Anda di halaman 1dari 37

Diktat/Modul Antropometri

2016

Diktat/Modul Antropometri 2016 MODUL ANTROPOMETRI MK:G006 (Dasar Ilmu Gizi) Oleh: Ni Wayan Arya Utami Bagian Gizi

MODUL ANTROPOMETRI

MK:G006 (Dasar Ilmu Gizi)

Oleh:

Ni Wayan Arya Utami

Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2016

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 2016 Program Studi Kesehatan Masyarakat

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

Kata Pengantar

Modul ini disusun untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa di dalam memahami konsep pengukuran status gizi langsung yaitu Antropometri. Kurikulum materi yang dikembangkan atau yang diberikan kepada mahasiswa meliputi tujuan melakukan pemeriksaan antropometri, dasar teori, parameter, alat yang digunakan, prosedur pengukuran, serta analysis hasil antropometri untuk memnetukan status gizi individual/masyarakat. Dalam modulini juga tersedia latihan pemeriksaan Antropometri. Buku ini dibuat sebagai pedoman mahasiswa dalam mengikuti semua kegiatan pembelajaran dari mata kuliah Dasar Ilmu Gizi Kesmas. Pada akhir kata kami ucapkan semoga modul ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Denpasar, September 2016

Penyusun

modul ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Denpasar, September 2016 Penyusun Program Studi Kesehatan Masyarakat

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

Daftar Isi

1.

PENDAHULUAN

4

1.1.

TUJUAN PENILAIAN STATUS GIZI SECARA ANTROPOMETRI

4

1.2.

DASAR TEORI

4

1.3.

PARAMETER ANTROPOMETRI

5

1.4.

ALAT YANG DIGUNAKAN

7

1.5.

PROSEDUR PENGUKURAN

8

b.

Tinggi Badan

8

c.

Tinggi Lutut

8

d.

LILA

8

e.

Lingkar Pinggang

9

f.

Lingkar Panggul

9

1.6.

HASIL DAN PEMBAHASAN

10

BERIKUT ADALAH LATIHAN ANTROPOMETRI

10

a.

Ayu (Subjek I)

10

1.7.

KESIMPULAN

17

2.1.

BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U)

18

2.2.

TINGGI BADAN MENURUT UMUR (TB/U)

19

2.3.

BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN (BB/TB)

20

2.4.

LINGKAR LENGAN ATAS MENURUT UMUR (LLA/U)

20

2.5.

INDEKS MASSA TUBUH (IMT)

21

2.6.

RASIO LINGKAR PINGGANG DENGAN PINGGUL

23

3.1.

PENGERTIAN PRESISI DAN AKURASI

25

3.2.

KESALAHAN DALAM PENGUKURAN

25

3.3.

TEKNIK PENGGUNAAN UJI PRESISI DAN AKURASI

26

3.4.

PENGGUNAAN INDEKS ANTROPOMETRI GIZI

29

3.5.

PERSEN TERHADAP MEDIAN

29

3.6.

PERSENTIL

30

3.7.

STANDAR DEVIASI UNIT (SD)

30

3.8.

KEBAIKAN DAN KELEMAHAN DARI MASING-MASING INDEKS

31

3.9.

KLASIFIKASI STATUS GIZI

32

4.1.

PENGERTIAN BAKU

35

4.2.

PENGERTIAN RUJUKAN

35

4.3.

JENIS-JENIS BAKU RUJUKAN

36

35 4.2. PENGERTIAN RUJUKAN 35 4.3. JENIS-JENIS BAKU RUJUKAN 36 Program Studi Kesehatan Masyarakat

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

1. PENDAHULUAN

1.1. TUJUAN PENILAIAN STATUS GIZI SECARA ANTROPOMETRI

Pengukuran antropometri dilakukan untuk menilai status gizi individu/masyarakat dengan menetukan Indeks Massa Tubuh (IMT), Waist to Hip Ratio (WHR), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan Tebal Lipatan Kulit (TLK).

1.2. DASAR TEORI

Pengertian antropometri dari sudut pandang gizi telah banyak diungkapkan oleh para ahli, salah satunya adalah Jelliffe (1996) mengungkapkan bahwa:

Nutritional anthropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and the gross composition of the human body at different age levels and degree of nutrition”.

Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Berbagai jenis ukuran tubuh dalam antropometri antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, lingkar panggul, lingkar lengan atas dan tebbal lemak di bawah kulit.

Adapun yang mendasari penggunaan antropometri adalah:

1. Alat-alat antropometri mudah didapat dan digunakan.

2. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif.

3. Pengukuran bukan hanya dilakukan oleh tenaga khusus profesional, tetapi juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.

4. Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya.

5. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.

6. Secara ilimiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara menggunakan

antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya

penapisan (screening) status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya secara ilmiah.

Dengan memperhatikan faktor-faktor diatas, maka di bawah ini merupakan keunggulan antropometri gizi, yaitu:

1. Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar.

2. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat.

3. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di

waktu singkat. 3. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di Program Studi

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

daerah setempat.

4. Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan.

5. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau.

6. Umumnya dapat mengidentifikaasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk karena sudah ada ambang batas yang jelas.

7. Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.

8. Metode antropometri dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.

Namun disamping keunggulan tersebut, penilaian status gizi secara antropometri juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

1.

Tidak sensitif. Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Di samping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti Zinc dan Fe (zat besi).

2.

Faktor di luar gizi (penyakit genetik dan penurunan penggunaan energi karena penyakit kronis tertentu) dapat menurunkan spesifitas dan sensitivitas pengukuran antropometri.

3.

Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.

1.3.

PARAMETER ANTROPOMETRI

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa

parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain:

a. Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, akan menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh (Completed Year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (Completed Month).

b. Berat Badan Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan. Pada bayi baru lahir (neonatus), berat badan digunakan untuk mendiagnosis bayi normal atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat bayi lahir di bawah 2500 gram (2,5 kg). Pada masa bayi-balita, berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperi dehidrasi, asites, edema, dan adanya tumor. Di samping itu pula berat badan dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan obat dan makanan.

itu pula berat badan dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan obat dan makanan. Program Studi Kesehatan Masyarakat

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat dan protein otot menurun.

Pada orang yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Sedangkan adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.

c. Tinggi Badan Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Di samping itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan, faktor umur dapat dikesampingkan. Pengukuran tinggi badan pada umumnya dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Microtoise yang mempunyai ketelitian 0,1 cm.

d. Lingkar Lengan Atas Lingkar lengan atas (LILA) dewasa ini merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat- alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, terutama jika digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi, antara lain:

1. Baku lingkar lengan atas yang digunakan sekarang belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Hal ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang umumnya menunjukkan perbedaan angka prevalensi KEP yang cukup berarti antar penggunaan LILA di satu pihak dengan berat bedan menurut umur atau berat menurut tinggi badan maupun indeks-indeks lain di pihak lain. 2. Kesalahan pengukuran pada LILA (pada berbagai tingkat keterampilan pengukur)relatif lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan, mengingat batas antara baku dengan gizi kurang, lebih sempit pada LILA daripada tinggi badan. Ini berarti kesalahan yang sama besar jauh lebih berarti pada LILA dibandingkan dengan tinggi badan. 3. Lingkar lengan atas sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif pada golongan lain terutama orang dewasa. Tidak demikian halnya dengan berat badan.

Alat ukur yang digunakan merupakan suatu pita pengukur yang terbuat dari fiberglass atau jenis kertas tertentu berlapis plastik.

e. Lingkar Pinggang dan Pinggul

atau jenis kertas tertentu berlapis plastik. e. Lingkar Pinggang dan Pinggul Program Studi Kesehatan Masyarakat

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan posisi pengukuran harus tepat. Perbedaan posisi penguuran akan memberikan hasil yang berbeda. Seidell, dkk (1987) memberikan petunjuk bahwa rasio lingkar pinggang dan pinggul untuk perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki.

f. Lingkar Kepala Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh yang sering digunakan adalah kepala besar (hidrosefalus) dan kepala kecil (mikrosefalus).

Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat pada tahun pertama, akan tetapi besar lingkaran kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun juga ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi.

Dalam antropometri gizi, rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dalam menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala dapat juga digunakan sebagai informasi tambahan dalam pengukuran umur.

g. Lingkar Dada Pengukuran lingkar dada biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2-3 tahun, karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara lambat dan pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5 tahun, rasio lingkar kepala dan lingkar dada adalah kurang dari 1. Hal ini dikarenakan akibat kegagalan perkembangan dan pertumbuhan atau kelemahan otot dan lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan KEP pada anak balita.

h. Tebal Lemak di Bawah Kulit Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit(skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya padambagian lengan atas (biceps dan triceps), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), paha (suuprailiaca), tempurung lutut (suprapatellar), dan pertengahan tungkai bawah (medial calf).

1.4. ALAT YANG DIGUNAKAN

1. Timbangan Seca (mengukur berat badan)

2. Microtoice (mengukur tinggi badan)

3. Alat ukur tinggi lutut

(mengukur berat badan) 2. Microtoice (mengukur tinggi badan) 3. Alat ukur tinggi lutut Program Studi Kesehatan

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

1.5.

4. Pita LILA

5. Pita Lingkar Pinggang

6. Skinfold Caliper

PROSEDUR PENGUKURAN Berat Badan Subjek mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal) serta tidak mengenakan alas kaki.

a.

1.

2.

Pastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0.

 

3.

Subjek berdiri diatas timbangan dengan berat yang tersebar merata pada kedua kaki dan posisi kepala dengan pandangan lurus ke depan. Usahakan tetap tenang.

4.

Bacalah berat badan pada tampilan dengan skala 0,1 kg terdekat.

 

b.

Tinggi Badan

1.

Subjek tidak mengenakan alas kaki, lalu posisikan subjek tepat di bawah Microtoice.

2.

Kaki rapat, lutut lurus, sedangkan tumit, pantat dan bahu menyentuh dinding vertikal.

3.

Subjek dengan pandangan lurus ke depan, kepala tidak perlu menyentuh dinding vertikal. Tangan dilepas ke samping badan dengan telapak tangan menghadap paha. 4. Mintalah subjek untuk menarik napas panjang dan berdiri tegak tanpa mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang belakang. Usahakan bahu tetap santai.

5.

Tarik Microtoice hingga menyentuh ujung kepala, pegang secara horisontal. Pengukuran tinggi badan diambil pada saat menarik napas maksimum, dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk angka untuk menghindari kesalahan penglihatan.

6.

Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.

 

c.

Tinggi Lutut

1.

Objek duduk dengan salah satu kaki

ditekuk

hingga

membentuk

sudut

90 o proximal hingga patella. Gunakan mistar siku-siku untuk menentukan sudut yang dibentuk.

2.

Letakkan alat ukur dengan dasar (titik 0) pada titik tengah lutut dan tarik hingga telapak kaki.

3.

Baca alat ukur hingga 0,1 cm terdekat.

d.

LILA

1.

Subjek diminta untuk berdiri tegak.

2.

Tanyakan kepada subjek lengan mana yang aktif digunakan. Jika yang aktif digunakan adalah lengan kanan, maka yang diukur adalah lengan kiri, begitupun sebaliknya.

3.

Mintalah subjek untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan yang

3. Mintalah subjek untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan yang Program Studi Kesehatan Masyarakat

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

tidak aktif digunakan. 4. Untuk menentukan titik mid point lengan ditekuk hingga membentuk

sudut 90 o , dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri di belakang subjek dan menentukan titik tengah antara tulang atas pada bahu dan siku.

5.

Tandailah titik tersebut dengan pulpen.

6.

Tangan kemudian tergantung lepas dan siku lurus di samping badan serta telapak tangan menghadap ke bawah.

7.

Ukurlah lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita.

8.

Catat hasil pengukuran pada skala 0,1 cm terdekat

e.

Lingkar Pinggang

1.

Subjek menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yag digunakan.

2.

Subjek berdiri tegak dengan perut dalam keadaan yang rileks.

3.

Letakkan alat ukur melingkari pinggang secara horisontal, dimana

merupakan bagian terkecil dari tubuh. Bagi subjek yang gemuk, dimana sukar menentukan bagian paling kecil, maka daerah yang diukur adalah antara tulang rusuk dan tonjolan iliaca. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat.

4. Lakukan pengukuran di akhir ekspresi yang normal dengan alat ukur tidak

menekan kulit.

5.

Bacalah hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat.

f.

Lingkar Panggul

1.

Subjek mengenakan pakaian yang tidak terlalu menekan.

2.

Subjek berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada sisi tubuh dan kaki

rapat.

3. Pengukur jongkok di samping subjek sehingga tingkat maksimal dari

panggul terlihat.

4. Lingkarkan alat pengukur secara horisontal tanpa menekan kulit. Seorang

pembantu diperlukan untuk mengatur posisi alat ukur pada sisi lainnya.

5.

Bacalah dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm tterdekat.

g.

Tebal Lipatan Kulit (Triceps dan Subscapular)

1.

Pegang Skinfold Caliper dengan tangan kanan.

2.

Untuk triceps, pengukuran dilakukan pada titik mid point sedangkan untuk

subscapular, pengukur meraba scapula dan meencarinya ke arah bawah lateral sepanjang batas vertebrata sampai menentukan sudut bawah scapula.

3. Angkat lipatan kulit pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus arah kulit pada

pengukuran triceps (ibu jari dan jari telunjuk menghadap ke bawah) atau ke arah

pada pengukuran triceps (ibu jari dan jari telunjuk menghadap ke bawah) atau ke arah Program Studi

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

diagonal untuk pengukuran subscapular.

4. Jepit lipatan kulit tersebut dengan Caliper dan baca hasil pengukurannya

dalam 4 detik penekanan kulit oleh Caliper dilepas.

1.6. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengukuran antropometri yang dilakukan pada praktikum ini antara lain pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT), pengukuran lingkar pinggang dan panggul untuk menentukan WHR, tebal lemak di bawah kulit pada triceps dan subscapular untuk menentukan % lemak tubuh

(%BF), pengukuran LILA, serta pengukuran tinggi lutut. Hasil yang diperoleh dari semua pengukuran tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

BERIKUT ADALAH LATIHAN ANTROPOMETRI

 

BB

TB

LPi

LPa

Sub-

LILA

Tinggi

No

Nama

(cm )

(cm)

(cm)

(cm) Triceps

scapular

(cm)

Lutut (cm)

1.

Ayu

44,7

148,1

60,3

86,1

25

15

24,1

46,5

2.

Sri

39,3

150,5

59,0

83,9

10

9

20,6

48,0

3.

Dewi

46,8

150,6

66,7

90,2

29

15

24,3

47,3

4.

Putri

51,2

157,9

63,0

92,0

17

11

24,0

48,2

5.

Jurniati

52,6

157,2

68,0

90,0

21

23

26,0

55,0

6.

Putra

56,9

161,9

64,5

87,5

6

9

25,1

51,5

Penentuan status gizi kemudian dilakukan dengan menggunakan hasil pengukuran di atas dalam perhitungan rumus untuk IMT, WHR, dan % BF. Hasil perhitungan untuk masing-masing subjek dijabarkan sebagai berikut:

a. Ayu (Subjek I)

· IMT

= BB (kg)/(TB) 2 (m)

= 2

44,7/(1,481)

= 44,7/2,19

= 20,4 Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut: TB (wanita) = (1,91 x TL) (0,17 x umur) +

75,0

= (1,91 x 46,5) (0,17 x 20) + 75,0

= 88,8 3,4 + 75,0

= 160,4

Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:

IMT

=

44,7

(1,6) 2

= 44,7

+ 75,0 = 160,4 Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah: IMT = 44,7 (1,6) 2 =
+ 75,0 = 160,4 Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah: IMT = 44,7 (1,6) 2 =
+ 75,0 = 160,4 Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah: IMT = 44,7 (1,6) 2 =
+ 75,0 = 160,4 Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah: IMT = 44,7 (1,6) 2 =
+ 75,0 = 160,4 Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah: IMT = 44,7 (1,6) 2 =
+ 75,0 = 160,4 Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah: IMT = 44,7 (1,6) 2 =

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

2,57

=

17,4

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Anna = 20,4. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek I termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 17,4 sehingga subjek termasuk

dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan.

·

WHR =

Lpi / LPa

=

60,3 / 86,1

=

0,70

Dari

perhitungan

diatas

diperoleh

hasil

WHR

Anna

=

0,70.

Jadi

berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek I termasuk dalam kategori risiko low.

% BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100

Db = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)

= 1.0897 0,00133 (25 + 15)

= 1,0897 0,00133 (40)

= 1,0897 0,0532

= 1,0365

% BF = [(4,76 / 1,0365) 4,28] x 100

= [4,59 4,28] x 100

= 31 %

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 31 %. Berdasarkan klasifikasi % BF,

maka subjek I termasuk dalam kategori fat. Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 24,1 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.

b. Sri (Subjek II)

· IMT

= BB (kg) / (TB) 2 (m)

= 39,3 / (1,505) 2

= 39,3 / 2,27

= 17,3

Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:

= (1,91 x TL) (0,17 x umur) + 75,0

TB (wanita)

= (1,91 x 48,0) (0,17 x 22) + 75,0

= 91,68 3,74 + 75,0

= 162,94

Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:

IMT

=

39,3 / (1,629) 2

=

39,3 / 2,65

=

14,8

tinggi lutut adalah: IMT = 39,3 / (1,629) 2 = 39,3 / 2,65 = 14,8 Program

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Asbianri = 17,3. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek II termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 14,8 sehingga subjek termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat berat.

·

WHR =

LPi / LPa

 

= 59 / 83,9

= 0,70

 

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Asbianri = 0,70. Jadi berdasarkan

klasifikasi WHR, Subjek II termasuk dalam kategori risiko low.

·

% BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100 Db = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)

= 1.0897 0,00133 (10 + 9)

= 1,0897 0,00133 (19)

= 1,0897 0,0252

= 1,0645

% BF = [(4,76 / 1,0645) 4,28] x 100

= [4,47 4,28] x 100

= 19 %

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 19 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek II termasuk dalam kategori optimal.

Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 20,6 yang berarti subjek termasuk dalam kategori KEK (Kurang Energi Kronik).

c.

Dewi (Subjek III)

·

IMT

= BB (kg) / (TB) 2 (m)

= 46,8 / (1,506) 2

= 46,8 / 2,27 = 20,6

Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:

TB (wanita)

= (1,91 x TL) (0,17 x umur) + 75,0

= (1,91 x 47,3) (0,17 x 21) + 75,0

= 90,34 3,57 + 75,0

= 161,7

Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:

IMT

=

46,8 / (1,617) 2

=

46,8 / 2,62

=

17,9

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Haryati = 20,6. Jadi berdasarkan

klasifikasi IMT, Subjek III termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 17,9 sehingga subjek juga termasuk dalam kategori normal.

lutut diperoleh nilai IMT = 17,9 sehingga subjek juga termasuk dalam kategori normal. Program Studi Kesehatan

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

· WHR =

LPi / LPa

=

66,7 / 90,2

=

0,74

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Haryati = 0,74. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek III termasuk dalam kategori risiko moderate.

· % BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100

Db = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)

= 1.0897 0,00133 (29 + 15)

= 1,0897 0,00133 (44)

= 1,0897 0,0582

= 1,0315

% BF = [(4,76 / 1,0315) 4,28] x 100

= [4,64 4,28] x 100

= 36 %

= 1,0315 % BF = [(4,76 / 1,0315) – 4,28] x 100 = [4,64 – 4,28]

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 36 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek III termasuk dalam kategori obesitas. Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 24,3 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.

d. Putri (Subjek IV)

· IMT

=

BB (kg) / (TB) 2 (m)

=

51,2 / (1,579) 2

= 51,2 / 2,49 = 20,6

Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:

TB (wanita)

= (1,91 x TL) (0,17 x umur) + 75,0

= (1,91 x 48,2) (0,17 x 20) + 75,0

= 92,06 3,4 + 75,0

= 163,7

Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:

IMT

= 51,2 / (1,637) 2

= 51,2 / 2,68

= 19,1

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Husnul = 20,6. Jadi berdasarkan

klasifikasi IMT, Subjek IV termasuk dalam kategori normal. Sedangkan

berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 19,1 sehingga subjek juga termasuk dalam kategori normal.

· WHR =

Lpi / LPa

=

63,0 / 92,0

=

0,68

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Husnul = 0,68. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek IV termasuk dalam kategori risiko low.

· % BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100 Db = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)

= 1.0897 0,00133 (17 + 11)

= 1,0897 0,00133 (28)

= 1,0897 0,0372

= 1,0525

% BF = [(4,76 / 1,0525) 4,28] x 100

= [4,52 4,28] x 100

= 24 %

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 24 %. Berdasarkan klasifikasi % BF,

maka subjek IV termasuk dalam kategori slighly overfat. Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 24,0 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.

LILA diperoleh hasil 24,0 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page
LILA diperoleh hasil 24,0 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page

Diktat/Modul Antropometri

2016

e. Jurniati (Subjek V)

· IMT

= BB (kg)/(TB) 2 (m)

=

52,6 / (1,572) 2

52,6 / 2,47 = 21,3

=

Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:

= (1,91 x TL) (0,17 x umur) + 75,0

TB (wanita)

= (1,91 x 55,0) (0,17 x 20) + 75,0

= 105,5 3,4 + 75,0

= 177,1

Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:

IMT

= 55,0 / (1,771) 2

=

55,0 / 3,14

=

17,5

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Jurni = 21,3. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 17,5 sehingga subjek termasuk dalam kategori

kekurangan berat badan tingkat ringan.

· WHR =

LPi/LPa

=

68,1/90,0

=

0,76

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Jurni = 0,76. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek V termasuk dalam kategori risiko moderate.

· % BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100 Db = 1,0897 – 0,00133 (Σ triceps + subscapular)

= 1.0897 0,00133 (21 + 23)

= 1,0897 0,00133 (44)

= 1,0897 0,0585

= 1,0312

% BF = [(4,76 / 1,0312) 4,28] x 100

= [4,62 4,28] x 100

= 34 %

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 34 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek V termasuk dalam kategori obesitas. Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 26,0 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.

f. Putra (Subjek VI)

· IMT

= BB (kg)/(TB) 2 (m)

= 56,9/(1,619) 2

f. Putra (Subjek VI) · IMT = BB (kg)/(TB) 2 (m) = 56,9/(1,619) 2 Program Studi
f. Putra (Subjek VI) · IMT = BB (kg)/(TB) 2 (m) = 56,9/(1,619) 2 Program Studi

Diktat/Modul Antropometri

2016

= 56,9/2,62

= 21,7

Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:

TB (Laki-laki)

= (2,08 x TL) + 59,01

= (2,08 x 51,5) + 59,01

= 107,1 + 59,01

= 166,1

Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:

IMT

= 56,9/(1,661) 2

= 56,9/2,76 = 20,6 Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Ilham = 21,7. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek VI termasuk dalam kategori Normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 20,6 sehingga subjek termasuk dalam kategori Normal

· WHR =

Lpi/LPa

=

64,5/87,5

=

0,73

Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Putra = 0,73. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek VI termasuk dalam kategori risiko low.

· % BF = [(4,97/Db) 4,52] x 100 Db = 1,0913 – 0,00116 (Σ tricep + subscapula)

= 1.0913 0,00116 (6 + 9)

= 1,0913 0,00116 (15)

= 1,0913 0,0174

= 1,0739

% BF = [(4,97 / 1,0739) 4,52] x 100

= [4,63 4,52] x 100

= 11 %

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 11 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek VI termasuk dalam kategori optimal. Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 25,1 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.

LILA diperoleh hasil 25,1 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page
LILA diperoleh hasil 25,1 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page

Diktat/Modul Antropometri

2016

1.7.

KESIMPULAN Berdasarkan pengukuran IMT, diperoleh hasil yaitu 5 orang responden termasuk dalam kategori normal, dengan nilai IMT 20,4; 20,6; 20,6; 21,3; dan 21,7; serta 1 orang reponden termasuk dalam kategori kurus (kekurangan BB tingkat ringan) dengan IMT 17,3. Sedangkan hasil pengukuran IMT berdasarkan tinggi lutut diperoleh hasil 3 responden termasuk dalam kategori normal, dengan nilai IMT 17,9; 19,1; dan 20,6; 2 orang responden termasuk dalam kategori BB tingkat ringan (IMT 17,4 dan 17,5) serta 1 orang termasuk dalam kategori BB tingkat berat (IMT 14,8). Dari pengukuran ini, maka dapat disimpulkan bahwa pengukuran IMT berdasarkan tinggi lutut memiliki hasil yang jauh berbeda dibandingkan dengan pengukuran tinggi badan secara langsung (menggunakan microtoice). Berdasarkan pengukuran WHR, diperoleh hasil 4 orang responden termasuk dalam kategori low (nilai WHR 0,70; 0,68; 0,70; dan 0,73). Sedangkan 2 orang responden lainnya termasuk dalam kategori Moderate (WHR 0,74 dan

0,76).

Berdasarkan pengukuran % BF, diperoleh hasil yaitu 2 orang responden tremasuk dalam kategori optimal (19 % dan 11 %), 1 orang responden termasuk dalam kategori fat (31%), 1 orang responden ternasuk dalam kategori Slighly overfat (24%), serta 2 orang responden termasuk dalam kategori obesitas (34% dan 36%). Sedangkan berdasarkan pengukuran LILA diperoleh hasil yaitu 5 orang responden termasuk dalam kategori normal dan 1 orang responden termasuk dalam kategori KEK (Kurang Energi Kronik).

LATIHAN:

1.4. Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota masing- masing 4 orang/kelompok.

1.5. Lakukan Penilaian Status Gizi dengan metode Antropometri pada masing-masing anggota kelompok sesuai dengan petunjuk praktikum.

1.6. Hasil pengukuran kemudian diolah seperti contoh latihan.

1.7. Laporan praktikum dikumpul, diketik font Arial, 11 pt, 1 spasi paling lambat 3 hari setelah praktikum selesai.

font Arial, 11 pt, 1 spasi paling lambat 3 hari setelah praktikum selesai. Program Studi Kesehatan
font Arial, 11 pt, 1 spasi paling lambat 3 hari setelah praktikum selesai. Program Studi Kesehatan

Diktat/Modul Antropometri

2016

2. INDEKS ANTROPOMETRI

Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada, maka untuk berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) digunakan standar HARVARD yang disesuaikan untuk Indonesia (100% baku Indonesia = 50 persentil baku HARVARD) danuntuk lingkar lengan atas (LILA) digunakan standar baku WOLANSKI). Berdasarkan ukuran baku tersebut, penggolongan status gizi menurut indeks antropometri adalah seperti yang tercantum pada tabel berikut:

Tabel 2-1. Penggolongan Keadaan Gizi menurut Indeks Antropometri (Sumber:

Puslitbang Gizi, 1980. Pedoman Ringkas Cara Pengukuran Antropometri dan Penentuan Gizi, Bogor)

Status Gizi

Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks

BB/U

TB/U

BB/TB

LLA/U

LLA/TB

Gizi Baik

> 80%

> 85%

> 90%

> 85%

> 85%

Gizi Kurang

61-80%

71-85%

61-80%

71-85%

76-85%

Gizi Buruk

≤ 60%

≤ 70%

≤ 60%

≤ 70%

≤ 75%

Dalam pengukuran Indeks Antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan mempengaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Masih banyak diantara pakar yang berkecimpung di bidang gizi belum mengerti makna dari beberapa Indeks Antropometri. Beberapa Indeks Antropometri yang sering digunakan yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Perbedaan penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda. Sering muncul pertanyaan kapan kita menggunakan indeks tersebut dan mana yang lebih sensitive? Oleh karena itu dibawah ini akan diuraikan tentang berbagai Indeks Antropometri.

2.1. BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U)

Berat badan adalah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan ynag mendadak, mislanya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat 2 kemungkinan pekembangan berat badan, yaitu dapat berkembang dengan cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini.

labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page
labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page

Diktat/Modul Antropometri

2016

Kelebihan Indeks BB/U:

1. Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum.

2. Baik untuk mengukur status gizi akut dan kronis

3. Berat badan dapat berfluktuasi.

4. Sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan kecil.

5. Dapat mendeteksi kegemukan.

Kelemahan Indeks BB/U:

1. Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat edema maupun asites.

2. Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sering sulit ditaksir secara tepat karena pencatatan umur belum baik.

3. Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak di bawah usia lima tahun.

4. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak saat penimbangan.

5. Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat. Dalam hal ini orang tua tidak mau menimbang anaknya, karena dianggap seperti barang dagangan, dan sebagainya.

2.2. TINGGI BADAN MENURUT UMUR (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relative kurang sensitive terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama. Berdasarkan karakteristik tersebut diatas, maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwan Indeks TB/U di samping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status sosial-ekonomi.

Keuntungan Indeks TB/U:

1. Baik untuk menilai status gizi masa lampau

2. Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa

Kelemahan Indeks TB/U:

1. Tinggi badan cepat naik, bahkan tidak mungkin turun.

2. Pengukuran relative sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya.

3. Ketepatan umur sulit didapat.

diperlukan dua orang untuk melakukannya. 3. Ketepatan umur sulit didapat. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 19
diperlukan dua orang untuk melakukannya. 3. Ketepatan umur sulit didapat. Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 19

Diktat/Modul Antropometri

2016

2.3. BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN (BB/TB)

Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jelliffe pada tahun 1966 telah memperkenalkan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks BB/TB merupaka indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini (sekarang). Indeks BB/TB adalah merupakan indeks yang independen terhadap umur.

Keuntungan Indeks BB/TB:

1. Tidak memerluka data umur

2. Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, dan kurus)

Kelemahan Indeks BB/TB:

1. Tidak dapat memberikan gambaran, apakah anak tersebut pendek, cukup tinggi badan atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya, karena factor umur tidak

dipertimbangkan.

2. Dalam praktek sering mengalami kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang/tinggi badan pada kelompok balita.

3. Membutuhkan dua macam alat ukur.

4. Pengukuran relatif lama.

5. Membutuhkan dua orang untuk melakukannya.

6. Sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok non-profesional.

2.4. LINGKAR LENGAN ATAS MENURUT UMUR (LLA/U)

Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. Lingkar lengan atas merupakan parameter antropometri ynag sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh tenaga yang bukan professional. Kader posyandu dapat melakukan pengukuran ini. Lingkar lengan atas sebagaimana dengan berat badan merupakan parameter yang labil, dapat berubah-rubah dengan cepat. Oleh karena itu, lingkar lengan atas merupakan indeks status gizi saat kini. Perkembangan lingkar lengan atas yang besarnya hanya terlihat pada tahun pertama kehidupan (5,4 cm), sedangkan pada umur 2 tahun sampai 5 tahun sangat kecil yaitu kurang lebih 1,5 cm per tahun dan kurang sensitive untuk usia selanjutnya (Jelliffe, 1966). Indeks lingkar lengan atas sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak. Pada usia 2 sampai 5 tahun perubahannya tidak Nampak secara nyata, oleh karena itu, lingkar lengan atas banyak digunakan dengan tujuan skrining individu, tetapi dapat juga digunakan untuk pengukuran status gizi. Penggunaan lingkar lengan atas sebagai indikator status gizi disamping digunakan secara tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya

secara tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 20
secara tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 20

Diktat/Modul Antropometri

2016

LLA/U dan LLA menurut tinggi badan yang juga sering disebut Quack Stick. Keuntungan Indeks LLA/U

1. Indikator yang baik untuk menilai KEP berat.

2. Alat ukur murah, sangat ringan, dan dapat dibuat sendiri.

3. Alat dapat diberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi, sehingga

dapat digunakan oleh yang tidak dapat membaca dan menulis. Kelemahan Indeks LLA/U:

1. Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat.

2. Sulit menentukan ambang batas.

3. Sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak terutama anak usia 2 sampai 5 tahun yang perubahannya tidak tampak nyata.

2.5. INDEKS MASSA TUBUH (IMT)

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. Di Indonesia khususnya, cara pemantauan dan batasan berat badan normal orang dewasa belum jelas mengacu pada Patoka tertentu. Sejak tahun 1958 digunakan cara perhitungan berat badan normal berdasarkan rumus:

Berat badan normal = (Tinggi badan 100) 10% (Tinggi badan 100)

atau

0,9 x (Tinggi badan 100)

Dengan batasan :

Nilai minimum = 0,8 x (Tinggi badan 100) dan nilai maksimum = 1,1 x (Tinggi badan 100) Ketentuan ini berlaku umum bagi laki-laki dan perempuan. Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18 tahun, tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan serta pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti edema, asites, dan hepatomegali.

Rumus Perhitungan IMT:

Atau Berat badan (dalam kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (dalam meter)

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki dan perempuan. Batas ambang normal laki-laki adalah 20,1-25,0 dan untuk perempuan adalah 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defisiensi energi ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan

lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 21
lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 21

Diktat/Modul Antropometri

2016

perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk katagori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan untuk katagori gemuk tingkat berat. Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang, dapat diambil kesimpulan seperti di bawah ini :

Tabel 2-2. Katagori Ambang Batas IMT untuk Indonesia (Sumber: Depkes, 1994, Pedoman Praktis Pemantauan Status Gizi Orang Dewasa, Jakarta)

Katagori

IMT

Kurus

Normal

Gemuk

Kekurangan berat badan tingkat berat

<17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0 18,5 >18,5 25,0

Kelebihan berat badan tingkat ringan

>25,0 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat

>27,0

Cara menghitung IMT:

1. Eva dengan tinggi badan 147 cm dan berat badan 39 kg

IMT Eva =

Dalam hal ini Eva termasuk katagori kekurangan berat badan atau Kurang Energi Kronis (KEK) ringan. Oleh karena itu Eva harus menaikkan berat badannya sehingga mencapai 40 kg sampai dengan 54 kg.

= 18,05

2. Dwita dengan berat badan 72 kg dan tinggi badan 160 cm

IMT Dwita = = 28,12

Dlam hal ini Dwita termasuk gemuk/kelebihan berat badan tingkat berat. Oleh karena itu Dwita harus dapat menurunkan berat badannya agar mencapai 48 kg sampai dengan 64 kg.

Berat normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keuntungan apabila berat badan normal adalah penampilan baik, lincah dan risiko sakit rendah. Berat badan yang kurang dan berlebihan akan menimbulkan risiko terhadap berbagai macam penyakit. Kerugian dari keadaan berat badan kurang dan kelebihan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2-3. Kerugian Berat Badan Kurang dan Berat Badan Berlebihan (Sumber: Depkes, 1994, Pedoman Praktis Pemantauan Status Gizi Orang Dewasa, Jakarta)

Berat Badan

Kerugian

Kurang (kurus)

1. Penampilan cenderung kurang baik

2. Mudah letih

3. Risiko sakit tinggi, antara lain:

Penyakit Infeksi

Depresi

 

Diktat/Modul Antropometri

2016

 

Anemia

Diare

4. Wanita kurus yang hamil mempunyai risiko tinggi melahirkan bayi dengan BBLR

5. Kurang mampu bekerja keras

Kelebihan (gemuk)

1. Penampilan kurang menarik

2. Gerakan tidak gesit dan lamban

3. Mempunyai risiko penyakit antara lain:

Jantung dan pembuluh darah

Kencing manis (diabetes mellitus)

Tekanan darah tinggi

Gangguan sendi dan tulang

Gangguan ginjal

Gangguan kandung empedu

Kanker

4. Pada wanita dapat mengakibatkan gangguan haid (haid tidak teratur, perdarahan yang tidak teratur) dan factor penyakit pada persalinan

TABEL 2.4. Risiko Relatif Penyakit Jantung dengan Kelompok IMT

IMT

20 25

>25 30

>30 35

35 40

>40

Kelompok

0

I

II

III

IV

Risiko

Sangat

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat

rendah

Tinggi

Jumlah

         

Sel Lemak

Normal

Normal

Normal

Naik

Naik

Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas (triceps dan biceps), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis ketiak

(midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), suprailiaka, paha, tempurung

lutut (suprapatellar), dan pertengahan tungkai bawah (medial calf). Lemak tubuh dapat diukur secara absolute dinyatakan dalam kilogram maupun relative dinyatakan dalam persen terhadap berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi tergantung dari jenis kelamin dan umur. Umumnya lemak bawah kulit untuk pria 3,1 kg dan pada wanita 5,1 kg.

2.6. RASIO LINGKAR PINGGANG DENGAN PINGGUL

Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme termasuk daya tahan terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, disbanding dengan banyaknya lemak bawah kulit atau pada kaki dan

lemak bebas, disbanding dengan banyaknya lemak bawah kulit atau pada kaki dan Program Studi Kesehatan Masyarakat
lemak bebas, disbanding dengan banyaknya lemak bawah kulit atau pada kaki dan Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

tangan. Perubahan metabolisme ini memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh. Untuk melihat hal tersebut, ukuran yang telah umum digunakan adalah rasio pinggang dengan pinggul. Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan posisi pengukuran harus tepat. Perbedaan posisi pengukuran akan memberikan hasil yang berbeda, rasio lingkar pinggang dan pinggul untuk perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki.

·

pinggang dan pinggul untuk perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki. · Program Studi Kesehatan Masyarakat
pinggang dan pinggul untuk perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki. · Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

3. PENGENDALIAN KUALITAS DATA ANTROPOMETRI

Untuk mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai dengan

standar prosedur pengumpulan data antropometri. Standar prosedur ini bertujuan untuk membantu para peneliti menjawab pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana cara membandingkan presisi pengukuran terpisah yang dilakukan secara berulang terhadap subyek yang sama? Dalam criteria ini mungkin seorang petugas benar-benar tepat, tetapi pada saat yang sama mungkin salah.

2. Seberapa presisi dan akurasi seorang petugas? Hal ini untuk menjawab seberapa besar penyimpanan hasil pengukuran yang dilakukan petugas dapat diterima terhadap standar tertentu. Menyikapi masalah ini anjuran yang biasa diberikan pada petugas di lapangan adalah menggunakan rata-rata pengukuran yang dibuat oleh petugas pengukur. Hasil pengukuran penyelia umumnya lebih handal, penyelia lebih berpengalaman, mampu menilai ketepatannya sendiri dengan membakukan hasil pengukurannya terhadap hasil pengukuran teman sejawat.

3. Dimana kesalahan itu terjadi? Kesalahan dapat terjadi karena petugas kurang

berhati-hati dan prosedur pengukuran yang salah. Tujuan dari prosedur standarisasi adalah memberikan informasi yang cepat dan menunjukkan kesalahan secara tepat sehingga perubahan dapat dilakukan sebelum sumber kesalahan dapat dipastikan. Penyelia mempelajari hal-hal apa yang perlu diperhatikan untuk menjamin presisi dan akurasi pengukuran dan keterampilan apa yang perlu diberikan.

3.1. PENGERTIAN PRESISI DAN AKURASI

Presisi adalah kemampuan mengukur subyek yang sama secara secara berilang-ulang dengan kesalahan yang minimum, sedangkan akurasi adalah kemampuan mendapatkan hasil yang sedekat mungkin dengan hasil yang diperoleh penyelia.

3.2. KESALAHAN DALAM PENGUKURAN

Berbagai penyebab terjadinya kesalahan-kesalahan dalam pengukuran. Diantara penyebab tersebut antara lain:

a) Pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa memperhatikan posisi orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung, pinggul, dan tumit harus menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap sempurna. Disamping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak memperhatikan situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak menggunakan sandal atau sepatu.

b) Pada waktu penimbangan berat badan, timbangan belum di titik nol, dacin belum dalam keadaan seimbang dan dacin tidak berdiri tegak lurus.

c) Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat

c) Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 25
c) Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 25

Diktat/Modul Antropometri

2016

badan adalah dacin dengan kapasitas 2025 kg dan ketelitiannya 0,1 kg. Untuk mengukur panjang badan, alat pengukur panjang badan (APPB) berkapasitas 110 cm dengan skala 0,1 cm. Tinggi badan dapat diukur dengan Microtoa berkapasitas 200 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Lingkar lengan atas dapat diukur dengan pita LILA dengan kapasitas 33 cm dengan skala 0,1 cm.

d) Kesalahan yang disebabkan oleh Tenaga Pengukur. Kesalahan ini terjadi karena petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering

disebut Measurement Error.

Dalam penentuan status gizi sering dijumpai berbagai masalah yaitu masalah validitas umur. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa validitas umur anak dinyatakan oleh ibu sangat rendah. Keadaan ini akan sangat berpengaruh terhadap prevalensi status gizi.

Mengatasi Kesalahan Pengukuran

a) Memilih ukuran yang sesuai dengan apa yang ingin diukur. Misalnya mengukur tinggi badan menggunakan mikrotoa, dan tidak menggunakan alat ukur lain yang bukan diperuntukkan untuk mengukur tinggi badan.

b) Membuat prosedur baku pengukuran yang harus ditaati oleh seluruh pengumpul data. Petugas pengumpul data harus mengerti teknik, urutan, dan langkah-langkah dalam pengumpulan data.

c) Pelatihan petugas. Pelatihan petugas harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, baik ditinjau dari segi waktu maupun materi pelatihan. Materi pelatihan sebaiknya menekankan pada ketelitian pembacaan dan pencatatan hasil. Mengingat petugas akan melakukan pengukuran, maka dalam pelatihan harus dilakukan praktek terpimpin oleh petugas professional dalam bidangnya. Apabila memungkinkan dilaksanakan pelatihan secara periodic.

d) Peneraan alat ukur secara berkala. Alat timbang dan alat lainnya harus selalu ditera dalam kurun waktu tertentu. Apabila ada alat yang rusak, sebaiknya tidak

dilakukan lagi.

e) Pengukuran silang antar pengamat. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mendatkan presisi dan akurasi yang baik.

f) Pengawasan dan uji petik.

3.3. TEKNIK PENGGUNAAN UJI PRESISI DAN AKURASI

Untuk memberikan gambaran teknik melakukan uji presisi dan akurasi, maka akan diberikan contoh yang dikutip dari Majalah Gizi Indonesia, volume XI no. 2 tahun 1986 dan volume XII no. 1 tahun 1987 sebagai berikut:

Pengumpulan Data Dalam pelaksanaan prosedur standarisasi berikut ini digunakan 10 orang yang dikur secara berulang oleh 6 petugas pengukur. Setiap petugas mengukur dua kali setiap

berulang oleh 6 petugas pengukur. Setiap petugas mengukur dua kali setiap Program Studi Kesehatan Masyarakat Page
berulang oleh 6 petugas pengukur. Setiap petugas mengukur dua kali setiap Program Studi Kesehatan Masyarakat Page

Diktat/Modul Antropometri

2016

subyek. Pengukuran dan pencatatan dilakukan sedemikian rupa sehingga hasil pengukuran ulang tidak terpengaruh oleh hasil pengukuran sebelumnya. Hasil dari standarisasi pengukuran tinggi badan anak usia 4 tahun disajikan pada Tabel di bawah ini.

Tabel 3-1. Data Uji Standarisasi untuk Pengukuran Tinggi Badan Anak Prasekolah (dalam millimeter)

Anak

Penyelia

 

Petugas

 

No

 

A

B

C

D

E

F

 

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

1.

823

822

819 826

841 834

833

828 828

825 842

 

837

836

819

2.

838

846

886 846

842 853

849

856 850

856 861

854

860

845

3.

860

856

823 861

856 865

875

853 882

872 862

858

873

860

4.

862

860

823 850

866 855

854

864 856

869 875

865

874

854

5.

820

820

823 823

827 826

826

822 836

828 826

827

818

827

6.

856

854

823 862

855 860

856

864 862

973 864

860

858

856

7.

823

824

823 825

826 824

827

826 832

825 820

835

818

827

8.

876

876

823 875

877 875

873

878 879

887 884

882

876

874

9.

801

810

823 804

811 811

809

808 811

800 820

815

800

797

10

853

865

823 852

859 860

857

860 856

856 866

870

852

856

Kolom a = pengukuran pertama Kolom b = pengukuran kedua, dilakukan secara terpisah dalam interval waktu tertentu

Langkah-langkah penghitungan data:

1. Hasil dua kali pengukuran disajikan pada kolom a dan b

2. Pada kolom d disajikan hasil pengukuran (a-b), berikut tanda masing-masing (+/-)

3. Pada kolom d 2 diisikan hasil kuadrat (a-b)

4. Tanda plus dan minus pada kolom dihitung. Jumlah tanda yang muncul terbanyak menjadi pembilang dari pecahan dengan subyek sebagai penyebab. Tanda nol tidak dihitung.

5. Pada kolom s diisikan jumlah (a+b) Kelima langkah ini dilakukan secara serentak oleh semua petugas pengukur dan penyelia.

6. Kolom s lembar penyelia dipindahkan ke lembar tiap petugas di bawah kolom S

7. Perbedaan s petugas dan S penyelia diisikan kolom D (s-S) dengan tanda yang tepat, dan kuadratnya pada kolom D 2 .

8. Tanda plus dan minus (s-S) dihitung. Jumlah tanda muncul terbanyak menjadi pembilang dari pecahan dengan jumlah subyek sebagai penyebut, tanda nol tidak dihitung.

9. Hasil penjumlahan d 2 dan D 2 , serta hasil perhitungan tanda dipindahkan ke lembar lain (seperti tabel 3-2).

serta hasil perhitungan tanda dipindahkan ke lembar lain (seperti tabel 3-2). Program Studi Kesehatan Masyarakat Page
serta hasil perhitungan tanda dipindahkan ke lembar lain (seperti tabel 3-2). Program Studi Kesehatan Masyarakat Page

Diktat/Modul Antropometri

2016

Penilaian hasil

1. Jumlah d 2 penyelia biasanya paling kecil; presisinya paling besar kerena kompetensinya lebih besar.

2. Jumlah d 2 petugas (berkaitan dengan presisi) tidak lebih besar daru dua kali jumlah d 2 penyelia.

3. Jumlah D 2 petugas (berkaitan dengan akurasi) tidak lebih besar dari tiga kali jumlah d 2 penyelia.

4. Jumlah D 2 petugas harus lebih besar dari jumlah d 2 nya. Jika tidak, data

tersebut harus diperiksa dan dihitung kembali.

Tabel 3-2. Ringkasan Temuan Uji Standarisasi Pengukuran Tinggi Badan Anak Prasekolah

Pengukur

d

2

Tanda

D

2

Tanda

Hasil Observasi Penyelia

Petugas

294

4/8

   

Presisi paling baik

Penyelia

A 324

 

6/9

524

7/10

Presesisi dan akurasi cukup

         

Presisi cukup, akurasi kurang

B 431

6/10

1195

8/9

Nilai perbedaan cukup besar (3.8) Ulang pengukur dan diberi petunjuk

C 774

 

5/10

1024

7/10

Presisi kurang karena satu kesalahan waktu pengulangan; akurasi hampir cukup

D 893

 

5/9

3655

9/10

Keseluruhan presisi buruk, pengukuran lebih 7.4 mm, sikap jelek, kurang hati-hati

         

Presisi cukup, melakukan kesalahan secara

E 477

7/10

3875

10/10

sistematik 8.9 mm lebih tinggi (ketika mengulangi, anak ditegapkan)

         

Presisi dan akurasi buruk karena empat

F 1278

7/10

1040

6/10

pengukuran pertama, selanjutnya memuaskan

Data pada tabel 3-2, Penyelia tentu saja memiliki presisi paling besar: jumlah d 2 nya paling kecil. Tiga petugas (A, B dan E) menunjukkan presisi yang cukup: jumlah d 2 mereka lebih kecil dari dua kali d 2 penyelia (588). Petugas pengukur lainnya (C, D dan F) tidak menunjukkan presisi yang cukup kerena jumlah d 2 mereka lebih besar dari dua kali jumlah d 2 penyelia. Uji tanda untuk d tidak satu pun yang bermakna; karenanya beda sistematik antara pengukur pertama dan kedua tidak disalahkan. Pengamatan data pada Tabel 3-2 menunjukkan bahwa presisi petugas C tidak semuanya memuaskan karena satu duplikasi yang jelek (subyek/orang ke-3). Presisi petugas D semuanya jelek. Akurasi pengukuran petugas A sangat baik: jumlah d 2 nya tidak sampai 882 (tiga kali d 2 penyelia). Akurasi pengukuran petugas lainnya sangat rendah:

jumlah d 2 masing-masing lebih besar tiga kali dari d 2 penyelia. Sebagian besar karena presisi yang buruk (petugas C, D dan F) dan sebagian besar karena penyimpangan

yang buruk (petugas C, D dan F) dan sebagian besar karena penyimpangan Program Studi Kesehatan Masyarakat
yang buruk (petugas C, D dan F) dan sebagian besar karena penyimpangan Program Studi Kesehatan Masyarakat

Diktat/Modul Antropometri

2016

sistematik sebagaimana ditunjukkan uji tanda (petugas B, D dan E). Jumlah d 2 petugas F lebih besar daripada D 2 nya. Rendahnya akurasi petugas F disebabkan karena pengukuran emapat pertama. Kemampuannya tidak meningkat sampai pengukuran anak keempat pada ronde pertama tetapi pada pengukuran selanjutnya memuaskan. Kesalahan ini ditunjukkan oleh ketidaksamaan antara nilai jumlah d 2 dan D 2 nya (masing-masing 1278 dan 1040).

3.4. PENGGUNAAN INDEKS ANTROPOMETRI GIZI

Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air, lemak, tulang dan otot. Indeks tinggi badan menurut umur adalah pertumbuhan linier dan LILA adalah pengukuran terhadap otot, lemak, dan tulang pada area yang diukur. Hasil pengukuran tissue mass seperti berat badan dan lingkar lengan atas dapat berubah relative cepat, naik atau turun, tergantung makanan anak dan status kesehatan. Kedua parameter tersebut, berat badan lebih cepat terpengaruh oleh perbedaan konsumsi makanan daripada LILA. Parameter tinggi badan berubah secara lambat dan perlahan-lahan. Perbedaan tinggi badan dapat diukur setelah beberapa waktu lamanya. Diantara bermacam-macam indeks antropometri, BB/U merupakna indikator yang paling umum digunakan sejak tahun 1972 dan dianjurkan juga menggunakan indeks TB/U dan BB/TB untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi kronis atau akut. Keadaan gizi kronis atau akut mengandung arti telah terjadi keadaan gizi yang dihubungkan dengan masa lalu dan waktu sekarang. Pada keadaan kurang gizi kronis, BB/U dan TB/U rendah, tetapi BB/TB normal. Kondisi ini sering disebut dengan stunting. Pada tahun 1978, WHO lebih menganjurkan penggunaan BB/TB, karena menghilangkan factor umur yang menurut pengalaman sulit didapat secara benar, khususnya di daerah terpencil dimana terdpaat masalah tentang pencatatan kelahiran anak. Indeks BB/TB juga menggambarkan keadaan kurang gizi akut waktu sekarang, walaupun tidak dapat menggambarkan keadaan gizi waktu lampau. Mislanya dulu pernah menderita gizi kronis, tetapi sekarang sudah baik. Dengan demikian menimbulkan pertanyaan tentang indikator mana yang dapat dipercaya. Jawabannya tergantung pada tujuan penelitian atau program yang akan mempergunakan data natropometri tersebut. Dari berbagai jenis indeks tersebut diatas, untuk menginterpretasikannya dibutuhkan ambang batas. Penentuan ambang batas diperlukan kesepakatan para Ahli Gizi. Ambang batas dapat disajikan ke dalam tiga cara yaitu, persen terhadap median, persentil dan standar deviasi unit.

3.5. PERSEN TERHADAP MEDIAN

Median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi median

adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi median Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 29
adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi median Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 29

Diktat/Modul Antropometri

2016

sama dengan persentil 50. Nilai median ini dinyatakan sama dengan 100% (untuk standar). Setelah itu dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas. Yayah K Husaini (1979) memberikan contoh, andaikata nilai median berat badan anka umur 2 tahun adalah sebesar 12 kg, maka 80% median sama dengan 9.6 kg dan 60% median sama dengan 7.2 kg. Kalau 80% dan 60% dianggap ambang batas maka anak yang berumur 2 tahun dan mempunyai berat badan antara 7.2 kg sampai 9.6 kg (antara 60% dan 80% median) dinyatakan status gizi kurang dan di bawah 7.2 kg (di bawah 60% median) dinyatakan berstatus gizi buruk.

Tabel 3-3. Status gizi berdasarkan indeks antropometri

Status Gizi

 

Indeks

BB/U

TB/U

BB/TB

Gizi Baik

>80%

>90%

>90%

Gizi Sedang

71-80%

81-90%

81-90%

Gizi Kurang

61-70%

71-80%

71-80%

Gizi Buruk

≤60%

≤70%

≤70%

Sumber: Yayah K. Husaini.

Masyarakat. Medika, No.8 tahun XXIII, 1997, hal.269)

Antropometri

Sebagai

Indeks

Gizi

dan

Kesehatan

Indeks antropometri lainnya seperti TB/U dan BB/TB dapat pula dihitung berdasarkan persen terhadap median. Batasan-batasan status gizi dan indeks antropometri dapat dilihat pada tabel 3-3.

3.6. PERSENTIL

Cara lain untuk menentukan ambang batas selain persen terhadap median adalah persentil. Para pakar merasa kurang puas dengan menggunakan persen terdapat median untuk menentukan ambang batas. Akhirnya mereka memilih cara persentil. Persentil 50 sama dengan median atau nilai tengah dari jumlah populasi berada diatasnya dan setengahnya berada dibawahnya. Sebagai contoh, ada 100 anak yang diukur tingginya. Kemudian diurutkan dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar. Seorang anak yang bernama Ali, berada pada urutan yang ke-15 berarti persentil 15. Hal ini berarti 14 anak berada dibawahnya dan 85 anak berada diatasnya. National Center for Health Statistics (NCHS) merekomendasikan persentil ke 5 sebagai batas gizi baik dan kurang, serta persentil 95 sebagai batas gizi lebih dan gizi baik.

3.7. STANDAR DEVIASI UNIT (SD)

Standar deviasi unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara

ini untuk meneliti dan untuk memantau pertumbuhan.

1 SD unit (1 Z skor) kurang lebih sama dengan 11% dari median BB/U

1 SD unit (1 Z skor) kira-kira 10% dari median BB/TB

1 SD unit (1 Z skor) kira-kira 5% dari median TB/U Waterlow juga merekomendasikan penggunaan SD untuk menyatakan hasil pengukuran pertumbuhan atau growth monitoring. WHO memberikan gambaran

hasil pengukuran pertumbuhan atau growth monitoring. WHO memberikan gambaran Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 30
hasil pengukuran pertumbuhan atau growth monitoring. WHO memberikan gambaran Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 30

Diktat/Modul Antropometri

2016

perhitungan SD unit terhadap baku NCHS.

Contoh: 1 unit SD = 11-12% unit dari median BB/U, misalnya seorang anak berada pada 75% median BB/U, berarti 25% unit di bawah median atau -2. Contoh 2: 1 unit SD = 4-5% dari median TB/U. Jika seorang anak 85% dari median BB/TB, maka 15% unit di bawah median atau 1.5% SD unit. Contoh 3: 1 unit SD = 4-5% unit dari median TB/U. Jika seorang anak 105% dari median TB/U, maka ia 5% unit di atas median atau + 1 SD unit. Pertumbuhan nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam positif dan negatif 2 SD unit (Z-skor) dari median, yang termasuk hamper 98% dari orang-orang yang diukur yang berasal dari referensi populasi. Di bawah median -2 SD unit dinyatakan sebagai kurang gizi yang equivalen dengan:

78% dari median untuk BB/U (± 3 persentil)

80% median untuk BB/TB

90% median untuk TB/U

Rumus perhitungan Z-score adalah:

Z-score =

3.8. KEBAIKAN DAN KELEMAHAN DARI MASING-MASING INDEKS

Tabel 3-4. Kebaikan dan Kelemahan Indeks Antropometri (Sumber: Sri Hartini, 1983. Studi penggunaan SKDN sebagai alat ukur Status Gizi Balita dalam UPGK, FKM UI, Jakarta)

Indeks

Kebaikan

Kelemahan

BB/U

Baik untuk mengukur status gizi akut/kronis Berat badan dpat berfluktuasi Sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan kecil

Umur sering sulit ditaksir secara tepat

TB/U

Baik untuk menilai gizi masa lampau Ukuran panjang dpat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa

Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak,sehingga diperlukan 2 orang untuk melakukannya Ketepatan umur sulit

BB/TB

Tidak memerlukan data umur Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, dan kurus)

Memebutuhkan 2 macam alat ukur Pengukuran relatif lama Membutuhkan dua orang untuk melakukannya

alat ukur Pengukuran relatif lama Membutuhkan dua orang untuk melakukannya Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 31
alat ukur Pengukuran relatif lama Membutuhkan dua orang untuk melakukannya Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 31
 

Diktat/Modul Antropometri

2016

LLA/U

 

Indikator yang baik untuk menilai KEP berat Alat ukur murah, sangat ringan, dapat dibuat sendiri Alat dapat diberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi, sehingga dapat digunakan oleh orang yang tidak dapat baca tulis

Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat. Sulit menentukan ambang batas

3.9.

KLASIFIKASI STATUS GIZI

 

Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut reference. Baku antropometri yang sekarang digunakan di Indonesia adalah WHO- NCHS. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes dalam pemantauan status gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS. Berdasarkan baku Harvard, status gizi dapat dibagi menjadi empat, yaitu:

a) Gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas

b) Gizi baik untuk well nourished

c) Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderate PCM (Protein calori malnutrition)

d) Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan

kwashiorkor. Untuk menentukan klasifikasi status gizi diperlukan ada batasan-batasan yang disebut dengan ambang batas. Batasan ini disetiap negara relatif berbeda, hal ini tergantung dari kesepakatan para ahli gizi di Negara tersebut, berdasarkan hasil penelitian empiris dan keadaan klinis. Di bawah ini akan diuraikan beberapa klasifikasi yang umum digunakan adalh sebagai berikut:

KLASIFIKASI GOMEZ (1956) Baku yang digunakan oleh Gomez adalah baku rujukan Harvard. Indeks digunakan gadalah berat badan menutut umur (BB/U). Sebagai baku patokan digunakan persentil 50. Gomez mengklasifikasikan status gizi atau KEP yaitu normal, ringan, sedang dan berat sesuai dengan tabel 3-5.

Tabel 3-5. Klasifiaksi KEP menurut Gomez (Sumber: Gibson Rosalind, S. 1990. Principles of Nutritional Assessment, Oxford University Press, New York)

Katagori (derajat KEP)

BB/U (%) *

0 = Normal

≥ 90%

1 = Ringan

89-75%

2 = Sedang

74-60%

3 = Berat

< 60%

*) Baku = persentil 50 Harvard

= Sedang 74-60% 3 = Berat < 60% *) Baku = persentil 50 Harvard Program Studi
= Sedang 74-60% 3 = Berat < 60% *) Baku = persentil 50 Harvard Program Studi

Diktat/Modul Antropometri

2016

KLASIFIKASI JELLIFE

Tabel 3-6. Klasifikasi KEP menurut Jelliffe (Sumber: Rekso Dikusumo, dkk. 1988/1989. Penilaian Status Gizi Secara Antropometri)

Kategori

BB/U (% Baku)

KEP I

90

80

KEP II

80

70

KEP III

70

60

KEP IV

< 60

KLASIFIKASI MENURUT REKOMENDASI LOKAKARYA ANTROPOMETRI PUSLITBANG GIZI 1978

Tabel 3-7. Klasifikasi KEP menurut Bengoa (Baku: Harvard, Sumber: Rekso Dikusumo, dkk. 1988/1989. Penilaian Status Gizi Secara Antropometri)

Kategori

BB/U (% Baku)

KEP I

90

76

KEP II

75

61

KEP III

Semua penderita dengan edema

Tabel 3-8. Klasifikasi Status Gizi menurut Rekomendasi Lokakarya Antripometri, Puslitbang Gizi 1978 (Sumber: Djumadias Abunain, Aplikasi antropometri sebagai alat ukur status gizi di Indonesia. Gizi Indonesia, volume XV, No. 2, 1990)

Kategori

BB/U*

TB/U*

LLA/U

BB/TB

LLA/TB

Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk **

100-60

100-95

100-85

100-90

100-85

<80-60

<95-85

<85-70

<90-70

<85-75

<60

<85

<70

<70

<70

*Garis Baku adalah persentil 50 baku Harvard **Kategori gizi buruk termasuk marasmus, marasmik-kwashiorkor dan kwashiorkor

Tabel 3-9. Klasifikasi Status Gizi Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI tahun 1989.

Kategori

Cut off point*

Gizi lebih

>120% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983

Gizi Baik

80-120% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983

Gizi Sedang

70-79% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983

Gizi Kurang

60-69% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983

Gizi Buruk

<60% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983

*laki-laki dan perempuan sama

<60% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983 *laki-laki dan perempuan sama Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 33
<60% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983 *laki-laki dan perempuan sama Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 33

Diktat/Modul Antropometri

2016

KLASIFIKASI WHO Pada dasarnya cara penggolongan indeks sama dengan cara Waterlow. Indikator yang digunakan meliputi BB/TB, BB/U, dan TB/U. Standar yang digunakan adalah NCHS (National Centre for Health Statistics, USA), dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel 3-10.

Tabel 3-10. Klasifikasi menurut WHO. (Sumber: Deswani Idrus & Gatot Kusnanto, 1990. Epidemiologi I, Pusdiknakes, Jakarta)

BB/TB

BB/U

TB/U

Status Gizi

Normal

Rendah

Rendah

Baik/Pernah kurang Baik Jangkung, masih baik Buruk Buruk, kurang Kurang Lebih, obesitas Lebih, tidak obesitas Lebih, pernah kurang

Normal

Normal

Normal

Normal

Tinggi

Tinggi

Rendah

Rendah

Tinggi

Rendah

Rendah

Normal

Rendah

Normal

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Rendah

Tinggi

Tinggi

Normal

Tinggi

Normal

Rendah

Rendah Tinggi Tinggi Normal Tinggi Normal Rendah Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 34
Rendah Tinggi Tinggi Normal Tinggi Normal Rendah Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 34

Diktat/Modul Antropometri

2016

4. BAKU RUJUKAN

4.1. PENGERTIAN BAKU

Baku rujukan dikenal ada dua jenis yaitu: baku internasional dan baku lokal atau nasional. Pendekatan mengenai penggunaan kedua jenis baku tersebut muncul dari pakar di bidang gizi D. Seckler yang menunjukkan adanya baku antropometri lokal bagi Negara-negara berkembang. Dalam tulisannya berjudul The Small but Healthy Hypothesis an Inquiry into the Meaning and Measurement of Malnutrition, Seckler menyatakan bahwa anak-anak yang menderita mild dan moderate malnutrition termasuk kecil tapi sehat (small but healthy). Hanya anak gizi buruk dinyatakannya sebagai penderita kekurangan gizi. Oleh karena itu, setiap Negara dianjurkan untuk membuat baku antropometri sendiri. Hipotesis dari Seckler mendapat bantahan dai berbagai ahli gizi internasional antara lain C. Gopalan, dalam artikelnya berjudul Small is Healthy? Dan MC Lathan dalam Smallness-A Symptom at Deprivation. Dalam editorial majalah Lancet (1981) dibacakan masalah keabsahan penggunaan baku rujukan Internasional di Negara- negara berkembang. Dinyatakan bahwa pertumbuhan bayi dan anak dari kelompok sosial-ekonomi cukup di negara-negara berkembang tidak berbeda dengan baku internasional. Lambatnya pertumbuhan bayi dan anak pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah terutama karena gangguan gizi dan kesehatan, tetapi bukan karena pengarus ras maupun geografis. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Soekirman di kota Semarang mengungkapkan bahwa lambatnya pertumbuhan bayi sesudah umur 3 bulan pertama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam baku interbasional karena mereka lebih sering terserang penyakit infeksi, menderita diare dan demam tinggi pada anak umur 3 bulan ke atas.

4.2. PENGERTIAN RUJUKAN

Di Indonesia pada decade pertengahan 80-an telah dikenal secara luas baju rujuakn antropometri Harvard, baik untuk keperluan tapis gizi (screening), pemantauan status

gizi (monitoring) maupun evaluasi dan survey. Namun pada pertengahan 80-an juga mulai digunakan baku rujukan WHO-NCHS. Sejak saat itu di Indonesia digunakan dua jenis baku rujukan internasional. Perbedaan yang jelas antara ke-2 baku rujukan ini pada pembagian jenis kelamin. Dalam penggunaan baku rujukan Harvard, di Indonesia jenis kelamin tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan, sementara dalam baku rujuak WHO-NCHS jenis kelamin itu dibedakan. Dengan membedakan pada baku WHO-NCHS, maka muncul perbedaan yang lebih mendasar pada angka-angka baku antropometri. Angka baku antropometri untuk anak laki-laki begatif lebih tinggi pada baku WHO-NCHS dibandingkan dengan baku Harvard. Sebaiknya angka baku untuk anak perempuan relative lebih rendah dari angka baku Harvard. Perbedaan angka baku antara kedua baku rujuakn tersebut dikatakan mendasar karena dapat memberikan perbedaan pada perhitungan angka prevalensi maupun ukuran-ukuran nilai tengah

perbedaan pada perhitungan angka prevalensi maupun ukuran-ukuran nilai tengah Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 35
perbedaan pada perhitungan angka prevalensi maupun ukuran-ukuran nilai tengah Program Studi Kesehatan Masyarakat Page 35

Diktat/Modul Antropometri

2016

(median) atau nilai persen terhadap baku. Jelliffe (1989) memberikan gambaran tentang penggunaan baku rujukan yang digunakan dewasa ini dan sebelumnya seperti yang terlihat pada Tabel 3-20.

Tabel 4-1. Penggunaan Baku Rujukan (Sumber: Jelliffe DB dan Jelliffe EF Parice, 1989. Community Nutritional Assessment, Oxford University Press, New York-Tokyo).

Indeks

Sekarang

Sebelumnya

BB/TB untuk anak

NCHS (Hamill et al,

Boston (Harvard) (Stuart and Meredith, 1974) Wolanski (1966, Pres Commun) Metropolitan Life Insurance

1979)

LLA untuk anak BB/TB untuk orang dewasa LLA untuk dewasa

NCHS (1977) Frisancho (1984)

(1959)

Frisancho (1981)

Jelliffe (1966)

Salah satu saran yang diajukan pada Semiloka Antropometri Ciloto, Februari 1991 adalah penggunaan secara seragam di Indonesia baku rujukan WHO-NCHS sebagai pembanding dalam penilaian status gizi dan pertumbuhan perorangan maupun masyarakat. Menurut WHO, data berat dan tinggi badan yang dikumpulkan oleh US- National Center fo Health Statistics (NCHS) merupakan pilihan paling baik dugunakan sebagai baku rujukan. Dalam beberapa survey gizi yang dilakukan di Indonesia antara lain: penelitian Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah (TBABS) tahun 1994 dan pemantauan status gizi (PSG) tahun 1995, baku ini telah digunakan sebagai rujukan. Di samping itu pula KMS anak SLTP sudah menggunakan baku rujukan WHO-NCHS.

4.3. JENIS-JENIS BAKU RUJUKAN

Di dunia ada beberapa jenis baku rujukan. Baku rujukan tersebut antara lain Harvard

(Boston), WHO-NCHS, Tanner dan Kanada. Baku rujuka Harvard dan WHO-NCHS adalah baku yang paling umum digunakan di berbagai Negara. Bahkan sekarang WHO merekomendasi penggunaan baku WHO-NCHS digunakan di seluruh Negara. Distribusi data berat badan, tinggi badan dan berat menurut tinggi badan dipublikasikan WHO meliputi data anak umur 0 sampai 18 tahun. Data baku rujukan WHO-NCHS disajikan dalam dua versi yaitu persentil dan skor simpang baku (standard

deviation score = Z-score).

Menurut waterlow, dkk, dalam Gizi Indonesia Vol XV No.2 tahun 1990, gizi anak- anak di Negara yang populasinya relative gizi baik (well nourished) distribusi tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat menurut tinggi (BB/TB) sebaiknya digunakan persentil. Untuk anak-anak di Negara yang populasinya relative bergizi kurang (undernourished) distribusi tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat menurut tinggi (BB/TB) sebaiknya digunakan persentil. Untuk anak-anak di Negara yang populasinya relative bergizi kurang (undernourished), lebih baik diguanakan skor simpang baku sebagai pengganti persen terhadap median baku rujukan. Tidak disarankan menggunakan indeks berat badan menurut umur. Baku rujukan WHO-NCHS dipublikasikan pertama kali oleh WHO pada

tahun 1979 dan publikasi ulang

pada tahun 1983.

pertama kali oleh WHO pada tahun 1979 dan publikasi ulang pada tahun 1983. Program Studi Kesehatan
pertama kali oleh WHO pada tahun 1979 dan publikasi ulang pada tahun 1983. Program Studi Kesehatan

Diktat/Modul Antropometri

2016

A Lain

Diktat/Modul Antropometri 2016 A Lain