Anda di halaman 1dari 19

PENGOLAHAN AIR LAUT MENJADI AIR TAWAR

(DESALINASI AIR LAUT)

Disusun Oleh:
KELOMPOK 5

Anita Puspitasari (21030114060058)

Elistia Rizka (21030114060059)

Mukharomah Eka Ningtyas (21030114060062)

Ervina Yudita (21030115060037)

Rofiatun Naim (21030115060038)

Grissia Muthia Arta (21030115060039)

Dzikriyah Ikrima Shabria (21030115060040)

Novita Dyah Ayu (21030115060041)

Sundari (21030115060044)

Desy Ike Mahandika (21030115060045)

Rosian Oktaviani (21030115060046)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha
Kuasa yang telah melimpahkan rahmat, barokah serta hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan tema “Pengolahan Air
Laut Menjadi Air Tawar (Desalinasi Air Laut)” makalah ini disusun sebagai salah
satu penilaian pada mata kuliah TPAI.

Untuk itu penulis tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini sehingga dapat
selesai tepat pada waktunya.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami penulis menyadari sepenuhnya
bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusunan bahasanya maupun segi
lainnya.Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka penulis membuka
selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami
sehingga dapat memperbaikinya.

Semarang, 22 November 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii

DAFTAR ISI...................................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................................1

1.1 Latar belakang....................................................................................................1

1.2 Rumusan masalah...............................................................................................2

1.3 Tujuan................................................................................................................3

1.4 Manfaat..............................................................................................................3

BAB 2 LANDASAN TEORI............................................................................................4

2.1 Pengertian Air Laut............................................................................................4

2.2 Perbedaan Air Laut dengan Air Tawar................................................................4

2.3 Manfaat Pengelolaan Air Laut............................................................................4

2.4 Definisi Desalinasi Air Laut Dengan Sistem Osmosis Balik..............................5

2.5 Peralatan Desalinasi dengan Sistem Osmosis Balik...........................................6

2.6 Proses Desalinasi Air Laut dengan membran Reverse Osmosis atau filtrasi......8

2.7 Keunggulan dan Kelemahan Sistem Osmosis Balik.........................................10

2.8 Proses Desalinasi Air Laut dengan Multistage Flash Distillation System.........10

2.9 Proses Desalinasi PT. Pembangkit Jawa Bali dan di Arab................................12

BAB III PENUTUP........................................................................................................18

3.1 Kesimpulan......................................................................................................18

3.2 Saran................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................19

iii
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Bagi manusia air adalah salah satu kebutuhan utama. Hal ini
dikarenakan manusia tidak hanya membutuhkan air untuk kebutuhan tubuh
(minum) tetapi juga membutuhkan air untuk berbagai kebutuhan lain,
seperti mencuci, memasak, dan lainnya. Manusia sering dihadapkan pada
situasi yang sulit ketika sumber air tawar sangat terbatas dan di lain pihak
terjadi peningkatan kebutuhan. Selain itu, mengingat bahwa berbagai
penyakit dapat dibawa oleh air kepada manusia yang memanfaatkannya,
maka tujuan utama penyediaan air bersih atau air minum bagi masyarakat
adalah untuk mencegah penyakit yang dibawa oleh air. Penyediaan air
bersih selain kuantitas kualitasnya pun harus memenuhi standar yang
berlaku. Air minum yang memenuhi baik kuantitas maupun kualitas sangat
membantu menurunkan angka kesakitan penyakit perut terutama penyakit
diare. Sehingga pengawasan terhadap kualitas air minum agar tetap
memenuhi syarat kesehatan.
Debit air sebagian sungai di Indonesia pada beberapa tahun terakhir
berkurang jauh dibanding 15-20 tahun lalu disebabkan adanya kerusakan
lingkungan di hulu sungai. Secara keseluruhan, kondisi hulu sungai yang
berada dalam kondisi baik saat ini hanya 15 persen sampai 20 persen.
Sebagian besar kawasan hulu sungai di Indonesia adalah milik masyarakat,
sehingga mereka merusaknya dengan sesuka hati.
Berdasarkan hasil pemantauan kualitas air sungai (PKA) di 33 provinsi
yang dilakukan oleh pusat sarana pengendalian dampak lingkungan
(Sarpedal) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2011, sebanyak 32 dari 51
sungai besar di Indonesia saat ini tercemar berat, 16 sungai tercemar sedang-
berat, dan hanya satu sungai yang masih memenuhi standar baku mutu,
yakni sungai Lariang di Sulawesi Tengah.
Pencemaran sungai yang terjadi di Indonesia merupakan ancaman besar
bagi kesehatan masyarakat mengingat tidak sedikit PDAM di Indonesia
yang mengambil bahan baku airnya berasal dari sungai. Dengan tingginya
tingkat pencemaran air sungai memberi dampak pada kesehatan manusia
yang memanfaatkan airnya antara lain semakin meningkatnya tingkat
kematian bayi akibat diare.
Sebagai contoh adalah PDAM kota Surabaya yang mengambil bahan
baku airnya dari Kali Surabaya. Hal ini sudah jelas bertentangan dengan
syarat kelayakan air minum dimana air minum harus berasal dari bahan
baku air kelas I sedangkan Kali Surabaya memiliki kelas air II.
Permasalahan yang terjadi tidak hanya berhenti pada ketidaklayakan mutu
air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat melainkan juga tingginya

1
biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan air dengan kualitas yang
kurang baik.
Belakangan ini, terdapat rencana kenaikan tarif bahan baku mutu air di
beberapa PDAM di Indonesia seperti yang terjadi di PDAM Kota Surabaya.
Kenaikan tarif baku mutu akan berdampak pada kenaikan ongkos produksi.
Jika memang pengaruhnya tidak signifikan, maka harga air PDAM bisa
dikendalikan. Kalau tidak bisa diatasi akibat kenaikan tarif baku mutu yang
tinggi, tentu akan bisa mempengaruhi harga jual air PDAM ke konsumen.
Rencana kenaikan tarif bahan baku mutu yang tinggi, tidak dibarengi
dengan peningkatan kualitas bahan baku mutu air. Bahkan saat ini ada
kecenderungan kualitas bahan baku mutu yang berasal dari Sungai Surabaya
ini semakin menurun.
Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau
Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menyarankan
untuk mengkaji ulang pemanfaatan air sungai Surabaya sebagai bahan baku
mutu air PDAM pasalnya, pencemaran yang terjadi sudah semakin parah.
Hal ini dibuktikan dengan telah terjadinya feminisasi ikan yang disebabkan
limbah urin perempuan yang mengkonsumsi pil kontrasepsi, terkena bahan
kimia seperti pestisida, PCB, logam berat, deterjen, plastilizer (bahan
pembuat plastik) dan shampo serta obat-obatan kimia. Ini terjadi karena Kali
Surabaya selama hampir 30 tahun terakhir menjadi saluran pembuangan
limbah kimia industri, tempat sampah besar dan WC Umum yang bebas
dibuangi kotoran manusia, air kencing dan sampah.
Untuk itu diperlukan suatu alternative pemenuhan kebutuhan air bersih
dan air minum yang berkualitas dan tidak membahayakan masyarakat.
Mengingat melimpahnya sumber daya air yang berasal dari laut, maka perlu
dikaji tentang kemungkinan dimanfaatkannya air laut sebagai bahan baku
pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat serta kelebihan yang
mungkin didapat ketika menggunakan air laut sebagai bahan baku air
PDAM. Proses pengolahan air asin menjadi air tawar disebut proses
Desalinasi air laut yang salah satunya dilakukan dengan sistem osmosis
balik.

1.2 Rumusan masalah


a. Bagaimana tingkat kualitas dan ketersediaan air laut untuk dimanfaatkan
sebagai bahan baku pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum di
masyarakat?
b. Bagaimana manfaat yang ditimbulkan (kesehatan dan finansial) dari
pengolahan air laut menjadi air bersih atau air minum jika dibandingkan
dengan air sungai?
c. Proses seperti apa serta alat apakah yang diperlukan dalam proses
pemanfaatan air laut menjadi air bersih dan air minum dengan cara
osmosis balik?
d. Bagaimana proses desalinasi PT. Pembangkit Jawa Bali dan di Arab ?
2
1.3 Tujuan
a. Mengetahui kemungkinan dimanfaatkannya air laut sebagai bahan baku
pemenuhan air bersih di masyarakat ditinjau dari kualitas dan tingkat
ketersediaannya
b. Mengetahui pengertian pengolahan air laut dengan system osmosis
balik
c. Mengetahui manfaat (kesehatan dan finansial) pengolahan air laut
sebagai sumber bahan baku air bersih dan air minum dibandingkan
dengan air sungai
d. Mengetahui metode/proses pengolahan air laut dengan system osmosis
balik serta peralatan yang digunakan dalam mengolah air laut menjadi
air bersih ataupun air minum
e. Mengetahui proses desalinasi PT. Pembangkit Jawa Bali dan di Arab

1.4 Manfaat
a. Memberikan alternative pilihan dalam mengatasi permasalahan
meningkatnya biaya pembelian bahan baku air untuk pemenuhan
kebutuhan air bersih yang dibarengi penurunan kualitas air sungai
sebagai bahan baku awal
b. Memberikan solusi terhadap permasalahan kesehatan yang mungkin
muncul akibat rendahnya kualitas bahan baku air yang dikonsumsi
masyarakat untuk kebutuhan sehari-harinya
c. Sebagai sumber referensi bagi pembaca tentang pengolahan air laut
dengan system osmosis balik serta manfaatnya

3
BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian FMEA


FMEA (failure mode and effect analysis) adalah suatu prosedur
terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode
kegagalan (failure mode). FMEA digunakan untuk mengidentifikasi sumber-
sumber dan akar penyebab dari suatu masalah kualitas. Suatu mode
kegagalan adalah apa saja yang termasuk dalam kecacatan/kegagalan dalam
desain, kondisi diluar batas spesifikasi yang telah ditetapkan, atau
perubahan dalam produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari
produk itu.
Terdapat dua penggunaan FMEA yaitu dalam bidang desain (FMEA
Desain) dan dalam proses (FMEA Proses). FMEA Desain akan membantu
menghilangkan kegagalan-kegagalan yang terkait dengan desain, misalnya
kegagalan karena kekuatan yang tidak tepat, material yang tidak sesuai, dan
lain-lain. FMEA Proses akan menghilangkan kegagalan yang disebabkan
oleh perubahan-perubahan dalam variabel proses, misal kondisi diluar batas-
batas spesifikasi yang ditetapkan seperti ukuran yang tidak tepat, tekstur dan
warna yang tidak sesuai, ketebalan yang tidak tepat, dan lain-lain.
Para ahli memiliki beberapa definisi mengenai failure modes and effect
analysis, definisi tersebut memiliki arti yang cukup luas dan apabila
dievaluasi lebih dalam memiliki arti yang serupa. Definisi failure modes and
effect analysis tersebut disampaikan oleh :

 Menurut Roger D. Leitch, definisi dari failure modes and effect analysis
adalah analisa teknik yang apabila dilakukan dengan tepat dan waktu yang
tepat akan memberikan nilai yang besar dalam membantu proses pembuatan
keputusan dari engineer selama perancangandan pengembangan. Analisa
tersebut biasa disebut analisa “bottom up”, seperti dilakukan pemeriksaan
pada proses produksi tingkat awal dan mempertimbangkan kegagalan sistem
yang merupakan hasil dari keseluruhan bentuk kegagalan yang berbeda.

 Menurut John Moubray, definisi dari failure modes and effect analysis
adalah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi bentuk kegagalan
yang mungkin menyebabkan setiap kegagalan fungsi dan untuk memastikan
pengaruh kegagalan berhubungan dengan setiap bentuk kegagalan.

4
2.2 Sejarah FMEA

Didalam mengevaluasi perencanaan sistem dari sudut pandang reliability,


failure modes and effect analysis (FMEA) merupakan metode yang vital.
Sejarah FMEA berawal pada tahun 1950 ketika teknik tersebut digunakan
dalam merancang dan mengembangkan sistem kendali penerbangan. Sejak
saat itu teknik FMEA diterima dengan baik oleh industri luas. Terdapat
standar yang berhubungan dengan metode FMEA. Standar Inggris yang
digunakan secara garis besar menjelaskan BS 5760 atau British Standar 5760,
yaitu :
 Bagian 2 Guide to the assesment of reliability
 Bagian 3 Guide to reliabilitypractice
 Bagian 5 Guide failure modes and effect analysis (FMEA) memberikan
pedoman dalam pengaplikasian teknik tersebut. Standar militer Amerika, US
MIL STD 1629 (procedur for performing a failure modes effect and criticality
analysis) yang banyak dipertimbangkan menjadi referensi standar.

2.3 Tujuan FMEA


1. Mengenal dan memprediksi potensial kegagalan dari produk atau proses
yang dapat terjadi.
2. Memprediksi dan mengevalusi pengaruh dari kegagalan pada fungsi dalam
sistem yang ada
3. Menunjukkan prioritas terhadap perbaikan suatu proses atau sub sistem
melalui daftar peningkatan proses atau sub sistem yang harus diperbaiki.
4. Mengidentifikasi dan membangun tindakan perbaikan yang bisa diambil
untuk mencegah atau mengurangi kesempatan terjadinya potensikegagalan
atau pengaruh pada sistem.
5. Mendokumentasikan proses secara keseluruan.

2.4 Dasar – Dasar FMEA


FMEA merupakan salah satu alat dari Six Sigma untuk mengidentifikasi
sumber-sumber atau penyebab dari suatu masalah kualitas. Menurut Chrysler
(1995), FMEA dapat dilakukan dengan cara :
1. Mengenali dan mengevaluasi kegagalan potensi suatu produk dan
efeknya.
2. Mengidentifikasi tindakan yang bisa menghilangkan atau mengurangi
kesempatan dari kegagalan potensi terjadi.
3. Pencatatan proses (document the process).

Sedangkan manfaat FMEA adalah sebagai berikut :


 Hemat biaya. Karena sistematis maka penyelesaiannya tertuju pada
potensial causes (penyebab yang potential) sebuah kegagalan / kesalahan.
5
 Hemat waktu ,karena lebih tepat pada sasaran.

Kegunaan FMEA adalah sebagai berikut :


 Ketika diperlukan tindakan preventive / pencegahan sebelum masalah
terjadi.
 Ketika ingin mengetahui / mendata alat deteksi yang ada jika terjadi
kegagalan.
 Pemakaian proses baru.
 Perubahan / pergantian komponen peralatan .
 Pemindahan komponen atau proses ke arah baru.

2.5 Langkah – Langkah Dasar Menganalisa FMEA


Terdapat langkah dasar dalam proses FMEA yang dilakukan oleh tim desain for
six sigma (DFSS) adalah :

1. Membangun batasan proses yang dibatasi oleh struktur proses.


2. Membangun proses pemetaan dari FMEA yang mendiskripsikan proses
produksi secara lengkap dan alat penghubung tingkat hirarki dalam struktur proses
dan ruang lingkup.
3. Melihat struktur proses pada seluruh tingkat hirarki dimana masing-masing
parameter rancangan didefinisikan.
4. Identifikasi kegagalan potensial pada masing-masing proses.
5. Mempelajari penyebab kegagalan dari pengaruhnya.

Gambar 2.1 Proses FMEA


6
2.6 Kelebihan dan Kekurangan FMEA
2.6.1 Kelebihan FMEA
 Teknik analisis ini mampu meningkatkan ketahanan peralatan sehingga
dapat memperbarui sistem keamana proses tersebut
 Analisis ini dapat dengan mudah diupdate, untuk perubahan desain atau
sistem, atau bahkan modifikasi pabrik
 Teknik analisis ini mampu diperluas untuk memberikan peringkat
prioritas berdasarkan tingkat keparahan bahaya
 Karena teknik analisis ini memeriksa semua mode kegagalan dari suatu
alat maka analisis ini dapat membimbing kita untuk mengetahui loss event
yang terjadi
 Teknik analisis ini bisa dilakukan hanya dengan satu orang analis

2.6.2 Kelemahan Sistem Osmosis Balik


 Human error biasanya tidak diperiksa atau diteliti secara langsung
dalam teknik analisis ini.
 Teknik analisis ini jarang menginvestigasi dampak/cedera yang
mungkin timbul akibat ketidakberhasilan suatu proses
 Teknik analisis ini tidak terlalu efektif dibandingkan HAZOP dalam hal
mengidentifikasi sebuah daftar menyeluruh dari berbagai kombinasi
kegagalan peralatan yang menyebebkan kecelakaan
 Semua analis yang terlibat dalam teknik ini harus familiar dengan
fungsi alat, mode kegagalan, dan bagaimana kegagalan tersebut berefek
pada bagian lain dari sistem
 Selama melakukan teknik analisis ini, seorang analis bahaya
mendeskripsikan potensi bahaya dan mengkaitkannya hanya kepada
kegagalan fungsi alat, tidak mengkaitkannya ke hal yang lain

2.7 Proses Desalinasi Air Laut dengan Multistage Flash Distillation System
Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem distilasi biasa,
yaitu air laut dipanaskan untuk menguapkan air laut dan kemudian uap
air yang dihasilkan dikondensasi untuk memperoleh air tawar yang
ditampung di tempat terpisah sebagai hasil dari proses distilasi dan
dikenal sebagai air distilasi, seperti gambar berikut.

Pada sistem distilasi bertingkat (Multistage Flash Distillation


System), air laut dipanaskan berulang-ulang pada setiap tingkat
7
distilasi dimana tekanan pada tingkat sebelumnya dibuat lebih rendah
dari tingkat berikutnya. Berikut contoh gambar sistem MSF yang
disederhanakan yang aktualnya dibangun sampai lebih dari sepuluh
tingkat.

Evaporator (penguap) dibagi dalam beberapa stage (tahap).


Gambar di atas memperlihatkan empat tahap evaporator.
Setiap tahap selanjutnya dibagi menjadi flash chamber yang
merupakan ruangan yang terletak dibawah pemisah kabut dan bagian
kondensor yang terletak diatas pemisah kabut.
Air laut dialirkan dengan pompa ke dalam bagian kondensor
melalui tabung penukar panas dan hal ini menyebabkan terjadi
pemanasan air laut oleh uap air yang terjadi dalam setiap flash
chamber. Kemudian air laut selanjutnya dipanaskan dalam pemanas
garam dan kemudian dialirkan ke dalam flash chamber tahap pertama.
Setiap tahap dipertahankan dengan kondisi vakum tertentu dengan
sistem vent ejector, dan beda tekanan antara tahap-tahap
dipertahankan dengan sistem vent orifices yang terdapat pada vent
penyambung pipa yang disambung di antara tahap-tahap. Air laut yang
telah panas mengalir dari tahap bertemperatur tinggi ke tahap
bertemperatur rendah melalui suatu bukaan kecil antara setiap tahap
yang disebut brine orifice, sementara itu penguapan tiba-tiba (flash
evaporates) terjadi dalam setiap chamber. Dan air laut pekat (berkadar
garam tinggi) keluar dari tahap terakhir dengan menggunakan pompa
garam (brine pump).
Uap air yang terjadi dalam flash chamber pada setiap tahap
mengalir melalui pemisah kabut, dan mengeluarkan panas laten ke
dalam tabung penukar panas sementara air laut mengalir melalui
bagian dalam dan kemudian uap berkondensasi. Air yang
terkondensasi dikumpulkan dalam penampung dan kemudian dipompa
keluar sebagai air tawar.

2.8 Proses Desalinasi PT. Pembangkit Jawa Bali dan di Arab


2.8.1 PT. Pembangkit Jawa Bali

8
Desalination Plant atau desalinasi merupakan sebuah instrumen yang
berfungsi untuk menghasilkan air tawar yang berasal dari air laut melalui proses
evaporasi dan kondensasi. Desalination Plant terdiri atas dua bagian utama yaitu
flashing stage dan brine heater. Flashing stage merupakan sebuah chamber tempat
terjadinya proses evaporasi dan kondensasi. Proses evaporasi dan kondensasi ini
sangat bergantung pada temperatur air laut yang berasal dari brine heater (top brine
temperature). Untuk mendapatkan kualitas air yang diinginkan maka top brine
temperature perlu untuk dijaga agar tetap stabil. Di dalam unit pembangkit peran
Desal sangat diperlukan karena menyediakan air sebagai bahan baku produksi
listrik.

Desalinasi pada unit 1 B di PLTU PT. PJB Muara karang menggunakan jenis
desalinasi Multi Effect Distillation with Thermal Vapor Compression (MED -
TVC). Multi Effect Distillation with Thermal Vapor Compression (MED – TVC)
memiliki beberapa peralatan utama, yaitu :
 Evaporator
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan)
dengan penambahan panas. Panas dapat disuplai dengan berbagai cara,
diantaranya secara alami dan penambahan steam.
 Main Ejector
Pemvakuman yang terjadi pada saat vakum mencapai – 0,89 BarG di effect,
bertujuan memvakum semua effect untuk mempercepat proses terjadinya air
tawar.  Vent Ejector Setelah proses filling, kemudian yang terbuka pertama kali
dalam pembukaan vakum adalah vent ejector. Pemvakuman yang terjadi di heater
akan terbuka pada saat mencapai – 0,58 BarG.
 Ejector Condenser
Pemvakuman di condenser yang berada di effect ke empat akan membuka pada
saat mencapai – 0,55 BarG, agar memaksimalkan air laut yang terkondensasi
menjadi air tawar di effect ke empat.
 Centrifugal Pumps
Suatu pompa rotodynamic yang menggunakan berputar impeller untuk
meningkatkan dan laju alir tekanan dari suatu fluida. Pompa sentrifugal adalah
jenis yang paling umum digunakan pompa untuk memindahkan cairan melalui
sistem perpipaan.
 Scale Inhibitor / Anti Scaling
Suatu larutan kimia yang akan diinjeksikan ke air laut agar tidak terjadi korosi
(kerak).

9
 Anti Foam
Suatu bahan kimia yang akan diinjeksikan ke air laut agar menghilangkan busa –
busa yang terdapat di dalam kandungan air laut.

Multi Effect Distilasi (MED)


Multi Effect Distilasi (MED) adalah penyulingan proses yang sering digunakan
untuk air laut desalinasi. Ini terdiri dari beberapa tahapan atau ”effect”. Dalam setiap
tahap air umpan (feed water) dipanaskan oleh uap di tabung. Sebagian air menguap, dan
uap ini mengalir ke dalam tabung tahap berikutnya, pemanasan dan penguapan air lebih
banyak. Setiap tahap dasarnya menggunakan kembali energi dari tahap sebelumnya.
Tabung dapat tenggelam dalam air umpan (feed water) disemprotkan di atas bank tabung
horizontal, dan kemudian menetes dari tabung ke tabung sampai dikumpulkan di bawah
panggung (stage).

Multi Effect Distillasi


Berikut ini skema dari MED desalinasi efek ganda. Tahap pertama adalah
dibagian atas. Daerah pink adalah uap, daerah biru ringan adalah air umpan (feed water)
cair. Pirus kuat adalah kondensat. Hal ini tidak menunjukkan bagaimana air umpan (feed
water) masuk tahap – tahap lain daripada yang pertama.
F – Air umpan masuk (feed water in)
S – Pemanasan uap masuk (heating steam in)
C – Pemanasan uap keluar (heating steam out)
W – Air kondensat keluar (fresh water condensat out)
R – Keluar air garam (brine out)
O – Pendingin masuk (coolant in)
P – Pendingin keluar (coolant out)
VC - Pendingin terakhir stage (VC is the last-stage cooler)

2.8.2 Desalinasi di Arab


Proses produksi air bersih dengan metode desalinasi dilakukan melalui beberapa
tahapan, meliputi: pengambilan air laut, pengolahan awal air laut, proses pemisahan
garam, dan pengolahan akhir.
Pengambilan air laut

10
Tahapan paling awal dalam proses desalinasi adalah pengambilan air laut sebagai
bahan baku proses. Metode yang umum dilakukan adalah dengan pemasangan pipa
kearah laut hingga jarak beberapa kilometer dari pantai. Hal ini dilakukan untuk
memperoleh air laut dengan kualitas baik yang terhindar dari pergerakan sedimen
permukaan yang umumnya terjadi pada laut kedalaman dangkal. Laju alir
pengambilan air laut dilakukan secara lambat untuk mencegah masuknya biota laut
ke dalam pipa.

Metode diatas menjadi pilihan utama karena kemudahan pemasangan sistem. Namun,
dalam hal kinerja, teknik tersebut sangat sensitif dengan perubahan kondisi air laut yang
terjadi seiring dengan perubahan musim dan iklim. Pencegahan biota laut untuk masuk ke
dalam sistem juga tidak seefektif yang diharapkan.

Metode alternatif yang sedang ramai diperbincangkan adalah dengan memanfaatkan


kondisi geologi lokal pantai untuk menyaring air laut dengan sistem sumur (beach wells).
Dengan metode ini, air laut diekstraksi dari lapisan bawah permukaan (subsurface)
pantai. Selain itu, teknologi yang sedang dikembangkan adalah tipe gallery dengan
struktur menyerupai penyaringan pasir yang dipasang di permukaan bawah laut (seabed)
untuk mendapatkan bahan baku dengan kualitas tinggi. Metode-metode diatas tercakup
dalam sistem subsurface intake.

11
Pengolahan awal

Pengolahan awal bertujuan untuk mengkondisikan bahan baku, dalam hal kandungan
pengotor, agar ramah bagi proses utama desalinasi. Pengotor yang biasa terkandung
dalam air laut mencakup makromolekul (pasir dan biota laut termasuk ikan, alga dll.) dan
mikromolekul (unsur penyebab sedimentasi, kristalisasi dan fouling). Teknik yang
dilakukan pada umumnya mencakup koagulasi-flokulasi-sedimentasi (coagulation-
flocculation-sedimentation), membrane tekanan rendah (low pressure membrane),
penyaringan dengan media (media filter) dan catridge filter.

Proses Inti
Pada tahapan ini, bahan baku yang telah mengalami pengolahan awal akan mengalami
proses penyisihan garam sehingga menghasilkan air bersih. Berdasarkan teknik
pemisahan garamnya, proses desalinasi dikategorikan menjadi dua: berbasis panas dan
berbasis membran.
Pada proses berbasis panas, bahan baku dikondisikan mendidih pada tekanan rendah
sehingga menghasilkan uap air pada temperatur rendah. Pada proses ini, hanya air saja
yang mengalami penguapan, sehingga setelah pengumpulan dan pengkondensasian uap,
akan dihasilkan air bersih tanpa garam dan pengotor. Multistage flash
distillation dan multi effect distillation adalah contoh teknologi desalinasi dengan berbasis
panas.

12
Berbeda halnya pada proses diatas yang menggunakan energi panas untuk pemisahan
garam dari air laut, teknologi membran menggunakan energi tekanan. Membran adalah
istilah umum untuk saringan tipis yang memfasilitasi pemisahan secara selektif – hanya
bahan-bahan tertentu yang dapat dilewatkan dan ditahan oleh membran ini. Tipe
membran yang digunakan sangat bergantung pada aplikasi. Khusus untuk desalinasi,
digunakan reverse osmosis (RO) membrane dengan karakter tak berpori yang mampu
melakukan pemisahaan pada level ion, termasuk garam dengang komposisi utama ion
natrium dan klorida.

Penyaringan dengan membran RO dilakukan dengan cara menekan bahan baku air laut
pada permukaan membran sehingga melewatkan air murni pada sisi produk, sementara
menahan kandungan garam dan pengotor lainnya ke aliran buangan. Produk air yang
dihasilkan sangat murni dengan konsentrasi ion yang sangat rendah.
Pengolahan akhir
Kondisi air murni dengan konsentrasi ion rendah dalam produk desalinasi perlu
disesuaikan agar nyaman saat dikonsumsi dan tidak merusak pipa distribusi. Untuk
konsumsi, air murni tidak berasa, perlu adanya penambahan mineral supaya rasanya
sesuai dengan kualitas air minum: rasa menyegarkan dari air berasal dari kandungan
mineral. Kandungan ion yang minimal dapat memicu proses korosi pada pipa distribusi
karena kecenderungan pengikatan ion-ion metal pipa agar keseimbangan kimia air
tercapai. Pada tahapan akhir penambahan mineral dilakukan pada aliran produk sehingga
dihasilkan produk air bersih dengan kualitas air minum.

13
14
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jumlah air laut yang melimpah dapat dimanfaatkan sebagai alternatif
bahan baku pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Salah satu
proses pengolahan air asin menjadi air tawar disebut proses desalinasi air
laut. Ada beberapa teknologi dalam proses desalinasi, yakni proses distilasi
atau penguapan, proses dengan menggunakan membran atau filtrasi (reserve
osmosis), dan proses pertukaran ion.
Membahas lebih jauh, Reverse osmosis adalah sebuah proses
mengalirkan sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi solute tinggi
melalui sebuah membran ke sebuah daerah solute rendah dengan
menggunakan sesbuah tekanan, dan pada membran pemisahan air dari
pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul
sehingga bahan yang molekulnya lebih besar daripada molekul air akan
terpisah. Peralatan yang dibutuhkan untuk proses ini antara lain pompa air
baku (jet pump atau semi-jet pump), pompa celup, tangki reaktor, tangki
kimia pompa dosing, filter pasir, mangan dan carbon, cartridge filter,
memban tabung, unit RO, generator listrik 10 KVA 380 V, dan panel listrik.
Proses desalinasi membran RO ini mempunyai banyak manfaat, baik
dari segi finansial, efisiensi, dan kesehatan. Untuk umpan padatan total
terlarut di bawah 400 ppm, osmosis balik merupakan perlakuan yang murah,
serta mengurangi kebutuhan laboratorium, sehingga dapat menekan biaya
yang dikeluarkan. Dalam prosesnya desalinasi membran RO dapat memberi
hasil yang lebih baik dari proses lain, dapat mendukung proses lain, dan
sedikit berhubungan dengan bahan kimia sehingga lebih praktis dan efisien.
Sistem distilasi bertingkat (Multistage Flash Distillation System), air
laut dipanaskan berulang-ulang pada setiap tingkat distilasi dimana tekanan
pada tingkat sebelumnya dibuat lebih rendah dari tingkat berikutnya.
Desalinasi pada PT Jawa Bali menggunakan metode multi effect
distilasi, sedangkan desalinasi di Arab menggunakan proses berbasis panas
dan proses berbasis membrane.

3.2 Saran
Air laut dapat digunakan sebagai alternatif sumber air bersih bagi
masyarakat, karena ketersediaan dan manfaatnya, bagi ekonomi, efisiensi,
dan kesehatan. Air laut perlu melalui proses pengolahan yang baik agar
menjadi air yang layak digunakan, bahkan dikonsumsi. Salah satu
pengolahannya adalah dengan desalinasi membran reserve osmosis.

15
DAFTAR PUSTAKA
http://evisapinatulbahriah.wordpress.com/2012/06/04/desalinasi-air-laut-
melalui-metode-osmosis-terbalik/
http://www.scribd.com/doc/73747670/Reverse-Osmosis
www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/Buku10Patek/04RO.pdf
http://www.suarapembaruan.com/home/perlu-dipikirkan-pengelolaan-air-
laut-jadi-air-minum/11219
http://jatim.tribunnews.com/2012/02/13/tarif-bahan-baku-naik-tarif-air-
pdam-bisa-naik
http://www.surabayapost.co.id/?
mnu=berita&act=view&id=5ad03ec1c23ae2ca900498a0f5c8a9d5&jenis=c81e728
d9d4c2f636f067f89cc14862c
file:///D:/IKMA%20smstr%205/TUGAS/PAM%20DAN
%20SANITASI/Pengolahan%20Air%20Laut/Tercemarnya%20Sungai-sungai
%20Kita!%20-%20Harian%20Analisa.htm#.UHVrZ_Ib3IU
http://dc376.4shared.com/doc/bJVu9qAg/preview.html
http://www.anneahira.com/pengertian-laut.htm
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|
id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Seawater
http://www.scribd.com/doc/92804979/Sifat-air
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_air
http://kornelisekopatty.blogspot.com/2012/07/desalinasi-air-laut.html
http://kukuhthoriq.wordpress.com/2010/03/22/air-bersih-dari-laut/
https://ppmijeddah.wordpress.com/2013/02/24/desalinasi-air-laut-dari-air-
garam-menjadi-air-bersih-layak-minum/

16