenalmu, kau berbohong padaku.”

Xiumin berhenti di tempatnya, menatapku tak percaya. “Apa katamu?”

“Jangan bohong padaku, Bao—“

“Berhenti bicara seperti semua ini terasa salah, Cherry! Ini hari pentingku, hari pernikahanku! Jangan
merusaknya!”

Aku pun beranjak dari tempat tidur dan mendekatinya. “Aku tidak berusaha merusaknya, tapi aku tahu kau
tidak merasa baik dengan semua ini!”
“Kau selalu sok tahu, seolah kau tahu semua tentangku. Maaf, Cherry, kau memang selalu tahu bagaimana
perasaanku, tapi kali ini kau salah.” Xiumin menunjuk dadanya sendiri. “Aku bahagia. Aku akan menikahi
Cathlyn dan aku bahagia. Ini adalah hari yang kutunggu.”

“Bullshit!” teriakku di depan wajahnya. “Jangan coba-coba berbohong padaku, Xiumin! Dan—“ aku berhenti
bicara. Aku melihat kemejanya, dasi itu, sepatunya, kaus kakinya. Bukan yang kemarin kupilihkan untuknya.
“—kau bahkan tidak memakai kemeja yang kemarin kita beli…”

“Tentu saja. Ini pilihan Cathlyn dan aku memakainya, karena dia calon istriku!”

“AKU BENCI PADAMU!” dengan itu kudorong tubuhnya dan berlari keluar kamar.

Aku tidak peduli ada beberapa orang yang melihatiku, mungkin riasan wajahku sudah luntur, rambutku
berantakan, air mata ada di mana-mana. Aku tidak peduli! Hatiku lebih hancur, hancur berkeping-keping dan
tebak siapa yang membuatnya jadi begini.

Xiumin.

Ya, dia.

“Cherry, Cherry!” kudengar suaranya memanggilku dari belakang. Aku berjalan cepat di pekarangan luas
milik Xiumin. Agak sedikit susah dengan dress ini dan sepatu hak tinggi, memudahkan Xiumin dengan cepat
menggapai tanganku. “Berhenti!”

“Apa maumu?!” jeritku menghempaskan tangannya. “Apa maumu, hah? Kau akan menikah dan oke, aku
membiarkannya! Dan aku membencimu!”

“Kau tidak bisa membenciku!”

“Apa? Apa alasannya, hah?” kini aku berkacak pinggang di hadapannya. “Aku boleh membencimu seumur
hidupku. Itu terserah padaku!”

“Kau sahabatku! Kau tidak bisa membenciku!” balas Xiumin.

Sahabat? Sahabat tidak boleh saling membenci? Dia yang membuatku seperti ini! Tidak sadarkah dia bahwa
tingkahnya, keputusannya membuatku jengah dan aku membencinya hingga aku mati?! “Aku bukan
sahabatmu lagi. Kalau kau sahabatku, kau pasti akan memakai kemeja, dasi, kaus kaki yang aku pilihkan
untukmu.” Konyol, konyol. Cherry, ini konyol.

Lalu Xiumin tiba-tiba membuka jasnya, membuka dasinya, membuangnya ke tanah, membuka kancing
kemeja abu-abu super jelek itu, meninggalkannya dengan kaus oblong yang melekat di tubuh. Dia membuka
sepatunya, melepaskan kaus kaki warna merah pilihan Cathlyn.

“Aku melepaskan semuanya. Lihat? Kau tidak bisa membenciku—“

“Aku tetap membencimu.”

“Shit, Cherry!! Apa maumu sekarang?”


Aku melihat Cathlyn berdiri tak jauh dari tempat kami berada dan aku menggelengkan kepala. Sudah.
Semuanya sudah berakhir, Cherry.

“Lupakan, Baozi.” Aku berbalik dan kembali berjalan menjauh darinya.

“Kau marah padaku?” tanya Xiumin setengah berteriak. Aku melambaikan tangan padanya, satu tangan
menekan mulutku untuk tidak menangis lebih kencang.

“Cherry, berhenti di sana!” aku pun berhenti. Dasar bodoh, jalan! “Aku akan menawarkan satu hal padamu.”

Hei, aku pernah dengar kalimat itu sebelumnya.

14 tahun yang lalu…

Aku melihatnya di drama yang kakakku tonton.

“Menikahlah denganku.”

Kurasa dia mengatakannya terlalu keras, aku bisa melihat semua petugas beserta keluarga Xiumin berhenti di
tempatnya, bahkan tak jauh dari sana ada Cathlyn yang menjatuhkan gelas champagne-nya.

Apa?

Menikah?

Aku berbalik padanya dan Xiumin berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca.

“Aku jatuh cinta padamu. Ya, aku berbohong, aku berbohong dan sial, bagaimana bisa kau mengetahuinya,
Cherry?”

Dia mengambil satu langkah mendekatiku.

“Aku jatuh cinta padamu dari dulu, tapi kau tidak pernah menyadarinya. Aku pikir ini sedikit ironis
bagaimana aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri dan mengira kau hanya menganggapku sebatas itu saja.”
Satu langkah lagi dia ambil.

“Kau kira aku ingin pergi ke Amerika? Tidak, Cherry. Aku tidak pernah menginginkannya. Tapi,
menghabiskan hari bersamamu, bersamamu yang tidak bisa kumiliki…buat apa? Itu membuatku semakin
sedih dan kukira empat tahun cukup untuk membuatku melupakanmu. Tapi…aku tidak bisa. Damn, Cherry.
Kau sulit dilupakan.”

Sekali lagi dia melangkahkan kakinya.

“Aku pikir ini jalan terbaik, Cherry. Aku menikah dengan orang lain dan kuharap hatiku bisa berhenti
tersakiti.”

Satu langkah dan dia sampai di depanku. Dia menangkup wajahku yang basah akan air mata, menyapukan
ciuman kedua kami dan berbisik, “Aku baru saja hendak memulai lembaran baru dalam hidupku, Cherry. Lalu
kau bilang kau mencintaiku…”

“Ya, aku mencintaimu,” isakku pelan. “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”

Ini ciuman ketiga sepanjang yang kuingat. Well, mungkin lebih, karena Xiumin tidak berhenti melakukannya
sampai kami merasa dunia berhenti berputar dan mengosongkan isinya hanya untuk kami berdua.

“Kau pernah memintaku untuk menikah waktu umur kita sembilan tahun. Kini…biarkan aku yang
memintanya. Cherry…” Xiumin meraih tanganku, dan menyematkan cincin yang seharusnya teruntuk
Cathlyn.

“Maukah kau menikah denganku?

Dan setelah empat belas tahun berlalu…aku tetap ingin menikahi sahabatku sendiri.

“Ya.”

Fin.